WebGaul Forum : : A ZEIN Company  

Go Back   WebGaul Forum : : A ZEIN Company > :: FORUM DISKUSI WEBGAUL > Agama dan Iman > Islam
WebGaul Forum Gallery Register Blogs FAQ Calendar Mark Forums Read
Notices






Reply
 
Thread Tools
Old August 30, 2009, 13:43   #1066
AlfaOmega
Registered User
 
AlfaOmega's Avatar
 
Join Date: Mar 2003
Posts: 14,082
WebPoint: 0
GaulPoint: 6.129
AlfaOmega belum terkenal
Menggapai Shalat Khusyu'
Jumat, 28/08/2009 14:16 WIB

Assalamualaikum wr.wb

Ustad sigit yg sya hormati,,,

saya ingin bertanya,bagaimana sholat seseorang bisa dibilang sudah khusu,,,

soalnya sampai sekarang sya belum merasa sholat sya itu sudah khusuyu,,,

terima kasih,

wasalamualaikum wr.wb

ichai
Jawaban

Waalaikumussalam Wr Wb

Saudara Ichai yang dimuliakan Allah swt

Al Qurthubi mengatakan bahwa khusyu adalah suasana didalam jiwa yang tertampakkan pada anggota tubuhnya berupa ketenangan dan ketundukan. Sedangkan Qatadah mengatakan bahwa khusyu didalam hati berupa rasa takut dan memejamkan mata ketika shalat.

Diantara nash-nash yang berbicara tentang tuntutan khusyu didalam shalat ini :
Artinya, ”(yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya.” (QS. Al Mukminun : 2)

Artinya : ”Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. dan Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu'.” (QS. Al Baqoroh : 45)


Diantaranya pula, hadits ’Uqbah bin ’Amir bahwa dia mendengar Rasulullah saw bersabda,”Tidaklah seorang muslim berwudhu lalu membaguskan wudhunya kemudian berdiri melakukan shalat dua raka’at dengan ketundukan hati dan wajahnya kecuali wajib baginya surga.” (HR. Muslim)

Dari Utsman berkata,”Aku mendengar Rasulullah saw bersabda,”Tidaklah seorang muslim mendatangi shalat wajib lalu membaguskan wudhu, khsuyu dan ruku’nya kecuali ia menjadi pelebur dosa-dosanya yang lalu kecuali dosa besar. Dan itu berlaku sepanjang masa.” (HR. Muslim)


Sedangkan hukum khusyu itu sendiri adalah sunnah dari sunnah-sunnah shalat menurut jumhur ahli ilmu. Mereka menganggap sah orang yang didalam shalatnya memikirkan urusan-urusan duniawi selama dia tetap melakukan gerakan-gerakan shalatnya secara baik.

Oleh karena itu hendaklah setiap orang yang shalat memperhatikan perkara-perkara berikut agar khusyu didalam setiap shalatnya :

1. Tidak menghadirkan didalam hatinya kecuali segala sesuatu yang ada didalam shalat.

2. Menundukkan anggota tubuhnya dengan tidak memain-mainkan sesuatu dari anggota tubuhnya, seperti : jenggot atau sesuatu yang diluar anggota tubuhnya, seperti : meratakan selendang atau sorbannya. Hendaknya penampilan lahiriyahnya menampakkan keskhuyuan batiniyahnya.

3. Hendaklah merasakan bahwa dirinya tengah berdiri dihadapan Raja dari seluruh raja Yang Maha Mengetahui segala yang tersimpan dan tersembunyi.

4. Mentadabburi bacaan shalatnya karena hal itu dapat menyempurnakan kekhusyuan.

5. Mengosongkan hatinya dari segala kesibukan selain shalat karena hal itu dapat membantunya untuk khsusyu dan janganlah memperpanjang atau melebarkan pembicaaan didalam hatinya. (al Mausu’ah al Fiqhiyah juz II hal 6643)


Wallahu A’lam
__________________
AlfaOmega is offline   Reply With Quote
Recommendation Sponsored Ads
Old September 05, 2009, 02:28   #1067
AlfaOmega
Registered User
 
AlfaOmega's Avatar
 
Join Date: Mar 2003
Posts: 14,082
WebPoint: 0
GaulPoint: 6129
AlfaOmega belum terkenal
Judul : Dalil 2 x adzan dalam sholat jumat
Kategori : Shalat
Nama Pengirim : arief tri
Tanggal Kirim : 2009-08-31 13:47:35
Tanggal Dijawab : 2009-09-03 08:49:21
Pertanyaan Assalamu'alaikum wr.wb
yth. pak. Ustadz
saya ingin mendapatkan dalil 2x adzan dalam sholat jum'at,karena ada sholat jum'at dengan 1x adzan saja,trima kasih
wassalamu'alaikim wr.wb
Jawaban

Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh

Alhamdulillah, Washshalatu wassalamu `ala Rasulillah, wa ba'du.



Azan jumat di masa Rasulullah SAW, Abu Bakar ra dan Umar bin Al-Khatab ra memang hanya sekali saja. Barulah di masa khalifah Ustman bin Affan azan itu menjadi dua kali. Azan yang ditambahkan itu sering disebut dengan azan pertama dilakukan untuk mengingatkan orang-orang bahwa sudah hampir masuk waktunya untuk segera meninggalkan kesibukan perdagangan.



Menurut riwayat, azan yang petama itu dilakukan di pasar, yaitu tempat yang disebut dengan Az-Zaura`. Ada yang mengatakan bahwa Az-Zuara` itu berbentuk tempat atau bangunan yang tinggi seperti menara.



Ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari yang menceritakan hal ini.



Rasulullah SAW hanya punya seorang muazzin, bila beliau keluar (naik mimbar) dia berazan dan bila Rasulullah SAW turun dari mimbar dia berqomat. Demikian juga yang dilakukan oleh Abu Bakar dan Umar. Ketika masa Utsman dan manusia semakin banyak, beliau menambahkan dengan panggilan yang ketiga di sebuah rumah di pasar yang disebut Az-Zaura`. (HR. Bukhari)




Al-Mawardi salah seorang ulama mazhab Syafi`i menyebutkan bahwa azan tambahan itu sifatnya muhdats / baru. Dilakukan oleh Utsman bin Affan ra dengan tujuan mengingatkan manusia untuk hadir shalat jumat ketika Kota Madinah bertambah luas dan penduduknya bertambah banyak.



Ibnu `Arabi berkata bahwa sebenarnya dahulu Umar bin Al-Khattab ra pun pernah melakukan hal yang sama, hanya saja bentuknya bukan azan melainkan seruan biasa di pasar-pasar. Azan baru dilakuan di masjid saat mereka sudah berkumpul. Kemudian menjadi azan dua kali di masjid.


Wallahu a'lam bish-shawab.

wassalamu alaikum wr.wb.
__________________
AlfaOmega is offline   Reply With Quote
Old September 05, 2009, 02:28   #1068
AlfaOmega
Registered User
 
AlfaOmega's Avatar
 
Join Date: Mar 2003
Posts: 14,082
WebPoint: 0
GaulPoint: 6129
AlfaOmega belum terkenal
Judul : Dalil 2 x adzan dalam sholat jumat
Kategori : Shalat
Nama Pengirim : arief tri
Tanggal Kirim : 2009-08-31 13:47:35
Tanggal Dijawab : 2009-09-03 08:49:21
Pertanyaan Assalamu'alaikum wr.wb
yth. pak. Ustadz
saya ingin mendapatkan dalil 2x adzan dalam sholat jum'at,karena ada sholat jum'at dengan 1x adzan saja,trima kasih
wassalamu'alaikim wr.wb
Jawaban

Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh

Alhamdulillah, Washshalatu wassalamu `ala Rasulillah, wa ba'du.



Azan jumat di masa Rasulullah SAW, Abu Bakar ra dan Umar bin Al-Khatab ra memang hanya sekali saja. Barulah di masa khalifah Ustman bin Affan azan itu menjadi dua kali. Azan yang ditambahkan itu sering disebut dengan azan pertama dilakukan untuk mengingatkan orang-orang bahwa sudah hampir masuk waktunya untuk segera meninggalkan kesibukan perdagangan.



Menurut riwayat, azan yang petama itu dilakukan di pasar, yaitu tempat yang disebut dengan Az-Zaura`. Ada yang mengatakan bahwa Az-Zuara` itu berbentuk tempat atau bangunan yang tinggi seperti menara.



Ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari yang menceritakan hal ini.



Rasulullah SAW hanya punya seorang muazzin, bila beliau keluar (naik mimbar) dia berazan dan bila Rasulullah SAW turun dari mimbar dia berqomat. Demikian juga yang dilakukan oleh Abu Bakar dan Umar. Ketika masa Utsman dan manusia semakin banyak, beliau menambahkan dengan panggilan yang ketiga di sebuah rumah di pasar yang disebut Az-Zaura`. (HR. Bukhari)




Al-Mawardi salah seorang ulama mazhab Syafi`i menyebutkan bahwa azan tambahan itu sifatnya muhdats / baru. Dilakukan oleh Utsman bin Affan ra dengan tujuan mengingatkan manusia untuk hadir shalat jumat ketika Kota Madinah bertambah luas dan penduduknya bertambah banyak.



