January 12, 2006, 12:55
|
#16
|
|
Registered User
Join Date: Mar 2003
Posts: 13,845
WebPoint: 0 GaulPoint: 5.891
|
Dari Aisyah ra. berkata bahwa Nabi SAW melakukan shalat malam hingga pecah-pecah kakinya. Aku bertanya, "Mengapa sampai demikian Ya Rasulullah? Bukankah Allah telah mengampuni semua dosamu, baik yang telah lewat atau yang belum?" Beliau menjawab, "Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang bersyukur?" (HR Bukhari Muslim)
Fawaid
1. Beribadah kepada Allah SWT bukan hanya karena kita berharap pahala semata, tetapi juga dimotivasi atas rasa syukur kita terhadap semua nikmat yang telah kita peroleh.
2. Bentuk syukur yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW bukan dengan pesta pora, makan-makan, bagi-bagi hadiah atau kaulan, apalagi melakukan aneka ragam maksiat. Tetapi wujud syukur salah satunya adalah dengan melakukan shalat tahajjud hingga kaki pecah-pecah.
3. Ibnu Abi Jamrah menyebutkan bahwa janganlah seseorang diantara kita terbetik dalam benaknya bahwa yang dimaksud dengan dosa-dosa Rasululah SAW sebagaimana dosa-dosa kita manusia. Sebab tiap nabi itu makshum (terpelihara dari dosa besar dan kecil).
__________________
|
|
|
|
Recommendation
|
Sponsored Ads
|
|
|
|
January 24, 2006, 12:29
|
#17
|
|
Registered User
Join Date: Mar 2003
Posts: 13,845
WebPoint: 0 GaulPoint: 5891
|
"Orang yang Bangkrut di Akhirat"
"Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bertanya : Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut ( pailit ) itu ? Maka mereka ( para sahabat ) menjawab : orang yang pailit di antara kita adalah orang yang tidak mempunyai uang dan harta. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menerangkan : orang yang pailit dari ummatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan (pahala) shalat, puasa dan zakatnya, namun dia datang dan (dahulu di dunianya) dia telah mencela si ini, menuduh (berzina) si itu, memakan harta si ini, menumpahkan darah si itu dan telah memukul orang lain ( dengan tidak hak ), maka si ini diberikan kepadanya kebaikan orang yang membawa banyak pahala ini, dan si itu diberikan sedemikian juga, maka apabila kebaikannya sudah habis sebelum dia melunasi segala dosanya ( kepada orang lain ), maka kesalahan orang yang didzalimi di dunia itu dibebankan kepadanya, kemudian dia dilemparkan ke api neraka. HR. Muslim.
1. Keterangan singkat.
Di dunia ini, mungkin banyak orang-orang yang merasa kuat dapat membebaskan diri mereka dari jeratan hukum akibat perbuatan dzalim mereka terhadap orang lain, baik berupa hutang, membunuh tanpa alasan yang dibenarkan oleh Allah, mencaci maki orang lain dan sebagainya, namun tidak demikian dengan hukum dan keadilan yang Allah tegakkan di hari kiamat kelak, pada saat itu tidak seorang-pun yang dapat membebaskan diri dari kesalahannya selama di dunia yang dia tak pernah bertaubat dan menyesalinya, orang yang mereka dzalimi datang kehadapan Allah mengadukan kedzaliman orang tersebut sedang ia bergantung dengan kepala saudaranya sambil berkata : wahai Tuhan-ku tananyakan kepada orang ini ( yang telah membunuhku ) kenapa dia telah membunuhku di dunia ? dan sebagainya, sehingga Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berwasiat kepada ummatnya dengan sabdanya : Barangsiapa disisi ada perbuatan dzalim terhadap saudaranya, maka hendaklah ia meminta dihalalkan ( dimaafkan ) sekarang sebelum datang hari yang tidak berlaku pada saat itu emas atau perak.sebelum diambil darinya kebaikannya untuk membayar kedzalimannya terhadap saudaranya, dan jika dia tidak mempunyai kebaikan, maka dibebankan kepadanya keburukan saudaranya itu kepadanya. HR.Bukhari.
