WebGaul Forum : : A ZEIN Company  

Go Back   WebGaul Forum : : A ZEIN Company > :: FORUM DISKUSI WEBGAUL > Agama dan Iman > Buddha
WebGaul Forum Gallery Register Blogs FAQ Calendar Mark Forums Read
Notices






Reply
 
Thread Tools
Old May 14, 2008, 01:31   #1
Henry888jr
Registered User
 
Join Date: Sep 2007
Location: Sorong - Papua
Posts: 1,080
WebPoint: 0
GaulPoint: 22
Henry888jr belum terkenal
Thumbs up Pokok-Pokok Dasar Pemersatu Theravada dan Mahayana

Pokok-Pokok Dasar
Pemersatu Theravada dan Mahayana

Pendahuluan

Dalam suatu faham, kepercayaan ataupun agama tentunya memiliki ciri khas dalam ide, konsep ataupun ajarannya yang membedakannya satu dengan yang lain. Meskipun dalam suatu faham, kepercayaan ataupun agama tersebut memiliki aliran atau mazab atau tradisi yang beraneka ragam, namun pastilah memiliki ciri khas, kesamaan beberapa konsep ajaran yang mendasar yang menghubungan satu dengan yang lain sehingga aliran-aliran tersebut masih dapat digolongkan dalam faham, kepercayaan ataupun agama induknya.

Buddhisme merupakan agama yang juga tidak lepas dari keberagaman aliran ataupun tradisi. Mayoritas, terdapat dua aliran atau tradisi dalam Buddhisme, yaitu Theravada dan Mahayana (dengan mempertimbangkan Vajrayana merupakan bagian dari Mahayana). Digolongkannya aliran Theravada maupun Mahayana sebagai bagian dari Buddhisme tidak lepas dari adanya kesamaan yang mendasar dalam beberapa konsep ajaran yang merupakan inti sari dari Buddha Dhamma.

Dalam tulisan kali ini, kita disuguhkan persamaan pokok-pokok dasar yang terdapat dua aliran besar dalam Buddhisme yang menjadi pemersatu keduanya. Pokok-pokok dasar pemersatu ini terdapat dalam rumusan-rumusan yang sebelumnya telah dipelajari, disusun, dan diterima oleh para rohaniawan khususnya yang tergabung dalam Dewan Sangha Buddhis Sedunia.


Rumusan Oleh Dewan Sangha Buddhis Sedunia

Pada tahun 1966, Dewan Sangha Buddhis Sedunia atau World Buddhist Sangha Council (WBSC) terbentuk di Colombo, Sri Lanka pada bulan Mei. WBSC merupakan organisasi internasional non-pemerintah yang keanggotaannya terdiri dari sangha-sangha dari seluruh dunia.

WBSC memiliki perwakilan dari tradisi Theravada, Mahayana, dan Vajrayana, yang berasal dari berbagai negara yaitu: Australia, Bangladesh, Kanada, Denmark, Perancis, Jerman, Hong Kong, India, Indonesia, Jepang, Korea, Macao, Malaysia, Mongolia, Myanmar, Nepal, New Zealand, Philipina, Singapura, Sri Lanka, Sweden, Taiwan, Thailand, Inggris dan Amerika Serikat.

Pada Kongres WBSC Pertama, salah satu pendirinya, Sekretaris-jendral, almarhum Y.M. Pandita Pimbure Sorata Thera meminta Y.M. Walpola Rahula untuk memberikan rumusan ringkas untuk mempersatukan tradisi-tradisi yang berbeda, yang kemudian secara bulat disetujui oleh Dewan. Inilah sembilan “Pokok-Pokok Dasar Pemersatu Theravada dan Mahayana”:
  1. Sang Buddha hanyalah satu-satunya Guru dan Penunjuk Jalan.

  2. Kami berlindung dalam Ti Ratana (Buddha, Dhamma, dan Sangha).[1]

  3. Kami tidak mempercayai dunia ini diciptakan dan diatur oleh tuhan.[2]

  4. Kami mengingat bahwa tujuan hidup adalah mengembangkan belas kasih untuk semua makhluk tanpa diskriminasi dan berusaha untuk kebaikan, kebahagiaan, dan kedamaian mereka; dan untuk mengembangkan kebijaksanaan yang mengarah pada perealisasian Kebenaran Tertinggi.Kami menerima Empat Kebenaran Arya, yaitu dukkha, penyebab timbulnya dukkha, padamnya dukkha, dan jalan menuju pada padamnya dukkha; dan menerima hukum sebab dan akibat (Paticcasamuppada/ Pratityasamutpada).

