| Misteri & Supranatural Diskusi alam gaib dan fenomena supranatural |
October 30, 2006, 13:14
|
#151
|
|
777
Join Date: Jul 2003
Posts: 9,910
WebPoint: 0 GaulPoint: 346
|
In this painting found on a wood drawer from furniture kept at the Earls D'Oltremond, in Belgium, Moses is depicted receiving the tablets of the Ten Commandments, with "flaming horns." Several equally flaming objects are in the sky before him. The date and artist are unknown.
--------------------------------
The Babtism of Christ
A disk shaped object is shining beams of light down on John the Baptist and Jesus - Fitzwilliam Musuem, Cambridge, England - Painted in 1710 by Flemish artist Aert De Gelder. It depicts a classic, hovering, silvery, saucer shaped UFO shining beams of light down on John the Baptist and Jesus. What could have inspired the artist to combine these two subjects?
|
|
|
|
Recommendation
|
Sponsored Ads
|
|
|
|
November 01, 2006, 23:22
|
#152
|
|
Synchronized DNA
Join Date: May 2004
Location: Somewhere Over the Rainbow
Posts: 34,703
WebPoint: 1 GaulPoint: 40879
|
Quote:
Originally posted by red_conjurer
Indonesia is da best nek! Baik jaman baheula maupun jaman edan sekarang! 
Krizz: Elu di Canada sono ada tempat2 yang misterius ? Upload pic-nya di sini dong nek.
|
g ga tau tempat misterius itu kayak apa..
kayak peninggalan jaman2 kuno gitu yah?
kalo restoran berhantu disebut misterius juga ga?
__________________
Be careful of the words you speak,and keep them soft and sweet!
For you never know from day to day,which words you'll have to eat!
My Blog!
|
|
|
November 02, 2006, 12:06
|
#153
|
|
777
Join Date: Jul 2003
Posts: 9,910
WebPoint: 0 GaulPoint: 346
|
Quote:
Originally posted by k1w1
kalo restoran berhantu disebut misterius juga ga?
|
Yah gpp say... upload juga d gambarnya ke sini
|
|
|
November 02, 2006, 12:39
|
#154
|
|
777
Join Date: Jul 2003
Posts: 9,910
WebPoint: 0 GaulPoint: 346
|
Dengarkan Candi-candi Bicara...
Biarkan candi-candi itu bicara. Maka mereka tidak sekadar menjadi panji-panji yang membawa kita pada mitos dan mistisisme. Ada kebijaksanaan yang akan mereka bisikkan dari sana.
Candi-candi itu bertutur tentang tata ruang. Melihat sebagian candi di Jawa Tengah seperti Gedongsongo, Cetho, Sukuh, Ratu Boko, dan Dieng, jangan kaget kalau ada keteraturan dalam ruang di situ. Batu-batu itu tidak tersusun begitu saja di lokasi yang dipilih asal-asalan, tetapi merupakan hasil dari keteraturan yang tersebar. ”Kalau dari konsep arsitektur modern, ordering system itu membuktikan kalau ada religi dari pelakunya,” kata arsitek Andy Siswanto.
Sistem keteraturan yang dipegang teguh ini berhubungan dengan kepercayaan tentang pencapaian nirwana. Nilai-nilai religi tersebut dimanifestasikan dalam candi. Seakan hendak meniru perjalanan ritual manusia menuju kesempurnaan, candi adalah hasil imajinasi kreatif tentang nirwana. Dan memang, ketika kabut turun, undak-undakan candi itu pun seperti menjadi sebuah negeri di awan.
Hasil dari kebijaksanaan masa lalu ini hadir dalam karya-karya estetis yang terintegrasi dengan alam. Candi Gedongsongo, misalnya, terdiri dari lima kelompok candi yang dibangun mengikuti kontur lereng Gunung Ungaran dan menghasilkan jalur berbentuk tapal kuda pada ketinggian 1.300 meter. Masing-masing kelompok terdiri dari satu hingga tiga candi kecil yang konon dibangun pada abad ke-7 ketika wangsa Syailendra berkuasa.
