December 22, 2009, 07:47
|
#361
|
|
Registered User
Join Date: Mar 2003
Posts: 14,082
WebPoint: 0 GaulPoint: 6.129
|
Pohon
Dalam sebuah perjalanan seorang ayah dengan puteranya, sebatang pohon kayu nan tinggi ternyata menjadi hal yang menarik untuk mereka simak. Keduanya pun berhenti di bawah rindangnya pohon tersebut.
“Anakku,” ucap sang ayah tiba-tiba. Anak usia belasan tahun ini pun menatap lekat ayahnya. Dengan sapaan seperti itu, sang anak paham kalau ayahnya akan mengucapkan sesuatu yang serius.
“Adakah pelajaran yang bisa kau sampaikan dari sebuah pohon?” lanjut sang ayah sambil tangan kanannya meraih batang pohon di dekatnya.
“Menurutku, pohon bisa jadi tempat berteduh yang nyaman, penyimpan air yang bersih dari kotoran, dan penyeimbang kesejukan udara,” jawab sang anak sambil matanya menanti sebuah kepastian.
“Bagus,” jawab spontan sang ayah. “Tapi, ada hal lain yang menarik untuk kita simak dari sebuah pohon,” tambah sang ayah sambil tiba-tiba wajahnya mendongak ke ujung dahan yang paling atas.
“Perhatikan ujung pepohonan yang kamu lihat. Semuanya tegak lurus ke arah yang sama. Walaupun ia berada di tanah yang miring, pohon akan memaksa dirinya untuk tetap lurus menatap cahaya,” jelas sang ayah.
“Anakku,” ucap sang ayah sambil tiba-tiba tangan kanannya meraih punggung puteranya. “Jadikan dirimu seperti pohon, walau keadaan apa pun, tetap lurus mengikuti cahaya kebenaran,” ungkap sang ayah begitu berkesan.
**
Keadaan tanah kehidupan yang kita pijak saat ini, kadang tidak berada pada hamparan luas nan datar. Selalu saja ada keadaan tidak seperti yang kita inginkan. Ada tebing nan curam, ada tanjakan yang melelahkan, ada turunan landai yang melenakan, dan ada lubang-lubang yang muncul di luar dugaan.
Pepohonan, seperti yang diucapkan sang ayah kepada puteranya, selalu memposisikan diri pada kekokohan untuk selalu tegak lurus mengikuti sumber cahaya kebenaran. Walaupun berada di tebing ancaman, tanjakan hambatan, turunan godaan, dan lubang jebakan.
“Jadikan dirimu seperti pohon, walau keadaan apa pun, tetap lurus mengikuti cahaya kebenaran.” (muhammadnuh@eramuslim.com)
__________________
|
|
|
|
Recommendation
|
Sponsored Ads
|
|
|
|
January 30, 2010, 04:40
|
#362
|
|
Registered User
Join Date: Mar 2003
Posts: 14,082
WebPoint: 0 GaulPoint: 6129
|
Keluarga Ustat
Ada gula ada semut. Ada yang menarik, selalu ada yang berminat. Tapi, berhati-hatilah buat sang semut. Karena mati semut bisa karena manisan.
Berbahagialah keluarga yang menjadi pusat perhatian positif masyarakatnya. Tetangga sekitar selalu menganggap ada yang lebih dari keluarga itu. Mulai dari penataan fisik rumah, hingga pada keserasian jiwa penghuninya.
Keluarga model itu, kerap menjadi rujukan dan panutan. Persis seperti doa yang diajarkan Allah dalam Alquran. Ya Allah, anugerahkanlah kami pasangan dan keturunan yang menjadi penenteram hati, dan jadikanlah kami pemimpin orang-orang yang bertakwa.
Sayangnya, tak semua yang tampak seperti air memang benar-benar air. Ada fatamorgana. Dari jauh menjadi harapan, begitu dekat justru kegersangan. Setidaknya, hal itulah yang kini dialami Pak Jojo.
Ayah dua anak ini punya ujian khusus dari Allah. Ujian itu sepintas enak, tapi punya beban yang lumayan berat. Masyarakat sekitar rumah Pak Jojo begitu kepincut dengan keberadaan keluarganya. Bisa dibilang, mereka jadi sosok teladan: pintar, ramah, dermawan, harmonis, dan alim.
Empat julukan baik seperti pintar, ramah, dermawan, dan harmonis; masih belum jadi beban buat Pak Jojo. Itu biasa. Wajar karena dia dan isterinyalah yang lulusan sarjana di kampung itu. Selebihnya, cuma SD dan SMP. Paling tinggi SMA. Dan itu pun sudah bisa terpilih jadi kepala kampung. Sekali lagi wajar. Biasa. Apalagi, ia dan isterinya bekerja sebagai dosen, guru mahasiswa. Lha, jadi mahasiswa saja sulit, apalagi jadi gurunya. Teramat wajar kalau masyarakat menganggapnya sebagai keluarga pintar.
Namun, soal alim itulah yang sangat memberatkan Pak Jojo. Menurut anggapan Pak Jojo, alim bisa disetarakan dengan fuqoha. Atau orang yang serba tahu tentang urusan agama. Mulai dari ilmu akidah sampai soal fikih. Di kampung yang baru setahun ia tinggali itu, sarjana bidang pertanian ini terkenal dengan panggilan ustadz: 'Ustat Jojo'.
"Duh, berat banget!" ujar Pak Jojo ke isterinya suatu kali. Berat, karena jangankan hafal tiga puluh juz Quran, setengah juz saja masih sering lupa. Bahkan, bacaan tilawahnya belum standar tajwid. Panjang pendek masih belum pas, makhraj masih kerap tertukar. Pendek kata, Pak Jojo merasa jauh dari sebutan ustat.
Mungkin, masyarakat cuma melihat dari tampilan luar keluarga Pak Jojo. Sering berbaju koko, rutin ke masjid, dan kemana-mana memegang mushaf kecil. Bukan itu saja. Isteri Pak Jojo pun tak pernah lepas jilbab. Tiap keluar rumah, jilbab dan gamis selalu melekat. Juga, kaus kaki. Suatu hal yang hampir tak pernah dilakukan ibu-ibu di kampung itu. Bahkan oleh yang biasa dipanggil masyarakat sebagai ustadzah sekali pun.
Tak ada yang seperti isteri Pak Jojo. Busananya yang begitu Islami. Tingkah laku yang hampir tanpa dosa. Dan senyum manis yang selalu menghias kesehariannya di tengah masyarakat. Tak jarang, masyarakat memanggil isteri Pak Jojo dengan Ibu Haji. Padahal, belum sekali pun isteri Pak Jojo pergi ke Mekah. Jangankan ke Mekah, ke serambinya saja belum.
Di masjid, tak seorang pun yang berani jadi imam salat sebelum memastikan kalau Ustat Jojo berhalangan hadir. Selalu saja Ustat Jojo sebagai imam. Walaupun yang dibaca tak pernah berkisar dari surah ke-103 hingga 114. Karena memang cuma itu yang benar-benar dihafal Pak Jojo.
Anehnya, para jamaah justru memuji Pak Jojo. "Ustat Jojo benar-benar bijaksana. Tak pernah baca surah panjang. Saya salut dengan Ustat!" ucap seorang jamaah masjid suatu kali.
Bijaksana? Duh, kalau ingat itu, Pak Jojo jadi malu sendiri. Ia malu dengan dirinya, dan tentu saja kepada Allah. Kurang kok dapat pujian. Ia jadi terkenang dengan kejadian ketika masih SMA.
Waktu itu, di masjid dekat rumah temannya, ia dinobatkan masyarakat jadi imam tarawih. Pasalnya, cuma ia yang mengenakan baju koko dan kopiah haji. Tentu saja ia menolak. Karena rakaat tarawih begitu banyak. Padahal, ia baru benar-benar hafal lima surah. Nggak cukup kan! Tapi karena masyarakat memaksa, ia pun jadi imam. Hingga di rakaat keenam, jamaah salat merasakan kalau sujud sang imam begitu lama. Lama sekali. Tak ada komando apa pun. Ketika seorang jamaah mendongak, ternyata sang imam sudah tidak ada di tempat. Kabur!
Kalau ingat itu, Pak Jojo istighfar. Jangan sampai kejadian itu terulang. Sejak itulah, ia memaksakan diri untuk menambah hafalan Alquran. Biar lambat, asal selamat.
Selain jadi imam salat, Pak Jojo juga dipercayakan masyarakat untuk baca doa. Dalam kegiatan apa pun. Mulai dari syukuran, khitanan, hingga pesta pernikahan. Masyarakat menilai, doa Pak Jojo lebih patut dikabulkan Allah daripada Ustat lain. Karena Pak Jojo hampir tak pernah bohong, pelit, merokok, apalagi godain janda.
Masalahnya, Pak Jojo tidak banyak hafal doa. Karena itulah, ia menggunakan kiat khusus. Ia awali doa dengan yang berbahasa Arab dan diakhiri pun dengan yang bahasa Arab. Sementara tengahnya, dan itulah yang paling panjang, ia gunakan bahasa Indonesia. "Supaya lebih meresap!" ucapnya suatu kali.
