August 16, 2009, 14:31
|
#346
|
|
Registered User
Join Date: Mar 2003
Posts: 14,082
WebPoint: 0 GaulPoint: 6.129
|
BAYANG-BAYANG SUAMI
Ada syair daerah yang sering dinyanyikan anak-anak Betawi: jamblang sepet, jambu manis. Abang ngumpet, Mbak Ayu nangis. Horee! Tapi, gimana jika justru Mbak Ayulah yang selalu ngumpet. Menangiskah Si Abang?
Pernikahan memang salah satu pintu keberkahan. Segala sesuatu tanpa terasa tumbuh dan berkembang. Yang sebelumnya tidak boleh, dengan pernikahan bukan sekadar boleh, tapi berpahala. Yang sebelumnya tidak ada, sudah mulai banyak. Ada anak-anak, rumah berserta perabot, kendaraan, dan tentu saja status diri yang mulai dianggap masyarakat.
Dari sekian buah keberkahan yang selalu bertambah, ada akar keberkahan yang tidak boleh kering. Apalagi mati. Itulah cinta suami isteri yang ternaung dalam cinta Yang Maha Pencinta, Allah swt.
Mungkin, ada perbedaan latar belakang budaya. Ada juga masalah suku, selera, daya tangkap hati, dan seputar kebiasaan masa lajang. Dari cintalah segala perbedaan tadi terjembatani. Tapi, dari cinta pula kekhawatiran bisa muncul berlebihan. Setidaknya, rasa itulah yang sempat dialami Pak Udin.
Bapak tiga anak ini boleh dibilang suami yang beruntung. Betapa tidak, ia dapat anugerah Allah berupa isteri salehah, cantik, lembut, sabar, dan pintar masak. Sebuah deretan kriteria yang sangat diidam-idamkan banyak calon suami. Dan yang paling membuat Pak Udin merasa beruntung, semua anugerah Allah itu ia peroleh sebagai berkah karena aktif di pengajian.
Pria asli Betawi ini sulit membayangkan kalau ia tidak ikut pengajian. Mungkin, sampai tua pun sosok isteri dengan kriteria yang ada pada isterinya itu cuma jadi khayalan. Apalagi modal luar yang dimiliki Pak Udin kurang meyakinkan. Wajah pas-pasan, modal dana tak bisa dibanggakan. Sekali lagi, Pak Udin memang mesti banyak bersyukur. Dan salah satu bentuk syukurnya itu, ia sangat sayang pada isterinya.
Kadang, di tengah rasa sayangnya itu, Pak Udin merasa bingung. Pasalnya, tiap kali datang proses melahirkan, ia seperti dihadapkan pada bayang-bayang kematian. Rasanya, ia seperti dihadapkan dengan sebuah pertukaran: dapat anak, hilang isteri.
Kegelisahan ini mungkin bisa dibilang wajar. Karena tiap kali menghadapi kehamilan, isterinya mengalami sakit lumayan parah: muntah, lemas, hilang nafsu makan, dan pusing. Itu bisa berlangsung hingga tiga bulan. Yang lebih parah di saat-saat menjelang kelahiran. Proses kelahiran yang dialami isteri Pak Udin begitu sulit. Itulah kenapa di tiga kali kelahiran selalu berujung pada operasi sesar.
Pak Udin masih ingat betul kegelisahan yang pernah ia alami di kelahiran anak pertama. Pada tiga bulan pertama, ia menatap isteri tercintanya yang tak lagi punya daya. Ia seperti sedang menghadapi seseorang yang sakit parah. Bahkan mungkin, koma. Bayangkan, ia cuma bisa berkomunikasi dengan isteri lewat mata. Mulut isterinya seperti terkunci, tangannya terkulai lemas, tubuh tak bisa apa-apa kecuali terbaring. “Ah, mungkin ini hari-hari terakhir bisa bersama isteri,” ujarnya dalam hati. Pak Udin menangis.
Baru beberapa bulan isterinya sembuh, saat-saat kelahiran juga membuat Pak Udin deg-degan. Ia sadar betul kalau melahirkan punya risiko kematian. Lagi-lagi, Pak Udin gelisah. Yang paling miris adalah ucapan sang isteri ketika keputusan operasi sudah diambil. “Bang, kalau Allah berkehendak lain, tolong jaga anak kita!” ucap sang isteri dengan logat jawa.
Dalam proses penantian itu, seribu satu masalah mondar-mandir di kepala Pak Udin. “Saya akan jadi duda,” batinnya mulai berbisik. Sesaat kemudian, ia pun istighfar. Ia baca berbagai dzikir agar hatinya bisa stabil. Tapi, lamunan buruknya kembali berulang. Seperti ada suara-suara yang terus berbisik. Kalau kamu duda, siapa yang akan mengurus bayi, siapa yang akan memberi semangat kalau ada masalah, siapa yang akan membuat nasi goreng jamur. Dan satu lagi, siapa yang mau sama ente?
Bayang-bayang tidak enak itulah lagi-lagi kini dirasakan Pak Udin. Urusannya bukan soal melahirkan. Itu sudah bagian masa lalu. Karena isterinya diminta dokter untuk tidak lagi melahirkan dengan alasan kesehatan. Ia kini bingung karena tidak sempat mengantar isteri pulang kampung. Ada kabar mendadak, bapak mertuanya di jawa timur sakit keras. Isteri Pak Udin diminta pulang.
Sebenarnya, ingin sekali Pak Udin mengantar sang isteri hingga ke rumah mertua. Tapi, urusan kantornya masih menumpuk. Dan anak-anak belum libur. Hanya bisa mengantar ke stasiun, Pak Udin melepas isteri tercintanya pulang kampung. Mudah-mudahan selamat!
Ada kabar buruk. Sebuah kereta menuju Jawa Timur mengalami kecelakaan. Beberapa gerbong keluar jalur. Dan sepuluh penumpang dinyatakan tewas. Siapa? Pak Udin memburu berita. Ia menemukan nama Tuti. Tapi tidak jelas Tuti apa. Cuma Tuti. Sementara nama isterinya Tuti Anisa. Tanpa hitung-hitung urusan kantor, Pak Udin langsung berangkat ke Jawa Timur.
Firasatnya makin tidak enak ketika setiba di gang rumah mertuanya, ia menemukan beberapa bendera kuning dari kertas. Langkahnya tiba-tiba melemas. Dadanya bergemuruh. “Isteriku...,” suara batin Pak Udin spontan. Air mata mulai menggenang di kedua matanya.
Rumah mertua Pak Udin mulai terlihat. Beberapa orang berkerumun. Di antara mereka tampak menangis. Pak Udin tak kuat lagi melangkah. Ia terkulai lemas di sebuah rumah. Seseorang menghampiri. “Udin?” suara orang itu. “Paman...!” jawab Pak Udin nyaris tak bersuara. Kedua lelaki itu pun menangis. “Sabar ya, Din. Sabar! Semua sudah kehendak Allah!” suara Paman di sela tangis dan dekapannya pada Pak Udin.
“Saya tidak nyangka, Paman. Dengan cara ini saya berpisah dengan Tuti,” ucap Pak Udin sambil terisak. “Tuti?” ucap Paman agak kaget. “Memang Tuti kenapa, Din?” ucap sang paman menatap Pak Udin. Dan Pak Udin pun ikut kaget.
“Astaghfirullah. Yang meninggal itu bapak mertuamu. Isterimu ada di dalam!” terang sang Paman sambil menggeleng.
“Alhamdulillah!” sambut Pak Udin gembira. “Apa?” tanya sang Paman cepat. “Eh, maaf. Maksud saya, inna lillah!” ucap Pak Udin dengan tak lagi bisa menyembunyikan bahagianya. (muhammadnuh@eramuslim.com)
__________________
|
|
|
|
Recommendation
|
Sponsored Ads
|
|
|
|
August 23, 2009, 14:08
|
#347
|
|
Registered User
Join Date: Mar 2003
Posts: 14,082
WebPoint: 0 GaulPoint: 6129
|
Berdakwah dengan Hati
Fiqih Dakwah
20/8/2009 | 28 Sya'ban 1430 H | Hits: 543
Oleh: Tim dakwatuna.com
dakwatuna.com - “Maka disebabkan rahmat Allah atasmu, kamu berlaku lemah lembut kepada mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkan mereka dan mohonkanlah ampun bagi mereka…”(QS.:3:159)
Saudaraku, Sejarah telah memaparkan pancaran pesona akhlaq Rasulullah dalam perjuangan dakwah beliau sebagai suri teladan bagi kita (QS.:33:21). Kemudian Allah SWT menguatkan dengan firman-Nya “wa innaka la’alaa khuluqin ‘azhiim. Dan sesungguhnya engkau memiliki akhlak yang mulia.”(QS.:68:4). Tentunya ini merupakan pelajaran yang sangat berharga bagi kita. Rumusan nyata dan gamblang tentang model manusia terbaik. Maka siapa yang ingin berhasil dalam mengemban tugas dakwah sebagaimana Rasul, hendaklah mengikuti jejak langkah Rasulullah dan menerapkan akhlaq Rasulullah dalam segenap aktivitas kehidupannya.
Dulu sering kita jumpai keluhan-keluhan dan kekecewaan terhadap penanganan dakwah di kalangan para mutarobbi –binaan atau murid ngaji atau anggota tarbiyah-. Fenomena berjatuhannya para aktivis dakwah, ditambah lagi dengan ketidaksukaan mereka terhadap pola dakwah ternyata – menurut mereka – disebabkan karena seringnya mereka menerima perlakuan yang tidak bijaksana.
Jawaban sederhana dari permasalahan di atas boleh jadi karena ketidak utuhan kita dalam meneladani Rasul atau bahkan mungkin karena kita belum mampu menanamkan akhlaq Rasul pada diri mereka. Akibatnya kita sering tidak sabar dan tidak bijaksana menyikapi mereka, sementara merekapun terlalu mudah tersinggung dan cengeng menyikapi teguran dan nasihat yang mereka anggap sebagai pengekang kebebasan. Komunikasi yang tidak sehat ini sebenarnya bisa diatasi dengan menyadari sepenuh hati akan begitu pentingnya penanaman dan penerapan akhlaq Rasulullah dalam berbagai pendekatan dakwah. Ditinjau dari segi juru dakwah, keinginan meluruskan, teguran, penugasan, sindiran dan sebagainya sebenarnya dapat dikemas dengan akhlaq. Begitupun dari segi mad’u –peserta dakwah atau yang didakwahi- ; ketidakpuasan, ketersinggungan, perasaan terkekang dan kejenuhan juga dapat diredam dengan akhlaq. Akhlaq menuntun kepada kemampuan untuk saling menjaga perasaan, saling memaklumi kesalahan dan mengantarkan kepada penyelesaian terbaik.
Banyak murabbi –pembina atau yang mentarbiyah- yang dikecewakan dan ditinggalkan binaaanya, tapi dia mampu mengemas luka itu dengan empati dan terus mendoakan kebaikan bagi binaannya. Bahkan diiringi harapan suatu saat Allah swt. mengembalikan binaannya dalam aktvitas dakwah, walaupun mungkin bukan dalam penanganannya. “Mungkin dengan saya tidak cocok, tapi semoga dengan murabbi lain cocok”. Ada mutarabbi yang diperlakukan tidak bijaksana oleh murabbinya namun akhlaq menuntunnya untuk mengerti dan menyadari bahwa murabbinya bukan nabi, sehingga dia tidak dendam dan menjelek-jelekkan murabbinya, melainkan tetap merasa bahwa murabbi dengan segala kekurangannya telah berjasa banyak padanya. Dia tidak membenci dakwah meskipun dia dikecewakan oleh seorang aktivis dakwah.
Di antara nilai-nilai akhlaq yang semuanya mesti kita tanamkan dalam diri kita masing-masing adalah dua nilai yang cukup relevan dengan kelancaran dakwah, yaitu kelembutan dan rendah hati.
Kelembutan adalah perpaduan hati, ucapan dan perbuatan dalam upaya menyayangi, menjaga perasaan, melunakkan dan memperbaiki orang lain. Kelembutan adalah kebersihan hati dan keindahan penyajian yang diwujudkan dalam komunikasi lisan maupun badan. Bukanlah kelembutan bila ucapannya lembut tapi isinya penuh dengan kata-kata kasar menyakitkan (nyelekit). Bukan pula kelembutan bila menyampaikan kebenaran tapi dengan caci maki dan bentakan.
Berwajah manis penuh senyum, memilih pemakaian kata yang benar dan pas (qaulan sadidan), memaafkan, memaklumi, penuh perhatian, penuh kasih sayang adalah tampilan kelembutan. Wajah sinis, penuh sindiran yang terkadang tanpa tabayyun, buruk sangka, ghibah, mendendam, emosional merupakan kebalikan dari sifat kelembutan.
