| HOT from the Oven Semua yang hangat-hangat disini, Diskusikan berita berita baru, isu isu, politik, pemerintahan pengembangan teknologi baru, dan sebagainya |
December 23, 2004, 07:14
|
#1
|
|
Registered User
Join Date: Mar 2003
Posts: 15,745
WebPoint: 4 GaulPoint: 616
|
Mentalitas Bangsa Klien
Quote:
Mentalitas Bangsa Klien
Oleh Kuntowijoyo
KITA belajar dari Pemilu 2004, pilpres 2004, tayangan teve, kehidupan sehari-hari, dan dari hubungan internasional. Kesimpulannya tidak menggembirakan. Kita sekarang jadi bangsa klien (klien yang tergantung pada patron).
Melalui modal dan produk, kita menjadi klien Amerika, Eropa, Jepang, Taiwan, Korea Selatan, Singapura, dan RRC. Melalui tenaga kerja Indonesia (TKI)/ tenaga kerja wanita (TKW), kita menjadi klien Malaysia dan Timur Tengah. Melalui teve, kita menjadi klien Amerika, Jepang, Amerika Latin, Taiwan, dan India. Melalui utang, kita menjadi klien IMF, Bank Dunia, ADB, CGI, dan IDB.
Presiden 2004-2009 harus dapat mengubah bangsa klien menjadi bangsa mandiri. Sementara itu, mentalitas kita pun juga harus berubah. Pada tahun 1945, kita sudah berubah dari bangsa terjajah menjadi bangsa mandiri. Kemudian kita terpuruk menjadi bangsa klien. Kalau salah urus, dari bangsa klien kita bisa jadi bangsa kuli, dari bangsa kuli menjadi "gelandangan di rumah sendiri"-istilah Emha Ainun Nadjib.
Bangsa klien
Ada kesamaan dan perbedaan antara bangsa terjajah dan bangsa klien. Kesamaannya, keduanya punya ketergan- tungan; satu pada penjajah, satunya lagi pada patron. Perbedaannya, ambillah sampel Surakarta awal abad ke-20 untuk bangsa jajahan dan Indonesia awal abad ke-21 untuk bangsa klien. Akan terlihat ada dua perbedaan, yaitu konkret atau abstraknya permasalahan yang dihadapi dan kesatuan motif masing-masing.
Pertama, bangsa terjajah menghadapi penjajahnya secara konkret. Demikianlah, pada awal abad ke-20, orang Solo bisa melihat meneer dan mevrouw dengan mata kepala di Societeit Harmonie, dan tuan dan nyonya Belanda naik trem yang melintas jantung kota di depan paheman Radyo Poestoko. Akan tetapi, pada awal abad ke-21 ini bangsa klien hanya tahu secara abstrak bahwa ada kapitalisme Amerika. Orang bisa mengebom Kedutaan Amerika, restoran cepat saji KFC dan McDonald’s, tetapi tidak bisa mengebom kapitalisme Amerika. Orang bisa mendemo pertemuan IMF, tetapi tak bisa mendemo institusi IMF. Negara-negara tujuan TKI/TKW sepertinya abstrak. Kita bisa mencaci maki majikan TKI/TKW di Malaysia, di Arab Saudi, dan di Timur Tengah, tetapi tak bisa menggugat negara-negara berdaulat itu.
Kedua, keduanya mempunyai kesatuan motif sendiri-sendiri. Elite dan massa bangsa jajahan awal abad ke-20 mempunyai kesatuan motifnya sendiri, demikian pula bangsa klien pada awal abad ke-21 ini. Michel Foucault menyebut kesatuan motif itu dengan unities of discourse-kesatuan wacana, artinya di permukaan sejarah ada kesatuan motif yang menghubungkan unit-unit pengetahuan. Elite dan massa bangsa jajahan pada awal abad ke-20 mempunyai kesatuan wacana penghubung sistem pengetahuan mereka, yaitu kemajuan.
Dengan merujuk pada kemajuan, dalam ilmu pengetahuan Padmosusastro dari Solo, pemimpin majalah Sasadara, mengganti takhayul tentang raksasa yang memakan bulan dengan ilmu kodrat tentang kedudukan Bulan, Matahari, dan Bumi. Atas nama kemajuan, priayi di Kasunanan Solo mendirikan perkumpulan Abipraya. Atas nama kemajuan, perkumpulan proto-nasionalis Budi Utomo berdiri pada tahun 1908. Atas nama kemajuan, dalam agama, Muhammadiyah berdiri pada tahun 1912. Karena kemajuanlah orang Jawa di Surakarta mencukur rambut yang semula digelung dan orang China memotong kucir (taucang).
Adapun pada awal abad ke-21, sekarang ini sebagai bangsa klien secara diam-diam juga punya semacam unities of discourse, yaitu kemakmuran. Elite dan massa bangsa klien mengidamkan kemakmuran. PTN BHMN dan PTS terkenal menarik bayaran mahal karena lulusannya dapat mendatangkan kemakmuran. Akademi komputer, sekretaris, dan manajemen laku keras. Juga LPK (lembaga pendidikan kejuruan) dan LPTK (lembaga pendidikan tenaga kerja) banyak didirikan karena mereka bisa mendatangkan kemakmuran bagi pengelola dan peserta. Dengan alasan kemakmuran, di masa depan orang memasukkan anaknya ke fakultas-fakultas kedokteran, ekonomi, teknik, dan informatika.
Mentalitas
Di sini ini akan dikemukakan empat mentalitas bangsa klien, yaitu kompleks inferioritas, sindrom selebriti, mistifikasi, dan xenomani.
1. Kompleks inferioritas. Sebagai bangsa klien, kita tidak merasa bangga bila belum mengonsumsi barang-barang impor, yang tampaknya buatan luar negeri atau setidaknya barang-barang produk franchise.
Inferioritas itu akan makin terasa-bagi elite-bila kita sempat ke luar, ke negeri-negeri yang menjadi patron. Tidak ada pengemis di Bangkok, Singapura, Kuala Lumpur, Tokyo. Sekolah kita juga tertinggal jauh. Sementara kita masih bergulat dengan iptek, negeri-negeri patron sudah bergerak ke humaniora sebab iptek itu sudah taken for granted bagi negeri luar.