Hari minggu itu, seorang ibu memanggil Pak Jojo. "Pak Ustat, tolong cepat ke rumah saya!" ucap ibu itu sambil menangis dan agak memaksa. Dengan segera, Pak Jojo mengikuti. Ia mengira, panggilan itu tak jauh dari permintaan untuk berceramah dan baca doa. Insya Allah, akan ia usahakan.
Setiba di rumah ibu itu, Pak Jojo agak bingung. Banyak orang berkumpul. Sebagian ada yang menangis. "Ayah kami meninggal, Tat! Tolong dimandikan," ucap anggota keluarga lain.
Pak Jojo terdiam. Tak sepatah kata pun terucap. Ia bingung mau bilang apa. Pasalnya, jangankan memandikan mayit, memegang saja belum pernah. Lama ia mematung. Tekadnya cuma satu: jangan sampai kejadian di usia SMA dulu terulang lagi. Kabur dari jamaah salat. Kan repot kalau ustat dianggap takut mayat.(muhammadnuh@eramuslim.com)
__________________
|
|
|
February 01, 2010, 23:59
|
#363
|
|
Registered User
Join Date: Mar 2003
Posts: 14,082
WebPoint: 0 GaulPoint: 6129
|
ATAS
Sekumpulan anak-anak TK tampak begitu antusias ketika beberapa guru mereka mengajak ke sebuah taman. Sambil berjalan, mereka bernyanyi dan bersorak gembira. Hingga, tibalah mereka di suatu bangunan menara di areal taman yang penuh bunga.
Seorang wanita yang dipanggil anak-anak Bu Guru tiba-tiba berucap. “Anak-anak, kita akan menaiki tangga melingkar menuju puncak menara. Kalian akan menaiki tangga satu per satu. Hayo, berbaris!” suara sang guru sambil membimbing anak-anak berbaris.
Hampir semua anak-anak mendongak menatap ketinggian menara. Berbagai gejolak rasa pun mulai membuncah di dada mereka. Ada yang mulai pucat. Ada mulai gelisah. Ada juga yang tetap tenang.
Mulailah satu per satu mereka menapaki anak-anak tangga. Beberapa guru mengawasi mereka dari arah atas dan bawah barisan.
Setiba di puncak menara yang tingginya setara tiga lantai bangunan itu, anak-anak diajak guru-guru mereka untuk berpegangan di pagar besi. Seorang guru pun berucap, “Coba kalian lihat ke arah bawah!”
Saat itu, berbagai gejolak perasaan anak-anak yang semula hanya dalam hati, kini mulai tampak dalam wajah dan tingkah mereka. Ada yang tiba-tiba menangis. Ada yang memegangi erat-erat lengan guru-guru mereka. “Takut jatuh, Bu,” suara mereka kompak. Tapi, ada yang tampak santai-santai saja.
Ketika sang guru bertanya ke anak yang tetap tenang, dengan polos sang anak menjawab, “Aku sudah biasa naik tangga, Bu Guru. Kan rumahku di rumah susun tingkat empat!” jawab sang anak sambil senyum.
** Kepemimpinan adalah keadaan di mana seseorang berada pada posisi atas dibandingkan bawahannya. Dari posisi atas itulah, ia bisa melihat ruang-ruang yang jauh lebih luas daripada orang yang berada di posisi bawah.
Namun, justru di posisi itulah berbagai ketidaknyamanan akan lebih terasa dibandingkan dengan yang dibawah. Ada kekhawatiran jatuh yang mengurangi rasionalitas, rasa panik yang justru bisa melunturkan kehati-hatian, dan lain-lain.
Menarik apa yang diperlihatkan seorang anak yang tetap tenang walau di atas ketinggian. Ia memang sudah terlatih untuk berada di atas. Dan tidak takut jatuh, karena sadar kalau suatu saat ia akan turun dan kemudian naik lagi.
Baginya, atas atau bawah bukanlah posisi istimewa atau sebaliknya menakutkan. Melainkan, posisi wajar sebagaimana ia harus menaiki atau menuruni tangga-tangga hidup. (muhammadnuh@eramuslim.com)
__________________
|
|
|
February 02, 2010, 04:03
|
#364
|
|
Pendulum Lokal
Join Date: Jan 2008
Posts: 3,780
WebPoint: 0 GaulPoint: 3797
|
Quote:
Originally Posted by AlfaOmega
Keluarga Ustat
Ada gula ada semut. Ada yang menarik, selalu ada yang berminat. Tapi, berhati-hatilah buat sang semut. Karena mati semut bisa karena manisan.
Berbahagialah keluarga yang menjadi pusat perhatian positif masyarakatnya. Tetangga sekitar selalu menganggap ada yang lebih dari keluarga itu. Mulai dari penataan fisik rumah, hingga pada keserasian jiwa penghuninya.
Keluarga model itu, kerap menjadi rujukan dan panutan. Persis seperti doa yang diajarkan Allah dalam Alquran. Ya Allah, anugerahkanlah kami pasangan dan keturunan yang menjadi penenteram hati, dan jadikanlah kami pemimpin orang-orang yang bertakwa.
Sayangnya, tak semua yang tampak seperti air memang benar-benar air. Ada fatamorgana. Dari jauh menjadi harapan, begitu dekat justru kegersangan. Setidaknya, hal itulah yang kini dialami Pak Jojo.
Ayah dua anak ini punya ujian khusus dari Allah. Ujian itu sepintas enak, tapi punya beban yang lumayan berat. Masyarakat sekitar rumah Pak Jojo begitu kepincut dengan keberadaan keluarganya. Bisa dibilang, mereka jadi sosok teladan: pintar, ramah, dermawan, harmonis, dan alim.
Empat julukan baik seperti pintar, ramah, dermawan, dan harmonis; masih belum jadi beban buat Pak Jojo. Itu biasa. Wajar karena dia dan isterinyalah yang lulusan sarjana di kampung itu. Selebihnya, cuma SD dan SMP. Paling tinggi SMA. Dan itu pun sudah bisa terpilih jadi kepala kampung. Sekali lagi wajar. Biasa. Apalagi, ia dan isterinya bekerja sebagai dosen, guru mahasiswa. Lha, jadi mahasiswa saja sulit, apalagi jadi gurunya. Teramat wajar kalau masyarakat menganggapnya sebagai keluarga pintar.
Namun, soal alim itulah yang sangat memberatkan Pak Jojo. Menurut anggapan Pak Jojo, alim bisa disetarakan dengan fuqoha. Atau orang yang serba tahu tentang urusan agama. Mulai dari ilmu akidah sampai soal fikih. Di kampung yang baru setahun ia tinggali itu, sarjana bidang pertanian ini terkenal dengan panggilan ustadz: 'Ustat Jojo'.
"Duh, berat banget!" ujar Pak Jojo ke isterinya suatu kali. Berat, karena jangankan hafal tiga puluh juz Quran, setengah juz saja masih sering lupa. Bahkan, bacaan tilawahnya belum standar tajwid. Panjang pendek masih belum pas, makhraj masih kerap tertukar. Pendek kata, Pak Jojo merasa jauh dari sebutan ustat.
Mungkin, masyarakat cuma melihat dari tampilan luar keluarga Pak Jojo. Sering berbaju koko, rutin ke masjid, dan kemana-mana memegang mushaf kecil. Bukan itu saja. Isteri Pak Jojo pun tak pernah lepas jilbab. Tiap keluar rumah, jilbab dan gamis selalu melekat. Juga, kaus kaki. Suatu hal yang hampir tak pernah dilakukan ibu-ibu di kampung itu. Bahkan oleh yang biasa dipanggil masyarakat sebagai ustadzah sekali pun.
Tak ada yang seperti isteri Pak Jojo. Busananya yang begitu Islami. Tingkah laku yang hampir tanpa dosa. Dan senyum manis yang selalu menghias kesehariannya di tengah masyarakat. Tak jarang, masyarakat memanggil isteri Pak Jojo dengan Ibu Haji. Padahal, belum sekali pun isteri Pak Jojo pergi ke Mekah. Jangankan ke Mekah, ke serambinya saja belum.
Di masjid, tak seorang pun yang berani jadi imam salat sebelum memastikan kalau Ustat Jojo berhalangan hadir. Selalu saja Ustat Jojo sebagai imam. Walaupun yang dibaca tak pernah berkisar dari surah ke-103 hingga 114. Karena memang cuma itu yang benar-benar dihafal Pak Jojo.
Anehnya, para jamaah justru memuji Pak Jojo. "Ustat Jojo benar-benar bijaksana. Tak pernah baca surah panjang. Saya salut dengan Ustat!" ucap seorang jamaah masjid suatu kali.
Bijaksana? Duh, kalau ingat itu, Pak Jojo jadi malu sendiri. Ia malu dengan dirinya, dan tentu saja kepada Allah. Kurang kok dapat pujian. Ia jadi terkenang dengan kejadian ketika masih SMA.
