Sesuatu untuk dikenang
Posted May 14, 2008 at 04:50 by kapiten
Sesuatu yang terjadi adalah sangat indah untuk dikenang. Kira-kira begitulah ungkapan yang tepat untuk masa kecil seorang kapiten. Kapiten kecil terlahir dari lingkungan yang masyarakatnya kebanyakan berasal dari golongan ekonomi menengah kebawah, dimana sebagian besar waktunya dihabiskan untu mencari nafkah sekedar untuk mencukupi hari ini, tidak perlu memikirkan hari esok, karena hari esok belum terjadi.
Dan itu pula yang terjadi pada ortu gue waktu itu. Jarang banget gue melihat orang tua meluangkan waktunya untuk mengajak gue berekreasi, atau sekedar punya waktu luang bersama gue untuk bercanda. Semuanya dihabiskan untuk mencukupi kebutuhan kami hari itu. Jadi wajar aja kalo gue bilang bahwa masa kecil gue kurang bahagia, atau bahkan bisa dikatakan jauh dari kesan bahagia.
Karena jauh dari perhatian orang tua itulah, dan dengan didukung oleh lingkungan gue waktu itu, maka kapiten kecil menjadi seorang yg bisa dikatakan jauh dari kesan sebagai anak baik. Bayangin aja, umur 12 taon kelas 6 SD, gue sudah akrab dengan namanya rokok, kelas 2 SMP gue sedang mengenal minuman keras
, tapi untunglah gue tidak sepenuhnya hanyut dalam keadaan seperti, karena dalam hal prestasi di sekolah gue masih bisa punya kebanggaan.
Karena kurangnya perhatian dari ortu itu pula, gue terbiasa melakukan segala sesuatu dengan sendiri, seakan2 gue tak perlu bantuan orang lain. Kelas 1 smp gue ikutan temen gue mencari uang sendiri, dengan mencoba menjadi pemulung, lumayanlah hasilnya saat itu setidaknya untuk jajan gue (tapi sebenarnya gue waktu itu jarang jajan karena emang jarang punya uang), dari coba2 itulah akhirnya gue jadi ketagihan hingga akhirnya gue bisa menabung sedikit demi sedikit, tapi dampak negatifnya nilai gue disekolah jadi anjlok karena emang gue jarang belajar, disekolahpun bawaannya gue pengin pulang terus agar gue punya banyak waktu untuk memulung
Hingga akhirnya ortu gue marah, karena gue sering bolos dan untuk itu ortu gue dipanggil oleh pak guru untuk menasehati kapiten kecil.
Tapi dari kejadian itu sesuatu akan sedikit merubah kehidupan gue. Pada saat ortu gue marah2 karena gue sering bolos, disitu ada paman gue yang dari bandung, mendengar pokok permasalahannya. Dan gayungpun bersambut karena paman gue, justru mendukung dan memberikan sedikit modal ke gue, jadi gue tak perlu memulung, tapi membeli dari temen2 gue. Beliau juga menasehati gue agar modal itu jangan disalah gunakan tapi harus dikembangkan. Rupanya naluri wiraswasta gue muncul sejak saat itu
Karena kebanyakan dari orang2 disekitar gue hanya menjadi pemulung, barang2 yg dibeli oleh para penadah juga dihargai murah, maka gue mencari celah untuk menjadi seorang penadah aja daripada seorang pemulung, dan gue pun mencari info kemana para penadah itu menjual dagangannya, sementara itu gue tetep menjadi seorang pemulung dan menjadi seorang penadah (wakau hanya kecil2an)
Kelas 3 SMP, ketika ujian selesai, gue pun sudah naik pangkat dari seorang pencari barang bekas menjadi seorang penadah barang bekas, walaupun tetep dalam dunia pemulung
, gak nyangka gue ternyata penghasilan seorang penadah itu sangat besar keuntungannya bisa 100% dari modal yg dikeluarkan. Tapi hal itu tidak berjalan lama karena untuk menampung barang itu gue menggunakan tanah orang dan ternyata yg punya rumah keberatan, akhirnya gue banting setir menjadi seorang penjual buah2an (gue gak mau jadi pemulung lagi karena gue tahu betapa mereka telah dibodohi oleh para penadah dengan harga murah yg mereka tetapkan).