Rendah hati merupakan perpaduan hati, ucapan dan perbuatan dalam upaya mendekatkan atau mengakrabkan, melunakkan keangkuhan, menumbuhkan kepercayaan, membawa keharmonisan dan mengikis kekakuan. Angkuh, sok pintar dan hebat, merasa paling berjasa, merasa levelnya lebih tinggi, minta dihormati, enggan menegur atau menyapa lebih dulu, tidak mau diperintah, sulit ditemui atau dimintai tolong dengan alasan birokratis, menganggap remeh, cuek dan antipati merupakan lawan dari rendah hati. Allah swt. berfirman dalam surah Asy Syu’araa ayat 215 “Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang beriman yang mengikuti kamu.”
Bila Rasulullah saw. saja dengan berbagai pesona dan kelebihannya diperintah untuk tawadhu (dan Rasul telah menjalankan perintah itu), tentulah kita yang apa adanya ini harus lebih rendah hati. Rendah hati terhadap murabbi, rendah hati terhadap mutarabbi dan rendah hati terhadap seluruh orang-orang beriman menunjukkan penghormatan kita pada Rasul dan pada kebenaran Al-Qur’an. Sebaliknya, keangkuhan dan perasaan lebih dari orang lain menandakan masih jauhnya kita dari Al-Qur’an dan Hadist.
Saudaraku, Marilah kita lebih mengaplikasikan apa-apa yang sudah kita ketahui. Betapa pemahaman kita tentang pentingnya akhlak dalam mengantarkan pada kesuksesan dakwah mungkin sudah cukup mumpuni. Namun tinggal bagaimana kita terus meningkatkan penerapan nilai-nilai akhlaq itu dalam kehidupan kita sehari-hari, khususnya dalam mengemban tugas dakwah. Telah dan akan terus terbukti bahwa sambutan masyarakat terhadap dakwah adalah di antaranya karena pesona akhlaq kita, kelembutan kita, memaklumi, mengingatkan dan meluruskan mereka dan kerendahhatian kita untuk terus bersabar mendekati dan menemani hari-hari mereka dengan dakwah kita. Dalam konteks khusus pun demikian, betapa kelembutan dan kerendahhatian ternyata lebih melanggengkan atau mengawetkan binaan-binaan kita untuk terus berdakwah bersama kita.
Saudaraku, Hendaknya dari hari ke hari kita terus mengevaluasi diri, membenahi akhlaq kita dan memantaskan diri (sepantas-pantasnya) sebagai seorang juru dakwah. Memang kita manusia biasa yang penuh salah dan kekurangan, namun janganlah itu menjadi penghalang kita untuk bermujahadah diri menuju kepada kedewasaan sejati. Masa lalu yang kasar dan angkuh hendaklah segera pupus dari diri kita. Kita mulai membiasakan diri untuk lembut di tengah keluarga, di antara aktivis dakwah hingga ke masyarakat luas. Kita mesti melatih kerendahhatian di tengah murid-murid kita, dengan sesama aktivis, pada murabbi kita hingga ke seluruh masyarakat. Dan pada akhirnya nanti insya Allah kita dapatkan keberhasilan dakwah Rasulullah terulang kembali, lewat hati, ucapan dan perbuatan kita yang telah diwarnai nilai-nilai akhlaq.
“Serulah mereka ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah dengan cara yang baik pula. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalanNya dan Dialah yang mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS 16:125). Allahu a’lam
__________________
|
|
|
September 05, 2009, 02:23
|
#348
|
|
Registered User
Join Date: Mar 2003
Posts: 14,082
WebPoint: 0 GaulPoint: 6129
|
Tidur Isteri
Tidur merupakan anugerah Allah yang sangat mahal. Dari nikmat itulah, tubuh kembali segar, pikiran pun lancar. Tapi tidak semua tidur sebagai obat manjur. Karena ada tidur yang membuat keharmonisan luntur.
Keluarga memang tempat aman untuk buka rahasia diri. Nyaris, tak ada lagi rahasia pribadi yang terus tersimpan sesama anggota keluarga. Yang pelit terlihat pelit. Yang ramah teruji ramah. Yang malas pun begitu. Semua warna pribadi menjadi tampak jelas dalam kehidupan keluarga.
Itulah mungkin kenapa Rasulullah saw. melarang suami menceritakan keadaan isterinya ke orang lain. Dan begitu pun sebaliknya. Biarlah dinding rumah menjadi penutup aurat anggota keluarga. Buat selama-lamanya.
Menariknya, ketika bangunan keluarga masih seumur jagung. Masing-masing pihak, belum paham seperti apa rahasia diri pasangannya. Pelitkah, rewelkah, penakutkah, manjakah, boroskah? Dan sebagainya. Saat itulah, suami atau isteri coba-coba menyelami kekurangan pasangannya.
Tentu saja, kekurangan bukan untuk dijatuhkan. Karena manusia mana yang hidup tanpa kekurangan. Itulah batu ujian, agar keluarga bisa menapaki anak-anak tangga keharmonisan. Setidaknya, hal itulah yang kini dirasakan Pak Juned.
Pemuda usia dua puluh empat tahun ini sedang memasuki masa pengantin baru. Sebulan sudah, hari bersejarah akad nikahnya berlalu. Masih terasa degup jantungnya ketika itu. Bingung, grogi, penasaran jadi satu. Kini, ia sedang menelusuri dunia lain yang belum pernah ia alami. Apalagi rasakan.
Salah satu yang ia rasakan saat ini adalah bagaimana mengenal sisi lain orang yang tiba-tiba tinggal sekamar dengannya. Orang yang sebelumnya sama sekali tidak pernah ia kenal. Kadang Juned mengangguk pelan karena ada yang baru ia pahami. Sering juga bingung.
Salah satu yang kerap membuat bingung Juned bukan karena isterinya rewel. Bukan juga pelit. Apalagi pemarah. Semua sifat buruk itu nyaris tak ada. Tapi, ada hal yang sulit dimengerti Juned. Isterinya punya dua sifat berlawanan dalam tidur: gampang di saat akan tidur, sulit ketika akan bangun.
Memang, sifat itu sama sekali tidak menyalahi akhlak Islam. Sungguh anugerah Allah yang luar biasa ketika seseorang bisa tidur dengan cara mudah. Tapi, kok ini mudah banget. Tidak boleh ada angin bertiup sepoi-sepoi, ada tempat buat sandaran kepala, cahaya redup; dan tidur pun datang membawa lelap. Tak kenal siang, apalagi malam.
Itulah sebabnya, Juned belum berani memboncengki isterinya dengan sepeda motor berjarak di atas dua puluh kilometer. Takut ketiduran. Kecuali di hari panas, atau di jalan yang belum beraspal. Mudah tidurnya bisa sedikit tertahan.
Buat sifat yang pertama mungkin masih bisa dimaklumi. Tapi, yang kedua itu agak merepotkan. Dan di sinilah, kesabaran Juned mesti terus diuji.
Suatu kali, beberapa hari setelah habis masa cuti nikah, Juned pulang agak larut. Arlojinya menunjuk angka dua belasan. Dengan lembut, ia mengetuk pintu depan rumah kontrakannya. ”Assalamu’alaikum!” ucap Juned pelan. Tapi, kok nggak ada reaksi. Suasana rumah tampak masih belum ada tanda-tanda kehidupan. Sepi!
Ia ketuk lagi pintu agak keras. “Assalamu’alaikum!” suaranya berbeda dengan yang pertama. Tapi, respon tetap tak berubah. Hingga beberapa kali ia ulangi langkah satu dan dua, suasana mulai berubah. Akhirnya ada reaksi. Sayangnya, reaksi bukan datang dari dalam rumah. Tapi, dari sekitar rumah. Beberapa tetangga Juned terbangun dan keluar rumah. “Baru pulang, Pak!” ucap mereka agak menyindir. Tidak ada yang bisa dilakukan Juned kecuali senyum yang agak dipaksakan. “Maaf jadi terbangun,” ucapnya ramah.
Diam-diam, Juned memutar ke arah samping rumah. Persis di dekat lubang angin jendela kamarnya, ia berdiam diri. Mungkin, dari tempat itu suaranya bisa didengar sang isteri. “Assalamu’alaikum! Abang, Yang! Assalamu’alaikum!!” ucapnya hati-hati. Tapi, tetap belum ada reaksi.
Saat itulah, Juned teringat dengan akhlak Rasul. Beliau saw. memilih tidur di halaman ketimbang menyusahkan isterinya yang tertidur pulas. “Ah, kenapa aku tidak memilih cara itu,” batin Juned berbisik datar. Ia pun kembali ke halaman depan.
Dengan hati-hati, Juned menggeser rak sepatu, besi penjemur pakaian, dan dua kursi plastiknya. Setelah yakin lantai yang ia pilih tidak basah bekas siraman hujan, ia susun beberapa lembar kertas koran yang sempat mampir di tas kantornya. Dan, Juned pun mulai merebah.
Matanya mulai dipejamkan. Mulutnya pun berujar pelan, “Bismikallahumma ahya, wa....” Plak! Belum sempat doa tidurnya terucap rampung, beberapa nyamuk sudah menyerbu. Juned pun sibuk menangkal serbuan itu.
Posisi tubuhnya tidak lagi merebah. Tapi, duduk bersila. Sementara, nyamuk-nyamuk tak kenal kompromi, apakah Juned sedang mencontoh Rasul atau tidak. “Ya Allah, ternyata perbuatan Rasul itu tidak mudah. Sulit!” ucap Juned sambil mencoba berdiri.
Ia kembali ke tempat persis di sisi jendela kamarnya. “Yang, Abang pulang! Assalamu’alaikum!” ucap Juned agak mengeras. “Yang, Abang, Yang!” Tapi, suasana tetap tak berubah.
Juned seperti mencari-cari sesuatu. Ia kumpulkan beberapa koin limaratus rupiahan dari saku celananya. Sesaat kemudian, tangan kanannya melempar koin demi koin melalui celah lubang angin kedalam kamar. Klotak! Klotak! Hingga....
“Bismillah!” suara Juned sambil beraksi di koin keempat. “Aduh!” terdengar suara halus dari balik kamar. “Siapa, ya?” ucap sang isteri agak parau. “Abang, Yang. Abang. Assalamu’alaikum!” sahut Juned spontan. Dan, pintu depan pun mulai dibukakan seseorang. (muhammadnuh@eramuslim.com)
__________________
|
|
|
September 05, 2009, 02:24
|
#349
|
|
Registered User
Join Date: Mar 2003
Posts: 14,082
WebPoint: 0 GaulPoint: 6129
|
Tidur Isteri
Tidur merupakan anugerah Allah yang sangat mahal. Dari nikmat itulah, tubuh kembali segar, pikiran pun lancar. Tapi tidak semua tidur sebagai obat manjur. Karena ada tidur yang membuat keharmonisan luntur.
Keluarga memang tempat aman untuk buka rahasia diri. Nyaris, tak ada lagi rahasia pribadi yang terus tersimpan sesama anggota keluarga. Yang pelit terlihat pelit. Yang ramah teruji ramah. Yang malas pun begitu. Semua warna pribadi menjadi tampak jelas dalam kehidupan keluarga.
Itulah mungkin kenapa Rasulullah saw. melarang suami menceritakan keadaan isterinya ke orang lain. Dan begitu pun sebaliknya. Biarlah dinding rumah menjadi penutup aurat anggota keluarga. Buat selama-lamanya.
Menariknya, ketika bangunan keluarga masih seumur jagung. Masing-masing pihak, belum paham seperti apa rahasia diri pasangannya. Pelitkah, rewelkah, penakutkah, manjakah, boroskah? Dan sebagainya. Saat itulah, suami atau isteri coba-coba menyelami kekurangan pasangannya.
Tentu saja, kekurangan bukan untuk dijatuhkan. Karena manusia mana yang hidup tanpa kekurangan. Itulah batu ujian, agar keluarga bisa menapaki anak-anak tangga keharmonisan. Setidaknya, hal itulah yang kini dirasakan Pak Juned.
Pemuda usia dua puluh empat tahun ini sedang memasuki masa pengantin baru. Sebulan sudah, hari bersejarah akad nikahnya berlalu. Masih terasa degup jantungnya ketika itu. Bingung, grogi, penasaran jadi satu. Kini, ia sedang menelusuri dunia lain yang belum pernah ia alami. Apalagi rasakan.
