WebGaul Forum : : A ZEIN Company  

Go Back   WebGaul Forum : : A ZEIN Company > :: FORUM DISKUSI WEBGAUL > Agama dan Iman > Kong Hu Cu dan Taoisme
WebGaul Forum Gallery Register Blogs FAQ Calendar Mark Forums Read
Notices






Reply
 
Thread Tools
Old June 13, 2009, 14:48   #1
dragonballz
Registered User
 
Join Date: May 2008
Posts: 332
WebPoint: 0
GaulPoint: 1.524
dragonballz belum terkenal
Nilai sebuah kebenaran

Rekan2 semua, baru2 ini telah dibahas topik yang sangat seru yaitu kebenaran. Dari diskusi, akhirnya didapat kesimpulan bahwa kebenaran adalah tetap kebenaran, tanpa kondisi, pengakuan, dll, Kalaupun ada kesalahan, maka manusia lah yang salah dalam menemukan kebenaran (merasa menemukan kebenaran yang ternyata dikemudian hari ternyata salah).
Untuk lebih lengkapnya, bisa dibaca sendiri di forum agama, topik "kebenaran suatu agama".

Dalam agama Khonghucu, dikenal 3 macam kebenaran / jalan suci, yaitu Tian Tao, Ren Tao dan Tee Tao, atau jalan suci Tuhan, Jalan suci manusia dan jalan suci bumi / alam.

Jalan suci Tuhan, kalau digambarkan secara sederhana adalah hukum Tuhan, Yin Yang yang berlaku dan meliputi alam semesta.
Jalan suci bumi / alam, adalah hukum2 atau ilmu pengetahuan alam.
Hukum Tuhan dan hukum ilmu pengetahuan alam mengandung kebenaran yang sifatnya tetap, kebenaran adalah kebenaran.

Jalan suci manusia adalah kebenaran yang ada atau dimiliki oleh manusia yang berhubungan dengan rasa, perasaan manusia dalam menilai kebenaran.
Karena berhubungan dengan rasa, perasaan manusia, maka nilai kebenaran menjadi relatif, bermacam2, sehingga perkalian 8 x 3 yang dalam matematika, hanya punya 1 jawaban yang pasti yaitu 24, tetapi bisa jadi 23 atau yang lain kalau ditinjau dari sudut pandang lain, yaitu kebenaran manusia.
Saya akan ceritakan mengenai 8 x 3 = 23, yang merupakan percakapan nabi Khongzi dengan murid2 nya.

Diceritakan ketika itu 2 murid nabi sedang berdebat mengenai jawaban masalah matematika yaitu 8 x 3. Murid yang satu namanya Gan Hwee adalah murid nabi yang paling pandai, sedang murid yang satunya (saya lupa namanya) kita sebut saja dragon, adalah murid yang kurang pandai, terutama dalam bidang matematis.
Gan Hwee menjawab kalau 8 x 3 adalah 24, sedang si dragon menjawab 8 x 3 = 23, kedua murid masing2 kukuh, merasa benar dengan jawaban masing2.
Perdebatan tersebut makin seru dan panas, sampai akhirnya mereka berani bertaruh mempertahankan jawabannya masing2.
Gan Yan bertaruh kalau sampai jawabannya salah, maka dia akan melepas topi terpelajarnya (saat itu membuang topi pelajarnya, kira2 sama dengan melepas semua gelar sarjana di jaman sekarang, mengakui bukan seorang terpelajar), sedang si dragon bertaruh kalau sampai jawaban dia salah, dia akan memotong lehernya. Karena tidak ada titik temu, keduanya sepakat untuk menanyakan pada gurunya, jawaban mana yang benar.