  5. Segala sesuatu yang berkondisi (sankhara / samskara) adalah tidak kekal (anicca / anitya) dan dukkha, dan segala sesuatu yang berkondisi dan yang tidak berkondisi (dhamma) adalah tanpa inti, bukan diri sejati (anatta / anatma).

  6. Kami menerima Tigapuluh Tujuh (37) kualitas yang membantu menuju Pencerahan (Bodhipakkhika Dhamma / Bodhipaksa Dharma) sebagai segi-segi yang berbeda dari Jalan yang diajarkan oleh Sang Buddha yang mengarah pada Pencerahan.

  7. Ada tiga jalan mencapai bodhi atau Pencerahan: yaitu sebagai Savakabuddha / Sravakabuddha, sebagai Paccekabuddha / Pratyekabuddha, dan sebagai Samyaksambuddha / Sammasambuddha. Kami menerimanya sebagai yang tertinggi, termulia dan terheroik untuk mengikuti karir Bodhisattva dan untuk menjadi seorang Sammasambuddha dalam rangka menyelamatkan makhluk lain. [3]

  8. Kami mengakui bahwa di negara yang berbeda terdapat perbedaan pandangan kepercayaan-kepercayaan dan praktik Buddhis. Bentuk dan ekspresi luar ini seharusnya tidak boleh dicampuradukkan/dikelirukan (perlu dipisahkan) dengan esensi/inti ajaran-ajaran Sang Buddha.

Perluasan Rumusan

Pada tahun 1981 Y.M. Walpola Sri Rahula mengajukan alternatif rumusan yang mengacu pada 9 dasar dalam rumusan terdahulu. Rumusan tersebut berisi:
  1. Apapun aliran, kelompok atau sistem kami, sebagai Buddhis kami semua menerima Sang Buddha sebagai Guru kami yang memberikan kami ajaranNya.

  2. Kami semua berlindung pada Tiga Permata (Tiratana): Sang Buddha, Guru kami; Dhamma, ajaranNya; dan Sangha, Komunitas para Arya (suciwan). Dengan kata lain, kami berlindung pada Pengajar, Pengajaran, dan Hasil Pengajaran.

  3. Baik Theravada ataupun Mahayana, kami tidak mempercayai bahwa dunia ini diciptakan dan diatur oleh tuhan atas kehendaknya.

  4. Mengikuti keteladanan Sang Buddha, Guru kami yang merupakan perwujudan dari Belas kasih Agung (Maha Karuna) dan Kebijaksanaan Agung (Maha Prajna), kami menyadari bahwa tujuan dari hidup adalah untuk mengembangkan belas kasih bagi semua makhluk hidup tanpa diskriminasi dan untuk bekerja untuk kebaikan, kebahagiaan, dan kedamaian mereka; dan untuk mengembangkan kebijaksanaan yang mengarah pada realisasi Kebenaran Tertinggi.

  5. Kami menerima Empat Kebenaran Mulia yang diajarkan oleh Sang Buddha, yaitu, Dukkha, kebenaran bahwa keberadaan kita di dunia ini berada dalam kesukaran, tidak kekal, tidak sempurna, tidak memuaskan, penuh dengan konflik; Samudaya, kebenaran bahwa kondisi-kondisi ini merupakan hasil dari sifat egois kita yang mementingkan diri sendiri berdasarkan pada ide yang salah mengenai diri; Niroda, kebenaran bahwa adanya kepastian akan kemungkinan pelepasan, pembebasan, kemerdekaan dari kesukaran ini dengan pemberantasan secara total sifat egois yang mementingkan diri sendiri; dan Magga, kebenaran bahwa pembebasan ini dapat dicapai melalui Jalan Tengah yang terdiri dari delapan faktor, yang mendorong ke arah kesempurnaan akan kemoralan (sila), disiplin mental (samadhi), dan kebijaksanaan (panna).

  6. Kami menerima hukum semesta sebab akibat yang terdapat dalam Paticcasamuppada (Skt. Pratityasamutpada, Sebab Musabab Yang Saling Bergantungan), dan oleh karena itu kami menerima bahwa segala sesuatu bersifat relatif, saling berhubungan, saling berkaitan dan tidak ada yang mutlak, tetap, dan kekal di alam semesta ini.