Salah satu yang ia rasakan saat ini adalah bagaimana mengenal sisi lain orang yang tiba-tiba tinggal sekamar dengannya. Orang yang sebelumnya sama sekali tidak pernah ia kenal. Kadang Juned mengangguk pelan karena ada yang baru ia pahami. Sering juga bingung.
Salah satu yang kerap membuat bingung Juned bukan karena isterinya rewel. Bukan juga pelit. Apalagi pemarah. Semua sifat buruk itu nyaris tak ada. Tapi, ada hal yang sulit dimengerti Juned. Isterinya punya dua sifat berlawanan dalam tidur: gampang di saat akan tidur, sulit ketika akan bangun.
Memang, sifat itu sama sekali tidak menyalahi akhlak Islam. Sungguh anugerah Allah yang luar biasa ketika seseorang bisa tidur dengan cara mudah. Tapi, kok ini mudah banget. Tidak boleh ada angin bertiup sepoi-sepoi, ada tempat buat sandaran kepala, cahaya redup; dan tidur pun datang membawa lelap. Tak kenal siang, apalagi malam.
Itulah sebabnya, Juned belum berani memboncengki isterinya dengan sepeda motor berjarak di atas dua puluh kilometer. Takut ketiduran. Kecuali di hari panas, atau di jalan yang belum beraspal. Mudah tidurnya bisa sedikit tertahan.
Buat sifat yang pertama mungkin masih bisa dimaklumi. Tapi, yang kedua itu agak merepotkan. Dan di sinilah, kesabaran Juned mesti terus diuji.
Suatu kali, beberapa hari setelah habis masa cuti nikah, Juned pulang agak larut. Arlojinya menunjuk angka dua belasan. Dengan lembut, ia mengetuk pintu depan rumah kontrakannya. ”Assalamu’alaikum!” ucap Juned pelan. Tapi, kok nggak ada reaksi. Suasana rumah tampak masih belum ada tanda-tanda kehidupan. Sepi!
Ia ketuk lagi pintu agak keras. “Assalamu’alaikum!” suaranya berbeda dengan yang pertama. Tapi, respon tetap tak berubah. Hingga beberapa kali ia ulangi langkah satu dan dua, suasana mulai berubah. Akhirnya ada reaksi. Sayangnya, reaksi bukan datang dari dalam rumah. Tapi, dari sekitar rumah. Beberapa tetangga Juned terbangun dan keluar rumah. “Baru pulang, Pak!” ucap mereka agak menyindir. Tidak ada yang bisa dilakukan Juned kecuali senyum yang agak dipaksakan. “Maaf jadi terbangun,” ucapnya ramah.
Diam-diam, Juned memutar ke arah samping rumah. Persis di dekat lubang angin jendela kamarnya, ia berdiam diri. Mungkin, dari tempat itu suaranya bisa didengar sang isteri. “Assalamu’alaikum! Abang, Yang! Assalamu’alaikum!!” ucapnya hati-hati. Tapi, tetap belum ada reaksi.
Saat itulah, Juned teringat dengan akhlak Rasul. Beliau saw. memilih tidur di halaman ketimbang menyusahkan isterinya yang tertidur pulas. “Ah, kenapa aku tidak memilih cara itu,” batin Juned berbisik datar. Ia pun kembali ke halaman depan.
Dengan hati-hati, Juned menggeser rak sepatu, besi penjemur pakaian, dan dua kursi plastiknya. Setelah yakin lantai yang ia pilih tidak basah bekas siraman hujan, ia susun beberapa lembar kertas koran yang sempat mampir di tas kantornya. Dan, Juned pun mulai merebah.
Matanya mulai dipejamkan. Mulutnya pun berujar pelan, “Bismikallahumma ahya, wa....” Plak! Belum sempat doa tidurnya terucap rampung, beberapa nyamuk sudah menyerbu. Juned pun sibuk menangkal serbuan itu.
Posisi tubuhnya tidak lagi merebah. Tapi, duduk bersila. Sementara, nyamuk-nyamuk tak kenal kompromi, apakah Juned sedang mencontoh Rasul atau tidak. “Ya Allah, ternyata perbuatan Rasul itu tidak mudah. Sulit!” ucap Juned sambil mencoba berdiri.
Ia kembali ke tempat persis di sisi jendela kamarnya. “Yang, Abang pulang! Assalamu’alaikum!” ucap Juned agak mengeras. “Yang, Abang, Yang!” Tapi, suasana tetap tak berubah.
Juned seperti mencari-cari sesuatu. Ia kumpulkan beberapa koin limaratus rupiahan dari saku celananya. Sesaat kemudian, tangan kanannya melempar koin demi koin melalui celah lubang angin kedalam kamar. Klotak! Klotak! Hingga....
“Bismillah!” suara Juned sambil beraksi di koin keempat. “Aduh!” terdengar suara halus dari balik kamar. “Siapa, ya?” ucap sang isteri agak parau. “Abang, Yang. Abang. Assalamu’alaikum!” sahut Juned spontan. Dan, pintu depan pun mulai dibukakan seseorang. (muhammadnuh@eramuslim.com)
__________________
|
|
|
September 07, 2009, 04:47
|
#350
|
|
Registered User
Join Date: Mar 2003
Posts: 14,082
WebPoint: 0 GaulPoint: 6129
|
PULANG KAMPUNG
Lebaran dan pulang kampung buat sebagian keluarga persis seperti ketupat dengan sayurnya. Terasa ada yang kurang jika satu terlewatkan. Cuma masalahnya, tidak semua keluarga mampu mengolah ‘sayur’ pulang kampung. Kalau pun ‘sayur’ ada, tetap saja terasa hambar.
Pulang kampung saat Lebaran punya dua sisi yang berbeda. Bahkan, mungkin bisa berlawanan. Satu sisi begitu menyenangkan: bisa ketemu bapak-ibu, kakek-nenek, pakde-pakle, dan lain-lain; bisa juga kangen-kangenan dengan tempat kelahiran. Berputarlah kenangan lama semasa kecil dan remaja. Pokoknya, sangat menyenangkan.
Sisi lain adalah yang kurang mengenakkan. Terutama buat mereka yang punya halangan. Ada halangan fisik seperti mabuk di kendaraan, juga halangan lain yang bukan cuma tidak mengenakkan tapi juga membingungkan. Apalagi kalau bukan urusan kantong.
Buat mereka yang di Jakarta dan kampungnya masih menyatu di peta kepala pulau Jawa, mungkin tidak begitu berat. Kisaran dana yang keluar masih hitungan ratusan ribu. Tapi buat mereka yang peta kampungnya ada di badan dan kaki Pulau Jawa, hitungannya mungkin bisa nyentuh jutaan. Dan yang parah buat mereka yang kampungnya tidak ada di peta Pulau Jawa, kantong yang terkuras bisa di atas dua juta rupiah. Bahkan mungkin, puluhan juta. Laa haula walaa quwwata illa billah.
Enak atau susah, pulang kampung tetap jadi pilihan. Ini karena pulang kampung punya makna lain dari sekadar kangen-kangenan. Yaitu, birrul walidain, berbuat baik kepada orang tua. Setidaknya, itulah yang kini diperjuangkan Bu Wiwin.
Ibu dua anak ini memang bukan asli Jakarta. Ia menikah karena pertemuan jodoh di kampus yang berdomisili di Jakarta. Ketika menjelang akhir masa kuliah, Allah menjodohkannya dengan pemuda di Jakarta. Menariknya, sang pemuda yang menjadi suami Bu Wiwin pun ternyata juga bukan orang Jakarta. Ia cuma sedang bekerja di Jakarta. Terjadilah perpaduan antara Bu Wiwin yang asli Jogya, dan suaminya yang keturunan Bengkulu.
Tak ada masalah, memang. Biar jauh dari orang tua, Bu Wiwin dan suaminya akur-akur saja. Problem baru muncul ketika Lebaran datang. Pasalnya, baik Bu Wiwin atau suami, keduanya butuh pulang kampung. Bu Wiwin ditunggu bapak dan ibu di Jogya, sementara suaminya ditunggu orang tuanya di Bengkulu. Repot kan?
Nggak mungkin pisahan sementara. Bu Wiwin ke Jogya tanpa suami, dan suaminya ke Bengkulu tanpa isteri. Lalu, gimana dengan anak-anak? Dan lebih nggak mungkin lagi, mereka berkeliling dua kampung dalam satu Lebaran.
Akhirnya, saat Lebaran tahun lalu sudah ada kesepakatan. Isinya, masing-masing pulang kampung dua Lebaran sekali. Satu lebaran ke kampung suami. Berikutnya ke kampung isteri. Dan tahun lalu, sudah ke Bengkulu. Lebaran tahun ini, harusnya ke Jogya.
Inilah saat-saat yang paling ditunggu Bu Wiwin. Kangennya bisa ketemu bapak ibu. Bu Wiwin yakin, begitu pun dengan kedua orang tuanya. Pasalnya, Bu Wiwin anak bungsu. Satu-satunya anak perempuan lagi. Tiga kakaknya laki-laki. Dan semuanya tinggal di kampung. “Duh, Bapak pasti sudah nunggu-nunggu,” suara batin Bu Wiwin mulai merajuk. Di Lebaran kali ini, cuma ada satu tekad Bu Wiwin: apa pun yang terjadi, harus pulang kampung!
Kekangenan Bu Wiwin kian menjadi ketika bapak dan ibu tidak nelpon-nelpon hingga satu bulan. Selama Ramadhan, praktis Bu Wiwin hidup tanpa sentuhan ‘kasih sayang’. Tanpa bisa manja-manja. Suatu hal yang biasa ia lakukan ketika masih lajang. Padahal biasanya, hampir seminggu sekali bapak atau ibu telpon ke rumah Bu Wiwin. Kalau mau telpon balik sangat tidak mungkin. Soalnya, bapak ibunya tinggal di pedesaan yang belum tersangkut kabel telpon.
Apa bapak ibu sedang sakit? Bu Wiwin kian gelisah. Di telponnya yang terakhir, bapak cuma bilang kangen saja. Bapak juga bilang, ingin lihat rumah anak kesayangannya di Jakarta. Tapi itu tergolong sulit buat mereka berdua. Di samping usianya yang enam puluhan, mereka baru sekali datang ke Jakarta. Itu pun karena ada undangan wisuda di kampus Bu Wiwin. Dan lagi, kalau anaknya masih bisa ke kampung, kenapa mesti orang tua yang ke kota. Kualat, dong!
Duh, gimana kabar bapak dan ibu. Apa mereka sehat-sehat saja di Jogya. Apa rematik bapak kumat lagi. Kenapa saya tidak dikabari. Pikiran Bu Wiwin terus berputar. Campur aduk antara gelisah, kangen, dan bingung.
Bingungnya, justru di giliran pulang ke kampungnya, tabungan Bu Wiwin dan suami lagi ludes. Itu terjadi karena anak pertama Bu Wiwin sempat terserang tipes dan dirawat di rumah sakit selama seminggu. “Duh, cobaan!”
Sesaat kemudian, Bu Wiwin tersadar. “Astaghfirullah!” gumamnya pelan. Cobaan memang bukan untuk dikeluhkan. Tapi harus diperjuangkan, agar alur hidup terus bergulir normal. Yap, harus dicari jalan keluar supaya bisa dapat duit buat pulang kampung. Tapi, kemana?
Mulailah Bu Wiwin dan suami nyari-nyari pinjaman. Mulai ke kantor suami, teman dekat, bahkan tetangga. Ternyata, tidak gampang pinjam uang di saat Lebaran. Supaya bisa dapat uang satu juta saja, mesti mengumpulkan pinjaman di tiga sumber. Itu pun memakan waktu satu minggu.
Walau Lebaran sudah lewat satu minggu, Bu Wiwin dan keluarga tetap pulang kampung. Mungkin di sinilah hikmahnya, kereta ke Jogya jadi tidak begitu penuh. Semua bisa duduk dengan nyaman.
Rasa kangen Bu Wiwin hampir tidak bisa lagi tertahan ketika rumah yang dituju terlihat jelas. “Pak, Bu! Wiwin pulang!” teriak Bu Wiwin sekeras-kerasnya. Teriakan kian ramai saat anak-anak Bu Wiwin ikut-ikutan. Tapi, tak satu suara pun menyahut. Rumah itu begitu sepi. Kemana bapak dan ibu?
“Eh, Wiwin, tho! Anaknya sudah sembuh?” suara seorang tetangga yang muncul menghampiri. “Lha, memangnya Nak Wiwin ndak tahu. Bapak dan ibu kan ke Jakarta. Ke rumah Nak Wiwin. Baru tadi pagi berangkat!” jelas sang tetangga agak prihatin.