Waktu itu, di masjid dekat rumah temannya, ia dinobatkan masyarakat jadi imam tarawih. Pasalnya, cuma ia yang mengenakan baju koko dan kopiah haji. Tentu saja ia menolak. Karena rakaat tarawih begitu banyak. Padahal, ia baru benar-benar hafal lima surah. Nggak cukup kan! Tapi karena masyarakat memaksa, ia pun jadi imam. Hingga di rakaat keenam, jamaah salat merasakan kalau sujud sang imam begitu lama. Lama sekali. Tak ada komando apa pun. Ketika seorang jamaah mendongak, ternyata sang imam sudah tidak ada di tempat. Kabur!
Kalau ingat itu, Pak Jojo istighfar. Jangan sampai kejadian itu terulang. Sejak itulah, ia memaksakan diri untuk menambah hafalan Alquran. Biar lambat, asal selamat.
Selain jadi imam salat, Pak Jojo juga dipercayakan masyarakat untuk baca doa. Dalam kegiatan apa pun. Mulai dari syukuran, khitanan, hingga pesta pernikahan. Masyarakat menilai, doa Pak Jojo lebih patut dikabulkan Allah daripada Ustat lain. Karena Pak Jojo hampir tak pernah bohong, pelit, merokok, apalagi godain janda.
Masalahnya, Pak Jojo tidak banyak hafal doa. Karena itulah, ia menggunakan kiat khusus. Ia awali doa dengan yang berbahasa Arab dan diakhiri pun dengan yang bahasa Arab. Sementara tengahnya, dan itulah yang paling panjang, ia gunakan bahasa Indonesia. "Supaya lebih meresap!" ucapnya suatu kali.
Hari minggu itu, seorang ibu memanggil Pak Jojo. "Pak Ustat, tolong cepat ke rumah saya!" ucap ibu itu sambil menangis dan agak memaksa. Dengan segera, Pak Jojo mengikuti. Ia mengira, panggilan itu tak jauh dari permintaan untuk berceramah dan baca doa. Insya Allah, akan ia usahakan.
Setiba di rumah ibu itu, Pak Jojo agak bingung. Banyak orang berkumpul. Sebagian ada yang menangis. "Ayah kami meninggal, Tat! Tolong dimandikan," ucap anggota keluarga lain.
Pak Jojo terdiam. Tak sepatah kata pun terucap. Ia bingung mau bilang apa. Pasalnya, jangankan memandikan mayit, memegang saja belum pernah. Lama ia mematung. Tekadnya cuma satu: jangan sampai kejadian di usia SMA dulu terulang lagi. Kabur dari jamaah salat. Kan repot kalau ustat dianggap takut mayat.(muhammadnuh@eramuslim.com)
|
Wakakaka...... 
ceritanya benar2 menyentuh.....interaksi di masyarakat memang agak2 rumit.....
seperti di tohok.....
__________________
"Aku datang dengan pasukan pecinta kematian sedangkan kalian dengan pasukan pecinta kehidupan." Khalid ibnu Walid
|
|
|
February 05, 2010, 14:07
|
#365
|
|
Registered User
Join Date: Mar 2003
Posts: 14,082
WebPoint: 0 GaulPoint: 6129
|
Sebulan Tanpa Gaji
Penulis : Nurfaridah
Mungkin suamiku adalah satu dari sekian banyak orang yang hanya menggantungkan pendapatan dari satu sumber rizki. Apalagi model gaji bulanan, dimana setiap tanggal muda adalah tanggal kebahagiaan yang dinanti-nanti. Tapi bagaimana bila ternyata gaji yang ditunggu tidak datang-datang. Satu hari, dua hari, tiga hari, bahkan sampai akhir bulan gaji tidak kunjung datang. Lembaran-lembaran yang diharap mampu memenuhi kebutuhan hidup, agar periuk tetap terus mengepul, lembaran itu tak kunjung datang. Gaji tidak diberi.
Aku yakin Allah dengan sifat yang Rahman dan Rahim-nya akan tetap mengaruniai kami rejeki. Karena rejeki itu sendiri tidak hanya berupa lembaran mata uang yang mampu membeli apa saja, bahkan harga diri sekalipun. Kesehatan adalah nikmat terbesar, dimana dengan badan yang sehat, suamiku masih mampu mengais lembaran uang dari jalan yang lain meski dengan jalan yang tidak mudah, tapi tetap yang halal. Halal adalah tujuan utamanya dalam mencari rizki. Bukankah Rasul sendiri pernah mengingatkan kita agar menjaga dari memakan makanan yang haram?
Dari Abi Abdillah An-Nu'man bin Basyir radhiallahu 'anhuma berkata, aku mendengar Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, dan di antara keduanya ada perkara yang samar-samar (syubhat), kebanyakan manusia tidak mengetahuinya. Maka barangsiapa menjaga dirinya dari yang samar-samar itu, berarti ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya, dan barangsiapa terjerumus dalam wilayah samar-samar, maka ia telah terjerumus ke dalam wilayah yang haram, seperti penggembala yang menggembala di sekitar daerah terlarang, maka hampir-hampir dia terjerumus ke dalamnya. Ingatlah setiap raja memiliki larangan dan ingatlah bahwa larangan Allah apa-apa yang diharamkanNya. Ingatlah bahwa dalam jasad ada sekerat daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh jasadnya. Dan jika ia rusak, maka rusaklah seluruh jasadnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati." (HR. Bukhari dan Muslim).
Sebulan tanpa gaji, bagiku adalah menempuh hari-hari yang sulit. Sedangkan aku sendiri tidaklah bekerja, aku hanya ibu rumah tangga biasa yang menghabiskan hari-hari di rumah dengan putriku yang masih kecil.
Hari-hari pertama tidaklah begitu berat, semua masih bisa diatasi dengan uang sisa belanja bulan kemarin. Mungkin kalau untuk aku dan suami, hal ini (kekurangan uang) adalah hal yang sangat sering kami alami saat sebelum menikah (mahasiswa). Kekurangan uang biasa diatasi dengan mudah. Ibarat makan nasi dengan garam saja sudah enak dan mengenyangkan.
Tapi untuk kali ini, sesekali aku tak dapat menahan air mataku yang merembes meski tak banyak, karena aku mencoba menahannya agar tak diketahui oleh suamiku bahwa aku menangis. Aku takut ia akan merasa sangat bersalah dan sedih atas ketiadaan ini. Bagaimana aku tidak menangis melihat putri kami harus mengganti isi botol susunya dengan air gula. Aku merasa bersalah dan berdosa. Memang si kecil masih minum ASI, tapi itu saja tak cukup karena ia masih sering menangis. "Maafin umi ya, neuk?" demikian pesanku padanya saat memberikan botol susunya yang berisi air gula itu.
Tidak hanya itu, beberapa pagi aku tak sanggup membelikan ia kue untuk sarapan, karena jika pagi, putriku tidak suka nasi dan memang ia sedikit susah makan. Sedangkan aku, yang biasa sarapan pagi harus dengan nasi karena masih menyusui, harus menunda sarapan. Aku hanya menghemat agar ada makanan untuk siang dan malam. Tapi dasar memang aku yang sering sakit-sakitan ini, tidak sanggup jika pagi tak makan nasi. Selama tiga hari akhirnya aksiku harus aku akhiri, karena keesokan malam aku menderita sakit perut hebat.
Meski dalam kondisi demikian, aku masih berfikir bahwa bebanku ini belumlah seberapa. Masih banyak lagi di sudut-sudut dunia yang lebih menderita dari kami, bahkan lebih menderita dari apa yang kami alami ini. Kisah ini hanyalah setitik dari beribu dan berjuta kisah pilu saudara-saudara kita di Gaza.
Biarlah sebulan tanpa gaji ini adalah pembelajaran bagi kami agar dapat lebih mendekat padaNya. Mempertajam indera kami untuk melihat sisi lain kehidupan dan lebih membuat hati kami menjadi kian peka atas penderitaan orang-orang yang kurang beruntung.
__________________
|
|
|
February 08, 2010, 05:05
|
#366
|
|
Registered User
Join Date: Mar 2003
Posts: 14,082
WebPoint: 0 GaulPoint: 6129
|
Setengah Sajadah
"Kok sajadahnya dilipat dua, kek?" tanya seorang bocah berusia sekitar tiga tahunan kepada seorang kakek tua yang sebagian rambutnya sudah tidak lagi hitam, namun kini bersulam dalam dua warna.
Kakek tua itu hanya tersenyum dan menatap cucu lelakinya itu kemudian mempermainkan rambut pirangnya.
"Sudah, ayo ikuti kakek, kita shalat sunnat dulu!" ajaknya.