Ibnu `Arabi berkata bahwa sebenarnya dahulu Umar bin Al-Khattab ra pun pernah melakukan hal yang sama, hanya saja bentuknya bukan azan melainkan seruan biasa di pasar-pasar. Azan baru dilakuan di masjid saat mereka sudah berkumpul. Kemudian menjadi azan dua kali di masjid.


Wallahu a'lam bish-shawab.

wassalamu alaikum wr.wb.
__________________
AlfaOmega is offline   Reply With Quote
Old September 06, 2009, 03:24   #1069
Tomica
Registered User
 
Tomica's Avatar
 
Join Date: Aug 2009
Posts: 166
WebPoint: 0
GaulPoint: 524
Tomica belum terkenal
Lailatul Qadar

Allah menurunkan Wahyu, Mukjizat Agung, Kitab Sucinya, di malam terang benderang, yang bertabur Cahaya, dari pendaran yang Maha Cahaya, lebih dahsyat dari seribu bulan Cahaya.


Syeikh Abdul Qadir al-Jilany memaparkan, "Para malaikat pada turun dan (begitu juga) ar-Ruh (Jibril) di dalam malam itu. " Jibril turun disertai dengan 70 ribu malaikat, dan ia bertindak sebagai pemimpinnya. Jibril terus menerus memberi salam kepada mereka yang sedang duduk (beribadah), sementara seluruh malaikat yang lain memberi salah kepada mereka yang sedang tidur. Allah sendiri yang terus memberi salam kepada mereka yang bangkit berdiri menuju kepadaNya. Sebagaimana Salam Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman yang menjadi ahli surga di surga, dengan firman-Nya:
Salaamun Qaulan min Rabbir Rahiim (Salam yang terucap dari Tuhan Yang Maha Pengasih). Maka, berkenan pula Allah memberikan salam kepada para hamba-Nya yang senantiasa berbuat kebajikan di dunia, mendapatkan anugerah kebaikan luhur dan kebahagiaan di zaman 'azali. Yaitu para hamba-Nya yang senantiasa fana' atau sirna dari segala makhluk, dan abadi bersama Tuhannya, senantiasa tenteram menuju kepada Allah Ta'ala Yang Maha Benar.

Pada malam Lailatul Qadar itu, tak ada yang tersisa dari suatu tempat melainkan ada malaikat yang sedang sujud di sana, atau berdiri mendoakan hamba-Nya yang mukmin dan mukminat. Kecuali tempat-tempat seperti gereja, biara, tempat ibadah majusi dan tempat-tempat berhala, atau sebagian tempat yang menjadi pembuangan kotoran maksiat. Di tempat-tempat itu malaikat tidak mati bersujud dan berdoa.

Malaikat-malaikat itu senantiasa mendoakan kaum mukminin dan mukminat. Sedangkan Jibril as, sama sekali tidak mendoakan kaum mukminin dan mukminat, melainkan hanya menyalami dan bersalaman kepada mereka.
Jika Anda sekalian sedang dalam keadaan beribadah, maka Jibril menyalami, "Salam kepadamu, semoga diterima dan mendapatkan kebaikan." Jika anda ditemui sedang dalam keadaan bermaksiat, Jibril menyalami, "Salam bagimu, semoga engkau mendapatkan ampunan." Jika anda ditemui dalam keadaan tidur, Jibril menyalami, "Salam bagimu, semoga engkau mendapatkan ridla- Nya." Jika Anda sudah dalam kuburan (mati) Jibril menyalami, "Salam bagimu dengan ruh dan aroma keharuman."
Itulah yang difirmankan Allah, "minKulliAmrinSalaam" (dalam segala hal, ada Salam.)

Ada yang menyebutkan, bahwa para malaikat itu hanya menyalami mereka yang taat, sementara tidak pada mereka yang sedang bermaksiat. Di antara ahli maksiat itu adalah mereka yang berbuat kedhaliman, mereka yang memakan makanan haram, mereka yang memutus tali sillaturrahim, mereka yang mengadu domba, mereka yang memakan harta anak yatim, mereka itu tidak mendapatkan salam dari para malaikat. Lalu manakah bencana yang lebih besar dibanding bencana seperti itu?

Padahal bulan Ramadlan diawali oleh rahmat, ditengahi oleh ampunan dan diakhiri dengan kebebasan dari neraka. Sementara Anda tidak memiliki bagian dari salam para malaikat itu? Bukankah itu semua gara-gara Anda jauh dari Yang Maha Pengasih? dan Anda juga tergolong para
penentang Allah dan mensakralisasi tindakan syetan? Anda berhias dengan riasan penempuh jalan neraka? Begitu pula karena Anda jauh dan mengabaikan dari para penempuh jalan surga? Anda juga hijab dari Tuhan yang memiliki kekuasaan atas bahaya dan kebajikan? Padahal bulan Ramadlan adalah bulan kejernihan, bulan keselarasan bersama Allah, bulan para pendzikir-Nya, bulan orang-orang sabar dan bulan para shadiqin. Lantas apabila tidak ada bekas dalam hati Anda, dan Anda tidak mencabut akar kemaksiatan dalam hati Anda, menjauhi para pelaku kejahatan dan kemungkaran, lalu pengaruh apa yang bisa membekas dalam hati Anda itu? Apa yang Anda harapkan dari selain kebajikan? Apa yang masih anda sisakan dalam jiwa Anda? Kebahagiaan manakah yang bisa Anda raih di sana?



Ingatlah wahai orang yang sangat kasihan, terhadap apa yang menempel pada diri Anda. Bangkitlah dari kelelapan yang meninabobokan Anda, membuat Anda alpa. Lihatlah pada yang memberi petunjuk pada Anda, sisa-sisa bulan Anda, dengan tindakan taubat dan kembali. Nikmatilah bulan ini dengan istigfar dan kepatuhan, agar Anda meraih rahmat dan kasih sayang Allah. Anda harus membatu dengan segala hal yang mengarah pada sikap negatif Menangislah pada diri sendiri atas dorongan yang menyeret Anda pada cacat-cacat jiwa, kebinasaan dan tragedi. Betapa banyak orang berpuasa, namun hakikatnya tidak pernah berpuasa selamanya. Banyak orang yang berdiri tegak untuk ibadah, hakikatnya tak pemah ibadah selamanya. Betapa banyak orang beramal, namun tanpa pahala ketika amal itu usai dilakukan. Amboi, apakah puasa kita diterima, ibadah kita diterima, atau sebaliknya semua itu ditolak dan dilemparkan ke wajah kita sendiri? Amboi, betapa kita telah menolak ibadah yang seharusnya diterima, dan menghormati ibadah yang seharusnya ditolak?
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW,

"Betapa banyak orang berpuasa, namun tak lebih dari lapar dan dahaga. Betapa banyak orang yang tegak beribadah, melainkan hanya kelelahan belaka.."

Salam kepadamu wahai bulan puasa.
Salam kepadamu wahai bulan kebangkitan. Salam kepadamu wahai bulan iman.
Salam kepadamu wahai bulan al-Qur 'an.
Salam kepadamu wahai bulan cahaya-cahaya Salam kepadamu wahai bulan maghfirah dan ampunan.
Salam kepadamu wahai bulan derajat dan keselamatan dari keburukan.
Salam kepadamu wahai bulan orang-orang yang bertobat, beribadat.
Salam kepadamu wahai orang-orang ma 'rifat Salam kepadamu wahai bulan orang yang tekun beribadat.
Salam kepadamu wahai bulan yang aman Engkau telah menahan orang-orang maksiat Engkau telah bermesraan dengan ahli taqwa Salam kepada bilik dan cahaya-cahaya yang cemerlang dan mata yang terjaga air mata yang melimpah mihrab yang terang benderang ungkapan yang suci nafas-nafas yang membubung dari kalbu-kalbu yang bergelora.
Tuhan,jadikanlah kami tergolong mereka yang Engkau terima puasanya, shalatnya, dan Engkau ganti keburukan dengan kebajikannya, dan Engkau masukkan dengan rahmat-Mu dalam surga-Mu, dan Engkau tinggikan derajat mereka, wahai Yang Maha Pengasih dan Penyayang.

-M. Luqman Hakiem-
Tomica is offline   Reply With Quote
Old September 06, 2009, 04:03   #1070
Tomica
Registered User
 
Tomica's Avatar
 
Join Date: Aug 2009
Posts: 166
WebPoint: 0
GaulPoint: 524
Tomica belum terkenal
Lailatul Qadar

Allah Ta ‘ala berfirman : “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) saat Lailatul Qadar (malam kemuliaan). Dan tahukah kamu apakah Lailatul Qadar itu? Lailatul qadar itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (Al-Qadr: 1-5), Allah memberitahukan bahwa Dia menurunkan Al-Qur’an pada malam Lailatul Qadar, yaitu malam yang penuh keberkahan. Allah Ta’ala berfirman : “Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi.” (Ad Dukhaan : 3) Dan malam itu berada di bulan Ramadhan, sebagaimana firman Allah Ta ‘ala : “Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an. “(Al-Baqarah: 185).