Oleh karena itu, segeralah kita membabaskan diri kita dari mendzalimi orang lain, penuhilah setiap yang mempunyai hak akan haknya, dan jangan menunggu hari hari esok karena tidak seorangpun yang mengetahui akan keberadaannya di esok hari.
2. Kandungan hadits :
Hadits ini menerangkan akan adanya pembalasan di hari kiamat.
Orang yang mendzalimi saudaranya di dunia, sedang dia belum bertaubat dari kedzaliman tersebut dengan meminta maaf atau mengembalikan haknya, maka dia harus membayarnya dengan kebaikannya.
__________________
|
|
|
February 23, 2006, 12:32
|
#18
|
|
Registered User
Join Date: Mar 2003
Posts: 13,845
WebPoint: 0 GaulPoint: 5891
|
Hadits ini sangat menarik
Dari Abi Tsa'labah Al-Khusani, Jurthum bin Nashir r.a, daripada Rasulullah SAW, yang bersabda : "
Sesungguhnya Allah Ta'ala telah memfardhukan beberapa kewajipan, maka janganlah kamu mengabaikannya.
Dan ia telah menetapkan beberapa hudud ( batasan ), maka janganlah kamu melampauinya.
Dia telah mengharamkan beberapa benda maka janganlah kamu melanggarnya.
Dan Dia telah mendiamkan beberapa pekara sebagai suatu rahmat terhadap kamu, bukan kerana lupa maka janganlah kamu membahas mengenainya. "
__________________
Last edited by AlfaOmega; February 23, 2006 at 12:34.
|
|
|
March 09, 2006, 18:08
|
#19
|
|
Registered User
Join Date: Mar 2003
Posts: 13,845
WebPoint: 0 GaulPoint: 5891
|
Renungan Kejujuran Kisah Teladan
Jumat, 17 Februari 06
*Kisah Ke Satu*
Bilal *radhiyallahu 'anhu* meminangkan seorang wanita bangsa Quraisy untuk
saudara-nya, maka dia berkata kepada keluarga wanita tersebut, "Kami adalah
orang yang telah anda ketahui dan anda kenal, dahulu kami adalah budak, lalu
Allah *subhanahu wata'ala* memerdekakan kami, dahulu kami orang yang sesat,
lalu Allah *subhanahu wata'ala* memberikan petunjuk dan kami dahulu adalah
orang yang fakir, lalu Allah *subhanahu wata'ala* memberikan kami kecukupan.
Maka aku meminang kepada anda si Fulanah untuk saudaraku ini, jika kalian
mau menikahkan, maka segala puji hanya milik Allah dan jika kalian menolak,
maka Allah Maha Besar.
Maka sebagian mereka saling melihat kepada sebagian yang lain, kemudian
salah seorang dari mereka berkata, "Bilal adalah orang yang telah kalian
ketahui latar belakangnya, kedekatan dan kedudukannya di sisi
Rasulullah *shallallahu
'alaihi wasallam*, maka nikahkanlah saudaranya itu. Maka mereka pun akhirnya
menerima lamaran itu dan menikahkan saudara Bilal dengan wanita tersebut.
Ketika seluruh urusan sudah selesai, berkatalah saudara Bilal kepadanya,
"Semoga Allah mengampunimu, adapun engkau maka engkau hanya menyebutkan
latar belakangmu dan kebersamaanmu dengan Rasulullah *shallallahu 'alaihi
wasallam* dan tidak menyebutkan selainnya. Maka Bilal *radhiyallahu
'anhu*berkata, "Oh iya, engkau benar, maka sekarang aku nikahkan kamu
dengan
kejujuran." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
*Kisah ke Dua*
Diriwayatkan dari Sahl bin Aqil *rahimahullah* dia berkata, "Suatu ketika
Ismail *'alaihis salam* membuat janji untuk datang ke rumah seseorang. Maka
datanglah Ismail, tetapi orang tersebut lupa. Maka beliau pun menunggu dan
bermalam di tempat itu sehingga datang orang tersebut dari kepergiannya
kemarin." Oleh karena itu di dalam al-Qur'an beliau disebut sebagai *"shadiqul
wa'di"* (orang yang menepati janji), sebagaimana difirmankan Allah *subhanahu
wata'ala*, artinya:
*"Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut)
di dalam al-Qur'an. Sesungguh-nya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan
dia adalah seorang rasul dan nabi."*(QS. Maryam:54)
*Kisah Ke Tiga*
As'ad bin Ubaidillah al-Makhzumi *rahimahullah* berkata, "Abdul Malik bin
Marwan *rahimahullah* memerintahkan aku agar mengajari anak-anaknya
kejujuran, sebagaimana aku mengajari mereka al-Qur'an."
