| Cerpen & Cerbung Cerita Pendek dan Cerita Bersambung, silakan menikmati :D |
October 12, 2009, 08:39
|
#16
|
|
-strawberry-
Join Date: Jan 2007
Location: di dasar laut terdalam
Posts: 3,718
WebPoint: 0 GaulPoint: 1.945
|
Setelah mematikan sambungan telepon dari Yos, Tari membaringkan tubuhnya di atas tempat tidurnya. Rasanya lelah sekali setelah seharian melakukan kegiatan di luar rumah.
Tari sebenarnya ingin segera memejamkan mata dan pergi tidur, namun dia tidak dapat. Masih ada yang dipikirkannya. Masih ada yang mengganggu hatinya.
Entah mengapa malam ini Tari kembali terbayang wajah dokter Addy. Sudah tiga hari ini Tari selalu berharap hari-hari bisa berlalu dengan cepat, supaya dia punya kesempatan bertemu dengan dokter itu lagi sesegera mungkin.
Tari sendiri rasanya tak habis pikir, koq bisa-bisanya dia masih saja terus memikirkan dokter Addy, padahal pertemuan mereka sudah seminggu berlalu. Malah, bukannya berhenti memikirkan itu semua, Tari justru semakin terlarut dalam pesonanya.
Tadinya untuk pergi echocardiography, Tari ingin pergi sendiri saja, tidak perlu sama-sama Yos. Hanya saja kali ini Tari berpikir, akan jauh lebih baik kalau Yos menemaninya. Kalau Yos ada di sampingnya, Tari pasti tidak sempat berpikir yang macam-macam tentang dokternya!
Tari masih sibuk dengan khayalannya sendiri saat seseorang mengendap-endap membuka pintu kamarnya dan menyalakan stop kontak di kamarnya.
Tari melotot sebal saat melihat Kalin yang masih berdiri di dekat stop kontak dan mengangkat tangannya membentuk angka dua yang biasanya diartikan ‘peace’.
“Ngapain tengah malam begini masih keluyuran ke kamar orang?” Tanya Tari.
Kalin tidak memedulikan kata-kata Tari. Dia tetap saja melangkah ke arah tempat tidurnya dan tanpa permisi lagi langsung minta jatah tempat tidur.
“Kak Tari sendiri ngapain jam segini belon tidur?” Kalin malah balik bertanya sembari meraih bantal guling yang tadinya dipeluk Tari.
“Lho, itu kan terserah aku. Aku sudah nggak sekolah kayak kamu, jadi mau aku tidur jam berapa kek, itu bukan urusan kamu. Sekarang jawab aja pertanyaanku, kenapa kamu belum tidur?”
Kali ini Kalin sengaja menyepak sedikit pantat Tari, soalnya dia hanya disisakan sedikit tempat di ujung tempat tidur. Sudah minta geser baik-baik, tapi Tari enggan menggeser tubuhnya, jadi terpaksa deh pakai cara kekerasan sedikit. Hehe..
“E..kamu kira pantatmu itu pantat bayi? Pantat lebar gitu masih minta jatah lagi!” ujar Tari yang langsung merasa keberatan harus berbagi tempat tidur sembari memukul pantat adiknya keras.
Sekali lagi Kalin tidak menggubris kata-kata kakaknya.
Tari memang begitu sih dari dulu. Walaupun cantik, tapi judes plus jutek, makanya cowok-cowok pada takut dekat-dekat sama Tari.
Dulu, pernah ada Dimas, si cowok ganteng yang ajubilah deh kayanya! Tampang foto model, bawaannya BMW pula! Tapi sungguh kak Tari itu nggak punya selera tinggi. Tiap kali didekati malah kayak anjing herder mergokin maling masuk rumah. Gualaknya minta ampun!
Semua yang dilakukan Dimas pasti dicurigai kak Tari. Mulai dari waktu Dimas ngajak dugem, kak Tari malah mikir Dimas bakalan ngajak minum-minum, habis itu kak Tari bakalan dibikin mabok. Kalau kak Tari sudah mabok, Dimas bakalan merkosa kak Tari. Huh! Kak Tari mah pikirannya memang sempit banget.
Waktu itu Dimas juga pernah mau ngajak Kak Tari ke Manado, ke kampung halamannya Dimas, tapi tau nggak apa jawaban kak Tari?
__________________
Jangan takut bermimpi, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu 
|
|
|
|
Recommendation
|
Sponsored Ads
|
|
|
|
October 12, 2009, 08:41
|
#17
|
|
-strawberry-
Join Date: Jan 2007
Location: di dasar laut terdalam
Posts: 3,718
WebPoint: 0 GaulPoint: 1945
|
Kak Tari malah ngomong begini,”Cowok ngajak liburan ke luar kota pasti ada maunya! Nanti kalau di sana dia macam-macam, aku mau minta tolong sama siapa?”
Dimas memang cowok yang baik, waktu kak Tari keberatan kalau hanya berlibur berdua, Dimas malah ngajak ibu dan Kalin sekalian buat ikut dan semua akomodasi Dimas yang bayar! Tapi apa jawaban Kak Tari? Kak Tari langsung menolak mentah-mentah.
“Uh, punya kakak ya kok oon begini!” protes Kalin saat dia tahu Kak Tari menolak undangan liburan dari Dimas, “Dikasih gratisan malah nolak. Aneh tahu!” jelas Kalin gondok setengah hidup, habis, kapan lagi dia punya kesempatan lihat Bunaken gratis? Menang undian payung cantik aja nggak pernah, apalagi menang undian liburan gratis. Nah, yang ditawari Dimas ini kan jauh lebih keren lagi dari pada sekedar undian. Ini hadiah tanpa diundi. Cumi-cumi..eh..salah, maksudnya cuma-cuma.
Segera kepala Kalin mendapat satu jitakan dari Tari, “Di mana-mana, cowok baik itu pasti ada maunya! Jangan percaya sama cowok yang cuma mengandalkan materi!”
“Ah, kak Tari malah kebanyakan teori. Jadi maunya kak Tari cowok tuh datang cuma bawa singkong dan jalan kaki? Kuno! Nanti bukannya diajak nonton di twenty one, malah diajak nonton layar tancep! Kayak begitu yang kak Tari mau? Huh! Kalau Kalin sih ogah banget!”
“Kamu nih cerewet amat sih! Masih SMP aja udah sok tau tentang cowok.”
Kalin mencibir ke arah kakaknya sembari terus meledek Tari dengan julukan “Jumal” alias jual mahal.
Awalnya Dimas memang tidak putus asa, tapi setelah tiga bulan proses pendekatannya nggak ada kemajuan, akhirnya Dimas angkat bendera putih.
Dan lagi-lagi Kalin yang paling cerewet mengenai hal itu. Nggak tahu kenapa. Mungkin karena Kalin menjadi pihak yang paling dirugikan, karena begitu Dimas nggak pernah datang lagi ke rumah, sudah berhenti juga kiriman martabak dan pizza gratis!
Dua bulan setelah Dimas berlalu, bertemulah Kak Tari dengan cowok bernama Yos. Huh, kalau mau dibandingkan, Dimas kan lebih kece dan lebih kaya dari pada Yos! Tuh kan, selera kak Tari memang aneh!
Yos memang baik sih, tapi jarang bawa pizza. Nggak pernah ngajak liburan ke Manado pula! Terakhir juga cuma ngajak ke Dufan. Huh…lain benar sama Dimas.
“Sudah, sekarang kamu mau ngapain ke sini?” Tanya Tari untuk kesekian kalinya.
“Kak, kemarin Kalin putus lho sama Seno.” Ujar Kalin sembari menatap langit-langit kamar.
Tari yang awalnya sudah memejamkan matanya, langsung membukanya kembali.
“Putus?” Tari mengulang satu kata inti yang baru saja diucapkan Kalin.
“Iya. Sebenarnya hari Sabtu kemarin, waktu Seno ke rumah, Kalin memang sudah berencana minta putus.”
“Memangnya kenapa, Lin? Bukannya kamu sama Seno tadinya lagi adem ayem?”