Penelitian Taufiq Ismail (1997) pada SMU di beberapa negeri menunjukkan bahwa wajib baca buku sastra di Indonesia adalah nol, sementara negeri jiran Malaysia enam judul buku dan Amerika Serikat 32 judul buku.
2. Sindrom selebriti. Dalam tayangan teve, kita pun meniru Amerika dengan American Idol, gemerlap bintang dalam hadiah Oscar, Miss America, dan Miss Universe. Hasilnya ialah maraknya tayangan semacam dalam teve kita. Meskipun banyak tayangan yang bermanfaat, ada pula yang menyakitkan hati mengingat banyaknya kemiskinan.
Kita pun senang nonton selebriti. Kita jadi tahu banyak soal selebriti, kekayaan mereka, kawin-cerai, dan gosip. Penyanyi, bintang sinetron, bintang iklan, model, dan foto model jauh lebih kaya ketimbang dosen, pemikir, sastrawan, dan PNS pada umumnya. Semua selebriti serba ceria, semua serba mewah. Kita semua ingin jadi selebriti. Bagi teve sendiri menjual selebriti itu mudah. Ada Kabar-Kabari, ada Cek & Recek, ada Kiss, ada Eko Ngegosip, ada Star7. Sekarang ada jalan untuk jadi selebriti: ada AFI, KDI, Indonesian Idol.
Rumus "selebriti" dan "enteng-entengan" itulah yang dengan baik ditangkap oleh perancang iklan pasangan calon presiden (capres)-calon wakil presiden (cawapres) pada pilpres 5 Juli 2004. Juallah capres dengan nalar selebriti, tidak dengan nalar kenegaraan, nalar rasionalitas, atau nalar hati nurani, pastilah orang akan tertarik. Lalu muncul iklan dan berita capres-cawapres menyanyi di depan massa, fisik capres dipuji-puji di warung kopi. Capres-cawapres ditampilkan sebagai selebriti.
3. Mistifikasi. Mistifikasi artinya menganggap sesuatu sebagai misteri. Kebanyakan mistifikasi dilakukan oleh rakyat di bawah. Kemakmuran itu irasional, tak terpahami. Pengalaman sehari-hari petani ternyata mendukung gagasan itu. Seorang petani tebu TRI yang bekerja selama lebih dari 18 bulan dinyatakan bahwa rendemen tebunya rendah padahal ia masih harus menyewa tanah dan membayar orang untuk mencabuti pokok-pokok tebu. Sementara itu, petani lain sawahnya diserang hama wereng padahal ia sudah mengeluarkan uang untuk membeli pupuk, menyewa pembajak, dan membayar penyiang. Bila rasional, mereka yang terjatuh dapat memakai cara- cara konvensional pula untuk menyiasati kemakmuran. Mereka dapat menjual tanah dan beralih profesi, uang untuk dana pensiun, atau masuk pasar tenaga kerja di kota, bertransmigrasi, para istri jadi TKW, anak perempuan jadi PSK, suami jadi TKI.
Mereka yang berkesimpulan bahwa kemakmuran adalah misteri menghadapi misteri dengan misteri. Tidak usah memasuki pasar, pergilah ke dukun pesugihan, dukun pengganda uang, pelihara tuyul, cari jimat, bertapa, minta restu penunggu gunung, berdoa di tempat keramat, dan banyak perilaku menyimpang lain. Mistifikasi kemakmuran juga terjadi pada pembeli togel, penjudi, koruptor, dan permainan "ketangkasan" meskipun mereka tidak ke dukun.
4. Xenomani. Kegandrungan pada produk asing itu dialami oleh semua tingkat-ini pasangan kompleks inferioritas. Kelas atas berbelanja, berobat, sight seeing, membeli rumah, dan menyekolahkan anak ke Singapura, Jepang, Eropa, dan Australia. Mereka juga berulang tahun satu miliar di hotel Jakarta yang ball-room-nya disulap jadi ball-room hotel mewah di Amerika, pesta manten di Perth, dan sekurang-kurangnya berlibur ke Bali atau Disney Land.
Kelas menengah makan di Pizza Hut, McDonald’s, KFC, sarapan kopi dan sepotong Dunkin’ Donuts. Kelas bawah membeli jeans Levi’s buatan Bandung, sepatu Gucci buatan Magetan, hem-eh-T-Shirt "Man" buatan Tangerang, ayam KenTuku Yogya, handuk berhuruf China, dan makan di restoran Kei Mura. Ketiga kelas bersama-sama suka menonton telenovela Amerika Latin, kartun Jepang, dan film Amerika.
Karena sekarang ini kita menjadi bangsa klien, mentalitas kita telah rusak. Agar supaya mentalitas itu tidak mengganggu kesehatan mental elite dan massa, harus dilakukan perubahan. Perubahan itu ialah dari bangsa klien kembali jadi bangsa yang mandiri.
|
link
__________________
tes
|
|
|
|
Recommendation
|
Sponsored Ads
|
|
|
|
December 23, 2004, 07:24
|
#2
|
|
Registered User
Join Date: May 2003
Location: Apt # 4H
Posts: 26,936
WebPoint: 2 GaulPoint: 27307
|
Gwe jadi inget kmaren baca artikel di Tempo yg tentang staf ahli Menteri BUMN yg org Aussie. Baru jadi pelaksana harian, SK belom keluar, aja udah berani perintah2 deputi menteri buat dateng rapat ngadep dia. Kurang ajar bener tuch bule...bukan siapa2 aja udah berlagak kayak ghitu
__________________
"Sin ti mi camino, se desaparece.... Si ti las espinas, son las que florecen...
Sin ti, yo no vivo.... Sin ti, no se escribe la historia del amor"
|
|
|
December 23, 2004, 13:10
|
#3
|
|
Fallen Poet
Join Date: Aug 2003
Location: Forbidden Dimension
Posts: 15,146
WebPoint: 6 GaulPoint: 16205
|
Good article
|
|
|
December 23, 2004, 16:43
|
#4
|
|
Registered User
Join Date: Apr 2004
Location: between hope and faith
Posts: 1,229
WebPoint: 0 GaulPoint: 853
|
bagus
sayangnya di artikel tidak disebutkan bagaimana cara menjadi bangsa mandiri. memang sih bisa di balikin aja, kalau suka mistik menjadi tidak suka mistik, kalau sindrom selebriti, menjadi hidup berdasarkan apa adanya/yang riil aja dan nggak usah aneh2 niru2/terhisap sama tingkah laku selebriti. dll.