*Kisah Ke Empat*
Ismail bin Ubaidillah *rahimahullah* berkata, "Ketika ayahku sudah dekat
ajalnya, dia mengumpulkan seluruh anak-anaknya lalu berkata kepada mereka,"
Wahai anak-anakku! Wajib atas kalian semua taqwa kepada Allah, membaca
al-Qur'an dan merutinkannya. Dan wajib atas kalian untuk jujur walaupun jika
salah seorang dari kalian membunuh seseorang lalu ada salah satu kerabatnya
yang bertanya. Demi Allah aku tidak pernah berdusta sama sekali semenjak aku
membaca al-Qur'an."
*Kisah Ke Lima*
Ja'far bin Muhammad bin Ali bin Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib *radhiyallahu
'anhu*, beliau lebih dikenal dengan Ja'far ash-Shadiq *rahimahullah* karena
kejujurannya di dalam berbicara.
__________________
|
|
|
June 20, 2006, 12:33
|
#20
|
|
Registered User
Join Date: Mar 2003
Posts: 13,845
WebPoint: 0 GaulPoint: 5891
|
Rahasia Hidup tenang
Senin, 02 Januari 06 - oleh : Iman
Suatu hari Hasan al-Bashri RA ditanya, " Ya Abal Hasan, apa rahasia zuhudmu dalam dunia ini, yang membuatmu begitu tenang?"
Hasan al-Bashri menjawab: "Aku tahu rizqiku tidak akan diambil orang lain, karena itulah kalbuku selalu tenang. Aku tahu perbuatanku, tidak akan dapat ditunaikan oleh orang lain, karena itulah aku sibuk
mengerjakannya. Aku tahu Allah Ta'ala selalu melihatku, karena itulah aku merasa malu bila Dia melihatku sedang dalam maksiat. Dan aku tahu kematian itu sudah menungguku, karena itulah aku selalu menambah bekal untuk hari pertemuanku dengan Allah Azza wa jalla.
__________________
|
|
|
August 14, 2006, 12:03
|
#21
|
|
Registered User
Join Date: Mar 2003
Posts: 13,845
WebPoint: 0 GaulPoint: 5891
|
Keutamaan Berdzikir, Berdo’a dan Bertobat
Suatu saat, selepas shalat, Rasulullah Saw berbagi sapa dan berbincang bincang
dengan para sahabat tentang pelbagai hal. Dalam perbincangan itu, Rasulullah
menyampaikan keutamaan majelis dzikir, do’a dan permohonan ampun kepada Allah
Swt. Selain itu, beliau juga menekankan bahwa Allah Swt boleh jadi mengabulkan
do’a seorang hamba, menghindarkannya dari bencana yang belum turun, menyimpan
pahala do’anya di akhirat atau menghapusnya dosa-dosanya.
Beliau pun berceramah :
Sesungguhnya Allah Swt memiliki beberapa malaikat yang terus menerus
berkeliling mencari majelis dzikir. Ketika menemukan majelis dzikir, mereka
terus duduk di situ dengan menyelimutkan sayap sesama mereka hingga memenuhi
ruang antara mereka dan langit yang paling bawah.
Ketika majelis itu usai, mereka bubar dan kemudian naik kelangit. Ketika
berada dilangit, mereka ditanya oleh Allah Swt. Yang sebenarnya lebih tahu
ketimbang mereka, “Kalian datang dari mana? !”