Inilah yang disuka Kalin dari diri Tari. Walaupun Tari suka jutek, malah cenderung judes, tapi sebenarnya Tari baik.
Tari selalu peduli dengan kesusahan orang bahkan sebelum orang meminta bantuannya. Tari juga perhatian terutama pada orang-orang terdekatnya. Perhatian sama Ibu, sama Kalin, dan tentunya sama Yos juga.
“Benaran kamu putus sama Seno? Serius?” kali ini Tari sudah memiringkan posisi berbaringnya dan menghadap ke arah Kalin.
Kalin melakukan hal yang sama. Dia melihat tatapan penuh kepedulian di mata kakaknya.
“Kenapa putusnya, Lin?”
“Kalin naksir sama cowok lain, Kak.” Sahutnya masih dengan menatap Tari.
Tari mengerutkan keningnya, “Naksir sama cowok lain? Siapa? Teman sekolahmu juga?”
Kalin menggeleng. Kali ini dia sudah kembali mengubah posisi berbaringnya, kembali menatap langit-langit kamar. “Namanya Elang. Dia alumni di sekolah Kalin.”
“Udah alumni? Terus kamu koq bisa kenal sama dia? Kenal dimana?” Tari memborong semua pertanyaan. Habis, biasanya kalau beli borongan bisa dapat harga lebih murah ketimbang beli eceran kan? Duh…koq jadi nggak nyambung ya?!
“Dia suka ngajar taekwondo kalau hari Rabu sama Jumat sore.”
Bukannya mengerti, Tari malahan makin bingung. Habis, bagaimana awalnya mereka berkenalan kalau memang cowok yang jadi orang ketiga diantara Kalin dan Seno itu guru taekwondo! Kalin kan nggak gabung dengan eks-kur taekwondo.
__________________
Jangan takut bermimpi, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu 
|
|
|
October 12, 2009, 08:43
|
#18
|
|
-strawberry-
Join Date: Jan 2007
Location: di dasar laut terdalam
Posts: 3,718
WebPoint: 0 GaulPoint: 1945
|
“Aku makin nggak ngerti kisah cinta versimu itu, Lin. Aneh dan sulit diterima akal sehat.”
“Ngapain bingung? Tiap Jumat pulang bimbel, Kalin selalu balik ke sekolah biar bisa pulang bareng Seno. Seno kan ikut latihan taekwondo. Nah, ketemu kan?”
“Sadis kamu, Lin! Masa guru taekwondo Seno kamu taksir? Yang bener aja! Kayak nggak ada cowok lain aja. Kalau mau selingkuh, lihat-lihat orang donk! Lagian, koq kamu bisa naksir dia sih?”
Kalin kembali memiringkan posisi tidurnya, “Nah, itu dia yang mau Kalin tanya sama kak Tari.”
“Tanya apa?” Tari bingung. Ya jelas dia bingung, dia kan bukan pakar perselingkuhan!
“Sepanjang tiga tahun kak Tari pacaran sama Yos, pernah nggak kak Tari naksir sama cowok lain?”
Deg!!
Tari merasa pertanyaan itu kena sekali di hatinya. Tiba-tiba kembali terbayang wajah dokter Addy di pikirannya. Melintas begitu saja tanpa perintah saraf pusat. Ah, kenapa bisa ada wajah dokter itu saat Tari mendengar pertanyaan Kalin? Tari buru-buru mengeyahkan bayangan wajah dokter Addy dalam benaknya. Tidak! Ini nggak mungkin. Aku hanya terpesona saja. Nggak lebih! Batinnya.
“Kak, jawab donk!” ujar Kalin membuyarkan lamunan sesaat Tari, “Kak Tari pernah nggak naksir sama cowok lain selain Yos?”
Tari menarik hidung adiknya dengan gemas, “Kamu pikir kisah cintaku ini macam cinta monyetmu?”
Terus terang saja Kalin tersinggung kisah cintanya dibilang cinta monyet. Enak aja! Dia dan Elang kan sama-sama manusia, bukan monyet!
“Terus Seno tahu kamu naksir sama guru taekwondonya itu? Eh, siapa namanya tadi?”
“Elang.” Sahut Kalin.
Tari menggut-manggut, “Iya, Elang. Jadi Seno tahu nggak kisah cintamu sama Elang?”
Kalin menghela napasnya. Ah, kak Tari nggak nyambung deh. Pertanyaannya aneh banget. Ya kan nggak mungkin Seno tahu hubungan spesialnya dengan Elang. Kalau Seno tahu, pasti sudah dari dulu-dulu Seno memutuskan Kalin bukannya justru Kalin yang minta putus. Seno kan orangnya cemburuan banget.
“Ya nggak tau lah, kak Tari. Masa iya selingkuh bilang-bilang!”
Tari tambah nggak ngerti dengan kisah cinta adiknya. Zaman memang sudah banyak berubah. Zamannya dia dulu, kalau sudah dapat pacar satu ya sudah. Lha ini, sudah punya pacar koq masih ngelirik cowok lain?
“Udah sejauh mana sih sebenarnya hubungan kamu dengan Elang itu?” Tanya Tari lebih lanjut. Makin lama makin menarik juga kisah cinta anak bau kencur ini.
“Udah jadian empat bulan.”
Tari langsung terlonjak. Matanya yang tadinya tinggal lima watt langsung berpijar kembali seperti habis di charge. Tari tidak habis pikir, jadi selama ini adiknya punya pacar dua? Ya ampun Kalin! Entah apa isi dalam otakmu itu. Cinta koq dibagi-bagi?
“Kamu serius, Lin? Kamu beneran sudah jadian sama Elang? Dan Seno nggak tahu?” Tanya Tari sembari membeliakkan matanya lebar-lebar ke arah adiknya.
Kalin mengangguk dengan kalem, “Kak Tari nggak usah bengong gitu donk. Kalin sama Elang memang udah lama berkomunikasi, cuma semua kita lakukan diam-diam. Pokoknya nggak boleh ada seorangpun yang tahu.”
Mau tak mau ingatan Kalin kembali pada awal perjumpaan dengan Elang sore itu. Akh…siapa sangka awal perjuampaan itu menjadi awal kisah mereka yang rumit namun tetap indah dan punya sejuta makna.
Kalin yakin, bukan hanya dia saja yang bakalan naksir kalau lihat Elang sedang mengajar taekwondo. Semua gadis yang masih normal, pasti naksir. Cakepnya bukan tandingan euy… Mau disejajarkan dengan Dimas Seto juga nggak memalukan.
Saat Kalin diam-diam terpesona padanya, Seno malah jadi pahlawan dan memperkenalkan pacarnya pada Elang. Awalnya cuma buat pamer. Lho, punya pacar cantik kan memang digunakan untuk ajang pamer kan?
Nah, salah Seno sendiri memamerkan pacarnya yang manis-manis menggemaskan itu pada gurunya yang masih single dan berwajah di atas rata-rata. Sekarang, gurunya kepincut beneran deh. Kalau Seno tahu, dia pasti gigit jari. Untung Elang bukan tipe kayak Seno, yang menganggap cewek udah kayak lukisan. Selalu buat pameran!
“Dan alasan yang kamu kasih ke Seno waktu putus?”
Kalin menarik napasnya sebelum menjawab pertanyaan kakaknya, “Sudah beberapa hari sebelum kita putus, Kalin sama Seno berantem terus. Seno kan memang oragnya rada egois. Apa-apa mesti ikut maunya.”
Tari mencibir, “Ah, itu kan cuma alasan yang kamu cari-cari doank. Bilang aja hatimu sudah kepincut semua sama Elang.”
“Tapi sampai sekarang hubungan Kalin sama Elang juga tetap rahasia. Pokoknya sampai salah satu dari kita keluar dari sekolah baru deh boleh pacaran bebas.”
Tari tertawa mendengar jawaban Kalin. Ah, Kalin, Kalin…kenapa aneh-aneh saja kisah cintamu itu?
“Tau ah! Pusing aku sama kisah cintamu yang udah kayak sinteron. Atau, tulis aja di novel, Lin. Kalau kamu kirim ke penerbit pasti laku deh.” Ujar Tari bergurau.