Maka kedua murid tadi menemui gurunya, nabi Khongzi, dan di hadapan gurunya, kedua murid tadi menanyakan jawaban dari 8 x 3= 24 atau 23, sang Nabi balik bertanya kalau 24 bagaimana dan kalau 23 bagaimana.
Gan Yan menjawab, kalau jawabannya 23, maka dia akan melepas / membuang topi terpelajarnya dan kalau jawabannya 24, maka si dragon akan memotong lehernya sendiri.
Mendengar itu nabi berkata, 'kalau begitu jawabannya adalah 23'.
Si Dragon sangat senang, merasa dapat mengalahkan Gan Yan yang terkenal kepandaiannya, sedangkan Gan Hwee membuang topinya dengan perasaan kecewa, marah, dongkol.
Tak lama, Gan Hwee pamit pulang dengan tujuan tidak kembali pada gurunya karena menyangka gurunya bodoh, sang Nabi sambil tersenyum memberi nasehat untuk berhati2 dan kalau turun hujan (langit saat itu mendung), jangan berdiri / berlindung dibawah pohon yang tinggi, sang murid mengiyakan saja.

Benar juga, tak lama kemudian turun hujan deras dan ketika akan berteduh dibawah pohon besar yang tinggi, mendadak Gan Yan teringat nasehat gurunya, dan kemudian mencari tempat lain. Tak lama kemudian, mendadak ada petir yang menyambar pohon tersebut, maka sadarlah Gan Hwee kalau sesungguhnya gurunya tidak bodoh karena dapat menduga yang akan terjadi.
Maka dengan bergegas, Gan Yan kembali menemui gurunya dan menceritakan pengalamannya, kemudian bertanya mengapa Nabi membenarkan jawaban si Dragon yang tentunya Nabi ketahui adalah salah.
Nabi menjawab, kalau saya menyalahkan kamu (Gan Yan), maka kamu hanya harus melepas topi pelajarmu, sedang kalau saya menyalahkan dragon, maka dia akan kehilangan lehernya, nah menurut kamu mana yang harus saya pilih.
Diberi penjelasan demikian, Gan Hwee akhirnya mengerti, rela dan tidak mempermasalahkan lagi atas kehilangan topinya.

Dari cerita diatas, Gan Yan memiliki kebenaran yang berisi bukti tak terbantahkan, sedang dragon juga terbukti kesalahannya, itu kalau ditinjau secara ilmu pengetahuan, khususnya matematika.
Tapi dalam menilai kebenaran dengan melibatkan nurani dan kebijaksanaan, maka 8 x 3 = 24 adalah kebenaran kecil.
Sedangkan membuat keputusan bijak dengan membenarkan 8 x 3 = 23 agar tidak sampai terjadi masalah yang lebih besar artinya adalah kebenaran besar.
dragonballz is offline   Reply With Quote
Recommendation Sponsored Ads
Old June 16, 2009, 02:48   #2
xin_guard
Moderator
 
Join Date: Jul 2008
Posts: 421
WebPoint: 0
GaulPoint: 444
xin_guard belum terkenal
Quote:
Originally Posted by dragonballz View Post
................

Dari cerita diatas, Gan Yan memiliki kebenaran yang berisi bukti tak terbantahkan, sedang dragon juga terbukti kesalahannya, itu kalau ditinjau secara ilmu pengetahuan, khususnya matematika.
Tapi dalam menilai kebenaran dengan melibatkan nurani dan kebijaksanaan, maka 8 x 3 = 24 adalah kebenaran kecil.
Sedangkan membuat keputusan bijak dengan membenarkan 8 x 3 = 23 agar tidak sampai terjadi masalah yang lebih besar artinya adalah kebenaran besar.
kisah yang bagus dan bijak...
Untuk menegakkan kebenaranpun manusia haruslah bertindak bijak, jangan sampai karena ingin menegakkan sebuah kebenaran dengan sangat kukuh tetapi mengorbankan hal-hal lain yang lebih besar.

salam kebajikan
__________________
Kalau mau nyari wallpapers, atau cari makan apapun, yang penting semua HALAL
xin_guard is offline   Reply With Quote
Old June 16, 2009, 18:12   #3
fionatjandra
Registered User
 
Join Date: Mar 2009
Posts: 400
WebPoint: 0
GaulPoint: 347
fionatjandra belum terkenal
Saya juga suka cerita di atas. The correct thing to do isn't always the right thing to do.