  7. Kami memahami, berdasarkan pada ajaran Sang Buddha, bahwa segala sesuatu yang berkondisi (sankhara) adalah tidak kekal (anicca), tidak sempurna dan tidak memuaskan (dukkha), dan segala sesuatu yang berkondisi dan tidak berkondisi (dhamma) adalah bukan diri/ tanpa inti (anatta).

  8. Kami menerima Tigapuluh Tujuh kualitas yang berguna bagi pencapaian Pencerahan (Bodhipakkhiya Dhamma) sebagai beragam aspek yang berbeda dari Jalan yang diajarkan oleh Sang Buddha yang mendorong ke arah Pencerahan, yaitu:
    1. Empat Bentuk Landasan Perhatian Benar (Pali: satipatthana; Skt. smrtyupasthana);
    2. Empat Daya Upaya Benar (Pali. sammappadhana; Skt. samyakpradhana);
    3. Empat Dasar Kekuatan Batin (Pali. iddhipada; Skt. rddhipada);
    4. Lima Macam Kemampuan (indriya: Pali. saddha, viriya, sati, samadhi, panna; Skt. sraddha, virya, smrti, samadhi, prajna);
    5. Lima Macam Kekuatan (bala: saddha, viriya, sati, samadhi, panna; Skt. sraddha, virya, smrti, samadhi, prajna);
    6. Tujuh Faktor Pencerahan Agung (Pali. bojjhanga; Skt. bodhianga);
    7. Delapan Ruas pada Jalan Mulia (Pali. ariyamagga; Skt. aryamarga).

  9. Ada tiga jalan untuk mencapai Bodhi atau Pencerahan Agung berdasarkan pada kemampuan/kecakapan dan kapasitas dari masing-masing individu, yaitu: sebagai seorang Sravaka (Yang melaksanakan ajaran Sammasambuddha ), sebagai seorang Pratyekabuddha (Buddha Yang tidak memberikan pengajaran) dan sebagai seorang Samyaksambuddha (Buddha Yang Sempurna). Kami menerima jika mengikuti karir seorang Boddhisattva adalah untuk menjadi seorang Samyaksambuddha dalam rangka menyelamatkan yang lain, merupakan sesuatu yang tertinggi, mulia dan paling heroik. Tetapi ketiga kondisi ini berada dalam Jalan yang sama, tidak berada dalam jalan yang berbeda. Sesungguhnya, Sandhinirmocana Sutra, salah satu sutra Mahayana yang penting, secara jelas dan tegas mengatakan bahwa mereka yang mengikuti garis Sravaka-yana (Wahana Sravaka) atau garis Pratyekabuddha-yana (Wahana Pratyekabuddha) atau garis Para Tathagata (Mahayana) mencapai Nibbana tertinggi dengan Jalan yang sama, dan oleh karena itu bagi mereka semua hanya ada satu Jalan Pemurnian (visuddhi-marga) dan hanya satu Pemurnian (visuddhi) dan tidak ada yang lain, dan oleh karena itu mereka bukanlah jalan yang berbeda dan pemurnian yang berbeda, dan oleh karena itu Sravakayana dan Mahayana merupakan Satu Wahana, Satu Yana (eka-yana) dan bukanlah wahana atau yana yang berbeda.

  10. Kami mengakui bahwa dalam negara-negara yang berbeda ada perbedaan mengenai tata cara hidup dari para biarawan Buddhis, kepercayaan dan praktik, upacara dan ritual-ritual, seremonial, adat istiadat dan kebiasaan umat Buddha yang bersifat umum. Bentuk eksternal (luar) dan ekspresi ini semestinya tidak boleh dicampuradukkan/dikelirukan (perlu dipisahkan) dengan esensi/inti ajaran-ajaran Sang Buddha.
__________________
B-Your Fashion Jewelry Shop
Henry888jr is offline   Reply With Quote
Recommendation Sponsored Ads
Old May 14, 2008, 01:32   #2
Henry888jr
Registered User
 
Join Date: Sep 2007
Location: Sorong - Papua
Posts: 1,080
WebPoint: 0
GaulPoint: 22
Henry888jr belum terkenal
Rumusan Lain
Ada beberapa tokoh ataupun sarjana Buddhis yang juga merumuskan persamaan ajaran antara Theravada dan Mahayana yang isinya sebagian besar sama dengan rumusan WBSC.