Sesaat kemudian mereka berdua larut dalam penghambaannya, mempersembahkan kembali rukuk dan sujudnya pada Ia yang Mahakuasa. Usai mereka salam, tak lama kemudian waktu berselang, iqamat berkumandang. Kami semua berdiri dan bersiap untuk melaksanakan shalat berjama"ah. Shaf-shaf kini tertata rapi memanjang dari ujung kiri hingga ke kanan ruangan masjid itu. Kakek tua itu lalu membuka lipatan sajadahnya, untuk kemudian meletakkannya dengan arah memanjang, hingga kini terbagi menutupi dua bagian tempat sujud, baginya dan bagi seorang pemuda asing yang berada di sampingnya. Bagian atas sajadah itu ia sengaja diletakkan di bagian tempat sujud pemuda tadi. Sang cucu terheran melihatnya. Dan aku pun tertegun saat itu. Namun segera kami mencoba menata kembali segala pikiran untuk berupaya dapat mempersembahkan shalat terbaik padaNya.
Setelah shalat, usai dzikir sejenak, kemudian kakek tua tadi berdiri dan beranjak hingga kemudian berlalu pergi bersama cucu lelakinya. Sekilas masih kudengar pembicaraan mereka ketika meninggalkan tempat shalatnya semula. Rupanya cucu lelakinya masih penasaran dengan tingkah kakeknya yang melipat dua sajadahnya ketika ia shalat sunnat, dan kemudian membukanya kembali lipatan sajadahnya menjadi dua bagian ketika berjama"ah menjelang.
"Inilah artinya Islam," sahutnya mengawali penerangannya pada sang cucu.
"Islam itu rahmatan lil "alamiin, yakni rahmat bagi sekalian alam. Wujudnya adalah dengan berislam, maka salah satunya kita sebagai umatnya harus mampu menjadi rahmat pula bagi semua orang," lanjutnya panjang lebar.
Aku nggak tahu bagaimana rona wajah serta gerak pikir bocah lelaki tadi menangkap penjelasan dari kakeknya. Namun yang jelas, aku begitu malu mendengar apa yang disampaikan kakek tua tadi pada cucunya.
Memang, mungkin entah sejak kapan kita mengenal bahkan sampai hapal di luar kepala akan sebuah ungkapan bahwa Islam itu rahmatan lil "alamiin, yang dalam aplikasinya seharusnya memang akan selalu mampu menghadirkan cahaya kedamaian, cahaya rahmat bagi seluruh alam, bukan hanya bagi orang-orang yang tunduk dan patuh dalam keislamannya, namun pula bagi semua orang yang ada di sekitarnya.
Namun, ternyata sepertinya begitu sulit hal itu terwujud dalam keseharian kita. Islam yang memang diturunkan oleh Allah sebagai rahmatan lil "alamiin justru seakan sulit menjadi nyata. Kita selalu memaksa hari-hari yang kita lalui seakan kembali dan selalu berputar kembali pada satu arah yang sama, dan menempati posisi yang sama pula, kita sebagai umatNya sangat jarang sekali untuk dapat menempatkan diri menjadi bagian dari rahmatan lil "alamiin, dimana keberadaan kita seharusnya dapat pula menjadi rahmat bagi yang lainnya.
Kita selalu berusaha untuk tampil sendiri, membusungkan dada, bahkan menyombongkan diri, melihat semua berdasar dari kacamata pribadi dan hanya untuk kepentingan pribadi semata. Kita terbuai dengan rasa individualis yang semakin menjadi dan seolah menyepak dengan kasar setiap kepentingan orang lain yang kita memandangnya tidak akan berpengaruh pada kepentingan diri ini. Na"udzubillah...
Bila sehelai sajadah pun ternyata bisa menjadi satu jalan untuk membimbing diri kita dalam menunaikan satu kewajiban, mengibarkan panji-panji untuk berbagi dalam indahnya kebersamaan, hingga akhirnya rahmatan lil "alamiin bukan hanya menjadi sebuah slogan semata, atau hanya menjadi satu rangkai kalimat yang selalu dan selalu kita hapal dalam nalar ini saja, namun pula kemudian dapat terealisasi dalam nyata.
Maka, semestinya mungkin hal lain pun juga akan bisa menjadikan diri ini untuk bisa lebih membuka hati, berupaya menjadi bagian dari rahmatNya, yang pula bisa menjadi rahmat bagi umat lainnya. Karena, bukankah di satu waktu nanti, tak akan ada lagi yang pernah dan setia menemani kita, ketika tanah merah telah menutup rapat diri ini, terpisah dari kefanaan dunia. Hingga hanya ia, salah satunya, yaitu hanya amalan yang menemani kita pada saatnya.
Wallahu a"lam bishshawab.
www.kotasantri.com
__________________
|
|
|
February 15, 2010, 07:08
|
#367
|
|
Registered User
Join Date: Mar 2003
Posts: 14,082
WebPoint: 0 GaulPoint: 6129
|
Di Zawiyah Sebuah Mesjid
Sesudah shalat malam bersama, beberapa santri yang besok pagi diperkenankan pulang kembali ke tengah masyarakatnya, dikumpulkan oleh Pak Kiai di zawiyyah sebuah masjid.
Seperti biasanya, Pak Kiai bukannya hendak memberi bekal terakhir, melainkan menyodorkan pertanyaan-pertanyaan khusus, yang sebisa mungkin belum usah terdengar dulu oleh para santri lain yang masih belajar di pesantren.
“Agar manusia di muka bumi ini memiliki alat dan cara untuk selamat kembali ke Tuhannya,” berkata Pak Kiai kepada santri pertama, “apa yang Allah berikan kepada manusia selain alam dan diri manusia sendiri?”
“Agama,” jawab santri pertama.
“Berapa jumlahnya?”
“Satu.”
“Tidak dua atau tiga?”
“Allah tak pernah menyebut agama atau nama agama selain yang satu itu, sebab memang mustahil dan mubazir bagi Allah yang tunggal untuk memberikan lebih dari satu macam tuntunan.”
**
Kepada santri kedua Pak Kiai bertanya, “Apa nama agama yang dimaksudkan oleh temanmu itu?”
“Islam.”
“Sejak kapan Allah mengajarkan Islam kepada manusia?”
“Sejak Ia mengajari Adam nama benda-benda.”
“Kenapa kau katakan demikian?”
“Sebab Islam berlaku sejak awal mula sejarah manusia dituntun. Allah sangat adil. Setiap manusia yang lahir di dunia, sejak Adam hingga akhir zaman, disediakan baginya sinar Islam.”
“Kalau demikian, seorang Muslimkah Adam?”
“Benar, Kiai. Adam adalah Muslim pertama dalam sejarah umat manusia.”
**
Pak Kiai beralih kepada santri ketiga. “Allah mengajari Adam nama benda-benda,” katanya, “bahasa apa yang digunakan?”
Dijawab oleh santri ketiga, “Bahasa sumber yang kemudian dikenal sebagai bahasa Al-Qur’an.”
“Bagaimana membuktikan hal itu?”
“Para sejarahwan bahasa dan para ilmuwan lain harus bekerja sama untuk membuktikannya. Tapi besar kemungkinan mereka takkan punya metode ilmiah, juga tak akan memperoleh bahan-bahan yang diperlukan.
Manusia telah diseret oleh perjalanan waktu yang sampai amat jauh sehingga dalam kebanyakan hal mereka buta sama sekali terhadap masa silam.”
“Lantas bagaimana mengatasi kebuntuan itu?”
“Pertama dengan keyakinan iman. Kedua dengan kepercayaan terhadap tanda-tanda yang terdapat dalam
kehendak Allah.”
“Maksudmu, Nak?”
“Allah memerintahkan manusia bersembahyang dalam bahasa Al-Qur’an. Oleh karena sifat Islam adalah rahmatan lil ‘alamin, berlaku universal secara ruang maupun waktu, maka tentulah itu petunjuk bahwa bahasa yang kita gunakan untuk shalat adalah bahasa yang memang relevan terhadap seluruh bangsa manusia.
Misalnya, karena memang bahasa Al-Qur’anlah yang merupakan akar, sekaligus puncak dari semua bahasa yang ada di muka bumi.”
**
“Temanmu tadi mengatakan,” berkata Pak Kiai selanjutnya kepada santri keempat, “bahwa Allah hanya menurunkan satu agama. Bagaimana engkau menjelaskan hal itu?”
“Agama Islam dihadirkan sebagaimana bayi dilahirkan,” jawab santri keempat, “Tidak langsung dewasa, tua atau matang, melainkan melalui tahap-tahap atau proses pertumbuhan.”
“Apa jawabmu terhadap pertanyaan tentang adanya berbagai agama selain Islam?”
“Itu anggapan kebudayaan atau anggapan politik bukan anggapan akidah.”
“Apakah itu berarti engkau tak mengakui eksistensi agama-agama lain?”
“Aku mengakui nilai-nilai yang termuat dalam yang disebut agama-agama itu –sebelum dimanipulasikan– sebab nilai-nilai itu adalah Islam jua adanya pada tahap tertentu, yakni sebelum disempurnakan oleh Allah melalui Muhammad rasul pamungkasNya. Bahwa kemudian berita-berita Islam sebelum Muhammad itu dilembagakan menjadi sesuatu yang disebut agama –dengan, ternyata, berbagai penyesuaian, penambahan atau pengurangan– sebenarnya yang terjadi adalah pengorganisasian. Itu bukan agama Allah, melainkan rekayasa manusia.”
