View Full Version : Review Movies - Only
Mithrandir
October 21, 2003, 04:30
LES TRIPLETTES DE BELLEVILLE
Seorang anak kecil yg pasif bernama Champion terobsesi dgn segala hal ttg sepeda. Ayah ibunya yg hanya bisa dilihat melalui foto yg berdiri diantara sepeda tua membuatnya berharap bisa memiliki sebuah sepeda. Temannya hanyalah seekor anjing berbadan tambun pemberian neneknya yg dr masih kecil punya trauma dgn kereta api mainan tuannya itu. Ketika sang nenek menyadari keinginan sang cucu, si nenek membelikannya sepeda dan melatihnya dgn sangat serius agar bisa ikut Tour D’France. Saat Champion mengikuti turnamen sepeda bergengsi itu, ia diculik oleh mafia. Sampai akhirnya sang nenek beserta anjingnya harus mengejar dan berusaha utk menyelematkannya sampai ke kota Belleville.
Film animasi yg nyaris tanpa dialog ini mengasyikkan utk disimak. Lucu, pintar, dan menyentuh hati tapi tidak sentimental. Film yg cocok utk semua umur (bahkan di screening ada anak kecil yg nonton bersama orang tuanya tertawa terbahak-bahak beberapa kali). Film yg didedikasikan Sylvain Chomet utk kedua orang tuanya ini adl ttg kecintaan orang tua thd anak yg tidak ada batasnya dan ditampilkan dgn penuh ketulusan. Bisa jadi adl the best animated feature of 2003.
Film Rating (out of ****)
***1/2
Very Good
Mithrandir
October 21, 2003, 04:32
BOWLING FOR COLUMBINE
Banyak hal sudah dikatakan mengenai BOWLING FOR COLUMBINE, dari pro dan kontra dengan segala kontroversinya. Yg membuat saya tersentak dgn dokumenter ini adl betapa relevannya dgn kondisi mutakhir yg terjadi di Indonesia saat ini. Memang tidak/(belum?) ada pembantaian anak sekolah oleh anak sekolah lainnya (yg ada tawuran), atau masalah kepemilikan senjata oleh rakyat sipil (sebenarnya ada, kalau kita melihat apa yg terjadi di Aceh atau Poso). Yg paling mengena adl masalah budaya ketakutan (the culture of fear, spt apa kata Michael Moore) yg didengung-dengungkan media di Indonesia, terutama media TV. Liat saja acara-acara yg mendominasi TV, berita kriminalitas dan hal seputar alam gaib yg didramatisasi menjadi suguhan utama (selain sinetron tentunya). Sementara para pemimpin sibuk menggontok-gontokkan negara lain dan mengaung-ngaungkan nasionalisme sempit. Pasti ada yg tdk sesuai kalau misalkan seorang pelaku teror yg membunuh banyak korban tdk berdosa yg dieksekusi oleh pihak berwenang di negara lain dianggap sbg mujahid dan mati syahid oleh kalangan tertentu di negerinya sendiri. Tampaknya Indonesia dan Amerika ngga banyak bedanya, sama-sama memiliki masalah serius dgn pengendalian amarah (rage) dan rasa takut (fear).
BOWLING FOR COLUMBINE memang tdk sempurna, Michael Moore cukup cerdik utk memanfaatkan pernyataan banyak orang dan mengatakan apa yg dia harapkan orang tsb utk mengatakannya. Begitu banyak informasi yg dijejalkan shg spt dimuntahkan sekaligus, Horror dan humor tampil silih berganti mulai dr rekaman kamera saat terjadinya pembantaian di Columbine yg mencekam sampai cuplikan singkat sejarah Amerika dlm bentuk kartun yg lucu tapi substansial. Kalo Michael Moore bisa membuat film dokumenter yg sarat dgn informasi berbobot sekaligus sangat menghibur secara bersamaan, itu adl kemampuannya sbg seorang filmmaker dan provokator. Kita akan tunggu karya dia selanjutnya thn 2004 mendatang FAHRENHEIT 9/11 dgn tag line yg sudah membara-bara “the temperature where freedom burns”.
Film Rating (out of ****):
***1/2
Very Good
Mithrandir
October 21, 2003, 04:39
THE MAGDALENE SISTERS
Tak ada ada kejahatan yg lebih kejam di dunia ini selain kejahatan sistematis, apalagi dgn menggunakan agama sbg alat utk pembenaran. Adalah 3 perempuan, Margaret yg diperkosa sepupunya di acara pernikahan saudaranya, Bernadette anak yatim piatu di panti asuhan yg dianggap terlalu banyak bersolek dan menggoda laki-laki disekitarnya, dan Rose seseorang yg baru melahirkan dan menjadi ibu tapi melahirkan seorang “bastard child” shg harus melepaskan haknya sbg ibu, harus menerima hukuman publik (oleh gereja dan keluarganya) utk menebus dosa mereka krn telah menimbulkan aib dgn menjadi budak tanpa dibayar di asylum tempat pencucian umum (laundry) yg dikelola para biarawati dr orde Magdalene yg dipimpin sister Bridgette yg kalem tapi bengis.
Beruntung saya ngga ketinggalan screening THE MAGDALENE SISTERS gara-gara screening BOWLING FOR COLUMBINE telat 15 menit sehingga saya bisa nonton dari awal film. Karena adegan di pesta pernikahan saat terjadi peristiwa yang menimpa Margaret sudah menentukan suasana akan seperti apa film ini. Yang saya suka adalah setelah kejadian, dialog di pesta itu tidak bisa didengar penonton karena mereka berbisik-bisik dalam berbicara karena riuhnya suasana dengan musik yang mengalun keras. Sementara Margaret berharap cemas bagaimana reaksi keluarganya setelah dia memberitahu kepada salah satu saudara perempuannya. Sama juga dengan adegan Rose di rumah sakit saat melahirkan. Ibunya samasekali tidak mau melihat bayinya meskipun duduk disampingnya, sementara sang ayah tidak mengeluarkan sepatah kata pun untuk Rose, pada saat ayahnya menahan Rose yang akan dipisahkan dari bayinya. Peter Mullan men-setup opening THE MAGDALENE SISTERS dengan ketenangan dan kecepatan yang penuh daya magis membuat saya menahan nafas. Dan Peter Mullan tetap bisa menjaga intensitas ini sampai akhir film ketika sesuatu yang tidak bisa dielakkan lagi sudah saatnya harus terjadi. Benar-benar sebuah powerful film.
Kisah yg merupakan kejadian nyata di Irlandia thn 60-an ini disuguhkan Peter Mullan (writer & director) tanpa kompromi dan apa adanya. Bagaimana ketiga perempuan ini dan para pekerja lainnya dieksploitasi, dilecehkan dan dihina harkat dan martabatnya. Banyak adegan yg akan membuat kita terenyah dan tidak nyaman melihat perlakuan para biarawati yg “menghukum” para pekerja yg melanggar peraturan. Ada satu adegan yg mungkin para penonton (di screening PPHUI tanggal 10/18, dimana saya nonton) tdk tahu harus bereaksi bagaimana menyaksikan seorang biarawati mengadakan kontes ter-… utk para pekerja wanita ini. Malah justru banyak yg ketawa. Disturbing.
Di masa sekarang, filmmakers yg hanya bersikap obyektif dan netral dlm menyikapi dan menampilkan suatu fakta dan realitas tidaklah cukup, harus ditambah dgn “keberpihakan” pd salah satu pihak, yg tertindas atau penindas, yg beruntung atau yg dirugikan, utk memberikan perspektif thd persoalan tsb. Dan itulah yg dilakukan Peter Mullan. Spt BOWLING FOR COLUMBINE-nya Michael Moore dan DOGVILLE-nya Lars Von Trier, film ini adl film yg provokatif dan kontroversial tapi dibalik itu semua punya maksud dan tujuan yg tulus. Segalanya kembali kpd kita sbg penonton, setuju atau tidak? Bagi saya sendiri, saya setuju dgn Peter Mullan.
Film Rating (out of ****):
****
Outstanding
Mithrandir
October 21, 2003, 04:53
KILL BILL VOL.1
Volume 1
Film geek dibuat orgasme oleh film keempatnya Quentin Tarantino, dengan penuh kenikmatan melakukan ejakulasi menyaksikan mimpi terindah film geek menjadi kenyataan, KILL BILL VOL.1.
Dalam lubuk hati saya yang paling dalam, genre samurai dan westerns adalah genre film paling favorit saya. Waktu saya masih anak-anak, samurai dan cowboys mungkin adl karakter yg paling sering saya tonton di layar kaca. Ngga mengherankan apabila kedua genre ini, westerns (cowboys) dan easterns (samurai) punya tempat spesial dlm diri saya sbg seorang filmgoer. Maka cukup mengejutkan bagi saya, film yang banyak dibilang sebagai tribut Tarantino utk film-film kung fu dan B movies thn 70-an atau apa pun yg orang bilang tentang KILL BILL, bagi saya lebih merupakan tribut kpd film samurai dan westerns, terutama spaghetti westerns-nya Sergio Leone. Westerns dan easterns membaur menjadi satu dalam KILL BILL. Dan mengharukan bagi saya pada saat melihat end credits terdapat diantara nama lainnya, RIP Charles Bronson, Pemeran salah satu yg paling cool diantara yang ter-cool karakter dlm film westerns, Harmonica di ONCE UPON A TIME IN THE WEST.
Dalam KILL BILL, substansi bukan hal yang esensial untuk mendefinisikan film ini. Ceritanya tentang balas dendam karena pembantaian di saat pesta pernikahan yang membunuh semua orang selain The Bride tidaklah penting. Demikian juga dengan pengembangan plot dan karakternya. Jangan juga memikirkan logika realita, karena Tanrantino menciptakan dunia KILL BILL yang hanya ada dalam dunia film, dengan melepaskan segala batasan-batasan real world. That’s not the point, dan KILL BILL tetaplah berfungsi sebagai satu film. Karena KILL BILL adalah film yang murni cinematic style. Style yang dieksekusi dengan keeleganan dan respek terhadap apa yang telah menjadi inspirasinya. Seperti halnya PULP FICTION dan film Tarantino sebelumnya, apa yang menjadi orisinalitas karyanya adalah kemampuannya memadukan, memilih dan memilah style dan referensi dari film lain, dari yang legendaris sampai film cult dan yang sudah dilupakan orang, menjadikannya signature style dia sendiri yang unik dan baru. Banyak adegan dan shot yang fantastis di film ini, selain berkat skil Tarantino sebagai sutradara, tapi juga merupakan kontribusi besar dari DP Robert Richardson dan editor Sally Menke yang menjadikan KILL BILL VOL.1 a superbly well-made film.
Semua adegan action di-koreografi dengan sangat baik. Favorit saya adalah final showdown The Bride vs. O-Ren Ishii. Mau seheboh apa pun action di The house of blue leaves, ngga bisa menyamai intensitas duel di salju antara dua orang yang akhirnya menemui lawan yang sepadan sesama mereka. Pertarungannya yang berlangsung dengan cepat tidak bertele-tele, samurai style. Ngga ada itu romantisasi duel yang berlangsung keterusan. Justru yang berlangsung terlalu lama dan agak repetitif adalah adegan aksi The Bride melawan gerombolan “men in suit” alias gengnya Johnny Mo dan Crazy 88, yang seharusnya bisa jauh lebih pendek karena jadi malah sedikit mengganggu alur filmnya.
Dan tentu yang menjadi jiwa dari KILL BILL adalah soundtrack-nya, yang dipilih dengan sangat cermat dan penuh keanggunan dari musiknya sampai sound effects editing filmnya sehingga memberi suara yang sama dahsyatnya dengan visualnya. Sebelumnya saya kurang suka dengan soundtrack film yang terlalu mengandalkan comotan musik dari soundtrack film lain, tapi soundtrack KILL BILL saya sangat menyukainya.
Volume 2
Tapi KILL BILL juga bukannya tanpa masalah. Ketergantungan Tarantino pada gimmick untuk memberi bobot lebih karena kurangnya substansi, apakah memang perlu dibuat demikian? Mengacak-acak struktur narrative seperti banyak film sekarang kesannya terlalu dipaksakan. Adegan yang di-shot black & white dan anime sequence yang menceritakan origin O-Ren meskipun stylish tapi juga malah jadinya out of place. Dan, gimmick terbesar dari semuanya adalah kenapa harus dibagi jadi 2 film? Disinilah kelewatannya seorang Tarantino yang didukung oleh the big man himself. Dia ngga bisa merampingkan gadis pujaannya ini sehingga dari rencana awalnya membuat 1 film, ngga bisa karena sudah terlalu banyak lemak yang menggerogoti saking sayangnya. Apakah reaksi kita akan sama jikalau hanya ada 1 film KILL BILL, bukannya 2? Untuk menjawab selengkapnya, tampaknya kita harus menunggu yang Tarantino siapkan untuk Volume 2. Setidaknya kita tidak akan menyaksikan overload fighting sequence dalam satu film.
Persepsi banyak orang bahwa film KILL BILL adalah film yg sangat sadis, bloody dan kejam adalah salah kaprah. Kekerasan yg ditampilkan dalam KILL BILL tidaklah nyata, dan tidak menimbulkan real pain buat korbannya karena tidak dilakukan dengan penuh kedengkian atau kebencian yang tulus dan sesungguhnya. Kekerasan di film KILL BILL adalah cartoon violence. Violence yang di-stylized sedemikian rupa. Kalo ingin melihat real violence dalam film, violence yg dilakukan dengan atribut manusia yg sebenarnya, tontonlah film seperti DOGVILLE atau THE MAGDALENE SISTERS. Itu adalah violence yg menimbulkan cause dan effect. Membuat kita merasa dan berasa yg akan membuat segalanya jadi tidak sama lagi.
Status Tarantino yang digenggamnya saat ini memberinya nilai tambah bagi orang-orang dalam memandang film-filmnya, termasuk KILL BILL ini. Pasti beda, kalau saja KILL BILL dibuat bukan oleh Tarantino tapi oleh sutradara antah berantah. Jadi memang ada love affair dikalangan film geek dan sebagian film critics. Saya sendiri bukanlah big fan Quentin Tarantino. “A cool movie” belumlah cukup untuk menentukan bagus tidaknya suatu film, tapi KILL BILL lebih dari hanya sekedar “A cool movie”. Dengan KILL BILL VOL.1 menunjukkan Tarantino memang punya talenta dan keberanian untuk membuat film yang sangat apik dan mempunyai daya magnetik yang sangat tinggi sekaligus sangat personal, meskipun dengan segala ke-hip-an, ke-supercool-an, ke-flashy-an dan ke-indulgence-annya. Saya sudah nonton KILL BILL VOL.1 dua kali, dan saya menikmati keduanya sama baiknya. Bahkan pada tontonan kedua ada kepuasan yang lebih daripada yang pertama. Tapi apakah KILL BILL merupakan great film dan akan menjadi film klasik yang melegenda? Ada yang bilang iya dan ada yang biasa-biasa saja, tidak sedikit juga yang justru tidak menyukainya. Kalo saya, akan membiarkan sang waktu sendiri yang menentukan. Karena apakah saya akan menyerahkan diri sepenuhnya pada KILL BILL dan menjadi true fan dari Quentin Tarantino atau tidak, masih ada sisa setengah film lagi yang harus kita saksikan untuk menjadikan KILL BILL satu film yang komplit dan melihat seberapa jauh Tarantino sudah melangkah selama ini.
Film Rating (out of ****)
***1/2
Very Good
sher
October 21, 2003, 05:14
The Twins Effect
Film Director(s): Dante Lam (Chiu Yin)
Action Director(s): Donnie Yen Ji-Dan
Released: 2003 [Hong Kong]
Genre: Science Fiction, Sub-Genre: Horror
Cast: Gillian Chung (Yan Tung), Charlene Choi Cheuk-Yin, Ekin Cheng Yee-Kin, Josie Ho Chiu-Yee, Edison Chen (Koon Hei), Mickey Hardt, Karen Mok Man-Wai, Anthony Wong, Jackie Chan
Running Time: 107 mins. (approx.)
Sinopsis :
Reese, the vampire slayer, seorang pemburu vampire, memburu vampire dari eropa sampai asia. Helen, adik Reese, seorang gadis yang tomboy, saat putus dengan pacarnya diapun berkenalan dengan Kazaf, Pangeran Kelima dari Kerajaan Vampir, yang tidak pernah menghisap darah manusia, hanya meminumnya. Gypsi, partner baru Reese dalam menumpas vampir-vampir, menyukai Reese. Duke, vampir tua yang menumpas Kerajaan Vampir demi mendapatkan buku Devil's Knight yang menyebabkan vampir-vampir dapat berjalan siang hari.
Dimulai dengan perburuan Reese terhadap Duke yang menyebabkan kematian partner sekaligus kekasihnya. Kembali ke rumah, Reese mendapatkan partner baru, Gypsi. Sementara Helen, bertemu dan berkencan dengan Prince Kazaf, yang menempati gereja tua sebagai sarangnya.
Duke, yang sudah berhasil membunuh ke-4 pangeran lainnya, memburu Kazaf untuk mendapatkan 'kunci' pembuka Devil's Knight. Di lain pihak, Reese menyadari kalau Helen berkencan dengan vampir dan mencari Kazaf di sarangnya.
Bagaimana pertemuan kedua Duke dengan Reese??? Apakah Duke berhasil mendapatkan Devil's Knight??? Dan kelanjutan hubungan antara Reese-Gypsi dan Kazaf-Helen???
Komentar :
Ini satu lagi film bertemakan vampir yang muncul dari Hong Kong. Twins Effect menghadirkan bintang-bintang top Asia, Ekin Cheng sebagai Reese, Edison Chen sebagai Kazaf, Charlene sebagai Helen dan Gillian sebagai Gypsi. Tidak ketinggalan bintang tamu Anthony Wong, Jacky Chan, Karen Mok, yang meskipun muncul sebagai cameo, tapi mampu menarik perhatian penonton.
Dengan Donnie Yen sebagai pengarah adegan laga, nih film patut diacungin jempol ::up:: ditambah lagi adanya Jacky Chan dibalik layar.
Kostume nya juga OK, terutama untuk vampirnya. Paling suka sama gigi-gigi vampir Kerajaan. Mungkin yang dimaksudkan disini tuh vampir-vampir yang baik gitoo. Karena untuk vampir2 jahat (dari pihak Duke) tuh giginya taring semua'an. Sedangkan untuk Prince Kazaf, hanya gigi taringnya yang memanjang. Konon untuk membuat gigi ini budgetnya gede. Paling nggak suka pakaiannya Twins (Gillian en Charlene) terlalu ribet.
Edison Chen disini cakep banget. Kayaknya nggak ada jerawatnya deh. Mulus pokoknya.
Paling lucu pas adegan di pesta perkawinan Jacky-Karen, juga pas kejar2an ambulan ma vampir. Ngakak habis deh. Di dua adegan itu ada Jacky Chan, jadi bisa dibayangin dong kekonyolan Jacky.
Meskipun pada akhir film yang banyak berperan adalah Twins, patut ditonton nih film.
Rating : 8.5/10
Mithrandir
October 21, 2003, 05:23
DOGVILLE
DOGVILLE yang dituturkan dalam struktur episodik yang dibagi dalam prologue dan 9 chapter dan berdurasi 3 jam, dibuat dengan menggunakan seminimal mungkin elemen-elemen filmmaking, bercerita tentang seorang wanita misterius bernama Grace yang terdampar di kota kecil Dogville di pegunungan Rocky Mountains Amerika. Ia dibantu bersembunyi di Dogville oleh seorang pemuda baik hati dan terpelajar Thomas Edison (Tom) dari kejaran gangster yang mencarinya, yang semula Tom mendengar ada bunyi tembakan dari kejauhan. Terpesona oleh Grace, Tom membujuk Grace untuk tinggal di Dogville dan akan membantunya unttk bisa diterima oleh populasi kecil Dogville. Sedikit sedikit penduduk mulai bisa menerima Grace dan mengakuinya menjadi bagian dari Dogville. Tapi ketika polisi berulang kali mendatangi Dogville dan menyebarkan daftar buronan dengan nama Grace Margaret Mulligan, penduduk mulai resah dan akan tiba waktunya dimana semua kedok dan selubung terkuak membuka sifat asli dari penduduk Dogville dan sifat dasar dari manusia itu sendiri.
Bloody F*cking Wow! Ini adalah film yang memberikan gambaran lengkap seutuhnya, tidak setengah-setengah, mengenai berbagai sisi dan sudut pandang moral dan nilai dari sifat manusia. Bukan hanya eksploitasi terhadap yang lemah oleh mereka yang memiliki kekuasaan dan kekuatan, tapi juga bagaimana orang yang sebelumnya dianggap lemah bisa mengumpulkan kekuatan untuk diri mereka sendiri sehingga bisa melakukan apa yang ingin mereka lakukan, bila sudah tidak ada lagi yang perlu disembunyikan dan kesempatan terbuka lebar. Salah satu hal yang bikin beda dengan film Von Trier sebelumnya ada pada diri karakter utamanya (yang selalu wanita) Grace, yang bukanlah seorang wanita yang tidak berdaya, tapi punya kekuatan tersendiri dan memberikan keseimbangan yang setimpal dengan karakter-karakter lainnya yang lebih kuat darinya. Sehingga sisi gelap dari perikemanusiaan terungkap pada dua sisi manusia, si penindas dan yang tertindas, yang kuat dan yang lemah, tidak berat sebelah pada salah satu sisinya saja. Tema DOGVILLE adalah universal, bisa berlaku untuk siapa saja dan dimana saja. Tapi saya totally agree kalau Von Trier memang bermaksud untuk mengatakan “F*ck you, America!” dengan film ini (Lagu Young Americans-nya David Bowie terngiang-ngiang di benak saya dengan foto dari era depresi Amerika mengiringi end credits DOGVILLE).
Lars Von Trier sangat handal dalam menangani seorang aktris. Inilah kali pertama saya bisa benar-benar sepenuhnya mengapresiasi akting seorang Nicole Kidman dalam suatu film. Saya katakan bahwa ini adalah peran terbaik yang pernah dilakoni Nicole Kidman sampai saat ini. Apa sebenarnya yang istimewa dari Lars Van Trier dalam memperlakukan seorang big movie star, seperti halnya yang dilakukan Spike Jonze terhadap Meryl Streep di ADAPTATION, atau Paul Thomas Anderson terhadap Tom Cruise dan Adam Sandler di MAGNOLIA dan PUNCH-DRUNK LOVE, dibandingkan dengan misalnya, Stephen Daldry memperlakukan Nicole Kidman, Meryl Streep dan Ed Harris di film THE HOURS? Von Trier menganggap Nicole Kidman sebagai aktor yang harus digali potensi aktingnya sampai ke dalam jiwanya sehingga bisa menunjukkan talenta terbaiknya tanpa tudung movie star yang menyelimutinya, bukannya memperlakukannya sebagai seorang movie star yang selalu menuruti egonya serta mengedepankan status kebintangannya dalam rangka menyemarakkan “@ss kissing society”, sehingga membiarkan sang aktris/aktor tsb melakukan “chewing the scenery”, mengunyah setiap adegan biar dianggap melakukan akting yang menawan, seperti yang terjadi di film THE HOURS. Tidak hanya Kidman, supporting cast DOGVILLE juga menampilkan performa yang sangat baik. Bahkan untuk Paul Bettany, perannya di film ini bisa menghapus kesan saya yang kurang bagus terhadap dia di film A BEAUTIFUL MIND.
Betapa pun semua aktornya tampil gemilang, tetap DOGVILLE adalah pertunjukkannya Lars Von Trier. Dialah God di film ini. Nyalinya yang gede untuk menantang supremasi dengan film yang tidak tanggung-tanggung terjun ke dalam jurang kebobrokan manusia tanpa ampun dan belas kasihan patut diacungi jempol. Disinilah dimana ide begitu dominan dan powerful sehingga style pun menjadi tidak penting. Kenyataan bahwa style Lars Von Trier adalah begitu khas dan avant garde, semakin menunjukkan kehebatannya sebagai filmmaker. “Shoot the dog!”
Film Rating (out of ****):
****
Outstanding
Mithrandir
October 25, 2003, 07:06
The Game Ripley Plays
RIPLEY’S GAME adalah film noir tentang studi karakter yang meyakinkan. Karakter yang seelegan dan sepintar Tom Ripley, karismatik, dan cool dalam berbagai situasi apa pun. Motivasi karakter-karakter yang lainnya juga bisa dipercaya dalam melakukan tindakan mereka. John Malkovich adalah Tom Ripley. Tidak seperti THE TALENTED MR. RIPLEY, yang saya ngga bisa menerima karakter Tom Ripley diperankan Matt Damon, ngga cocok dan ngga bisa menghidupi karakternya. Bukannya Matt Damon aktor yang jelek, tapi dia ngga pantes aja meranin Tom Ripley. Lain dengan John Malkovich, pas dan kapasitas aktingnya bisa mengisi penuh karakter Tom Ripley dengan sangat baik yang di film ini digambarkan sebagai orang yang lebih matang, bijaksana dan kaya raya. Older, wiser and more talented. Demikian tag line film ini.
Yang juga patut mendapat perhatian adalah Dougray Scott, pemeran Jonathan Trevinny, seorang awam yang punya penyakit kronis terjebak dalam permainan Ripley dan Peter Reeves (Ray Winstone), seorang master manipulator seperti halnya Ripley, tapi tidak berada dalam level yang sama dengan Ripley, membuat Jonathan terombang-ambing karena kerapuhan sifat dan fisiknya. Dan ketika dia ditawari pekerjaan yang terlalu menggiurkan untuk ditolak, dia terbawa arus permainan Reeves yang mengeksploitasinya.Dougray Scott benar-benar menampilkan akting terbaiknya disini.
RIPLEY’S GAME adalah film yang lebih baik daripada THE TALENTED MR.RIPLEY. Dari cerita, Karakter-karakternya, dan juga aktingnya lebih real. Dibuat dengan style yang agak berbeda dari filmnya Anthony Minghella. Nuansanya lebih tenang dan suram.Yang sangat disayangkan adalah karena nama-nama cast dan crew-nya terasa asing bagi kebanyakan pemirsa, RIPLEY’S GAME sedikit sekali mendapat ekspos dan distribusi yang layak. Hanya karena tidak ada nama pemenang Oscar di filmnya tidak lantas kita acuhkan begitu saja. Too bad.
Saya memang tidak familiar dengan sutradara Liliana Cavani, bahkan mungkin baru denger. Biar pun begitu saya cukup terkesan dengan filmnya ini. Meskipun filmnya “kecil”, tapi saya bisa menikmatinya lebih daripada THE TALENTED MR. RIPLEY yang penuh keglamoran.
Film Rating (out of ****):
***
Good
Mithrandir
October 25, 2003, 07:09
Between Hell and Purgatory: HEAVEN 2nd viewing
“It’s as if nothing ever happened.”
Sekarang saya bisa lebih memahami kenapa 3rd act HEAVEN kesannya ngga nyambung dengan 1st act-nya. Sebenarnya bukannya ngga nyambung atau ngga berhubungan, tapi seperti kata Philippa (Cate Blanchett) di pertengahan film, “it’s as if nothing ever happened.” Dalam keadaan tertentu, kita yang merasa bersalah tentang sesuatu hal, akan dihantui oleh rasa bersalah itu, dan mencoba bagaimana caranya untuk membayarnya. Tapi bila keadaan itu berubah, dan kita dihadapi dengan kenyataan bahwa kita bisa meninggalkan itu semua dan memulai sesuatu dari awal lagi, bukankah itu tandanya kita “dimaafkan” atau bisa saja kita sudah pindah ke “dunia lain”, dunia dimana hal-hal yang membebani kita sudah tidak menjadi beban lagi. Dan bisa saja tempat itu adalah “heaven”.
Hal ini menunjukkan bagaimana bahwa secara ideologi HEAVEN punya pertautan dengan SOLARIS yang menelaah tema yang serupa. Apa yang menimpa Philippa Pacard di HEAVEN in some way juga dialami oleh Chris Kelvin (George Clooney) di SOLARIS. Meskipun apa yang mereka lakukan berbeda, tapi konsekuensi logis yang seharusnya mereka terima dari tindakan mereka tidak dieksplorasi lebih jauh selanjutnya. Dan planet SOLARIS di film SOLARIS sendiri bisa merupakan manifestasi dari heaven atau surga itu sendiri. Karena saya membandingkannya dengan SOLARIS, tapi jangan lantas dikira bahwa alur HEAVEN sama “lelet”nya dengan film itu. HEAVEN, meskipun alurnya tidak bergerak dengan cepat, karena sifatnya yang lebih contemplative daripada talkative, tapi tetap ada sense of control dan tetap membuatnya moving along tanpa terburu-buru. Setelah 2nd act filmnya, tidak terasa bahwa filmnya sudah mendekati conclusion-nya.
Saya belum sempet ngomongin Cate Blanchett. She can do no wrong dan Cate’s one of the greatest actresses working today. In my book, aktingnya Cate terbaik kedua hanya dibelakang Julianne Moore di FAR FROM HEAVEN untuk tahun 2002. Untuk menyaksikan kehebatan akting Cate tidak usah menunggu lama-lama, langsung dari awal film dimana karakter Cate, Philippa, seorang guru bahasa Inggris, pertama kali muncul sedang menyusun rangkaian bom sampai perjalanan menuju lokasi untuk diledakkan. Dengan minimal dialog, kita bisa perhatikan raut dan ekspresi wajahnya menunjukkan kekuatan dan ketakutan yang meyakinkan secara bersamaan. Bahwa dia akan melakukan suatu tindakan yang mungkin akan menjadi akhir dari hidupnya. Membuat saya bertanya-tanya kenapa cewe secakep ini mau melakukan hal spt itu. Sebelum akhirnya terjawab tidak lama kemudian saat Philippa menelpon polisi untuk mengakui perbuatannya yg akan mengebom seorang pengedar narkoba di kantornya. Philippa berusaha untuk hanya si pengedar narkoba saja yg menjadi korbannya, tapi apa daya, ternyata yg menjadi korban adalah 4 orang tak berdosa, bukannya si pengedar narkoba. Selanjutnya tidak kalah memukaunya akting Cate saat Philippa menyadari yang menjadi korbannya adalah 4 orang tak berdosa, shock dan rasa bersalah menyelimutinya sampai membuatnya collapse. From start to finish Cate is truly spellbinding.
Yang menemani Cate Blanchett hampir sepanjang film adalah Giovanni Ribisi, lawan mainnya di THE GIFT. Disini Ribisi memerankan seorang polisi muda Filippo yang saat ditangkapnya Philippa dan diinterogasi polisi, menjadi penterjemah dan jatuh cinta pada Philippa. Penampilan Ribisi tidak kalah baiknya, memperlihatkan kenaifan Filippo yang simpatik dan punya hasrat kuat untuk mengikuti kata hatinya. Ada semacam chemistry yang tidak lazim tapi romantic terjadi pada pasangan ini, ditunjang juga dengan keanggunan Tom Tykwer men-shot kedua orang ini bila ada dalam satu frame.
Berbicara mengenai HEAVEN, tidak bisa lepas dari visualnya yang sangat indah yang juga bisa kita nikmati tidak kalah baiknya di DVD (syukurlah masih banyak DVD disini yang merhatiin quality :D). Lansekap Italia dari perkotaan sampai suasana hamparan luas pedesaan ditangkap dengan puitis. Seperti memandang lukisan klasik Italia. Itu tadi, framing dalam penempatan orang-orang yang di-shot terutama Philippa dan Filippo, yang banyak memberi nuansa estetisnya
HEAVEN kalau dibandingkan dengan film Kieslowski, mungkin mirip dengan BLUE dari THREE COLORS TRILOGY. Mungkin lebih tepatnya semacam paradoks kali ya. Orang yg mengharapkan HEAVEN untuk menjadi seperti film Kieslowski sebelumnya menurut saya they’re missing the point. Yang harus diingat adalah skenario HEAVEN awalnya ditulis Kieslowski dengan rekannya Piesiewicz dengan maksud utk membuat trilogi baru yang (mungkin, menurut perkiraan saya) untuk menjadi pendamping THREE COLORS tapi dari ujung spektrum yang berbeda. Yang membuat mirip HEAVEN dengan BLUE, selain soundtrack-nya, adalah dari karakter utamanya itu sendiri, seorang janda yang baru ditinggal mati suaminya, dan bagaimana reaksi mereka menyikapi hal tersebut. Disinilah awal dari timbulnya paradoks. Philippa ingin membalas kematian suaminya (yang karena overdosis), dengan membunuh si pengedar narkoba yg adalah teman suaminya sendiri. Sementara Julie dari BLUE, berusaha untuk meninggalkan masa lalunya tanpa menyimpan memori sedikit pun, sebelum akhirnya membantu teman suaminya menyelesaikan karya musik suaminya untuk membebaskannya dari masa lalunya. Pada ending-nya, dimana di BLUE ada semacam ambiguitas yang terjadi pada Julie, apa dia bahagia atau dia masih sedih dengan masa lalunya? Apa dia sudah benar-benar “bebas”? Sementara di HEAVEN, ending-nya cukup jelas, meskipun ditunjukkan dengan simbolisasi dari judul filmnya yang menjadi real. Meskipun saya masih harus lebih memperdalam WHITE dan RED, bisa dibilang diantara ketiga film THREE COLORS my personal favorite adalah BLUE. Now, if only we could see HELL and PURGATORY to complete the exeperience of HEAVEN…Granted, Tykwer is no Kieslowski, but still…
Ngomongin film kaya HEAVEN, atau SOLARIS, for that matter, akan sampe pd kesimpulan kalo tipe film spt ini hanyalah disuka oleh sebagian kecil orang saja. Rekreasi singkatnya di bioskop 21 menunjukkan tidak lakunya film ini. Tampaknya akan semakin sulit saja mengharapkan film seperti HEAVEN berkunjung ke bioskop 21. Tapi, itulah gunanya DVD. Keep spinning those shiny discs!
Ada film yang karena berjalannya waktu atau repeated viewings mengubah apresiasi saya menjadi lebih suka atau malah jadi berkurang apresiasinya. Film seperti THE HOURS dan 28 DAYS LATER, yang sama sekali tidak saya duga sebelumnya, berada di kategori terakhir di atas. Tapi banyak juga yang masuk kategori pertama. Seperti HEAVEN, saya semakin love dan love dengan film ini even more. Saya mungkin orang yang tidak konsisten karena suka berubah dalam menilai sesuatu, tapi itulah art, persepsi kita bisa berubah tergantung perspektifnya. Dan dengan terpaksa saya harus mendepak salah satu film untuk memasukkan HEAVEN ke top ten films of 2002.
HEAVEN - Revised film rating (out of ****):
****
Mithrandir
November 01, 2003, 03:31
Ladies and Gentlemen…the SH*TBISCUIT!
Satu jam pertama SEABISCUIT dengan dominasi foto-foto depresi dan narasi dari suara bijak, lebih cocok disebut sebagai pelajaran sejarah di sekolah yang diajarkan dengan sangat membosankan. Dan bila dikira 1 jam selanjutnya bisa lebih baik karena ceritanya mulai sampai ke intinya, sudah tidak ada lagi yang bisa diharapkan selain perjalanan penuh penderitaan menuju cinematic hell, dengan segala sentimentalitas “overcomes everything” dan dialognya yang artifisial. “You don't throw away a whole life away just cause it's banged up a little“. Wuuiih! Itu baru satu contoh saja yang banyak dikutip dari film ini. Tunggu sampai akhir film dimana voice over Tobey Maguire mengiringi the triumphant victory, maka lengkaplah sudah. Jeez! At least it’s finally over.
Akuilah, film seperti SEABISCUIT adalah film yang tujuan utamanya dibuat untuk memanipulasi sedemikian rupa simpati pemirsa dan academy award members, meraih nominasi Oscar dan kalau bisa menyabet Best Picture sebagai pemuncaknya. Banyak contoh film seperti ini dan banyak diantara mereka yang sukses. A BEAUTIFUL MIND, THE HOURS, AMERICAN BEAUTY, SAVING PRIVATE RYAN, FORREST GUMP, SCHINDLER’S LIST, RAIN MAN, the list goes on. Tentu tidak semua film di atas jelek by any means of filmmaking standard, hanya saja tidak ada itu reaksi yang natural dari film-film tersebut karena terlalu di-forced, sugarcoated, fabricated, dan unreal. It’s a fake art and it’s a cheap way to win the audience’s heart. Salah satu tandanya adalah they’re not going to last long and will be forgotten in the dust. I’m gonna get a load of hate responses by saying this. Groovy! Each to his own, I guess.
Untuk bisa menjadi pemain utama di ajang Oscar, maka harus mencapai standar tertentu juga di kategori teknisnya (Cinematography, Art Direction, Costumes, Score, etc), sehingga berpeluang menyapu bersih Oscar. Dan SEABISCUIT memang bisa mencapainya. Nuansa dan suasana era depresi Amerika bisa ditampilkan dengan otentik diiringi soundtrack tipikal “americana” yang mendayu-dayu. Tapi seperti kebanyakan film-film yang disebutkan diatas, itu tidak lebih dari sekedar photogenic semata. It’s so easy in the eyes!
Jangan salah, kisah nyata Seabiscuit beserta orang-orang disekelilingnya memang mengagumkan. Tapi sayangnya Gary Ross tidak mampu mentransformasikannya ke dalam feature film yang layak dan sepadan tanpa embel-embel. Ross membumbui film ini dengan segala hal yang bisa dijejalkan biar terkesan jadi film epic dan membebaninya dengan simbolisasi bahwa seluruh Amerika berada di pundak seekor kuda yang dikondisikan underdog, padahal sebenarnya tidak demikian. Swimming in the river of denial, Ross & Co. are. Kenapa ngga bikin film yang lebih simple tentang balapan kuda saja? Karena masih belum cukup untuk bisa mengais Oscar dan memenangkan hati rakyat (Amerika). Duh…Untuk nambah insult to injury, banyaknya keluhan untuk membuat film yang lebih smart dan mature daripada buat ABG yang tidak dirilis hanya diakhir tahun saja, Hollywood malah menjawabnya dengan film kaya gini. Blah…Sama aja weuy! If films like SHITBISCUIT or COLD MANTEN, dare to challenge the mighty return of the king, they’ll be crushed to bits! Glory to the king! Glory to the king! Oh yeah, baby!
SEABISCUIT grade (out of ****):
0 stars
Zero – ouch! No mercy! No mercy!
P.S:
Buat yang merhatiin setiap review film saya mungkin bertanya-tanya kenapa saya sedikit sekali memberitahu sinopsis ceritanya, bahkan tidak sama sekali? Karena selain saya males, saya lebih suka langsung to the point dan mengomentari seputar filmnya. Nyari sinopsis banyak kan di thread laen. Dimana-mana juga ada. :)
Mithrandir
November 01, 2003, 03:35
MATCHSTICK MEN
Money is just like a foreign film without subtitles… :D
Untuk menjelaskan MATCHSTICK MEN, cukup adalah merupakan film yang, semakin sedikit kita tahu seluk beluk ceritanya, semakin banyak yang akan kita dapatkan dari filmnya. Ini adalah tipe film yang general filmgoer akan menganggap terlalu “weird” sementara kalangan snobby menganggapnya terlalu “Hollywood”. Yang bisa saya katakan adalah, keduanya sama-sama salah. They don’t know sh*t about how good this film is! Saya ngga akan membicarakan terlalu men-detil film ini. MATCHSTICK MEN is a very good film dan saya sangat menyukainya.
Walaupun cerita dasarnya adalah tentang grifters/ con men (orang yang kerjaannya tukang nipu orang lain dengan berbagai cara), one that made the film won me over no matter what its shortcomings adalah relationship karakter-karakternya. Jarang sekali saya merasakan seperti yang saya rasakan di MATCHSTICK MEN terjadi di film Hollywood kebanyakan. Bahwa ada ketulusan yang tidak tergambarkan dari hubungan karakternya Nicolas Cage dengan Sam Rockwell, dan terutama Nicolas Cage dengan Alison Lohman, baik dari interaksi maupun dialognya. It breaks my heart because it felt so real. Dan dengan ending-nya, yang ada sebagian orang salah mengartikannya, menurut saya itulah justru yang membuat mereka menjadi “human”, bukan hanya cool characters dari suatu film.Yeah, life sucks! Tapi tidak bisakah sesekali kita meng-embrace kehidupan? Apa setiap great film harus selalu melibatkan death dan murder? Atau Revenge? Good film tidaklah harus selalu bersifat dark, grim, bleak, relentless, unforgiving, violent, cruel, tragic, sebut saja setiap adjective yang sesuai, hanya karena dianggap terlalu “Hollywood”. That’s bullsh*t. Bahkan Hollywood juga bikin film bagus once in a while. I love films seperti KILL BILL dan DOGVILLE, tapi itu tidak menghambat saya untuk menyukai film-film lainnya yang berbeda apabila memang film tersebut bagus (baca: film Hollywood umumnya).
MATCHSTICK MEN memang tidaklah flawless. Toh kita juga akan jarang menemukan kesempurnaan di film lain, bahkan di film klasik sekalipun. Kendala utama MATCHSTICK MEN ada pada Ridley Scott sebagai sutradaranya. Kalo dari skenario filmnya sendiri cukup baik. 2 plot cerita dikonstruksi dengan alur yang cermat dan ketat. Aktingnya juga salah satu highlights film ini, dengan Nicolas Cage, Sam Rockwell dan Alison Lohman sebagai pemeran utama dan pemeran pembantu lainnya tampil sangat memuaskan. Tapi dari penyutradaraannya, style Ridley Scott yang sudah banyak membuat film action (BLACK HAWK DOWN, HANNIBAL, GLADIATOR) agak terbawa-bawa ke film ini yang notabene bukanlah film action, sehingga memberi kesan sedikit terburu-buru dimana seharusnya bisa lebih intim dalam menggali plot dan karakternya. Tapi itu hanyalah minor saja, karena MATCHSTICK MEN tetap adalah film yang memikat. Dan melihat Ridley Scott dan Nicolas Cage tampil di film seperti ini, daripada di just another blokbuster adalah pertanda baik. Kita juga pastinya bisa menyaksikan lebih banyak lagi the talented Sam Rockwell dan Alison Lohman di masa datang. Great, keep ‘em coming.
Grade (out of ****):
***1/2
Very Good
Mithrandir
November 01, 2003, 03:46
Killing the bills: KILL BILL VOL. 1 third & fourth viewing madness
Aaargh! God…I can’t help it! I’m so obsessesd with a Tarantino flick! Oh no, I’m cursed! I’m cursed! Somebody, help me! :D
Revenge is never a straight line. So is KILL BILL…That’s pretty much explain the narrative structure of KILL BILL, doesn’t it? Yang bikin saya tetep menikmati KILL BILL keempat kalinya dengan tidak kalah asyik dari sebelumnya, kerena that goddamn Tarantino jenius dalam mengatur flow alur filmnya. Walaupun udah berkali-kali nonton masih saja ada sense of excitement-nya yang dinamis, nunjukin si Tarantino bener-bener udah menyusunnya dengan cermat dan akurat dari mulai skenarionya. Gimana bisa bikin alur film yang mengalir kaya air seperti ini? Apalagi dengan banyaknya referensi film yang Tarantino campur adukkan. Bahkan showdown at house of blue leaves masih saja menarik untuk disimak. Saya sempat mengeluh saat pertama nonton dengan pola struktur ceritanya yang non-linear, tapi dengan repeated viewings terbukti bahwa hal itu salah satunya akan menjaga filmnya tetap fresh, and it’s not an irritating gimmick after all. It’s a gimmick that works to enhance the already established film, like ADAPTATION or TALK TO HER, for instance, not a gimmick that used to define the film itself like the highly overrated MEMENTO. Yeah, I know, I know that non-linear and time shifting structure is Tarantino’s trademark, but I’m sick to death that some filmmakers these days used that just for the sake of gimmick and being cool like that MEMENTO flick. Not here, Tarantino definitely knew what he’s doing. You can’t apreciate it any better unless you watch KILL BILL multiple times. It shows! Terakhir nonton film 4 kali dalam waktu berdekatan hampir setahun lalu yaitu nonton THE TWO TOWERS…Man oh man!
Gitu juga dengan anime sequence-nya. Film ini adalah untuk homage ke semua genre yang Tarantino adores, jadi chapter 3 adalah homage-nya untuk anime. Fine, so be it! I don’t have to b*tching about it anymore. It gets the job done. Very well done, in fact! Bahkan Tarantino juga tidak lupa dengan Star Trek! The Klingons would be proud!
Hmm, apalagi nih?
I love the cast! The ladies…wow! Tarantino surely knows how to “treat” a lady! Uma Thurman, dia udah melangkah jauh dari eranya DANGEROUS LIAISONS, tapi tetap innocence dan beauty-nya tidak luntur, malah semakin matang dan strong sebagai aktris. Lucy Liu, saya tidak pernah begitu meyukainya sebelumnya. Here, I care for her! Daryl Hannah, gorgeous and menacing at the same time! Julie Dreyfus, pretty lady, The Bride sendiri yang bilang! Chiaki Kuriyama, well, saya bukanlah fans terbesarnya, tapi melihat bad@ss anime schoolgirl comes to life, how fun! Vivica Fox, my least favorite, though her scenes were too short, but enough. Untuk the male ones, Sonny Chiba memang tidak begitu saya kenal seperti halnya saya mengenal Toshiro Mifune (the greatest samurai actor ever), tapi Chiba juga punya karisma yang kuat sebagai samurai. Dan David Carradine! Nah ini dia, masih ingat dong dengan serial Kung Fu-nya yang dulu disiarin RCTI? Man, I missed those days, the great days of Indonesian television long gone! Tampangnya Carradine ngga nongol, tapi kehadirannya tetap terasa sepanjang film, dan ketika dia mengucapkan the last words di ending-nya, bang bang!
Ok, cukup disini saja dulu muji-mujinya, I’m gonna save the rest for VOLUME TWO later…:D I’m convinced that KILL BILL akan mendapat tempat di my top ten films dan soundtracks of 2003. Bahkan kayanya soundtrack yang bisa melampaui kedahsyatan soundtrack KILL BILL cuman dari sebuah film dari dunia tengah. Saya udah denger potongan kecil soundtrack ROTK, it’s amazing and spectacular! Sadly is, it’s true that it’s going to be tragic!!! Oops, wrong topic. Kalo VOLUME 2 sama baiknya dengan VOULME 1, maka saya akan menggabungkan 2 Volume KILL BILL menjadi satu film dan menyatakannya sebagai masterpiece, sama seperti LORD OF THE RINGS dan menempatkannya among the elite in my top 100 films of all-time. Now, where’s that little movie called ZATOICHI, damnit? I want to see it now! Oh no, here I go again…
Hey, Jack Valenti! Catch me! Catch me! I violated your screening ban! Hahaha…..Oops!
Mithrandir
November 08, 2003, 05:33
CITY OF Tricksville
Fernando Meirelles sudah jelas memang pandai dalam membuat penonton terserap ke dalam dunia CITY OF GOD, dunia yang dengan subject matter-nya saja sudah bisa bikin pusing, ditambah dengan penerapan segala filmmaking tricks yang ada di muka bumi ini oleh Meirelles untuk memompa adrenalin dan testosteron kita semua yang menontonnya. Begitu mudahnya trick-trick ini (penyutradaraan Meirelles) menjadi “penguasa” yang sebenarnya di CITY OF GOD. Apakah Meirelles benar-benar setia dengan “based on true events” sepenuhnya, atau seperti banyak film lainnya yang mengaburkan batasan antara fiksi dan realita untuk membuat filmnya lebih cinematic? Tidak mengherankan juga bila akhirnya Meirelles keasyikkan dan keterusan sehingga membuat filmnya kepanjangan (seharusnya bisa 15 menit lebih pendek), menjadi redundant, repetitif, dan kehilangan fokusnya. Apa perlu menampilkan adegan yang sama terus menerus, misalnya anak-anak yang saling tembak-menembak, kita tahu hal itu salah, tapi pengulangan seperti ini selain malah merendahkan intensitas filmnya, berkesan mengeksploitasi hal yang sudah jelas.Lalu, apa kita harus “dipaksa” untuk menerima voice over Rocket sebagai guide karena dia adalah orang yang paling “manusiawi” di CITY OF GOD? Padahal Rocket sendiri adalah karakter yang sangat pasif. Film ini terlalu sensasional for its own good dan mengakibatkan penontonnya shock atau histeris, terkaget-kaget tidak tahan atau terhipnotis penuh kekaguman dengan persembahan Meirelles ini. Buat yang tahan dengan apa yang terjadi, film ini memang menghibur. Saking menghiburnya sehingga kita bisa tersesat in the wilderness of CITY OF GOD dan kehilangan pegangan moral dalam menontonnya.
CITY OF GOD disebut-sebut adalah salah satu film terbaik, banyak yang memberinya review yang sangat positif, menyebutnya sebagai film yang “penting” yang akan dipelajari frame by frame bagaimana Meirelles membuatnya sehingga mungkin akan melahirkan generasi baru filmmakers yang terinspirasi. Setelah saya dimanjakan oleh Quentin Tarantino dengan penyutradaraanya yang eksplosif tapi tetap terkontrol dan penuh keeleganan di KILL BILL, saya melihat Meirelles sangat ambisius dengan filmnya ini tapi tidak mencapai target ambisinya itu, simply put, dia terlalu show off. CITY OF GOD terlalu problematic untuk disebut sebagai great film. Kalau saja Meirelles bisa lebih mengontrolnya, seperti kalo Marlon Brando akan bilang, “this film could have been a contender”.
Grade (out of ****):
**1/2
Flawed
Mithrandir
November 08, 2003, 05:42
Return to DOGVILLE
Saya kadang-kadang berada di posisi dimana selalu menonton berulang-ulang film favorit saya. Begitulah halnya dengan DOGVILLE. Tidak masalah buat saya untuk menonton 2,5 jam lagi sebelum mencapai ke ending DOGVILLE, yang simply is the best movie ending so far this year (bahkan ngelewatin ending KILL BILL, yang juga saya suka banget). Bukan berarti DOGVILLE bagus hanya karena ending-nya saja, tapi justru itu, saya suka film seperti ini, film yang meluangkan waktu secukupnya untuk membangun cerita dan karakter-karakternya secara proporsional tidak terburu-buru tapi tetap tahu diri (tidak seperi CITY OF GOD) sehingga ketika sampai di ending-nya, everything will be justified. DOGVILLE yang saya tonton durasinya hampir 3 jam, tapi saya tidak merasakan ada yang terlalu dipaksakan atau dilama-lamain, tidak seperti CITY OF GOD yang meskipun durasinya cuman 2 jam lebih tapi serasa kepanjangan dan berlebihan. Different strokes for different folks.
Setelah nonton DOGVILLE kedua kalinya memang cerita ini tidak hanya bisa ditujukan untuk bangsa Amerika saja. Malahan Indonesia juga bisa! Tema DOGVILLE yang tentang sifat manusia yang tidak bisa menghargai/ menerima dengan tulus orang asing atau pendatang yang bisa mengancam superioritas dan eksistensinya di daerahnya itu, atau malah mengeksploitasinya bila ada kesempatan, tidak bisa lebih mirip lagi dengan Indonesia. Mungkin terlalu ekstrim kedengarannya, but it happens everywhere!
Ada baiknya juga Nicole Kidman tidak lagi memerankan Grace di dua sisa trilogi U, S an A ini, yang akan diberi judul MANDERLAY dan WASINGTON. Saya yakin Lars Von Trier bisa menemukan aktris lainnya yang tidak kalah bagusnya. Saya harap bukan aktris baru tapi aktris yang punya range sama dengan Nicole Kidman, misal seperti Cate Blanchett (hehehe…) atau Naomi Watts. Ketiganya adalah Australian. Hmmm…
Mithrandir
November 08, 2003, 05:45
INFERNAL AFFAIRS
Saya tidak begitu menyukai Hong Kong cinema in general (kecuali tipe filmmakers seperti Wong Kar Wai), soalnya kebanyakan film mereka menempatkan ke-cool-an dan ke-flashy-an diatas yang lainnya. Ngga ada salahnya juga sih buat yang suka, toh bisa menginspirasi orang kaya Quentin Tarantino (ada apa nih saya nyebut-nyebut nama Tarantino melulu?). Maka saya termasuk yang telat untuk nonton film hit Hong Kong yang sudah menelurkan sekuelnya (yang tentu saja adalah prekuel) dan dibeli rights-nya oleh Hollywood, INFERNAL AFFAIRS.
Hampir saja, nyaris, saya akan menyukai film ini, kalau saja bukan karena ending-nya yang sentimental dan stereotip. Belum lagi sub-plot mengenai istri dari si karakter Andy Lau yang lagi bikin cerita novel yang mirip dengan cerita si karakter Andy Lau sendiri. Sudah terlalu sering saya lihat di film lain. Dua pertiga INFERNAL AFFAIRS memang sangat hebat, membuat saya on the edge of my seat, ditunjang penampilan Tony Leung yang memberi akting terbaik di film ini. Tapi ketika 3rd act-nya mulai memasuki ending-nya, semuanya jadi berbalik dan mengecewakan saya. Ending-nya terlalu murahan dan tidak sepadan dengan apa yang sudah saya tempuh sepanjang filmnya. Screnwriters-nya terlalu bagus dalam menyusun ceritanya sehingga mereka sendiri terkesan tidak tahu cara yang sama bagusnya untuk mengakhirinya, selain mencari rute paling aman dan mudah. Kenapa ending-nya dibuat demikian, yaitu untuk meraih simpati penonton, dan itulah kenapa film ini menjadi hit besar. It’s a crowd-pleaser. Ending seperti itulah yang saya sebut sebagai “typical Hollywoodian Ending”. Too bad. Padahal saya pengen banget menyukai film ini sepenuhnya. Tapi ngga bisa. It’s that goddamn ending!
Mark my words: Film ini ngga akan masuk nominasi Best Foreign Languange Film Oscar.
Grade (out of ****):
**1/2
Flawed
Mithrandir
November 08, 2003, 05:47
WHITE OLEANDER
Chick flick. PG-13. Weepy drama. Coming of age.
Bagaimana kalo suatu film adalah merupakan gabungan dari elemen-elemen diatas? Biasanya film tersebut sudah divonis bukan “film beneran”, alias film yang lebih cocok diputar di TV bukan di bioskop. Sampai tingkatan tertentu, WHITE OLEANDER memang bisa dikategorikan seperti itu, sesuai dengan elemen-elemen tersebut. Tapi apa cocok kalau lantas memvonis WHITE OLEANDER sebagai just another movie for TV?
Apa pun yang menjadi permasalahan di film WHITE OLEANDER, sudah jelas bukan dari akting para aktornya. This is a well-acted drama. Berkisar dari cukup baik sampai sangat baik. Tidak diragukan Michelle Pfieffer tampil terbaik di film ini. Perannya sebagai Ingrid Magnusson, seorang artist yang sangat berbahaya, bukan dari tindakannya secara fisik tapi dari pikiran dan perkataannya, dan juga “kecintaannya” pada darah dagingnya Astrid. Michelle Pfieffer dan Renee Zellweger, yang lebih cocok disebut cameo adalah favorit saya di film ini. Zellweger juga tampil sangat baik memerankan seorang aktris yang kurang percaya diri. Yang lainnya juga tidak kalah baiknya. Sekali lagi Alison Lohman menunjukkan bahwa dia talenta baru yang siap menggebrak (setelah WHITE OLEANDER dan MATCHSTICK MEN, bisa dibilang saya ngefans sama Lohman). Minggir Kirsten Dunst, Natalie Portman, there’s a new girl in town! Semoga peran-perannya Alison Lohman di masa datang bisa sesuai dengan talentanya!
Yang paling mengganggu dari WHITE OLEANDER adalah skenario filmnya, film ini tidak tahu mau bagaimana sebenarnya meng-handle ceritanya. Kembali ke rating film, WHITE OLEANDER akan lebih compelling kalo tidak sungkan-sungkan untuk mengusung rating R, bukan PG-13, dalam mengolah ceritanya. Ada sebagian hal yang agak dipaksakan dan kurang realistik dari penggambaran masalah foster homes dan seputarnya, meskipun hal itu bisa sedikit terbantu oleh akting para aktornya. Dialognya juga kurang natural. Film ini tidak bisa mengeluarkan seluruh potensinya karena batasan-batasan tersebut. Akan lebih menarik kalau kita bisa lebih banyak melihat aksi Ingrid, terutama dalam hubungannya dengan anaknya Astrid. Sekali lagi ini lebih ke masalah skenarionya, atau mungkin dari novelnya sendiri udah seperti itu? Karena terus terang cerita WHITE OLEANDER tidak sepenuhnya believable sebagai film drama.
Satu karakter yang sama sekali tidak berguna adalah yang diperankan Patrick Fugit (masih ingat ALMOST FAMOUS?), masalahnya adalah saya sudah tahu pertama kali melihat karakter ini muncul akan menjadi seperti apa ending filmnya. Itulah salah satu yang bikin film ini disebut “TV movie of the week”. Saya rasa bukan spoiler kalo dikatakan pada akhirnya Astrid akan pergi bersama karakternya Patrick Fugit. It’s so predictable. Bukannya karena kita sudah bisa menebak dari awal film bahwa ending-nya yang ditampilkan dengan voice over Astrid. Simply because it’s just suck! Coba kalo ending-nya adalah akhirnya Astrid menjadi seperti ibunya Ingrid, it would be a lot better. Tahu kan film APT PUPIL-nya Bryan Singer yang diadaptasi dari novel Stephen King? Singer mengubah ending dari novelnya menjadi coming of age bullsh*t crap, kalo tetap seperti novelnya, APT PUPIL akan jadi film yang lebih compelling. Saya ngga tau apa ending WHITE OLEANDER sama seperti novelnya atau tidak, tapi sekali lagi ending film ini sucks! Disinilah bagian “coming of age” menjadi elemen terbesarnya.
Beneran saya suka film ini, mau itu dibilang chick flick juga kek, masalahnya saya cuman suka sebagian filmnya saja. Kenapa tanggung banget sih nih film? Bagian yang saya suka dari WHITE OLEANDER itu saya suka banget, seperti setiap adegan Ingrid dan Astrid sebelum 3rd act-nya, hubungan karakter Renee Zellweger sebagai ibu angkat dengan Astrid, tapi selebihnya, adegan yang saya ngga suka, bener-bener ngga saya suka banget. Yah, mungkin WHITE OLEANDER memang TV movie of the week after all, tapi dengan bintang-bintang terkenal sebagai pemerannya.
Grade:
**1/2
Flawed
Mithrandir
November 08, 2003, 05:49
BLUE CAR
Ternyata 2 film yang saya tonton berurutan, BLUE CAR dan WHITE OLEANDER, secara kebetulan atau tidak, punya banyak kesamaan. Dari judulnya aja sama-sama ada “warnanya”. Dua-duanya menyangkut tentang coming of age seorang gadis yang berusaha menemukan kasih sayang seutuhnya dari orang-orang di sekitarnya. Bedanya, BLUE CAR lebih indie-ish dan personal buat writer director-nya Karen Moncrieff. Nonton film ini kaya sedang membaca diary seseorang yang sedang menumpahkan isi hatinya. Entahlah apa ini pengalaman pribadi Moncrieff atau apa, tapi terasa bahwa ini jelas sangat personal sekali, mungkin Meg Denning yang diperankan Agnes Bruckner sebagai karakter utamanya adalah alter ego dari Karen Moncrieff sendiri.
Film personal seperti ini bisa terlalu pretentious, dan sebagai suatu film BLUE CAR terlalu terbawa-bawa oleh “diary”-nya Karen Moncrieff ini, juga terlalu banyaknya adegan-adegan yang melodramatic tidak banyak membantu untuk mengangkat film ini karena hanya untuk menggulirkan ceritanya biar ngga mandek dan malah agak klise. Seperti WHITE OLEANDER, BLUE CAR juga sebenarnya punya potensi untuk menjadi film drama yang baik.
Grade:
**
Mediocre
charlize
November 12, 2003, 03:24
Freaky Friday
Jamie Lee Curtis .... Tess Coleman
Lindsay Lohan .... Annabell Coleman
Mark Harmon .... Ryan
Harold Gould .... Grandpa
Chad Murray .... Jake (as Chad Michael Murray)
Stephen Tobolowsky .... Mr. Bates
Christina Vidal .... Maddie
Ryan Malgarini .... Harry Coleman
Cerita romansa keluarga yang dikemas apik dan dimainkan dengan manis dan menarik oleh Jamie Lee Curtis sebagai Tess ... seorang psikiater terkenal yang baru saja merelease bukunya untuk public.
Tess adalah seorang janda yang mempunyai dua orang anak, satu cewe yang menginjak abg, Anna dan satu lagi cowo yang masih kecil tapi nakalnya minta ampun Harry
Harry dan Anna diceritakan amat sangat suka bertengkar ... Harry suka menjahili si kakak Anna sementara Anna juga suka sekali marah dan menghukum Harry
Anna pandai bermain gitar dan mendirikan sebuah band yang terdiri dari 2 teman cewenya dan 2 teman cowonya ...
Sementara Tess telah punya tunangan baru Ryan ... dan berencana untuk menikah segera
Anna memasuki tahap ABGnya dan sering tidak bisa saling mengerti dengan sang mama ... akibatnya pertengkaran sering terjadi ...
Puncaknya adalah bentroknya kesempatan audisi pertama band Anna dengan acara perkenalan pertunangan sang mama
Ditengah dinner bersama kakek, harry dan ryan ... tess dan anna bertengkar dengan hebatnya di sebuah restoran china yang empunya resto mengetahuinya dan berusaha mendamaikan dengan memberikan 2 buah fortune cookies yang ternyata
menyebabkan gempa besar ...
keesokan harinya .. mereka masing2 terbangun dari tempat tidurnya dan menemukan bahwa diri mereka telah tertukar!
jiwa Tess didalam tubuh Anna dan jiwa Anna didalam tubuh Tess!
ceritapun bergulir menceritakan cara mereka memahami orang lain, dengan menjadi orang lain tersebut tess mencoba memahami keadaan anna mengapa sampai berjiwa pemberontak, sering menerima hukuman, sampai mengapa
dia mencintai Jake, cowo sekolah yang ternyata oke punya :D
sementara anna juga mencoba memahami bagaimana dia menganggap hidup sang mama itu sempurna padahal tidak
dan mengapa sang mama mencintai Ryan yang dianggap tidak mencintai anna ...
Cerita ... tentu saja berakhir hepi ending ...
tapi makna dan inti cerita ini adalah bagus sekali
apabila dirimu iri dengan keadaan orang lain
apabila dirimu bingung mengapa tidak ada orang bisa memahami kita coba ... jadilah orang lain dan coba pahami keadaannya, niscaya kita akan tau mengapa ;)
rating: 8 out of 10
*bagus dan menarik sekali buat refreshing dan santai ;)
aleks75012
November 15, 2003, 21:54
THE HUMAN STAIN
Sutradara : Robert Benton
(Skenario berdasarkan buku karya Philip Roth)
Anthony Hopkins, Nicole Kidman, Gary Sinise, Ed Harris, Wentworth Miller
Coleman Silk, profesor sastra, mengundurkan diri dr univeritas karena dituduh rasis. Lalu ia menjalin hubungan dengan wanita muda bersuami, Faunia , yang punya masa lalu yang pedih. Tapi Coleman sendiri juga punya rahasia besar dalam hidupnya yang puluhan tahun ia pendam.
Resiko besar sebuah film yg memasang bintang kelas satu dalam drama (yg maunya) kelas berat, adalah menjadikan film itu ajang adu akting seperti dlm “The Human Stain”, dimana dua pemain itu sayangnya tidak ada yg menang.
Hopkins dan Kidman tidak ada chemistry!!! Agak ganjil melihat mereka berduaan, beradegan ranjang dan berdialog intim. Tapi anehnya, jika mereka tidak bertemu dalam satu scene, Hopkins dan Kidman tampil sangat baik (ini kekurangan nomor 1 dr film ini, yang berasal dari porsi peran Kidman yg tidak proporsional dengan inti cerita secara keseluruhan).
Dan kalau saya berandai-andai jadi sutradara atau produsernya, peran Kidman lebih tepat diberikan ke aktris yg relatif kurang dikenal, atau mungkin ke Laura Linney, Kate Winslate misalnya.
Sayangnya juga saya belum membaca buku karya Philip Roth itu (yang katanya sangat bagus), mungkin karena itu ada beberapa “gap” saat menonton film ini karena ada banyak nuansa dan informasi yang hilang.
*Perhatian, tulisan berikut mungkin terdapat sejumlah SPOILER*
Isu rasisme dan penolakan identitas , dimana Coleman ternyata seorang keturunan kulit hitam, namun mempunyai fisik sangat kulit putih, adalah bagian inti dan pesan film ini yang kalau digali lebih dalam akan menjadi sangat bagus.