Kalin memukul Tari dengan bantal guling dan buru-buru beranjak turun dari tempat tidur supaya Tari tak sempat membalas, “Kak Tari norak tau nggak sih! Nanti kalau udah ngerasain cintanya kebagi dua baru deh nangis-nangis!”
Tari masih membalas, “Memangnya aku ini kayak kamu, lihat tukang bakso kece dikit aja kamu embat!”
Dari ambang pintu kamar, Kalin mencibir sekali lagi sebelum akhirnya keluar dari sana.
***
__________________
Jangan takut bermimpi, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu 
|
|
|
October 12, 2009, 08:45
|
#19
|
|
-strawberry-
Join Date: Jan 2007
Location: di dasar laut terdalam
Posts: 3,718
WebPoint: 0 GaulPoint: 1945
|
Empat
Jam empat sore Tari sudah mulai merapikan kertas-kertas kerjanya. Sudah dipisahkannya beberapa tugas yang mungkin bisa ditunda dikerjakannya besok. Yang harus diselesaikan hari ini, ya terpaksa diselesaikanya dulu sampai selesai.
Yos sudah janji mau jemput jam setengah lima, dan Yos itu selalu on time. Janji jam setengah lima, artinya jam setengah lima kurang sepuluh, Yos pasti sudah duduk menunggu di lobby depan.
Kalau sudah sampai, Yos biasanya hanya duduk di lobby depan dan menunggu Tari. Yos tidak mau sekedar mengirim SMS untuk kasih tahu kalau dia sudah menunggu di bawah.
“Aku nggak mau ganggu kamu. Pokoknya ke luar saja kalau kerjaan kamu sudah selesai.” Begitu selalu yang diucapkan Yos kalau Tari meminta Yos memberi tahu kalau Yos sudah sampai.
Ya sudahlah, kalau maunya Yos memang begitu. Orang lain sih paling nggak mau disuruh menunggu, lain dengan Yos, disuruh menunggu dua jam juga Yos nggak bakalan mengomel. Yos sabar banget.
Jam setengah lima kurang lima menit Tari sudah berdiri dari mejanya dan bergegas keluar dari ruangannya. Nggak enak membuat Yos menunggu terlalu lama. Sudah minta jemput lebih awal, masa yang mau dijemput malah datang terlambat? Wah, itu sih keterlaluan namanya.
Benar saja. Yos sudah duduk di lobby sembari membaca koran. Seperti sudah mengenali langkah Tari, masih sekitar lima langkah jarak mereka, Yos sudah menurunkan posisi korannya.
Yos tidak menunggu hingga Tari sampai di hadapannya. Yos langsung berdiri dan menghampirinya, “Sudah selesai kerjaanmu?”
“Ah, ngapain kamu ngurusin kerjaanku? Aku yakin kerjaanmu juga belum beres.” Sahut Tari sembari melingkarkan tangannya di lengan Yos dan keluar dari kantornya.
Yos hanya tersenyum, “Janji jam berapa sama dokternya?” Tanya Yos sembari berjalan bersisisian dengan Tari ke tempat Yos memarkir mobilnya.
“Idih…ngapain juga aku janjian sama dokter? Memangnya kamu nggak cemburu? Biasanya kamu paling cemburuan.”
Yos tertawa kecil.
“Kamu lagi bahagia ya hari ini, Ri? Koq kayaknya hari ini wajahmu ceria sekali, membuat aku merasa sangat-sangat tergoda mencium senyummu itu.”
Tari malah tertawa dan menepuk lengan Yos dengan gemas, “Kamu memang pandai merangkai kata. Dasar gombal!”
Sayang Yos tidak tahu kenapa hari ini Tari lebih senang tersenyum dan tertawa. Yos tidak tahu Tari sedang berusaha menutupi rasa khawatir dan perasaan aneh yang menjalar dalam hatinya saat dia menyadari kalau hari ini dia akan kembali bertemu dokter Addy.
Terakhir, di depan ruang tunggu dokter Addy, Tari malah makin salah tingkah di hadapan Yos, membuat Yos berpikir jangan-jangan kekasihnya itu naksir sama dokter jantungnya. Tapi saat akhirnya mereka berdua masuk ke ruangan dokter Addy, Yos menarik napas lega. Tari nggak mungkin naksir sama orang yang umurnya sudah dua kali lipat umur Tari!
***
__________________
Jangan takut bermimpi, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu 
|
|
|
October 16, 2009, 16:43
|
#20
|
|
-strawberry-
Join Date: Jan 2007
Location: di dasar laut terdalam
Posts: 3,718
WebPoint: 0 GaulPoint: 1945
|
“Malam, dokter.” Sapa Tari begitu duduk berhadapan dengan dokter Addy di ruang prakteknya.
Dokter Addy tersenyum pada pasiennya, “Mentari Khairani?” ujarnya setelah membaca nama Tari di kartu pasien, “Lho, ada apa lagi, Mentari? Minggu lalu kamu baru ke sini kan? Tapi seingat saya, rambut kamu belum pendek dan kriwel-kriwel begini.”
Tari langsung tertawa kecil mendengar kelakar dokter Ady, walaupun sebenarnya dia merasa heran, koq bisa-bisanya dokter Addy ingat model rambut Tari dua minggu yang lalu!
Dan yang heran tentu saja bukan Tari seorang. Yos tentu juga heran. Hebat amat nih dokter satu, pikirnya. Sampai model rambut pasien aja dihafalnya. Pasien yang baru untuk kedua kalinya datang ke ruang prakteknya pula!
“Nah, sekarang kenapa lagi, Mentari? Ada keluhan apa?” Tanya dokter Addy sembari menatap Tari dengan tatapan khas seorang dokter yang siap mendengar keluhan pasien-pasiennya.
“Oh, nggak ada, Dok. Saya hanya ingin echo.” Sahut Tari.
“Memangnya ada masalah apa sampai mau echo?”
“Sebenarnya sih nggak ada masalah yang berarti, tapi biasanya memang setahun sekali saya rutin echo. Terakhir saya echo tahun lalu, makanya sekarang mau echo lagi.” Tari menjelaskan alasan kedatangannya malam ini.
“Oh, mau echo. Terus hasil echo yang tahun lalu dibawa nggak?”
Tari mengangguk sembari menyodorkan sebuah map yang isinya hasil echocardiography-nya tahun lalu oleh dokter Mirza.
Dokter Addy melihat-lihat foro-foto hasil echo dan keterangan singkat yang ditulis dokter Mirza. Seaat kemudian dia sudah menggut-manggut.
“Ada keluhan sepanjang tahun ini?’
Tari berpikir sejenak. Keluhan sih ada, tapi semua sama saja dengan yang lalu-lalu. Sesak nafas, nyeri dada. Semua memang sudah hampir enam tahun ini diderita Tari.
“Kayaknya semua biasa-biasa aja sih. Paling ya kadang-kadang nyeri dada sama agak susah nafas.”
“Kamu ada asma juga ya, Mentari?”
Tari mengangguk.
“Asma-nya sudah dari kecil?”
Sekali lagi Tari mengangguk.
“Ok deh, kalau gitu kita echo hari ini.” Lalu dokter Addy menutup map itu dan beralih menatap perawat yang berdiri di sisi mejanya, “Sus, siapkan deh, mau echo aja.”
Suster itu mengangguk dan beranjak dari tempatnya.
“Mentari, saya periksa dulu ya..” katanya pada Tari.
Deg! Entah mengapa kini jantung Tari berdetak seratus kali lebih cepat.
Sebenarnya sih sejak belum masuk juga Tari sudah deg-deg-an, tapi ini jauh lebih deg-deg-an lagi! Perasaannya tidak enak. Untuk sesaat, dia malah ingin pulang saja.
Yos menyentuh lengan Tari lembut saat dilihatnya Tari tidak ada niat untuk berdiri, padahal dokter Addy malah sudah mau berdiri.
Tari segera tersadar dari lamunannya. Tari menoleh sejenak pada Yos, melihat laki-laki itu mengangguk padanya.
Akhirnya Tari berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mengikuti langkah dokter Addy ke balik tirai pembatas.