“Bapaaak...! Ibuuu...!” teriak Bu Wiwin agak histeris. Ia pun menangis sejadinya. (muhammadnuh@eramuslim.com)
__________________
|
|
|
September 12, 2009, 05:05
|
#351
|
|
Registered User
Join Date: Mar 2003
Posts: 14,082
WebPoint: 0 GaulPoint: 6129
|
Cat Rumah
Rumah sangat mencerminkan wajah penghuninya. Itu bisa tampak dari sisi kebersihan, sirkulasi, taman, hiasan dinding, hingga cat tembok. Yang terakhir agak unik, karena tidak semua orang suka semua warna.
Apalah arti sebuah warna. Ungkapan itu tidak cocok diungkapkan buat mereka yang begitu memaknai seluk-beluk warna. Karena tiap warna punya makna filosofi tersendiri.
Orang memaknai putih sebagai suci, merah yang gagah berani. Begitu pun dengan hitam dan abu-abu. Hitam adalah warna tegas dan juga berarti duka. Sedang abu-abu bisa bermakna dua: menunjukkan sesuatu yang canggih, dan sesuatu yang dinilai masih samar. Masih banyak makna lain untuk warna yang berbeda.
Karena urusan makna warna inilah, orang menjadi tidak sekadar suka atau tidak suka. Bukan juga soal cocok atau tidak, menarik atau menjemukan. Tapi karena lebih soal filosofi itu. Setidaknya, hal itulah yang ingin diresapi Pak Jajang.
Baru tahun ini bapak dua balita ini akhirnya bisa beli rumah. Setelah enam tahun bekerja, lima tahun menikah, dan empat tahun mengontrak; baru kali ini ia bisa merasa lega. Satu kewajiban seorang ayah dan suami bisa ia tunaikan: menyediakan rumah buat keluarga.
Rumah tipe dua sembilan yang berlokasi di pinggiran kota Depok itu, resmi jadi milik Pak Jajang. Walau mencicil, Pak Jajang sudah bisa bilang, "Rumah saya di kawasan Depok!" Itu jauh lebih bagus dari sebelumnya. Karena ia cuma bisa bilang, "Rumah kontrakan saya di kawasan segitiga emas Jakarta." Apalah arti segitiga beremas kalau status rumahnya masih ngontrak.
Persoalannya, rumah baru itu belum bisa langsung dtempati. Ibarat orang menikah, baru ada calon pengantin, wali, dan saksi. Sah memang. Tapi, masih belum memadai. Air belum ada, kamar mandi butuh polesan, dapur yang belum jelas, dan halaman yang belum terpagar. Masih ada satu lagi yang tidak kalah penting: cat tembok yang masih jauh dari indah.
Umumnya perumahan rakyat, bentuk, ukuran, dan cat dasarnya sama. Kalau saja tidak ada nomor, mungkin para pemilik bisa salah masuk. Setidaknya, bingung mencari rumah sendiri. Kan nggak mungkin menandai rumah dengan tanda silang di tembok depan.
Perlu ciri khusus. Dan ciri itu sangat ditentukan oleh warna cat. Hal itulah yang kini dicermati Pak Jajang. Sebelum ia dan keluarga tinggal, semua kelengkapan mesti beres. Termasuk soal cat.
Satu per satu kelengkapan rumah mulai selesai. Dan semua itu sudah diserahkan seratus persen Pak Jajang ke tukang bangunan setempat. Biayanya agak lebih mahal, memang. Tapi, Pak Jajang yakin kalau itulah jalan yang paling bijak. "Yah, itung-itung biaya sosial!" ucap Pak Jajang suatu kali ke isterinya.
Tiga pekan sudah perbaikan berjalan. Semuanya bisa dibilang rampung. Kecuali soal yang satu: cat. Para tukang bangunan tidak berani mengambil inisiatif sendiri. Khawatir kalau Pak Jajang tidak setuju. Repot kan, rumah yang sudah dicat, dicat ulang.
Pak Jajang agak tertegun ketika soal itu ditanyakan. Warna apa, ya? Suara batin Pak Jajang seperti mencari jawab. Ia nyaris lupa kalau urusan warna bukan soal sederhana. Setidaknya buat Pak Jajang sendiri. "Warna apa, Pak?" tanya tukang bangunan mencari penegasan. Pak Jajang mengamati rumah-rumah di sekitarnya. Agak lama. "Oke. Cari warna yang belum ada di rumah sekitar sini!" ucap Pak Jajang ringan. Dan yang bertanya pun mengangguk pelan.
Tiga hari kemudian, Pak Jajang ngontrol lagi. Ia kaget. Dari sederet rumah yang tampak sama, cuma rumah Pak Jajang yang sangat beda. Pasalnya, rumah Pak Jajang dicat merah tua. "Ya Allah, kenapa jadi begini?" gelisah Pak Jajang sambil menghampiri para pekerja.
Setelah bicara-bicara, para tukang bangunan akhirnya mengerti. Warna itu memang sangat beda dibanding rumah-rumah di sekitar. Tapi, terlalu mencolok. Mana ada orang yang rumahnya dicat merah tua.
Dari pembicaraan itu, akhirnya ada kesepakatan. Rumah mesti dicat ulang. Warnanya memang mesti beda dengan rumah sekitar. Tapi, jangan terlalu mencolok. "Kalau bisa warnanya yang unik dan bukan merah apa pun!" tegas Pak Jajang menjelaskan. Lagi-lagi, para tukang bangunan pun mengangguk pelan. Karena mendesak untuk ditempati, Pak Jajang langsung membayar upah dan biaya cat baru. Itu ia maksudkan agar pengecatan bisa berlangsung cepat. Ahad besok, ia dan keluarga bisa langsung masuk.
Minggu pagi itu begitu cerah. Mobil bak terbuka berlalu pelan melewati perumahan itu. Tampak perabot rumah memenuhi bagasi belakang mobil. Setelah mobil berhenti, Pak Jajang pun tergesa-gesa keluar dari mobil. Wajahnya agak merah padam. Ia seperti menahan marah.
Isteri dan dua balita Pak Jajang pun ikut turun. Seperti terhipnotis, isteri Pak Jajang terkesima dengan rumah barunya. Pelan, ia berujar ke suaminya, "Bang, kok warnanya kuning begitu!" Dan dua anaknya pun ikut menimpali, "Idup golkal. Idup!"
(muhammadnuh@eramuslim.com)
__________________
|
|
|
September 12, 2009, 05:06
|
#352
|
|
Registered User
Join Date: Mar 2003
Posts: 14,082
WebPoint: 0 GaulPoint: 6129
|
Cat Rumah
Rumah sangat mencerminkan wajah penghuninya. Itu bisa tampak dari sisi kebersihan, sirkulasi, taman, hiasan dinding, hingga cat tembok. Yang terakhir agak unik, karena tidak semua orang suka semua warna.
Apalah arti sebuah warna. Ungkapan itu tidak cocok diungkapkan buat mereka yang begitu memaknai seluk-beluk warna. Karena tiap warna punya makna filosofi tersendiri.
Orang memaknai putih sebagai suci, merah yang gagah berani. Begitu pun dengan hitam dan abu-abu. Hitam adalah warna tegas dan juga berarti duka. Sedang abu-abu bisa bermakna dua: menunjukkan sesuatu yang canggih, dan sesuatu yang dinilai masih samar. Masih banyak makna lain untuk warna yang berbeda.
Karena urusan makna warna inilah, orang menjadi tidak sekadar suka atau tidak suka. Bukan juga soal cocok atau tidak, menarik atau menjemukan. Tapi karena lebih soal filosofi itu. Setidaknya, hal itulah yang ingin diresapi Pak Jajang.
Baru tahun ini bapak dua balita ini akhirnya bisa beli rumah. Setelah enam tahun bekerja, lima tahun menikah, dan empat tahun mengontrak; baru kali ini ia bisa merasa lega. Satu kewajiban seorang ayah dan suami bisa ia tunaikan: menyediakan rumah buat keluarga.
Rumah tipe dua sembilan yang berlokasi di pinggiran kota Depok itu, resmi jadi milik Pak Jajang. Walau mencicil, Pak Jajang sudah bisa bilang, "Rumah saya di kawasan Depok!" Itu jauh lebih bagus dari sebelumnya. Karena ia cuma bisa bilang, "Rumah kontrakan saya di kawasan segitiga emas Jakarta." Apalah arti segitiga beremas kalau status rumahnya masih ngontrak.
Persoalannya, rumah baru itu belum bisa langsung dtempati. Ibarat orang menikah, baru ada calon pengantin, wali, dan saksi. Sah memang. Tapi, masih belum memadai. Air belum ada, kamar mandi butuh polesan, dapur yang belum jelas, dan halaman yang belum terpagar. Masih ada satu lagi yang tidak kalah penting: cat tembok yang masih jauh dari indah.
Umumnya perumahan rakyat, bentuk, ukuran, dan cat dasarnya sama. Kalau saja tidak ada nomor, mungkin para pemilik bisa salah masuk. Setidaknya, bingung mencari rumah sendiri. Kan nggak mungkin menandai rumah dengan tanda silang di tembok depan.
Perlu ciri khusus. Dan ciri itu sangat ditentukan oleh warna cat. Hal itulah yang kini dicermati Pak Jajang. Sebelum ia dan keluarga tinggal, semua kelengkapan mesti beres. Termasuk soal cat.
Satu per satu kelengkapan rumah mulai selesai. Dan semua itu sudah diserahkan seratus persen Pak Jajang ke tukang bangunan setempat. Biayanya agak lebih mahal, memang. Tapi, Pak Jajang yakin kalau itulah jalan yang paling bijak. "Yah, itung-itung biaya sosial!" ucap Pak Jajang suatu kali ke isterinya.
Tiga pekan sudah perbaikan berjalan. Semuanya bisa dibilang rampung. Kecuali soal yang satu: cat. Para tukang bangunan tidak berani mengambil inisiatif sendiri. Khawatir kalau Pak Jajang tidak setuju. Repot kan, rumah yang sudah dicat, dicat ulang.
Pak Jajang agak tertegun ketika soal itu ditanyakan. Warna apa, ya? Suara batin Pak Jajang seperti mencari jawab. Ia nyaris lupa kalau urusan warna bukan soal sederhana. Setidaknya buat Pak Jajang sendiri. "Warna apa, Pak?" tanya tukang bangunan mencari penegasan. Pak Jajang mengamati rumah-rumah di sekitarnya. Agak lama. "Oke. Cari warna yang belum ada di rumah sekitar sini!" ucap Pak Jajang ringan. Dan yang bertanya pun mengangguk pelan.
Tiga hari kemudian, Pak Jajang ngontrol lagi. Ia kaget. Dari sederet rumah yang tampak sama, cuma rumah Pak Jajang yang sangat beda. Pasalnya, rumah Pak Jajang dicat merah tua. "Ya Allah, kenapa jadi begini?" gelisah Pak Jajang sambil menghampiri para pekerja.
Setelah bicara-bicara, para tukang bangunan akhirnya mengerti. Warna itu memang sangat beda dibanding rumah-rumah di sekitar. Tapi, terlalu mencolok. Mana ada orang yang rumahnya dicat merah tua.
Dari pembicaraan itu, akhirnya ada kesepakatan. Rumah mesti dicat ulang. Warnanya memang mesti beda dengan rumah sekitar. Tapi, jangan terlalu mencolok. "Kalau bisa warnanya yang unik dan bukan merah apa pun!" tegas Pak Jajang menjelaskan. Lagi-lagi, para tukang bangunan pun mengangguk pelan. Karena mendesak untuk ditempati, Pak Jajang langsung membayar upah dan biaya cat baru. Itu ia maksudkan agar pengecatan bisa berlangsung cepat. Ahad besok, ia dan keluarga bisa langsung masuk.
Minggu pagi itu begitu cerah. Mobil bak terbuka berlalu pelan melewati perumahan itu. Tampak perabot rumah memenuhi bagasi belakang mobil. Setelah mobil berhenti, Pak Jajang pun tergesa-gesa keluar dari mobil. Wajahnya agak merah padam. Ia seperti menahan marah.
Isteri dan dua balita Pak Jajang pun ikut turun. Seperti terhipnotis, isteri Pak Jajang terkesima dengan rumah barunya. Pelan, ia berujar ke suaminya, "Bang, kok warnanya kuning begitu!" Dan dua anaknya pun ikut menimpali, "Idup golkal. Idup!"
(muhammadnuh@eramuslim.com)
__________________
|
|
|
October 01, 2009, 05:32
|
#353
|
|
Registered User
Join Date: Mar 2003
Posts: 14,082
WebPoint: 0 GaulPoint: 6129
|
Tak Menyesal Jadi Petani
Sugandi (62) punya masa lalu yang indah. Sebelum tahun 1985, warga Kampung Muara Jaya, Kec. Caringin, Kab. Bogor, itu dikenal pembuat layang-layang hebat. Hasil kreasi tangannya diminati banyak orang. Bahkan, namanya terdengar hingga Singapura dan Belanda.