Sayangnya di film, kisah cinta Coleman dengan Faunia menjadi berlama-lama (kekurangan nomor 2) , sehingga ada kesan sutradara (dan mungkin produsernya) mau menonjolkan porsi peran Kidman.
Dari sudut cerita, Peran Kidman lebih tepat sebagai peran pembantu! Jika Peran Kidman dipangkas, dan kisah kilas balik Coleman muda (yg diperankan sangat baik oleh pendatang baru Wentworth Miller) lebih diperbanyak, mungkin film ini akan menjadi salah contoh terbaik, bagaimana seorang manusia menolak jati dirinya, karena tekanan psikologis dan masyarakat yang rasis. Juga sejauh mana manusia itu bisa menyimpan rahasia terbesar dalam hidupnya.
Tapi Robert Benton (sutradara “Kramer vs. Kramer” dan “Places in The Heart”) dengan baik menggabungkan flashback dengan masa sekarang, sehingga film ini masih cukup layak tonton.
Rating: 5,5 out of 10
sher
November 18, 2003, 05:00
Infernal Affairs II
Edison Chan, Shawn Yu, Anthony Wong, Eric Tsang, ....
Tentang Ming dan Yan, 2 orang anak muda yang menyusup ke organisasi musuh, karena keadaan yang memaksa. Ming karena telah membunuh bos mafia paling top se Hongkong, Yan karena nasibnya yang buruk, sehingga memilih menjadi mata2 daripada dikeluarkan dari kepolisian.
Tentang Nin, keluarga mafia yang paling berkuasa di Hong Kong. Karena kematian sang kepala keluarga, hampir menimbulkan kekacauan dunia triad. Tentang anak Nin yang membalaskan dendam ayahnya.
Tentang Mary yang membunuh demi suaminya. Tentang Wong dan ambisinya menangkap dan memenjarakan Nin.
Film Infernal Affairs II ini merupakan prekuel dari INFERNAL AFFAIRS, dimana Edison Chan dan Shawn Yu memerankan Ming dan Yan di masa muda.
Cerita mengenai mafia/triad Hong Kong disini terlalu rumit dan hampir nggak masuk akal, ditambah Yan yang disini diungkapkan merupakan anak tiri dari mafia top HK. Ditambah lagi akting Shawn Yu yang tidak selevel dengan Tony Leung sebagai Yan.
Di film ini yang aktingnya cukup ok adalah Karina Lau sebagai Mary, Eric Tsang, dan bos mafia Nin.
Rating : 7.5/10
sher
November 18, 2003, 05:14
Running on Karma
Andy Lau, Caecilia Cheung
Tentang seorang biksu yang dapat melihat 'karma' seseorang, yang karena kematian 'temannya' meninggalkan kuil. Bertemu dengan polwan dan terlibat dengan kasus berat. Yang diketahui juga, bahwa polwan tsb akan mati karena kenal dengan dirinya.
Andy Lau disini tampil sebagai biksu dengan otot yang luar biasa besar. Sehingga kepalanya tampak aneh ;D ;D
Caecilia Cheung sebagai polwan teman Andy. (Sorry namanya di film lupa semua'an).
Di awal film ini, cerita masih bergulir dengan normal, tetapi setelah penyelesaian kasus pertama, cerita menjadi semakin aneh, dan terlalu dibuat2. Mungkin untuk menunjukkan karma Andy dan Caeci yang saling berkait.
Kecewa berat nonton film ini :argg
Rating : 5.5/10
sher
January 03, 2004, 04:48
The Last Samurai
Directed by : Edward Zwick
Writing credits (WGA) : John Logan (story) & John Logan (screenplay)
Genre: Action / Adventure / Drama / War (more)
Cast :
Ken Watanabe .... Katsumoto
Tom Cruise .... Nathan Algren
Tony Goldwyn .... Colonel Bagley
Masato Harada .... Omura
Timothy Spall .... Simon Graham
Hiroyuki Sanada .... Ujio
Koyuki .... Taka
Seorang veteran perang, Kapten Nathan Algren, dipekerjakan Kaisar Jepang untuk melatih tentaranya dengan persenjataan modern. Berhadapan dengan para samurai pimpinan Jendral Katsumoto, Kapten Algren tertangkap dalam bentrokan antara kedua belah pihak.
Nathan Algren, diharuskan untuk tinggal di desa samurai tersebut sampai Musim Semi. Disini dia mempelajari semangat bushido, yang menjunjung tinggi kehormatan diri sampai mati.
Menceritakan semangat Kapten Algren untuk tetap hidup, yang berbeda dengan samurai yang menjunjung tinggi kehormatan dirinya, yang tidak menerima kekalahan apapun.
Film ini, 1/2 durasinya berlokasi di desa samurai, menceritakan kehidupan para samurai sehari-hari, ditambah dengan pohon sakura yang berbunga, gemercik air, suara para samurai yang berlatih pedang. Dimana para wanita mengerjakan pekerjaan rumah tanpa dibantu oleh para lelaki.
Dibeberapa dialog, Tom Cruise menggunakan bahasa Jepang, yang kelihatan cukup bagus (gw nggak ngerti bahasa jepang), tetapi di film ada satu hal yang aneh, diawal2 anak Jendral Katsumoto, tidak bisa bahasa Inggris, tetapi di tengah film, nih anak bicara Inggris dengan amat sangat lancar.
Pemeran Kaisar Jepang, kurang berwibawa. Harusnya meskipun muda tetap harus berkesan. Tetapi pas gw nonton, kesannya.. wah masih anak SMP or SMA.
Rating : 8/10
Kevin_blaze
January 08, 2004, 11:14
30 Hari Mencari Cinta (2004) [National Movies]
It's a mixture of a tiny bit of Lost and Delirious and The Sweetest Thing
Bintang – Dinna Olivia, Nirina Zubir, Agnes Maria, Revaldo
Sutradara - Upi Avianto
Penulis Skenario: Upi Avianto
Distributed by: Rexinema Films
Durasi Waktu - Tidak diketahui
SINOPSIS:
Keke, Gwen dan Olin adalah tiga sahabat sejati yang berteman sejak SMA. Beralih ke kuliah, mereka bertiga tinggal di rumah milik orang tua Olin. Keke (Dinna Olivia ~ Tusuk Jelangkung) mengambil jurusan PR, Gwen (Nirina Zubir ~ VJ MTV) di desain grafis sedangkan Olin (Agnes Maria) di bidang bisnis. Kerutinan mereka usai pulang kuliah setiap hari adalah hang-out di kafe penjual pizza, nyewa VCD dan nonbar di rumah.
Suatu malam, setelah mereka menonton VCD Titanic yang cukup romantis dan mengharukan, mereka bertiga menanggis tersedu-sedu, khususnya Keke. Keke mulai merefleksi kembali kehidupannya bersama kedua sahabatnya. Ia pun mulai menyadarkan dirinya dan kedua temannya bahwa mereka hidup tanpa cowok. Mereka sadar bahwa satu-satunya cowok yang dekat dengan mereka hanyalah Bono, tetangga mereka.
Esok harinya, mereka dijuluki sebagai "lesbian" oleh geng musuh yang dipimpin oleh Barbara. Hal itulah yang membuat keinginan mereka untuk punya cowok semakin bulat. Mereka pun mulai mencobai berbagai ide agar mereka dapat mendapatkan pacar. Tetapi, usaha mereka malah runyam dan membuat persahabatan mereka menjadi kendor.
Mereka pun memutuskan untuk taruhan. Taruhannya adalah dalam waktu 30 hari, mereka harus punya pacar. Jika tidak, yang kalah akan menjadi budak sang pemenang. Yakinkah anda akan misi 30 Hari Mencari Cinta?
Review:
Setelah sukses dengan film Jelangkung dan sekuelnya Tusuk Jelangkung, Rexinema Pictures kembali lagi meramaikan perfilman Indonesia bertema romantic comedy yang sepertinya ditargetkan pada mature teenager bertajuk 30 Hari Mencari Cinta. Dapatkah film garapan Upi Avianto ini berhasil di box-office Indonesia? Dapatkah penghasilannya melebihi film remaja laris-manis Ada Apa Dengan Cinta? dan Eiffel I'm In Love? Inilah kilasan opini gue setelah menonton filmnya pada tanggal 7 Januari 2004 lalu di gedung PPHUI, Kuningan.
30 Hari Mencari Cinta adalah feature film pertama bagi Upi Avianto. Selama ini, Upi Avianto diberi tanggung jawab dalam bidang penulisan cerita dan skenario. Untuk garapan pertama, Upi Avianto bisa di cap "boleh" sebagai seorang sutradara. Dari awal film alias opening credit yang menggambarkan gambaran masa-masa indah ketiga sahabat Keke, Gwen dan Olin, gue sebagai penonton cukup terkesan dengan bagaimana Upi Avianto berkolaborasi dan menangani film ini. It looks good in the first bit. Namun semakin penonton dibawa ke inti cerita film ini yang diisi dengan humor-humor yang dibuat-buat dan lucu, gue merasa mulai jenuh. Mungkin inilah titik kelemahan Upi Avianto dimana dia tidak dapat menyeimbangkan pacing filmnya sehingga meskipun awal film ini berhasil untuk memancing perhatian penonton, namun bagian pertengahan sampai akhir mulai menurun. Tampaknya si story developer harus bekerja lagi nih dengan pacingnya.
Tapi, masalah editing dan penggambilan gambar, film 30 HCM bisa diacungkan jempol. Warna-warna atraktif dan setting yang dipakai oleh Upi Avianto ini benar-benar pas dengan nuansa film ini. Dalam hal pembuatan teknisnya, pokoknya film yang satu ini bisa dikatakan bagus. Begit juga dengan soundtrack film ini yang sangat membantu. Soundtrack yang diarahkan terhadap Sheila on 7 ini dipenuhi dengan 4 lagu barunya yang cukup enak dan kontras dengan tema filmnya, khususnya lagu "Melompat Lebih Tinggi" yang sangat pas ketika digunakan di bagian opening credit.
Seperti dijuluki oleh media dan Rexinema sendiri, film ini memang mirip dengan The Sweetest Thing. Bukan secara total. Tetapi partly. Ceritanya memiliki kemiripan dengan film romantic comedy The Sweetest Thing yang berputar tentang tiga cewe yang bersahabat dan sedang mencari cinta. Apakah film nasional harus begini terus. Maksud gue, kenapa harus mengikuti film-film internasional dan Hollywood. Ada satu adegan yang sangat mirip dengan The Sweetest Thing yaitu disaat Keke, Gwen dan Olin memasuki club yang mereka kunjungi. Stylenya persis seperti ketika Cameron Diaz, Christina Applegate dan Selma Blair di The Sweetest Thing. Jadi kesimpulannya, 30HMC ini memiliki cerita yang unik dan simple tapi sayangnya tidak original dan kurang begitu dikembangkan.
Sebagai film bergenre romantic comedy, film yang satu ini dipenuhi dengan elemen-elemen humor yang tinggi dan amusing! Selama film berjalan, penonton diajak untuk ketawa dan tersenyum. Banyak sekali ide-idenya yang cukup lucu dan dialog-dialog yang unik. Namun beberapa humor di film ini tampak dibuat-buat, nggak realistis dan over-exaggerated. Juga, yang perlu dimention adalah, betapa banyaknya cliché yang ada di film ini. Tetapi, secara keseluruhan, film 30HMC berhasil kok menghibur penonton dengan bahan tawaanya.
Bukan hanya humornya, film ini juga berputar di tiga karakter cewe dan 1 karakter cowo yang memiliki keunikan masing-masing. Memang sih karakter-karakter tersebut juga memiliki karakterisasi yang over-exaggerated. Meskipun begitu, ketiga karakter ini benar-benar well-developed. Penonton dihibur dengan karakter Keke yang rada dewasa, judes dan stylish. Kemudian ada karakter Gwen yang ceroboh, tomboy rada kanak-kanak tapi berani. Lalu ada karakter Olin yang rada tulalit dan manja namun berhati lembut. Terakhir adalah karakter Bono yang adalah tukang gonta-ganti kerja, seorang teman yang baik dan seseorang yang enak diajak ngomong.
Karakter-karakter ini pun sangat baik diperankan oleh pemainnya. Supporting cast pun juga not bad. Aktris cantik Dinna Olivia berhasil untuk mendalami karakter Keke. Begitu pula dengan si imut Nirina dan Agnes. Menurut gue mereka bertiga memiliki chemistry. Kemudian pemeran Bono, yakni Revaldo pun juga aktingnya ok. Mungkin para pemain lah yang menjadi salah satu kebagusan film ini.
Film yang girlish satu ini dapat disaksikan di bioskop pada tanggal 8 Januari 2004. Yang jelas di film romantic comedy ini, menggambarkan dampak baik dan jahat atas perilaku yang dibuat oleh anak-anak remaja dan anak kuliahan. Tema sex, friendship, love and dating dibahas secara briefly di film ini. Setidaknya, setelah menonton film 30 Hari Mencari Cinta, penonton diberikan beberapa pelajaran. Namun secara keseluruhan, film 30HCM adalah sebuah film yang secara personal menurut gue biasa-biasa aja. Secara teknis, film ini memang enak di liat, namun dibalik semua itu, ada beberapa hal yang kurang seperti pacing, the use of the over-exaggerated humours dan masih ada lagi. Usai nonton pun, gue merasa ending film ini tampaknya ditempatkan di waktu yang salah dan solution terhadap film ini pun nggak begitu berbobot.
In the end, gue nggak bakal compare film yang satu ini dengan Eiffel I'm In Love, Ada Apa Dengan Cinta? ataupun Biarkan Bintang Menari. Yang jelas, film ini cukup entertaining banyak clichenya. Tetapi seperti yang gue bilang sebelumnya, Upi Avianto lumayan kok sebagai sutradara baru. Dengan adanya film ini, bisa dikatakan sineas-sineas muda kita sudah mulai menunjukan giginya di dunia perfilman. Meskipun begitu, 30 Hari Mencari Cinta bisa dibilang sebuah film yang mendapatkan mixed reviews. Usai nonton, beberapa penonton tidak mendapatkan kepuasan sedangkan beberapa keluar dari bioskop dengan senyum. Maju terus film Indonesia dan semoga di waktu mendatang bakal banyak lagi film Indonesia yang membanjiri bioskop.
Rating Film: 6/10 (Cukup-cukup aja)
Kevin_blaze
January 09, 2004, 08:01
The Soul (2003) [National Movies]
At least it's better than Kafir (Satanic) and Peti Mati (The Coffin)
Bintang – Marcella Zalianty, Iqbal M. Pakula, Ananda George, David Rene, Renny Umari
Sutradara - Nayato Fionuala
Penulis Skenario: Ery Sofid
Distributed by: Kharisma Starvision Plus
Durasi Waktu - 90 menitan
SINOPSIS:
Never Forget The Past!
Percayakah anda akan arwah yang kembali akibat mati yang tidak wajar? Inilah inti cerita film The Soul yang jika di translate ke Bahasa Indonesia berarti "ARWAH".
Suatu malam, ketika Astrid (Marcella Zalianty) dalam perjalanan pulang menuju rumahnya, ia diikuti oleh tiga pemuda mabuk yang berniat jahat untuk memerkosanya. Sampai di rumah, ia pun masih merasa khawatir dan teror pun mulai terasa kuat ketika ketiga penjahat itu berhasil untuk menerobos kediaman Astrid.
Astrid pun tak berhasil untuk menyelamatkan dirinya maupun putrinya dari aksi kejahatan ketiga bandit itu. Astrid pun akhirnya diperkosa oleh kedua dari tiga penjahat itu sehingga ia sengsara dan setelah itu, putrinya pun dibawa kabur oleh para penjahat itu.
Setahun sudah lewat, namun tidak ada kabar tentang putrinya tersayang yang bernama Kikan itu. Ia pun mulai berusaha untuk melupakan peristiwa mengenaskan itu dan mendalami pekerjaannya sebagai perawat rumah sakit. Namun, Astrid tampaknya tak berhasil untuk melupakan hal buruk itu. Astrid sering diberikan visi tentang kejadian masa lalu yang buruk itu dan beberapa kali, ia pun didatangi oleh arwah anaknya.
Karib kerjanya yang bernama Dewi merasa bahwa Astrid telah mendapatkan masalah psikologis, karena mengaku melihat Kikan. Namun makin lama, Kikan pun mulai ingin berkomunikasi terhadap ibunya Astrid. Tapi tak hanya itu, Kikan pun juga memutuskan untuk membalas dendam dan menghukum pemerkosa ibunya.
Review:
Pada tanggal 24 Desember 2003, perusahaan film Kharisma Starvision Plus yang dipimpin oleh Ir Chand Parwez Servia meluncurkan produksi terbarunya bertajuk The Soul. Film ke 4-nya Starvision Plus (sebelumnya gagal lewat film-film indienya Reinkarnasi, sukses lewat Kafir (Satanic) dan gagal lagi di Peti Mati (A Boen) yang disutradarai oleh sutradara muda Nayato Fionuala memang tampaknya memiliki poster berwarna merah yang memuat gambar dua pemeran utama yang mengingatkan kita terhadap film dramatic horror berjudul Lost Souls yang dibintangi oleh Winona Ryder dan Ben Chaplin. Begitu pula dengan judul film ini yang ditajukkan dalam Bahasa Inggris yang tampaknya ingin menarik perhatian penonton dalam kalangan internasional. Dari poster saja sudah kelihatan unsur penjiplakannya. Bagaimana dengan ceritanya?
Seperti yang kita ketahui lewat film Kafir (Satanic) dan Peti Mati (The Coffin), kisah-kisah yang sering dibahas dan diangkat oleh Starvision Plus rata-rata berbau mistis, supernatural dan berhubungan dengan hantu. Begitu pula kasusnya dengan film The Soul. Ceritanya sudah sering dikutip di sinetron-sinetron dan acara-acara TV misteri di TV. Padahal gue dengar film yang satu ini ingin mencoba untuk menyusul kesuksesan film horornya Rexinema Jelangkung dan sekuelnya Tusuk Jelangkung. Tapi dengan cerita yang terkesan sederhana, datar dan tidak original, film ini terkesan biasa-biasa saja. Gue juga menemukan hal yang janggal dalam alur cerita film ini. Kenapa arwah Kikan kembalinya setahun sesudah kejadian yang tragedis itu untuk membalas dendam dan berkomunikasi dengan ibunya? Kenapa enggak sehari sesudah kematiannya aja? Gue rasa banyak juga hal-hal yang kurang dijelaskan secara detil di film ini.
The Soul adalah film bioskop pertama yang disutradarai oleh Nayato Fionuala asal Aceh yang menimba ilmu perfilman di Taipei, meskipun dia sudah berpengalaman di beberapa program televisi. Untuk film bioskop pertama, effort sang sutradara bisa dibilang cukup "OK". Kilasan-kilasan gambar artistik, fast editing yang motivatif, penataan kamera dan camera work yang enthusiastic dan frantic, sangat membantu film ini dalam menarik perhatian penonton. Tak hanya itu, Nayato Fionuala juga menggunakan teknik split screen yang cukup sukses demi memadatkan cerita. Semua inilah yang memberi film ini terkesan cukup "stylish".
Tak hanya itu, penataan dan seleksi musik tegang dan sound effect yang mencekam juga salah satu hal yang memberi support terhadap film ini. Pokoknya menurut gue, musik-musiknya sesuai dengan temanya. Ketika adegan bernuansa dramatik, muncul musik-musik yang melodramatis. Namun ketika adegan tegang, muncul musik-musik yang seram. Dan juga, sang sutradara berhasil untuk mengambil suasana yang mencekam dan suram sehingga film ini masih layak untuk ditonton dan suasana ini sangat dibantu oleh pengunaan dan penataan lightning yang konsisten. Namun untuk film dramatic thriller, film ini cukup membosankan khususnya dibagian middle dan akhir film ini. Klimaksnya pun tidak begitu diadakan dan secara keseluruhan, cerita film ini berjalan lambat dan secara mayoritas lebih berpusar tentang kisah traumanya Astrid. Hal inilah yang membuat penonton menjadi jemu.
Hal yang mungkin menganggu para penonton adalah kualitas gambar dan warna film ini. Dari awal sampai akhir, film ini terkesan bagaikan kita nonton sinetron. Karena contrast dan warnanya tidak tampak sinematik, bahkan seperti kita nonton FTV atau sinema misteri di TELEVISI. Tetapi, kita juga harus ingat, bahwa The Soul bukanlah sebuah feature film, sehingga budget pun tidak begitu tinggi.
Meskipun cerita film ini rada kurang orisinil, tetapi dialog-dialog dan skenario yang ditulis oleh Ery Sofid bisa dibilang lumayan bagus. Sebab, dialog-dialog khususnya monolog yang diadakan sepanjang film ini misalnya ketika di awal film dimana Astrid (Marcella Zalianty) melakukan sebuah dialog ttg kisah kehidupannya, membuat film dramatic thriller ini tampak lebih dramatik.
Untuk film thriller yang bermood drama, THE SOUL kata si sutradara mirip kaya film-film horor drama Jepang kaya Ringu. Tetapi menurut gue, film yang satu ini lebih mirip kaya film Hongkong dan jangan salah, sebab film ini nggak seram!. Suasana atmospheric horror pun nggak dapat dicapai oleh film ini sebab ceritanya terlalu datar. Dalam adegan dimana arwah Kikan membalas dendam pada para pemerkosanya, suasana tegang pun kurang begitu dipancarkan. Tetapi memang harus gue akui kalau film The Soul ini sempat mengangetkan gue dalam beberapa adegan khususnya dimana Kikan secara tiba-tiba menampakkan dirinya.
Meskipun berarah ke thriller, film yang satu ini memperlihatkan arwah Kikan dalam bentuk hantu yang mukanya ancur seperti Mummy yang dibalut oleh kain putih. Entah kenapa, menurut gue model hantu yang seperti ini bisa dikatakan menarik. Setidaknya, hantu di film ini nggak berambut panjang dan bekulit pucat seperti Sadako. Karena sudah terlalu banyak film yang menggambarkan karakter hantu macam Sadako seperti The Ring, The Phone dan film nasional kita sendiri Tusuk Jelangkung.
Secara personil, menurut gue titik kuat film ini adalah aktingnya. Setelah sukses memerankan karakter Rea yang gothic di film Tusuk Jelangkung arahan Dimas Djayaningrat, Marcella Zalianty kembali lagi ke dunia film horor. Kali ini, dia lebih banyak perannya dibanding di Tusuk Jelangkung. Sebab dia adalah tokoh utamanya. Menurut gue, aktingnya si Marcella patut diacungkan jempol. Dia berhasil untuk menguasai karakter Astrid yang trauma. Dari adegan bermonolog, menanggis, kaget, takut dan trauma, karisma akting Marcella Z ini sangat CONVINCING! Untuk supporting cast, menurut gue biasa-biasa saja. Aktingnya Iqbal M. Pakula yang adalah salah satu karakter utama pun juga sedeng-sedeng aja.
Secara keseluruhan, film The SOUL bukanlah film yang BAGUS. Melainkan sebuah film yang biasa-biasa saja dan masih banyak kekurangan. Setidaknya, film The Soul ini berhasil untuk melampaui kecacatan dan mistake yang dilakukan oleh Starvision Plus di Kafir (Satanic) dan Peti Mati (The Coffin) meskipun kesannya lebih kaya sinetron misteri. Film Starvision yang lebih stylish dari produksi sebelumnya ini secara teknis dibilang "OK", namun sayang dalam segi cerita, atmosfir, dan perkembangan cerita dan karakter, film ini tampak kurang. Dengan cerita yang terlalu sering dikutip, konflik yang kurang begitu difokuskan dan ending yang mudah ditebak dan berkesan biasa-biasa saja, The Soul dikategorikan film B yang kurang seram untuk dramatic thriller meskipun effort para pemain dan crewnya udah cukup bagus untuk menciptakan visualisasi yang menarik. Katanya sutradara Nayato Fionuala sedang dalam nego untuk mengarahkan sebuah film Hongkong. Moga2 dia bisa belajar dari kekurangan film pertamanya The Soul ini.
Rating Film: 5.5/10 (Biasa-biasa saja)
harlequin
January 15, 2004, 23:40
Peter Pan (2003)
Jeremy Sumpter – Peter Pan
Jason Isaacs – Cap. Hook/ Mr. Darling
Lynn Redgrave – Aunt Millicent
Ludivine Sagnier – Tink
Olivia Williams – Ms. Darling
Rachel Hurd-Wood – Wendy Darling
Harry Newell – John Darling
Freddie Popplewell – Michael Darling
Richard Briers - Smee
Genre: Family Movie
Film yg dibuat berdasarkan kisah Peter Pan yg ditulis James Barrie ini berkisah tentang Wendy Darling, anak perempuan sulung keluarga Darling yg beranjak dewasa. Merasa tertekan dengan tuntutan ‘menjadi dewasa’ yg dirasanya begitu berat, Wendy bersama kedua adiknya, John dan Michael mengikuti ajakan Peter Pan untuk pergi ke Neverland, di mana dia tidak harus tumbuh dewasa dan menghadapi segala kerumitannya.
Wendy yg pada dasarnya menyukai petualangan, terutama tentang bajak laut, menikmati hidup di Neverland. Peter membawanya ke kediaman ‘the lost boys’ untuk menceritakan dongeng.
Namun ketentraman itu diganggu oleh musuh abadi Peter Pan, Capt. Hook. Capt. Hook berhasil merayu Wendy untuk membelanya dan hampir mengalahkan Peter Pan. Namun pada akhirnya, Peter berhasil mengalahkan Capt. Hook dan mengembalikan Wendy, John, Michael dan ‘the lost boys’ ke dunia nyata.
Gw pada dasarnya suka sama cerita ini dan menurut gw ini adalah film terbagus yg menggambarkan Peter Pan. Jeremy Sumpter bermain bagus dan berhasil menghidupkan image Peter Pan. Technology yg sudah meningkat juga membuat semua adegan tampak natural (terutama adegan terbang2 dan keberadaan Tink serta peri2 lainnya). Jalan ceritanya yg mudah ditebak ngga mengurangi minat gw dalam menonton film ini karena selalu aja ada kejutan yg laen dr film2 Peter Pan sebelumnya. Kekurangannya adalah, dalam adegan Tink hidup kembali, terasa seperti exaggerating.
Rating: 9/10
harlequin
January 16, 2004, 02:15
Love Actually (2003)
Genre: Komedi Romantis
Actors/Actresses:
Hugh Grant, Rowan Atkinson, Elisha Cuthbert, Colin Firth, Keira Knightley, Laura Linney, Liam Neeson, Denise Richards, Alan Rickman, Emma Thompson , Martin Freeman, January Jones, Andrew Lincoln, Martine McCutcheon, Chris Marshall, Bill Nighy, Rodrigo Santoro
Basically, film ini menekankan kalo yg namanya cinta tuh ada di mana2. Film dibuka dengan adegan orang2 menyambut kepulangan temen or sodara or family mereka di bandara. Kemudian berlanjut dengan kisah2 cinta beberapa pasangan di Inggris. Tentang Perdana Mentri Inggris yg masih bujangan dan jatuh cinta pada asisten pribadinya, tentang saudara perempuan sang perdana menteri yg suaminya nyeleweng sama co-workernya yg lebih muda and menarik. Tentang seorang cewek yg harus membagi perhatiannya pada adiknya yg sakit dan pada saat yg sama menarik perhatian cowok yg disukainya. Tentang seorang cowok yg mencintai istri sahabat baiknya. Tentang cinta lokasi dua bintang film, tentang seorang ayah tiri dengan anaknya dan anak itu dengan cewek teman sekelasnya. Tentang seorang penulis dengan housemaidnya yg ngga bias bahasa inggris….
Semua kisah itu diceritakan secara bergantian dalam Love Actually dan settingnya berpusat pada Christmas Eve di Inggris.
Satu hal yg menarik adalah bagaimana film ini menghubungkan satu kisah sederhana dengan yg lainnya tanpa membuatnya tercampur aduk dan membingungkan. Pergantian dr satu cerita ke cerita lainnya begitu alami, dan pada akhirnya kita bisa menemukan hubungan antara satu orang dengan yg lainnya yg kemudian kembali kepada adegan pembukaan yaitu airport dan tema bahwa cinta, apapun bentuknya, ada di mana2. Love is actually everywhere.
Rating: 9/10
harlequin
January 17, 2004, 02:19
Something Gotta Give
Genre: Komedi Romantis
Pemain: Jack Nicholson, Diane Keaton, Keanu Reeves, Amanda Peet, Jon Favreau, Frances McDormand
Harry Langer adalah seorang pengusaha kaya yg mempunyai kebiasaan dating dengan cewek lebih muda. Suatu kali, hubungannya dengan Marin Barry membawanya bertemu Erica Barry, seorang penulis terkenal sekaligus calon mertuanya.
Serangan jantung yg menadak membuat Dokter Julian menganjurkan dia untuk tinggal di rumah peristirahatan Erica dan Marin. Sementara Marin kembali ke kota untuk bekerja, Erica tinggal di rumah peristirahatan itu untuk menulis cerita terbarunya sekaligus menjaga Harry, pekerjaan yg sebenarnya tidak diinginkannya.
Kisah berlanjut dengan hubungan yg semakin rumit ketika Harry jatuh cinta pada Marin dan begitu pula Dokter Julian.
Jalan cerita yg sederhana dengan selingan komedi membuat film ini ngga gitu ngebosenin buat ditonton walaupun durasinya panjang abis. But akting Jack Nicholson and Diane Keaton patut diacungin jempol.
Rating 8/10
harlequin
January 17, 2004, 18:45
Chasing Liberty
Genre: Romantic Comedy/Teen movie
Actors/Actresses: Mandy Moore, Matthew Goode, Mark Harmon, Jeremy Piven, Annabella Sciorra, Caroline Goodall
Jadi First Daughter itu ngga enak. Itulah yg dirasakan Anna Foster sbg putri tunggal Presiden AS yg dijadikan tema film ini. Yg dia inginkan pada dasarnya hanyal sebuah date tanpa keberadaan pengawal2 dan secret agents yg mengganggu.
Ketika untuk kesekian kali kencannya berantakan karena alasan kemanan, Anna bertekad untuk mencari kebebasan.
Kisah sebenarnya dimulai ketika keluarga Presiden berkunjung ke Prague. sang Presiden berjanji untuk hanya menempatkan dua agen untuk mengawal sang putri keliling Prague bersama temannya. Ketika Anna menemukan bahwa ayahnya menempatkan lebih dr 2 agents, ia memutuskan untuk kabur bersama seorang fotografer Inggris bernama Ben, yg kebetulan memarkir motornya di situ.
Film sejenis iniseperti biasanya, jalan ceritanya mudah ditebak dan berakhir dengan happy ending. Fakta2 yg dirahasiakan kepada Anna sudah dibeberkan kepada penonton dr awal cerita. Namun kisah2 selingan (seperti kisah cinta antara dua agent yg ditugaskan mengawal dan mengikuti Anna) serta petualangan Anna dr satu kota ke kota lainnya dengan pemandangan yg menakjubkan membuat film ini tidak begitu membosankan buat ditonton.
Rating: 6/10
elwing
February 17, 2004, 18:03
FOREVER YOUNG (1992)
Directed by
Steve Miner
Written by
Jeffrey Abrams
Genre: Adventure / Romance / Sci-Fi (more)
Tagline: Time waits for no man but true love waits forever
Cast:
Mel Gibson .... Capt. Daniel McCormick
Jamie Lee Curtis .... Claire Cooper
Elijah Wood .... Nat Cooper
Isabel Glasser .... Helen
George Wendt .... Harry Finley
Joe Morton .... Cameron
Nicolas Surovy .... John
David Marshall Grant .... Lt. Col. Wilcox USAF
Robert Hy Gorman .... Felix
Millie Slavin .... Susan Finley
Michael A. Goorjian .... Steven
Veronica Lauren .... Alice
Art LaFleur .... Alice's Father
Eric Pierpoint .... Fred
Walt Goggins .... Gate MP
Plot Summary: Sebagai pilot penguji, Daniel adalah orang yang nekat dan pemberani. Ketika pesawatnya hampir jatuh waktu pengujian , Helen adalah orang pertama yang terlintas dalam pikirannya. Dia memutuskan untuk melamarnya. Harry-seorang ilmuwan dan juga sahabat Danny--adalah orang pertama yang diberitahunya tentang rencana untuk melamar Helen itu. Harry sendiri memberitahu Danny kalau ujicoba rahasianya membekukan ayam kemudian menghidupkannya kembali berhasil. Setelah Harry mengumumkan pada teman-temannya kalau istrinya sedang hamil, tekad Danny untuk melamar Helen pun semakin bulat. Di kedai makan, Danny pun berniat menyampaikan lamarannya pada Helen tapi yang ada Danny hanya bisa melihatnya sambil terus tersenyum. Tiap kali dia berusaha untuk melamarnya mulut Danny hanya bisa diam. Helen pun akhirnya pulang untuk bekerja, Danny yang tinggal di kedai kemudian menelepon Harry kalau dia hampir saja melamar Helen. Di dalam boks telepon, pelayan kedai menyuruhnya untuk lekas keluar. Dia mendapati Helen tertabrak mobil. Helen yang koma selama 6 bulan cukup membuat Danny putus asa dan menyesal kenapa dia tidak segera menyampaikan niatnya. Setelah Danny mendengar Harry yang akan mengetes uji coba rahasianya pada manusia, dia menawarkan diri sebagai sukarelawan. Dia meminta pada Harry untuk membangunkannya kalau Helen bangun dari komanya. Harry tadinya tidak menyetujui usul gila sahabatnya itu, tapi setelah melihat begitu takut dan putus asanya Danny, ia pun mengiyakan permintaannya.
6,5/10
elwing
February 17, 2004, 18:08
BEAUTIFUL CREATURES (2000)
Directed by
Bill Eagles
Written by
Simon Donald
Genre: Comedy / Thriller / Crime / Drama
Tagline: Dorothy & Petula Have A Body To Die For
Cast:
Susan Lynch .... Dorothy
Iain Glen .... Tony
Jake D'Arcy .... Train Guard
Rachel Weisz .... Petula
Tom Mannion .... Brian McMinn
Maurice Roëves .... Ronnie McMinn
Paul Doonan .... Man in Lift
Robin Laing .... Garage Attendant
Pauline Lynch .... Sheena
Alex Norton .... Hepburn
Plot Outline: Dorothy dan Petula memiliki banyak persamaan. Mereka sama-sama cantik dan they both have suck boyfriend. Mereka pertama kali bertemu ketika Dorothy yang hendak kabur bersama anjingnya menolong Petula yang sedang dipukuli oleh pacarnya—Brian. Dorothy memukul Brian dari belakang dengan tongkat besi sampai pingsan. Ketika Dorothy menganjurkan Petula untuk meninggalkannya saja disana, Petula menolak karena dia bekerja untuk kakak Brian. Mereka menempatkan Brian di bath tub kamar mandi di apartemen Dorothy. Ketika Brian siuman, Dorothy dan Petula sedang asik menghisap ganja di ruang tamu. Brian yang masih sempoyongan akibat pukulan Dorothy pun kembali jatuh dengan kepalanya menghantam lantai kamar mandi. Kali ini benturan di kepala Brian menewaskannya. Petula dan Dorothy panik melihat mayat di hadapan mereka. Mereka kemudian merencanakan plot untuk menyingkirkan mayat Brian tanpa harus dicurigai polisi. Petula masuk ke kantor keesokan paginya seperti tidak terjadi apa apa, dia bahkan mengatakan tidak tahu ketika Ronnie—kakak Brian—menanyainya tentang Brian.
Seorang polisi—Hepburn—dimintai tolong oleh Ronnie untuk mencari adiknya itu. Dia mengunjungi rumah Petula, dan mencurigai ada yang tidak beres dengan keterangan yang diberikan oleh Petula. Ketika Petula membuka amplop yang berisi ransom note dan jari Brian dengan cincinnya di hadapannya, Hepburn mencium adanya kesempatan untuk mendapatkan uang dari kasus itu. Dari jari Brian sebenarnya Hepburn tahu kalau jari itu dipotong dari orang mati. Untuk memastikannya dia menanyakan pada temannya, dan jawabannya sama dengan dugaannya. Ransom note kemudian disampaikan pada Ronnie, bahkan Ronnie pun curiga kalau Brian yang merekayasa penculikan ini untuk mendapatkan uangnya.
6/10
Kevin_blaze
March 01, 2004, 13:20
The Passion of the Christ (2004) [Christian Movie Review]
After watching this intensely brilliant film, I said “Thank you, Lord Jesus”
Bintang – James Caviezel, Maia Morgenstern, Monica Bellucci, Hristo Jivkov, Hristo Naumov Shopov, Mattia Sbragia
Sutradara – Mel Gibson
Penulis Skenario: Benedict Fitzgerald and Mel Gibson
Produksi: Icon Pictures & Newmarket Films
Durasi Waktu - 127 menitan
SINOPSIS:
A controversial film detailing the final hours and crucifixion of Jesus Christ.
“The Passion of the Christ” adalah sebuah representasi tentang masa-masa 12 jam akhir kehidupan Tuhan Yesus dari Nazaret, dimulai dengan adegan Tuhan Yesus berdoa di Taman Getzemani sampai pada hari penyalibannya di bukit Golgota.
Review:
Kemarin tanggal 28 Febuari 2004, gue sungguh senang sekali bisa menyaksikan filmnya Mel Gibson yang berbudget US$25.6 juta ini setelah gue berpartisipasi dengan sel grup. Sebelumnya, gue memang orang Kristen Protestan dan sori kalau review gue ini rada terlalu gimana gitu (it may sound too personal, too christian and not too public). Anyway, sepertinya banyak dari kalangan WGers dan para pembaca yang telah mendengar kontroversi film “The Passion of the Christ”. Beberapa grup umat Yahudi telah mengklaim bahwa film ini memiliki unsur ‘Anti-Semit”, dikabarkan pula ada yang mengklain “Anti-katolik”. Film historik ini pun juga diberikan kritikan yang bercampur aduk dari “perjalanan kematian yang menjijikan” sampai dengan “suatu karya satu hidup”. Anehnya pula selain dari kontra, yang rata-rata berbau anti, ada juga yang mengatakan “Terlalu Katolik”. Yang lebih menarik lagi adalah salah satu kalangan review The New York Times yang menyebut film ini sebagai “horror”, “pembunuhan” dan bahkan membandingkan brutalitas film ini dengan film-film yang penuh dengan violence macam Kill Bill arahan Quentin Tarantino. Di sisi lain, beberapa kalangan reviewer memuji film ini dan bahkan sampai ada yang lebih dari sekedar memuji. Entah apa yang mau dikatakan orang, sepertinya pembaca movie review jangan sampai terbawa-bawa dengan kritikan-kritikan pedas yang ditunjukan kepada film ini, sungguh baiknya jika anda menonton film ini sendiri karena setiap orang pasti akan memiliki penglihatan dan sisi pandangan yang berbeda satu sama lain. Ini semua tergantung dari kepercayaan personal dan pengertian masing-masing penonton.
Bagi gue, film ini penuh dengan moral, arti dan lebih dari sekedar film. Perhaps, secara personal, gue tidak dapat menggangap film ini sebagai salah satu karya religi ttg Tuhan Yesus yg paling akurat, sebab sepertinya tidak ada yang tau betapa akuratnya film ini selain Tuhan itu sendiri. Tetapi, konsep, konten dan tema yang ditelurusi oleh film ini benar-benar dalam dan adalah kekuatan masif film ini. Dan menurut gue, Mel Gibson sudah cukup berhasil dalam mengtranferkan salah satu peristiwa penting yang memiliki makna yang mendalam secara visual. Maka inilah film ini gue juluki sebagai salah satu film yang sangat penting, menantang, berani dan berdaya kuat. Sungguh direkomendasikan untuk semua terutama kaum Kristen untuk jangan sampai ketinggalan film ini sebab penonton akan dapat lebih banyak dariapa yang dikiranya setelah menonton film yang dibuat dalam Bahasa Aramaik, Latin dan Yahudi namun disuguhi dengan teks Bahasa Inggris.
Kisah yang ditujukan di film ini adalah salah satu kisah yang sangat dasyat dan fokusnya adalah tentang masa-masa akhir Tuhan Yesus. Penonton benar-benar dibawa kedalam cerita secara emosional sehingga penonton dapat menangkap maksud utama film ini yaitu bagaimana Tuhan Yesus benar-benar telah sengsara dan benar-benar disiksa. Dan yang lebih penting lagi adalah kenyataan akan betapa sabarnya Tuhan Yesus sehingga ia tidak protes dan tetap tahan dengan penyiksaannya yang benar-benar gruesome. Maka itulah judulnya “The Passion of the Christ” dimana kita, dibawa lebih kedalam dan agar kita sadar bahwa Tuhan Yesus itu telah wafat demi kita semua dan ia telah menebus dosa-dosa kita, namun ia tetap tabah meskipun ia telah secara parah disiksa sebab dia benar-benar dasyat dan kasihnya itu tak terhingga besarnya.
Dalam penggambaran ini, maka itu Mel Gibson menginterpretasikan meaning literal film ini ke visual yang sinematik penuh dengan adegan-adegan torture yang grafis, penuh dengan violence, ekstrim, sadisme dan ketidak pri-manusiawi. Kita dapat melihat Tuhan Yesus diberikan hukum kopral yang biadab, diludahi, dicambuki sampai dagingnya keluar, dipukul, ditusuk, ditampar, ditendang dan dihina. Pokoknya, penonton benar-benar dibawa kedunia penyiksaan yang cukup panjang dan brutal. Tetapi, gambaran-gambaran ini menurut gue secara personil adalah hal yang diperlukan dan penting di film ini sebab gambaran-gambaran itu membuat cerita dan scenerynya lebih realistis, lebih menyala, lebih dramatis dan lebih meresap.
Meskipun ditaburi dengan gambaran-gambaran yang penuh dengan kekejaman, di sisi lain, film ini juga memiliki kilasan-kilasan flashbacks ttg pengajaran Yesus terhadap ke 12 rasulnya di perjamuan terakhir dan masa-masa yang penuh dengan kasih sayang antaranya dengan Maria Magdalena dan Bundanya. Bukan hanya itu saja, Mel Gibson juga menambahkan beberapa elemen visi kreatif tersendirinya dibeberapa scenery contohnya di adegan munculnya kiasan iblis yang menghantui Yudas Iscariot setelah mengkhianati Tuhan Yesus dan juga figur iblis yang pucat, soft-gothic dan berjubah hitam yang dimainkan oleh Rosalina Celenanos dengan baik. I really like the idea of the demon and the scene where Judas hid in the cave and got scared by the devil was gripping.
Banyak orang yang bilang bahwa sungguh disayangkan karena film ini kurang begitu memadai dan menggambarkan konteks terhadap peristiwa revolusi tersebut. In some way, it’s true. Tetapi, menurut gue, apa yang digarap oleh Mel Gibson ini sudah lebih dari cukup. Film religi yang controversial ini memiliki momen-momen yang menarik dan penting dimulai dengan temptasi Yesus dari iblis di taman Getsemani, penangkapannya, penyiksaannya hingga penyalibannya. Pokoknya, film ini tetap diselingi oleh cuplikan-cuplikan yang beraspek penting dan menarik perhatian. Walaupun, gue harus mengatakan, bahwa the first half hour of the movie memang terasa canggung sebab mungkin memang 30 menit didepan adalah masa yang penuh dengan dialog, argumentasi dan juga lebih dikontrol oleh ensemble castnya.
Sekalipun demikian, The Passion of the Christ masih menjadi satu produksi yang layak ditonton. Dimulai dengan secara menarik dan berakhir dengan sentuhan yang pas, film yang adalah suatu pengalaman yang mendalam ini, sangat dibantu dengan sinematografi oleh Caleb Deschanel yang apik dan juga music score yang sangat sesuai dengan tema dan konten film ini. Di syuting di Itali, menurut gue, setting film ini berkesan sangat vividly convincing dan bahkan film ini bisa dikatakan rada berbeda dengan film Tuhan Yesus yang lain sebab penataan art, penataan cerita dan penataan setting yang berbeda dan berciri sendiri. Yang sangat menarik adalah bagian artnya dimana penyesuaian warnanya sangat pas misalnya di awal film yang bersetting di taman Getzemani, tempatnya itu sangat gelap, bersuasana gelap dan biru juga penuh dengan fog. Tidak hanya itu, adegan dimana efek visual digunakan ketika kegelapan meliputi seluruh daerah Bukit Golgota, tabir Bait Suci terbelah dua dan ada gempa bumi yang dasyat. Pengunaan efek ini meskipun sayangnya nggak gitu begitu heboh bisa dikatakan sangat efektif meskipun menurut gue seharusnya adegan gempa buminya dibikin lebih lama dan lebih dasyat.
Dan akhirnya, dipenuhi dengan pujian dan hanya beberapa kekurangan minor yang kecil, film ini bisa diacungkan jempol. Selain ensemble cast yang fine-fine aja, Jim Caviezel bermain sangat cocok dan benar-benar dihargai sebagai Yesus. Two thumbs up! Kemudian, Maia Morgenstern yang berperan sebagai Maria ibu Yesus juga tampil cukup bagus dan dramatis khususnya diadegan ketika ia menanggis dan terharu melihat anaknya disiksa. An excellent performance too by Monica Belluci sebagai Maria Magdalena. Hanya yang disayangkan adalah kurangnya keseimbangan dalam perkembangan karakter ibu Yesus dan Maria Magdalena. Perlu diketahui juga bahwa banyak pemain di film ini yang hidupnya berubah/terubah setelah bermain di film ini.
Selama menonton, kita mungkin disuguhi dengan rasa sedih, rasa ngeri dan rasa tegang. Tetapi, usai keluar dari bioskop, gue mendapatkan rasa kasih sayang dan bersyukur dan mulai dibangunkan dari tidur yang panjang bahwa gue harus lebih banyak bersyukur atas situasi yang kita miliki hari ini dan film ini benar-benar sukses dengan mengingatkan gue dengan apa yang Yesus telah perbuat dan juga hal-hal lain yang berhubungan dengan sifat-sifat religi. The Passion of the Christ memang adalah sebuah interprestasi literature ke penafsiran visual ttg peristiwa masa akhir Tuhan Yesus yang affectional, emosional dan juga cathartic sekaligus penuh dengan gambaran-gambaran yang detil. The Passion of the Christ diluncurkan di bioskop-bioskop Amerika dan Australia pada hari Rabu Abu lalu dan semoga saja bisa ditayangkan di perbioskopan Indonesia. Puji Tuhan, filmnya yang dibuat dari dana Mel Gibson sendiri, meskipun harus melewati kontroversi, akhirnya bisa meraih keuntungan yang cukup besar!
Rating Film: 7.5/10 (Exceptional!)
Mithrandir
March 11, 2004, 02:20
STARSKY AND HUTCH (Todd Philips, 2004)
Film ini adl murni show-nya Ben Stiller dan Owen Wilson. Meskipun merupakan remake atau apalah namanya dr acara TV thn 70-an, yg membuat film ini lumayan watchable adl krn duo komedian itu melakukan aksi mereka. Salah satu adegan yg plg kocak adl saat yg melibatkan cameo Will Ferrell di penjara. Jadi kalo fans-nya Stiller dan Wilson jelas jangan meleawtkan film ini, tapi secara keseluruhan sih ngga ada yg istimewa, biasa aja, bahkan seharusnya bisa lebih dr apa yg ada sekarang. Sutradara Todd Philips kurang bisa mengaktualisasikan materi ini menjadi film yg lebih dr sekedar mediocrity dan memanfaatkan personality orang-orang gila spt Ben Stiller dan Owen Wilson menjadi iconic.
Mithrandir
March 11, 2004, 02:21
INTOLERABLE CRUELTY (Joel Coen)
Gue kurang familiar dgn film-filmnya Coen Bros sebelum FARGO (yeah, shame on me!), tapi gue cukup mengenal style mereka yg sangat “out there” dan extreme yg hanya ada di dunia film-filmnya Coen Bros, dan tiada duanya di Hollywood. Yg juga cukup kentara adl kesukaan mereka utk mengolok-ngolok karakter-karakter di filmnya dan mungkin mengejek kita sbg penontonnya?
Dan biasanya juga gue kurang suka romantic comedy kaya film ini. INTOLERABLE CRUELTY tdk banyak memberi kesan setelah gue menontonnya, baik itu terpana atau geleng-geleng kepala spt film-film Coen Bros sebelumnya yg udah gue tonton. Sedikit banyak jokes-nya lucu dan mengena. Memang komedi romantis film ini bukan spt komedi romantis tipikal lainnya. Ada nuansa yg lebih”weird”, “dark” dan “mature”. Liat aja opening-nya, seorang suami pulang ke rumah dan menemukan istrinya selingkuh dgn tukang bersihin kolam (yg ngingetin gue dgn adegan di MULHOLLAND DRIVE). Dan tampang yg pertama kita liat tuh bukannya George Clooney atau Zeta-J tapi Geoffrey Rush! Terus titles sequences-nya juga, agak weird yg ngegambarin gimana filmnya.
Tapi perpaduannya dgn jalur “light” dan “Hollywoodian” romantic comedy agar bisa menjangkau penonton mainstream kurang mulus dan sinkron shg menimbulkan disintegrasi sbg filmnya Coen Bros sendiri dgn romantic comedy in general. Kenapa ngga all-out aja sekalian bikin weird dan surreal atau experimental romantic comedy? Krn produsernya Brian Grazer, mungkin? Sehingga jadinya malahan general audience kurang “ngeh” dgn film ini (terbukti dgn box office-nya) tapi mungkin yg terbiasa dgn film-film Coen Bros sebelumnya juga merasa ada sesuatu yg kurang dan terlalu “sell out”.
Well now I guess I have to watch more films from the Coen Bros :)
Mithrandir
March 11, 2004, 02:23
L’HOMME DU TRAIN (MAN ON THE TRAIN, Patrice Leconte, France)
Film ini berkisah ttg 2 orang pria, yg satu adl seorang perampok bank yg sdg berkunjung ke kota kecil utk merencanakan aksinya, dia adl orang yg sebenarnya masih relatif “muda” tapi sudah “berjiwa tua”. Sementara pria yg satunya lagi adl penduduk kota kecil tsb, seorang mantan pengajar bahasa yg meskipun sudah tua tapi tetap berjiwa muda. Kedua pria ini sangat bertolak belakang, si perampok bank (Johnny Hallyday) ingin bisa merasakan dan menikmati hidup dgn penuh ketenangan spt mantan pengajar ini (Jean Rochefort) yg rumahnya menjadi tempat dia menginap. Berlawanan dgn si perampok bank, si pengajar yg selama hidupnya ngga banyak variasi dan gitu-gitu aja justru ingin mencoba dan mengalami suatu petualangan baru spt si perampok bank tsb.
MAN ON THE TRAIN adl film yg sunyi dan introspektif. Ngga banyak yg terjadi selain apa yg kedua pria ini bicarakan dan lakukan dan apa yg ada di benak pikiran mereka masing-masing. Film ini adl ttg pencarian jatidiri saat kita mengalami krisis identitas pada usia tertentu hidup kita yg mengingatkan gue dgn film SWIMMING POOL, film Prancis lainnya yg disutradarain Francois Ozon yg punya kemiripan dari tone dan ceritanya. Meskipun ngga ada Ludivine Sagnier di MAN ON THE TRAIN :D, tapi kedua film ini bisa menjadi saudara kakak dan adik (brother and sister) ttg soul searching dan the meaning of our life expeeience. I really liked both films. Sbg dual combo, MAN ON THE TRAIN dan SWIMMING POOL berada di deretan my favorite films of 2003 (in The Runners Up section).
Mithrandir
April 11, 2004, 10:32
DEAD MAN review
"Jim Jarmusch is trying to get at something here, and I don't have a clue what it is". (Tanggapan Roger Ebert ttg DEAD MAN)
Setelah membaca beberapa reviews DEAD MAN, termasuk membaca kutipan Roger Ebert diatas, membuat gue jadi pengen sedikit nulis review film ini. Menurut gue kritikus film yg gue baca tsb, termasuk Roger Ebert sendiri, with all due respect, are missing the point about this film. Gue bukannya mau mendiskreditkan mereka, tapi hal ini menunjukkan, buat gue setidaknya, bahwa Amerika memang adl negara yg sangat sekuler dan jauh dr kehidupan spiritual (gue bukan ngomongin agama/ kereligiusan disini). Yah, mungkin itu sudah bukan hal yg aneh lagi. Gue sih ngeliatnya dr sudut pandang cinema aja? Krn sebagian besar kritikus dan juga audience ngga bisa menangkap film-film yg bernuansa spiritual tanpa menunjukkannya secara eksplisit atau tersurat. Krn seperti MULHOLLAND DRIVE, DEAD MAN adl film yg bernuansa spiritual dan pada tingkatan tertentu memiliki kesamaan, dan tidak menjelaskannya secara gamblang, tapi lebih subtle dan tersirat. Begitu juga dgn SOLARIS, film yg belum lama ini gue tonton, yg menggunakan science fiction sbg backdrop, tapi sama sekali bukan ttg science fiction-nya. Maka tidak mengherankan, film seperti THE PASSION OF THE CHRIST, film yg secara blak-blakan dan eksplisit menunjukkan “kespiritualannya”, sukses mendatangkan penonton utk menonton film ini, penonton yg bukan regular moviegoers pd umumnya.
Hal yg sama juga terjadi ketika gue baca beberapa reviews MULHOLLAND DRIVE pada saat itu. Kritikus film kayanya terlalu men-simplifikasi dgn apa yg sebagian terjadi di film itu sbg mimpi (dream). Sementara menurut gue lebih dr itu, yaitu ttg proses perjalanan spiritual seseorang dr kehidupannya di dunia yg fana ke afterlife-nya, hal yg sama dgn yg terjadi di film DEAD MAN ini. Kembali ke DEAD MAN, perhatikan aja judul filmnya, bukankah itu sudah “menjelaskan” banyak hal ttg filmnya? Film ini bercerita ttg orang yg sudah mati, yaitu William Blake (Johnny Depp) yg terdampar di suatu tempat baru yg tidak dikenalnya, suatu tempat yg asing, suatu tempat antara dunia dan akhirat. Spt SOLARIS, DEAD MAN memanfaatkan genre yg diusungnya hanya sbg setting saja, krn meskipun ini adl film western, tapi bukan film western yg konvensional. Si William Blake ini dr awal film memang sudah mati, keberadaannya di dlm kereta api yg sedang berjalan menandakan proses transisi William Blake dr dunia yg baru saja ditinggalnya ke dunia baru pasca kematiannya. Perhatikan saja orang-orang disekitarnya, setiap dia memandang diseputarnya orang-orang tsb berubah, lalu muncul seorang awak kereta api (Crispin Glover, masih inget dgn The Thin Man di Charlie’s Angels?) dan mengingatkan Blake bahwa keadaannya saat ini spt suatu peristiwa yg sudah terjadi sebelumnya dan Blake mengulanginya lagi, jadi spt cycle, tempat atau benda sbg tanda terjadinya proses looping spt the blue box di MULHOLLAND DRIVE. Apabila orang yg mati dgn tdk wajar atau tragis atau punya rasa bersalah yg besar yg hrs dipertanggungjawabkan atau tdk rela meninggalkan kehidupan dunianya, spt misalnya Betty/ Diane di MULHOLLAND DRIVE yg melakukan bunuh diri, dia akan terjebak diantara dunia fana dan dunia akhirat dan bergentayangan di alam ini berusaha utk menciptakan kembali dunia yg lbh sempurna dan ideal dr yg dijalaninnya di dunia fana dimana dia bunuh diri. Bukankah afterlife adl tempat dimana dosa dan perbuatan manusia dipertanggungjawabkan? Sebelum dia “bebas”, dia akan demikian, mendaur ulang satu momen dlm hidupnya itu terus-menerus.
Di DEAD MAN, Blake pd awalnya adl seorang akuntan innocent yg berusaha utk nyari kerja, tapi situasi membuatnya terpaksa membunuh anak dr bos perusahaan yg dia kunjungi utk nyari kerja. Jadinya dia menjadi buronan dan dikejar-kejar bounty hunter dlm keadaan terluka dgn penuh rasa bersalah. Di tengah perjalanan dia jatuh pingsan dan ditemukan oleh seorang native indian yg bisa melihat apa yg sebenarnya terjadi dgn si Blake ini dan berusaha membebaskannya dr alam dimana dia terjebak selama ini dan mengembalikannya ke tempat where he belongs. Si Indian namanya adl Nobody atau Exaberchay, artinya, “He who talks loud and says nothing”. Si Indian inilah yg jadi guide Blake utk menemukan kembali jalannya. Si Indian ini membimbing Blake utk menemukan dirinya, menghadapi konflik internal dlm dirinya, yg membuatnya menjadikan dia berdarah dingin dlm membunuh orang tanpa rasa bersalah. Jadi mungkin poin dr film ini adl, bahkan orang yg sudah mati pun masih bisa mendapat redemption bila the powers that be memang berkehendak demikian. God works in mysterious ways.
Spt David Lynch, Jim Jarmusch memiliki kontrol total thd film yg dibuatnya ini, dan mereka tahu persis apa yg mereka lakukan, bukan spt ada kritikus yg bilang kalo Jim Jarmusch sendiri ngga tau apa sebenarnya maksud dan tujuan film ini, cuman buat excuse bikin film pretentious art yg men-test one’s faith on cinema. Sekali lagi, film ini memang sangat boring krn basically ngga banyak yg terjadi dan banyaknya static shots. Buat yg komplain dgn banyaknya fade to black di ending ROTK, di DEAD MAN dr awal sampai akhir filmnya dipenuhi oleh slow fade to black transitions. Make what you will of this film.
Rating: **** out of ****
Mithrandir
April 14, 2004, 13:17
The Third Man (Carol Reed, 1949)
Orson Welles da’ Man
Kata orang katanya Tarantino akan melakukan homage character intro Harry Lime (orson Welles) dr film The Third Man di Kill Bill Vol. 2, benarkah? I must say adegan tsb memang sangat brilliant dan memorable, yg menandakan pertama kalinya gue melihat penampilan Orson Welles dlm film. Gue blm nonton Citizen Kane atau film dia lainnya. What a treat!
The Third Man bercerita ttg seorang penniless writer (bukan tipe Moulin Rouge’s Christian, but close, buat gambaran aja) bernama Holly Martins yg diundang teman lamanya Harry Lime berkunjung ke Vienna, Austria utk ditawarin pekerjaan. Tapi ketika Martins sudah tiba justru si Lime ini sudah meninggal krn insiden kecelakaan dan sedang dlm proses pemakaman. Di tempat pemakaman tsb Martins melihat seorang wanita bernama Anna Smith yg merupakan cewenya si Lime, dan timbul love at first sight dan juga bertemu dgn kepala polisi Callaway yg menyuruhnya utk balik lagi aja ke Amrik krn si Harry Lime layak utk mati krn bisnisnya dia yg kotor. Tapi si Martins yg ngga percaya begitu saja dan malah berusaha utk menyelidiknya sendiri apa yg sebenarnya terjadi dgn temannya itu. Setelah menanyakan kpd saksi di apartemennya Harry Lime, ternyata ada orang ketiga (the third man) yg tdk teridentifikasi saat mayat Harry Lime dipindahkan dr tempat kejadian. Siapakah The Third Man itu? Dan apa sebenarnya yg terjadi di balik semua ini?
The Third Man adl film noir, dan bukan film Amrik, tapi film Inggris. Tapi sama saja kok, ngga perlu dibedakan. Bagaimana jadinya kalo nama-nama spt Graham Greene (penulis skenario film ini dan juga seorang novelis. Ingat dgn film The Quiet American dan The End Of The Affair?), produser David O Selznick (Gone With The Wind), dan Orson Welles lebih terkenal drpd sutradaranya sendiri? Film ini terasa sekali banyak kepentingannya dan kesan perpaduan kolaborasinya lebih kuat drpd visi satu orang tertentu saja. Kesan terkuat dan paling menonjol yg gue dapet setelah menonton The Third Man adl dr Orson Welles, yg di film ini “hanya” sbg supporting actor dan tampil dibawah 30 menitan saja. Tapi keberadaannya sangat terasa sekali, mungkin pertanda dr kehebatan dan kharisma dia. Tentu tdk bermaksud utk merendahkan Carol Reed sendiri sbg sutradaranya, tapi ya itu, krn kesan kolaborasinya begitu besar, jadinya sutradaranya agak terpinggirkan, padahal tidak demikian.
Di saat menjelang third act The Third Man, sempet kepikiran sama gue bahwa film ini punya kemiripan dgn film Casablanca, terutama dr kisah romance-nya, cinta segitiga antara Anna dgn Martins dan Harry Lime mirip dgn romance Ilsa (Ingrid Bergman) dgn Blaine (Humprey Bogart) dan Laszlo di Casablanca. Cuman yg berbeda, kalo Casablanca ber-setting di Maroko saat invasi Jerman di Eropa, The Third Man setting-nya di Austria pasca-perang, yg saat itu kekuasaan Austria dibagi-bagi utk beberapa pemenang PD II spt Amerika, Inggris, Perancis dan Rusia. Bahkan ending-nya juga mengingatkan gue dgn ending Casablanca.
Ok, mungkin sudah ngga diragukan lagi status film ini yg banyak disebut sbg one of the best English noir lah, masuk ke AFI’s 100 greatest films lah, bahkan ada yg mem-vote The Third Man sbg The Best British Film melebihi Lawrence Of Arabia. Tapi menurut gue sih film ini ngga sesempurna keliatannya. Secara kesleuruhan filmnya kurang kohesif dan menyatu, hanya beberapa adegan saja yg brilliant dan membuat filmnya spt terangkat banyak oleh adegan tsb (Orson Welles’ character intro spt yg gue bilang diatas dan pengejaran di sewer saat klimaksnya dan juga ending-nya). Selain itu karakter Holly Martins yg dimaenin Joseph Cotton sbg pemeran utamanya is no match to Orson Welles’ Harry Lime yg presence-nya lebih dominan meski screentime-nya jauh lebih sedikit, menandakan lemahnya karakter si Martins ini, yg kayanya emang dibuat utk hiburan biar ngga ngebosenin sambil nunggu masuknya the real star of the film, Orson Welles. Dan yg cukup terasa adl filmnya terlalu “bersih” utk tipe film noir pasca perang dunia II spt ini. Kita melihat reruntuhan bangunan di tengah kota, tapi suasananya kurang dirty, muram dan cold secara keseluruhan ngga spt karakter si Harry Lime, hanya lbh bergantung pd set pieces saja. Yg paling bagus tuh yg adegan di kincir angin antara Martins dan Lime, dgn adanya big speech Lime yg ngebandingin Italia dgn Swiss. Cinematography-nya yg banyak memainkan shadow memang memberi nuansa tambahan, tapi sebenarnya yg paling menentukan mood filmnya tuh musik soundtrack-nya, pake instrumen kaya gitar yg namanya zither.
The Third Man is a good film, very good in fact, tapi menurut gue bukan termasuk yg greatest atau the best. Film ini di-champion-kan oleh para kritikus Amerika dan Inggris krn punya sensibility penyebaran kolonialisme dan imperialisme kapitalis di tengah mulai maraknya perang dingin. Setidaknya itu yg gue rasakan setelah menonton filmnya.
Rating: *** out of ****
Mithrandir
April 14, 2004, 13:22
Sunset Boulevard (Billy Wilder, 1950)
“All right, Mr. DeMille, I’m ready for my close up…” (Norma Desmond)
Hollywood…The Golden Age of Cinema. Siapa yg tdk silau dgn gemerlap pesona Hollywood, setiap orang ingin mendapatkan bagiannya di industri perfilman terbesar di dunia ini. Mulai dr yg di depan dan di belakang layar, Hollywood menjadi ladang pekerjaan bagi jutaan orang dan menjadi salah satu industri terbesar dan penyumbang devisa terbanyak di Amrik. Tapi apakah segalanya tampak seperti kelihatannya?
