| Film Mania Info2 dan ngobrol tentang Film, Opera, Teater baik lokal maupun mancanegara |
October 21, 2003, 05:23
|
#256
|
|
Registered User
Join Date: Dec 2002
Location: nowhere to be found
Posts: 1,691
WebPoint: 0 GaulPoint: 249
|
DOGVILLE
DOGVILLE yang dituturkan dalam struktur episodik yang dibagi dalam prologue dan 9 chapter dan berdurasi 3 jam, dibuat dengan menggunakan seminimal mungkin elemen-elemen filmmaking, bercerita tentang seorang wanita misterius bernama Grace yang terdampar di kota kecil Dogville di pegunungan Rocky Mountains Amerika. Ia dibantu bersembunyi di Dogville oleh seorang pemuda baik hati dan terpelajar Thomas Edison (Tom) dari kejaran gangster yang mencarinya, yang semula Tom mendengar ada bunyi tembakan dari kejauhan. Terpesona oleh Grace, Tom membujuk Grace untuk tinggal di Dogville dan akan membantunya unttk bisa diterima oleh populasi kecil Dogville. Sedikit sedikit penduduk mulai bisa menerima Grace dan mengakuinya menjadi bagian dari Dogville. Tapi ketika polisi berulang kali mendatangi Dogville dan menyebarkan daftar buronan dengan nama Grace Margaret Mulligan, penduduk mulai resah dan akan tiba waktunya dimana semua kedok dan selubung terkuak membuka sifat asli dari penduduk Dogville dan sifat dasar dari manusia itu sendiri.
Bloody F*cking Wow! Ini adalah film yang memberikan gambaran lengkap seutuhnya, tidak setengah-setengah, mengenai berbagai sisi dan sudut pandang moral dan nilai dari sifat manusia. Bukan hanya eksploitasi terhadap yang lemah oleh mereka yang memiliki kekuasaan dan kekuatan, tapi juga bagaimana orang yang sebelumnya dianggap lemah bisa mengumpulkan kekuatan untuk diri mereka sendiri sehingga bisa melakukan apa yang ingin mereka lakukan, bila sudah tidak ada lagi yang perlu disembunyikan dan kesempatan terbuka lebar. Salah satu hal yang bikin beda dengan film Von Trier sebelumnya ada pada diri karakter utamanya (yang selalu wanita) Grace, yang bukanlah seorang wanita yang tidak berdaya, tapi punya kekuatan tersendiri dan memberikan keseimbangan yang setimpal dengan karakter-karakter lainnya yang lebih kuat darinya. Sehingga sisi gelap dari perikemanusiaan terungkap pada dua sisi manusia, si penindas dan yang tertindas, yang kuat dan yang lemah, tidak berat sebelah pada salah satu sisinya saja. Tema DOGVILLE adalah universal, bisa berlaku untuk siapa saja dan dimana saja. Tapi saya totally agree kalau Von Trier memang bermaksud untuk mengatakan “F*ck you, America!” dengan film ini (Lagu Young Americans-nya David Bowie terngiang-ngiang di benak saya dengan foto dari era depresi Amerika mengiringi end credits DOGVILLE).
Lars Von Trier sangat handal dalam menangani seorang aktris. Inilah kali pertama saya bisa benar-benar sepenuhnya mengapresiasi akting seorang Nicole Kidman dalam suatu film. Saya katakan bahwa ini adalah peran terbaik yang pernah dilakoni Nicole Kidman sampai saat ini. Apa sebenarnya yang istimewa dari Lars Van Trier dalam memperlakukan seorang big movie star, seperti halnya yang dilakukan Spike Jonze terhadap Meryl Streep di ADAPTATION, atau Paul Thomas Anderson terhadap Tom Cruise dan Adam Sandler di MAGNOLIA dan PUNCH-DRUNK LOVE, dibandingkan dengan misalnya, Stephen Daldry memperlakukan Nicole Kidman, Meryl Streep dan Ed Harris di film THE HOURS? Von Trier menganggap Nicole Kidman sebagai aktor yang harus digali potensi aktingnya sampai ke dalam jiwanya sehingga bisa menunjukkan talenta terbaiknya tanpa tudung movie star yang menyelimutinya, bukannya memperlakukannya sebagai seorang movie star yang selalu menuruti egonya serta mengedepankan status kebintangannya dalam rangka menyemarakkan “@ss kissing society”, sehingga membiarkan sang aktris/aktor tsb melakukan “chewing the scenery”, mengunyah setiap adegan biar dianggap melakukan akting yang menawan, seperti yang terjadi di film THE HOURS. Tidak hanya Kidman, supporting cast DOGVILLE juga menampilkan performa yang sangat baik. Bahkan untuk Paul Bettany, perannya di film ini bisa menghapus kesan saya yang kurang bagus terhadap dia di film A BEAUTIFUL MIND.
Betapa pun semua aktornya tampil gemilang, tetap DOGVILLE adalah pertunjukkannya Lars Von Trier. Dialah God di film ini. Nyalinya yang gede untuk menantang supremasi dengan film yang tidak tanggung-tanggung terjun ke dalam jurang kebobrokan manusia tanpa ampun dan belas kasihan patut diacungi jempol. Disinilah dimana ide begitu dominan dan powerful sehingga style pun menjadi tidak penting. Kenyataan bahwa style Lars Von Trier adalah begitu khas dan avant garde, semakin menunjukkan kehebatannya sebagai filmmaker. “Shoot the dog!”
Film Rating (out of ****):
****
Outstanding
|
|
|
|
Recommendation
|
Sponsored Ads
|
|
|
|
October 25, 2003, 07:06
|
#257
|
|
Registered User
Join Date: Dec 2002
Location: nowhere to be found
Posts: 1,691
WebPoint: 0 GaulPoint: 249
|
The Game Ripley Plays
RIPLEY’S GAME adalah film noir tentang studi karakter yang meyakinkan. Karakter yang seelegan dan sepintar Tom Ripley, karismatik, dan cool dalam berbagai situasi apa pun. Motivasi karakter-karakter yang lainnya juga bisa dipercaya dalam melakukan tindakan mereka. John Malkovich adalah Tom Ripley. Tidak seperti THE TALENTED MR. RIPLEY, yang saya ngga bisa menerima karakter Tom Ripley diperankan Matt Damon, ngga cocok dan ngga bisa menghidupi karakternya. Bukannya Matt Damon aktor yang jelek, tapi dia ngga pantes aja meranin Tom Ripley. Lain dengan John Malkovich, pas dan kapasitas aktingnya bisa mengisi penuh karakter Tom Ripley dengan sangat baik yang di film ini digambarkan sebagai orang yang lebih matang, bijaksana dan kaya raya. Older, wiser and more talented. Demikian tag line film ini.
