WebGaul Forum : : A ZEIN Company  

Go Back   WebGaul Forum : : A ZEIN Company > :: FORUM DISKUSI WEBGAUL > Agama dan Iman > Buddha
WebGaul Forum Gallery Register Blogs FAQ Calendar Mark Forums Read
Notices






Reply
 
Thread Tools
Old August 24, 2009, 04:26   #1
-ViOn-
Le Paon Blanc
 
-ViOn-'s Avatar
 
Join Date: Mar 2008
Location: kuburan paling romantis dan puitis di dunia, Forum Bahasa n Sastra WebGaul.com
Posts: 7,107
WebPoint: 0
GaulPoint: 2.067
-ViOn- Bisa dipercaya
Tanggapan kepada Kritik ke Umat Buddhist

1.PENYEMBAHAN BERHALA
Kritik: Yeah, kita semua tau lah ini kritik paling klasik yang gak bosen2nya dikeluarin terus dari mulut2 orang2 yang gak tau apa - apa dan juga membenci Buddhism. Persepsi ini makin gawat aja dengan ketidakmampuan sebagian (gak semuanya yah!) anggota Sangha untuk memberikan penjelasan yang benar kepada umatnya, tapi malah memberikan contoh jelek dengan membawa2 rupang sebagai "pendengar bisu" dalam setiap acara Buddhist (yang ini gue baca dari buku)

Tanggapan: Rupang tidaklah dikenal sampai sekitar 500 - 400 tahun setelah Gautama parnirvana. Berdasarkan penemuan arkeologis, patung Buddha tertua baru ada sekitar abad pertama SM. Para artist Buddhist awalnya hanya menggambarkan Buddha dalam bentuk simbol2 seperti daun Bodhi, roda dharma, takhta dan telapak kaki Buddha. Rupang merupakan inovasi terakhirnya. Tak pernah tertulis dalam Tripitaka bahwa Buddhist harus menyembah patung. Buddhism pada masa awalnya tidak mengenal Buddha dalam bentuk patung, walau pada zaman itu pembuatan patung bagi dewa - dewi merupakan hal yang jamak dan wajar, sebab Buddhisme pada jaman itu cenderung menampilkan Buddha sebagai suatu aspek dharma dan bukannya dalam wujud manusia
Buddha jelas melampaui wujud sehingga rupang dalam bentuk apapun tak akan sanggup mewakili dirinya. Inilah kenapa para artist Buddhist awalnya lebih memilih menggunakan simbol2 seperti daun Bodhi untuk pencerahan dan roda Dharma untuk ajaran. Buddha sendiri mengatakan bahwa siapa yang melihat dharma akan melihat dirinya dan yang melihat dirinya akan melihat dharma. Inilah sebabnya mengapa Buddha dan Dharma dianggap sebagai suatu kesatuan.
Definisi "berhala" adalah patung atau gambar yang dipuja sebagai Tuhan sedangkan Buddhisme sendiri tidak mengakui adanya Mr.G dan tidak menganggap Gautama sebagai perwujudan dari Mr.G.
Rupang Buddha digunakan untuk melambangkan potensi tertinggi dalam sifat dasar manusia, mengingatkan kita bahwa ajarannya bersifat humanosentris, bukan teosentris sehingga kita diingatkan untuk melihat ke dalam agar bisa mencapai kebijaksanaan dan kesempurnaan. Buddhisme juga menekankan untuk tidak melekat kepada aspek2 rupa (bentuk lahiriah) karena segalanya itu hanyalah khayal dan tidak memiliki corak sejati yang pastinya tidak akan membuat kita mencapai Kebuddhaan. Untuk mencapai nirvana, kita gak boleh melekat kepada apapun, karena jika kita masih melekat maka berarti lingkupnya menjadi lebih kecil, terbatas oleh ruang dan dibatasi oleh waktu padahal nirvana itu sendiri melampaui ruang dan waktu dan tidak terjadi dalam pemisahan antara "subyek" dan "obyek"

NEXT...BUDDHISME N TAKHAYUL...
__________________
Seindah mengembangnya ekor merak dari surga,
Seindah itu pula lah rangkaian kata - kata di dunia
Mari kita belajar merangkai kata di Forum Bahasa dan Sastra WG!!!

