August 16, 2009, 10:43
|
#1
|
|
catlovers
Join Date: Jun 2008
Posts: 47,256
WebPoint: 0 GaulPoint: 26.544
|
Bulan Kitab Suci KAJ 2009: Berjuang dalam Hidup dengan Terang Sabda Tuhan
Sosialisasi Bulan Kitab Suci 2009
Seperti tahun-tahun sebelumnya, Bulan Kitab Suci (BKS) merupakan suatu kesempatan yang baik untuk menyadari bahwa Kitab Suci merupakan pedoman iman bagi kita. Dan kita patut bersyukur bahwa umat Katolik mulai banyak yang sudah membaca, menghayati, percaya dan mengamalkan Sabda Tuhan dalam Kitab Suci.
Menyambut BKS ini, Seksi Kerasulan Kitab Suci (SKKS) Paroki Regina Caeli mengadakan sosialisasi tema BKS dengan juga memperdalam masing-masing sub tema yang akan menjadi bahan pendalaman iman umat. Sosialisasi yang berlangsung pada Selasa, 11 Agustus lalu, dibawakan oleh Ketua SKKS, Natalia Gunawati Yala, yang diikuti oleh 21 peserta dari berbagai lingkungan di Regina Caeli.
Untuk tahun 2009 ini, tema yang diusung oleh BKS adalah ”Berjuang dalam Hidup dengan Terang Sabda Tuhan”. Hakekat hidup adalah berjuang! Manusia dilahirkan untuk berjuang dalam hidup ini. Ia perlu mencukupi segala kebutuhan, mulai dari sandang pangan dan papan hingga rekreasi dan aktualisasi diri. Semua membutuhkan perjuangan. Tidak ada manusia yang hidup tanpa masalah, namun setiap masalah pasti ada jalan keluarnya dengan mengandalkan kekuatan iman kepada Allah Bapa, bukan dengan kekuatan diri sendiri.
Sebagai umat Katolik kita menyadari tugas dan panggilan kita yaitu: ambil bagian dalam penciptaan dan penyelamatan Allah. Allah menghendaki kita untuk mewartakan kabar gembira bahwa Kerajaan Allah sudah dekat, artinya Allah sendiri meraja dan menjadi nyata dalam peristiwa Yesus Kristus.
Tema utama dalam BKS 2009 ini terdiri dari 4 sub tema: (1) Perjuangan Hidup dalam diriku (Ayub 7:1-10); (2) Perjuangan Hidup dalam Keluarga (Tobit 2 : 9-14); (3) Perjuangan Hidup dalam lingkungan dan masyarakat (Nehemia 6:1-14); (4) Perjuangan Hidup dalam Berbangsa dan Bernegara (Roma 13 : 1-7).
Mengingat keterbatasan waktu, dalam sosialisasi BKS ini dibahas dua sub tema pertama.
Perjuangan Hidup dalam diriku. (Ayub 7:1-10, sebaiknya baca keseluruhan kisah Ayub). Tidak jarang orang jujur dan hidupnya baik malah banyak terkena musibah, masalah dan menderita. Mengapa ini terjadi? Katanya Allah adil, menghukum yang jahat dan mengganjar yang baik? Kita diajak belajar dari Ayub, seorang yang saleh, yang tertimpa musibah yaitu anak-anaknya mati, hartanya diambil dan Ayub kena penyakit. Dalam kesesakan, Ayub berseru kepada Tuhan karena percaya bahwa Tuhan tidak meninggalkan dia. Pembahasan sub tema yang pertama ini bertujuan supaya kita menyadari bahwa setiap masalah hidup ada jalan keluar di dalam Tuhan, dan ini bisa diteguhkan dengan sharing pengalaman iman dan upaya mengajak umat untuk membuat niat yang nyata seperti apa yang dilakukan Ayub.
Perjuangan Hidup dalam Keluarga (Tobit 2 : 9-14)
Tuhan memanggil dan bekerja dalam keluarga. Tidak jarang dalam hidup berkeluarga terjadi beda pendapat, percekcokan, bahkan ada iri hati dan dengki. Bagaimana keluarga memecahkan persoalan hidup? Belajar dari keluarga Tobit dan Hana, kita melihat mereka tetap berseru kepada Tuhan. Mereka berjuang saling membantu yang sakit dan mengatasi curiga dengan tetap percaya pada bimbingan Tuhan. Pembahasan sub tema ini untuk menyadarkan kita bahwa hidup berkeluarga pasti ada masalah, dan adanya masalah adalah kesempatan untuk bertumbuh bersama dalam iman. Sub tema ini akan lebih dikuatkan dengan berbagi sharing pengalaman.
Sub tema 3 Perjuangan Hidup dalam lingkungan dan masyarakat (Nehemia 6:1-14)dan sub tema 4 Perjuangan Hidup dalam Berbangsa dan Bernegara (Roma 13 : 1-7) tidak dibahas dalam sosialisasi ini, tetapi fasilitator diminta mempelajarinya sendiri sesuai dengan pedoman yang telah dibagikan.
Dalam sosialisasi ini diingatkan juga bahwa mengingat minggu ke-3 bulan September sudah memasuki Hari Raya Idul Fitri, yang biasanya sulit untuk mengadakan pertemuan pendalaman iman, maka pendalaman tema BKS ini sudah dapat dilakukan di lingkungan mulai minggu terakhir bulan Agustus.
Marilah bersama-sama membuka hati dan pikiran kita untuk mengikuti Bulan Kitab Suci agar perjuangan hidup kita selalu diterangi Sabda Tuhan. (Samuel Rismana S-reginacaeli.org)
|
|
|
|
Recommendation
|
Sponsored Ads
|
|
|
|
August 18, 2009, 06:30
|
#2
|
|
catlovers
Join Date: Jun 2008
Posts: 47,256
WebPoint: 0 GaulPoint: 26544
|
nggak ada yg tertarik niyh?
apa sudah pada sibuk mikirin mudik?
|
|
|
August 31, 2009, 04:36
|
#3
|
|
catlovers
Join Date: Jun 2008
Posts: 47,256
WebPoint: 0 GaulPoint: 26544
|
Pengantar
Bulan Kitab Suci 2009
Bulan Kitab Suci merupakan kesempatan yang baik untuk menyadari kembali bahwa Kitab Suci merupakan salah satu pedoman iman bagi kita. Kita melihat bahwa dimana-mana umat mulai berani membuka, membaca, menghayati, percaya dan mengamalkan Sabda Tuhan dalam Kitab Suci. Suatu gerakan yang patut kita syukuri
Tema yang kita ambil tahun 2009 ini adalah Berjuang Dalam Hidup Dengan Terang Sabda Tuhan. Dengan tema ini kita diingatkan bahwa hakekat hidup adalah bekerja keras, berusaha dan berjuang. Kita bekerja keras tidak hanya untuk mendapatkan makanan dan kebutuhan jasmani, tetapi juga makanan dan kebutuhan rohani. Kita berusaha tidak hanya demi kesejahteraan orang lain, tetapi juga melaksanakan kehendak Tuhan. Kita berjuang tidak hanya demi keluarga, komunitas, masyarakat, bangsa dan negara, tetapi untuk menyenangkan hati Tuhan
Pertemuan I Perjuangan Hidup Dalam Diriku
Pertemuan II Perjuangan Hidup Dalam Keluarga
Pertemuan III Perjuangan Hidup Dalam Lingkungan Dan Masyarakat
Pertemuan IV Perjuangan Hidup Dalam Berbangsa dan Bernegara
Komisi Kerasulan Kitab Suci – Keuskupan Agung Jakarta
mbahjustinus.wordpress.com
P.S mbah diupdate terus ya site nya GBU
|
|
|
August 31, 2009, 04:45
|
#4
|
|
catlovers
Join Date: Jun 2008
Posts: 47,256
WebPoint: 0 GaulPoint: 26544
|
Bulan Kitab Suci – KAJ 2009
Bacaan Kitab Suci : Ayub 7 : 1-10
"Aku dicekam kegelisahan sampai dini hari."
