| HOT from the Oven Semua yang hangat-hangat disini, Diskusikan berita berita baru, isu isu, politik, pemerintahan pengembangan teknologi baru, dan sebagainya |
December 08, 2007, 23:52
|
#1
|
|
boing boing boing
Join Date: Feb 2004
Location: di tengah sawah
Posts: 16,708
WebPoint: 0 GaulPoint: 38.509
|
Akibat terlalu mengagungkan masa lalu
Quote:
Minggu, 09 Des 2007,
Negeri Lain Sudah Lupa, Nyaris Pesimistis
Mempromosikan Indonesia Today dengan Semangat New Asia Africa Strategic Partnership (NAASP)
Dengan semangat NAASP (New Asia Africa Strategic Partnership), Departemen Luar Negeri RI mengirimkan dua delegasi ke beberapa negara di Asia dan Afrika, pertengahan November lalu. Wartawan Jawa Pos Rukin Firda tergabung dalam delegasi Asia yang mengunjungi India, Sri Lanka, dan Tiongkok.
Fakta sejarah menunjukkan, Indonesia berperan besar dalam sejarah dunia, terutama yang berkaitan dengan negara-negara dunia ketiga. Indonesia dua kali menjadi tuan rumah Konferensi Asia Afrika (KAA), 1955 dan 2005.
KAA 1955 menjadi salah satu pengantar kemerdekaan negara-negara di Asia dan Afrika, yang sebelummya dijajah Barat. Juga menjadi pemicu terbentuknya gerakan Nonblok (Non Alignment) di tengah perang dingin. Peran besar itu kembali dipegang Indonesia tepat setengah abad kemudian dengan penyelenggaraan KAA 2005 di Bandung, kota yang sama dengan pelaksanaan KAA 1955.
Menyandang peran tadi, Indonesia menyelusuri jejak sejarah KAA di beberapa negara di Asia Afrika, selain menawarkan kerja sama dengan konsep NAASP. Satu delegasi mengunjungi Aljazair, Mesir, dan Etiopia di Afrika dan satu delegasi lainnya ke India, Sri Lanka, dan Tiongkok.
Delegasi Asia beranggota dua akademisi, yaitu dua ketua jurusan hubungan internasional dari dua perguruan tinggi ternama di Indonesia. Yaitu, Hariyadi Wirawan dari Universitas Indonesia Jakarta dan Teuku Rezasyah dari Universitas Padjadjaran Bandung.
Juga tokoh pemuda yang diwakili Sekretaris Jenderal KNPI (Komite Nasional Pemuda Indonesia) Munawar Fuad serta satu-satunya delegasi perempuan Intan Mardiana N., direktur museum Dirjen Sejarah dan Arkeologi Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.
Misi utama delegasi tersebut adalah memperkenalkan Indonesia Today dengan semangat NAASP. Caranya adalah dengan dialog ilmiah bersama akademisi, organisasi pemuda, kalangan media, dan lembaga-lembaga think tank negara-negara tujuan.
Yang mengejutkan dan sedikit membuat anggota delegasi nyaris kecewa dan pesimistis adalah ketiga negara yang dikunjungi tersebut terkesan sudah melupakan konferensi yang bisa jadi salah satu milestone sejarah internasional itu. Jawaban mengejutkan datang dari Direktur Departemen Museum Nasional Sri Lanka Nanda Wickramasinghe.
"I’m sorry, I’ve just head about itu (Maaf, saya baru mendengar tentang itu," katanya jujur ketika ditanya peran KAA terhadap sejarah Sri Lanka. Jawaban tersebut membuat anggota delegasi nyaris patah semangat mengingat Sri Lanka memiliki peran kunci dalam sejarah KAA. Adalah Perdana Menteri Sri Lanka Sir John Kotalawala yang menggagas Colombo Conference yang kemudian berkembang menjadi KAA pada 1955.