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu berkata : “Allah menurunkan Al-Qur’anul Karim keseluruhannya secara sekaligus dari Lauh Mahfudh ke Baitul’Izzah (langit pertama) pada malam Lailatul Qadar. Kemudian diturunkan secara berangsur-angsur kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sesuai dengan konteks berbagai peristiwa selama 23 tahun.”

Malam itu dinamakan Lailatul Qadar karena keagungan nilainya dan keutamaannya di sisi Allah Ta ‘ala. Juga, karena pada saat itu ditentukan ajal, rizki, dan lainnya selama satu tahun, sebagaimana firman Allah : “Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” (Ad-Dukhaan: 4).

Kemudian, Allah berfirman mengagungkan kedudukan Lailatul Qadar yang Dia khususkan untuk menurunkan Al-Qur’anul Karim : “Dan tahukah kama apakah Lailatul Qadar itu?” ( Lihat Tafsir Ibnu Katsir, 4/429.)

Selanjutnya Allah menjelaskan nilai keutamaan Lailatul Qadar dengan firman-Nya : “Lailatul Qadar itu lebih baik dari pada seribu bulan.” Maksudnya, beribadah di malam itu dengan ketaatan, shalat, membaca, dzikir dan do’a sama dengan beribadah selama seribu bulan, pada bulan-bulan yang di dalamnya tidak ada Lailatul Qadar. Dan seribu bulan sama dengan 83 tahun 4 bulan.

Lalu Allah memberitahukan keutamaannya yang lain, juga berkahnya yang melimpah dengan banyaknya malaikat yang turun di malam itu, termasuk Jibril ‘alaihis salam. Mereka turun dengan membawa semua perkara, kebaikan maupun keburukan yang merupakan ketentuan dan takdir Allah. Mereka turun dengan perintah dari Allah. Selanjutnya, Allah menambahkan keutamaan malam tersebut dengan firman-Nya : “Malam itu (penuh) kesejahteraan hingga terbit fajar” (Al-Qadar: 5) Maksudnya, malam itu adalah malam keselamatan dan kebaikan seluruhnya, tak sedikit pun ada kejelekan di dalamnya, sampai terbit fajar. Di malam itu, para malaikat -termasuk malaikat Jibril- mengucapkan salam kepada orang-orang beriman.

Dalam hadits shahih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan keutamaan melakukan qiyamul lail di malam tersebut. Beliau bersabda :
“Barangsiapa melakukan shalat malam pada saat Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Hadits Muttafaq ‘Alaih)

Tentang waktunya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Carilah Lailatul Qadar pada (bilangan) ganjil dari sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. ” (HR. Al-Bukhari, Muslim dan lainnya). Yang dimaksud dengan malam-malam ganjil yaitu malam dua puluh satu, dua puluh tiga, dua puluh lima, dua puluh tujuh, dan malam dua puluh sembilan.

Adapun qiyamul lail di dalamnya yaitu menghidupkan malam tersebut dengan tahajud, shalat, membaca Al-Qur’anul Karim, dzikir, do’a, istighfar dan taubat kepada Allah Ta ‘ala.

Aisyah radhiallahu ‘anha berkata, aku bertanya : “Wahai Rasulullah, apa pendapatmu jika aku mengetahui lailatul Qadar, apa yang harus aku ucapkan di dalamnya?” Beliau menjawab, katakanlah : “Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, Engkau mencintai Pengampunan maka ampunilah aku.” (HR. At-Tirmidzi, ia berkata, hadits hasan shahih).

Pelajaran dari surat Al-Qadr :

1. Keutamaan Al-Qur’anul Karim serta ketinggian nilainya, dan bahwa ia diturunkan pada saat Lailatul Qadar.

2. Keutamaan dan keagungan Lailatul Qadar, dan bahwa ia menyamai seribu bulan yang tidak ada Lailatul Qadar di dalamnya.

3. Anjuran untuk mengisi kesempatan-kesempatan baik seperti malam yang mulia ini dengan berbagai amal shalih.

Jika Anda telah mengetahui keutamaan-keutamaan malam yang agung ini, dan ia terbatas pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan maka seyogyanya Anda bersemangat dan bersungguh-sungguh pada setiap malam dari malam-malam tersebut, dengan shalat, dzikir, do’a, taubat dan istighfar. Mudah-mudahan dengan demikian Anda mendapatkan Lailatul Qadar, sehingga Anda berbahagia dengan kebahagiaan yang kekal yang tiada penderitaan lagi setelahnya Di malam-malam tersebut, hendaknya Anda berdo’a dengan do’a-do’a bagi kebaikan dunia-akhirat, di antaranya :

1. “Ya Allah, perbaikilah untukku agamaku yang merupakan penjaga urusanku, dan perbaikilah untukku duniaku yang di dalamnya adalah kehidupanku, dan perbaikilah untukku akhiratku yang kepadanya aku kembali, dan jadikanlah kehidupan (ini) menambah untukku dalam setiap kebaikan, dan kematian menghentikanku dari setiap kejahatan. Ya Allah bebaskanlah aku dari (siksa) api Neraka, dan lapangkanlah untukku rizki yang halal, dan palingkanlah daripadaku kefasikan jin dan manusia, wahai Dzat Yang Hidup dan terus menerus mengurus (makhluk-Nya)”

2. “Wahai Tuhan kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan jagalah kami dari siksa Neraka. Wahai Dzat Yang Hidup lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya), wahai Dzat Yang Memiliki Keagungan dan Kemulyaan.”

3. “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon hal-hal yang menyebabkan (turunnya) rahmat-Mu, ketetapan ampunan-Mu, keteguhan dalam kebenaran dan mendapatkan segala kebaiikan, selamat dari segala dosa, kemenangan dengan (mendapat) Surga serta selamat dari Neraka. Wahai Dzat Yang Maha Hidup dan terus menerus mengurusi makhluk-Nya, Wahai Dzat yang memiliki Keagungan dan Kemuliaan. “

4. “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu pintu-pintu kebajikan, kesudahan (hidup) dengannya serta segala yang menghimpunnya, secara lahir-batin, di awal maupun di akhirnya, secara terang-terangan maupun rahasia. Ya Allah, kasihilah keterasinganku di dunia dan kasihilah kengerianku di dalam kubur serta kasihilah berdiriku di hadapanmu kelak di akhirat. Wahai Dzat Yang Mahahidup, yang memiliki Keagungan dan Kemuliaan. “

5. “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, ‘afaaf (pemeliharaan dari segala yang tidak baik) serta kecukupan.”

6. “Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, mencintai pengampunan maka ampunilah aku. “

7. “Ya Allah, aku mengharap rahmat-Mu maka janganlah Engkau pikulkan (bebanku) kepada diriku sendiri meski hanya sekejap mata, dan perbaikilah keadaanku seluruhnya, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. “

8. “Ya Allah, jadikanlah kebaikan sebagai akhir dari semua urusan kami, dan selamatkanlah kami dari kehinaan dunia dan siksa akhirat.”

9. “Ya Tuhan kami, terimalah (permohonan) kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui, wahai Dzat Yang Maha Hidup, yang memiliki keagungan dan kemuliaan.”

“Semoga shalawat dan salam dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, segenap keluarga dan para sahabatnya. “
Tomica is offline   Reply With Quote
Old September 11, 2009, 04:14   #1071
AlfaOmega
Registered User
 
AlfaOmega's Avatar
 
Join Date: Mar 2003
Posts: 14,082
WebPoint: 0
GaulPoint: 6129
AlfaOmega belum terkenal
Beda Niat dengan Imam
Rabu, 09/09/2009 16:09 WIB

ustad bolehkah kita beda niata dengan imam dalam shalat..?

dan kalau kita niat shalat nya 2 rakaat, ternyata imamnya shalat 3 rakaat, gimana menyingkapi ini ustad?

nop
Jawaban

Waalaikumussalam Wr Wb

Diantara rukun shalat adalah niat, yaitu menyengaja dan bermaksud secara sungguh-sungguh untuk melakukan sesuatu. Atau kemauan yang tertuju untuk melakukan suatu perbuatan demi mengharapkan ridho Allah swt dengan mematuhi peraturannya, sebagaimana firman Allah swt :

Artinya : ”Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.” (QS. Al Bayyinah : 5)


Niat adalah perbuatan hati semata yang tidak ada sangkut pautnya dengan lisan dan tidak ada anjuran untuk pengucapan niat secara lisan. Niat ini menjadi faktor penentu diterima atau ditolaknya suatu perbuatan atau ibadah seseorang, termasuk shalat. Bagi setiap orang yang melaksanakan shalat apa yang diniatkannya.