-ViOn- is offline   Reply With Quote
Recommendation Sponsored Ads
Old August 24, 2009, 06:35   #2
arief_chen
陳建琿
 
arief_chen's Avatar
 
Join Date: Aug 2008
Location: Jakarta
Posts: 4,880
WebPoint: 0
GaulPoint: 7878
Blog Entries: 2
arief_chen belum terkenal
Hmm.... Tambahan sedikit, Buddhism terlalu banyak diangkat oleh beberapa aliran yang non Buddhism dan karena begitu banyak-nya pengikut -nya sehingga beberapa daerah yang sangat jauh, dan budaya yang berbeda, tidak memungkinkan untuk bisa dikendalikan semua-nya. Bagi mereka Patung yang dibuat adalah sesuai dengan yang dimengerti oleh mereka, dan juga tercampur-nya Kong Hu Cu serta Taoisme, jadi Rupang dan sejenis-nya menjadikan Buddhism menjadi beberapa aliran yang berbeda. Tapi inti yang diajarkan adalah sama, salah satu-nya Ketidakkekalan dan tidak terikat. Sehingga aliran ini masih mempunyai ujian tersendiri untuk melepaskan kemelekatan selain dari duniawi, tapi juga pada Rupang dan sejenis-nya.

Kritik itu perlu, karena dengan ada-nya kritik, kita mencari tahu kebenaran, dan setelah tahu kebenaran, maka timbullah keyakinan yang lebih baik lagi.
arief_chen is offline   Reply With Quote
Old August 25, 2009, 08:31   #3
-ViOn-
Le Paon Blanc
 
-ViOn-'s Avatar
 
Join Date: Mar 2008
Location: kuburan paling romantis dan puitis di dunia, Forum Bahasa n Sastra WebGaul.com
Posts: 7,107
WebPoint: 0
GaulPoint: 2067
-ViOn- Bisa dipercaya
BUDDHISM n TAKHAYUL?

Kritik:
-suasana ritual yang dipenuhi asap dupa,doa2 dan mempersembahkan sesajian ke hadapan rupang menyebabkan kesan mistis melekat kepada umat Buddhist di mata umum
-di beberapa klenteng (meskipun bukan tempat ibadah Buddhist, beberapa menyediakan rupang Gautama di dalamnya) , ada semacam "lomba" membeli lilin yang besar2 seolah pengaruhi pahala dan respons yang akan diberikan oleh makhluk langit
-lebih parahnya lagi, sinkronisasi dengan tradisi menyebabkan adanya rupang2 dewa yang tidak bersangkutpautan dengan Buddhism digunakan sebagai sarana mewujudkan hal2 yang bersifat duniawi
-praktek lainnya yang bersifat mistis adalah membakar kertas Kim Coa dan cari lucky day
-Buddhist keturunan TiongHoa melakukan pemujaan (bukan lagi penghormatan) terhadap leluhur seolah2 nasib mereka terpengaruhi oleh orang yang sudah meninggal dan mengesankan bahwa leluhur seperti Tuhan
-Untuk meringankan nenek moyang yang telah meninggal , terdapat upacara yang bernama Festival Hantu Kelaparan dimana keluarga mempersembahkan makanan, pakaian, uang kertas dll, dan membaca sutra2 Buddhist pada hari 15 bulan 7 (berdasarkan penanggalan Imlek) yang mana hari itu diyakini pintu gerbang neraka terbuka dan hantu kelaparan dilepaskan untuk sementara agar bisa menikmati liburan di alam semesta
-Dalam Buddhism terlihat seperti ada kasus shamanisme dimana orang yang diyakini telah turun ke bumi dan merasuki seorang medium atau dukun yang bisa diminta "konsultasi"