Berjalan kaki dari kelompok candi yang satu, walau harus ngos-ngosan karena menanjak, hati tenang karena ditemani hutan pinus dan ladang penduduk. Di tengah perjalanan yang mendadak menurun, ada kawah—yang menurut kepercayaan penduduk setempat mengeluarkan napas Rahwana—serta sumber air. Setelah itu, jalan kembali menanjak menuju akhir perjalanan, yaitu kelompok candi kelima yang duduk di pangkuan Gunung Ungaran.
Semakin sepi
Rasanya, perjalanan dengan jalan setapak Candi Gedongsongo membawa kita semakin ke atas, semakin sepi, dan semakin sendiri. ”Ada rangkaian ritual perjalanan untuk menangkap fenomena jagat raya,” kata Niken Wirasanti, staf pengajar Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM).
Pola serupa terjadi di Candi Dieng. Kompleks candi yang terletak di basin—cekungan sisa kawah—ini merupakan kompleks bangunan Hindu tertua di Jawa Tengah. Percandian Dieng yang terdiri dari Candi Semar, Arjuna, Srikandi, Gatotkaca, Puntadewa, dan Bima ini tersebar di dalam cekungan pada ketinggian 2.100 meter. Kompleks candi yang terpencar-pencar ini dikelilingi perbukitan yang membuat kita merasa berdiri di dasar sebuah mangkok. Padang rumput yang luas diselingi ladang kentang dan perkebunan penduduk, berpusat pada Candi Arjuna yang terletak di tengah-tengah, dan menjadi pusat perjalanan spiritual yang dilingkari bukit.
Walau sekilas terlihat acak, ada pola yang berhubungan dengan kondisi tanah di basin Dieng ini. Konon, pihak pembangun—developer kalau mengikuti istilah saat ini—kala itu harus melakukan uji kelayakan tanah dulu sebelum membuat sebuah bangunan yang dirancang berusia ratusan tahun. Caranya dengan membuat sebuah lobang, lalu diisi dengan air. Selang beberapa saat, dilihat bagaimana rembesan airnya. Semakin sempit rembesannya, berarti semakin padat tanah tersebut.
”Candi Dieng dibangun dengan sebelumnya diteliti seperti itu. Bayangkan bagaimana orang pada waktu itu mencari lokasi yang sangat spesifik sesuai rangkaian ritual dan syarat-syaratnya,” kata Gutomo, staf Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah. Belakangan, baru ditemukan bahwa tanah tempat candi-candi itu berdiri, terutama di kompleks candi utama di tengah basin, yaitu Candi Arjuna, adalah golongan tanah breksi vulkanik yang sangat keras, berbeda dengan jenis tanah di sekitarnya.
Prinsip keteraturan memang menjadi dasar sejak titik awal, yaitu pemilihan lokasi. Ketinggian dan ketersediaan air menjadi salah satu syarat utama pembangunan candi-candi penyembahan. Keberadaan candi-candi itu di tempat yang tinggi, didasarkan pada kepercayaan pra-Hindu yang menganggap roh-roh leluhur tinggal di gunung.
Sementara kedekatan dengan sumber air juga merupakan keharusan karena air adalah salah satu elemen terpenting dari sebuah upacara. Bahwa kebanyakan candi menghadap ke timur dan barat juga berkaitan dengan perjalanan hidup yang dimulai dari kelahiran dan kematian. ”Candi itu sangat struktural, lihat saja sumbu-sumbunya yang berhubungan dengan kosmik,” kata Andy.
Pemilihan tempat juga mempertimbangkan gejala alam, seperti suhu, nuansa pagi dan malam, kabut dan kawah gunung berapi yang membawa manusia ke sebuah penjelmaan dari nirwana itu sendiri. Sebut saja misalnya Candi Sukuh (970 meter) dan Candi Cetho (1.400 meter), keduanya di lereng Gunung Lawu, Kabupaten Karanganyar. Jalan menanjak dan berkelok-kelok harus ditempuh sebelum tiba di kedua candi ini. Efek matahari terbit dan tenggelam pada candi yang terbentang searah timur-barat ini, ditambah dengan latar tubuh gunung yang menjulang di belakangnya, menciptakan suasana yang magis dan misterius.
