September 24, 2009, 02:44
|
#46
|
|
catlovers
Join Date: Jun 2008
Posts: 47,346
WebPoint: 0 GaulPoint: 26.617
|
Tuhan Punya Rencana atas Setiap Makhluk
Valerina Daniel adalah seorang pemain piano handal. Namun sudah lama ia tidak tampil dalam peristiwa-peristiwa besar. Karena itu, kalau belakangan ini Valerina Daniel kembali mendengarkan musik klasik, bukan cuma karena ingin mengasah kembali kemampuannya bermain piano. Rupanya Valerina yang kini berusia 28 tahun ini punya tujuan lain mendengarkan musik klasik.
Duta Lingkungan ini berkata, ”Kan, kalau usia kandunganku sekarang ini yang 4,5 bulan, katanya bayi sudah bisa dengar musik.”
Menurut Valerina, musik klasik memiliki ketukan yang bisa membuat pola pikir bayi jadi teratur. Karena itu, setiap malam sebelum tidur ia menyempatkan diri mendengarkan musik klasik.
”Lucunya, bayi juga nendangnya mengikutin musik. Kalau musiknya lagi heboh, ya nendangnya juga jadi lebih semangat,” cerita Valerina antusias.
Valerina melahirkan bayinya itu akhir November 2008 lalu. Namun, dengan bersemangat ia bercerita tentang rencana lain. Hal ini berkaitan dengan Hari Cinta Puspa Satwa Nasional yang akan jatuh pada 5 November 2008 lalu.
”Pada enggak tahu kan, padahal udah dicanangkan dari 15 tahun yang lalu, lho,” kata Valerina tentang hari yang mengampanyekan perlindungan dan pelestarian hewan ini.
Mencintai dan melestarikan hewan mesti menjadi obsesi setiap warga negara. Mengapa? Karena hewan bukan sekedar makhluk yang digunakan untuk kepentingan manusia. Hadirnya hewan itu pada dasarnya dikehendaki Sang Pencipta. Mereka hidup bukan hanya untuk diri mereka sendiri. Mereka diciptakan untuk kepentingan alam semesta yang lebih luas.
Karena itu, kalau mereka diperlakukan dengan baik, alam semesta ini menjadi tempat yang aman dan damai bagi hidup manusia. Untuk itu, pelestarian alam mesti senantiasa diperjuangkan. Valerina Daniel telah menunjukkan niat baiknya untuk melestarikan hewan yang mesti dilindungi. Meski ia baru melahirkan anaknya, ia tetap memiliki kepedulian terhadap hewan yang hampir punah dari dunia ini. Ia berusaha untuk melestarikan hewan-hewan itu. Dengan demikian spesies langka dapat berkembang biak sesuai dengan yang dikehendaki oleh Sang Pencipta.
Sebagai orang beriman, apa yang semestinya kita lakukan terhadap hewan yang cenderung semakin punah? Atau apa yang sudah kita buat untuk melestarikan hewan yang terancam punah? Kita semua diajak untuk memperlakukan hewan sebagai ciptaan Sang Pencipta. Tuhan punya tujuan tertentu, ketika menciptakan alam semesta termasuk hewan. Karena itu, ketika kita melestarikan hewan yang hampir punah, kita memberi suatu penghargaan yang besar terhadap Sang Pencipta. Mari kita tak henti berjuang untuk melestarikan hewan yang hampir punah. Tuhan memberkati. **
Frans de Sales, SCJ
NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.
161
|
|
|
|
Recommendation
|
Sponsored Ads
|
|
|
|
September 24, 2009, 02:45
|
#47
|
|
catlovers
Join Date: Jun 2008
Posts: 47,346
WebPoint: 0 GaulPoint: 26617
|
Berusaha Menggapai Kebahagiaan
Lionel Richie adalah seorang penyanyi legendaris yang bisa bertahan selama empat decade. Selama karirnya, pria berusia 56 tahun itu telah meraih lima Grammy Awards. Ia mengatakan bahwa sumber insprasi dari lagu-lagunya adalah ayah dan ibunya sendiri. Kebanyakan lagu yang diciptakan ia tulis saat tinggal bersama ayah ibunya di Alabama, USA. Dan tiga dari 5 Grammy Awards itu didapatkan dari lagu-lagu yang diciptakannya ketika tinggal bersama mereka. Luar biasa.
Ketika ditanya tentang apa yang paling berarti dalam hidupnya, Richie mengatakan ada tiga hal. Pertama, keluarga. Dia berkata, “Saya mempunyai tiga anak yang sangat mengagumkan. Mereka bertiga itulah yang menjadi kritikus saya yang paling loyal. Mereka memberi saran-saran tentang lagu atau pakaian yang saya kenakan di panggung.” Kedua adalah ia menikmati pekerjaannya dalam bermain musik. Ia mendambakan pekerjaan itu sejak kecil. Karena itu, ia sungguh-sungguh menikmatinya. Hal ketiga adalah kesehatan. Meskipun sudah berusia 56 tahun, Rechie masih tampak segar bugar dan energik.
Ketika ditanya resepnya, ia mengatakan ada tiga hal. Pertama, ia menikmati penampilannya di panggung. Selama dua setengah jam pentas di panggung, ia berkeringat dan merasa benar-benar sehat seperti berolahraga. Kedua, faktor keturunan. Nenek dari pihak ibunya meninggal pada usia 104 tahun dan ayahnya mencapai umur 98 tahun. Ketiga, ia berusaha selalu merasa bahagia.
Menarik sekali resep hidup Lionel Richie. Kebahagiaan dalam hidup itu membantu seseorang memiliki usia yang panjang dan sehat. Hidup yang bahagia itu tidak mesti ditandai dengan kesuksesan di berbagi bidang kehidupan. Ukuran hidup bahagia itu juga tidak diukur dari banyaknya harta yang dimiliki. Justru orang akan memiliki hidup yang bahagia, ketika ia hidup aman dan tenteram.
Gangguan-gangguan dalam hidup sering muncul ketika orang merasa hidup ini mesti dipenuhi dengan berbagai fasilitas hidup. Akibatnya, orang berusaha sekuat tenaga untuk mencurahkan seluruh hidupnya untuk mengejar fasilitas hidup itu. Mereka menyangka bahwa hanya dengan cara itu mereka menemukan kebahagiaan dalam hidup. Ketika keinginan tidak tercapai, mereka akan mengalami frustrasi dalam hidup. Kebahagiaan tidak tercapai.