Sunset Blvd. adl film dark satire yg memadukan fact dan fiction, fantasy dan reality, mengekspos Hollywood dari belakang layar apa adanya dgn penuh kesinisan, kepahitan dan ironi. Dibuat thn 1950 utk merefleksikan Hollywood dgn berisi nama-nama karakter yg memang eksis di dunia nyata spt Cecil DeMille dan Buster Keaton diantara yg lainnya, temanya timeless dan ahead of its time, dan tdk bisa lebih relevan lagi dari apa yg terjadi sekarang di Hollywood, atau di setiap industri showbiz dan entertainment spt di Indonesia (gasp!). Film ini bercerita ttg seorang penniless screenwriter (lagi-lagi penniless writer! :)) bernama Joe Gillis yg secara kebetulan memasuki sebuah mansion di Sunset Blvd. saat berusaha menghindari pengejaran dr debt collector yg akan menyita mobilnya krn sudah telat bayar beberapa bulan. Mansion yg dikiranya sudah terbengkalai dan tidak berpenghuni ternyata adl tempat tinggal seorang silent movie actress bernama Norma Desmond yg era kejayaannya sudah lewat dan terlupakan. Ia tinggal ditemani oleh pelayan setianya yg bernama Max, yg selalu menjaganya dan memberi ilusi pd Norma bahwa dia masih merupakan seorang great actress. Sebelum Joe Gillis dikejar-kejar, sebelumnya dia berusaha utk mem-pitch screenplay terbarunya ke Paramount Studios tapi mendapat reaksi negatif dr script reader Betty Schaeffer, yg nantinya berkolaborasi dgn Joe utk membuat script yg lebih baik. Joe meninggalkan Paramount setelah permintaan meminjam uang utk membayar mobilnya itu ditolak produsernya.
Yg unik dan witty dr film ini sudah dimulai dr awal filmnya, yaitu opening scene-nya yg memperlihatkan seseorang terapung tewas di kolam renang, dan si orang yg sudah mati itulah yg memberi narasi sepanjang film apa yg sedang terjadi dan memberi kesempatan kpd kita sbg penonton utk mengetahui kejadian sebenarnya sebelum media Hollywood memberitakannya dgn segala tambahan gosip dan bumbu-bumbu berita, atau spt kata si narator-nya, “before you hear it all distorted and blown out of proportion, before those Hollywood columnists get their hands on it, maybe you'd like to hear the facts, the whole truth.”
Poin dr film ini adl hidup dan bekerja di Hollywood tdk akan forever, akan ada siklus, dan yg akan tetap berjalan adl sistematika dan mekanisme Hollywood itu sendiri, spt di sini digambarkan bagaimana sudah berakhirnya era film bisu dgn munculnya sound, dan tergusurnya juga legenda-legenda aktor/ aktris/ filmmaker dr era tsb digantikan oleh wajah-wajah dan talenta-talenta baru. Old Hollywood is gone, here comes the New Hollywood. Kalo jaman film bisu itu sang bintang di depan layar atau filmmaker-nya yg lebih memegang peranan dlm suatu film, maka New Hollywood itu segalanya bermuara dari dan ke studio-studio besar Hollywood, yg namanya dikenal dgn Studio System dan sampai sekarang masih berlaku. Bagi si bintang di depan atau di belakang layar, ada harga yg sangat besar harus dibayar utk meraih popularitas dan utk kehilangannya kembali bila saatnya tiba. Apa pun dilakukan utk meraih ambisi dan ketenaran, tapi apakah setelah mendapatkannya segalanya sudah tercapai? Bisakah membedakan antara ilusi yg tidak pernah kunjung hilang dengan realita yg merongrong dan menuntut kita turun ke bumi? Joe Gillis, yg di film ini rela utk “menjual harga dirinya” demi sebuah ilusi kenyamanan Hollywood, membuat dirinya lebih rendah dan buruk dr ketika dia di awal film. Dan saat dia sudah menyadarinya, semua sudah terlambat. Tapi apakah kita sendiri tdk akan tergoda bila kita sendiri berada di posisi Joe Gillis? Film ini juga menggambarkan bagaimana sebenarnya Hollywood dipenuhi dgn greed, narcissism, “ass-kissing”, “cock-smoking”, back-stabbing” dan apa pun yg bisa dilakukan.
Bila saja kita adl bagian dr Hollywood atau setidaknya bagian dr dlm kehidupan kita sendiri, krn Sunset Blvd. adl film yg juga universal despite of the setting, kita akan menemukan sebagian atau keseluruhan dari dark side diri kita di sini.
Joe: "You're Norma Desmond. You used to be in silent pictures. You used to be big."
Norma: "I am big. It's the pictures that got small."
Joe: ``I knew there was something wrong with them.''
Rating: Masterpiece
Mithrandir
April 14, 2004, 23:58
All That Heaven Allows (Douglas Sirk, 1955)
”The mass of men lead lives of quiet desperation.” (Henry David Thoreau)
Film yg kalo kita tonton sekarang ini hanya akan dianggap sbg just another sappy melodrama, opera sabun spt yg sering kita liat kalo kita menyetel TV kita, sinetron, telenovela, reality show, infotainment, dangdut show, alam gaib show dan seterusnya, ternyata telah menelurkan beberapa filmmaker baru yg terinspirasi oleh karya-karya Douglas Sirk, termasuk All That Heaven Allows diantaranya. Belum lama ini kita saksikan bagaimana Todd Hayness membuat Far From Heaven dgn penampilan divine dr Julianne Moore yg lebih dr hanya sekedar homage thd Douglas Sirk, terutama utk film All That Heaven Allows ini. Dan gue liat juga, Pedro Almodovar, yg saat ini banyak dianggap orang sbg master of melodrama sedikit banyak juga dipengaruhi oleh filmnya Douglas Sirk.
Cary Scott adl seorang janda yg baru ditinggal suaminya dan tinggal sendiri di rumah krn kedua anaknya sekolah di kota lain. Kesepian tapi merasa teman-teman dan aktivitasnya tidak banyak membuatnya bahagia, Cary menolak tawaran menikah dg pria yg lebih tua sekelasnya dan justru tertarik dgn seorang gardener yg usianya lebih muda darinya bernama Ron Kirby. Situasi ini tidak bisa diterima oleh komunitas yg masih mengekslusifkan diri dan tertutup ini. Timbullah gosip dan berita di seluruh kota mengenai hubungan yg tdk lazim ini. Bahkan kedua anaknya Ned dan Kay yg tadinya mencoba utk memberi kesempatan pd Ron, tdk tahan lagi dan mulai menentang ibunya. Kalo diliat dr sinopsis mungkin ceritanya memang ngga jauh dr yg namanya opera sabun. Tapi sekali lagi film ini lebih dr itu. Krn emosi dlm film ini realistik. Yg signifikan adl karakter cewe utamanya Cary Scott yg dimaenin Jane Wyman punya pola pikir yg 3 dimensional, yg jarang ditemukan di tipe film spt ini. Sementara si cowonya Ron Kirby (Rock Hudson) adl tipikal pria yg sempurna idaman wanita, yg mungkin terlalu ideal utk dianggap realistik.
All That Heaven Allows adl film yg lebih dari sekedar melodrama, atau istilah sekarang “chick flick”, krn film ini punya style yg memberi nilai kartistikan tersendiri dr art direction dan cinematography-nya yg menunjukkan karakter dan substansi mengenai komentar sosial pd periode film ini berlangsung, thn 50-an yg true to its time. Upper class society yg hidup dgn ketertutupan dan kehampaan walaupun statusnya yg eksklusif dan terhormat. Buat yg udah nonton Far From Heaven tdk akan asing lagi dgn All That Heaven Allows.
Rating: *** out of ****
Mithrandir
April 15, 2004, 00:01
Stray Dog (Akira Kurosawa, 1949)
"There are no bad people in the world, only bad environments."
Stray Dog adl film noir klasik Jepang, yg meskipun dibuat thn 1949 dan merupakan lesser known film dr Kurosawa, tapi berasa familiar. Bukan saja film-film acclaimed Kurosawa saja yg banyak menjadi inspirasi dan dikopi Hollywood, ternyata film spt Stray Dog ini juga tdk lepas dicaplok. Dr karakter, plot, twist, dan set pieces-nya bisa kita liat di bejibun film Hollywood, terutama film police thrillers. Sbg contoh, salah satu adegan yg langsung terpikir di benak gue adl saat Murakami dan Sato sedang mencari incaran mereka saat pertandingan baseball, Sato punya ide utk memanggil nama orang itu melalui pengeras suara. Tiba-tiba gue inget dgn salah satu film Lethal Weapon saat si Mel Gibson manggil-manggil penjahatnya melalui pengeras suara saat pertandingan hoki. Terus contoh lainnya adl dr Die Hard With A Vengeance, saat McClaine berhasil melacak si Simon Gruber berdasarkan korek api dr suatu hotel, adegan tsb juga sudah lebih dahulu ada di Stray Dog. Dan tentu saja Stray Dog juga bisa disebut “buddy cop” movie. Murakami yg masih muda dan blm berpengalaman yg lebih mengandalkan temperamennya dlm mengambil tindakan sementara Sato adl seorang senior yg sudah banyak makan asam garam dan lebih bijaksana, banyak mengeluarkan kata-kata filosofis dr mulutnya. Se7en, anyone? Somerset the wise and Mills the headstrong?
Stray Dog bercerita ttg polisi rookie Murakami (Toshiro Mifune) yg kehilangan senjatanya sebuah pistol saat kecapean pulang dr kantor polisi di suatu bus penuh sesak yg ditumpanginya. Ternyata pistolnya itu dicopet, dan ketika dia menyadarinya ada seseorang yg turun dan berusaha dia kejar tapi berhasil meloloskan diri. Penuh dgn rasa malu dan bersalah krn tdk bisa mempertanggungjawabkannya dia meminta petunjuk kpd atasannya, yg menugaskannya utk segera mencarinya. Semakin lama Murakami semakin tdk bisa menerima keadaan ini dan putus asa, lalu meminta bantuan kpd seniornya Sato (Takashi Shimura, salah satu member di film Seven Samurai juga). Setelah ada perampokan yg menimbulkan korban tewas dan setelah diselidiki ternyata pelurunya adl berasal dr pistolnya si Murakami, hal tsb semakin membuatnya tdk karuan dan rasa bersalahnya yg menjadi-jadi membuatnya sempet ingin mengundurkan diri sbg polisi.
Stray Dog adl film ttg prosedural polisi yg lebih ke karakternya drpd plotnya, yg membedakan Stray Dog dgn noir/ thriller lainnya adl adanya nilai moral yg dijunjung tinggi dan suatu etika dan pertanggungjawaban diutamakan tanpa ada kesan keheroikan, patriotisme, atau sok jagoan, menjadikan karakter-karakternya lbh manusiawi. Karakter-karakter antagonisnya juga tdk digambarkan dgn hitam putih, tapi ada ruang abu-abu yg membuatnya juga manusiawi, as flawed as the protagonists were. Yg realistik juga adl lingkungan yg ditampilkan saat lagi panas-panasnya musim panas, menunjukkan keadaan sosial kelas menengah ke bawah Jepang pasca PD II, menambah nuansa keotentikan filmnya. Bagaimana pencarian Murakami bisa membawanya ke pasar gelap perdagangan senjata ilegal di Tokyo dgn segala aspeknya ditonjolkan. Yg menjadi ironi adl hanya krn keteledoran Murakami sbg seorang polisi rookie bisa menimbulkan ekses dan dampak yg sangat besar, mempengaruhi nasib banyak orang, yg juga Murakami sendiri sadari, dan juga mempengaruhi karir dan dirinya sbg polisi. Kalo kita liat film noir biasanya karakter-karakternya itu adl sedemikian rupa innocent, naif atau cool, heroic, evil atau larger than life dgn setting yg eksklusif (contohnya adl The Third Man). Tidak demikian dgn Stray Dog, yg bisa menghidupkan karakter-karakter baik protagonis maupun antagonisnya yg manusiawi di tengah-tengah lingkungan yg realistik tdk dikondisikan tertentu. Stray Dog is a little and lesser known gem waiting for bigger audience to find it. Don’t miss it. Kalo ngga salah Criterion juga akan merilis DVDnya thn ini.
Oh iya, berbanggalah Gesang, salah satu pencipta lagu nasional kebanggaan Indonesia, krn ternyata lagunya Bengawan Solo dijadikan soundtrack di pertengahan film Stray Dog yg digubah dlm bhs Jepang. Bener adanya bahwa lagu ini memang populer di Jepang sana. Gue sempet terkejut juga yg pertama-tama dengerin melodinya kok kaya lagu Indonesia gitu. Eh, beberapa saat kemudian, terdengar nyanyian ‘Bengawan Solo…’. Salut! ::up::
Rating: **** out of ****
Mithrandir
April 17, 2004, 00:04
Throne Of Blood (Akira Kurosawa, 1957)
King MacFune; Emperor MacRosawa.
Cukup mudah bagi seorang filmmaker yg sudah mapan utk bisa mendapatkan prestise, pengakuan atau ekspos bagi filmnya, apalagi ditunjang dgn budget, cast dan crew yg kelas satu. Yg penting cari saja karya adaptasi yg sudah dianggap sbg klasik, masterpiece, sudah diakui kelitelaturannya. Maka banyak sekali karya-karya spt itu yg diadaptasi ke dlm film, dr Shakespeare, Virginia Woolf, Jane Austen, seterusnya sampe ke para pemenang Pultizer spt yg terakhir Cold Mountain. Akira Kurosawa juga tdk sedikit mengadaptasi karya-karya orang lain utk dibuat filmnya. Yg membuat Kurosawa istimewa dr filmmaker lain adl Kurosawa tdk begitu saja mengadaptasi dgn gampangnya tinggal comot dan buat sedemikian rupa “by the book” dan “formulaic” biar mendapat ajang penghargaan sebanyak mungkin, Kurosawa tdk mau ngambil jalan mudah, dia ingin filmnya ini meskipun adl karya adaptasi tapi punya nilai personal dan sesuai dgn visi yang khas dr Kurosawa sendiri dgn memanfaatkan medium visual semaksimal mungkin, menjadikannya cinematic dan singular. Seperti Ran yg Kurosawa buat dr adaptasi King Lear-nya Shakespeare dan disertai pandangannya ttg humanity yg sudah berubah krn dia pernah gagal mencoba utk bunuh diri, atau seperti Solaris-nya Andrei Tarkovsky, yg gue tau dr special features DVD-nya sama sekali berbeda dgn novelnya Stanislaw Lem dan bahkan membuat Lem sendiri membenci filmnya Tarkovsky. Dan hal inilah yg Kurosawa buat dgn Throne Of Blood, film yg diadaptasi dr MacBeth-nya Shakespeare yg “dibuat ulang” dgn sentimen budaya dan setting Samurai Jepang yg sesuai dgn visinya Kurosawa, dgn mengandalkan kekuatan visual yg cinematic sekaligus personal tapi juga universal dan singular.
Diantara film-filmnya Kurosawa yg sudah gue tonton, Throne Of Blood bisa plg dekat dibandingkan dgn his later film Ran, tapi hanya sebatas pd adaptasinya karya Shakespeare dan pandangannya yg suram ttg humanity. Yg membuat Throne Of Blood stand out dr film dia yg lainnya adl dr visual dan imagery, yg di sini penggunaannya diterapkan sampe ke maximum effect, salah satunya dr ciri khas Kurosawa dlm pemanfaatan weather dan nature utk memaksimalkan atmosfir filmnya. Spt kalo di film Seven Samurai dan Stray Dog munculnya hujan menunjukkan pergantian tone dan mood filmnya, di film ini Kurosawa menggunakan kabut, hujan dan environment utk menciptakan feel yg chilling dan poetic. Throne Of Blood sangat terpisah dr adaptasi-adaptasi Shakespeare yg lainnya in that regard alone, say kalo dibandingin dgn adaptasi Shakespeare oleh Kenneth Branagh misalnya. Facial expression dan theatrics dr para pemerannya yg lebih ke style dr stage play drpd film, terutama Toshiro Mifune sbg Washizu (MacBeth) dan Isuzu Yamada sbg Asaji (Lady MacBeth) juga menciptakan kedalaman dan kontras dgn visual style-nya Kurosawa, dan lebih seram dr film horror sekalipun. Poin dr film ini adl ambisi menunjukkan status seorang manusia tapi greed dan ambition jugalah yg membuat manusia terpuruk.
Rating: Masterpiece
Mithrandir
April 17, 2004, 00:09
Dersu Uzala (Akira Kurosawa, 1975)
When Nature Calls
Film Dersu Uzala, pemenang Best Foreign languange Film Oscar thn 1975, adl film yg dibuat Akira Kurosawa beberapa waktu setelah mencoba utk bunuh diri. Ini adl film kedua Kurosawa yg menggunakan Color sekaligus Widescreen. Ini adl film yg didanai, ber-setting, dan dipenuhi oleh cast dan crew Rusia. Ini adl film dimana tdk ada lagi Toshiro Mifune sbg leading man (terakhir Mifune tampil di Red Beard, film terakhir Kurosawa sebelum dia mencoba bunuh diri). Tapi mau biar bagaimana pun situasi dan kondisinya, Akira Kurosawa tetaplah Akira Kurosawa, one of the greatest filmmakers of all-time.
Kalo dikira George Luca$ hanya terinspirasi bikin Star Wars dr The Hidden Fortress doang, ternyata di film ini juga setidaknya ada 1-2 hal yg Luca$ ambil. Salah satunya adl title character-nya Dersu Uzala merupakan model inspirasi utk menciptakan Yoda di Empire Strikes Back. Dan spt biasa, ada juga film Hollywood lainnya yg mirip. One of my favorite of the 90’s, Unforgiven, mengubah setting wilderness Siberia ke western, tapi temanya masih kurang lebih sama, a black and white character in a gray world, old fashioned manusia dan alam yg tergusur oleh ekspansi peradaban.
Seorang kapten ilmuwan militer Rusia (yg namanya agak susah diingat, Arseneyev kalo ngga salah) beserta beberapa lainnya ditugaskan utk meneliti topografi hutan belantara Siberia, dgn maksud utk membuka peluang dibukanya lokasi tersebut dijadikan kawasan yg bisa dimanfaatkan manusia. Mereka bertemu dgn seorang hunter nomaden berakhlak “murni” yg sudah lama melanglangbuana kawasan tsb bernama Dersu Uzala, yg diminta menjadi pemandu mereka menempuh kawasan-kawasan sulit. Dersu Uzala yg tadinya dikira mereka seorang yg lucu dan “bodoh”, ternyata sangat mengenal dan menguasai alam sekitarnya, banyak menolong mereka bahkan menyelamatkan mereka dr ganasnya alam. Ini adl film yg menelaah hubungan manusia dgn alam, menunjukkan betapa tidak ada apa-apanya manusia dibandingkan dgn kebesaran dan kekuatan alam. Tapi tetap manusia sendirilah yg berperan menentukan apa yg akan mereka lakukan dgn alam itu sendiri. Dersu Uzala is a beautiful film, yg dibuat dgn deliberate pace tapi ngga berasa slow, it flows naturally. Bila Kurosawa menggunakan widescreen, dia menggunakannya dgn maksimal, banyak menghasilkan great shots dan wonderful imagery.
Rating: **** out of ****
Mithrandir
April 24, 2004, 00:30
Akira Kurosawa’s Dreams (Akira Kurosawa, 1990)
Dream a little dream of his
Dari film epik kolosal spt The Seven Samurai sampe ke “small” film kaya Akira Kurosawa’s Dreams, film-film Akira Kurosawa selalu bermakna personal. This next follow up to Ran, is even more deeply personal and unconventional. Dalam film ini tdk ada yg namanya eksposisi dan pengembangan karakter, kesatuan cerita dan plot atau pun narrative coherence, karena itu bukanlah point dari Akira Kurosawa’s Dreams. Seperti apa yg judul film ini sampaikan, ini adalah kumpulan dari mimpi-mimpi Akira Kurosawa, dari berbagai macam hal mengenai humanity dan nature sampai ke mimpi buruknya. Bagaimana kita mendefinisikan mimpi? “Mimpi-mimpi” ini tidak perlu dijelaskan apa dan bagaimana, tetapi adl sesuatu yg harus kita experience sendiri. Mimpi adl refleksi dr reality dan fantasy kita sbg manusia, baik itu harapan dan keinginan atau ketakutan dan kekecewaan kita dr lubuk hati yg paling dalam, tapi mimpi-mimpi ini tidak selalu bisa kita pahami sepenuhnya atau ideal dgn reality dan fantasy tsb. Dan tentunya tidak semua orang akan mengalami dan merasakan hal yg sama. Makanya film ini akan memberi reaksi yg berbeda-beda utk setiap orang. Ada yg bilang film ini pretentious, self indulgent atau preachy, but not for me.
Mimpi-mimpi ini dibagi dlm 8 segmen, yaitu:
Sunshine Through The Rain
The Peach Orchard
The Blizzard
The Tunnel
Crows
Mount Fuji In Red
The Weeping Demon
Village Of The Watermills
Masing-masing ke-8 segmen ini punya personality dan sensibilitasnya tersendiri. Dan gue ngga akan memilih mana yg paling bagus dan mana yg jelek. Sbg contoh, segmen The Tunnel adl yg paling bikin merinding. Sementara Crows adl ttg lukisan Van Gogh comes to life, dimana karakter bernama “I” (Kurosawa’s alter ego) masuk ke dlm lukisannya Van Gogh dan bertemu dgnnya, yg disini diperankan oleh Martin Scorsese dan berbicara dlm bahasa Inggris.
I love from start to finish almost every single frame of this film. Gue terpesona oleh keindahan dan keeleganan visualnya. Just look at the colors, the detail, the composition. It’s so rich, gorgeous and breathtaking to behold. Kalo kita mem-freeze setiap frame-nya, bisa kita pajang di dinding sbg lukisan. Final shot dr Akira Kurosawa’s Dreams, rumput-rumput bergoyang di dalam air jernih yg mengalir, mirip dgn opening shot dr film Solaris-nya Andrei Tarkovsky, entah disengaja sbg homage atau tidak. Yang pasti Akira Kurosawa pernah mengunjungi set tempat shooting film tsb. Dan sama spt Solaris, Akira Kurosawa’s Dreams serenely speaks to me in an ethereal and spiritual way. It’s as if I had been taken to a place not just simply a dream, but another world of its own that lives and breathes. But in actuality, it’s just a reflection of our mirrors. Gue ingin mengutip kembali a great line dr film Solaris, “We don’t want other worlds, we only want mirrors.”
Rating: ****
Mithrandir
April 24, 2004, 00:34
Madadayo (Akira Kurosawa, 1993)
Never say goodbye
Setiap film terakhir dr great filmmakers spt Akira Kurosawa selalu menimbulkan reaksi, tapi biasanya reaksi tsb adl negatif berupa dismissal, disappointment atau bahkan carelessness. Krn spt great filmmakers lainnya spt misalnya Stanley Kubrick dgn Eye Wide Shut-nya, sebagian besar orang menganggap their final films selalu inferior drpd karya-karya terbaik mereka saat berada di puncak karirnya. Mungkin jarang sekali great filmmakers yg mengakhiri karirnya on a high note. Dan apakah great filmmaker spt Francis Ford Coppola juga yg sudah lama absen, sudah benar-benar pensiun atau masih saja berusaha membuat film terakhirnya agar berakhir dgn high note? Lalu bagaimana nantinya utk filmmakers spt Peter Jackson atau Steven Spielberg?
Madadayo, Film terakhir Kurosawa, harus gue akui adl my least favorite dr semua filmnya yg sudah gue tonton. Meskipun a heart-warming dan uplifting story ttg kehidupan masa tua seorang profesor yg tentu saja adl potret dr Akira Kurosawa sendiri, gue merasa sentimentalitas filmnya terlalu “kemanisan”, repetitif dan uninvolving, ceritanya ngga bisa gue relate, membuat gue cold hampir sepanjang film dan ngecek running time berkali-kali. What can I say, I’m heartless. Dan inilah yg pertama kalinya film Kurosawa sangat membosankan dan ngga enjoy utk ditonton. Padahal film methodikal Kurosawa lainnya spt Red Beard yg berdurasi 3 jam saja ngga spt itu (I love it). Kurosawa is getting old, dan cara pandangnya yg sudah tdk sama lagi berpengaruh ke filmnya.
Kalo saja 2 film terakhir Akira Kurosawa adl Ran dan Akira Kurosawa’s Dreams, yg dua-duanya menurut gue termasuk ke dlm jajaran film terbaiknya, maka karirnya sbg one of the greatest filmmakers of all-time akan berakhir in a perfect way. Tapi spt sang profesor di Madadayo yg selalu ditanya murid-muridnya setiap pesta yg dibuat untuknya, “mahda kai? (are you ready?)” Jawab sang profesor, “madadayo! (not yet!)”. Begitu juga dgn Kurosawa, dia tdk mau meninggalkan begitu saja kehidupannya sbg filmmaker. Dia ingin terus dan terus membuat film yg dicintainya. Tapi akan tiba saatnya dimana Kurosawa hrs membuat film terakhirnya, dan Madadayo inilah hasilnya. Tidak ada filmmakers yg filmografinya sempurna, not even the great ones.
Rating: **
qbiz
April 25, 2004, 23:56
A SONG FOR A RAGGY BOY
http://us.i1.yimg.com/us.yimg.com/i/mo/songforaraggyboy250.jpg
Directed by Aisling Walsh
Writing credits (in alphabetical order)
Patrick Galvin
Kevin Byron Murphy
Aisling Walsh
Cast (in credits order)
Aidan Quinn .... William Franklin
Iain Glen .... Brother John
Dudley Sutton .... Brother Tom
Marc Warren .... Brother Mac
Claus Bue .... Bishop
Alan Devlin .... Father Damian
Stuart Graham .... Brother Whelan
John Travers .... Liam Mercier
Chris Newman .... Patrick Delaney
Simone Bendix .... Rosa
Review :
Sebagaimana dunia tercengang dengan pengungkapan kasus pada awal-awal tahun 2000 sampai dengan sekarang tentang sexual abuse yang bersifat pedofilia dan tindak kekerasan yang dilakukan oleh biarawan-biarawan yang semestinya menjadi pelindung bagi anak-anak yang sebagian besar yatim-piatu ini. Film ini sepertinya hadir pada saat yang bertepatan dengan pengungkapan kasus-kasus itu.
Film ini berdasar dari kisah nyata (otobiografi) yang ditulis oleh Patrick Galvin. Mengambil dari kisah dan pengalamannya ketika berada di Sekolahan khusus anak-anak nakal (prayuana/ sekolah tetapi lebih bersifat penjara bagi anak-anak) St. Jude Reformatory di Irlandia di tahun 1939. Film ini dikemas dalam dialek Irlandia yang kental, dengan sinematografi dan musik yang sangat bagus. Film ini adalah film yang cukup berat untuk ditonton, tidak ada segi entertainment-nya, sebaliknya berisikan adegan-adegan yang cukup keras dan menguras emosi. Penonton dihadapkan dengan pada sisi gelap kaum rohaniawan. Sangat mengerti Firman Tuhan namun kehilangan kasih. Lebih jahat dari orang-orang biasa.
Anak-anak yang mengalami tindakan kekerasan ini merasakan suasana yang berbeda dengan kehadiran seorang guru yang baru William Franklin. Franklin adalah mantan pejuang dengan background “communist” dan ikut aktif dalam perang sipil di Spanyol, dalam perang tersebut Franklin kehilangan istri dan sahabatnya, dan cukup membuatnya shock berat ditambah dengan kekalahan pihak communist dalam perang sipil tersebut. Sekembalinya dari Spanyol ke Irlandia, Franklin berusaha mencari pekerjaan, dan satu-satunya pekerjaan yang menerima dia adalah sekolah St. Jude Reformatory.
Franklin mengajar murid-murid yang rata-rata berusia 13 tahun, yang hampir semuanya buta huruf. Kesabarannya membawa anak-anak ini untuk membuat mereka membaca-tulis, menghasilkan anak-anak yang hampir seluruhnya memahami karya sastra yang baik. Figur Franklin adalah sebuah ironi dari sekelompok “abusive staff” dari kalangan gereja. Sementara para biarawan mengajar sebuah disiplin dengan kekerasan, namun dipihak lain Franklin yang sekularis itu mengajar disiplin dengan kasih dan perhatian. Kehidupan Pribadi Franklin yang digambarkan sebagai seorang yang putus-asa, selalu kelihatan kurang tidur. Namun pada saat berinteraksi dengan anak-anak dan melihat penderitaan anak-anak muncul sikap humanity-nya. Ini adalah sikap yang berlawanan dengan sikap-sikap biarawan yang cenderung “enjoy” menyiksa anak kecil. Orang bekas komunis itu memiliki sikap kasih yang tidak dimiliki oleh kaum rohaniawan. Apakah Franklin tetap komunis?, tidak dijelaskan secara eksplisit dalam film ini, namun menjabaran secara visual menunjukkan bahwa Franklin mampu membuat anak-anak memiliki pengalaman yang belum pernah dialami mereka yaitu “merayakan malam natal yang indah”. Pada malam natal tahun 1939 Franklin membawa anak-anak berjalan-jalan dan membagi-bagikan hadiah kepada anak-anak itu sambil bercanda “do you believe in St Claus?” sembari membagikan hadiah.
Namun pada keesokan harinya anak-anak tersebut dihadapkan kepada suasana yang bertolak belakang, Brother John (yang bertugas sebagai pendisiplin murid2) menyiksa 2 orang kakak-beradik hanya karena melanggar jam bangun pagi dan malanggar batas tembok karena mereka ingin mengucapkan merry cristmast dan bertukar hadiah kepada saudaranya. 2 anak tersebut disiksa gara-gara indisipliner ini. Franklin menentang tindakan Brother John “bagaimana kamu melakukan ini pada hari natal?” Kehidupan hipokrit kaum rohaniawan ditampakkan jelas, satu sisi mengajarkan tentang Yesus tapi disisi lain memperkosa anak-anak, dan setelah melakukannya berdoa untuk pengampunan dosa.
Film ini ditutup dengan kejadian yang dialami oleh murid kesayangan Franklin : Liam Mercier yang mengalami penyiksaan fisik sampai mati. Franklin sangat menentang keputusan gereja yang menyatakan bahwa kematian Mercier itu karena sakit, ini adalah kebohongan besar! Pada pidato persemayaman Franklin mengatakan : “Liam Mercier sepanjang hidupnya mengalami abusement : pertama-tama oleh keluarganya sendiri, kemudian oleh staff di St. Jude, bahkan pada saat mati-pun masih di-abuse oleh gereja dengan mengatakan kematiannya adalah karena sakit. Ada iblis ditempat ini”.
Franklin orang bekas komunis itu, orang yang pernah menentang Tuhan, yang mungkin tidak tahu banyak tentang “tata krama agama” tetapi lebih memiliki kasih. Dan menjadi figur “Bapak” bagi anak-anak yang terlantar ini.
Mithrandir
May 09, 2004, 14:56
Tall Tales to Tell
BIG FISH (Tim Burton, 2003)
BIG FISH adl film yg masuk 5 besar favorit gue thn 2003. I really really loved it. Lucu bahwa gue pernah membandingkan BIG FISH dgn FORREST GUMP, film yg ngga gue suka. BIG FISH sama sekali berbeda dgn FORREST GUMP. FORREST GUMP adl film sentimental konservatif yg terlalu banyak pemanisnya yg populer begitu cepatnya shg menjadikannya overhyped dan overrated. Tapi tdk dgn BIG FISH, yg juga memiliki elemen sentimentalnya, tapi dgn pemanis yg tdk berlebihan dan lebih liberal dan progresif, BIG FISH adl film yg akan tumbuh dan berkembang seiring berjalan waktu spt pohon besar bercabang banyak di poster filmnya, kebalikannya dr FORREST GUMP. Mungkin kalo sutradaranya Steven Spielberg spt yg direncanakan semula, kedua film itu bisa saja punya banyak kesamaan. Tapi tidak, krn sutradara BIG FISH adl seorang Tim Burton, sutradara yg tiada duanya di Hollywood. BIG FISH adl film drama tradisional yg berpadu dgn fantasi yg surrealistk dgn style dan eksekusi hanya Tim Burton seorang yg bisa ciptakan. Setelah menonton BIG FISH kedua kalinya di format yg sepantasnya (in a beautiful DVD transfer, no less, entah kapan 21 akan merilis film ini di bioskop), I’d like to write something about this great film.
BIG FISH adl film ttg kekuatan cinta yg tulus. Cinta antara ayah dan anak, ibu dan anak, dan juga cinta antara suami dan istrinya. Ngga diragukan bahwa setiap anggota keluarga kita saling mencintai dan menyayangi, cuman kadang masalah persepsi dan kegagalan kita utk berkomunikasi shg membuat merasa kita tdk disayangi atau ada miskomunikasi krn setiap orang punya caranya masing-masing utk mengekspresikan cinta dan kasih sayangnya. Itulah yg terjadi dgn William (Billy Cudrup) yg merasa tdk mengenal ayahnya sendiri Edward Bloom (Albert Finney dan Ewan McGregor saat muda) krn cara ayahnya yg berkomunikasi dan mengekspresikan kasih sayangnya yg tdk spt orang biasa, suka membumbui hampir segala omongannya dgn hal-hal yg fantastis, magis dan tidak masuk akal bahkan sampai William sudah dewasa sekalipun yg membuat William skeptis dan kecewa thd ayahnya tapi tidak menghilangkan rasa sayang dan homat padanya. Dan saat William akan menikah, dia menganggap ayahnya mempermalukan dirinya sendiri di hadapan banyak orang dan menjadi sentral perhatian melebihi dirinya yg akan menikah dgn Josephine dgn segala macam cerita-ceritanya yg berlebihan. Hal tsb membuat hubungan dgn ayahnya jadi tdk nyambung dan setelah pernikahannya dia sudah tdk lagi berkomunikasi dgn ayahnya. Selama itu, William hanya bisa berkomunikasi dgn ibunya Sandra (Jessica Lange dan Alison Lohman saat muda), seorang ibu yg dgn setia penuh pengertian dan perhatian thd suami dan anaknya.
Edward Bloom memang adl seorang manusia yg imajinasi dan ambisinya jauh lebih besar dr fisiknya, tapi dia tetap adl seorang manusia biasa. Sebuah ikan besar (big fish) di kolam yg terlalu kecil. Dia tdk ingin hidupnya biasa-biasa saja di kota kecil Ashton tempat dia tinggal. Dia selalu bercerita bagaimana semasa hidupnya mengalami petualangan yg fantastis, mistis, surreal dan larger than life dr mulai bagaimana ia mampu menangkap catfish berukuran raksasa tapi harus dilepasnya krn nyaris kehilangan cincin kawinnya, bertemu dgn seorang penyihir wanita bermata gelas (Helena Bonham Carter) yg bisa memperlihatkan bagaimana ia akan mati kelak, menyelamatkan kota Ashton dr seorang manusia raksasa dan berteman dengannya, secara tdk sengaja masuk ke sebuah kota bernama Spectre krn mengikuti the road less traveled, Bertemu dgn calon istrinya di suatu pertunjukan sirkus dan bekerja di tempat tsb utk mengetahui lebih banyak calon istrinya tsb tanpa dibayar krn yakin bahwa dia sudah ditakdirkan utk menikah dgnnya. Lalu bagaimana dia juga bertemu dgn orang-orang larger than life lainnya spt seorang manusia werewolf pemilik sirkus (Danny DeVito), pujangga Norther Winslow yg menjadi perampok bank (Steve Buscemi), kembar siam yg menyelamatkannya saat tugas perang, dan lainnya.
William yg dia sendiri juga akan segera punya anak dr istrinya Josephine berusaha utk berkomunikasi kembali dgn ayahnya yg sakit. Will menyusun dan merekonstruksi kembali cerita-cerita ayahnya dan mencari fakta yg ada diantara tumpukan dan peninggalan barang-barang ayahnya utk mencoba mengenal ayahnya lebih dalam lagi dan berekonsiliasi. Dan Will menemukan suatu nama yg bisa membantunya memberikan informasi yaitu Jennifer Hill (Helena Bonham Carter) yg meskipun di film ini tdk tampil banyak tapi perannya sangat penting. Dr sinilah Will mulai bisa mengerti. Dan, bentuk cinta tertinggi yg tulus yg bisa diberikan seseorang pd orang lain, terutama seseorang pd his/ her loved ones, adl forgiveness. Kesediaan utk memaafkan dan menerima apa adanya. Ironis bahwa kadang-kadang kita baru bisa berbicara mengungkapkan isi hati setelah orang yg ingin kita ajak bicara sudah tidak lagi bisa “mendengarkan”, spt yg sempet diungkit di menjelang akhir film ini.
Diantara semua ilusi fantasi dan distorsi realita dlm film BIG FISH, pergelutan antara mitos dan rasionalitas, ada nuansa spiritual yg menyelubungi keseluruhan film tanpa perlu menyebutkannya dgn gamblang. Ini adl film ttg manusia yg tetap berpegang teguh pd prinsip moralnya apa pun yg terjadi, bahwa yg terpenting adl hati, jiwa dan kehidupan spirtualnya mau bagaimanapun fakta dan kenyataan hidupnya. Terasa adanya the greater power (God) yg terlibat dan berperan dlm setiap adegan BIG FISH. Bila dianggap film Hollywood tuh kebanyakan sekuler semua, menurut gue BIG FISH ngga termasuk dlm kategori tsb. BIG FISH memang adl film yg sentimental, tapi samasekali tdk manipulatif, segalanya berjalan secara natural, dan bagaimana film ini mengungkapkan resolusinya sampai ke ending-nya sangat indah dan tidak dipaksakan atau pun diatur sedemikian rupa dgn menampilkan big moment that screams Oscar!!! spt kebanyakan film lainnya. Film ini juga tdk memaksakan utk menunjukkan dan menjelaskan mana yg nyata mana yg tidak, membiarkan segala sesuatunya bergulir apa adanya. Dua jalan ceritanya yg non-linear dgn penggunaan narasi yg bebas, menyatu antara fantasi masa lalu dgn realita masa kini dikaitkan oleh ending-nya yg mengaburkan antara fantasi dan realita mengalir mengikuti alur filmnya. Ini adl film yg punya personality dan segalanya dr kespiritualan, kecerdasan, pesona dan humor. Film yg sentimental straight from the honest heart dan imajinatif from the creative dan visionary brain.
Tidak ada lagi yg perlu dikatakan mengenai aspek lainnya film ini yg begitu elegan dan otentik. Semua yg terlibat dlm film ini punya kesempatan utk bersinar. Cinematography, Art Direction, Costume dan Score dan Musiknya mengiringi dan memperkaya filmnya tanpa menarik perhatian lebih dr filmnya sendiri. Tim Burton sbg sutradaranya menunjukkan kematangannya sbg seorang filmmaker. Film ini spt potret dr inner life Tim Burton sendiri, sbg seorang artist dan person yg semakin tua tapi tetap memiliki jiwa yg muda dan kespiritualan yg kekal dan memandang segala sesuatunya dlm perspektif yg lebih dewasa. Dr segi visual dan imajinasinya spt biasa apa yg kita harapkan dr sebuah film karya Tim Burton. Kelemahannya dr segi storytelling pd film-film dia sebelumnya, terbantu oleh skenario yg dibuat John august dr novel Daniel Wallace yg penuh dgn layer, tekstur dan multidimensi. Inilah film yg secara emosional jauh lebih intim dan personal dr film Burton lainnya bahkan menurut gue melebihi EDWARD SCISSORHANDS sekalipun.
Berbicara mengenai para pemainnya, what a cast! Semuanya begitu colorful. I simply love them all. Dr peran pembantu spt Steve Buscemi, Danny DeVito, sampai ke peran yg lebih besar spt Albert Finney yg kharismatik, Billy Cudrup, Alison Lohman dan Ewan McGregor. Mungkin hanya di film inilah gue bisa mengapresiasi Ewan McGregor dan ngga bikin gue sebel yg memerankan Edward Bloom muda dgn penuh charm dan sweetness yg pd dasarnya adl karakter yg dibuat-buat dan dilebih-lebihkan oleh Edward sendiri, tapi tetap real dan believable. Tapi pemeran paling favorit gue adl Jessica Lange sbg Sandra istri Edward Bloom dan Helena Bonham Carter sbg Jenny Hill. Kedua aktris ini (dan juga Alison Lohman) memberi keseimbangan feminim pd film tentang 2 pria, yaitu ayah dan anak laki-lakinya meskipun tdk dikembangkan lebih luas. Lihat saja bagaimana adegan saat Edward dan Sandra di bathtub dan saat Sandra mencubit dagunya dgn tangan Edward di rumah sakit, atau Jenny bercerita pd Will ttg ayahnya dan dirinya. Heartbreaking tapi tanpa dilebih-lebihkan.
Di masa sekarang yg penuh dgn kesinisan dan keskeptisan, sangat melegakan masih ada film yang tidak mengumbar-ngumbar kenihilistikan atau kebrutalan yg dangkal untuk menyampaikan pesannya dan untuk menciptakan “art” for the sake of art. Kadang-kadang, diantara puluhan film yg gue tonton, there were some films that hit home for me. Films that resonate with me on the personal and intimate level. I can watch through 100 films just to find two or three such films. WHALE RIDER, THE RETURN OF THE KING dan BIG FISH adl diantara dr film-film 2003 tsb. That’s why I love movies.
Rating: ****
Gue sebenarnya pengen memberi BIG FISH rating Masterpiece, tapi tidak, setidaknya utk saat ini, mungkin some time in the future ketika orang bisa lebih apresiatif lagi thd film ini. Lagipula Masterpiece tdk tercipta dlm sekejap, butuh waktu utk membangun dan mengeksklusifkannya dr film lainnya. Menurut gue BIG FISH adl film terbaiknya Tim Burton sampe saat ini.
Mithrandir
July 23, 2004, 15:46
2001: A Space Odyssey capsule review
Menonton 2001 utk yg kedua kalinya akhirnya menghapus semua keraguan gue thd film ini. Spt banyak great films lainnya, 2001 improves in repeat viewings. Pertama kali nonton gue bereaksi dingin krn filmnya yg emotionless, meskipun sebagian membosankan tapi gue tetep bisa menontonnya dlm sekali jalan tdk sedikit krn terbawa oleh auranya yg misterius dan visualnya yg penuh grandeur. Kedua kalinya nonton, gue lbh fokus dan terungkap sesuatu yg baru yg membuat gue bisa lbh menerima film ini as what it is. Mungkin kuncinya adl membiarkan visual dan spectacle-nya menyapu bersih diri kita dan salah satu poin filmnya yg semakin jelas buat gue adl teknologi membuat kita kehilangan humanity. Tapi itu adl bagian dr proses evolusi dan kreasi dlm eksistensi manusia sbg bagian dr kebesaran jagat raya yg insignifikan. Meski gue masih lbh milih Solaris dan Blade Runner utk film science fiction, these three films are great and all probably would end up in my Top 100 films of all-time.
harlequin
September 11, 2004, 16:50
Resident Evil: Apocalypse
Milla Jovovich (Alice)
Sienna Guillory (Jill Valentine)
Mike Epps
Oded Fehr
Jared Harris (Dr. Ashford)
Sandrine Holt
Alice sadar di laboratorium and berjalanke Raccoon city hanya untuk menemukan kalau kota sudah dikuasai Zombie. Banyak hal terjadi ketika dia masih tidur... antara lain evakuasi yg dilakukan oleh Umbrella corp. agar kota dikosongkan.
Ketika mengevakuasi Dr. Ashford (pencipta virus T), mereka gagal mengevakuasi Angela Ashford, dan sang dokter menolak untuk meninggalkan tempat tanpa putrinya. Sementara itu, satu org yg tergigit mulai berubah menjadi zombie dan membuat semua orang di perbatasan panik dan Umbrella corp. menutup pintu perbatasan dan menyuruh penduduk yang masih tesisa untuk pulang.
Diantara orang2 yg terkunci di luar adalah Jill, Alice, dan beberapa anggota kesatuan khusus. Dr Ashford kemudian meminta bantuan mereka untuk menemukan Angela yg bersembunyi di sekolahnya.
Sementara itu Umbrela corp merencanakan pembersihan kota dengan mengaktifkan program nemesis dan menjatuhkan bom nuklir.
Ada beberapa hal mengejutkan (and tentunya yg biqn kaget jg banyak). Tapi film ini dengan ajaibnya menyelipkan beberapa humor lucu.. Endingnya, gampang ditebak siapa yg selamat dan apa yang terjadi. Namun sama seperti RE yg pertama, endingnya digantung menandakan bahwa akan ada RE 3.
Adegan berantemnya keren.... ^.^ dan Jill Valentinenya mirip...
8/10
qbiz
October 06, 2004, 23:32
OSAMA
http://imagecache2.allposters.com/images/153/421410.jpg
Cast :
Osama: Marina Golbahari
Espandi: Arif Herati
Mother: Zubaida Sahar
Mullah: Khwaja Nader
Grandmother: Hamida Refah
Writer/Director/Editor : Siddiq Barmak
http://www.haro-online.com/stuff/osama1.jpg
REVIEW :
Pemenang Best Foreign Language Golden Globe ini dibuka dengan kutipan pidato dari Nelson Mandela “I cannot forget, but I can forgive”. Sebuah ungkapan dengan arti yang sangat tetapi sangat applikatif untuk memulai era baru di Negara Afganistan. OSAMA mengangkat kisah yang “terrific” sekaligus “terrifying”, seperti bercerita tentang kehidupan tentang abad-abad lalu walaupun diambil dari kisah yang terjadi di dunia yang sudah modern ini. OSAMA adalah film pertama yang dibuat di Afganistan setelah kejatuhan Rezim Taliban. Apa yang kita lihat disana adalah kekuasaan tangan besi Taliban telah merenggut hak-hak perempuan yang menyiratkan bahwa siapapun yang terlahir sebagai perempuan pada lingkungan itu adalah sebuah “kutukan”.
Film ini bukanlah sebuah dokumentasi tentang teroris, bukan pula berceritera tentang Osama bin Laden. OSAMA mengangkat kisah nyata tentang kemalangan dan drama nyata seorang gadis muda tak bernama yang masih berusia 12 tahun yang menyamar sebagai seorang anak lelaki untuk menyambung hidupnya dan keluarganya. Sebagaimana kita ketahui semua perempuan pada rezim taliban tempatnya adalah di rumah. Kalau mereka berpergian keluar rumah harus disertai dengan suami atau paling tidak kerabat laki-laki. Kalau tidak, perempuan yang berjalan sendirian itu akan dianggap seperti “barang tak bertuan”, bisa dengan segera diambil/ditangkap oleh Taliban dan masuk ke penjara perempuan. Taliban melarang seorang perempuan berbicara dengan laki-laki yang bukan suaminya, dan banyak lagi larangan-larangan lainnya dengan atas nama agama. Suatu hal yang sangat kontradiktif dimana hukum menempatkan perempuan di rumah, perempuan tidak boleh terlihat wajah dan lekuk tubuhnya. Tetapi apabila mereka tertangkap mereka akan santapan para Mullah dan agen-agen Taliban.
Film yang berlatar-belakang kebangkitan Rezim Taliban di Afganistan, dan dibuka dengan sebuah adegan demo kaum perempuan ber-burqa biru, menuntut agar mereka diberi hak untuk berkerja mencari nafkah untuk keluarganya. Perempuan-perempuan itu kebanyakan adalah para janda yang suaminya tewas dalam perang dan kerusuhan. Kala itupun kaum perempuan sudah mengadakan perlawanan atas penindasan gender dengan dalih perintah agama oleh Rezim Taliban, mereka menyatakan “we are not political, we are hungry, give us work!" tetapi Rezim Taliban terlalu kuat dibanding sekumpulan perempuan pendemo itu, mereka membubarkan demonstrasi itu, dan menangkapi mereka. Nasip perempuan yang tertangkap itu tentu tak terbayangkan bagaimana. Disamping banyak yang mendapat hukum rajam, justru sebagian besar mereka dijadikan “mempelai” ini jelas merupakan pelanggaran susila, bukan?!. Taliban sebenarnya tidak hanya melanggar hak-hak kaum perempuan, tetapi mereka juga melanggar hak-hak kaum laki-laki. Contohnya agen Taliban bisa menangkap seorang laki-laki hanya karena dia berpakaian bersih dan bercukur. Tetapi tentu saja sekarang dengan berakhirnya Rezim Taliban di Afganistan mereka mulai mempunyai kebebasan untuk berbicara, menonton TV, mendengarkan Radio, yang tenntunya hal-hal tersebut adalah kebutuhan orang-orang secara keseluruhan (laki-laki dan perempuan).
Perempuan tidak boleh berkarir, kalau melanggar, tentu akan ditangkap. Ibu dari gadis kecil tokoh sentral dalam film ini adalah seorang dokter tetapi dengan berkuasanya Taliban, dia tidak bisa lagi berkarir, maka dia selalu menyamar ketika menjalankan pekerjaannya. Bahaya akan selalu mengancam terutama ketika dia harus berpergian untuk bekerja, karena di keluarga mereka sudah tidak ada lagi laki-laki yang hidup, semuanya sudah tewas karena perang. Taliban ada dimana-mana tak kenal waktu, semakin hari semakin susah untuk mendapatkan kesempatan untuk bekerja, sedangkan kalau si ibu tidak bekerja, artinya mereka tidak makan. Maka ibu ini dengan keputus-asaannya mendandani anak gadisnya ini menjadi seorang anak laki-laki agar bisa mengantarnya bekerja sebagai dokter. Gadis itu berkata “kalau Taliban tahu, mereka pasti akan membunuhku” tetapi neneknya memberikan semangat bahwa dia harus berani. Satu-satunya pasiennya telah meninggal sedangkan Rumah Sakit juga sudah tutup. Kesempatan mencari nafkah sebagai dokter habis sudah. Harapan kini tinggal satu-satunya pada anak gadis ini, dia harus keluar rumah sendirian dan bekerja di sebuah toko milik teman dari almarhum ayahnya. Sebab hanya dengan cara inilah yang memungkinkan gadis itu bersama-sama dengan ibu dan neneknya mendapatkan sepotong roti untuk menyambung hidup.
Nasip baik tidak bertahan lama, karena agen Taliban datang untuk recruitment anak-anak laki-laki untuk dididik di sekolah lokal madarasah, disitu mereka juga dididik menjadi prajurit. Dalam penyamarannya sebagai anak laki-laki, gadis kecil inipun terjaring dan harus masuk kedalam kamp pendidikan dan pelatihan militer. Di sekolah ini si gadis bertemu dengan seorang anak gelandangan bernama Espandi yang juga masuk pada pelatihan itu, Espandi sebenarnya sejak awal sudah mengetahui bahwa gadis itu menyamar sebagai laki-laki, kemudian dia memanggil gadis itu dengan nama laki-laki “Osama” (dari nama Osama Bin Laden) disinilah dia pertama kali dipanggil dengan nama itu. Di kamp ini ia menjadi lelaki, diperlakukan sebagai lelaki. Disini pula ia diajari mandi junub (ritual pembersihan bagi orang dewasa Muslim). Ketakutan Osama menjadi-jadi karena jika mengikuti pelajaran itu, maka terbukalah kedoknya bahwa dia adalah perempuan.
Kejadian tak berlangsung mulus, teman-teman Osama mulai mencurigai bahwa Osama adalah perempuan, dan mengolok-olok “kamu kayak cewek” dan terjadilah pertikaian diantara para murid di kamp itu, kemudian Osama dihukum ditarik-gantung ke dalam sebuah sumur. Sahabatnya Espandi yang selama ini merupakan tumpuhan harapannya untuk bisa menyelamatkannya, tidak bisa berbuat banyak. Dalam ketakutannya ini membuat dirinya mengalami kekacauan secara hormonal, yang mengakibatkan tubuh Osama secara premature mengalami menstruasi. Maka terbukalah kedok itu.
Perbuatan menyamar sebagai seorang laki-laki adalah kriminal, melanggar peraturan agama buatan rezim Taliban, pelanggar harus mati dengan cara dirajam atau pancung. Osama tidak akan bisa lepas dari jeratan hukuman itu. Dalam sebuah sidang pengadilan Taliban, ternyata Osama mendapat pengampunan, namun ini bukan berarti dia lepas sama sekali dari sebuah penderitaan, Osama menjadi properti Taliban dan harus menjadi mempelai dari salah seorang Mullah yang sudah berumur 70tahun yang juga adalah pengajar dari sekolah madarasah tadi yang pernah mengajari dia mandi junub. Si gadis kecil ini mau tidak mau harus berpisah dengan ibu dan neneknya yang merupakan tempat yang paling nyaman, tidak ada lagi dongeng indah tentang pelangi dari sang Nenek, semuanya sudah masa lalu, kini selamanya dia akan tinggal di "rumah" yang lebih mirip dengan penjara dan sewaktu-waktu harus siap melayani kedatangan Mullah itu.
Bagian yang paling berkesan adalah pada bagian akhir film ini yang ditutup dengan adegan Mullah itu melakukan ritual “Mandi junub” malam itu dengan masuk ke dalam satu tong air hangat. Adegan ini adalah sebuah pemandangan yang agak perlu waktu menterjemahkannya, setelah beberapa saat baru saya mengerti ternyata ada “satu maksud” yang ingin disampaikan, ternyata bagi Taliban memerawani gadis kecil bukanlah hal yang haram asalkan setelahnya melakukan ritual mandi junub, hmmm.
It conclude the little girl "ends up" life at the old bastard.
qbiz
October 06, 2004, 23:35
Film ini mengangkat tema kekerasan secara tersirat saja, bahkan tidak banyak menggambarkan adegan kekejaman agen-agen Taliban misalnya membunuhi dan menyiksa orang-orang. Tidak ada sama sekali adegan pembantaian, dan pembunuhan masal. Film ini hanya menggunakan pendekatan-pendekatan terhadap hal-hal yang terjadi akibat tindakan Taliban. Dan hal inipun bisa kita rasakan cukup untuk menggambarkan ketakutan dan teror yang dialami oleh rakyat Afganistan. Dalam keseluruhan adegan kita bisa melihat bahwa seolah-olah agen-agen Taliban itu “omnipresent/ maha hadir”. Sikap mereka sudah bisa menggambarkan bahwa mereka itu bengis dan kejam walaupun tidak ada adegan kekejaman/ obral darah, kekerasan dan sadisme. Namun tanpa itupun ketakutan dan kekerasan bisa kita rasakan. Kita seolah-olah diajak merasakan bersama-sama mereka dalam suasana takut itu. Kita melihat suatu kontradiksi, rezim yang teokratis yang berlandaskan agama secara keras justru melanggar nilai-nilai kemanusiaan, pertanyaan-pertanyaan yang muncul adalah “apakah mereka ini bener-bener percaya Tuhan?, “apakah mereka ini humanis?”, “siapakah sebenarnya sesama mereka itu?”. Mendengar gadis itu berteriak dan menangis “Taliban akan membunuhku....” itu sudah cukup membawa kita untuk menggambarkan kebiadaban Taliban walaupun tanpa adegan sadistis.
Siddiq Barmak adalah pria kelahiran Afganistan dan mendapat pendidikan film di Moscow, tinggal beberapa lama di Pakistan. Film ini diproses/ diedit di Iran. “Penting sekali bila film-film kami menceritakan secara gamblang tentang apa yang telah terjadi pada masyarakat Afganistan, saya percaya film mampu mengubah sesuatu. Film itu mempunyai kekuatan. 85% masyarakat Afganistan masih buta huruf, mereka tidak bisa membaca koran dan buku, jadi kekuatan gambar visual akan menjadi media yang kuat untuk membantu mereka untuk mendapatkan “Visual Connection”. Demikian pendapat Barmak sebagai writer/director/editor, ketika menjelaskan misinya melalui sebuah karya film.
Saya dibuat berkali-kali takjub dengan film-film Iran, pertama kali film Iran yang saya tonton adalah “Children of Heaven”. Amazing! Ternyata masyarakat Iran sangat berbobot dalam apresiasi seni. Kemudian “Color of Paradise”, juga mengangkat kisah kemanusiaan. Film yang sejenis dengan OSAMA adalah “Kandahar” & “Baran” juga merupakan film-film yang saya anggap “berkelas”. Sesuatu yang sangat jarang sekali saya temui pada film-film Indonesia. Film-film itu yang kebanyakan sifatnya sinematik minimalis namun sangat filosofis dengan tanpa ada kesan menggurui. Menonton film-film seperti itu bermanfaat mengajar dan mengajak kita untuk lebih menghargai hidup. Saya terkesan sekali bahwa masyarakat dari negara teokrasi seperti Iran pun mengkritisi kebiadaban Rezim Taliban. Kritik mereka melalui film-film diatas lebih objective ketimbang film-film produksi Barat atau Hollywood. Film mereka lebih natural karena lebih banyak memakai masyarakat awam dan bukan aktris/aktor proffesional. Jadi kesannya film-film itu seperti film dokumenter, atau istilah yang sedang populer sekarang adalah sebuah “reality show”.
I'm thrilled from the first time I watched it. It still does..........
Bagus P
agnesboy
November 15, 2004, 18:26
IGBY GOES DOWN
Kieran Culkin
Claire Danes
Jeff Goldblum
Amanda Peet
Ryan Phillippe
Bill Pullman
ceritanya tentang seorang anak berusia 17 tahun bernama IGBY (Keiran)....dia hidup di sebuah keluarga yang boleh dibilang berantakan but menurut gw lumayan kok.....Ibunya seorang yang dominan dikeluarga, abangnya seorang pemuda yang sukses dibidang akademis but fasis, ayahnya seorang pengangguran (at that time) dan penyakitan....
Cerita dimulai di mana IGBY dan abangnya melakukan pembunuhan terhadap ibu mereka, well agak heran mungkin kenapa seorang anak bunuh ibunya but then ceritanya beralur mundur dan memulai semuanya di sebuah acara makan malam yang tottally freak....
IGBY hidup menjadi seorang yang selalu memberontak perkataan ibunya, dan he hates her mom much. Dia selalu buat masalah disetiap sekolah dan selalu dikeluarkan dan udah sering juga dipindahkan sekolah...but itulah IGBY nggak berubah...
Dalam pencarian sebuah jati dirinya IGBY melewati berbagai kejadian yang mungkin blom seharusnya dilakukan oleh anak berusia 17tahun, seperti mencuri creditcard your mom, having sex with ur uncle's chick, selling drugs, etc....
but finally IGBY never change...he is still the same IGBY...except he actually loves her mom much after her mom died.......ini cerita bener2 kelam...but gw rasa bener2 pas deh....semuanya gw suka dari film ini....aktingnya, alurnya, settingnya, permasalahannya, ide ceritanya,....
well kalo dapet nila...i'll give 8/10.......
qbiz
November 25, 2004, 23:31
Fahrenheit 9/11
Film Dokumenter atau Propaganda?
http://www.michaelmoore.com/_media/images/booksfilms/f911-callout-booksfilms.jpg
Menurut pandangan saya Film Fahrenheit 9/11 hanyalah sebuah film Parodi yang berisi olok-olok kepada Bush. Sangat tidak layak disebut sebagai Film Dokumenter. Selayaknya Documentary Film itu “giving a factual presentation in artistic form” Sedangkan banyak adegan di film itu. bukanlah fakta, melainkan di splice and paste dari beberapa keadaan yang di sambung-sulam. Sehingga menggambarkan sesuatu yang berbeda dari yang sebenarnya.
Menonton film ini nalar penonton dilecehin habis dengan propagandanya Michael Moore, selebihnya Moore berusaha "melucu" dalam film yang dia kemas seperti sebuah “reality show” tetapi guyonan-guyonannya ini justru kesannya "cetek/dangkal". Sebagai penggemar film saya jadi marah nontonnya, karena Moore sepertinya hanya mengarahkan penonton pada opini pribadinya. Saya bukan pendukung Bush sehingga berpendapat demikian. Tetapi saya percaya anda semua akan setuju jika sudah melihat film dokumenter Fahrenheit 9/11 karya Michael Moore ini seharusnya di masukan di genre "fiction".
Awal adegan, Moore mempersoalkan mengapa Bush membuang waktu (menurut anggapan Moore) hampir 7 menit dan berusaha tetap manis dan santai di depan anak-anak sekolah sambil tetap memegang buku cerita "My Pet Goat". Menurut Moore mustinya Bush bergegas-lari (atau harus panik) secara instant begitu mendengar berita tragedi itu. Saya rasa pendapat Moore ini sangat picisan. Tetapi adegan ini adalah yang paling menarik dari semua isi Film itu. Bahwa sikap Bush ini menggambarkan keperibadian sang presiden yang mewakili seluruh rakyat amerika umumnya (the show must go-on).
Salah satu contoh dari isapan jempolnya (kalau menurut saya sih ini sudah menipu): Ada adegan yg menunjukkan headline dari pada beberapa surat kabar. Salah satu adalah surat kabar The Pantagraph dengan headline: “Latest Florida recount shows Gore won election”. Ternyata harian itu tidak pernah menerbitkan koran dengan main-headline seperti itu. Headline seperti itu memang pernah ada di salah satu penerbitan mereka, tetapi dengan tanggal penerbitan yang lain dari yang di tunjukan di film itu. Dan juga headline seperti itu adalah headline yang surat kabar tsb berikan untuk surat pembaca ke editor dimana pembaca itu berpendapat bahwa Gore menang pemilihan. Jadi:
1. Headline tsb tidak pernah ada di halaman utama.
2. Headline seperti itu adanya di halaman di dalam.
3. Headline tsb ukurannya/font-nya kecil, tidak sebesar seperti yang digambarkan di film Fahrenheit 9/11.
4. Headline tsb bukanlah pendapat surat kabar, melainkan pendapat penulis surat pembaca ke editor.
Selebihnya film ini banyak mengungkap jaringan bisnis keluarga Bush dengan keluarga Bin Laden. Saya kurang memahami kebenarannya (well,mungkin saja benar) dan jumlah duitnya memng bikin kita terbelalak. Kegiatan pelesiran Bush dan lain-lain. Tetapi tayangan-tayangan itu cukup membuat saya jadi ngantuk. Lha ini sedang cerita tragedi 9/11 atau biografi Bush?.
Mungkin saya terlalu "high expectation" terhadap Fahrenheit 9/11 sehingga kemudian menjadi kecewa. Jika Fahrenheit 9/11 dimaksukan ke genre fiksi, mungkin saya jadi tidak begitu ngomel, namanya juga film fiksi yang silahkan saja berimajinasi sesukanya :).
Mengingat film dokumenter sebelumnya yang berjudul 9/11 karya Jules dan Gideon Naudet begitu memukau. Suatu karya yang sangat bertolak belakang dengan Fahrenheit 9/11 , Naudet bersaudara adalah 2 Wartawan dan pembuat Film Dokumenter Perancis yang meliput sejak mulai awal gedung kembar WTC ditabrak sampai dengan ambruknya detik-demi-detik pada film 9/11. Film ini begitu jujur tanpa menambah-nambahi opini pribadi dan propaganda. Maka layaklah Film 9/11 ini disebut dokumenter dan menjadi salah satu film dokumenter terbaik sepanjang sejarah.
Saya bukan orang yang sangat setuju dengan kebijakan-kebijakan Bush, saya bukan orang yang setuju dengan perang dan tidak menutup mata Bush menjadi "pemicu" perang, Invasi ke Iraq yang tak kunjung selesai juga akibat kebijakan Bush. Tetapi film Fahrenheit 9/11 cukup menjijikkan, dan justru menjadi ajang pembodohan kepada penontonnya. Terbukti film ini tidak cukup mampu mengekang pemilih Bush sehingga Bush menang mutlak dg Kerri. Saya sendiri menjadi tidak mengerti, ajang bergengsi Cannes-pun memberikan penghargaan Palme d'Or (Palm Emas) 2004 kepada Michael Moore untuk Film sesat macam Fahrenheit 9/11 ini, tidak ada keindahan sama sekali, dan yang penting tidak ada kejujuran sebagai syarat utama Film Dokumenter.
"Shame on you, Mister Moore, same on you!!."
....meniru kalimat Moore untuk Bush :) .....
qbiz
April 07, 2005, 12:49
Andrew Lloyd Webber's The Phantom of the Opera
http://www.sonymusicstore.com/coverimages/SME_0101_SK_093521.70Q_200x200_72dpi_RGB.jpg
Cast :
Gerard Butler .... The Phantom
Emmy Rossum .... Christine
Patrick Wilson .... Raoul
Miranda Richardson .... Madame Giry
Jennifer Ellison .... Meg Giry
Minnie Driver .... Carlotta
Director : Joel Schumacher
Music : Andrew Lloyd Webber
Writer : Gaston Leroux (1868-1927)
Screenwriter : Andrew Lloyd Webber, Joel Schumacher
REVIEW :
Ketika seorang komposer menulis kisah cintanya sendiri, maka ia akan menuliskannya dengan hasrat, jiwa, perasaan dan emosi, total dalam karya tersebut. Dan inilah yang dilakukan oleh Andrew Lloyd Webber. The Phantom of The Opera (TPOTO) merupakan salah satu cerita yang paling sering dipentaskan di berbagai teater di seluruh dunia. The Phantom of the Opera adalah gambaran "kisah cinta" antara Andrew Lloyd Webber dengan Sarah Brightman. Dimana Andrew memposisikan dirinya sebagai The Phantom dan Sarah adalah Christine. The Phantom ini sangat/lebih teropsesi dengan suara "Angelic Voice" Christine ketimbang diri Christine sendiri, dan itulah gambaran dirinya terhadap Sarah Brightman, hubungan kedua insan ini memang unik, ketika mereka harus bercerai tetapi ada sesuatu yang tidak dapat memisahkan mereka yaitu music.