__________________
Perubahan terjadi karena usaha bukan datang dengan sendirinya
|
|
|
December 23, 2004, 16:52
|
#5
|
|
Registered User
Join Date: May 2004
Posts: 8,764
WebPoint: 0 GaulPoint: 2208
|
Re: Mentalitas Bangsa Klien
Quote:
Mentalitas Bangsa Klien
Oleh Kuntowijoyo
Pertama, bangsa terjajah menghadapi penjajahnya secara konkret. Demikianlah, pada awal abad ke-20, orang Solo bisa melihat meneer dan mevrouw dengan mata kepala di Societeit Harmonie, dan tuan dan nyonya Belanda naik trem yang melintas jantung kota di depan paheman Radyo Poestoko. Akan tetapi, pada awal abad ke-21 ini bangsa klien hanya tahu secara abstrak bahwa ada kapitalisme Amerika. Orang bisa mengebom Kedutaan Amerika, restoran cepat saji KFC dan McDonald’s, tetapi tidak bisa mengebom kapitalisme Amerika. Orang bisa mendemo pertemuan IMF, tetapi tak bisa mendemo institusi IMF. Negara-negara tujuan TKI/TKW sepertinya abstrak. Kita bisa mencaci maki majikan TKI/TKW di Malaysia, di Arab Saudi, dan di Timur Tengah, tetapi tak bisa menggugat negara-negara berdaulat itu.
|
tanggulangi dengan kemampuan diri sendiri, kepada IMF kita tidak perlu berhutang, punya kemampuan sendiri dong, caranya?
punya teknologi sendiri sehingga uang tidak habis utk teknologi asing.
korupsi tinggalin, jangan kita melihat orang lain, kalo diri kita sendiri juga bobrok dan bisa dibeli.
Quote:
Mentalitas
Di sini ini akan dikemukakan empat mentalitas bangsa klien, yaitu kompleks inferioritas, sindrom selebriti, mistifikasi, dan xenomani.
1. Kompleks inferioritas. Sebagai bangsa klien, kita tidak merasa bangga bila belum mengonsumsi barang-barang impor, yang tampaknya buatan luar negeri atau setidaknya barang-barang produk franchise.
|
sekarang di indo tidak liat merk, hanya sebagian kecil aja, itupun masih dipandang sebagai mutu. Produk indo yg masih ada TV, radio, elektronik yg lain diminati, kalo yg lain memang ga ada produk di indo : handphone tidak ada, komputer tidak ada, kendaraan juga tidak ada, pakaian pun hampir tidak ada sekarang
Quote:
Inferioritas itu akan makin terasa-bagi elite-bila kita sempat ke luar, ke negeri-negeri yang menjadi patron. Tidak ada pengemis di Bangkok, Singapura, Kuala Lumpur, Tokyo. Sekolah kita juga tertinggal jauh. Sementara kita masih bergulat dengan iptek, negeri-negeri patron sudah bergerak ke humaniora sebab iptek itu sudah taken for granted bagi negeri luar.
Penelitian Taufiq Ismail (1997) pada SMU di beberapa negeri menunjukkan bahwa wajib baca buku sastra di Indonesia adalah nol, sementara negeri jiran Malaysia enam judul buku dan Amerika Serikat 32 judul buku.
|
ya gw setuju iptek dikembangkan, sekarang memang sedang tapi belon bisa banyak, contoh yg sudah ada dg ikut olimpiade sains, matematik dan lain2, dulu juga sempet ada beberapa sekolah yg muridnya berprestasi, dari itb juga sempet ada tapi penemuannya tidak bernilai jual kali?
dan ini yg bobroknya, badan yg dibiayai dg dana yg besar ternyata tidak menghasilkan apa2 (BPPT), banyak pembelian peralatan yg sangat jauh tingkat teklnologinya, sehingga alat tidak dipakai, pegawai ditraining di luar, balik tidak ada kerjaan, isi dan pelaksanaan di badan ini benar2 tidak nyambung dg kepentingan pengusaha dan rakyat, tidak tau teknologi apa aja yg pernah dihasilkan dan berguna, seandainya adapun apa bisa berguna dari segi finasial?
gw ada bukti ttg hal ini, cuma agak tidak etis ditulisnya
Quote:
2. Sindrom selebriti. Dalam tayangan teve, kita pun meniru Amerika dengan American Idol, gemerlap bintang dalam hadiah Oscar, Miss America, dan Miss Universe. Hasilnya ialah maraknya tayangan semacam dalam teve kita. Meskipun banyak tayangan yang bermanfaat, ada pula yang menyakitkan hati mengingat banyaknya kemiskinan.
Kita pun senang nonton selebriti. Kita jadi tahu banyak soal selebriti, kekayaan mereka, kawin-cerai, dan gosip. Penyanyi, bintang sinetron, bintang iklan, model, dan foto model jauh lebih kaya ketimbang dosen, pemikir, sastrawan, dan PNS pada umumnya. Semua selebriti serba ceria, semua serba mewah. Kita semua ingin jadi selebriti. Bagi teve sendiri menjual selebriti itu mudah. Ada Kabar-Kabari, ada Cek & Recek, ada Kiss, ada Eko Ngegosip, ada Star7. Sekarang ada jalan untuk jadi selebriti: ada AFI, KDI, Indonesian Idol.