Sebagai orang beriman, kita mesti memiliki keyakinan bahwa kebahagiaan hidup itu dapat ditemukan dalam relasi yang baik dengan Tuhan dan sesama. Untuk itu, membangun relasi yang baik itu sangat penting dalam hidup ini. Hidup akan menjadi lebih bahagia, kalau orang berani menyerahkan hidup kepada Tuhan. Kita yakin bahwa Tuhan yang baik itu senantiasa menyertai perjalanan hidup kita. Hanya Tuhan yang mampu memberikan kebahagiaan sejati kepada kita.
Karena itu, mari kita biarkan Tuhan terlibat dalam hidup kita. Kita beri kesempatan kepada Tuhan untuk masuk dan tinggal di dalam hati kita. Tuhan memberkati. **
Frans de Sales, SCJ
NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.
162
|
|
|
September 24, 2009, 02:47
|
#48
|
|
catlovers
Join Date: Jun 2008
Posts: 47,346
WebPoint: 0 GaulPoint: 26617
|
Mewariskan Nilai-nilai bagi Sesama
Waktu merayakan ulang tahunnya ke-85, almarhum Prof Sartono, mantan guru besar Fakultas Ilmu Budaya, UGM, meluncurkan buku berjudul "Sejak Indische sampai Indonesia. Buku itu merupakan kumpulan 27 tulisannya yang dimuat di media massa antara tahun 1989 hingga 2000. Buku ini berbeda dari buku-bukunya sebelumnya yang merupakan buah pikirannya secara utuh.
Ketika memperkenalkan bukunya, Prof. Sartono berkata, “Saya selalu ingat dulu ada kritikan dari orang muda UGM yang mengatakan, kalaupun ada karya manula, biasanya hanya berupa kumpulan karangan. Ternyata itu terjadi pada saya.” Meskipun begitu, menurut Prof Dr. Taufik Abdullah, buku setebal 316 halaman itu bukan sekadar kumpulan tulisan. Ia berkata, “Buku itu memperlihatkan corak kerja sesungguhnya dari seorang yang telah memilih kariernya sebagai sejarawan.”
Di hadapan tamu-tamunya, yang sebagian besar adalah murid atau mantan muridnya, Prof. Sartono memberikan nasihat. Salah satu pesan penting yang disampaikan adalah harapan agar generasi muda, khususnya sejarawan, tetap memegang prinsip mengandalkan kekuatan batin dan tidak bertumpu pada kemegahan dunia. Menurut dia, seseorang tidak pernah dinilai dari harta yang ia miliki, tetapi dari apa yang telah ia perbuat untuk orang lain. Ia berkata, “Lihat saja semua tokoh besar yang sudah meninggal. Tidak ada dari mereka yang dikenal karena memiliki mobil mewah atau rumah, tetapi karena karya yang telah ia buat selama hidupnya.”
Sesuai dengan prinsipnya, ia berusaha meninggalkan karya yang bermanfaat bagi orang banyak. Selain puluhan buku yang ditulisnya, ia juga melahirkan banyak sejarawan terkenal, seperti Kuntowijoyo, Taufik Abdullah dan Ibrahim Alfian. Dekan FIB UGM, Syamsul Hadi, menyebut Prof Sartono sebagai lumbung ilmu para sejarawan. Ia berkata, "Prof Sartono adalah guru dari tujuh generasi sejarawan di Indonesia. Ini tentu luar biasa.”
Meskipun sudah berusia 85 tahun, ia tidak berhenti berkarya. Ia masih berusaha menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat.
Orang egois hanya memikirkan kepentingannya sendiri atau paling banter keluarganya. Orang sosial berusaha berbuat baik bagi orang lain seperti apa yang dilakukan Prof Sartono. Orang saleh berbuat baik lebih dari itu. Ia berbuat baik kepada orang lain sebagai bentuk pengabdian kepada Tuhan, agar Tuhan dipermuliakan dan orang yang ia layani menerima berkat terbesar.
Sebagai orang beriman, kita semua dipanggil untuk terus-menerus berbuat baik bagi Tuhan dan sesama. Perbuatan baik yang kita lakukan itu akan sangat berharga bagi sesama. Untuk itu, orang mesti mampu menanggalkan egoismenya. Orang mesti berani membuka hatinya kepada Tuhan yang telah memberinya kehidupan.
Dengan cara ini, orang beriman dapat berguna bagi sesamanya. Orang tidak hanya memikirkan dirinya sendiri. Memikirkan orang lain dalam hidup ini merupakan suatu keutamaan yang mesti dikembangkan oleh orang beriman. Mari kita tidak jemu-jemu berbuat baik, karena Tuhan akan berkenan kepada kita. Tuhan memberkati. **
Frans de Sales, SCJ
NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.
163
|
|
|
September 24, 2009, 02:48
|
#49
|
|
catlovers
Join Date: Jun 2008
Posts: 47,346
WebPoint: 0 GaulPoint: 26617
|
Tetap Memiliki Semangat Berusaha
Masa kecil Walt Disney ternyata tidak seceria kisah-kisah kartun yang digagasnya. Elias, ayahnya, sering gonta-ganti pekerjaan, tetapi lebih banyak gagalnya sehingga ekonomi keluarga mereka morat-marit. Selain itu, ayahnya pelit menunjukkan kasih sayang, sehingga anak-anaknya segera meninggalkan dia begitu mendapat kesempatan.
Si bungsu Walt Disney juga demikian. Ketika berusia 16 tahun, ia bergabung dengan Korps Ambulans Palang Merah selama Perang Dunia Pertama. Ia juga sempat bekerja di redaksi surat kabar, tetapi ia dipecat karena dianggap kurang kreatif. Kemudian, ia menjadi artis komersial di Kansas City, USA. Di sinilah ia mulai mengenal animasi. Antara 1926-1928 Disney memproduksi serial kartun Oswald the Rabbit untuk Universal Pictures.
Pada awal 1928, Disney mulai memperkenalkan tokoh kartunnya yang paling populer, Mickey Mouse, dalam film kartun Plane Crazy. Mickey Mouse mendapat banyak pujian karena dipandang menggambarkan semangat Amerika yang tidak pernah menyerah.
Tahun 30-an, Disney merangkul Technicolor untuk membuat film berwarna. Film berwarna pertama Disney adalah Flowers and Trees (1932). Meskipun ia bukan pembuat film animasi yang baik, ia membuktikan dirinya sebagai pembuat lelucon dan penyunting cerita kelas wahid. Dengan anggota tim artis-artis muda yang bersemangat, tim Disney berkembang dalam teknik dan ekspresi.
Film panjangnya yang pertama, Snow White and Seven Dwarfs, semula diragukan banyak orang karena dianggap naif dan sentimentil. Namun, ternyata publik menerima film ini dengan baik. Sampai berpuluh-puluh tahun kemudian, film ini terus ditonton orang. Disney terus melakukan eksplorasi teknik dalam film-film berikutnya. Dua filmnya: Pinochio yang gelap dan brilian dan Fantasia yang ambisius sangat kaya dengan inovasi teknik.