Tapi tentunya si murid bodoh tidak bisa dibiarkan bodoh terus. Kali ini dia cuma merusak masa depan seorang murid pandai, bagaimana bila lain kali si bodoh menantang 1000 murid pandai sekaligus. Suatu kerugian besar bila suatu negara kehilangan 1000 sarjana pandai gara2 dibuat drop out sama si bodoh.
fionatjandra is offline   Reply With Quote
Old June 17, 2009, 07:38   #4
xin_guard
Moderator
 
Join Date: Jul 2008
Posts: 421
WebPoint: 0
GaulPoint: 444
xin_guard belum terkenal
Quote:
Originally Posted by fionatjandra View Post
Saya juga suka cerita di atas. The correct thing to do isn't always the right thing to do.

Tapi tentunya si murid bodoh tidak bisa dibiarkan bodoh terus. Kali ini dia cuma merusak masa depan seorang murid pandai, bagaimana bila lain kali si bodoh menantang 1000 murid pandai sekaligus. Suatu kerugian besar bila suatu negara kehilangan 1000 sarjana pandai gara2 dibuat drop out sama si bodoh.
Suatu dikatakan "benar" tergantung dari "Konteks" tertentu. Tergantung dari situasi, kondisi dan sudut dari si pemberi dan penerima kebenaran tersebut.
Sebuah keadaan yang menjadikan suatu hal itu benar, janganlah kita buat 1 rumusan lalu kita paksakan untuk terapkan ke berbagai hal yang sebenarnya keadaannya berbeda. Atau jangan dipaksakan ke masalah dengan aspek-aspek kondisi yang berbeda.

Kalimat : "bagaimana bila lain kali si bodoh menantang 1000 murid pandai sekaligus", ini sudah masuk pada kondisi yang berbeda ( kondisi baru ). Jika kebenaran dari cerita tersebut kita masukkan kedalam kondisi baru ini tentu akan terasa tidak pas. Karena konteks / kondisinya memang sudah berbeda.


pola pemikiran 1
1+1=2 itu matematika dasar, tanpa kondisi, aspek-aspek lain yang mempengaruhi angka 1 itu.

pola pemikiran 2
1 piring mangga + 1 piring apel =

1piring berisi 5 mangga + 1 piring berisi 5 apel
Angka 1 disini meimiliki kondisi/aspek-aspek yang mempengaruhinya, jadi tentu jawabannya bukan 2.

Orang yang selalu berpikir dengan pola pikir pertama memang cukup handal untuk berpikir secara logika matematis. Ini adalah cara pola pikir vertikal (lurus). Dan sebenarnya ini memiliki banyak kelemahan untuk memecahkan masalah-masalah sosial, religi, psikologi dll.

Pola pemikiran kedua adalah pola pemikiran yang lebih lateral/ horisontal / holistik / menyeluruh dari berbagai sudaut pandang. Pola pikir inilah yang termasuk dipakai didalam ajaran Khong Hu Cu, yang lebih tepat jika disebut pola pikir dialektis yin-yang.

Lain halnya Jika kita mengetahui konsep / pola pikir yin-yang ( dialektis ), kita bisa melihat masalah-masalah dari berbagai sudut pandang dan dapat menyikapinya secara bijaksana

semoga bermanfaat

salam kebajikan
__________________
Kalau mau nyari wallpapers, atau cari makan apapun, yang penting semua HALAL
xin_guard is offline   Reply With Quote
Old June 17, 2009, 08:18   #5
fionatjandra
Registered User
 
Join Date: Mar 2009
Posts: 400
WebPoint: 0
GaulPoint: 347
fionatjandra belum terkenal
Saya setuju sekali dengan pemikiran xin_guard. Tapi di lain pihak sebagai seorang guru adalah merupakan kewajiban untuk memberi pandangan yang benar kepda murid2nya. Mungkin bila keadaan sudah tenang sang guru akan memanggil kembali si bodoh dan memberikan les tambahan matematika ^_^. Bila sampai mati si bodoh beranggapan 8X3=23, dia bisa jadi bahan tertawaan seumur hidup. Tidak perlu ditanggapi lagi kata2 saya, ini hanya pemikiran iseng. Kadang2 kalau mendengar cerita yang menggugah pikiran, saya suka kepikiran gimana kalau begini, gimana kalau begitu. Me and the voices in my head....
fionatjandra is offline   Reply With Quote
Old June 17, 2009, 08:26   #6
coqueline
Libertine
 
