Agama dan Iman Berdiskusi tentang agama dan kepercayaan masing-masing atau membaca renungan harian.
|
August 21, 2009, 09:28
|
#61
|
|
Libertine
Join Date: Feb 2004
Posts: 13,676
WebPoint: 0 GaulPoint: 7.616
|
Quote:
Originally Posted by fionatjandra
Terima kasih atas ketertarikan anda pada thread ini. Saya sadari sangat sedikit Thread yang bisa membuat coqueline tertarik untuk posting. Tapi sepertinya harus dapat credit adalah mod st_friendster, he is the master mind behind a deliciously attractive topic.
I am on the other hand just a delivery service. Moving an exotic beautiful animal from a private cage to a public zoo for everybody to enjoy. 
Please enjoy as long as you could.
|
Sebenernya gue jarang ikutan posting bukan karena sombong atau pilih2 loh, tapi emang di forum ini seringnya topik2 yg ada menyangkut masalah2 filosofis dan dogmatis, sementara background dan passion gue sendiri lebih di science. Kalau kebetulan ada thread dimana gue tergelitik untuk memberi masukan dari sisi logika dan factual, dengan senang hati gue akan join.
|
|
|
|
Recommendation
|
Sponsored Ads
|
|
|
|
August 21, 2009, 09:45
|
#62
|
|
Libertine
Join Date: Feb 2004
Posts: 13,676
WebPoint: 0 GaulPoint: 7616
|
Quote:
Originally Posted by fionatjandra
Saya coba kasih contoh design2 kompleks & cantik yang terbentuk karena kondisi2 alam.
http://www.its.caltech.edu/~atomic/s...lass/class.htm
Kalau berdasarkan penelitian di Caltech, bentuk2 kompleks & cantik dari snowflake tersebut di design oleh temperatur, kelembaban & pergerakkan udara. Apakah dengan begitu alam bisa dikatakan sebagai designer yang ber-intelejensi atau semua hanya kebetulan saja (random coincidence)?
"Mungkin" saja alam diciptakan oleh Tuhan, tapi menurut saya kondisi2 alam pun mampu mendesign sesuatu yang kompleks. Apa ini bisa jadi bukti "intelligent design" by nature? Silahkan dibahas.
|
Pertanyaannya, apakah contoh2 di atas cantik karena ada yg desain, atau apakah kita terkondisi untuk melihat natural order sebagai cantik (the same way kita selalu menganggap sesuatu yg simetris biasanya lebih bagus dibanding yg mencong-mencong)?
|
|
|
August 21, 2009, 09:52
|
#63
|
|
-simply'me-
Join Date: Apr 2004
Location: -SomeWhere-
Posts: 5,307
WebPoint: 0 GaulPoint: 2151
|
Quote:
Originally Posted by coqueline
Sekali lagi, gue lebih senang (dan mampu) membahas bagian2 yg nyentil logika dan science dibanding filosofis (dimana Benodhi, Fiona, dan beberapa lainnya lebih well-versed).
Ada beberapa kesalahan logis dalam perbandingan evolusi dengan jam tangan disini.
1. Yg paling jelas: diperlukan waktu jauh lebih lama dari 10.000 untuk evolusi makhluk hidup, dan bermilyar2 taun setelah munculnya kehidupan sampai munculnya manusia.
2. Evolusi tidak terjadi hanya karena kebetulan ala berjudi. Alegori dikocok2, sama sekali gak cocok dalam menggambarkan kondisi yg diperlukan untuk terjadinya kehidupan di bumi. Evolusi makhluk hidup itu penuh dengan konflik, pertarungan, krisis, dan tendency untuk bertahan.
3. Yg paling penting, jam tangan bukannya sistem natural yg mencoba mempertahankan keadaan paling stabil seperti halnya sistem yg ada di alam semesta. Kalau dibuat karet, baut, roda dan jarum yg masing2 memiliki kemampuan memperbanyak diri dan membutuhkan asupan energi/materi dalam lingkungannya, then you will find that they will fight, form symbiose, consume, and multiply, yg pada akhirnya elu bakal liat suatu sistem kompleks muncul. You might not get a watch, but some other system will emerge dari konflik yg ada.