Y.M. K. Sri Dhammananda memberikan rumusan seperti berikut:
  1. Kedua aliran menerima Buddha Sakyamuni sebagai Guru.
  2. Empat Kebenaran Arya adalah sama persis dikedua aliran.
  3. Jalan Utama Berunsur Delapan adalah sama persis dikedua aliran.
  4. Paticcasamuppada atau ajaran akan Sebab-Musabab Yang Bergantungan adalah sama persis dikedua aliran.
  5. Kedua aliran menolak ide akan “makhluk tertinggi” yang menciptakan dan mengatur dunia ini.
  6. Kedua aliran menerima Anicca, Dukkha, Anatta dan Sila, Samadhi, Panna tanpa adanya perbedaan.

Rumusan dari Oo Maung:
  1. Kesamaan dalam menerima Empat Kebenaran Arya.
  2. Kesamaan dalam menerima Jalan Utama Berunsur Delapan.
  3. Kesamaan dalam menerima Paticcasamuppada atau Sebab-Musabab Yang Bergantungan.
  4. Kesamaan dalam menerima Anicca, Dukkha, Anatta.
  5. Kesamaan dalam menerima Sila, Samadhi, Panna.
  6. Kesamaan dalam menolak konsep tuhan tertinggi.
Rumusan dari Tan Swee Eng:
  1. Buddha Sakyamuni merupakan pendiri Buddhisme yang asli dan berdasarkan sejarah.
  2. Tiga Corak Universal (Dukkha, Anica, dan Anatta), Empat Kebenaran Arya, Jalan Utama Berunsur Delapan, dan 12 rantai Sebab-Musabab Yang Bergantungan, merupakan fondasi dasar bagi seluruh aliran Buddhisme termasuk aliran Tibet dari Vajrayana.
  3. Tiga unsur latihan yaitu Kemoralan (sila), Meditasi (samadhi) dan Kebijaksanaan (prajna) adalah hal yang universal bagi semua aliran.
  4. Pengorganisasian Ajaran Buddha / Dharma terbagi menjadi tiga klasifikasi (Sutra/Sutta, Vinaya, dan sastra) terdapat pada kanon Buddhis di berbagai negara.
  5. Konsep pikiran melampaui materi. Pikiran sebagai hal yang mendasar dari penjinakan dan kontrol adalah hal yang fundamental bagi semua aliran.

Penutup

Dengan rumusan pokok-pokok dasar pemersatu ini, diharapkan kita dapat memahami ciri khas ajaran yang ada dalam Buddhisme yang membedakan agama besar ini dengan agama atau kepercayaan lainnya yang ada di dunia. Kita dapat memahami bahwa meskipun terdapat perbedaan antar aliran, namun memiliki ajaran pokok yang sama yang apabila diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dapat mengarahkan kita pada akhir penderitaan, Nibbana / Nirvana.
--End--

Catatan:
  1. Berlindung dalam Ti Ratana bukan berarti berserah diri. Buddha dalam pengertian Guru pembimbing, dimana Sakyamuni Buddha adalah Buddha Sejarah. Dan Buddha dalam pengertian Kesadaran. Dhamma dalam pengertian Kebenaran ataupun Ajaran Buddha. Sangha dalam pengertian persaudaraan / perkumpulan para Bhikkhu Arya.
  2. tuhan yang dimaksud adalah yang memiliki definisi: berpersonal, pencipta semesta, prima causa, ayah/ibu dari semua makhluk, paramatman, yang maha segalanya.
  3. Savakabuddha: pencapaian Pencerahan melalui mendengar ajaran dari Sammasambuddha. Paccekabuddha: pencapaian Pencerahan dengan usaha sendiri tanpa mengajar. Sammasambuddha: pencapaian pencerahan dengan usaha sendiri dan mengajar.
Literatur:
  1. The Heritage of the Bhikkhu; Walpola Rahula; New York, Grove Press, 1974; hal. 100, 137-138.
  2. Two Main Schools of Buddhism; K. Sri Dhammananda; Brickfields, Kuala Lumpur.
  3. Common Ground Between Theravada and Mahayana Buddhism; Tan Swee Eng; www.buddhanet.net
  4. Theravada Versus Mahayana; Oo Maung, 2006
Disusun oleh: Bhagavant.com
__________________
B-Your Fashion Jewelry Shop
Henry888jr is offline   Reply With Quote
Old May 14, 2008, 20:05   #3
bodhi
Registered User
 