Namun, optimisme muncul setelah pejabat perempuan tersebut berjanji membongkar arsip negerinya untuk menemukan hal-hal yang berkaitan dengan KAA. "Termasuk, bagaimana pemberitaan media Sri Lanka kala itu terkait konferensi tersebut," tambahnya.
Kekecewaan juga muncul ketika mencoba menelisik serjarah KAA di Museum Jawaharal Nehru di New Delhi, India. Setelah berkeliling ke museum, yang konon adalah rumah perdana menteri pertama India itu, tidak ditemukan jejak KAA.
Padahal, Nehru juga menjadi salah seorang tokoh kunci KAA yang tentu saja hadir dalam penyelenggaraan 1955 tersebut. Seorang petugas museum menjelaskan bahwa saat itu sedang diadakan Festival Nehru. Jadi, tidak semua arsip terkait dengan Nehru dipajang di museum tersebut. Pertanyaannya, tidak pentingkah KAA bagi Nehru -padahal dia termasuk tokoh kunci- sehingga tidak ikut dipamerkan?
India sepertinya kurang memandang penting Indonesia saat ini. Padahal, dalam sejarah, kedua negara memiliki kedekatan yang akrab, terutama saat kepemimpinan Nehru di India dan Soekarno di Indonesia.
Ironisnya, banyak jalan di New Delhi yang menggunakan nama tokoh-tokoh dunia, seperti Joseph Broz Tito dari Yugoslavia. Namun, jangan harap menemukan Jalan Soekarno. Padahal di masa lalu, Nehru begitu dekat dengan Soekarno sehingga memberikan lahan yang cukup luas untuk dijadikan kompleks KBRI (Kedutaan Besar RI), yang lokasinya persis bersebelahan dengan rumah Nehru, yang kini menjadi museum tadi.
Hubungan Indonesia-India yang pasang surut itu tidak terlepas dari perjalanan sejarah. India menilai Indonesia cenderung membela Pakistan ketika India berperang melawan negeri tetangga yang juga pecahannya tersebut. Dua kapal selam Indonesia yang "diparkir" di laut lepas Pakistan mengurungkan India menyerang Pakistan.
Ditambah dengan situasi terkini, Indonesia sudah lebih dari setahun tidak menempatkan duta besarnya di New Delhi. "Mereka menilai masalah ini serius dan berkali-kali menanyakannya," kata Kuasa Usaha Ad Interim (KUAI) Indonesia di New Delhi, Rizali W. Indrakesuma.
Menurut Rizali -yang saat kuliah membentuk band pelesetan Pancaran Sinar Petromax (PSP) itu- sikap RI tadi dinilai tidak memandang penting India. Jadi, jangan salahkan juga jika India tidak memandang penting Indonesia.
Situasi yang sama terjadi di Sri Lanka. Sama seperti di India, Indonesia tidak menempatkan duta besarnya di Kolombo selama lebih dari setahun. Karena itu, hubungan Indonesia dengan kedua negara di Asia Selatan yang dalam sejarah memiliki kedekatan tersebut kini terkesan "suam-suam kuku".(*)
|
kenyataan memang pahit
__________________
JuS DuReN SuSu CokLat SluRRpppp
SuMoD BaHuL bin aNgkoNg KoNg KoNg !!!
|
|
|
|
Recommendation
|
Sponsored Ads
|
|
|
|
December 08, 2007, 23:55
|
#2
|
|
boing boing boing
Join Date: Feb 2004
Location: di tengah sawah
Posts: 16,708
WebPoint: 0 GaulPoint: 38509
|
Quote:
Minggu, 09 Des 2007,
Indonesia Mengabaikan, Mereka pun Melupakan
Selain mengunjungi beberapa museum, selama di Delhi, Colombo, dan Beijing, delegasi Deplu RI mengadakan dialog dengan lembaga-lembaga pendidikan dan think tank negara-negara itu. Misinya mempromosikan Indonesia Today dengan semangat New Asia Africa Strategic Partnership (NAASP).