**
__________________
|
|
|
February 15, 2010, 07:11
|
#368
|
|
Registered User
Join Date: Mar 2003
Posts: 14,082
WebPoint: 0 GaulPoint: 6129
|
Pak Kiai menatapkan matanya tajam-tajam ke wajah santri kelima sambil bertanya, “Agama apakah yang dipeluk oleh orang-orang beriman sebelum Muhammad?”
“Islam, Kiai.”
“Apa agama Ibrahim?”
“Islam.”
“Apa agama Musa?”
“Islam.”
“Dan agama Isa?”
“Islam.”
“Sudah bernama Islamkah ketika itu?”
“Tidak mungkin, demikian kemauan Allah, ada nama atau kata selain Islam yang sanggup mewakili kandungan-kandungan nilai petunjuk Allah. Islam dan kandungannya tak bisa dipisahkan, sebagaimana api dengan panas atau es dengan dingin. Karena ia Islam, maka demikianlah kandungan nilainya. Karena demikian kandungan nilainya, maka Islamlah namanya. Itu berlaku baik tatkala pengetahuan manusia telah mengenal Islam atau belum.”
**
“Maka apakah gerangan arti yang paling inti dari Islam?” Pak Kiai langsung menggeser pertanyaan kepada santri keenam.
“Membebaskan,” jawab santri itu.
“Pakailah kata yang lebih memuat kelembutan!”
“Menyelematkan, Kiai.”
“Siapa yang menyelamatkan, siapa yang diselamatkan, serta dari apa dan menuju apa proses penyelamatan atau pembebasan itu dilakukan?”
“Allah menyelamatkan manusia, diaparati oleh para khulafa’ atas bimbingan para awliya dan anbiya. Adapun sumber dan tujuannya ialah membebaskan manusia dari kemungkinan tak selamat kembali ke Allah. Manusia berasal dari Allah dan sepenuhnya milik Allah, sehingga Islam –sistem nilai hasil karya Allah yang dahsyat itu– dimaksudkan untuk membebaskan manusia dari cengkeraman sesuatu yang bukan Allah.”
“Apa sebab agama anugerah Allah itu tak bernama Salam, misalnya?”
“Salam ialah keselamatan atau kebebasan. Itu kata benda. Sesuatu yang sudah jadi dan tertentu. Sedangkan Islam itu kata kerja. Berislam ialah beramal, berupaya, merekayasa segala sesuatu dalam kehidupan ini agar membawa manusia kepada keselamatan di sisi Allah.”
**
Pak Kiai menuding santri ketujuh, “Tidakkah Islam bermakna kepasrahan?”
“Benar, Kiai,” jawabnya, “Islam ialah memasrahkan diri kepada kehendak Allah. Arti memasrahkan diri kepada kehendak Allah ialah memerangi segala kehendak yang bertentangan dengan kehendak Allah.”
“Bagaimana manusia mengerti ini kehendak Allah atau bukan?”
“Dengan memedomani ayat-ayatNya, baik yang berupa kalimat-kalimat suci maupun yang terdapat dalam diri manusia, di alam semesta, maupun di setiap gejala kehidupan dan sejarah. Oleh karena itu Islam adalah tawaran pencarian yang tak ada hentinya.”
“Kenapa sangat banyak orang yang salah mengartikan makna pasrah?”
“Karena manusia cenderung malas mengembangkan pengetahuan tentang kehendak Allah. Bahkan manusia makin tidak peka terhadap tanda-tanda kehadiran Allah di dalam kehidupan mereka. Bahkan tak sedikit di antara orang-orang yang rajin bersembahyang, sebenarnya tidak makin tinggi pengenalan mereka terhadap kehendak Allah. Mereka makin terasing dari situasi karib dengan kemesraan Allah. Hasilnya adalah keterasingan dari diri mereka sendiri. Tetapi alhamdulillah, situasi terasing dan buntu yang terjadi pada peradaban mutakhir manusia, justru merupakan awal dari proses masuknya umat manusia perlahan-lahan ke dalam cahaya Islam. Sebab di dalam kegelapanlah manusia menjadi mengerti makna cahaya.”
**
“Cahaya Islam. Apa itu gerangan?”
Santri ke delapan menjawab, “Pertama-tama ialah ilmu pengeahuan. Adam diajari nama benda-benda. Itulah awal mula pendidikan kecendekiaan, yang kelak direkonstruksi oleh wahyu pertama Allah kepada Muhammad, yakni iqra’. Itulah cahaya Islam, sebab agama itu dianugerahkan kepada makhluk tertinggi yang berpikiran dan berakal budi yang bernama manusia.”
“Pemikiranmu lumayan,” sahut Pak Kiai, “Cahaya Islam tentunya tak dapat dihitung jumlahnya serta tak dapat diukur keluasan dan ketinggiannya: kita memerlukan tinta yang ditimba dari tujuh lautan lebih untuk itu. Bersediakah engkau kutanyai barang satu dua di antara kilatan-kilatan cahaya mahacahaya itu?”
“Ya, Kiai.”
“Sesudah engkau sebut Adam, apa yang kau peroleh dari Idris?”
“Dinihari rekayasa teknologi.”
“Dari Nuh?”
“Keingkaran terhadap ilmu dan kewenangan Allah.”
“Hud?”
“Kebangunan kembali menuju salah satu puncak peradaban dan teknologi canggih.”
“Baik. Tak akan kubawa kau berhenti di setiap terminal. Tetapi jawablah: pada Ibrahim, terminal Islam apakah yang engkau temui?”
“Rekonstruksi tauhid, melalui metode penelitian yang lebih memeras pikiran dan pengalaman secara lebih detil.”
“Pada Ismail?”
“Pengurbanan dan keikhlasan.”
“Ayyub?”
“Ketahanan dan kesabaran.”
“Dawud?”
“Tangis, perjuangan dan keberanian.”
“Sulaiman?”
“Ke-waskita-an, kemenangan terhadap kemegahan benda, kesetiaan ekologis dan keadilan.”
“Sekarang sebutkan yang engkau peroleh dari Musa!”
“Keteguhan, ketegasan haq, ilmu perjuangan politik, tapi juga kedunguan dalam kepandaian.”
“Dari Zakaria?”
“Dzikir.”
“Isa?”
“Kelembutan cinta kasih, alam getaran hub.”
“Adapun dari Muhammad, anakku?”
“Kematangan, kesempurnaan, ilmu manajemen dari semua unsur cahaya yang dibawa oleh para perutusan Allah sebelumnya.”
**
__________________
Last edited by AlfaOmega; February 15, 2010 at 07:18.
|
|
|
February 15, 2010, 07:17
|
#369
|
|
Registered User
Join Date: Mar 2003
Posts: 14,082
WebPoint: 0 GaulPoint: 6129
|
Akhirnya tiba kepada santri kesembilan. “Di tahap cahaya Islam yang manakah kehidupan dewasa ini?”
“Tak menentu, Kiai,” jawab sanri terakhir itu,
“Terkadang, atau bahkan amat sering, kami adalah Adam yang sembrono dan nekad makan buah khuldi.
Di saat lain kami adalah Ayyub –tetapi– yang kalah oleh sakit berkepanjangan dan putus asa oleh perolehan yang amat sedikit.
Sebagian kami memperoleh jabatan seperti Yusuf tapi tak kami sertakan keadilan dan kebijakannya;
sebagian lain malah menjadi Yusuf yang dicampakkan ke dalam sumur tanpa ada yang mengambilnya.
Ada juga golongan dari kami yang telah dengan gagahnya membawa kapak bagai Ibrahim, tapi sebelum tiba di gudang berhala, malah berbelok mengerjakan sawah-sawah Fir’aun atau membelah kayu-kayu untuk pembangunan istana diktator itu.”
Pak Kiai tersenyum, dan santri itu meneruskan, “Mungkin itu yang menyebabkan seringkali kami tersembelih bagai Ismail, tapi tak ada kambing yang menggantikan ketersembelihan kami.”
“Maka sebagian dari kami lari bagai Yunus: seekor ikan paus raksasa menelan kami, dan sampai hari ini kami masih belum selesai mendiskusikan dan menseminarkan bagaimana cara keluar dari perut ikan.”
Pak Kiai tertawa terkekeh-kekeh.
“Kami belajar pidato seperti Harun, sebab dewasa ini berlangsung apa yang disebut abad informasi. Tetapi isi pidato kami seharusnya diucapkan 15 abad yang lalu, padahal Musa-Musa kami hari ini tidaklah sanggup membelah samudera.”
“Anakku,” Pak Kiai menyela, “pernyataan-pernyataanmu penuh rasa sedih dan juga semacam rasa putus asa.”