Apabila anda ikut melaksanakan shalat bersama imam shalat tiga rakaat sementara anda berniat dua rakaat maka hendaknya anda duduk dalam keadaan tasyahud pada rakaat kedua anda dan tidak perlu ikut bangun bersamanya yang melaksanakan rakaat ketiganya hingga ia duduk tasyahud pada rakaat terakhirnya itu lalu anda ikut salam bersamanya.

Sebagiaman penjelasan diatas bahwa imam akan mendapatkan apa yang diniatkannya dan begitu pula anda mendapatkan apa yang anda niatkan, sabda Rasulullah saw,”Sesungguhnya amal perbuatan tergantung niatnya dan bagi setiap orang hanyalah apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Wallahu A’lam
__________________
AlfaOmega is offline   Reply With Quote
Old September 12, 2009, 05:44   #1072
AlfaOmega
Registered User
 
AlfaOmega's Avatar
 
Join Date: Mar 2003
Posts: 14,082
WebPoint: 0
GaulPoint: 6129
AlfaOmega belum terkenal
Maksud Allah Lebih Dekat dari Urat Leher
Jumat, 11/09/2009 11:04 WIB

Ass. Wr.wb

Mohon penjelasan mengenai kata-kata bahwa Allah itu lebih dekat dari urat leher

Wass.wr.wb

Ali
Jawaban

Waalaikumussalam Wr Wb

Saudara Ali yang dimuliakan Allah swt

Firman Allah swt :

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ ﴿١٦﴾
إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ ﴿١٧﴾

Artinya : "Dan Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri.” (QS. Qoff : 16 – 17)

Firman-Nya,” وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيد “ artinya : “dan kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” adalah para malaikat Allah swt lebih dekat kepada manusia dari urat lehernya. Dan barangsiapa yang menakwilkannya atas dasar ilmu maka dia akan menghindar agar tidak terjadi penyatuan antara keduanya (hulul / ittihad), dan hal itu tertolak berdasarkan ijma’, Maha Suci dan Maha Tinggi Allah swt. Namun lafazh tidaklah menunjukkan yang demikian karena Allah swt tidak mengatakan,”dan Aku lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” akan tetapi Dia swt mengatakan,”dan kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya”

Sebagaimana disebutkan didalam ”al Muhtadhor” bahwa makna dari :

Artinya : ”Dan kami lebih dekat kepadanya dari pada kamu. tetapi kamu tidak melihat,”
(QS. Al Waqi’ah : 85) yaitu malaikat-Nya, sebagaimana firman Allah swt :

Artinya : ”Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya kami benar-benar memeliharanya.” (QS. Al hijr : 85) yaitu malaikat turun dengan membawa Al Qur’an dengan izin Allah swt. Begitu pula dengan malaikat lebih dekat kepada manusia dari pada urat lehernya dengan kekuasaan Allah terhadap mereka. (Tafsir al Qur’an al Azhim juz VII hal 398)

Sedangkan makna ”ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri.” yaitu Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya saat kedua malaikat mencatat amalnya. Artinya bahwa Kami lebih mengetahui tentang keadaannya dan Kami tidak memerlukan malaikat pemberitahu akan tetapi kedua malaikat itu ditugaskan untuk suatu keperluan sebagai penegasan perintah.

Al Hasan. Mujahid dan Qatadah mengatakan bahwa المتلقيان adalah dua malaikat yang mencatat amalmu, satu berada di sebelah kananmu mencatat amal kebaikanmu sedangkan yang lainnya berada di sebelah kirimu mencatat amal keburukanmu.

Al Hasan mengatakan,”Hingga jika engkau meninggal maka ditutuplah lembaran catatan amalmu lalu pada hari kiamat maka dikatakanlah kepadamu, firman Allah swt :

Artinya : "Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu". (QS. Al Israa : 14) ....demi Allah engkaulah yang telah menjadikan dirimu menghisab dirimu sendiri.” (al Jami’ Li Ahkamil Qur’an juz IX hal 11 - 12)

Wallahu A’lam
__________________
AlfaOmega is offline   Reply With Quote
Old September 28, 2009, 07:03   #1073
AlfaOmega
Registered User
 
AlfaOmega's Avatar
 
Join Date: Mar 2003
Posts: 14,082
WebPoint: 0
GaulPoint: 6129
AlfaOmega belum terkenal
Islam Keras dan Santun
Jumat, 4 September 2009 | 02:47 WIB
Said Aqiel Siradj

Tema radikalisme Islam kembali mencuat. Sebutannya pun bisa beragam, seperti ekstrem kanan, fundamentalis, dan militan. Ada juga yang menyebut radikal dengan sebutan Neo-Khawarij dan Khawarij abad ke-20.

Radikalisme sekelompok Muslim tidak dapat dijadikan alasan untuk menjadikan Islam sebagai biang keladi radikalisme. Yang pasti, radikalisme berpotensi menjadi bahaya besar bagi masa depan peradaban manusia.

Gerakan radikalisme bukan sebuah gerakan spontan, tetapi memiliki faktor pendorong. Gejala kekerasan ”agama” bisa didudukkan sebagai gejala sosial-politik daripada gejala keagamaan. Akar masalahnya bisa ditelusuri dari sudut sosial-politik dalam kerangka historisitas manusia.

Faktor lain adalah sentimen keagamaan dan solidaritas keagamaan untuk kawan yang tertindas oleh kekuatan tertentu. Namun, hal ini lebih tepat disebut faktor emosi keagamaan, bukan faktor agama an sich, meski gerakan radikalisme selalu mengibarkan simbol agama seperti jihad dan mati syahid. Emosi keagamaan adalah agama sebagai pemahaman realitas, bersifat. Jadi, sifatnya nisbi dan subyektif.

Faktor kultural juga memiliki andil besar yang melatarbelakangi munculnya radikalisme. Secara kultural, di masyarakat selalu ditemukan usaha untuk melepaskan diri dari jerat jaring-jaring kebudayaan yang dianggap tidak sesuai. Faktor kultural adalah sebagai antitesa terhadap budaya sekularisme Barat yang dicap sebagai musuh besar.


Islam Indonesia


Islam adalah agama ”pendatang” karena berasal dari Timur Tengah. Namun, berkat proses transformasi yang berjalan damai, Islam menjadi bagian tak terpisahkan kehidupan bangsa Indonesia. Sesuai makna dasar Islam, dari kata aslama, bermakna ”damai”, ternyata para pembawa panji-panji Islam tempo dulu mampu menyebarkan agama Islam dengan damai.

Penyebaran Islam di Indonesia berjalan lancar dan tidak menimbulkan konfrontasi dengan pemeluk agama sebelumnya. Masuk melalui pantai Aceh, Islam dibawa para perantau dari berbagai penjuru, seperti Arab Saudi dan sebagian dari mereka ada yang berasal dari Gujarat.

Penyebab proses Islamisasi berjalan damai karena kepiawaian para mubalig dalam memilih media dakwah, seperti sosial budaya, ekonomi, dan politik. Dalam penggunaan media budaya, sebagian mubalig memanfaatkan wayang sebagai salah satu media dakwah. Sunan Kalijaga, misalnya, mampu menarik simpati rakyat Jawa yang amat akrab dengan budaya dan tradisi Hindu-Buddha.

Para pembawa panji Islam juga memanfaatkan aspek ekonomi untuk mengembangkan nilai-nilai dan ajaran Islam. Dari berbagai literatur terungkap, aspek itu menempati posisi strategis dalam upaya Islamisasi di Nusantara. Salah satu faktor yang mendorong minat masyarakat Nusantara mengikuti agama para pedagang itu karena tata cara dagang serta perilaku sehari-hari lainnya dianggap menarik sanubari masyarakat setempat.

Setelah kokoh menancapkan pengaruhnya di Indonesia, peran Islam lambat laun meningkat ke wilayah politik melalui upaya mendirikan kerajaan Islam, antara lain Kerajaan Pasai, Demak, Mataram, dan Pajang. Lalu, semua itu mengalami keruntuhan karena adanya berbagai faktor, baik konflik internal di antara anggota keluarga kerajaan maupun faktor eksternal seperti serbuan kolonialis Portugis dan Belanda. Namun, posisi Islam tetap kukuh dan kian menyatu dengan kehidupan masyarakat dan hampir selalu memperlihatkan wajahnya yang ramah dan santun. Gejolak yang sifatnya radikal nyaris tak terdengar.

Dakwah santun


Memahami Islam secara tekstualistik akan mendatangkan sikap ekstrem. Padahal, Al Quran tidak melegitimasi sedikit pun perilaku dan sikap yang melampaui batas. Dalam konteks ini, ada tiga sikap yang dikategorikan ”melampaui batas”.

Pertama, ghuluw, bentuk ekspresi berlebihan manusia dalam merespons persoalan
hingga mewujud dalam sikap-sikap di luar batas kewajaran kemanusiaan.

Kedua, tatharruf, sikap berlebihan karena dorongan emosional yang berimplikasi kepada empati berlebihan dan sinisme keterlaluan dari masyarakat.