1 Di dalam keprihatinannya Ayub berbicara kepada sahabatnya, “Bukankah manusia harus bergumul di bumi, dan hari-harinya seperti hari-hari orang upahan? 2 Seperti kepada seorang budak yang merindukan naungan, seperti kepada orang upahan yang menanti-nantikan upahnya, 3 demikianlah dibagikan kepadaku bulan-bulan yang sia-sia, dan ditentukan kepadaku malam-malam penuh kesusahan. 4 Bila aku pergi tidur, maka pikirku: Bilakah aku akan bangun? Tetapi malam merentang panjang, dan aku dicekam oleh gelisah sampai dinihari. 5 Berenga dan abu menutupi tubuhku, kulitku menjadi keras, lalu pecah. 6 Hari-hariku berlalu lebih cepat dari pada torak, dan berakhir tanpa harapan. 7 Ingatlah, bahwa hidupku hanya hembusan nafas; mataku tidak akan lagi melihat yang baik. 8 Orang yang memandang aku, tidak akan melihat aku lagi, sementara Engkau memandang aku, aku tidak ada lagi. 9 Sebagaimana awan lenyap dan melayang hilang, demikian juga orang yang turun ke dalam dunia orang mati tidak akan muncul kembali. 10 Ia tidak lagi kembali ke rumahnya, dan tidak dikenal lagi oleh tempat tinggalnya.
Mencermati Kitab Suci :
- Bagaimana Ayub memandang dirinya sendiri ?
- Bagaimana ia menggambarkan seluruh hidupnya ?
- Bagaimana sikap Ayub terhadap Tuhan ? Siapakah Tuhanbagi Ayub ?
- Kalau kita masuk ke dalam diri Ayub, bagaimana rasanya menghadapi permasalahan hidupnya ?
- Pesan apa yang dapat anda petik dari kisah Ayub ini?
Butir-butir permenungan :
1. Masalah dan persoalan hidup ini dapat disikapi dengan sikap positif, yaitu sebagai tanda ujian dari Tuhan agar kita sabar dan tabah, menjadi semakin teguh dan dewasa dalam iman. Orang tetap boleh mengungkapkan keluhannya kepada Allah, seperti Ayub
2. Ayub menyadari bahwa hidup di dunia ini sungguh berat. Ia mengungkapkan perjuangan hidupnya seperti seorang budak dan seorang upahan. Ia merasa bahwa perjuangan hidupnya siang dan malam sia-sia (bdk 7 : 1-4)
3. Sebagai orang saleh, Ayub sadar akan keberadaannya, bahwa seluruh yang diperolehnya itu berasal dari Tuhan, termasuk tubuhnya sendiri. Ia mengoyakkan jubahnya, mencukur kepalanya, kemudian sujudlah ia dan menyembah, katanya “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan te;anjang juga aku akan kembali kedalamnya, Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, Terpujilah nama Tuhan !” (1 : 20-21)
4. Dalam deritanya Ayub tetap merasakan getaran kasih Allah, walaupun ia sendiri hampir putus asa dengan hidupnya sendiri, “Aku jemu aku tidak mau hidup untuk selama-lamanya. Biarkanlah aku, karena hari-hariku hanya seperti hempusan nafas saja” (7 ; 16)
5. Pengalaman hidup Ayub dapat menjadi contoh dalam perjuangan hidup kita. Kerinduan Ayub akan Tuhan hendaknya menjadi kerinduan kita. Ketabahan Ayub dalam menanggung derita, hendaknya menjadi ketabahan hidup kita. Ayub memberikan contoh hidup sebagai orang beriman yang tetap setia dan patuh pada Tuhan
Membangun niat :
- Bagaimana cara anda menghadapi permasalahan hidup dan mengatasinya ?
- Apa niat konkret yang bisa kita laksanakan sebagai langkah nyata untuk melaksanakan Sabda Tuhan ini ?
Komisi Kerasulan Kitab Suci – Keuskupan Agung Jakarta
mbahjustinus.wordpress.com
Bagi yang menjawab atau diskusi disini bisa mendapat 30 GP minimal 500 karakter.
|
|
|
September 02, 2009, 11:43
|
#5
|
|
The time has come \()"•)/
Join Date: Jun 2009
Location: di belakang Nya \\()"•)//
Posts: 10,707
WebPoint: 0 GaulPoint: 15780
|
Quote:
Originally Posted by glenX
nggak ada yg tertarik niyh?
apa sudah pada sibuk mikirin mudik?
|
makanya jgn ngajakin Ayo Mudik!
ntar komennya ya, ini lg buru2.
|
|
|
September 04, 2009, 22:19
|
#6
|
|
The time has come \()"•)/
Join Date: Jun 2009
Location: di belakang Nya \\()"•)//
Posts: 10,707
WebPoint: 0 GaulPoint: 15780
|
Membangun niat :
* Bagaimana cara anda menghadapi permasalahan hidup dan mengatasinya ?
- mencari Tuhan terlebih dahulu, baru mencari manusia. 
- mengumpulkan segenap kekuatan dulu, baru bertindak. kekuatan yang berasal dari Tuhan, agar bisa tegar dan tetap semangat menghadapi permasalahan tersebut nantinya.
- berkomitmen untuk pasrah atas apapun hasilnya kelak. percaya bahwa itu semua merupakan rangkaian dari rencana Tuhan yang indah. Tuhan melihat segala sesuatunya secara keseluruhan, tapi kita hanya melihat sebagian, jadi percayakan saja pada NYA.
- berusaha terus pantang menyerah.
* Apa niat konkret yang bisa kita laksanakan sebagai langkah nyata untuk melaksanakan Sabda Tuhan ini ?
sabda yang mana?
memohon kepada Tuhan agar diberi kekuatan dalam melaksanakan dan mewartakan Sabdanya di kehidupan sehari-hari. karena pasti akan banyak halangan dan rintangan baik dalam diri sendiri maupun dari luar, dalam melakukan itu semua.
|
|
|
September 07, 2009, 04:16
|
#7
|
|
fly
Join Date: Aug 2006
Posts: 116
WebPoint: 0 GaulPoint: 71
|
Quote:
Originally Posted by snoOo
Membangun niat :
* Bagaimana cara anda menghadapi permasalahan hidup dan mengatasinya ?