Tanggapan:
- Semua praktik di atas tidak disebutkan dalam sutra Buddhist baik Pali ataupun Sanskrit
-Buddhism tidak mengajarkan orang untuk mencari hari baik karena dalam Buddhism,bagi orang yang berhati baik, setiap harinya adalah hari yang baik dan juga Buddhism tidak mengajarkan kehidupan menjadi suci berdasarkan tradisi sekalipun Buddhism tidak menghapus tradisi yang telah ada (seperti pujaan 6 arah dalam Sigalovada Sutra) dan melakukan reintrepretasi ulang terhadap tradisi itu sehingga memiliki makna yang menuntun orang untuk menjadi baik
-Ritual2 yang dipenuhi oleh suasana mistis merupakan salah satu ikatan yang harus disingkirkan dalam tata cara Buddhism karena Buddhism tidak mengenal ritual yang diikuti kesurupan, penyiksaan diri, pembantaian binatang, dll
- Hari Hantu Kelaparan (singkata saja jadi HHK) memang merupakan ciri khas Chinese Buddhism dan diawali dari cerita yang berada di Ulambana Sutra yang (katanya) keasliannya diragukan karena diduga dikarang di Tiongkok. Perpaduan Ulambana sutra dan kepercayaan rakyat China dalam memuja leluhur mereka yang telah meninggal menjadikan perayaan ini sangt populer di jaman dinasti Tang hingga menjadi hari libur nasional yang dimulai pada tahun 538 (1000 thn setelah Gautama parinirvana). Dalam Chinese Buddhism, HHK disebut hari Ulambana/ festival Yu Lan. Karena tercampur baurnya kedua tradisi, maka ke2 pihak mempersepsikan bulan 7 dengan cara yang berbeda. Masyarakat China awam mengaitkan bulan 7 dengan bulan hantu sedangkan Chinese Buddhist menganggapnya sebagai bulan berbakti kepada orang tua dan nenek moyang yang telah meninggal. Terbukanya pintu gerbang neraka tidak berkaitan dengan Buddhism karena dalam Buddhism, alam hantu dan alam neraka adalah 2 alam yang berbeda
-Praktek pelafalan mantra dalam bahasa Pali dan Mandarin memberikan kesan "mistis" bagi orang awam yang mendengarnya, tapi yang paling gawat adalah apabila umat Buddhist sendiri tidak mengerti sama sekali apa yang dilafalkannya sehingga tak mendapatkan manfaat apapun juga dalam aspek pengetahuan Dharma walau sudah capek komat kamit dan banyak menghabiskan waktu di vihara. Gautama sendiri mengizinkan murid2nya untuk melafalkan Dharma dalam bahasa mereka masing2 tapi Beliau juga menekankan bahwa makna lebih penting daripada skedar menghafal kata2 saja
-Praktik shamanisme seperti kerasukan roh memang ada di Asia tapi ini cenderung kepada tradisi China dan Taoisme, tidak ada kaitan dengan Buddhism yang berpedoman kepada Tripitaka. Beberapa literatur hanya mencatat secara singkat tentang adanya orang - orang yang dirasuki roh. dari sudut pandang praktik meditasi Buddhist, seseorang yang dirasuki spirit malah akan kesulitan untuk mengalami kemajuan dalam praktik meditasinya
- Spirit yang merasuki tubuh dukun beraneka ragam dan bisa dikatakan bersifat seperti manusia. Bagaimanapun juga, mereka belum lah tercerahi sepenuhnya dan masih ada dalam samsara.Seandainya ada roh yang mengklaim dirinya dewa atau makhluk2 tertentu (dalam kasusu ini banyak juga yang mengaku2 dirinya Guan Yin, Avalokitesvara Bodhisatva), mungkin kita bisa menganggapnya tak lebih dari mencatut nama. Praktik seperti ini telah eksis selama ribuan tahun bahkan telah ada sebelum lahirnya agama2.Buddhist tidak mencela praktik ini seperti agama *You-Know-Who* tapi juga tidak dianjurkan. Jika praktik ini kemudian dihubungkan dengan simbol2 rupang Buddhist di tempat praktik si dukun, hal ini akan memberi kesan bahwa Buddhism identik dengan hal2 mistik dan akhirnya membawa dampak negatif bagi perkembangan Buddhism
__________________
Seindah mengembangnya ekor merak dari surga,
Seindah itu pula lah rangkaian kata - kata di dunia
Mari kita belajar merangkai kata di Forum Bahasa dan Sastra WG!!!

-ViOn- is offline   Reply With Quote
Old August 25, 2009, 15:45   #4
syntax_gosong
Registered User
 
Join Date: Jul 2009
Posts: 104
WebPoint: 0
GaulPoint: 76
syntax_gosong belum terkenal
Wow... tulisan bro Benodhi panjang amat....
Tapi tulisannya cukup tajam, kritis, dan memakai bahasa yang bagus.
Aku suka baca bahasa yang bagus, yang tersusun rapi dan memakai
bahasa-bahasa yang agak tidak umum, tapi sangat mengena, itulah
yang sudah ditulis oleh bro Benodhi.