Ketiga, irhab, yang mengundang kekhawatiran karena bisa membenarkan kekerasan atas nama agama. Irhab adalah sikap dan tindakan berlebihan karena dorongan agama atau ideologi.

Idealnya, seorang Muslim harus memahami ajaran Islam secara utuh, hingga berdampak sosial yang positif bagi dirinya. Alangkah kering dan gersangnya agama jika aspek eksoterik dalam Islam hanya sebatas legal-formal dan tekstualistik. Sebuah ayat tentang jihad akan terasa gersang jika pemahamannya dimonopoli tafsir ”perang mengangkat senjata”. Padahal, jihad pada masa Rasulullah merupakan wujud pembebasan rakyat untuk menghapus diskriminasi dan melindungi hak-hak rakyat demi terbangunnya tatanan masyarakat yang beradab.

Puncak keberagamaan seseorang terletak pada sikap arif dan bijaksana (al-hikmah).
Di sinilah perlunya mengedepankan aspek esoteris Islam. Sisi ini merupakan pemahaman keislaman yang moderat, serta bentuk dakwah yang mengedepankan qaulan karima (perkataan yang mulia), qaulan ma’rufa (perkataan yang baik), qaulan maisura (perkataan yang pantas), qaulan layyinan (perkataan yang lemah lembut), qaulan baligha (perkataan yang berbekas pada jiwa), dan qaulan tsaqila (perkataan yang berat). Semua sikap itu telah diamanatkan dalam Al Quran.

Said Aqiel Siradj Ketua PBNU

http://cetak.kompas.com/read/xml/200...ras.dan.santun
__________________
AlfaOmega is offline   Reply With Quote
Old September 29, 2009, 06:36   #1074
AlfaOmega
Registered User
 
AlfaOmega's Avatar
 
Join Date: Mar 2003
Posts: 14,082
WebPoint: 0
GaulPoint: 6129
AlfaOmega belum terkenal
Shalat dengan Memejamkan Mata
Senin, 28/09/2009 15:10 WIB

Assalammu'alaikum Warrahmatullaah Wabarokatuh,

Pak ustadz,

Saya ingin bertanya, apakah boleh kita melakukan sholat sambil memejamkan mata...?? ini saya lakukan untuk menambah kekhusyuan saya didalam melaksanakan ibadah sholat, karena saya pernah membaca ada yang membolehkan dan ada yang tidak.

Apakah ada dalilnya mengenai perkara ini...???

Terimakasih.

Wassalam,

Ichwan
Jawaban

Waalaikumussalam Wr Wb

Saudara Ichwan yang dimuliakan Allah swt.

Para ulama memakruhkan memejamkan mata saat mengerjakan shalatnya, seperti dikatakan oleh para ulama Hanafi, Maliki, Hambali dan sebagian dari Syafi’i. Mereka beralasan bahwa hal itu adalah perbuatan orang-orang Yahudi dan bertentangan dengan yang disunnahkan oleh Rasulullah saw, yaitu mengarahkan pandangannya ke tempat sujud.

Terdapat hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ath Thabrani dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah saw bersabda,”Apabila salah seorang diantara kalian berdiri untuk mengerjakan shalat maka janganlah dia memejamkan kedua matanya.”

Meskipun hadits Ibnu Abbas diatas adalah hadits lemah, sebagaimana disebutkan Imam al Haitsami didalam kitabnya “Majma’ Az Zawaid” akan tetapi para ulama membangun pendapat mereka yang memakruhkan memejamkan mata saat mengerjakan shalat itu diatas atsar para sahabat.

Jadi pada dasarnya memejamkan mata saat shalat adalah makruh kecuali apabila hal itu dibutuhkan, seperti : dapat menambah kekhusyu’annya, menjaga fikirannya agar tidak melanglang-buana ketika mengerjakan shalat dikarenakan melihat sesuatu yang ada dihadapan atau dibawahnya, terdapat wanita asing yang dapat menggangu shalatnya atau sesuatu lainnya maka hal itu diperbolehkan
, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Abidin dari kalangan ulama Hanafi didalam kitabnya “Ad Dur al Mukhtar” bahwa memejamkan mata saat shalat adalah dilarang (makruh) kecuali apabila hal itu dapat menyempurnakan kekhusyu’annya.

Walllahu A’lam
__________________
AlfaOmega is offline   Reply With Quote
Old October 01, 2009, 06:33   #1075
AlfaOmega
Registered User
 
AlfaOmega's Avatar
 
Join Date: Mar 2003
Posts: 14,082
WebPoint: 0
GaulPoint: 6129
AlfaOmega belum terkenal
Antara Puasa Qadha dan Syawal
Selasa, 29/09/2009 13:36 WIB

assalamualaikum wr wb..

langsung aja ustad.. saya mau nanya tentang bulan syawal.

kita diharuskan syawal terlebih dahulu atau mengqodho puasa ramadhan?

pada tgl brp saja dimulainya puasa syawal? apakah harus terusmenerus atw boleh terputus?

saya sangat butuh jawabannya.

terimakasih ustad.

wassalamualaikum wr wb.

anna
Jawaban

Waalaikumussalam Wr Wb

Saudara Anna yang dimuliakan Allah swt

Mengqodho puasa Ramadhan dan berpuasa enam hari di bulan syawal merupakan ibadah yang disyariatkan. Tentang mengqodho ini terdapat didalam firman Allah swt :

أَيَّامًا مَّعْدُودَاتٍ فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ


Artinya : “(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.” (QS. Al Baqoroh : 184)


Sedangkan berpuasa enam hari di bulan syawal terdapat didalam riwayat dari Abu Ayyub dari Rasulullah saw bahwa beliau saw bersabda,”Barangsiapa yang berpuasa ramadhan lalu menlanjutkannya dengan (berpuasa) enam hari di bulan syawal maka itulah puasa sepanjang tahun.” (HR. Muslim)

Orang yang berpuasa selama bulan ramadhan ditambah lagi dengan puasa enam hari sama dengan puasa sepanjang tahun dikarenakan setiap kebaikan sebanding dengan sepuluh kebaikan. Puasa ramadhan sama dengan sepuluh bulan sedangkan enam hari bulan syawal sama dengan dua bulan sehingga seluruhnya menjadi dua belas bulan atau setahun penuh.

Yang paling utama melakukan puasa enam hari syawal ini adalah langsung melanjutkan puasa ramadhannya kecuali pada hari raya idul fitri karena pada hari ini diharamkan bagi seseorang untuk berpuasa. Jadi seseorang dapat melakukannya secara terus menerus tanpa terputus sejak hari kedua bulan syawal hingga hari ketujuhnya.

Dan dibolehkan juga bagi seseorang untuk berpuasa enam hari bulan syawal dengan cara terputus-putus dihari yang dikehendakinya di bulan syawal kecuali pada hari idul fitri.

Adapun mana yang harus didahulukan antara mengqodho ramadhan atau puasa enam hari di bulan syawal ?


Syeikh Muhammad bin Shaleh al Utsaimin mengatakan bahwa logikanya adalah mendahulukan yang wajib daripada yang sunnah karena yang wajib adalah utang yang harus dilunasi sedangkan yang sunnah adalah sesuatu yang dianjurkan ditunaikan apabila mendapatkan kemudahan dan jika ia tidak mendapati maka tidak ada kesempitan baginya untuk meninggalkannya.


Dari sini, kami mengatakan kepada seorang yang diharuskan mengqodho ramadhannya adalah,”Qodholah ramadhan yang menjadi kewajiban anda sebelum anda melakukan puasa sunnah. Dan jika anda melakukan puasa sunnah sebelum mengqodho ramadhan maka puasa sunnah itu dibenarkan selama waktu (mengqodho) itu masih luas (panjang). Karena qodho ramadhan bisa dilakukan hingga ramadhan berikutnya. Dan selama perkara itu masih memiliki keluasan waktu maka diperbolehkan melakukan puasa yang sunnah, seperti shalat fardhu, apabila seorang melaksanakan shalat sunnah sebelum fardhu yang masih memiliki keluasan waktunya maka hal itu diperbolehkan.

Sehingga barangsiapa yang berpuasa arafah atau asy syuro sementara dirinya masih memiliki utang qodho ramadhan maka puasanya itu sah. Akan tetapi seandainya dirinya meniatkan berpuasa hari itu dengan niat mengqodho ramadhannya maka dirinya akan mendapatkan dua pahala, yaitu pahala puasa hari arafah atau puasa asy syuro dengan pahala mengqodho.

Hal demikian adalah bagi puasa sunnah yang tidak ada hubungannya dengan puasa ramadhan. Adapun puasa enam hari bulan syawal adalah puasa sunnah yang berhubungan dengan ramadhan, sebagaimana sabda Rasulullah saw,”Barangsiapa yang berpuasa ramadhan lalu melanjutkannya dengan enam hari bulan syawal maka ia seperti puasa sepanjang tahun.”