Secara umum TPOTO yang dirilis tahun 2004 ini adalah film yang indah untuk dinikmati, baik music, costume, sinematografi, visual effect, alur ceritera yang menghibur. Sutradara/Screenwriter/Producer yang mengawali karir filmnya sebagai “Costume Designer” Joel Schumacher telah menyajikan hasil kerja kerasnya ini dengan apik dan full technology. Skenario film ini ditulisnya bersama-sama dengan Andrew Lloyd Webber. Alur cerita yang mereka sajikan gampang dikuti, tidak seperti film-film TPOTO lainnya yang pernah diproduksi sebelumnya yang lebih banyak menampilkan unsur horor ketimbang musicnya sendiri. Sebelum menonton film ini saya membayangkan Joel Schumacher akan mengemas film ini dengan penuh kekelaman atau kemuraman seperti karyanya di "Batman Forever" 1995, “Batman & Robin” (1997) dan "8mm" 1999, tetapi di TPOTO ini Schumacher menyajikan gambar-gambar yang kaya-warna, penuh pernak-pernik seperti layaknya panggung opera. Schumacher menyajikan musical movie yang lebih manis dan lebih porporsional dibanding "Moulin Rouge" 2001 atau "Chicago" 2002 yang menurut saya 2 film tersebut terlalu banyak “scenery chewing” atau adegan-adegan hiperbola, yang membuat kita enek dengan sinematografi, costume, koreografi dan editing yang ditampilkan.
Lain dengan Film TPOTO ini kita disuguhi visual yang “incredibly complicated to explain” dimana cinematic detail nya sangat menarik dan sulit dipilih adegan manakah yang bagus, karena semuanya bagus. Belum lagi kita seolah dibawa kepada emosi dan passion dari kehadiran Opera Ghost itu dengan lagu “The Music of the Night” dsb.
Film ini dibuka dengan set tahun 1918 di gedung opera tua di kota Paris. Setahun setelah kematian Christine, Raoul tua menghadiri acara lelang barang-barang kuno di gedung opera itu dan mendapatkan sebuah music box dengan hiasan boneka monyet diatasnya milik The Phantom. Meg Giry yang sudah mengenali Raoul membiarkan lelang music box itu dimenangkan Raoul. Lelang kemudian dilanjutkan dengan penjualan lampu gedung opera, dan disinilah Joel Schumacher dengan manis menampilkan suatu paradoks gambar dari tempat tua dan kumuh menjadi gedung opera indah yang hingar bingar full color dan membawa penonton flash-back 48 tahun sebelumnya (tahun 1870) dan memulai kisah The Phantom of the Opera.
Christine digambarkan sebagai pribadi yang larut dan membiarkan dirinya dalam ilusi inkarnasi ayahnya yang telah meninggal, sehingga ia menganggap kehadiran The Phantom adalah “Angel of Music” yang telah mengajarinya bernyanyi. Pertemuannya dengan Raoul di gedung Opera itu membawa pada masa-masa kecil mereka, dan kisah cinta keduanya pun berlanjut.
The Phantom digambarkan sebagai seorang yang genius, sebagai seorang musisi/komposer, designer, arsitek dan magician. Gedung Opera itu adalah karyanya yang telah menjadi Artistic Domain. Kejeniusannya ini membawanya kepada kegilaan yang dipicu oleh cacat tubuh pada bagian muka yang dideritanya, rasa marah, rasa terbuang, dan masa kecilnya yang suram serta siksaan-siksaan ketika dia menjadi bahan tontonan untuk sebuah pertunjukan sirkus keliling yang menjulukinya sebagai "The Devil's Child".
The Phantom yang telah membuat Christine menjadi penyanyi opera yang mengagumkan menginginkan cinta tulus dari Christine. The Opera Ghost itu akhirnya-pun harus menyerah ketika menyadari bahwa ciuman yang diberikan Christine kepadanya hanyalah cara untuk menyelamatkan nyawa Raoul. Sebuah cara yang mirip ketika Christine mencegah Raoul menghunuskan pedangnya di tubuh The Phantom. Dimana Christine akan melakukan apa saja asalkan The Phantom jangan membunuh lagi. Tetapi kasihnya untuk Christine tak pernah pupus, dan The Phantom pun masih mengunjunginya di kuburannya.
Sungguh sayang, film mahal ini tidak mendapatkan oscar satupun di Ajang Academy Award 2005. Bahkan Andrew Lloyd Webber tidak dinominasikan untuk The Best Music (Score), hanya ada 1 nominasi untuknya "The Best Music (Original Song)" inipun Webber harus kalah dengan Jorge Drexler dalam film dari Argentina "The Motorcycle Diaries".
Agaknya Webber kurang beruntung di ajang Oscar, walaupun namanya sudah menjadi legenda. Pada tahun 1996 ketika ia mengincar The Best Music (Score) di arena Oscar 1996, Webber kalah dengan Gabriel Yared yang memang mengkomposisi music untuk Film "The English Patient" dengan sangat istimewa. Akhirnya Webber hanya mengantongi kemenangan untuk "The Best Music (Original Song)" film "Evita". Dalam Speech-nya dia mengatakan dengan berseloroh, "terimakasih untuk semua juri oscar yang memilih lagu saya sebagai The best original song untuk film The English Patient" (Karena waktu itu The English Patient memborong Oscar, dan dia sendiri orang Inggris).
Dalam kategori Best Music "Score & Original Song" pada Academy Award tahun 2005 ini memang ada kejutan-kejutan ketika Jan A.P. Kaczmarek (Finding Neverland) dan Jorge Drexler (The Motorcycle Diaries) menjadi pemenangnya .
Ketika TPOTO tidak masuk dalam bursa nominasi The Best Music Score, saya sendiri menjagokan The Maestro John Williams untuk film "Harry Potter and the Prisoner of Azkaban". Williams seperti biasa mengkomposisi lagu-lagu yang diluar nalar kita, orang satu ini memang "incredible genius", bukan orang biasa, mungkin lebih tepat disebut siluman :). Lagu "Double Trouble" dalam Harry Potter 3 ini merupakan suatu "rare composition" yang hanya bisa digubah oleh seorang genius. Coba anda dengar komposisinya untuk Film Harry Potter 1 yang judulnya "Hedwig’s Theme" sangaaat istimewa, dimana Williams mampu menyajikan komposisi music yang bernuansa gothic tetapi mengandung muatan imajinasi anak-anak, dengan memunculkan sound-sound music box. John Williams adalah salah satu legenda music yang bisa disejajarkan dengan Handel, Mozart dan Beethoven, dan mereka ini memang nabi-nabi music. Komposisi Williams untuk "The Schindler's list" dimainkan dengan sangat apik lewat gesekan biola Itzhak Perlman sehingga membuat pendengarnya pun ikut bersedih dalam sebuah tragedi kemanusiaan, demikian juga komposisinya untuk "Angela Ashes". Williams juga mampu membius kita lewat music-nya dalam adventure-adventure segar Indiana Jones dan Advanture Futuristic misalnya dalam film Star Wars, Artificial Intelligent dan Minority Report. Bahkan membawa kita kepada bermimpi dalam alunan music jazz manis “Moonlight” yang pernah dinyanyikan Sting dalam film Sabrina. Untuk film Minority Report ini, Steven Spielberg memberikan dia penghargaan dengan membayarnya lebih tinggi dari pada actornya sendiri : Tom Cruise. Saya sering berpikir andai saja saya adalah juri Oscar, John Williams bakal setiap tahun saya beri Oscar!.
Tapi toh tahun ini Kaczmarek yang menang. Nasip tragis malah dialami oleh nama besar Andrew Loydd Webber karena Score-nya tidak diperhitungkan/ tidak masuk dalam nominasi Oscar tahun ini. Padahal untuk pecinta music sejati pasti akan terhipnotis oleh lagu-lagu dan music latar yang ditampilkannya di film TPOTO 2004 ini. Webber menulis komposisi baru dengan judul "Learn To Be Lonely" dan ditampilkan di Panggung Oscar 2005 bersama penyanyi cantik Beyonce, yang seolah-olah sebagai hadiah hiburan saja bagi Sang Maestro.
Blessings,
Qbiz
April 7, 2005
Mithrandir
April 10, 2005, 02:12
Knock Myself Out
“I will arise and go now, and go to Innisfree...”
Gue pikir gue ngga akan menemukan film 2004 yg lbh baik dr The Twilight Samurai, tapi rasanya gue sudah. Million Dollar Baby sangatlah spesial. Bukan krn filmnya saja, tapi juga film pertama yg gue tonton di bioskop dlm beberapa bulan. Bioskopnya sih bioskop 21 kelas tiga biasa di kota Cimahi. Nontonnya juga kebetulan, saat mau pergi ke Padalarang melihat gambar Million Dollar Baby terpampang yg langsung membuat gue pengen nonton sorenya itu juga. Beruntungnya, hari itu adl yg terakhir ditayangkan krn besoknya sdh ngga ada. Padahal gue ngga tau kalo Million Dollar Baby udah tayang di 21! Tertinggal banget gue ini ya? :) Stop, ngelantur nih…
Gue lega Million Dollar Baby, Clint Eastwood, Hillary Swank dan Morgan Freeman masing-masing mendapatkan Oscar di kategorinya masing-masing. Semakin sempurna kalo saja Clint Eastwood juga menyabet Best Actor, krn ini film murni miliknya Eastwood, di depan atau pun di belakang kamera. Sudah cukup lama film drama super serius, small dan intimate, spt Million Dollar Baby tdk menguasai Oscar, terakhir yg menang adl ternyata filmnya Eastwood juga, Unforgiven thn 1992. Kebetulan, atau memang tinggal Eastwood seorang di Hollywood yg membuat old fashioned, straight-from-the-heart-to-the-bone kind of movie anymore?
Tema Million Dollar Baby yg juga lazim muncul di filmnya Eastwood adl ttg penyesalan yg terus menghantui dan ketidakmampuan utk melepaskan diri dr beban masa lalu. Yg berbeda seiring bertambah di usia senjanya Eastwood adl pengalaman, kematangan, dan cara dia melihat dan memandang berbagai hal, menjangkau cinematic transcendence melewati batasan genre convention walau basis ceritanya adl typical formula genre tertentu (dlm hal ini boxing movie) dan mengukuhkan dirinya sbg auteur minimalis tanpa pretensi ‘berseni’ tapi tetap punya stylistic authority dan singular specialness. Wong Kar-wai pernah ditanya kenapa film In The Mood For Love berbeda dr film-film dia sebelumnya, “because I’ve changed the way I see things have changed,” padahal Wong Kar-wai blm tua-tua amat :D
Million Dollar Baby adl film terbaiknya Eastwood sejak Unforgiven. Di beberapa aspek, Million Dollar Baby bahkan lbh kompleks dr Unforgiven, men-tackle kehidupan tragis yg realistis dibanding elegi western yg mistis. Spt The Twilight Samurai dan Unforgiven, Million Dollar Baby mempunyai nuansa kesepanjangmasaan yg tdk terikat ruang dan waktu krn kisahnya bisa terjadi dimana dan kapan saja.
Million Dollar Baby menggugah emosi yg mendalam di saat-saat yg tdk terduga, bukan krn filmnya sulit ditebak tapi krn mengalirnya cerita dgn tdk terasa, sampai ke keambiguitasan ending-nya yg menghantui gue selama beberapa hari. Spt halnya film serius Eastwood yg lain, Million Dollar Baby membangun klimaks dgn alur yg terkontrol, membiarkan inti ceritanya terungkap perlahan dgn sendirinya, dan ketika sampai, langsung menusuk tajam.
Ada saat-saat dimana hanya dr kerapuhan ekspresi wajah karakter-karakternya, layaknya pantulan sebuah cermin, memperlihatkan masa lalu dan masa depan, penyesalan dan harapan, kemungkinan-kemungkinan apa yg sudah dan akan terjadi pd Frankie dan Maggie. Dialog yg tak terucapkan jauh lbh bermakna drpd yg terucap, menyembunyikan kenangan luka lama yg blm sembuh dan tdk mau diungkap. Ini terutama menyangkut narasi Morgan Freeman sepanjang film yg tdk selembut kedengarannya, dipenuhi oleh perenungan diri walau yg dinarasikan bukan ttg dirinya.
Olahraga tinju di film ini tdk digunakan sbg romantisasi kekerasan, tapi sbg gambaran bahwa yg terpenting dlm hidup itu bukanlah menang atau kalah, sukses atau gagal, tapi pilihan yg kita ambil beserta konsekuensinya. Bahwa orang lain tdk suka thd kita, dan permintaan maaf thd orang lain atas suatu kesalahan yg kita perbuat tdk akan pernah cukup, setidaknya kita bisa memaafkan diri sendiri dan mencoba utk terus menjalani kehidupan ini.
Million Dollar Baby
Directed by: Clint Eastwood
Rating: ♥♥♥♥♥ – Masterpiece
Mithrandir
April 10, 2005, 02:14
“When The Facts Conflict With The Legend, Print The Legend”
"All this time we spent on the road—something happened, something I'll have to think about for a long time.All this injustice."
Yg sering dikeluhkan dr The Motorcycle Diaries apakah sesuai dgn fakta sejarah atau hanyalah fiksi belaka. Film bukanlah sejarah, lagipula sejarah juga punya kepentingan, tergantung dr sudut pandang si pembuatnya utk menekankan mana yg penting mana yg tidak, mana yg benar dan mana yg salah. Istimewanya The Motorcycle Diaries, tdk bersusah payah utk mengupas masalah tsb, tapi menelaah esensi dr peristiwa sejarah itu dr aspek yg terkecil, yaitu individu, bagaimana timbulnya kesadaran sosial, proses terjadinya perubahan sikap dan pola pikir dlm memandang dunia di luar dirinya yg dialami Ernesto Guevara, seorang mahasiswa kedokteran dr kalangan menengah ke atas, bagaimana ia menemukan rasa kemanusiaan melalui potret ketidakadilan dan penindasan yg dijumpainya saat melakukan perjalanan bersama sahabatnya Alberto Granado melintasi amerika latin, shg melahirkan suatu idealisme yg nantinya dituangkan dlm perjuangan revolusi.
Sebenarnya ini adl film coming of age story, pencarian seseorang ttg makna kehidupan yg lbh mendalam. Berbeda dgn film sejenis yg umumnya melihat dr segi seksual, The Motorcycle Diaries mengambil aspek spiritual. Gue menilai sangat tepat pendekatan yg diambil Walter Salles dlm menghilangkan aspek politik dan merambah ke aspek spiritualnya shg bisa menjangkau bebas tanpa batasan-batasan dogma yg mengekang. Tdk penting apakah penggambaran karakter Ernesto Guevara dan peristiwa yg terjadi padanya akurat atau tidak. Menurut gue sih, film ini sesuai dgn realita, tapi realita subyektifnya Walter Salles. Ernesto “Che” Guevara spt yg terlihat di film, juga bukanlah figur yg sebenarnya, tapi interpretasi akting Gael Garcia Bernal thd persona Guevara. Utk menikmati film ini, sebaiknya kita melepas semua persepsi awal kita ttg Ernesto “Che” Guevara, dan mengikuti kemana filmnya membawa kita. Perjalanan ini… terasa inspirasional.
The Motorcycle Diaries
Directed by: Walter Salles
Rating: ♥♥♥♥ – Excellent
Mithrandir
April 10, 2005, 02:15
Sympathy For The Devil
“Even though I’m no worst than a beast, don’t I have the right to live?”
Dunia ini adl penjara yg terbesar bagi manusia. Tampaknya itulah filosofi Oldboy, film Chan-wook Park yg secara psikologis plg kompleks sampai saat ini. Oldboy masuk ke sisi tergelap dr jiwa manusia yg kebanyakan film lain hanya berani setengah-setengah (kecuali mungkin filmnya Lars von Trier). Seseorang yg dibebaskan setelah 15 tahun dikurung tanpa alasan yg jelas, menuntut pembalasan dendam thd pelakunya. Tapi sampai sejauh manakah sebuah dendam bisa terpuaskan, krn kebenaran yg harus dibayar sangat mahal ternyata menimbulkan penderitaan yg jauh lbh dalam dan berlangsung seterusnya drpd saat dia dipenjara di tempat yg lebih kecil.
Setelah 2 kali nonton, termasuk berurutan dgn 2 filmnya Chan-Wook Park: JSA dan Sympathy For Mr. Vengeance, Oldboy adl film dgn visual yg intens dan lbh ambisius secara teknis, tapi sayangnya kurang memuaskan secara keseluruhan dibandingkan dgn Sympathy, dan juga masih tdk lebih baik dr JSA. Filmnya berasa spt set pieces tanpa perekat yg lebih kuat utk menyatukannya, yg menggunakan storytelling yg mirip dgn JSA, flashback sbg eksposisi yg memuncak di 3rd act-nya. Variasi style yg digunakan kelihatan lbh utk membuat penonton memperhatikan apa yg sedang terjadi saja.
Yg membuat gue sangat menyukai Sympathy adl krn ceritanya yg lbh “showing rather than telling”, dgn penggunaan silence yg menciptakan imagery of quiet power yg membuat shocking dan heartbreaking, spt di opening sequence Sympathy atau saat Ha-kyun Shin mengubur kakaknya di sungai sementara anak kecil yg diculiknya mati tenggelam atau klimaksnya yg chilling to the bone. Oldboy adl film yg lebih show-offy, loud, kinetic, dan agresif, but less powerful. Tanpa bermaksud utk menjadi a smart-@ss, gue udah bisa menebak “secret” Oldboy saat Dae-su pertama kali berinteraksi dgn Mido di restoran, walau tentunya itu blm menjadi poin yg penting krn motif dibaliknya masih belum terungkap.
Oldboy juga adl film yg fantastis dgn kekerasan sensasional tapi tdk sebrutal Sympathy dan tanpa substansi yg berkaitan dgn relevansi sosial. Kalo di Sympathy ada subtext ttg problem buruh dgn eksekutif pabrik, transplantasi ginjal yg menggambarkan dunia kesehatan, dan gerakan radikalisme. Sementara di Oldboy walau ceritanya sangat orisinil, tapi dasarnya adl fantasi dgn sedikit korelasi thd realita yg berlangsung. Jadi content-nya sangat terbatas.
Dr segi akting, Min-sik Choi cukup baik, tapi tdk konsisten. Menampilkan semua eskrpresi yg dlm kata-katanya Harry Knowles (of AICN), “pathetic, noble, sad, melancholy, tragic, comic, furious, under-stated, over-the-top and cool”, tapi tdk lantas menjadikannya a great performance tanpa disertai a sense of rhytmic balance. Dan Ji-tae Yu sbg lawan main Choi is awful, dgn karakterisasi 1-dimensional dan cenderung karikatur krn kurang dikembangkan, tdk seimbang dgn karakernya Min-sik Choi. Jadinya tdk sebagus harmonisasi antara Song Kang-ho dgn Ha-kyun Shin di Sympathy For Mr. Vengeance atau Song Kang-ho dgn Byung-hun Lee di JSA.
Meskipun dgn segala hal yg sudah gue katakan diatas, Oldboy tetaplah a worthy film, krn film spt Oldboy adl film yg hanya bisa dibuat oleh sutradara yg memiliki “singular vision” layaknya great directors lainnya. Dan Chan-wook Park still has a lot of rooms to grow in the future.
Oldboy
Directed by: Chan-Wook Park
Rating: ♥♥♥ – Good
GrandTheftAero
July 16, 2005, 21:19
FANTASTIC FOUR
http://www.superherotv.com/gfx/ff_poster300.jpg
Sehabis pulang nonton, well... yg menurut gue pilemnya biasa aja... cenderung jelek malah... mana tadi pas di bioskop dibelakang gue ada segerombolan orang item berisik banget... sepanjang pilem komentar melulu kayak "Watch it, he's gonna break the glass! Ooooh see what I'm sayin? Gimme five." atau "Aw man, that Johnny Boy is a genious in pimpin'." I'm not kidding, but the stereotype is true ;D
Pilem nya sendiri, yah begitu lah... kurang greget. Kesalahannya terletak pada di script nya, dan juga direction nya Tim Story, yg keliatan banget belom bisa menangani film dengan skala besar.
Sooo much potential is wasted, dari mulai credit sequence nya aja biasa banget... lalu awal cerita yg mereka ke luar angkasa ngga ada adegan peluncuran space shuttle yg di komiknya cukup legendaris itu. Terus adegan2 dimana mereka mulai menyadari kekuatannya bisa digarap lebih 'wah' lagi... angle2 kamera nya Tim Story seperti kurang berani buat menyelidiki kekuatan tokoh2nya
Ioan Gruffud, gue yakin dia bukan aktor yg buruk tapi aktingnya standar banget ... kekuatannya seperti kurang ditonjolin, adegan dimana dia menahan Ben Grimm sepertinya 'kurang' banget gara2 angle nya Tim Story yg terlalu restrained... elastisitasnya? kurang elastis, CGI nya sooo 1990, give me Elastigirl any day
Jessica Alba,..... she's hot. And miscast. kerjaannya ngomelin Johnny Storm melulu... apa yg mestinya seorang superhero yg keibuan malah jadi kakak yg annoying... Adegan favorit gue ya yg di jembatan :D, terus yg pas dia dikejar2 ama fansnya lucu juga...
Alba sure is hot, dan gara2 ini agak susah buat gue buat percaya kalo dia adalah scientistnya Von Doom, I feel that there's no way she can tell the difference between a genome and a lawn gnome...
buuutt.... she's hot, kalo gue jadi Reed Richards gue gak pernah ndengerin omongannya dia kali, sibuk ngeliatin bodynya (I'm sorry but it's true, ada satu adegan yg gue gak ngedengerin apa yg miss Alba omongin, too distracted :inlove: )... and did I mentioned that she's hot? kata user2 laen: "We heard you the first ten times!!!"
lalu Julian McMahon... waktu di Wondercon 2005 kemaren orangnya kocak dan jail tapi di filmnya dia kayak bosan gitu... karakternya bland, flat, gak menacing... entah kenapa penokohannya diganti, di cerita aslinya Dr. Doom itu diktator asal Latveria, the most brilliant man on earth dan tidak sungkan2 menyatakan kalo dia ingin menguasai dunia. di komiknya dia cedera berat gara2 experimen yg dilakukan semasa kuliahnya dulu, walaupun sudah dicegah oleh Reed Richards (yg juga satu kuliah dengan Viktor Von Doom, Bruce Banner [The Hulk] dan Tony Stark )
makanya Dr. Doom bikin suit of armor yg juga punya power yg cukup luar biasa.. cerita aslinya jauuuh lebih menarik dari Doom yg di filmnya, a rich playboy / James Bond wannabe who decides to start blowing things up because he's turning into a human lightning rod... motivasinya juga payah, cuman setress gara2 tampang gantengnya berubah jadi besi, lalu pasang topeng besi juga (apa gunanya coba?????) terus juga gara2 company nya terancam bangkrut dan dia diancam mundur oleh board of corporate nya sendiri... hmmmm, sounds like.. NORMAN OSBOURN!! haven't we seen it before???? BAH! ::down:: ::down::
Chris Evans dan Michael Chiklis lah yg lumayan... dari Johnny Storm yg fratboy banget (walau tiap kali ada dia pasti deh langsung musik genjreng 2000 dan eXtreme games) sampai The Thing yg mau makan aja susah, pretty cool...
Dialognya... ahem,
Nurse: Whoa! You're hot.
Johnny Storm: Why, thank you, so are you.
...tidak seburuk "you're beautiful--that's because I'm so in love" nya Revenge of the Sith, but still badly cringe-inducing ;D
CGI-nya, kurang penggarapannya, yg bagus cuman efek nya Johnny Storm (courtesy of my friends at Giant Killer Robots, Dan Cox and Jason Fleming ;) )... action sequence nya kurang wah, kurang inspirasi dan gak ada energi nya... padahal banyak potensi nya, i mean.. c'mon!! they have 4 superheroes there!! use ILM or Digital Domain, have PLF to do the previz, hire David R. Ellis to stage the action sequence, get Simon Crane to coordinate the stunt...!! aaah wasted opportunities :(
Banyak lagi hal2 laennya yg bikin film ini jelek buat gue:
- pas Ben Grimm nelpon istrinya, terus istrinya langsung keluar cuma pake lingerie dan jubah... at new york, in the middle of the night... [i]*duuh* ::bentar:: seperti kata orang yg duduk dibelakang gue "noo noo noo... nooooo waaayy. She's gonna get butt-raped in 20 seconds flat."
- waktu di jembatan, pas truk pemadam kebakaran nabrak pinggiran tiba2 ada shot anjing dalmatian tutup mata.. meh?
- terus istrinya Ben Grimm sampe berusaha datang lagi ke jembatan cuman buat buang cincin didepan Ben dan orang2 banyak, cuman buat Ben bersusah payah ngambil cincin nya dari tanah.. what a b/tch :D
- si Ben Grimm sepanjang film bete melulu soal bentuknya yg serem, terus pas udah jadi normal lagi tiba2 mengambil keputusan buat kembali lagi menjadi The Thing.. pas terakhir filmnya Reed menawarkan Ben buat kembali ke wujud semula, Ben goes "Awww…don't worry about it." -- gak masuk akal di buku gue ;D
- perihal Sue Storm di jembatan ;D gak masuk akal juga sih, tapi ok lah ;)
akhir kata... cukup mengecewakan... bukan cuma karena kualitas keseluruhan filmnya tapi mengingat it could've been soo much more.... ada sih bagian yg enjoyable disana sini seperti adegan Sue Storm di jembatan dan dikejar fans nya, setiap kali Johnny Storm berantem ama The Thing, dan adegan Reed Richards dan Sue Storm di pinggir laut cukup menyentuh... tapi secara keseluruhan, it's quite underwhelming
boleh deh judulnya diganti ama The Underwhelming Four ;D
score: 4.7 / 10
saran buat sequel nya (kalau ada), hire a more competent director, have a solid script, don't be cheap on the FX, and stage some wild and spectacular action sequences
GrandTheftAero
July 16, 2005, 21:22
THE ISLAND Review
http://img.photobucket.com/albums/v64/RedSharkz/island_ver3.jpg
Pelem ini bagus juga... baguslah untuk melupakan pengalaman nonton film jelek tentang 4 superhero di hari sebelumnya :rolleyes: asik juga, nonton advanced screening 2 minggu sebelom filmnya keluar ;)
Filmnya ternyata bagus juga! Mungkin film terbaik Michael Bay setelah The Rock. Ceritanya mirip2 THX-1138nya George Lucas, dengan elemen Minority Report, Gattaca, The Matrix dan Logan's Run. And you know what, the storyline is pretty smart and intriguing for a summer film, especially for a Michael Bay film! Banyak hal2 yg disinggung di film ini mulai dari isu mengenai cloning, stem-cell research, survival sampai moral value seorang ilmuwan yg mencoba menjadi dewa. Setidaknya film ini tidak meledek inteligensi penonton seperti Armageddon
Alur ceritanya cenderung lambat dibanding film Michael Bay yg dulu, terutama bagian2 awal sewaktu Lincoln Six-Echo (Ewan McGregor) dan Jordan Two-Delta (Scarlett Johansson) masih di fasilitas penampungan mereka. Tapi gue bilang ini justru bagus soalnya jadi lebih bisa mendalami karakter dan juga lingkungan mereka. Mungkin ada sekitar 40 menit sebelum Lincoln Six-Echo menyelinap keluar dari fasilitas penampungan mereka dan melihat nasib karakter Michael Clarke-Duncan, only to realize that "THERE IS NO ISLAND!!". Kalau mereka yg berada di fasilitas itu ternyata adalah clone yg dibuat sebagai spare-part untuk host mereka. Dan setelah itu filmnya mulai beralur cepat sampai habis.
Ewan McGregor bermain cukup bagus disini, sepertinya semakin comfortable buat maen film action. Gue bilang dia punya karisma seorang superstar tapi disaat yg sama juga berkesan bersahaja (beileeh..) Karakter Lincoln Six-Echo nya cukup lugu, salah satu adegan paling lucu di film ini adalah sewaktu Lincoln bertemu dengan Tom Lincoln yg asli. Imagine having two Ewan McGregors, one with american accent and kinda dumb and the other with Scottish accent and an attitude of a rock star. The ladies will have a field day.. :D
Scarlett Johansson, never hotter ::waw:: ini peran film action pertama buat aktris muda ini, dan aktingnya cukup bagus sebagai Jordan Two-Delta, dimana perannya bisa saja menjadi karakter wanita stereotipikal yg lemah dan rada bloon tapi dengan Johansson perannya menjadi lebih berbobot dan karismatik
belum lagi dibawah fotografi arahan Mauro Fiore, mbak Scarlett keliatan sooooo otherworldly beautiful, kulitnya itu loh... bersih n mulus beneerrr. Nonton dibioskop, jangan dvd bajakan and you'll agree
Sean Bean as the Villain, asik juga melihat dia mencoba peran lain, sebagai seorang businessman / scientist yg menciptakan dan berdagang clone. He's playing a scheming businessman and not a fighter.
Djimon Honsou berperan cukup sangar disini, and man he's one tall motherf@#ker... Perannya sebagai orang yg ditugaskan untuk mengejar Lincoln dan Jordan.
Michael Clarke Duncan cuman nongol sebentar dan di saat2 yg sebentar itu he does what he do in other movies like being giddy and crying out loud ;D
Steve Buscemi, yaa.. pretty good in doing what he does best: being Steve Buscemi (which is never a bad thing hehe)
Direction Michael Bay lebih nyantai, tidak terburu2 seperti biasanya.. I'm surprised that he actually takes time to tell the story! Dan karena udah nggak dibawah Jerry Bruckheimer lagi, look filmnya juga beda.. udah nggak ke-oranye2 an lagi, tapi tetap glossy dengan set design yg wah seperti apartemen futuristiknya Tom Lincoln
Special effectnya? Flawless... best ILM work after War of the Worlds. Liat aja adegan clone Lincoln berinteraksi dengan Lincoln asli and tell me if it's not the best compositing job you've ever seen.
Action sequence nya, ya tipikal film Michael Bay lah. Gila-gilaan dari mulai kejar2an mobil yg ketiban barbel raksasa sampai kejar2an hover-cycle diatas kota LA yg futuristik sambil menghindari kereta terbang dan helikopter. Naaahh... kayak film Michael Bay yg dulu juga, penyakitnya masih sama.. kalo lagi action sequence, kameranya dikocok2 kayak dadu! You're complaining about the fighting sequences in Bourne Supremacy and Batman Begins? This is worse! ;D But grand action sequence nonetheless, and quite a spectacle
kekurangan film ini ya selaen action sequence nya adalah endingnya yg kayaknya terlalu gampang dan singkat dan sepertinya sudah dikasih unjuk di trailernya, tapi overall filmnya bagus, dengan plot yg berbobot, dan energik (mendingan ini dari The Underwhelming Four :P ). Definitely the summer's best.
Akhir kata mau ngucapin congratulations buat guru gue, Jae Cheol Hong dan temen gue Jean Denis-Haas yg namanya tercantum di akhir credits (as ILM Creature TD and Animator respectively) ::up:: ::up::
7 / 10
GrandTheftAero
July 16, 2005, 21:24
Charlie and the Chocolate Factory Review
http://us.movies1.yimg.com/movies.yahoo.com/images/hv/photo/movie_pix/warner_brothers/charlie_and_the_chocolate_factory/_group_photos/james_fox4.jpg
Summer 2005 sejauh ini diisi dengan film2 blockbuster yg dari segi mutu cukup surprising. Dari Star Wars Episode III, Batman Begins, War of the Worlds (I love the film, despite the haters and the plotholes :P ) dan The Island. Walaupun ada juga film yg kurang kualitasnya (seperti Fantastic Four ::down:: ) film Charlie and the Chocolate Factory termasuk salah satu film summer 2005 yg paling bagus.
Film ini penuh dengan signature Tim Burton, dari mulai opening credits dengan kamera mengikuti perjalanan sebuah coklat melalui pabriknya Willy Wonka, all told with CGI and Danny Elfman's music score fully blaring in the background that makes me shiver, you know damn well you're watching a Tim Burton film and deep inside you know you'll love it.
Filmnya penuh dengan karakter yg bermacam2. And I love all of them (kecuali Mike Teavee dan Veruca Salt, pengen gue tendang tuh dua2nya :D )
Freddie Highmore sebagai Charlie Bucket, great casting for great character. Charlie adalah anak miskin yg baik hati and it's easy for you to symphatize for him. Saking miskinnya dia cuma bisa beli coklat sekali dalam setahun, yaitu di hari ulangtahunnya. Keluarganya juga dipenuhi dengan berbagai karakter dari ayahnya (Noah Taylor) yg baru dipecat dari pabrik odol, keempat kakek neneknya yg selalu tidur2an di ruang tengah yg kecil; Granpa Joe (David Kelly) yg cinta banget dengan pabrik Willy Wonka, Grandma Josephine (Eileen Essel) yg baik hati, Grandpa George (David Morris) yg sinis dan selalu negatif dan Grandma Georgina (Liz Smith) yg budeg dan suka gak nyambung. Sampai rumah mereka pun seperti punya karakter! Cuma ibunya (Helena Bonham Carter) aja yg karakternya kurang nempel.
Anak2 lain yg diundang ke pabrik coklat memiliki karakter yg berbeda, ekstrim dan warna warni. Dimulai dengan Augustus Gloop (Philip Wiegratz) yg rakus dan maunya makan melulu. Peran Philip Wiegratz cukup lucu dan juga creepy soalnya alisnya dicukur jadinya Augustus Gloop seperti boneka Humpty Dumpty yg semua tau he's doomed from the beginning. Lalu Violet Beauregarde (Annasophia Robb) yg atletis dan kompetitif, her mom (Missi Pyle) FREAKED ME OUT with her alien beauty and stage-mom creepyness. Veruca Salt (Julia Winter) yg manja dan selalu dituruti keinginannya, she's good for nothing for being too spoiled. Mike Teavee (Jordan Fry), just plain annoying with his negative extremeness of an MTV child, I want to kick his head (sama seperti Willy Wonka yg sebel dengan Mike dari awal: "Why do you keep on mumbling? I can't understand any word you're saying."). Pantesan bapaknya (Adam Godley) setress melulu tampangnya ;D
Oompa Loompas. One of the greatest strengths of the film is also its main weakness. Seeing actor Deep Roy and his army of digital clones running around singing and dancing is quite a marvel. Aktor Deep Roy dengan ekspresi paten nya memberi nuansa lain kepada suku Oompa Loompas yg ditangan sutradara lain bisa saja menjadi pasukan kuli yg annoying. Sayangnya timing lagu2 mereka terasa out of place, soalnya digarap seperti a choreographed parade or Bollywood singing sequence jadinya seperti tempelan atau intermezzo yg cheesy dan buat sebagian penonton pasti terasa annoying.
Johnny Depp as Willy Wonka, "They thought the Charlie character should be more proactive and that Wonka should be more of a father figure, and I'm sitting there thinking 'Willy Wonka is not a father figure! If that's your idea of a father figure, yikes. Willy Wonka's a weirdo.'" -- Director Tim Burton.
Oh yeah, he's a weirdo alright. Johnny Depp adalah aktor yg luar biasa, sering membawa karakter yg diperankannya ke arah yg tidak disangka. Dan seperti di film Pirates of the Carribean he simply f@#king owns the whole film! Karakter Willy Wonka di film ini seperti Michael Jackson spin-off in a pimp coat :D.. Seorang milyuner jenius yg eksentrik dan kurang bisa berkomunikasi dengan orang lain, benci orangtua, sebel dengan anak2 dan sepertinya juga anti-kuman. Seperti dia yg cuek aja ketika salah satu anak bandel terseret ke ruang pembakaran.. Kita juga bisa melihat cerita asal muasal Willy Wonka dimulai dari anak kecil yg selalu dikekang oleh ayahnya yang dokter gigi (Christopher Lee!!) dan sebagian perjalanannya keliling dunia sampai ketemu para Oompa Loompas. Agak mirip dengan Batman Begins dimana kita melihat bagaimana Bruce Wayne menjadi Batman, disini kita melihat bagaimana Willy Wonka became the amazing chocolatier.
Yang bagus di film ini adalah bagaimana Willy Wonka dan Charlie Bucket pelan2 menjadi teman dari awal. Seingat gue di film yg dulu Willy Wonka dan Charlie tidak begitu peduli satu sama lain sampai akhir film. Kalau Willy Wonka versi Gene Wilder adalah seorang father figure, Depp's is a freak. But somehow Depp's Wonka connects to us more than Gene Wilder's.
Pabrik coklat Willy Wonka menjadi hidup dengan visi Tim Burton yg dibantu dengan set design Alex McDowell (Fight Club dan Minority Report ), membuat tur ke pabrik coklat ini menjadi sebuah magical experience. Dari ruang pertama pabrik yg dipenuhi pohon2 permen, ruangan pembuka kacang yg dikerjakan pasukan tupai sampai ruangan TV yg dipenuhi dengan aura 2001: A Space Odysseynya opa Kubrick. Dari adegan mulai masuk ke pabrik nya aja udah sinting, I was laughing like a maniac when the now infamous "Willy Wonka Here He Eeeeeezzzz" song was sung :haha
Akhir kata, this film is something magical, beautiful and incredibly warm. Walau gue cukup yakin pasti banyak penonton yg merasa terganggu dengan lagu2 Oompa Loompas yg terkadang terasa out of place, atau yg sudah cinta mati dengan versi 1971 yg dulu dan menganggap film ini cuma sekedar remake. This is NOT a remake, but a faithful adaptation to the Roald Dahl book. Judulnya aja Charlie and the Chocolate Factory So sit back and enjoy the ride.
8.5 / 10
All hail Tim Burton. And Johnny Depp. And Deep Roy. Charlie and the Chocolate Factory is simply scrumpdiddleumptious. ;)
Mithrandir
July 28, 2005, 01:20
Nolan’s Progress
Gue bukan orang yg termasuk fans Memento saat mengguncang arthouse moviegoer sbg ‘film original yg blm pernah ada sebelumnya makanya itu film haruslah masterpiece, a great film, the best thing ever since slice bread, better than sex, bla…bla…bla…’ Gue termasuk yg skeptis seorang Chris Nolan bisa menghidupkan kembali Batman setelah dikubur Joel Schumacher, padahal gue termasuk yg suka dgn his Memento follow up, Insomnia, dan menganggap Nolan blm saatnya utk terjun menangani blockbuster.
Dan gue juga termasuk yg menganggap Christian Bale is a cool guy. Dr American Psycho ke The Machinist, dan ambil bagian di The New World-nya Terrence Malick, Bale tetap menjaga status celebrity-nya secara low profile. Dan gue juga menganggap Gary Oldman, Morgan Freeman, Liam Neeson, Tom Wilkinson dan Michael Caine punya undeniable presence sbg aktor watak. Dan Cilian Murphy, is one lucky bastard yg setelah di 28 Days Later dan Intermission, juga maen di Girl with a Pearl Earring dimana disitu hanya Murphy seorang yg dpt jatah ‘to do Scarlett Johansson in the inside’ in that sexually repressed movie :D.
Dan gue juga termasuk orang yg masa kecilnya kurang banyak membaca komik. But I know a great comic book movie when I see one. Favorit gue adl Batman Returns, 2 film X-Men, Men in Black dan Ghost World (oops, Scarlett Johansson again).
Cukuplah dgn gue termasuk ini dan itu, bagaimana dgn Batman Begins ini, apa Nolan telah berhasil? Sebelum bener-bener ke Batman Begins, first thing first:
Sebelumnya gue menonton ulang Memento dan Insomnia dulu, utk antisipasi dan bagaimana kedua filmnya stand in the test of time.
You see, I have this condition…gue sangat suka dgn tema cerita Memento, ttg kerapuhan memori dan penyesalan yg tiada akhir dlm diri seorang manusia. Tapi suatu film belumlah cukup dgn ceritanya saja, bagaimana cerita itu diceritakan juga akan menentukan bagaimana film itu jadinya. Gue sama sekali tdk suka dgn cara cerita Memento dituturkan yg berbelit-belit yg membuat ceritanya menjadi diperbudak struktur penuturannya dan bukannya sebaliknya. Hal mudah kenapa hrs dibikin ribet kalo itu hanya sebuah ilusi. Every great innovation is simple, like all genius. Don’t make it complicated for the sake of complication.
Memento bukanlah film yg jelek, cuman terlalu digembar-gemborkan ttg ‘orisinalitasnya’ dlm membalik dan mengacak-ngacak kronologi ceritanya. And for the sake of clarity, I’m not against non-linear narrative at all, but my taste for non-linear film goes to something like Mulholland Drive, which was released in the same year. Now, that’s one helluva of a head-spinner with respect to storytelling. Dan Eternal Sunshine of the Spotless Mind yg mengangkat tema ttg memori juga, lbh superior struktur penuturannya dr Memento, krn mau bagaimanapun non-linear-nya Eternal Sunshine, narrative arc-nya tetap jelas, tdk dikondisikan sedemikian rupa oleh Nolan utk menyodorkan satu red herring ke red herring lainnya. Kalo memang Memento adl ttg ketidakkonsistenan kondisi disorder-nya Leonard Shelby (Guy Pearce), tapi kenapa storytelling-nya tdk menggambarkan hal tsb, malah peragaan Nolan sbg orkestrator storytelling-nya dgn memakai trick utk mengelabui penonton. Ketika suatu film baru bisa dimengerti setelah dibikin catatan saat nonton filmnya dan di-ulang-ulang frame by frame utk memahami cerita, motivasi karakter, koherensi plot, dsb, sutradaranya blm melakukan tugasnya dgn baik selain ingin pamer kehebatannya. Memento is like a jigsaw puzzle, but some of the pieces were kept by the director so nobody would know the real truth of the movie but the director himself.
Insomnia, on the other hand… gue inget betapa ‘enjoyable’-nya Insomnia saat nonton di bioskop. Dr akting sampe storytelling, solid dan old-fashioned Hitchcockian suspense thriller with a little psychological twist thrown in. Kalo Memento adl film yg fun krn penonton di-making fun, Insomnia sama sekali tidak, ini adl film yg sepanjang film sampe selesai membuat kita merasakan situasi dan kondisi yg dialami karakter di filmnya yg sangat tdk menyamankan. Insomnia memang tdk perfect, masih ada flaws-nya, spt plot-nya yg sangat hati-hati dikonstruksi tapi masih terlalu rapi.
So It Begins…
Setiap sutradara punya spesialisasi tema yg diangkat dlm film-filmnya. Truffaut pernah bilang, kalo seorang filmmaker hanya bikin satu film saja, selanjutnya dia hanya berusaha utk mengulanginya terus menerus. Kira-kira gitu (gue agak lupa dgn the exact sentence-nya). Utk seorang Christopher Nolan, tema yg plg menarik baginya adl mengenai sifat kejiwaan manusia. Di Memento dia mengupas ttg rasa sesal (regret) yg dikaitkan dgn memori, sementara di Insomnia ttg rasa bersalah (guilt) yg terus menghantui, dan di film terbarunya Batman Begins, Nolan mengangkat rasa takut (fear) dlm mengkonfrontasi masa lalu dan musuh terbesar seorang manusia, yaitu bukan orang lain, tapi dirinya sendiri.
Spt kata Hitchcock (definitely one of Nolan’s influencers), yg dia juga mengutip dr Socrates, keadaan psikologis seseorang bisa dilacak penyebabnya sampai ke trauma masa kecilnya yg sdh mengkristal, dan Batman Begins menyediakan banyak waktu utk mengeksplorasi bagian ini tanpa terburu-buru, mengembangkan motivasi karakternya sampai ke bagaimana Bruce Wayne menjadi Batman, krn motivasi adl segalanya. Ini adl origin superhero yg manusiawi yg tdk perlu men-suspend your disbelief. Ngga ada itu ‘ambitious/ tragic experiment gone wrong’ yg udah jadi staple di genre-nya. Jadi, walau adegan action yg bertubi-tubi di 3rd act-nya kembali pd mode konvensional tapi krn kita sdh menginvestasikan sebelumnya utk peduli dgn karakter-karakter ini, itu hanya icing on the cake saja. Setidaknya ada sebagian adegan action dimana Nolan memanfaatkan special effects utk lbh menciptakan momen-momen yg menakutkan.
Yg cukup mengejutkan dr semua ini adl nuansa filmnya yg dark dan serius, tdk ada kedipan mata kesinisan Nolan sepanjang film. Tdk mengherankan sih kalo ngeliat Insomnia, tapi gue tdk mengantisipasi ini. Kota Gotham dijadikan sbg metafora kondisi dunia saat ini. Setelah 25th Hour yg pertama kali, akhirnya ada lagi film Hollywood yg mengintegrasikan referensi ’that big September thing’ pd tempatnya dan beresonansi dgn tema utama cerita filmnya tdk hanya utk kosmetik saja atau krn ada udang di balik batu.
Visualisasinya yg Blade Runner banget, sdh jadi kesukaan si Nolan bikin film yg noirish kaya gini. Kota Metropolis Gotham spt industrial wasteland yg selalu gelap dan suram, dipenuhi kabut dan asap, hujan turun terus, kalo ada sinar matahari ngga nyampe ke tanah krn terhalang polusi dan bangunan-bangunan yg menjulang. Kota Gotham menjadi karakter tersendiri spt orang-orang yg mendiaminya. Ini adl sebuah kota yg realistik yg ditinggali manusia, tdk berasa spt sebuah set di studio atau hasil rekaan komputer, walau tentu banyak juga pake CGI. Yg penting kan feel-nya, kaya LOTR, bukan CGI-nya yg dimasalahin, tapi apa yg bisa dirasakan dr surroundings yg diciptakannya itu. Jadi bukan lagi ttg suspending your disbelief krn mata lo bilang itu tdk real. Gotham adl gambaran kota yg tdk terlalu jauh dimana kita sekarang berada kalo negara-negara maju dan berkembang tetap asyik mengeksploitasi alam tanpa memedulikan eksesnya spt pemanasan global.
Terkadang di film superhero yg mengontrol filmnya adl penjahatnya bukan protagonisnya (Jack Nicholson di Batman). Tdk di Batman Begins, Bruce Wayne dan Batman adl yg memegang kendali. Di tengah bejibunnya karakter yg diperankan aktor-aktor kelas kakap, peran Christian Bale adl favorit gue di film ini. Dia memerankannya ngga nanggung, ngga ambil pusing apa teenage girls and boys akan menyukainya atau tidak. Buat gue sih Bale is sexy as hell :D Gue suka nada suara si Bruce pas jadi Batman, tegas dan menacing sekaligus juga having fun. Karakter-karakter lainnya juga mendapat ruang utk bersinar, Morgan Freeman dan Gary Oldman dgn kesubtilannya, Michael Caine dgn humor dan kehangatannya, Cilian Murphy si Scarecrow yg bad@ss mothafucka, Rutger Hauer si eksekutif korup yg humanity-nya kalah jauh dr si Roy Batty the Nexus-6 replicant di Blade Runner ;D
Batman Begins sebenarnya punya potensi utk menjadi great film yg bisa keluar dr kungkungan genre-nya tapi semua elemennya tetap masih banyak bertumpu pd konvensi baku genre tsb dan belum menyatu secara seamless. Masih ada bagian-bagian yg kasar di sana-sini. Sbg contoh, racikan bumbu romantisme antara Bruce dan Rachel kurang sreg dgn tone keseluruhan filmnya. Adegan romantis ini diselipkan utk menambah sisi humanity film ini, tapi masih terlalu by the numbers for my taste. Selain itu, ketika hampir semua aktor tampil dlm mode yg se-level, sayang Tom Wilkinson yg biasanya excellent (dr In the Bedroom yg merupakan my pick for best actor of that year sampe ke Eternal Sunshine), keasyikan sendiri melakukan scenery chewing kaya Jack Nicholson di Batman.
Sebagai comic book movie, Batman Begins is as good as it gets, dan jauh lebih baik dr Spider-man 2, bukan hanya romantisme-nya tapi juga semuanya. In fact, Batman Begins blows Spider-man 2’s phony soap-operaish melodrama out of the water. Sama spt X2, gue menanti dgn antusias sekuelnya. Begitu banyak segala kemungkinan yg bisa terjadi setelah semua pondasi terbangun dgn kokohnya.
Batman Begins review
Directed by: Christopher Nolan
♥♥♥½ – Very Good
Mithrandir
July 28, 2005, 01:30
Make Way for Tomorrow
GIE review
Directed by: Riri Riza
You look so tired/unhappy
Bring down the government
They don't, they don't speak for us
I'll take a quiet life
A handshake of carbon monoxide and
No alarms and no surprises
No alarms and no surprises
No alarms and no surprises
Silent
Silent
(No Surprises – Radiohead)
Terlepas dr kualitas film mereka, yg adl persoalan lain sepenuhnya, Mira Lesmana dan Riri Riza adl perintis di era baru perfilman Indonesia. Mereka membuka jalan yg selanjutnya diikuti pelaku industri film dan TV lainnya. Mulai dr Kuldesak utk film indie, Petualangan Sherina utk film anak-anak, AADC yg adl film Indonesia plg fenomenal setidaknya dlm 10 thn terakhir ini utk film remaja, dan sekarang GIE, film biopic pertama di ’New Indonesian Wave’. For the fact that their films were well-researched, well-made and well-marketed stand as prime example on how an Indonesian film should be made too.
Nicholas Saputra yg menggebrak dgn AADC dan tampil sbg the title role di film GIE, juga adl contoh bagi para aktor yg ingin serius berkiprah di layar lebar. Mereka harus bisa menjaga jarak dgn publik dlm frekuensi penampilannya di TV atau media lainnya shg tdk ubiquitous. Ada alasan kenapa para aktor utama Hollywood tdk pernah ngambil peran di TV, krn itu akan menurunkan status keaktoran mereka menjadi TV personality of the week. Dan jangan sampai terbuai oleh shitainment demi popularitas murahan krn bisa backfire. Just leave that kind of thing for selebshitty wannabes. Stay focus on the job, acting.
Dr materi promosi yg gue liat, trailer, behind the scenes dan wawancara (tapi blm baca review-nya), persepsi yg gue dpt film GIE ini mirip dgn The Motorcycle Diaries. Tapi setelah menontonnya ternyata agak berbeda dgn reaksi yg gue dapatkan.
Film GIE, spt kebanyakan film biopic lain pd umumnya, terlalu melebar dlm menampilkan kehidupan tokohnya. Kenapa tdk lbh memfokuskan pada bagian plg krusial momen hidupnya, pada apa yg menjadi esensi kenapa tokoh ini menjadi hebat dan iconic. Langsung saja ke intinya. Bagian-bagian yg sifatnya mundane cukup diringkas, kalo perlu tdk usah ditampilkan sekalian utk menghindari pengulangan yg tdk perlu. Shg banyak waktu bisa diberikan utk menggali sedalam mungkin karakter Soe Hok Gie, bukan bagaimana kehidupannya dr titik A ke titik B ke titik C dan seterusnya. Dgn penggunaan terlalu banyak montage, storytelling-nya juga spt meluncur datar dgn konflik-konfliknya yg kurang dikembangkan. Selain itu, walau ada title card yg menunjukkan penanggalan, timeframe cerita masih kurang jelas. Film dimulai saat Gie sekolah bergulir sampe kuliah dan terus sampe filmnya berakhir, tapi sebenarnya kapan filmnya berakhir itu ngga nyantol di gue, krn gue ngga mengingat adanya suatu transisi, resolusi atau apa pun juga, tiba-tiba saja klimaks. GIE jadinya berasa spt film yg episodik tanpa ada benang merah yg mengikatnya.
Menurut pemahaman gue, alasan kenapa Riri Riza bikin film GIE spt ini dgn durasi yg lbh dr 2 jam krn dia ingin bikin film yg ’lyrical’ spt Magnolia dan The Thin Red Line, dimana kalo memotong bagian-bagian tertentu agar lbh pendek dan padat bisa menghilangkan ke-lyricism-an dr keseluruhan filmnya. Mungkin tdk tepat membandingkan GIE dgn The Thin Red Line, tapi yg sangat indah dr film The Thin Red Line adl perpaduan antara images, words dan music yg begitu integral, dan ada sedikit fragmen-fragmen serupa yg Riri Riza coba tuangkan di GIE. Terlepas berhasil atau tidaknya, usaha yg sangat ambisius ini layak utk diacungi jempol ::up::
Sayangnya, salah satu hal yg ngga gue suka di film ini adl score dan soundtrack-nya. Ok, musiknya emang enak didengar, tapi dalam konteks filmnya bagaimana? Hal spt ini masih menghinggapi film Indonesia. Score/ soundtrack itu bukan atraksi utama utk mengatur dan mendikte mood dan perasaan penonton. Lalu apa fungsinya storytelling dong kalo gitu. Soundtrack di film GIE sangat mengganggu dan mengalihkan perhatian dr cerita filmnya, malah sampe ada voiceovers yg tdk terdengar krn kalah nyaring dgn musiknya. Gue juga geleng-geleng kepala kenapa sampe harus nampilin lagu Revolution (ini kan judulnya ya?) dan Like a Rolling Stone. Visualnya sdh cukup tergambarkan kenapa hrs ditambah penekanan musik yg bombastis, bikin gue terbawa keluar dr filmnya beberapa saat. Dan juga petikan-petikan piano dan biola yg sangat precious itu, spt emosi yg hrs dijejalkan pd penonton krn visualnya blm cukup menggugah. Soundtrack cukup sbg pengiring saja. Satu musik yg gue suka, Donna Donna, terasa pas krn menjadi bagian dr ceritanya. Ngingetin gue dgn adegan saat lagu ’Cucurucu Paloma’ dinyanyikan di film Talk to Her. Damai hati ini rasanya :)
Dgn segala yg dinarasikan, dibicarakan dan digambarkan, muatan politik di film ini tetap membuat filmnya ’tdk bergigi’. Riri Riza menjaga jarak dgn mundur beberapa langkah dr materinya ini dan tdk mengomentari langsung perspektif yg diambilnya. Ngambil amannya saja tdk mau provokatif apa lagi kontroversial. Gue terus menunggu munculnya suatu statement, tusukan yg menohok mengenai political ramblings Gie. Kalo di film The Motorcycle Diaries yg esensinya menjangkau jauh melebihi aspek politiknya Che Guevara, spt menguaknya kesadaran diri dr karakter Guevara dlm pengakuannya thd sahabatnya di akhir film, "All this time we spent on the road—something happened, something I'll have to think about for a long time. All this injustice."
Soalnya renungan Gie yg dinarasikan sepanjang film buat gue sih tdk lbh dr seorang aktor yg sdg membaca buku harian, bukan sesuatu kesadaran pemikiran yg tercipta dr kejadian di filmnya. Itulah resiko terlalu mengandalkan penuturan menggunakan voiceover, jadinya terlalu telling bukannya showing. Ini juga bisa jadi disebabkan oleh politik yg digeneralisasi dan kurang spesifik. Idealism is good, sellout is bad, but what do we make of it then? Title card ttg kejatuhan Soeharto oleh mahasiswa dan blm adanya pemerintahan yg bersih di akhir film sebenarnya juga tdk perlu, krn sudah keluar dr kerangka cerita dan ngga ada sangkut pautnya dgn Gie, selain hanya utk memaksakan relevansinya dgn kondisi sekarang.
Klimaks filmnya yg melibatkan karakter si Sita (Ira) menerima dan membaca suatu surat, mengingatkan gue dgn ending Unbearable Lightness of Being-nya Philip Kaufman. Ngga tau juga sih, mungkin kebetulan doang. Tapi final image film ini cukup jelas adl homage thd The 400 Blows-nya Trufffaut. Dua kali Riri Riza me-referensi Truffaut, yg satunya lagi pas Gie dan Sinta nonton Jules & Jim, yg bikin gue heran apa emang film itu dirilis di Indonesia saat itu? Kalo gitu asik dong! Ngga kaya sekarang yg pilihan nonton film di bioskopnya sangat terbatas. Gue ngga mempersoalkan hal ini, wong Janji Joni aja dgn gencarnya menjual homage City of God di trailer-nya. GIE juga sedikit melakukan homage City of God di awal film. Emang banyak yg doyan City of God ;D
Tapi tau ga? Dgn segala keberatan gue itu, gue ngga nyesel nonton GIE di bioskop. Gue lega krn percaya atau tidak, GIE adl film Indonesia pertama yg gue tonton di bioskop sejak film Si Kabayan thn 90-an. Film ini bikin gue mikir sepanjang perjalanan gue pulang ke rumah, sampe gue pengen banget nulis review ini, sesuatu yg jarang film Indonesia lainnya bisa lakukan.
Di tengah bertebarannya sampah busuk pertelevisian Indonesia yg juga sebagian mengimbas ke perfilman; shitnetrons, shitainments, superstitious shittycisms, sacrilegious porn, crappity shows, crapnews, etc. Etc, munculnya film GIE membuat gue tetep optimis bahwa teori ‘15 year rule of movie history’-nya F.X. Feeney yg pernah gue bicarakan di forum ini bisa berlaku di Indonesia. Masih ada talenta tersisa yg berjuang utk melawan. GIE menandakan bahwa seluruh harapan belumlah musnah. Dan GIE adl film Indonesia yg singular di tengah lautan film Indonesia yg semuanya sama.
Saran gue buat yg blm nonton, tontonlah film ini di bioskop. Free your mind, jangan pedulikan all those naysayers yg mengklaim merasa plg berhak menginterpretasi Soe Hok Gie hanya krn udah baca bukunya. Spt yg pernah Roger Ebert katakan mengenai suatu film (gue ganti kata-katanya tapi), "That GIE doesn't match their imaginary vision of the real-life Soe Hok Gie is their problem, not ours." ;D
GrandTheftAero
September 26, 2005, 23:12
Tim Burton's Corpse Bride
Film ini bagus, tapi masih bagusan Nightmare Before Christmas... ceritanya lumayan dan pacing nya cepat, temanya juga bagus; kematian bukanlah sesuatu yg harus ditakuti... tapi entah kenapa rasanya Tim Burton lebih fokus ke karakterisasi daripada ceritanya... dan gara2 ini filmnya durasi filmnya jadi pendek banget; 71 menit doang!! kadang2 jadi mikir, apa Corpse Bride proyek sampingan/ iseng2 nya Tim Burton? lagu-lagunya sih lumayan, tapi kurang catchy dan penempatannya terkadang berasa seperti tempelan, problem yg sama yg menghantui Charlie & The Chocolate Factory...nggak ada lagunya yg memorable seperti lagu "What's This?"nya Nightmare...
Tapi walau begitu filmnya menyenangkan untuk diikuti kok, mungkin karena 'charm' stop-motion yg sudah lama tidak diproduksi... penempatan lagu yg kurang pas tertolong dengan sequence stop motion yg lucu seperti gerombolan skeleton yg tuker2an kepala dll. Para pengisi suaranya juga bagus, terutama Christopher Lee sebagai pendeta kota, karakternya lucu walaupun gak maksa dan terkadang2 terasa seperti Saruman :D
Kalau soal teknikan... luarrr biassaaaa... best looking stop-motion film, animasinya halus banget, gak heran kalo banyak orang yg nyangkain ini CG... lihat adegan Victor bermain piano bermerk 'Harryhausen' and you will forget that those are puppets on the screen...lightingnya juga bagus dengan semi-monochrome nya yg berasa dingin (herannya dunia nyata lighting nya monochrome dan dunia kematian lightingnya warna warni) beautiful imageries indeed, tiap frame nya bisa dibingkai dan dipajang diruang tamu,..
Overall filmnya menyenangkan, tapi sayangnya terlalu pendek dan lagu2nya kurang memorable... belom lagi endingnya yg agak terasa tiba-tiba (even though it's a fitting end)...
7.9 / 10
filmnya didedikasikan kepada Joe Ranft, story artist Pixar yg meninggal karena kecelakaan baru-baru ini
GrandTheftAero
October 12, 2005, 21:00
Wallace & Gromit: Curse of the Were-Rabbit Review
http://us.movies1.yimg.com/movies.yahoo.com/images/hv/photo/movie_pix/dreamworks_skg/wallace___gromit__the_curse_of_the_were_rabbit/wallaceandgromit_bigteaser.jpg
Film animasi CG (Computer-generated) memang menjadi trend saat ini, tapi bukan berarti tiap CG film itu bagus. Selain film2 buatan Pixar yg selalu luar biasa, biasanya film2 CG adalah kartun yg kualitasnya bervariasi dari yg bagus banget (Toy Story 2, The Incredibles), biasa aja (Madagascar, Shrek), sampai yg jelek banget (Robots, Shark Tale). Sayangnya para executive di Hollywood yg terkenal cerdas itu menganggap metode2 animasi tradisional seperti 2D dan stop-motion tidak nge-trend lagi dan fokus kepada CG animation. Lalu Aardman Studios dari UK datang dan menunjukkan bahwa bukanlah metode perfilman tapi cerita lah yg paling berarti dalam sebuah film.
Wallace & Gromit: Curse of the Were-Rabbit difilmkan berdasarkan tokoh dari film2 pendek Aardman Studios; Wallace, seorang penemu linglung yg cinta mati ama yg namanya keju dan anjingnya Gromit yg bisu namun cerdas dan setia yg diam2 selalu membereskan pekerjaan Wallace. Mereka membuka perusahaan anti hama, Anti-pesto yg tugasnya adalah menangkap para kelinci untuk melindungi pertanian di kota mereka selagi musim panen dan menyambut hari Giant Vegetable Competition. Namun pada suatu hari penduduk kota dikejutkan oleh kehadiran sebuah monster kelinci yg susah ditangkap dan memakan semua sayuran mereka, dan anehnya kemunculan monster tersebut muncul sehari setelah Wallace bereksperimen dengan menghipnotis seekor kelinci untuk tidak memakan sayur lagi dengan alat yg disambung kepada otaknya. Bila film pendek mereka yg dulu Wrong Trouser adalah homage untuk film noir dan suspense, maka Curse of the Were-Rabbit adalah their love letter to the monster genre.
Cerita yg simpel, ditunjang dengan produksi yg bagus namun tetap mempunyai 'household-feel' membuat film ini enak diikuti. Walaupun script nya gampang ditebak, namun tidak menjadi masalah asal ceritanya mengalir dengan baik, dan dibantu dengan humor khas British. Helena Bonham Carter kembali mengisi suaranya sebagai Lady Tottington yg agak linglung, sama seperti Wallace. Ralph Fiennes juga mengisi suaranya sebagai baddie Victor Quartermaine yg angkuh dan sombong. Seperti film pendek mereka Wrong Trousers dan Clean Shave, film ini pada awalnya beralur agak pelan, namun di akhir cerita pacingnya menjadi cepat dan full-action.
Dalam segi teknis filmnya cukup bagus. Pada adegan close-up penonton bisa melihat sidik jari pada boneka2 yg sedang 'berakting' di layar, dan juga lobang jarum pada tiap bola mata, yg diperlukan oleh para animator untuk menggerakkan bola mata tersebut tiap frame. Namun disitulah letak 'charm' dari seni stop-motion, kita tahu bahwa semua yg ada di layar dibuat dengan tangan. Ada beberapa adegan yg menggunakan CG seperti segerombolan kelinci yg melayang dalam gravitasi nol, bunny-lovers are going to have a field day.
Akhir kata film ini bagus dan cocok ditonton untuk semua umur, and I do hope this film will get the oscar for animated feature film. Wallace & Gromit kicks Corpse Bride's @$$!!
8.5 / 10
GrandTheftAero
October 12, 2005, 21:03
Domino Review
http://us.movies1.yimg.com/movies.yahoo.com/images/hv/photo/movie_pix/new_line_cinema/domino/_group_photos/mickey_rourke5.jpg
Oy vey...
Whatever happened to Tony Scott?
Dia sutradara blockbuster yg cukup handal, film2nya banyak dikenal bahkan beberapa diantaranya dianggap klasik. Top Gun, like it or not is a definite 80's blockbuster classic, The Last Boy Scout sangat menyenangkan dengan skrip dari Shane Black (Lethal Weapon, The Long Kiss Goodnight) yg penuh dengan memorable one-liner, True Romance is an underrated kickass flick, Crimson Tide bukanlah Hunt for the Red Oktober namun adalah film yg solid, dan Spy Game is enjoyable yet forgettable.
Sepertinya sewaktu membuat film pendek untuk BMW, Beat the Devil di tahun 2002 Tony Scott menemukan mescaline dan crystal meth sambil nonton Moulin Rouge. Mungkin dia terpesona dengan efek ini dan memutuskan untuk membuat filmnya dengan cara menggoyangkan kamera di tripod kekiri dan kekanan sambil ditilt dan bermain2 dengan zoom di lensa nya.
