WebGaul Forum : : A ZEIN Company  

Go Back   WebGaul Forum : : A ZEIN Company > :: FORUM DISKUSI WEBGAUL > Agama dan Iman
WebGaul Forum Gallery Register Blogs FAQ Calendar Mark Forums Read
Notices






Agama dan Iman Berdiskusi tentang agama dan kepercayaan masing-masing atau membaca renungan harian.

Reply
 
Thread Tools
Old September 09, 2009, 06:18   #1
-ViOn-
Le Paon Blanc
 
-ViOn-'s Avatar
 
Join Date: Mar 2008
Location: kuburan paling romantis dan puitis di dunia, Forum Bahasa n Sastra WebGaul.com
Posts: 7,107
WebPoint: 0
GaulPoint: 2.067
-ViOn- Bisa dipercaya
Confession of An Atheist

Dear all,

Numpang curhat colongan yah...Sebut saja namaku B*****i , pada Senin malam yang lalu, seperti biasa aku menghadiri kelas di sebuah tempat kursus yang tak perlu disebutkan namanya di sini...Karena baru saja memulai kelas baru dan belum semua murid memiliki buku karena belum semuanya bayar, maka salah satu dari temanku mengusulkan untuk mengadakan sebuah diskusi saja. Setelah sekian banyak tema yang kami bahas (dari bencana alam,pemeluk agama sesat dan lain sebagainya), teman - temanku akhirnya mulai kehilangan ide untuk memberikan tema baru. Aku dengan sengaja memberikan sebuah ide tuk mendiskusikan "atheism". Satu persatu mereka mengatakan pendapat mereka mengenai atheism yang tidak mengenal agama (bukan Tuhan) dan hanya untuk bersenang - senang saja. Aku memaklumi pandangan mereka, mengingat mereka semua masih murid SMA dan tidak terlalu tertarik mengenai hal - hal seperti ini. Ketika aku yang kebetulan mendapatkan giliran terakhir untuk menyatakan pendapatku, mereka semua langsung terkaget - kaget saat mendengar aku adalah seorang atheis
Dan banyak pertanyaan mereka yang diajukan kepadaku (pertanyaan - pertanyaan umum theis kepada seorang atheis, aku harap dengan jawaban - jawaban dari pertanyaan ini, para theis bisa memahami seperti apa pemikiran para atheis atau setidaknya aku di sini)

Pertanyaan - pertanyaannya seperti berikut ini:
1.Bukannya kamu ini beragama?
Yah, jika dibilang beragama, aku ini seorang Buddhist dan filsafat Buddhism tidak mengenal adanya creator dan designer, searah dengan pemikiranku.Bukan karena Buddhism yang membentuk pola pemikiranku, tapi karena pola pikiran itu sudah ada sebelumnya, maka aku memilih Buddhism

2.Kamu pikir darimana kamu berasal?
Aku jawab dari papa mamaku, tapi aku langsung lengkapi lagi,jika ditanyakan darimanakah aku dan alam semesta ini bisa ada, aku tak bisa menjawab secara pasti darimana sebagaimana aku juga tidak tau bahwa Tuhan itu yang menciptakan dunia ini atau tidak, dan karena itu aku tidak bisa mengatakan bahwa "Tuhan itu ada dan Dia yang menciptakan dunia ini."
Ini bukan merupakan sebuah penolakan akan keberadaan Tuhan, tapi sebuah keraguan, jadi jika memang suatu saat nanti Tuhan terbukti ada atau setidaknya dunia ini diciptakan olehNya, aku akan menyembah kepadaNya

3.Lalu apa tujuan hidup kamu? Apa kamu percaya akan adanya surga dan neraka?
Surga dan neraka itu sendiri aku tidak pernah ketahui secara pasti mengenai keberadaannya. Sekalipun memang tertulis ada di dalam kitab Buddhist yang menjadi kecondongan filsafat hidupku, tapi aku lebih suka untuk memperhatikan apa yang aku lakukan di dunia ini(suatu hal yang sudah pasti ada) tentang menjadi orang yang berguna bagi semua orang di sekelilingnya dan itulah tujuanku hidup, untuk menemukan kebahagiaan dengan logika ku dan salah satu cara yang paling efektif adalah dengan cara membahagiakan orang lain di sekelilingku

4.Lalu kepada siapa kamu percaya dan meminta?
Aku percaya kepada moral, kasih, kemanusiaan, dan pengetahuan. Bagiku, keempatnya adalah kaki penopang kebijaksanaan dan aku berusaha untuk "menuruti peraturan" keempat hal ini. Sebagai seorang Buddhist sekalipun, aku bukanlah tipe orang yang ritualist yang suka membaca mantra (doa) ataupun setiap minggu ke vihara, tapi aku percaya akan adanya kualitas kebaikan di dalam setiap manusia (benih Kebuddhaan) dan aku berpasrah kepada kualitas kebaikan di dalam diriku dan setiap makhluk hidup yang ada.Aku berpasrah kepada usahaku dan kondisi - kondisi yang terbentuk karena karmaku.Aku juga tau untuk selalu bersyukur atas kondisi - kondisi baik yang ada dalam hidupku.Bersyukur dan berterimakasih kepada kondisi dan semua orang - orang yang telah berbuat baik kepadaku.