Yang juga patut mendapat perhatian adalah Dougray Scott, pemeran Jonathan Trevinny, seorang awam yang punya penyakit kronis terjebak dalam permainan Ripley dan Peter Reeves (Ray Winstone), seorang master manipulator seperti halnya Ripley, tapi tidak berada dalam level yang sama dengan Ripley, membuat Jonathan terombang-ambing karena kerapuhan sifat dan fisiknya. Dan ketika dia ditawari pekerjaan yang terlalu menggiurkan untuk ditolak, dia terbawa arus permainan Reeves yang mengeksploitasinya.Dougray Scott benar-benar menampilkan akting terbaiknya disini.
RIPLEY’S GAME adalah film yang lebih baik daripada THE TALENTED MR.RIPLEY. Dari cerita, Karakter-karakternya, dan juga aktingnya lebih real. Dibuat dengan style yang agak berbeda dari filmnya Anthony Minghella. Nuansanya lebih tenang dan suram.Yang sangat disayangkan adalah karena nama-nama cast dan crew-nya terasa asing bagi kebanyakan pemirsa, RIPLEY’S GAME sedikit sekali mendapat ekspos dan distribusi yang layak. Hanya karena tidak ada nama pemenang Oscar di filmnya tidak lantas kita acuhkan begitu saja. Too bad.
Saya memang tidak familiar dengan sutradara Liliana Cavani, bahkan mungkin baru denger. Biar pun begitu saya cukup terkesan dengan filmnya ini. Meskipun filmnya “kecil”, tapi saya bisa menikmatinya lebih daripada THE TALENTED MR. RIPLEY yang penuh keglamoran.
Film Rating (out of ****):
***
Good
|
|
|
October 25, 2003, 07:09
|
#258
|
|
Registered User
Join Date: Dec 2002
Location: nowhere to be found
Posts: 1,691
WebPoint: 0 GaulPoint: 249
|
Between Hell and Purgatory: HEAVEN 2nd viewing
“ It’s as if nothing ever happened.”
Sekarang saya bisa lebih memahami kenapa 3rd act HEAVEN kesannya ngga nyambung dengan 1st act-nya. Sebenarnya bukannya ngga nyambung atau ngga berhubungan, tapi seperti kata Philippa (Cate Blanchett) di pertengahan film, “it’s as if nothing ever happened.” Dalam keadaan tertentu, kita yang merasa bersalah tentang sesuatu hal, akan dihantui oleh rasa bersalah itu, dan mencoba bagaimana caranya untuk membayarnya. Tapi bila keadaan itu berubah, dan kita dihadapi dengan kenyataan bahwa kita bisa meninggalkan itu semua dan memulai sesuatu dari awal lagi, bukankah itu tandanya kita “dimaafkan” atau bisa saja kita sudah pindah ke “dunia lain”, dunia dimana hal-hal yang membebani kita sudah tidak menjadi beban lagi. Dan bisa saja tempat itu adalah “heaven”.
Hal ini menunjukkan bagaimana bahwa secara ideologi HEAVEN punya pertautan dengan SOLARIS yang menelaah tema yang serupa. Apa yang menimpa Philippa Pacard di HEAVEN in some way juga dialami oleh Chris Kelvin (George Clooney) di SOLARIS. Meskipun apa yang mereka lakukan berbeda, tapi konsekuensi logis yang seharusnya mereka terima dari tindakan mereka tidak dieksplorasi lebih jauh selanjutnya. Dan planet SOLARIS di film SOLARIS sendiri bisa merupakan manifestasi dari heaven atau surga itu sendiri. Karena saya membandingkannya dengan SOLARIS, tapi jangan lantas dikira bahwa alur HEAVEN sama “lelet”nya dengan film itu. HEAVEN, meskipun alurnya tidak bergerak dengan cepat, karena sifatnya yang lebih contemplative daripada talkative, tapi tetap ada sense of control dan tetap membuatnya moving along tanpa terburu-buru. Setelah 2nd act filmnya, tidak terasa bahwa filmnya sudah mendekati conclusion-nya.
Saya belum sempet ngomongin Cate Blanchett. She can do no wrong dan Cate’s one of the greatest actresses working today. In my book, aktingnya Cate terbaik kedua hanya dibelakang Julianne Moore di FAR FROM HEAVEN untuk tahun 2002. Untuk menyaksikan kehebatan akting Cate tidak usah menunggu lama-lama, langsung dari awal film dimana karakter Cate, Philippa, seorang guru bahasa Inggris, pertama kali muncul sedang menyusun rangkaian bom sampai perjalanan menuju lokasi untuk diledakkan. Dengan minimal dialog, kita bisa perhatikan raut dan ekspresi wajahnya menunjukkan kekuatan dan ketakutan yang meyakinkan secara bersamaan. Bahwa dia akan melakukan suatu tindakan yang mungkin akan menjadi akhir dari hidupnya. Membuat saya bertanya-tanya kenapa cewe secakep ini mau melakukan hal spt itu. Sebelum akhirnya terjawab tidak lama kemudian saat Philippa menelpon polisi untuk mengakui perbuatannya yg akan mengebom seorang pengedar narkoba di kantornya. Philippa berusaha untuk hanya si pengedar narkoba saja yg menjadi korbannya, tapi apa daya, ternyata yg menjadi korban adalah 4 orang tak berdosa, bukannya si pengedar narkoba. Selanjutnya tidak kalah memukaunya akting Cate saat Philippa menyadari yang menjadi korbannya adalah 4 orang tak berdosa, shock dan rasa bersalah menyelimutinya sampai membuatnya collapse. From start to finish Cate is truly spellbinding.
Yang menemani Cate Blanchett hampir sepanjang film adalah Giovanni Ribisi, lawan mainnya di THE GIFT. Disini Ribisi memerankan seorang polisi muda Filippo yang saat ditangkapnya Philippa dan diinterogasi polisi, menjadi penterjemah dan jatuh cinta pada Philippa. Penampilan Ribisi tidak kalah baiknya, memperlihatkan kenaifan Filippo yang simpatik dan punya hasrat kuat untuk mengikuti kata hatinya. Ada semacam chemistry yang tidak lazim tapi romantic terjadi pada pasangan ini, ditunjang juga dengan keanggunan Tom Tykwer men-shot kedua orang ini bila ada dalam satu frame.