Join Date: Aug 2007
Posts: 426
WebPoint: 0
GaulPoint: 79
bodhi belum terkenal
Quote:
Originally Posted by Henry888jr View Post
Segala sesuatu yang berkondisi (sankhara / samskara) adalah tidak kekal (anicca / anitya) dan dukkha.
disini nih letak kontroversi antara Theravada dan Mahayana mengenai Buddha Amitabha/Tanah Suci Sukhavati.
bodhi is offline   Reply With Quote
Old May 15, 2008, 01:58   #4
huangxiaoyen
Registered User
 
huangxiaoyen's Avatar
 
Join Date: Nov 2007
Location: Surabaya
Posts: 1,035
WebPoint: 0
GaulPoint: 226
huangxiaoyen belum terkenal
Hubungan letak kontroversinya kalau saya boleh tahu antara pernyataan saudara henry dengan Buddha Amitabha/Tanah Suci Sukhavati?
huangxiaoyen is offline   Reply With Quote
Old May 15, 2008, 06:35   #5
bodhi
Registered User
 
Join Date: Aug 2007
Posts: 426
WebPoint: 0
GaulPoint: 79
bodhi belum terkenal
Quote:
Originally Posted by huangxiaoyen View Post
Hubungan letak kontroversinya kalau saya boleh tahu antara pernyataan saudara henry dengan Buddha Amitabha/Tanah Suci Sukhavati?
menurut Mahayana,Sukhavati itu kan masih berkondisi tapi kekal dan Buddha Amitabha umurnya tidak terbatas alias kekal. ujung2nya gw jd bingung sendiri sbnernya menurut Mahayana, sesuatu yg masih berkondisi itu kekal apa gak.
bodhi is offline   Reply With Quote
Old May 15, 2008, 09:42   #6
Henry888jr
Registered User
 
Join Date: Sep 2007
Location: Sorong - Papua
Posts: 1,080
WebPoint: 0
GaulPoint: 22
Henry888jr belum terkenal
Talking

Quote:
Originally Posted by bodhi View Post
menurut Mahayana,Sukhavati itu kan masih berkondisi tapi kekal dan Buddha Amitabha umurnya tidak terbatas alias kekal. ujung2nya gw jd bingung sendiri sbnernya menurut Mahayana, sesuatu yg masih berkondisi itu kekal apa gak.
Bro Bodhi, soale Amitabha itu kan dah pake Cheat..
Jadi usia n nyawanya ga terbatas..
kalo buddha gotama kan ga, dia maen murni, usaha sendiri.. Jadi, wajarlah kalo nyawanya bisa habis..



__________________
B-Your Fashion Jewelry Shop
Henry888jr is offline   Reply With Quote
Old July 08, 2008, 03:37   #7
Metta_boyz
Registered User
 
Join Date: Jul 2008
Posts: 4
WebPoint: 0
GaulPoint: 0
Metta_boyz belum terkenal
alow smuanya
W liat di Wikipedia sejarah agama buddha, selain theravada n mahayana ada aliran lain jg loh. Itu klo gk salah Vajrayana.
klo Vajrayana itu gmn sic asal-usulnya?
Metta_boyz is offline   Reply With Quote
Old July 08, 2008, 04:34   #8
huangxiaoyen
Registered User
 
huangxiaoyen's Avatar
 
Join Date: Nov 2007
Location: Surabaya
Posts: 1,035
WebPoint: 0
GaulPoint: 226
huangxiaoyen belum terkenal
Quote:
Originally Posted by bodhi View Post
menurut Mahayana,Sukhavati itu kan masih berkondisi tapi kekal dan Buddha Amitabha umurnya tidak terbatas alias kekal. ujung2nya gw jd bingung sendiri sbnernya menurut Mahayana, sesuatu yg masih berkondisi itu kekal apa gak.
Eee... Sukhavati jg g kekal kok keliatannya tidak ada juga Sutra Mahayana yang menyebut Sukhavati kekal, mungkin kalo masa hidupnya panjang(alias kalo tidak dihitung dengan umur manusia weks.... sulit sekalimakanya dikatakan tidak terbatas) mungkin iya... Dan masalah Nirvana atau tidaknya Buddha Amitabha sekali lagi dapat dilihat dari sudut trikaya dari Buddha yg tidak ada dalam sudut pandang Theravada.
huangxiaoyen is offline   Reply With Quote
Old July 09, 2008, 05:14   #9
huangxiaoyen
Registered User
 