5.Ketika sedang berada di dalam masalah, apa yang kamu lakukan?
Aku biasanya memandang semua hal sebagai hal yang netral, bisa menjadi positif dan negatif tergantung kepada bagaimana cara pikiranku bergerak kepada hal tersebut.Biasanya aku akan mencari apa yang salah dengan gerakan pikiranku dan mencoba untuk melihat apakah yang bisa aku lakukan di dalam masalah tersebut selain tersenyum dan berterimakasih karena masalah itu telah memperkuat diriku

6.Kapan dan kenapa kamu memutuskan untuk menjadi atheis?
Sekitar setahun lebih yang lalu, sebenarnya aku memutuskan untuk menjadi atheis justru setelah berusaha untuk merenungi konsep Ketuhanan dalam theisme. Ironis sekali memang, tapi aku tetap bisa melihat sudut - sudut baik dari theisme, bagaimanapun juga, terkadang memang manusia membutuhkan sosok entitas yang "dipercayai" untuk bisa menuntun hidupnya ke dalam kebahagiaan

7.Apakah kamu mempercayai hantu dan lain sebagainya?
Hal - hal metafisika, aku bisa bilang percaya dan tidak percaya. Percaya karena ada beberapa penelitian mengenai hal metafisika, tidak percaya karena belum melihatnya sendiri

8.Apakah kamu merasa nyaman dengan menjadi atheis?
Ya, aku nyaman dengan atheisme ku, tanpa bermaksud menyinggung rekan theist, salah satu alasanku menjadi atheis adalah justru karena melihat kebanyakan sikap theist yang sensitif dan diskriminatif terhadap sesama theist. Aku kagum dengan para theist yang bisa bersikap toleran terhadap sesama theist dari aliran atau agama lainnya. Bagaimanapun juga, sebagai seorang atheist aku malah lebih bisa melihat semuanya harus diperlakukan sama tanpa pengelompokkan apapun juga termasuk agama sekalipun. Optimisme dan positive thinking ku bisa aku raih dengan mengandalkan logikaku

Well, aku yakin sebenarnya masih banyak yang hendak mereka tanyakan mengenai atheisme dalam diriku, tapi berhubung bel pulang sudah berbunyi, mereka akhirnya berhenti bertanya dan guruku pun berkata,"Kita bisa lanjutkan ini nanti." So, just let's wait and see what they are going to ask next

Salam penuh cinta,







Benodhi
__________________
Seindah mengembangnya ekor merak dari surga,
Seindah itu pula lah rangkaian kata - kata di dunia
Mari kita belajar merangkai kata di Forum Bahasa dan Sastra WG!!!

-ViOn- is offline   Reply With Quote
Recommendation Sponsored Ads
Old September 09, 2009, 06:27   #2
Braver
Banned Member
 
Braver's Avatar
 
Join Date: Aug 2009
Location: Jakarta
Posts: 1,011
WebPoint: 0
GaulPoint: 881
Braver belum terkenal
Kalau ternyata Buddhisme tidak mengajarkan atheisme gimana?

Will you be intelectually honest with yourself, and commit yourself to atheism all the way, with all the consequences?
Braver is offline   Reply With Quote
Old September 09, 2009, 06:43   #3
-ViOn-
Le Paon Blanc
 
-ViOn-'s Avatar
 
Join Date: Mar 2008
Location: kuburan paling romantis dan puitis di dunia, Forum Bahasa n Sastra WebGaul.com
Posts: 7,107
WebPoint: 0
GaulPoint: 2067
-ViOn- Bisa dipercaya
Pada dasarnya sih Buddhisme mengajarkan nibbana sebagai konsep non personal God nya yah...
Jika definisi theist adalah orang - orang yang percaya akan adanya God sebagai Creator dan Designer, maka gue adalah atheist
Tapi jika definisi theist adalah orang - orang yang percaya akan adanya Tuhan (terlepas personal ataupun non personal), maka gue adalah non personal theist
Seperti apa yang sudah aku bilang sebelumnya, jikalau Tuhan dalam theisme memang benar ada, aku juga tidak akan hidup dalam imajinasi atheismeku, aku akan menyembah kepadaNya, tapi sampai detik dan titik ini, aku masih meragukan kepastian mengenai keberadaanNya
__________________
Seindah mengembangnya ekor merak dari surga,
Seindah itu pula lah rangkaian kata - kata di dunia
Mari kita belajar merangkai kata di Forum Bahasa dan Sastra WG!!!

-ViOn- is offline   Reply With Quote
Old September 09, 2009, 06:51   #4
Braver
Banned Member
 
Braver's Avatar
 
Join Date: Aug 2009
Location: Jakarta
Posts: 1,011
WebPoint: 0
GaulPoint: 881
Braver belum terkenal
That is another matter.