Rumus "selebriti" dan "enteng-entengan" itulah yang dengan baik ditangkap oleh perancang iklan pasangan calon presiden (capres)-calon wakil presiden (cawapres) pada pilpres 5 Juli 2004. Juallah capres dengan nalar selebriti, tidak dengan nalar kenegaraan, nalar rasionalitas, atau nalar hati nurani, pastilah orang akan tertarik. Lalu muncul iklan dan berita capres-cawapres menyanyi di depan massa, fisik capres dipuji-puji di warung kopi. Capres-cawapres ditampilkan sebagai selebriti.
|
makanya sby juga harus mengkritik isi tayangan, sehingga moral tidak rusak
gw ga usulin juga pemerintah ngatur tayangan, tapi liat dan kontrol apa semua penonton bisa milih2 mana tontonan yg baik ato tidak
Quote:
3. Mistifikasi. Mistifikasi artinya menganggap sesuatu sebagai misteri. Kebanyakan mistifikasi dilakukan oleh rakyat di bawah. Kemakmuran itu irasional, tak terpahami. Pengalaman sehari-hari petani ternyata mendukung gagasan itu. Seorang petani tebu TRI yang bekerja selama lebih dari 18 bulan dinyatakan bahwa rendemen tebunya rendah padahal ia masih harus menyewa tanah dan membayar orang untuk mencabuti pokok-pokok tebu. Sementara itu, petani lain sawahnya diserang hama wereng padahal ia sudah mengeluarkan uang untuk membeli pupuk, menyewa pembajak, dan membayar penyiang. Bila rasional, mereka yang terjatuh dapat memakai cara- cara konvensional pula untuk menyiasati kemakmuran. Mereka dapat menjual tanah dan beralih profesi, uang untuk dana pensiun, atau masuk pasar tenaga kerja di kota, bertransmigrasi, para istri jadi TKW, anak perempuan jadi PSK, suami jadi TKI.
Mereka yang berkesimpulan bahwa kemakmuran adalah misteri menghadapi misteri dengan misteri. Tidak usah memasuki pasar, pergilah ke dukun pesugihan, dukun pengganda uang, pelihara tuyul, cari jimat, bertapa, minta restu penunggu gunung, berdoa di tempat keramat, dan banyak perilaku menyimpang lain. Mistifikasi kemakmuran juga terjadi pada pembeli togel, penjudi, koruptor, dan permainan "ketangkasan" meskipun mereka tidak ke dukun.
|
teknologi belon masuk ke desa, seandainya sudahpun terputus, contohnya : bibit2 pertanian belon banyak dikembangkan, yg banyak sekarang malah bibit dari luar (perlu biaya tambahan lagi), kerja sama dg ipb sudah ada mudah2an berhasil.
dari semua itu, kalangan pengusaha lebih banyak berperan, pemerintah masih nol besar.
Quote:
4. Xenomani. Kegandrungan pada produk asing itu dialami oleh semua tingkat-ini pasangan kompleks inferioritas. Kelas atas berbelanja, berobat, sight seeing, membeli rumah, dan menyekolahkan anak ke Singapura, Jepang, Eropa, dan Australia. Mereka juga berulang tahun satu miliar di hotel Jakarta yang ball-room-nya disulap jadi ball-room hotel mewah di Amerika, pesta manten di Perth, dan sekurang-kurangnya berlibur ke Bali atau Disney Land.
Kelas menengah makan di Pizza Hut, McDonald’s, KFC, sarapan kopi dan sepotong Dunkin’ Donuts. Kelas bawah membeli jeans Levi’s buatan Bandung, sepatu Gucci buatan Magetan, hem-eh-T-Shirt "Man" buatan Tangerang, ayam KenTuku Yogya, handuk berhuruf China, dan makan di restoran Kei Mura. Ketiga kelas bersama-sama suka menonton telenovela Amerika Latin, kartun Jepang, dan film Amerika.
Karena sekarang ini kita menjadi bangsa klien, mentalitas kita telah rusak. Agar supaya mentalitas itu tidak mengganggu kesehatan mental elite dan massa, harus dilakukan perubahan. Perubahan itu ialah dari bangsa klien kembali jadi bangsa yang mandiri.
|
mulailah dg pemerintah dan pemimpin2nya dulu, jangan malah mereka dulu yg lomba2 punya apartemen mewah, nginep di hotel mewah, studi banding keluar (DPR dan KPU benar2 memuakkan) dll.
|
|
|
December 23, 2004, 17:21
|
#6
|
|
Registered User
Join Date: May 2003
Location: Apt # 4H
Posts: 26,936
WebPoint: 2 GaulPoint: 27307
|
Lha ghimana rakyatnya ndak ikut2-an mas Blueduck kalo pemerintahnya aja malah milih barang bikinan asing. Liat aja kalo ada sidang Menteri apa DPR ghitu, mic kecil yg didepannya itu merk Philips khan? Memangnya Maspion ghitu ndak bisa toch bikin mic? TNI ghitu malah pilih beli senapan AK daripada pake SS-1nya PINDAD. Helikopter (TNI dan Puteh) malah beli bikinan Russia, padahal PT DI udah punya lisensi untuk ngerakit Helikopter Super Puma.
KRL juga kemaren malah PERUMKA pilih beli bekas dari Jepang ketimbang beli baru buatan INKA. Padahal yg bikinan Jepang itu udah tua banget ghitu bentuknya gwe liat di kaskus. Berapa tuch nanti biaya restorasinya.
Blueduck, yg BPPT itu ditulis aja. Ndak apa2 kalo toch memang benar adanya.
__________________
"Sin ti mi camino, se desaparece.... Si ti las espinas, son las que florecen...
Sin ti, yo no vivo.... Sin ti, no se escribe la historia del amor"
|
|
|
December 23, 2004, 18:01
|
#7
|
|
Registered User
Join Date: May 2004
Posts: 8,764
WebPoint: 0 GaulPoint: 2208
|
iya gw setuju ama ACham, memang banyak produk2 seperti itu dipake dikalangan pemerintah sendiri.
barang2 asing dibeli biasanya karena sifatnya bantuan ato utang, dg syarat memakai barang produksi negara pengutang, hal2 seperti ini harus dihilangkan, karena indo tuh rugi 2 kali, udah utang, barang yg dipakai barang negara lain, belon masalah bengkak biaya pengadaan juga.
mengenai BPPT, gw sendiri pernah liat BPPT kayak apa, tapi ya udah tau lah yg umum bocor2nya, dan 'waste' nya kayak apa badan itu.
pabrik pesawat juga kurang lebih banyak bocor, 'atas' dan 'bawah', shg produksi mahal, dan susah jual.