Memang ga bisa kita pungkiri, masyarakat Buddhis Indonesia, terutama
yang berketurunan Tionghoa, sering sekali menggunakan sarana
rupam sebagai alat atau tujuan mereka untuk meminta-minta.
Bahkan dalam keluarga saya yang Buddhis Mahayana, tradisi ini
masih juga melekat dan akarnya masih dalam.

Dalam satu sisi, Buddhisme tidak menentang praktek-praktek yang
demikian, namun juga tidak menganjurkan. Menurutku, justru karena
adanya kefleksibilitasan inilah yang membuat umat Buddha, terutama
yang Buddhis-tradisi, menanggapi positif toleransi ini. Sehingga tidak
heran bila mereka terus saja melakukan praktek ritual tradisionil tanpa
ada keinginan untuk belajar Buddhisme secara akademis (teoritis).

Praktek ini, tentu saja, bagi sebagian besar umat beragama di Indonesia
yang notabenenya adalah orang-orang yang memiliki kepercayaan akan
adanya Pencipta (yang tunggal maupun yang jamak), orang-orang yang
memiliki pedoman hanya kepada beberapa atau bahkan satu buku saja,
orang-orang yang menganggap praktek ritual yang dilakukan oleh orang2
Buddhis adalah praktek penyembahan materi yang diperTuhankan dan
biasa disebut sebagai praktik Musyrik, berhala, penyekutuan tuhan, dll.

Bagi mereka, semua umat Buddha akan masuk neraka dan perlu untuk
diluruskan kembali sesuai dengan pemahaman dogma yang telah mereka
dapatkan dari lingkungan religi mereka. Dan bagi mereka, dengan
mengajak umat2 lain yang mempertuhankan materi maka pahala pun
akan mereka dapatkan.

Yahh... sungguh menyedihkan memang keadaan seperti ini...
Adalah memang sudah kewajiban dan tanggung jawab kita untuk
membuka bungkusan tradisi yang sangat tebal ini sedikit demi sedikit.
Tidak mudah, tapi sangat mungkin, asalkan orang2 ingin berubah dan
ingin memperbaiki diri.

Marilah terus berlatih diri, semoga cita-cita luhur demi kebaikan dan
Nibbana pun dapat kita raih.

Last edited by syntax_gosong; August 25, 2009 at 15:48.
syntax_gosong is offline   Reply With Quote
Old August 30, 2009, 13:56   #5
shinji-kun
Registered User
 
Join Date: Dec 2002
Posts: 485
WebPoint: 0
GaulPoint: 568
shinji-kun belum terkenal
yang gw ingin pertanyakan adalah ritual Nien Ching. rata2 yang dibaca adalah Ta Pei Zhou (Maha Karuna Dharani). apakah mereka2 yang membaca paritta ini tau maknanya? atau cuma komat kamit baca karakter sansekerta yang sudah dijadikan mandarin itu? apa tidak perlu tau artinya apa yang penting niatnya? (membaca untuk kebahagiaan leluhur yg sudah meninggal)
__________________
satu hari cuma ada 24 jam.
shinji-kun is offline   Reply With Quote
Old August 30, 2009, 14:31   #6
Khutu
Registered User
 
Join Date: Nov 2007
Posts: 737
WebPoint: 0
GaulPoint: 863
Khutu belum terkenal
ritual itu tdk di ajarkan buddha... yg saya tau sih gitu
Khutu is offline   Reply With Quote
Old August 30, 2009, 15:19   #7
shinji-kun
Registered User
 
Join Date: Dec 2002
Posts: 485
WebPoint: 0
GaulPoint: 568
shinji-kun belum terkenal
kalo tradisi Theravada ada pembacaan Etavatta, juga untuk orang yang meninggal, apakah tidak diajarkan juga?
__________________
satu hari cuma ada 24 jam.
shinji-kun is offline   Reply With Quote
Old August 31, 2009, 04:43   #8
dilbert
Moderator
 