I shall explain to you what atheism is all about, that you may understand the path you think you want to take.

A consistent atheist sees no value whatsoever in this world. There is no good, nor evil, nor loyalty, nor disloyalty, nor happiness, nor suffering, nor kindness, nor severity.

All these phenomena are interactions of matter. They do not have objective reality.

You may kill, rob, rape, loot, burn, and do whatever you like, and it is all meaningless.

You may succour, perform kindness, help others, and do whatever you like, and it is all meaningless.

This is atheism.

And Nirvana is not a non-personal "God". Nirvana is a condition.

Buddhism does not deny God, but neither does Buddhism investigate the character of Godhood, because by logic alone, it is impossible to do so.

Be a Buddhist, or be an atheist. One or the other. Be honest to yourself.

Atheism is not modern. It is very old. There is nothing "modern" or "fashionable" about atheism.
Braver is offline   Reply With Quote
Old September 09, 2009, 07:14   #5
-ViOn-
Le Paon Blanc
 
-ViOn-'s Avatar
 
Join Date: Mar 2008
Location: kuburan paling romantis dan puitis di dunia, Forum Bahasa n Sastra WebGaul.com
Posts: 7,107
WebPoint: 0
GaulPoint: 2067
-ViOn- Bisa dipercaya
Quote:
Originally Posted by Braver View Post
That is another matter.

I shall explain to you what atheism is all about, that you may understand the path you think you want to take.

A consistent atheist sees no value whatsoever in this world. There is no good, nor evil, nor loyalty, nor disloyalty, nor happiness, nor suffering, nor kindness, nor severity.

All these phenomena are interactions of matter. They do not have objective reality.

You may kill, rob, rape, loot, burn, and do whatever you like, and it is all meaningless.

You may succour, perform kindness, help others, and do whatever you like, and it is all meaningless.

This is atheism.
Oww...I thought it is materialism...
I thought that atheism has a lot of meanings, you can check it out on Wikipedia
Well, even though they say that Buddhism is non theism

Quote:
Originally Posted by Braver View Post
And Nirvana is not a non-personal "God". Nirvana is a condition.
A monk said that nirvana has the same meaning between both of them, a condition, that's why it is called as the highest purpose of all living beings which doesn't create or design anything, so that's why it's called as non personal God

Quote:
Originally Posted by Braver View Post
Buddhism does not deny God, but neither does Buddhism investigate the character of Godhood, because by logic alone, it is impossible to do so.

Be a Buddhist, or be an atheist. One or the other. Be honest to yourself.
Yes, Buddhism does not deny non personal God
And I believe in non personal God
Personal God only exists in theism, right?
I think I could be called as an atheist because I doubt the existence of personal God
Ateisme Astika

Istilah Āstika kadangkala diterjemahkan sebagai "bertuhan" dan Nāstika sebagai "ateis" atau "tak bertuhan". Kata Sansekerta asti berarti "ada", dan Āstika menurut Paniniverba yang artinya "seseorang yang mengatakan 'asti', ia yang percaya akan keberadaan [Tuhan/Dewa, atau dunia lain, dsb.]" Jika digunakan sebagai istilah teknis, dalam filsafat Hindu, istilah Āstika merujuk kepada kepercayaan pada Veda, dan bukan kepercayaan akan adanya Tuhan. 4.2.60 diambil dari kata kerja atau
Ada enam mazhab falsafi dalam agama Hindu yang seringkali dirujuk sebagai Shat (Astik) Darshana (darshana artinya "sudut pandang"). Dalam mazhab Astika dari filsafat Hindu, Saṃkhya dan mazhab awal mīmāṃsā tidak menerima akan adanya Tuhan dalam sistematik kepercayaan mereka.
Sudut pandang ateistis seperti disajikan dalam mazhab Saṃkhya dan Mīmāṃsā dalam filsafat Hindu berwujud penolakan akan adanya sang Tuhan Pencipta. Mazhab SaṃkhyaPrakreti ("alam") dan Purusa ("jiwa") dan tidak memiliki tempat untuk Iswara ("Tu(h)an") pada sistematikanya. Kedua unsur tersebut merupakan unsur pokok pembentuk alam semesta, menggantikan peran Tuhanatheis. Kaum Mimamsaka awal percaya akan adanya adṛṣṭa ("tak tampak") yang merupakan hasil pelaksanaan daripada karma ("karya") dan tidak melihat keperluan adanya Tuhan atau Iswara dalam sistematika mereka. Mīmāṃsā, sebagai filsafat hanya secara khusus berurusan dengan karma dan oleh karena itu kadangkala disebut sebagai Karma-Mīmāṃsā. Karma yang dibahasa dalam Mīmāṃsā berurusan dengan pelaksanaan Yajña ("kurban kepada Tuhan/Dewa") yang ada dalam kitab Veda. percaya akan adanya keberadaan dualis daripada sebagai pencipta. Para ahli meyakini bahwa ajaran ini berakar dari nilai-nilai positif
Falsafah Vedanta memiliki pengikut yang gencar memperkenalkan sebuah Nirguna Brahman di mana contoh utamanya adalah Adi Shankara.