“Kami datang dari sisi para hamba-Mu di bumi yang mensucikan-Mu,
mengagungkan-Mu, mengesakan-Mu, memuji-Mu, dan memohon kepada-Mu!” jawab mereka.
“Apa yang mereka minta?” tanya Allah Swt.
“Mereka memohon surga-Mu, “jawab mereka penuh takzim.
“Apakah mereka pernah melihat surga-Ku?” tanya Allah swt lebih jauh
“Tidak, wahai Tuhan,” jawab para malaikat dengan takzim.
“Betapa seandainya mereka melihat surga-Ku?” kata Allah Swt.
“Mereka juga memohon perlindungan kepada-Mu, “ucap mereka tetap takzim.
“Dari apa mereka memohon perlindungan kepada-Ku?” tanya Allah Swt lagi.
“Dari Neraka-Mu, wahai Tuhan,” Jawab mereka terus dengan takzim.
“Apakah mereka melihat Neraka-Ku ?” tanya Allah Swt sekali lagi.
“Tidak“ jawab mereka serempak.
“Betapa seandainya mereka pernah melihat neraka-Ku,” kata Allah Swt.
“Mereka juga memohon Ampunan kepada-Mu, wahai Tuhan,” ucap mereka tetap dengan
takzim.
“Aku telah mengampuni mereka, memberikan apa yang mereka mohon, dan melindungi
mereka dari neraka,“ jawab Allah SWT.
“Wahai Tuhan, tapi dalam majelis mereka ada seseorang yang berdosa yang hanya
kebetulan lewat lantas duduk bersama mereka,” lapor mereka.
“Dia juga Kami ampuni. Sebab, orang yang mau duduk bersama mereka tidak celaka
!” jawab Allah SWT.
Sumber : buku “Mutiara Akhlak Rasulullah SAW” , penulis : Ahmad Rofi’ Usmani
__________________
|
|
|
September 08, 2006, 14:58
|
#22
|
|
Registered User
Join Date: Mar 2003
Posts: 13,845
WebPoint: 0 GaulPoint: 5891
|
Di akhirat nanti ada 4 golongan lelaki yg akan ditarik
masuk ke neraka oleh wanita. Lelaki itu adalah mereka
yg tidak memberikan hak kpd wanita dan tidak menjaga
amanah itu. Mereka ialah:
1. Ayahnya
Apabila seseorang yg bergelar ayah tidak mempedulikan
anak2 perempuannya didunia. Dia tidak memberikan
segala keperluan agama seperti mengajar solat,mengaji
dan sebagainya Dia membiarkan anak2 perempuannya tidak
menutup aurat. Tidak cukup kalau dgn hanya memberi
kemewahan dunia sahaja. Maka dia akan ditarik ke
neraka oleh anaknya.
(p/s; Duhai lelaki yg bergelar ayah, bagaimanakah hal
keadaan anak perempuanmu sekarang?. Adakah kau
mengajarnya bersolat & saum?..menutup aurat?..
pengetahuan agama?.. Jika tidak cukup salah satunya,
maka bersedialah utk menjadi bahan bakar neraka
jahannam.)
2. Suaminya
Apabila sang suami tidak mempedulikan tindak tanduk
isterinya. Bergaul! bebas di pejabat, memperhiaskan
diri bukan utk suami tapi utk pandangan kaum lelaki yg
bukan mahram. Apabila suami mendiam diri walaupun
seorang yg alim dimana solatnya tidak pernah
bertangguh, saumnya tidak tinggal, maka dia
akan turut ditarik oleh isterinya bersama-sama ke dlm
neraka.
(p/s; Duhai lelaki yg bergelar suami, bagaimanakah hal
keadaan isteri tercintamu sekarang?. Dimanakah dia?
Bagaimana akhlaknya? Jika tidak kau menjaganya
mengikut ketetapan syari'at, maka terimalah hakikat yg
kau akan
sehidup semati bersamanya di 'taman' neraka sana.)