Join Date: Jul 2007
Location: medan, north sumatra
Posts: 745
WebPoint: 0
GaulPoint: 19
dilbert belum terkenal
Quote:
Originally Posted by shinji-kun View Post
yang gw ingin pertanyakan adalah ritual Nien Ching. rata2 yang dibaca adalah Ta Pei Zhou (Maha Karuna Dharani). apakah mereka2 yang membaca paritta ini tau maknanya? atau cuma komat kamit baca karakter sansekerta yang sudah dijadikan mandarin itu? apa tidak perlu tau artinya apa yang penting niatnya? (membaca untuk kebahagiaan leluhur yg sudah meninggal)
Kalau dari entimologi-nya, Nien-Cing artinya membaca sutra/sutta, karena Nien (dalam bahasa Mandarin) artinya membaca, dan Cing itu artinya sutra/sutta.

Sedangkan Sutra/Sutta sendiri artinya (menurut wikipedia) adalah khotbah atau sabda sang Buddha (dalam hal ini Buddha yang dirujuk adalah Buddha historis yaitu BUDDHA SAKYAMUNI/GOTAMA).

Jadi Nien Cing adalah pembacaan sutra/sutta yaitu mengulangi kembali khotbah-khotbah / sabda-sabda Buddha

Apakah Nien-Cing itu kemudian menjadi ritual, yaitu dengan Nien-Cing berulang-ulang sampai puluhan bahkan ratusan kali dalam sekali kegiatan, itu menjadi persoalan yang lain.

Memang paling penting sebenarnya adalah kita memahami sutra/sutta apa yang kita bacakan, misalnya Sin Ching (Sutra Hati), atau Cing Kang Cing (Sutra Intan) dsbnya. Masalah apakah pembacaan itu perlu dilakukan berulang-ulang sampai puluhan atau bahkan ratusan kali, menurut saya terpulang kepada ritual/kebiasaan pihak tertentu.

-----

Di samping itu perlu kita bedakan antara cing (sutra/sutta) dan cou (dharani), seringkali disebutkan nien-cing tetapi yang dibaca adalah Ta Pei Cou (Maha Karuna Dharani).

Menurut Wikipedia...
A dhāraṇī (Chinese:陀罗尼, Japanese:陀羅尼-darani or ダーラニー-Dāranī) is a type of ritual speech similar to a mantra. The terms dharani and satheesh may even be seen as synonyms, although they are normally used in distinct contexts

Jadi dharani itu lebih di-asosiasi-kan dengan mantra, yaitu bacaan yang sering kali di-ulang-ulang, bisa mempunyai arti ataupun tidak mempunyai arti secara harfiah, dan biasanya merujuk pada suatu objek tertentu.
mis : Six Syllable Dharani (Dharani enam kata) yaitu Om Ma-Ni Pad-Me Hum yang sangat terkenal. Dharani ini diasosiasikan dengan Bodhisatva Avalokitesvara yang banyak di-puja oleh aliran Mahayana maupun Tantra (di dalam Tantra, Avalokitesvara dikenal dengan nama Chen-rezig).

Pembacaan dharani Om Ma-Ni Pad-Me Hum itu kadang kali bisa dilakukan sampai beribu-ribu kali bahkan beratus ribu kali.

---

Banyak pelantun ritual pembacaan dharani/mantra ini meyakini bahwa jika pembacaan dilakukan secara konsisten akan mendatangkan manfaat ataupun kemukjizatan bagi pembaca-nya.

---

Terus apa lagi yang disebut dengan Nien-Fo (melantunkan nama Buddha)... Praktek Nien-Fo ini sering dilakukan oleh praktisi aliran Sukhavati (Tanah Suci Sukhavati), yaitu dengan melantunkan/membacakan nama Buddha Amitabha (O Mi To Fo) dengan Na Mo O Mi To Fo... Dan sering sekali frasa ini (Na Mo O Mi To Fo) menjadi salam bagi umat Buddha apabila bertemu dengan umat Buddha lainnya.

Jadi apakah itu Nien Fo ??
Ada praktisi yang meyakini yaitu dengan Nien-Fo yang konsisten dan sungguh-sungguh akan bisa membawa praktisi untuk terlahirkan kembali di Alam Sukhavati (menurut aliran Sukhavati).