PINDAD dananya minim, gw rasa shg ga berkembang
Last edited by blueduck; December 23, 2004 at 19:25.
|
|
|
December 23, 2004, 20:51
|
#8
|
|
Registered User
Join Date: Sep 2003
Posts: 1,077
WebPoint: 0 GaulPoint: 1390
|
mana ada negara yang mandiri dalam semua hal. amerika saja yang negara terkaya dan termaju di dunia tergantung dengan hutang luar negeri senilai 2 triliun dolar. barang2 retail hampir semuanya diimpor dari cina, india atau latin amerika. mobil2 jepang dan impor lainnya semakin banyak dan mengalahkan bikinan dalam negeri.
sejarah menunjukkan kalau negara2 yang mengadopsi polis mandiri atau import substitution policy akhirnya menjadi tidak effisien dan ketinggalan dalam hal teknologi maupun kualitas kehidupan. cina di abad 19, jepang sebelum reformasi meiji, india, korea utara, dll. sebaliknya sejarah menunjukkan kalau orientasi negara adalah menuju perdagangan bebas mereka hampir pasti akan memperluas target pasar dan kualitas kehidupan rakyatnya. inggris, belanda, amerika, singapura, hong kong, jepang dll
contoh konkret adalah kalau indonesia mengangkat larangan impor beras, harga akan turun karena dan lebih banyak orang miskin yang akan tertolong. nggak ada alasan kenapa indonesia harus membuat mic, senapan, helikopter, kereta api atau semua barang dengan sendiri. lebih bagus kalau indonesia berkonsentrasi membuat barang2 dimana mereka lebih kompetitif. zaman sekarang siapa patron dan siapa klien sudah tidak jelas lagi. negara2 maju justru mempunyai hutang terbanyak, mereka malah mengkorbankan industri manufakturing mereka ke negara2 lain. dalam era sekarang hubungan antar negara lebih menuju garis horinzontal
|
|
|
December 24, 2004, 01:43
|
#9
|
|
Registered User
Join Date: Mar 2003
Posts: 15,745
WebPoint: 4 GaulPoint: 616
|
Quote:
Originally posted by Nelson
dalam era sekarang hubungan antar negara lebih menuju garis horinzontal
|
banyak yang bilang belum.
salah satunya Joseph Stiglitz dalam buku best sellernya Globalization and Its Discontents.
kalau orang indonesia Kwik Kian Gie
memang secara teoritis perdagangan internasional itu menguntungkan. tapi praktek saat ini belum seperti itu.
__________________
tes
|
|
|
December 24, 2004, 01:51
|
#10
|
|
Registered User
Join Date: Mar 2003
Posts: 15,745
WebPoint: 4 GaulPoint: 616
|
Ada cerita dari Pak Kwik yang menarik tentang academic smart dan street smart.
Pada suatu hari ada seorang pengamen jalanan duduk di pinggir sungai bersama dengan seorang Profesor Matematika. Sungai itu kira-kira lebarnya 5 meter. Kemudian si pengamen bertanya “Profesor, butuh berapa lompatan buat seekor katak untuk menyeberangi sungai ini?”
Dengan yakin Profesor menjawab “Lebar sungai ini dibagi dengan berapa jauh rata-rata katak itu bisa melompat dalam setiap lompatan, maka itulah jumlah lompatan yang diperlukan oleh sang katak untuk menyeberang sungai ini”.
Secara logika akademik betul kan?
Lalu dengan enteng si pengamen menjawab “Salah Profesor, katak itu cuman butuh dua kali lompatan yaitu melompat masuk sungai dan melompat keluar sungai. Seumur hidup saya belum pernah melihat katak melompat-lompat di dalam air”
Moral ceritanya adalah bahwa semua hal yang logis dan masuk akal dalam dunia akademis belum tentu benar dalam prakteknya di dunia nyata. Dan Stiglitz serta Kwik adalah orang2 yang memiliki kompetensi tinggi baik di dunia akademik maupun dunia nyata.
__________________
tes
|
|
|
December 24, 2004, 03:49
|
#11
|
|
Registered User
Join Date: May 2003
Location: Apt # 4H
Posts: 26,936
WebPoint: 2 GaulPoint: 27307
|
Quote:
Originally posted by Nelson
mana ada negara yang mandiri dalam semua hal. amerika saja yang negara terkaya dan termaju di dunia tergantung dengan hutang luar negeri senilai 2 triliun dolar. barang2 retail hampir semuanya diimpor dari cina, india atau latin amerika. mobil2 jepang dan impor lainnya semakin banyak dan mengalahkan bikinan dalam negeri.
sejarah menunjukkan kalau negara2 yang mengadopsi polis mandiri atau import substitution policy akhirnya menjadi tidak effisien dan ketinggalan dalam hal teknologi maupun kualitas kehidupan. cina di abad 19, jepang sebelum reformasi meiji, india, korea utara, dll. sebaliknya sejarah menunjukkan kalau orientasi negara adalah menuju perdagangan bebas mereka hampir pasti akan memperluas target pasar dan kualitas kehidupan rakyatnya. inggris, belanda, amerika, singapura, hong kong, jepang dll
contoh konkret adalah kalau indonesia mengangkat larangan impor beras, harga akan turun karena dan lebih banyak orang miskin yang akan tertolong. nggak ada alasan kenapa indonesia harus membuat mic, senapan, helikopter, kereta api atau semua barang dengan sendiri. lebih bagus kalau indonesia berkonsentrasi membuat barang2 dimana mereka lebih kompetitif. zaman sekarang siapa patron dan siapa klien sudah tidak jelas lagi. negara2 maju justru mempunyai hutang terbanyak, mereka malah mengkorbankan industri manufakturing mereka ke negara2 lain. dalam era sekarang hubungan antar negara lebih menuju garis horinzontal
|
Negara2 Amerika Latin membuka pasarnya ngga ada hasilnya tuch.
kalo Indonesia ngga "disarankan" untuk membuat barang sendiri, lantas mau ghimana? Kalo nurutin saran supaya Indonesia selalu untuk stick on yang kompetitif (kompetitif dalam waktu sekarang ini) aja, well terus terang sech Indonesia sampe kiamat juga bakal cuman bisa bergantung pada export SDA doank.