huangxiaoyen's Avatar
 
Join Date: Nov 2007
Location: Surabaya
Posts: 1,035
WebPoint: 0
GaulPoint: 226
huangxiaoyen belum terkenal
Vajrayana/Tantrayana(Kendaraan Vajra) masih merupakan bagian dari Mahayana. Guru manusia pertama kali yang menerima ajaran langsung dari Vajrasattva adalah Arya Mahatma Nagajurna, kemunculan Arya Mahatma Nagajurna ini disebut dalam Lankavantara Sutra nanti isinya saya coba carikan sekaligus sebagai Penegas jalan Mahayana. Beliau menyandang tanda2 Mahapurusalaksana.
Sedangkan di Tibet sendiri Tantrayana di bawa oleh Padmasambhava atas permintaan Raja Tibet dan adanya karma masa lampau mereka akan sumpahnya. Keberadaan beliau disebut dalam Sutra Nirvana dan beberapa sutra Tantrayana lain. Kelahiran beliau tidak melalui kandungan dan menyandang pula tanda2 mahapurusalaksana. Padmasambhava(terlahir dalam Padma/Teratai).
huangxiaoyen is offline   Reply With Quote
Old July 09, 2008, 12:36   #10
huangxiaoyen
Registered User
 
huangxiaoyen's Avatar
 
Join Date: Nov 2007
Location: Surabaya
Posts: 1,035
WebPoint: 0
GaulPoint: 226
huangxiaoyen belum terkenal
Prediksi mengenai Mahatma Nagajurna :
"Jalan kesadaran diri
Tak dapat dimanfaatkan oleh orang dengan pandangan ekstrim
Siapakah yang akan menjaganya bila engkau,
Oh guru telah parinirvana?
Mohon beritahu kami, setelah engkau memasuki Nirvana,
Siapakah yang akan datang dan menjaga sang jalan?”

Hyang Buddha menjawab :
”Di selatan Beda akan muncul orang mulia yang akan dikenal sebagai Biksu mengesankan
Namanya akan berinisial Naga dan dimana2 ia akan melenyapkan
Pandangan salah ada dan tiadanya keberadaan
Ia akan menerangi seluruh alam semesta
Di jalanku Mahayana yang tiada taranya
Ia akan mencapai Bodhisatvvabhumi pertama
Dan kaan pergi ke Sukhavatiloka”

Beliau dikatakan mengambil Sathasahasrika-prajnaparamita sutra(Prajna Paramita 100.000 gatha), ringkasan Prajna Paramita serta beberapa Dharani dari alam Dewa Naga. Namun ada 2 bab yang tidak diberikan oleh Raja Naga dengan maksud agar beliau nantinya kembali. Lalu Guru Nagajurna mengganti dua bab itu dengan Prajna Paramita 8000 gatha dan Sutra ”Ibu yang luas”. Beberapa karya beliau meliputi :
1. Mahadyamika
2. Kumpulan Nasehat : Maniavali, Shrlekha Sataprajna dll.
3. Kumpulan Sotra/ pujian seprti Dharmadhatu Sotra, Sotra tiada akhir dll.
4. Kumpulan argumentasi dan penjelasan Sutra2
5. Guhyasamaja Tantra, Sadhana pendek, Bodhicitta upadesha, 5 tahapan Sampanyakrama dsb.
Karena kedalaman ajarannya beliau dianggap sebagai Buddha ke-2
Ajarannya mengenai Vinaya sama seperti ajaran Hyang Buddha dalam Dhammacakranya yang pertama. Ajaran mengenai Sunyatanya sama dengan Dhammacakra Hyang Buddha yang kedua dan karangannya seprti Strota Dhammadatu sama dengan Dhammacakra Hyang Buddha yang ketiga.
huangxiaoyen is offline   Reply With Quote
Old July 09, 2008, 12:37   #11
huangxiaoyen
Registered User
 
huangxiaoyen's Avatar
 
Join Date: Nov 2007
Location: Surabaya
Posts: 1,035
WebPoint: 0
GaulPoint: 226
huangxiaoyen belum terkenal
Prediksi mengenai Padmasambhava :
Ada berbagai catatan tentang kapan Guru padma datang berbagai sumber menyetujui bahwa masa itu adalah 12 tahun setelah wafatnya Sang Buddha.
Sutra Nirvana :
”12 tahun sesudah Aku memasuki Nirvana seseorang yang melampaui yang lain akan muncul dari kuncup sekuntum teratai di danau suci Kosha”
5 kualitas unggul Padmasambhava :

”Kyeho! Dengar seluruh yang hadir dengan batin satu titik
Perwujudan diriku ini
Akan unggul dari perwujudan lain di 3 jaman
Tidak lapuk oleh zaman dan kemerosotan
Bentuknya yang ulung akan unggul dari perwujudan yang lain
Sejas mula menaklukkan 4 mara,
Kekuatannya yang menakutkan unggul dari perwujudan yang lain
Mengajarkan wahana Kebuddhaan dalam 1 kehidupan
Pencapaiannya akan unggul dari perwujudan yang lain.
Merubah negeri tengah dan negeri2 di sekeliling Jambu dvipa
Manfaat dirinya bagi mahluk hidup akan unggul dari perwujudan yang lain.
Tidak wafat di zaman baik ini
Rentang hidupnya akan unggul dari perwujudan yang lain
Ini karena ia adalah perwujudan dari Amitabha.”