Ateisme Nastika

Dalam filsafat India, ada tiga mazhab falsafi yang biasanya disebut sebagai Nastika: Jainisme, Buddhisme dan Carvaka karena ketiganya menolak ajaran Veda. Nastika lebih merujuk ketidakpercayaan terhadapa\ Veda daripada ketidakpercayaan kepada Tuhan. Namun mazhab ini semua juga menyangkal adanya konsep bahwa ada Tuhan Pencipta dan kata Nastika menjadi diasosiasikan kepada mereka.
Carvaka, sebuah mazhab ateis merunut asal-usulnya sampai tahun 600 SM. Mazhab ini memperkenalkan gaya hidup hedonis dan menyatakan bahwa tidak ada kehidupan setelah kematian. Filsafat Carvaka nampaknya punah setelah tahun 1400. Buddhisme dan Jainisme asalnya juga dari sebelum tahun 300 SM, tapi berbeda dengan Carvaka karena mereka tidak hedonis.

Quote:
Originally Posted by Braver View Post
Atheism is not modern. It is very old. There is nothing "modern" or "fashionable" about atheism.
Yeah, I know...
I think this sentence can be "the quote of the day"
__________________
Seindah mengembangnya ekor merak dari surga,
Seindah itu pula lah rangkaian kata - kata di dunia
Mari kita belajar merangkai kata di Forum Bahasa dan Sastra WG!!!


Last edited by -ViOn-; September 09, 2009 at 07:22.
-ViOn- is offline   Reply With Quote
Old September 09, 2009, 07:19   #6
Braver
Banned Member
 
Braver's Avatar
 
Join Date: Aug 2009
Location: Jakarta
Posts: 1,011
WebPoint: 0
GaulPoint: 881
Braver belum terkenal
Whether personal or impersonal or non-personal, once you believe in a "God", you are a Theist.

Atheism is the logical conclusion of Materialism applied to the question of whether there is God or not.

In regard to the question of God, Materialism is atheistic, in other word, Atheism.

You have to check in Wikipedia about what you believe in?

Is this how you make your decisions?

Last edited by Braver; September 09, 2009 at 07:21.
Braver is offline   Reply With Quote
Old September 09, 2009, 07:20   #7
Braver
Banned Member
 
Braver's Avatar
 
Join Date: Aug 2009
Location: Jakarta
Posts: 1,011
WebPoint: 0
GaulPoint: 881
Braver belum terkenal
Buddhism is non-Theism, meaning that it does not say anything about God. But it is certainly not A-theism. Atheism says something about God, which is that there is no God (whether personal or impersonal).

Buddha himself said that he was never a Nihilist, and that he had never taught Nihilism.
Braver is offline   Reply With Quote
Old September 09, 2009, 07:28   #8
-ViOn-
Le Paon Blanc
 
-ViOn-'s Avatar
 
Join Date: Mar 2008
Location: kuburan paling romantis dan puitis di dunia, Forum Bahasa n Sastra WebGaul.com
Posts: 7,107
WebPoint: 0
GaulPoint: 2067
-ViOn- Bisa dipercaya
Quote:
Originally Posted by Braver View Post
Whether personal or impersonal or non-personal, once you believe in a "God", you are a Theist.

Atheism is the logical conclusion of Materialism applied to the question of whether there is God or not.

In regard to the question of God, Materialism is atheistic, in other word, Atheism.

You have to check in Wikipedia about what you believe in?

Is this how you make your decisions?
Not really,I check the terms from all point of view
And I found that the term of "atheism" itself is very confusing since it has a lot of meanings and very contradictive one another

Quote:
Originally Posted by Braver View Post
Buddhism is non-Theism, meaning that it does not say anything about God. But it is certainly not A-theism. Atheism says something about God, which is that there is no God (whether personal or impersonal).
See?
The concept of atheism itself is very confusing
When Gautama said that there is no such thing like Creator and Designer but there is an impersonal God, could He be called as an atheist?

Quote:
Originally Posted by Braver View Post
Buddha himself said that he was never a Nihilist, and that he had never taught Nihilism.
Yes, it is but He also reject the concept of personal God
__________________
Seindah mengembangnya ekor merak dari surga,
Seindah itu pula lah rangkaian kata - kata di dunia
Mari kita belajar merangkai kata di Forum Bahasa dan Sastra WG!!!

-ViOn- is offline   Reply With Quote
Old September 09, 2009, 07:38   #9
Braver
Banned Member
 
Braver's Avatar
 
Join Date: Aug 2009
Location: Jakarta
Posts: 1,011
WebPoint: 0
GaulPoint: 881
Braver belum terkenal
The term is clear: A-theism is the denial of the existence of God (Theos), whether Personal, Impersonal, or Non-Personal in nature.

Your sentence makes absolutely no sense: "Gautama believed there is no Creator, but he believed there is an impersonal God".