“Insyaallah tidak, Kiai,” jawab sang santri,
“Cara yang terbaik untuk menjadi kuat ialah menyadari kelemahan.
Cara yang terbaik untuk bisa maju ialah memahami kemunduran.
Sebodoh-bodoh kami, sebenarnya telah pula berupaya membuat tali berpeluru Dawud untuk menyiapkan diri melawan Jalut.
Tongkat Musa kami pun telah perlahan-lahan kami rekayasa, agar kelak memiliki kemampuan untuk kami lemparkan ke halaman istana Fir’aun dan menelan semua ular-ular sihir yang melata-lata.
Kami juga mulai berguru kepada Sulaiman si raja agung pemelihara ekosistem.
Seperti Musa kami juga belajar berendah hati kepada ufuk ilmu Khidhir. Dan berzikir.
Bagai Zakaria, kami memperpeka kehidupan kami agar memperoleh kelembutan yang karib dengan ilmu dan kekuatan Allah.
Terkadang kami khilaf mengambil hanya salah satu watak Isa, yakni yang tampak sebagai kelembekan.
Tetapi kami telah makin mengerti bagaimana berguru kepada keutuhan Muhammad, mengelola perimbangan unsur-unsur, terutama antara cinta dengan kebenaran. Sebab tanpa cinta, kebenaran menjadi kaku dan otoriter. Sedangkan tanpa kebenaran, cinta menjadi hanya kelemahan, keterseretan, terjebak dalam kekufuran yang samar, hanyut dan tidak berjuang.”
**
Betapa tak terbatas apabila perbincangan itu diteruskan jika tujuannya adalah hendak menguak rahasia cahaya Islam.
“Sampai tahap ini,” kata Pak Kiai, “cukuplah itu bagi kalian, sesudah dua pertanyaan berikut ini kalian jawab.”
“Kami berusaha, Kiai,” jawab mereka.
“Bagaimana kalian menghubungkan keyakinan kalian itu dengan keadaan masyarakat dan negeri di mana kalian bertempat tinggal?”
“Kebenaran berlaku hanya apabila diletakkan pada maqam yang juga benar. Juga setiap kata dan gerak perjuangan,” berkata salah seorang.
“Sebaik-baik urusan ialah di tengah-tengahnya, kata Rasul Agung. Harus pas. Tak lebih tak kurang,” sambung lainnya.
“Muhammad juga mengajarkan kapan masuk Gua Hira, kapan terjun ke tengah masyarakat,” sambung yang lain lagi.
“Mencari titik koordinat yang paling tepat pada persilangan ruang dan waktu, atau pada lalu lintas situasi dan peta sejarah.”
“Ada dakwah rahasia, ada dakwah terang-terangan.”
“Hikmah, maw’idhah hasanah, jadilhum billati hiya ahsan.”
“Makan hanya ketika lapar, berhenti makan sebelum kenyang. Itulah irama. Itulah sesehat-sehat kesehatan, yang berlaku bagi tubuh maupun proses sejarah.”
“Perjuangan ialah mengetahui kapan berhijrah ke Madinah dan kapan kembali ke Makkah untuk kemenangan.”
“Dan di atas semua itu, Rasulullah Muhammad bersedia tidur beralaskan daun kurma atau bahkan di atas lantai tanah.”
Pak Kiai tersenyum, “Apa titik tengah di antara kutub kaku dan kutub lembek, anak-anakku?”
“Lentur, Kiai!” kesembilan santri itu menjawab serentak, karena kalimat itulah memang yang hampir setiap hari mereka dengarkan dari mulut Pak Kiai sejak hari pertama mereka datang ke pesantren itu.
“Fal-yatalaththaf!” ucap Pak Kiai akhirnya sambil berdiri dan menyalami santri-santrinya satu per satu,
“titik pusat Al-Qur’an!”
1987 Emha Ainun Nadjib
Sumber : Pustaka Online Media ISNET
Emha Ainun Nadjib , 10 Juli 2009
__________________
Last edited by AlfaOmega; February 15, 2010 at 07:19.
|
|
|
February 19, 2010, 09:56
|
#370
|
|
Registered User
Join Date: Mar 2003
Posts: 14,082
WebPoint: 0 GaulPoint: 6129
|
Rasulullah SAW mengheningkan diri di gua Hira`
Siddharta Gautama mengheningkan diri di bawah pohon Bodh
Nabi Musa mengheningkan diri di gunung Sinai
Dalam keheningan, kita bisa kembali kepada jati diri kita, sehingga mudah mengenal Tuhan kita.
Dalam hiruk pikuk keramaian dunia, terutama di perkotaan
Dunia senantiasa menyelimuti pikiran kita
kesibukan tugas, rutinitas kerja, rutinitas kuliah, dan lain-lain...
semua menina bobo1kan kita dengan duniawi
sehingga, manusia ibarat robot
manusia melupakan jati dirinya
sehingga, susah untuk menjumpai Tuhan nya.
Anehnya, walaupun di kota sangat ramai dan hiruk pikuk
mengapa banyak yg merasa kesepian ?
Quote:
Taman
Jumat, 19/02/2010 14:16 WIB | email | cetak | share
Seorang ayah mengajak isteri dan anak-anaknya berwisata keluar kota. Sang ayah berharap agar keluarga yang dipimpinnya bisa menemukan ketenangan, rileksasi, dari hiruk pikuk kehidupan sehari-hari.
Tibalah sang ayah dan keluarganya di suatu tempat yang penuh dengan suasana hijau. Pepohonan nan rindang menyejukkan pandangan mata, rerumputan yang senantiasa menghaluskan pijakan dan tapakan kaki yang begitu lelah dengan suasana kota. Suasana pegunungan nan biru menyegarkan kembali harmonisasi hubungan keluarga.
“Ah, sungguh tempat yang tepat untuk mencari ketenangan,” ujar sang ayah sambil memandangi keriangan isteri dan anak-anaknya ketika membaur dengan suasana hijau. Sebuah penginapan pun menanti mereka untuk mendapatkan kesegaran baru dari penatnya perjalanan jauh.
Hari pun berganti, dan tibalah sang ayah dan keluarga yang dipimpimnya kembali menuju kehidupan kota. Mulailah terbayang oleh masing-masing mereka sebuah kepenatan, kebisingan, kekhawatiran, dan berbagai ketidaknyamanan yang seperti biasa mereka hadapi.
Sang ayah memandangi reaksi mereka satu per satu ketika kendaraan yang mereka tumpangi berhenti di rumah mereka yang padat. “Ah, aku hanya mengajak keluargaku lari dari kebisingan. Bukan ketenangan yang hakiki,” batin sang ayah sambil menyemangati isteri dan anak-anaknya dengan hiasan senyuman.
***
Hidup butuh keseimbangan. Ketika kepenatan dan berbagai perasaan tak nyaman menumpuk, orang butuh ketenangan. Itulah arah yang mereka kejar untuk mendapatkan keseimbangan baru dalam hidup.
Sayangnya, ketenangan yang mereka cari hanya sebuah selingan dari berbagai himpitan kesibukan hidup yang sangat melelahkan. Ketenangan dalam taman-taman yang mereka cari, ternyata hanya lapisan tipis gula pemanis dari tumpukan pahitnya hidup yang menggelut.
Bukan itu taman yang sebenarnya mereka cari. Taman ketenangan yang melahirkan keseimbangan hidup sebenarnya tidak semahal yang selama ini orang kejar. Ia dalam diri setiap manusia. Itulah hati. Berzikirlah, niscaya ketenangan akan melekat dalam hati untuk kurun yang lama.
Berzikirlah dan berzikirlah, karena di situlah ketenangan yang hakiki. Benar apa yang diucapkan sang ayah, “Aku hanya mengajak keluargaku lari dari kebisingan dan berbagai kenyataan hidup! Bukan ketenangan yang hakiki.” (muhammadnuh@eramuslim.com)
|
__________________
|
|
|
March 04, 2010, 08:44
|
#371
|
|
Registered User
Join Date: Mar 2003
Posts: 14,082
WebPoint: 0 GaulPoint: 6129
|
Sisi Lain Maulid Nabi
Rabu, 03 Maret 2010, 10:09 WIB
Oleh Prof Dr Ali Mustafa Yaqub
Seorang kawan mengeluh kepada kami. Katanya, sekarang ini banyak anggota GAM di Jakarta. "Eh, yang benar saja. Mana ada anggota Gerakan Aceh Merdeka di Jakarta," begitu kami menyanggah. "Ini bukan GAM yang berarti Gerakan Aceh Merdeka, tetapi GAM yang berarti Gerakan Anti Maulid," kata kawan tadi menjelaskan.
"Apa argumen mereka?" Tanya kami mengejar. "Mereka bilang peringatan maulid itu tidak pernah dikerjakan oleh Nabi Muhammad SAW. Jadi, ini termasuk bid`ah," jelasnya. "Wah, kalau yang namanya bid`ah itu adalah ibadah yang tidak pernah dikerjakan Nabi SAW, akan banyak ibadah yang menjadi bid`ah," jelas kami.