Waktu sendiri di sini agak rancu karena bedanya perhitungan antara masa sekarang dan masa lalu di India. Dikatakan beliau menetap di Tibet selama 110 tahun dan sebenarnya waktu Di India lampau 1 tahun=6 bulan sehingga dikatakan beliau menetap kurang lebih 56 tahun. Tantra selain bersifat terbuka ada yang bersifat tertutup yang diajarkan melalui metode lisan maupun tulisan.
huangxiaoyen is offline   Reply With Quote
Old July 09, 2008, 12:39   #12
huangxiaoyen
Registered User
 
huangxiaoyen's Avatar
 
Join Date: Nov 2007
Location: Surabaya
Posts: 1,035
WebPoint: 0
GaulPoint: 226
huangxiaoyen belum terkenal
Sutra-Sutra
1. Tipitaka Pali
Tipitaka Pali (45 jilid) memiliki pembagian sbb :

Vinaya Pitaka:
1. Parajika
2. Pacittiya
3. Mahavagga
4. Culavagga
5. Parivara

Sutta Pitaka:
1. Digha Nikaya
2. Majjhima Nikaya
3. Samyutta Nikaya
4. Anguttara Nikaya
5. Khuddaka Nikaya

Abhidhamma Pitaka:
1. Dhammasangani
2. Vibhanga
3. Dhatukatha
4. Puggalapannatti
5. Kathavatthu
6. Yamaka
7. Patthana

2. Mahapitaka (Tripitaka Mahayana)
Mahapitaka (Ta Chang Cing) terdiri dari 100 buku dengan pembagian sbb:
1. Agama
2. Jataka
3. Prajnaparamita
4. Saddharma Pundarika
5. Vaipulya
6. Ratnakuta
7. Parinirvana
8. Mahasannipata
9. Kumpulan Sutra
10. Tantra
11. Vinaya
12. Penjelasan Sutra
13. Abhidharma
14. Madhyamika
15. Yogacara
16. Sastra
17. Komentar Sutra
18. Komentar Vinaya
19. Komentar Sastra
20. Sekte
21. Aneka Sekte
22. Sejarah
23. Kamus
24. Daftar Isi
25. Komentar Sutra Lanjutan
26. Komentar Vinaya Lanjutan
27. Komentar Sastra Lanjutan
28. Aneka Sekte Lanjutan

Sutra-sutra dari Theravada juga terdapat dalam Tripitaka Mahayana dengan sebutan Agama Sutra (A Han Cing). Agama Sutra sebagian besar isinya tidak berbeda dengan apa yang terdapat di Nikaya Pali. Agama Sutra ini terdiri :

1. Dhirghagama
2. Mdhyamagama
3. Samyuktagama
4. Ekottarikagama

Dalam Tripitaka Mahayana terdapat pula tujuh kitab Abhidharma dari golongan Sarvastivada (berbeda dengan Abhidhamma Pali), yaitu :
1. Jnanaprasthana
2. Samgitiprayaya
3. Prakaranapada
4. Vijnanakayasya
5. Dhatukaya
6. Dharmaskandha
7. Prajnaptisastra

3. Kangjur dan Tangjur (Tibetan Tripitaka)
Disamping sutra-sutra Mahayana dan Theravada yang diambil sebagai kitab pokok dalam aliran Buddhisme Tibet (Tantrayana/Vajrayana), juga memiliki Kitab Kangjur dan Tangjur . Kitab Kangjur (Bka’-‘gyur, yang berarti Terjemahan Sabda Sang Buddha) berisi 108 jilid merupakan deskripsi Ajaran Sang Buddha, sedangkan Tanjur (Bstan-‘gyur, yang berarti Terjemahan Ajaran Sang Buddha) berisi 227 jilid merupakan komentar dari teks dasar.

Kangjur memiliki 6 bagian utama yang berisi (1) Tantra (2) Prajnaparamita Sutra (3) Ratnakuta Sutra yang merupakan kumpulan naskah pelengkap Mahayana (4) Avatamsaka Sutra (5) Berbagai Sutra Mahayana dan Hinayana , dan (6) Vinaya.