Perjuangan Walt Disney dalam kisah di atas sangat menarik. Ia tidak mau menyerah begitu saja pada keadaan. Ia berusaha bangkit dari kegagalan hidupnya. Satu hal yang juga menarik adalah ia tidak mau menyalahkan siapa-siapa dalam hidupnya. Ia berusaha untuk menerima kenyataan hidupnya dan berusaha memperbaiki hidupnya.
Hanya dengan cara seperti inilah orang akan mampu bangkit dari keterpurukan hidupnya. Untuk itu, orang mesti belajar terus-menerus untuk memperbaiki hidupnya. Orang tidak boleh berhenti melakukan inovasi dalam hidupnya.
Banyak rintangan dan tantangan yang kita hadapi dalam dunia ini. Apalagi di jaman serba sulit seperti sekarang ini. Apapun rintangan dan tantangan yang kita hadapi, kita mesti tetap berusaha untuk berjuang terus. Hanya dengan cara ini, kita akan menemukan kebahagiaan dalam hidup kita. Tuhan senang pada orang yang berani untuk menghadapi rintangan dan tantangan.
Namun Tuhan tidak pernah tinggal diam. Tuhan selalu membantu umat-Nya. Tuhan tidak pernah melupakan umatNya berjuang sendiri. Ia akan selalu membantu umat-Nya. Karena itu, sebagai orang beriman, kita mesti menanamkan dalam diri kita bahwa berusaha terus-menerus bersama Tuhan akan membahagiakan hidup kita. Tuhan memberkati. **
Frans de Sales, SCJ
NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB. 164
|
|
|
September 24, 2009, 02:49
|
#50
|
|
catlovers
Join Date: Jun 2008
Posts: 47,346
WebPoint: 0 GaulPoint: 26617
|
Kalau Mau Berusaha selalu Ada Kesempatan
Burung Sterna, burung kecil sejenis camar, tinggal di Afrika dan berkembang biak selama belahan bumi bagian utara mengalami musim panas. Ketika musim dingin tiba, burung laut itu melakukan migrasi, pindah ke selatan, ke Antartika, dengan menempuh jarak sejauh 15.000 kilometer untuk mendapatkan musim panas di bagian selatan. Ini merupakan salah satu migrasi terpanjang daripada yang dilakukan burung lainnya.
Dengan pindah ke selatan, mereka mendapatkan keuntungan, yaitu waktu siang hari yang lebih panjang untuk mencari makan. Pada waktu musim berganti lagi, dan musim panas mulai tiba di Antartika, burung-burung itu sekali lagi terbang menempuh jarak 15.000 kilometer kembali ke tempat asal mereka. Dengan demikian, burung Sterna bisa terus mencari makan dan mendapatkan cahaya matahari sepanjang tahun.
Musim dingin melambangkan kepasifan. Banyak binatang yang tidur panjang selama musim dingin seperti beruang, serigala dan ular. Namun burung Sterna tidak demikian. Jika musim dingin tiba, mereka pindah ke tempat lain yang lebih hangat di mana musim panas berlangsung. Dengan sayap kecilnya, burung-burung itu terbang menempuh jarak yang sangat jauh untuk mencari kehangatan dan makanan. Dalam satu tahun, mereka melakukan perjalanan dua kali, menempuh jarak 30.000 kilometer pergi pulang, agar tidak mengalami musim dingin dan dapat mencari makan.
Kisah di atas sangat menarik bagi hidup kita. Burung-burung kecil yang tampak kurang berdaya, ternyata mampu menggunakan instingnya untuk mempertahankan hidup. Tentu saja mereka telah dibekali kemampuan oleh Yang Mahakuasa, agar tidak begitu saja mati dalam kesia-siaan. Mereka mesti berusaha untuk mempertahankan hidup.
Manusia adalah makhluk yang lebih mulia dan lebih berakal budi daripada binatang. Kalau burung saja tetap dapat bertahan hidup dan terhindar dari musim dingin yang membekukan, kita tentu saja juga bisa bertahan dalam masa-masa yang sulit, asal kita mau bekerja keras, rajin dan kreatif mencari peluang.
Sebagai orang beriman, kita diajak untuk semakin hari semakin membuka diri untuk begitu banyak peluang yang ada. Orang yang tidak berani melihat peluang dalam hidupnya itu orang yang kurang beriman. Orang begitu mudah menyerah pada nasibnya. Orang yang beriman kuat itu dengan gagah berani menghadapi berbagai tantangan hidupnya. Ia tidak mudah menyerah pada garis tangan kehidupan. Mengapa? Karena ia mengandalkan Tuhan. Di dalam Tuhan, orang beriman menemukan peluang-peluang untuk kebahagiaan hidupnya.
Mari kita tetap berusaha untuk mendapatkan kesempatan-kesempatan dalam meraih sukses dalam hidup kita. Tuhan memberkati. **
Frans de Sales, SCJ
NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.
165
|
|
|
October 03, 2009, 14:37
|
#51
|
|
catlovers
Join Date: Jun 2008
Posts: 47,346
WebPoint: 0 GaulPoint: 26617
|
Makna Kejujuran dalam Hidup
Suatu hari seorang anak gembala menggembala ternaknya di padang tepi sebuah hutan. Beberapa lama kemudian ia merasa bosan, karena padang itu sunyi. Dia kemudian berpikir untuk membuat sebuah lelucon. Lalu ia berteriak, "Serigala… Serigala ... Seekor serigala menyergap dombaku! Tolong..!"
Dia yakin orang-orang dari desa terdekat, jika mendengar teriakannya, akan segera datang memberi bantuan dan itu akan mengusir kebosanannya. Benar, teriakannya menarik perhatian penduduk desa. Mereka segera datang bersenjatakan tongkat dan pentung, siap untuk menghalau serigala.
"Di mana serigalanya?" tanya mereka ketika mereka tidak melihat seekor serigala pun.
Anak gembala itu spontan menjawab, "Oh, tidak ada serigala! Saya hanya melucu saja." Ia tertawa terbahak-bahak.
Dengan marah, seorang penduduk desa berkata, "Tidak bisa melucu seperti ini!" Mereka kemudian pergi sambil bersungut-sungut.
Akan tetapi si anak gembala melakukan hal yang sama untuk kedua dan ketiga kalinya. Penduduk desa yang marah itu sampai mengancam akan memukulnya, jika dia berkata yang tidak benar lagi.