coqueline's Avatar
 
Join Date: Feb 2004
Posts: 13,676
WebPoint: 0
GaulPoint: 7617
coqueline belum terkenal
Gue kok kurang suka ya sama cerita ini. Kesan yg gue tangkap, murid yg bodoh, nekat pula, mempertaruhkan leher demi kali2an, bukannya diberitahu kesalahannya (dan kesalahan mempertaruhkan leher sendiri buat hal2 gak penting), malah diberi angin, dan dibiarkan bodoh in the process.

Gue paham kalo moral cerita ini adalah kebenaran tidak selalu sama dengan kebaikan, tapi dari contoh cerita ini, kesimpulan gue adalah kebaikan bukan selalu jalan terbaik.
coqueline is offline   Reply With Quote
Old June 17, 2009, 08:45   #7
xin_guard
Moderator
 
Join Date: Jul 2008
Posts: 421
WebPoint: 0
GaulPoint: 444
xin_guard belum terkenal
Quote:
Originally Posted by fionatjandra View Post
Tidak perlu ditanggapi lagi kata2 saya, ini hanya pemikiran iseng. Kadang2 kalau mendengar cerita yang menggugah pikiran, saya suka kepikiran gimana kalau begini, gimana kalau begitu. Me and the voices in my head....
aduuhh..berarti saya mungkin yang terlalu serius yah....
__________________
Kalau mau nyari wallpapers, atau cari makan apapun, yang penting semua HALAL
xin_guard is offline   Reply With Quote
Old June 17, 2009, 08:59   #8
xin_guard
Moderator
 
Join Date: Jul 2008
Posts: 421
WebPoint: 0
GaulPoint: 444
xin_guard belum terkenal
Quote:
Originally Posted by coqueline View Post
Gue kok kurang suka ya sama cerita ini. Kesan yg gue tangkap, murid yg bodoh, nekat pula, mempertaruhkan leher demi kali2an, bukannya diberitahu kesalahannya (dan kesalahan mempertaruhkan leher sendiri buat hal2 gak penting), malah diberi angin, dan dibiarkan bodoh in the process.

Gue paham kalo moral cerita ini adalah kebenaran tidak selalu sama dengan kebaikan, tapi dari contoh cerita ini, kesimpulan gue adalah kebaikan bukan selalu jalan terbaik.
Itu memang contoh yang ekstrim agar memiliki maksud dan makna filososfis yang jelas. Didunia ini memang ada orang yang mengorbankan hal besar untuk mempertahankan sesuatu hal kecil yang dianggapnya benar.

Yang lebih parah lagi saat ini di dunia banyak yang tidak mau mengkorbankan hal-hal kecil untuk mempertahankan kebenaran yang benar benar besar dan benar-benar baik. Dan dengan egoisme mereka kemudian memikirkan/mengutamakan keuntungan-keuntungan relatif kecil daripada sebuah kebenaran-kebenaran besar.

salam kebajikan
__________________
Kalau mau nyari wallpapers, atau cari makan apapun, yang penting semua HALAL
xin_guard is offline   Reply With Quote
Old June 17, 2009, 09:57   #9
coqueline
Libertine
 
coqueline's Avatar
 
Join Date: Feb 2004
Posts: 13,676
WebPoint: 0
GaulPoint: 7617
coqueline belum terkenal
Jadi pertanyaannya, dalam kasus yg tidak ekstrim, mana yg lebih patut dipertahankan, kebenaran, atau kebaikan?
coqueline is offline   Reply With Quote
Old June 17, 2009, 10:11   #10
dragonballz
Registered User
 