Banyak sih buku2 yg bisa menjelaskan dengan lebih baik mekanisme terjadinya kehidupan, dan gue emang cuman bisa memberi summary yg paling ringkas dalam format diskusi WG disini. Andai aja kita bisa ketemu muka, punya waktu untuk ngobrol2 langsung.
|
Hi Tante Coq  ,
Tetep mustahil kalau menurut saya untuk angka dibawah ini.
1:10243 (yaitu angka 10 yang diikuti oleh 243 angka nol). Sebuah sel terdiri dari jutaan molekul protein meskipun milyaran tahun. bahkan peluang untuk terbentuknya sebuah molekul protein (baru sebuah molekul protein) -> lalu ditambah lagi peluang molekul protein menjadi sebuah sel, lalu di tambah lagi peluang dari sel jadi organisme lalu di tambah lagi peluang untuk jadi bla bla bla akhirnya di tambah lagi peluang untuk jadi hewan mamalia di tambah lagi peluang untuk hewan memiliki akal budi, pikiran, peradaban dan sistem religi, menurut saya ini jauh lebih mustahil daripada perumpaan jem tangan saya (karena komponen jem tangan jauh lebih simpel dan benda mati).
lalu kenapa hanya manusia yang mengenal sistem religi sejak dulu, dan apakah kalau kita mengajarkan hewan tentang sistem religi apakah mungkin mereka dapat mengenal sistem religi? jika tidak, mengapa? (bukankah kita sama-sama organisme yang di kelaskan dalam animalia mamalia)
bukankah sebagai organisme mereka tetap survive sampai sekarang tanpa sistem religi? kenapa selama siklus ribuan tahun sistem religi ini terus bertahan dan tidak termakan seleksi sosial dan alam dalam beradaptasi?
bukankah berbagai penemuan kuno membuktikan bahwa emang manusia itu akrab dengan sistem pemujaan? (susunan batu, dsgb), kenapa hal-hal tersebut tidak ditemukan di organisme manapun selain manusia?
kemungkinan dari tidak ada menjadi satu sel protein, saya analogikan sama dengan jam karena dari ketidak adaan sel protein tersebut berarti belum ada mekanisme untuk bertahan dan memperbanyak diri. berarti belum ada organisme yang bernyawa, memiliki insting bertahan hidup atau memperbanyak diri. sama seperti bahan2 pada jam tangan tersebut.
__________________
"For as the heavens are higher than the earth, so are my ways higher than your ways and my thoughts than your thoughts."
Isaiah 55:9
|
|
|
August 21, 2009, 10:07
|
#64
|
|
Registered User
Join Date: Nov 2006
Location: Jakarta
Posts: 1,689
WebPoint: 0 GaulPoint: 161
|
Kebanyakan diskusi nya antara sudut pandang theisme dan atheisme yah... Kemana yg punya sudut pandang deisme atau pantheisme?
Buat yg theisme, kalau ternyata emang bener ada tuhan... tapi tuhan yg ada bukan personal god yg di gambarkan di theisme tapi tuhan dari sudut pandang deisme. Apakah itu bisa diterima?
Kan biasanya argumen yg dikeluarkan itu alam semesta musti ada pencipta, tapi kalau pencipta nya itu ngak peduli ama hal yg diciptakan. Gimana tuh tanggapan nya? Apa tetap harus maksa adanya tuhan dan tuhan nya itu harus yg menghadiahi atau menghukum kita atas kepercayaan kita terhadap nya?
|
|
|
August 21, 2009, 10:22
|
#65
|
|
Libertine
Join Date: Feb 2004
Posts: 13,676
WebPoint: 0 GaulPoint: 7616
|
Quote:
Originally Posted by st_friendster
Hi Tante Coq  ,
|
Ngapain loe lari2?
Quote:
Tetep mustahil kalau menurut saya untuk angka dibawah ini.