Sedangkan Tanjur yang dapat dibagi menjadi 3.526 naskah dapat dibagi atas tiga kelompok utama, yaitu (1) stotras ; pujian agung dalam satu jilid termasuk 64 naskah (2) Ulasan tantra dalam 86 jilid termasuk 3.055 naskah, dan (3) Ulasan sutra-sutra dalam 137 jilid termasuk 567 naskah.
huangxiaoyen is offline   Reply With Quote
Old July 09, 2008, 12:52   #13
huangxiaoyen
Registered User
 
huangxiaoyen's Avatar
 
Join Date: Nov 2007
Location: Surabaya
Posts: 1,035
WebPoint: 0
GaulPoint: 226
huangxiaoyen belum terkenal
Pandangan Dalai Lama mengenai Hinayana dan Mahayana :

"Sangatlah penting untuk mengerti inti ajaran dari Tradisi Theravada yang tertuang dalam bahasa Pali sebgai dasar dari jaran para Buddha. Berawal dari ajaran ini, seseorang dapat mempunyai bayangan akan penjelasan-penjelasan detail yang terdapat dalam tradisi Sanskrit Mahayana. Pada akhirnya dengan menyatukan teknik2 dan perspektif dari teks Vajrayana akan mengembangkan lebih jauh pengertian orang tersebut.Tetapi tanpa fondasi dari ajaran inti dalam tradiisi Pali lalu memproklamirkan diri sebagai pengikut Mahayana, hal itu adalah tidak berguna.
Jika seseorang memiliki pengertian terhadap berbagai skrip dengan enterpretasinya, mereka akan terhindar dari konflik antara Kendaraan “yang besar” dan “yang kecil(hinayana)”. Terkadang sangat disesalkan adanya pandangan dari sebagaian pengikut Mahayana yang menganggap rendah ajaran Theravada, dan menganggap mereka sebagai kendaraan kecil. Sama juga dengan pandanghan dari pengikut Pali, yang mempunyai kecenderungan menolak validitas dari Ajaran Mahayana dan mengklaim bahwa Ajaran tersebut bukan ajaran murni dari Buddha.
Saat kita melihat pada Sutra hati adalah yang paling penting bagi kita untuk mengerti secara mendalam bagaimana tradisi ini saling melengkapi satu sama lain dan melihat bagaimana kita pada level individu dapat mengintegrasikan inti dari ajaran tersebut menjadi praktek personal kita.”

Nyanyian nasehat Padmasambhava yang ditujukan bagi Raja-raja Tibet :
(lansung ke pointny aja).....
Wahana-wahana yang berbeda-beda masing-masing punya pendekatannya sendiri
Dan melalui yang manapun dari wahana-wahana itu buah dapat diperoleh;
Namun berikan prioritas yang lebih tinggi kepada wahana vajra dari Mantra Rahasia.
.........

Saya sengaja mencantumkan kalimat prioritas dari padmasambhava bukan untuk mengesampingkan wahana lain tetapi untuk menunjukkan 2 pola pikir dalam diri saya sendiri :
-Jika melihat dari pernyataan Padmasambhava mereka yang berpandangan ekstrim akan melihat ini sebagai hinaan karena kata2 beliau yang memberikan prioritas dst.
-Tapi sebaliknya dengan memahami "makna" seperti yang diuraikan Dalai lama dan kita juga menganalisa dari kata2 sebelumnya bahwa tiap wahana akan membuahkan hasil, dan terhadap wahana vajra mereka akan menyelami lebih lanjut kenapa sih kok Padmasambhava mengatakan berikan prioritas tertinggi pada wahana vajra.

Yang ingin saya tekankan disini makna lebih penting daripada kata-kata luar juga demikian teori dan praktek harus saling mengisi satu sama lainnya.

Last edited by huangxiaoyen; July 09, 2008 at 12:55.
huangxiaoyen is offline   Reply With Quote
Reply

Bookmarks

Thread Tools

Posting Rules
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts

BB code is On
Smilies are On
[IMG] code is On
HTML code is Off

Forum Jump


All times are GMT. The time now is 19:11.

SIDEBAR
Remove This Bar
Register / Login to remove this bar and All Ads.
Image




Powered by vBulletin® Version 3.8.2
Copyright ©2000 - 2013, Jelsoft Enterprises Ltd.
Copyright ©2007, WebGaul. All Rights Reserved. A ZEIN Company. Designed, Developed, Maintained, Optimized, Operated by ZEIN.