Join Date: May 2008
Posts: 332
WebPoint: 0
GaulPoint: 1524
dragonballz belum terkenal
Quote:
Originally Posted by coqueline View Post
Gue kok kurang suka ya sama cerita ini. Kesan yg gue tangkap, murid yg bodoh, nekat pula, mempertaruhkan leher demi kali2an, bukannya diberitahu kesalahannya (dan kesalahan mempertaruhkan leher sendiri buat hal2 gak penting), malah diberi angin, dan dibiarkan bodoh in the process.
Gue paham kalo moral cerita ini adalah kebenaran tidak selalu sama dengan kebaikan, tapi dari contoh cerita ini, kesimpulan gue adalah kebaikan bukan selalu jalan terbaik.
Kadang2 manusia entah karena fanatisme, atau lain sebab, menjadi bodoh dan nekad sampai rela berkorban nyawa, rasio atau nalar sudah menjadi urusan kesekian.
Dalam cerita diatas, permasalahannya bukan karena hal sepele perkalian, tapi karena perdebatan sengit yang masing2 pihak mempertahankan kebenarannya masing2, dalam hal ini emosi dan nafsu jelas sudah keluar dan tidak pada tempatnya.

Kalau sdr lihat2 berita, sering kali kita dengar adanya perkelahian, tawuran bahkan pertarungan nyawa karena hal yang sangat2 sepele.
Dalam agama Khonghucu, nafsu, emosi mesti terkendali tidak berlebihan, mesti senantiasa eling lan waspodo dalam jalani kehidupan, namun kadang namanya manusia yang banyak kelemahan maupun keterbatasan, mungkin sekali khilaf, dan kalau sudah dibiasakan untuk senantiasa waspada dan mengendalikan diri, maka meski khilaf, rasanya tidak akan sampai kebablasan.

Anda salah tangkap esensi cerita diatas, bukan kebodohan dibiarkan, tapi Nabi dihadapkan 2 pilihan antara satu murid harus melepas topi dan satunya melepas leher, maka tentu bahkan orang biasa pun mungkin dapat mengambil keputusan yang sama.
Jaman itu perkataan harus dan harus selalu bisa dipegang, apalagi taruhan (janji), makanya jaman dahulu orang tidak berani sembarang berbicara karena kuatir tidak dapat memenuhi apa yang telah diucapkan.
Saya percaya tentunya setelah taruhan selesai dilakukan, maka murid tersebut diberi pengertian (diberitahu bahwa sebenarnya dia yang salah), bahkan mungkin kemudian dua2 nya dimarahi karena sampai berani taruhan untuk hal2 yang sepele dan tidak perlu serta telah melupakan pembinaan diri.

Untuk sdri fiona, mengakui kalah pandai itukan hanya pengakuan saja, tidak akan menyebabkan si murid tersebut jadi bodoh, dengan kata lain sedikit berkorban (merugikan diri sendiri) untuk menolong menyelamatkan nyawa orang lain bukankah patut untuk dilakukan ?
dragonballz is offline   Reply With Quote
Old June 17, 2009, 11:10   #11
dragonballz
Registered User
 
Join Date: May 2008
Posts: 332
WebPoint: 0
GaulPoint: 1524
dragonballz belum terkenal
Quote:
Originally Posted by coqueline View Post
Jadi pertanyaannya, dalam kasus yg tidak ekstrim, mana yg lebih patut dipertahankan, kebenaran, atau kebaikan?
Ijinkan saya tanggapi,
Saya rasa manusia diberi rasa, naluri, nurani, selain nafsu, emosi tentunya dimaksudkan untuk dapat digunakan sebaik2 nya.
Kebenaran kalau dari sudut pandang manusia (maksud saya bukan dari sudut pandang / pengertian kebenaran itu sendiri), akan relatif, untuk hal yang sama, manusia kadang berbeda persepsi kebenarannya.
Baik dalam contoh ekstrim atau tidak, tidak ada hal yang kaku bahwa a hrs dipertahankan dan b kalau mood / nomor dua saja, keduanya diperlakukan sama.
Dalam contoh ekstrim, dimaksudkan agar orang yang diceritain lebih mudah mengerti, itu saja.
Dalam agama Khonghucu, diajarkan segala sesuatu nya flesibel seperti Yin Yang yang saling harmonis seimbang, maka tidak ada patokan pasti antara kebenaran atau kebaikan yang didahulukan atau dipertahankan.
Tetapi bukan berarti terus tidak memilih / bingung dalam memutuskan, umat Khonghucu menggunakan tripusaka sebagai pegangan hidup yaitu cinta (jin) kasih , kebijaksanaan(Ti) dan keberanian (yong).
Dengan dasar cinta kasih yang merupakan akar dari segala sifat baik, dalam menghadapi suatu masalah atau permasalahan atau problem, dan disertai dengan kebijaksanaan dalam memilah, menilai, memilih dari pilihan-pilihan yang ada, yang akhirnya didorong keberanian untuk mengambil keputusan yang paling tepat, bijak serta mengandung / didasari sifat kasih sayang walaupun untuk itu (keputusan itu) bahkan merugikan diri sendiri.