- mencari Tuhan terlebih dahulu, baru mencari manusia. 
- mengumpulkan segenap kekuatan dulu, baru bertindak. kekuatan yang berasal dari Tuhan, agar bisa tegar dan tetap semangat menghadapi permasalahan tersebut nantinya.
- berkomitmen untuk pasrah atas apapun hasilnya kelak. percaya bahwa itu semua merupakan rangkaian dari rencana Tuhan yang indah. Tuhan melihat segala sesuatunya secara keseluruhan, tapi kita hanya melihat sebagian, jadi percayakan saja pada NYA.
- berusaha terus pantang menyerah.
* Apa niat konkret yang bisa kita laksanakan sebagai langkah nyata untuk melaksanakan Sabda Tuhan ini ?
sabda yang mana?
memohon kepada Tuhan agar diberi kekuatan dalam melaksanakan dan mewartakan Sabdanya di kehidupan sehari-hari. karena pasti akan banyak halangan dan rintangan baik dalam diri sendiri maupun dari luar, dalam melakukan itu semua.
|
mencari Tuhan terlebih dahulu? dengan bantuan teman bagaimana?
mengumpulkan segenap kekuatan dulu, baru bertindak, aq setuju ini. kekuatan yg berasal dari Tuhan, jangan dari roh jahat, kalau roh jahat hanya semangat sesaat semacam doping.
no 3 berkomitmen untuk pasrah, percayakan kepada Tuhan, rencanaNya pasti baik bagi kita.
sabda yg mana? mungkin Ayub 7:1-10 yg ada diatas.
__________________
new generation
|
|
|
September 08, 2009, 14:50
|
#8
|
|
catlovers
Join Date: Jun 2008
Posts: 47,256
WebPoint: 0 GaulPoint: 26544
|
Pertemuan II Perjuangan Hidup Dalam Keluarga
Pertemuan II Perjuangan Hidup Dalam Keluarga
sorry mayori strawberry aku tidak menemukan artikel untuk Pertemuan II ini, jadi aku carikan penggantinya.
Bacaan Pertama
Pembacaan dari Kitab Tobit (2:9-14)
"Semakin aku diolesnya dengan obat, semakin buta mataku, karena bintik-bintik putih itu."
9 Pada malam sesudah menguburkan jenazah, aku, Tobit, membasuh diriku, lalu pergi ke pelataran rumah dan tidur dekat pagar temboknya. Mukaku tidak tertudung karena panas. 10 Aku tidak tahu bahwa ada burung pipit di tembok tepat di atas diriku. Maka jatuhlah tahu hangat ke dalam mataku. Muncullah bintik-bintik putih. Akupun lalu pergi kepada tabib untuk berobat. Tetapi semakin aku diolesnya dengan obat, semakin buta mataku karena bintik-bintik putih itu, sampai buta sama sekali. Empat tahun lamanya aku tidak dapat melihat. Semua saudaraku merasa sedih karena aku. Dua tahun lamanya aku dipelihara oleh Ahikar sampai ia pindah ke kota Elumais. 11 Di masa itu isteriku Hana mulai memborong pekerjaan perempuan. 12 Pekerjaan itupun diantarkannya kepada para pemesan dan ia diberi upahnya. Pada suatu hari, yaitu tanggal tujuh bulan Dustus, diselesaikannya sepotong kain, lalu diantarkannya kepada pemesan. Seluruh upahnya dibayar kepadanya dan ditambah juga seekor anak kambing jantan untuk dimakan. 13 Tetapi setiba di rumahku maka anak kambing itu mengembik. Lalu isteriku kupanggil dan berkata: "Dari mana anak kambing itu? Apa itu bukan curian? Kembalikanlah kepada pemiliknya! Sebab kita tidak diperbolehkan makan barang curian!" 14 Sahut isteriku: "Kambing itu diberikan kepadaku sebagai tambahan upahku." Tetapi aku tidak percaya kepadanya. Maka kusuruh kembalikan kepada pemiliknya -- Karena perkara itu aku merah padam karena dia! -- Tetapi isteriku membantah, katanya: "Di mana gerangan kebajikanmu? Di mana amalmu itu? Betul, sudah ketahuan juga gunanya bagimu!"
Demikianlah sabda Tuhan
Syukur kepada Allah.
Renungan dari RH Mutiara Iman , 02 Juni 09
MEDITATIO:
Tobit baru saja melakukan perbuatan amal kasih, memakamkan orang mati. Bahkan untuk itu ia meninggalkan meja perjamuan, meninggalkan makanan yang siap santap. Betapa sebuah kebaikan dan kebajikan yang teruji dan terpuji. Untuk ini pun ia masih mendapatkan cemooh dan tertawaan orang, tapi kebaikan tak pernah dapat dikalahkan oleh kejahatan! Dan Tobit memilih berbuat baik dan bajik. Apa upahnya? Saat berbaring santai, ia malah kejatuhan kotoran burung persis pada matanya yang mengakibatkan kebutaan!
Orang baik, orang pilihan Tuhan, tidak dibebaskan dari cobaan, tidak luput dari derita! Tidakkah hal ini bertentangan dengan pikiran logis manusia? Orang baik harus diganjari Allah! Apalagi Tobit, tetap setia di pembuangan, dan terus berbuat baik sampai-sampai isterinya tidak memahaminya. Tobit tidak melihat Allah sebagai tukang sulap atau sebagai orang yang harus mengikuti logika pemikiran manusiawinya. Tuhan berkarya lewat pelbagai cara, Tuhan hadir lewat setiap pengalaman dan kejadian. Penyelenggaraan Ilahi itu adalah 'seni'nya Allah memelihara kita. Tobit tetap belajar dari kepahitan apa pun, Tobit tetap setia, baik dan bajik. Tak ada yang dapat memisahkan dia dari cinta akan Allah!
CONTEMPLATIO:
Ingatlah sebuah peristiwa yang membuatmu merasa Allah itu jauh, tidak adil, tidak 'logis'. Dengan perasaan itu pandanglah Tuhan dan bayangkan kau menggenggam tangan Tobit si buta, dan bersama-sama berujar lembut. Tuhan, semoga aku melihat... diamlah dan dengar jawaban Tuhan!
ORATIO:
Ampuni aku, Tuhan, aku pernah berharap agar Engkau bertindak sesuai cara pikirku, sesuai logika 'balas jasa', sesuai faham 'do ut des'. Beri aku hati seorang Tobit, tetap melihat penyelenggaraanMu dalam kegelapan yang kualami. Tuhan, bukalah mataku... Amin.