Berbicara mengenai HEAVEN, tidak bisa lepas dari visualnya yang sangat indah yang juga bisa kita nikmati tidak kalah baiknya di DVD (syukurlah masih banyak DVD disini yang merhatiin quality  ). Lansekap Italia dari perkotaan sampai suasana hamparan luas pedesaan ditangkap dengan puitis. Seperti memandang lukisan klasik Italia. Itu tadi, framing dalam penempatan orang-orang yang di-shot terutama Philippa dan Filippo, yang banyak memberi nuansa estetisnya
HEAVEN kalau dibandingkan dengan film Kieslowski, mungkin mirip dengan BLUE dari THREE COLORS TRILOGY. Mungkin lebih tepatnya semacam paradoks kali ya. Orang yg mengharapkan HEAVEN untuk menjadi seperti film Kieslowski sebelumnya menurut saya they’re missing the point. Yang harus diingat adalah skenario HEAVEN awalnya ditulis Kieslowski dengan rekannya Piesiewicz dengan maksud utk membuat trilogi baru yang (mungkin, menurut perkiraan saya) untuk menjadi pendamping THREE COLORS tapi dari ujung spektrum yang berbeda. Yang membuat mirip HEAVEN dengan BLUE, selain soundtrack-nya, adalah dari karakter utamanya itu sendiri, seorang janda yang baru ditinggal mati suaminya, dan bagaimana reaksi mereka menyikapi hal tersebut. Disinilah awal dari timbulnya paradoks. Philippa ingin membalas kematian suaminya (yang karena overdosis), dengan membunuh si pengedar narkoba yg adalah teman suaminya sendiri. Sementara Julie dari BLUE, berusaha untuk meninggalkan masa lalunya tanpa menyimpan memori sedikit pun, sebelum akhirnya membantu teman suaminya menyelesaikan karya musik suaminya untuk membebaskannya dari masa lalunya. Pada ending-nya, dimana di BLUE ada semacam ambiguitas yang terjadi pada Julie, apa dia bahagia atau dia masih sedih dengan masa lalunya? Apa dia sudah benar-benar “bebas”? Sementara di HEAVEN, ending-nya cukup jelas, meskipun ditunjukkan dengan simbolisasi dari judul filmnya yang menjadi real. Meskipun saya masih harus lebih memperdalam WHITE dan RED, bisa dibilang diantara ketiga film THREE COLORS my personal favorite adalah BLUE. Now, if only we could see HELL and PURGATORY to complete the exeperience of HEAVEN…Granted, Tykwer is no Kieslowski, but still…
Ngomongin film kaya HEAVEN, atau SOLARIS, for that matter, akan sampe pd kesimpulan kalo tipe film spt ini hanyalah disuka oleh sebagian kecil orang saja. Rekreasi singkatnya di bioskop 21 menunjukkan tidak lakunya film ini. Tampaknya akan semakin sulit saja mengharapkan film seperti HEAVEN berkunjung ke bioskop 21. Tapi, itulah gunanya DVD. Keep spinning those shiny discs!
Ada film yang karena berjalannya waktu atau repeated viewings mengubah apresiasi saya menjadi lebih suka atau malah jadi berkurang apresiasinya. Film seperti THE HOURS dan 28 DAYS LATER, yang sama sekali tidak saya duga sebelumnya, berada di kategori terakhir di atas. Tapi banyak juga yang masuk kategori pertama. Seperti HEAVEN, saya semakin love dan love dengan film ini even more. Saya mungkin orang yang tidak konsisten karena suka berubah dalam menilai sesuatu, tapi itulah art, persepsi kita bisa berubah tergantung perspektifnya. Dan dengan terpaksa saya harus mendepak salah satu film untuk memasukkan HEAVEN ke top ten films of 2002.
HEAVEN - Revised film rating (out of ****):
****
|
|
|
November 01, 2003, 03:31
|
#259
|
|
Registered User
Join Date: Dec 2002
Location: nowhere to be found
Posts: 1,691
WebPoint: 0 GaulPoint: 249
|
Ladies and Gentlemen…the SH*TBISCUIT!
Satu jam pertama SEABISCUIT dengan dominasi foto-foto depresi dan narasi dari suara bijak, lebih cocok disebut sebagai pelajaran sejarah di sekolah yang diajarkan dengan sangat membosankan. Dan bila dikira 1 jam selanjutnya bisa lebih baik karena ceritanya mulai sampai ke intinya, sudah tidak ada lagi yang bisa diharapkan selain perjalanan penuh penderitaan menuju cinematic hell, dengan segala sentimentalitas “overcomes everything” dan dialognya yang artifisial. “ You don't throw away a whole life away just cause it's banged up a little“. Wuuiih! Itu baru satu contoh saja yang banyak dikutip dari film ini. Tunggu sampai akhir film dimana voice over Tobey Maguire mengiringi the triumphant victory, maka lengkaplah sudah. Jeez! At least it’s finally over.
Akuilah, film seperti SEABISCUIT adalah film yang tujuan utamanya dibuat untuk memanipulasi sedemikian rupa simpati pemirsa dan academy award members, meraih nominasi Oscar dan kalau bisa menyabet Best Picture sebagai pemuncaknya. Banyak contoh film seperti ini dan banyak diantara mereka yang sukses. A BEAUTIFUL MIND, THE HOURS, AMERICAN BEAUTY, SAVING PRIVATE RYAN, FORREST GUMP, SCHINDLER’S LIST, RAIN MAN, the list goes on. Tentu tidak semua film di atas jelek by any means of filmmaking standard, hanya saja tidak ada itu reaksi yang natural dari film-film tersebut karena terlalu di-forced, sugarcoated, fabricated, dan unreal. It’s a fake art and it’s a cheap way to win the audience’s heart. Salah satu tandanya adalah they’re not going to last long and will be forgotten in the dust. I’m gonna get a load of hate responses by saying this. Groovy! Each to his own, I guess.
Untuk bisa menjadi pemain utama di ajang Oscar, maka harus mencapai standar tertentu juga di kategori teknisnya (Cinematography, Art Direction, Costumes, Score, etc), sehingga berpeluang menyapu bersih Oscar. Dan SEABISCUIT memang bisa mencapainya. Nuansa dan suasana era depresi Amerika bisa ditampilkan dengan otentik diiringi soundtrack tipikal “americana” yang mendayu-dayu. Tapi seperti kebanyakan film-film yang disebutkan diatas, itu tidak lebih dari sekedar photogenic semata. It’s so easy in the eyes!