Disaat temen2 sebaya gue pulang sekolah langsung main, belajar kelompok atau nongkrong2, maka disaat itulah gue menata dagangan gue untuk gue jual, waktu itu dengan modal 125rb maka keuntungan yg gue dapatkan paling sepi sekitar 75rb rupiah, cukuplah untuk biaya sekolah gue. Buah mangga dan jeruk yang paling sering gue jual karena mengingat keuntungan yg relatif lebih banyak daripada buah yg lain. Kehidupan seperti ini gue jalani hingga gue akhirnya bisa menyelesaikan kuliah gue dengan biaya sendiri. Bangga rasanya gue bisa menjadi seperti ini karena hasil jerih payah gue sendiri. Bangga juga gue ama ortu karena jika beliau waktu itu begitu perhatian ama gue maka gue gak akan menjadi seperti ini, mungkin juga gue gak akan pernah memahami betapa hidup itu penuh dengan perjuangan dan hanya diri kitalah yang berhak kemana kita akan melangkah, karena itu yg terbaik bagi kita.
Semoga dari pengalaman gue yang bisa dikatakan pahit ini, bisa menjadi pelecut semangat bagi pembaca, bahwa pasti ada hikmah dari segala sesuatu yg kita jalani, bahwa keterbatasan tidak akan menghalangi seseorang untuk maju, bahwa ketidakmampuan adalah bagian penting dari seseorang untuk berbuat menjadi mampu, bahwa menyerah menjalani hidup hanya untuk mereka yg tidak mau berpikir kedepan.
Dan itu pula yang terjadi pada ortu gue waktu itu. Jarang banget gue melihat orang tua meluangkan waktunya untuk mengajak gue berekreasi, atau sekedar punya waktu luang bersama gue untuk bercanda. Semuanya dihabiskan untuk mencukupi kebutuhan kami hari itu. Jadi wajar aja kalo gue bilang bahwa masa kecil gue kurang bahagia, atau bahkan bisa dikatakan jauh dari kesan bahagia.
Karena jauh dari perhatian orang tua itulah, dan dengan didukung oleh lingkungan gue waktu itu, maka kapiten kecil menjadi seorang yg bisa dikatakan jauh dari kesan sebagai anak baik. Bayangin aja, umur 12 taon kelas 6 SD, gue sudah akrab dengan namanya rokok, kelas 2 SMP gue sedang mengenal minuman keras
, tapi untunglah gue tidak sepenuhnya hanyut dalam keadaan seperti, karena dalam hal prestasi di sekolah gue masih bisa punya kebanggaan.Karena kurangnya perhatian dari ortu itu pula, gue terbiasa melakukan segala sesuatu dengan sendiri, seakan2 gue tak perlu bantuan orang lain. Kelas 1 smp gue ikutan temen gue mencari uang sendiri, dengan mencoba menjadi pemulung, lumayanlah hasilnya saat itu setidaknya untuk jajan gue (tapi sebenarnya gue waktu itu jarang jajan karena emang jarang punya uang), dari coba2 itulah akhirnya gue jadi ketagihan hingga akhirnya gue bisa menabung sedikit demi sedikit, tapi dampak negatifnya nilai gue disekolah jadi anjlok karena emang gue jarang belajar, disekolahpun bawaannya gue pengin pulang terus agar gue punya banyak waktu untuk memulung

Hingga akhirnya ortu gue marah, karena gue sering bolos dan untuk itu ortu gue dipanggil oleh pak guru untuk menasehati kapiten kecil.