Ada sebagian orang beranggapan bahwa jika dirinya mengkhawatirkan bulan syawal akan berakhir sebelum dirinya berpuasa enam hari syawal maka hendaklah dia berpuasa enam hari itu walaupun ia belum mengqodho ramadhannya, sungguh ini pemahaman yang salah. Sesungguhnya puasa enam hari bulan syawal tidaklah bisa dilakukan kecuali apabila dirinya telah menyelesaikan qodho ramadhannya.” (Liqo’at al Bab al Maftuh juz V hal 5)

Wallahu A’lam
__________________
AlfaOmega is offline   Reply With Quote
Old October 04, 2009, 09:44   #1076
AlfaOmega
Registered User
 
AlfaOmega's Avatar
 
Join Date: Mar 2003
Posts: 14,082
WebPoint: 0
GaulPoint: 6129
AlfaOmega belum terkenal
Misteri Ya'juj dan Ma'juj
Rabu, 30/09/2009 10:44 WIB

asalamuilaikumk

ustad saya mau tanya sb b:

1.siapakah yakzud dan makzud itu?

2.dimana yakzud dan makzud berda sekarang ?

3.apakah yakzud dan makzud masih hidup atau sudah mati?

4.bagaimana sejarah yakzud dan makzud itu ?

kiving
Jawaban

Waalaikumussalam Wr Wb

Diantara tanda-tanda kiamat besar adalah keluarnya Ya’juj dan Ma’juj. Para ulama berbeda pendapat tentang nasab mereka. Ada yang mengatakan bahwa mereka adalah keturunan Adam.

Al Hafizh Ibnu Hajar lebih memilih pendapat yang mengatakan bahwa mereka adalah dua kabilah dari keturunan Yafits bin Nuh, yang keduanya adalah keturunan dari Adam dan Hawa. Hal ini diperkuat oleh hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori dari Abu Said al Khudriy bahwa Nabi saw bersabda,”’Wahai Adam.’ Adam berkata,”Labbaik wa sa’daik dan kebaikan ada pada-Mu.’ Allah berfirman,”Keluarkanlah ba’sannnar.” Adam bertanya,”Apa itu ba’tsannar?” Allah berfirman,”Dari setiap 1000 orang ia ada 999 orang maka pada saat itu anak kecil akan beruban, seorang yang hamil akan meletakkan kandungannya dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal Sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat kerasnya.” (QS. Al Hajj : 2).’ Para sahabat bertanya,”Wahai Rasulullah manakah diantara kami yang satu itu (1000 – 999) ?” beliau saw menjawab,”Bergembiralah kalian, sesungguhnya seorang dari kalian sama dengan 1000 orang dari Ya’juj dan Ma’juj.” Kemudian beliau saw bersabda,"Demi yang jiwaku berada ditangan-Nya, aku berharap kalian menempati seperempat penduduk surga.” Maka kami pun bertakbir. Lalu beliau saw bersabda,”Aku berharap kalian menempati sepertiga penduduk surga.” Maka kami pun bertakbir. Lalu beliau saw bersabda,”Aku berharap kalian menempati separuh penduduk surga.” Maka kami pun bertakbir. Lalu beliau bersabda,”Tidaklah kalian diantara manusia kecuali bagai sehelai bulu hitam dibadan seekor sapi putih atau bagai sehelai bulu putih dibadan seekor sapi hitam.”

Didalam fatwa al Lajnah Ad Daiimah Lil Buhuts wa al Ifta disebutkan bahwa ya’juj dan ma’juj ini berada di benua Asia, sebelah utara Cina.

Amin Muhammad Jamaludin didalam kitabnya “Umur Umat Islam” mengatakan bahwa mereka adalah keturunan Yaftits bin Nuh. Karena Nuh mempunyai tiga orang anak, yaitu Ham, yang menjadi nenek moyang orang Habsyi (Afrika). Anak kedua bernama Sam, yang menjadi nenek moyang bangsa Arab, Persia dan Romawi. Sedangkan anak ketiga bernama Yafits yang menjadi nenek moyang bangsa Turki.

Karenanya Ya’juj dan Ma’juj adalah turunan paman-paman dari Turki (yaitu bangsa-bangsa Cina, Rusia, Mongolia. Bermuka lebar, bermata sipit (kecil), berambut pirang (hitam keputih-putihan atau keruh seperti awan), seakan-akan wajah mereka adalah seperti meja yang bundar. Ciri-ciri mereka yang seperti itu telah diterangkan oleh Rasulullah saw dalam hadits marfu’ yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya dari Abu Harmalah dari bibinya.

Dimana mereka sekarang ?

Allah swt berfirman :

حَتَّى إِذَا بَلَغَ بَيْنَ السَّدَّيْنِ وَجَدَ مِن دُونِهِمَا قَوْمًا لَّا يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ قَوْلًا ﴿٩٣﴾
قَالُوا يَا ذَا الْقَرْنَيْنِ إِنَّ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ فَهَلْ نَجْعَلُ لَكَ خَرْجًا عَلَى أَن تَجْعَلَ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ سَدًّا ﴿٩٤﴾
قَالَ مَا مَكَّنِّي فِيهِ رَبِّي خَيْرٌ فَأَعِينُونِي بِقُوَّةٍ أَجْعَلْ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ رَدْمًا ﴿٩٥﴾

Artinya : “Hingga apabila dia telah sampai di antara dua buah gunung, dia mendapati di hadapan kedua bukit itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan. Mereka berkata: "Hai Dzulqarnain, Sesungguhnya Ya'juj dan Ma'juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, Maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?" Dzulkarnain berkata: "Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, Maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka.” (QS. Al Kahfi : 93 – 95)


Jadi Ya’juj dan Ma’juj terkurung dibelakang dinding yang dibangun oleh Dzulqornain untuk mereka dikarenakan mereka banyak melakukan kerusakan dan kejahatan di muka bumi.
Dinding penghalang itu tebal, teguh dan tinggi menjulang yang terbuat dari besi dan tembaga yang dicampur, sehingga mereka tidak dapat melubanginya karena saking tebalnya dan tidak pula dapat memanjatnya karena saking tinggi dan licinnya. Dinding tersebut dibangun antara dua pembatas yang besar yaitu dua gunung yang besar.

Lalu dimanakah letak dinding ini? Ibnu Abbas, tinta umat dan ahli tafsir Al Qur’an mengatakan bahwa ia (dinding itu) terletak di persimpangan negeri Turki dengan Rusia, berdekatan dengan pegunungan kaukasus.” Pegunungan Kaukasus tingginya berkisar antara 1000 sampai dengan 3000 meter)

Walaupun demikian, lebih baik bagi kita untuk mengatakan bahwa tidak ada seorang pun yang akan dapat atau mampu mencapai tempat mereka, sebagaimana halnya siapa pun tidak akan dapat mencapai tempat dajjal (baca : Misteri al Jassasah di Hadits Dajjal) yang sampai sekarang masih terkurung apalagi mengeluarkannya. Karena keluarnya mereka semua adalah sebuah ‘masalah takdir” yang mempunyai waktu yang sudah maklum dan ditentukan didalam Lauh Mahfuzh.

Firman Allah swt :

قَالَ هَذَا رَحْمَةٌ مِّن رَّبِّي فَإِذَا جَاء وَعْدُ رَبِّي جَعَلَهُ دَكَّاء وَكَانَ وَعْدُ رَبِّي حَقًّا

Artinya : “Dzulqarnain berkata: "Ini (dinding) adalah rahmat dari Tuhanku, Maka apabila sudah datang janji Tuhanku, dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji Tuhanku itu adalah benar". (QS. Al Kahfi : 98)


Wallahu A’lam
__________________
AlfaOmega is offline   Reply With Quote
Old October 08, 2009, 06:09   #1077
AlfaOmega
Registered User
 
AlfaOmega's Avatar
 
Join Date: Mar 2003
Posts: 14,082
WebPoint: 0
GaulPoint: 6129
AlfaOmega belum terkenal
Memerangi Orang Kafir
Kamis, 08/10/2009 10:24 WIB

Assalamualaikum Wr,Wb

Pak Ustadz apa maksud dari tafsir :

Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang ada di sekitar kalian itu, dan hendaklah mereka merasakan kekerasan dari kalian. Ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa. (QS al-Taubah [9]: 123).

Mohon penejesannya Pak Ustadz ,apakah kita haru memerangi setiap ada orang kafir di sekitar kita atau seperti apa?