By definition, "God" is Creator. God is that Other which is unconditioned, and thus the Cause, or Creator of the conditioned.
Braver is offline   Reply With Quote
Old September 09, 2009, 07:46   #10
-ViOn-
Le Paon Blanc
 
-ViOn-'s Avatar
 
Join Date: Mar 2008
Location: kuburan paling romantis dan puitis di dunia, Forum Bahasa n Sastra WebGaul.com
Posts: 7,107
WebPoint: 0
GaulPoint: 2067
-ViOn- Bisa dipercaya
Well, my sentence comes from the Gautama teaching itself
I didn't compose it
For Buddhist, nibbana is the non personal God ,we call it God because it is the highest purpose for all living beings
Just like when we say that materialistic people love money, their God (their main purpose) is money
And nibbana doesn't create or design anything, you may ask to the other Buddhist if you like
The reason why we called it as an impersonal God, because it doesn't act like human (personal)
If the term of atheism is the denial of personal and non personal God, then I'm not an atheist, thanks for your information
__________________
Seindah mengembangnya ekor merak dari surga,
Seindah itu pula lah rangkaian kata - kata di dunia
Mari kita belajar merangkai kata di Forum Bahasa dan Sastra WG!!!

-ViOn- is offline   Reply With Quote
Old September 09, 2009, 07:52   #11
Braver
Banned Member
 
Braver's Avatar
 
Join Date: Aug 2009
Location: Jakarta
Posts: 1,011
WebPoint: 0
GaulPoint: 881
Braver belum terkenal
Oh well, that's strange.

Can you provide the quote? If indeed Gautama said such a thing, then he must have been a very confused person.

The meaning of the term is quite clear.
Braver is offline   Reply With Quote
Old September 09, 2009, 08:03   #12
-ViOn-
Le Paon Blanc
 
-ViOn-'s Avatar
 
Join Date: Mar 2008
Location: kuburan paling romantis dan puitis di dunia, Forum Bahasa n Sastra WebGaul.com
Posts: 7,107
WebPoint: 0
GaulPoint: 2067
-ViOn- Bisa dipercaya
Based on the book I've read, Gautama denies the existence of creator and designer in Jataka V.238 and Jataka VI.208

http://forum.wgaul.com/showthread.php?t=50949
http://forum.wgaul.com/showthread.php?t=63904

From Wikipedia
Konsep Ketuhanan


Perlu ditekankan bahwa Buddha bukan Tuhan. Konsep ketuhanan dalam agama Buddha berbeda dengan konsep dalam agama Samawi dimana alam semesta diciptakan oleh Tuhan
Ketahuilah para Bhikkhu bahwa ada sesuatu Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Tercipta, Yang Mutlak. Duhai para Bhikkhu, apabila Tidak ada Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Diciptakan, Yang Mutlak, maka tidak akan mungkin kita dapat bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu. Tetapi para Bhikkhu, karena ada Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Tercipta, Yang Mutlak, maka ada kemungkinan untuk bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu. Ungkapan di atas adalah pernyataan dari Sang Buddha yang terdapat dalam Sutta Pitaka, Udana VIII : 3, yang merupakan konsep Ketuhanan Yang Mahaesa dalam agama Buddha. Ketuhanan Yang Mahaesa dalam bahasa Pali adalah Atthi Ajatang Abhutang Akatang Asamkhatang yang artinya "Suatu Yang Tidak Dilahirkan, Tidak Dijelmakan, Tidak Diciptakan dan Yang Mutlak". Dalam hal ini, Ketuhanan Yang Maha Esa adalah suatu yang tanpa aku (anatta), yang tidak dapat dipersonifikasikan dan yang tidak dapat digambarkan dalam bentuk apa pun. Tetapi dengan adanya Yang Mutlak, yang tidak berkondisi (asamkhata) maka manusia yang berkondisi (samkhata) dapat mencapai kebebasan dari lingkaran kehidupan (samsara) dengan cara bermeditasi.
Dengan membaca konsep Ketuhanan Yang Mahaesa ini, kita dapat melihat bahwa konsep Ketuhanan dalam agama Buddha adalah berlainan dengan konsep Ketuhanan yang diyakini oleh agama-agama lain. Perbedaan konsep tentang Ketuhanan ini perlu ditekankan di sini, sebab masih banyak umat Buddha yang mencampur-adukkan konsep Ketuhanan menurut agama Buddha dengan konsep Ketuhanan menurut agama-agama lain sehingga banyak umat Buddha yang menganggap bahwa konsep Ketuhanan dalam agama Buddha adalah sama dengan konsep Ketuhanan dalam agama-agama lain.
Bila kita mempelajari ajaran agama Buddha seperti yang terdapat dalam kitab suci Tripitaka, maka bukan hanya konsep Ketuhanan yang berbeda dengan konsep Ketuhanan dalam agama lain, tetapi banyak konsep lain yang tidak sama pula. Konsep-konsep agama Buddha yang berlainan dengan konsep-konsep dari agama lain antara lain adalah konsep-konsep tentang alam semesta, terbentuknya Bumi dan manusia, kehidupan manusia di alam semesta, kiamat dan Keselamatan atau Kebebasan.
Di dalam agama Buddha tujuan akhir hidup manusia adalah mencapai kebuddhaan (anuttara samyak sambodhi) atau pencerahan sejati dimana roh manusia tidak perlu lagi mengalami proses tumimbal lahir. Untuk mencapai itu pertolongan dan bantuan pihak lain tidak ada pengaruhnya. Tidak ada dewa - dewi yang dapat membantu, hanya dengan usaha sendirilah kebuddhaan dapat dicapai. Buddha hanya merupakan contoh, juru pandu, dan guru bagi makhluk yang perlu melalui jalan mereka sendiri, mencapai pencerahan rohani, dan melihat kebenaran & realitas sebenar-benarnya.
__________________
Seindah mengembangnya ekor merak dari surga,
Seindah itu pula lah rangkaian kata - kata di dunia
Mari kita belajar merangkai kata di Forum Bahasa dan Sastra WG!!!