Gwe rasa ngga ada satupun pemerintah di dunia ini yg ga nyupport industri dalam negerinya, no matter ketinggalan barangnya. Liat aja G.W. Bush. Kenapa mobil dinas dia cuman Cadillac DeVille? Kenapa koq dia ga pake Lexus LS 430 or Mercedes Benz S600 yang jelas2 kalo di review majalah2 automotif menempati peringkat teratas? Terus misalnya dia ganti Air Force One yg sekarang, apakah dia nantinya bakal pake pesawat bikinan Airbus? Airbus sekarang udah penguasa pasar terbesar loch. Tapi pasti ga mungkin ada pesawat Airbus berlambang kepresidenan USA.
Polisi2 di US, kenapa mereka ga pake mobil2 Jepang yg lebih bagus and efisien bahan bakar? or mobil Jerman yg performance-nya udah ga diragukan ghitu? Or kenapa Angkatan Udara US pake repot2 mahal2 ngadain tender buat proyek JSF or raptor? Kenapa mereka ga simply beli aja dari Dassault or Sukhoi? Khan lebih murah. Katanya udah ga ada klien dan patron laghi.
__________________
"Sin ti mi camino, se desaparece.... Si ti las espinas, son las que florecen...
Sin ti, yo no vivo.... Sin ti, no se escribe la historia del amor"
|
|
|
December 24, 2004, 03:52
|
#12
|
|
Registered User
Join Date: May 2003
Location: Apt # 4H
Posts: 26,936
WebPoint: 2 GaulPoint: 27307
|
Quote:
Originally posted by Nelson
mana ada negara yang mandiri dalam semua hal. amerika saja yang negara terkaya dan termaju di dunia tergantung dengan hutang luar negeri senilai 2 triliun dolar. barang2 retail hampir semuanya diimpor dari cina, india atau latin amerika. mobil2 jepang dan impor lainnya semakin banyak dan mengalahkan bikinan dalam negeri.
sejarah menunjukkan kalau negara2 yang mengadopsi polis mandiri atau import substitution policy akhirnya menjadi tidak effisien dan ketinggalan dalam hal teknologi maupun kualitas kehidupan. cina di abad 19, jepang sebelum reformasi meiji, india, korea utara, dll. sebaliknya sejarah menunjukkan kalau orientasi negara adalah menuju perdagangan bebas mereka hampir pasti akan memperluas target pasar dan kualitas kehidupan rakyatnya. inggris, belanda, amerika, singapura, hong kong, jepang dll
contoh konkret adalah kalau indonesia mengangkat larangan impor beras, harga akan turun karena dan lebih banyak orang miskin yang akan tertolong. nggak ada alasan kenapa indonesia harus membuat mic, senapan, helikopter, kereta api atau semua barang dengan sendiri. lebih bagus kalau indonesia berkonsentrasi membuat barang2 dimana mereka lebih kompetitif. zaman sekarang siapa patron dan siapa klien sudah tidak jelas lagi. negara2 maju justru mempunyai hutang terbanyak, mereka malah mengkorbankan industri manufakturing mereka ke negara2 lain. dalam era sekarang hubungan antar negara lebih menuju garis horinzontal
|
Negara2 Amerika Latin membuka pasarnya ngga ada hasilnya tuch. Yang ada tuch mereka cuman dimanfaatin upah buruh murahnya. Hal ini udah pernah terjadi sama negara2 Asia tenggara. Sekarang upah negara Asia Tenggara udah naek, udah ada hak2 buruh, mereka cabut ke Cina. besok kalo upah di Cina naek, hak2 buruh diakui, gwe yakin 100% pasti mereka bakal cari tempat laen kayak Kamboja, Laos or even Africa. Itu tuch yg dibilang meningkatkan kualitas rakyatnya? Rakyat yang mana yg meningkat kemakmurannya? The top 2 %? or the bottom 70%?
kalo Indonesia "disarankan" untuk tidak membuat barang sendiri, lantas mau ghimana? Kalo nurutin saran supaya Indonesia selalu untuk stick on yang kompetitif (kompetitif dalam waktu sekarang ini) aja, well terus terang sech Indonesia sampe kiamat juga bakal cuman bisa bergantung pada export SDA doank.
Gwe rasa ngga ada satupun pemerintah di dunia ini yg ga nyupport industri dalam negerinya, no matter ketinggalan barangnya. Liat aja G.W. Bush. Kenapa mobil dinas dia cuman Cadillac DeVille? Kenapa koq dia ga pake Lexus LS 430 or Mercedes Benz S600 yang jelas2 kalo di review majalah2 automotif menempati peringkat teratas? Terus misalnya dia ganti Air Force One yg sekarang, apakah dia nantinya bakal pake pesawat bikinan Airbus? Airbus sekarang udah penguasa pasar terbesar loch. Tapi pasti ga mungkin ada pesawat Airbus berlambang kepresidenan USA.
Polisi2 di US, kenapa mereka ga pake mobil2 Jepang yg lebih bagus and efisien bahan bakar? or mobil Jerman yg performance-nya udah ga diragukan ghitu? Or kenapa Angkatan Udara US pake repot2 mahal2 ngadain tender buat proyek JSF or raptor? Kenapa mereka ga simply beli aja dari Dassault or Sukhoi? Khan lebih murah. Kenapa juga AMTRAK masih pake kereta2 bikinan General Electric? kenapa koq mereka ga pake kayak kereta yg TGV or Shinkansen Jepang? Khan jauh lebih canggih tuch.
Katanya udah ga ada klien dan patron laghi.
__________________
"Sin ti mi camino, se desaparece.... Si ti las espinas, son las que florecen...