Lalu dia berpikir mungkin dengan lighting strobe flash dan green tinted film akan menciptakan suatu efek baru buat penonton. Belum puas, semuanya diproses di post-production dengan double exposure, memakai hampir semua efek transition di list mesin editing Avid-nya ditambah dengan sound effect yg repetitif seperti reverse piano-chord dll. Oh iya, pada saat2 tertentu coba pause frame-nya dan sisipkan subtitle, kan keren tuh...
Sebagai hasilnya, Beat the Devil adalah film pendek yg memusingkan, tapi cukup efektif untuk menunjang ceritanya yg anarkis (Clive Owen sebagai pengemudi bayaran ditugaskan oleh James Brown untuk balapan di Las Vegas strip melawan the Devil himself yg diperankan oleh Gary Oldman). Mungkin karena dianggap terlalu nyeleneh dan akhirnya malah keliatan paling jelek diantara film pendek BMW lainnya yg disutradarai John Woo dan Joe Carnahan, Tony Scott pun menenangkan diri dengan style yg baru diciptakannya itu. Sewaktu masa penenangan diri itu dia membuat film lain dan film itu adalah Man on Fire. Film yg cukup solid karena akting Denzel Washington sebagai bodyguard yg panas karena bocah yg dikawalnya diculik gerombolan penculik Mexico yg pengecut dan kurang ajar. Style yg gue sebutkan diatas bekerja dengan baik karena digunakan seperlunya, dan bahkan menambah tension dalam cerita tersebut.
Sukses dengan Man on Fire, Scott menerima skrip dari Richard Kelly (of Donnie Darko fame) yg mengisahkan anak dari bintang film lawas Laurence Harvey (Manchurian Candidate) yg tidak puas dengan gaya hidup Beverly Hills dan memutuskan untuk menjadi pemburu bayaran bernama Domino Harvey. Melihat skrip Kelly yg anarkis dan trashy, Scott memutuskan untuk membuat film Domino sepenuhnya dengan style baru-nya. Hasilnya adalah sebuah film yg membuat penonton sakit kepala dan puyeng. Best seen if you're high on mescaline.
Script Kelly sendiri cukup kompleks, tidak bisa dijelaskan dengan satu kalimat saja: Domino Harvey (Keira Knightley) yg direkrut oleh pemburu bayaran dari LA, Ed (Mickey Rourke) dan Choco (Edgar Ramirez). Mereka bekerja dibawah seorang Bail Bondsman (apa sih bahasa indonesianya?), Clairemont Williams. Suatu hari istri (atau pacar?) Clairemont, Lateesha (M'onique) terlibat dalam kasus perampokan mobil baja yg ternyata berhubungan dengan pemilik hotel Stratosphere di Las Vegas, dan juga ada hubungan nya dengan mafia Don Cigliutti. Domino dkk lalu ditugaskan oleh sang pemilik hotel untuk mencari uang itu dan menangkap para perampoknya. Ketika memburu para perampok itu, Domino dkk mendapat tawaran oleh seorang produser TV (Christopher Walken) yg tertarik untuk membuat petualangan dalam bentuk reality show, sorta like Cops but with bounty hunters... dan sebagai hostnya adalah Ian Ziering dan Brian Austin Green (yep, those Beverly Hills 90210 f@#kers :D). Semua ini diceritakan sebagai flashback oleh Domino ketika dia diinterogasi oleh agen FBI, Taryn Miles (Lucy Liu) selagi Domino was high on mescaline... (heeeeyy, whaddya know?)
Udah ceritanya ruwet, style Tony Scott tidak menolong sama sekali. Banyak adegan2 yg semestinya seru untuk ditonton tapi karena stylenya ruwet sedemikian rupa akhirnya membingungkan dan tidak menyenangkan untuk ditonton. Contohnya adalah sewaktu Domino dkk menyergap segerombolan Mexican, duabelas melawan tiga orang. Domino lalu menawarkan striptease kepada salah satu gang leaders itu sebagai jalan keluar, ketimbang tembak2an yg jelas bakalan makan korban. Sayangnya adegan striptease itu dishoot dengan kamera yg bergerak melingkari Knightley sambil dizoom-in dan zoom-out, lighting yg overexposure ditambah dengan double exposure dan music hiphop yg mendentum di background. Hasilnya malah bikin puyeng.
Keira Knightley tampil keras dan berani disini, tapi karena karakternya kurang didevelop pada awalnya malah kurang jelas dan kurang bisa dipercaya kenapa dia bersikeras ingin menjadi bounty hunter. And if you're really wondering, yes, she appeared topless. Anehnya, dia berani topless tapi untuk adegan striptease (dengan memakai bra dan CD) dia menggunakan body double... ::bingung:: Mickey Rourke, dengan film ini dan Sin City is definitely making a great comeback. Edgar Ramirez adalah pendatang baru yg cukup solid, aktingnya lumayan sebagai Choco yg keras dan psychotic namun diam2 naksir Domino. Lalu Rizwan Abbesi sebagai Alf "Cat-eating alien", supir Domino dkk dari Afghanistan yg ahli bahan peledak, his flashback story about his childhood in Afghanistan is pure gold. Lalu ada Christopher Walken yg tampil numpang lewat dengan over-the-top sehingga hampir membuat parodi atas dirinya sendiri, serta Mena Suvari who never looked this gorgeous. Lucy Liu is hot, walaupun cuma duduk doang dan meraut pensil. Lalu ada cameo dari Tom Waits yg idiotic and pointless, dan juga Domino Harvey asli di akhir film
Namun the scene-stealers adalah M'onique (dari sitcom The Parkers) yg bermain dengan baik disini. She may have weight issues, but she's somehow adorable, punya comedic timing yg tinggi dan mampu memancing simpati penonton. Lalu Brian Austin Green dan Ian (dibaca: Ay-yen) Ziering, the 90210 f@#kers yg berani meledek diri mereka sendiri di film ini sebagai aktor TV dari Hollywood yg manja dan pengecut. Kudos to both of them for laughing at themselves.
Sayang sekali, film ini semestinya bisa menjadi one kickass film, punya potensi untuk menjadi the next True Romance buat Scott, dan mungkin lebih gila namun plausible dari Sin City, sialnya penyutradaraan Tony Scott terlalu aneh dan overpowering buat gue. Apakah ini gaya baru dalam penyutradaraan dan akan membuat trend di Hollywood? Oh dear God, I hope not. Style seperti ini biasanya dibikin oleh sutradara muda yg biasa bikin video clip untuk MTV, tapi untuk seorang Tony Scott? He should know better...!! I hope he'd have some ritalin or xanax for his next film about LA gang riot The Warriors.
4.75 / 10
GrandTheftAero
October 23, 2005, 06:16
DOOM
http://i22.photobucket.com/albums/b338/GrandTheftAero/upcoming/Doom-05.jpg
Ini dia, film action horor yg menderita kasus formula hollywood yg teramat kronis...!!
too much time spent in the shadowy dark corridors... yg maunya ngikutin game-nya (Doom ]I[ yg ngebosenin itu) malah jadinya ikut2an ngebosenin... karakter2nya tipikal banget, dari Master Sergeant yg keras, anak muda rookie yg dungu, veteran relijius, penghancur berkulit hitam berbadan bongsor, dan tentu saja 'a token black guy' for comic relief ::rolleyes::
kalo merhatiin dialognya, seperti nya settingnya bukan di planet Mars sebenarnya, tapi di sebuah planet bernama Olduvai, soalnya kata 'planet mars' gak pernah diucapkan oleh satu karakterpun... cuman karena diprotes banyak orang makanya diawal2 dipasang intro dengan setting planet mars, cuman ya abis itu gak pernah disebut2 lagi... alat teleportation nya juga aneh gitu, pas mereka pindah tempat keliatannya tempatnya gak beda jauh gitu cuman beda lighting doang,,,.. kan lebih bagus lagi kalo ngikutin game-nya, mereka datang pakai spaceship terus alat teleportation itu yg jadi masalah soalnya malah jadi portal to hell... dan kalo cerita utamanya diikutin kan monster2nya lebih variatif tuh, nggak cuman pinky / imp / baron-lookalike doang... meehh..
terus sekuens FPS nya culun ah :D
udah kelamaan terus kesannya seperti ditempel gitu gak berkesan ama sekali soalnya ditaruh pas di belakang2 disaat orang2 udah bosen ngeliat adegan umpet2an di koridor yg gelap... yg paling memorable dari bagian FPS itu ya chainsaw vs. Pinky... ntar kalo dapet DVDnya diputer di komputer aja, udah berasa maen game FPS super hi-res dah :P
The Rock aktingnya ok lah, buat peran seperti ini... what do you expect? shakespearean method acting? orang perannya cuma menuntut segitu doang kok... yg jelas orangnya punya karisma, cuman kalo dia lagi marah bawaannya pengen ketawa aja :D
Rosamund Pike tu aktingnya jelek, kaku benerr... seperti ngebaca cue-card di luar layar,.. pokoknya kalo ada bagian dia lagi ngomong offscreen kedengerannya seperti orang baca buku telpon, datar banget
overall filmnya sih gak jelek2 banget, mediocre at best
4.8 / 10
SEMPER FI MOTHERF@#KER!!
:haha
qbiz
November 26, 2005, 07:03
Singin' in the Rain (1952)
http://www.dvdscan.com/singin_r1.jpg
Gene Kelly .... Don Lockwood
Donald O'Connor .... Cosmo Brown
Debbie Reynolds .... Kathy Selden
Jean Hagen .... Lina Lamont
Millard Mitchell .... R.F. Simpson
Cyd Charisse .... Dancer
Douglas Fowley .... Roscoe Dexter
Rita Moreno .... Zelda Zanders
Tahun 2003 “Singin' in the Rain” kembali dinyanyikan oleh Jamie Cullum dengan gaya jazz 80-an, dengan sound piano ‘Rodhes’ membuat lagu ini semakin manis dan arransemen music yang ‘beda’ dari lagu aslinya. Jamie Cullum, seorang anak muda yang kira-kira masih ‘twenty something’ memberi sentuhan baru dalam balantika jazz seperti halnya jazzer muda lain yang juga umurnya duapuluhan seperti Peter Cincotti, Joshua Payne, Michael Bublé, Matt Dusk dll. Cullum termasuk anak muda yang memilih ‘jalur lain’ disaat anak-anak muda lainnya masih ber R&B ria, nge-rabb, dan nge-pop. Dia memilih di jalur jazz yang oleh sebagian kalangan dianggap music-serius. Namun dia menyajikan jazz yang ‘twisted’ enak didengar dan lebih gampang dicerna, walaupun oleh sebagian kalangan pecinta jazz ortodok, dia dianggap ‘prostituting jazz music’ namun saya pikir itu tanggapan yang terlalu berlebihan. Sebab ‘his-music-ability’ cukup andal sehingga dia dipercaya ‘Verve Record’. Dan terbukti di album pertamanya itu, hanya dalam 3 minggu mampu meraih penjualan 1juta kopi, hal yang jarang sekali diraih Verve.
Mendengarkan Cullum menyanyikan “Singin' in the Rain” rasanya ingin kembali mendengarkan versi asli lagu ini, yang film-nya dulu hanya sempat saya tonton 1 kali di TVRI di acara film minggu-siang. Akhirnya 2 minggu kemarin di HMV dapet juga DVD-nya, dan bener, film ini adalah one of the most-loved and ‘a timeless stunning entertaining movie’. Memang, seperti hampir semua film-film classic, gaya akting film kuno sering/selalu ‘scenery chewing’ ('to act melodramatically; overact'; dibuat-buat) tidak seperti gaya akting masa sekarang yang lebih ‘natural’. Namun film ini masuk dalam definisi jenis film avantgarde dan eksperimental atau boleh disebut juga film yang inovatif-estetis dibanding film-film lain di masanya. Sehingga untuk dilihat masa sekarang ini film “Singin' in the Rain” tidak terlalu berkesan ‘kuno’.
Film ‘Singin' in the Rain’ ditulis, diperankan dan disutradarai oleh seorang ‘dancing legend’ Almarhum Gene Kelly, yang meninggal di umurnya yang ke 83 pada tahun 1996 lalu. Dia terinspirasi oleh lagu yang sudah populer yang ditulis oleh Arthur Freed and Nacio Herb Brown di tahun 1929, dengan judul yang sama. Penonton bisa merasakan hiburan segar mulai dari ‘fist movement’ koregrafi dari Kelly (dan Stanley Donen ) dengan lagu "Fit as a Fiddle". Kemudian ‘acrobatic-dancing’ dari Donald O'Connor's dengan lagu "Make 'em Laugh", dipadu lyric yang menggelitik, sajian dancing 3 menit ini akan sulit anda lupakan.
Apa yang membuat "Singin'" menjadi sesuatu ‘entertaining classic’ adalah karena paduannya antara music dan comedy-nya dimana film ini juga dibuat dengan Technicolor, yang dikembangkan oleh MGM studio sejak akhir 1930an, dan inilah hasilnya di tahun 1952!.
Maka, film ini dinyatakan sebagai "MGM's TECHNICOLOR Musical Treasure", merupakan suatu produk tekhnologi yang masuk dalam catatan sejarah. Dan benar, menonton film ini membuat kita lupa bahwa sebenarnya film itu adalah film kuno.
“Singin'” dengan set tahun 1927 menceritakan kepanikan masa transisi dari era ‘Film-bisu’ ke era ‘Film-bicara’, dengan sajian gaya komedi-parodikal. Bagaimana seorang akris yang cantik Lina Lamont yang dikagumi banyak penggemar, menimbulkan kekawatiran produsernya ketika aktris itu harus menampilkan suaranya di jaman ‘film-bicara’. Maka diupayakan cara ‘dubbing’ untuk mengganti suara buruk dari si-cantik itu. Namun akhirnya terjadi konflik antara sang-aktris dan si gadis-pengisi-suara, Kathy Selden, dan kedok sang aktris itu terbuka. Wah, jadi inget tragedi dubbing Milli-Vanilli nich, he he….. rupanya urusan ini udah terpikir sejak tahun 1952 :).
Film ini juga menampilkan ‘ballet-dancing’ klasik yang indah sekali. Anda mungkin ingat dengan foto legendaris Marilyn Monroe dengan rok-nya yang terbang keatas. Di film ini anda bisa melihat tekhnik yang sama ketika Gene Kelly berdansa dengan Cyd Charisse, jadi mikir berapa besar kipas angin yang dipasang untuk membuat kain yang mungkin lebih 10 meter berterbangan ikut menari-nari.
Bagi yang udah bosen dengan tarian jaman sekarang, mulai dari fenomenal dancing dari Sang Maestro Michael Jackson yang kemudian ditiru abiz oleh Justin Timberlake, juga penyanyi afro-american spt Usher dan banyak lagi yang lain. Bagi yang udah bosen dengan ‘dancing-pamer dada & perut’ ala Jennifer Lopez/ Britney Spear. Mari kita back to the past, tap-dancing choreography karya Gene Kelly ini pasti memberikan angin segar.
Blessings,
BP
November 26, 2005
http://www.dvdscan.com/singin.htm
http://en.wikipedia.org/wiki/Singin'_in_the_Rain_(film)
qbiz
December 07, 2005, 12:27
KINGDOM OF HEAVEN
http://ia.imdb.com/media/imdb/01/I/45/99/39m.jpg
Directed by Ridley Scott
Written by William Monahan
Music by Harry Gregson-Williams
Cast :
Orlando Bloom - Balian of Ibelin
Eva Green - Sibylla
Liam Neeson - Godfrey of Ibelin
Jeremy Irons - Tiberias (the movie's name for the historical Raymond III of Tripoli)
Marton Csokas - Guy de Lusignan
Jon Finch - Patriarch of Jerusalem
Brendan Gleeson - Reynald of Chatillon
Ghassan Massoud - Saladin
Edward Norton - Baldwin IV
Alexander Siddig - Nasir
David Thewlis – Hospitaller
REVIEW :
Setelah kecewa dengan Film TROY rasa California (Wolfgang Peterson), dan ALEXANDER yang nge-pop (Oliver Stone). Film KINGDOM OF HEAVEN cukup mengobati ketidak-puasan itu, meski sebelumnya saya sempat meragukan film ini karena pemilihan Orlando Bloom sebagai aktor utama, mengingat kegagalannya di film TROY, dan wajahnya yang terlalu imut seperti di film LORD OF THE RING. Hal-hal itu memang cukup membuat kebimbangan apakah Bloom mampu tampil sesuai karakter dalam film perang yang dikenal sadis itu?. Tetapi nama besar Ridley Scott membuat saya yakin bahwa film yang dibuatnya bukanlah sembarang film, setelah karya-karya besarnya di film-film : 1492 CONQUEST OF PARADISE; BLACK HAWK DOWN; GLADIATOR dll.
Ridley Scott dan William Monahan, mengangkat sepenggal kisah dengan latar belakang Perang-Salib. Dengan menampilkan Kerajaan Jerusalem (1099-1187) yang juga meliputi Antiokhia, Edesssa, dan Tripoli. Secara pemerintahan daerah ini di bawah Konstantinopel, namun gereja di bawah Paus di Roma. Film ini oleh banyak kalangan dinilai sebagai film yang lumayan jujur dan berani menampilkan ‘keburukan sejarah agama sendiri’ yang memang selama ini menjadi latar-belakang ketidak-harmonisan hubungan antara Islam-Kristen. Anda tentu tergelitik sekaligus miris dengan ucapan agamawan yang memberi semangat kepada tentara-tentara salib ke medan-perang yang diucapkan secara berulang-ulang "to kill an infidel is not a murder, it is the path to heaven!" ini mungkin agak mirip dengan ‘teriakan’ Imam Samudra.
Pemilihan judul KINGDOM OF HEAVEN, tentu mempunyai makna metaforik. Yang dalam film ini justru mengetengahkan tafsiran-tafsiran Kitab-Suci secara harfiah saja atau bahkan menyimpang. Dengan jelas, Alkitab menyatakan bahwa Yesus adalah Raja Damai. Film ini juga boleh dianggap sebagai oto-kritik terhadap kekristenan sebagaimana film THE NAME OF THE ROSE misalnya, yang mengetengahkan bahwa, TUHAN justru menjadi ‘orang-asing’ di dalam Gereja, karena ajaran manusia/ doktrin diberi otoritas yang melebihi Kitab-Suci sendiri.
Film ini bolehlah disebut sebagai salah-satu film terbaik yang pernah dibuat. Senematografi dan editingnya sangat pas. Dalam film ini, kita menikmati sebuah film epik yang cemerlang, sajian karya seni yang tinggi, dengan gerak kamera yang memukau, semburan darah, koreografi pertempuran, ceraian anggota-anggota tubuh manusia, kekasaran manusia, yang anehnya justru menghasilkan sinematografi yang indah. Kostum yang bagus; juga pemilihan musisi kepada Harry Gregson-Williams, meskipun tak se-terkenal Hans Zimmer atau James Newton-Howard namun karyanya cukup dikenal dalam film-film ie. Shrek, Antz, Spy Game, Man on Fire, dll. Dalam adegan-adegan peperangan, kita bahkan tidak merasa bahwa suara-suara gesekan pedang, gemuruh detak kaki pasukan kuda, dll. yang ditampilkan itu adalah sound-effect, karena sifatnya yang natural dan sesuai kebutuhan karakter film-film perang.
Dari segi cerita, film ini dihujani banyak kritikan, terutama dari kalangan barat dan pengkaji sejarah Perang Salib. Kritikan dilontarkan dengan tuduhan “memutihkan sejarah” dan beberapa agenda murni untuk mengendurkan ketegangan antara agama. Dilain pihak, saya kagum atas keberanian Sir Ridley Scott, Sutradara Inggris itu dalam membuat film seperti ini di dalam konteks dan semangat Barat yang kini kurang lebih anti-muslim. Scott telah membuat film yang kurang-lebih proporsional terhadap Islam yang diwakili oleh pasukan Saladin. Dan penulis skrip, William Monahan, menyatakan, “film ini menyuguhkan pesan bahwa, adalah lebih baik hidup bersama daripada berperang.”
Kisah dalam film ini dimulai tahun 1184, dengan kepulangan Godfrey of Ibelin (Liam Neeson), seorang ksatria, kembali ke Perancis untuk menemui anaknya, Balian (Orlando Bloom), seorang pandai besi sederhana yang masih dalam suasana berkabung atas kematian anak dan istrinya. Dengan latar belakang kehidupan di tanah Eropa pada waktu itu dilanda kemiskinan. Para agamawan mengajar : Sebagai penebusan dosa, rakyat harus melakukan perjalanan suci ke Baitul Maqdis (Jerusalem) dan bertemu Yesus, dengan mengadakan ritual pengakuan dosa. Penduduk di daratan Eropa yang kala itu terbelakang, mereka menganggap agung ajaran-ajaran para agamawan itu. Maka konsekuensi logis masuknya mereka ke Agama Kristen adalah harus membebaskan tanah kelahiran dan disalibnya Yesus dari orang-orang asing (Arab).
Balian melakukan kesalahan dengan membunuh seorang pastor. Kemudian ia lari dan bergabung bersama ayahnya Godfrey of Ibelin. Dalam perjalanan, Balian diajar sebagai seorang prajurit, sampai pada suatu waktu Balian diharuskan untuk menyerahkan diri karena ia telah membunuh seorang pastor. Godfrey menolak menyerahkan Balian, maka terjadilah pertempuran yang menyebabkan Godfrey cedera, dan akhirnya mati. Balian kemudian menjadi pengganti ayahnya untuk melayani raja. Pada saat itu Balian bertemu dengan Tiberias, penasehat militer raja yang diperankan apik oleh Jeremy Irons.
Kemudian, film ini menceritakan suasana setelah Perang Salib pertama, Pada saat itu pihak Kristen menguasai Jerusalem. Dibawah pemerintahan King Baldwin IV (Raja Jerusalem 1174-1185). Jerusalem saat itu dalam suasana damai dengan pihak Islam. Raja Baldwin IV mengadakan gencatan senjata dengan Salahuddin al-Ayyubi atau Sultan Saladin (Ghassan Massoud). Tetapi di lain pihak ada beberapa orang dari pihak Kristen yang mencoba kembali memprovokasi perang dengan pihak Islam. “Give me a war!” adalah kalimat menggambarkan bahwa Guy de Lusignan (Marton Csokas), anggota Knights of Templar yang menentang perdamaian dengan umat Islam, adalah tokoh antagonis di film ini.
King Baldwin IV yang diperankan oleh Edward Norton, walaupun sepanjang aktingnya memakai topeng, karena keadaannya yang sekarat dan wajahnya rusak akibat penyakit kusta. Tetapi kita disuguhi ‘voices’ yang sungguh berkarakter, dan anda pasti menikmatinya, sebagaimana suara Jeremy Irons yang accent-nya selalu sedap didengar. Disinilah Scott sangat teliti dalam pemilihan actor yang cocok dalam setiap tokoh didalamnya. Meskipun raja tak kelihatan wajahnya, tetapi Scott tidak mau memilih sembarang aktor apalagi ‘aktor-murah’ untuk menghemat budget, karena pembawaan karakter lebih penting. Malah dalam beberapa adegan ‘suara Norton’ mampu menenggelamkan penampilan Bloom yang rupawan itu. Demikian pula Scott sangat ‘perfect’ dalam menampilkan para tokoh Islam, ia memakai aktor-aktor Muslim sesungguhnya, Ghassan Massaoud, misalnya. Pemeran Saladin ini adalah aktor dan sutradara ternama di Syria. Melihat gambaran tentang Saladin dan bala tenteranya, kita bisa melihat bahwa keturunan Abraham yang lain ini adalah bangsa yang sangat hebat. Saladin digambarkan sebagai seorang ‘panglima yang sempurna’.
bersambung di halaman berikutnya..................
.
qbiz
December 07, 2005, 23:29
LANJUTAN : KINGDOM OF HEAVEN
King Baldwin adalah raja yang berkomitmen membina perdamaian dan harmonisasi 2 agama yang berbeda, namun komitmen ini harus dirusak oleh Guy de Lusignan dan Raynald de Chatillon (Brendan Gleeson) yang beranggapan bahwa “There must be war, God wills it!”. Maka untuk meredam kemarahan Saladin, King Baldwin sendiri yang kemudian memimpin pasukannya untuk berhadapan dengan pasukan Saladin. Sementara itu Balian yang ditugaskan untuk menjaga penduduk sipil bertaruh nyawa dengan pasukan Saladin yang dipimpin oleh Mummad Al Fais. Pasukan Balian kalah melawan pasukan Saladin namun Al Fais tidak mau membunuh Balian karena mereka saling mengenal sebelumnya. Dan Al Fais teringat akan jasa Balian dan kembali mengatakan “Your quality will be known among your enemies, before ever you meet them my friend”. Kemudian adegan diteruskan dengan ‘terms’ antara King Baldwin dan Sultan Saladin, dimana mereka kembali memilih jalan damai daripada saling menghancurkan. Segera setelah itu King Baldwin jatuh sakit.
Menjelang kematiannya, King Baldwin IV meminta agar Balian menikahi adiknya, Ratu Sibylla (Eva Green, aktris Perancis). Namun Balian menolak, atas penolakan ini Sibylla mengatakan kalimat sinis kepada Balian “There’ll be a day when you wish you could done a little evil to do a greater good”. Dan, hal tersebut memungkinkan Guy de Lusignan, menjadi raja dan memerintah atas Jerusalem menggantikan King Baldwin. Dengan didukung oleh Raynald de Chatillon. Guy dan Raynald adalah paduan sempurna ‘orang-orang yang haus darah’. Perang kembali dipicu dengan tindakan Guy yang membunuh seorang utusan Saladin dari Saracen. Tak cukup disitu Guy menangkap adik perempuan Saladin. Maka Saladin memancing pasukan Yerusalem keluar dari kota, untuk melawan pasukan Saladin di Hattin. Guy dan Raynald memporak-porandakan perjanjian damai yang susah-payah telah dibangun oleh Raja Baldwin IV dengan Sultan Saladin. Dalam keadaan seperti itu orang-orang Muslim tidak belajar suatu apapun dari Tentara- Crusade yang buas.
Kemudian, pasukan Guy menjadi lemah karena kekurangan air, maka dengan mudah mereka hancur dikalahkan oleh pasukan Saladin, kemudian Guy dan Raynald de Chatillon dibunuh. Melihat kekalahan tragis kubu, Tiberias kemudian memutuskan meninggalkan Jerusalem dan pergi ke Cyprus, sementara Balian tetap berusaha menjadi ksatria yang melindungi rakyat di Jerusalem.
Setelah memenangkan pertempuran itu, Saladin bergerak menyerang Yerusalem. Di dalam kota Jerusalem hanya ada penduduk biasa dan sedikit tentara saja karena sepeninggalan Tiberias dan Pasukan Guy. Terdesak oleh keadaan, Balian harus mengambil kendali dan memimpin para penduduk mempertahankan tembok kota, sesuai permintaan mendiang ayahnya “Defend the king, if the king is no more, protect the people”. Mampukah Balian dan pasukannya melawan pasukan Saladin yang berjumlah lebih dari 200ribu? Agaknya film ini tetap dalam komitmen-nya menyuguhkan sesuatu yang rasional. Dengan konklusi keputusan Balian “Then, I surrender Jerusalem under these terms” dialog dari tawar-menawar antara Saladin dan Balian, adalah salah satu dialog yang paling menarik di film ini.
Akhirnya Balian of Ibelin memilih kembali ke tempat asalnya dan menjadi seorang ‘pandai besi’, Sibylla pun meninggalkan posisinya sebagai ratu dan hidup bersamanya. Film ini hanyalah ‘sepenggal kisah dalam Perang Salib’ dan bukan keseluruhan catatan sejarah Perang Salib. Film inipun ditutup dengan Perjumpaan Balian dengan King Richard the Lionheart dari Inggris sebagai pihak yang kembali hendak memenangkan Jerusalem dari tangan Saladin (Pihak Muslim). Namun Balian menolak kembali berperang dengan mengatakan ‘I am a blacksmith!’
Walau bagaimanapun Perang Salib adalah sejarah hitam akibat dari abusement terhadap ajaran Tuhan Yesus Kristus, bagaimana Lambang Salib Sang Raja Damai itu dijadikan ‘icon-perang’ selama hampir 4 abad. Pada akhirnya Perang-Salib ini dimenangkan oleh kubu Sabil. Tahun 1453 merupakan masa jatuhnya Konstantinopel, kota kebanggaan Kristen itu menjadi Negara Islam hingga sekarang. Maka, hendaknya hal tersebut menjadikan suatu bukti bahwa Perang-Salib itu tidak dikehendaki Tuhan.
" First, I thought we were fighting for God
then, I realized.
We were fighting for wealth and land,
I was ashamed!"
By Raymond III of Tripoli (Tiberias)
Itulah setidaknya yang digambarkan KINGDOM OF HEAVEN, sebuah film yang berkisah tentang Perang Salib yang justru membawa pesan perdamaian.
Blessings,
BP
October 25, 2005
qbiz
December 07, 2005, 23:36
TURTLES CAN FLY
Lakposhtha hâm parvaz mikonand (2004)
http://images.rottentomatoes.com/images/movie/coverv/92/247692_thumb.jpg
Written and directed by Bhaman Ghobadi
Cast :
Agrin : Avaz Latif
Satellite : Soran Ebrahim
Henkov : Hiresh Feysal Rahman
Rega : Abdol Rahman Karim
Pasheo : Sadaam Hossein Feysal
Hangao : Hiresh Feysal Rahman
Shirko : Ajil Zibari
http://www.jamesbowman.net/images/publications/photos/1597/turtlescanalt.jpg satellite & crew
REVIEW :
TURTLES CAN FLY merupakan film pertama tentang perang di Iraq masa Invasi Amerika dibawah Presiden George W. Bush. Bolehlah dibilang saya adalah pecinta film-film Iran, sebab saya menyukai film-film yang natural dan bermuatan filosofi. Dan seperti film Iran lainnya ‘Turtles Can Fly’ juga menyajikan pengajaran kehidupan secara folosofis tanpa ada kesan menggurui penontonnya. Nah ini yang jarang sekali saya dapat dari film nasional kita, apalagi sinetron.
‘Turtles Can Fly’ menyajikan paradoks : film anak-anak yang penuh humor, manisnya adegan jenaka anak-anak, sekaligus film perang yang paling mengerikan.
Dalam film ini memang tidak ada adegan hunjaman peluru menembus batok kepala, seperti pada film Saving Private Ryan, atau semburan darah, potongan tubuh seperti di film Kingdom of Heaven, atau adegan sadisme yang lazim dalam film-film perang dengan tekhnologi mutakhir. Sebaliknya ‘Turtles Can Fly’ adalah sebuah film sederhana, namun secara psikologis ini memberikan dampak psikologis yang paling dalam. Meski Badan sensor film memberikan label genre ‘Parental Guide’, namun film ini bukan film anak-anak, melainkan seharusnya film dewasa.
‘Turtles Can Fly’ menyajikan peperangan yang sedemikian kuatnya berdampak pada ‘innocent victims of conflict’. Ya, peperangan paling banyak menyengsarakan korban tak berdosa, terutama anak-anak. Dan secara sempurna film ini menyajikan akibat perang ‘dimata anak-anak’. Sehingga saat kita menonton, secara tidak sadar kita akan digiring oleh sang sutradara ‘berpikir dan berlogika secara anak-anak pula’. Inilah keistimewaan yang dimiliki film-film Iran yang sudah menjadi satu ciri khas, seperti dalam film Children of Heaven, Baran, Kandahar, Color of Paradise, Osama (http://sarapanpagi.6.forumer.com/viewtopic.php?p=302#302), dll.
Dimulai dengan adegan gadis kecil menjatuhkan diri dari sebuah tebing yang curam, film ini bercerita dengan latar belakang sebuah desa ‘Iraqi Kurdistan’ di perbatasan Iran dan Turkey. Penduduk desa yang dalam suasana perang lebih mementingkan berita ketimbang sajian hiburan di TV. Untuk itulah semua penduduk desa berusaha memasang antena yang paling kuat menangkap gelombang siaran berita di televisi.
Dengan set tahun 2003 dibawah invasi Amerika, film ini menggambarkan terobsesinya orang-orang dengan berita Internasional yang didapat dari Satelit untuk mendapatkan informasi rencana Amerika kedepan dalam ‘menyelamatkan’ Iraq.
Seorang anak laki-laki berumur 13 tahun atau tepatnya ‘de-facto leader’ bagi sekumpulan anak-anak yatim-piatu di camp pengungsi, ia dipanggil dengan nama ‘Satellite’ karena terbiasa menerima job pemasangan antena TV, sekaligus menjadi ‘translater berita’ bagi penduduk desa disana. Kemudian Satellite juga menerima job pembersihan ‘ranjau darat’ di daerah itu. Satellite merasa terganggu dengan kehadiran seorang anak laki-laki cacat, kedua tangannya putus, yang juga menerima job pembersihan ranjau yang belum menjadi ‘anggota serikat pekerja anak-anak’ dibawah pimpinan Satellite. Anak cacat itu bernama Henkov yang juga adalah korban ranjau darat, sehingga kedua tangannya putus. Meski cacat Henkov rupanya ahli sekali menjinakkan ranjau.
http://www.brnrd.net/blog/images/turtlescanfly.jpg Henkov & Agrin
Dilain pihak Satellite naksir berat dengan adik perempuan Henkov, Agrin yang misterius dan cantik. Kemudian Satellite juga menemukan kemampuan prophetic Henkov, yang kemudian disadarinya bahwa kemampuan supranaturalnya lebih akurat ketimbang propagandanya CNN.
http://www.pulpmovies.com/trailers/wp-content/turtlescanfly.jpg Agrin & mines
Henkov dimata orang lain mempunyai 2 orang adik, yang perempuan Agrin dan adik laki-laki yang buta, masih berumur 1tahun lebih, Rega. Kemanapun, mereka selalu bertiga. Dan si kecil Rega selalu dalam gendongan Agrin, sesekali digendong oleh Henkov yang meski ‘tanpa tangan’ namun cukup cekatan menggendong si kecil.
http://www.ragtagfilm.com/archives/images/turtles.jpg Agrin & Rega
Agrin gadis kecil mungkin umurnya baru 12tahun, yang terjebak oleh ganasnya perang, kedua orang tuanya terbunuh akibat perang saudara di Iraq, dalam saat yang bersamaan ia mengalami tragedi yang lain, diperkosa beramai-ramai oleh tentara, sehingga pada usia yang sangat muda ia mempunyai anak. Oleh pengungsi lain anak dalam gendongannya itu dikira adiknya. Kehidupan serba sulit, mengungsi dengan anak dan saudara laki-laki yang cacat. Sudah berkali-kali Agrin mencoba bunuh diri karena tidak mampu menahan beban berat hidup. Namun setiap kali dia ingat kakaknya Henkov yang cacat, ia berpikir mampukah Henkov merawat rega anaknya? Dan ia mengurungkan niat itu. Adegan ketiga 'anak kecil' itu kerap memancing rasa haru.
Rupanya perang zaman sekarang juga masih menggunakan jalur-jalur propaganda atau bahasa halusnya ‘informasi’ :
"We are here to take away your sorrows!".
"Those against us are our enemies. We will make this country a paradise. We are the best!"
Itulah bunyi leaflets yang dijatuhkan dari helikopter pasukan Amerika. Entah dalam kejadian nyata isi leaflets bunyinya begitu atau tidak, namun dengan melihat gaya American dan sikap Bush yang sedemikian, mungkin saja isi leaflets-nya begitu. Dan betapa senangnya masyarakat suku Kurdi menerima kabar bahwa keberadan mereka ‘dibela’ dengan akhir Saddam Hussein diturunkan dari tahta kepresidenannya. Pesan-pesan itu membawa harapan perang segera berakhir.
http://www.seret.co.il/images/movies/turtlescanfly/turtlescanfly5.jpg Helikopter propaganda Amerika
Kabar baik dari pasukan ‘hero’ itu tidak ada dampaknya ibu-muda Agrin, ia tetap tertekan, terlebih ketika ia memikirkan bagaimana nanti Rega tumbuh menjadi besar, apa pandangan orang terhadapnya. Berkali-kali Agrin mengemukakan rencananya agar meninggalkan Rega, dengan harapan bisa ‘diambil/dipelihara orang lain’, namun Henkov kakaknya selalu melarang, karena Henkov sangat mengasihi anak itu.
Agrin yang kehilangan masa kanak-kanak, Agrin yang memerlukan bimbingan orang-tua, ia tak mampu membereskan beban dan masalah hidupnya. Sengsara hidupnya membuyarkan semua ‘natur baik’ yang mungkin dimilikinya. Ia menjadi pembenci anaknya itu, ia pemurung, dan putus asa. Suasana kontradiksi, disaat masyarakat Kurdi memulai lembar baru dan menyambut jatuhnya Saddam, dengan suka-ria mendapatkan souvenir potongan patung-Saddam di ibukota yang dijatuhkan tentara Amerika. Agrin membunuh anaknya dan kemudian ia bunuh-diri. Adegan ini menyentak sekali, membuat para penonton tidak tahan dengan tragedi kematian keduanya yang ditampilkan. Akhir kisah itu sungguh mendendangkan nyanyian yang paling memilukan dan menyayat hati.
Bhaman Ghobadi’s Turtles Can Fly, cukup menggambarkan kejadian sejarah secara instant yang merupakan one ‘of the best films ever made about children in wartime’.
Bravo!
Blessings,
BP
December 7, 2005
GrandTheftAero
December 14, 2005, 14:56
A KING KONG REVIEW
http://i22.photobucket.com/albums/b338/GrandTheftAero/upcoming/kongcrew.jpg
Apa yg akan kamu lakukan bila kamu sudah menyutradarai salah satu trilogi terbaik dan paling sukses dalam sejarah perfilman? Ya membuat project impian tentunya! Dalam hal ini Peter Jackson, yg sukses berat membuat Lord of the Rings trilogy akhirnya bisa membuat remake dari film favorit masa kecilnya, King Kong. Banyak yg ngomel soal PJ yg membuat remake blockbuster, dia udah sell-out lah, menjadi sutradara yg bisa bertindak semaunya dan cuma mau mencari uang saja. Banyak juga yg meragukan sebuah film dengan gorila setinggi 8 meter bisa menjadi film yg layak ditonton. Banyak juga yg sinis begitu mendengar budgetnya mencapai $207 juta dan durasinya menjadi 3 jam. C'mon. These people spent extra time and money trying to entertain you. They sacrificed box office by limiting the amount of showings per day. Namun di tangan Peter Jackson sudah pasti kualitas remake ini terjamin. Melihat film dibuka dengan title sequence dengan style film2 RKO diiringi musik era 30-an, you know that this is a pure labor of love. Tidak heran, mengingat PJ ingin membuat film ini sejak ia berumur 9 tahun.
Film ini dibuka dengan situasi New York ditahun 1933, dengan magnificent re-creation of Times Square, mobil2 tempo doeloe yg ngantri di Brooklyn Bridge, L-Train diatas gedung2 dan juga kehidupan gelandangan yg tinggal di daerah kumuh. Satu jam pertama dihabiskan untuk menceritakan kehidupan Ann Darrow (the beautiful and talented Naomi Watts), seorang artis teater Vaudeville yg hidupnya di awal kesusahan. Teaternya ditutup dan dia tidak punya uang untuk membeli makanan, karena itulah ketika ia mendapat tawaran dari seorang produser / sutradara film Carl Denham, Ann mengambilnya (setelah berpikir panjang). Jack Black berperan dengan sangat baik sebagai Carl Denham, seorang filmmaker yg visioner di jamannya, yg tidak segan2 untuk melakukan apa saja untuk membuat filmnya, dari menipu penulis cerita sampai mencuri peralatan studio.
Adegan awal di New York digunakan oleh PJ untuk memperdalam karakter2 utama, namun terasa lambat. Gue yakin pasti banyak penonton yg bakal bosan di satu jam pertama dari film ini (roommate gue aja sampe ketiduran). Fleshing out the character is fine, but monsters and dinosaurs are really the reason why we bought the ticket. Setelah Ann Darrow naik ke kapal S.S. Venture Surabaya (bukan Soerabaia ;) ), pacing film ini pun masih lambat. Kita dikenalkan dengan Jack Driscoll, seorang penulis cerita yg nantinya bakal jatuh cinta dengan Ann Darrow, lalu ada kapten kapal yg keras, seorang pelaut muda (Jamie Bell) dengan mentornya (Evan Parke), Lumpy the cook sang koki kapal yg nyentrik (Andy Serkis in his dual role) sampai bintang film besar Bruce Baxter yg angkuh dan egois (Kyle Chandler). Masing2 karakter mendapat porsi sendiri, dan sayangnya juga memperlambat alur film.
Namun begitu sampai di Skull Island, filmnya terasa seperti bangun dan mulai berlari. Dari adegan dengan orang2 Skull Island yg kuno dan ganas, pertemuan pertama dengan Kong, sampai adegan kejar2an dengan dinosaurus, segala permasalahan dengan alur film yg lambat di satu jam pertama terlupakan semua. Dari satu adegan action berskala besar diikuti dengan action berikutnya, semua dibuat oleh PJ dan kru WETA dengan teliti dan hasilnya bisa terlihat di layar, you can see that every penny of that $207 million are ended up on the screen. Walaupun CGI dalam beberapa adegan terlihat kasar, overall special FX film ini cukup luar biasa. Adegan action utama adalah pertarungan Kong dengan tiga V-Rex sangat brutal, dan PJ tidak sungkan2 untuk menunjukkan apa yg terjadi. Ingat, ini adalah sutradara yg membuat Brain Dead dan The Frighteners. Kita bisa melihat bagaimana bila seorang sutradara imajinatif dengan bantuan kru yg berbakat bisa menumpahkan imajinasi mereka yg sinting di layar lebar.
Lalu ada adegan Spider Pit, yg dipotong dari King Kong versi '33 kembali disisipkan oleh PJ. Adegan ini dulu dipotong karena memperlambat cerita utama dan terlalu intense. Bagaimana dengan Spider Pit versi PJ? INTENSE banget. Walaupun ada beberapa moment yg tidak masuk diakal seperti Jack Driscoll dengan Tommy Gun namun intensitas dan horor yg menjijikan adegan ini tidak main2. Anak kecil dibawah umur tidak disarankan untuk menonton adegan ini. I kid you not.
Tapi walaupun punya imajinasi yg sinting dan mampu membuat adegan horor dan action berskala besar, PJ juga mampu membuat adegan interaksi karakter dalam skala intim dengan sempurna. Tidak seperti Stephen Sommer (The Mummy Returns, Van Helsing) yg cuma bisa bikin action sequence diikuti dengan action sequence yg membosankan, PJ tidak lupa menyelipi adegan2 menyentuh bagi karakter2nya. Dan suatu hal yg impresif mengingat adegan roman ini adalah antara Naomi Watts dengan gorila silverback setinggi 9 meter.
Kehebatan PJ dalam soal cerita yg lainnya adalah dengan menyisipkan cerita cinta segitiga antara Kong, Ann Darrow dan Jack Driscoll. Adrien Brody juga bermain dengan baik disini. Karakternya adalah seorang penulis yg tidak heroic, namun keputusannya untuk kembali ke hutan Skull Island demi mencari Ann Darrow disaat kru Venture ingin kembali ke kapal membuatnya semakin heroic.
Kong di film ini bukanlah monster brutal yg harus langsung dibinasakan. Walaupun ganas, liar, dan merupakan petarung terbaik di Skull Island, dia terlihat seperti punya jiwa dan hati. Considering the rough environment he's living in, he's a very nice guy. Terkadang dia juga seperti anak kecil, melihat dia tertawa dan bermain dengan Ann Darrow, ngambek karena hal kecil dan juga kesepian karena dia adalah spesies terakhir dari kaumnya. Hubungan dia dengan Ann berkembang dari sekedar mangsa, menjadi mainan, hingga menjadi teman yg harus dilindungi. Kudos buat Andy Serkis yg menghidupkan karakter Kong seperti dulu dia menghidupkan Gollum.
Naomi Watts bermain maksimum disini. Mau se-photo-realistic apapun effect dari WETA dan sebagus apapun performans Andy Serkis sebagai Kong, hubungan Ann Darrow dengan Kong lah yg membuat kita peduli dengan Kong. Dari saat dia menghibur Kong dengan atraksi akrobat dan melihat matahari terbenam membuat kita percaya kalo Ann dan Kong saling peduli satu sama lain. Di moment2 seperti inilah kita nyadar kalau Naomi Watts adalah aktris yg luar biasa (dan punya teriakan yg luar biasa juga). Walau kadang2 kepikir juga entah mau seperti apa hubungan mereka berdua, dan gue juga gak ngerti siapa yg jadi piaraan siapa ;D. Setragis apapun akhir dari film ini, kita tidak akan peduli dengan nasib Kong jika dia tidak terlihat sebagai sebuah karakter. Dan melihat Kong ditangkap oleh kru Denham terasa menyiksa dan membuat penonton mengasihani Kong ketika dia dirantai didepan Broadway untuk dijadikan tontonan. Di sisi lain hal ini membuat Carl Denham sebagai villain di film ini, karena dia menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Penonton akan membencinya ketika ia berhasil menangkap Kong hanya untuk mencari untung.
Setelah Kong ditangkap, filmnya membawa penonton kembali ke New York. Disini kita bisa melihat nasib makhluk ajaib yg merana karena keserakahan manusia. Adegan2 di New York, seperti halnya dengan Skull Island dipenuhi dengan adegan2 action diselingi dengan moment yg 'sweet n touching' antara Kong dan Ann Darrow. Namun banyak juga hal2 yg terasa dipanjangkan seperti menjelang akhir film diatas Empire State Building. Namun semua adegan2 itulah yg membuat akhir film ini terasa sangat tragis. Is it the beauty that killed the beast? Nah. Corporate greed is what killed the beast.
Dari segi teknis, film ini tidak perlu diragukan. CGI-nya overall cukup sempurna. Ada sih beberapa moment yg keliatan kasar FXnya, namun recreation of 1933 New York, numbers of dinosaurs, insects and the fur of Kong itself is a marvellous achievement. Kalau mau geek-out soal teknis, gue kagum melihat detail2 teliti seperti dedaunan di tubuh Kong, nyamuk di gigi V-Rex, facial expression dan muscle system Kong dan ketika Kong mengibaskan salju2 di badannya. Sinematografinya juga bagus. Film ini lebih warna-warni daripada trilogi LOTR, dan penggunaan soft lens pada moment2 tertentu menambah effect bagi penonton. Juga music score dari James Newton Howard yg dibuat dalam last minute tapi tidak terasa terburu2.
Akhir kata alur film yg lambat dan adegan2 yg terasa dipanjang2kan membuat film ini sebagai film yg sangat bagus, tapi belum mencapai tingkat masterpiece atau classic. Selain tidak seimbang, film ini juga terasa sangat self-indulgent dan terkadang melodramatis. Tapi film ini boleh dibilang film paling komplit di tahun 2005 ini. Dari adegan action, horor, humor, romance dan adventure, semuanya ada dilayar (dibantu dengan budget $207 juta dan spesial FX kelas wahid tentunya). It's a kind of film that reminds us why we love movies, definitely one the best time you'll ever spent on the cinema, and must be seen on the big screen. Just don't forget to empty your bladder beforehand or bring a pillow :D.
9.2 / 10
GrandTheftAero
December 28, 2005, 11:53
MUNICH Review
http://i22.photobucket.com/albums/b338/GrandTheftAero/upcoming/munich_wgReview.jpg
*Minor spoilers within*
Tanpa melihat kontroversi yg mengerubungi film yg menceritakan konflik antara Israel dan Palestina ini dan juga tidak memusingkan autentisitas sejarah, buat gue Munich adalah karya storytelling yg brilian. Untuk seorang sutradara yg sering dituding sebagai pencipta formula blockbuster Hollywood, Munich merupakan film Spielberg yg paling dewasa dan paling tidak sentilmentil. Segala aspek di film ini dari produksi yg terlihat sangat sederhana sampai tema dan ending yg ambigu membuat Munich tidak terasa seperti sebuah film Spielberg dan lebih mirip ke film2 Francis Ford Coppola atau William Friedkin pada puncak karir mereka.
Adegan penyanderaan dan pembantaian di Munich hanya diperlihatkan dalam 10 menit di awal film, lengkap dengan intercut ke actual news footage dari tahun 1972. Lalu kita mengikuti tokoh utama, Avner (Eric Bana), seorang anak dari pahlawan Israel. Dia direkrut oleh MOSSAD dan Perdana Menteri Israel, Golda Meir (Lynn Cohen) untuk melacak dan membunuh 11 orang Palestina yg diduga merencanakan pembantaian Munich. Avner harus meninggalkan istrinya yg sedang hamil untuk waktu yg tidak ditentukan, menerima dana dengan jumlah tak terbatas (walau dia harus menyimpan semua kuitansi nya :D), dan keberadaan dan pekerjaan Avner dan tim-nya tidak diakui oleh Israel. Satu2nya orang yg menjalin hubungan Avner dan MOSSAD adalah Ephraim (Geoffrey Rush), yg bertindak sebagai Case Officer dalam operasi ini.
Avner dibantu oleh empat orang lainnya; Carl (Ciaran Hinds, Road to Perdition, The Sum of All Fears) sang pembersih yg tugasnya adalah "to worry", Robert (Matthieu Kassovitz, pacarnya Amelie :P) seorang pembuat mainan dari Jerman yg tugasnya membuat bom, Hans (Hanns Zischler) seorang Yahudi Jerman yg ahli memalsukan dokumen dan Steve (Daniel Craig, Layer Cake, the next James Bond) seorang supir dari Afrika Selatan. Film ini membawa kelima orang ini keliling Eropa dalam operasi mereka melacak dan membunuh 11 orang Palestina itu. Avner dibantu oleh informan Perancis bernama Louis (Matthieu Almaric) yg memberi tahu lokasi para sasaran Avner. Pada intinya, film ini adalah film spy, tapi tidak seperti James Bond, Bourne Identity atau Mission: Impossible.
Ini adalah film yg sulit, membuat kita masuk kedalam kehidupan 5 orang yg melakukan tindakan pembalasan yg patut dikecam, bahkan berusaha untuk meng-humanize mereka. Dan lebih lagi, simpatisan Yahudi yg mengharapkan orang2 Palestina diperlihatkan sebagai orang2 ganas atau dungu seperti di True Lies akan kecewa, karena mereka diperlihatkan sebagai orang2 normal yg melakukan apa yg mereka anggap sebagai tindakan yg benar setelah tertindas selama bertahun2. Bahkan Spielberg berani menempatkan grup Israel dan grup Palestina dalam satu kamar, dan rebutan untuk mengganti channel musik di radio. Dan lebih parah lagi, untuk membuat adegan pimpinan grup Israel berdiskusi dengan pimpinan grup PLO mengenai kesia-siaan situasi negara mereka dengan santai namun intens. Adegan ini mirip dengan adegan Roberd de Niro dan Al Pacino di Heat, dua musuh mendiskusikan situasi mereka dalam keadaan kasual. Definitely one of the best character scene in 2005.
Dibantu dengan skrip dari Tony Kushner, film ini menghabiskan banyak waktu untuk mendalami hampir semua karakter utamanya. Bahkan hubungan Avner dengan Louis sang informan Perancis juga diperdalam. Louis membawa Avner ke 'Papa'nya (Michael Lonsdale), untuk saling berdiskusi dan mengenali satu sama lain. Adegan ini mengingatkan gue kepada film Godfather, dengan adegan2 kekeluargaan, lokasi dikebun buah, dan saling berdiskusi sambil memasak.
Seperti halnya dengan King Kong yg menghabiskan banyak waktu untuk memperdalam karakternya, ini juga menjadi kelemahan utama Munich. Ketika Avner kembali ke Israel, semua perbuatan kekerasan yg dilakukannya mulai menghantuinya dan perlahan2 dia menjadi paranoid. Apalagi dengan kejadian ambigu terhadap salah satu anggota timnya membuat dia berpikir apakah Israel memburunya? Kita menghabiskan banyak waktu untuk melihat efek kekerasan terhadap psikologis Avner. Ambiguitas menjadi tema utama; tidak ada jawaban yg benar di film ini, seperti diskusi Avner dengan pimpinan grup PLO.
*Minor spoilers*
Filmnya ditutup dengan ending yg ambigu, lengkap dengan shot 'cameo' dari gedung WTC yg membuat gue berpikir kalau kekerasan itu tidak akan pernah berhenti, dan juga kalau pembalasan terhadap tragedi 9/11 tidak akan membawa jawaban melainkan menambah jumlah korban.
Syuting Munich dimulai hanya dalam beberapa hari setelah Spielberg menyelesaikan War of the Worlds untuk mengejar tanggal rilis bulan desember, namun sama sekali tidak ada kesan terburu2 dalam film ini. Spielberg adalah master of staging, dan adegan2 action difilmkan dengan baik, dari adegan penyerangan atlit Israel di Munich yg terlihat berantakan, pembunuhan beberapa tokoh Palestina yg disusun rapi, tembak2an di Beirut hingga berbagai macam kecelakaan karena salah perhitungan. Kekerasan di film ini juga tidak main2, ini adalah film Spielberg paling gory setelah Saving Private Ryan. Dengan tone yg realistis dan pendekatan yg humanis, kekerasan di film ini terasa mengerikan.
Dalam segi teknikal, sinematografi nya tidak terlihat seperti karya Janusz Kaminski seperti biasanya, lebih mirip ke sinematografi Douglas Slocombe untuk Raiders of the Lost Ark. Kaminski juga menggunakan film stock yg biasa digunakan film2 tahun 70-an, hasilnya film ini terlihat agak grainy, dan dengan set2 Eropa yg autentik, costume design dan hairstyle tempo doeloe membuat film ini berasa sangat 70-an banget. If I don't know any better, I would be convinced that the film is actually made in the 70's. Teman gue ada yg bilang kalo di film ini Spielberg juga melakukan homage ke Stanley Kubrick dengan penggunaan zoom di beberapa adegan, dan juga ketika Avner 'flirting around' dengan seorang wanita di bar London yg mirip dengan adegan bar di The Shining.
Seindah dan sesimpel apapun sinematografi Kaminski dan sehebat apapun direction dari Spielberg tidak ada artinya kalau tidak dibantu dengan cast yg kuat. Tidak ada Hollywood superstar di film ini, yg ada adalah Eric Bana, one of the most underappreciated actor in Hollywood. Dia membawa karakter Avner berubah secara perlahan2 dari awal hingga akhir film. Dari awal film Avner adalah average Israeli familyman hingga dihantui paranoia di akhir film, Bana really showcased his acting skill. Lalu orang2 di tim Avner, Ciaran Hinds yg biasanya memerankan tokoh keras seperti presiden Rusia di The Sum of All Fears disini dia adalah tokoh bijak dari team Avner. Kemarahan team Avner terhadap apa yg terjadi pada dirinya menyadarkan kita how likeable his character is. Lalu Matthieu Kassovitz sebagai pembuat mainan / bom yg perlahan2 dihantui perasaan bersalah. Dari semua team Avner, dialah yg pertama kali mendapat beban moral. Dan Daniel Craig memberikan performans yg solid sebagai satu2nya team Avner yg paling intense dan selalu fokus kepada kerjaannya, dan sepertinya tidak terbebani masalah moral. Seperti apa James Bond a la Daniel Craig nanti?
Selain itu ada Geoffrey Rush, channelling Peter Sellers sebagai Ephraim and reminding us why he's a great actor. Lynn Cohen memberikan peran menarik sebagai Perdana Menteri Israel Golda Meir, seorang wanita tua yg penampilannya rapuh tapi menyimpan kekuatan pemikiran yg kuat. Dan Michael Lonsdale yg lebih dikenal sebagai Bond villain Hugo Drax di Moonraker memberikan sentuhan humanis kepada karakter 'Papa', master informan Perancis yg beroperasi tanpa mengambil pihak manapun.
Akhir kata kalau mau mencari film buat sekedar hiburan atau having fun, jangan nonton film ini. Munich adalah film yg berat, tidak memberikan ketegangan atau keasyikan a la King Kong atau Chronicles of Narnia, tapi tak perlu diragukan kalau Munich adalah movie-making kelas wahid. Apakah Spielberg berat sebelah dengan berpihak kepada Israel? Nope. Ingat, dia berani menghabiskan cukup banyak waktu untuk menghumanisasi orang2 Palestina di film ini. Spielberg bahkan sampai dicap 'no friend of Israel' oleh pemerintah Israel untuk ini. Pendalaman karakter yg terasa kebanyakan membuat film ini belum sampai tapi hampir mencapai masterpiece. For me personally, it's a privilege to see one of the greatest director telling one of the darker period of history, challenges his viewers while crafted his most daring and mature work in the process.
A solid 9 / 10
gitablu
December 30, 2005, 09:23
The Messenger : Story of The Joan Of Arc
http://www.poster.net/joan-of-arc/joan-of-arc-head-milla-jovovich-john-malkovich-french-4001869.jpg
ini pertama kalinya saya tulis review di sini. Mungkin agak sedikit canggung.
"The Messenger: The Story of Joan of Arc" yang karya sutradara Luc Besson diproduksi pada tahun 1999. Tahun 1413 di sebuah desa Perancis yang terpencil, dalam masa berkecamuk perang antara Perancis dengan Inggris, Joan harus menyaksikan bagaimana kekejaman perang merengut nyawa kakak perempuannya yang diperkosa dan dibunuh oleh tentara Inggris.
Tidak hanya itu, desanya dirampok habis-habisan dan dibakar. Saat itu Joan telah berusia 7 tahun dan sebagian besar wilayah Perancis telah dikuasai oleh Inggris. Joan merasa mendapat suara yang dianggapnya berasal dari Tuhan untuk membantu bangsanya mengusir Inggris dari tanah airnya.
Pada saat berusia 17 tahun, Joan (Milla Jovovich) menyakinkan Raja Charles VII (John Malkovich) yang belum dimahkotai bahwa ialah adalah orang yang bisa mengantarkan sang Raja ke tahta Perancis yang dikuasai Inggris.
Charles sangat terkesan ketekadan dan keyakinan Joan sehingga memberikan pasukannya pada gadis remaja yang belum berpengalaman perang itu. Pasukan Perancis yang dipimpin Joan sebagai panglima, berderap menuju ke Orleans untuk menghadapi pasukan Inggris di sana.
Ternyata Joan menunjukkan kehebatannya dengan berhasil mendapatkan kemenangan atas pasukan Inggris. Sejak itu, Joan langsung menjadi pahlawan di hati rakyat Perancis. Selama dua tahun Joan berjuang dan berhasil mengantarkan Charles ke tahtanya. Namun setelah gagal merebut kembali Paris, Joan dikhianati Charles dan ditahan oleh Inggris. Akhirnya Joan of Arc dihukum mati lantaran dianggap sebagai seorang penyihir.
---
Mengikuti kisah Joan of Arc, seorang pahlawan perempuan bangsa Perancis, di Iayar lebar yang dibintangi oleh Milla Jovovich sungguh menarik. Menarik ketika Joan selalu memakai nama Tuhan dalam setiap keputusannya untuk membunuh lawan. Dia selalu mengatakan disuruh oleh Tuhan ketika dia harus membunuh lawannya yang sudah tidak berdaya dan memohon pengampunan. Dia selalu mengatakan perlawanan yang dia lakukan adalah kehendak Tuhan.
Diakhir film diceritakan perjumpaan Joan dengan Tuhan dan melakukan debat dengan-Nya. Perdebatan tersebut akhirnya mencapai kesimpulan bahwa pembunuhan sadis tanpa ampun yang dilakukan Joan, sebenarnya karena dia ingin melampiaskan dendam nya kepada tentara musuh yang telah memperkosa dan membunuh kakak perempuannya. Dendam itulah yang mengisi dan menguasai diri Joan. Tuhan berkata kepadanya, "Aku tidak pernah menyuruh seseorang untuk melakukan sesuatu yang jahat, sekalipun terhadap orang yang berbuat jahat."
rate :
**** dari *****
mar2603
January 20, 2006, 15:52
HOSTEL
http://www.moviegoods.com/Assets/product_images/1010/333944.1010.A.jpg
This is my first review.
Hostel adalah mahakarya duo sutradara specialist film sadis Quentin Tarantino dan Eli Roth penulis Cabin Fever. Film ini bahkan lebih sadis dari karya karya Quentin terdahulu seperti Sin City, Kill Bill Vol 1 and 2.
Bercerita tentang 2 orang Amerika Paxton (Jay Hernandez) dan Josh (Derek Richardson) dan seorang Eropa, Oli (Eythor Gudjonsson) yang berwisata ke Eropa.
Mereka dibujuk oleh seorang Eropa untuk pergi ke Slovakia dimana mereka dijanjikan kenikmatan yang luar bisa (wanita dan obat bius). Akhirnya mereka berangkat dengan kereta api ke Slovakia. Mereka tiba di sebuah tempat penginapan (Hostel).Di sini mereka bertemu dengan 2 orang wanita yang super cantik diperankan oleh Jana Kaderabkova and Barbara Nedeljakova (Natalya and Lana). Mereka akhirnya dijebak dan dijadikan korban show yang mempertontonkan penyiksaan sadis oleh kelompok Elite Hunter. They call it art exhibition. Kelompok ini diketuai oleh seorang Eropa yang gagal menjadi dokter bedah. Oli menjadi korban pertama. Josh lalu menyusul disiksa, badannya dibor oleh bor listrik dan urat kakinya dipotong. Satu satunya yang selamat adalah Paxton walaupun dia harus kehilangan dua jarinya karena digergaji oleh gergaji mesin. Semua adegan penyiksaan di film ini disajikan gamblang dan tidak ditutup tutupi.
Adegan paling sadis di film ini adalah ketika seorang wanita Jepang disiksa dan bola matanya dicabut paksa oleh tang dan menggelayut keluar di wajahnya. Wanita tersebut akhirnya diselamatkan oleh Paxton. Karena bola matanya sudah keluar, Paxton terpaksa menggunting urat matanya.
Film ini mengambil latar belakang kehidupan malam Eropa seperti Red light District di Netherland dan tentunya pelacuran di Slovakia.
Saya sangat yakin film ini tidak akan lulus sensor di Indonesia karena 1/2 film ini diisi oleh adegan topless wanita eropa dan kehidupan malam Europe dan 1/2 lagi adegan sadis memotong organ tubuh manusia.
Kalo sampe film ini diputar di Bioskop Indonesia, dengan tidak dipotong satu adegan pun, gau bayarin 100 orang nonton film ini
Jadi saya rasa yang mau nonton bisa beli CD bajakan saja kalo belum dilarang.
Film ini hanya bisa dinikmati oleh orang - orang berpikiran terbuka, liberal, dan tentunya penikmat film sadis.
Film ini sangat special karena bakal meninggalkan kesan yang berbeda bagi tiap orang yang menontonnya. Sekali lagi ini bukan film biasa.
PERINGATAN:
(1) Jika anda orang yang sangat taat beragama, berpikiran sempit, dan takut darah : JANGAN MENONTON FILM INI KARENA ANDA SANGAT AKAN MENYESAL.
(2) Siapkan mental anda sebelum menonton film ini
Rating from me : 8.5/10
Kalo ada tanggapan ke thread gua atau PM gua yah
Peace out
vassago
February 06, 2006, 23:46
Wicked (1998)
Entah kenapa, gw suka banget sama Julia Stiles. Mungkin bisa disejajarkan sama Scarlett Johansson. Well, duh. Aaaanyway, kemaren gw nonton salah satu film pertamanya Julia Stiles. Yang seperti kebanyakan aktris muda yang belum tau apa-apa soal dunia akting, business-wise atau secara sederhana pengen segera terjun ke dunia entertainmen maen di sebuah film thriller murah. Surprisingly, seeing her in her early teens played as the title-role was apparently enough to made me enjoy the movie. For better or worse. And made me love her even more.
Julia Stiles secara meyakinkan memainkan peran sebagai Ellie Christianson. Dia spotlight film ini dan tentunya nanti yg akan bertanggung jawab untuk menyandang kata sifat yg menjadi judul film ini.
Ellie, 14, punya obsesi untuk menjadikan ayahnya, Ben untuk lebih dari sekedar ayah. To make things worse, keluarga Christianson pun juga terancam bubar. Suaminya selingkuh, istrinya apalagi. Tapi, tepat ketika keadaan sepertinya akan menjadi lebih baik, ketika sang ibu tiba-tiba pengen memutuskan hubungan gelapnya dengan tetangga sebelah, sang ibu terbunuh dalam sebuah aksi perampokan. Alih-alih berduka, Ellie malah memanfaatkan kesempatan ini untuk mendekati ayahnya dan mewujudkan obsesinya. Muncul Lena, simpanan ayahnya yg kemudian dikenalkan kepada Ellie dan adiknya. Ellie pun tidak terima dan selalu memandang Lena dengan penuh kebencian. Apa yang dilakukannya kemudian? dan bagaimana sikap adiknya? trus kenapa tiba-tiba tetangganya, mantan selingkuhan ibunya menginginkan Ellie?