Jangan salah, kisah nyata Seabiscuit beserta orang-orang disekelilingnya memang mengagumkan. Tapi sayangnya Gary Ross tidak mampu mentransformasikannya ke dalam feature film yang layak dan sepadan tanpa embel-embel. Ross membumbui film ini dengan segala hal yang bisa dijejalkan biar terkesan jadi film epic dan membebaninya dengan simbolisasi bahwa seluruh Amerika berada di pundak seekor kuda yang dikondisikan underdog, padahal sebenarnya tidak demikian. Swimming in the river of denial, Ross & Co. are. Kenapa ngga bikin film yang lebih simple tentang balapan kuda saja? Karena masih belum cukup untuk bisa mengais Oscar dan memenangkan hati rakyat (Amerika). Duh…Untuk nambah insult to injury, banyaknya keluhan untuk membuat film yang lebih smart dan mature daripada buat ABG yang tidak dirilis hanya diakhir tahun saja, Hollywood malah menjawabnya dengan film kaya gini. Blah…Sama aja weuy! If films like SHITBISCUIT or COLD MANTEN, dare to challenge the mighty return of the king, they’ll be crushed to bits! Glory to the king! Glory to the king! Oh yeah, baby!
SEABISCUIT grade (out of ****):
0 stars
Zero – ouch! No mercy! No mercy!
P.S:
Buat yang merhatiin setiap review film saya mungkin bertanya-tanya kenapa saya sedikit sekali memberitahu sinopsis ceritanya, bahkan tidak sama sekali? Karena selain saya males, saya lebih suka langsung to the point dan mengomentari seputar filmnya. Nyari sinopsis banyak kan di thread laen. Dimana-mana juga ada.
|
|
|
November 01, 2003, 03:35
|
#260
|
|
Registered User
Join Date: Dec 2002
Location: nowhere to be found
Posts: 1,691
WebPoint: 0 GaulPoint: 249
|
MATCHSTICK MEN
Money is just like a foreign film without subtitles…
Untuk menjelaskan MATCHSTICK MEN, cukup adalah merupakan film yang, semakin sedikit kita tahu seluk beluk ceritanya, semakin banyak yang akan kita dapatkan dari filmnya. Ini adalah tipe film yang general filmgoer akan menganggap terlalu “weird” sementara kalangan snobby menganggapnya terlalu “Hollywood”. Yang bisa saya katakan adalah, keduanya sama-sama salah. They don’t know sh*t about how good this film is! Saya ngga akan membicarakan terlalu men-detil film ini. MATCHSTICK MEN is a very good film dan saya sangat menyukainya.
Walaupun cerita dasarnya adalah tentang grifters/ con men (orang yang kerjaannya tukang nipu orang lain dengan berbagai cara), one that made the film won me over no matter what its shortcomings adalah relationship karakter-karakternya. Jarang sekali saya merasakan seperti yang saya rasakan di MATCHSTICK MEN terjadi di film Hollywood kebanyakan. Bahwa ada ketulusan yang tidak tergambarkan dari hubungan karakternya Nicolas Cage dengan Sam Rockwell, dan terutama Nicolas Cage dengan Alison Lohman, baik dari interaksi maupun dialognya. It breaks my heart because it felt so real. Dan dengan ending-nya, yang ada sebagian orang salah mengartikannya, menurut saya itulah justru yang membuat mereka menjadi “human”, bukan hanya cool characters dari suatu film.Yeah, life sucks! Tapi tidak bisakah sesekali kita meng-embrace kehidupan? Apa setiap great film harus selalu melibatkan death dan murder? Atau Revenge? Good film tidaklah harus selalu bersifat dark, grim, bleak, relentless, unforgiving, violent, cruel, tragic, sebut saja setiap adjective yang sesuai, hanya karena dianggap terlalu “Hollywood”. That’s bullsh*t. Bahkan Hollywood juga bikin film bagus once in a while. I love films seperti KILL BILL dan DOGVILLE, tapi itu tidak menghambat saya untuk menyukai film-film lainnya yang berbeda apabila memang film tersebut bagus (baca: film Hollywood umumnya).
MATCHSTICK MEN memang tidaklah flawless. Toh kita juga akan jarang menemukan kesempurnaan di film lain, bahkan di film klasik sekalipun. Kendala utama MATCHSTICK MEN ada pada Ridley Scott sebagai sutradaranya. Kalo dari skenario filmnya sendiri cukup baik. 2 plot cerita dikonstruksi dengan alur yang cermat dan ketat. Aktingnya juga salah satu highlights film ini, dengan Nicolas Cage, Sam Rockwell dan Alison Lohman sebagai pemeran utama dan pemeran pembantu lainnya tampil sangat memuaskan. Tapi dari penyutradaraannya, style Ridley Scott yang sudah banyak membuat film action (BLACK HAWK DOWN, HANNIBAL, GLADIATOR) agak terbawa-bawa ke film ini yang notabene bukanlah film action, sehingga memberi kesan sedikit terburu-buru dimana seharusnya bisa lebih intim dalam menggali plot dan karakternya. Tapi itu hanyalah minor saja, karena MATCHSTICK MEN tetap adalah film yang memikat. Dan melihat Ridley Scott dan Nicolas Cage tampil di film seperti ini, daripada di just another blokbuster adalah pertanda baik. Kita juga pastinya bisa menyaksikan lebih banyak lagi the talented Sam Rockwell dan Alison Lohman di masa datang. Great, keep ‘em coming.
Grade (out of ****):
***1/2
Very Good
|
|
|
November 01, 2003, 03:46
|
#261
|
|
Registered User
Join Date: Dec 2002
Location: nowhere to be found
Posts: 1,691
WebPoint: 0 GaulPoint: 249
|
Killing the bills: KILL BILL VOL. 1 third & fourth viewing madness
Aaargh! God…I can’t help it! I’m so obsessesd with a Tarantino flick! Oh no, I’m cursed! I’m cursed! Somebody, help me!
Revenge is never a straight line. So is KILL BILL…That’s pretty much explain the narrative structure of KILL BILL, doesn’t it? Yang bikin saya tetep menikmati KILL BILL keempat kalinya dengan tidak kalah asyik dari sebelumnya, kerena that goddamn Tarantino jenius dalam mengatur flow alur filmnya. Walaupun udah berkali-kali nonton masih saja ada sense of excitement-nya yang dinamis, nunjukin si Tarantino bener-bener udah menyusunnya dengan cermat dan akurat dari mulai skenarionya. Gimana bisa bikin alur film yang mengalir kaya air seperti ini? Apalagi dengan banyaknya referensi film yang Tarantino campur adukkan. Bahkan showdown at house of blue leaves masih saja menarik untuk disimak. Saya sempat mengeluh saat pertama nonton dengan pola struktur ceritanya yang non-linear, tapi dengan repeated viewings terbukti bahwa hal itu salah satunya akan menjaga filmnya tetap fresh, and it’s not an irritating gimmick after all. It’s a gimmick that works to enhance the already established film, like ADAPTATION or TALK TO HER, for instance, not a gimmick that used to define the film itself like the highly overrated MEMENTO. Yeah, I know, I know that non-linear and time shifting structure is Tarantino’s trademark, but I’m sick to death that some filmmakers these days used that just for the sake of gimmick and being cool like that MEMENTO flick. Not here, Tarantino definitely knew what he’s doing. You can’t apreciate it any better unless you watch KILL BILL multiple times. It shows! Terakhir nonton film 4 kali dalam waktu berdekatan hampir setahun lalu yaitu nonton THE TWO TOWERS…Man oh man!