MISSIO:
Aku akan hidup hari ini tanpa sebuah keluhan apa pun. Kujadikan hari ini hari penuh syukur, harinya Tuhan. Tuhan memberkati!
dari Rm I. Sumarya, SJ dengan tanggal yang sama
"Dari mana anak kambing itu? Apa itu bukan curian? Kembalikanlah kepada pemiliknya! Sebab kita tidak diperbolehkan makan barang curian!" (Tobit 2:13). Kutipan ini kiranya baik menjadi permenungan atau refleksi kita. Suatu ajakan untuk tidak melakukan korupsi pada tingkat dan bidang kehidupan bersama dimanapun dan kapanpun.
Kata bahasa Latin ‘corruptio’ (1) secara aktif berarti hal merusak, hal membuat busuk, pembusukan, penyuapan;
(2) secara pasif berarti keadaan dapat binasa, kebinasaan, kerusakan, kebusukan, kefanaan, korupsi, kemerosotan.
Sedangkan kata bahasa Latin ‘corruptor’ berarti perusak, pembusuk, penggoda, pemerdaya, penyuap. Arti yang paling mengena dari korupsi adalah pembusukan, berarti para koruptor bertindak busuk, membuat busuk lingkungan hidup dan kerja. Korupsi atau mencuri berarti membuat hidup bersama busuk, dan apa yang busuk kiranya menjijikkan, tidak enak dibau maupun dirasakan. Dengan ini kami berharap kepada para koruptor untuk meninggalkan cara hidup yang membusukkan tersebut serta mengembalikan apa yang telah diambil dengan tidak benar. Kita juga dipanggil untuk membina diri maupun sssama dan saudara-saudari kita hidup jujur serta tidak korupsi. Salah satu cara pembinaan yang baik antara lain di sekolah atau perguruan tinggi diberlakukan ‘dilarang menyontek dalam ulangan maupun ujian’.Membiarkan kebiasaan menyontek berarti menyuburkan perilaku korupsi. Anak-anak di dalam keluarga hendaknya juga dibiasakan hidup dan bertindak jujur, dan tentu saja butuh keteladanan dari para orangtua. Memang uang sungguh menjadi penggoda untuk korupsi atau mencuri, maka hendaknya menempatkan uang di tempat yang tidak merangsang bagi siapapun untuk berbuat dosa, mencuri atau korupsi.
Ignatius Sumarya, SJ
tidak ada pertanyaan-pertanyaan, silahkan berbagi mengajukan pertanyaan
Tuhan memberkati.
|
|
|
September 10, 2009, 11:54
|
#9
|
|
catlovers
Join Date: Jun 2008
Posts: 47,256
WebPoint: 0 GaulPoint: 26544
|
Pertemuan II: Perjuangan Hidup Dalam Keluarga
Perjuangan Hidup Dalam Keluarga
BKS KAJ 2009
Pengantar :
Dalam pertemuan keluarga di Meksiko tahun ini, Paus Benediktus XVI mengingatkan bahwa keluarga dipangil untuk menghayati sikap saling mencintai, menghormati kebenaranm, keadilan, kesetiaan dan kerja sama, pelayanan dan membantu yang lain. Kiranya amanat Paus tersebut didasarkan pada panggilan dan tugas luhur hidup berkeluarga untuk menjadi sakramen cinta dan belas-kasih Allah di dunia ini
Dalam renungan kedua ini kita diajak untuk berjuang bersama sebagai keluarga dengan sehati, sejiwa dan satu tujuan. Lewat keluarga Tobit dan Hana kita bisa belajar bagaimana mereka yang dipilih dan hidup saleh, tetap berjuang untuk mengatasi berbagai persoalan keluarga mereka
Bacaan Kitab Suci :
Tobit 2 : 9 – 14
Tob 2:9 Pada malam itu juga aku membasuh diriku, lalu pergi ke pelataran rumah dan tidur dekat pagar temboknya. Mukaku tidak tertudung karena panas.
Tob 2:10 Aku tidak tahu bahwa ada burung pipit di tembok tepat di atas diriku. Maka jatuhlah tahu hangat ke dalam mataku. Muncullah bintik-bintik putih. Akupun lalu pergi kepada tabib untuk berobat. Tetapi semakin aku diolesnya dengan obat, semakin buta mataku karena bintik-bintik putih itu, sampai buta sama sekali. Empat tahun lamanya aku tidak dapat melihat. Semua saudaraku merasa sedih karena aku. Dua tahun lamanya aku dipelihara oleh Ahikar sampai ia pindah ke kota Elumais.
Tob 2:11 Di masa itu isteriku Hana mulai memborong pekerjaan perempuan.
Tob 2:12 Pekerjaan itupun diantarkannya kepada para pemesan dan ia diberi upahnya. Pada suatu hari, yaitu tanggal tujuh bulan Dustus, diselesaikannya sepotong kain, lalu diantarkannya kepada pemesan. Seluruh upahnya dibayar kepadanya dan ditambah juga seekor anak kambing jantan untuk dimakan.
Tob 2:13 Tetapi setiba di rumahku maka anak kambing itu mengembik. Lalu isteriku kupanggil dan berkata: “Dari mana anak kambing itu? Apa itu bukan curian? Kembalikanlah kepada pemiliknya! Sebab kita tidak diperbolehkan makan barang curian!”
Tob 2:14 Sahut isteriku: “Kambing itu diberikan kepadaku sebagai tambahan upahku.” Tetapi aku tidak percaya kepadanya. Maka kusuruh kembalikan kepada pemiliknya — Karena perkara itu aku merah padam karena dia ! — Tetapi isteriku membantah, katanya: “Di mana gerangan kebajikanmu ? Di mana amalmu itu ? Betul, sudah ketahuan juga gunanya bagimu !”
Mencermati Kitab Suci :
Pertanyaan pendalaman teks Kitab Suci- Apa yang terjadi dalam keluarga Tobit dan Hana ?
- Bagaimana cara mereka mengatasi persoalan rumah tangga mereka ?
- Bagaimana cara Tobit mengandalkan diri dan keluarganya kepada Tuhan ?
Butir-butir permenungan :- Setiap keluarga mengalami tantangan dan kesulitan, bahkan dalam keluarga Tobit yang saleh sekalipun. Tobit kejatuhan tahi burung yang membuatnya menjadi buta. Hal ini membuat sedih seluruh keluarga. Tobit tidak dapat lagi mencari nafkah. Istrinya, Hana, menggantikan dia mencari nafkah
- Kebutaan Tobit tidak saja membuatnya buta secara jasmani, hal itu membuat dia mudah curiga dan tidak percaya kepada istrinya. Karena tidak bisa melihat, Tobit mengira bahwa kambing yang dibawa istrinya adalah hasil curian. Relasi antara anggauta keluarga menjadi tidak harmonis lagi
- Apa yang dilakukan Tobit ? Dalam kebutaannya dia mengungkapkan keluh kesalnya kepada Tuhan (3 : 1-6). Dalam doanya Tobit mengandalkan Tuha sebagai hakim yang adil. Ia tetap memohon belas-kasih Tuhan. Ia tetap percaya bahwa Tuhan akan mengabulkan doanya. Tobit tidak menyembunyikan apapun dari Tuhan. Ia mengungkapkan doanya dengan jujur
- Apa yang terjadi ? Tuhan mendengarkan doa dan keluh kesah Tobit. Allah mengutus malaikat-Nya, Rafael, untuk menyembuhkan Tobit (3 : 17). Rupanya doa jujur seseorang memiliki daya dan kekuatan. Berdoa bersama dalam keluarga memiliki kekuatan yang lebih lagi. Allah kita adalah Allah yang peduli pada persoalan dan masalah keluarga kita
Membangun niat :- Belajar dari keluarga Tobit dalam menghadapi musibah, apa yang dapat kita lakukan apabila keluarga kita sedang mendapatkan musibah ? Sejauh manakah kita menyandarkan diri kita ke dalam tangan Tuhan ?