1:10243 (yaitu angka 10 yang diikuti oleh 243 angka nol). Sebuah sel terdiri dari jutaan molekul protein meskipun milyaran tahun. bahkan peluang untuk terbentuknya sebuah molekul protein (baru sebuah molekul protein) -> lalu ditambah lagi peluang molekul protein menjadi sebuah sel, lalu di tambah lagi peluang dari sel jadi organisme lalu di tambah lagi peluang untuk jadi bla bla bla akhirnya di tambah lagi peluang untuk jadi hewan mamalia di tambah lagi peluang untuk hewan memiliki akal budi, pikiran, peradaban dan sistem religi, menurut saya ini jauh lebih mustahil daripada perumpaan jem tangan saya (karena komponen jem tangan jauh lebih simpel dan benda mati).
|
Kalau elu melihat keberadaan protein itu sebagai kebetulan, lalu protein jadi senyawa protein sebagai kebetulan lagi, lalu senyawa protein jadi RNA/DNA sebagai kebetulan lagi, dst, emang kedengerannya kayak orang yg menang lotere setiap hari. Dalam kasus seperti ini gue juga akuin, mustahil.
Tapi begini, semua benda di alam semesta itu selalu memiliki tendensi untuk mencoba menduduki kondisi paling stabil. Partikel2 di alam semesta membentuk atom, atom2 elemen di alam semesta karena gaya gravitasi akhirnya menjadi bintang dan benda2 langit lain, bintang bintang membentuk galaks, dst.
Mineral2 di muka bumi mengalami hal yg sama, atom2 saling bersenyawa membentuk kondisi paling stabil. Ada elemen yg bersenyawa menjadi garam dapur, ada yg bersenyawa jadi karat, ada yg bersenyawa menjadi molekul protein. Munculnya protein yg bisa memperbanyak diri sendiri kemungkinan di-trigger dari persenyawaan yg hasilnya bukan malah stabil, tapi makin ga stabil. Untuk menstabilkan diri, molekul ini merekrut atom lain di sekitarnya, dan lanjut, dan lanjut. Setelah menjadi senyawa protein yg makin kompleks, senyawa ini jadi memiliki kemampuan untuk merekrut atom2 lain, atau mungkin justru merging dengan protein lain. Ketika protein2 ini makin banyak, yg terjadi, untuk merekrut atom baru akan ada persaingan antara protein, yg artinya ada protein yg lebih kuat yg akan mencuri atom dari protein lain, atau bahkan mencuri protein lain seutuhnya. Bisa dibayangkan dari mekanisme ini lama kelamaan ini sistem yg semakin beragam dan kompleks.
Sel itu merupakan simbiosis dari berbagai protein. Organ merupakan simbiosis sel, organisme, simbiosis berbagai organ. It seems like, sampe sekarang yg namanya kehidupan tetep mencari kondisi kestabilan, dan bagi organisme itu sendiri, kestabilan tercapai kalau dirinya sendiri bertahan hidup, dari sini munculnya insting bertahan hidup dan berkembang biak.
Quote:
|
lalu kenapa hanya manusia yang mengenal sistem religi sejak dulu, dan apakah kalau kita mengajarkan hewan tentang sistem religi apakah mungkin mereka dapat mengenal sistem religi? jika tidak, mengapa? (bukankah kita sama-sama organisme yang di kelaskan dalam animalia mamalia)
|
Masih nyambung dari insting bertahan hidup di atas, manusia sampai saat ini merupakan satu2nya makhluk hidup yg bisa memproyeksikan ide abstrak, termasuk bisa membayangkan dirinya sendiri mati (binatang mungkin tau bagaimana bertahan hidup, tapi tidak bisa membayangkan apa yg terjadi kalo dirinya mati). Gabungan antara insting bertahan hidup yg masih kenceng, dengan kemampuan berpikir abstrak mengenai kematian dirinya sendiri, melahirkan ide 'afterlife', ide kalau walaupun dirinya sudah mati, dia akan tetep bertahan in some other way. Dari ide afterlife ini muncul sistem religi. Insting bertahan hidup dan kemampan berpikir abstrak universal didapati di setiap manusia, and therefore, universally, community2 yg berbeda2 menciptakan tuhan dan religi masing2.