Gitu juga dengan anime sequence-nya. Film ini adalah untuk homage ke semua genre yang Tarantino adores, jadi chapter 3 adalah homage-nya untuk anime. Fine, so be it! I don’t have to b*tching about it anymore. It gets the job done. Very well done, in fact! Bahkan Tarantino juga tidak lupa dengan Star Trek! The Klingons would be proud!
Hmm, apalagi nih?
I love the cast! The ladies…wow! Tarantino surely knows how to “treat” a lady! Uma Thurman, dia udah melangkah jauh dari eranya DANGEROUS LIAISONS, tapi tetap innocence dan beauty-nya tidak luntur, malah semakin matang dan strong sebagai aktris. Lucy Liu, saya tidak pernah begitu meyukainya sebelumnya. Here, I care for her! Daryl Hannah, gorgeous and menacing at the same time! Julie Dreyfus, pretty lady, The Bride sendiri yang bilang! Chiaki Kuriyama, well, saya bukanlah fans terbesarnya, tapi melihat bad@ss anime schoolgirl comes to life, how fun! Vivica Fox, my least favorite, though her scenes were too short, but enough. Untuk the male ones, Sonny Chiba memang tidak begitu saya kenal seperti halnya saya mengenal Toshiro Mifune (the greatest samurai actor ever), tapi Chiba juga punya karisma yang kuat sebagai samurai. Dan David Carradine! Nah ini dia, masih ingat dong dengan serial Kung Fu-nya yang dulu disiarin RCTI? Man, I missed those days, the great days of Indonesian television long gone! Tampangnya Carradine ngga nongol, tapi kehadirannya tetap terasa sepanjang film, dan ketika dia mengucapkan the last words di ending-nya, bang bang!
Ok, cukup disini saja dulu muji-mujinya, I’m gonna save the rest for VOLUME TWO later…  I’m convinced that KILL BILL akan mendapat tempat di my top ten films dan soundtracks of 2003. Bahkan kayanya soundtrack yang bisa melampaui kedahsyatan soundtrack KILL BILL cuman dari sebuah film dari dunia tengah. Saya udah denger potongan kecil soundtrack ROTK, it’s amazing and spectacular! Sadly is, it’s true that it’s going to be tragic!!! Oops, wrong topic. Kalo VOLUME 2 sama baiknya dengan VOULME 1, maka saya akan menggabungkan 2 Volume KILL BILL menjadi satu film dan menyatakannya sebagai masterpiece, sama seperti LORD OF THE RINGS dan menempatkannya among the elite in my top 100 films of all-time. Now, where’s that little movie called ZATOICHI, damnit? I want to see it now! Oh no, here I go again…
Hey, Jack Valenti! Catch me! Catch me! I violated your screening ban! Hahaha…..Oops!
|
|
|
November 08, 2003, 05:33
|
#262
|
|
Registered User
Join Date: Dec 2002
Location: nowhere to be found
Posts: 1,691
WebPoint: 0 GaulPoint: 249
|
CITY OF Tricksville
Fernando Meirelles sudah jelas memang pandai dalam membuat penonton terserap ke dalam dunia CITY OF GOD, dunia yang dengan subject matter-nya saja sudah bisa bikin pusing, ditambah dengan penerapan segala filmmaking tricks yang ada di muka bumi ini oleh Meirelles untuk memompa adrenalin dan testosteron kita semua yang menontonnya. Begitu mudahnya trick-trick ini (penyutradaraan Meirelles) menjadi “penguasa” yang sebenarnya di CITY OF GOD. Apakah Meirelles benar-benar setia dengan “based on true events” sepenuhnya, atau seperti banyak film lainnya yang mengaburkan batasan antara fiksi dan realita untuk membuat filmnya lebih cinematic? Tidak mengherankan juga bila akhirnya Meirelles keasyikkan dan keterusan sehingga membuat filmnya kepanjangan (seharusnya bisa 15 menit lebih pendek), menjadi redundant, repetitif, dan kehilangan fokusnya. Apa perlu menampilkan adegan yang sama terus menerus, misalnya anak-anak yang saling tembak-menembak, kita tahu hal itu salah, tapi pengulangan seperti ini selain malah merendahkan intensitas filmnya, berkesan mengeksploitasi hal yang sudah jelas.Lalu, apa kita harus “dipaksa” untuk menerima voice over Rocket sebagai guide karena dia adalah orang yang paling “manusiawi” di CITY OF GOD? Padahal Rocket sendiri adalah karakter yang sangat pasif. Film ini terlalu sensasional for its own good dan mengakibatkan penontonnya shock atau histeris, terkaget-kaget tidak tahan atau terhipnotis penuh kekaguman dengan persembahan Meirelles ini. Buat yang tahan dengan apa yang terjadi, film ini memang menghibur. Saking menghiburnya sehingga kita bisa tersesat in the wilderness of CITY OF GOD dan kehilangan pegangan moral dalam menontonnya.
CITY OF GOD disebut-sebut adalah salah satu film terbaik, banyak yang memberinya review yang sangat positif, menyebutnya sebagai film yang “penting” yang akan dipelajari frame by frame bagaimana Meirelles membuatnya sehingga mungkin akan melahirkan generasi baru filmmakers yang terinspirasi. Setelah saya dimanjakan oleh Quentin Tarantino dengan penyutradaraanya yang eksplosif tapi tetap terkontrol dan penuh keeleganan di KILL BILL, saya melihat Meirelles sangat ambisius dengan filmnya ini tapi tidak mencapai target ambisinya itu, simply put, dia terlalu show off. CITY OF GOD terlalu problematic untuk disebut sebagai great film. Kalau saja Meirelles bisa lebih mengontrolnya, seperti kalo Marlon Brando akan bilang, “this film could have been a contender”.