Tetapi ada juga praktisi yang menggunakan Nien-Fo ini (terlepas dari nama Buddha manapun yang digunakan, tetapi yang paling populer adalah nama Buddha Amitabha) ini di dalam meditasi-nya sebagai objek meditasi seperti halnya anapanasati samadhi (meditasi pada objek pernafasan), maupun penggunaan kata Bud-Dho di dalam banyak praktek meditasi oleh meditator yang berafiliasi dengan Buddhisme Theravada Thailand maupun Myanmar.

---

Jadi penting sebenarnya bagi kita untuk mengetahui secara harfiah apa artinya itu Nien-Cing, Nien Cou ataupun Nien Fo, sehingga tidak terjadi campur aduk antara kegiatan dengan pengertiannya. Apa efek dan manfaat praktek ini, semua-nya terpulang kepada praktek dan manfaat yang diterima oleh masing-masing praktisi. Karena memang semua-nya pada dasarnya EHI PHASSIKO....

Anumodana.

Last edited by dilbert; August 31, 2009 at 04:46.
dilbert is offline   Reply With Quote
Old August 31, 2009, 05:06   #9
Khutu
Registered User
 
Join Date: Nov 2007
Posts: 737
WebPoint: 0
GaulPoint: 863
Khutu belum terkenal
Quote:
Originally Posted by shinji-kun View Post
kalo tradisi Theravada ada pembacaan Etavatta, juga untuk orang yang meninggal, apakah tidak diajarkan juga?
diambil dari :

http://wihara.com/forum/ruang-dharma...-dibuka-3.html

Quote:
Namo Buddhaya,

1. Asal-usul Sutta Ettavatta ini tidak jelas darimana dan siapa yang membuat, tapi menurut para peneliti/sejarawan menyimpulkan sementara bahwa Sutta tsb. adalah pengaruh dari Mahayana baik yang di Srilanka maupun Thailand. Ini pendapat para peneliti tsb ;

"Dalam semua kemungkinan, Bodhisattvacaryavatara adalah sumber dari gatha Pali ini (Ettavata)." (Rangama Chandawimala Thero)

"Syair ini populer di antara Buddhis Sinhalese dalam ritual dan upacara mereka sampai sekarang. Sedikit yang tahu bahwa syair ini diambil dari Bodhisattvacaryavatara." (D. Amarasiri Weeraratne)

Kalau nggak salah ingat nih....Vihara Abhayagiri di Srilanka adalah vihara Theravada yang menjadi pusat pengajaran Mahayana dan Vajrayana. Jadi cukup masuk akal dan wajar saja jika Theravada sedikit banyak terpengaruh oleh Mahayana dan Vajrayana dalam hal melantunkan paritta atau gatha.

Sedangkan di Thailand sendiri tidak menggunakan paritta Ettavata ketika melakukan pembacaan Pelimpahan jasa, tapi menggunakan : paritta "Yathā vārivahā pūrā ..."

2. Ya, kemungkinan itu bisa terjadi. dan dengan demikian artinya pelimpahan jasa tersebut tidak ada yang menerima, namun niat melakukan perbuatan baik itu akan kembali ke diri kita sendiri sebagai karma baik, karena bagaimanapun perbuatan dengan kehendak yang dilakukan oleh pikiran, ucapan dan badan jasmani adalah menghasilkan buah karma.

3. Yang dimaksud Pelimpahan jasa adalah menanam kebaikan bagi orang lain, jika pelimpahan jasa itu bertujuan untuk mendapatkan timbal-balik (pamrih), tentu saja pahala yang kita terima menjadi sangat sedikit.
Khutu is offline   Reply With Quote
Old August 31, 2009, 05:12   #10
huangxiaoyen
Registered User
 
huangxiaoyen's Avatar
 
Join Date: Nov 2007
Location: Surabaya
Posts: 1,027
WebPoint: 0
GaulPoint: 218
huangxiaoyen belum terkenal
Saya hanya ingin menambahkan Dilbert 念 dalam mandarin nian terdapat xin 心(hati) di bagian bawah yang berarti membaca dengan hati (atau diresapi) bukan asal membaca saja. Ada juga huruf mandarin tu yang berrati membaca saja tanpa memahami maknanya.
huangxiaoyen is offline   Reply With Quote
Old August 31, 2009, 10:43   #11
shinji-kun
Registered User
 