Terima Kasih ,

Wassalam

Salim
Jawaban

Waalaikumussalam Wr Wb

Saudara Salim yang dimuliakan Allah swt

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ قَاتِلُواْ الَّذِينَ يَلُونَكُم مِّنَ الْكُفَّارِ وَلِيَجِدُواْ فِيكُمْ غِلْظَةً وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan Ketahuilah, bahwasanya Allah bersama orang-orang yang bertaqwa.” (QS. At Taubah : 123)


Didalam menafsirkan ayat diatas, Al Qurthubi mengatakan bahwa Allah swt membertitahu orang-orang beriman tentang cara berjihad. Hendaklah dimulai dengan daerah musuh yang terdekat terlebih dahulu baru setelahnya. Begitulah Rasulullah saw melakukannya dengan memulainya dari jazirah Arab lalu Romawi yang saat itu berada di Syam. (al jami’ Li Ahkamil Qur’an juz jilid IV hal 607)

Didalam sejarah disebutkan bahwa setelah Rasulullah saw berhasil menundukkan orang-orang musyrikin di jazirah Arab dan Allah membebaskan negeri-negerinya, seperti Mekah, Madinah, Thaif, Yaman, Yamammah dan lainnya dan menjadikan manusia dari berbagai pelosok jazirah berbondong-bondong masuk kedalam agama islam lalu beliau saw mengalihkan perhatiannya untuk memerangi orang-orang ahli kitab dengan memerangi orang-orang Romawi di tabuk pada tahun 9 H.

Setelah beliau saw wafat di tahun 10 H tepatnya sebelas hari setelah melaksanakan Haji Wada maka urusan jihad tersebut diteruskan oleh Abu Bakar dengan memerangi orang-orang yang murtad dan enggan membayar zakat.

Ibnu katsir menyebutkan bahwa setelah Abu Bakar memerangi orang-orang murtad dan enggan membayar zakat lalu dia mempersiapkan pasukannya untuk menuju Romawi para penyembah salib dan Parsia para penyembah api. Allah pun memberikan kemenangan kepada pasukannya, menundukkan Kisra dan Qoisar serta menginfakkan kekayaan dari kedua negeri itu di jalan Allah swt sebagaimana diberitakan oleh Rasulullah saw.

Urusan jihad kemudian beralih kepada al Faruq, Abu Hafshin Umar bin Khottob yang dengannya Allah swt menekuk kesombongan kaum akfir atheis, menundukan para thaghut dan orang-orang munafik. Umar berhasil menguasai kerajaan-kerajaan yang ada di timur dan barat…

Setelah Umar syahid dan menjalani hidupnya dengan kemuliaan maka para sahabat dari kalangan Muhajirin dan Anshar bersepakat untuk memberikan kekhilafahan Amirul Mukminin kepada Utsman bin ‘Affan… Pada masa Utsman, islam mengalami kejayaan di timur dan barat dan kalimat Allah menjadi tinggi.. (Tafsir Al Qur’an Al Azhim juz IV hal 238)

Semisal dengan surat At Taubah ayat 123 ini adalah surat Al Fath : 29

مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاء عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاء بَيْنَهُمْ

Artinya : “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.” (QS. Al Fath : 29)


Kedua ayat tersebut bukanlah ditujukan kepada semua orang kafir akan tetapi hanya terhadap orang-orang kafir yang memerangi kaum muslimi. Setiap muslim diperintahkan untuk berbuat baik kepada semua manusia termasuk orang-orang kafir yang suka perdamaian dan tidak memerangi kaum muslimin, sebagaimana perintah Allah swt.

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ
[color=blue]
Artinya : “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu Karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al Mumtahanah : 8)
[color]
Wallahu A’lam
__________________
AlfaOmega is offline   Reply With Quote
Old October 16, 2009, 10:16   #1078
AlfaOmega
Registered User
 
AlfaOmega's Avatar
 
Join Date: Mar 2003
Posts: 14,082
WebPoint: 0
GaulPoint: 6129
AlfaOmega belum terkenal
Hukum Berbohong Bagi Politikus
Kamis, 15/10/2009 09:16 WIB

Pak Ustad, ketika bulan syawal lalu saya mendengar dari televisi bahwa dikatakan politikus itu wajib berbohong, ungkapan ini disampaikan oleh saudaranya ulama terkemuka di Indonesia. Tolong beri penjelasan tentang hukum berbohong bagi seorang politikus menurut Islam.

Alfian
Jawaban

Waalaikumussalam Wr Wb

Saudara Alfian yang dimuliakan Allah swt

Pada dasarnya dusta adalah perbuatan yang diharamkan dan termasuk dosa yang paling buruk dan keji, berdasarkan firman Allah swt :

Artinya : “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta "Ini halal dan Ini haram", untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung.” (QS. An Nahl : 116)

Didalam riwayat Bukhori dan Muslim dari Abdullah bahwasanya Rasulullah saw bersabda,”Sesungguhnya dusta membawa kepada kedurhakaan sedangkan kedurhakaan menyeret ke neraka. Dan sesungguhnya seseorang berdusta hingga ditulis di sisi Allah sebagai pendusta.”

Terdapat keringan didalam berdusta ini sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Hajar al Haitsami didalam kitabnya “Az Zawajir” bahwa dusta terkadang dibolehkan dan terkadang diwajibkan.

Patokannya—sebagaimana disebutkan didalam kitab “Ihya’—bahwa setiap tujuan terpuji yang bisa dicapai dengan kejujuran dan kedustaan sekaligus maka berdusta didalam hal ini adalah haram. Jika bisa dicapai hanya dengan berdusta saja maka berdusta didalamnya mubah (boleh) jika pencapaian hal itu memang mubah. Dan wajib jika pencapaian tujuan itu sendiri wajib dilakukan. Seperti jika seseorang melihat seorang muslim yang tidak bersalah sedang bersembunyi dari seorang zhalim yang ingin membunuh atau menyakitinya maka berdusta didalam hal ini adalah wajib, karena adanya kewajiban melindungi darah seorang yang dilindungi. (az Zawajir An Iqtirof al Kabair juz III hal 238)

Didalam riwayat Bukhori dan Muslim dari Ummu Kaltsum binti Uqbah bin Mu’ith disebutkan bahwa dia mendengar Rasulullah saw bersabda,”Bukanlah pendusta orang yang mendamaikan antara manusia lalu dia mengembangkan kebaikan dan mengatakan kebaikan.” Didalam riwayat lain,”Aku tidak pernah mendengar beliau memberikan keringan terhadap apa yang dikatakan manusia berupa dusta kecuali dalam tiga hal : peperangan, mendamaikan diantara manusia dan perkataan suami kepada istrinya atau perkataan istri pada suaminya.” Maksud dari perkataan antara suami istri itu adalah tentang cinta yang dapat membantu kelanggengan hubungan diantara mereka.

Didalam tiga perkara diatas : peperangan, mendamaikan antara manusia dan perkataan suami istri demi menjaga kelanggengan hubungan mereka pun tetap dianjurkan untuk tidak berdusta akan tetapi hendaklah menggunakan kata-kata kiasan, yaitu kata-kata yang mengandung dua arti, si pembicara menginginkan makna yang benar sementara si pendengar memahaminya dengan arti yang lain.

Dengan demikian bisa difahami bahwa dusta tidaklah diperbolehkan kecuali dikarenakan suatu keadaan darurat atau mendesak. Karena dalam kondisi seperti ini maka yang haram bisa menjadi halal dan tetap diharuskan dalam batas-batas yang tidak berlebihan. Artinya bahwa rukhshah (keringanan) didalam dusta digunakan sesempit mungkin jika tidak ada lagi cara lain untuk mencapai tujuan (kemaslahatan) dan mencegah kemudharatan kecuali hanya dengan berdusta. Namun demikian para ulama menganjurkan kepada setiap orang yang menghadapi kondisi seperti itu hendaklah berusaha untuk menggunakan kata-kata kiasan terlebih dahulu sebelum dirinya berdusta sebagai jalan terakhir.

Kemaslahatan yang dimaksud diatas bukanlah kemaslahatan yang bersifat pribadi, seperti : mendapatkan tambahan harta kekayaannya, menaikkan popularitasnya, jabatannya atau lainnya. Atau pun kemaslahatan golongan atau partainya saja, seperti : menambah keuangan partai, menaikkan popularitas partainya atau lainnya. Akan tetapi ia adalah kemaslahatan seluruh rakyat untuk mendapatkan hak-haknya, seperti : hak hidup, hak mendapatkan pendidikan dan kesehatan, hak mendapatkan rasa aman dan perlindungan dari berbagai bentuk penzhaliman, penganiayaan, penindasan oleh orang-orang atau kelompok-kelompok tertentu.

Hal itu berlaku bagi setiap orang apa pun profesinya termasuk apabila ia adalah seorang politisi. Dan ungkapan : “Seorang politisi wajib berbohong” ini dapat disalah-artikan jika difahami secara mutlak karena dikhawatirkan ‘senjata’ dusta ini akan digunakan tanpa kendali oleh para politisi terutama oleh mereka yang berhati kotor untuk melegalkan segala perbuatan curangnya atas nama kemaslahatan rakyat tanpa melihat batasan-batasannya, seperti yang telah dijelaskan diatas.