Tari membaringkan dirinya di atas ranjang periksa. Ditariknya nafas dalam-dalam untuk mengurangi ketegangannya.
Mata Tari sempat bertemu dengan mata dokter Addy saat dokter itu meraih tangan Tari untuk menghitung denyut nadinya.
“Kamu lagi berdebar-debar, Mentari?” Tanya dokter Addy saat memeriksa Tari dengan stetoskop, “kenapa detak jantungmu tinggi sekali? Kamu nggak minum obat pagi tadi?’ sambungnya.
Wajah Tari memerah saat ditanya begitu dan groginya malah bertambah setingkat.
“Diminum nggak obatnya tadi pagi?” Tanya dokter Addy kembali saat tidak didengarnya suara Tari menjawab pertanyaannya.
Akh..daripada susah-susah, lebih baik dia bilang lupa saja. Biar aman. Kalau dia bilang minum, dokter Addy tentu akan bingung, jadi lebih aman bilang lupa.
“Tadi pagi saya buru-buru ke kantor, Dokter, makanya lupa minum obat.”
“Kirain saya, kamu lagi nervous, Mentari.” Ujarnya sembari sekali lagi menatap Tari dan menyunggingkan senyumnya.
Tari membalas senyum itu sekalipun dia agak grogi.
Dokter Addy lalu menangguk, “Ok cukup. Silahkan ke tempat suster itu, biar dipersiapkan dulu.” Ujar dokter Addy sembari menyudahi pemeriksaannya dan menunjuk ke arah sebuah ruangan yang memang ada di dalam ruang praktek itu. Ada sebuah pintu geser yang membatasinya.
Tari merapikan dulu kemejanya sebelum turun dari ranjang periksa dan menuju ke ruangan yang tadi ditunjuk dokter Addy.
Perawat yang sudah menunggu di ruangan itu meminta Tari untuk melepas kemejanya untuk mempermudah pemeriksaan.
Di atas tubuhnya yang terbuka, suster Rima meletakkan selembar kain putih. Setelah itu dipasangnya elektroda masing-masing di pergelangan tangan dan kaki Tari.
Tari memperhatikan perawat yang tengah mengandung itu.
“Sudah berapa bulan kandungannya, Suster?” Tanya Tari sekedar untuk menutupi perasaan nervous-nya.
“Oh..” suster itu nampaknya tidak meyangka akan diajak bicara oleh Tari, “Kandungan saya sudah masuk bulan keenam.”
“Sudah kelihatan bayinya laki-laki atau perempuan?”
Suster Rima baru akan menjawab pertanyaan Tari saat dokter Addy sudah lebih dulu mewakilinya, “Maunya sih dua-duanya. Cewek satu cowok satu, tapi ternyata dikasihnya cowok dua-duanya.”
Tari tersenyum pada dokter Addy. Akh….mengapa makin lama dia makin menarik saja? Senyumnya, matanya, hidungnya, pokoknya semuanya menarik!
“Selamat ya, Suster. Pasti senang ya dapat anak kembar?” ucap Tari hanya untuk sekedar mengatasi pikirannya yang makin lama dirasanya makin ngelantur saja.
Yos tidak ikut masuk ke ruangan tempat echocardiography itu. Yos memilih menunggu di luar saja.
Dokter Addy duduk di kursi yang memang sengaja diletakkan di sisi ranjang periksa. Tari sendiri sudah memiringkan posisi berbaringnya menghadap ke arah dokter Addy. Dalam jarak sedekat ini, terus terang saja Tari semakin merasa kagum pada dokter Addy.
Ketika mouse itu diletakkan di dada Tari bagian kiri, Tari sempat memejamkan matanya.
Oh Tuhan, jangan biarkan aku terbius oleh pesonanya. Tolong aku, Tuhan. Singkirkan semua angan dan mimpi gila ini! Pinta Tari sungguh-sungguh dalam hatinya.
“Sejak umur berapa kamu tau punya kelainan katup jantung ini, Mentari?”
Tanya dokter Addy sembari memperhatikan monitor dengan seksama. Kalau dokter Addy sedang serius memperhatikan monitor, Tari merasa lebih bebas mengamati wajahnya. Dia tampan! Untuk seorang laki-laki yang umurnya mungkin sudah menginjak kepala empat, dokter Addy tergolong masih sangat menarik dan memikat!
“Waktur umur lima belas tahun.” Jawabnya singkat.
“Yang di luar itu pacar atau kakakmu, Mentari?” dokter Addy masih melontarkan pertanyaan-pertanyaan ringan pada Tari, sekedar membuat Tari lebih rileks.
“Tunangan saya, dokter.”
Dokter Addy memang menyenangkan. Dia ramah dan sangat perhatian pada setiap pasien-pasiennya. Dia peduli dan mau diajak curhat. Tari saja lama-kelamaan merasa nyaman dekat dengannya. Sesekali malah dokter Addy sering membanyol dan membuat Tari harus menahan tawanya.
“Sekarang masih kuliah?”
“Saya sudah kerja, Dokter.”
“Sudah kerja? Bukannya umur kamu masih dua puluhan?”
“Saya nggak masuk SMA, Dokter. Saya lulusan SMIP.”
“Oh…SMIP…sekolah kejuruan pariwisata bukan?”
Tari mengangguk.
Dokter Addy masih memindahkan mouse-nya di sekitar dada Lara dan memperhatikan layar monitornya dengan teliti.
Setelah hampir lima belas menit melakukan pemeriksaan dan mendapat hasilnya, dokter Addy menyudahi pemeriksaan itu.
“Ok, Mentari, saya rasa sudah cukup. Tunggu suster Rima dulu ya, biar dibersihkan sisa gel-nya.” Ujar dokter Addy sembari berdiri dari kursinya.
Setelah kembali duduk di meja kerjanya, dokter Addy menulis hasil pemeriksaannya sembari menjelaskan kepada Tari dan Yos.
“Semuanya masih baik-baik saja. Yang penting tetap jaga kondisi ya. Obatnya juga jangan lupa diminum.” Ujar dokter Addy.
“Nggak ada perbesaran bocornya, Dok?” Tanya Tari.
“Ada. Hanya sedikit sekali. Akhir-akhir ini memang tambah sering sakit ya?”
“Lumayan sih, Dokter”
***
__________________
Jangan takut bermimpi, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu 
|
|
|
October 18, 2009, 03:43
|
#21
|
|
-strawberry-
Join Date: Jan 2007
Location: di dasar laut terdalam
Posts: 3,718
WebPoint: 0 GaulPoint: 1945
|
Setelah dari apotek, menebus obat, Yos mengajak Tari untuk mampir makan malam dulu, soalnya perutnya benar-benar sudah lapar. Tadi siang, di kantor, Yos hanya sempat makan gado-gado, itu juga hanya setengah piring, karena sudah keburu dipanggil ikut rapat.
“Kamu lapar benar, Yos? Makanmu sudah kayak orang nggak ketemu nasi seminggu!” komentar Tari melihat lahapnya Yos menikmati sepiring nasi dan ayam bakar itu.
“Tadi siang aku cuma makan gado-gado setengah piring. Perutku sudah dangdutan dari tadi di rumah sakit.” Sahut Yos masih sambil mengunyah.
“Kenapa nggak ngomong dari tadi, Yos? Tau gitu kan kita makan aja dulu sebelum ke apotek.”
“Nanti kemalaman apoteknya keburu tutup.”
Setelah itu Tari tidak menyambung pembicaraan. Dia tidak ingin menganggu Yos yang sedang makan dengan lahapnya.
Selesai menghabiskan piringnya yang kedua baru Yos memulai lagi pembicaraan diantara mereka. Topik yang sebenarnya enggan dibahas Tari.
“Hebat benar doktermu itu, Tari. Baru ketemu sekali aja dia sudah hafal model rambutmu. Nggak heran deh dia bisa jadi dokter. Ingatannya luar biasa.” Ujar Yos.
“Biasa aja tuh.” Sahut Tari datar. Menyindirkah Yos? Merasakah Yos kalau Tari agak berbeda saat berhadapan dengan dokter Addy?
