View Full Version : Orang Kaya Baru







AgustinusWahyon
April 04, 2003, 12:32
Orang Kaya Baru

Pemuda udik bernama Oji adalah pemimpi yang mengkhayalkan hidup sebagai kenyataan yang menyenangkan. Namun dia berhasil menghidupkannya setelah dia dinyatakan memenangkan salah satu undian dalam pengumpulan bungkus-bungkus permen. Dia mendapat hadiah berupa jalan-jalan gratis selama tiga hari di pulau wisata. Tiket pesawat, penginapan dan uang saku sudah dikirimkan panitia. Lunas tanpa sisa.

“Ha ha ha ha…ternyata menjadi orang kaya itu sangatlah menyenangkan. Pantas saja orang-orang berambisi merenggut kekayaan, mempertahankannya. Kecuali orang-orang munafik, yang menolak kekayaan namun meminta-minta sumbangan.”

Begitulah kegirangan Oji sewaktu tiba di gerbang Hotel Bunga Bakung pada hari menjelang siang. Ternyata menjadi miskin dan tersuruk di gubuk lapuk itu hanya melesakkan sesak di dada legamnya. Dia sangat bosan, setiap hari terpojok dalam ejekan-ejekan berita serta kata-kata tetangga tentang indahnya kekayaan dan kemewahan itu. Kemiskinan telah membuat dunia Oji semakin sempit, semakin terjepit rasa minder dan iri melihat kegemilangan sekitarnya. Kemiskinan yang telah memuakkan Oji.

Selamat tinggal kemiskinan. Sekaranglah masa-masa awal menjadi orang kaya, meski ini baru tahap perkenalan suasana, batin Oji.

Taksi berhenti di depan pintu ruang masuk yang berkanopi. Segera seorang penerima tamu membantunya menurunkan barang bawaan Oji. Kemudian Oji masuk hotel melalui ruang lobby berlantai mengkilap tersebut. Penyambut tamu tadi menunjukkan arah menuju ruang informasi dan resepsionis. Tanya ini-itu, pesan kamar berdasarkan bukti dari panitia, dan dia mendapat sebuah kamar.

Kemudian seorang roomboy menyambut Oji. Itu pun karena terpaksa, sekaligus berharap tamu udik satu ini masih memiliki jiwa boros. Sebab menurutnya, pemborosan lebih mudah merasuki orang-orang udik yang merasa sok kaya atau orang kaya baru.

“Tolong angkat yang ini ya,” pinta Oji dengan lagak orang kaya yang sopan.

“Ya, Pak.”

Roomboy mengantarkan dan membantu mengangkut barang-barang Oji. Mereka menuju lift. Oji bingung, apalagi merasakan sebuah kotak bisa naik ke atas seperti film-film yang sering ditontonnya. Tapi dia pura-pura biasa, agar gengsinya tidak ambruk. Berhubung Oji belum sekali pun masuk-keluar hotel, panduan dari roomboy itu sangat berarti baginya. Dihapalkannya setiap jemari roomboy menekan tombol lift itu, agar dia tidak malu sendiri jika kebingungan di dalam hotel.

Wah, hebat betul hotel ini, puji Oji dalam hati. Hotelnya mewah, pegawainya ramah, pelayanannya bagus. Mudah-mudahan selalu dipenuhi penginap.

Dalam hati Oji terkagum-kagum sewaktu mereka melewati ruang demi ruang, kamar demi kamar. Suasananya mewah dan nyaman, tidak seperti di kampung Oji. Udaranya dingin, baunya wangi, lampu-lampu ruangannya tidak menyilaukan, bersih, beberapa hiasan dinding dan hiasan pojok ruangnya sangat indah. Kecuali lukisan kacau-balau. Maklum, dia baru pertama kali sungguh-sungguh masuk sebuah hotel.

Selama ini dia hanya melihat suasana hotel di televisi atau film-film. Selama ini dia hanya hidup di seputar kebun sahang, pasar ikan, sungai bekas galian penambangan darat, gubuk reyotnya dan kampung sunyinya. Mungkin di antara seluruh penduduk kampungnya bahkan diantara sejarah hidup seluruh keturunan kakek-neneknya, dia merasa baru dirinyalah yang pertama kali berhasil menerobos masuk hotel sampai mencicipi perjalanan awal menuju kemewahan seutuhnya nanti.

“Ini, Pak, kamarnya,” kata si roomboy setelah sampai di kamar pesanan Oji.

“Oh, iya, terima kasih,” Oji gugup sebentar. Segera Oji menenangkan diri, jangan sampai keudikannya tertangkap basah.

Roomboy juga yang membuka pintu kamar itu, membantu memasukkan barang-barang. Lalu ketika roomboy itu keluar, Oji langsung menutup pintu kamarnya sambil mengucapkan terima kasih.