Quote:
|
bukankah sebagai organisme mereka tetap survive sampai sekarang tanpa sistem religi? kenapa selama siklus ribuan tahun sistem religi ini terus bertahan dan tidak termakan seleksi sosial dan alam dalam beradaptasi?
|
Manusia (homo sapiens) baru ada di muka bumi paling banter 200.000 taun, dan kebudayaan baru muncul sekitar 40.000-15.000 taun yg lalu, agama2 besar yg ada sekarang baru 2000-an taun. Kenapa tidak ada agama yg asal usulnya 40.000 taun yg lalu? Karena yg namanya agama termakan seleksi sosial dan berubah sesuai manusianya. 2000 taun mungkin sepertinya lama dalam timeframe pribadi, tapi dalam epoch peradaban manusia, baru sebentar sekali.
Quote:
|
kemungkinan dari tidak ada menjadi satu sel protein, saya analogikan sama dengan jam karena dari ketidak adaan sel protein tersebut berarti belum ada mekanisme untuk bertahan dan memperbanyak diri. berarti belum ada organisme yang bernyawa, memiliki insting bertahan hidup atau memperbanyak diri. sama seperti bahan2 pada jam tangan tersebut.
|
Mudah2an penjelasan gue di atas cukup jelas kenapa sel dengan jam tangan tidak bisa dibandingkan.
|
|
|
August 21, 2009, 10:31
|
#66
|
|
-simply'me-
Join Date: Apr 2004
Location: -SomeWhere-
Posts: 5,307
WebPoint: 0 GaulPoint: 2151
|
__________________
"For as the heavens are higher than the earth, so are my ways higher than your ways and my thoughts than your thoughts."
Isaiah 55:9
|
|
|
August 21, 2009, 10:44
|
#67
|
|
Registered User
Join Date: Mar 2009
Posts: 400
WebPoint: 0 GaulPoint: 347
|
Quote:
Originally Posted by coqueline

Sebenernya gue jarang ikutan posting bukan karena sombong atau pilih2 loh, tapi emang di forum ini seringnya topik2 yg ada menyangkut masalah2 filosofis dan dogmatis, sementara background dan passion gue sendiri lebih di science. Kalau kebetulan ada thread dimana gue tergelitik untuk memberi masukan dari sisi logika dan factual, dengan senang hati gue akan join.
|
Next time I open a thread, I'll absolutely put your passion & interest into consideration.
Quote:
Originally Posted by coqueline
Pertanyaannya, apakah contoh2 di atas cantik karena ada yg desain, atau apakah kita terkondisi untuk melihat natural order sebagai cantik (the same way kita selalu menganggap sesuatu yg simetris biasanya lebih bagus dibanding yg mencong-mencong)?
|
Well, for someone whose being modest about her philosophical deduction ability. You sure raise a deep (if not super deep) philosophical question.
Pertanyaannya, apakah hal2 kompleks dianggap mustahil terjadi dengan sendirinya karena itu harus ada yang desain, atau apakah kita terkondisi untuk melihat natural order sebagai suatu yang kompleks. Whooaa.... This way of thinking will heat up my brain for days...
|
|
|
August 21, 2009, 10:52
|
#68
|
|
Registered User
Join Date: Aug 2009
Posts: 226
WebPoint: 0 GaulPoint: 585
|
Quote:
Originally Posted by bannedagainha!
mesti diliat konteks secara keseluruhan; therefore, I really dislike orang yang ngambil ayat sepatah2 dan ngasih bukti kalo ini menandakan begini.
|
Bro, setau gw di forum2 theist jg cuma menampilkan ayat sepatah2 untuk dibahas. Bukan berarti para poster ini tidak membaca secara keseluruhan. Kl kita tulis injil markus, misalnya, bisa2 thread ini habis halamannya.
Gw jg tetap gak melihat jawaban bro yg exact atas siapa yg berhak menentukan ayat, passage, bab, dsb sebagai literal atau metafor. Jawaban bro di atas cuma mengalihkan topik pada org2 yg menurut bro cap cip cup ayat2 alkitab aja.
Quote:
Originally Posted by bannedagainha!
I repeat this again: The Pope nggak bisa salah dalam hal doktrin agama.
I believe Pope John Paul II apologized for the way Galileo was treated, not because the Church at that time commited any wrongdoings on religious/faith matters.
|
Logika 1: Org minta maaf kl udah (atau akan) melakukan kesalahan. Buat apa kita minta maaf kl gak salah?