Grade (out of ****):
**1/2
Flawed
|
|
|
November 08, 2003, 05:42
|
#263
|
|
Registered User
Join Date: Dec 2002
Location: nowhere to be found
Posts: 1,691
WebPoint: 0 GaulPoint: 249
|
Return to DOGVILLE
Saya kadang-kadang berada di posisi dimana selalu menonton berulang-ulang film favorit saya. Begitulah halnya dengan DOGVILLE. Tidak masalah buat saya untuk menonton 2,5 jam lagi sebelum mencapai ke ending DOGVILLE, yang simply is the best movie ending so far this year (bahkan ngelewatin ending KILL BILL, yang juga saya suka banget). Bukan berarti DOGVILLE bagus hanya karena ending-nya saja, tapi justru itu, saya suka film seperti ini, film yang meluangkan waktu secukupnya untuk membangun cerita dan karakter-karakternya secara proporsional tidak terburu-buru tapi tetap tahu diri (tidak seperi CITY OF GOD) sehingga ketika sampai di ending-nya, everything will be justified. DOGVILLE yang saya tonton durasinya hampir 3 jam, tapi saya tidak merasakan ada yang terlalu dipaksakan atau dilama-lamain, tidak seperti CITY OF GOD yang meskipun durasinya cuman 2 jam lebih tapi serasa kepanjangan dan berlebihan. Different strokes for different folks.
Setelah nonton DOGVILLE kedua kalinya memang cerita ini tidak hanya bisa ditujukan untuk bangsa Amerika saja. Malahan Indonesia juga bisa! Tema DOGVILLE yang tentang sifat manusia yang tidak bisa menghargai/ menerima dengan tulus orang asing atau pendatang yang bisa mengancam superioritas dan eksistensinya di daerahnya itu, atau malah mengeksploitasinya bila ada kesempatan, tidak bisa lebih mirip lagi dengan Indonesia. Mungkin terlalu ekstrim kedengarannya, but it happens everywhere!
Ada baiknya juga Nicole Kidman tidak lagi memerankan Grace di dua sisa trilogi U, S an A ini, yang akan diberi judul MANDERLAY dan WASINGTON. Saya yakin Lars Von Trier bisa menemukan aktris lainnya yang tidak kalah bagusnya. Saya harap bukan aktris baru tapi aktris yang punya range sama dengan Nicole Kidman, misal seperti Cate Blanchett (hehehe…) atau Naomi Watts. Ketiganya adalah Australian. Hmmm…
|
|
|
November 08, 2003, 05:45
|
#264
|
|
Registered User
Join Date: Dec 2002
Location: nowhere to be found
Posts: 1,691
WebPoint: 0 GaulPoint: 249
|
INFERNAL AFFAIRS
Saya tidak begitu menyukai Hong Kong cinema in general (kecuali tipe filmmakers seperti Wong Kar Wai), soalnya kebanyakan film mereka menempatkan ke-cool-an dan ke-flashy-an diatas yang lainnya. Ngga ada salahnya juga sih buat yang suka, toh bisa menginspirasi orang kaya Quentin Tarantino (ada apa nih saya nyebut-nyebut nama Tarantino melulu?). Maka saya termasuk yang telat untuk nonton film hit Hong Kong yang sudah menelurkan sekuelnya (yang tentu saja adalah prekuel) dan dibeli rights-nya oleh Hollywood, INFERNAL AFFAIRS.
Hampir saja, nyaris, saya akan menyukai film ini, kalau saja bukan karena ending-nya yang sentimental dan stereotip. Belum lagi sub-plot mengenai istri dari si karakter Andy Lau yang lagi bikin cerita novel yang mirip dengan cerita si karakter Andy Lau sendiri. Sudah terlalu sering saya lihat di film lain. Dua pertiga INFERNAL AFFAIRS memang sangat hebat, membuat saya on the edge of my seat, ditunjang penampilan Tony Leung yang memberi akting terbaik di film ini. Tapi ketika 3rd act-nya mulai memasuki ending-nya, semuanya jadi berbalik dan mengecewakan saya. Ending-nya terlalu murahan dan tidak sepadan dengan apa yang sudah saya tempuh sepanjang filmnya. Screnwriters-nya terlalu bagus dalam menyusun ceritanya sehingga mereka sendiri terkesan tidak tahu cara yang sama bagusnya untuk mengakhirinya, selain mencari rute paling aman dan mudah. Kenapa ending-nya dibuat demikian, yaitu untuk meraih simpati penonton, dan itulah kenapa film ini menjadi hit besar. It’s a crowd-pleaser. Ending seperti itulah yang saya sebut sebagai “typical Hollywoodian Ending”. Too bad. Padahal saya pengen banget menyukai film ini sepenuhnya. Tapi ngga bisa. It’s that goddamn ending!
Mark my words: Film ini ngga akan masuk nominasi Best Foreign Languange Film Oscar.
Grade (out of ****):
**1/2
Flawed
|
|
|
November 08, 2003, 05:47
|
#265
|
|
Registered User
Join Date: Dec 2002
Location: nowhere to be found
Posts: 1,691
WebPoint: 0 GaulPoint: 249
|
WHITE OLEANDER
Chick flick. PG-13. Weepy drama. Coming of age.
Bagaimana kalo suatu film adalah merupakan gabungan dari elemen-elemen diatas? Biasanya film tersebut sudah divonis bukan “film beneran”, alias film yang lebih cocok diputar di TV bukan di bioskop. Sampai tingkatan tertentu, WHITE OLEANDER memang bisa dikategorikan seperti itu, sesuai dengan elemen-elemen tersebut. Tapi apa cocok kalau lantas memvonis WHITE OLEANDER sebagai just another movie for TV?
Apa pun yang menjadi permasalahan di film WHITE OLEANDER, sudah jelas bukan dari akting para aktornya. This is a well-acted drama. Berkisar dari cukup baik sampai sangat baik. Tidak diragukan Michelle Pfieffer tampil terbaik di film ini. Perannya sebagai Ingrid Magnusson, seorang artist yang sangat berbahaya, bukan dari tindakannya secara fisik tapi dari pikiran dan perkataannya, dan juga “kecintaannya” pada darah dagingnya Astrid. Michelle Pfieffer dan Renee Zellweger, yang lebih cocok disebut cameo adalah favorit saya di film ini. Zellweger juga tampil sangat baik memerankan seorang aktris yang kurang percaya diri. Yang lainnya juga tidak kalah baiknya. Sekali lagi Alison Lohman menunjukkan bahwa dia talenta baru yang siap menggebrak (setelah WHITE OLEANDER dan MATCHSTICK MEN, bisa dibilang saya ngefans sama Lohman). Minggir Kirsten Dunst, Natalie Portman, there’s a new girl in town! Semoga peran-perannya Alison Lohman di masa datang bisa sesuai dengan talentanya!