Roomboy tetap berdiri di dekat pintu kamar Oji sambil berpikir, “Mudah-mudahan tamu udik satu ini sedang membuka dompetnya, mengeluarkan beberapa lembar lima puluhan ribu dan akan memberikannya padaku.”

Tip atau bonus dari penginap merupakan istilah yang biasa bertebaran di kalangan roomboy. Setiap ada tamu, para roomboy segera menanti tugas dengan segudang impian menerima tip besar. Kalau berharap kesejahteraan dari gaji murni, mustahil sekali.

Saking terbiasanya istilah tip dan alasan gaji minim dalam pergunjingan sesama roomboy, dalam diri roomboy satu ini menjelma jadi pemburu tip. Pemburu tip, atau sebenarnya pengemis dalam bangunan mewah atau pelaku pungutan liar tingkat atas. Dia tahu tingkat keborosan penginap berdasarkan etnis atau asal negaranya. Tamu satu ini, si Oji, adalah salah satu bagian dari judinya, yaitu untung-rugi kalau melayani Oji.

Sebentar-sebentar dilihatnya jam tangannya. Tetapi tidak ada tanda-tanda tamunya ini bakal keluar dan memberikan ‘bonus’. Roomboy masih berusaha sabar. Baginya kesabaran selalu berguna. Ada rejeki yang tak terduga. Dan benar, dugaannya sia-sia.

“Dasar udik, pelit!” gerutunya setelah berkesimpulan bahwa Oji tidak memberi sepeser pun tip.

Sedangkan si penghuni kamar itu sedang benar-benar tidak tahu-menahu tentang tradisi memberi tip apapun. Sekali mengurusi administrasi dan urusan biaya menginap yang sudah ditanggung panitia undian, cukuplah itu. Soal bayar ini-itu, dia tidak tahu. Apalagi soal tetek bengek tip atau upah antar-angkat tadi. Oji hanya tahu bahwa roomboy tadi sangat ramah, bertanggung jawab pada tugasnya.

Mata Oji menyapu suasana kamar itu. Nampak ada dua tempat tidur. Disentuhnya. Empuk. “Sayang kalau satu sisa kasur tidak terpakai. Kelak tidur bergantian tempat tidur ah,” ujar Oji pada kesunyian kamar itu. Wajahnya tampak begitu riang.

Ditaruhnya barang-barang bawaannya di sebelah tempat tidur. Terus, Oji membuka jaketnya, sepatu, dan pakaiannya. Tinggal singlet dan celana pendek saja yang dipakainya. Dia merasa sisa-sisa keringat yang membasahi punggungnya tidak nyaman.

Oji naik ke tempat tidur. Perasaannya senang. Sejenak dia berbaring, menikmati empuknya kedua kasur hotel. Kemudian dia melompat ke tempat tidur sebelahnya.

Alangkah empuknya kasur hotel ini. Dua tempat tidur untukku sendiri. Alangkah nikmat, mewah hidup ini, pikir Oji.

Sambil berbaring lagak orang-orang kaya, dia membuka televisi dengan remot. Televisi menayangkan beberapa acara, karena tersambung langsung dengan antena parabola. Soal teknologi televisi dan parabola, bagi Oji bukan barang baru. Meski udik, kampung Oji tidak asing lagi dengan barang-barang elektronik masa kini, terlebih waktu musim panen sahang besar-besaran.

Puas menggenjot-genjot kasur empuk, Oji menuju kamar mandi. Mula-mula dia mengagumi tempat cuci tangan (wastafel) yang berkaca cermin besar. Oji kagum. Oji ingin memilikinya. Lalu pandangannya beralih ke pojok wastafel, tersedia sabun mandi, shampoo, odol, parfum, handuk, pembungkus rambut dan sandal kamar mandi.

Ada godaan untuk mandi. Lantas dia melirik ke ruang sebelahnya. Pelapis dinding kamar mandi itu mengingatkan dia pada beberapa rumah orang kaya di kampungnya. Dinding luar rumah-rumah itu dilapisi keramik seperti kamar mandi hotel ini

Hihihii..kamar mandi terbesar ada di kampung kami, guman Oji sambil tersenyum. Dasar orang udik, tidak bisa memilih bahan bangunan yang cocok.

Oji melangkah masuk. Ada bak mandi berendam (bathtube) dan ruang mandi hujan (shower). Oji mencoba menghidupkannya. Lalu, serrrrr…air mengucur dari shower dan bathtube.

Aha! Mandi, mandi, mandi…, tawa riang Oji.

Juga tombol-tombol tertentu, berwarna merah dan biru. Oji penasaran. Dicobanya setiap tombol, dan…air pun berubah kondisinya. Bisa panas, bisa dingin.

Wah, asyiknya komplit nih, nggak perlu nunggu dijerang dulu, batin Oji.