Dalam hal ini yang dipertimbangkan bukan hanya untung rugi seperti dalam bisnis belaka, tapi ada sesuatu yang lebih besar (cinta kasih) yang juga akan dan harus dimasukkan sebagai komponen dalam memutuskan / mngambil keputusan.
Cinta kasih merupakan akar dari sifat2 baik, termasuk juga rasa (perasaan, nilai) kebenaran dalam diri manusia.
Maka tentunya kalau dinilai secara logis / nalar, keputusan yang diambil akan meliputi juga rasa / nilai kebenaran sekaligus kebaikan, kebenaran dalam kacamata kebijaksanaan, kebaikan dalam kacamata cinta kasih.
dragonballz is offline   Reply With Quote
Old June 18, 2009, 00:03   #12
fionatjandra
Registered User
 
Join Date: Mar 2009
Posts: 400
WebPoint: 0
GaulPoint: 347
fionatjandra belum terkenal
Quote:
Originally Posted by dragonballz View Post
Untuk sdri fiona, mengakui kalah pandai itukan hanya pengakuan saja, tidak akan menyebabkan si murid tersebut jadi bodoh, dengan kata lain sedikit berkorban (merugikan diri sendiri) untuk menolong menyelamatkan nyawa orang lain bukankah patut untuk dilakukan ?
Yang saya bilang si bodoh itu, murid yang bilang 8x3=23. Si pandai adalah yang merelakan melepas topinya walau dia tahu dia benar. But seriously, do we really want to argue about this?
fionatjandra is offline   Reply With Quote
Old June 18, 2009, 04:09   #13
xin_guard
Moderator
 
Join Date: Jul 2008
Posts: 421
WebPoint: 0
GaulPoint: 444
xin_guard belum terkenal
Quote:
Originally Posted by coqueline View Post
Jadi pertanyaannya, dalam kasus yg tidak ekstrim, mana yg lebih patut dipertahankan, kebenaran, atau kebaikan?
8x3=24 adalah sebuah kebenaran
Memilih membuat orang melepas topi dari pada melepas kepala/nyawa adalah suatu pilihan yang benar juga.

Nabi Kongzi yang memutuskan untuk menyelamatkan nyawa dari pada sebuah kebenaran kecil merupakan suatu kebijaksanaan

Jika kita mencuri makanan untuk diberikan ke adik kita, kita melakukan hal kebaikan pada adik kita, tapi dilain sisi bukan hal yang benar apalagi bajik

Jadi ada suatu kebijaksanaan untuk memilih antara kebenaran dan kebaikan. Orang yang sudah dapat mencapai kebijaksanaan tersebut sudah dekat dengan jalan Kebajikan

salam kebajikan
__________________
Kalau mau nyari wallpapers, atau cari makan apapun, yang penting semua HALAL

Last edited by xin_guard; June 18, 2009 at 08:27.
xin_guard is offline   Reply With Quote
Reply

Bookmarks

Thread Tools

Posting Rules
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts

BB code is On
Smilies are On
[IMG] code is On
HTML code is Off

Forum Jump


All times are GMT. The time now is 07:51.

SIDEBAR
Remove This Bar
Register / Login to remove this bar and All Ads.
Image




Powered by vBulletin® Version 3.8.2
Copyright ©2000 - 2013, Jelsoft Enterprises Ltd.
Copyright ©2007, WebGaul. All Rights Reserved. A ZEIN Company. Designed, Developed, Maintained, Optimized, Operated by ZEIN.