Last edited by -ViOn-; September 09, 2009 at 08:14.
-ViOn- is offline   Reply With Quote
Old September 09, 2009, 08:11   #13
Braver
Banned Member
 
Braver's Avatar
 
Join Date: Aug 2009
Location: Jakarta
Posts: 1,011
WebPoint: 0
GaulPoint: 881
Braver belum terkenal
Thanks, let me look at that.
Braver is offline   Reply With Quote
Old September 09, 2009, 08:18   #14
-ViOn-
Le Paon Blanc
 
-ViOn-'s Avatar
 
Join Date: Mar 2008
Location: kuburan paling romantis dan puitis di dunia, Forum Bahasa n Sastra WebGaul.com
Posts: 7,107
WebPoint: 0
GaulPoint: 2067
-ViOn- Bisa dipercaya
Pokok-Pokok Dasar
Pemersatu Theravada dan Mahayana
Rumusan Oleh Dewan Sangha Buddhis Sedunia

Pada tahun 1966, Dewan Sangha Buddhis Sedunia atau World Buddhist Sangha Council (WBSC) terbentuk di Colombo, Sri Lanka pada bulan Mei. WBSC merupakan organisasi internasional non-pemerintah yang keanggotaannya terdiri dari sangha-sangha dari seluruh dunia.

WBSC memiliki perwakilan dari tradisi Theravada, Mahayana, dan Vajrayana, yang berasal dari berbagai negara yaitu: Australia, Bangladesh, Kanada, Denmark, Perancis, Jerman, Hong Kong, India, Indonesia, Jepang, Korea, Macao, Malaysia, Mongolia, Myanmar, Nepal, New Zealand, Philipina, Singapura, Sri Lanka, Sweden, Taiwan, Thailand, Inggris dan Amerika Serikat.

Pada Kongres WBSC Pertama, salah satu pendirinya, Sekretaris-jendral, almarhum Y.M. Pandita Pimbure Sorata Thera meminta Y.M. Walpola Rahula untuk memberikan rumusan ringkas untuk mempersatukan tradisi-tradisi yang berbeda, yang kemudian secara bulat disetujui oleh Dewan. Inilah sembilan “Pokok-Pokok Dasar Pemersatu Theravada dan Mahayana”:
  1. Sang Buddha hanyalah satu-satunya Guru dan Penunjuk Jalan.
  2. Kami berlindung dalam Ti Ratana (Buddha, Dhamma, dan Sangha).[1]
  3. Kami tidak mempercayai dunia ini diciptakan dan diatur oleh tuhan.[2]
  4. Kami mengingat bahwa tujuan hidup adalah mengembangkan belas kasih untuk semua makhluk tanpa diskriminasi dan berusaha untuk kebaikan, kebahagiaan, dan kedamaian mereka; dan untuk mengembangkan kebijaksanaan yang mengarah pada perealisasian Kebenaran Tertinggi.Kami menerima Empat Kebenaran Arya, yaitu dukkha, penyebab timbulnya dukkha, padamnya dukkha, dan jalan menuju pada padamnya dukkha; dan menerima hukum sebab dan akibat (Paticcasamuppada/ Pratityasamutpada).
  5. Segala sesuatu yang berkondisi (sankhara / samskara) adalah tidak kekal (anicca / anitya) dan dukkha, dan segala sesuatu yang berkondisi dan yang tidak berkondisi (dhamma) adalah tanpa inti, bukan diri sejati (anatta / anatma).
  6. Kami menerima Tigapuluh Tujuh (37) kualitas yang membantu menuju Pencerahan (Bodhipakkhika Dhamma / Bodhipaksa Dharma) sebagai segi-segi yang berbeda dari Jalan yang diajarkan oleh Sang Buddha yang mengarah pada Pencerahan.
  7. Ada tiga jalan mencapai bodhi atau Pencerahan: yaitu sebagai Savakabuddha / Sravakabuddha, sebagai Paccekabuddha / Pratyekabuddha, dan sebagai Samyaksambuddha / Sammasambuddha. Kami menerimanya sebagai yang tertinggi, termulia dan terheroik untuk mengikuti karir Bodhisattva dan untuk menjadi seorang Sammasambuddha dalam rangka menyelamatkan makhluk lain. [3]
  8. Kami mengakui bahwa di negara yang berbeda terdapat perbedaan pandangan kepercayaan-kepercayaan dan praktik Buddhis. Bentuk dan ekspresi luar ini seharusnya tidak boleh dicampuradukkan/dikelirukan (perlu dipisahkan) dengan esensi/inti ajaran-ajaran Sang Buddha.