Undakan-undakan yang merupakan bangunan utama candi membawa peziarah naik ke ”atas”. ”Itulah lambang langit sebagai dunia atas yang dihuni zat spiritual yang dipahami sebagai tujuan hidup manusia,” kata Niken.
Selain tata ruangnya, masing-masing ornamen pada tiap candi dengan terperinci merujuk pada makna tertentu. Setiap simbol, sekecil apa pun, adalah bagian dari sebuah narasi besar yang dirancang sejak awal untuk menjadi ”jiwa” candi tersebut. Candi Sukuh dan Candi Cetho, misalnya, banyak memiliki beragam hiasan yang menggambarkan kesuburan manusia. Hadirnya lingga dan yoni, rahim, hingga alat kelamin dibuat sebagai ornamen yang merujuk pada proses hidup manusia.
Kecanggihan lainnya, struktur candi juga mengakomodasi kondisi alam Indonesia yang beriklim tropis dan banyak gempa. Struktur batuan candi yang disusun tanpa perekat menggunakan hukum gravitasi, yaitu menggunakan sistem batu pengunci. Salah satu keunggulannya, karena sambungannya tidak solid, bangunan ini elastis dan relatif tahan gempa. Gutomo dari BP3 juga bercerita, telah diteliti bahwa pencahayaan yang sengaja minim dan sirkulasi udara dari empat penjuru lubang di atap menjadikan candi sebagai tempat semadi.
Pola alam
Apa yang terlihat acak dalam konsep ruang candi sebenarnya membentuk pola keteraturan yang mengikuti pola alam. Ruang sekitar menjadi unsur figuratif dari sebuah bangunan. Ini yang dalam perspektif arsitektur modern disebut dengan environmental design, yang dengan rasional mempertimbangkan aspek lingkungan.
Setidaknya ini bisa menjadi cermin tata ruang perkotaan, yang tentunya tidak bisa langsung diperbandingkan karena memiliki religi yang berbeda. Ketika nirwana digantikan oleh kebutuhan ekonomi sebuah rancangan, menjadi pertanyaan besar apakah rencana ruang kota dapat menjawab kebutuhan yang baru tersebut.
”Banyak unsur utama arsitektur modern kota besar seperti estetika dan efisiensi yang tidak mampu terpenuhi,” kata Andy merujuk pada contoh kasus kawasan Sudirman-Thamrin. Ruang sekadar menjadi sisa yang tidak terdefinisi dari beton-beton yang dihunjamkan sebagai gedung. Inilah wajah ”candi-candi modern” paling gampangnya bisa dilihat di ”pusat peradaban mutakhir Indonesia”, yaitu sepanjang Jalan Sudirman-Thamrin.
Arsitek Marco Kusumawijaya bercerita tentang proyek ”Membayangkan Jakarta”, yang menemukan bahwa daerah Sudirman-Thamrin itu tidak memiliki fungsi hunian yang menimbulkan kehidupan. Yang ada hanya kantor dan kantor lagi. Sementara sebuah contoh kasus menyebutkan, dari 91 orang yang bekerja di sebuah gedung di Jalan Sudirman, hanya satu orang yang tinggal di sana. Yang lain, ya selamat terjebak kemacetan.
Ketika masyarakat modern mengalami kegagapan dalam mendefinisikan kebutuhan lewat kecanggihan ilmu pengetahuan modern, dengarlah sebentar, ada bisikan dari masa lalu...
Author: Edna C Pattisina & Dahono Fitrianto
|
|
|
November 03, 2006, 13:29
|
#155
|
|
777
Join Date: Jul 2003
Posts: 9,910
WebPoint: 0 GaulPoint: 346
|
The Ica Stones
Diterjemahkan secara serampangan dari sebuah buku tanpa mengikuti kaidah EYD (English yang disempurnakan)
Di sebelah utara Pampa Colorada, Peru terdapat Desa Ica, sebuah desa petani yang menjadi rumah seorang fisikawan Peru bernama Dr. Javier Cabrera. Pada 1966, tepat pada hari ulang tahunnya, seorang petani datang menemui Dr. Cabrera dan menyerahkan sebuah hadiah. Sebuah hadiah yang akan mengubah jalan hidup Dr. Cabrera selamanya.