- Hal-hal atau kebiasaan apa saja yang dapat dibuat dalam keluarga agar iman kepada Tuhan tetap bertumbuh dan berkembang ?
Bahan dari : Bulan Kitab Suci 2009 KAJ – KKKS KAJ
Diambil dari www.mbahjustinus.wordpress.com mbah
ayo dijawab pertanyaan diatas, nanti aku kasih ::gp:: lagi
|
|
|
September 10, 2009, 14:58
|
#10
|
|
w o o d s t o c k
Join Date: Oct 2006
Location: Jakarta
Posts: 6,078
WebPoint: 0 GaulPoint: 2938
|
Quote:
Apa yang terjadi dalam keluarga Tobit dan Hana ?
|
Tobit yg baru saja melakukan perbuatan baik, memakamkan orang mati. Matanya buta akibat terkena kotoran burung pipit. Orang baik belum tentu akan mendapat nasib yang baik pula, namun yg terpenting kt harus tetap percaya apa yg dilakukan Tuhan itu ada maksud yang baik, gak mungkin Tuhan menjerumuskan.
Quote:
|
Belajar dari keluarga Tobit dalam menghadapi musibah, apa yang dapat kita lakukan apabila keluarga kita sedang mendapatkan musibah ? Sejauh manakah kita menyandarkan diri kita ke dalam tangan Tuhan ?
|
Kalo kita lagi terkena musibah, jangan begitu saja meninggalkan Tuhan, atau hanya dekat dengan Tuhan dalam keadaan sedih/susah
|
|
|
September 10, 2009, 15:06
|
#11
|
|
The time has come \()"•)/
Join Date: Jun 2009
Location: di belakang Nya \\()"•)//
Posts: 10,707
WebPoint: 0 GaulPoint: 15780
|
 ada ngebahas hana tohhhhhhhhhhhh 
ntar merenung dulu
|
|
|
September 11, 2009, 04:24
|
#12
|
|
The time has come \()"•)/
Join Date: Jun 2009
Location: di belakang Nya \\()"•)//
Posts: 10,707
WebPoint: 0 GaulPoint: 15780
|
• Apa yang terjadi dalam keluarga Tobit dan Hana ?
Biasalah, cekcok dlm rumah tangga. Ditambah lagi Tobit yg lagi tertimpa musibah kebutaan. Jadi bawaannya bad mood mulu, curiga mulu. 
Hana harus sabar. Tapi dia sudah sangat baik masih setia dengan Tobit. Masih rajin mencari nafkah. Hana gitu loh.
• Bagaimana cara mereka mengatasi persoalan rumah tangga mereka ?
ada kalanya mereka butuh melampiaskan emosi mereka, tapi dengan kesalehan dan ketekunan mereka pasti bisa menyelesaikan persoalan rumah tangga mereka dengan baik.
• Bagaimana cara Tobit mengandalkan diri dan keluarganya kepada Tuhan ?
Tobit tetap dekat dengan Tuhan, bahkan semakin dekat, hingga Tuhan membantunya, menyembuhkannya. patut dicontoh nih
• Belajar dari keluarga Tobit dalam menghadapi musibah, apa yang dapat kita lakukan apabila keluarga kita sedang mendapatkan musibah ? Sejauh manakah kita menyandarkan diri kita ke dalam tangan Tuhan ?
Sejauh timur, dari barat..
Sandarkan seluruhnya, tanpa terkecuali, ke dalam tangan Tuhan. Tangan Tuhan akan bekerja, entah melalui siapa pun, orang terdekat, maupun terjauh sekali pun, karna kuasa Tuhan begitu besar, gak bisa kita duga.
• Hal-hal atau kebiasaan apa saja yang dapat dibuat dalam keluarga agar iman kepada Tuhan tetap bertumbuh dan berkembang ?
Kebiasaan rajin misa, rajin berdoa, saling mengingatkan bila ada yang terlena dengan keduniawian
|
|
|
September 21, 2009, 11:40
|
#13
|
|
catlovers
Join Date: Jun 2008
Posts: 47,256
WebPoint: 0 GaulPoint: 26544
|
Pertemuan III: Perjuangan Hidup dalam Lingkungan dan Masyarakat
Pembacaan dari Kitab Nehemia
Neh 6:1 Ketika Sanbalat dan Tobia dan Gesyem, orang Arab itu dan musuh-musuh kami yang lain mendengar, bahwa aku telah selesai membangun kembali tembok, sehingga tidak ada lagi lobang, walaupun sampai waktu itu di pintu-pintu gerbang belum kupasang pintunya,
Neh 6:2 maka Sanbalat dan Gesyem mengutus orang kepadaku dengan pesan: "Mari, kita mengadakan pertemuan bersama di Kefirim, di lembah Ono!" Tetapi mereka berniat mencelakakan aku.
Neh 6:3 Lalu aku mengirim utusan kepada mereka dengan balasan: "Aku tengah melakukan suatu pekerjaan yang besar. Aku tidak bisa datang! Untuk apa pekerjaan ini terhenti oleh sebab aku meninggalkannya dan pergi kepada kamu!"
Neh 6:4 Sampai empat kali mereka mengirim pesan semacam itu kepadaku dan setiap kali aku berikan jawaban yang sama kepada mereka.
Neh 6:5 Lalu dengan cara yang sama untuk kelima kalinya Sanbalat mengirim seorang anak buahnya kepadaku yang membawa surat yang terbuka.
Neh 6:6 Dalam surat itu tertulis: "Ada desas-desus di antara bangsa-bangsa dan Gasymu membenarkannya, bahwa engkau dan orang-orang Yahudi berniat untuk memberontak, dan oleh sebab itu membangun kembali tembok. Lagipula, menurut kabar itu, engkau mau menjadi raja mereka.
Neh 6:7 Bahkan engkau telah menunjuk nabi-nabi yang harus memberitakan tentang dirimu di Yerusalem, demikian: Ada seorang raja di Yehuda! Sekarang, berita seperti itu akan didengar raja. Oleh sebab itu, mari, kita sama-sama berunding!"
Neh 6:8 Tetapi aku mengirim orang kepadanya dengan balasan: "Hal seperti yang kausebut itu tidak pernah ada. Itu isapan jempolmu belaka!"
Neh 6:9 Karena mereka semua mau menakut-nakutkan kami, pikirnya: "Mereka akan membiarkan pekerjaan itu, sehingga tak dapat diselesaikan." Tetapi aku justru berusaha sekuat tenaga.