“Koq mood kamu cepat sekali berubah sih, Tari? Tadi waktu pulang kantor kamu masih ceria, sekarang muka kamu kusut kayak kemeja belum disetrika. Kamu bete sama siapa, Tari? Sama aku atau sama dokter yang tadi?”
Tari melempar pandangan tidak senang. Yos seperti sengaja mengutarakan pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan Tari.
“Ngapain sih kamu ngebahas masalah dokter itu? Nggak ada pembicaraan lain yang lebih menarik?” sahut Tari ketus.
“Koq kamu ngambek sih, Tari? Aku sama sekali nggak bermaksud apa-apa koq. Aku hanya sekedar tanya.” Ujar Yos sembari memandangi wajah kekasihnya. Heran, tadi waktu berangkat nggak kenapa-kenapa, koq sekarang pulang, wajahnya lesu banget. Marah-marah melulu lagi.
“Kamu boleh nanya yang lain, tapi nggak usah ngebahas tentang dokter yang tadi.”
Semakin Tari menolak membahas masalah itu, Yos malah makin penasaran. Ada apa antara Tari dengan dokter itu? Atau Tari nggak suka padanya? Tapi kalau Tari nggak suka, kenapa Tari nggak minta ganti dokter saja? Rumah sakit di Jakarta kan nggak cuma satu! Dokter spesialis jantung juga banyak. Jadi, sebenarnya ada apa dengan Tari?
“Pulang aja deh yuk, Yos. Aku lelah banget. Mungkin besok aku nggak masuk kantor, jadi kamu nggak usah jemput aku pagi-pagi ke rumah.” Ujar Tari setelah menghabiskan jus alpukatnya.
Nah, sekarang Tari malah berniat nggak masuk kantor. Dasar hati perempuan! Selalu susah diterka! Sekarang bisa A, detik berikutnya bisa berubah jadi B, nanti berubah lagi jadi A!
“Kamu nggak enak badan, Tari? Demam? Kedinginan? Atau mau ke dokter saja?” ujar Yos sembari melangkah bersama Tari keluar dari rumah makan itu.
Tari hanya menggeleng. Sekarang perasaannya tidak enak benar. Tari terus-terusan menyangka kalau Yos memang sengaja ingin menyudutkannya. Tapi, kenapa juga Tari harus merasa tersudut? Kalau diantara dia dan dokter itu tidak ada hubungan apa-apa, kenapa Tari merasa begitu tersinggung? Apa itu bukan suatu hal yang berlebihan?
Sembari menyetir mobilnya menuju rumah Tari, Yos masih sesekali menoleh pada Tari yang duduk tepat di sisinya dan sudah memejamkan matanya. Entah dia benar-benar tidur atau hanya sekedar pura-pura tidur.
Namun belakangan, saat Yos menyentuh lengan Tari dan Tari tidak membuka matanya, Yos tahu Tari benar-benar terlelap. Mungkin dia memang terlalu lelah.
Saat sudah sampai di depan rumah Tari dan Tari belum juga terjaga, Yos dengan sangat terpaksa membangunkannya. Habis kalau tidak dibangunkan, masa dibiarkannya saja Tari tidur di mobil?
Disentuhnya perlahan lengan Tari sembari memanggil namanya dengan lembut. Tangan Tari agak hangat. Mungkin dia sakit.
Setelah untuk kesekian kalinya Yos memanggil namanya, Tari akhirnya terjaga juga.
“Tari, kita sudah sampai di depan rumahmu. Kalau lelah, mandilah air hangat sebelum tidur. Besok, kalau memang masih sakit, ya nggak usah ke kantor saja. Nanti agak siang aku telepon. Kalau masih nggak enak badan, lebih baik aku antar ke dokter.” Ujar Yos penuh perhatian sembari merapikan rambut-rambut Tari yang menempel di wajahnya.
Tari ingin menangis rasanya saat ini, apalagi kalau sedang mendengar nada perhatian dalam setiap kata-kata Yos.
Tari tidak tahan untuk tidak memeluk Yos. Dimajukannya tubuhnya pada tubuh Yos dan dilingkarkannya tangannya di pinggang laki-laki itu dengan manja.
Yos tersenyum sembari mengelus-elus punggung Tari dengan lembut. Dirasakannya betapa eratnya pelukan Tari.
“Yos, kamu masuk dulu.” Ucap Tari setelah melepaskan pelukannya.
“Tari, ini kan sudah jam sepuluh malam. Lebih baik aku langsung pulang dan kamu bisa langsung istirahat.”
Tari menggeleng, “Masuk dulu! Kalau kamu nggak mau masuk, aku juga nggak mau turun dari mobil.”
Yos spontan mengacak rambut Tari, “Manja! Kalau sudah mau, pasti nggak bisa dilarang.”
***
__________________
Jangan takut bermimpi, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu 
|
|
|
October 18, 2009, 03:45
|
#22
|
|
-strawberry-
Join Date: Jan 2007
Location: di dasar laut terdalam
Posts: 3,718
WebPoint: 0 GaulPoint: 1945
|
Tari masih tidak mengizinkan Yos pulang walaupun jarum jam di ruang tengah itu sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Tari sendiri tadi sudah mandi, walaupun dengan berat hati. Yos mengancam pulang kalau Tari nggak mau mandi air hangat.
“Muka-mu sudah kusut begitu, habis mandi pasti jadi lebih segar, dan tidurmu lebih nyenyak. Aku masakan air-nya, setelah itu kamu mandi.” Ujar Yos sembari melepaskan pelukan Tari dan berjalan ke dapur.
Yos tidak pernah ragu untuk mengerjakan hal-hal sepele seperti memasak air panas, atau kadang-kadang juga membuatkan minum untuk Tari, walaupun sebenarnya itu rumah Tari. Ia mengerti benar kondisi kekasihnya, dan semua itu dilakukannya tanpa beban. Hanya berlandaskan cinta dan rasa sayangnya yang teramat dalam pada gadis pengisi hati-nya itu.
Selesai mandi, Tari masih saja duduk di sebelah Yos dan terus-terusan minta dipeluk. Tangannya sendiri sudah melingkar di pinggang Yos dan kepalanya direbahkannya di dada Yos.
“Kenapa sih kamu, Tari? Tanya Yos sembari mengecup kening Tari untuk kesekian kalinya, “Koq tumben-tumben amat malam ini kamu kolokan?”
“Aku lagi agak susah nafas, Yos.” Ujar Tari pelan.
Yos menegakkan posisi duduk Tari dan menatap kekasihnya itu lekat-lekat, “Kita ke dokter aja sekarang, ya, Tari? Muka kamu memang sudah kelihatan agak pucat.”
Tari hanya merengut manja dan lagi-lagi melingkarkan tangannya di pinggang Yos, “Aku ngantuk, Yos.” Ujarnya.
Belakangan ibu sudah menyusul di ruang tengah karena heran sudah hampir jam sebelas malam koq Yos belum juga pulang, padahal besok kan baik Yos maupun Tari harus masuk kantor.
“Tari..” panggil ibu dari sudut ruang tamu.
Yos menoleh pada ibu, sementara Tari yang sudah memejamkan matanya terpaksa membukanya kembali dan ikut-ikutan menoleh ke arah tempat ibu berdiri.
“Tari, kamu sakit?” Tanya ibu sembari melangkah mendekati Tari dan Yos.
Ibu duduk di sebelah Tari dan meraba dahinya. Hangat.
Kali ini Tari langsung menegakkan posisi duduknya, “Tari cuma kecapekan, Bu.”
“Kalau capek, kenapa nggak pergi tidur di kamar saja, Tari? Kasihan Yos harus nemenin kamu.”
Ibu memijit bahu Tari perlahan. Belakangan, Tari sudah memindahkan kepalanya di pelukan ibunya. Dulu, waktu Tari masih kecil, kalau Tari sedang sakit, ibu selalu memeluknya dan memijit-mijit bahunya dengan lembut, seperti yang sedang dilakukannya sekarang ini.