3. Abang-abangnya
Apabila ayahnya sudah tiada,tanggungjawab menjaga
maruah wanita jatuh ke bahu abang-abangnya dan saudara
lelakinya. Jikalau mereka hanya mementingkan
keluarganya sahaja dan adiknya dibiar melencong dari
ajaran Islam,tunggulah tarikan adiknya di akhirat
kelak.
(p/s; Duhai lelaki yg mempunyai adik perempuan, jgn
hanya menjaga amalmu, dan jgn ingat kau terlepas...
kau juga akan dipertanggungjawabkan diakhirat
kelak...jika membiarkan adikmu bergelumang dgn
maksiat... dan tidak menutup aurat.)
4. Anak2 lelakinya
Apabila seorang anak tidak menasihati seorang ibu
perihal kelakuan yg haram disisi Islam. bila ibu
membuat kemungkaran mengumpat, memfitnah, mengata
dan sebagainya...maka anak itu akan disoal dan
dipertanggungjawabkan di akhirat kelak....dan nantikan
tarikan ibunya ke neraka.
(p/s; Duhai anak2 lelaki.... sayangilah ibumu....
nasihatilah dia jika tersalah atau terlupa.... krn ibu
juga insan biasa... x lepas dr melakukan dosa...
selamatkanlah dia dr menjadi 'kayu api' neraka....jika
tidak, kau juga akan ditarik menjadi penemannya.)
__________________
|
|
|
October 05, 2006, 12:52
|
#23
|
|
Registered User
Join Date: Mar 2003
Posts: 13,845
WebPoint: 0 GaulPoint: 5891
|
1. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra: Bahwa sesungguhnya Rasulullah saw.
pernah bersabda : Ketika datang bulan Ramadhan: Sungguh telah datang kepadamu
bulan yang penuh berkat, diwajibkan atas kamu untuk shaum, dalam bulan ini pintu
Jannah dibuka, pintu Neraka ditutup, setan-setan dibelenggu. Dalam bulan ini ada
suatu malam yang nilainya sama dengan seribu bulan, maka barangsiapa diharamkan
kebaikannya (tidak beramal baik di dalamnya), sungguh telah diharamkan (tidak
mendapat kebaikan di bulan lain seperti di bulan ini). (HR. Ahmad, Nasai dan
Baihaqy. Hadits Shahih Ligwahairihi).
2. Diriwayatkan dari Urfujah, ia berkata : Aku berada di tempat 'Uqbah bin
Furqad, maka masuklah ke tempat kami seorang dari Sahabat Nabi saw. ketika Utbah
melihatnya ia merasa takut padanya, maka ia diam. ia berkata: maka ia
menerangkan tentang shaum Ramadhan ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah
saw bersabda tentang bulan Ramadhan: Di bulan Ramadhan ditutup seluruh pintu
Neraka, dibuka seluruh pintu Jannah, dan dalam bulan ini Setan dibelenggu.
Selanjutnya ia berkata : Dan dalam bulan ini ada malaikat yang selalu menyeru :
Wahai orang yang selalu mencari/ beramal kebaikan bergembiralah anda, dan wahai
orang-orang yang mencari/berbuat kejelekan berhentilah (dari perbuatan jahat) .