Neh 6:10 Ketika aku pergi ke rumah Semaya bin Delaya bin Mehetabeel, sebab ia berhalangan datang, berkatalah ia: "Biarlah kita bertemu di rumah Allah, di dalam Bait Suci, dan mengunci pintu-pintunya, karena ada orang yang mau datang membunuh engkau, ya, malam ini mereka mau datang membunuh engkau."
Neh 6:11 Tetapi kataku: "Orang manakah seperti aku ini yang akan melarikan diri? Orang manakah seperti aku ini dapat memasuki Bait Suci dan tinggal hidup? Aku tidak pergi!"
Neh 6:12 Karena kuketahui benar, bahwa Allah tidak mengutus dia. Ia mengucapkan nubuat itu terhadap aku, karena disuap Tobia dan Sanbalat.
Neh 6:13 Untuk ini ia disuap, supaya aku menjadi takut lalu berbuat demikian, sehingga aku berdosa. Dengan demikian mereka mempunyai kesempatan untuk membusukkan namaku, sehingga dapat mencela aku.
Neh 6:14 Ya Allahku, ingatlah bagaimana Tobia dan Sanbalat masing-masing telah bertindak! Pun tindakan nabiah Noaja dan nabi-nabi yang lain yang mau menakut-nakutkan aku.
Demikianlah sabda Tuhan
Syukur kepada Allah.
Latar Belakang Keluarga
Nehemia adalah salah seorang buangan Yahudi. Saat dalam pembuangan, Nehemia menepati posisi pekerjaan yang menonjol, bekerja di lingkungan Puri Susan sebagai juru minuman Raja Artahsasta (raja Persia).
Takkala Nehemia berada dalam lingkungan istana yang nota bene aman, nyaman dan prestise, tidak demikian dengan keluarga Nehemia yang masih berada di Yerusalem. Di katakan mereka dalam penderitaan dan kesukaran besar. Tembok kota Yerusalem, yang seharusnya jadi benteng perlindungan rakyat, telah hancur.
Panggilan
Walau secara fisik Nehemia merasakan kenyamanan yang terjamin, tidak demikian dengan hatinya. Ini terbukti dari keingintahuannya atas keadaan atau penderitaan yang dialami saudara-saudaranya yang ada di Yerusalem.
Melalui saudaranya Hanani, Nehemia tahu bahwa orang-orang yang di Yerusalem masih dalam kesukaran besar. Atas jawaban Hanani yang tidak mengembirakan, membuat hati Nehemia menjadi sedih.
Dikatakan siang malam dia berdoa buat Yerusalem. Perlu dicatat, Nehemia menjadi sedih bukan hanya memikirkan keluarga dekatnya saja, yang masih ada di sana. Saya percaya, dengan jabatan Nehemia saat itu, dia bisa membantu secara financial akan kelangsungan kebutuhan sehari-hari keluarganya. Namun jauh dari itu, dia memikirkan umat pilihan Allah yang sedang menderita.
Bisa dikatakan, karena kepeduliannya yang begitu besar, dia dapat menanggapi panggilan Allah dalam hidupnya. Tampak jelas di Nehemia 1:4a: “ketika kudengar berita ini, duduklah aku menangis dan berkabung selama beberapa hari.” Dia menangis dan berkabung bukan hanya pada saat dia mendengar berita buruk saja, lalu sudah melupakannya. Dikatakan dia menangis dan berkabung beberapa hari, inilah bukti kepedulian yang begitu besar yang ditunjukkan oleh Nehemia. Bahkan kesedihannya tampak sampai berbulan-bulan, karena dia mendengar berita buruk dari saudaranya Hanani itu sekitar bulan November-Desember dan wajahnya kelihatan muram oleh raja Artahsasta itu sekitar bulan Maret-April. Jelas sekali, walau hingar bingar lingkungan pekerjaannya, tidak membendung hatinya yang pedih karena kepeduliannya yang begitu besar.
bersambung
|
|
|
September 21, 2009, 11:44
|
#14
|
|
catlovers
Join Date: Jun 2008
Posts: 47,256
WebPoint: 0 GaulPoint: 26544
|
Sifat dan Prilaku Kepemimpinan
Nehemia adalah pemimpin yang rendah hati. Tampak sekali dari perjalanan kepemimpinannya. Ketika dia berdoa bagi pengampunan dosa bangsanya, dia tidak hanya menyalahkan bangsanya, namun dia juga meminta pengampunan dosa atas kesalahan dirinya sendiri dan keluarganya, Nehemia 1:6b : “dengan mengaku segala dosa yang kami orang Israel telah lakukan terhadap-Mu. Juga aku dan kaum keluargaku telah berbuat dosa.”
Kerendahan hatinya juga terbukti dari kesadaran dirinya membutuhkan orang lain.
Pertama, dia butuh Tuhan. Langkah demi langkah dia secara konsisten berdoa kepada Tuhan, salah satu contohnya di Neh 1:11 “Ya, Tuhan, berilah telinga kepada doa hamba-Mu ini dan kepada doa hamba-hamba-Mu yang rela takut akan nama-Mu, dan biarlah hamba-Mu berhasil hari ini dan mendapat belas kasihan dari orang ini." Ketika itu aku ini juru minuman raja.” Nehemia menyadari, Tuhanlah yang bisa mempengaruhi raja untuk mengijinkan Nehemia pergi membangun tembok, memberi surat kuasa untuk bupati-bupati selama dalam perjalanan dan membawa kayu-kayuan yang dibutuhkan.
Kedua, dia butuh orang lain. Contoh ekstrimnya, dia butuh musuh. Nehemia rela walau harus “mengemis” minta bantuan raja Artahsasta. Dengan kesopanannya, dia menunggu waktu yang tepat untuk berbicara kepada raja, untuk meminta ijin akan hal di atas.
Nehemia adalah pemimpin perantara umat-Nya. Pemimpin yang meminta belas kasihan Tuhan bagi pengikutnya, Nehemia 1:9 “Tetapi, bila kamu berbalik kepada-Ku dan tetap mengikuti perintah-perintah-serta melakukannya, maka sekalipun orang-orang buanganmu ada di ujung langit, akan Kukumpulkan mereka kembali dan Kubawa ke tempat yang telah Kupilih untuk membuat nama-Ku diam di sana.”
Pemimpin yang bukan saja sukses menyelesaikan proyek yang kasat mata, namun membawa pengikutnya kepada jalan kebenaran Tuhan. Kesedihan Nehemia yang luar biasa terjadi saat pengikutnya tidak berjalan dalam kebenaran Tuhan, salah satu contohnya saat Nehemia menegor mereka yang tidak menghargai hari Sabat, Nehemia 13:15 “Pada masa itu kulihat di Yehuda orang-orang mengirik memeras anggur pada hari Sabat, pula orang-orang yang membawa berkas-berkas gandum dan memuatnya di atas keledai, juga anggur, buah anggur dan buah ara dan pelbagai muatan yang mereka bawa ke Yerusalem pada hari Sabat. Aku memperingatkan mereka ketika mereka menjual bahan-bahan makanan.”