Filmnya secara keseluruhan... biasa. Itu kalau mau jujur. Soundtracknya bener-bener mengganggu, lambat, dan kurang mencekam untuk disebut sebagai sebuah thriller. Nilai plusnya, however, setiap peran dimainkan dengan bagus oleh aktor-aktornya, and have i told you that this is one of Julia Stiles' earliest part? Dan melihatnya bertingkah seperti itu (seducing her own father) really made me rather sick. Dan di situ, filmnya berhasil. Lagi-lagi soundtracknya mengganggu. Skrip-nya juga terstruktur, tidak ada kejutan, atau memorable quotes, teoretis lah, shot-shot-nya juga ga ada yg terlalu istimewa. Tapi twist-endingnya cukup mengagetkan.
Yah.. **/****
Mithrandir
February 22, 2006, 02:33
Ennui
FUNNY HA HA
Ditulis, disutradarai dan diedit oleh Andrew Bujalski
Film yang hanya mengandalkan dialog (film yang bertipe dialogue-driven) tidaklah banyak daya tarik keistimewaannya. Norma Desmond di film Sunset Boulevard tidak bisa menyatakannya lebih baik lagi, “So they opened their big mouths, and out came talk. Talk! Talk!”
Film adalah medium visual, alih-alih mengisi suatu film dengan dialog sebanyak dan se-cool mungkin, lebih menarik lagi mengomposisi dialog secara visual dengan menggunakan gambar sebagai bahasanya, dialog verbal cukup sebagai penyokong dan pemberi warna tambahan saja. Kecuali tentu saja bila dialognya cerdas, bergaya dan kaya akan makna, seperti di filmnya Billy Wilder misalnya.
Dialog di film independen berbiaya sangat rendah sekali karya Andrew Bujalski berjudul Funny Ha Ha, yang pada awal-awal filmnya akan menggoda kita untuk tidak meneruskan menontonnya karena seperti tidak ada maksud jelas apa maunya sebenarnya film ini, cukup banyak berisi dialog yang tidak penting, dan praktis isi filmnya hanyalah dialog semata. Tapi ada suatu daya tarik magnetis yang tidak mudah untuk dilepaskan seiring ceritanya bergulir dan dimensi karakter utamarnya bernama Marnie yang diperankan Kate Dollenmayer mulai terbentuk.
Dan ternyata Funny Ha Ha bukanlah tentang cuap-cuap yang keluar dari mulut karakter-karakternya semata, tapi lebih tentang mood yang tercipta saat karakter-karakternya saling berinteraksi atau terdiam dalam kesendirian. Kesuksesan terbesar film yang sederhana ini adalah dalam menangkap perasaan bosan dan suntuk tidak menentu (ennui) dalam suasana ketidakpastian dan keterombangambingan masa muda yang tergambarkan pada diri karakter Marnie.
Marnie adalah seorang cewek yang berusia mendekati 24 tahun yang berganti dari satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya dan waktu senggangnya banyak dihabiskan berkumpul dari satu teman ke teman lainnya tapi tetap merasa terasingkan dari teman-temannya itu dan dunia di sekitarnya. Dia mencari seseorang yang bisa dianggap sebagai lebih dari hanya sekedar teman, tapi sayangnya malah bertepuk sebelah tangan.
Dialog di filmnya tetap berkesan natural walaupun tampaknya banyak diimprovisasi, fungsinya lebih berupa bahasa verbal sebagai bentuk komunikasi yang dikonstruksi untuk menyembunyikan perasaan sesungguhnya dari para karakternya, dan jeda kesunyian antarkata-kata yang terucapkan itu mengungkap lebih perasaan yang tersembunyi dari semua itu.
Funny Ha Ha, seperti halnya Junebug karya Phil Morrison, adalah film yang memebri rasa kehangatan dan kesedihan secara bersamaan. Dan rasa suka duka ini, tidak mudah terhapuskan setelah menonton filmnya.
Mithrandir
February 22, 2006, 02:41
Antara Hasrat dan Godaan
LA NIÑA SANTA (THE HOLY GIRL, Argentina)
Ditulis dan disutradari oleh Lucrecia Martel
Perfilman yang sedang berkembang di negara tertentu dengan aspek kereligiusannya yang cukup kental seperti di Korea Selatan misalnya, langsung maupun tidak, juga terefleksikan dalam film-filmnya yang diproduksi. Di karya terbaru Chan-wook Park, Sympathy for Lady Vengeance dapat ditemukan elemen simbol-simbol keagamaan yang cukup gamblang, walaupun dalam pandangan saya filmnya sendiri tidak mencapai apa yang diharapkan dari pemuatan simbolisasi tersebut.
Juga di negara-negara Amerika Latin dengan dominannya Catholicism sebagai bagian dari pandangan hidup masyarakatnya, seperti di Argentina, tergambarkan cukup baik dalam film The Holy Girl karya Lucrecia Martel, yang dengan film ini menunjukkan kapasitasnya sebagai sutradara perempuan kontemporer yang filmnya paling menarik untuk disimak setelah Jane Campion.
Dalam masyarakat represif yang berpegang teguh pada norma-norma ketat, tersimpan hasrat para penghuninya yang tersembunyi dari permukaan, dan terkadang sampai tertahan menunggu momen yang tepat untuk terkuak keluar, atau tetap terkubur. Perang yang akan selalu berkecamuk dalam diri setiap manusia adalah konflik antara jiwa dan raga, antara keyakinan yang menjadi benteng diri dan hawa nafsu yang mengerubunginya setiap saat.
Di penyelenggaraan sebuah konferensi kedokteran di suatu hotel yang dikelola Helena (Mercedes Moran), seorang partisipan bernama Dr. Jano yang usianya jauh lebih tua (Carlos Belloso) dibuntuti oleh seorang gadis remaja bernama Amalia (Maria Alché) yang adalah anak Helena, yang keduanya juga tinggal di hotel tersebut. Semuanya bermula dari kejadian pada saat Amalia bersama temannya Josefina mendengarkan peragaan musik yang menggunakan instrumen theremin yang bersuara aneh tapi indah di pinggiran jalan, dimana Dr. Jano mendekati kerumunan dan berdiam di belakang Amalia untuk ‘menyentuhnya’ secara diam-diam, yang mengagetkan Amalia.
Amalia, yang mengikuti kelas keagamaan dan sedang membahas tentang ‘tanda-tanda panggilan Tuhan’, merasa terpanggil untuk memuaskan keingintahuannya dalam merespon sexual encounter ini dengan berusaha balik mendekati Dr. Jano dan menarik perhatiannya karena ia menganggap ini sebagai ‘pertanda’ bagi dirinya untuk ‘menyelamatkan’ Dr. Jano.
Martel mengisi penuh area cerita hitam putih ini dengan warna abu-abu tanpa memberi jawaban yang mudah dengan komposisi visual yang disusunnya secara rapi sehingga terbentuk harmoni sinematografi, editing dan sound yang melapisi cerita filmnya tanpa terasa berlebihan tidak seperti yang terdapat di Sympathy for Lady Vengeance.
Yang membuat filmnya tidak setransparan kelihatannya, karena Martel menciptakan sugesti-sugesti atas motivasi dan konflik internal tak terucap dari karakter-karakternya. Tidak setiap frame filmnya dipenuhi oleh dialog antarkarakter, tapi tergantikan oleh banyaknya hal yang terjadi secara visual baik di foreground atau background filmnya dan menimbulkan efek surreal pada adegan tertentu.
Munculnya instrumen musik theremin (yang namanya baru saya ketahui setelah mencari tahu) sepanjang film secara konstan, dapat saja dimaksudkan sebagai metafora. Jika diperhatikan, theremin dimainkan tanpa menyentuh alatnya sama sekali, tapi dengan memainkan (atau mungkin lebih tepatnya memanipulasi) aliran udara di instrumennya itu untuk mengeluarkan bunyi. Mungkin kondisi inilah yang dialami oleh Amalia, atau mungkin juga Dr. Jano, bila dilihat dalam konteksnya yang lain.
Dalam observasi lainnya, lokasi kolam renang di hotel berulang kali digunakan untuk tempat aktivitas berenang, berendam dan hal lainnya oleh para karakternya, Helena, Dr. Jano dan Amalia, bisa juga diartikan sebagai simbol untuk tempat ‘pembersihan diri’. Dalam film Man on Fire karya Tony Scott, Creasy (Denzel Washington) beberapa kali bermimpi berendam dalam suatu kolam renang dengan badan yang kotor dan berlumuran darah, yang cukup jelas adalah kiasan sebagai pertanda ‘penebusan dosa’ atas dirinya. Di film The Holy Girl mungkin juga kolam renang ini berfungsi sama, sampai ending-nya juga berlangsung di kolam renang.
The Holy Girl bukanlah film tentang pengkhotbahan didaktis antara mana yang benar dan mana yang salah. Karakter-karakter di film ini melakukan kesalahan-kesalahan sehingga penontonnya bisa memahami untuk tidak turut melakukannya.
Mithrandir
February 22, 2006, 03:59
Harga Sebuah Ketenaran
CAPOTE
Sutradara: Bennet Miller
Penulis skenario adaptasi: Dan Futterman
Dengan Philip Seymour Hoffman, Catherine Keener, Clifton Collins, Jr., Chris Cooper, Bruce Greenwood, Bob Balaban.
"More tears are shed over answered prayers than unanswered ones."
Capote adalah film yang ringkas tapi padat dan to the point dengan kontrol kedisiplinan penceritaan yang terjaga sepanjang film, membangun momentum cerita secara perlahan demi perlahan sampai terakumulasi di klimaksnya yang dapat membuat penontonnya ikut tersentak dan meresap dingin masuk ke dalam badan seperti halnya yang dialami Truman Capote di filmnya.
Yang juga cukup menyegarkan, Capote adalah film biopic yang memfokuskan cerita kepada apa yang paling berarti dalam hidup Truman Capote yang membuatnya menjadi seorang ‘Truman Capote’ daripada menceritakan jangka waktu tertentu kehidupan Capote secara menyeluruh dan menghindari konvensi baku kebanyakan film-film biopic Hollywood lainnya. Tidak ada kilas balik masa kecil yang emosional, atau adegan inspirasional bangkit dari keterpurukan yang sentimental.
Tapi justru kebalikannya, film ini adalah potret kejatuhan seseorang dalam menapaki puncak sukses dan kepopulerannya karena jiwanya habis terkonsumsi untuk menyelesaikan karya agungnya sesempurna mungkin. Selain itu, tidak ada pula pengobaran eksplisit mengenai orientasi seksual Truman Capote walaupun dia adalah seorang gay, sehingga tidak mengalihkan perhatian dari cerita utama filmnya.
Filmnya berkisah dari peristiwa pembunuhan sadis satu keluarga di kota Kansas yang menarik perhatian Capote untuk menjadi subyek bukunya sampai ke pelaksanaan hukuman mati terhadap dua orang pembunuhnya. Ruang lingkup film ini dibatasi hanya pada kompleksnya proses Capote melakukan riset dan menulis bukunya itu yang diberi judul In Cold Blood.
Dalam investigasinya ke Kansas, Capote dibantu teman baiknya Harper Lee, yang juga adalah penulis novel terkenal yang sudah difilmkan, To Kill a Mockingbird, untuk mendapatkan fakta dan informasi dari pihak-pihak yang terkait dengan peristiwa menghebohkan itu. Capote mengeksploitasi siapa saja yang akan menguntungkannya dari teman korban, pejabat kepolisian sampai ke Perry Smith, salah satu pembunuhnya, dengan gaya bicaranya yang khas dan intonasi suara yang persuasif tapi manipulatif sehingga membuat orang-orang yang sudah terbius mantera kata-katanya sulit mengelak pertanyaannya.
Selama proses inilah tercipta hubungan yang akrab antara subyek dan objeknya, antara penulis dengan sumber inspirasinya, yaitu Capote dengan Perry Smith yang mngakibatkan saling ketergantungan antara keduanya. Capote membutuhkan Smith untuk mengorek keterangan sebanyak mungkin darinya, terutama saat kejadian pembunuhan itu terjadi. Sementara Smith mendapatkan harapan dari Capote untuk bisa menolongnya mengajukan banding atas putusan pengadilan. Tapi segalanya akan sampai pada momen dimana Capote harus mengkhianati Smith agar dia bisa segera menyelesaikan bukunya yang sudah membuatnya terobsesi karena tidak ada jalan mundur atas apa yang telah dilakukannya ini.
Meskipun termasuk berskala kecil untuk ukuran filmbiopic, dampak kekuatan emosional Capote tidak kalah dahsyatnya dengan yang berskala epik bahkan lebih beresonansi karena keintiman dan keheningan filmnya. In cold blood, indeed.
charlize
March 06, 2006, 07:33
REMINDER
In case you don't remember the purpose of this thread, please check below quote from myself from the 1st page:
Thread ini gue khususkan buat REVIEW MOVIES - ONLY
Dengan catatan: Review harus dari pendapat pribadi, dan tidak mencomot dari web lain
Bagi yang sudah menonton felm2 tertentu, silakan posting disini ... jangan lupa beri rating yak ... maximal rating point 10 deh
Thanks buat [WG]ers yang tetep setia posting review disini ...
like Mithrandir and GTA ...
And welcome to new reviewers such as qbiz and many others ...
(sorry kalo ga gue sebutin satu2 yaaaa ... )
Keep posting your review - freely ;) ;)
Gue udah update Alphabetical Listing -nya, semoga berguna
:waves:
mar2603
May 04, 2006, 18:18
SILENT HILL
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/6/64/Silent_Hill_poster.jpg
Silent hill dimulai dari seorang wanita bernama Rose yang berlari mengejar anak angkat perempuannya bernama Sharon.
Sharon adalah anak angkat yang ditemukan di panti asuhan oleh Rose
Ketika dia berhasil menemukan anaknya, di dalam mimpinya sang anak mengigaukan kata kata SILENT HILL. Nampaknya hal ini tidak terjadi hanya sekali saja tapi sang anak tampaknya sudah mengidap suatu ketakutan yang amat sangat. Walaupun demikian, Sharon tidak bisa mengingat apa itu silent hill. Penasaran akan hal ini, sang ibu(Rose) berniat membawa sang anak ke SILENT HILL.
Di dalam perjalanan menuju Silent Hill, di Toluca County, Rose bertemu dengan seorang polwan bernama Cybill Bennet.
Sang Polwan curiga dengan mobil yang dikendarai Rose dan ia mengikutinya. Panik karena diikuti, Rose kemudian mngebut dan tiba tiba di depannya muncul seorang anak kecil. Dia pun membanting setir ke kanan dan menabrak pembatas jalan.
Rose pingsan dan ketika sadar, di depannya terpampang tulisan:
SILENT HILL. Ternyata Sharon pun hilank dari kursi penumpang.
Rose panik dan menelpon suaminya (Christopher), namun apa daya Cell Phonenya hanya mengeluarkan bunyi statik.
Dia pun nekat menerobos ke silent hill. Di dalam kota mendadak kegelapan mnyelimuti kota dan suara sirene meraung raung.
Monster monster berwujud anak kecil terbakar bermunculan.
Rose berlari menyelamatkan diri. Tiba tiba kegelapan berlalu dan monster pun lenyap perlahan lahan. Ketakutan, Rose kembali ke mobilnya dan ternyata ia bertemu dengan polwan yang mengejarya. Sang polwan menyuruhnya kembali ke kota asalnya tapi ternyata jalan pulank telah berubah menjadi jurang terjal tak berujung. Terpaksalah mereka menerobos Silent Hill.
Cerita berikutnya cukup kompleks karena sang sutradara membuat film ini di dunia dimensi berbeda.
Christopher suami Rose tidak tinggal diam, dia menyusul ke Silent Hill. Bersama para Polisi, dia mencari ke seluruh pelosok silent hill.
Ada adegan di mana Christopher dan Rose ada di tempat yang sama tapi dimensi berbeda.
Film ini kemudian bercerita mengenai Rose dan dia mulai mengerti apa yang terjadi di Silent Hill.
Dia menemukan gereja dengan pemimpin bernama Christabella.
Sang pendeta ini menunjukkan tempat setan berada yaitu di rumah sakit di salah satu kamar.
Rose kemudian akhirnya dengan berupaya keras berhasil menemukan kamar itu dan di sana dia bertemu Alessa. Alessa adalah anak kecil yang disiksa oleh Christabell dan akan dibakar di sebuah kamar hotel nomor 111. Pada saat mau dibakar ternyata apinya malah membakar seluruh Silent Hill dan jadilah Silent Hill kota mati.
Cerita berkahir dengan kalahnya Christabella dan Rose akhirnya menemukan Sharon yang ditawan oleh Christabella dan pengikutnya.
Rose pulank ke rumah dan ada adegan di rumah bahwa ternyata Rose dan Sharon tetap ada di dua dimensi berbeda dengan Christopher.
RATING: 9/10
NOBODY KNOWS
(Dare mo Shiranai) (http://sarapanpagi.6.forumer.com/viewtopic.php?p=1717#1717)
http://images.rottentomatoes.com/images/movie/gallery/1141777/photo_06.jpg
To never been born, maybe the greatest born of all
Sophocles (c. 496-406 B.C.)
Quote dari Sophocles diatas tampaknya ekstrim, namun anda bisa akan sangat setuju dengannya setelah menonton film ini. Seperti halnya kisah yang diangkat oleh Sutradara Iran Bhaman Ghobadi dalam film TURTLES CAN FLY (http://forum.webgaul.com/showthread.php?postid=2135051#post2135051), bahwa mungkin 'anak-anak yang malang' itu lebih baik tidak pernah lahir daripada hidup diterlantarkan.
Nobody Knows (Dare mo Shirana) (http://en.wikipedia.org/wiki/Nobody_Knows) adalah film yang diproduksi tahun 2003 yang disutradari oleh Kore-eda Hirokazu. Film ini terinspirasi oleh kisah nyata yang dikenal sebagai "Affair of the Four Abandoned Children of Nishi-Sugamo". Film bagus ini menjadi perbincangan dan dijagokan dalam CANNES 2004, namun karena ’agenda tertentu’ film ini harus tersisih dengan Fahrenheit 9/11 (http://www.jurnalkita.com/artikel/76.html) untuk mendapatkan penghargaan Palme d'Or.
Film ini menceritakan tentang 4 orang kakak beradik (Akira, Kyoko, Shigeru & Yuki) yang hidup bersama ibunya. 4 anak kakak beradik hidup rukun bersama, walaupun masing-masing mempunyai ayah yang berbeda-beda. Mereka tidak pernah pergi ke sekolah dan tidak mempunyai akte kelahiran, sehingga keberadaan mereka bagaikan 'never exist'. Bersama ibunya, 4 anak ini hidup berpindah pindah.
Kepada pemilik Apartemen, Keiko (sang Ibu) mengaku suaminya ada di luar negeri dan hanya punya satu anak, yaitu Akira (anak tertua yang berusia 12 tahun) yang diperankan dengan baik oleh Yûya Yagira, sehingga di Cannes 2004 ia meraih predikat 'Best Actor'.
Sedangkan anak-anaknya yang lain diselundupkan ke apartemen secara diam-diam, dua diantaranya disembunyikan dalam kopor baju. Hal ini dilakukannya supaya pemilik apartemen tidak menolaknya karena apartemen yang sangat kecil itu seharusnya tidak untuk keluarga dengan total penghuni 5 orang.
Dengan keadaan yang serba minim, namun 4 anak-anak itu hidup saling tolong menolong secara rahasia di apartemen tersebut, setia menunggu kepulangan ibunya pulang dari kerja. Namun sang Ibu seringkali lupa pulang, semalam tak pulang, kemudian 3 malam tak pulang, sampai 1 bulan tidak pulang tanpa alasan yang jelas. Akira anak lelaki yang masih berumur 12 tahun harus bertanggung jawab mengurus adik-adiknya mulai belanja, memasak dan mengurus keperluan rumah-tangga lainnya.
Satu bulan yang panjang, meskipun susah diterima oleh anak-anak itu, toh mereka bisa survive dengan tanggung jawab si Kakak ini, ia berhemat dan ketika uang mulai habis meminta uang dari ayah-ayah mereka, namun itupun tidak dengan mudah diperoleh.
Setelah absen 1 bulah, akhirnya si ibu pulang juga; Akira mengungkapkan kemarahan dan kecewanya terhadap apa yang dilakukan Ibunya dan menyatakan keinginannya untuk sekolah bersama adik-adiknya. Namun si ibu menjawab “Aku juga berhak untuk bahagia kan? Ayahmulah yang tidak bertanggung-jawab”. Si ibu ini mengajukan pembelaan terhadap dirinya, bahwa memang para lelaki yang menjadi bapak ke-4 anaknya itu semuanya tidak bertanggung-jawab. Namun bukanlah posisi Akira untuk bisa menimbang perbandingan yang dilontarkan oleh ibu yang bisanya bercinta dan beranak saja tanpa tanggung-jawab.
Tak lama bersama dengan anak-anaknya di apartemen itu, si Ibu pergi lagi tanpa jejak untuk hidup bersama kekasih barunya, ia hanya meninggalkan sedikit uang untuk anak-anaknya . Sejak saat itu, dimulailah perjuangan Akira dan adik-adiknya untuk bertahan hidup. Anak-anak ini tetap pada persembunyiannya di apartement mungil itu sesuai instruksi ibunya, supaya keberadaan mereka tidak ada yang mengetahui. Hanya Akira yang keluar-masuk apartemen untuk belanja. Sementara itu Akira sempat menjalin persahabatan dengan anak-anak di lingkungan sekitar, termasuk Saki, seorang gadis, murid SMP kesepian yang sangat care terhadap Akira dan adik-adiknya. Waktu terus berjalan berbulan-bulan tanpa ada kabar dari Ibunya, lama kelamaan keadaan makin memburuk, tidak ada lagi uang atau makanan yang tersisa, aliran air dan listrikpun diputus, mereka hidup mengandalkan keran air di taman dan makanan pemberian pegawai supermarket yang kasihan terhadap mereka. Melihat keadaan kakak-beradik yang terlantar ini timbul rasa kasihan dalam diri Saki. Ia dengan inisyatifnya sendiri mencoba 'make money' dengan menemani menyanyi dengan seorang lelaki di sebuah karaoke, ia mendapat uang Yen 5,000.-- dan diberikannya kepada Akira untuk bisa dibelikan makanan. Akira menolak uang itu, ia menganggap uang itu didapat dengan cara yang tidak halal. Akira lebih memilih lapar daripada menerima uang itu, tapi di pihak Saki, hanya dengan cara itulah ia bisa mendapatkan uang.
Keadaan terus bertambah buruk karena sang adik terkecil Yuki sakit, gadis kecil 3 tahun itu tak mampu lagi bertahan dan dia mati. Adegan ini sangat mengharukan meski tanpa adegan isak-tangis para pemainnya. Menghadapi keadaan itu Akira tak sempat menangis ataupun meratapi kematian adiknya, karena dia diperhadapkan pada tanggung-jawab besar yang harus segera dilakukannya, yaitu bagaimana cara mengubur adiknya yang 'never exist' ini. Ia dan Saki sahabatnya kemudian menaruh jasad Yuki kedalam kopor dan dibawa secara diam-diam naik kereta menuju pelataran run-way bandara udara untuk mengubur Yuki disana.
Film sepanjang 141 menit ini cukup menyayat hati menggambarkan sengsaranya hidup anak-anak terlantar di kota besar didalam suatu negara modern dan kaya. The paradox of life as we know it......
Blessings,
BP
May 11, 2006
Mithrandir
May 26, 2006, 16:17
X-Men: The Last Stand
Spoilers galore, don’t read this review if you haven’t seen the film.
Adegan pembuka di film terakhir trilogy X-Men, langsung menunjukkan orientasi sutradaranya yang baru yang menggantikan Bryan Singer, si bad boy Brett Rattner, dalam memfilmkan materi ceritanya. Tanpa menunggu lama-lama, Rattner langsung ingin menimbulkan kesan dan memberi pseudo-kejutan, menampilkan Charles Xavier turun dari mobil Mercedes dengan dua kakinya, sebelum sesaat kemudian muncul title card memberitahu bahwa ini adegan flashback 20 tahun lalu. Setelah credits sequence, nampak lagi title card, kali ini menyebut ‘some time in the near future’, dan muncullah satu adegan dengan latar belakang yang hancur lebur dengan para karakter-karakternya yang tampak sedang bertempur melawan sesuatu yang awalnya tidak jelas, ternyata mereka sedang melawan robot sentinel. Tapi sebelum saya bisa mencerna maksud adegan yang langsung full-action ini, lagi-lagi Rattner mempermainkan penonton, adegan yang disorienting ini hanyalah sebuah simulasi untuk melatih para X-Men muda dalam menghadapai situasi chaos. Bandingkan dengan intro karakter Nightcrawler di adegan pembuka X2.
Dari dua adegan awal ini saja, apa yang saya takutkan akan terjadi pada film yang sekuel sebelumnya buat saya salah satu film comic book terbaik yang pernah dibuat Hollywood, akhirnya terjadi juga. X-Men: The Last Stand adalah film X-Men terburuk diantara trilogi filmnya. Bahkan The Last Stand adalah Batman Forever dibandingkan dengan X2: X-Men United yang merupakan Batman Returns-nya. Tentu skala filmnya lebih besar daripada 2 film sebelumnya, dengan adegan-adegan aksi yang bigger dan louder dan dengan hadirnya mutan-mutan baru atau pun yang muncul kembali memamerkan kemampuan mereka masing-masing, tapi broader tidak lantas membuat filmnya jadi better, justru mengorbankan pengembangan karakter yang begitu menarik di film sebelumnya dan yang sangat terasa berbeda, hilangnya kedalaman dan kompleksitas subtext filmnya, tergantikan oleh spectacle dan dialog yang kebanyakan dangkal. Tidak ada kalimat seperti, "You're a god among insects. Don't let anyone tell you otherwise."
Segala kehampaan ini juga seperti mengimbas ke akting para aktornya, yang hampir semuanya terasa datar dan tidak memberi nuansa kepribadian yang menarik, mau itu Wolverine, Magneto, Jean Grey dan lainnya. Yang sedikit menonjol hanya Beast saja, yang adalah karakter paling berdimensi diantara banyaknya karakter lainnya.
Pangkal persoalannya adalah, Brett Rattner kurang memahami subtext. Rattner ingin membuat film yang dianggap serius, tapi tanpa kontrol nada dan irama filmnya yang konsisten malah membuat filmnya menjadi less exciting dan less fun, ditunjang sedikitnya substansi dibalik cerita yang tampak di permukaannya, meruntuhkan apa yang sudah Bryan Singer bangun selama ini. Keberhasilan Singer di dua film sebelumnya (terutama X2) adalah dia menyadari bahwa ini adalah tentang kumpulan manusia super dengan kekuatan-kekuatannya yang unik tapi substansinya bukan tentang hal-hal tersebut, melainkan tentang bagaimana rasanya dibedakan karena karakteristik tertentu dari keunikan tersebut.
Bagaimana mungkin film X-Men mengenai saga Dark Phoenix begitu hambar dan tidak berisi begini? Begitu banyak nyawa melayang, kekuatan hilang, tapi tidak banyak menghasilkan implikasi berarti selain para mutan juga manusia yang bisa mati, dan mau seberapa tangguhnya seseorang, masih ada lagi yang jauh lebih tangguh?
Yang sampai juga pada keberatan lain saya pada film ini. Begitu banyak karakter-karakter yang mati, saya tidak bisa memercayainya. Kenapa? Apa yang dicapai dari trik drama yang paling mudah ini dari segi penyelesaian cerita atau pemenuhan temanya selain keputusasaan dalam menggugah emosi penonton? Akan jauh lebih baik dan menarik bila karakter-karakter ini tetap hidup dan menghadapi konflik tanpa harus terbunuh sebegitu mudahnya. Dan ending filmnya, mensinyalkan perbedaan resolusi antara Singer dengan Rattner. Rattner mendukung status quo dan kita, sebagai masyarakat, cukup menjadi bidaknya saja.
Bila ada satu poin yang bisa diambil dari film ini, yang membuatnya menjadi tidak sepenuhnya worthless dan masih layak tonton walau untuk sekedar menyaksikan adegan-adegan aksi oleh para karakternya, benang merahnya adalah dunia ini sekarang semakin terpecah belah dan divergen. Dalam satu komunitas yang sama sekalipun, yang tersatukan atas kesamaan tertentu (dalam hal ini mutan di filmnya), polarisasi dapat terjadi dan bisa sampai meruncing menimbulkan pertikaian satu sama lain karena dua perbedaan pandangan dalam mneghadapi satu problem. Yaitu antara kubu konservatif yang mengandalkan fisik dan histeria massa sebagai senjatanya (Brotherhood yang dipimpin Megneto) dengan kubu moderat yang lebih memilih jalur diplomasi dan dialog (X-Men yang dipimpin Charles Xavier) dan juga ditambah satu atau lebih elemen lain yang tak terduga (force of nature) yang terwakili oleh Jean Grey (Dark Phoenix) yang tidak mudah dikategorikan karena kedualitasannya. Hal ini cukup ironis bila kita melihat apa yang terjadi di Indonesia atau Palestina sekarang, bagaimana umat Islam menjadi seperti para mutan di X-Men: The Last Stand. Which side are you on? If you’re different than us, then you’re not one of us.
Mithrandir
June 26, 2006, 02:48
Network
"You have meddled with the primal forces of NATURE, Mr. Beale ... There is no America. There is no Democracy. There is only IBM and ITT and AT&T and DuPont, Dow, Union Carbide and Exxon. Those are the nations of the world today ... the world is a BUSINESS, Mr. Beale."
Menonton Network yg mungkin adl film anti-TV plg prophetic dan termasyhur di MetroTV (yg sdh menayangkannya 2 kali) adl sebuah ironi terbesar utk stasiun TV yg mengklaim sbg stasiun berita dan informasi yg dimiliki oleh korporat Media Group yg pimpinannya adl anggota dewan kehormatan partai terbesar di Indonesia plg berkuasa yg juga memiliki harian Media Indonesia dgn slogan “Cerdas, Lugas, Terpecaya”. Sebenarnya, mungkin lbh tepat menjuluki MetroTV dgn slogan “Bias, Culas, Terpropaganda”, yg setiap harinya menyuapi pemirsa kalangan kelas menengah atas Indonesia yg impoten sbg arus penggerak perubahan krn sudah saking nyamannya dgn status sosial mereka.
Di era dimana 3 stasiun TV nasional yaitu RCTI, GlobalTV dan TPI dimiliki oleh satu korporasi multinasional yg sama, apa yg ditampilkan di film Network, yg dirilis thn 1976, spt sebuah ramalan jitu yg menjadi kenyataan begitu nyatanya shg membuat kita penasaran apa penulis skenarionya (Paddy Chayefsky) datang dr masa depan. Sdh umum diketahui sebaagian Negara ini dikuasai oleh pihak asing melalui lilitan-lilitan utang dan investasi yg menjerat dan mengikat membuat para pemimpinnya yg sebagian juga adl para pebisnis kapitalis tak berkutik oleh tekanan kepentingan asing dan kepentingan pribadi dan golongan masing-masing.
Network patut diacungi dua jempol dlm mengangkat topik yg krusial dan relevan mengenai trend dan apa yg terjadi di belakang layar pertelevisian yg korup dan carut-marut, tapi sbg film itu sendiri, dlm pandangan saya bukanlah masterpiece dan agak overrated. Yg membuat Good Night, and Good Luck, film yg memiliki spirit yg sama dgn Network, begitu unik adl krn George Clooney dan Grant Heslov sbg penulis skenarionya menyadari bahwa poin terpenting film spt ini adl aspek politik dan jurnalistiknya, jadi tdk perlu ada pengembangan karakter yg mengalihkan perhatian dr topik utamanya tapi langsung menusuk ke inti persoalan.
Tdk bermaksud mengurangi kekuatan penulisan skenarionya, tapi spt film Closer, buat saya suatu film tdk cukup dikonstruksi oleh dialog-dialognya yg tajam dan pedas saja. Itu hanya satu dr sekian faktor. Laju penceritaan Network agak tersendat setiap filmnya berkutat dgn kehidupan pribadi karakternya, terutama perselingkuhan Max Schumacher sbg pemimpin redaksi berita dgn Diana Chrsitensen sbg programming director di stasiun TV yg sama (UBS) yg menggoyahkan perkawinannya. Bukankah di satu momen di filmnya disebutkan oleh karakter Howard Beale bahwa kehidupan individu para pelakunya tdk penting dan tdk relevan di dunia pertelevisian ini?
Network tetap adl film yg penting utk ditonton semua orang. Ditayangkannya film ini di MetroTV mungkin utk memberi rasa feel-good buat para eksekutifnya sbg cermin utk berkaca sesekali alih-alih mereka mulai kehilangan hati nuraninya dlm konflik antara etika jurnalisme dan kepentingan korporat yg membayarkan tagihan-tagihan mereka.
"We deal in illusions, man. None of it is true. But you people sit there day after day, night after night, all ages, colors, creeds. We're all you know. You're beginning to believe the illusions we're spinning here. You're beginning to think that the tube is reality and that your own lives are unreal. You do whatever the tube tells you. You dress like the tube. You eat like the tube. You raise your children like the tube. You even think like the tube. This is mass madness -- you maniacs! In God's name you people are the real thing, WE are the illusion.
"So turn off your television sets. Turn them off now. Turn them off right now. Turn them off and leave them off. Turn them off right in the middle of the sentence I am speaking to you now. Turn them off!!"
(Howard Beale)
denny_frost
January 04, 2007, 08:58
Film yg menegangkan, kekerasan cukup tinggi. Walaupun di awal2 agak membosankan tapi Departed film yg sangat bagus.
Leonaro di Caprio bermain mengesankan di sini dan juga Jack Nicholson. Malah Matt Damon yg tampil biasa saja.
Endingnya sangat twist, special, sangat susah ditebak
Film ini merupakan pergumulan moril bagi Matt Damon yg menjadi polisi jadi-jadian maupun Di Caprio yg menjadi penjahat jadi-jadian.
Gw sndr sudah menonton versi aslinya Infernal Affairs. Kalou mau jujur The Departed lbh baik di banding Infernal Affairs. Infernal Affairs jelas adalah masterpiece tapi Scorsese berhasil menyempurnakan masterpiece itu sehingga kelemahan-kelemahan di dalam Infernal Affairs berhasil di perbaiki oleh Scorsese. Scorsese berhasil membuat The Departed lbh menegangkan dan aktor-aktornya juga bermain lbh baik di banding aktor-aktor Infernal Affairs. Pada ending, Infernal Affairs lbh kelam dan gw sndr lbh menyukai ending Infernal Affairs krn bermakna cukup dalam di banding ending The Departed yg kesannya "Hollywood Ending" itu
Grade : A
denny_frost
January 04, 2007, 09:02
Film ini sangat sadis, jauh melebihi pikiran manusia. 30 menit pertama film ini malah seperti Euro Trip, Road Trip dsb. 1 jam terakhir sangat berdarah2 dan sadis. Seperti pengeboran bagian2 tubuh tertentu dan lainnya. Endingnya berakhir Twist dan akan ada lanjutannya di Hostel: Part II. Jay Hernandez di penampilan terbaiknya
Jika ingin melihat penyiksaan, survival, darah2 dimana-mana tontonlah film ini
ini adalah salah satu film horror yg paling gw sukai. Hostel merupakan film yang sangat menegangkan. Survival storynya pun sangat mengesankan. Masih terbayang-bayang bagaimana jika menjadi korban pada film ini, adegan-adegan penyiksaannya cukup di luar batas, hal itu menjadi unsur tambah untuk menambah kengerian tersendiri
Grade:A-
harlequin
February 05, 2007, 17:53
http://www.autodogmatic.com/images/u93.jpg
United 93
Gw rent film ini dengan keyakinan kalo gw bakal tidur di tengah jalan karena bosen. Ternyata ngga.
Film ini bercerita ttg pembajakan pesawat pas 9/11, and United 93 is the only plane that didn't reach its destination karena passengernya memberontak and fight back ke terorisnya. Banyak yg bilang "it's funny how 40 strangers, knowing they would die, can do so much."
Plotnya, semua juga udah tau. Pesawat dibajak, trus akhirnya jatoh di PA (instead of the White House). Tp cara si director ngebangun plotnya itu bagus banged. Diceritain dari awal, gimana teroris siap2, trus ada waktu jeda sebelom pembajakan dimulai. Jadi suasana "gw ada di pesawat itu juga" ada waktu gw nonton filmnya, and ga berasa gw cuman liat di TV aja. Cos the way the film is, everyone who had been on the plane can relate to what happened.
Meskipun gw pikir 1/2 half is boring karena film ini terlalu spent time sama 3 pesawat laen - and bukannya fokus ke united 93, tp gw rasa introduction ttg pesawat yg laen (yg ke WTC sama Pentagon itu perlu). Plus, film ini suspensenya ga mengigit, kayak pas teroris keliatan bawa mayat - tp ya emang ini film bukan film suspense kayak saw III or silent hill gt. Jadi ya masi bisa ditoleransi.
Bagusnya lg, si teroris kan banyak ngomong bahasa arab... and ngga semua bahasa arabnya tuh diterjemahin. Jadi film ini lolos dr kesan "foreign film with subtitle."
Sensitive subject, but I think it was done greatly.:heartbeat
8/10
qbiz
February 26, 2007, 08:49
THE PAINTED VEIL
Pelajaran cinta dari pria-baik bagi wanita yang bodoh.
Setelah The Illusionist, Edward Norton kembali dengan cerita romance yang tak kalah menarik, "The Painted Veil". Di film ini ia sebagai salah satu producer, memilih sendiri siapa-siapa yang terlibat dalam filmnya. Film ini adalah remake ke 3, yang pertama dibintangi oleh Greta Garbo. Norton cukup kreatif dalam film ini, ia pernah menimba ilmu di Yale untuk Sejarah China, sehingga pengetahuannya cukup banyak memberikan ide-ide yang lebih mendalam akan latar belakang sejarah dari kisah ini.
http://www.sfstation.com/images/articles/61/2361a.jpg
Tagline: Sometimes the greatest journey is the distance between two people
Naomi Watts : Kitty Fane
Edward Norton : Walter Fane
Liev Schreiber : Charlie Townsend
Music : Alexandre Desplat
Screenplay : Ron Nyswaner
Novel : W. Somerset Maugham
Director : John Curran
The Music,
Sebagaimana peranan Philip Glass dalam "The Illusionist" yang memberikan nilai-nilai mistis dan romantisme. Film The Painted Veil ini juga didukung oleh komposer yang memberikan nilai dramatis, dia adalah komposer Perancis, Alexandre Desplat, dan dentingan piano dari pianis China, Lang Lang. Keterlibatan musisi bagus memberikan nilai tambah untuk sebuah film, dan kadang malah melebihi cerita filmnya itu sendiri. Misalnya gubahan Ennio Moricone untuk film "Cinema Paradiso", theme-song film ini justru menggeser cerita, aktor/aktris filmnya itu sendiri. Para musisi papan atas sampai penyanyi Josh Groban membawakan lagu tema Cinema Paradiso. Sehingga lagu ini bagaikan lagu "malam kudus" yang selalu berkumandang setiap natal, demikianlah Cinema Paradiso di kuping musisi-musisi hebat.
Alexandre Desplat, musisi ini sudah banyak menangani music-music untuk film The Queen, Firewall, Syriana, Casanova, Birth, Tristan, Stormy Weather, dll. Dari perjalanan panjangnya sebagai musisi, tahun ini ia mendapat anugerah Golden Globe untuk film The Painted Veil. Karena film ini dengan setting kehidupan di China, ia pun memilih pianist Lang Lang. Dalam film ini, sebagai love-theme, ada komposisi piano klasik dari Erik Satie, Gnossienne No. 1. Anda akan setuju dengan saya bahwa dentingan pianonya ini mempunyai emosi dan nyawa sebagaimana isi cerita dalam filmnya. Meresapi score film ini secara khusus saya memejamkan mata tanpa melihat gambarnya, dan merasakan bagaimana Lang Lang menyentuhkan jarinya pada piano, the beauty of the music surely involve to the film.
The Story,
Kitty (Naomi Watts) adalah gadis cantik, modern, dikenal sebagai "party girl" di zamannya (tahun 1920an). Ia kurang mimiliki hubungan harmonis dengan orang tuanya. Untuk bisa lepas dari mereka. Kitty setuju menikah dengan Walter Fane (Edward Norton) – seorang bacteriologist pemerintah Inggris, yang meneliti kuman and penyakit yang ditempatkan di Shanghai China. Kitty dari kalangan atas, Walter dari kalangan menengah. Pasangan yang 'tak serasi' itu pun menikah di London. Tanpa cinta Kitty menikah dengan Walter, salah satu penyebabnya juga kepanikan keluarga/ social pressure karena adik perempuan Kitty sudah menikah lebih dulu.
Kemudian ia bersama dengan Walter menuju ke Shanghai di tempat dimana Walter bekerja sebagai seorang ilmuwan. Kehidupan di Shanghai tercukupi, tetapi Kitty merasakan kekurangan-kekurangan dalam diri suaminya, ia terlalu serius, kurang humor, dan selalu sibuk dalam penelitiannya. Walter sebagai suami juga termasuk seorang yang pemalu, pendiam, tidak pernah menampakkan gairah yang menggebu meskipun ia sangat mencintai istrinya. Atas sikap-sikap yang "kurang gaul" ini maka Kitty semakin mengalami kebosanan dan menyesali pernikahannya. Dalam sebuah pertunjukan Chinese Opera, Kitty bertemu dengan seorang diplomat muda yang sudah beristri, Charlie Townsend (Liev Schreiber, suami Naomi Watts dalam kehidupan nyata). Lelaki ini tampan, menarik, keren dan pandai berhumor, Kitty pun terpikat kepadanya dan berlanjut pada perselingkuhan. Walter mengetahui perselingkuhan istrinya, tapi ia juga masih mencintai istrinya, bagaimana ia bisa mendapatkan cinta istrinya inilah yang menjadi pokok cerita dalam film ini.
Dalam kegundahannya sebagai suami yang dikianati, ia menerima tawaran pekerjaan sebagai seorang dokter sukarelawan di daerah pelosok di China – Meitangfu – sepuluh hari perjalanan dari Shanghai. Di daerah itu sedang terjadi wabah kolera yang menimpa banyak penduduk yang menyebabkan banyak orang tewas. Ia menggunakan kesempatan tugas ini untuk mendapatkan cinta istrinya sekaligus mengajarnya menjadi istri yang baik dan mungkin juga sebagai "balas-dendam".
Walter mengajukan syarat kepada Kitty, bahwa ia harus mengikutinya ke Meitangfu atau digugat cerai dengan delik perzinahan. Kitty memohon agar suaminya mau menceraikannya secara baik-baik tanpa delik perzinahan. Dan Walter menyetujui dengan syarat bahwa ia hanya mau 'diceraikan' Kitty, apabila Charlie mau menikahi Kitty dan juga menceraikan istrinya (Dorothy). Merasa mendapat angin, terbebas dari suaminya, dan rasa percaya diri bahwa Charlie sungguh mencintainya, Kitty bergegas menemui Charlie dan mengatakan bahwa Walter mengetahui hubungan mereka.
Kitty kemudian mengemukakan syarat perceraian itu hanya bisa dilakukan apabila Carlie mau menceraikan Dorothy dan bersedia menikahi Kitty. Charlie adalah seorang diplomat yang menduduki jabatan sebagai assistant colonial secretary of Hong Kong. Ia jelas berfikir bahwa skandal dengan 'istri orang' ini akan berdampak buruk terhadap karir politiknya. Ketika Kitty menghadapi kenyataan ini, ia baru sadar bahwa Walter sebenarnya tidak pernah berniat menceraikannya, karena Walter tahu bahwa Charlie tidak akan mengorbankan karir dan keluarganya demi 'istri orang'. Akhinya Kitty dengan terpaksa mengikuti suaminya dalam tugas kemanusiaan di Meitangfu.
Kitty, tentu saja tidak cocok berada di daerah pelosok, "gadis kota" yang manja itu terpaksa harus mengikuti suaminya dan belajar membiasakan diri dalam lingkungan yang jauh berbeda dari tempat ia berasal. Walter meski memiliki keinginan untuk mendapat cinta dari istrinya, namun ia sungguh kesulitan menghadapi kemarahannya pada dirinya sendiri, ia merasa sebagai suami pecundang. Sehingga iapun tak mampu melihat wajah istrinya, dan ia selalu menghindar dari percakapan dan semakin menyibukkan diri dalam penelitian dan usaha penanggulangan wabah kolera di Meitangfu.
Pasangan Kitty & Walter mempunyai seorang tetangga, orang Inggris juga, Waddington (Toby Jones), yang ditugaskan pemerintah Inggris mengawasi daerah Meitangfu. Waddington seorang tetangga yang baik, yang menyadari problem perkawinan diantara pasangan itu. Toby Jones seorang aktor yang bagus, aktingnya natural sekali. Di film Infamous saya jutru melihat ia lebih cocok memerankan tokoh Truman Capote daripada Philip Seymour Hoffman yang dapat oscar tahun 2006 lalu.
Kemudian Kitty menyibukkan diri juga dalam urusan yang dilakukan suaminya. Ia memperbantukan diri ke rumah yatim-piatu yang juga sekolah dan klinik kesehatan yang dikelola para suster perancis, sebagai usaha rekonsiliasi dengan suaminya. Dan lambat laun, iapun akhirnya jatuh cinta kepada sang suami. Karena nyatanya hanya Walter yang berkata "I’ll do anything in my power to make you happy, anything at all", dan membuktikannya. Sayang kejadian manis ini tidak berlangsung lama, karena akhirnya Walter pun terjangkit kolera yang mematikan itu, ia meninggal karena dehidrasi. Walaupun akhirnya Walter tahu bahwa ia dicintai, namun Kitty tak pernah merasa cukup untuk meminta maaf pada suaminya yang kini telah meninggalkannya. Namun ia merasa bersyukur bahwa suaminya masih meninggalkan harta yang paling berharga untuknya, yaitu dengan kehadiran anak mereka si Walter kecil. Kejadian besar di China menjadikan Kitty berubah menjadi seorang wanita yang mandiri dan kemudian juga bisa berdamai dengan orangtuanya di London.
Akhir cerita ditutup dengan pertemuan ketika Kitty dan anaknya berjalan-jalan di kota London dengan Charlie Townsend. Charlie menyapanya dan mengatakan bahwa ia hendak ditempatkan di London. Namun Charlie sekarang ini sudah tidak lagi sebagai orang penting dalam kehidupannya. Disamping itu, ia telah mendapatkan anak yang adalah 'lukisan cinta' mendiang suaminya.
Ada singgungan beberapa masalah politik masa lalu di China, dimana pemerintah Inggris menyokong partai nasionalis (Kuomintang) untuk mengimbangi kekuatan partai komunis. Walter adalah seorang dokter yang agak naif, dia berpikir perbuatannya demi kemanusiaan akan diterima baik tanpa syak-wasangka dari masyarakat, ia berkata "aku datang dengan mikroskop tidak dengan bedil, seharusnya misi ini diterima baik". Dan prajurit partai Komunis menjawab, "akan lebih baik jika pemerintah mu tidak mengacungkan senjata pada rakyat kami".
Film ini bagus ditonton oleh pasangan suami-istri, ataupun anak-anak muda yang masih pacaran. Kadang anak muda mementingkan tampang, gaya gaul, cowok atau cewek yang keren sebagai pasangan. Tapi ada yang lebih penting dari semuanya itu, yaitu hati dan komitmen. Kecantikan dan eloknya rupa hanya kebanggaan waktu muda, selebihnya Anda tidak akan melihat seseorang itu dari tampang mukanya atau gayanya saja. Walter boleh jadi kurang keren sebagai seorang suami, tetapi ia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki Charlie.
http://ae.contracostatimes.com/images//50/44/12-28-2006-13:50:44:630-paintedveil.jpg
Jika Anda menyukai film Out of Africa, English Patient, Anna Karenina, Anda akan menyukai "The Painted Veil".
Blessings,
Bagus P
February 26, 2007
charlize
May 09, 2007, 01:55
SPOILER ALERT!
SPIDERMAN 3
WARNING PERTAMA:- Jangan mengajak anak balita untuk menonton film apapun apabila tidak mau konsentrasi terganggu plus kesan film jadi gak ada setelah nonton filmnya ... :argg
KARENA ... itulah yang terjadi ama gue waktu nonton SPIDERMAN 3
Anak gue - Raphael - waktu action bak bik buk gak nanya apa2 ... tapi waktu conversation alias drama ... nanya ke kita mulu kok ga pulang2?, kok lama amat? dll dll
WARNING KEDUA:- Jangan nonton felm terlambat, karena gue terlambat 10 menit sehingga review ini gak akan ada isinya tentang show MJ di opera yang dihadiri oleh Peter Parker dan Harry Osbourne yang kemudian di kritik habis oleh newspaper krn suaranya yang terlalu lemah sehingga tidak sampai ke barisan belakang - padahal Peter memuji2 MJ dengan semangat
REVIEW:
Jadi ... review gue berlangsung setelah Peter Parker selesai show ... mendatangi MJ di belakang panggung untuk memberikan semangat dan pujian
Sam Raimi ... punya kekhasan dalam membuat film, entah itu film layar lebar atau film layar kaca, karena dapat kita lihat dalam 2 buah karyanya yang pernah dan sedang ditayangkan di TV2 tanah air kita: Hercules & XENA Warrior Princess - penuh dengan action menarik PLUS drama yang melibatkan hati DAN humor yang sanggup memancing tawa para penontonnya [kedip]
Mulai dari adegan pertama, saat Peter mendatangi backstage ... bunga yang dia kirim berbentuk bulat, mungil ... sedangkan disampingnya berdiri bunga Harry yang ajubilah gedenya ... good comparison indeed meanwhile we all know that those boys are falling in love with the same girl, MJ. ::love::
Diceritakan juga bahwa Harry masih dendam pada Peter karena dia mengira Pete lah yang membunuh ayahnya, yang walaupun sudah dijelaskan berulang kali oleh Pete – tapi Harry tak mau percaya begitu saja.
Pengenalan tokoh Sandman, dilakukan di awal cerita, mengisahkan pelariannya dari penjara, mendatangi rumahnya untuk bertemu dengan sang anak perempuan yang sakit keras.
Menceritakan betapa tokoh ini sebenarnya melakukan semua kejahatan ... hanya untuk anaknya tercinta ... janji yang di ucapkannya pada sang anak membuat trenyuh I’ll do anything to find money to make you healthy again
Dan pengusiran sang istri yang membuatnya mengungkapkan kata2 yang cukup menyedihkan: I am not a bad person ... I just have bad luck
Mengingatkan gue pada pemikiran ... masih banyak orang yang menderita bahkan di negara maju seperti United States. ;)
Bagaimana Sandman menjadi Sandman tidak akan gue ceritakan disini ... biarlah menjadi rahasia buat yang belum menonton
Adegan romantis antara Pete dan MJ pun berlangsung di tengah hutan, beralaskan sarang spidey yang cukup besar dan terlihat empuk bagi mereka berdua memandang langit ... ditambahi quote romantis dari MJ: I’d like to spend the rest of my life with you watching me from the first row Diikuti dengan jatuhnya meteor yg tidak dilihat Pete krn dia sibuk kissing dg MJ, yang ternyata mendatangkan symbiote hitam dari outerspace – yang nantinya akan mengubah kondisi Pete :)
Another quote yang bagus di katakan oleh Aunt May – Suami harus bisa mendahulukan Istri diatas dirinya sendiri – pada saat Pete mencurahkan isi hati pada bibinya itu tentang niatnya melamar MJ
Pete menunjukkan cincin pertunangannya kepada bibinya, sementara bibinya bernostalgia menceritakan bagaimana Uncle Ben melamarnya dulu, which is ternyata DITOLAK karena bibinya itu merasa mereka belum siap, juga pamannya. So they’re waiting for the perfect timing.
Pertarungan Pete dan Harry tak tertunda lama segera setelahnya, dan kita disuguhi action yang cukup memikat ... dimana Harry berubah menjadi little green goblin junior – julukan yang diberikan oleh Pete setelahnya – dengan cara yang sama dengan yang ditempuh sang ayah, masuk ke ruang yang dipenuhi asap hijau
Alat yang digunakan untuk terbang berbeda dengan yang digunakan oleh ayahnya, dengan kecepatan yang lebih tinggi dan lengkungan yang lebih tajam – yang jelas lebih high tech plus kembalinya bom2 kecil warna orange yang disebut oleh Pete I hate those things
Pertarungan di atas gedung2 bertingkat NY tersebut end up with jatuhnya Harry dengan satu hantaman keras di kepala yang berakibat amnesia yang sama dengan yang di derita DORY dalam Finding Nemo, yaitu: short term memory loss
Jadi setelah itu Harry kembali berbaikan lagi dengan Pete, plus MJ – he didn’t even remember anything about that nite, dan dendamnya pada Pete.
Satu quote dari Harry yang mengharukan, which he’d done at the end of the movie: I’ll sacrifice my life for them – them = Pete & MJ as his best friend
Pete berteman akrab kembali dengan Harry, bertandang ke rumahnya yang ditunggui oleh Bernard, sang pelayan kepercayaan sang ayah.
Sementara, critics melanda MJ dengan show nya di opera yang berakhir dengan digantinya MJ oleh singer lain, mengakibatkan dia hilang pekerjaan …
Which is … satu hal yang perlu sekali diingat … jangan sekali2 menyembunyikan informasi dari pasangan kita – karena hal ini pulalah yang mengakibatkan Pete & MJ renggang …
MJ merasa Pete tidak mengerti kondisinya yang lonely, kehilangan pekerjaan, butuh teman … dan bukannya berterus terang pada Pete, tapi MJ lari pada Harry – yang berakibat mengembalikan semua ingatan Harry tentang dendamnya pada Pete. :(
Sementara Pete mulai terbuai oleh kepahlawanannya pada saat dia menyelamatkan anak kepala polisi dari kecelakaan kerja – Gwen Stacy
Di sini lah bedanya komik dg film … Gwen Stacy adalah pacar pertama Pete ... tapi disini diceritakan Gwen muncul setelah MJ ada dihati Pete.
Yang jelas, for me as a woman pemeran Gwen – jauh lebih cantik daripada MJ yg diperankan Dunst. :p
Spiderman dianugerahi gelar kepahlawanan oleh kota New York yang diserahkan oleh Gwen ... PLUS satu hal yang membuat MJ semakin benci pada Pete – gue juga ga akan ceritakan disini
Dan pada saat yang bersamaan, he have to save the world to beat Sandman yang menyerang petugas keamanan bank.
Spidey kehilangan Sandman.
Meanwhile, Harry yang sadar kembali mengancam MJ untuk melakukan sesuatu pada Pete. Hal ini membuat Pete patah hati, sedih, dan membenci Harry.
Kondisi yang menurun ini, dilalui oleh Pete bukan hanya mengenai masalah MJ tetapi juga masalah pekerjaan. Bugle menerima seorang part timer bernama Edward Buck yang juga hunting foto2 Spidey. Eddie beda dengan Pete yang lugu, Eddie pintar mengambil hati sang JJ pemilik Bugle sehingga akhirnya pekerjaan tetap jatuh pada Eddie. He’s no longer partimer.
Sisipan adegan lucu oleh Raimi pun terjadi disini, membuat seluruh penonton malam itu tertawa terbahak2, antara JJ dan sang sekretaris :kakaka:
Sementara Pete mulai jatuh dalam depresi dan kesedihan mendalam, sang Symbiote yang mengikuti Pete sampai ke rumah mulai meracuni Pete menjadi seorang Spidey yang jahat … penuh amarah dan dendam … tidak tahu sopan santun dan etika … merendahkan orang lain … dan HITAM.
Spidey hitam ini … bertarung dengan Harry, melukai Harry. Bahkan Spidey hitam membunuh Sandman (yang ternyata tidak semudah itu mati) yang diceritakan adalah pembunuh Ben Parker yang sesungguhnya – membuat Aunt May tidak percaya: Spiderman doesn’t kill people …
Bukan cuma itu, Spidey hitam juga melukai hati MJ, melukai hati Gwen dan bukan cuma menjadi Spiderman yang lain, tetapi juga membuat Pete menjadi orang lain juga.
Kata-kata MJ setelah di pukul oleh Pete who are you? menyadarkan Pete ...
Mendarat tepat di atas gereja, di atas menara lonceng Pete melepaskan Symbiote ... yang jatuh mengenai Eddie – soon after Spidey hitam sebelumnya menghina dan merendahkan Eddie didepan orang banyak karena melakukan penipuan photography terhadap Spidey Hitam.
Disinilah saatnya Eddie berubah menjadi VENOM, bersama-sama dengan Sandman bertujuan menghancurkan Sandman dan lagi2 ... menculik MJ sebagai sandera.
Resiko buat pasangan superhero ... menjadi sandera ... digantung dilangit2 ... dijatuhkan ... dan dihempaskan ke bawah ... ternyata membuat MJ menjadi wanita yang cukup terlatih. Terbukti dari pintarnya dia mencari pijakan pada saat mobil yang digantung oleh VENOM diatas gedung setengah jadi itu jatuh ke bawah dengan cepat.
Spiderman telah kembali pada diri Pete, tapi dia sadar, dia tidak mampu sendirian melawan Sandman dan Venom.
Spidey meminta tolong Harry yang telah hancur separuh wajahnya akibat ulah Spidey Hitam.
Jelas ditolak mentah2 oleh Harry ... yang pada akhirnya disadarkan oleh Bernard ... (tonton juga sendiri tentang ini )
Ending cerita pasti dapat ditebak, bahwa Superhero tidak akan pernah mati dan kalah ...
Yang jelas ... banyak sekali quote yang bagus kita dapatkan di felm Spiderman 3 ini ... yang bukan Cuma mengandalkan bak bik buk, tapi juga mengajarkan tentang LIFE pada penontonnya.
Bagaimana dengan Spiderman selanjutnya? Apakah akan ada sekuelnya lagi?
Terlepas dari beberapa penonton komentar bahwa terlalu banyak drama, I LOVE DRAMA jadi tidak bisa disimpulkan bahwa Spiderman 3 ini lebih jelek daripada Spiderman sebelumnya.
Hanya ... film ini tidak meninggalkan kesan buat gue, entah karena ceritanya, atau entah karena gue di ributin oleh Raphael – gue juga gak yakin yang mana penyebabnya
Last ... gue kasih 7 out of 10 for this movie
Seraphim Falls
http://movies.apple.com/trailers/independent/images/seraphimfalls_200701261537.jpg
"Never turn your back on the past"
Saya menyukai film yang dibintangi para aktor yang sudah menginjak umur 40-an lebih, karena biasanya para aktor yang sudah ngetop masa mudanya, mereka akan lebih selektif memilih film yang akan dibintanginya, mengutamakan idealismenya ketimbang segi komersil, dan tentu saja dengan akting yang lebih matang.
Dalam Seraphim Falls ini Anda akan melihat duel akting diantara dua aktor senior (Liam Neeson dan Pierce Brosnan). Ini adalah film yang bagus namun bukan sejenis film hiburan, dan lebih merupakan sebuah sajian 'pengajaran tentang kehidupan'. Para penggemar James Bond tidak akan melihat Pierce Brosnan berpenampilan ganteng di film ini, juga tidak melihat Liam Neeson yang macho seperti di film action Batman Begin dan gagah di film Kingdom of Heaven (http://portal.sarapanpagi.org/entertainment/kingdom-of-heaven.html). Karena kedua aktor ini sepenuhnya sedang beradu akting dalam psycological action tanpa berpenampilan perlente. Penggemar "Western Movie" juga siap-siap tidak akan melihat 'dar-der-dor' bunyi senapan. Dan di "American Movie" ini tidak dibintangi oleh aktor-aktor Amerika, kedua aktor utamanya adalah Irish , termasuk musisi Harry Gregson Williams.
Film ini bercerita tentang Kolonel Morsman Carver (Neeson) yang ingin membalas dendam kepada seorang Kapten yang bernama Gideon (Brosnan) setelah terjadinya perang saudara di Amerika (Yanks vs. Rebs). Pada awal cerita, dikisahkan Gideon yang bersembunyi di pegunungan, ia bersembunyi dari kejaran Kolonel Carver dkk. Adegan dimulai dengan tertembaknya Gideon oleh Carver dan gerombolannya, Gideon tidak mbalas tembakan mereka, ia memilih lari menjauhi. Dan lebih suka menghindari kontak fisik dengan pengejarnya kecuali mereka 'membayakan' nyawanya. Terlihat Gideon mahir menggunakan pisau berburunya, dan ketika ia dengan terpaksa menghabisi nyawa musuhnya, ia membunuh dengan cara seorang native Indian untuk memberi pesan kepada para pengejarnya agar mereka tidak mengejarnya lagi. Namun Carver yang diliputi dendam membara ia tetap mengejar Gideon. Penonton di awal dan tengah film dibuat bertanya-tanya, ada apakah gerangan antara kedua lakon ini sehingga Carver begitu bernafsu mengejar Gideon. Sementara Gideon terlihat sebagai pribadi yang 'menyesali masa lalu'.
Nantinya penonton diberitahu duduk masalahnya, mengapa Carver begitu bernafsu memburu Gideon. Sulit bagi Carver mengampuni Gideon. Walaupun Gideon menang dalam duel dengan Carver, Gideon enggan membunuh Carver, ia mengutip Matius 26:52 "for all they that take the sword shall perish with the sword". Konflik batin masing-masing tokoh masih berkecamuk, dan kemudian divisualisasikan dengan hadirnya seorang perempuan penjual obat (diperankan oleh Anjelica Huston). Tidak ada kecenderungan untuk menunjukkan mana yang 'good-guy' mana yang 'bad-guy' sepanjang cerita hanya mengetengahkan seorang yang dendam memburu seorang 'penjahat'. Banyak sekali simbolisasi didalamnya dan penonton diharapkan menafsirkannya sendiri. Akhir cerita kedua orang yang berseteru ini memilih berdamai dan berjalan di jalannya masing-masing. Dan sesuai tagline filmnya "Never turn your back on the past".
Secara mutu cerita dan penampilan emosi dan perang-batin dua anak manusia didalamnya, film ini dikemas dengan bagus sekali. Kualitas gambar disajikan dengan cantik oleh cinematographer pemenang Oscar John Toll. Buat yang menyukai film dengan type 'visual storytelling', Seraphim Falls cukup mengakomodasi type film seperti itu. Dinginnya pegunungan yang bersalju, dengan disajikan bagaimana Gideon menggigil dalam kedinginannya itu, kemudian beralih kepada suasana pedesaan yang hijau, dan juga penyajian visual padang gurun yang gersang pada akhir film menggambarkan kegersangan hati kedua lakon yang kurang akan sejuknya kasih. Kita juga patut memberikan acungan jempol untuk sang sutradara David Von Ancken yang telah menyajikan film layar-lebarnya yang pertama ini sebagaimana sutradara-sutradara yang sudah senior. Dan tentu saja, pemilihan dua aktor senior ini memberikan nilai tambah bagi filmnya.
Blessings,
Bagus Pramono
May 18, 2007
DENIAS – Senandung di Atas Awan (http://portal.sarapanpagi.org/entertainment/denias-senandung-di-atas-awan.html)
http://img503.imageshack.us/img503/9641/denias1so3.jpg
...belajar bisa dimana saja...
Film Indonesia terakhir yang saya tonton sebelum Denias ini, adalah "GIE" dan saya tidak bisa mengatakan kalau Gie itu film bagus, malah saya lebih suka kemasan Film Dokumenter "SOE HOK GIE" kemasan Metro TV yang justru lebih enak dilihat dan informatif. Di Film "GIE" saya banyak sekali menemukan 'music latar' yang tidak pada tempatnya. Berbeda dengan Denias ini yang menyajikan kualitas gambar yang bagus, tatanan musik yang bagus yang ditata oleh Dian HP. Musicnya memperkaya sajian gambar dan kisahnya itu sendiri, karena musik latarnya ini cukup memberikan dorongan emosi, kejenakaan anak-anak juga semangat seorang anak akan menggapai cita-citanya.
Di film "DENIAS – Senandung di Atas Awan" ini saya bisa mengapresiasinya, menontonnya dengan nikmat, terharu, juga bisa merasakan makna ceritanya. Sayang sekali film yang bagus ini harus kalah di ajang kompetisi nasional FFI-2006 sebagai Film terbaik. Syukur masih ada ajang lain yang bisa mengapresiasi film ini dengan penghargaan-penghargaan sebagai "Best Movie" Jiffest 2006, juga meraih "Humanity Award" Biffest 2006, dan sebagai "Film Etnik Terpuji" FBB 2007.