Suatu hari seekor serigala benar-benar memangsa domba-dombanya. Anak gembala itu berteriak minta tolong, tetapi sia-sia. Para penduduk desa berpikir bahwa itu hanya lelucon. Akibatnya, serigala berhasil membawa lari seekor domba miliknya dan anak gembala itu pun sangat sedih.
Kejujuran ternyata masih diperlukan di jaman sekarang ini. Pembangunan bangsa dapat berjalan dengan baik kalau ada kejujuran. Sekarang ini sebenarnya begitu banyak orang mempertanyakan kejujuran dari para pemimpin bangsa baik di eksekutif, legislatif maupun yudikatif. Pasalnya adalah begitu maraknya korupsi yang terjadi di berbagai lembaga negara kita.
Ketidakjujuran yang terjadi dengan adanya korupsi, kolusi dan nepotisme itu mesti dibayar mahal oleh masyarakat bangsa ini. Ada begitu banyak anggota masyarakat yang mesti menangis pilu, karena lilitan kemiskinan dalam hidup mereka. Gizi yang tidak cukup telah menyebabkan busung lapar dari anak-anak bangsa ini. Kalau hal seperti ini selalu terjadi akan berkibat buruk bagi kelangsungan generasi masa depan bangsa ini.
Kita akan memiliki suatu generasi penerus bangsa yang lemah dalam berbagai segi kehidupan. Mengapa? Karena terjadi kebohongan demi kebohongan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kita telah menciptakan kecurigaan demi kecurigaan terhadap diri kita sendiri. Siapa yang mau percaya kepada kita, kalau kita mendasarkan hidup kita di atas kebohongan?
Kisah anak gembala tadi menjadi inspirasi sederhana bagi kita. Berkata yang benar masih sangat dibutuhkan di jaman sekarang ini. Kalau kita berkata jujur, kita tidak akan mengalami kesia-siaan dalam perjalanan hidup kita.
Karena itu, sebagai orang beriman kita mesti senantiasa berusaha untuk jujur baik dalam kata maupun perbuatan. Orang yang jujur itu dikasihi oleh Tuhan. Orang yang jujur itu akan mendapatkan rahmat berlimpah dari Tuhan. Mari kita tetap bertahan dalam kejujuran dan kebenaran. Hanya dengan cara ini, kita akan mengalami sukacita dan damai dalam hidup kita. Tuhan memberkati. **
Frans de Sales, SCJ
NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.
167
|
|
|
October 03, 2009, 14:39
|
#52
|
|
catlovers
Join Date: Jun 2008
Posts: 47,346
WebPoint: 0 GaulPoint: 26617
|
Cacat Bukanlah Halangan untuk Maju
Rachmita Harahap adalah anak keempat dari enam bersaudara, anak Ali Harahap dan Masniarti Siregar. Fisik ayah dan ibunya sempurna, tetapi empat di antara anak mereka, termasuk Mita cacat pendengaran. Saat kecil, Mita tidak menyadari cacatnya. Ia baru tahu saat duduk di bangku SD. Tetapi hal itu tidak membuatnya minder. Ia bersekolah di SD Fransiskus Bukittinggi, Sumatera Barat. Awalnya, semua berjalan lancar, tetapi di kelas 4, ia tidak naik kelas, karena gangguan pendengaran yang dialaminya.
Sejak itu, Mita memakai alat bantu dengar dan sekolah di SLB. Juga setelah keluarga mereka pindah ke Surabaya, ia kembali sekolah di SLB Karya Mulia. Namun, ia tidak kerasan karena merasa pelajaran di SLB tertinggal dari sekolah umum. Ia hanya tahan satu tahun di SLB. Ketika kelas 6, ia pindah ke SD umum. Namun, karena cacatnya, ia sering diolok-olok teman-temannya, tetapi ia tidak peduli. Selain itu, karena menyadari cacat pendengaran, ia memilih duduk di depan. Namun, karena posturnya tinggi, ia menghalangi anak-anak yang duduk di belakangnya. Hal itu membuat teman-temannya kesal, tetapi ia pura-pura tidak tahu. Ia lulus SD dengan menduduki ranking ke-20.
Di SMP dan SMA, ia juga masuk sekolah umum dan selalu masuk ranking sepuluh besar. Hal itu membuatnya bertekad untuk melanjutkan sekolah ke universitas. Ia mendaftarkan diri ke jurusan arsitektur Universitas Mercu Buana, Jakarta. Ternyata pilihannya tidak salah. Ia berhasil menyelesaikan kuliahnya dalam tempo empat setengah tahun dan dinobatkan sebagai lulusan terbaik.
September 1997, Mita masuk S2 teknik desain interior ITB dan ia kembali menunjukkan kemampuannya bersaing dengan mahasiswa normal. Dalam waktu dua setengah tahun kuliahnya selesai. Saat ini, ia menjadi dosen di UMB. Meskipun awalnya sempat mengalami banyak tantangan, ia berhasil melewati semuanya.
Kisah Mita memberikan suatu semangat kepada para penderita cacat. Mereka yang mengalami cacat fisik tidak mesti putus asa dalam hidup ini. Ada banyak kesempatan yang dapat mereka lakukan, kalau mereka punya kemauan dan tekad baja untuk sukses dalam hidup ini.
Memang, mesti diakui bahwa cacat fisik sering kali membuat seseorang minder dan patah semangat. Namun Mita tidak mau menyerah, ketika menyadari cacat pendengarannya. Ia maju terus menghadapi berbagai tantangan. Ia membuktikan bahwa ia tidak kalah dengan orang yang normal. Cacat tidak perlu menghalangi prestasi seseorang.
Sebagai orang beriman, kita mesti sadar bahwa hidup kita selalu berada dalam naungan Tuhan. Dia akan membantu kita dengan memberikan kekuatan-Nya. Dia dapat membantu orang yang mengalami cacat fisiknya untuk terus-menerus berusaha dan maju. Namun Tuhan juga menuntut bahwa orang yang punya kekurangan dalam hidupnya itu mesti terus-menerus berjuang. Orang tidak boleh terpuruk dalam kekurangannya itu.
Kekurangan yang ada dalam diri kita mesti menjadi pemacu semangat untuk berusaha meraih sukses dalam hidup kita. Mari kita singkirkan semua penghalang dalam diri kita. Kita terus memiliki semangat untuk tetap maju dan berkembang dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **
Frans de Sales, SCJ
NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.
166
|
|
|
October 03, 2009, 14:40
|
#53
|
|
catlovers
Join Date: Jun 2008
Posts: 47,346
WebPoint: 0 GaulPoint: 26617
|
Berusaha Menepati Janji
Suatu hari dua orang sahabat sepakat untuk mengadakan perjalanan jauh bersama-sama. Mereka sahabat karib yang telah mengenal satu sama lain bertahun-tahun. Yang satu, beranji kepada yang lain, "Aku akan mendampingimu dalam kesulitan dan kegembiraan. Apa pun yang terjadi aku tetap bersamamu lebih-lebih dalam kesulitan di perjalanan."