Yang paling mengganggu dari WHITE OLEANDER adalah skenario filmnya, film ini tidak tahu mau bagaimana sebenarnya meng-handle ceritanya. Kembali ke rating film, WHITE OLEANDER akan lebih compelling kalo tidak sungkan-sungkan untuk mengusung rating R, bukan PG-13, dalam mengolah ceritanya. Ada sebagian hal yang agak dipaksakan dan kurang realistik dari penggambaran masalah foster homes dan seputarnya, meskipun hal itu bisa sedikit terbantu oleh akting para aktornya. Dialognya juga kurang natural. Film ini tidak bisa mengeluarkan seluruh potensinya karena batasan-batasan tersebut. Akan lebih menarik kalau kita bisa lebih banyak melihat aksi Ingrid, terutama dalam hubungannya dengan anaknya Astrid. Sekali lagi ini lebih ke masalah skenarionya, atau mungkin dari novelnya sendiri udah seperti itu? Karena terus terang cerita WHITE OLEANDER tidak sepenuhnya believable sebagai film drama.
Satu karakter yang sama sekali tidak berguna adalah yang diperankan Patrick Fugit (masih ingat ALMOST FAMOUS?), masalahnya adalah saya sudah tahu pertama kali melihat karakter ini muncul akan menjadi seperti apa ending filmnya. Itulah salah satu yang bikin film ini disebut “TV movie of the week”. Saya rasa bukan spoiler kalo dikatakan pada akhirnya Astrid akan pergi bersama karakternya Patrick Fugit. It’s so predictable. Bukannya karena kita sudah bisa menebak dari awal film bahwa ending-nya yang ditampilkan dengan voice over Astrid. Simply because it’s just suck! Coba kalo ending-nya adalah akhirnya Astrid menjadi seperti ibunya Ingrid, it would be a lot better. Tahu kan film APT PUPIL-nya Bryan Singer yang diadaptasi dari novel Stephen King? Singer mengubah ending dari novelnya menjadi coming of age bullsh*t crap, kalo tetap seperti novelnya, APT PUPIL akan jadi film yang lebih compelling. Saya ngga tau apa ending WHITE OLEANDER sama seperti novelnya atau tidak, tapi sekali lagi ending film ini sucks! Disinilah bagian “coming of age” menjadi elemen terbesarnya.
Beneran saya suka film ini, mau itu dibilang chick flick juga kek, masalahnya saya cuman suka sebagian filmnya saja. Kenapa tanggung banget sih nih film? Bagian yang saya suka dari WHITE OLEANDER itu saya suka banget, seperti setiap adegan Ingrid dan Astrid sebelum 3rd act-nya, hubungan karakter Renee Zellweger sebagai ibu angkat dengan Astrid, tapi selebihnya, adegan yang saya ngga suka, bener-bener ngga saya suka banget. Yah, mungkin WHITE OLEANDER memang TV movie of the week after all, tapi dengan bintang-bintang terkenal sebagai pemerannya.
Grade:
**1/2
Flawed
|
|
|
November 08, 2003, 05:49
|
#266
|
|
Registered User
Join Date: Dec 2002
Location: nowhere to be found
Posts: 1,691
WebPoint: 0 GaulPoint: 249
|
BLUE CAR
Ternyata 2 film yang saya tonton berurutan, BLUE CAR dan WHITE OLEANDER, secara kebetulan atau tidak, punya banyak kesamaan. Dari judulnya aja sama-sama ada “warnanya”. Dua-duanya menyangkut tentang coming of age seorang gadis yang berusaha menemukan kasih sayang seutuhnya dari orang-orang di sekitarnya. Bedanya, BLUE CAR lebih indie-ish dan personal buat writer director-nya Karen Moncrieff. Nonton film ini kaya sedang membaca diary seseorang yang sedang menumpahkan isi hatinya. Entahlah apa ini pengalaman pribadi Moncrieff atau apa, tapi terasa bahwa ini jelas sangat personal sekali, mungkin Meg Denning yang diperankan Agnes Bruckner sebagai karakter utamanya adalah alter ego dari Karen Moncrieff sendiri.
Film personal seperti ini bisa terlalu pretentious, dan sebagai suatu film BLUE CAR terlalu terbawa-bawa oleh “diary”-nya Karen Moncrieff ini, juga terlalu banyaknya adegan-adegan yang melodramatic tidak banyak membantu untuk mengangkat film ini karena hanya untuk menggulirkan ceritanya biar ngga mandek dan malah agak klise. Seperti WHITE OLEANDER, BLUE CAR juga sebenarnya punya potensi untuk menjadi film drama yang baik.
Grade:
**
Mediocre
|
|
|
November 12, 2003, 03:24
|
#267
|
|
Moderator
Join Date: Dec 2002
Posts: 21,177
WebPoint: 1 GaulPoint: 10013
|
Freaky Friday
Jamie Lee Curtis .... Tess Coleman
Lindsay Lohan .... Annabell Coleman
Mark Harmon .... Ryan
Harold Gould .... Grandpa
Chad Murray .... Jake (as Chad Michael Murray)
Stephen Tobolowsky .... Mr. Bates
Christina Vidal .... Maddie
Ryan Malgarini .... Harry Coleman
Cerita romansa keluarga yang dikemas apik dan dimainkan dengan manis dan menarik oleh Jamie Lee Curtis sebagai Tess ... seorang psikiater terkenal yang baru saja merelease bukunya untuk public.
Tess adalah seorang janda yang mempunyai dua orang anak, satu cewe yang menginjak abg, Anna dan satu lagi cowo yang masih kecil tapi nakalnya minta ampun Harry
Harry dan Anna diceritakan amat sangat suka bertengkar ... Harry suka menjahili si kakak Anna sementara Anna juga suka sekali marah dan menghukum Harry
Anna pandai bermain gitar dan mendirikan sebuah band yang terdiri dari 2 teman cewenya dan 2 teman cowonya ...
Sementara Tess telah punya tunangan baru Ryan ... dan berencana untuk menikah segera
Anna memasuki tahap ABGnya dan sering tidak bisa saling mengerti dengan sang mama ... akibatnya pertengkaran sering terjadi ...
Puncaknya adalah bentroknya kesempatan audisi pertama band Anna dengan acara perkenalan pertunangan sang mama
Ditengah dinner bersama kakek, harry dan ryan ... tess dan anna bertengkar dengan hebatnya di sebuah restoran china yang empunya resto mengetahuinya dan berusaha mendamaikan dengan memberikan 2 buah fortune cookies yang ternyata
menyebabkan gempa besar ...
keesokan harinya .. mereka masing2 terbangun dari tempat tidurnya dan menemukan bahwa diri mereka telah tertukar!
jiwa Tess didalam tubuh Anna dan jiwa Anna didalam tubuh Tess!
ceritapun bergulir menceritakan cara mereka memahami orang lain, dengan menjadi orang lain tersebut tess mencoba memahami keadaan anna mengapa sampai berjiwa pemberontak, sering menerima hukuman, sampai mengapa
dia mencintai Jake, cowo sekolah yang ternyata oke punya 
sementara anna juga mencoba memahami bagaimana dia menganggap hidup sang mama itu sempurna padahal tidak
dan mengapa sang mama mencintai Ryan yang dianggap tidak mencintai anna ...