”Beberapa turis sering datang ke rumah untuk pesan layang-layang,” tandasnya.
Para pecinta layang-layang dari Jakarta, Bogor, Sukabumi, dan Kalimantan kerap menyambangi rumahnya untuk berguru. Tak perlu heran, dalam sebulan ia bisa mengantongi penghasilan 2 juta rupiah dari usahanya.
”Seminggu, saya sanggup membuat 2.000 layang-layang,” cetusnya.
Tak cuma itu, ia termasuk pemain layang-layang handal. Tiap kali digelar kompetisi layang-layang di pelataran Monas Jakarta, ia jawaranya.
”Saya dibayar sama bos-bos untuk ikut lomba. Mereka ingin tahu cara saya memainkannya. Kalau menang, saya dapat tambahan hadiah dari mereka,” kenangnya.
Yang mengejutkan, bapak 10 anak dan 13 cucu itu tiba-tiba meninggalkan dunia yang telah melambungkan namanya. Padahal, saat itu ia tengah mencapai puncak karirnya.
“Raos hasilna, pait ku padameulanana, goreng ku ninggalkeun ibadahna,” alasan Sugandi.
Maksudnya, usaha layang-layang memang mendatangkan hasil (uang) yang banyak, tetapi terasa pahit menjalankannya.
“Bayangkan, kalau buat satu layang-layang bisa melibatkan banyak orang. Saya bikin dan ngukur arkunya. Anak paling besar yang masang benangnya. Nanti istri yang motong kertasnya. Anak satunya lagi ngelem. Duh...Semuanya kebawa ribet. Udah gitu, saya sering lupa shalat,” paparnya terus terang.
Ada lagi alasan yang dilontarkannya. Bocah-bocah di kampungnya acapkali menginjak sawah milik warga saat mereka mengejar atau berebut layangan yang putus diudara. Alhasil, tanaman-tanaman di sawah mati lantaran terinjak kaki bocah-bocah itu.
“Ada seorang warga yang marah, ‘Itu gara-gara Sugandi bikin layangan, sawah-sawah di desa ini jadi rusak’. Saya lalu merenung, menangis dan merasa berdosa. Dari situ saya mikir, kalau sawah saya yang rusak, saya juga pasti marah.”
Kenyataannya, tidak mudah baginya untuk melepaskan diri dari bisnis yang mulanya berangkat dari hobi itu. Setidaknya, menurut pengakuannya, ia sempat melakukan shalat hajat dan puasa sunah tiga hari, demi memohon petunjuk Allah.
“Saya kemudian memutuskan untuk mengakhiri usaha yang sudah dirintis puluhan tahun, lalu beralih ke tani,” tegasnya mantap.
Sejak jadi petani dan ikut Kelompok Tani Maju Jaya, kondisi keuangan Sugandi sontak melorot. Penghasilannya cukup untuk membeli beras satu atau dua hari saja. Padahal, ia ingin sekali semua anaknya tamat SMA. Sementara pendapatan Siti Maimunah (45), istrinya, sebagai paraji dan tukang pijat tak dapat diprediksi.
Empat tahun lalu, kelompok tani yang menaungi Sugandi tergabung dalam Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) Maju Jaya. Mereka mendapat pengetahuan, pelatihan dan bantuan dari Lembaga Pertanian Sehat (LPS) Dompet Dhuafa. Antara lain soal pembasmian hama penyakit, pembuatan pestisida nabati, dan metode penanaman padi sehat yang tidak menimbulkan residu.
”Sore mendapat ilmu dari LPS, paginya langsung saya praktekan di sawah. Saya menyemprotkan pestisida nabati yang saya peroleh dari LPS. Pupuk kimia yang biasanya digunakan, saya tinggalkan dulu.”
Berkat bantuan LPS pula, ia bisa menyewa lahan hingga 2 hektar pertahun. Padahal, awal-awal menjadi petani, sawah sewa garapannya cuma sekira 7.000 meter.
“Hasil panen padi juga meningkat. Sebelum dibimbing LPS lahan 1 hektar menghasilkan 4 ton, setelah dibimbing bisa 5-6,5 ton. Sebelumnya musim panen cuma 2 kali setahun, sekarang bisa 3 kali. Pokokna mah untungnya banyak,” ujarnya.
Dari situlah penghasilan Sugandi merangkak naik. Ia bersyukur sudah mampu menghidupi keluarga dan menyekolahkan anak bungsunya yang masih SMP.
”Sejak dulu saya ini tidak pernah mencangkul di sawah. Tapi karena terus berlatih dan ulet, saya jadi pandai tani,” Sugandi membuka rahasia.
Kini, usia senja tak menjadikan semangat bertaninya mengendur. Ia malah sudah bisa mengajari (membimbing) petani-petani baru. Dari pagi hingga sore pun waktunya dihabiskan di sawah.
“Saya mau kerja keras begini karena masih punya tanggungan. Sejak tiga tahun lalu, istri saya menderita penyakit komplikasi. Pernah dirawat di rumah sakit, tapi nggak lama, karena nggak ada biaya. Saya kepingin membawanya ke Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa saja biar gratis. Tapi gimana yah, untuk ongkos jalannya saya nggak punya,” ucapnya polos. (LHZ/Dompet Dhuafa)
__________________
|
|
|
October 31, 2009, 08:00
|
#354
|
|
Registered User
Join Date: Mar 2003
Posts: 14,082
WebPoint: 0 GaulPoint: 6129
|
Putus antena
Keharmonisan rumah tangga bergantung sejauhmana komunikasi terjalin. Sayangnya, tidak semua obrolan suami isteri punya nilai produktif. Karena antena yang tidak nyambung, obrolan bisa bikin masalah tambah ruwet.
Tiap suami isteri selalu mendambakan hubungan yang harmonis. Di antaranya, terjalinnya komunikasi yang lancar, bebas, dan terbuka. Lancar, di mana dan kapan pun bisa saling bicara. Bebas, tidak ada tekanan untuk mengungkapkan uneg-uneg. Dan terbuka, tidak main rahasia-rahasiaan.
Masalahnya, tidak semua obrolan yang dilakukan suami isteri punya manfaat langsung. Terlebih ketika komunikasi berlangsung tanpa antena. Ada yang terus bicara soal A, dan lainnya bicara urusan B. Obrolan memang sering. Tapi, hasilnya tak bisa membumi. Setidaknya, soal itulah yang kini kerap dirasakan Bu Kiki.
Enam tahun sudah hari pernikahan Bu Kiki dan suaminya berlalu. Seribu satu suka dan duka silih berganti datang menemani. Mulai dari urusan rumah, perabot, anak-anak, dan penghasilan keluarga.
Semua, insya Allah, bernilai positif. Suka bisa menumbuhkan rasa syukur kepada Allah, bisa membuat laju gerak keluarga kian dinamis. Dan duka, mirip seperti guru; mengajarkan sebuah kesalahan dan melatih diri jadi kian dewasa. “Alhamdulillah!” ucap Bu Kiki mengenang semua itu.
Namun, ada satu hal yang belakangan ini membuat bingung ibu tiga anak ini. Pasalnya, obrolan antara Bu Kiki dan suaminya selalu tidak nyambung alias hang. Ia bicara ke arah selatan, sang suami ke utara. Bahkan, kadang Bu Kiki merasakan seperti bicara dengan radio yang sedang menyiarkan berita aktual.
Sering, Bu Kiki koreksi diri. Apa yang salah dari ia dan suaminya. Apa omongannya nggak jelas. Atau, Bu Kiki sendiri yang terlalu egois. Atau...? “Ah, nggak baik curiga sama suami,” bisik batin Bu Kiki lembut.
Tapi, ketidaknyambungan selalu terjadi. Kemarin saja, ketika Bu Kiki cerita soal bayaran sekolah anak-anak yang belum lunas, respon suami malah lain. “Negara memang sudah salah urus. Pengangguran kian banyak. Rakyat jadi makin susah!” ucap suami Bu Kiki sangat bersemangat. Setelah itu, ia pun berlalu seperti mencari sesuatu. Lha, soal bayaran sekolah? Bu Kiki tetap bingung.
Begitu pun ketika Bu Kiki ngasih tahu ke suami kalau atap dapur ada yang bocor. Suami mengangguk-angguk. Melihat itu, Bu Kiki pun mulai lega. Ia menduga, tak lama lagi suaminya akan cari tangga kemudian memperbaiki atap. Tapi, dugaan itu ternyata belum tepat.
Suami Bu Kiki yang sedang baca koran tetap di tempat. Tenang, suaminya berujar, “Sekarang, bencana makin banyak. Tsunami, gempa, cuaca yang kacau, banjir, angin ribut, longsor, demam berdarah! Ah, negara memang lagi SOS!” Lha, soal atap dapur yang bocor? Bu Kiki lagi-lagi dibikin bingung.
Masih ada beberapa kasus lain yang berujung sama. Mulai dari kompor rusak, si bungsu yang mogok makan, panci bocor, hingga selokan mampet. Semuanya selalu tidak nyambung. Lagi-lagi, negara dan pemerintah yang jadi sasaran. “Ada apa dengan suami saya?” Bu Kiki menatap suaminya sebentar, kemudian kembali sibuk dengan rutinitas dapur. Dalam sibuk itu, pikirannya mencoba memastikan kalau keanehan itu terjadi baru-baru ini. Setidaknya, selama satu bulan. Aneh. “Ada apa, ya?” batin Bu Kiki mulai ikut bingung.
Apa ada masalah dengan kerjaan di kantor. Bu Kiki mulai menebak. Tapi, kayaknya lancar-lancar saja. Pagi berangkat, sore pulang. Tak ada keluhan soal urusan kantor. Begitu pun dengan tetangga. Hubungannya terlihat baik. Bahkan, suami Bu Kiki tetap aktif di lingkungan rumah. Terutama di masjid. Lalu, apa yang salah?
“Apa suami Bu Kiki ada yang numpangi?” tanya seorang teman dekat Bu Kiki suatu kali. Bu Kiki sedikit bingung. Dan bingung itu pun sirna ketika dijelaskan soal ‘numpangi’.
Apa iya? Apa mungkin suami Bu Kiki ditumpangi makhluk halus. “Astaghfirullah!” suara Bu Kiki membayangi itu. Kayaknya nggak mungkin. Soalnya, Bu Kiki yakin sekali kalau suaminya nyaris tak peduli dengan urusan yang ‘halus-halus’. Dia sangat rasional. Apalagi, suami Bu Kiki selalu zikir selepas salat Subuh.
Apa mungkin stres. Bu Kiki ragu untuk memastikan. Soalnya, suaminya tergolong stabil. Emosinya mengalir tenang. Di samping itu, walau satu bulan ini anggaran belanja kurang, uang tambahan bisa diusahakan cepat. Masih ada uang tabungan di rekening suami Bu Kiki. Kecuali...?!
Ya, kecuali ada sesuatu yang bertolak belakang. Sesuatu yang sebelumnya ia yakini bagus, kemudian berubah drastis. Itu boleh jadi bisa sebagai pukulan telak. Dan setelah itu, suami Bu Kiki bingung dan akhirnya membingungkan.
Lalu, apa yang salah dengan pemerintah yang selalu jadi sasaran suami Bu Kiki. Bukankah selama ini keadaannya memang begitu. Gonta-ganti pemerintah, korupsi tak pernah nyerah. Selalu tumbuh dan berkembang.
Bu Kiki menatap anak-anaknya yang sudah terlelap. Begitu damai. Hujan membuat malam benar-benar nyaman. Dan suara dengkur pun mulai terdengar dari balik kamar Bu Kiki. Suami Bu Kiki ternyata sudah sangat pulas.
Pelan, Bu Kiki mematikan lampu kamar. Klik! Dan, lampu pun padam. Tapi, Bu Kiki spontan kaget. “Listrik mati! BBM naik. SBY! SBY! Ini gara-gara SBY!” suara suami Bu Kiki tiba-tiba.
Bu Kiki tertegun. Matanya terus menatap sang suami yang kembali pulas. Dari hati kecilnya Bu Kiki cuma bisa mengatakan, “Kasihan suamiku. Dulu begitu ikhlas jadi tim sukses. Sekarang benci sampai kebawa mimpi. Astaghfirullah...”