Film Denias dikemas sederhana, dengan bahasa sederhana, berceritera tentang kisah nyata seorang anak yang sangat ingin bersekolah. Denias (Albert Fakdawer) anak seorang petani di daerah pelosok di pulau Papua di desa Arwanop. Denias kehilangan ibunya yang meninggal akibat kebakaran yang menimpa di rumahnya. Pada malam sebelum kematian ibunya, ia sempat berpesan kepada Denias "Sekolahlah Denias. Kalau kamu pintar gunung pun takut sama kamu". Ini adalah kata kunci dari film ini, kata yang sederhana tapi berbobot dan filosofis.
Dan ada dua tokoh lagi yang membuat Denias semakin bertekat akan keinginannya untuk bersekolah yaitu figur Pak Guru (Mathias Muchus) dan seorang TNI yang menjadi sahabatnya 'Maleo' (Ari Sihasale) yang menjadi 'guru sementara' ketika Pak Guru harus pulang ke Jawa. Di desa Arwanop itu, Maleo dan sempat mengajarinya pengetahuan akan kepulauan Indonesia. Maleo membuatkan 'puzzle' peta kepulauan Indonesia untuk Denias. Tentang peta ini Anda pasti dibuat tersenyum karena kejenakaannya, humornya bagus, tidak jayus.
Satu pesan penting dari Maleo yang diingat Denias adalah sekolah bisa dilakukan di mana saja. Maleo juga mengatakan, di balik gunung ada sekolah dengan fasilitas yang bisa dijadikan tempat untuk Denias meneruskan sekolahnya. Dengan fasilitas ala-kadarnya Maleo mengajar anak-anak daerah terpencil ini dengan pengetahuan-pengatahuan dasar. Namun sayang persahabatannya dengan Maleo harus berakhir karena Maleo ditugaskan ke tempat lain.
Ayah Denias tidak begitu memahami keinginan anaknya untuk bersekolah, ia pikir cukuplah Denias menjadi seperti dirinya. Namun pesan sang ibu selalu mengiang-ngiang bahwa "gunung takut sama orang pintar". Maka, Denias pun akhirnya bertekat pergi dari desanya, melintasi gunung mencapai kota untuk mana ia dapat bersekolah. Disinilah kisah petualangan Denias mengarungi hutan dan sungai-sungai. Denias yang penuh harapan melakukan perjalanannya dengan gembira dengan bernyanyi/ bersenandung seperti judul filmnya.
Akhirnya Denias menemukan sebuah sekolah SD seperti yang pernah diceritakan Maleo, dan disitu ia bertemu dengan anak gelandangan yang benama Enos. Denias pun berteman dengan Enos dan berbagi cerita, ia menyatakan keinginannya untuk masuk ke sekolah itu. Enos mengatakan itu sesuatu yang tidak mungkin karena Denias tidak mempunyai orang yang bisa membiayainya masuk ke sekolah itu. Lama kelamaan ia memberanikan diri bicara dengan salah satu guru untuk menyatakan keinginannya. Ia diarahkan untuk menemui Ibu Gembala (Marcella Zalianty), melihat kegigihan Denias dan juga kepandaiannya, ibu Gembala mau memperjuangkannya untuk bisa sekolah sekaligus diterima di asrama sekolah yang dikelola oleh pengurus asrama yang diperankan oleh Nia Zulkarnaen. Dua aktris cantik ini cukup bagus aktingnya, terlihat telah lumayan serius mempelajari 'aksen papua'. Cuma mungkin wajah mereka 'terlalu cantik atau terlalu metropolis' untuk main di film ini. Tapi nggak apa, secara keseluruhan film ini bagus bahkan mungkin yang paling bagus dari film-film yang sudah dibuat. Yang paling penting, tokoh Denias yang diperankan Albert Fakdawer (pemenang AFI Junior), ia bisa mewakili figur seorang anak cerdas, jenaka dan penuh semangat dalam diri tokoh yang bernama Denias ini.
Salut buat Ari Sihasale (produser) sebagai putra Papua, menyajikan keindahan panorama Papua serta singgungan budayanya bagi semua orang Indonesia yang kurang tahu apa yang terjadi di salam satu bagian daerah Indonesia ini. Salut juga buat John De Rantau (Sutradara), yang telah mengemas film ini dengan baik. Kita sudah cukup kenyang dan jemu dengan sinetron-sinetron dan film-film nasional yang tidak mendidik dan dibuat secara asal. Di film Denias ini, saya bangga masih ada putra Indonesia yang dapat memproduksi film nasional yang berbobot dan edukatif. Dan tentu saja film ini menjadi hiburan yang menarik bagi Anda dan keluarga di rumah. VCD nya baru saja diproduksi, akan mudah dicari di toko-toko.
Indonesia perlu membuat film-film berbobot dan mendidik seperti "DENIAS – Senandung di Atas Awan".
Bravo Denias!
Blessings,
Bagus Pramono
May 26, 2007
SpawnTheAnthony
June 13, 2007, 13:12
Fantastic Four: Rise of the Silver Surfer
Beberapa teman di forum mengatakan film Fantastic Four: Rise of the Silver Surfer [supaya yg capek, aku singkat menjadi FF:ROTSS] akan tayang di Indonesia pada tanggal 13 Juni 2007. Tepat pada hari ini. Sedikit gambling, sekitar jam 11.30 WIB aku berangkat menuju 21 Matos. Ternyata benar, salah satu studionya menayangkan film FF:ROTSS ini. Tanpa pikir dua kali, langsung menuju loket untuk membeli tiket.
Banyak fans, terutama fans komik Amerika sangat menantikan film ini. Kenapa? Dari judulnya saja sudah kelihatan kok. Yup, fans menunggu kehadiran tokoh Silver Surfer [diperankan oleh Doug Jones]. Seperti yang diketahui lewat komiknya, jika di situ ada Silver Surfer maka Galactus-pun harus ada juga. Nah, berhubung aku tadi siang barusan nonton, jika kalian mengharapkan Galactus hadir dalam berupa sosok, siap-siap aja kecewa deh. Sebab Galactus di sini hanya digambarkan sebagai kekuatan yang tidak terbatas. Mungkin pada film berikutnya kali bisa dihadirkan berupa sosok....
Apa kabar dengan keluarga Fantastic Four? Yang pastinya tim ini tetap terdiri dari Reed Richards aka Mr. Fantastic [diperankan oleh Ioan Gruffud], Susan Storm aka Invisible Woman [diperankan oleh Jessica Alba], Johnny Stom aka Human Torch [diperankan oleh Chris Evans] dan Ben Grimm aka The Thing [diperankan oleh Michael Chiklis]. Di film ini karakter Susan terlihat lebih dewasa. Reed seperti biasanya tetap sibuk dengan pekerjaannya yang serba rumit itu [hehehe...]. Sedangkan Johnny dan Ben selalu saja bertengkar seperti anjing dan kucing. Tapi biar selalu bertengkar, terlihat diantara mereka berdua saling peduli, saling menyayangi dan saling pengertian. Hampir ketinggalan. Johnny ceritanya udah punya pacar tuh. Begitu juga Ben yang sudah memiliki kekasih hati [masih ingat dgn gadis tuna netra di film sebelumnya???]
Awal film diceritakan bagaimana kedatangan Silver Surfer ke bumi dan menentukan jika bumi adalah calon sasaran berikutnya sebagai santapan Galactus. Tim Fantastic Four berusaha untuk menggagalkan bencana ini. Karena susah dan tidak tahu bagaimana caranya menghentikan Silver Surfer, tim Fantastic Four-pun dengan keadaan terpaksa bekerja sama dengan Victor von Doom alias Dr. Doom [diperankan oleh Julian McMahon].
Mungkin ada yang heran dan bertanya bagaimana bisa Dr. Doom hidup kembali? Well, sedikit yang bisa aku kasih tahu di sini adalah Dr. Doom bisa hidup kembali dikarenakan ketidaksengaja-an atas hadirnya Silver Surfer tersebut. Jika menonton filmnya nanti, kalian bakal ngerti kok hehehehe....
Kembali ke cerita, akhirnya pada klimaks film digambarkan Galactus sudah siap untuk menelan bumi. Apakah bumi hancur dan umat manusia lenyap begitu saja? Ternyata tidak! AGAK SPOILER DIKIT NIH! KALO GAK MAU BACA, MENDINGAN LANGSUNG SCROLL KE BAWAH AJA CEPAT-CEPAT! Bumi tidak jadi hancur. Hal ini berkat Silver Surfer yang rela mengorbankan nyawanya guna kelangsungan hidup planet bumi.
Silver Surfer di film ini tidak digambarkan sebagai seorang yang jahat dan tidak berperikemanusiaan. Silver Surfer adalah tetap sebagai mahluk yang memiliki perasaan manusiawi juga. Dia berbuat jahat begitu karena terpaksa. Di sinilah sang sutradara, Tim Story, memaparkan bagaimana galaunya hati seorang Silver Surfer antara mematuhi perintah sang boss atau menuruti kata hatinya sendiri.
Penulis naskah film ini adalah Don Payne yg juga menulis naskah film My Super Ex-Girlfriend. Itu artinya, dalam film ini terdapat lawakan-lawakan atau humor yang sangat jenius sekali. Jadi tidak perlu khawatir dengan lawakan garing ala film Spider-Man 3 kemarin [yg terus terang bikin muntah!]. Momen-momen lucu beberapa muncul dalam film ini. Tapi biar gitu, adegan aksi dan efek visual tetap menjadi salah satu yang layak diikuti dlm film ini.
Gimana soal kualitas akting para pemainnya? Aku rasa sudah cukup bagus. Jessica Alba [she's so hot, man!!!] bisa memerankan karakter Susan yang dewasa sekali. Permainan Jessica Alba dalam sekuel kali ini lebih bagus dibandingkan film sebelumnya. Terlebih dari soal penampilan, di sini Jessica Alba berhasil memberikan kesan Susan adalah seorang jenis pula. Ioan Gruffud boleh lah aktingnya, demikian juga dengan Michael Chiklis. Chris Evans? Well, oke juga tuh aktingnya sebagai pemuda yang masih agak sembrono dan ceroboh gitu. Aku yakin cewek-cewek bakalan suka melihat wajah tampan-nya di layar film nanti. Hohoho....
Salut aku tujukan kepada Doug Jones yang bisa memerankan Silver Surfer dengan baik. Doug Jones selain bisa memerankan watak, juga bisa main peran-fisik melalui gerakan-gerakan tubuhnya. Sekedar info, Doug Jones juga memerankan karakter Abe Sapien dalam film Hellboy.
Apalagi ya? Hmmm.... Oh iya. Di sini bisa dijumpai Fantasticar. Semacam mobil yang bisa terbang gitu. KEREN SEKALI!!! Di komiknya, Fantasticar adalah sebuah kendaraan [tentunya hasil ciptaan Reed] yang dipakai oleh tim Fantastic Four dalam aksinya. Sempat merinding begitu Fantasticar dinyalakan pertama kalinya guna membantu tim Fantastic Four mengejar Dr. Doom yang berhasil mencuri.... Oops!!! Gimana gak merinding? Selama ini aku cuman bisa melihat Fantasticar hanya di komiknya saja dan, kali ini.... BENAR-BENAR NYATA di layar film, man!!! By the way anyway waterway, yang desain Fantasticar di film ini adalah orang yang sama ketika mendesain Bat-Mobile dalam film Batman Begins. Sorry, aku lupa namanya.
Ngomong-ngomong soal Dr. Doom, kostumnya agak beda nih dr film sebelumnya. Jika sebelumnya kostum Dr. Doom berwarna hijau banci gitu, nah kali ini hijaunya agak gelap. Jadi seram gitu deh. Ternyata keluhan fans akan kostum Dr. Doom di film pertama ditanggapi positif juga....
Duh, dari tadi ngomong mulu. Gak ada titik habisnya. Berhubung udah capek banget [serius, abis dr 21 Matos lgsg ngetik nih review!!!], ya sudah segini aja dulu ya. Pokoknya, film ini LAYAK TONTON!!! Aku kasih rating 4/5 bintang. Sesuai dengan harapan! Bahkan menurutku film Spider-Man 3 gak ada apa-apanya tuh dibandingkan dengan film Fantastic Four: Rise of the Silver Surfer ini. Forget Spidey-ass!!! And here comes FANTASTIC FOUR!!!
...dan aku yakin film ini akan ada sekuel berikutnya!
Shocking Moment:
Setelah ending selesai dan credit title muncul, jangan langsung pulang!!! Ada ekstra ending yang benar-benar membuat aku bahagia sekali. Apakah itu? Tonton aja sendiri. HELL YEAHHH!!!
Favorite Moment:
Johnny meminjam dan menggunakan kekuatan Reed, Susan dan Ben untuk menghantam Dr. Doom! Asli, Dr. Doom kayak maling yang digebukin orang sekampung. Gak berkutik. Mampus!!!
Maunya sih:
Di sekuel berikutnya nanti, Reed dan Susan memiliki seorang anak yang bernama Franklin Richards. Well, buat fans komik Amerika pasti tahu dong dengan Franklin Richards. Seorang anak kecil yang Professor X-pun tidak sanggup melawannya.
THE LAST KING OF SCOTLAND, Fakta dan Fiksi (http://portal.sarapanpagi.org/entertainment/the-last-king-of-scotland-fakta-dan-fiksi.html)
http://www.nndb.com/people/992/000025917/amin-color.jpg
Melihat akting Forest Whitaker dalam film Crying Game (1992) dulu, saya melihat dia aktor yang sangat berbakat. Kemampuannya berakting semakin matang ditandai dengan kemenangannya meraih perhargaan Golden Globe, Asosiasi Film Inggris (BAFTA) Award, Screen Actors Guild Award, dan Academy Award (Oscar) 2007 pada film The Last King of Scotland (http://www.imdb.com/title/tt0455590/) sebagai pemeran tokoh diktator Uganda Idi Amin. Whitaker begitu baik dalam memerankan Idi Amin, kharismanya terasa, kekonyolannya terlihat, dan kemarahannya pun mencekam. Ia benar-benar menjelma menjadi tokoh tersebut. Gestur tubuh, dialek, hingga perubahan ekspresi benar-benar merasuki Whitaker.
Idi Amin, presiden Uganda, periode 25 Januari 1971- 13 April 1979 :
Jenderal Idi Amin Dada Oumee (http://id.wikipedia.org/wiki/Idi_Amin), ia menjuluki dirinya sendiri, "The Last King of Scotland". Karena ia yakin bahwa dirinya sebaiknya mengambil alih kekuasaan dari Ratu Inggris, Elizabeth II, sebagai raja orang Skotlandia. Meski demikian, ia mengaku tidak pernah ingin jadi Presiden, tentaranyalah yang memintanya. Amin adalah sosok jenderal yang murah senyum dan merakyat, sering bertindak kekanak-kanakan yang membuat orang tertawa. Pada awal kenaikannya sebagai pemimpin Uganda, ia dikenal senang keterbukaan, dan ia diharapkan menjadi pemimpin ideal. Tetapi sejarah juga mencatat ia sekaligus sosok diktaktor yang kejam. Di Afrika kekejaman Idi Amin sebagai diktator hanya dapat disamai oleh Mobutu Seseseko, mantan diktator Kongo yang juga terkenal karena pembantaiannya, dan juga nama-nama diktator pembunuh terkenal lainnya seperti Adolf Hitler dari Jerman, Benito Musollini dari Italia, Joseph Stalin dari Uni Sovyet, dan Nicolai Ceacescu dari Rumania.
Pada tahun 1946, Amin masuk ke dalam dunia militer dengan menjadi tentara kolonial Uganda yang saat itu masih dijajah oleh Inggris. Dia pernah ditugaskan untuk menumpas pemberontakan di Somalia. Lewat jalur militer inilah karir militer Amin cemerlang. Idi Amin memulai karirnya di dinas militer sebagai asisten koki. Dalam Perang Dunia II, Amin pernah ditugaskan ke Birma. Kemudian ia ikut memadamkan pemberontakan pribumi Uganda yang berpangkat perwira. Ada sebuah buku yang berjudul General Amin, ditulis David Martin menulis "Amin itu jenis prajurit yang disukai oleh Perwira Inggris: bertubuh besar dan tidak berpendidikan. Menurut teori mereka, orang semacam ini lebih taat pada atasan dan lebih berani di medan pertempuran." Saat Uganda merdeka di tahun 1962, Amin diangkat sebagai deputi komando tentara dimana saat itu Milton Obote (http://en.wikipedia.org/wiki/Milton_Obote) menjabat sebagai Perdana Menteri. Setelah itu Obote menjabat sebagai Presiden Uganda periode 1966-1971. Ketika Obote terkena kasus penyelundupan emas dari Kongo, Amin mendapat angin politik di Uganda. Pada saat Obote menghadiri konfrensi persemakmuran di Singapura, 25 Januari 1971. Idi Amin melakukan kudeta, Obote terpaksa turun, kekuasaan kemudian diambil alih oleh Amin. Obote tidak pulang ke Kampala, Uganda, tetapi Obote ke Darussalam, ibu kota Tanzania, negara sahabatnya Presiden Julius Nyerere.
Ketika Idi Amin memimpin, Uganda menjadi negara yang sangat terkenal di dunia internasional. Suatu hal yang ironis, dimana ketika naik, Amin menyatakan zaman kekejaman sudah berakhir dan mengajak rakyatnya menuju zaman persahabatan tanpa permusuhan. Namun justru dibawah rezim Idi Amin ini rakyat Uganda mennghadapi kejadian yang lebih buruk dari pendahulunya. Pada masa pemerintahannya, angka pembunuhan dan orang hilang sangat besar, antara 300.000 orang atau lebih. Idi Amin meskipun murah senyum dan jenaka, ternyata seorang monster, dia melenyapkan oposisi, korup, dan membungkam pers. Korban diantaranya adalah Benedicto Kiwanuka, mantan Perdana Menteri, Joseph Mubiru mantan Gubernur Bank Central Uganda, dan banyak lagi orang-orang dekatnya sebelumnya juga dibunuh karena dianggap membahayakan posisi Idi Amin. Konon, istana kepresidenan di Kampala dia gunakan juga sebagai tempat interogasi dan penyiksaan. Kebrutalan pemerintahannya membuat majalah Times edisi 7 Maret 1977 menjulukinya sebagai "Wild Man of Africa". Sekjen PBB saat itu, Kurt Waldheim mengatakan bahwa "Uganda adalah negeri tanpa hukum."
Politik yang dilakukan Idi Amin barangkali agak mirip dengan Ku Klux Klan, hanya kebalikannya saja. Jika Ku Klux Klan sangat rasialis terhadap kaum kulit hitam (juga ras lain selain putih), maka Amin membenci ras selain kulit hitam. Ia sangat menjaga kemurnian ras kulit hitam dan khususnya suku asalnya sendiri yakni suku Kakwa. Amin menganiaya etnis minor di Uganda seperti orang-orang keturunan India, Acholi, Thurkana dan Lango. Pada masa pemerintahannya ada satu masa ia mengusir semua orang Asia berwarga-negara Inggris (60.000 jiwa) pada tahun 1972. Mereka diberi waktu sembilan puluh hari untuk angkat kaki dari Uganda. Kemudian ia menetapkan aturan tambahan bahwa orang asing yang sudah menjadi warga-negara Uganda pun harus pergi dari Uganda (sekitar 23.000 jiwa). Mengenai pengusiran orang Asia, Amin mengatakan, "Mereka terlampau berkuasa dan mencemooh kaum kami." Sudah tentu warga negara keturunan asing yang lahir di Uganda kebingungan. Jika mereka pergi, status mereka adalah tanpa negara (stateless). Inggris dan negara-negara persemakmuran Inggris lainnya sibuk untuk mempersiapkan penampungan, warga Uganda yang terusir ini.
Akibat keputusan ini, timbul krisis ekonomi parah di Uganda. Karena sekitar 90% perdagangan dan industrinya dikuasai orang-orang Asia/ orang-orang asing. Rakyat Uganda pribumi sendiri masih sangat agraris tradisional dan kurang kecakapan, modal, dan ketrampilan. Ketika krisis ekonomi terjadi, Amin dengan kebodohannya memerintahkan mencetak uang sebanyak-banyaknya, akibatnya tidak bertambah baik justru membuat nilai mata uang Uganda merosot tajam tak berharga. Pengusiran orang-orang Asia di Uganda sebenarnya sudah direncanakan oleh penguasa sebelum Amin, yaitu PM Milton Obote karena dirasakan terlalu mencengkram ekonomi Uganda, tetapi Obote masih menargetkan waktu lima tahun, dengan alasan mempersiapkan orang Uganda. Salah satu gambaran puncak krisis ketika Menteri Keuangan Emmanuel Wakheya minta suaka ke Inggris karena tidak tahan lagi terhadap keputusan ekonomi yang diambil oleh pemerintahan rezim militer Idi Amin.
Adolf Hitler (http://portal.sarapanpagi.org/entertainment/hitler-the-rise-of-evil.html) adalah diktator yang merasa perlu terus-menerus melakukan 'promosi' demi kelanggengan kuasanya, ia memerintahkan Leni Riefenstahl (http://en.wikipedia.org/wiki/Leni_Riefenstahl), seorang sutradara wanita untuk membuat film 'kultus diri' yang berjudul "Triumph of the Will (Triumph des Willens)" film ini dibuat pada tahun 1935 untuk tujuan propaganda, dan film ini meraih sukses. Demikian juga dengan Idi Amin, ia merasa perlu membuat film tentang dirinya, ia menyewa jasa Sutradara Perancis Barbet Schroeder (http://en.wikipedia.org/wiki/Barbet_Schroeder) pada tahun 1974 untuk membuat film dokumenter berjudul: "General Idi Amin Dada, A Self Portrait". Di saat shooting, Amin ikut sibuk memerintah para kameramen. Dalam film documenter ini, banyak kekonyolan-kekonyolan yang direkam dan menunjukkan bagaimana Amin gila akan popularitas. Schroeder memutuskan untuk membuat dua versi. Satu versi khusus untuk Uganda dan Idi Amin (yang sesuai keinginan Amin), dan satu versi untuk publik. Amin rupanya ingin tahu pendapat orang tentang film ini di luar Uganda. Amin akhirnya tahu bahwa orang-orang diluar Uganda menertawakannya. Amin lantas meminta Schroeder untuk memotong beberapa adegan konyol di film itu. Schroeder menolak. Kemudian Amin memaksa dengan cara mengumpulkan 200 orang Perancis yang tinggal di Uganda, disebuah hotel yang dijaga ketat oleh tentara Uganda. Schroeder akhirnya paham maksud Amin dengan 200 'sandera' itu. Kemudian Schroeder dengan terpaksa meng-edit sesuai keinginan Amin.
Demikian kekuasaan Amin dirasa sudah melampaui batas wajar. Pada bulan April 1979, Amin berhasil digulingkan oleh tentara nasionalis Uganda yang dibantu Tanzania. Sebelumnya Amin dengan bantuan Libya mencoba menyerang Kagera, provinsi utara Tanzania. Pada kejatuhannya, ia terbang mengungsi ke Libya yang kemudian meminta suaka ke Jeddah, Arab Saudi serta menetap di sana dan meninggal pada tahun 2003.
Pada saat kematiannya di negeri pengasingan, harian di Uganda dan Afrika pada umumnya menyambut kematiannya bukan dengan duka, tetapi dengan kalimat-kalimat sarkasme. Media Afrika memberikan reaksi keras, termasuk media milik negara Uganda, New Vision. Harian itu menuliskan, "Berakhirnya sebuah era, dengan kematian pemimpin lalim Afrika yang paling berdarah." Harian luar negeri juga demikian, misalnya, Harian Italia, La Stampa menyebut Amin sebagai "setengah badut, setengah penjagal". Mereka menunjuk kebiasaan Amin yang konon suka menyimpan kepala manusia yang dibunuh di kulkas dan menjalankan praktik kanibalisme. Harian lain di Inggris News of the World menulis lebih keras "Next stop: hell" (pemberhentian berikutnya adalah neraka). Kelompok-kelompok hak asasi manusia mengeluhkan kebebasan yang dinikmati Amin yang hidup nyaman, mulai dari pelarian hingga kematiannya di Arab Saudi. Sepertinya, Amin terpidana hingga ke liang lahat, sebuah pelajaran penting untuk para pemimpin diktator lainnya. Idi Amin sungguh merupakan sosok perpaduan buruk antara jiwa kekanakan, kepongahan, kurang pendidikan, sadisme dan kekuasaan absolut. Kekejaman rezim Idi Amin pada dekade 1970-an itu tidak saja membuat dia dan Uganda terkenal, tetapi juga dinilai sebagai bagian dari sejarah terburuk Afrika sepanjang masa.
Movie Review :
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/thumb/f/f8/The_Last_King_of_Scotland.jpg/200px-The_Last_King_of_Scotland.jpg
The Last King of Scotland (http://www.imdb.com/title/tt0455590/) menampilkan kisah dimana seorang pemimpin yang pada awalnya begitu popular dan dicintai warganya, kemudian dikenal sebagai diktator paling kejam di Afrika pada tahun 1970an. Film ini adalah gabungan kisah nyata campur kisah fiksi. Film ini diangkat dari novel berjudul sama karya Giles Foden. Berkisah tentang petualangan Nicholas Garrigan (James McAvoy). Tokoh Nicholas Garrigan adalah fiksi, namun sosok dr Garrigan ini disadur dari pengalaman nyata dari Bob Astles, seorang perwira Inggris yang sempat membantu pesaing Idi Amin, Milton Obote, dalam perebutan kekuasaan. Astles sendiri dikenal sebagai 'The White Rat' dan Amin memberinya gelar 'Major Bob'.
Garrigan adalah seorang dokter muda asal Skotlandia. Lulus dari almamaternya, ia dengan secara 'sembarang' memilih Uganda sebagai tempat dia mengabdi sebagai seorang dokter. Awal film ini juga bercerita tentang Garrigan yang penuh dedikasi sekaligus seorang flamboyan. Garrigan tiba di Uganda pada 1971. Saat itu adalah masa awal pemerintahan Idi Amin, dimana ketika itu Idi Amin adalah pemimpin yang popular, dan secara tak terduga ada satu kesempatan mempertemukannya dengan Idi Amin (Forest Whitaker).
Persahabatan Garrigan dan Amin bermula dari sebuah insiden kecil. Mobil jip Idi Amin diseruduk seekor banteng dalam kunjungan sang presiden itu ke sebuah dusun kecil di pinggiran Uganda, tempat Garrigan bertugas. Garrigan diminta bantuan untuk memeriksa kondisi Amin. Amin tertarik dengan kecekatan dan keberanian Garrigan, yang kemudian juga memulihkan tangannya yang dikira patah dalam insiden itu. Amin lantas mengundangnya ke istana presiden. Garrigan diminta Amin untuk menjadi dokter pribadinya, ia mengatakan "Jika kamu mau mengabdi pada negara ini, kamu harus menjaga kesehatanku, bapak dari negeri ini." Diceritakan bahwa Garrigan berkali-kali menyelamatkan nyawa Amin. Faktor kebetulan dan keajaiban terjadi dimana Garrigan selalu menjadi sosok yang menyelamatkan Amin dari percobaan pembunuhan. Maka, kemudian Garrigan tak hanya didaulat menjadi dokter kepresidenan, tetapi juga penasihat terpercaya Amin. Akibat perbobaan pembunuhan kepada Amin membuatnya menjadi paranoid, ia kemudian membuat 'double' yaitu sosok yang mirip dengannya lengkap dengan pakaian Jenderal kemana-mana ia pergi. Supaya si pembunuh bisa salah jika ingin membunuh Amin. Tapi dari sana lantas tergambar, kalau Amin adalah jenderal perang yang rapuh, takut kematian. Ada quote yang menarik dari film ini "Jika kamu takut mati, itu artinya kamu punya kehidupan yang berharga yang harus dipertahankan." ini diucapkan Garrigan kepada Amin, dan Amin semakin bersimpati kepdanya.
Namun kejadian demi kejadian membuat Garrigan menjadi mengerti bahwa ia sedang melayani diktaktor brutal yang sedang memimpin negara. Dalam film ini, diceritakan salah satu anggota badan intelijen Inggris menghasut Garrigan untuk membunuh Amin, karena dirasa Garrigan adalah sosok yang tepat, karena ia adalah orang yang paling dekat dengan Amin. Faktanya, seperti yang di lansir Radio BBC pada 17 Agustus 2003, sehari setelah kematian Amin di pengasingannya di Saudi Arabia, mantan menteri luar negeri Inggris, David Owen, pada periode 1977-1979, mengakui pernah mengusulkan ide ini. Owen mengatakan "Rezim Amin adalah rezim paling buruk yang pernah ada. Sungguh memalukan bagi kita untuk membiarkannya terus berkuasa."
Petualangan Garrigan menjadi semakin kompleks karena ia terlibat hubungan asmara dengan Kay (Kerry Washington), salah satu istri Amin. Ketika tersingkap pengkianatan itu, Amin bahkan memutilasi Kay, istrinya. Garrigan memutuskan pergi dari Uganda. Namun, itu mustahil. Amin terus menguasainya dan bakal membunuhnya jika ia coba-coba kabur.
Film ini ditutup dengan kejadian sejarah yaitu pembajakan pesawat Air France (http://ms.wikipedia.org/wiki/Rampasan_Air_France_1976) oleh militan Arab Palestina dan teroris sayap kiri Jerman pada bulan Juli 1976 di Entebbe, Uganda, yang terkenal itu. Kita bisa melihat disini bahwa penulis novel ini, Giles Foden pandai memadukan antara kejadian nyata dan fiksi. Pada kejadian di airport ini, ide Garrigan yang bermaksud membunuh Amin tercium oleh ajudan Amin. Garrigan kemudian disiksa dan digantung dengan cara tulang rusuknya ditusuk dengan dua buah kait. Adegan ini disajikan dengan cukup mencekam, bagaimana kemudian Garrigan dibantu rekannya dr. Thomas Junju (David Oyelowo) untuk keluar dari Uganda dan menyelinap masuk rombongan orang-orang non-Israel yang disandera.
Peristiwa pembajakan pesawat Air France (http://ms.wikipedia.org/wiki/Rampasan_Air_France_1976) yang mendarat di Uganda ini melahirkan kesepakatan, bahwa sandera-sandera yang tidak berkewarganegaraan Israel dibebaskan. Sedangkan sandera-sandera berkewarganegaraan Israel dan berkebangsaan Yahudi tetap ditahan pembajak di Bandara Entebbe dibawah patronase serdadu Uganda. Namun pada 3 Juli 1976, yaitu empat hari setelah warga non-Yahudi dibebaskan para pembajak, Sayeret Matkal (pasukan elit operasi khusus negara Israel) dipimpin Kolonel Jonathan Netanyahu (kakak mantan Perdana Menteri/PM Israel, Benjamin Netanyahu) menyerbu Entebbe guna membebaskan warga Israel yang disandera lewat Operasi Entebbe yang legendaris itu. Operasi itu berhasil membebaskan para sandera Israel dan langsung dibawa pulang ke Israel, sementara pembajak yang jumlahnya enam orang tewas dibunuh pasukan komando Israel bersama 45 serdadu Uganda yang melindunginya. Sayeret Matkal sendiri hanya kehilangan Kolonel Netanyahu yang mati ditembak penembak jitu serdadu Uganda. Operasi penyelamatan berlangsung di kegelapan malam saat warga Uganda tertidur lelap, termasuk Presiden Idi Amin. Keesokan harinya, Amin baru dikabari bahwa pasukan Israel telah datang tiba-tiba dan berhasil membebaskan para sandera dan langsung membawa mereka ke Israel. Amin murka dan menyampaikan protes ke Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), karena dianggap Israel telah melanggar kedaulatan Uganda. Indonesia kala itu juga ikut mengutuk aksi pasukan Sayeret Matkal dalam Operasi Entebbe.Tetapi PBB malah membenarkan aksi militer Israel itu, yang dilakukan demi menyelamatkan warganya yang tersandera.
http://images.icnetwork.co.uk/upl/m2/jan2007/7/1/0C123E47-E210-C9BA-AFF87B6A62412BFF.jpg
Dari segi sinematografi, gambar-gambar film ini mengingatkan kita pada film MUNICH 1972 (http://portal.sarapanpagi.org/entertainment/munich.html) dengan set yang khas tahun 70-an. Plus gaya rambut dan costume design khas zaman itu. Film ini di-edit secara apik. Adegan demi adegan mengalir membawa ketegangannya masing-masing. Akting prima Forest Whitaker nyaris menutupi akting aktor utama, James McAvoy. Whitaker mampu menjadi sosok Idi Amin, yang jenaka, tapi sekaligus sadis. Whitaker memang layak dapat Oscar!
Blessings,
Bagus Pramono
June 20, 2007
(Disarikan dari berbagai sumber)
denny_frost
July 04, 2007, 09:40
Pahlawan tanpa tanda Jasa
Spoiler Alert
John McClane beraksi lagi
seperti yang sudah-sudah, naluri untuk menyelamatkan orang lain timbul lagi
kali ini dia tidak "one man show"
Jika di Die Hard 3 dia dibantu oleh Samuel L Jackson yg bermain baik. Maka di Die Hard 4.0 (Live Free or Die Hard) dia dibantu oleh Justin Long seorang hacker komputer
Sebagai seorang aktor muda akting Justin Long sangat baik
aktingnya ketakutan, membuat lelucon, dan hal-hal menarik lainnya bisa dia perankan dengan baik
Tema cerita yg dibangun tidak basi dan sudah mengandalkan teknologi yg maju. Banyak adegan-adegan seru di sini
seperti adegan Mobil menabrak mobil (ada di trailer)
pertempuran] kungfu antara Maggie Q dengan McClane.
ada lagi adegan pembuka di apartemen Justin Long yg cukup seru, dimana McClane harus berjuang sendirian untuk dapat menyelamtakan hidup mereka dengan hanya bersenjatakan pistol biasa seperti yg dia lakukan di Die Hard 1
Mengenai penjahatnya si Gabriel itu (Timothy Olyphant) juga pas dalam memainkan sebagai tokoh penjahat, namun kharismanya kurang tampak seperti penjahat-penjahat di Die Hard sebelumnya. Sejauh ini hanya penjahat di Die Hard 1 yg benar-benar memiliki kharisma yg tinggi. Ada Maggie Q yg mencuri perhatian, dia adalah salah satu penjahat yg paling cantik dan sexy di film action manapun :D. Kehadirannya membuat Die Hard 4.0 lebih berwarna
Endingnya membuktikan bahwa John McClaine tidak mendapatkan apa-apa seperti pada Die Hard sebelumnya, hanya ucapan terima kasih yang di dapat
Dan sekali lagi seperti nama judulnya yg Die Hard, John McClaine benar-benar Die Hard. Seperti superhero yang terus-menerus sepanjang film ini tidak beristirahat melainkan terus saja memburu penjahat-penjahta itu walaupun sudah luka-luka
Ada hal-hal yg sama di akhir ending sperti Die Hard sebelumnya
hampir di setiap Die Hard pasti endingnya John McClaine dibawa ke rumah sakit, polisi tinggal menangkap para penjahat saja, ya karena telah di tangkap oleh si Mc Claine
ranujiwo
July 22, 2007, 12:57
2001: A Space Odyssey (1968)
Genre: sci-fi/adventure/drama
Keir Dullea, Gary Lockwood
Sutradara: Stanley Kubrick
Sinopsis
Pada zaman pra-sejarah, sekelompok manusia kera yg hidup rukun, dikejutkan oleh munculnya monolith hitam (semacam batu besar berdiri tegak). Sejak kehadiran monolith itu, mereka menjadi agresif dan timbul pertengkaran dan saling membunuh;
Pada tahun 1999, manusia dikejutkan dgn kehadiran sebuah monolith yg muncul di bulan, dan sekelompok astronot dikirim untuk menyelidikinya;
Pada tahun 2001, dua astronot dikirim ke Jupiter untuk menindaklanjuti penemuan dua tahun sebelumnya, yaitu Dave dan Frank, ditemani super computer HAL.
APakah mereka menemukan jawabannya?
Apa hubungan monolith di zaman batu itu dgn yg ada di bulan?
Jawaban semakin rumit untuk ditemukan, dan misi itu semakin sulit dgn tingkah laku HAL yg terlalu "cerdas" dan menguasai misi.
Komen: sebuah masterpiece dr Kubrick. Meski ini film dibuat 35 tahun yg lalu, tapi tetap memukau, baik dari segi SFX, cinematografi, musik dan tentu saja ceritanya: perpaduan antara filosofi ttg arti hidup manusia di bumi, dan pertarungan manusia dgn ilmu dan teknologi.
Film dgn durasi dua setengah jam ini menampilkan gambar yg memukau, tanpa terlalu banyak dialog, sehingga memberi ruang buat penonton untuk berfikir.
Ada pula adegan yg paling menegangkan dalam sejarah film sci-fi, yaitu "kekejaman" HAL yg tidak berperasaan, karena memang ia hanya sebuah komputer yg di desain oleh manusia juga. Adegan pembukaan dgn musik Strauss menjadi abadi, dan akan selalu dikenang dalam sejarah film.
endingnya sangat surealis, yg memberi intepretasi berbeda buat masing-masing penonton. Harus menonton dgn pikiran yg terbuka, dan siap dgn ritme film yg lamban dan suasana yg "sepi". SOLARIS mungkin ingin mencoba melakukan pendekatan seperti film ini, tapi hasil nya jauuuuuh sekali.
Rating: 9,5 of 10
ada yang bisa jelasin lebih logis tentang ending film ini? Aku udah nonton 3 kali tetap mumet neh
Cornet
October 26, 2007, 06:57
Dororo
Genre: Action, Adventure, Sci-fi, Drama.
Cast:
Satoshi Tsumabuki – Hyakkimaru
Kou Shibasaki – Dororo
Kiichi Nakai - Daigo Kagemitsu
Eita - Tahomaru
Yoshio Harada - Jukai
Director: Koichi Chigara
Produser: Takashi Hirano
Penulis cerita: Masa Nakamura, Akihiko Shiota, Osamu Tezuka (manga original)
Film ini adalah adaptasi dari manga dengn judul yang sama karangan sang mangaka legendaris Osamu Tezuka. Selain dibuat animenya, console PS 2 juga meluncurkan game adaptasi dari Dororo dengan judul “Blood Will Tell”
Plot (movie): Daigo Kagemitsu membuat perjanjian dengan 48 iblis, perjanjiannya adalah bahwa Daigo akan memenangkan perang dan menguasai seluruh negri dengan syarat harus menyerahkan 48 bagian tubuh anaknya yang akan lahir.
Begitu lahir tanpa anggota tubuh yang lengkap, Daigo Kagemitsu menghanyutkan anaknya sendiri di sungai. Seorang ilmuwan / dukun sakti (Jukai) menemukan bayi itu dan memberinya nama Hyakkimaru. Jukai memutuskan untuk merawat bayi itu dan memberikan dia “bagian” tubuh yang tidak dimiliki bayi itu supaya bisa hidup layaknya manusia. Meskipun tidak mempunyai mata, telinga maupun mulut Hyakkimaru memiliki kemampuan supernatural yang hebat sehingga dia dapat melihat, mendengar dan juga berbicara.
Beranjak dewasa, Hyakkimaru memulai perjalanan membasmi 48 iblis yang menyimpan anggota tubuhnya untuk mendapatkan kembali semua bagian tubuh aslinya yang hilang. Di tengah perjalanan Hyakkimaru bertemu dengan seorang pencuri yang akhirnya memakai nama Dororo. Nama “Dororo” yang artinya monster pada awalnya adalah julukan Hyakkimaru, tetapi pencuri itu mengambil alih nama “Dororo” untuk dijadikan namanya sendiri. Dororo mengikuti Hyakkimaru dengan motif awal mendapatkan pedang yang tertanam di tangan kiri Hyakkimaru setelah menyaksikan kehebatan pedang itu untuk membasmi iblis. Namun pada akhirnya Hyakkimaru dan Dororo berteman baik dan saling bahu-membahu untuk membasmi iblis.
Hyakkimaru yang belum mengetahui bahwa Daigo Kagemitsu adalah ayah kandungnya, pada suatu hari sampai di istana kediaman ayahnya karena undangan dari Tahomaru yang tak lain adalah anak angkat dari Daigo Kagemitsu. Di istana ia bertemu dengan ibu kandungnya yang langsung mengenali Hyakkimaru sebagai anaknya. Tahomaru yang cemburu setelah tahu bahwa dirinya adalah anak angkat, dan Hyakkimaru adalah penerus sah tahta ayahnya mencoba membunuh Hyakkimaru. Dalam pertarungan yang sengit, Tahomaru terbunuh oleh pedang anak buahnya sendiri. Daigo Kagemitsu yang iba akan terbunuhnya Tahomaru sekali lagi membuat perjanjian dengan iblis untuk menghidupkan kembali Tahomaru tetapi dengan syarat bahwa tubuhnya (tubuh Daigo) menjadi milik iblis. Daigo Kagemitsu yang dirasuki iblis pada akhirnya dibunuh oleh Hyakkimaru.
Sepeninggal ayahnya, Tahomaru dinyatakan sebagai penerus dan penguasa negeri. Namun Tahomaru merasa bahwa Hyakkimaru-lah yang lebih pantas sebagai penerus karena dialah anak kandung dari Daigo Kagemitsu. Tetapi Hyakkimaru yang belum membasmi semua iblis yang menyimpan anggota tubuhnya, memutuskan bahwa ia harus membasmi semua iblis terlebih dahulu baru setelah itu bersama-sama memimpin negeri bersama Tahomaru.
Akhir kata, Hyakkimaru dan Dororo kembali meneruskan perjalanan untuk membasmi iblis.. – [24 Iblis masih tersisa!!]
Rekomendasi: Bagi yang udah main game “Blood Will Tell” ato baca manganya, film ini wajib hukumnya untuk ditonton karena menarik untuk diliat bagaimana Hyakkimaru dan Dororo beraksi di layer lebar. Tapi bagi yang belum-pun film ini cukup menyuguhkan hiburan, dan CGnya pun tidak mengecewakan walaupun mungkin CGnya tidak sebagus film2 kolosal ternama seperti Lord of the Ring.
[B]Rating: 7,5/10
Flihoor
October 27, 2007, 08:51
kalo kata gw...fantastic four:2 ngecewain banget....durasinya ga sampe 2jam....emang dramanya cuman dikit..kalo dibandingin ma spidey:3 yg dramanya banyak banget....animasi (FF:2) emang keren banget pa lagi yg pas johny make smua kekuatan temennya...tapi...masa abisnya kaya gitu???silver surfer suicide???jagoan gw??????:lol:
GrandTheftAero
December 05, 2007, 08:18
http://i22.photobucket.com/albums/b338/GrandTheftAero/upcoming/hr_3_10_to_yuma_4.jpg
Goddamn this movie is badass!! Full of badassery makes me want to eat raw meat with bare hands while punching my buddy in the face! (nggak kayak 300 yg niatnya mau badass malah bikin gw bolak balik ngeliat jam tangan). This movie got all around good performances with some quite complex characters, awesome storyline with an open-to-interpretation ending and some badass action sequence to boot!
Christian Bale bermain bagus seperti biasa (walau masih tipikal Christian Bale) as Dan Evans, a one-legged, down-on-his-luck rancher who desperately needs something to prove coz his kids thinks he's a wuss and even his wife is like "man, you ain't shit!" Inti cerita film ini adalah perjalanan Dan Evans menggiring seorang penjahat bernama Ben Wade ke stasiun kereta api yg akan membawanya ke Yuma, hence the title, 3:10 to Yuma. Russell Crowe, a versatile actor that he is, brings coolness to a complex villain role. Selain itu film ini juga ada Ben Foster yg berperan sebagai Charlie Prince, Ben Wade's second in command, ada Peter Fonda (finally! a worthy role for Mr. Fonda) sebagai veteran bounty hunter sampai pake ada Luke Wilson numpang lewat segala, and even he's a badass!
Production values all around are superb, everybody looks dirty and need a bath (heheh). Direction-nya James Mangold solid, pacing-nya mantap dan action sequencenya walau simple tapi keren banget dan teratur nggak seperti........... pelem robot raksasa saling injek2an itu lhoo :P and the music score evokes the works of Ennio Morricone from days long gone
Gw bukan penggemar film western, but this is definitely one of the best movie I've seen this year, and I would even go as far to say that this is the best western I've seen since The Unforgiven (note: I don't see many western films :P). Gw belom nonton The Assassination of Jesse James by The Coward Robert Ford but from what I've heard, that film is a deliberately paced, meditative western movie, whereas 3:10 is pure badassery; which means "pure win" in my book :P.
Score: 9 / 10
now excuse me while I go to a bar to order a steak and start a fight with everyone :P
handycandra
December 06, 2007, 05:01
https://dvd.easycinema.com/easy/images/products/1/30921-large.jpg
Film ini sebenarnya menceritakan kembali perjalanan perjalanan kehidupan pasangan tua yang istrinya mempunyai penyakit 'dementia' (hilang ingatan)
ditata dengan apik dan romantis plus konflik2 percintaan pada umumnya.
Bagian awal film menceritakan bagaimana percintaan 2 anak muda yang terhalang akibat latar belakang keluarga yang berbeda (cerita klasik antara si kaya dan si miskin), si gadis dari keluarga kaya yang sedang liburan musim panas sedang sang pemuda berasal dari golongan pekerja kasar.
Dalam bagian awal film ini scene yang menarik adalah saat pemuda ini diundang makan bersama di keluarga kaya si gadis, terlihat betapa canggung dan kikuknya karena pembicaraan dari kedua golongan ini sangat amat berbeda.
klimaks bagian awal adalah saat mereka harus berpisah karena liburan telah berakhir dan ibu dari gadis ini tidak menyetujui hubungan percintaan ini.
Bagian tengah dari film ini menceritakan bagaimana 2 insan ini kemudian melanjutkan hidupnya masing2. Sang pemuda yang patah hati ini mewujudkan semua impiannya kecuali satu yaitu bersama gadis pujaannya, sedang sang gadis melanjutkan hidupnya sesuai dengan rencana orang tuanya.
Klimaks adalah saat sang gadis menemukan pujaan hati lain dan di hari perkawinannya dia melihat foto pemuda dari cintanya yang pertama dan pingsan :hehe
bagian akhir dari film ini menceritakan bagaimana mereka kembali merajut benang2 cinta yang telah putus dan bagaimana sang gadis mengambil keputusan untuk bersama pemuda yang mana dia mau menjalani hidupnya.
klimaks bagian akhir ini berakhir dengan happy sad ending dimana kedua pasangan tua ini menutup mata dengan saling memegang tangan di panti jompo.
komentar gwe :
Kisah yang cukup menyentuh karena dimulai dari pasangan tua, tidak seperti film2 percintaan pada umumnya yang dimulai dari pasangan muda :p
gwe inget bbrp scene yang cukup menarik:
1. saat sang pemuda bilang "in fact 99% of the time you're pain in the ass and I'm son of the bitch, but I'm willing to find how we can work this thing out, because I love U"
2. moment saat sang gadis yg udah tua renta bilang "I remember the story, it's us" damn gwe menitikan air mata tapi scene selanjutnya benar2 di luar dugaan :haha, mungkin ini yang bikin filmnya jadi menarik
3. dan endingnya saat old couples ini meninggalkan dunia tapi wajahnya penuh kebahagiaan
rating:
layak koleksi
layak tonton
untuk mengisi waktu luang
mending tidur gwe
qbiz
February 26, 2008, 11:06
Atonement (2007) (http://www.imdb.com/title/tt0783233/)
Directed by Joe Wright (http://www.imdb.com/name/nm0942504/); written by Christopher Hampton, based on the novel by Ian McEwan; director of photography, Seamus McGarvey; edited by Paul Tothill; music by Dario Marianelli (http://www.imdb.com/name/nm0547050/).
http://img211.imageshack.us/img211/3712/atonementbigposterft5.jpg
Cast :
Saoirse Ronan/ Romola Garai/ Vanessa Redgrave ... Briony Tallis
James McAvoy ... Robbie Turner
Keira Knightley ... Cecilia Tallis
Saya suka mengamati orang, bagaimana ia bicara, duduk, jalan, berdiri,cara berjabat-tangan, memahami sorotan matanya dll. Dan mengamati orang yang paling "aman" adalah dengan menonton film. Tentunya film yang mempunyai bobot nilai-nilai kehidupan, bukan sekedar entertainment. Salah satu film baru, yang menyajikan kisah dan emosi kejiwaan manusia dan dikemas cantik dan menyentuh adalah film Atonement (2007) (http://www.imdb.com/title/tt0783233/) yang disutradarai oleh Joe Wright (http://www.imdb.com/name/nm0942504/). Ia tergolong sutradara yang sangat muda, tetapi film-nya yang pertama yaitu Pride & Prejudice (2005) (http://www.imdb.com/title/tt0414387/) sudah mendapat tempat dalam persaingan Oscar dan mendapat beberapa nominasi. Jika Anda pernah menonton Pride & Prejudice (http://www.imdb.com/title/tt0414387/) garapannya ini adalah film adaptasi dari novel karya Jane Austen (http://en.wikipedia.org/wiki/Jane_Austen) yang terbaik diantara beberapa versi cerita Pride & Prejudice yang pernah dibuat.
Film Atonement (http://www.imdb.com/title/tt0783233/) diadaptasi dari novel karya Ian McEwan oleh penulis scenario Christopher Hampton. Bercerita tentang seorang gadis berumur 13 tahun, Briony Tallis anak dari seorang kaya dan tinggal di sebuah "istana" yang besar, sejak kecil ia gemar menulis drama dan cerita. Briony mempunyai seorang kakak yang cantik Cecilia (Keira Knightley) yang kira-kira berumur 18 tahun. Sebagaimana keluarga kaya tentu mempunyai banyak pelayan. Salah satu pengurus rumahnya, Grace Turner mempunyai anak lelaki yang bernama Robbie (James McAvoy). Briony di usianya yang masih 13 tahun itu "naksir" dengan Robbie dan tenggelam dalam fantasi dan kasmaran ala kanak-kanak. Tetapi rupanya sang kakak Cecilia pun naksir Robbie. Briony gadis yang naïf dan sangat muda itu belum mengerti gejolak jiwanya, yang ada hanya rasa iri, membenci, dendam dan marah mengapa Robbie lebih memilih sang kakak.
Di film ini diberikan beberapa adegan yang mengundang "prejudice"/ salah intrepretasi dari seorang gadis naïf yang sedang berperang dengan jiwanya yang dibakar oleh api cemburu. Ia ingin melakukan "revenge" dan mencari jalan keluar untuk meluapkan cemburunya. Ini sungguh bahaya sekali, ketika seorang gadis yang masih sangat muda belum mengerti apa itu cinta, dan apa itu gairah seksual. Karena sebenarnya Briony belum siap untuk itu. Dan akhirnya kecemburuan ini berakibat fatal ketika terjadi suatu peristiwa dimana saudara sepupu Briony dan Cecilia, yaitu Lola "diperkosa" seseorang di kebun rumahnya. Briony yang "marah" itu tampil sebagai saksi dan menunjuk bahwa Robbie lah pelakunya, walaupun Lola tahu bukan Robbie yang melakukan, namun dalam suatu kasus "somebody must be blamed", dan menunjuk anak seorang pelayan akan dengan cepat menyelesaikan kasusnya. Ia yakin melihat sesuatu yang dia anggap mengerti namun sebenarnya ia tidak mengerti. Ditambah Briony memberikan bukti tuduhan yang lain dengan menunjuk surat Robbie kepada Cecilia yang rada vulgar, sehingga hanya Robbie yang layak ditunjuk sebagai tersangka dan kemudian dipenjara.
Cecilia yakin bukan Robbie pelakunya, sejak peristiwa penangkapan kepada Robbie, Cecilia lari dari rumahnya dan tidak mau berhubungan lagi dengan keluarganya.Sebenarnya Briony pun tidak yakin benar bahwa Robbie pelakunya, namun ia tetap melancarkan tuduhannya dengan dasar kecemburuan itu tadi. Di masa di Perang Dunia II, Inggris mengirim pasukannya ke berbagai negara di Eropa, dan Robbie ikut dikirim sebagai tentara di Perancis. Cecilia punkemudian menjadi perawat sukarela di rumah sakit. Rupanya hubungan Cecilia dan Robbie tetap terjalin, dan terekam dalam surat-surat mereka. Namun nasip menentukan mereka masing-masing tewas dalam tugas di tahun yang sama 1940.
Briony sejak peristiwa masa kecilnya itu tidak dapat melepas rasa bersalahnya, apalagi ketika mendapati Cecilia dan Robbie tewas di masa perang itu. Kenyataan ini juga membuat dua sejoli itu tidak pernah mendapat kesempatan untuk hidup bersama melanjutkan kisah cinta mereka. Dan rasa bersalah itu membebani Briony sepanjang hidup. Rasa bersalah itu semakin terasa semakin berat karena tidak ada lagi kesempatan baginya untuk meminta maaf kepada Cecilia dan Robbie. Akhirnya Briony memutusan membuat suatu "atonement" yaitu dengan menghasilkan suatu karya fiksi dalam sebuah novel, yang menceritakan kisah cinta Cecilia dan Robbie yang kemudian dapat hidup bahagia bersama, sebuah kehidupan yang layak diterima oleh dua orang yang saling mencintai. Novel itu ia tulis sebagai penebusan dan karenanya ia dapat berdamai dengan keadaan dan rasa bersalah yang selama ini menghantuinya.
Film ini memberikan suatu pesan, bahwa penting bagi setiap orang melakukan "atonement", suatu tindakan untuk melakukan tebusan atas kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan. Rasa bersalah tidak dapat dibawa berlarut-larut hanya dengan menyesal dalam hati, ini akan membat orang menjadi depresi. Perasaan bersalah tidak akan pernah berakhir kalau seseorang itu tidak pernah melakukan "atonement" dalam suatu tindakan yang nyata. Dengan "atonement" akan ada perdamaian.
Film ini cantik sekali, disutradarai dengan cerdas, hati-hati dan detail. Background PD II membuat film ini lebih menyentuh dan dramatis sekali. Sebagaimana dalam Pride & Prejudice (http://www.imdb.com/title/tt0414387/), gambar-gambar dalam film Atonement (http://www.imdb.com/title/tt0783233/) ini pun juga sangat indah. Film ini dibuka dengan sajian music, kombinasi orchestra dan detakan mesin ketik kuno sungguh dramatis! Dario… you did it again! What a wonderful music.
Blessings,
Bagus Pramono
February 9, 2008
------
Note :
He he, bener kan Dario Marianelli dapet Oscar untuk Best Original Score untuk Film Atonement, Bravo!
http://a.oscar.abc.com/media/2008/images/oscarnight/winners/win_originalscoreL.jpg
Satu lagi prediksi aku yg cocok : Aktris Perancis Marion Cotillard (La Vie en Rose), amazing performance, indeed!
Edith Piaf bangkit dari kubur!
http://a.oscar.abc.com/media/2008/images/oscarnight/winners/win_actressleadingroleL.jpg
Daniel Day-Lewish & Javier Bardem.... juga menang!
Pemenang Aktor dan Aktris di Oscar tahun ini sesuai selera, jarang2 nich ;)
http://oscar.com/oscarnight/winners/index
GrandTheftAero
March 01, 2008, 08:06
Sunshine
http://i22.photobucket.com/albums/b338/GrandTheftAero/misc/sunshine-poster-big2.jpg
I can't find an interesting pose or subject matter to paint (aka painters block reared its ugly head), I decided to fire up the ol' ps3 and watch this little sci-fi film. While the plot is ridiculous and the whole film utterly ignore any kinds of scientific logic, I was willing to suspend my disbelief and just attempted to go with the flow and enjoy it.
The visuals are nothing sort of spectacular, the sound effects are captivating (I want to use that distress signal as my ringtone :D), the direction is solid and the acting are all around superb. The first two third are marvelous then Danny Boyle and Alex Garland decided to ruin their what-could've-been a masterpiece. They've done it before in 28 Days Later, and apparently they think it would be "hip" to do again.
That whole Pinbacker calamity is ludicrously stupid. Why the f@#k is he still alive? Why the hell it turned to a chasing-monster horror schlock? And why is it everytime he's around the camera lens is smeared with vaseline? Man, it started as 2001 and ended as Event Horizon
Seriously, the movie took a downhill nosedive after that dumbass subplot. What a way to ruin the whole experience. A quote from the brilliant Ben "Yahtzee" Croshaw in his review of Call of Duty 4: Modern Warfare (http://www.escapistmagazine.com/articles/view/editorials/zeropunctuation/2901-Zero-Punctuation-Call-of-Duty-4) perfectly illustrates my opinion towards Sunshine:
" It's like having a big, nice tasty meal at a nice restaurant. But when you ask for the bill, the chef comes over and farts in your face!"
It's a 4 out of 10 film, but I love the visuals so bumped it up to5.5 out of 10
By the way, calling a spaceship that is going to the sun "Icarus" is a clearly not a smart thing to do. Oh, the Irony ;D
tina christina
March 12, 2008, 08:28
Ilove kate winslet so much, salah satu wanita sumber inspirasiku terbesar.
qbiz
March 27, 2008, 10:11
Movie Review :
AUGUST RUSH (2007) (http://portal.sarapanpagi.org/entertainment/movie-review-august-rush-2007.html)
http://img186.imageshack.us/img186/3121/augustrush1ih5.jpg
August Rush (http://imdb.com/title/tt0426931/) adalah sebuah film drama bercerita tentang "Mozart, the child prodigy zaman sekarang", yang terpisah dari kedua orangtuanya dan tinggal di sebuah panti asuhan dengan penuh harapan bahwa suatu saat orang-tuanya akan menemukannya. Meski merupakan film yang sifatnya mystically romantic dan penuh dengan sentuhan fairy-tales element, film ini adalah sebuah film keluarga yang baik ditonton.
August Rush (http://imdb.com/title/tt0426931/) bukan hanya film drama, tapi sekaligus film musikal yang musiknya ditata sangat bagus dan menampilkan music dengan berbagai jenis, mulai dari classic, jazz, rock, soul, techno, latin dll., membuat film ini kaya dan imaginative ketika sound dan musiknya itu masuk ke telinga kita. Macam-macam jenis music yang ditampilkan, menunjukkan bahwa semua jenis music itu indah dan semuanya layak mendapat apresiasi.
Di Film August Rush (http://imdb.com/title/tt0426931/), Anda tidak hanya disuguhi cerita yang bagus, original, tetapi juga sajian music experimental yang baik ditonton untuk para musisi dan pecinta music. Bagaimana sebuah gitar dimainkan bagai sebuah perkusi, dan juga menampilkan guitar tapping technique yang pasti bakal membuat para pemain guitar berdecak kagum. Anda juga menikmati drums loops mengimitasi bunyi-bunyian kereta dan hiruk-pikuk apapun yang ada di sebuah kota yang sibuk. Kita juga dapat mendengar suara Jonathan Rhys Meyers (http://imdb.com/name/nm0001667/), aha rupanya dia juga pandai bernyanyi, plus suara yang punya karakter. Menjadi seorang penyanyi tenar bukan sekedar perlu modal suara bagus, tetapi perlu juga menampilkan suaranya itu in the unique way.
Film ini dibuka dengan narasi yang diucapkan dengan bagus oleh aktor cilik, yang sudah cukup banyak berakting di film-film besar, Freddie Highmore (http://imdb.com/name/nm0383603/), yang berperan sebagai Evan Taylor/ August Rush :
Listen, can you hear it?
The music, I can hear it every where
In the wind, in the air, in the light, it's all around us
All you have to do is to open yourself up, all you have to do is listen
Where I've grown up, they tried to stop me from hearing the music
But when I'm alone, it builds up from inside me
And I think if I could learn how to play it
They might hear me, they would know I was theirs and find me
Sometimes the world tries to knock it out of you
But, I believe in music the way that some people believe in fairy tales
I like to imagine that what I hear came from my mother and father
Maybe the notes I hear are the same ones they heard the night they met
Maybe that's how they'll find me
I believe that once upon the time long ago
They heard the music and followed it…
Evan Taylor (Freddie Highmore (http://imdb.com/name/nm0383603/)), adalah seorang anak yang lahir diluar rencana dari pasangan musisi, pemain cello yang cantik, Lyla Novacek (Keri Russell (http://imdb.com/name/nm0005392/)) dan penyanyi dari sebuah rock band asal Irlandia, Louis Connelly (Jonathan Rhys Meyers (http://imdb.com/name/nm0001667/)). Evan adalah hasil dari pertemuan mereka semalam di San Francisco, dan karena nasip, mereka terpisah. Dalam keadaan hamil, Lyla mendapat kecelakaan. Ayah Lyla yang merasa anak gadisnya belum siap berkeluarga, maka ia memakai kesempatan ini untuk mengelabuhinya bahwa bayi yang dikandungnya itu mati, dan menyerahkan bayi Evan ini untuk diadopsi.
Di dalam panti-asuhan, seperti anak-anak yang lainnya, Evan adalah anak yang mendambakan kehadiran orang-tua. Bedanya, ia mencari jejak orang-tuanya dengan music, ketika ada saat dia hendak dikirimkan kepada orang-tua yang hendak mengadopsi anak oleh seorang Social Service worker, Richard Jeffries (Terrence Howard (http://imdb.com/name/nm0005024/), yang berkarakter simpatik di film ini). Namun, Evan mendadak hilang di tengah keramaian kota New York. Bakat Evan ditemukan oleh seorang preman jalanan yang membina anak-anak pengamen, Maxwell 'Wizard' Wallace (Robin Williams (http://imdb.com/name/nm0000245/)), ia mengatakan kepada Evan "You got to love music more than you love food. More than life. More than yourself!". Oleh Wizard, Evan diberi nama professional "August Rush", sebuah nama yang diambil secara random dari sebuah tulisan di body sebuah truck yang sedang lewat.
Ketika ada suatu kejadian, polisi menangkapi para gelandangan anak-anak, Evan lari dan nasip membawa Evan ke sebuah gereja, di dalam gereja itu Evan melihat seorang gadis kecil yang bernama Hope (Jamia Simone Nash (http://imdb.com/name/nm1502417/)) yang menyanyi dengan sangat bagus bersama anggota koor gereja itu. Kemudian mereka saling kenal, dan Hope mengajari Evan mengenal notasi music dan piano. Dengan bakat alam yang luar biasa, Evan mampu memainkan piano, menulis notasi music dan memainkan organ klais yang terdapat di gereja itu, sang pendeta melihat bakat Evan ini dan mengirimkannya ke sebuah sekolah music bergengsi di New York Juilliard School (http://en.wikipedia.org/wiki/Juilliard_School). Di sinilah Maestro cilik ini dibina menjadi seorang musisi sebenarnya.
Sementara itu, Lyla sang ibu yang tinggal di kota Chicago, akhirnya mendapat pengakuan dari ayahnya bahwa bayi yang dilahirkan Lyla dahulu sebenarnya tidak mati. Maka, Lyla bergegas kembali ke New York untuk mencari anaknya. Lyla bertemu Mr. Jeffries dan mendapat kabar bahwa anaknya telah hilang entah kemana, Lyla memutuskan tinggal di New York dan kembali bergabung dengan The New York Philharmonic (http://en.wikipedia.org/wiki/New_York_Philharmonic) sambil melakukan pencarian anaknya.
Di lain pihak, sang ayah, Louis Connelly, semenjak pertemuannya dengan Lyla 11 tahun yang lalu tak henti-hentinya mencari jejak pujaan hatinya dan membuat ia tetap tinggal di San Francisco, ia tidak pernah menyadari kalau ia sudah menjadi ayah. Kemudian, ia menemukan alamat Lyla di Chicago, dan mendapati kabar yang salah dan mengira bahwa Lyla sudah menikah. Melihat kenyataan ini Louis enggan kembali ke San Francisco, dan ia memilih New York dan kemudian memutuskan kembali bergabung dengan abangnya dalam Rock Band, sebagai lead vocal dan guitarist di band itu.
Evan yang telah menjadi seorang composser karena pendidikannya di Juilliard School (http://en.wikipedia.org/wiki/Juilliard_School), atas kemampuannya yang luar biasa ini, ia diberi kesempatan untuk menampilkan karyanya dalam sebuah symphony orchestra yang akan ditampilkan di Central Park (http://en.wikipedia.org/wiki/Central_Park) di kota New York itu. Namun kesempatan ini hampir tak terlaksana karena ganguan dari Wizard yang mengklaim bahwa dia adalah ayah dari Evan, perbuatannya ini didasari karena ia ingin "make money" dari bakat musisi cilik ini.