Cerita ... tentu saja berakhir hepi ending ...
tapi makna dan inti cerita ini adalah bagus sekali
apabila dirimu iri dengan keadaan orang lain
apabila dirimu bingung mengapa tidak ada orang bisa memahami kita coba ... jadilah orang lain dan coba pahami keadaannya, niscaya kita akan tau mengapa 
rating: 8 out of 10
*bagus dan menarik sekali buat refreshing dan santai 
__________________
|
|
|
November 15, 2003, 21:54
|
#268
|
|
Registered User
Join Date: Dec 2002
Location: Paname
Posts: 6,649
WebPoint: 4 GaulPoint: 6494
|
THE HUMAN STAIN
Sutradara : Robert Benton
(Skenario berdasarkan buku karya Philip Roth)
Anthony Hopkins, Nicole Kidman, Gary Sinise, Ed Harris, Wentworth Miller
Coleman Silk, profesor sastra, mengundurkan diri dr univeritas karena dituduh rasis. Lalu ia menjalin hubungan dengan wanita muda bersuami, Faunia , yang punya masa lalu yang pedih. Tapi Coleman sendiri juga punya rahasia besar dalam hidupnya yang puluhan tahun ia pendam.
Resiko besar sebuah film yg memasang bintang kelas satu dalam drama (yg maunya) kelas berat, adalah menjadikan film itu ajang adu akting seperti dlm “The Human Stain”, dimana dua pemain itu sayangnya tidak ada yg menang.
Hopkins dan Kidman tidak ada chemistry!!! Agak ganjil melihat mereka berduaan, beradegan ranjang dan berdialog intim. Tapi anehnya, jika mereka tidak bertemu dalam satu scene, Hopkins dan Kidman tampil sangat baik (ini kekurangan nomor 1 dr film ini, yang berasal dari porsi peran Kidman yg tidak proporsional dengan inti cerita secara keseluruhan).
Dan kalau saya berandai-andai jadi sutradara atau produsernya, peran Kidman lebih tepat diberikan ke aktris yg relatif kurang dikenal, atau mungkin ke Laura Linney, Kate Winslate misalnya.
Sayangnya juga saya belum membaca buku karya Philip Roth itu (yang katanya sangat bagus), mungkin karena itu ada beberapa “gap” saat menonton film ini karena ada banyak nuansa dan informasi yang hilang.
*Perhatian, tulisan berikut mungkin terdapat sejumlah SPOILER*
Isu rasisme dan penolakan identitas , dimana Coleman ternyata seorang keturunan kulit hitam, namun mempunyai fisik sangat kulit putih, adalah bagian inti dan pesan film ini yang kalau digali lebih dalam akan menjadi sangat bagus.
Sayangnya di film, kisah cinta Coleman dengan Faunia menjadi berlama-lama (kekurangan nomor 2) , sehingga ada kesan sutradara (dan mungkin produsernya) mau menonjolkan porsi peran Kidman.
Dari sudut cerita, Peran Kidman lebih tepat sebagai peran pembantu! Jika Peran Kidman dipangkas, dan kisah kilas balik Coleman muda (yg diperankan sangat baik oleh pendatang baru Wentworth Miller) lebih diperbanyak, mungkin film ini akan menjadi salah contoh terbaik, bagaimana seorang manusia menolak jati dirinya, karena tekanan psikologis dan masyarakat yang rasis. Juga sejauh mana manusia itu bisa menyimpan rahasia terbesar dalam hidupnya.
Tapi Robert Benton (sutradara “Kramer vs. Kramer” dan “Places in The Heart”) dengan baik menggabungkan flashback dengan masa sekarang, sehingga film ini masih cukup layak tonton.
Rating: 5,5 out of 10
Last edited by aleks75012; November 16, 2003 at 19:31.
|
|
|
November 18, 2003, 05:00
|
#269
|
|
Registered User
Join Date: Dec 2002
Posts: 11,763
WebPoint: 13 GaulPoint: 6920
|
Review Film
Infernal Affairs II
Edison Chan, Shawn Yu, Anthony Wong, Eric Tsang, ....
Tentang Ming dan Yan, 2 orang anak muda yang menyusup ke organisasi musuh, karena keadaan yang memaksa. Ming karena telah membunuh bos mafia paling top se Hongkong, Yan karena nasibnya yang buruk, sehingga memilih menjadi mata2 daripada dikeluarkan dari kepolisian.
Tentang Nin, keluarga mafia yang paling berkuasa di Hong Kong. Karena kematian sang kepala keluarga, hampir menimbulkan kekacauan dunia triad. Tentang anak Nin yang membalaskan dendam ayahnya.
Tentang Mary yang membunuh demi suaminya. Tentang Wong dan ambisinya menangkap dan memenjarakan Nin.
Film Infernal Affairs II ini merupakan prekuel dari INFERNAL AFFAIRS, dimana Edison Chan dan Shawn Yu memerankan Ming dan Yan di masa muda.
Cerita mengenai mafia/triad Hong Kong disini terlalu rumit dan hampir nggak masuk akal, ditambah Yan yang disini diungkapkan merupakan anak tiri dari mafia top HK. Ditambah lagi akting Shawn Yu yang tidak selevel dengan Tony Leung sebagai Yan.
Di film ini yang aktingnya cukup ok adalah Karina Lau sebagai Mary, Eric Tsang, dan bos mafia Nin.
Rating : 7.5/10
|
|
|
November 18, 2003, 05:14
|
#270
|
|
Registered User
Join Date: Dec 2002
Posts: 11,763
WebPoint: 13 GaulPoint: 6920
|
Andy Lau' film
Running on Karma
Andy Lau, Caecilia Cheung
Tentang seorang biksu yang dapat melihat 'karma' seseorang, yang karena kematian 'temannya' meninggalkan kuil. Bertemu dengan polwan dan terlibat dengan kasus berat. Yang diketahui juga, bahwa polwan tsb akan mati karena kenal dengan dirinya.
Andy Lau disini tampil sebagai biksu dengan otot yang luar biasa besar. Sehingga kepalanya tampak aneh
Caecilia Cheung sebagai polwan teman Andy. (Sorry namanya di film lupa semua'an).
Di awal film ini, cerita masih bergulir dengan normal, tetapi setelah penyelesaian kasus pertama, cerita menjadi semakin aneh, dan terlalu dibuat2. Mungkin untuk menunjukkan karma Andy dan Caeci yang saling berkait.
Kecewa berat nonton film ini
Rating : 5.5/10
|
|
|
Posting Rules
|
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts
HTML code is Off
|
|
|
All times are GMT. The time now is 05:00.
|
|