Teman yang kedua, yang sedikit lemah dan penakut sangat senang mendengar janji itu. Mereka kemudian bepergian bersama-sama. Dalam perjalanan itu mereka harus melewati sebuah hutan lebat. Karena janji itu, teman yang lemah tidak takut. Akan tetapi, sesudah setengah perjalanan tiba-tiba muncul dari kejauhan seekor beruang besar. Segera teman yang kuat itu memanjat sebatang pohon untuk menyelamatkan diri, meninggalkan temannya. Teman yang lemah tidak dapat mengikuti apa yang dilakukan oleh teman yang kuat. Di saat panik itu tiba-tiba muncul gagasannya. Dia segera berbaring di tanah pura-pura mati. Dia menutup matanya rapat-rapat dan tidak berani bernafas.
Teman yang di atas pohon mengamati beruang mendekati sahabatnya. Beruang melangkah ke tempat orang itu berbaring, berjalan mengelilinginya, berhenti sesaat dekat telinganya dan dengan tenang pergi menghilang. Dengan rasa lega teman yang berada di pohon itu turun, sementara yang satunya duduk.
"Aku mengamati beruang itu tampaknya membisikkan sesuatu kepadamu," kata teman yang lebih kuat.
"Ya, beruang itu berbisik bahwa begitu bodohnya aku mempercayai engkau," jawab orang itu dengan sikap dingin.
Sebuah janji mesti ditepai. Mengapa? Karena janji itu adalah utang yang mesti dilunasi. Kalau tidak, sebuah janji hanya meninggalkan rasa tidak damai di dalam hati seseorang. Kisah di atas mau menunjukkan bahwa sebuah janji yang tidak ditepati itu sangat menyakitkan hati. Suatu persahabatan bisa putus gara-gara janji yang tidak ditepati itu. Karena itu, orang mesti berani bertanggung jawab atas janji yang diucapkannya itu.
Dalam kehidupan berkeluarga ada janji perkawinan. Janji ini mesti ditepati oleh suami istri, agar hidup berkeluarga tetap harmonis. Kesetiaan pada janji perkawinan yang sudah diucapkan itu memberikan suatu bobot tersendiri dalam hidup berkeluarga. Dalam kesetiaan itu terjadi suatu suasana saling percaya. Ada kepastian dalam membangun hidup berkeluarga, karena suami istri saling percaya dan setia pada janji.
Keluarga seperti ini biasanya sebuah keluarga yang sungguh-sungguh menghayati iman kepada Tuhan. Sebuah keluarga yang tidak hanya mengandalkan kekuatannya sendiri dalam membangun hidup berkeluarga. Sebuah keluarga yang yakin bahwa tanpa bantuan Tuhan mereka tidak bisa berdaya.
Sebagai orang beriman, kita diajak untuk tetap setia pada janji yang telah kita ucapkan apa pun kondisi hidup kita. Hanya dengan setia dan menepati janji itu kita akan mendapatkan kepercayaan dari orang-orang di sekitar kita. Mari kita berusaha untuk tetap setia pada janji yang telah kita ucapkan. Kita laksanakan janji-janji itu demi kedamaian dan keharmonisan dalam hidup bersama. Tuhan memberkati. **
Frans de Sales, SCJ
NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.
168
|
|
|
October 03, 2009, 14:42
|
#54
|
|
catlovers
Join Date: Jun 2008
Posts: 47,346
WebPoint: 0 GaulPoint: 26617
|
Berusaha untuk selalu berbuat baik
Jaman dahulu hidup seorang budak bernama Androcles. Ia milik seorang majikan yang sangat kejam. Kendati pekerjaan yang dilakukan Androcles baik, majikannya memukulnya setiap hari. Androcles sedih karena itu. Dia berpikir untuk melarikan diri. Begitu mendapat kesempatan, suatu hari ia melarikan diri dari rumah majikannya.
Dalam pelariannya itu ia melewati sebuah hutan yang lebat. Tiba-tiba ia berjumpa dengan seekor singa ganas. Ketika mendengar auman singa itu, ia ingin lari. Tetapi ketika singa itu mengaum untuk kedua kalinya, ia merasakan ada perbedaan. Singa itu mengaum seolah sedang merintih kesakitan. Dengan tenang Androcles mendekati singa itu. Ketika melihat kedatangannya, singa itu melompat dan akan menerkamnya. Tetapi ternyata singa itu kemudian mengangkat cakarnya sambil memohon sesuatu.
Androcles merasa lebih yakin, ia kemudian mendekat. Ia melihat sebuah duri tertancap di salah satu cakar singa itu, sehingga cakar itu membengkak dan singa itu kesakitan. Androcles kemudian mengangkat cakar itu dengan lembut untuk mengeluarkan duri. Atas pertolongan itu, singa mencium tangan Androcles sebagai tanda terima kasih.
Androcles kemudian tinggal bersama singa itu beberapa hari. Ketika singa itu telah membaik, Androcles melanjutkan pelariannya. Akan tetapi, karena ia pergi tidak terlalu jauh, orang-orang majikannya segera menangkapnya. Ia dibawa kembali kepada majikannya.
Sebagai hukuman, Androcles dimasukkan penjara. Hari berikutnya di hadapan raja dan para pegawai istana ia dimasukkan ke dalam gelanggang, di mana seekor singa telah menanti memangsanya. Ketika seekor singa mendekat, Androcles menutup matanya karena takut. Ia sangat terkejut, ketika singa itu hanya menjilat tangannya. Ternyata singa itulah yang telah ia selamatkan. Singa itu ditangkap, ketika ia juga ditangkap. Raja menyaksikan peristiwa itu, kemudian beliau meminta penjelasan. Setelah mendengar cerita tentang hubungan Androcles dan singa itu, maka Androcles dan singa dibebaskan.
Kisah di atas tentu sangat menyentuh hati kita. Raja rimba itu ternyata mampu mengungkapkan rasa terima kasih atas bantuan yang diberikan kepadanya. Kebaikan ia balas dengan kebaikan. Kasih ia balas dengan kasih pula. Betapa indah, kalau hal ini tidak hanya hidup dalam cerita khayalan. Andai saja setiap manusia memiliki sikap yang demikian, tentu dunia ini akan semakin damai. Dunia ini menjadi tempat yang aman bagi hidup manusia.
Dalam hidup sehari-hari kita ditantang untuk senantiasa memberikan pelayanan yang terbaik bagi sesama yang kita jumpai. Mengapa? Karena sesama itu adalah bagian dari hidup kita. Mereka bukanlah orang asing. Ketika kita membantu sesama yang mengalami kesulitan dalam hidup, kita akan menemukan hidup yang damai dan tenang.