Seketika itu pula selera mandinya bangkit. Maka mandilah dia sepuas-puasnya, dari mandi hujan hingga berendam. Nyaris satu jam dia menikmati kamar mandi hotel yang, baginya, begitu mewah. Berendam pun sambil membaca kayak film-film.

Besok pagi aku akan mencoba berenang di kolam renang hotel ini. Tentu lebih aduhai daripada di sungai pemandian kampung kami, pikirnya.

Semua yang disuguhkan di pojok wastafel tadi dipakai Oji. Selanjutnya dia keluar. Sambil masih berbelit handuk, Oji menuju jendela. Dibukanya lebar-lebar gordin jendela. Terpampanglah panorama kota yang sangat megah. Gedung-gedung menjulang, gagah. Kendaraan lalu lalang, kapal terbang pun naik-turun terus. Sungguh-sungguh kota hidup.

Amboi, indah nian kota besar ini, teriak batin Oji.

Oji teringat kawannya yang suka mencaci maki globalisasi kapitalisme, namun begitu pelit mengeluarkan duit hingga tidak bisa menikmati indahnya kapitalisme. Kawannya itu selalu mengejek kemewahan dan menuding kemewahan duniawi sebagai jerat yang berbahaya.

Hari masih terang dan waktu masih panjang. Perutnya terasa sedang unjuk diri, minta diisi. Segera dia mengeluarkan pakaian barunya. Sepatu sandal barunya pun disiapkan. Usai berpakaian rapi, Oji keluar dari kamarnya, menuju ke ruang makan hotel. Tapi dia harus bertanya sana-sini dulu, karena dia tidak tahu arti kata “the dining room”.

Di sana Oji disambut oleh beberapa waitress cantik. Oji memilih duduk di pinggiran diantara kumpulan meja itu. Piring-piring telah siap. Ada lilin, batangan tusuk gigi, dan rempah-rempah tambahan seperti bubuk sahang, garam, saos. Di atas piring ada hiasan berbentuk topi melayu, menjulang.

“Ini daftar menunya, Pak,” kata seorang . “Silakan Bapak pilih pesanan Bapak.”

Oji bingung. Makanannya serba asing, susah nyebutnya. Tidak ada lempah darat. Tidak ada sayur nanas. Tidak ada ikan ciew. Dia membalik daftar menu itu, terlihat menu Indonesia. Yang paling dikenalnya adalah gado-gado. Segera waitress muda nan cantik tadi menuliskan apa yang disebutkan oleh Oji.

AgustinusWahyon
April 04, 2003, 12:33
Tak berapa lama pesanan Oji datang, dibawa oleh dua orang. Salah seorang membawa makanan tersebut, lainnya menaruh di meja Oji. Yang menaruh makanan tadi pun menyerahkan bon yang harus dibayar Oji.

“Ini pesanan Bapak, dan ini bonnya. Selamat menikmati sajian restoran ini, Pak,” katanya ramah dengan senyum manis.

“Terima kasih,” sahut Oji.

Alamak, seru batin Oji. Hanya sepiring gado-gado dan segelas es soda, harganya mahal sekali. Kalau di kampungku, paling-paling harga sekitar seperempatnya saja. Waduh, ini restoran atau rumah lintah darat sih. Tapi, kalau tidak sekarang, kapan lagi.

Oji pura-pura tidak canggung. Disiapkannya piringnya, peralatan makan dan bumbu-bumbu tambahan tadi. Tak lupa Oji minum dulu, agar kecanggungan segera tertelan. Glek. Satu teguk, seperti orang kaya di film-film itu. Lantas, ‘hiasan’ di atas piring yang berbentuk topi melayu itu disingkirkannya ke samping piring.

Tiba-tiba seorang waitress mendekati mejanya, mengambil ‘hiasan’ meja berbentuk topi melayu tadi. Dibukanya setiap lipatan, lalu diletakkannya di pangkuan Oji.

“Maaf, ya, Pak,” kata perempuan muda itu seraya tersenyum manis.

Ternyata lembaran kain itu adalah pelindung baju terhadap tumpahan atau cipratan makanan. Betapa malunya Oji, hingga dia merasa ruang makan mewah itu tidak ubahnya sebuah akuarium raksasa atau panggung penelanjangan yang memalukan.

Tapi Oji berusaha tenang, dan mulai mencicipi gado-gado bikinan hotel. Dia terkejut, karena rasa gado-gado hotel berbeda dengan gado-gado yang sering dibelinya di kampungnya. Tidak sesuai standar lidahnya. Makanya dia tidak mau berlama-lama di ruang makan mewah tersebut. Disamping rasa gado-gado begitu aneh bagi lidah udiknya bahkan tiba-tiba perutnya terasa nek/penuh, juga karena Oji sudah mencicipi rasa malu tadi. Santapan belum habis, Oji langsung saja menuju kasir dan keluar ruang tersebut.