Pelajaran penting yang diperoleh dari hasil dialog ilmiah tersebut, banyak kalangan akademisi di ketiga negeri tadi yang tidak memiliki informasi memadai tentang Indonesia. Terutama Indonesia pascakrisis ekonomi. Fakta itu bisa disebut menyedihkan karena sejarah ketiga negara tersebut memiliki kedekatan.
Yang tahu banyak tentang Indonesia belakangan mulai "mengabaikan"-nya karena Indonesia juga dinilai mengabaikan mereka. "India tidak banyak disebut di Indonesia," ungkap Prof Baladas Ghoshal, dosen tamu sekaligus peneliti di Jamia Millia Islamia, salah satu perguruan tinggi ternama di New Delhi.
Baladas adalah salah seorang akademisi India yang banyak mempelajari Indonesia dan sering ke Indonesia. "Indonesia adalah rumah kedua bagi saya," katanya ketika menjadi moderator dialog ilmiah di KBRI di New Delhi.
Pengetahuannya tentang Indonesia itulah yang membuatnya membuat kesimpulan tersebut. Menurut dia, Indonesia tidak terlalu memandang penting India.
Salah satunya, menurut Baladas, adalah kesepakatan kerja sama pertahanan yang ditandatangani Indonesia dan Tiongkok. Sementara dengan India, tidak ada upaya menuju ke sana.
Sambutan sedikit lebih baik diterima delegasi itu saat mengadakan dialog ilmiah di Colombo, Sri Lanka. Meski tidak banyak, kalangan akademisi negeri itu cukup mengenal Indonesia.
Salah satunya adalah karena sama-sama menjadi korban bencana alam tsunami. Sri Lanka juga menilai Indonesia sukses menyelesaikan ancaman separatis di Aceh. Masalah itu sama seperti yang dihadapi Sri Lanka dengan kelompok separatis Macan Tamil.
Selebihnya, Sri Lanka mengenal Indonesia sebatas apa yang diberitakan media Barat. Terutama yang terkait dengan terorisme. "Indonesia sepertinya menjadi surga bagi para teroris," komentar seorang peserta dalam dialog ilmiah di Bandaranaike International Diplomatic Training Institute Colombo.
Menjawab pertanyaan tajam itu, yang sebenarnya sudah diduga akan muncul, Teuku Rezasyah yang menjadi salah seorang panelis mengajak peserta menelusuri perjalanan hidup para terpidana terorisme di Indonesia. "Di mana Amrozi dan Imam Samudera mendapat pelatihan terorisme? Mereka adalah produk Afghanistan," kata ketua jurusan HI FISIP Universitas Padjadjaran itu.
Kepada para peserta, Reza memaparkan bahwa para terpidana terorisme layaknya Ronin. "Ketika kelompok mereka di Afghanistan berantakan diserang sekutu, mereka layaknya warrior without master," paparnya.
Yang tidak kalah mengejutkan adalah pertanyaan dari peserta yang mengaku muslim. "Mengapa Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim tidak menjadikan syariat Islam sebagai undang-undang dasar?" kata sang penanya.
Kesimpulan jelas diperoleh delegasi Deplu itu saat berada di Beijing. Dari dialog dengan beberapa kalangan akademisi di kota tersebut, ketidaktahuan mereka tentang Indonesia disebabkan minimnya informasi.
Mahasiswi S-2 Jurusan Bahasa Indonesia Universitas Peking, Jovita, menggambarkan kurangnya promosi tentang Indonesia. "Hampir tiap hari saya melihat promosi tentang Malaysia atau Thailand di CCTV (televisi nasional Tiongkok), namun tidak ada promosi tentang Indonesia," ungkap mahasiswi asal Henan yang bernama asli Jiao Yang itu.
Padahal, menurut mahasiswi yang suka lagu-lagu SamSonS dan Nidji tersebut, Indonesia lebih cantik dibanding kedua negara yang gencar berpromosi di Tiongkok itu. Hal tersebut dibenarkan Prof Liang Liji, yang menjadi direktur kehormatan Institut Indonesia dan Malaysia Universitas Peking.