Logika 2: Paus itu manusia atau tuhan? Manusia bisa melakukan kesalahan dlm religious/faith matters gak? Dr tulisan bro 1. Paus itu tidak pernah salah. 2. Kl paus salah, lihat nomor 1.
Bro, setau gw sih manusia manapun tidak ada yg kebal hukum. Gw gak bermaksud mengkritik, tapi doktrin infallibility ini sangat tidak fair dong. Masak ada seorang manusia yg tidak bisa disalahkan walau dari satu segi (doktrin agama) aja? Absolute power corrupts absolutely loh.
Adakah yg beragama katolik di sini? I'd like your opinion too. Apakah benar doktrin ini berarti Paus tidak tersentuh dlm hal pemahaman agama katolik? Please help!
Quote:
Originally Posted by bannedagainha!
go to Forkat, we'll discuss it further.
|
Sorry, I must regretfully declined. Kl pahamnya ada yg gak bisa disalahkan sih gw sulit mau bicara apa lg.
Untuk perbandingannya aja, gw bersedia menerima tuhan (manapun) kl memang datang sendiri dan tidak terbantahkan. Ini dalam arti gw bisa lihat dan ajak ngomong langsung. Apakah para theist bersedia menerima bahwa ada kemungkinan tuhan yg datang bukanlah tuhan yg dipercayainya?
|
|
|
August 21, 2009, 10:53
|
#69
|
|
Libertine
Join Date: Feb 2004
Posts: 13,676
WebPoint: 0 GaulPoint: 7616
|
Jangan lupa, manusia itu bukan cuman satu spesies loh, ada Homo javanensis, homo ergaster, neanderthals. Gak ada yg tau apakan spesies manusia2 yg sudah punah ini bisa berpikir abstrak atau engga. Neanderthals kemungkinan bisa, karena mereka juga punya kemampuan membuat alat2 bantu untuk berburu2, sehari2, yg menandakan kemampuan berpikir ke depan. Apakah neanderthals punya tuhan dan religi? Mungkin. Tapi sayangnya berhubung mereka sudah punah tidak bisa diteliti lagi (and you can't find religions in fossil forms).
Chimpanze dan beberapa kera tingkat tinggi juga punya kemampuan berpikir abstrak, yg didemonstrasikan kemampuan mereka berkomunikasi, memikirkan pemecahan masalah simpel. Tapi emang tidak sekompleks manusia sampe berpikir afterlife.
In the end, kemampuan berpikir abstrak inilah yg membuat manusia yg sebenernya gak bisa lari cepet2 amat, ga bisa terbang, ga punya taring yg tajem2 amat, ga punya bulu badan cukup buat menghangatkan badan sendiri, punya edge dalam seleksi alam. Karena manusia bisa berpikir abstrak, mereka bisa bertahan dan jadi rajanya bumi, tapi di sisi lain, pikiran abstrak ini juga bisa digunakan untuk imajinasi, moralitas, bahasa, dan religi.
Kalau manusia awal gak punya kemampuan untuk berpikir abstrak, gak bakalan sampe sekarang ada di seluruh penjuru muka bumi. As simple as that.
|
|
|
August 21, 2009, 11:07
|
#70
|
|
Registered User
Join Date: Mar 2009
Posts: 400
WebPoint: 0 GaulPoint: 347
|
Quote:
Originally Posted by st_friendster
gak tau gw demen aja ama nih Megaman, teringat masa kecil gw
terus kenapa hanya Manusia yang bisa berpikir abstrak dan berpikir mengenai afterlife? kenapa gak ada organisme lain (dari sekian banyaknya, dari yang uni sel sampe yang super complicated) yang memiliki ability yang sama seperti manusia? bukankah kita di medan tempur yang sama (Bumi)? dan beradaptasi untuk survive di bumi sekian lama-nya? Kenapa Primata Modern seperti kera yang dna-nya cukup dekat dengan manusia tidak dapat berpikir abstrak?
apakah Wangsit untuk berpikir abstrak hanya dimiliki begitu saja dan tanpa alasan? Atau emang manusia emang tercipta untuk berpikir abstrak dan sistem religi? 
|
Ini karena manusia memandang satu2nya kelebihan kita dibandingkan mahluk lain sebagai spesial, karena itu kita berasumsi manusia harus diciptakan secara spesial. Coba deh pandang kemampuan berpikir manusia hanya sebagai ciri khas.