Join Date: Dec 2002
Posts: 485
WebPoint: 0
GaulPoint: 568
shinji-kun belum terkenal
makasih semua buat pencerahannya.
__________________
satu hari cuma ada 24 jam.
shinji-kun is offline   Reply With Quote
Old January 10, 2010, 19:58   #12
arachnider
Registered User
 
Join Date: Jan 2010
Posts: 70
WebPoint: 0
GaulPoint: 70
arachnider belum terkenal
Quote:
Originally Posted by Benodhi View Post
1.PENYEMBAHAN BERHALA
Kritik: Yeah, kita semua tau lah ini kritik paling klasik yang gak bosen2nya dikeluarin terus dari mulut2 orang2 yang gak tau apa - apa dan juga membenci Buddhism. Persepsi ini makin gawat aja dengan ketidakmampuan sebagian (gak semuanya yah!) anggota Sangha untuk memberikan penjelasan yang benar kepada umatnya, tapi malah memberikan contoh jelek dengan membawa2 rupang sebagai "pendengar bisu" dalam setiap acara Buddhist (yang ini gue baca dari buku)

Tanggapan: Rupang tidaklah dikenal sampai sekitar 500 - 400 tahun setelah Gautama parnirvana. Berdasarkan penemuan arkeologis, patung Buddha tertua baru ada sekitar abad pertama SM. Para artist Buddhist awalnya hanya menggambarkan Buddha dalam bentuk simbol2 seperti daun Bodhi, roda dharma, takhta dan telapak kaki Buddha. Rupang merupakan inovasi terakhirnya. Tak pernah tertulis dalam Tripitaka bahwa Buddhist harus menyembah patung. Buddhism pada masa awalnya tidak mengenal Buddha dalam bentuk patung, walau pada zaman itu pembuatan patung bagi dewa - dewi merupakan hal yang jamak dan wajar, sebab Buddhisme pada jaman itu cenderung menampilkan Buddha sebagai suatu aspek dharma dan bukannya dalam wujud manusia
Buddha jelas melampaui wujud sehingga rupang dalam bentuk apapun tak akan sanggup mewakili dirinya. Inilah kenapa para artist Buddhist awalnya lebih memilih menggunakan simbol2 seperti daun Bodhi untuk pencerahan dan roda Dharma untuk ajaran. Buddha sendiri mengatakan bahwa siapa yang melihat dharma akan melihat dirinya dan yang melihat dirinya akan melihat dharma. Inilah sebabnya mengapa Buddha dan Dharma dianggap sebagai suatu kesatuan.
Definisi "berhala" adalah patung atau gambar yang dipuja sebagai Tuhan sedangkan Buddhisme sendiri tidak mengakui adanya Mr.G dan tidak menganggap Gautama sebagai perwujudan dari Mr.G.
Rupang Buddha digunakan untuk melambangkan potensi tertinggi dalam sifat dasar manusia, mengingatkan kita bahwa ajarannya bersifat humanosentris, bukan teosentris sehingga kita diingatkan untuk melihat ke dalam agar bisa mencapai kebijaksanaan dan kesempurnaan. Buddhisme juga menekankan untuk tidak melekat kepada aspek2 rupa (bentuk lahiriah) karena segalanya itu hanyalah khayal dan tidak memiliki corak sejati yang pastinya tidak akan membuat kita mencapai Kebuddhaan. Untuk mencapai nirvana, kita gak boleh melekat kepada apapun, karena jika kita masih melekat maka berarti lingkupnya menjadi lebih kecil, terbatas oleh ruang dan dibatasi oleh waktu padahal nirvana itu sendiri melampaui ruang dan waktu dan tidak terjadi dalam pemisahan antara "subyek" dan "obyek"

NEXT...BUDDHISME N TAKHAYUL...

permisi bro, saya mau nambahin dikit ttg yg satu ini ^^

saya dpt cerita dr papa saya ttg mslh berhala / gaknya agama Buddha ini..

jadi gini ceritanya.. (maap, gak mau nyinggung agama lain, tp sdkt byk nyinggung neh..)