Hadiah sederhana itu adalah batu kecil. Tampak tidak istimewa. Namun ada sebuah pahatan gambar menarik di batu itu. Gambar sebuah spesimen ikan yang tampak asing. Iseng-iseng Dr. Cabrera meneliti gambar spesimen itu dan betapa terkejutnya ia mendapati bhw spesimen ikan tsb adalah ikan purba yang telah punah ribuan rahun yg lampau.
Segera ia menanyakan pada petani sahabatnya dimana ybs menemukan batu kecil ini. Si petani menyebutkan lokasi sebuah gua dimana ia menemukannya. Dr. Cabrera lalu menjanjikan akan membeli batu-batu yang bergambar darinya jika si petani dapat menemukannya lagi. Pada akhirnya ia mendapatkan 15.000 lebih keping bebatuan yang menjadi koleksi pribadi Dr. Cabrera.
Kabar tentang bebatuan bergambar yang ditemukan oleh petani ini lalu menyebar luas dan didengar oleh BBC yang lalu mendokumentasikan penemuan batu-batu tsb. Berita yang dilansir BBC membuat pemerintah Peru penasaran dan mengadakan penyelidikan resmi. Mereka menginterogasi si petani tentang asal usul batu-batu itu. Pemerintah Peru mengancam, si petani akan masuk penjara jika berani menjual harta karun berharga negara tsb pada siapa saja (Peru mempunyai UU barang antik yang sangat ketat). Si Petani lalu mengubah ceritanya. Di versi cerita tsb ia mengatakan bhw ia mengambil batu-batu kali dan memahatnya dengan gambar-gambar menarik lalu dijual ke turis. Pemerintah tampak puas dengan penjelasan ini. Pemerintah lalu mengumumkan bhw batu-batu tsb tidak mempunyai nilai sejarah sama sekali kecuali hanya sekedar souvenir yang dijual pada para turis. Kecaman yang bertubi-tubi ditujukan pada BBC karena menyebarluaskan berita penemuan batu-batu yang tidak bermutu.
Batu kecil yang dimaksudkan sebagai hadiah itu lalu berubah menjadi penelitian seumur hidup bagi sang fisikawan. Dr. Cabrera mengerti bhw petani sahabatnya harus mengubah cerita agar tetap selamat. Apa yang membuat ia amat tertarik dengan bebatuan tsb adalah pahatan yang menggambarkan banyak hal-hal yang amat menakjubkan, yang tidak mungkin dipahat oleh seorang petani yang bahkan tidak menamatkan pendidikan dasarnya.
Maka selama 30 tahun terakhir dalam hidupnya Dr Cabrera mendedikasikan semua sumber dayanya untuk melakukan penelitian mengenai batu-batu tsb. Ia berusaha keras agar komunitas ilmuwan mau ikut berpartisipasi dalam penelitian ini. Usaha yang tidak mudah memang, karena stigma negatif telah tertanam dalam benak komunitas ilmuwan mengenai “bebatuan palsu” yang dipahat seorang petani Peru.
Tidak menyerah pada penolakan kaum ilmuwan, Dr Cabrera lalu membuka sebuah museum sehingga khalayak ramai dapat melihat-lihat batu-batu Ica ini. Minatnya yang begitu besar pada bebatuan Ica menghantarkan Dr. Cabrera menjadi seorang arkeologis dan geologis amatir selain minatnya yang besar pada dunia Fisika.
Dr. Cabrera mengkategorikan koleksinya berdasarkan subyek pahatan. Ada kategori manusia, hewan-hewan kuno, dan benua-benua yang hilang serta pelbagai macam bencana global.
Ada pahatan yang menggambarkan aliran darah dan arteri pembedahan jantung, transplantasi jantung bahkan transplantasi otak, pembedahan caesar dengan metode akupuntur sebagai anestesi, artificial life support system, dll
Ada pula batu yang menggambarkan peta Bumi dilihat dari udara dengan susunan benua yang sama sekali berbeda dengan yang kita kenal sekarang. Ketika gambar peta ini di perbandingkan melalui simulasi komputer maka para ilmuwan mendapatkan bhw susunan benua tsb sangat akurat dengan susunan benua kira-kira 13 juta tahun yang lampau di planet Bumi. (Peta kuno tsb juga menggambarkan benua Atlantis dan Lemuria).