Tapi dari kejadian itu sesuatu akan sedikit merubah kehidupan gue. Pada saat ortu gue marah2 karena gue sering bolos, disitu ada paman gue yang dari bandung, mendengar pokok permasalahannya. Dan gayungpun bersambut karena paman gue, justru mendukung dan memberikan sedikit modal ke gue, jadi gue tak perlu memulung, tapi membeli dari temen2 gue. Beliau juga menasehati gue agar modal itu jangan disalah gunakan tapi harus dikembangkan. Rupanya naluri wiraswasta gue muncul sejak saat itu
Karena kebanyakan dari orang2 disekitar gue hanya menjadi pemulung, barang2 yg dibeli oleh para penadah juga dihargai murah, maka gue mencari celah untuk menjadi seorang penadah aja daripada seorang pemulung, dan gue pun mencari info kemana para penadah itu menjual dagangannya, sementara itu gue tetep menjadi seorang pemulung dan menjadi seorang penadah (wakau hanya kecil2an)

Kelas 3 SMP, ketika ujian selesai, gue pun sudah naik pangkat dari seorang pencari barang bekas menjadi seorang penadah barang bekas, walaupun tetep dalam dunia pemulung
, gak nyangka gue ternyata penghasilan seorang penadah itu sangat besar keuntungannya bisa 100% dari modal yg dikeluarkan. Tapi hal itu tidak berjalan lama karena untuk menampung barang itu gue menggunakan tanah orang dan ternyata yg punya rumah keberatan, akhirnya gue banting setir menjadi seorang penjual buah2an (gue gak mau jadi pemulung lagi karena gue tahu betapa mereka telah dibodohi oleh para penadah dengan harga murah yg mereka tetapkan).Disaat temen2 sebaya gue pulang sekolah langsung main, belajar kelompok atau nongkrong2, maka disaat itulah gue menata dagangan gue untuk gue jual, waktu itu dengan modal 125rb maka keuntungan yg gue dapatkan paling sepi sekitar 75rb rupiah, cukuplah untuk biaya sekolah gue. Buah mangga dan jeruk yang paling sering gue jual karena mengingat keuntungan yg relatif lebih banyak daripada buah yg lain. Kehidupan seperti ini gue jalani hingga gue akhirnya bisa menyelesaikan kuliah gue dengan biaya sendiri. Bangga rasanya gue bisa menjadi seperti ini karena hasil jerih payah gue sendiri. Bangga juga gue ama ortu karena jika beliau waktu itu begitu perhatian ama gue maka gue gak akan menjadi seperti ini, mungkin juga gue gak akan pernah memahami betapa hidup itu penuh dengan perjuangan dan hanya diri kitalah yang berhak kemana kita akan melangkah, karena itu yg terbaik bagi kita.
Semoga dari pengalaman gue yang bisa dikatakan pahit ini, bisa menjadi pelecut semangat bagi pembaca, bahwa pasti ada hikmah dari segala sesuatu yg kita jalani, bahwa keterbatasan tidak akan menghalangi seseorang untuk maju, bahwa ketidakmampuan adalah bagian penting dari seseorang untuk berbuat menjadi mampu, bahwa menyerah menjalani hidup hanya untuk mereka yg tidak mau berpikir kedepan.
Total Comments 28
Comments
-
Posted June 03, 2008 at 01:16 by kapiten
-
Posted June 06, 2008 at 03:55 by shella
-
Posted June 06, 2008 at 07:48 by kapiten
-
Posted June 07, 2008 at 04:29 by misscuex
-
Posted June 08, 2008 at 08:27 by Sora Aoi
-
Posted June 10, 2008 at 02:06 by kapiten
-
Posted June 14, 2008 at 07:56 by AlfaOmega
-
Wow KEREN........!!!
http://www.treausureku.co.ccPosted January 14, 2010 at 09:43 by Voodoo