Begitu dia keluar, rasanya semua mata orang di sana telah menempel di kuduknya. Untuk menenangkan diri, dia menuju ruang lobby. Dia ingat, masuk pertama tadi di ruang ini tersedia beberapa koran terbaru. Sembari matanya menyapu setiap bidang ruang, gerak-gerik jalannya dibuat gagah. Kesan acuh tak acuh sengaja diperankannya seperti film-film yang pernah ditontonnya. Beberapa penginap yang berpapasan dengannya pun tidak digubrisnya, demi status barunya dan agar tidak ketahuan udiknya.

Hingga menjelang malam, waktu-waktu dihabiskan Oji di dalam hotel Bunga Bakung itu. Dia sengaja merekam setiap sudut secara rinci, supaya kelak bisa dia kisahkan ulang dengan penuh kebanggaan tak terkira di hadapan kawan-kawannya di kampung. Setelah itu, kembali dia berlama-lama dalam kamar mandi, sebelum akhirnya memutuskan untuk menikmati malam di kota ini.

Oji membuka paket wisata pertama di kota ini. Wisata malam, yaitu menikmati pemandangan malam kota melalui menara tertinggi di kota itu, kemudian di diskotik pantai pinggir kota. Tiket menonton pertunjukan malam dan tanda bebas menikmati minuman pun tersedia dalam satu paket. Paket berikutnya, besok, mungkin ke museum, bangunan bersejarah, pantai, dan lain-lain. Namun dia belum tahu di mana letaknya.

Lantas dia membeli peta kota di kios kecil milik hotel. Ternyata tempat wisata itu memang tidak jauh dari tempatnya menginap. Segera dipersiapkannya barang bawaan seperti kamera, walkman, dan uang saku. Barang-barang itu tentu saja dibawanya, karena juga demi keamanan. Dia pernah menonton film tentang pencurian di dalam kamar hotel.

AgustinusWahyon
April 04, 2003, 12:33
Malam baru menjelang, Oji keluar keluar hotel untuk menikmati malam di kota itu. Oji memilih berjalan kaki saja, sebab di peta tertera jarak yang tidak jauh. Dia memang terbiasa jalan kaki, kali ini sekaligus menikmati suasana malam kota besar.

Transportasi kota berseliweran. Daerah komersial menampilkan panorama warna-warninya. Orang-orang hilir-mudik di daerah tersebut. Pakaian mereka modis-modis, mirip para bintang film. Mobil-mobil mewah lalu lalang secara teratur mirip suasana kota metropolitan di luar negeri. Nampaknya malam belum juga sampai di kota ini.

Oji menikmati sekali. Matanya terbinar-binar. Panorama dan nuansa yang tak akan pernah ada di kampungnya. Tak henti-hentinya Oji kagum, terkesima, terpesona. Seketika dia lupa kampung halamannya. Dia lupa bahwa dia berasal dari udik, lupa berada di kota besar ini hanya untuk tiga hari, lupa akan kembali ke udik.

Termasuk ketika dia melintasi taman kota. Dalam lampu temaram, keindahan malam tercetak jelas. Orang-orang memanfaatkan taman kota tersebut seperti halnya sebuah tempat hiburan. Beberapa kumpulan terdiri atas laki-laki dan perempuan, nampaknya remaja, bercanda di sana. Juga beberapa kelompok lainnya.

Menjelang ujung taman itu, Oji berpapasan dengan beberapa pemuda. Dengan gaya laksana orang kaya, Oji melangkah gagah. Tanpa disadarinya, sontak beberapa pemuda tadi menghadangnya. Clurit dan belati berkilauan. Dua orang maju, segera mencekal tangan Oji. Dari arah belakang Oji, dua orang pemuda lainnya menodongkan senjata. Oji tak kuasa berteriak karena clurit sudah siap singgah di kulit lehernya.

Oji terkejut, antara sadar dan tidak. Pikirannya hilang seketika. Bandit-bandit tengik itu segera menelanjangi Oji habis-habisan. Seluruh tiket perjalanan atau masuk tempat wisata serta uang saku dari panitia amblas, dan juga uang titipan para tetangga yang minta dibelikan oleh-oleh. Karena Oji membawa semuanya itu dan menaruhnya di saku celana, tas pinggang dan jaket barunya. Seluruh benda-benda serta pakaiannya barunya disikat tanpa sisa, kecuali celana panjangnya yang sudah basah kuyub.

Tinggal Oji terduduk lemas setelah para bandit itu pergi. Tatapannya kosong, tak habis mengerti dengan apa yang nyata dialaminya. Mimpikah?

*******

jogja, september 2001

(Cerpen ini pernah dimuat di harian Bangka Pos, 23 Desember 2001)