Sebagai orang beriman, kita mau mewujudkan iman kita itu dengan melakukan hal-hal yang terbaik bagi sesama kita. Pada dasarnya kita dipanggil untuk berbuat baik bagi sesama. Kalau toh yang terjadi adalah hal yang sebaliknya, tentu itu bukan niat kita.
Untuk itu, kita mesti tetap bertahan dalam perbuatan-perbuatan baik kita. Kita tidak boleh tergoda oleh berbagai tawaran menarik yang palsu. Sering orang begitu mudah untuk mengikuti bujuk rayu dari godaan-godaan. Ini bahaya. Godaan itu selalu menjerumuskan kita ke jurang yang dalam.
Mari kita berusaha untuk senantiasa berbuat baik bagi sesama kita. Hanya dengan melakukan kebaikan kita dapat menciptakan suatu dunia yang lebih baik, yang aman dan damai bagi hidup kita. Tuhan memberkati. **
Frans de Sales, SCJ
NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.
169
|
|
|
October 24, 2009, 02:08
|
#55
|
|
catlovers
Join Date: Jun 2008
Posts: 47,346
WebPoint: 0 GaulPoint: 26617
|
Keselarasan antara Kata dan Perbuatan
Sambil berjalan di pesisir pantai, seekor induk kepiting dan anaknya bercakap-cakap dalam suasana gembira. Akan tetapi, induk kepiting itu tiba-tiba marah. Induk kepiting itu membentak anaknya, "Lihat, betapa jeleknya caramu berjalan! Mengapa engkau tidak dapat berjalan seperti hewan yang lain? Semua hewan lain berjalan ke depan, tetapi engkau berjalan mundur."
Anak kepiting terperanjat mendengar kata-kata ibunya. Ia kemudian menjawab, "Tetapi ibu, aku belajar berjalan dari ibu. Aku berjalan seperti engkau sendiri. Jika ibu menginginkan aku berjalan ke depan, ibu sendiri harus berjalan ke depan."
Induk kepiting itu diam sesaat. Ia kemudian menyadari bahwa apa yang dikatakan anaknya itu benar. Karena itu, ia tidak mengatakan banyak hal lagi dan kemudian mengganti topik pembicaraan dengan sesuatu yang lebih menyenangkan.
Banyak janji diungkapkan oleh para calon presiden dan calon wakil presiden di saat kampanye pemilu sekarang ini. Mau bangun ini, bangun itu. Memberi nasihat ini, nasihat itu. Di setiap kelompok yang dikunjungi janji-janji itu berbeda-beda. Misalnya, ketika berada di tengah-tengah para petani, janjinya akan menyejahterakan petani dengan harga pupuk yang rendah, harga jual gabah yang tinggi, dll. Ketika berada di lingkungan mahasiswa perguruan tinggi negeri, janjinya akan menghapus undang-undang BHP. Ketika berada di lingkungan para ulama, janjinya akan membangun rumah ibadat untuk meningkatkan iman umat kalau nanti yang bersangkutan terpilih untuk memimpin negeri ini.
Banyak orang gampang berjanji, tetapi sulit melaksanakan apa yang dijanjikannya. Orang seperti ini biasa diibaratkan dengan tong kosong nyaring bunyinya. Omongnya banyak, tetapi tidak berisi.
Karena itu, orang seperti ini mesti menyadari dahsyatnya kata-kata yang diucapkan. Kata-kata itu bagai pedang bermata dua. Kata-kata itu memiliki kemampuan yang luar biasa yang memberi kekuatan dan pengaruh dalam kehidupan manusia. Apa yang dikatakan mesti membuahkan hasil yang berlimpah. Ini yang namanya kata-kata yang bertuah atau berbuahkan kebaikan bagi hidup manusia.
Untuk itu, orang mesti selalu waspada dalam bertutur kata. Setiap kata yang diucapkan itu mesti selalu diperhatikan. Karena itu, kata-kata itu dapat saja membuat orang tergelincir. Kata-kata itu dapat membuat orang kehilangan kepercayaan dari orang lain.
Sebagai orang beriman, kita ingin agar apa yang kita ucapkan itu selaras dengan apa yang kita lakukan. Artinya, tidak ada kesenjangan antara kata yang kita ucapkan dengan perbuatan kita. Mengapa mesti terjadi begini? Karena kepercayaan orang terhadap kita akan tetap bertahan. Orang tidak lagi meragukan kata-kata yang kita ucapkan, karena kata-kata itu menjadi nyata dalam perbuatan.
Mari kita berusaha mewujudkan ungkapan isi hati kita dalam perbuatan-perbuatan yang nyata. Dengan demikian hidup kita menjadi lebih damai dan bahagia. Tuhan memberkati. **
Frans de Sales, SCJ
NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.
170
|
|
|
October 24, 2009, 02:09
|
#56
|
|
catlovers
Join Date: Jun 2008
Posts: 47,346
WebPoint: 0 GaulPoint: 26617
|
Hidup itu Berharga
Ada pasangan suami isteri yang sudah hidup bersama beberapa lama tetapi belum mempunyai keturunan. Sejak 10 tahun yang lalu, sang istri terlibat aktif dalam kegiatan untuk menentang ABORSI, karena menurut pandangannya, aborsi berarti membunuh seorang bayi.
Setelah bertahun-tahun berumah-tangga, akhirnya sang istri hamil, sehingga pasangan tersebut sangat bahagia. Mereka menyebarkan kabar baik ini kepada famili, teman-teman dan lingkungan sekitarnya. Semua orang ikut bersukacita. Dokter menemukan bayi kembar dalam rahimnya, seorang bayi laki-laki dan perempuan. Tetapi setelah beberapa bulan, sesuatu yang buruk terjadi. Bayi perempuan mengalami kelainan dan mungkin bisa hidup sampai masa kelahiran tiba. Kondisinya juga dapat mempengaruhi kondisi bayi laki-laki. Jadi dokter menyarankan untuk dilakukan aborsi demi sang ibu dan bayi laki-lakinya.
Fakta ini membuat keadaan menjadi terbalik. Baik sang suami maupun sang istri mengalami depressi. Pasangan ini bersikeras untuk tidak menggugurkan bayi perempuan mereka, meski mereka juga kuatir terhadap kesehatan bayi laki-laki.
"Saya bisa merasakan keberadaannya, dia sedang tidur nyenyak," kata sang ibu di sela tangisannya. Lingkungan sekitarnya memberikan dukungan moral kepada pasangan tersebut dengan mengatakan bahwa ini adalah kehendak Tuhan.