Sin ti, yo no vivo.... Sin ti, no se escribe la historia del amor"
Last edited by DWibowo1.; December 24, 2004 at 04:06.
|
|
|
December 24, 2004, 06:08
|
#13
|
|
Registered User
Join Date: May 2004
Posts: 8,764
WebPoint: 0 GaulPoint: 2208
|
Quote:
Originally posted by Nelson
mana ada negara yang mandiri dalam semua hal. amerika saja yang negara terkaya dan termaju di dunia tergantung dengan hutang luar negeri senilai 2 triliun dolar. barang2 retail hampir semuanya diimpor dari cina, india atau latin amerika. mobil2 jepang dan impor lainnya semakin banyak dan mengalahkan bikinan dalam negeri.
|
hutang US dibandingkan dg GDP nya berapa persen? (gw belon dapet data2nya dr inet, kayaknya sih di bawah 100 persen )
tapi hutang indo banding GDP kurang lebih 154 persen
US betul import barang2 dr luuar negrinya, tapi liat teknologinya siapa punya?, GM contohnya : pabriknya di jepang, US sendiri tetap nrima lisensi, ato bagi hasil, jadi industrinya bisa dibilang punya US juga, dan kalo tidak salah sebagian desain mobil jepang dan jerman masih di desain di amerika, dalam hal2 makanan MC'D dll.
Quote:
|
sejarah menunjukkan kalau negara2 yang mengadopsi polis mandiri atau import substitution policy akhirnya menjadi tidak effisien dan ketinggalan dalam hal teknologi maupun kualitas kehidupan. cina di abad 19, jepang sebelum reformasi meiji, india, korea utara, dll. sebaliknya sejarah menunjukkan kalau orientasi negara adalah menuju perdagangan bebas mereka hampir pasti akan memperluas target pasar dan kualitas kehidupan rakyatnya. inggris, belanda, amerika, singapura, hong kong, jepang dll
|
jepang setelah PD 2 bukannya dia mencoba mandiri sendiri, memproduksi barang2 sendiri di tahun 70 banyak sekali barang2 produksi jepang, sampai akhirnya jepang menjadi negara maju.
jepang, inggris, belanda, amerika negara yg punya teknologi :
jepang : elektronik, kendaraan, dll
inggris : pertanian, perternakan mereka maju
belanda : negara kecil aja, maju dibidang konstruksi, berikut peralatan mereka yg canggih
tidak mungkin suatu negara bisa maju kalo tidak ada teknologinya
Quote:
|
contoh konkret adalah kalau indonesia mengangkat larangan impor beras, harga akan turun karena dan lebih banyak orang miskin yang akan tertolong. nggak ada alasan kenapa indonesia harus membuat mic, senapan, helikopter, kereta api atau semua barang dengan sendiri. lebih bagus kalau indonesia berkonsentrasi membuat barang2 dimana mereka lebih kompetitif. zaman sekarang siapa patron dan siapa klien sudah tidak jelas lagi. negara2 maju justru mempunyai hutang terbanyak, mereka malah mengkorbankan industri manufakturing mereka ke negara2 lain. dalam era sekarang hubungan antar negara lebih menuju garis horinzontal
|
sekarang indo lebih pro mana industri ato pertanian, peternakan dll?, masa semua mau dikalahin sama perdagangan dari luar?
Cina masih melindungi industrinya
US juga masih melindungi industrinya (jatuhnya nilai dollar masih ada yg menilai 'kesengajaan' dari pihak US)
utk buat mic ato elektronik , kereta api lainnya knapa? teknologinya udah ada, cuma kesempatannya belon banyak, coba kalo pemerintah juga DPR/MPR kasih contoh yg baik memakai produk indo, knapa engga?
senjata? negara bekas eropa timur banyak yg mencoba mengembangkan ini.
betul indo sebaiknya bisa mengembangkan industri yg kompetitif, tapi apa? kalo tidak dicoba dulu ga bakalan bisa!.
caranya perbaikin dulu mental2 bobroknya.
untuk superpuma : sebagian besar metal2nya import hanya sebagian kecil yg separo jadi, pelat2 import jadi, coba teknologi yg ada dimanfaatkan (metalurgi), jadi pengecoran bisa di indo.
salahnya indo bukan pengolahan dasar bertingkat yg dikuasai tapi langsung teknologi tingkat tinggi.
|
|
|
December 24, 2004, 22:58
|
#14
|
|
Registered User
Join Date: Sep 2003
Posts: 1,077
WebPoint: 0 GaulPoint: 1390
|
Quote:
Originally posted by gimli
banyak yang bilang belum.
salah satunya Joseph Stiglitz dalam buku best sellernya Globalization and Its Discontents.
kalau orang indonesia Kwik Kian Gie
memang secara teoritis perdagangan internasional itu menguntungkan. tapi praktek saat ini belum seperti itu.
|
hmm sepertinya kalau dilihat malah contoh praktek banyak sekali. kalau dilihat dari sejarah, kebudayaan yang aktif berdagang dengan negara lain tampaknya makmur dan berjaya. dari kekaisaran romawi, britania, belanda sampai ke amerika, korea selatan, jepang, singapura, hong kong, malaysia dan akhirnya cina dan india dimana ratusan juta diangkat dari garis kemiskinan setelah mereka membuka ekonomi mereka
sebaliknya contoh dimana negara yang menutup ekonomi mereka dan ingin mandiri seperti cina di abad 19, jepang sebelum reformasi meiji, india sebelum reformasi 1980an, korea utara, kuba, uni soviet semuanya ketinggalan dan runtuh ekonominya.
|
|
|
December 24, 2004, 23:40
|
#15
|
|
Registered User
Join Date: Sep 2003
Posts: 1,077
WebPoint: 0 GaulPoint: 1390
|
Quote:
Originally posted by anak_chambers
Negara2 Amerika Latin membuka pasarnya ngga ada hasilnya tuch. Yang ada tuch mereka cuman dimanfaatin upah buruh murahnya. Hal ini udah pernah terjadi sama negara2 Asia tenggara. Sekarang upah negara Asia Tenggara udah naek, udah ada hak2 buruh, mereka cabut ke Cina. besok kalo upah di Cina naek, hak2 buruh diakui, gwe yakin 100% pasti mereka bakal cari tempat laen kayak Kamboja, Laos or even Africa. Itu tuch yg dibilang meningkatkan kualitas rakyatnya? Rakyat yang mana yg meningkat kemakmurannya? The top 2 %? or the bottom 70%?