Nehemia adalah pemimpin yang empatik. Sebagai juru minuman raja, sebenarnya tidaklah mendukung dirinya untuk sedih. Jauh dari suara jeritan penderitaan orang Yahudi. Semua kebutuhannya terpenuhi, tentu gaji yang dia terima tidaklah sedikit. Juga ketidakpedulian teman sebangsanya yang seprofesi dengannya tentu tidak mendukungnya untuk empatik, karena Alkitab tidak memberitahukan kalau teman seprofesinya membantu Nehemia dalam memperjuangkan pembangunan tembok. Namun, Nehemia tidak memilih memiliki sikap yang sama dengan temannya, yang tidak empatik. Sikap empatiknya sangat terbukti saat dia tetap muram walau sudah lama tidak mendengar kabar penderitaan bangsanya (5 bulan, dari bulan November hingga Maret), Nehemia 2:1 “Pada bulan Nisan tahun kedua puluh pemerintahan raja Artahsasta, ketika menjadi tugasku untuk menyediakan anggur, aku mengangkat anggur dan menyampaikannya kepada raja. Karena aku kelihatan sedih, yang memang belum pernah terjadi di hadapan raja.”
Nehemia adalah pemimpin yang mengelola resiko. Tiada hasil tanpa resiko, sia-sialah berusaha tanpa pandai mengelola resiko. Nehemia sangat pintar dalam mengelola resiko. Nehemia 2:2 bertanyalah ia kepadaku: "Mengapa mukamu muram, walaupun engkau tidak sakit? Engkau tentu sedih hati." Lalu aku menjadi sangat takut.” Sedikitnya ada 3 alasan dia takut. Pertama, takut akan nyawanya. Apabila raja menganggap permintaan Nehemia itu sebagai ancaman kedudukannya sebagai penguasa, maka yang biasa dilakukan adalah membunuh orang yang menjadi ancamannya. Kedua, Nehemia takut kalau permintaannya tidak dipenuhi. Takut tertolak, bisa jadi raja malah menyetop keinginan Nehemia, namun Nehemia memberanikan diri untuk berkata-kata, setelah dia berdoa sejenak dalam hatinya. Ketiga, Nehemia takut raja marah, karena mukanya yang muram tidak membuat raja senang. Karena saat itu, kewajiban semua pelayan raja untuk selalu membuat raja merasa gembira.
Nehemia adalah pemimpin yang dapat dipercaya. Dapat dipercaya bukanlah kemampuan yang bisanya karena dipelajari, namun kebiasaan yang menjadi gaya hidup seseorang. Nehemia telah memulainya, bukan memulainya saat dia menjadi pemimpin saat memimpin pembangunan tembok Yerusalem, namun dia sudah miliki sebelumnya. Ada beberapa bukti yang bisa kita setujui bahwa dia adalalah orang yang dapat dipercaya. Dengan posisinya sebagai juru minum raja, sudah membuktikan bahwa dia adalah orang yang dapat dipercaya. Karena juru minum raja bersentuhan langsung dengan raja, selain itu juga banyak pembicaraan rahasia yang akan didengar juga karena dia adalah orang buangan, tentu raja memilih orang-orang yang terbaik, dalam hal ini dapat dipercaya.
Juga kepercayaan itu tampak saat Nehemia meminta ijin tidak bekerja untuk sementara waktu, Nehemia 2:6 : “Lalu bertanyalah raja kepadaku, sedang permaisuri duduk di sampingnya: "Berapa lama engkau dalam perjalanan, dan bilakah engkau kembali?" Dan raja berkenan mengutus aku, sesudah aku menyebut suatu jangka waktu kepadanya.” Tampak jelas, raja dan permaisuri pada waktu itu, tidak mencurigai Nehemia untuk kabur dan tidak kembali lagi, atau memberontak kepada raja. Ini terbukti setelah pembangunan, Nehemia balik kembali untuk melayani raja, Nehemia 13:6 : “Ketika peristiwa itu terjadi aku tidak ada di Yerusalem, karena pada tahun ketiga puluh dua pemerintahan Artahsasta, raja Babel, aku pergi menghadap raja. Tetapi sesudah beberapa waktu aku minta izin dari raja untuk pergi.” Dia dapat dipercaya, karena dia selalu menepati janji-janjinya. Selain itu, saat dia meminta surat kuasa dan kayu untuk pembangunan tembok, selain bagian Tuhan yang membuat hati raja Artahsasta bermurah hati, juga ada bagian Nehemia yang dapat dipercaya. Raja percaya Nehemia tidak akan memimpin pemberontakan, dan raja percaya kalau Nehemia tidak berbohong.
Nehemia adalah pemimpin yang punya perencanaan. Pemimpin yang punya rencana dan tidak gegabah, Dia memulai rencana dengan menggunakan kuasa raja untuk memuluskan pembangunan tembok. Dia mulai mendoakannya, Nehemia 1:11b : “…biarlah hamba-Mu berhasil hari ini dan mendapat belas kasihan dari orang ini." Ketika itu aku ini juru minuman raja.”
bersambung
Sumber: hendybakrim.blogspot.com
|
|
|
September 21, 2009, 11:51
|
#15
|
|
catlovers
Join Date: Jun 2008
Posts: 47,256
WebPoint: 0 GaulPoint: 26544
|
“Hormatilah semua orang, kasihilah saudara-saudaramu”
Manusia adalah ciptaan Allah yang tertinggi, termulia di dunia, maka diberi perintah oleh Sang Pencipta: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi."(Kej1:28). Perintah ini dalam rangka pergaulan dengan sesama manusia maupun ciptaan lainnya, flora dan fauna, harus diwujudkan dalam ‘budaya kehidupan’ atau ‘penyayang kehidupan’ alias “Pro Life Movement”. Budaya kehidupan ini rasanya dapat dimulai dan diperdalam dengan tidak menggugurkan kandungan/aborsi, memusnahkan kehidupan yang baru tumbuh dan lemah sebagai buah kasih di dalam rahim perempua. Menghayati dan memperdalam budaya tidak menggugurkan ini rasanya penuh tantangan mengingat jumlah pengguguran kandungan masih begitu marak di dunia ini, termasuk Indonesia. “Aborsi saat ini menjadi masalah yang cukup serius, dilihat dari tingginya angka aborsi yang mencapai 46 juta per tahun. “Di RRC, jumlah aborsi tahun 1971 hampir mencapai 4 juta janin. Dikarenakan tahun 1979 pemerintah RRC mengeluaakan ketetapan untuk mengurangi kepadatan penduduk. Tahun 1982, jumlah aborsi melesat 3 kali lipat menjadi 12 juta janin. Perlu diketahui juga 35% dari kehamilan yang terjadi di RRC berakhir dengan aborsi,” papar dr. P.Y. Kusuma T. SpOG, pembicara yang juga dokter reproduksi.Bagaimana dengan Indonesia, yang merupakan negara berasaskan Ketuhanan Yang Maha Esa? Menurut harian Media Indonesia 2 Oktober 2002, angka pembunuhan janin per tahun di Indonesia sudah mencapai 3 juta. Angka yang tidak sedikit mengingat besarnya tingkat kehamilan di Indonesia”.( dari: http://www.petra.ac.id/dwipekan/ edisi06_xxviii/ seputar.html)
Jika orang tega membunuh alias tidak menghormati dan mengasihi ‘janin’, manusia yang begitu lemah dan suci, hemat saya orang yang bersangkutan dalam hidup sehari-hari kemudian akan lebih cenderung ‘berbudaya kematian’, jika ada sesuatu yang kurang selera dengan dirinya senantiasa disingkirkan atau dimunahkan, motto hidupnya adalah ‘like and dislike’, suka atau tidak suka. Maka dalam rangka mengenangkan Kemerdekaan bangsa Indonesia ini, saya mengajak siapapun untuk mengembangkan dan memperdalam ‘budaya kehidupan’, antara lain menghormati dan mengasihi janin yang ada karena ‘cintakasih dan kebebasan’.”Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu” (1Kor13:4-7), demikian kata Paulus kepada umat di Korintus.