papa saya pernah beragumen dgn seorang pemuka agama dari agama A dan agama B... agama B menuduh agama Buddha adalah berhala dgn patung2, hio, lilin dkk... dan agama B jg menuduh agama A berhala krn di tmpt ibadahnya pasti ada simbol / patung besarnya juga... (kita ga bahas agama A yah, kapan2 aja... hheeheh)

papa saya menjawab bahwa agama B salah, krn hio, lilin dkk adalah media saja.. bahkan kehadirannya bisa dihilangkan.. penggunaan hio, lilin adalah salah satu jenis akuluturasi budaya saja, tidak lbh tidak kurang.. sdgkn patung, jg bukan disembah, dikasi sesajen dkk.... tapi lbh sbg simbol saja + sbg sarana pemusatan pikiran kita saat kita berdoa... (kalo meditasi, bayangin gambaran wajah sang Buddha jg bisa lo jd fokus meditasi)

si agama B dgn tetap smgt mengatakan bahwa Buddha berhala.. lalu papa saya membalas agama B dgn kata2 demikian:

"wah, penjelasannya kan uda saya kasi tau tadi.. lagipula apa bukan agama anda sndri yg berhala? agama anda kan slalu saja berdoa menyembah dan menghadap ke XXXXX? di setiap tempat pun, saat berdoa anda akan menyediakan arah hadap yg benar agar umat anda bisa menyembah XXXXX kan? skr XXXXX itu buatan manusia ato Tuhan? manusia kan? nah, jd yg berhala siapa?"


^^ salam damai... cm sharing aja....
arachnider is offline   Reply With Quote
Old January 13, 2010, 06:20   #13
-ViOn-
Le Paon Blanc
 
-ViOn-'s Avatar
 
Join Date: Mar 2008
Location: kuburan paling romantis dan puitis di dunia, Forum Bahasa n Sastra WebGaul.com
Posts: 7,107
WebPoint: 0
GaulPoint: 2067
-ViOn- Bisa dipercaya
Sekedar simbol, tapi manusia begitu memujanya : itulah berhala
Nice sharing, arachnider...very funny n intriguing
__________________
Seindah mengembangnya ekor merak dari surga,
Seindah itu pula lah rangkaian kata - kata di dunia
Mari kita belajar merangkai kata di Forum Bahasa dan Sastra WG!!!

-ViOn- is offline   Reply With Quote
Old January 13, 2010, 18:59   #14
arachnider
Registered User
 
Join Date: Jan 2010
Posts: 70
WebPoint: 0
GaulPoint: 70
arachnider belum terkenal
hohoho.. ^^

sama2... smoga berhala2an ini segra selesai...

pada dasarnya agama Buddha jg tidak membenarkan berhala kan?
itu sama saja dgn keterikatan kan?
arachnider is offline   Reply With Quote
Old January 13, 2010, 19:05   #15
-ViOn-
Le Paon Blanc
 
-ViOn-'s Avatar
 
Join Date: Mar 2008
Location: kuburan paling romantis dan puitis di dunia, Forum Bahasa n Sastra WebGaul.com
Posts: 7,107
WebPoint: 0
GaulPoint: 2067
-ViOn- Bisa dipercaya
"Jadilah penerang bagi dirimu sendiri"
Kata - kata itu kalo gak salah berasal dari Gautama
Jadi gak akan ada yang boleh dijadikan tempat bersandar, sumber terang, perlindungan atau apa namanya selain usaha dari diri kita sendiri untuk bertahan hidup dan terlepas dari samsara
__________________
Seindah mengembangnya ekor merak dari surga,
Seindah itu pula lah rangkaian kata - kata di dunia
Mari kita belajar merangkai kata di Forum Bahasa dan Sastra WG!!!

-ViOn- is offline   Reply With Quote
Reply

Bookmarks

Thread Tools

Posting Rules
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts

BB code is On
Smilies are On
[IMG] code is On
HTML code is Off

Forum Jump


All times are GMT. The time now is 06:59.

SIDEBAR
Remove This Bar
Register / Login to remove this bar and All Ads.
Image




Powered by vBulletin® Version 3.8.2
Copyright ©2000 - 2010, Jelsoft Enterprises Ltd.
Copyright ©2007, WebGaul. All Rights Reserved. A ZEIN Company. Designed, Developed, Maintained, Optimized, Operated by ZEIN.