Sekarang bandingkan kenapa hanya gajah yang punya belalai begitu kuatnya hingga bisa mencabut sebatang pohon. Kenapa hanya jerapah yang punya leher begitu panjang sehingga tidak perlu memanjat untuk memetik makanannya di pohon. Kenapa hanya kelelawar yang punya pendengaran begitu tajam sampai2 tak butuh penglihatan untuk terbang dalam kegelapan.
Nah hanya manusia yang punya otak cukup pintar hingga walaupun termasuk yang paling lemah di dalam rantai makanan, kita bisa survive sampai sekarang.
That's what we call natural selection. Untuk dibumi otak kita cukup istimewa untuk bertahan hidup, belum tentu bila dibandingkan dengan mahluk2 lain di alam semesta, mungkin saja level otak kita cuma selevel dengan otak monyet di planet lain.
|
|
|
August 21, 2009, 11:32
|
#71
|
|
-simply'me-
Join Date: Apr 2004
Location: -SomeWhere-
Posts: 5,307
WebPoint: 0 GaulPoint: 2151
|
Jawaban yang menarik Fiona 
Tapi semua yang kamu singkapkan itu kan hasil dari natural selection tapi secara fisik.
sedangkan yang saya pertanyakan adalah kemampuan berpikir manusia mengenai afterlife. Toh monyet juga punya mata dua, tangan dua, kaki dua dst. tapi mereka tidak dapat berpikir tentang afterlife dan mempunyai sistem religi.
Maksud saya, kenapa dari sekian banyak organisme semua-nya beradaptasi dengan fitur fisik-nya, sedangkan yang mencapai pola pikir abstrak hanya manusia saja? Kenapa tidak ada Organisme lain selain manusia yang mampu berpikir abstrak sebagai hasil dari seleksi alam?
__________________
"For as the heavens are higher than the earth, so are my ways higher than your ways and my thoughts than your thoughts."
Isaiah 55:9
Last edited by st_friendster; August 21, 2009 at 11:36.
|
|
|
August 21, 2009, 12:16
|
#72
|
|
Registered User
Join Date: Mar 2009
Posts: 400
WebPoint: 0 GaulPoint: 347
|
@st_friendster: Thanks untuk pujiannya. Jawaban saya kurang lebih sama dengan coqueline hanya penyampaian & kecepatan ngetiknya yang beda.
Seperti yang dikatakan coqueline, semua benda di alam semesta berusaha menduduki posisi yang stabil. Dalam proses natural selection, semua mahluk hidup mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan ciri khasnya sesuai kondisi lingkungannya. Mungkin saja ada primata2 lain yang sebetulnya bisa berevolusi menjadi einstein2 lain (einstein lagi... einstein lagi  ), tapi kondisi lingkungannya berkata lain, saat itu kemampuan otak mereka walaupun cukup pintar tetap masih kurang memadai bila harus melawan keganasan predator2 di darat, hingga yang punya potensi berevolusi jadi Einstein mati dimakan semua. Sedangkan beberapa yang lain akhirnya lebih mengandalkan kekuatan tangan untuk bergelayutan di pohon buat cari selamat daripada mengembangkan kemampuan otaknya.
Nah kemampuan berpikir manusia mengenai afterlife adalah implikasi dari berkembangnya otak manusia secara fisik & psikis. Ada research yang menyatakan bahwa nenek moyang species homosapiens hanya berasal dari satu continent saja, saya tidak tahu apakah informasi ini sudah terbukti atau belum, tapi logikanya: kemungkinan besar hanya continent itu saja yang terkondisi bagi homosapiens untuk mengembangkan kemampuan otaknya.