Hidup dijiwai oleh atau menghayati ajaran kasih Paulus tersebut rasanya membuat kita sendiri dan sesama dan saudara kita ‘bebas merdeka’, masing-masing dari kita menghayati nasehat ini “Hendaklah engkau tidak pernah menaruh benci kepada sesamamu apapun juga kesalahannya, dan jangan berbuat apa-apa terpengaruh oleh nafsu.” (Sirakh 10:6).Kita sendiri maupun sesama dan saudara-saudari kita kiranya dengan mudah berbuat salah karena kelemahan dan kerapuhan kita, cenderung untuk lebih dikuasai atau didominasi oleh setan/roh jahat yang dapat membuat kita menjadi manusia tertindas, tidak bebas merdeka. Maka karena kita adalah orang lemah dan rapuh alias mudah berbuat salah, hendaknya jika ada sesama kita yang berbuat salah tidak menghukum atau mengadilinya, melainkan mengampuni atau kita tanggapi dengan berbuat kasih sebagaimana diajarkan Paulus di atas. Marilah kita saling mengasihi, mengampuni dan bergotong royong dalam hidup sehari-hari, dalam membangun dan mengisi kemerdekaan di negeri yang kita kasihi ini.
"Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, -- yang rapi tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota -- menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih"(Ef4:16), demikian peringatan Paulus kepada umat di Efesus, kepada kita semua orang beriman. Masing-masing dari kita dipanggil untuk tumbuh dan membangun diri dalam kasih, sehingga kebersamaan hidup kita nampak tersusun rapi, menarik dan memikat, entah kebersamaan dalam hidup berkeluarga/berkomunitas, bermasyarakat, berbangsa maupun bernegara serta beragama. Rasanya yang pertama-tama dan terutama memperoleh perhatian adalah kebersamaan hidup di dalam keluarga, karena hidup keluarga merupakan dasar hidup bermasyarakat, berbangsa, bernegara maupun beragama. Suami-isteri hendaknya menjadi teladan pertumbuhan dan pembagunan hidup bersama dalam kasih, karena yang mempertemukan dan mengikat mereka menjadi suami-siteri adalah kasih. Keteladanan atau kesaksian suami-isteri/bapak-ibu yang tumbuh-berkembang dan membangun hidup bersama dalam kasih akan membantu dan mempermudah bagi anak-anaknya tumbuh berkembang dan membangun dalam kasih. Suami dan isteri yang berbeda satu sama lain sesuai dengan jati diri dan kepribadiannya hendaknya secara optimal saling menampilkan, menghadirkan dan melengkapi, agar terjadi kesatuan yang hidup serta dijiwai oleh kasih. Apa yang berbeda hendaknya menjadi daya tarik dan daya pikat untuk saling mendekat dan mengasihi, bukan menjadi alasan untuk bertengkar atau bersitegang yang dapat berkembang ke perpisahan.
"Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” (Mrk 4:40)
“Pada hari itu, waktu hari sudah petang, Yesus berkata kepada mereka: "Marilah kita bertolak ke seberang.”(Mrk 4:35). Menyeberangi danau yang cukup luas diwaktu malam kiranya terasa sepi dan menakutkan, apalagi ketika taufan dahsyat yang mengombang-ambingkan perahu yang sedang ditumpanginya. Itulah yang sedang terjadi dan dialami oleh para rasul bersama dengan Yesus yang sedang tertidur. Dalam ketakutan dan kerja keras mengayuh perahu para rasul berkata: “Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa? Ia pun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: "Diam! Tenanglah!" Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali. Lalu Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?"(Mrk 4:38-40). Para rasul tidak percaya bahwa Yesus berada di tengah-tengah mereka dan bersama denganNya pasti tidak akan binasa karena taufan dahsyat.
Tuhan hadir dimana-mana dan kapan saja terus menerus di dalam kehidupan dan kebersamaan kita, maka baiklah ketika kita harus menghadapi aneka tantangan, hambatan dan pekerjaan berat marilah kita sadari dan hayati kehadiran dan karyaNya, Tuhan yang senantiasa mendampingi atau menyertai hidup, kerja, kesibukan dan pelayanan kita. Dengan kata lain marilah dalam dan semangat iman kita hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kita lihat, temui dan hayati kehadiran dan karya Tuhan dalam hidup sehari-hari, antara lain dalam diri sesama dan saudara-saudari kita yang berkehendak baik. Lihat, cari dan hayati apa yang baik, indah, mulia dan benar di dalam sesama dan lingkungan hidup kita dengan rendah hati dan dalam keheningan.
Kita renungkan dan refleksikan sabda Yesus :”Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?”. Takut antara lain berarti kinerja syaraf dan metabolisme darah kita lemah dan dengan demikian penakut akan mudah terserang oleh berbagai penyakit atau hati, jiwa, akal budi dan tubuh tidak segar dan sehat dan dengan demikian akan hidup ngawur. Sebaliknya jika kita tidak takut berarti hati, jiwa, akal budi dan tubuh kita sehat dan segar bugar dan dengan demikian kita akan mampu melihat aneka kemungkinan dan kesempatan untuk mengatasi aneka tantangan dan hambatan. Beriman berarti juga tidak takut terhadap apapun, karena bersama dengan Tuhan kita akan mampu mengatasi segalanya. Apa yang baik, indah, luhur dan mulia adalah berasal dari Tuhan dan dengan demikian tentu menarik dan memikat kita sehingga kita tidak takut, sedangkan apa yang jahat, jelek atau jorok adalah berasal dari setan dan kita tidak perlu takut karena bersama Tuhan kita pasti mampu mengatasinya, Tuhan menang atas setan.
Sumber: arsip renungan romo maryo
Code:
September 21, 2009 18:49 Transfer glenX snoOo Received Amount: 45
|
|
|
Posting Rules
|
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts
HTML code is Off
|
|
|
All times are GMT. The time now is 15:06.
|
|