Wallahu A’lam
__________________

Last edited by AlfaOmega; October 16, 2009 at 10:18.
AlfaOmega is offline   Reply With Quote
Old October 21, 2009, 05:11   #1079
AlfaOmega
Registered User
 
AlfaOmega's Avatar
 
Join Date: Mar 2003
Posts: 14,082
WebPoint: 0
GaulPoint: 6129
AlfaOmega belum terkenal
Kaum yang akan Didatangkan Allah
Jumat, 16/10/2009 09:08 WIB

Assalamualaikum Wr,Wb

Pak Ustadz apa maksud dari tafsir :

54. Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.
(QS al-Maa'idah [5]: 54).

Mohon penejesannya Pak Ustadz ,Seperti apakah Kaum yang dimaksud oleh Ayat Al Qur'an tersebut?

Terima Kasih ,

Wassalam

Hamran Danial

H'Ran D
Jawaban

Waalaikumussalam Wr Wb

Saudara Hamran yang dimuliakan Allah swt

Tentang makna dari kaum yang disebutkan didalam surat itu (Al Maidah : 54) ini memang telah terjadi perselisihan dikalangan ulama, sebagaiman disebutkan oleh Ibnu Katsir dan al Qurthubi didalam tafsirnya masing-masing.

Tentang firman Allah swt فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ (maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya), Ibnu Katsir menyebukan bahwa Al Hasan Al Bashri mengatakan,”Demi Allah, dia adalah Abu Bakar dan para sahabatnya, diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim.

Abu Bakar bin Abi Syaibah berkata,”Aku mendengar Abu Bakar bin Ayyash berkata tentang firman Allah swt : فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ (maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya) bahwa mereka adalah orang-orang al Qodisiyah. Sementara Laits bin Aslam dari Mujahid mengatakan bahwa mereka adalah kaum dari Saba’

Ibnu Abi Hatim mengatakan bahwa telah bercerita Abu Said al Asyaj kepada kami, telah bercerita Abdullah bin al Ajlah kepada kami dari Muhammad bin Amr dari Salim dari Said bin Jabir dari Ibnu Abbas tentang firman Allah فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ (maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya) bahwa mereka adalah orang-orang dari Yaman kemudian Kindah kemudian as Sakun.

Telah bercerita Muhammad bin al Mushaffa kepada kami, telah bercerita Muawiyah—bin Hafsh—kepada kami dari Abi Zayad al Halifaniy dari Muhammad bin al Mukandar dari Jabir bin Abdullah berkata,”Rasulullah saw pernah ditanya tentang firman Allah فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ (maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya) bersabda,’Mereka adalah kaum dari Ahli Yaman kemudian dari Kindah kemudian dari as Sakun kemudian dari Tujib.” Ini adalah hadits yang aneh sekali.

Ibnu Abi Hatim berkata bahwa telah bercerita Umar bin Syabbah kepada kami, telah bercerita Abdu ash Shamad—bin Abdu al Warits—kepada kami, telah becerita Syu’bah kepada kami dari Simak, aku mendengar ‘Iyyadh bercerita dari al Asy’ariy berkata,”Tatkala turun firman Allah فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ (maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya) Rasulullah saw bersabda,”Mereka adalah kaum ini.”Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari hadits Syu’bah. (Tafsir al Qur’an al Azhim juz III hal 135 – 136)

Al Qurthubi didalam tafsirnya menyebutkan bahwa makna dari firman Allah فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ (maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya) menurut Al Hasan, Qatadah dan lainnya adalah ayat itu tentang Abu bakar as Shiddiq dan para sahabatnya. As Suddiy mengatakan bahwa ia tentang kaum Anshor. Ada yang berpendapat bahwa ayat itu tentang suatu kaum pada waktu itu belum muncul. Dan bahwasanya Abu Bakar memerangi orang-orang yang murtad yang mereka semua pada waktu itu (turunnya ayat ini, pen) belum muncul. Mereka adalah orang-orang yang hidup di Yaman dari Kindah dan Bajilah serta dari Asyja’….

Al Hakim Abu Abdullah didalam “al Mustadrok” dengan sanadnya bahwa Nabi saw pernah menunjuk ke arah Abu Musa al Asy’ariy tatkal turun yat ini dan bersabda,” Merekalah kaum itu”. Al Qusyairy mengatakan bahwa para pengikut Abu al Hasan berasal dari kaumnya karena setiap tempat yang disandarkan didalamnya kata “kaum” kepada seorang nabi maka artinya adalah para pengikutnya. (al Jami Li Ahkamil Qur’an jilid III hal 568 – 569)

Wallahu A’lam
__________________
AlfaOmega is offline   Reply With Quote
Old October 29, 2009, 06:57   #1080
AlfaOmega
Registered User
 
AlfaOmega's Avatar
 
Join Date: Mar 2003
Posts: 14,082
WebPoint: 0
GaulPoint: 6129
AlfaOmega belum terkenal
Taklid dengan Imam Mazhab
Kamis, 29/10/2009 10:54 WIB

assalamu'alaikum wr wb..

ust yang saya hormati..

apakah wajib bagi setiap muslim bertaklid kepada salah satu 4 imam yang besar?sedangkan saya pernah membaca buku, bahwasanya imam syafi'i pernah berkata"jika itu hadis shohih maka itu adalah madzhabku" mohon dijelaskan...

syukron

Hairul Sidqi
Jawaban

Waalaikumussalam Wr Wb

Saudara Hairul yang dimuliakan Allah swt

Abul Ma’ali al Juweniy mengatakan bahwa taqlid adalah mengikuti (seseorang) tanpa disertai hujjah (dalil) dan tidak bersandar kepada ilmu.

Pada dasarnya setiap orang yang awam atau yang tidak memiliki kemampuan menelaah dalil-dalil dibolehkan untuk mengikuti (taqlid) kepada orang-orang alim yang memiliki kemampuan berijtihad berdasarkan firman Allah swt :

لاَ يُكَلِّفُ اللّهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا
Artinya : “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al Baqoroh : 286)

Artinya : “Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada Mengetahui.” (QS. Al Anbiya : 7)


Kemudian apakah diwajibkan bagi setiap muslim bertaqlid dengan salah satu imam mazhab tertentu ?! Sebelumnya kita perlu memilah dahulu tentang siapa yang dimaksud dengan seorang muslim didalam pertanyaan anda. Apakah ia seorang yang awam atau seorang yang menuntut ilmu syar’i dan yang mampu melakukan ijtihad ?

Apabila ia adalah seorang awam dan yang tidak memahami hukum-hukum syariah atau tidak memiliki kemampuan untuk menelaah dalil-dalil yang ada maka dibolehkan baginya bertaqlid atau memegang teguh satu imam madzhab tertentu.

Namun bukan berarti dirinya terus menerus mengikuti imam itu didalam setiap permasalahan bahkan didalam suatu permasalahan yang diketahui olehnya bahwa pendapatnya keliru. Karena ketika dirinya mendapatkan kekeliruan pendapat imamnya didalam suatu permasalahan maka diharuskan baginya untuk meninggalkannya dan beralih kepada pendapat imam lainnya yang diketahuinya lebih tepat atau benar yang ditunjukkan oleh dalil-dalilnya.

Jadi taqlid atau berpegang teguh dengan satu imam madzhab bagi mereka dibolehkan namun tidak diwajibkan dikarenakan tidak ada kewajiban kecuali terhadap apa-apa yang diwajibkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Allah dan Rasul-Nya tidaklah mewajibkan seseorang untuk bermadzhab kepada imam tertentu.

Adapun jika dia termasuk seorang yang sedang menuntut ilmu syar’i dan orang-orang yang mampu melakukan telaah terhadap berbagai dalil dan berijtihad didalam berbagai permasalahan dan kejadian walaupun ijtihadnya bersifat partial—maksudnya : kemampuan berijtihad di sebagian permasalahan dan tidak di sebagian lainnya—maka diwajibkan baginya untuk melakukan telaah terhadap dalil-dalilnya dan mengamalkan apa-apa yang sesuai denganya dan meninggalkan yang bertentangan dengannya.

Dikarenakan wajib bagi setiap orang memiliki kesanggupan untuk mengetahui hukum-hukum syar’iyah melalui berbagai dalilnya. Akan tetapi hal ini tidaklah berlaku bagi seorang yang awam dikarenakan ketidakmampuannya, sebagaimana firman-Nya :

لاَ يُكَلِّفُ اللّهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا

Artinya : ”Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al Baqoroh : 286)


Wallahu A’lam
__________________
AlfaOmega is offline   Reply With Quote
Reply

Bookmarks

Thread Tools

Posting Rules
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts

BB code is On
Smilies are On
[IMG] code is On
HTML code is Off

Forum Jump


All times are GMT. The time now is 15:04.

SIDEBAR
Remove This Bar
Register / Login to remove this bar and All Ads.
Image




Powered by vBulletin® Version 3.8.2
Copyright ©2000 - 2010, Jelsoft Enterprises Ltd.
Copyright ©2007, WebGaul. All Rights Reserved. A ZEIN Company. Designed, Developed, Maintained, Optimized, Operated by ZEIN.