(muhammadnuh@eramuslim.com)
__________________
|
|
|
October 31, 2009, 08:00
|
#355
|
|
Registered User
Join Date: Mar 2003
Posts: 14,082
WebPoint: 0 GaulPoint: 6129
|
Putus antena
Keharmonisan rumah tangga bergantung sejauhmana komunikasi terjalin. Sayangnya, tidak semua obrolan suami isteri punya nilai produktif. Karena antena yang tidak nyambung, obrolan bisa bikin masalah tambah ruwet.
Tiap suami isteri selalu mendambakan hubungan yang harmonis. Di antaranya, terjalinnya komunikasi yang lancar, bebas, dan terbuka. Lancar, di mana dan kapan pun bisa saling bicara. Bebas, tidak ada tekanan untuk mengungkapkan uneg-uneg. Dan terbuka, tidak main rahasia-rahasiaan.
Masalahnya, tidak semua obrolan yang dilakukan suami isteri punya manfaat langsung. Terlebih ketika komunikasi berlangsung tanpa antena. Ada yang terus bicara soal A, dan lainnya bicara urusan B. Obrolan memang sering. Tapi, hasilnya tak bisa membumi. Setidaknya, soal itulah yang kini kerap dirasakan Bu Kiki.
Enam tahun sudah hari pernikahan Bu Kiki dan suaminya berlalu. Seribu satu suka dan duka silih berganti datang menemani. Mulai dari urusan rumah, perabot, anak-anak, dan penghasilan keluarga.
Semua, insya Allah, bernilai positif. Suka bisa menumbuhkan rasa syukur kepada Allah, bisa membuat laju gerak keluarga kian dinamis. Dan duka, mirip seperti guru; mengajarkan sebuah kesalahan dan melatih diri jadi kian dewasa. “Alhamdulillah!” ucap Bu Kiki mengenang semua itu.
Namun, ada satu hal yang belakangan ini membuat bingung ibu tiga anak ini. Pasalnya, obrolan antara Bu Kiki dan suaminya selalu tidak nyambung alias hang. Ia bicara ke arah selatan, sang suami ke utara. Bahkan, kadang Bu Kiki merasakan seperti bicara dengan radio yang sedang menyiarkan berita aktual.
Sering, Bu Kiki koreksi diri. Apa yang salah dari ia dan suaminya. Apa omongannya nggak jelas. Atau, Bu Kiki sendiri yang terlalu egois. Atau...? “Ah, nggak baik curiga sama suami,” bisik batin Bu Kiki lembut.
Tapi, ketidaknyambungan selalu terjadi. Kemarin saja, ketika Bu Kiki cerita soal bayaran sekolah anak-anak yang belum lunas, respon suami malah lain. “Negara memang sudah salah urus. Pengangguran kian banyak. Rakyat jadi makin susah!” ucap suami Bu Kiki sangat bersemangat. Setelah itu, ia pun berlalu seperti mencari sesuatu. Lha, soal bayaran sekolah? Bu Kiki tetap bingung.
Begitu pun ketika Bu Kiki ngasih tahu ke suami kalau atap dapur ada yang bocor. Suami mengangguk-angguk. Melihat itu, Bu Kiki pun mulai lega. Ia menduga, tak lama lagi suaminya akan cari tangga kemudian memperbaiki atap. Tapi, dugaan itu ternyata belum tepat.
Suami Bu Kiki yang sedang baca koran tetap di tempat. Tenang, suaminya berujar, “Sekarang, bencana makin banyak. Tsunami, gempa, cuaca yang kacau, banjir, angin ribut, longsor, demam berdarah! Ah, negara memang lagi SOS!” Lha, soal atap dapur yang bocor? Bu Kiki lagi-lagi dibikin bingung.
Masih ada beberapa kasus lain yang berujung sama. Mulai dari kompor rusak, si bungsu yang mogok makan, panci bocor, hingga selokan mampet. Semuanya selalu tidak nyambung. Lagi-lagi, negara dan pemerintah yang jadi sasaran. “Ada apa dengan suami saya?” Bu Kiki menatap suaminya sebentar, kemudian kembali sibuk dengan rutinitas dapur. Dalam sibuk itu, pikirannya mencoba memastikan kalau keanehan itu terjadi baru-baru ini. Setidaknya, selama satu bulan. Aneh. “Ada apa, ya?” batin Bu Kiki mulai ikut bingung.
Apa ada masalah dengan kerjaan di kantor. Bu Kiki mulai menebak. Tapi, kayaknya lancar-lancar saja. Pagi berangkat, sore pulang. Tak ada keluhan soal urusan kantor. Begitu pun dengan tetangga. Hubungannya terlihat baik. Bahkan, suami Bu Kiki tetap aktif di lingkungan rumah. Terutama di masjid. Lalu, apa yang salah?
“Apa suami Bu Kiki ada yang numpangi?” tanya seorang teman dekat Bu Kiki suatu kali. Bu Kiki sedikit bingung. Dan bingung itu pun sirna ketika dijelaskan soal ‘numpangi’.
Apa iya? Apa mungkin suami Bu Kiki ditumpangi makhluk halus. “Astaghfirullah!” suara Bu Kiki membayangi itu. Kayaknya nggak mungkin. Soalnya, Bu Kiki yakin sekali kalau suaminya nyaris tak peduli dengan urusan yang ‘halus-halus’. Dia sangat rasional. Apalagi, suami Bu Kiki selalu zikir selepas salat Subuh.
Apa mungkin stres. Bu Kiki ragu untuk memastikan. Soalnya, suaminya tergolong stabil. Emosinya mengalir tenang. Di samping itu, walau satu bulan ini anggaran belanja kurang, uang tambahan bisa diusahakan cepat. Masih ada uang tabungan di rekening suami Bu Kiki. Kecuali...?!
Ya, kecuali ada sesuatu yang bertolak belakang. Sesuatu yang sebelumnya ia yakini bagus, kemudian berubah drastis. Itu boleh jadi bisa sebagai pukulan telak. Dan setelah itu, suami Bu Kiki bingung dan akhirnya membingungkan.
Lalu, apa yang salah dengan pemerintah yang selalu jadi sasaran suami Bu Kiki. Bukankah selama ini keadaannya memang begitu. Gonta-ganti pemerintah, korupsi tak pernah nyerah. Selalu tumbuh dan berkembang.
Bu Kiki menatap anak-anaknya yang sudah terlelap. Begitu damai. Hujan membuat malam benar-benar nyaman. Dan suara dengkur pun mulai terdengar dari balik kamar Bu Kiki. Suami Bu Kiki ternyata sudah sangat pulas.
Pelan, Bu Kiki mematikan lampu kamar. Klik! Dan, lampu pun padam. Tapi, Bu Kiki spontan kaget. “Listrik mati! BBM naik. SBY! SBY! Ini gara-gara SBY!” suara suami Bu Kiki tiba-tiba.
Bu Kiki tertegun. Matanya terus menatap sang suami yang kembali pulas. Dari hati kecilnya Bu Kiki cuma bisa mengatakan, “Kasihan suamiku. Dulu begitu ikhlas jadi tim sukses. Sekarang benci sampai kebawa mimpi. Astaghfirullah...”
(muhammadnuh@eramuslim.com)
__________________
|
|
|
November 04, 2009, 13:13
|
#356
|
|
Registered User
Join Date: Mar 2003
Posts: 14,082
WebPoint: 0 GaulPoint: 6129
|
Melepas Ajal
Ajal tak ubahnya seperti tagihan utang. Tak diharapkan datang, tapi pasti menyambang. Siapa pun akan dapat giliran kunjungan ajal. Tak peduli usia, apalagi status sosial. Kadang, tak pernah terbayang, kalau ajal siap menjemput orang yang tersayang.
Tak semua kita siap menghadapi kematian orang yang kita sayang. Apakah ibu, ayah, suami, isteri, anak, dan sanak keluarga lain. Dalam ketidaksiapan itu aneka reaksi bisa kita ungkapkan secara tidak sadar. Mulai menangis, marah, bahkan pingsan. Dan itulah yang kini dihadapi Bu Neneng.
Sebulan sudah putera kedua Bu Neneng meninggal dunia. Si bungsu usia tiga tahun ini tak lagi berdaya menghadapi penyakit tipes. Padahal, anak itu menyimpan harapan besar buat Bu Neneng: cakep, pintar, lincah, dan penurut. Masih banyak sifat bagus lain yang hanya dipahami Bu Neneng sendiri.
Masih terbayang bagaimana anak itu shalat. Rajin, tapi lucu. Ia kerap memakai kopiah ayahnya yang tentu saja kebesaran. Satu rukun shalat yang paling si bungsu benci: ruku. Pasalnya, di saat rukulah kopiahnya jatuh. “Yah, copot!” ucap si bungsu dalam kenangan Bu Neneng.
Senyum si bungsu pun belum hilang dalam bayang-bayang Bu Neneng. Manis, menawan. Rasa capek selepas repot-repot di dapur bisa lenyap seketika kalau si bungsu senyum. “Capek ya, Ma?” ucapnya sambil melepas senyum. Bibirnya merekah indah. Tatapan matanya begitu tajam menafsirkan sebuah perhatian yang teramat dalam. Seolah, ia ingin memberikan hadiah sebagai ganti kepayahan Bu Neneng. Tapi, hanya senyum yang bisa dipersembahkan.
“Ah, anakku…,” suara Bu Neneng tertahan. Ibu yang juga pegawai di sebuah perusahaan swasta ini seperti terseret dalam bayang-bayang gugatan si bungsu. Kalau sudah begitu, ia tenggelam dalam perasaan bersalah. Ia merasa, kesibukannya di kantor telah memecah dua dunia miliknya. Dunia ibu dan wanita yang ingin mengembangkan potensi dan karir.
Namun, ketajaman gugatan itu acapkali ditumpulkan suami Bu Neneng. “Kamu bukan tipe ibu yang menelantarkan anak. Dan lagi, jam kerja kamu kan cuma enam jam sehari,” ucap sang suami meyakinkan. Saat itu juga, semangat Bu Neneng kembali segar. Ucapan suaminya benar-benar meluruskan kebengkokan rasa hatinya yang sedang tak karuan.
Bu Neneng juga pernah menyalahkan pembantunya. “Gimana sih, Mbok. Anak sakit kok nggak cepet dibawa ke dokter! Dasar dusun!” gertak Bu Neneng suatu hari. Marahnya tak lagi terkendali. Ia lupa kalau marahnya sedang tertuju ke seorang wanita tua yang sebaya dengan ibunya. Santunnya tiba-tiba menguap entah kemana. Dan, air mata Mbok Inahlah yang akhirnya meredam emosi Bu Neneng. Isak tangis wanita yang pernah merawatnya saat kecil kembali meluruskan nalar Bu Neneng.
Sayangnya, nalar itu datang terlambat. Mbok Inah sudah terlanjur sakit. Hatinya seperti terkoyak dengan ucapan majikan mudanya. Mbok Inah sebenarnya ingin protes. Bukan cuma Bu Neneng yang kehilangan, ia pun seperti kehilangan permata yang amat berharga. Itu saja sudah bikin hati terpukul. Apalagi kalau disalah-salahkan dengan sebutan ‘dusun’! Sejak itulah, Bu Neneng tak lagi bisa menikmati layanan Mbok Inah. Ibu tua itu telah pulang kampung.
Siapa lagi yang bisa disalahkan? Perasaan itulah yang kerap menusuk-nusuk hati Bu Neneng. Alam bawah sadarnya masih belum bisa menerima kenyataan yang terjadi. Kenapa harus si bungsu. Kenapa bukan orang lain. Kenapa Allah tidak adil!
Buat yang satu ini, kesadaran Bu Neneng benar-benar dalam tingkat yang paling rendah. Dan saat itulah konflik batinnya sudah merenggut pemahamannya tentang takdir. Ia kecewa dengan putusan Allah. Padahal, ia paham sekali kalau Allah Maha Bijaksana. Ia tahu betul kalau sebuah kejadian buruk punya dua sisi: ujian dan hikmah.
Tapi, di situlah masalahnya. Kekecewaan Bu Neneng telah mengubur kesadarannya. Ia tak lagi bisa melihat dua sisi itu. Ujian itu terasa berat buat takaran rasa Bu Neneng. Dan, pandangannya tentang hikmah di balik itu seperti tertutup asap buruk sangka pada takdir. Kenapa harus si bungsu yang baru menikmati hidup tiga tahun? Kenapa bukan dirinya. Ia lebih ridha kalau si bungsulah yang merasakan apa yang saat ini ia rasakan.
Mungkin, saat inilah Bu Neneng merasakan sesuatu yang nyata dari takdir. Bahwa takdir, apalagi yang bersentuhan dengan ajal akan bersinggungan dengan banyak hal. Soal pemahaman, kematangan, kesiapan, kesadaran, dan kesabaran. Betapa sering, ia mengucapkan ‘terimalah apa adanya’ kepada teman yang tertimpa musibah.Tapi, semua itu hanya sebatas pemahaman. Belum yang lain.