"Padahal, hubungan Indonesia-Tiongkok terjalin sejak Dinasti Han. Saat itu, justru kamilah yang belajar dari Indonesia," papar lelaki yang mengaku lahir di Bandung tersebut. Menurut dia, bahasa Melayu (akar bahasa Indonesia) sudah diajarkan di Tiongkok setelah ekspedisi Laksamana Cheng Ho.
Melihat sejarah kedekatan ketiga bangsa tadi, India, Sri Lanka, dan Tiongkok, agak aneh jika mereka saat ini renggang dan terkesan saling mengabaikan. "Kesimpulannya pada kita sendiri, yang diakui atau tidak memang tidak menganggap penting mereka," kata Hariyadi Wirawan, ketua jurusan HI FISIP UI yang juga menjadi anggota delegasi. (*)
|
kaga pernah promosi cuma andalain "fakta sejarah" ya gini ini hasilnya, ga pernah belajar merawat termasuk merawat hubungan dengan negara lain sih.
__________________
JuS DuReN SuSu CokLat SluRRpppp
SuMoD BaHuL bin aNgkoNg KoNg KoNg !!!
|
|
|
December 08, 2007, 23:59
|
#3
|
|
boing boing boing
Join Date: Feb 2004
Location: di tengah sawah
Posts: 16,708
WebPoint: 0 GaulPoint: 38509
|
Quote:
Minggu, 09 Des 2007,
Lupakan Romatisme KAA
Hal yang kurang lebih sama juga diperoleh delegasi ketika berkunjung ke Tiongkok dengan alasan berbeda. Tiongkok, sepertinya, sudah melupakan romantisme sejarah KAA karena terus memburu masa depan.
Untuk kepentingan masa depannya, Tiongkok kini lebih mengarahkan hubungan internasional dengan negara-negara Afrika. Bahkan, awal bulan lalu, Tiongkok mengadakan Konferensi Sino-Afro. "Kami memang sedang mengembangkan hubungan dengan negara-negara di Afrika," ungkap Han Fei, koordinator program internasional Universitas Renmin Tiongkok, yang merupakan salah satu perguruan tinggi ternama di Beijing.
Misi Tiongkok mendekatkan hubungan dengan Afrika adalah kepentingan akan kebutuhan energi, yang di masa-masa mendatang sangat vital. Afrika dipandang sebagai ladang energi, yang belum banyak tergarap saat ini.
"Kuncinya memang pada energi," tegas Zhang Xuegang, asisten profesor China Institutes of Contemporary Internasional Relations (CICIR). CICIR adalah lembaga think tank bagi pemerintah, semacam CSIS di Indonesia.
Dari pertemuan-pertemuan tersebut, tidak berlebihan jika sebagian besar anggota delegasi nyaris pesimistis. Kesan yang didapat, negara-negara lain peserta KAA -baik pada 1955 maupun 2005- sepertinya sudah melupakan konferensi bersejarah tersebut.
Energi mereka lebih tercurahkan menatap masa depan daripada hanya untuk mengenang romantisme masa lalu. "Jangan-jangan hanya kita (Indonesia) yang meng-exaggerate (melebih-lebihkan) konferensi tersebut," kata seorang anggota delegasi. (*)
|
Jelas banget, udah ga terhitung delegasi afrika selama puluhan tahun menanyakan wujud dari janji KAA kepada Indonesia dan selama puluhan tahun cuma di jawab dengan nyegir ga jelas oleh perwakilan indonesia, kok sekarang malah heran bakal dapet reaksi kaya gini, kebanyakan nostalgia kapan majunya.