Ada pula penggambaran manusia sedang mengobservasi planet-planet, komet dan susunan bintang-bintang. Beberapa lainnya menggambarkan manusia dan hewan spt dinosaurus hidup bersama, bahkan mengendarai si dino, di darat dan di udara! Gambar-gambar di bebatuan Ica sangat akurat, contoh gambar dinosaurus yang dipahat di batu, diketahui pernah hidup di Bumi, juga konfigurasi planet dan bintag-bintang semuanya tepat berada di orbit mereka.
Siapa yang membuat gambar2 di batu2 tsb? Good Question! Setelah meneliti selama 30 tahun, Dr. Cabrera punya teorinya sendiri mengenai Ica Stones. Teorinya begini:
Pada jaman baheulaaaaaaaaaaaaaaaaa pisan planet Bumi dihuni oleh sebuah peradaban yang amat advance yang kemungkinan besar datang dari Pleiades Star System. Mereka mendarat di Bumi dan mengkoloni planet ini. Bukannya beradaptasi dengan kondisi di Bumi, mereka berusaha mengendalikan alam di planet agar sesuai dengan kondisi mereka. Peradaban ini mencoba memanipulasi alam dengan kecanggihan teknologinya, namun usaha tsb gatot alias gagal total (viva mother nature!) Manipulasi alam dengan kecanggihan teknologi mereka malah mengakibatkan topan besar, banjir bandang, dan gempa bumi (banjir lumpur panas engga ada kali ye….  ). Setelah sekian lama mencoba mengendalikan alam, akhirnya mereka nyerah dan bersiap-siap meninggalkan bumi kembali ke ibu pertiwi mereka di Pleiades. Mudiknya para alien ini digambarkan dalam salah satu pahatan bergambar.
Komentar Brewok: Nice Theory Doctor!
Dr. Cabrera juga percaya bhw Pampa Colorada adalah spaceport peradaban kuno tsb. Ia menduga para alien pleiades menggunakan semacam energi elektromagnetik untuk menerbangkan pesawatnya. (salah satu bebatuan koleksi si doktor menggambarkan hal ini) Fakta juga membuktikan bhw Pampa Colorada mengandung deposit bijih besi dalam jumlah berlimpah yang dapat menambah kekuatan medan energi elektromagnetik.
Orang-orang yang mengenal Dr. Cabrera menceritakan bhw ia adalah sosok yang sangat ramah dan jujur. Ia juga amat berdedikasi terhadap penelitian Ica Stones. Rumor mengatakan bhw Dr. Cabrera mempunyai secret chamber di Museumnya. Ruang rahasia ini untuk menyimpan beberapa batu Ica yang sangat special. Disebut special karena –konon- batu-batu yang satu ini mempunyai “pesan bagi kemanusiaan”. Pesan2 ini dirahasiakan oleh pihak Museum Ica Stones sampai waktu yang tepat bagi umat manusia untuk mendengar pesan-pesan ini.

Dr Cabrera di Museumnya
Karana teori-teorinya yang kontorversial dan karena antusiasmenya yang besar pada Ica Stones, Dr Cabrera di-asingkan dari komunitas Ilmuwan. Namun sampai akhir hayatnya ia tetap bersemangat melakukan penelitian pada Ica Stones. Dr. Cabrera meninggal dunia karena kanker pada Desember 2001. God Bless Him!
Beliau selalu mengatakan begini pada orang-orang yang meragukan keaslian batu-batu Ica: “Jika kalian pikir petani kawanku itu yang menggambar semua bebatuan Ica yang ia temukan maka ia haruslah seorang yang amat mendalami tentang susunan planet dan bintang, ia haruslah mempunyai pengetahuan advance medis, geologi. Geografi, paleoantropologi, paleoclimatologi, paleomagnetism, archaeoastronomy, archeology, dll.