Di tempat yang terkondisi tersebut selain otak menjadi cukup besar secara fisik, juga tentunya menjadi lebih sering digunakan secara psikis hingga akhirnya berevolusi menjadi manusia seperti yang sekarang ini. Sedangkan di daerah lain, seperti yang saya jabarkan di atas tidak memungkinkan bagi suatu mahluk hidup untuk mengembangkan otaknya secara maksimal. Itulah sebabnya mengapa pernah ada jenis manusia2 lain yang kita tahu sudah punah. Sama saja kok seperti hewan2 lain seperti komodo yang hanya ada pulau komodo, atau Kanguru di Australia. Bedanya manusia yang berkembang otaknya sehingga kita punya kemampuan untuk mengeksplor seluruh dunia.
Ini hanya salah satu teori dipandang dari sudut logika & kemungkinan evolusi berdasarkan hasil research yang ada, jadi jangan dijadikan patokan mati. Toh saat ini teori evolusi saja masih diperdebatkan. Kalau ada teori lain yang bisa diperdebatkan secara logika, tentunya akan selalu saya pertimbangkan.
Last edited by fionatjandra; August 21, 2009 at 12:32.
|
|
|
August 21, 2009, 12:26
|
#73
|
|
-simply'me-
Join Date: Apr 2004
Location: -SomeWhere-
Posts: 5,307
WebPoint: 0 GaulPoint: 2151
|
Quote:
Originally Posted by fionatjandra
@st_friendster: Thanks untuk pujiannya. Jawaban saya kurang lebih sama dengan coqueline hanya penyampaian & kecepatan ngetiknya yang beda.
Seperti yang dikatakan coqueline, semua benda di alam semesta berusaha menduduki posisi yang stabil. Dalam proses natural selection, semua mahluk hidup mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan ciri khasnya sesuai kondisi lingkungannya. Mungkin saja ada primata2 lain yang sebetulnya bisa berevolusi menjadi einstein2 lain (einstein lagi... einstein lagi  ), tapi kondisi lingkungannya berkata lain, saat itu kemampuan otak mereka walaupun cukup pintar tetap masih kurang memadai bila harus melawan keganasan predator2 di darat, hingga yang punya potensi berevolusi jadi Einstein mati dimakan semua. Sedangkan beberapa yang kurang pintar akhirnya lebih mengandalkan kekuatan tangan untuk bergelayutan di pohon buat cari selamat daripada mengembangkan kemampuan otaknya. Nah kemampuan berpikir manusia mengenai afterlife adalah implikasi dari berkembangnya otak manusia secara fisik & psikis. Ada research yang menyatakan bahwa nenek moyang species homosapiens hanya berasal dari satu continent saja, saya tidak tahu apakah informasi ini sudah terbukti atau belum, tapi logikanya: kemungkinan besar hanya continent itu saja yang terkondisi bagi homosapiens untuk mengembangkan kemampuan otaknya. Di tempat yang terkondisi tersebut selain otak menjadi cukup besar secara fisik, juga tentunya menjadi lebih sering digunakan secara psikis hingga akhirnya berevolusi menjadi manusia seperti yang sekarang ini. Sedangkan di daerah lain, seperti yang saya jabarkan di atas tidak memungkinkan bagi suatu mahluk hidup untuk mengembangkan otaknya secara maksimal. Itulah sebabnya mengapa pernah ada jenis manusia2 lain yang kita tahu sudah punah. Sama saja kok seperti hewan2 lain seperti komodo yang hanya ada pulau komodo, atau Kanguru di Australia. Bedanya manusia yang berkembang otaknya sehingga kita punya kemampuan untuk mengeksplor seluruh dunia.
|
Komodo yang ada di pulau Komodo, atau Kadal yang ada di deket rumah, Fitur Fisik boleh berbeda tapi tetep sama-sama tidak memiliki kemampuan untuk berpikir mengenai after life.
Sama dengan Kangguru dan saudara-saudara-nya dari species lain, mungkin memiliki fitur berbeda tapi tetep sama gak bisa berpikir mengenai after life.
Suggested concurrence between human and chimpanzee DNA sequences range between 95% and 99%, lihat betapa dekat-nya kita dan Simpanse, tapi tetap Simpanse tidak memiliki pemahaman afterlife.
berbeda dengan Manusia, dan mamalia lain-nya.