__________________
JuS DuReN SuSu CokLat SluRRpppp
SuMoD BaHuL bin aNgkoNg KoNg KoNg !!!
|
|
|
December 09, 2007, 01:52
|
#4
|
|
Registered User
Join Date: Sep 2006
Location: Lippo Karawaci
Posts: 1,158
WebPoint: 0 GaulPoint: 187
|
ironis, ternyata hanya china yang peduli dengan afrika...tentunya dengan imbalan minyak.
there's no such thing as charity in this world.
|
|
|
December 09, 2007, 04:04
|
#5
|
|
Registered User
Join Date: Jan 2005
Posts: 2,282
WebPoint: 0 GaulPoint: 1219
|
Apa yang sudah berlalu biarlah berlalu. Mudah2an Indonesia bisa menjadi pemeran penting di dunia lagi seperti zaman Sukarno dulu ketika Indonesia bisa dengan bangga mengatakan,
"Ini dadaku mana dadamu!" - Bung Karno
|
|
|
December 10, 2007, 12:33
|
#6
|
|
Fallen Poet
Join Date: Aug 2003
Location: Forbidden Dimension
Posts: 15,146
WebPoint: 6 GaulPoint: 16205
|
Mungkin bagi pemerintah Indonesia, yang masih suam-suam kuku itu dianggap tidak perlu diperhatikan dengan seksama. Atau mereka tidak melihat keuntungan2 tertentu dengan tetap membina hubungan diplomatik yang positif.
Rencana2 pemerintah juga sekarang tidak terkesan untuk membuat rasa kebanggaan menjadi menonjol. Contohnya yah sekarang atlit2 Indonesia lagi bertarung di ASEAN Games, tapi sepertinya tidak ada persiapan atau dukungan yang penuh antusias dan serius dari pemerintah kita. Begitu juga dengan promosi pariwisata kita di negara2 lain. Seolah2 para pejabat negeri ini menganggap kalau Bali sudah terkenal begitu mendunia, untuk apa lagi mereka tetap gencar beriklan tentang Indonesia. Sayang sekali.
Kemaren gue liat liputan di TV, bahwa Malaysia pun menggunakan keanekaragaman budaya Indonesia dalam iklan promosi pariwisata mereka untuk menarik turis asing supaya berwisata ke wilayah Malaysia.
Kalo dari pihak Malaysia sih bukan mengatasnamakan budaya Indonesia dan meraih keuntungan sendiri. Tapi menurut mereka, Indonesia yang kaya budaya ini menjadi salah satu contoh rumpun bangsa yang juga memperkaya budaya Malaysia. Biarpun menurut gue pernyataan ini masih gak relevan kenapa harus menggunakan atau membawa2 budaya Indonesia. But hey, kalau pemerintah Indonesia aja gak mau peduli dan ambil pusing soal beginian, kita sebagai rakyat mau apa lagi?
Ketegasan pemerintah kita ini udah terkenal mandul. Jadi jangan heran kalau image Indonesia lebih banyak didominasi oleh peringkat2 miring atau yang negatif dibanding yang positif
|
|
|
December 10, 2007, 13:49
|
#7
|
|
Registered User
Join Date: Apr 2007
Posts: 2,439
WebPoint: 0 GaulPoint: 303
|
buat klikdoang, bah..tiongkok peduli afrika dgn imbalan minyak>>?? ga salah tuh>> aneh..
jadi begini, klo aku mengibaratkan. Indonesia ini, bagaikan orang yg dulu selalu minum arak/wine terbaik n ga pernah minum air putih. but ketika ga bs minum arak/wine n terpaksa num air putih, ia selalu teringat2 manisny wine/arak tsb..
Indonesia skrg mah jauh dibanding zaman Soekarno (bs jd sohib China n USSR) n Soharto yg disegeni dunia internasional..skrg, elite2 indonesia lbh byk mentingkan perut drpd wujudkan janji2..palagi ma afrika..pst mrk pikir apa untungnya?? mending aku dukung parpolku sendiri..mending aku dukung negara timur tengah yg tajir biar bs investasi..
"salam buat temen2 Afrika, mari berjuang dgn keringat sendiri".