Kesadaran Bu Neneng mulai pulih ketika ia mengamati sekitar ruangan rumahnya. Sepi. Tak ada lagi cekikikan tawa renyah si bungsu. Tak ada lagi ucapan ‘Capek, ya Ma?’. Tak ada lagi hiburan kopiah jatuh. Tak ada lagi senyum menawan yang bikin hati nyaman. Itulah kenyataan. Kehidupan itu nyata, kematian pun ada. Kalau berani menerima kehidupan, kenapa takut menemui kematian. “Bungsuku memang telah tiada,” bisik hatinya yang paling dalam. Pelan tapi pasti, kesadarannya mulai bangkit.
Kesadaran Bu Neneng mengingatkannya pada sosok seorang muslimah di masa Rasulullah, Ummu Sulaim. Seorang ibu yang justru menyembunyikan berita kematian putera tunggalnya dari sang ayah yang berpergian jauh. Ia khawatir kalau suaminya kaget. Dengan kesabaran, kesadaran, dan kedewasaan, berita itu tertutur manis dari mulutnya. “Sang Pemilik telah mengambil milik yang dititipkanNya,” itulah ucapan Ummu Sulaim ke suaminya.
Betapa ia sudah sangat hafal tentang kisah itu, tapi baru kali ini bisa melahirkan kekaguman. Tidak semua pengetahuan membuahkan kesadaran. Dan kali ini, ia benar-benar merasa kerdil jika dibandingkan dengan kisah yang sering ia ucapkan itu. Bagaimana mungkin seorang ibu bisa menyiasati berita kematian putera tunggalnya.
“Astaghfirullah!” Bu Neneng mulai menyesali diri. Entah berapa korban yang telah jadi sasaran kepicikannya. Entah bagaimana perasaan Mbok Inah yang kini di kampung. Dan satu lagi, ia telah menggugat kebijaksanaan Yang Maha Bijak, Allah swt.
Kehidupan dan kematian memang rahasia Allah. Tak seorang pun yang tahu, apa yang dilahirkan kehidupan. Dan tak satu pun mengira, siapa yang dijemput kematian. Ajal memang tak ubahnya seperti tagihan utang. Cuma bedanya, ajal datang tak bilang-bilang.
(muhammadnuh@eramuslim.com)
__________________
|
|
|
November 04, 2009, 13:13
|
#357
|
|
Registered User
Join Date: Mar 2003
Posts: 14,082
WebPoint: 0 GaulPoint: 6129
|
Melepas Ajal
Ajal tak ubahnya seperti tagihan utang. Tak diharapkan datang, tapi pasti menyambang. Siapa pun akan dapat giliran kunjungan ajal. Tak peduli usia, apalagi status sosial. Kadang, tak pernah terbayang, kalau ajal siap menjemput orang yang tersayang.
Tak semua kita siap menghadapi kematian orang yang kita sayang. Apakah ibu, ayah, suami, isteri, anak, dan sanak keluarga lain. Dalam ketidaksiapan itu aneka reaksi bisa kita ungkapkan secara tidak sadar. Mulai menangis, marah, bahkan pingsan. Dan itulah yang kini dihadapi Bu Neneng.
Sebulan sudah putera kedua Bu Neneng meninggal dunia. Si bungsu usia tiga tahun ini tak lagi berdaya menghadapi penyakit tipes. Padahal, anak itu menyimpan harapan besar buat Bu Neneng: cakep, pintar, lincah, dan penurut. Masih banyak sifat bagus lain yang hanya dipahami Bu Neneng sendiri.
Masih terbayang bagaimana anak itu shalat. Rajin, tapi lucu. Ia kerap memakai kopiah ayahnya yang tentu saja kebesaran. Satu rukun shalat yang paling si bungsu benci: ruku. Pasalnya, di saat rukulah kopiahnya jatuh. “Yah, copot!” ucap si bungsu dalam kenangan Bu Neneng.
Senyum si bungsu pun belum hilang dalam bayang-bayang Bu Neneng. Manis, menawan. Rasa capek selepas repot-repot di dapur bisa lenyap seketika kalau si bungsu senyum. “Capek ya, Ma?” ucapnya sambil melepas senyum. Bibirnya merekah indah. Tatapan matanya begitu tajam menafsirkan sebuah perhatian yang teramat dalam. Seolah, ia ingin memberikan hadiah sebagai ganti kepayahan Bu Neneng. Tapi, hanya senyum yang bisa dipersembahkan.
“Ah, anakku…,” suara Bu Neneng tertahan. Ibu yang juga pegawai di sebuah perusahaan swasta ini seperti terseret dalam bayang-bayang gugatan si bungsu. Kalau sudah begitu, ia tenggelam dalam perasaan bersalah. Ia merasa, kesibukannya di kantor telah memecah dua dunia miliknya. Dunia ibu dan wanita yang ingin mengembangkan potensi dan karir.
Namun, ketajaman gugatan itu acapkali ditumpulkan suami Bu Neneng. “Kamu bukan tipe ibu yang menelantarkan anak. Dan lagi, jam kerja kamu kan cuma enam jam sehari,” ucap sang suami meyakinkan. Saat itu juga, semangat Bu Neneng kembali segar. Ucapan suaminya benar-benar meluruskan kebengkokan rasa hatinya yang sedang tak karuan.
Bu Neneng juga pernah menyalahkan pembantunya. “Gimana sih, Mbok. Anak sakit kok nggak cepet dibawa ke dokter! Dasar dusun!” gertak Bu Neneng suatu hari. Marahnya tak lagi terkendali. Ia lupa kalau marahnya sedang tertuju ke seorang wanita tua yang sebaya dengan ibunya. Santunnya tiba-tiba menguap entah kemana. Dan, air mata Mbok Inahlah yang akhirnya meredam emosi Bu Neneng. Isak tangis wanita yang pernah merawatnya saat kecil kembali meluruskan nalar Bu Neneng.
Sayangnya, nalar itu datang terlambat. Mbok Inah sudah terlanjur sakit. Hatinya seperti terkoyak dengan ucapan majikan mudanya. Mbok Inah sebenarnya ingin protes. Bukan cuma Bu Neneng yang kehilangan, ia pun seperti kehilangan permata yang amat berharga. Itu saja sudah bikin hati terpukul. Apalagi kalau disalah-salahkan dengan sebutan ‘dusun’! Sejak itulah, Bu Neneng tak lagi bisa menikmati layanan Mbok Inah. Ibu tua itu telah pulang kampung.
Siapa lagi yang bisa disalahkan? Perasaan itulah yang kerap menusuk-nusuk hati Bu Neneng. Alam bawah sadarnya masih belum bisa menerima kenyataan yang terjadi. Kenapa harus si bungsu. Kenapa bukan orang lain. Kenapa Allah tidak adil!
Buat yang satu ini, kesadaran Bu Neneng benar-benar dalam tingkat yang paling rendah. Dan saat itulah konflik batinnya sudah merenggut pemahamannya tentang takdir. Ia kecewa dengan putusan Allah. Padahal, ia paham sekali kalau Allah Maha Bijaksana. Ia tahu betul kalau sebuah kejadian buruk punya dua sisi: ujian dan hikmah.
Tapi, di situlah masalahnya. Kekecewaan Bu Neneng telah mengubur kesadarannya. Ia tak lagi bisa melihat dua sisi itu. Ujian itu terasa berat buat takaran rasa Bu Neneng. Dan, pandangannya tentang hikmah di balik itu seperti tertutup asap buruk sangka pada takdir. Kenapa harus si bungsu yang baru menikmati hidup tiga tahun? Kenapa bukan dirinya. Ia lebih ridha kalau si bungsulah yang merasakan apa yang saat ini ia rasakan.
Mungkin, saat inilah Bu Neneng merasakan sesuatu yang nyata dari takdir. Bahwa takdir, apalagi yang bersentuhan dengan ajal akan bersinggungan dengan banyak hal. Soal pemahaman, kematangan, kesiapan, kesadaran, dan kesabaran. Betapa sering, ia mengucapkan ‘terimalah apa adanya’ kepada teman yang tertimpa musibah.Tapi, semua itu hanya sebatas pemahaman. Belum yang lain.
Kesadaran Bu Neneng mulai pulih ketika ia mengamati sekitar ruangan rumahnya. Sepi. Tak ada lagi cekikikan tawa renyah si bungsu. Tak ada lagi ucapan ‘Capek, ya Ma?’. Tak ada lagi hiburan kopiah jatuh. Tak ada lagi senyum menawan yang bikin hati nyaman. Itulah kenyataan. Kehidupan itu nyata, kematian pun ada. Kalau berani menerima kehidupan, kenapa takut menemui kematian. “Bungsuku memang telah tiada,” bisik hatinya yang paling dalam. Pelan tapi pasti, kesadarannya mulai bangkit.
Kesadaran Bu Neneng mengingatkannya pada sosok seorang muslimah di masa Rasulullah, Ummu Sulaim. Seorang ibu yang justru menyembunyikan berita kematian putera tunggalnya dari sang ayah yang berpergian jauh. Ia khawatir kalau suaminya kaget. Dengan kesabaran, kesadaran, dan kedewasaan, berita itu tertutur manis dari mulutnya. “Sang Pemilik telah mengambil milik yang dititipkanNya,” itulah ucapan Ummu Sulaim ke suaminya.
Betapa ia sudah sangat hafal tentang kisah itu, tapi baru kali ini bisa melahirkan kekaguman. Tidak semua pengetahuan membuahkan kesadaran. Dan kali ini, ia benar-benar merasa kerdil jika dibandingkan dengan kisah yang sering ia ucapkan itu. Bagaimana mungkin seorang ibu bisa menyiasati berita kematian putera tunggalnya.
“Astaghfirullah!” Bu Neneng mulai menyesali diri. Entah berapa korban yang telah jadi sasaran kepicikannya. Entah bagaimana perasaan Mbok Inah yang kini di kampung. Dan satu lagi, ia telah menggugat kebijaksanaan Yang Maha Bijak, Allah swt.
Kehidupan dan kematian memang rahasia Allah. Tak seorang pun yang tahu, apa yang dilahirkan kehidupan. Dan tak satu pun mengira, siapa yang dijemput kematian. Ajal memang tak ubahnya seperti tagihan utang. Cuma bedanya, ajal datang tak bilang-bilang.
(muhammadnuh@eramuslim.com)
__________________
|
|
|
November 29, 2009, 23:52
|
#358
|
|
Registered User
Join Date: Mar 2003
Posts: 14,082
WebPoint: 0 GaulPoint: 6129
|
Depan
Dalam perjalanan di sebuah angkutan umum, seorang remaja tiba-tiba minta izin ke sopir untuk pindah tempat duduk. Remaja laki-laki belasan tahun ini merasa tidak keberatan berada jauh dari dua kakaknya yang duduk di bagian belakang. Ia begitu antusias di tempat duduk barunya, persis di samping sopir.
“Kenapa kamu pindah ke depan, Nak?” sapa seorang bapak yang juga menumpang angkot itu.
Belum lagi si remaja itu menjawab, sang bapak kembali berujar. “Bukankah di belakang atau tengah lebih nyaman daripada di depan? Kamu bisa duduk santai tanpa perduli kendaraan melaju seperti apa. Di sana, kamu lebih mudah tertidur!”
Sambil senyum, si remaja ini menoleh ke arah sang bapak. Ia mencoba ingin menjelaskan sesuatu.
“Saya ingin duduk di depan, karena ingin mendapatkan sesuatu yang tidak diperoleh oleh mereka yang di belakang,” ucap si remaja tampak tenang.
Tapi, yang dijelaskan menampakkan wajah penuh bingung. “Maksud anak ini apa, ya?” tanya si bapak lagi.
“Pak…,” lanjut si remaja. “Dengan duduk di depan, saya bisa menyiapkan diri dengan perjalanan yang akan saya tempuh. Kalau jalannya lurus, saya bisa mengira-ngira berapa lama perjalanan akan berakhir. Dan jika berkelok, saya bisa lebih dulu menyiapkan diri untuk keadaan di luar dugaan. Semua itu, tidak saya dapatkan jika saya duduk di tengah, apalagi belakang,” jelas sang remaja.
**
Jika mengibaratkan hidup yang kita lakoni ini dengan sebuah perjalanan, kemampuan dan kemauan untuk melihat ke depan merupakan nikmat tersendiri yang tidak diperoleh oleh mereka yang berpuas diri hanya melihat kanan-kiri, belakang, apalagi memejamkan mata untuk lari dari kenyataan yang ada.