"Banyak ibadah menjadi bid`ah? Apa maksud Ustaz?" Begitu kawan tadi bertanya penasaran. "Ya, kalau ibadah yang tidak pernah dikerjakan Rasulullah SAW itu disebut bid`ah, umrah Ramadhan adalah bid`ah. Karena, Rasulullah selama hidup tidak pernah menjalankan umrah pada bulan Ramadhan. Kita mengeluarkan zakat fitri dengan beras juga bid`ah, karena Rasulullah tidak pernah mengeluarkan zakat fitri dengan beras." Begitu kami menjelaskan.
"Lalu, yang disebut bid`ah itu apa Ustaz?" Tanyanya lagi. "Dalam bidang ibadah, yang disebut bid`ah adalah ibadah yang tidak ada dalilnya dalam agama (dalil syar`i). Yang dimaksud dalil syar`i adalah Alquran, hadis, ijma`, qiyas, dan lain-lain," tambah kami. "Contohnya apa, Ustaz?" Tanya dia lagi. "Contohnya, shalat Shubuh 10 rakaat. Tidak ada dalilnya dalam agama. Yang ada dalil olah raga. Pagi hari, semakin banyak bergerak semakin baik," jelas kami.
"Lalu, apakah peringatan maulid Nabi SAW itu ada dalilnya dalam agama?" Tanyanya lagi. "Untuk menghukumi sesuatu, kita tidak boleh melihat namanya, tetapi kita lihat substansi perbuatan atau materinya. Apabila kita menghukumi sesuatu dari namanya, hotdog yang bahannya terigu dan daging ayam yang disembelih sesuai syariah Islam, hukumnya haram karena makanan itu bernama hotdog alias anjing panas.''
''Maka, seperti kata Syekh Dr Ahmad al-Syurbasyi dalam kitabnya Yasalunaka fi al-Din wa al-Hayah, untuk menghukumi maulid, kita harus melihat perbuatan yang dilakukan dalam maulid itu. Apabila maulid itu diisi dengan maksiat dan kemungkaran, hukumnya haram. Namun, apabila diisi dengan membaca Alquran, penerangan perjuangan Rasulullah SAW, dan sebagainya, semua itu ada dalil yang menganjurkannya. Begitu pendapat Syekh Dr Ahmad al-Syurbasyi dari Mesir,'' jelas kami. "Wah, terima kasih, Ustaz. Sekarang saya sudah paham," jawabnya.
__________________
|
|
|
March 04, 2010, 13:22
|
#372
|
|
Pendulum Lokal
Join Date: Jan 2008
Posts: 3,780
WebPoint: 0 GaulPoint: 3797
|
Quote:
Originally Posted by AlfaOmega
Akhirnya tiba kepada santri kesembilan. “Di tahap cahaya Islam yang manakah kehidupan dewasa ini?”
“Tak menentu, Kiai,” jawab sanri terakhir itu,
“Terkadang, atau bahkan amat sering, kami adalah Adam yang sembrono dan nekad makan buah khuldi.
Di saat lain kami adalah Ayyub –tetapi– yang kalah oleh sakit berkepanjangan dan putus asa oleh perolehan yang amat sedikit.
Sebagian kami memperoleh jabatan seperti Yusuf tapi tak kami sertakan keadilan dan kebijakannya;
sebagian lain malah menjadi Yusuf yang dicampakkan ke dalam sumur tanpa ada yang mengambilnya.
Ada juga golongan dari kami yang telah dengan gagahnya membawa kapak bagai Ibrahim, tapi sebelum tiba di gudang berhala, malah berbelok mengerjakan sawah-sawah Fir’aun atau membelah kayu-kayu untuk pembangunan istana diktator itu.”
Pak Kiai tersenyum, dan santri itu meneruskan, “Mungkin itu yang menyebabkan seringkali kami tersembelih bagai Ismail, tapi tak ada kambing yang menggantikan ketersembelihan kami.”
“Maka sebagian dari kami lari bagai Yunus: seekor ikan paus raksasa menelan kami, dan sampai hari ini kami masih belum selesai mendiskusikan dan menseminarkan bagaimana cara keluar dari perut ikan.”
Pak Kiai tertawa terkekeh-kekeh.
“Kami belajar pidato seperti Harun, sebab dewasa ini berlangsung apa yang disebut abad informasi. Tetapi isi pidato kami seharusnya diucapkan 15 abad yang lalu, padahal Musa-Musa kami hari ini tidaklah sanggup membelah samudera.”
“Anakku,” Pak Kiai menyela, “pernyataan-pernyataanmu penuh rasa sedih dan juga semacam rasa putus asa.”
“Insyaallah tidak, Kiai,” jawab sang santri,
“Cara yang terbaik untuk menjadi kuat ialah menyadari kelemahan.
Cara yang terbaik untuk bisa maju ialah memahami kemunduran.
Sebodoh-bodoh kami, sebenarnya telah pula berupaya membuat tali berpeluru Dawud untuk menyiapkan diri melawan Jalut.
Tongkat Musa kami pun telah perlahan-lahan kami rekayasa, agar kelak memiliki kemampuan untuk kami lemparkan ke halaman istana Fir’aun dan menelan semua ular-ular sihir yang melata-lata.
Kami juga mulai berguru kepada Sulaiman si raja agung pemelihara ekosistem.
Seperti Musa kami juga belajar berendah hati kepada ufuk ilmu Khidhir. Dan berzikir.
Bagai Zakaria, kami memperpeka kehidupan kami agar memperoleh kelembutan yang karib dengan ilmu dan kekuatan Allah.
Terkadang kami khilaf mengambil hanya salah satu watak Isa, yakni yang tampak sebagai kelembekan.
Tetapi kami telah makin mengerti bagaimana berguru kepada keutuhan Muhammad, mengelola perimbangan unsur-unsur, terutama antara cinta dengan kebenaran. Sebab tanpa cinta, kebenaran menjadi kaku dan otoriter. Sedangkan tanpa kebenaran, cinta menjadi hanya kelemahan, keterseretan, terjebak dalam kekufuran yang samar, hanyut dan tidak berjuang.”
**
Betapa tak terbatas apabila perbincangan itu diteruskan jika tujuannya adalah hendak menguak rahasia cahaya Islam.
“Sampai tahap ini,” kata Pak Kiai, “cukuplah itu bagi kalian, sesudah dua pertanyaan berikut ini kalian jawab.”
“Kami berusaha, Kiai,” jawab mereka.
“Bagaimana kalian menghubungkan keyakinan kalian itu dengan keadaan masyarakat dan negeri di mana kalian bertempat tinggal?”
“Kebenaran berlaku hanya apabila diletakkan pada maqam yang juga benar. Juga setiap kata dan gerak perjuangan,” berkata salah seorang.
“Sebaik-baik urusan ialah di tengah-tengahnya, kata Rasul Agung. Harus pas. Tak lebih tak kurang,” sambung lainnya.
“Muhammad juga mengajarkan kapan masuk Gua Hira, kapan terjun ke tengah masyarakat,” sambung yang lain lagi.
“Mencari titik koordinat yang paling tepat pada persilangan ruang dan waktu, atau pada lalu lintas situasi dan peta sejarah.”
“Ada dakwah rahasia, ada dakwah terang-terangan.”
“Hikmah, maw’idhah hasanah, jadilhum billati hiya ahsan.”
“Makan hanya ketika lapar, berhenti makan sebelum kenyang. Itulah irama. Itulah sesehat-sehat kesehatan, yang berlaku bagi tubuh maupun proses sejarah.”
“Perjuangan ialah mengetahui kapan berhijrah ke Madinah dan kapan kembali ke Makkah untuk kemenangan.”
“Dan di atas semua itu, Rasulullah Muhammad bersedia tidur beralaskan daun kurma atau bahkan di atas lantai tanah.”
Pak Kiai tersenyum, “Apa titik tengah di antara kutub kaku dan kutub lembek, anak-anakku?”
“Lentur, Kiai!” kesembilan santri itu menjawab serentak, karena kalimat itulah memang yang hampir setiap hari mereka dengarkan dari mulut Pak Kiai sejak hari pertama mereka datang ke pesantren itu.
“Fal-yatalaththaf!” ucap Pak Kiai akhirnya sambil berdiri dan menyalami santri-santrinya satu per satu,
“titik pusat Al-Qur’an!”
1987 Emha Ainun Nadjib
Sumber : Pustaka Online Media ISNET
Emha Ainun Nadjib , 10 Juli 2009
|
Mantab.....mantab....mantab....
Sebentar Emha.....loe akan gua susul pemikirannya.....halah.... 
orang abnormal kok mau nyusul pemikiran yang matang di bawah sinar Tauhid.....Mimpi aje terus si Cakung....