Seruan ini terus didengungkan sampai akhir bulan Ramadhan. (Riwayat Ahmad dan
Nasai)
3. Diriwayatkan dari Abi Hurairah ra. Sesungguhnya Nabi saw. telah bersabda :
Shalat lima waktu, Shalat Jum'at sampai Shalat Jum'at berikutnya, Shaum Ramadhan
sampai Shaum Ramadhan berikutnya, adalah menutup dosa-dosa (kecil) yang
diperbuat diantara keduanya, bila dosa-dosa besar dijauhi.(H.R.Muslim)
__________________
|
|
|
December 06, 2006, 13:31
|
#24
|
|
Registered User
Join Date: Mar 2003
Posts: 13,845
WebPoint: 0 GaulPoint: 5891
|
maka janganlah menyombongkan diri terhadap kelebihan diri
yang sesungguhnya bagian dari ketetapan takdir Ilahi
dan janganlah sesali bila tak ditakdirkan sesuai keinginan
tapi sesali mengapa tidak memanfaatkan kelebihan diri
yang Allah takdirkan sebagai karunia kepada pribadi
demi kemaslahatan hidup di dunia
dan Fir'aun ditakdirkan berkuasa namun memilih zalim
dan Qarun ditakdirkan kaya namun pilih lupa diri
dan kaum Aad, kaum Tsamud ditakdirkan makmur
namun memilih menyembah berhala kemakmuran bukan DIA
Yang Maha Memberi, Yang Maha Memakmurkan, Yang Tunggal
maka azab Allah amat keras bagi kaum yang melewati batas
dan Luqman (al Hakim) ditakdirkan arif dan mengamalkan kearifannya
dan Maryam (binti Imran) ditakdirkan suci dan memelihara kesuciannya
dan Umar (bin Khaththab) ditakdirkan berani dan demi cita luhur mengobarkannya
dan 'Ali (bin Abi Thalib) ditakdirkan kaya ilmu dan mensedekahkan banyak ilmunya
maka rahmat Allah tercurah bagi kaum yang bertakwa
lagi banyak beramal saleh di dunia
(diambil dari: buku Wiyoso Hadi, Catatan Harian Membuka Hati, halaman 148)
__________________
|
|
|
December 27, 2006, 03:02
|
#25
|
|
Registered User
Join Date: Nov 2004
Posts: 1,527
WebPoint: 0 GaulPoint: 309
|
Hadits Thaqalain
Ini gue ambil dari sigi nya akhi umbul
Quote:
|
Originally Posted by umbul_kencenk
Sesungguhnya aku tinggalkan kepada kamu dua perkara, yang sekiranya
kamu berpegang teguh dan mengikuti kedua-duanya, nescaya kamu tidak
akan tersesat selama-lamanya. Itulah
Al Quran dan Sunnahku. (Al-Hadits)
|
Disitu disebut al-Hadits. Dari mana sumber periwayatan hadist tsb ?
Thread ini mungkin akan heboh, tapi mohon disikapi dengan bijak
__________________
QUIZ Terjemahan bahasa Arab, buruan ikuuutt ... 
Rasulullah saw bersabda : "Orang yang paling berbahagia akan memperoleh syafaatku pada hari kiamat ialah orang yang telah mengikrarkan laa ilaaha illallah dengan perasaan ikhlas dari lubuk hatinya." (HR Bukhari)
|
|
|
December 27, 2006, 15:53
|
#26
|
|
Registered User
Join Date: Mar 2003
Posts: 13,845
WebPoint: 0 GaulPoint: 5891
|
Itu sebagian dari pidato rasulullah SAW pada saat haji Wada'.
atau menjelang beliau meninggal...
cukup terkenal koq...
kalo mo mencari, banyak banget dan lumayan sering disebut...
pidato Rasulullah SAW tersebut, terkadang dibikin poster dan ditempel di dinding.
__________________
|
|
|
January 16, 2007, 13:28
|
#27
|
|
Registered User
Join Date: Mar 2003
Posts: 13,845
WebPoint: 0 GaulPoint: 5891
|
Macam ibadah menurut Ibnu Taimiyah bahwa ibadah itu ada dua bentuk yaitu ;
1) Ibadah yang nampak (ibadah dzahiriyyah)
2) Ibadah yang tidak nampak (ibadah bathiniyyah atau qalbiyyah)
Ibadah badaniyyah atau dzahiriyyah adalah segala praktek ibadah yang dapat dilihat melalui gerakan anggota badan yang diridhai Allah dan yang dicintai-Nya seperti shalat, zakat, puasa, berhaji, berdzikir, berinfak, menyembelih, bernadzar, menolong orang yang membutuhkan dan sebagainya.
Adapun ibadah bathiniyyah atau ibadah qalbiyyah adalah ibadah yang terkait dengan hati dan tidak nampak seperti takut, tawakkal, berharap, khusyu’, cinta, dan sebagainya.
Dari kedua jenis ibadah ini, yang paling banyak kaum muslimin terjebak padanya adalah yang berkaitan dengan ibadah bathiniyyah atau ibadah hati dikarenakan sedikit dari kaum muslimin yang mengetahuinya.