Selain lebih bisa memaknai perjalanan hidup dengan segala suka citanya, kemampuan melihat ke depan perjalanan akan menyiapkan diri untuk siaga dengan suasana ‘kelokan’ jalan hidup yang belum diketahui.
Persis seperti yang diucapkan sang remaja, “Dengan melihat ke depan, saya bisa mendapatkan sesuatu yang tidak diperoleh oleh mereka yang pandangannya hanya di kanan-kiri, atau belakang.” (muhammadnuh@eramuslim.com)
__________________
|
|
|
December 02, 2009, 13:50
|
#359
|
|
Registered User
Join Date: Mar 2003
Posts: 14,082
WebPoint: 0 GaulPoint: 6129
|
Cinta
Seorang anak laki enam tahunan tampak berlari menjauh dari rumahnya. Beberapa saat sebelumnya, suara kaca pecah sempat menghentikan kesibukan orang-orang di sekitar rumah. Ada penjual jamu, tukang sayur yang lewat, beberapa orang yang berlalu lalang. Mereka menoleh sebentar, dan berujar pelan, "Ah, anak itu lagi!"
Perilaku nakal anak itu ternyata bukan pemandangan baru buat orang-orang yang kerap berada di sekitar rumah. Hampir tiap hari, bahkan bisa tiga kali sehari, anak itu melakukan kegaduhan. Dan kegaduhan itu selalu terjadi di sekitar rumahnya. Mulai suara gelas yang pecah, dobrakan pintu, dan yang baru saja terjadi, pecahnya kaca jendela.
Seperti biasanya, seorang ibu keluar sesaat setelah anak nakal itu berlari menjauh dari rumah. Sambil memanggil-manggil sang anak, ibu itu tidak memperlihatkan rona marah yang membara. Tidak juga berteriak-teriak mengancam, umumnya seorang yang memendam kesal. Ia hanya memanggil-manggil nama anaknya dan dua kata setelahnya, "Sini sayang!"
Kali ini, sang anak tidak seperti biasanya yang terus berlari menjauh. Ia berhenti. Ia menoleh ke arah suara yang memanggil-manggil namanya. "Ibu," desisnya pelan. Wajah kesalnya tiba-tiba pudar berganti penyesalan. Dan ia pun membiarkan dirinya dihampiri seseorang yang ia sebut ibu.
"Nak!" suara sang ibu sambil tangan kanannya meraih rambut sang anak. Tangan itu pun membelai lembut rambut sang anak.
"Bu, ibu nggak marah?" suara sang anak sambil wajahnya mendongak menatap wajah sang ibu. "Anakku, kenapa ibu harus marah?" jawab sang ibu singkat.
Sang anak pun tiba-tiba mendekap ibunya yang agak membungkuk mensejajarkan diri dengan anaknya. "Bu," suara sang anak tiba-tiba. Sambil terus membelai rambut sang anak, wajah sang ibu makin memperlihatkan senyumnya yang sejuk di mata anaknya. "Ada apa, sayang?" ucap sang ibu lembut.
"Kenapa ibu bisa seperti ini? Padahal aku sudah begitu nakal?" tanya si anak yang mulai mengendurkan dekapannya.
"Anakku," ujar si ibu. "Inilah cinta!" lanjut suara sang ibu sembari tetap menampakkan senyum lembut kepada anaknya.
***
Begitu banyak tingkah nakal anak-anak manusia di bumi ini. Begitu banyak kerusakan yang mereka tampakkan sehingga kehidupan menjadi gaduh. Orang-orang yang kebetulan berada di sekitar kegaduhan pun ikut merasakan gangguan-gangguan itu.
Tapi, bersamaan dengan tingkah nakal itu, selalu muncul suara-suara lembut yang memanggil-manggil anak manusia untuk kembali. Seolah, suara panggilan itu mengatakan, "Kembali, sayang!"
Padahal, anak-anak manusia yang nakal itu sedikit pun tidak sebanding dengan kegagahan gunung yang menjulang, kedahsyatan halilintar yang siap menyambar, kekokohan susunan bebatuan bumi yang begitu mudah menghimpit makhluk yang hidup di atasnya. Belum lagi dengan kedahsyatan terjangan ombak samudra yang bisa berubah drastis menjadi begitu menyeramkan.
Tapi kenapa, justru suara lembut yang selalu memanggil-manggil dari balik menjauhnya anak-anak manusia yang nakal.
Cinta. Itulah mungkin sebuah jawaban yang pas. Seperti yang diucapkan sang ibu kepada anaknya, "Cinta anakku!" Atau dalam bahasa yang lain, seperti yang diucapkan oleh Yang Maha Sayang, "Warahmati wasi'at kulla sya'i, cinta-Ku meliputi segala sesuatu!" (muhammadnuh@eramuslim.com)
__________________
|
|
|
December 11, 2009, 05:45
|
#360
|
|
Registered User
Join Date: Mar 2003
Posts: 14,082
WebPoint: 0 GaulPoint: 6129
|
Menanti Bayi
Menanti kelahiran bayi kadang seperti menunggu hujan. Harap dan cemas menyatu. Berkali-kali datang awan mendung, tapi yang dinanti tak kunjung datang. Bedanya dengan hujan, kelahiran kadang datang tanpa menunggu mendung.
Tak ada peristiwa yang mampu menyentak urat bahagia pasangan suami isteri selain datangnya tanda kelahiran. Terlebih buat kelahiran bayi pertama. Tanda-tanda menjadi begitu berarti. Bahkan sakral.
Mulai dari telat haid, suami isteri seperti dibuai pesona bahagia. Angan-angan melayang jauh. Cita-cita pun tergantung di banyak titik. Seperti apa bahagianya bertemu dengan buah hati tercinta.
Begitu pun ketika tes kehamilan menunjuk tanda positif. Kebahagiaan makin menjadi. Walau mesti menempuh jalan ngidam yang lumayan susah, calon ibu tetap menebar senyum bahagia. Walau harus kerja rangkap sebagai pengurus rumah, calon ayah akan tetap bersemangat.
Hari berganti minggu, minggu pun melewati bulan. Dan, kehamilan tinggal menunggu hari. Anehnya, justru di penantian yang tak lama lagi itulah, harap terkalahkan cemas. Bahagia berganti gelisah. Setidaknya, suasana rasa itulah yang kini dialami Pak Gono.
Enam tahun sudah bahtera rumah tangga Pak Gono melaju. Sungguh waktu yang tergolong lama buat penantian sang buah hati. Tapi kini, penantian tinggal menunggu saat-saat terakhir. Beberapa hari lagi, isterinya akan melahirkan anak pertama. Setidaknya, perkiraan itulah yang terucap dari seorang bidan. “Tinggal nunggu hari, Pak. Sebaiknya dijaga dua puluh empat jam!” ucap sang bidan beberapa hari lalu.
Kini, Pak Gono benar-benar sibuk. Bukan sibuk mengurus pekerjaan. Bukan pula mengurus rumah. Sibuknya sama sekali tak terlihat. Hati dan pikirannyalah yang saat ini terus bekerja menampung harap dan cemas. Bagaimana proses melahirkan isterinya. Normalkah? Seperti apa bayinya kelak. Sehatkah, atau? Silih berganti, keduanya menguras konsentrasi Pak Gono.
Terlebih ketika tanda-tanda kelahiran timbul tenggelam. Pernah di suatu malam, isterinya mengeluh sakit perut. Jam menunjuk angka dua. Rumah bidan lumayan jauh. Kendaraan yang ada cuma motor. Waduh, mau bagaimana. Terpaksa, isterinya dibonceng dengan motor. Harapan Pak Gono cuma satu: jangan lahir di jalan!
Dan doa Pak Gono pun terkabul. Isterinya tak melahirkan di atas motor. Juga tidak di rumah bidan. Karena Bu Bidan meminta Pak Gono dan isteri pulang. “Wah, masih lama. Cuma kontraksi!” ucap sang bidan sambil menahan kantuk. Awalnya, Pak Gono menolak. Ia khawatir kejadian itu terulang ketika tiba di rumah. Tapi karena penjelasan dari sang bidan, Pak Gono mulai paham.
Dari penjelasan itulah, Pak Gono ngerti kalau tanda kelahiran itu tidak satu: mulas atau sakit perut. Tapi, ada tanda-tanda lain. Ada mulas yang semakin sering, keluar cairan, bahkan tidak tertutup kemungkinan darah. Kalau itu yang terjadi, kelahiran cuma berputar pada hitungan jam.
Sebenarnya, kalau bisa memilih, Pak Gono lebih nyaman tinggal bersama isteri di rumah bidan. Tapi karena ruang inap yang sangat terbatas, Pak Gono mesti ngalah dengan pasien lain yang siap mbrojol. Kalau di rumah sakit repot. Selain biayanya lebih mahal, lokasinya juga sangat jauh. Yang bisa dilakukan Pak Gono cuma satu: siap siaga. Walaupun itu harus ditebus dengan cuti panjang selama hampir satu bulan. Bahkan, kalau perlu berhenti kerja.
Semua itu dilakukan Pak Gono demi isteri dan calon buah hati. Sekian tahun tenggelam dalam penantian, kini bagaimana mungkin anugerah itu akan disia-siakan. Cita-cita memang harus ditebus dengan pengorbanan. Syukurnya, tahun-tahun penantian itu memberikan peluang Pak Gono dan isteri bisa menabung lebih banyak. Ia siap kalau harus ke rumah sakit.
Kejadian malam lalu terulang lagi. Isteri Pak Gono mulas. Kali ini lebih mulas dari sebelumnya. Jam menunjuk angka tiga. “Kamu benar-benar mulas, Dik?” tanya Pak Gono. Isterinya cuma mengangguk sambil meringis menahan sakit. “Apa ada cairan?” tanyanya lagi. Kali ini, isterinya menggeleng. Pak Gono mulai ragu. Tapi, karena kasihan, bapak usia tiga puluhan ini pun menyiapkan kendaraan menuju rumah bidan.
“Masih lama?” tanya Pak Gono memastikan. Pak Gono hampir tak percaya dengan penjelasan Bu Bidan. Bagaimana mungkin orang sudah kesakitan masih belum bisa melahirkan. Setelah diperiksa ulang, Pak Gono dan isteri dipersilakan pulang.
Ucapan Bu Bidan memang benar. Kesimpulan itu meluncur dalam benak hati Pak Gono setelah melihat isterinya yang sudah seperti biasa. Sehari setelah ke bidan, isteri Pak Gono sibuk-sibuk seperti biasa: masak, nyapu lantai, bahkan siap mencuci pakaian. Kalau saja tidak dicegah Pak Gono, kesibukan ketiga sudah dilakukan isterinya. “Ndak usah. Biar aku saja!” ujar Pak Gono cekatan.
Saat itulah Pak Gono baru bisa berpikir tenang. Dengan agak keras, ia membaca Alquran. Sesekali, ia menatap keadaan isterinya yang masih terlihat sibuk mondar-mandir menata perabot rumah. Entah kenapa, tiba-tiba hatinya merasa tidak enak. Ia tidak menemukan isterinya di ruang depan. Kemana?
Pak Gono tersentak ketika suara merintih terdengar dari balik kamar. “Dik?” suara Pak Gono sambil bergegas menuju kamar. Ternyata di kamar, isteri Pak Gono sedang menggelepar-gelepar kesakitan. Bukan hanya tanda mulas yang kelihatan kian jelas. Tapi cairan dan darah pun sudah membasahi pakaian dan sprei. Yang paling bikin panik Pak Gono, suara isterinya yang terus berucap, “Mau keluar, Mas! Bayinya mau keluar!”
Sambil siap-siap mengurus kelahiran, Pak Gono berteriak ‘tolong’. Beberapa tetangga berdatangan. Sebagian besar ibu-ibu. Mereka langsung membantu proses kelahiran dengan alat seadanya. Suatu hal yang tak diduga Pak Gono sebelumnya: ia tak kuat melihat darah. Saat itu juga, ia pingsan.
Setelah siuman, Pak Gono menemukan keadaan rumahnya agak lain dari biasa. Beberapa ibu tetangga terlihat mondar-mandir dari kamar ke dapur, dapur ke kamar. Seorang ibu mendekati Pak Gono. “Pak, selamat. Ibu dan bayinya sehat!” ucap ibu itu sambil senyum. “Alhamdulillah!” sambut Pak Gono sambil terhuyung menuju kamar di mana isteri dan bayinya tinggal. (muhammadnuh@eramuslim.com)
__________________
|
|
|
Posting Rules
|
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts
HTML code is Off
|
|
|
All times are GMT. The time now is 07:32.
|
|