“Yos, pulanglah. Sudah terlalu larut malam. Kamu kan butuh istirahat juga.” Kata ibu, kali ini pada Yos, “Tari ini memang masih kayak anak-anak saja tingkahnya kalau sedang sakit. Makanya jangan terlalu kau manjakan juga.”
Yos hanya tersenyum. Dikecupnya kening Tari sebagai tanda perpisahan,
“Baik-baik ya, Tari. Kalau ada apa-apa kau telepon aku ya! Nanti aku aktifkan hp-ku 24 jam!”
Tari hanya mengangguk. Matanya rasanya sudah sangat berat.
Ibu mengantar Yos sampai di depan pintu pagar, setelah itu mengantar Tari ke kamarnya dan membuatkan segelas susu hangat.
Setelah lampu kamar dimatikan dan ibu juga sudah meninggalkan Tari sendiri di kamarnya, Tari kembali membuka matanya. Sebenarnya dia benci seorang diri seperti ini kalau hatinya sedang gundah. Dia ingin ada orang yang bisa diajaknya bicara.
Lama-lama pikirannya melayang kembali ke ruang praktek dokter Addy. Oh Tuhan, mengapa aku jadi terus-terusan memikirkannya? Sudah menikahkah dia, Tuhan? Sudah punya kekasihkah laki-laki itu?
Tari malah semakin tidak bisa tidur setiap kali wajah itu bertandang di benaknya. Setiap Tari mulai mencoba memejamkan matanya, setiap itu juga sentuhan dokter Addy di kulitnya memercik gelora di hatinya.
Kau punya Yos, Tari! Bagaimana mungin kau mengharap dia masih sendiri sedangkan kau sendiri sudah milik Yos! Suara itu berbisik di kedalaman hati Tari.
Tidak! Tari menepis semua bayangan yang singgah di pikirannya. Aku nggak mungkin punya perasaan ini. Ini sama sekali nggak masuk akal. Usianya terpaut hampir dua puluh tahun dengan usiaku, dan status kita berbeda. Tidak akan aku biarkan bayangannya lagi-lagi mengusikku!
***
__________________
Jangan takut bermimpi, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu 
|
|
|
October 18, 2009, 03:47
|
#23
|
|
-strawberry-
Join Date: Jan 2007
Location: di dasar laut terdalam
Posts: 3,718
WebPoint: 0 GaulPoint: 1945
|
Lima
Ketika Tari mencoba membuka matanya di pagi hari, ia merasa dadanya begitu nyeri seperti ditusuk-tusuk dengan benda tajam. Tari hanya bisa meringis dan memegang dadanya sebelah kiri.
Nafasnya mulai tidak beraturan dan agak tersengal-sengal.
Ingin sekali Tari berteriak memanggil ibunya, namun dia sudah tidak sanggup lagi untuk berteriak. Suara yang keluar dari mulutnya hanya guman yang tidak jelas.
Beberapa saat lamanya Tari mencoba mengatur nafasnya hanya sekedar untuk mengumpulkan tenaga berteriak memanggil ibunya, namun sama sekali tidak berhasil. Neyri di dadanya juga semakin menjadi.
Oh Tuhan, tolong aku! Batin Tari dalam hatinya.
Ketika mencoba menoleh ke samping tempat tidurnya, mata Tari terpaut pada bingkai foto di meja kecil di sisi tempat tidurnya. Dengan usaha keras Tari mencoba menggapai bingkai itu dan melemparkannya ke lantai.
Keadaan rumah memang sudah sepi karena Kalin sudah berangkat sekolah. Mungkin sekarang sudah jam delapan, mungkin kurang sedikit atau lebih sedikit.
Suara lemparan bingkai itu terdengar sampai ke telinga bu Alya yang sedang menyapu di ruang tamu. Tiba-tiba saja sebuah perasaan tidak enak menyelinap di hatinya. Tidak menunggu lama, bu Alya menjatuhkan sapunya begitu saja dan bergegas menuju kamar Tari.
Bu Alya baru membuka pintu saat didapatinya Tari sudah terkapar di pinggir tempat tidurnya dan hampir kehabisan nafas.
Bu Alya segera menghampiri Tari dan membantunya menyandarkan tubuh Tari di sandaran tempat tidurnya. Tari memang bukan untuk yang pertama kalinya mengalami hal seperti ini. Sesak nafasnya seringkali kambuh bila dia terlalu lelah atau sedang demam.
Dokter Mirza juga sudah memperingatkan hal ini padanya. Tari disuruhnya duduk dengan posisi setengah bensandar bila nafasnya mulai terasa sesak.
“Ibu telepon Yos dulu ya, Tari. Biar Yos jemput saja. Kita ke rumah sakit.” Ujar bu Alya saat pelan-pelan Tari mulai bisa mengontrol napasnya dengan bantuan inhaler-nya.
Ibu mengelus-elus punggung Tari sejenak, “Ibu telepon Yos dulu ya. Tunggu di sini sebentar nggak apa-apa kan, Tari?”
Tari hanya mengangguk lemah.
Setengah jam kemudian Yos yang dihubungi Bu Alya di kantornya sudah sampai di depan rumah Tari. Terburu-buru Yos masuk pintu pagar dan tanpa mengetuk pintu, Yos segera masuk ke dalam rumah. Yos langsung menuju kamar Tari.
“Tari sesak nafas, Yos.” Ujar bu Alya.
Yos menghampiri gadis itu dan duduk di sisinya, “Kita ke rumah sakit saja ya, Tari? Masih kuat buat jalan?”
Yos sudah menggenggam tangan Tari seolah ingin meraup semua sakit yang ada pada Tari. Seandainya bisa, dia ingin sekali menggantikan Tari. Biar saja dia yang harus menanggung semua sakit ini, asal jangan Tari. Yos tidak tega melihatnya pucat seperti sekarang ini.
Tanpa menunggu lama, Yos membantu gadis itu berdiri namun saat baru beberapa langkah, Tari sudah hampir jatuh. Yos memutuskan untuk menggendong Tari ke mobilnya.
Yos tidak bisa konsentrasi penuh menyetir mobilnya setiap kali matanya menoleh ke arah Tari. Buru-buru ditancapnya gas supaya bisa cepat juga sampai di rumah sakit.
“Sabar ya, Tari..” bisik Yos lembut sembari satu tangannya menggenggam tangan Tari, sementara satu tangannya lagi memegang kemudi.
Tari tidak banyak bereaksi. Dia hanya mampu memandang Yos dengan tatapan penuh rasa terima kasih.
Sampai di rumah sakit, Tari langsung ditangani di bagian IGD. Ada beberapa koas yang sedang bertugas jaga di sana.
“Lapor dokter Addy, Dok.” Ujar suster Rini setelah memasang uap untuk Tari.
“Memang pasien apa dia, Sus? Periksa statusnya aja belum. Belum puas ya lihat saja didamprat dokter Handoko?” sahut Dokter Aldo sembari meraba nadi Tari.
“Pacarnya yang nganter tadi udah laporan. Dia pasiennya dokter Addy. Nah, tunggu apa lagi?”
__________________
Jangan takut bermimpi, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu 
|
|
|
October 18, 2009, 03:48
|
#24
|
|
-strawberry-
Join Date: Jan 2007
Location: di dasar laut terdalam
Posts: 3,718
WebPoint: 0 GaulPoint: 1945
|
Akhirnya dokter Aldo melangkah juga untuk memberi laporan pada dokter senior. Untung dokter Addy, bukan dokter Handoko lagi. Pagi tadi dia sudah didamprat dokter Handoko karena dianggap nggak beres membuat laporan. Dokter Aldo tentu nggak mau dimarahi buat yang kedua kalinya.
Dokter Addy yang langsung beranjak ke IGD setelah dijemput dokter Aldo di tempatnya, mengerutkan keningnya sejenak saat mengenali siapa gadis yang terbaring itu.
“Nadi lemah, Dok. lima puluh. Tekanan darahnya 100/60.” Lapor dokter Aldo seraya membuyarkan lamunan sesaat dokter Addy.
Pasien lagi sekarat koq dia masih sempat-sempatnya melamun! Nggak biasanya dokter Addy melamun saat menghadapi pasiennya.