Sceptics can’t explain how the farmer could carve more than 15.000 stones (other than to say that he’d had help), nor can they justify why an ignorant laborer would go to the trouble of doing all this just to sell rocks to tourist. Cynics also can’t account for those maps of ancient origin, which show how Earth looked in earlier days as confirmed by geologist using computer simulation. In other words, the Ica Stones still remain a mystery that no one can explain with any sort of incontrovertible proof – which, of course, is why they’re still a mystery.
|
|
|
November 05, 2006, 13:30
|
#156
|
|
777
Join Date: Jul 2003
Posts: 9,910
WebPoint: 0 GaulPoint: 346
|
Beberapa gambar Ica Stones
|
|
|
November 05, 2006, 13:35
|
#157
|
|
777
Join Date: Jul 2003
Posts: 9,910
WebPoint: 0 GaulPoint: 346
|
Beberapa gambar Ica Stones... lanjut

This etching on one of the stones seems to show a man riding a pterodactyl.

If dinosaurs were long extinct before man arrived, how did ancient man carve this?

This etching appears to show an ancient astonomer with a "telescope."
|
|
|
November 06, 2006, 21:41
|
#158
|
|
Registered User
Join Date: Aug 2006
Posts: 791
WebPoint: 0 GaulPoint: 793
|

sorry oom..
penerjemahannya masih tertunda..
sibuk euy
|
|
|
November 09, 2006, 05:16
|
#159
|
|
777
Join Date: Jul 2003
Posts: 9,910
WebPoint: 0 GaulPoint: 346
|
The 10 Most Puzzling Ancient Artifacts
Beberapa artifacts gambarnya sudah pernah aku upload di thread ini. Daripada di upload lagi, sebaiknya ente browse aza lagi di sini.
Here we go:
The Grooved Spheres gambar dan informasi sudah ada
The Dropa Stone Discs gambar dan informasi sudah ada
The Ica Stones gambar dan informasi sudah ada
The Antikythera Mechanism gambar dan informasi sudah ada
The Baghdad Battery gambar dan informasi sudah ada
Ancient Model Aircraft gambar dan informasi sudah ada
The Coso Artifact
While mineral hunting in the mountains of California near Olancha during the winter of 1961, Wallace Lane, Virginia Maxey and Mike Mikesell found a rock, among many others, that they thought was a geode - a good addition for their gem shop. Upon cutting it open, however, Mikesell found an object inside that seemed to be made of white porcelain. In the center was a shaft of shiny metal. Experts estimated that, if this was a geode, it should have taken about 500,000 years for this fossil-encrusted nodule to form, yet the object inside was obviously of sophisticated human manufacture. Further investigation revealed that the porcelain was surround by a hexagonal casing, and an x-ray revealed a tiny spring at one end, like a spark plug. There's a bit of controversy around this artifact, as you can imagine. Some contend that the artifact was not inside a geode at all, but encased in hardened clay. The artifact itself has been identified by experts as a 1920s-era Champion spark plug. Unfortunately, the Coso Artifact has gone missing and cannot be thoroughly examined. Is there a natural explanation for it? Or was it found, as the discoverer claimed, inside a geode? If so, how could a 1920s sparkplug get inside a 500,000-year-old rock?
----------------
Impossible Fossils
Fossils, as we learned in grade school, appear in rocks that were formed many thousands of years ago. Yet there are a number of fossils that just don't make geological or historical sense. A fossil of a human handprint, for example, was found in limestone estimated to be 110 million years old. What appears to be a fossilized human finger found in the Canadian Arctic also dates back 100 to 110 million years ago. And what appears to be the fossil of a human footprint, possibly wearing a sandal, was found near Delta, Utah in a shale deposit estimated to be 300 million to 600 million years old.
----------------------
Out-of-Place Metal Objects
Humans were not even around 65 million years ago, never mind people who could work metal. So then how does science explain semi-ovoid metallic tubes dug out of 65-million-year-old Cretaceous chalk in France? In 1885, a block of coal was broken open to find a metal cube obviously worked by intelligent hands. In 1912, employees at an electric plant broke apart a large chunk of coal out of which fell an iron pot! A nail was found embedded in a sandstone block from the Mesozoic Era
-------------
|
|
|
November 09, 2006, 07:40
|
#160
|
|
Registered User
Join Date: Nov 2006
Posts: 3
WebPoint: 0 GaulPoint: 3
|
puNteNNNNnnn.....x;;-z
|
|
|
November 10, 2006, 02:36
|
#161
|
|
777
Join Date: Jul 2003
Posts: 9,910
WebPoint: 0 GaulPoint: 346
|
Mangga
|
|
|
November 12, 2006, 10:44
|
#162
|
|
777
Join Date: Jul 2003
Posts: 9,910
WebPoint: 0 GaulPoint: 346
|
"La Tebaide"
Painted by Paolo Uccello - circa 1460-1465.