Ketika sang istri semakin mendekatkan diri kepada Tuhan, tiba-tiba dia tersadar bahwa Tuhan pasti memiliki rencanaNya di balik semua ini. Hal ini membuatnya lebih tabah. Pasangan ini berusaha keras untuk menerima fakta ini. Mereka mencari informasi di internet, pergi ke perpustakaan, bertemu dengan banyak dokter, untuk mempelajari lebih banyak tentang masalah bayi mereka. Satu hal yang mereka temukan adalah bahwa mereka tidak sendirian.
Dalam hidup ini keyakinan akan penyertaan Tuhan mesti selalu dipupuk. Pasalnya, ketika orang salah mengambil keputusan akibatnya akan fatal bagi hidup. Orang tidak bisa begitu saja memutuskan sendiri atas sesuatu hal yang sangat penting. Apalagi hal itu berkenaan dengan kehidupan manusia.
Kisah di atas menunjukkan bahwa kasih sayang terhadap kehidupan itu mesti selalu didahulukan dalam hidup ini. Penghargaan terhadap kehidupan mesti di atas segala-galanya bagi orang yang beriman kepada Tuhan. Karena itu, setiap kali orang menghadapi persoalan dalam kehidupan ia mesti terus-menerus memperjuangkan kehidupan itu.
Bagi orang beriman, kehidupan itu mesti selalu diperjuangkan sejak dalam kandungan. Memperjuangkan kehidupan berarti menerima Tuhan sebagai pemberi kehidupan itu. Tuhan begitu sayang kepada manusia dengan memberi kehidupan baru bagi keluarga-keluarga. Untuk itu, orang beriman mesti mensyukuri pemberian Tuhan itu. Tuhan tidak menuntut kita dengan lantang mengucapkan terima kasih kepadaNya. Tuhan hanya mengharapkan kita memberi kesempatan hidup kepada setiap makhluk yang diciptakannya. Apalagi manusia yang merupakan ciptaan tertinggi dari yang Kuasa.
Mari kita perjuangkan kehidupan dalam kenyataan hidup sehari-hari. Kita biarkan Tuhan senantiasa menguasai hidup kita. Tuhan memberkati. **
Frans de Sales, SCJ
NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.
171
|
|
|
October 24, 2009, 02:11
|
#57
|
|
catlovers
Join Date: Jun 2008
Posts: 47,346
WebPoint: 0 GaulPoint: 26617
|
Hidup Itu Indah
Ada seorang ibu yang melahirkan anak kembar. Ia bahagia sekali menyaksikan sepasang anak kembarnya. Ia langsung memberinya nama Jeffrey dan Anne. Sebelum lahir, Anne diketahui memiliki kelainan pada jantungnya. Bahkan dokter telah mengatakan kepada ibunya bahwa Anne hanya akan dapat bertahan selama dua jam setelah lahir. Karena itu, ibunya memohon agar diberi kekuatan untuk
menghadapi keadaan itu. Ia yakin, Tuhan punya rencana sendiri atas anaknya itu.
Sang ibu kemudian berdiskusi dengan suaminya, bahwa jika benar apa yang dikatakan oleh dokter, mereka akan mendonorkan organ Anne. Ada dua bayi yang
sedang berjuang hidup dan sekarat, yang sedang menunggu donor organ bayi di rumah sakit itu. Pasangan ini berlinangan air mata. Dalam posisi sebagai orangtua, mereka bahkan tidak mampu menyelamatkan Anne. Pasangan ini bertekad untuk tabah menghadapi kenyataan yang akan terjadi.
Saat sang istri berhasil melahirkan kedua bayinya dengan selamat merupakan saat yang sangat berharga. Sang suami menggendong Anne dengan sangat hati-hati. Anne menatap ayahnya dan tersenyum dengan manis. Senyuman Anne yang imut tak akan pernah terlupakan dalam hidupnya. Tidak ada kata-kata yang mampu menggambarkan perasaan pasangan tersebut pada saat itu.
Mereka sangat bangga bahwa mereka sudah melakukan pilihan yang tepat. Mereka sangat bahagia melihat Anne yang begitu mungil tersenyum pada mereka. Tetapi mereka sangat sedih, karena kebahagiaan itu akan berakhir dalam beberapa jam saja. Sungguh, tidak ada kata-kata yang dapat mewakili perasaan pasangan tersebut. Mungkin hanya dengan air mata yang terus jatuh mengalir, air mata yang berasal dari jiwa mereka yang terluka.
Hidup ini milik Tuhan. Tidak ada orang yang berhak menentukan hari-hari hidupnya. Karena itu, yang mesti dilakukan oleh manusia adalah menerima fakta bahwa kita mesti mempertahankan hidup ini.
Kisah perjuangan orangtua untuk menerima kenyataan hidup anak mereka itu menjadi suatu inspirasi bagi kita. Hidup itu indah. Hidup itu memiliki makna yang sangat dalam bagi manusia. Tanpa hidup, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Tanpa suatu perjuangan untuk mempertahankan hidup ini, kita tidak berarti apa-apa.
Sebagai orang beriman, kita diajak untuk selalu memaknai hidup ini. Setiap hari kita menyaksikan hidup ini berakhir. Ada yang berakhir secara alami dan indah. Tetapi ada hidup yang mesti berakhir secara tragis dan mengenaskan. Kita merasa sedih, ketika kita menyaksikan akhir hidup yang tragis dari orang-orang yang dekat dengan kita. Kita merasa sedih ketika kehidupan yang kita perjuangan dengan berbagai cara mesti berakhir.
Bagi kita, yang penting adalah dalam kehidupan ini kita ingin berguna bagi sesama. Kita melakukan sesuatu untuk kebaikan sesama kita. Kebaikan itu membahagiakan orang lain. Kebaikan yang kita buat bagi sesama itu mendatangkan sukacita bagi mereka. Karena itu, mari kita tak jemu-jemu berbuat baik bagi sesama yang ada di sekitar kita. Tuhan memberkati. **
Frans de Sales, SCJ
NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.
172
|
|
|
November 09, 2009, 13:52
|
#58
|
|
catlovers
Join Date: Jun 2008
Posts: 47,346
WebPoint: 0 GaulPoint: 26617
|
Menemukan Kebahagiaan Hidup
Suatu hari, seorang ayah dan anaknya sedang duduk berbincang-bincang di tepi sungai. Kata ayah kepada anaknya, “Lihatlah anakku, air begitu penting dalam kehidupan ini. Tanpa air kita semua akan mati."