Dokter Addy mengangguk. Dia meraih tangan gadis itu dan memastikan sendiri nadinya. Lemah.
Tari memang hampir kehilangan kesadarannya. Dia merasa begitu lemah hingga membuka matapun rasanya sulit sekali, namun Tari masih bisa mengenali laki-laki yag kini berdiri di hadapannya.
“Mentari, kamu masih bisa dengar saya bicara?” Tanya dokter Addy sembari menatap tepat di bola mata Tari.
Tari hanya mengangguk lemah. Ingin rasanya dia menangis karena malu. Dia tidak mau bertemu dengan dokter Addy dalam kondisi seperti ini.
“Kamu sudah sempat minum obat pagi tadi?” Tanya dokter Addy lebih lanjut.
Kali ini Tari menggeleng.
Dokter Addy menghela napasnya sebelum memanggil salah satu perawatnya. Belakangan perawat itu pergi dan kembali lagi dengan satu perangkat injeksi.
“Mentari, sehari ini lebih baik kamu di rawat di sini saja. Kondisi kamu lemah. Saya berikan dulu obat penenang supaya kamu bisa istirahat.”
Seandainya Tari sedang tidak dalam keadaan seperti ini, dia pasti sudah terheran-heran, bagaimana mungkin dokter Addy masih hafal namanya? Sekalipun mereka baru semalam bertemu, tapi pasien dokter Addy kan bukan hanya Tari! Atau dokter Addy memang punya kebiasaan menghafal nama pasiennya satu per satu? Akh…itu juga rasanya terdengar agak tidak lazim!
Tari memejamkan matanya saat dirasanya jarum suntik itu menembus kulitnya.
Dokter Addy masih berdiri di sisinya setelah itu. Dokter Addy masih memandangi wajah gadis itu sesaat.
Belakangan saat dia teringat masih ada keluarga pasien yang menunggu hasil pemeriksaan, dokter Addy sudah berniat meninggalkan Tari, namun belum sempat dia melangkah, ia merasa tangannya ditahan seseorang. Dokter Addy merasa tubuhnya mengejang seketika, seperti ada arus tegangan tinggi yang menyetrum saraf-sarafnya.
Terpaksa dokter Addy membalik kembali badannya, matanya yang menyiratkan bahwa dia agak gugup bertemu dengan mata Tari. Untung suster Rini yang juga sedang berada di dekat Tari tidak menyadari perubahan raut wajah dokternya. Dan dia juga tidak melihat Tari menggenggam tangan dokter Addy.
Tatapan Tari mengarah lurus ke mata dokter Addy. Entah apa yang ingin dikatakanya. Bibirnya seolah bergerak membentuk sebuah kata, namun tak sepatah katapun yang terlontar. Tari sudah memejamkan mata dan genggaman tangannya terlepas.
Sejenak dokter Addy menghela napas dan memejamkan matanya hanya sekedar untuk menenangkan dirinya sendiri yang baru saja seolah-olah merasakan suatu sensasi aneh. Dokter Addy mengangkat tangan kanan Tari yang menggantung dan meletakkannya di atas ranjang kembali, baru setelah itu ia keluar dari IGD.
“Sebaiknya dua hari ini Mentari dirawat di sini saja. Keadaan umumnya masih sangat jelek.” Ujar dokter Addy pada Yos dan bu Alya.
“Lalu keadaannya sekarang?” Tanya Yos lebih lanjut. Entah mengapa lama-lama Yos semakin tidak menyukai perigai dokter yang tengah berdiri di hadapannya ini. Kemarin memang Yos tidak punya firasat apa-apa, namun karena pagi ini dokter Addy sanggup menyebutkan nama Tari tanpa ada orang yang memberi tahu sebelumnya, tak urung Yos merasa punya saingan.
“Barusan saya berikan dia obat penenang, supaya dia bisa istirahat. Silahkan diurus saja di bagian rawat inap.” Ujar Dokter Addy sebelum akhirnya mempersilahkan Yos dan ibu masuk ke IGD dan ia sendiri kembali ke kamar prakteknya.
***
__________________
Jangan takut bermimpi, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu 
|
|
|
October 19, 2009, 02:11
|
#25
|
|
-strawberry-
Join Date: Jan 2007
Location: di dasar laut terdalam
Posts: 3,718
WebPoint: 0 GaulPoint: 1945
|
Dokter Addy menjatuhkan dirinya di kursinya. Matanya melirik ke arah jam kecil di atas meja prakteknya yang rapi dan teratur. Pukul sembilan lewat dua puluh menit. Masih ada empat puluh menit lagi sebelum mulai praktek di poliklinik.
Sejak awal kedatangannya, gadis itu memang sudah berbeda. Ada sesuatu di dalam dirinya yang begitu menggoda. Apa itu, dokter Addy sendiri tidak tahu.
Bayangan wajah Tari kembali memenuhi pikiran dokter Addy. Apa, apa yang sebenarnya ingin dikatakannya tadi? Pikirnya.
Tatapan Tari di IGD barusan masih berkelibat di benak dokter Addy. Entah mengapa ada yang lain di dalam tatapan itu, yang mampu mengusik ketenangan hati dokter Addy. Dia sudah bertahun-tahun bertugas sebagi dokter spesialis jantung di rumah sakit swasta ini, tapi baru kali ini dia merasa seperti ini.
Semenjak tadi malam sebenarnya dokter Addy sudah merasa agak berbeda. Tari memang gadis yang manis sekaligus anggun. Di usianya yang kedua puluh, Tari memang nampak bisa bersikap jauh lebih dewasa dari umurnya.
Matanya anggun, lentik dan menawan. Mata itu seperti mata seorang gadis yang masih polos, yang sedang menggeleparkan rindu. Semalam sebenarnya dokter Addy sudah merasa heran ketika melakukan echocardiography, karena beberapa kali dia mendapati Tari tengah mengamatinya!
Akh…apa-apaan ini? Kenapa aku jadi memikirkan dia. Dia hanya pasienku. Dia sama dengan pasien-pasien lainnya.
Dokter Addy menikmati capuccino hangat di mejanya untuk menenangkan pikirannya. Diteleponnya dulu istrinya yang jam segini pasti sedang bersiap-siap berangkat kerja. Dewi memang bekerja sebagai seorang perawat senior di sebuah rumah sakit pemerintah di Jakarta.
“Sudah mau berangkat, Dewi?” Tanya dokter Addy begitu Dewi menjawab telepon.
“Sebentar lagi, Mas. Aku sedang siapin bumbu buat dimasak Bi Munah.”
“Nanti sore aku jemput di tempat biasa ya, Dewi?”
“Sepertinya aku pulang agak terlambat, Mas. Mau mampir ke asrama dulu. Tadi dapat telepon, katanya Bu Anita sakit.”
“Jam berapa jadi pulangnya?”
“Jam tujuh malam mungkin.”
“Ya sudah, nggak apa-apa. Nanti malam aku jemput di asrama saja.”
“Mas belum mulai praktek?”
“Sebentar lagi, Dewi. Jangan lupa sarapan dulu sebelum berangkat, Dewi.”
“Iya, Mas. Nanti setelah ini aku sarapan.”
“Ya sudah kalau begitu. Hati-hati ya, Dewi.”
“Mas juga ya.”
“Iya. Sampai nanti.”
Suster Hanung masuk tepat ketika dokter Addy baru memutus sambungan teleponnya. Pagi ini suster Hanung yang bertugas menemani praktek dokter Addy.
“Selamat pagi, Dokter!” sapanya hangat sembari menyuguhkan seuntai senyum manis pada dokter Addy.
“Sudah ada berapa pasien, Suster?” Tanya dokter Addy setelah membalas salam perawat itu.
“Sudah dua yang nunggu di luar. Mau mulai sekarang atau tunggu sepuluh menit lagi, Dok?”
“Mulai sekarang saja, Suster. Saya juga nggak bikin apa-apa. Kasih kalau mereka harus menunggu lama sementara saya cuma santai-santai saja di sini.”