dan ini close-upnya
The close up picture shows a red saucer shaped UFO seen near Jesus. The painting hangs in the Academy of Florence.
|
|
|
November 12, 2006, 10:49
|
#163
|
|
777
Join Date: Jul 2003
Posts: 9,910
WebPoint: 0 GaulPoint: 346
|
Frescos throughout Europe which reveal the appearance of space ships in the skies including this painting of 'The Crucifixion' - painted in 1350.
This paintng hangs above the altar at the Visoki Decani Monestary in Kosovo, Yugoslavia.
dan sekarang perhatikan baik2 close-up picturesnya.
It seems to depict a small human looking man looking over his shoulder - at another UFO as if in pursuit - as he flies across the sky in what is clearly a space ship. The leading craft is decorated with two twinkling stars, one reminiscent of national insignia on modern aircraft
|
|
|
November 12, 2006, 10:52
|
#164
|
|
777
Join Date: Jul 2003
Posts: 9,910
WebPoint: 0 GaulPoint: 346
|
17th century fresco of the crucifiction - Svetishoveli Cathedral in Mtskheta, Georgia.

Note the two saucer shaped craft on either side of Christ.
-----------------------
"Glorification of the Eucharist" was painted by Bonaventura Salimbeni in 1600.
Today it hangs in the church of San Lorenzo in San Pietro, Montalcino, Italy. Does the 'Sputnik satellite-like device' represent the Earth?
|
|
|
November 17, 2006, 13:33
|
#165
|
|
777
Join Date: Jul 2003
Posts: 9,910
WebPoint: 0 GaulPoint: 346
|
Shroud of Turin - kain kafan dari Turin yang dipercayai banyak umat Katolik sebagai kain kafan yang digunakan untuk mengubur Jesus Christ.
The Shroud of Turin (or Turin Shroud) is an ancient linen cloth bearing the image of a man who appears to have been physically traumatized in a manner consistent with crucifixion. It is presently kept in the royal chapel of the Cathedral of Saint John the Baptist in Turin, Italy. Some believe it is the cloth that covered Jesus of Nazareth when he was placed in his tomb and that his image was somehow recorded as a photographic negative on its fibers, at or near the time of his proclaimed resurrection. Skeptics contend the shroud is a medieval hoax or forgery — or even a devotional work of artistic verisimilitude. It is the subject of intense debate among some scientists, believers, historians and writers, regarding where, when and how the shroud and its images were created.
Arguments and evidence cited against a miraculous origin of the shroud images include a letter from a medieval bishop to the Avignon pope claiming personal knowledge that the image was cleverly painted to gain money from pilgrims; radiocarbon tests in 1988 that yielded a medieval timeframe for the cloth's fabrication; and analysis of the image by microscopist Walter McCrone, who concluded ordinary pigments were used.
Arguments and evidence cited for the shroud's being something other than a medieval forgery include textile and material analysis pointing to a 1st-century origin; the unusual properties of the image itself which some claim could not have been produced by any image forming technique known before the 19th century; objective indications that the 1988 radiocarbon dating was invalid due to improper testing technique; a 2005 study proving that the sample used in the 1988 radiocarbon dating came from a medieval patch and not the original Shroud; and repeated peer-reviewed analyses of the image mode which contradict McCrone's assertions. Also, pollen from many places the shroud was said to have gone through are found, such as pollen from plants that exist only in certain areas near Jerusalem.
Both skeptics and proponents tend to have entrenched positions on the cause of formation of the shroud image, which has made dialogue very difficult. This may prevent the issue from ever being fully settled to the satisfaction of all sides.
|
|
|
Posting Rules
|
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts
HTML code is Off
|
|
|
All times are GMT. The time now is 04:57.
|
|