|
latin amerika? coba lihat sejarah mereka dulu. tahun 1950 argentina, uruguay dan venezuela masih termasuk dalam 20 negara terkaya di dunia tapi kemudian tahun 1949 mereka mengadopsi strategi import substitution industrialization. hasilnya 15 tahun kemudian ekonomi mereka semakin ketinggalan dibandingkan dengan asia timur yang aktif berdagang. dan mereka pun terperangkap dalam krisis minyak tahun 1970an akibat ngotot mempertahankan industri tidak efisien mereka dan akhir terbawa krisis hutang sampai ke tahun 1980an.
tapi coba lihat meksiko setelah ikut serta dalam NAFTA di tahun 1994. ekonomi mereka tumbuh lebih stabil. coba lihat kenapa chili dan panama berhasil dan kenapa standar kehidupan di venezuela malah menurun. argentina dan brazil pun akhir2 ini tumbuh pesar berkat ekspansi ekspor ke cina.
asia tenggara juga tumbuh pesat berkat globalisasi dan strukturasi pekerja global. salah sekali kalau bilang investor2 asing hanya menggunakan upah buruh murah. kalau emang begitu bukannya malaysia, singapura dan thailand seharusnya sudah hancur sekarang? mereka malah mengupgrade aktivitas mereka ke produksi barang2 value added yang lebih tinggi. dalam 30 tahun singapura berubah dari basis manufakturing barang2 elektronik murah ke pusat riset biotechnology dan IT di asia. di cina pun sama saja. VW sudah ada disana sejak 20 tahun lalu tapi mereka malah tetap ekspansi produksi mereka walaupun gaji sudah naik. bedanya disini adalah buruh2 juga meningkatkan produktifitas mereka sehingga gaji yang lebih tinggi bisa diimpasi dengan hasil kerja yang lebih bagus dan cepat.
Quote:
|
kalo Indonesia "disarankan" untuk tidak membuat barang sendiri, lantas mau ghimana? Kalo nurutin saran supaya Indonesia selalu untuk stick on yang kompetitif (kompetitif dalam waktu sekarang ini) aja, well terus terang sech Indonesia sampe kiamat juga bakal cuman bisa bergantung pada export SDA doank.
|
intinya disini adalah indonesia tidak perlu memproduksi semua barang yang dia mau konsumsi. artinya nggak perlu sampai membuat pabrik mic, kereta api, mesin jahit, tv, pesawat, radio, mesin cuci, lampu dll. mereka harus konsentrasi untuk bisa unggul dalam beberapa sektor yang mengimpor barang2 yang negara lain bisa memproduksi dengan lebih effisien. bukan artinya indonesia harus membuat barang yang murah dan rendah tingkat teknologinya. tapi semuanya itu ada langkahnya. jepang sukses dalam industri mobil karena waktu itu yang membuat mobil cuma segelintir negara saja. kalau sekarang indonesia mau ikut2an membuat mobil apa bisa bersaing di pasar yang sudah oversupply? tapi dalam industri biotechnology dan IT indonesia masih bisa bersaing. india adalah contoh baik bagaimana mereka bisa mengeksploitasi industri yang baru.
Quote:
Gwe rasa ngga ada satupun pemerintah di dunia ini yg ga nyupport industri dalam negerinya, no matter ketinggalan barangnya. Liat aja G.W. Bush. Kenapa mobil dinas dia cuman Cadillac DeVille? Kenapa koq dia ga pake Lexus LS 430 or Mercedes Benz S600 yang jelas2 kalo di review majalah2 automotif menempati peringkat teratas? Terus misalnya dia ganti Air Force One yg sekarang, apakah dia nantinya bakal pake pesawat bikinan Airbus? Airbus sekarang udah penguasa pasar terbesar loch. Tapi pasti ga mungkin ada pesawat Airbus berlambang kepresidenan USA.
Polisi2 di US, kenapa mereka ga pake mobil2 Jepang yg lebih bagus and efisien bahan bakar? or mobil Jerman yg performance-nya udah ga diragukan ghitu? Or kenapa Angkatan Udara US pake repot2 mahal2 ngadain tender buat proyek JSF or raptor? Kenapa mereka ga simply beli aja dari Dassault or Sukhoi? Khan lebih murah. Kenapa juga AMTRAK masih pake kereta2 bikinan General Electric? kenapa koq mereka ga pake kayak kereta yg TGV or Shinkansen Jepang? Khan jauh lebih canggih tuch.
Katanya udah ga ada klien dan patron laghi.
|
tentu saja masih ada unsur2 proteksi dibeberapa industri yang seharusnya bisa dieleminasikan demi effisiensi. di amerika pun masih ada yang namanya pork-barrel. tapi sistim kapitalis selalu menunjukkan kalau dukungan untuk industri yang lemah pasti akhirnya akan merugikan baik pihak konsumen maupun produsen. misalnya bush ngotot tetap memakai cadillac sedangkan lexus lebih bagus. tentu cadillac tidak mempunyai insentif untuk mengimprove teknologi mereka karena yakin sudah mendapat kontrak dari permerintah. sedangkan lexus tetap mengimprove teknologi mereka. akhirnya orang awam lebih memilih lexus dan cadillac kehilangan pasar konsumen. makanya banyak perusahaan jepang yang didukung seperti itu gagal dan mengakibatkan ekonomi jepang macet.
tapi dari contoh2 diatas banyak yang masuk akal kok. air force one adalah pesawat terbesar yang kebetulan adalah boeing 747. airbus belum mempunyai pesawat yang lebih besar dari itu, paling tidak sebelum A380 diluncurkan. polisi2 memerlukan mobil yang mempunyai tenaga terbesar bukan mesin yang hemat bahan bakar. dan siapa lagi yang lebih hebat membuat mobil2 bertenaga besar? teknologi pesawat tempur amerika adalah yang terbaik dan anggaran militer amerika adalah yang terbesar, kenapa harus membeli pesawat yang murah dan inferior? GE lebih canggih dan maju, malahan mereka punya subsidiaries di eropa dan jepang.
|
|
|
Posting Rules
|
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts
HTML code is Off
|
|
|
All times are GMT. The time now is 01:00.
|
|