Pada saat yang bersamaan, seekor ikan kecil mendengarkan percakapan itu dari bawah permukaan air. Ia mendadak menjadi gelisah dan ingin tahu apakah air itu, yang katanya begitu penting dalam kehidupan ini. Ikan kecil itu berenang dari hulu sampai ke hilir sungai sambil bertanya kepada setiap ikan yang ditemuinya, “Hai, tahukah kamu di mana air? Aku telah mendengar percakapan manusia bahwa tanpa air, kehidupan akan mati.”
Ternyata semua ikan tidak mengetahui di mana air itu. Si ikan kecil semakin gelisah. Lalu ia berenang menuju mata air untuk bertemu dengan ikan tua yang sudah berpengalaman. Kepada ikan tua itu ikan kecil ini menanyakan hal serupa, “Di manakah air?”
Jawab ikan tua, "Tak usah gelisah anakku, air itu telah mengelilingimu sehingga kamu bahkan tidak menyadari kehadirannya. Memang benar, tanpa air kita akan mati.”
Kita hidup dalam suatu dunia yang kadang membingungkan kita. Kadang-kadang kita mudah sekali tergoda oleh berbagai tawaran yang datang kepada kita. Kadang-kadang kita ambil saja tawaran itu. Padahal kita sudah punya. Lantas kita bingung mau buat apa dengan tawaran itu.
Kisah ikan kecil itu menunjukkan kepada kita situasi hidup kita. Kadang-kadang kita mengalami situasi seperti si ikan kecil itu. Kita mencari ke sana ke mari kehidupan dan kebahagiaan. Padahal kita sedang menjalaninya. Bahkan kebahagiaan sedang melingkupi hidup kita sampai-sampai kita sama sekali tidak menyadarinya.
Orang kurang yakin bahwa kebahagiaan itu ada dalam dirinya. Ia mencari kebahagiaan yang lain yang ada di luar dirinya. Karena itu, orang sering mengalami kebingungan demi kebingunan dalam hidupnya.
Sebagai orang beriman, situasi seperti ini tentu ingin kita atasi. Kita ingin menemukan kebahagiaan dalam hidup kita. Kebahagiaan ada di sekeliling kita dan sedang kita jalani. Untuk itu, kita mesti membuka hati dan pikiran kita. Saat untuk berbahagia dapat kita tentukan. Tentu saja kita ingin menentukannya bersama Tuhan yang tidak pernah meninggalkan kita berjuang sendiri dalam dunia.
Mari kita berusaha untuk menemukan dan menghidupi kebahagiaan dalam hidup kita yang nyata. Tidak usah mencari jauh-jauh kebahagiaan itu. Saat ini kita sedang menjalaninya. **
Frans de Sales, SCJ
NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.
|
|
|
November 09, 2009, 13:54
|
#59
|
|
catlovers
Join Date: Jun 2008
Posts: 47,346
WebPoint: 0 GaulPoint: 26617
|
Menjadi Pembawa Damai
Seorang penggemar akuarium dan ikan-ikan memelihara ikan hiu pada tempat-tempat yang telah dirancangnya. Ada akuarium kecil, ada akuarium sedang, ada akuarium besar. Pada akuarium yang berukuran kecil, hiduplah ikan hiu kecil. Pada akuarium yang berukuran sedang, tumbuh dan hiduplah ikan hiu yang berukuran sedang. Dan pada akuarium besar, tumbuh dan hiduplah seekor ikan hiu yang berukuran besar.
Seorang pengunjung yang menyaksikan ikan-ikan hiu itu terheran-heran. Ia bertanya, “Bagaimana mungkin kamu bisa mendapatkan ikan-ikan hiu dengan berbagai macam ukuran seperti ini? Dari mana kamu dapatkan rnereka?”
Sang penggemar akuarium itu tertawa. Lalu ia menjawab, “O, saya tidak membeli ikan-ikan itu dalam ukuran seperti sekarang. Pada mulanya, ikan-ikan hiu itu sama, lalu saya taruh pada akuarium yang berbeda ukurannya. Dan kini, mereka berkembang sesuai dengan ukuran akuarium itu.”
Manusia tidak bertumbuh dan berkembang dalam situasi yang sama. Ada orang yang hidup di lingkungan yang keras. Hasilnya, ia bisa bertumbuh menjadi orang yang keras dalam hidupnya. Ia bisa saja sulit diatur. Cara bicaranya pun keras. Ia tidak gampang untuk diajak kompromi.
Tetapi ada juga orang yang hidup di lingkungan yang damai. Suatu lingkungan yang mengandalkan kebersamaan dalam menjalin persaudaraan. Orang ini akan tampil tenang. Ia tidak tergesa-gesa dalam hidupnya. Ia mudah menjadi orang yang bijaksana dalam membangun kehidupannya. Ia dapat menjadi orang yang begitu terbuka terhadap orang lain.
Namun ada juga orang dapat menjadi orang yang begitu tenang dan damai dalam hidupnya meski lingkungan di mana ia hidup itu keras. Ia mampu menguasai suasana di sekelilingnya. Ia tumbuh menjadi orang yang penuh toleran terhadap sesama di sekitarnya. Sebaliknya, bisa saja ada orang yang susah diatur dan keras meski ia tumbuh dan berkembang di lingkungan yang damai dan tenteram. Ia dapat saja menjadi orang yang egois yang tidak toleran terhadap lingkungannya. Ia dapat menjadi orang yang mau menang sendiri. Orang yang sombong dalam hidupnya.
Nah, Anda tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang mana? Sebagai orang beriman, kita mesti dapat hidup dalam lingkungan mana pun. Artinya, kita mesti mampu beradaptasi dengan lingkungan di mana kita tinggal. Kalau kita mampu beradaptasi, kita akan mudah diterima oleh siapa pun yang ada di lingkungan itu. Orang memiliki hati yang terbuka untuk kita. Dengan demikian, kita menjadi orang-orang yang berguna bagi masyarakat di lingkungan kita hidup. Artinya, kita dapat diandalkan untuk menjadi orang yang mampu menciptakan damai dan kesejahteraan bagi lingkungan hidup kita.
Mari kita menjadi orang-orang yang membawa damai bagi sesama. Hanya dengan damai itu, kita dapat menciptakan suatu masyarakat yang baik dan sejahtera. Tuhan memberkati. **
Frans de Sales, SCJ
NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.
174
Last edited by glenX; November 09, 2009 at 13:57.
|
|
|
November 09, 2009, 14:08
|
#60
|
|
The time has come \()"•)/
Join Date: Jun 2009
Location: di belakang Nya \\()"•)//
Posts: 10,715
WebPoint: 0 GaulPoint: 15788
|
yang disini lebih cepet dr yang diblog atau gmn chris urutannya?
|
|
|
Posting Rules
|
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts
HTML code is Off
|
|
|
All times are GMT. The time now is 07:05.
|
|