__________________
|
|
|
February 07, 2007, 12:44
|
#28
|
|
Registered User
Join Date: Mar 2003
Posts: 13,845
WebPoint: 0 GaulPoint: 5891
|
Dalam suatu kisah diriwayatkan, ada seorang penghuni surga. Ketika ditanyakan kepadanya perbuatan apakah yang dilakukannya ketika di dunia hingga ia menjadi penghuni surga?. Dia menjawab bahwa selagi di dunia, ia pernah menanam sebuah pohon. Dengan sabar dan tulus, pohon itu dipeliharanya hingga tumbuh subur dan besar. Menyadari akan keadaannya yang miskin ia teringat bunyi sebuah hadits Nabi, “Tidak seorang muslim yang menanam tanaman atau menyemaikan tumbuh-tumbuhan, kemudian buah atau hasilnya dimakan manusia atau burung, melainkan yang demikian itu adalah shodaqoh baginya”. Didorong keinginan untuk bersedekah, maka ia biarkan orang berteduh di bawahnya, dan diikhlaskannya manusia dan burung memakan buahnya. Sampai ia meninggal pohon itu masih berdiri hingga setiap orang (musafir) yang lewat dapat istirahat berteduh dan memetik buahnya untuk dimakan atau sebagai bekal perjalanan. Burung pun ikut menikmatinya.
__________________
|
|
|
February 09, 2007, 20:15
|
#29
|
|
Registered User
Join Date: Mar 2003
Posts: 13,845
WebPoint: 0 GaulPoint: 5891
|
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.(QS. 49:1)
Di ayat ini, Allah SWT mengajarkan kesopanan kepada kaum muslimin ketika berhadapan dengan Rasulullah saw. dengan dua cara:
pertama, dalam perbuatan,
dan kedua, dalam hal percakapan.
Mengenai yang pertama, Allah SWT memperingatkan kaum mukminin supaya jangan mendahului Allah dan Rasul-Nya dalam menentukan suatu hukum atau pendapat.
Mereka dilarang memutuskan suatu perkara sebelum membahas dan meneliti lebih dahulu hukum Allah dan (atau) ketentuan dari Rasul-Nya terhadap masalah itu supaya keputusan mereka jangan menyalahi apalagi bertentangan dengan syariat Islam, sehingga dapat menimbulkan kemurkaan Allah.
Yang demikian ini sejalan dengan yang dialami oleh sahabat Nabi Muhammad saw yaitu Muaz bin Jabal ketika akan diutus ke negeri Yaman.
Rasulullah saw bertanya: "Kamu akan memberi keputusan dengan apa?".
Dijawab oleh Muaz: "Dengan kitab Allah".
Nabi bertanya lagi: "Jika tidak kamu jumpai dalam kitab Allah, bagaimana?".
Muaz menjawab: "Dengan Sunah Rasulullah".
Nabi Muhammad saw bertanya lagi: "Jika dalam Sunah Rasulullah tidak kamu jumpai, bagaimana?".
Muaz menjawab: "Aku akan ijtihad dengan pikiranku".
Lalu Nabi Muhammad saw menepuk dada Muaz seraya berkata: "Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufik kepada utusan Rasul-Nya tentang apa yang diridai Allah dan Rasul-Nya".
Dalam ayat ini, Allah SWT memerintahkan kepada kaum mukminin supaya melaksanakan perintah Allah, menjauhi larangan-Nya dan supaya jangan tergesa-gesa melakukan perbuatan atau mengemukakan pendapat dengan mendahului Alquran dan hadis Nabi, yang ada hubungannya dengan sebab turunnya ayat ini. Tersebut dalam kitab Al-Iklil bahwa mereka dilarang menyembelih korban pada hari Raya Idul-Adha sebelum Nabi menyembelih, dan dilarang berpuasa pada hari yang diragukan. Kemudian Allah SWT. memerintahkan supaya mereka tetap bertakwa kepada-Nya karena Allah Maha Mendengar segala percakapan dan Maha Mengetahui segala yang terkandung dalam hati hamba-hamba-Nya.