Perluasan Rumusan

Pada tahun 1981 Y.M. Walpola Sri Rahula mengajukan alternatif rumusan yang mengacu pada 9 dasar dalam rumusan terdahulu. Rumusan tersebut berisi:
  1. Apapun aliran, kelompok atau sistem kami, sebagai Buddhis kami semua menerima Sang Buddha sebagai Guru kami yang memberikan kami ajaranNya.
  2. Kami semua berlindung pada Tiga Permata (Tiratana): Sang Buddha, Guru kami; Dhamma, ajaranNya; dan Sangha, Komunitas para Arya (suciwan). Dengan kata lain, kami berlindung pada Pengajar, Pengajaran, dan Hasil Pengajaran.
  3. Baik Theravada ataupun Mahayana, kami tidak mempercayai bahwa dunia ini diciptakan dan diatur oleh tuhan atas kehendaknya.
  4. Mengikuti keteladanan Sang Buddha, Guru kami yang merupakan perwujudan dari Belas kasih Agung (Maha Karuna) dan Kebijaksanaan Agung (Maha Prajna), kami menyadari bahwa tujuan dari hidup adalah untuk mengembangkan belas kasih bagi semua makhluk hidup tanpa diskriminasi dan untuk bekerja untuk kebaikan, kebahagiaan, dan kedamaian mereka; dan untuk mengembangkan kebijaksanaan yang mengarah pada realisasi Kebenaran Tertinggi.
  5. Kami menerima Empat Kebenaran Mulia yang diajarkan oleh Sang Buddha, yaitu, Dukkha, kebenaran bahwa keberadaan kita di dunia ini berada dalam kesukaran, tidak kekal, tidak sempurna, tidak memuaskan, penuh dengan konflik; Samudaya, kebenaran bahwa kondisi-kondisi ini merupakan hasil dari sifat egois kita yang mementingkan diri sendiri berdasarkan pada ide yang salah mengenai diri; Niroda, kebenaran bahwa adanya kepastian akan kemungkinan pelepasan, pembebasan, kemerdekaan dari kesukaran ini dengan pemberantasan secara total sifat egois yang mementingkan diri sendiri; dan Magga, kebenaran bahwa pembebasan ini dapat dicapai melalui Jalan Tengah yang terdiri dari delapan faktor, yang mendorong ke arah kesempurnaan akan kemoralan (sila), disiplin mental (samadhi), dan kebijaksanaan (panna).
  6. Kami menerima hukum semesta sebab akibat yang terdapat dalam Paticcasamuppada (Skt. Pratityasamutpada, Sebab Musabab Yang Saling Bergantungan), dan oleh karena itu kami menerima bahwa segala sesuatu bersifat relatif, saling berhubungan, saling berkaitan dan tidak ada yang mutlak, tetap, dan kekal di alam semesta ini.
  7. Kami memahami, berdasarkan pada ajaran Sang Buddha, bahwa segala sesuatu yang berkondisi (sankhara) adalah tidak kekal (anicca), tidak sempurna dan tidak memuaskan (dukkha), dan segala sesuatu yang berkondisi dan tidak berkondisi (dhamma) adalah bukan diri/ tanpa inti (anatta).
  8. Kami menerima Tigapuluh Tujuh kualitas yang berguna bagi pencapaian Pencerahan (Bodhipakkhiya Dhamma) sebagai beragam aspek yang berbeda dari Jalan yang diajarkan oleh Sang Buddha yang mendorong ke arah Pencerahan, yaitu:
    1. Empat Bentuk Landasan Perhatian Benar (Pali: satipatthana; Skt. smrtyupasthana);
    2. Empat Daya Upaya Benar (Pali. sammappadhana; Skt. samyakpradhana);
    3. Empat Dasar Kekuatan Batin (Pali. iddhipada; Skt. rddhipada);
    4. Lima Macam Kemampuan (indriya: Pali. saddha, viriya, sati, samadhi, panna; Skt. sraddha, virya, smrti, samadhi, prajna);
    5. Lima Macam Kekuatan (bala: saddha, viriya, sati, samadhi, panna; Skt. sraddha, virya, smrti, samadhi, prajna);
    6. Tujuh Faktor Pencerahan Agung (Pali. bojjhanga; Skt. bodhianga);
    7. Delapan Ruas pada Jalan Mulia (Pali. ariyamagga; Skt. aryamarga).
  9. Ada tiga jalan untuk mencapai Bodhi atau Pencerahan Agung berdasarkan pada kemampuan/kecakapan dan kapasitas dari masing-masing individu, yaitu: sebagai seorang Sravaka (Yang melaksanakan ajaran Sammasambuddha ), sebagai seorang Pratyekabuddha (Buddha Yang tidak memberikan pengajaran) dan sebagai seorang Samyaksambuddha (Buddha Yang Sempurna). Kami menerima jika mengikuti karir seorang Boddhisattva adalah untuk menjadi seorang Samyaksambuddha dalam rangka menyelamatkan yang lain, merupakan sesuatu yang tertinggi, mulia dan paling heroik. Tetapi ketiga kondisi ini berada dalam Jalan yang sama, tidak berada dalam jalan yang berbeda. Sesungguhnya, Sandhinirmocana Sutra, salah satu sutra Mahayana yang penting, secara jelas dan tegas mengatakan bahwa mereka yang mengikuti garis Sravaka-yana (Wahana Sravaka) atau garis Pratyekabuddha-yana (Wahana Pratyekabuddha) atau garis Para Tathagata (Mahayana) mencapai Nibbana tertinggi dengan Jalan yang sama, dan oleh karena itu bagi mereka semua hanya ada satu Jalan Pemurnian (visuddhi-marga) dan hanya satu Pemurnian (visuddhi) dan tidak ada yang lain, dan oleh karena itu mereka bukanlah jalan yang berbeda dan pemurnian yang berbeda, dan oleh karena itu Sravakayana dan Mahayana merupakan Satu Wahana, Satu Yana (eka-yana) dan bukanlah wahana atau yana yang berbeda.
  10. Kami mengakui bahwa dalam negara-negara yang berbeda ada perbedaan mengenai tata cara hidup dari para biarawan Buddhis, kepercayaan dan praktik, upacara dan ritual-ritual, seremonial, adat istiadat dan kebiasaan umat Buddha yang bersifat umum. Bentuk eksternal (luar) dan ekspresi ini semestinya tidak boleh dicampuradukkan/dikelirukan (perlu dipisahkan) dengan esensi/inti ajaran-ajaran Sang Buddha.
Rumusan Lain
Ada beberapa tokoh ataupun sarjana Buddhis yang juga merumuskan persamaan ajaran antara Theravada dan Mahayana yang isinya sebagian besar sama dengan rumusan WBSC.