________________
"Ketika engkau sedang minum wine yg paling lezat. hendaknya jgn lupa pahitnya air obat dan tawarnya air putih.. ketika sedang minum air putih dan obat jgnlah teringat2 manisnya rasa wine yg pernah engkau minum"
|
|
|
December 10, 2007, 23:40
|
#8
|
|
boing boing boing
Join Date: Feb 2004
Location: di tengah sawah
Posts: 16,708
WebPoint: 0 GaulPoint: 38509
|
Quote:
Originally Posted by Hamlet
Mungkin bagi pemerintah Indonesia, yang masih suam-suam kuku itu dianggap tidak perlu diperhatikan dengan seksama. Atau mereka tidak melihat keuntungan2 tertentu dengan tetap membina hubungan diplomatik yang positif.
Rencana2 pemerintah juga sekarang tidak terkesan untuk membuat rasa kebanggaan menjadi menonjol. Contohnya yah sekarang atlit2 Indonesia lagi bertarung di ASEAN Games, tapi sepertinya tidak ada persiapan atau dukungan yang penuh antusias dan serius dari pemerintah kita. Begitu juga dengan promosi pariwisata kita di negara2 lain. Seolah2 para pejabat negeri ini menganggap kalau Bali sudah terkenal begitu mendunia, untuk apa lagi mereka tetap gencar beriklan tentang Indonesia. Sayang sekali.
Kemaren gue liat liputan di TV, bahwa Malaysia pun menggunakan keanekaragaman budaya Indonesia dalam iklan promosi pariwisata mereka untuk menarik turis asing supaya berwisata ke wilayah Malaysia.
Kalo dari pihak Malaysia sih bukan mengatasnamakan budaya Indonesia dan meraih keuntungan sendiri. Tapi menurut mereka, Indonesia yang kaya budaya ini menjadi salah satu contoh rumpun bangsa yang juga memperkaya budaya Malaysia. Biarpun menurut gue pernyataan ini masih gak relevan kenapa harus menggunakan atau membawa2 budaya Indonesia. But hey, kalau pemerintah Indonesia aja gak mau peduli dan ambil pusing soal beginian, kita sebagai rakyat mau apa lagi?
Ketegasan pemerintah kita ini udah terkenal mandul. Jadi jangan heran kalau image Indonesia lebih banyak didominasi oleh peringkat2 miring atau yang negatif dibanding yang positif 
|
kepedulian dan ketegasan pemerintah bisa lo liat di topik "all about malaysia" let
__________________
JuS DuReN SuSu CokLat SluRRpppp
SuMoD BaHuL bin aNgkoNg KoNg KoNg !!!
|
|
|
December 14, 2007, 01:11
|
#9
|
|
Fallen Poet
Join Date: Aug 2003
Location: Forbidden Dimension
Posts: 15,146
WebPoint: 6 GaulPoint: 16205
|
Posting nomer berapa?
|
|
|
December 18, 2007, 05:06
|
#10
|
|
Registered User
Join Date: Mar 2003
Posts: 1,789
WebPoint: 0 GaulPoint: 208
|
iya gw miris ama kondisi sekarang,
si Bambang gentolet ngapain aja sih, prestasi SEA GAMES gak jelas gitu, juara 2 masih bisa diterima, tapi kalo peringkat 5,6, di asia tenggara, ya kudu malu lah....
si Bambang gentolet bisanya cuma tebar pesona, bagi-bagi duit gak jelas ke orang miskin,...pemimpin yang baik bukan seperti itu, tapi punya visi dan plan yang jelas ni bangsa mo digimanain supaya bisa makmur,seperti Lee Kuan Yew dulu pas membangun Singapore,...Suharto yang bangsat aja bisa kok bikin plan dengan REPELITAnya, ....gentolet kerjaanya cuma ikut prihatin, pidato-pidato gak jelas sama jalan2 ama bininya
Last edited by Monyong; December 18, 2007 at 05:08.