Suster Hanung mengangguk. Dokter Addy memang begitu. Selalu mengutamakan pasien-pasiennya. Makanya dari empat orang dokter spesialis jantung yang bertugas di rumah sakit itu, pasien dokter Addy yang paling banyak. Sekali duduk di poli, bisa menangani sampai sepuluh pasien, kalau dokter yang lain, paling banyak hanya delapan pasien. Karena itu juga dokter Addy selalu mulai praktek lebih awal dan selesai praktek paling akhir. Waktu prakteknya hanya dari jam sepuluh sampai jam 12 siang, sementara satu pasien kadang bisa sampai 20 menit di ruangannya. Nah, hitung saja berapa lama waktu yang dibutuhkan Dokter Addy untuk menangani sepuluh pasien.
***
__________________
Jangan takut bermimpi, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu 
|
|
|
October 19, 2009, 02:12
|
#26
|
|
-strawberry-
Join Date: Jan 2007
Location: di dasar laut terdalam
Posts: 3,718
WebPoint: 0 GaulPoint: 1945
|
Jam satu siang, seusai pasien terakhir keluar dari kamar prakteknya, Dokter Addy menghubungi bagian IGD dan minta bicara dengan koas Aldo.
“Selamat siang, Dokter. Ada yang perlu saya lakukan, dokter?” Tanya koas Aldo ketika menerima telepon.
“Pasien Mentari yang tadi pagi masuk itu gimana keadaannya? Kamu sudah visit siang ini?”
“Belum, Dokter. Saya belum sempat visit. Saya masih jaga di IGD. Ryani datang agak telat. Masih ada mata kuliah katanya.”
“Oh, ya sudah. Kalau begitu biar saya saja yang ke ruangan dia. Kebetulan memang ada perlu juga.”
Uh, lega! Biasanya kalau dokter Handoko atau dokter Miranti yang nanya dan jawaban yang diberikan koas-nya ‘belum’, mereka pasti langsung ngomel-ngomel nggak berhenti. Dokter Addy memang paling ramah dan paling sabar! Dokter favorit para koas!
“Tapi bukan artinya kamu bebas dari tugasmu bikin status, Aldo.” Dokter Addy mengingatkan, “Besok pagi saya tunggu statusnya di meja saya. Kalau belum jadi, hem…besok kamu bakal sarapan di ruangan saya.”
“Dokter yang traktir ya?” canda koas Aldo. Nah, ini juga kelebihan dokter Addy. Dia senang diajak bercanda dengan mahasiswa-mahasiwanya. Coba dokter Handoko, baru diajak ngelucu dikit aja dia marah-marah. Katanya dokter itu harus selalu serius dan nggak boleh bercanda. Padahal kan dokter juga manusia, yang butuh hiburan!
“Ya! Saya traktir makan bertiga dengan Dokter Handoko.”
Terdengar lepas tawa koas Aldo di seberang sana.
“Ya sudah, lanjutkan saja tugasmu, Aldo! Jangan kebanyakan ketawa, nanti salah suntik pasien lho!”
“Baik, Dokter. Terima kasih, Dokter. Selamat siang.”
Setelah memutuskan sambungan telepon, dokter Addy bergegas keluar dari kamar prakteknya dan menemui Tari.
***
__________________
Jangan takut bermimpi, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu 
|
|
|
October 19, 2009, 03:49
|
#27
|
|
-strawberry-
Join Date: Jan 2007
Location: di dasar laut terdalam
Posts: 3,718
WebPoint: 0 GaulPoint: 1945
|
Tari sedang berbaring di tempat tidurnya sembari melamun. Ibu sedang pulang mengambil baju, Yos sendiri sudah kembali ke kantor. Kalin juga belum pulang sekolah.
Tari sendiri di ruangannya, walaupun sebenarnya kamarnya kamar kelas dua, yang biasanya diisi tiga orang, hanya saja sedang tidak ada pasien lain di sisi-sisinya.
Tari masih sibuk melamun saat pintu kamarnya terdengar di tarik dari luar.
Tari segera mengarahkan tatapannya ke arah pintu. Siapa tahu ibu atau Kalin yang datang. Tapi yang muncul dari balik pintu justru dokter Addy! Dan dia sendiri, tanpa perawat-perawatnya!!
“Selamat siang, Mentari.” Ujarnya sembari menghampiri Tari.
“Siang.” Balas Tari setenang mungkin. Tari nggak mau dokter Addy tahu kalau dia nervous!
“Sudah lebih enakan? Masih sakit dadanya?” Tanya dokter Addy lebih lanjut.
Tari hanya menggeleng.
Dokter Addy menghampiri ranjang Tari dan berdiri tepat di sisinya, membuat Tari merasa dag-dig-dug. Dari jarak sedekat ini, Tari bisa mencium wangi parfum dokter Addy. Harumnya membelai lembut saraf-saraf hidung Tari.
Hem…mengapa terasa enak benar wangi parfum ini. Ujar Tari dalam hatinya.
“Boleh saya periksa dulu?” Tanya dokter Addy.
Tari hanya mengangguk, karena memang hanya itu yang bisa dilakukannya. Masa mau menggeleng? Walaupun sebenarnya kalau bisa, Tari nggak mau diperiksa sekarang. Bisa ketahuan lagi nih kalau jantungnya berdebar-debar. Lagian, ini juga bukan jam visit koq! Jam visit masih nanti sore, jam lima. Ini baru jam satu siang!
Dokter Addy meraih pergelangan tangan Tari dan meraba nadinya sesaat.
Tidak ada komentar sampai dokter Addy selesai melakukan pemeriksaan.
Dokter Addy berkomentar justru setelah Tari mengancing kembali bajunya.
“Kamu ini aneh. Semalam kita bertemu, kamu masih baik-baik saja, koq paginya kita ketemu di IGD? Memangnya semalam kamu ngapain, Mentari?
Pulang dari rumah sakit, kamu dugem?”
Tari tersenyum. Tuh kan, dokter Addy memang pandai melucu! Pantas saja pasiennya betah.
“Semalam saya agak demam, Dokter.” Jawab Tari.
“Ibu dan pacar kamu mana? Koq sendiri saja?”
“Ibu pulang ambil baju. Pacar saya sudah kembali ke kantor.”
“Oh…” gumannya pelan.
Tari merasa semakin salah tingkah, tapi sekaligus senang. Entah perasaan apa ini namanya, yang jelas dia senang bisa berdua dengan dokter Addy seperti ini.
“Oh ya, Mentari, waktu itu kamu bilang kamu kerja di travel kan?” Dokter Addy sudah mengganti topik pembicaraannya.
Tari mengangguk.
“Begini, dalam waktu dekat ini saya punya rencananya berlibur ke Bali dengan istri saya, nah, bisa nggak saya pesan tiket di tempat kamu saja? Supaya nggak repot harus cari travel lain.”
Istri….
Kata-kata itu membuat senyum yang sejak tadi mengembang di wajah Tari sedikit memudar.
Jadi benar dokter Addy sudah punya istri…mencelos rasanya hati Tari mendengarnya. Dan dokter Addy ingin mengajak istrinya ke Bali? Aduh…pasti romantis sekali.
“Bisa nggak, Mentari?”
Tari buru-buru mengangguk, “Bisa koq, Dokter.”
“Kalau begitu, boleh saya minta nomor telepon atau nomor handphone kamu?” Tanya dokter Addy lebih lanjut.
Tari sekali lagi mengangguk. Tari menyebutkan nomor telepon genggamnya dan memberi tahu alamat kantornya.
“Terima kasih banyak, Mentari.”
“Panggil saja, Tari.” Ujar Tari.
“Oh, nama panggilan kamu Tari ya?”
Tari mengangguk.
***
__________________
Jangan takut bermimpi, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu 
|
|
|
November 03, 2009, 04:55
|
#28
|
|
-strawberry-
Join Date: Jan 2007
Location: di dasar laut terdalam
Posts: 3,718
WebPoint: 0 GaulPoint: 1945
|
yaaahhhhh...terpaksa nih novel gak bisa berlanjut di sini...
__________________
Jangan takut bermimpi, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu 
|
|
|
Posting Rules
|
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts
HTML code is Off
|
|
|
All times are GMT. The time now is 07:40.
|
|