__________________
"Aku datang dengan pasukan pecinta kematian sedangkan kalian dengan pasukan pecinta kehidupan." Khalid ibnu Walid
|
|
|
March 05, 2010, 00:53
|
#373
|
|
anak kucing garong
Join Date: Oct 2007
Posts: 16,987
WebPoint: 0 GaulPoint: 12870
|
Quote:
Originally Posted by Preman_Cakung
Wakakaka...... 
ceritanya benar2 menyentuh.....interaksi di masyarakat memang agak2 rumit.....
seperti di tohok..... 
|
jgn2 pak jojo itu elo man??
__________________
dung taa taaaak.........
|
|
|
March 05, 2010, 02:31
|
#374
|
|
Registered User
Join Date: Mar 2003
Posts: 14,082
WebPoint: 0 GaulPoint: 6129
|
Ngidam Masjid
Berkeluarga kadang seperti menyelami dunia ghaib. Ada, tapi tak terlihat. Terlihat, tapi tak tersentuh.Tersentuh, tapi tak terasa.Sehingga, mereka yang berkeluarga bisa melihat, menyentuh, dan merasakan sesuatu yang benar-benar baru.
Semua manusia punya kecenderungan untuk berbagi dalam hidup bersama pasangannya. Buah dari kecenderungan ini pun menumbuhkan pohon baru yang kelak akan menghasilkan buah yang juga baru.
Di antara buah baru yang tumbuh adalah anugerah Allah berupa kehamilan. Inilah mungkin puncak dari sekian banyak rasa di hati suami isteri. Ada harap, was-was, keingintahuan, cinta,bingung, dan mungkin juga penasaran.
Kadang, semua rasa itu terkumpul dalam satu wadah emosi wanita hamil yang begitu unik. Orang pun menyebutnya ngidam. Hal itulah yang kini kerap dirasakan Bu Lia.
Calon ibu muda ini benar-benar merasakan sesuatu yang baru dalam hidupnya. Sesuatu yang tidak bisa dipelajari dari kursus, sekolah, bahkan pengajian sekali pun.
Memang, ia pernah mendengar cerita-cerita soal ngidam. Baca buku tentang tema itu juga sudah beberapa kali. Tapi, kenyataan benar-benar jauh dari yang pernah didengar dan dibaca. Sungguh, ngidam buat Bu Lia menjadi sesuatu yang benar-benar unik dan menarik.
Bersamaan dengan perutnya yang mulai membuncit, ada perasaan baru yang hinggap dalam emosinya. Bu Lia agak lebih sensi: gampang tersinggung, dan jadi manja ke suami.
Sebenarnya, yang diidamkan Bu Lia tergolong baik. Bukan sekadar makanan unik yang cuma nyangkut di lidah. Bukan juga hal-hal aneh yang nggak masuk akal. Tapi, sangat berkait dengan ibadah.
Entah kenapa, Bu Lia selalu ingin salat di masjid yang menurutnya sangat menarik dikunjungi. Bisa karena arsitekturnya, ukuran, atau hal lain yang unik. Dan ketertarikan itu bisa muncul hanya melalui gambar atau sekadar omongan dari orang lain.
Kalau ketertarikannya muncul, calon ibu yang berdomisili di kawasan perkampungan ini pun memohon dengan sangat ke suaminya. Bu Lia minta supaya diantar ke masjid yang ia inginkan. Dengan cara apa pun, pokoknya, ia harus bisa melihat, masuk, dan salat dua rakaat di masjid itu. Setelah itu, pulang.
Pernah suatu kali, seorang tetangganya baru pulang dari pasar di kota. Tetangga Bu Lia menceritakan bagaimana ramainya pasar itu. ”Wah, pasarnya benar-benar enak, Bu. Sejuk. Tidak panas seperti di kampung kita!” ucap tetangga Bu Lia antusias.
“Masjidnya gimana?” sergah Bu Lia tiba-tiba. Sang tetangga agak bingung. Soalnya, ia sedang cerita pasar. Lha, kok nyambungnya ke masjid. ”Wuih, masjid agungnya juga bagus, Bu. Besar sekali! Saya juga lewat situ,” sambung sang tetangga tidak kalah antusias.
Beberapa menit setelah sang tetangga pulang, Bu Lia pun minta diantar ke masjid agung kota. Padahal, hari sudah menjelang sore. Tapi, karena desakan yang begitu kuat, suami Bu Lia pun terpaksa mengantar isterinya menuju masjid agung di kota.
Setibanya di pintu gerbang masjid, Bu Lia berdiri mematung. Wajahnya begitu tenang seperti memandang taman bunga. Kekagumannya benar-benar melupakan rasa lelahnya yang menempuh perjalanan hingga hitungan jam. ”Masuk, yuk Mas!” ucap Bu Lia sambil menggamit tangan suaminya. Setelah salat dua rakaat, ia pun minta pulang.
Beberapa hari pun berlalu. Ngidam Bu Lia sempat vakum. Hingga suatu hari, ia menikmati pemandangan adzan maghrib di sebuah stasiun televisi. Beberapa tayangan tentang masjid mengiringi alunan kumandang adzan yang begitu syahdu. Dan, salah satu masjid tiba-tiba jadi bidikannya.
”Oh, itu Masjid Istiqlal!” ucap suami Bu Lia setelah sang isteri menanyakan. Seperti biasa, Bu Lia pun memohon dengan sangat untuk diantar ke masjid pilihannya itu. ”Itu jauh sekali, Dek. Itu di Jakarta. Bisa sehari semalam dengan bus,” jelas suami Bu Lia menunjukkan keberatannya. Tapi, karena desakan yang begitu kuat, sang suami pun menurut. ”Ini anak pertama, lho Mas!” bujuk Bu Lia menguatkan.
Setelah susah payah, Bu Lia dan suami pun tiba di Masjid Istiqlal Jakarta. Seperti biasa, usai salat dua rakaat, Bu Lia dan suami kembali pulang.
Di suatu pagi yang cerah, suami Bu Lia mengajak isterinya menjenguk Pak Kades dan isteri yang baru saja pulang haji. Suara letusan petasan sudah terdengar di sepanjang perjalanan. ”Cepat jalannya, Dek. Nanti keduluan orang-orang!” ucap suami Bu Lia begitu bersemangat.
Bu Lia dan suami mendapati Pak Kades dan isteri yang masih berpakaian putih-putih. Wajah keduanya masih menampakkan rasa lelah. Setelah bersalaman, Bu Kades pun berujar, ”Waduh Nak Lia. Masjid Haram itu benar-benar indah, lho. Wuih, pokoknya indah sekali!”
Saat itu juga, wajah suami Bu Lia tiba-tiba pucat. Ia tidak bisa membayangkan kalau setiba di rumah nanti, isterinya maksa minta diantar ke masjid di tanah suci Mekah itu. Hanya untuk salat dua rakaat. (muhammadnuh@eramuslim.com)
__________________
|
|
|
March 10, 2010, 08:23
|
#375
|
|
Registered User
Join Date: Mar 2003
Posts: 14,082
WebPoint: 0 GaulPoint: 6129
|
Anggora
Seekor kucing anggora memamerkan kegagahannya di depan kucing-kucing lain yang sama-sama tinggal di sebuah rumah. Bulunya yang lebat dan raut wajah yang angker kian menambah keperkasaannya di hadapan kucing-kucing lain.
Karena itulah, tak satu pun kucing-kucing kampung di sekitar rumah itu yang berani mendekat. Mereka sudah ngeri dengan penampilan si anggora yang kian menjadi kesayangan sang tuan rumah.
Suatu kali, dalam perjalanan jauh di sebuah pegunungan, sang pemilik kucing-kucing itu lengah kalau si anggora masih tertinggal di sebuah persinggahan. Karena tak tahu arah jalan, si anggora tersasar di sebuah tepian hutan.
Baru kali itu si anggora menapaki alam liar. Bulunya yang lebat dan bersih, kini mulai kusam oleh tanah merah bekas hujan. Ia mulai kedinginan, lapar, dan terus mengeong mencari sang tuan. Kegagahannya yang begitu ia banggakan tiba-tiba menciut seiring dengan suara-suara hewan lain yang saling bersahutan dari balik semak belukar.
“Hiii,” suara si anggora yang terus dikungkung ketakutan. Ia terus berlari, mengeong, dan mencari-cari sang tuan yang bisa memberinya segelas susu, sekerat daging, dan rumah hangat yang nyaman.
***
Ketika perjalanan hidup memaksa seseorang untuk menapaki dunia nyata, kungkungan lingkungan di mana ia tumbuh, kerap menjadi hambatan besar untuk menelusuri proses pembelajaran.
Seseorang harus menyadari bahwa menapaki kenyataan hidup di alam luas tidak selandai tangga-tangga lingkungan rumah di mana ia tinggal. Dan, menggeluti kerasnya persaingan di dunia bebas, tidak seempuk tumpukan bantal guling yang menemaninya saat ia bersantai.
Lingkungan yang memanjakan kerap menutup mata seseorang menemui prestasi-prestasi kehidupan yang membanggakan. (muhammadnuh@eramuslim.com)
__________________
|
|
|
Posting Rules
|
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts
HTML code is Off
|
|
|
All times are GMT. The time now is 07:27.
|
|