Lagi-lagi kembali bahwa pembuktian Fiona hanya mengenai keunikan fitur fisik. dan tidak terjawab kenapa dari sekian banyak mahluk hidup yang ada di medan tempur yang sama yaitu bumi, atau katakanlah continent yang sama (asumsi), tetap hanya satu species yang berevolusi secara pola pikir dan mau berpikir abstrak mengenai afterlife.
ditambah lagi penyebaran spesies Manusia begitu luas., gak seperti komodo yang cuman ada di pulau komodo.
__________________
"For as the heavens are higher than the earth, so are my ways higher than your ways and my thoughts than your thoughts."
Isaiah 55:9
Last edited by st_friendster; August 21, 2009 at 12:28.
|
|
|
August 21, 2009, 12:27
|
#74
|
|
Le Paon Blanc
Join Date: Mar 2008
Location: kuburan paling romantis dan puitis di dunia, Forum Bahasa n Sastra WebGaul.com
Posts: 7,107
WebPoint: 0 GaulPoint: 2067
|
Pemikiran yang menarik, miss Fiona...
Selama ini aku memang berpikir karena kondisi dalam proses evolusi, manusia membutuhkan lebih banyak "kelicikan" daripada kekuatan dan kemampuan yang terlihat secara fisik, sehingga itulah kenapa manusia memiliki senjata berupa akal budi yang akhirnya berkembang untuk memungkinkan mereka untuk bertahan
Kenapa tidak ada organisme lain selain manusia yang mampu berpikir abstrak sebagai hasil dari seleksi alam?
Gampangnya yah karena seleksi alam itu sendiri yang memungkinkan hanya manusia untuk bisa berpikir
Seleksi alam membentuk kondisi dimana hanya manusia yang bisa berpikir abstrak
Karena itu jugalah manusia memiliki agama
__________________
Seindah mengembangnya ekor merak dari surga,
Seindah itu pula lah rangkaian kata - kata di dunia
Mari kita belajar merangkai kata di Forum Bahasa dan Sastra WG!!!

|
|
|
August 21, 2009, 13:37
|
#75
|
|
Libertine
Join Date: Feb 2004
Posts: 13,676
WebPoint: 0 GaulPoint: 7616
|
Quote:
Originally Posted by st_friendster
Jawaban yang menarik Fiona 
Tapi semua yang kamu singkapkan itu kan hasil dari natural selection tapi secara fisik.
sedangkan yang saya pertanyakan adalah kemampuan berpikir manusia mengenai afterlife. Toh monyet juga punya mata dua, tangan dua, kaki dua dst. tapi mereka tidak dapat berpikir tentang afterlife dan mempunyai sistem religi.
|
Jangan salah, manusia bisa punya otak ukuran besar itu juga 'berkat' evolusi fisik dimana tengkorak manusia memungkinkan adanya otak dalam volume besar dalam cangkangnya. Kalo loe bandingkan dengan makhluk2 lain, proporsi kepala manusia terhadap badan itu jauh lebih gede (provided dibandingkan dengan makhluk yg definisi kepalanya jelas, bukan ikan, cacing, dsb). Ini kan fisik juga.
Dan gue udah jelaskan di atas kalau ada makhluk2 lain yg mampu berpikir abstrak, cuman emang ga sekompleks manusia. Mungkin lebih tepatnya, hanya manusia yg memiliki daya imajinasi, and hence, munculnya pemikiran akan Tuhan dan afterlife
Quote:
|
Maksud saya, kenapa dari sekian banyak organisme semua-nya beradaptasi dengan fitur fisik-nya, sedangkan yang mencapai pola pikir abstrak hanya manusia saja? Kenapa tidak ada Organisme lain selain manusia yang mampu berpikir abstrak sebagai hasil dari seleksi alam?
|
Kalau ada makhluk lain di bumi yg bisa berpikir kayak manusia, atau mungkin lebih canggih lagi, loe pikir manusia gak bakalan dibantai sampe abis, atau dijadiin ternak?
|
|
|
Posting Rules
|
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts
HTML code is Off
|
|
|
All times are GMT. The time now is 07:39.
|
|