__________________
|
|
|
February 12, 2007, 21:55
|
#30
|
|
Registered User
Join Date: Mar 2003
Posts: 13,845
WebPoint: 0 GaulPoint: 5891
|
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dam janganlah kamu berkata padanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebahagian kamu terhadap sebahagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari.(QS. 49:2)
Dalam ayat ini, Allah SWT. mengajarkan kepada kaum Mukminin kesopanan jenis kedua yaitu sopan dalam percakapan ketika berhadapan dengan Nabi Muhammad saw. Allah SWT melarang kaum Mukminin meninggikan suara mereka lebih dari suara Nabi. Mereka dilarang untuk berkata-kata kepada Nabi dengan suara keras sebagaimana kerasnya suara mereka sendiri karena perbuatan seperti itu tidak layak menurut kesopanan dan dapat menyinggung perasaan Nabi sendiri. Terutama jika dalam ucapan-ucapan yang tidak sopan itu tersimpan unsur-unsur cemoohan atau penghinaan yang menyakitkan hati Nabi dan dapat menyeret dan menjerumuskan orangnya kepada kekafiran, yang mengakibatkan hapus dan gugurnya semua pahala amal kebaikannya di masa yang lampau, padahal semuanya itu terjadi tanpa disadarinya.
Ayat ini mengandung peringatan pula antara lain para pembuat lelucon profesional jika sedang mengadakan lawakan untuk membuat tertawa para penonton agar dalam mengemukakan humor-humornya jangan sekali-sekali menyinggung kehormatan agama atau ajarannya yang dapat menjerumuskan mereka secara tidak sadar ke dalam jurang kemurtadan, dan dengan demikian menyebabkan hapus dan gugurnya segala pahala kebaikan mereka di masa lampau.
Diriwayatkan oleh Bukhari dari Ibnu Abi Mulaikah bahwa Abdullah bin Zubair memberitahukan kepadanya bahwa telah datang satu rombongan dari Kabilah Bani Tamim kepada Rasulullah saw. Berkatalah Abu Bakar: "Rombongan ini hendaknya diketuai oleh Qa'qa' bin Ma'bad". Umar Ibnu Khattab berkata: "Hendaknya diketuai oleh Al-Aqra' Ibnu Habis". Abu Bakar membantah, "Kamu tidak bermaksud lain kecuali menentang aku". Umar menjawab: "Saya tidak bermaksud menentangmu". Maka timbullah perbedaan pendapat antara Abu Bakar dan Umar sehingga suara mereka kedengarannya bertambah keras, maka turunlah ayat ini. Sejak itu, Abu Bakar bila berkata-kata kepada Nabi Muhammad saw., suaranya direndahkan sekali seperti bisikan saja, demikian pula Umar. Oleh karena sangat halus suaranya hampir-hampir tak terdengar sehingga sering ditanyakan lagi apa yang diucapkannya itu.
Mereka sama-sama memahami bahwa ayat-ayat tersebut sengaja diturunkan untuk memelihara kehormatan Nabi Muhammad saw.
Dan setelah turun ayat ini, maka sabit bin Qais tidak pernah datang lagi menghadiri majelis Rasulullah saw., dan ketika ditanya oleh Nabi tentang sebabnya ia tidak lagi menghadiri majelis taklimnya, Sabit menjawab: "Ya Rasulullah, telah diturunkan ayat ini dan saya adalah seorang yang selalu berbicara keras dan nyaring. Saya merasa khawatir kalau-kalau pahala saya akan hapus sebagai akibat kebiasaan saya itu". Dijawab oleh Nabi Muhammad saw: "Engkau lain sekali, engkau hidup dalam kebaikan dan Insya-Allah akan mati dalam kebaikan pula; engkau termasuk ahli surga". Sabit menjawab: "Aku sangat senang gembira oleh berita yang menggembirakan itu, dan saya tidak akan mengeraskan suara saya terhadap Nabi untuk selama-lamanya".
__________________
|
|
|
Posting Rules
|
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts
HTML code is Off
|
|
|
All times are GMT. The time now is 05:41.
|
|