|
|
|
December 18, 2007, 09:52
|
#11
|
|
boing boing boing
Join Date: Feb 2004
Location: di tengah sawah
Posts: 16,708
WebPoint: 0 GaulPoint: 38509
|
kalo SEA GAMES gr gr sepakbola tuh, dana pembinaan olahraga 80% ngalir ke sepakbola sementara prestasinya NOL, 20% sisanya ngalir ke olahraga populer lainnya macam bulu tangkis, voli, basket gitu cabor sisanya meski nyumbang emas di SEA GAMES ya dapet kentut doang
__________________
JuS DuReN SuSu CokLat SluRRpppp
SuMoD BaHuL bin aNgkoNg KoNg KoNg !!!
|
|
|
December 18, 2007, 11:12
|
#12
|
|
Registered User
Join Date: Jun 2004
Location: Borneo
Posts: 813
WebPoint: 0 GaulPoint: 123
|
kakakaka.... G turut prihatin dengan keterpurukan indonesia dalam segala bidang....
|
|
|
December 18, 2007, 13:23
|
#13
|
|
Banned Member
Join Date: Oct 2007
Location: di rumah aja
Posts: 20,336
WebPoint: 0 GaulPoint: 35710
|
iya prihatin terpuruk di smua bidang
gini aja deh, olah raga kita ga usah maksa dulu masuk 3 besar
maksimal 5 besar dlu sambil ningkatin prestasi tahap demi tahap
trus kata monyong bener, kayaknya repelitanya soeharto bisa diterapin lagi
jd tujuannya jelas jangka pendek n panjangnya, ada tahapan2 nya gitu
susahnya org2 yg tadinya lurus n bener, klo dah kesenggol n kecipratan kekuasaan n uang berlimpah, fokusnya jd suka kabur n tlalu banyak kompromi sana sini
susah jd org politik, pebisnis yg gede2 jg suka rese
demi bertahan di dunia bisnis, deketin org2 pemerintah, kasih sogokan ato apa gitu
biar bisnis mereka lancar n bertahan, klo langgar aturan, uang bicara, trus tutup mata deh
belakangan klo ada masalah, cari kambing item, ungu, ijo, kuning buat dilimpahin kesalahan
kita sendiri gimana? sebagian dari kita cm bisa kasih usul ato prihatin, tp ga diperhatiin
banyak jg yg apatis, yg penting gimana bertahan idup n dpt duit, gitu aja
ga peduli mau jd apa negara kita n kemana mo dibawa, yg penting survive
dan gw termasuk salah satunya 
karena gw bukan siapa2 n ga bakalan ada yg denger gw kecuali tmn2 sehaluan
gw ga bisa lakukan apa2 karena ga dianggap n cuma org biasa
akhirnya gw cm bisa apatis sbl bertahan idup nyari duit, asal bisa makan n survive aja
*sigh*
vhl
|
|
|
December 18, 2007, 13:46
|
#14
|
|
Registered User
Join Date: Aug 2007
Posts: 184
WebPoint: 0 GaulPoint: 20
|
So, sekarang tugas kita buat memperbaiki ini keadaan??? ada usul???
karena gw rasa, sekaranglah saat nya kita bertindak.... bukan ntar.... tapi SEKARANG!!!
So, once again... Any Suggest??
|
|
|
December 18, 2007, 14:51
|
#15
|
|
boing boing boing
Join Date: Feb 2004
Location: di tengah sawah
Posts: 16,708
WebPoint: 0 GaulPoint: 38509
|
sekarang ? sekarang cukup berpendapat idealis seperti ini udah cukup dan jgn lupa bedoa semoga pendapat ini tidak terkikis oleh busuknya sistem di negara ini
__________________
JuS DuReN SuSu CokLat SluRRpppp
SuMoD BaHuL bin aNgkoNg KoNg KoNg !!!
|
|
|
Posting Rules
|
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts
HTML code is Off
|
|
|
All times are GMT. The time now is 17:55.
|
|