Y.M. K. Sri Dhammananda memberikan rumusan seperti berikut:
  1. Kedua aliran menerima Buddha Sakyamuni sebagai Guru.
  2. Empat Kebenaran Arya adalah sama persis dikedua aliran.
  3. Jalan Utama Berunsur Delapan adalah sama persis dikedua aliran.
  4. Paticcasamuppada atau ajaran akan Sebab-Musabab Yang Bergantungan adalah sama persis dikedua aliran.
  5. Kedua aliran menolak ide akan “makhluk tertinggi” yang menciptakan dan mengatur dunia ini.
  6. Kedua aliran menerima Anicca, Dukkha, Anatta dan Sila, Samadhi, Panna tanpa adanya perbedaan.
__________________
Seindah mengembangnya ekor merak dari surga,
Seindah itu pula lah rangkaian kata - kata di dunia
Mari kita belajar merangkai kata di Forum Bahasa dan Sastra WG!!!

-ViOn- is offline   Reply With Quote
Old September 09, 2009, 08:19   #15
Braver
Banned Member
 
Braver's Avatar
 
Join Date: Aug 2009
Location: Jakarta
Posts: 1,011
WebPoint: 0
GaulPoint: 881
Braver belum terkenal
Jataka V.238 says thus: "If God designs the life of the entire world -- the glory and the misery, the good and the evil acts, man is but an instrument of his will and God alone is responsible."

Seems to me that this verse states that if God is the Maker of both good and evil acts, then God alone is responsible for the good and evil acts.

And Jataka VI.208 says thus: "He who eyes can see the sickening sight, why does not God set his creatures right? If his wide power no limits can restrain, why is his hand so rarely spread to bless? Why are his creatures all condemned to pain? Why does he not to all give happiness? Why do fraud, lies, and ignorance prevail? Why triumphs falsehood, -truth and justice fail? I count your God unjust in making a world in which to shelter wrong."

Again, here it states that Buddha states that the God who is the Source of both good and evil acts is an unjust God.

He must have addressed these words to those who believe that God is the Source of both good and evil acts.

These verses do not deny the existence of God, only stating Gautama's opinion that such-and-such a God (who is the Source of both good and evil acts) is unjust.
Braver is offline   Reply With Quote
Reply

Bookmarks

Thread Tools

Posting Rules
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts

BB code is On
Smilies are On
[IMG] code is On
HTML code is Off

Forum Jump


All times are GMT. The time now is 07:11.

SIDEBAR
Remove This Bar
Register / Login to remove this bar and All Ads.
Image




Powered by vBulletin® Version 3.8.2
Copyright ©2000 - 2010, Jelsoft Enterprises Ltd.
Copyright ©2007, WebGaul. All Rights Reserved. A ZEIN Company. Designed, Developed, Maintained, Optimized, Operated by ZEIN.