Di sebuah taman kota di New York Louis bertemu dengan Evan, Louis mengagumi bakat music Evan, mereka bercakap-cakap dan bermain guitar bersama, namun mereka tidak mengenali satu sama lain. Evan memperkenalkan dirinya kepada Louis dengan nama "August Rush" dan mengatakan ia akan memimpin sebuah orchestra dan tampil di Central Park (http://en.wikipedia.org/wiki/Central_Park), dan mengatakan penampilannya ini terancam batal karena Wizard tidak setuju. Louis memberikan semangat agar Evan tetap tampil pada pertunjukan itu, "Come on. Be brave. You never quit on your music. No matter what happens. Coz anytime something bad happens to you, that's the one place you can escape to and just let it go. I learned it the hard way. And anyway, look at me. Nothing bad's gonna happen. You gotta have a little faith. ".
Ternyata pertunjukan di Central Park (http://en.wikipedia.org/wiki/Central_Park) itu juga menampilkan sang ibu, Lyla Novacek yang bermain Cello bersama The New York Philharmonic (http://en.wikipedia.org/wiki/New_York_Philharmonic). Di sebuah pertunjukan music, keluarga yang terpisah itu bersatu. Harapan Evan sang komposer cilik itu tercapai, bahwa dengan music ia dapat memanggil kedua orang-tuanya untuk datang dan menemukannya. Film garapan sutradara perempuan asal Irlandia Kirsten Sheridan (http://imdb.com/name/nm0792202/) ini pasti akan menggugah emosi para ibu. Bersiaplah tersenyum juga menangis haru dan merasakan betapa penting kehadiran anak dalam keluarga.
Aktor Freddie Highmore (http://imdb.com/name/nm0383603/) tangannya bagus, tangan seorang musisi, dan berperan cemerlang sebagai August Rush ini, mengingatkan kita pada aktor cilik terdahulu Haley Joel Osment (http://www.imdb.com/name/nm0005286/) yang pernah bermain apik di film The Sixth Sense (http://www.imdb.com/title/tt0167404/). Para pecinta music, rasanya juga perlu melengkapi koleksinya karena Soundtrack film ini, Music yang dikemas dengan supervisi Hans Zimmer (http://www.hans-zimmer.com/), Original Score oleh Mark Mancina (http://www.markmancina.com/), didukung beberapa musisi besar, ada Chris Botti (http://www.chrisbotti.com/), ada John Legend (http://www.johnlegend.com/), dll. Juga suara emas dari penyanyi cilik Leon G. Thomas (http://imdb.com/name/nm2193861/) dan Jamia Simone Nash (http://imdb.com/name/nm1502417/).
http://graphics8.nytimes.com/images/2007/11/21/arts/21augu600.jpg
August Rush (http://imdb.com/title/tt0426931/), Best Family Film of the Year. A MUST SEE!
Selamat Paskah!
Blessings,
Bagus Pramono
March 27, 2008
Bob Bilcox
May 11, 2008, 10:34
IRON MAN
Tony Stark, ilmuwan jenius nan playboy, sekaligus mega-bilyuner ternama pemilik Stark Industries mempublikasikan senjata pemusnah massal terbarunya untuk militer Amerika di gurun pasir Afghanistan. Usai melakukan itu, Tony dan rekan-rekan militernya diserang hancur-hancuran oleh teroris. Tony tertawan dan pihak teroris meminta Tony membuatkan senjata pemusnah massal seperti proyeknya barusan. Tony terpaksa menurut dan dengan bantuan teman satu selnya, Yinsen merakit senjata lain yang akhirnya akan mereka gunakan untuk melarikan diri. Usaha mereka akhirnya berhasil meskipun dalam kontak senjata, Yinsen terluka parah dan sekarat. Sebelum meninggal, Yinsen berpesan supaya Tony tak menyia-nyiakan hidupnya. Tony pun berhasil kabur dengan senjata lempengan besi yang dia pakai untuk melindungi diri di tengah hujan api dan ledakan membahana yang melanda markas teroris. Tony diselamatkan militer Amerika di Afghanistan dan dibawa pulang ke negeri asal. Sesampainya di sana, Tony disambut bak pahlawan oleh semua orang termasuk wakil direktur Stark Industries, Obadiah Stane dan sekretaris pribadi Tony, Virginia ”Pepper” Potts. Mengingat pesan terakhir almarhum Yinsen serta mengetahui konflik sekaligus konspirasi politik tersembunyi di balik dewan direktur Stark Industries, Tony memutuskan untuk membuat senjata pelindung pribadi yang jauh lebih canggih di rumahnya yang mewah, Stark Mansion, Malibu. Setelah itu konflik demi konflik terus melanda sampai akhirnya Tony dengan senjata pelindung pribadinya harus berhadapan dengan lawan yang tak dia sangka-sangka.
Dengan durasi 126 menit, film superhero adaptasi komik Marvel karya Stan Lee, Larry Lieber, Don Heck, dan Jack Kirby yang pertama kali terbit tahun 1963, ini sungguh berbeda. Alur cerita memikat sejak awal sampai akhir, penampilan gilang-gemilang aktor watak Robert Downey Jr, aksi efek visual spektakuler yang tidak berlebihan mendominasi cerita, serta eksplorasi kisah asal-usul superhero yang kurang populer ini (dibandingkan dengan Spider-Man dan X-Men misalnya), dengan sentuhan khusus untuk dewasa sehingga Iron Man seharusnya lebih pantas disaksikan orang dewasa dibandingkan anak-anak atau remaja. Sutradara Jon Favreau tampaknya sengaja meminimalisasi aksi dan mengganti nada filmnya menjadi sebuah thriller yang terjaga. Dari segi kualitas, Iron Man mungkin hampir mirip dua film X-Men pertama karya Bryan Singer, tapi Favreau berhasil memaksimalkan kelebihan Downey Jr tanpa mengurangi kualitas akting para aktor dan aktris pendukung dan memang Downey Jr betul-betul menjadi nyawa film ini. Selain durasi yang pas dan tak kepanjangan, Favreau tak mengumbar aksi gila-gilaan yang umumnya dilakukan oleh para sutradara lain dalam genre superhero ini dan efek visual film ini pun sangat pas, serta lancar menjaga cerita film tetap seimbang. Walaupun nampak sederhana, kurang glamor dan mungkin barangkali, kurang popcorn bagi yang menginginkan visualisasi aksi tanpa henti seperti film super laris robot penyamar tahun lalu, Iron Man harus tetap kita sebut sebagai film superhero terunik yang pernah ada.
Cerita 8/10 Pemain 8/10 Ending 7/10 Total 7,5/10
Movie Review : REDACTED (2007) (http://portal.sarapanpagi.org/entertainment/movie-review-redacted-2007.html)
http://images.apple.com/moviesxml/s/magnolia/posters/redacted_l200711141543.jpg
Truth is the first casualty of war.
http://www.indielondon.co.uk/images/10200.jpg
Written and Directed by: Brian De Palma (http://www.imdb.com/name/nm0000361/)
Brian De Palma (http://www.imdb.com/name/nm0000361/) ingin negaranya menghentikan perang melalui film terbaru yang dikemasnya dengan judul Redacted (http://www.imdb.com/title/tt0937237/). Meski sebuah "cerita fiksi" namun film ini diangkat dari true events yang diinginkannya menjadi suatu pengungkapan betapa collateral damage penyerangan/invansi Amerika Serikat ke Iraq tidak hanya menzolimi rakyat Iraq namun juga telah merusak mental para prajurit yang dikirim untuk misi tersebut. Redacted (http://www.imdb.com/title/tt0937237/), juga terinspirasi dari Kasus Abeer Qassim al-Janabi, yaitu kejadian nyata atas pemerkosaan dan pembunuhan terhadap gadis Iraq yang berumur 14 tahun disertai dengan pembantaian terhadap keluarganya yang dilakukan oleh tentara Amerika (http://www.guardian.co.uk/world/2006/nov/17/iraq.usa1). De Palma memfiksikan kisah ini dengan sorotan ala kamera handicam seorang amatir.
Sebelum memulai proyek film ini, De Palma melakukan banyak riset yang dilakukannya sendiri dengan berbicara dengan banyak tentara yang pernah dikirim ke Iraq. Dari semua wawancara yang dilakukannya, ia menarik keseragaman problem yang dihadapi para tentara itu bahwa mereka tidak paham apa yang sebenarnya mereka lakukan di Iraq. Mereka tidak tahu yang mana musuh, ketika rekannya mati akibat bom mereka ingin membalas dendam dengan menembaki semua orang Iraq. Para tentara stress/ tertekan secara psikologis terhadap keadaan yang menyudutkan mereka sebagai "bad guy" di daerah ini. Iraq tidak seperti Vietnam, tidak ada tempat-tempat hiburan yang lazim ada di negara barat, kalau di Vietnam ada rumah-rumah bordil untuk mereka dapat membuang hajat, di Iraq tidak. Tentara menjadi objek utama sasaran penembakan dan pengeboman oleh kalangan militan lokal dalam perang kota di Iraq. De Palma juga ingin menceritakan hal-hal yang tak terekspos dalam berita-berita di media-media Amerika. Dia mengklaim memiliki banya foto dari banyak photographer yang liputannya itu tak pernah dipublikasikan di AS, namun karya mereka beberapa dipublikasikan di beberapa media Arab. De Palma mengatakan ada banyak juga jurnalis Amerika yang menjadi tertekan karena mereka harus menutupi beberapa kenyataan yang telah mereka lihat disana atas permintaan media dimana mereka bekerja. Sayang, Film ini banyak dibenci oleh kritikus maupun rakyat Amerika. Film ini dituduh menceritakan kebohongan dan menurunkan moral pasukan AS di Irak. Rakyat Amerika menuding film ini akan menjadi kampanye negatif terhadap pasukan AS yang mencitrakan dirinya sebagai Pro Demokrasi dan Pembela HAM. De Palma menyayangkan hal ini, apa jadinya jika Amerika tidak melihat apa yang sedang mereka lihat?
Dewasa ini orang lazim membawa kamera kemana-mana, hand-phone pun lazim dilengkapi kamera. Orang lebih memilih merekam gambar melalui kamera digital yang handy daripada menulis jurnal/ buku harian. Demikian pula para tentara yang dikirim ke Iraq. Mereka banyak yang merekam aktivitas sehari-harinya dengan camera dan mengirimkan kabarnya melalui internet untuk keluarganya. Kebiasaan merekam gambar yang dilakukan para tentara ini menjadi topik utama di film ini. Kita akan tersentak dengan kesaksian seorang tentara yang dengan ungkapan luka hatinya, sbb:
You don't want to hear a war story. Do you want to hear a war story? All right. Here's a war story for you. When I first went over there. To Afganistan, I was all amped up to kill for my country. I was ready to just kick some ass, you know? Get some licks in for what they did to the Towers, just be a big fvcking war hero.
I get over to Iraq and… man… it's just totally diffrerent story. You grow up really really fast over there. Because everything you see, everywhere you look is just death, and it's suffering. And the killing that I did do, it made me sick to my stomach. Because of these smells and these sound and these images. I have these snapshots in my brain, that are burned in there forever. And I don't know what the fvck I'm going to do about them and what was I doing there? What was I doing in a country that's done nothing to do to me? Just following orders? Bullshit! You better have a really good fvcking reason for one of your buddies to die in your arms, to be blow up right in front of you. A really good fvcking reason.
And I saw some shit there man. I just don't know how I'm going to live with. I went on a raid in Samarra, two man from my unit raped and kill a 15 years old girl and burn her budy. And I didn't do anything to stop it.
De Palma juga mengambil moment nyata yaitu kasus "Abu Musab al-Zarqawi memenggal seorang Amerika" tahun 2004 lalu, yang kita bersama telah mengetahui lewat berita-berita. Yaitu pemenggalan kepala seorang pemuda, warga negara Amerika yang bernama Nicholash Berg (http://en.wikipedia.org/wiki/Nick_Berg) (26 tahun) yang dilakukan oleh kelompok militan di Iraq dan mereka menyiarkan rekaman video nya melalui internet. De Palma mencoba menggunakan apa yang pernah menjadi kenyataan itu untuk dapat kita menengok kedalam, apa yang menjadikan mereka bertindak begitu sadis. Bahwa hal itu bukan kasus yang berdiri sendiri, tetapi suatu hal yang terjadi dari hukum aksi-reaksi.
Dibanding film-film yang lain tentang perang sejenis, misalnya Lions for Lambs (http://www.imdb.com/title/tt0891527/) atau In the Valley of Elah (http://www.imdb.com/title/tt0478134/), Film Redacted (http://www.imdb.com/title/tt0937237/) ini lebih menyuguhkan sesuatu realitas yang membuat kita makin mengerti akibat-akibat perang yang tidak hanya merugikan rakyat dari negara yang diserang. Film ini ditutup dengan foto-foto dokumenter yang merekam kejadian-kejadian yang mengenaskan di Iraq, termasuk seorang ibu yang hamil tua tertembak secara brutal oleh tentara AS di checkpoint di daerah Samarra. Foto-foto tersebut disensor dengan menutupi wajah para korban dengan spidol hitam. Meski demikian, tetap saja membuat perut ini jadi mual melihatnya. De Palma, sutradara senior, menciptakan film untuk misi kemanusiaan dan memberi pesan yang jelas : STOP THE IRAQ WAR!.
Blessings,
Bagus Pramono
June 13, 2008
Saffran
October 14, 2008, 08:02
Persepolis 5/5
Sutradara dan penulis naskah: Marjane Satrapi & Vincent Paronnaud
Highlight: Nominasi Best Animated Feature Film pada Oscar 2007
Sinopsis: In 1970s Iran, Marjane 'Marji' Statrapi watches events through her young eyes and her idealistic family of a long dream being fulfilled of the hated Shah's defeat in the Iranian Revolution of 1979. However as Marji grows up, she witnesses first hand how the new Iran, now ruled by Islamic fundamentalists, has become a repressive tyranny on its own. With Marji dangerously refusing to remain silent at this injustice, her parents send her abroad to Vienna to study for a better life. However, this change proves an equally difficult trial with the young woman finding herself in a different culture loaded with abrasive characters and profound disappointments that deeply trouble her. Even when she returns home, Marji finds that both she and homeland have changed too much and the young woman and her loving family must decide where she truly belongs. Written by Kenneth Chisholm (kchishol@rogers.com)
http://img.photobucket.com/albums/v319/amras/saffran/persepolis-poster.jpg
sinopsisnya secara singkat kaya gini. Marjane adalah seorang putri yg besar di Iran ketika ada revolusi besar2an di negara itu. ketika itu segala tradisi dan hukum negara berubah seketika. sebelumnya Iran adalah negara yg cukup demokratis tanpa larangan yg terlalu ketat mengenai busana wanita, alkohol, dll. setelah revolusi, dalam segala hukum negara yg sngt mengikat kebebasan, Marjane berjuang untuk tetap mempertahankan identitasnya sbg seseorang yg berjiwa bebas, tapi tetap punya integritas, dalam arti seseorang yg berusaha untuk selalu jujur dengan perasaannya, jauh dr kemunafikan dan kebohongan. pd kelanjutannya Marjane banyak berjuang untuk berhasil msk dalam keragaman budaya orang lain, atau bahkan untuk bertahan di dalam tanah kelahirannya sendiri.
soal animasinya, pertama kali gue nonton tini, gue matiin setelah 13 menit or so. jujur aja gue ga tahan item putihnya nih. tp kali kedua nonton ini, gue tahan2. dan gue br ngerti kenapa animasinya ky gini. kenapa 2D. kenapa pake tangan, bukan komputer. smuanya br make sense setelah nonton filmnya sampe selesai. dan soal mudah/gampangnya, menurut gue 2D ini susah buatnya. ada sekitar 16 fps klo ga salah. apa 14 ya.. pokoknya intinya.. gue kok melihat bikinnya ga gampang. byk detil. byk gerakan mata, gerakan tangan, dan mimik yg bener2 diperhatikan. dan gaya penggambarannya itu gue suka bngt di beberapa bagian. artistik bngt. satiris juga ya tampaknya.
walaupun bukan animasi sedetil dan seperkasa animasinya Pixar, tetep menurut gue ini layak dianggap sbg salah satu film animasi terbaik yg pernah ada.
gue sih sjujurnya tidak sesuka itu sm film ini. dr animasinya aja bukan selera gue banget deh. tp filmnya menyentuh bngt. punya soul. dan byk pesan yg penting dr film ini.
http://img.photobucket.com/albums/v319/amras/saffran/persepolis_punk.gif
"In this life you'll meet a lot of jerks. If they hurt you, tell yourself that it's their own stupidity that makes them act that way. That will keep you from responding to their meanness. There's nothing worse in this world than bitterness and revenge. Hold your head up and stay true to yourself," kutipan dr kata2 neneknya Marjane.
gue menemukan Marjane kecil dan Marjane dewasa itu kerasa bngt bedanya dlm byk hal, termasuk dalam cara pikir. ya emang.. anak kecil sm org dewasa pasti di mana2 ky gitu, tp maksud gue adalah.. ada penggambaran yg bagus ttg Marjane kecil dan Marjane remaja/dewasa. penggambaran yg menceritakan byk sekali proses hidup dan pergulatan batin, yg menurut gue tertuang dgn sngt baik di animasinya (dan ceritanya). digambarkan sedemikian rupa, kita melihat Marjane yg nyaris totally berbeda di deket2 akhir cerita, dan pas sampai ke bagian ini, sebenernya br kerasa ada sesuatu yg seharusnya kembali pd diri Marjane. dan untunglah pada akhirnya ada satu yg ttp bertahan dlm dirinya, yaitu (nyolong kata2 neneknya) "integrity", yg membuat Marjane is Marjane. haih.. menyentuh yaa!!
sudut pandang film ini, menurut gue, brilian. filmnya sendiri salah satu dr film animasi terbaik yg pernah gue liat.
oh iya.. beberapa bagian kocak banget!! gue ngakak seketika pas liat bagian2 itu. :D
denny_frost
October 30, 2008, 15:22
http://i160.photobucket.com/albums/t193/denny_frost/highschoolmusical31_large.jpg
"Fabulous"
Itulah salah satu lagu yang dinyanyikan Sharpay (Tisdale) dan Ryan (Grabble) di film High School Musical 2 ini, dan kata itu lah yang bisa di gambarkan ke film High School Musical 3.
Banyak orang dan kritikus yang menganggap film ini hanyalah hiburan atau kosong belaka, tidak ada hal yang ingin disampaikan oleh film ini. Tetapi menurut gw film ini tidaklah kosong atau hiburan semata, film ini menceritakan bagaimana sulitnya memilih Universitas pilihan, bagaimana memilih pasangan dan baju pada saat Prom, relationship antar teman, dan berbagai hal-hal lain yang gw rasa pasti terjadi di masa High School kita
Ada lagi yang mengatakan film ini hanya untuk anak-anak dan remaja, so girlicious dan bahkan ada yang bilang untuk Gay (Seperti yang dikatakan oleh Peter Starvis, Rolling Stones). Ya mungkin ada bagian memang terasa kekanak-kanakan, girlicious dan mungkin ada yg terlihat seperti gay, tapi forget about it, karena jelas film ini layak ditonton di segala umur, entah anak-anak, remaja, dewasa sekalipun. Untuk para penonton dewasa, dengan High School Musical 3 ini mereka bisa bernostalgia mengingat High School mereka yang terasa "Musical" itu.
Cerita
memang standar, mudah ditebak, dan terkesan konflik yang di hadapi mirip dengan High School Musical ke 1 ataupun yang ke 2. Gw rasa kelemahan film ini ada di segi cerita. Ada beberapa yang menganggap dan kritikus di Amrik mengatakan film ini terlalu sweet sehingga menimbulkan diabetes, hmm mungkin, tapi cerita film ini tidak hanya hal-hal yang sweet saja, tetapi ada hal-hal suram, masalah, depress.
Music dan Koreografi
Music dan Koreografi di film High School Musical 3 ini sangat luar biasa, seperti yang gw bilang pertama kali Faboulous. Music di film ini jelas lbh baik dari High School Musical 2 dan sedikit lebih baik dibanding High School Musical yg ke 1. Koreografi yang lagi-lagi sangat indah, atraktif, ceria, sweet. Selain dari koreografi yang indah, setting latar/kostumnya juga sangat mendukung sangat matching dgn lagunya dan tetapi terkadang membuat mata sakit karena kostum dan setting sangat warna-warni
Pemain
http://i160.photobucket.com/albums/t193/denny_frost/_12237409855545.jpg
Untuk pemain kali ini Sharpay dan Ryan lebih mencuri perhatian di banding Troy (Efron) dan Gabriella (Hudgens). Hal ini juga terjadi di High School Musical 1, yang sangat jelas sekali kalau Sharpay and Ryan are far better than Troy and Gabriella. Sharpay terlihat lebih cantik di sini sehingga bisa menyamai kecantikan Hudgens yang sangat meningkat di High School Musical 2 perbandingannya seperti ini
High School Musical 1 : Sharpay >> Gabriella
High School Musical 2 : Gabriella > Sharpay
High School Musical 3 : Sharpay = Gabriella
http://i160.photobucket.com/albums/t193/denny_frost/_12237409866763.jpg
Sharphay (Tisdale) dan Ryan (Grabeel) sangat menonjol di lagu I Want It All, koreografi yang bergaya Moulin Rouge atau Chichago itu adalah adegan terbaik di film ini atau bahkan di segala film Musical lain, credit diberikan kepada Kenny Ortega sebagai Koregrafer dan Sutradara High School Musical 3 ini, satu lagi Ryan (Grabeel) sangat pandai dalam berkoreografer, dancenya sangat menarik, gerakan tubuhnya menandakan dia sangat hebat untuk menjadi dancer, Ryan (Grabeel) jelas mengalahkan secara telak Troy (Efron) dalam segi koreografi
Chad (Bleu) dan Taylor (Coleman) kebagian peran yang lebih dan tidak hanya sebagai tempelan saja.
Kelsi (Rulin) terlihat lbh dewasa di sini dan lebih cantik dari biasanya
ada salah satu tokoh baru yang sayangnya kurang di eksplor lebih oleh Kenny Ortega, yaitu Tiara Gold (McKenzie-Brown) dia adalah artis pendatang British terbaru dan aksennya terasa British sekali, memang secara penampilan bernyanyi dan koreografi di lagu terakhir dia kurang bagus, sangat ketendang sekali dengan Sharpay (Tisdale), namum prediksi gw di High School Musical 4 dia akan berperan lebih banyak
Mungkin inilah review terpanjang yang pernah gw tulis, dan High School Musical 3 jelas sesuai dengan ekspektasi gw, It's so Fabulous
9/10
qbiz
February 27, 2009, 23:34
Movie Review : ELEGY
http://www.entertainmentfilms.co.uk/files/images/Elegy_quad_LR.preview.jpg
Directed by Isabel Coixet
Screenplay : Nicholas Meyer
From novel "The Dying Animal" : Philip Roth
Cast :
Ben Kingsley ... David Kepesh
Penélope Cruz ... Consuela Castillo
Patricia Clarkson ... Carolyn
Dennis Hopper ... George O'Hearn
Peter Sarsgaard ... Kenneth Kepesh
Review :
Consuela Castillo seorang gadis yang manis berdarah kuba, ia cantik dan sopan. Sang Professor mengagumi kecantikannya sejak pertama ia masuk di ruang kelasnya. Mata dan alisnya mengingatkannya pada lukisan karya Francesco de Goya, dan ia ingin menunjukkan kepada gadis itu. Namun, sebagai seorang dosen ia tak pernah ingin mempunyai skandal dengan muridnya, dan ia menunggu sampai gadis itu lulus dari kampus dimana ia mengajar.
Demikianlah sering ada cerita antara hubungan murid dan guru, kadang-kadang ada saling ketertarikan, murid memuja sang guru yang dianggap punya banyak pengetahuan. Professor David Kepesh sepertinya memiliki segalanya, ia cerdas, seorang penulis terkenal, meski tidak tampan, ia berpenampilan menawan, pembawaannya menarik, berpakaian rapi, bicaranya menandakan ia berbudaya tinggi. Consuela akhirnya mengakui dirinya begitu tertarik kepada sang guru. Consuela pun menyambut rasa kasih sayang dan perhatian dari sang dosen yang begitu charming dan berwibawa, dan terjadilah hubungan yang saling kagum-mengagumi diantara keduanya.
Professor Kepesh pernah menikah dan gagal, kemudian ia memilih hidup independen tanpa ikatan pernikahan. Ia telah menjalani hidupnya sampai masa tuanya itu tanpa pernah lagi berkomitmen. Ia menjalani long relationship dengan seorang perempuan setengah baya Carolyn yang masih cantik dan memahami keinginan professor yang ingin hubungan tanpa status.
Berbeda dengan Carolyn, Professor Kepesh kali ini menemukan "the power of beauty" dari Consuela. Namun ada suatu konflik dalam batinnya, "suatu ketakutan" bahwa Consuela suatu saat akan menemukan pria muda dan meninggalkannya. Maka, ia menampik rasa posesif-nya terhadap Consuela dan mengendurkan setiap keinginan untuk menjadikan hubungannya dengan Consuela menuju ke arah komitmen yang serius. Rupanya ia salah sangka, gadis itu benar-benar mengaguminya, mencintainya, dan tak ambil pusing akan perbedaan usia 35 tahun di antara mereka. Professor Kepesh selalu nervous setiap kali Consuela menyatakan cinta dan kekagumannya padanya. Ia menjadi semakin nervous manakala si gadis itu ingin memperkenalkannya kepada keluarganya. Sepanjang cerita mengungkapkan suatu masalah-masalah yang sering dihadapi dua insan dalam hubungannya, ada konflik namun ada juga rasa saling butuh.
Ben Kingsley dan Penélope Cruz menampilkan diri mereka dengan sempurna dalam film ini, suatu couple yang memang kaliber Oscar berkolaborasi dalam satu film. Jika Anda lelaki, Anda akan melihat Miss Cruz ini memang pantas dikagumi, kecantikannya yang khas latin, tubuhnya, gaya bicara dan perangainya menimbulkan suatu eksotisme yang lain daripada yang lain, ini adalah penampilan terbaik Cruz, bahkan lebih bagus daripada di film yang memberinya Oscar di film Vicky Cristina Barcelona. Di film-film lain, Cruz sebenarnya sudah banyak menunjukkan kebolehannya sebagai aktris yang layak diperhitungkan, misalnya dalam film Captain Corelli's Mandolin. Di lain pihak, jika Anda seorang perempuan, Anda bisa dibuat terpesona oleh penampilan sang Professor. Ben Kingsley memang salah satu aktor terbaik dunia, walaupun orang jarang memandangnya sebagai pria yang menarik dan tampan, tapi kali ini dia ternyata dapat menampilkan dirinya yang membuat lawan jenisnya terpesona.
Film ELEGY adalah sebuah "love affair" dalam kemasan kebudayaan tinggi. Film ini diadaptasi dari novel yang ditulis oleh seorang penulis pemenang Pulitzer Philip Roth, karyanya yang lain juga banyak difilmkan, misalnya The Human Stain (http://www.imdb.com/title/tt0308383/) yang juga mengangkat hubungan kasih antara perempuan muda dan lelaki baya. Jika di film The Human Stain kurang memberikan suatu chemistry antara Anthony Hopkins dan Nichole Kidman, di Film Elegy ini, Ben Kingsley dan Penélope Cruz memberikan suatu energy dan emosi dua insan yang membuat kita mengerti bahwa seringkali cinta itu memang aneh. "Love has no boundaries" itulah tema film ini, cinta tidak mengenal batasan-batasan atau perbedaan-perbedaan. Dan sesuai dengan judulnya, film ini menampilkan sastra dan musik yang bagus dan memberi warna. Sutradara Isabel Coixet memanjakan penontonnya dengan suatu sajian gambar-gambar yang bagus, deretan aktor dan aktris pendukung yang pas, mereka berpenampilan sebagai manusia modern yang mencintai budaya dan intelektualitas.
Blessings,
Bagus Pramono
February 27, 2009
denny_frost
March 01, 2009, 12:45
http://www.language.iastate.edu/main/department/calendar/pix/downfall.jpg
gw telah menonton sebuah film terbaik yang pernah gw tonton, ya betul gw gak pake kata/embel-embel "salah satu" "one of the". Benar-benar film terbaik gw menikmati setiap menit dari film ini
Film yang sangat powerful, karakternya tidak ada satupun yang sia-sia sangat luar biasa karakteristik dari para karakternya
Bruno Ganz sebagai Adolf Hitler sangat luar biasa harusnya dia menang Oscar atau minimal masuk nominasi Best Actor, Alexandra Maria sebagai LaraTraudl Junge juga luar biasa karakternya sebagai sekretaris Adolf Hitler yang sedikit menaruh simpati atau malah rasa cintanya pada Adolf Hitler, Corinna Harfouch sebagai Magda Goebbels bermain juga luar biasa karakternya sebagai seorang istri dari Goebbels yang juga sangat menaruh respek kepada Hitler, Ulrich Matthes sebagai Joseph Goebbels, seorang menteri propaganda yang 100% sangat menuruti Hitler dan sangat percaya kepada Hitler bisa dikatakan dia adalah seorang tangan kanannya Hitler.Juliane Köhler sebagai Eva Braun yaitu istri Adolf Hitler yang ramah terhadap sesamanya dan juga sangat mencintai Adolf Hitler. Yang mencuri perhatian adalah Christian Berkel sebagai Prof. Dr. Ernst-Günter Schenck salah satu tokoh yang paling gw suka, dia berfikir secara rasional dan sangat perhatian kepada sesama, ideologinya sangat hebat
Hitler dalam film ini di ceritakan berbeda, dia lebih memiliki hati walaupun tetu saja masih ambisius dan tidak rasional. Untuk tokoh gw mengagumi Hitler, dia ambisius, penuh nasionalisme, dia membuat rakyatnya cinta kepadanya, walaupun tentu saja banyak kekurangan dia, strategi perang yang banyak blunder, tentu yang penting adalah sikap rasis dia terhadap bangsa bukan Arya khususnya ke Yahudi
Hitler adalah fenomena dan tentu saja masyarakat Jerman, Angkatan Darat (Wermarch), Udara, Laut, SS, dan segala komponen yang mendukung terciptanya World War II. Hitler kebanyakn di dukung oleh rakyatnya usahanya untuk menyerang atau berbuat sesuatu untuk rakyatnya sangat didukung. Bahkan ketika Hitler sudah mau kalah masyarakat Jerman tetap memandang Hitler sebagai pemimpin mereka yang tetap di hormati. Nasionalisme segala komponen masyarakat Jerman sangat luar biasa. Rasa hormat kepada pemimpin mereka sangat tinggi, salam "Heil Hitler" itu benar-benar di terapkan di segala militerisme
Gw agaknya sedikit hiperbola tentang film terbaik, tapi jelas semua orang mempunyai film terbaiknya masing-masing atau jikapun tidak mungkin seseorang belum menemukan film terbaiknya itu sekarang ini Downfall merupakan film terbaik yang pernah gw tonton (dulu bisa dibilang Titanic adalah film terbaik gw). Mungkin faktor kesukaan gw dengan sejarah World War II khususnya tentang Jerman yang mempengaruhi gw untuk menyatakan ini adalah film terbaik, ya bisa jadi, kalau saja film ini gw tonton 2-3 tahun yang lalu jelas kemungkinan besar gw tidak menyatakannya sebagai terbaik, karena pada masa itu gw belum menyukai sejarah, sayang memang gw menyukai sejarah pada saat kuliah, kalau saja pas masa sekolah bisa saja gw sering menanyakan, bertukar pikiran atau berdebat ke guru gw, dolo pas SMA guru gw sering sekali pada saat di kelas "ada pertanyaan?" "ada yang gak ngerti?" yang tentunya kali itu sangat jarang ada yang bertanya karena kelas gw IPA yang jelas malah sedikit kaget kalau Sejarah masih ada dalam pelajaran. Tentu juga kelas IPS juga setau gw tidak ada yang begitu tertarik tentang Sejarah
Setelah menonton ini rasanya gw ingin Oliver Hirschbiegel untuk membuat Rise of Hitlernya. Karena film ini sangat powerful di karakternya dan hampir di segala sisi sempurna, fokusnya kepada Hitler dan orang-orangnya membuat film ini terarah. Dari segi cinemathography, setting, design juga jempolan. Film ini juga tidak berlebihan seakan kita bisa merasakan bagaimana menjadi seorang Hitler, jendral, para tentara, dokter dan masyarakat Jerman itu
gw berikan nilai sempurna kepada film ini. Sangat jarang gw memberikan nilai ini. Hanya Titanic, Die Hard dan beberapa film lainnya yang gw berikan nilai itu
10/10
qbiz
March 10, 2009, 04:13
Movie Review : Gran Torino
http://cinemastatic.org/wp-content/uploads/2009/02/gran-torino01.jpg
Clint Eastwood (director)
Nick Schenk (screenplay)
Dave Johannson (story)
Cast :
Clint Eastwood ... Walt Kowalski
Christopher Carley ... Father Janovich
Bee Vang ... Thao Vang Lor
Ahney Her ... Sue Lor
Mendapat satu cinta dari satu orang itu tidak cukup, manusia memerlukan banyak cinta, cinta dari orang-orang disekitarnya. Walt Kowalski (Clint Eastwood) seorang veteran perang dan mantan tekhnisi pabrik mobil Ford itu baru saja kehilangan istrinya, orang yang paling dicintai dan mencintainya. Sayang sekali, istri yang baik itu sudah tiada lagi. Walt memandang nanar kehidupannya sendiri dan menjadi frustrasi. Dalam film ini, Walt digambarkan sebagai orang yang keras, nasionalis, kolot, sinis dan kesepian. Ia tak dapat mencintai kedua anak lelakinya beserta istri dan anak-anaknya, mereka manganggap Walt adalah orang aneh, Walt sendiri tidak tahu mengapa iapun tak dapat merasa dekat dengan mereka. Walt bahkan muak dengan sikap para cucunya yang sama sekali tidak menghargai sopan-santun.
Mendiang istrinya agaknya tahu bahwa sepeninggalnya Walt akan melewati masa-tuanya dengan rasa sepi dan menderita. Ia memberikan pesan kepada seorang Pastor muda (Christopher Carley) untuk dapat menjagainya dan membawanya lebih dekat pada Tuhan, pastor itu melakukan tugasnya dengan baik, tapi Walt menolaknya bahkan ia berubah menjadi membenci semua orang.
Walt mempunyai tetangga, keluarga kalangan etnis Hmong (http://id.wikipedia.org/wiki/Hmong) (sebutan untuk keturunan Asia, Vietnam khususnya), kehadiran mereka sangat mengusiknya apalagi ia mempunyai pengalaman buruk dalam perang Korea. Tetapi, manusia memang tak dapat hidup sendiri, mau tak mau, sengaja atau tidak sengaja ia akan berhubungan dengan orang lain. Interaksi antar tetangga ini bermula dengan hal-hal yang buruk, mulai dari rasa benci terhadap orang Asia (ras yang berbeda), bahasa yang berbeda, kultur yang berbeda. Tetapi dari situ sebuah persahabatan lahir.
Mobil klasik yang legendaris Gran Torino 1972 adalah harta terbesar Walt. Mobil klasik ini mengawali kisah persahabatan dengan suatu kejadian yang paradoks, dimana awalnya Thao (Bee Vang) anak tetangga sebelah itu berusaha mencuri mobil kesayangan Walt ini. Thao terpaksa mencuri karena diancam oleh segerombolan geng Hmong untuk melakukan hal itu. Agaknya sikap kakak perempuan Tao dapat menjadi penengah antara Walt dan Thao. Gadis manis Sue (Ahney Her) selalu bersikap sopan dan sangat bersahabat, Walt menjadi luluh dan dapat berteman dengan keluarga Hmong ini.
Dari persahabatan itu, sikap baik dari Walt dapat tergali kembali, ia bahkan mencintai kedua remaja Sue dan Thao. Walt mencintai dan dicintai mereka bagaikan hubungan bapak dan anak. Walt bahkan merasa bertanggung jawab akan masa depan mereka. Walt ingin membentuk mereka sebagai generasi muda yang baik, sopan, penuh hormat, dan dapat berdikari untuk masa depannya. Sesuatu yang tak dapat ia lakukan kepada cucu-cucunya sendiri, ia melakukan tugas kebapakannya ini kepada seorang "total stranger". Dari hubungan yang melahirkan kasih ini Walt kembali mau datang ke gereja, ia melakukan "pengakuan dosa" sesuatu yang tak pernah dilakukannya, ia telah mempersiapkan kematiannya dengan baik.
Clint Eastwood dikenal dalam perannya di film Dirty Harry, ada sedikit gaya itu dalam film ini, hanya saja kali ini dilakukan oleh seorang veteran perang yang sudah tua versus geng remaja lokal kalangan Hmong. Permasalahan Thao dan geng Hmong rupanya berlarut-larut, sampai pada suatu ketika rumah Thao diberondong peluru dan Sue dianiaya dan diperkosa oleh oknum geng itu. Terhadap perkelahian/ masalah dalam suatu geng dari ras tertetu, seringkali polisi Amerika tidak mau mengambil tindakan, karena memang ada kerumitan pada setiap masalah yang terjadi pada golongan ras tertentu, polisi mungkin menganggap itu urusan kalangan Hmong sendiri .
Walt tahu dirinya adalah ras yang berbeda, dan olehnya polisi nantinya akan bertindak. Walt ingin melakukan hal yang terbaik yang dapat dilakukannya di sisa-sisa hidupnya. Ia ingin menciptakan suatu suasana lingkungan yang baik, pemukiman yang aman, dimana keluarga biasa tidak perlu dihantui oleh ulah kelompok geng/ berandalan, itu adalah warisannya yang terbesar. Walt yang kini tahu dirinya dicintai, ia bahkan rela menyerahkan nyawa untuk keluarga yang mencintainya. Sebab kini ia yakin pada saat kematiannya ia akan dikelilingi orang-orang yang mengasihinya.
Clint Eastwood kali ini membuat kisah hidup manusia yang mengambil fokus pada cerita sehari-hari, mengambil aktor dan aktris tidak terkenal dengan wajah-wajah kebanyakan orang, bukan muka-muka selebritis. Dan inilah yang membuat film ini menjadi semakin hidup, kita dapat melihat suatu portret problema di suatu kota yang multi-kultural. Ada seorang sahabat yang memberi tahu saya bahwa film Gran Turino ini lebih bangus daripada Million Dollar Baby (http://www.imdb.com/title/tt0405159/) atau Mystic River (http://www.imdb.com/title/tt0327056/), setelah menonton dan menyimak film ini tentu saja saya setuju. Film Gran Torino memang tidak mendapat penghargaan apapun di Golden Globe ataupun Oscar 2009. Tapi karya Clint Eastwood ini menjadi film terlaris di Amerika Serikat dan Kanada. Film ini cukup unik dan temanya lumayan orisinil, ada "superhero" berusia 78 tahun, seorang yang sinis dan rasis yang akhirnya mendobrak sikap rasisnya sendiri dan merubah sikapnya menjadi seorang sahabat yang rela mati untuk orang yang dicintainya. Ada theme-song Gran Torino yang diciptakan Clint Eastwood bersama musisi jazz muda Jamie Cullum (http://www.jamiecullum.com/), dan Jamie membawakan lagu itu dengan sangat baik dan menambah kredit untuk film ini.
Blessings,
Bagus Pramono
March 9, 2009
qbiz
March 31, 2009, 04:09
Valkyrie, Film Sejarah Jerman "Rasa Amerika"
http://img17.imageshack.us/img17/3594/valkyrieu.jpg
Operasi Valkyrie adalah suatu operasi untuk pengambil alih kekuasaan, yaitu sebuah operasi pemerintahan bayangan untuk meredam kekacauan di Jerman sekiranya Adolf Hitler (http://portal.sarapanpagi.org/entertainment/hitler-the-rise-of-evil.html) terbunuh dalam Perang Dunia II. Operasi ini disetujui oleh Hitler sebagai bentuk tindakan darurat yang melegitimasi angkatan perang untuk mengambil alih kekuasaan. Operasi ini dijalankan hanya jika Hitler tewas, dan demi keamanan negara, militer berhak mengambil alih kekuasaan. Namun, operasi itu dimanfaatkan untuk mengkudeta Hitler.
Movie Review :
Film "Valkyrie" (http://www.imdb.com/title/tt0985699/) diangkat dari kisah nyata yang terjadi pada 20 Juli 1944. Pada waktu itu beberapa petinggi militer Jerman melancarkan operasi Valkyrie yang bertujuan untuk menjatuhkan rezim Hitler. Namun sayang operasi itu gagal, bom yang diledakkan oleh Kolonel Claus Graf Schenk von Stauffenberg (Tom Cruise (http://www.imdb.com/name/nm0000129/)) hanya melukai lengan Hitler. Setidaknya ada 15 kali usaha pembunuhan terhadap Adolf Hitler, namun semuanya gagal termasuk operasi militer Valkyrie ini. Rupanya Hitler hanya boleh mati lewat angannya sendiri, 9 bulan setelah usaha kudeta ini.
Dikisahkan bahwa Count Claus Schenk Graf von Stauffenberg adalah seorang parjurit yang baik dan cinta bangsa dan tanah airnya. Statusnya sebagai tentara Jerman yang telah bersumpah setia-abadi kepada sang Führer, Adolf Hitler (David Bamber (http://www.imdb.com/name/nm0051394/)), tak membuat Kolonel Stauffenberg menjadi buta terhadap kekejaman yang dilakukan Hitler. Stauffenberg adalah anak seorang bangsawan Bavaria yang masuk dinas militer Jerman sejak 1926. Pada tahun 1943, saat bertempur di front PD II di Tunisia-Afrika bersama Divisi Panser ke-10, ia kehilangan mata kiri, tangan kanan, dan dua jari tangan kirinya. Dalam berbagai pertempuran yang telah ia jalani, Stauffenberg mulai menyadari bahwa Hitler sebenarnya sedang membawa Jerman ke jurang kehancuran. Stauffenberg sadar bahwa Hitler bukan hanya musuh bagi dunia, tetapi ia adalah musuh bagi Jerman sendiri.
Meskipun Adolf Hitler dipandang seperti "dewa", namun tidak semua orang Jerman setuju dan mencintai Hitler, ada golongan-golongan bahkan kalangan Militer yang tidak setuju pada kebijakan-kebijakan Hitler. Sekelompok elit politik dan petinggi militer Jerman menyusun siasat untuk memberontak pada Hitler, "kelompok" semacam ini dikenal dengan sebutan "The German Resistance" (http://en.wikipedia.org/wiki/German_Resistance). Kalangan militer yang tergabung di sana, pangkat mereka beragam, dari letnan hingga jenderal. Pada saat Kolonel Stauffenberg mengalami cedera di Tunsia, diceritakan dalam film itu terjadi percobaan pembunuhan yang ke sekian kalinya kepada Hitler tengah bergulir. Namun seperti yang sudah-sudah, rencana itu selalu gagal.
Setelah kepulangannya ke Jerman, Kolonel Stauffenberg direkrut oleh kaum pemberontak untuk memulai kembali rencana pembunuhan kepada Hitler. Sebagai orang baru dalam tim konspirator tersebut, Stauffenberg menunjukkan ambisinya untuk mengabisi Hitler. Dalam film ini diceritakan dialah yang memberikan ide penggunaan operasi Valkyrie untuk tujuan kudeta. Ide ini muncul secara kebetulan, di saat yang tidak disengaja, Stauffenberg mendengar komposisi musik Ride of the Valkyries ( Die Walküre/ Walkürenritt) (http://en.wikipedia.org/wiki/Ride_of_the_Valkyries), karya Richard Wagner (1813 -1883) (http://en.wikipedia.org/wiki/Richard_Wagner), dan dia sadar ada sebuah operasi militer bernama Valkyrie yang (menurutnya) dapat digunakan sebagai jalan bagi rencana pembunuhan berikutnya. Maka, rencana pembunuhan yang ke 15 ini rencananya disusun lebih matang dengan ide brilian.
Dalam usaha pembunuhan kepada Hitler ini, Stauffenberg, bekerja sama dengan Mayor Jenderal Henning von Tresckow (Kenneth Branagh (http://www.imdb.com/name/nm0000110/)) dan Jenderal Friedrich Olbricht (Bill Nighy (http://www.imdb.com/name/nm0631490/)) dan beberapa elit politik. Namun, mereka harus menghadapi Jenderal Friedrich Fromm (Tom Wilkinson (http://www.imdb.com/name/nm0929489/)). Sulit untuk membunuh Hitler karena ia dikelilingi orang-orang yang setia dan sangat menjaga keselamatan sang Führer. Akhirnya disusunlah sebuah pemboman di Rastenburg, Prusia Timur (sekarang termasuk wilayah Polandia). Di tempat yang bernama Wolf Lair / Wolfsschanze (sarang serigala) ketika Hitler mengadakan pertemuan untuk membicarakan langkah militer bersama para petingginya. Stauffenberg diikutkan hadir pada pertemuan itu. Pada waktu yang ditentukan, Stauffenberg yang ditemani ajudannya, Letnan Werner von Haeften berhasil meledakan bom yang dikemas didalam sebuah tas kerja dan diletakkan di posisi yang paling dekat dengan Hitler. Setelah bom itu meledak dan Stauffenberg mengasumsikan Hitler tewas, ia segera menghubungi Jenderal Olbricht untuk segera mengaktifkan operasi Valkyrie.
Sayang sekali, Hitler yang diharapkan tewas hanya mengalami cedera kecil dalam ledakan itu. Dan tak lama kemudian segera tercium upaya kudeta. Jaringan "The German Resistance" menjadi incaran tentara yang setia kepada Hitler. Otomatis usaha kudeta dengan menggunakan Operasi Militer Valkyrie ini gagal, kepanikan terjadi di kelompok pemberontak. Kegagalan usaha kudeta ini juga karena kurangnya dukungan faktor alat komunikasi yang sangat berperan penting untuk kesuksesan misi tersebut. Kekuasaan tidak cukup hanya dengan "moncong senjata", tetapi juga penguasaan jalur komunikasi. Ketika jalur komunikasi ditutup, mereka langsung lumpuh. Josef Goebbels (yang menjabat sebagai 'Menteri informasi'), ia adalah salah seorang yang paling setia kepada Hitler, pada hari itu juga memerintahkan stasiun radio mengabarkan bahwa Hitler selamat dalam percobaan pembunuhan. Informasi melalui siaran radio ini sangat memberi dampak bagi orang-orang yang masih pro Hitler dan para pemberontak.
Pada tengah malam, para pemimpin kudeta yang berada di gedung Bendlerblock (http://en.wikipedia.org/wiki/Bendlerblock), kantor Departemen Pertahanan pemerintah Jerman pada saat itu, ditangkap. Mereka adalah Jenderal Olbricht, Kolonel Stauffenberg, Letnan Haeftner, dan Kolonel Mertz Quirnherm. Ludwig Beck memilih bunuh diri dihadapan para tentara yang masih setia kepada Hitler. Di front Timur, Mayor Jenderal von Tresckow bunuh diri dengan sebuah granat tangan setelah ia mengetahui Operasi Militer Valkyrie gagal. Kemudian sebagian besar anggota komplotan ini ditangkap, termasuk Erwin von Witzleben, dan Carl Goerdeler calon kanselir Jerman bentukan para pemberontak. Mereka dieksekusi mati.
http://img26.imageshack.us/img26/6506/germanresistance.jpg
Monumen di Bendlerblock (http://en.wikipedia.org/wiki/Bendlerblock) : Gugur disini demi Jerman pada 20 Juli 1944: Kolonel Jenderal Ludwig Beck, Jenderal InfantriFriedrich Olbricht, Kolonel Claus Graf Schenk von Stauffenberg, Kolonel Albrecht Ritter Mertz von Quirnheim, Letnan Senior Werner von Haeften.
Keperkasaan Adolf Hitler tidak berlangsung lama lagi. Dan tidak semua orang Jerman mencintai Hitler, ada banyak kelompok-kelompok anti Hitler yang dikenal dengan "The German Resistance" (http://en.wikipedia.org/wiki/German_Resistance), ada tokoh yang cukup dikenal Dietrich Bonhoeffer (http://www.sarapanpagi.org/dietrich-bonhoeffer-kekristena-duniawi-vt2447.html), seorang rohaniawan turut dalam gerakan anti Nazi. Ia pernah dievakuasi ke Amerika, tapi memilih kembali ke Jerman untuk berjuang demi kebenaran. Dalam salah satu khotbahnya, Bonhoeffer pernah menyatakan bahwa Hitler bukanlah seorang Führer (pemimpin), melainkan Verführer (penyesat). Ia ditahan bulan Maret 1943, dan dieksekusi dengan hukuman gantung tanggal 9 April 1945 di kamp konsentrasi Flossenbürg, seminggu sebelum pecahnya Pertempuran Berlin (Battle of Berlin) yang berujung dengan takluknya ibukota Jerman tersebut. Adolf Hitler bunuh diri pada 30 April tahun 1945 bersama istrinya (Eva Braun) yang dinikahinya belum lama. Adolf Hitler sang Führer menghabisi dirinya sendiri di bunker bawah tanah-nya. Sebuah harga dari kegagalan impiannya untuk menguasai dunia. Kematian Hitler menjadi tanda runtuhnya rezim Nazi.
qbiz
March 31, 2009, 04:31
Film Sejarah Jerman "Rasa Amerika"
Ada hal yang jelas dapat dilihat sebagai "hal yang kurang wajar" dalam kemasan film Valkyrie (http://www.imdb.com/title/tt0985699/) ini. Yaitu penempatan power/ wewenang dari Kolonel Stauffenberg yang terlihat lebih dominan daripada peran-peran para elit politik dan dewan jenderal dari kelompok pemberontak itu. Misalnya peran dari Jenderal Friedrich Olbricht (Bill Nighy (http://www.imdb.com/name/nm0631490/)) lebih seperti "Alfred Pennyworth" bagi sang master Bruce Waine alias Batman. Padahal tentu saja peran Jenderal Friedrich Olbricht lebih penting, baik dalam wewenang maupun penyusunan strategi. Film sejarah ini jelas kelihatan "dikemas" menjadi film superhero ala Hollywood. Cirinya jelas "Tom Cruise" sebagai "jagoan tunggal". Memang Kolonel Stauffenberg adalah seorang prajurit yang luar-biasa gagah berani dan rela berkorban untuk bangsa dan negaranya. Namun, Kolonel Stauffenberg hanyalah salah seorang partisipan baru dalam usaha kudeta (yang sebenarnya sudah berlangsung lama). Perannya memang penting karena ia menjadi seorang eksekutor yang menaruh koper berisi bom untuk membunuh Adolf Hitler dan ia ditugasi untuk memobilisasi pasukan cadangan untuk melaksanakan operasi ini. Namun tentu saja kekuasaannya ada dibawah dewan jenderal yang aktif dalam kelompok pemberontak itu.
http://img11.imageshack.us/img11/526/valkyrie2.jpg
Inilah Kaum pemberontak itu, dari kiri: Carl Goerdeler (Kevin McNally (http://www.imdb.com/name/nm0573618/)), Kolonel Mertz von Quirnheim (Christian Berkel (http://www.imdb.com/name/nm0075321/)), Jenderal Friedrich Olbricht (Bill Nighy (http://www.imdb.com/name/nm0631490/)), Kolonel Claus von Stauffenberg (Tom Cruise (http://www.imdb.com/name/nm0000129/)), Ludwig Beck (Terence Stamp (http://www.imdb.com/name/nm0000654/)), Erwin von Witzleben (David Schofield (http://www.imdb.com/name/nm0774516/)) dan Mayor Jendral Henning von Tresckow (Kenneth Branagh (http://www.imdb.com/name/nm0000110/)).
Film Valkyrie (http://www.imdb.com/title/tt0985699/), tokoh Kolonel Stauffenberg sempat menjadi kontroversi di kalangan politisi Jerman juga dari keluarga tokoh Stauffenberg. Film Valkyrie (http://www.imdb.com/title/tt0985699/) semestinya adalah film yang bagus, selain diproduksi dengan biaya yang mahal juga dibuat oleh seorang sutradara yang lumayan beken Bryan Singer (http://www.imdb.com/name/nm0001741/) (X-Men, X2, Superman Returns), apalagi didukung oleh sederetan aktor-aktor yang bagus. Film Valkyrie (http://www.imdb.com/title/tt0985699/) semestinya tak dikemas sebagaimana film-film Amerika yang menonjolkan satu orang super-hero, parahnya lagi superhero yang dipilih memerankannya adalah aktor Tom Cruise (http://www.imdb.com/name/nm0000129/) yang sangat "Amerika". Lengkaplah film yang berlatar sejarah ini berubah menjadi semacam "Superman Returns" yang seturut selera Holywood kebanyakan. Faktor Cruise justru yang membuat film ini terlihat buruk. Dalam film Valkyrie (http://www.imdb.com/title/tt0985699/) ini ada seorang aktor Jerman , barangkali lebih cocok dibanding Cruise, dia adalah Thomas Kretschmann (http://www.imdb.com/name/nm0470981/) berperan sebagai Mayor Otto Ernst Remer. Andai film "Valkyrie" (http://www.imdb.com/title/tt0985699/) dibuat oleh sutradara semisal Ridley Scott (http://www.imdb.com/name/nm0000631/) atau Roman Polanski (http://www.imdb.com/name/nm0000591/), mungkin pemilihan "cast"-nya akan lebih pas, juga latar belakang sejarah yang lebih wajar tidak berubah menjadi "Americanized movie".
Namun film "Valkyrie" (http://www.imdb.com/title/tt0985699/) tidak sepenuhnya buruk, kualitas gambar dan tatanan lokasi cukup bagus. Dan tentu saja masih dapat dikatakan sebuah tontonan yang baik yang memberikan informasi sejarah masa lalu, bahwa di antara para "iblis" masih ada orang-orang yang masih mau mendengar hati nurani ketimbang doktrin-doktrin fasisme ciptaan manusia yang bermimpi punya kuasa seperti Tuhan.
Blessings,
Bagus Pramono
March 29, 2009
GrandTheftAero
May 11, 2009, 09:12
STAR TREK REVIEW
http://i38.tinypic.com/2mfxifq.jpg
Dilengkapi dengan budget yg cukup untuk membiayai 3 atau 4 film pendahulunya, JJ Abrams and crew dengan sukses meluncurkan kembali franchise Star Trek; setelah beberapa tahun kebelakang film2nya semakin lama semakin menurun. JJ Abrams membuat Star Trek baru ini sebagai film yg tidak begitu memerlukan otak (cenderung brainless malah) dan penuh adrenalin, berbeda dibandingkan film2nya yg dulu. Namun dengan
Ini bukanlah reboot tulen, settingnya masih di universe sama dengan The Orginal Series. Tentu saja dengan menggunakan "Time Travel" sebagai convenient plot device, para penulis cerita Alex Kurtzman dan Roberto Orci bisa bebas mengarang semau mereka. Namun mereka masih tetap menghormati universe yg diciptakan Gene Roddenberry. Plot-nya ringan dan boleh dibilang generic, tapi seperti Casino Royale dan The Dark Knight filmnya cukup balance antara renewal dan referensi-nya. Trekkie hardcore mungkin nggak bakal suka dengan tema baru yg membuang elemen2 eksplorasi tema yg 'mendalam' dan diganti dengan pure sensory thrill ride, tapi ya mau bilang apa... yg kek ginilah yg lebih bisa diterima ama 'mainstream'
Direction JJ Abrams terasa semakin solid, setelah Mission: Impossible 3 yg well-film tapi bland. Sayang aja penggunaan shaky-cam yg terkadang terasa agak berlebihan, terutama adegan berantem Kirk & Sulu versus Romulan drill operators. Paul Greengrass must be jealous... Belum lagi penggunaan lens-flare yg agak berlebihan, walaupun gw sendiri gak keberatan tapi jadi teringat jaman Photoshop baru keluar dulu, apa2 semuanya pake lens-flare. Pacingnya cepat dan tight, gak ada scene yg nge-drag.
Akting secara keseluruhan cukup baik. Chris Pine sepertinya bakal laku sebagai leading man setelah film ini. Walaupun cara jalan dan nyentriknya masih kurang dibandingkan William Shatner, he took the role of Captain Kirk as his own while still maintain the characteristics. Sylar... urrrr Zachary Quinto juga dibebani memainkan tokoh yg dicintai fans selama bertahun2, apalagi berhadapan dengan Leonard Nimoy. Namun dia memaenkan sifat2 logikanya Spock dapet banget, dan chemistry antara dia dan Pine bagus dan bisa terlihat kalau keduanya akan menjalin persahabatan di masa depan.
Dari semua aktor yg berusaha meniru pemeran terdahulunya, sepertinya Karl Urban-lah yg terbaik. Yg biasanya bermain sebagai karakter keras, disini Urban memainkan Dr. McCoy lengkap dengan sifat technophobia dan keras kepalanya. Simon Pegg sebagai Scott keliatannya seneng banget bisa maen disini, dan Anton Yelchin sebagai Chekov juga tampil sebagai comic-relief dengan aksen Rusia yg saking kentalnya terkadang terasa seperti parodi. Zoe Saldana is HAWT (rawr) dan memerankan Uhura seperti dia memainkan peran lain (i.e. nothing to write home about) begitu juga dengan John 'Harold' Cho, yg berasa seperti numpang lewat dan suaranya tidak berat dan berwibawa seperti George Takei.
Eric Bana sebagai Nero the villainous Romulan juga bermain dengan baik. Nobody can scream "FIRE EVERYTHING!!" as awesome as him, namun sayang aja motivasinya hanya terbatas kepada "balas dendam" dan apalagi cara pelaksanaannya juga bikin gw garuk2 kepala. Belum lagi senja waktu dari awal film sampai pertengahan yg bikin gw "terus selama ini lu ngapain aje brur?" Anyway, even though he played it well ultimately Nero is still below The Borg Queen or Khan Noonien Singh to be considered as a definitive Star Trek villain.
Visual effectnya yaach, kalo udah diurusin ama ILM mah udah jangan ditanya... Space battle-nya kalau film yg dulu2 bagaikan pertempuran kapal selam diruang angkasa sekarang diganti dengan aerial dogfights between spaceships, hampir berasa seperti Star Wars and it all rendered marvellously by the CG wizards at ILM. Music score dari Michael Giacchino overall is serviceable, though unremarkable... ngga ada epic Vangelis-esque quality seperti musik yg dipakai untuk trailernya, walaupun theme Star Trek classic yg diaransemen kembali cukup membuat bulu kuduk berdiri. Urusan makeup secara keseluruhan cukup solid, terutama asisten-nya Scott walaupun makeup roommatenya Uhura berasa amatiran...
Peran2 lainnya juga dimainkan dengan baik, dari Bruce Greenwood yg memberikan sense of honor and gravitas sebagai Captain Pike. Cameo selebriti seperti Winona Ryder, Jennifer Morrison dan Tyler Perry tidak mengurangi atau menambah filmnya. Leonard Nimoy is awesome as always, kembali kepada peran yg "dibesarkan" olehnya. Monolog dia mengenai persahabatan bertahun2 dengan Kirk bakal membuat para Trekkie terharu.
Semua sen dan dollar dari budgetnya keliatan di layar. production designnya menarik, variatif dan terkadang membingungkan; dari arsitektur planet Vulcan yg nyeleneh sampai San Francisco di abad 24. 'Bridge' Enterprise keliatan seperti Apple Store yg high-tech atau night club New York, tapi anehnya ruangan mesinnya malah kayak ruang mesin dari kapal Titanic, lengkap dengan keran merah yg klasik. Anehnya di jaman Starfleet Federation yg katanya udah meninggalkan jaman kapitalisme, masih ada 2 product placement yg nyempil di film ini :D
All in all, a really good sci-fi action film. Orang2 awam pasti gak bakalan kecewa, kalo buat die-hard trekkie wah gak tau ya... Personally, I really enjoyed it and look forward for the Blu-ray release.
8.5 / 10 ::up::
GrandTheftAero
May 25, 2009, 08:21
TERMINATOR SALVATION REVIEW
http://i196.photobucket.com/albums/aa26/lampard_888/Terminator_Salvation_2-1.jpg
Selama dua puluh tahun lebih, fans dari franchise Terminator penasaran seperti apa perang post-apocalyptic antara umat manusia melawan kaum mesin. Kita baru ngintip sedikit dari The Terminator, lalu Terminator 2: Judgment Day dan Terminator 3: Rise of the Machines memberikan bocoran lebih besar. Ada sih T2 3D: Battle Across Time (http://www.youtube.com/watch?v=ivRqeyqmraw), namun sepertinya gak diitung karena cuma sekedar ajang wahana di Universal Studios. Terminator Salvation adalah pertama kalinya audience bener2 dibawa ke masa depan, dimana dunia sudah hancur oleh serangan nuklir yg diluncurkan oleh supercomputer Skynet.
Sayangnya script dari John D. Brancato dan Michael Ferris (from Terminator 3 & Catwoman, of all people!! >:[ ) dibantu oleh Jonathan Nolan (The Dark Knight) tidak menambahkan event signifikan buat plot cerita dari timeline Terminator. Intinya, John Connor must meet Kyle Reese, and get scarred in the face. The end. Jangan harap bisa melihat John Connor menjadi pemimpin yg inspiratif dan membawa kemenangan melawan kaum mesin. Nope. Disini Connor cuman sekedar "sersan" yg masih emo akan statusnya yg disebut2 sebagiai penyelamat. "Salvation" my ass. Scriptnya lebih berfokus kepada Marcus Wright, seorang napi yg menyumbangkan badannya untuk eksperimen ilmiah oleh perusahaan (yg bernama Cyberdyne siapa lagi?), dan kemudian bangun kembali di tahun 2018. Selain inti cerita yg "biasa aja" scriptnya juga dicerca dengan plothole yg guede banget, logika yg bikin garuk2 kepala dan penempatan one-liner dari film2 Terminator pendahulunya yg maksa. Selain itu, TS juga menderita campur tangan dari pihak Warner Brothers yg merasa setelah kasus Watchmen yg merugi mereka menjadi takut untuk merilis film R-Rated yg berdurasi lebih dari 2 jam. Walhasil, biarpun berdurasi 2 jam 10 menit, transisi antara adegan di TS terasa sangat kasar dan keliatan kalo ada beberapa subplot yg dibabat abis.
Dalam segi akting, it's quite a mixed bag; dari yg bagus sampai yg gak niat. Sam Worthington, the up-and-rising future action star, bermain cukup baik dengan apapun materi yg disodorkan skrip bulukan itu. Dia bisa membawakan peran "The Badass Guy" sebagai karakter yg utuh, tanpa harus menjadi cheesy (walaupun aksen aussienya nyelip dikit2). Our main man, Christian Bale mainnya seperti nggak niat, performance-nya overall terasa kaku dan juga berkat scriptnya, karakter John Connor seperti berjalan auto-pilot. Jadi mikir, apa di scriptnya ada catatan pinggir "John Connor must look and act brooding throughout the whole film, except when he's yelling on the radio"? Atau professionalisme Shane Hurlbut yg selalu la-de-da dengan perlengkapan lightingnya bikin Bale tidak konsentrasi sepanjang syuting? Who knows. Bryce Dallas Howard, a fine actress that she is, karakternya nggak ngapa2in dan kerjanya cuman melongo doang sepanjang film. Belum lagi Common yg numpang lewat doang, dan Jadagrace sebagai anak kecil bisu pendamping Kyle Reese yg tugasnya cuman ngasih barang penting di saat2 genting.
Mungkin dari semua cast, selain Sam Worthington si Anton Yelchin yg mencuri perhatian. Si 'Charlie Bartlett' ini dapet banget mannerism Kyle Reese-nya. Gw jadi percaya ini adalah versi muda dari Kyle Reese di Terminator 1984 dulu. Interaksi antara Marcus Wright dan Kyle Reese mungkin adalah salah satu highlight di film ini. Namun sayang setelah paruh awal yg menjanjikan peran Kyle Reese melumut masuk kotak dalam paruh akhir. Lalu ada Moon Bloodgood yg bermain ok sebagai Blair Williams, pilot human resistance yg motivasi dan interaksinya dengan Marcus terkadang terasa menggelikan. Helena Bonham Carter dan Sam Fisher ...urr Michael Ironside berusaha keras untuk tidak terjebak dengan materi dangkal nan menggelikan yg diberikan script, to a mixed results.
Secara teknikal gak ada yg salah di film ini. Cinematography professional punya, production designnya cukup kreatif, landscape gurun post-apocalyptic memberikan 'vibe' Mad Max, dan juga disain robot2 yg variatif dari Harvester, MotoTerminator, T-600 semuanya menarik, dan tentu saja didukung dengan special effects oleh ILM.
Dalam segi penyutradaraan, Joseph McGinty Nichols alias McG bekerja dengan sangat kompeten. Banyak orang yg meragukan kemampuannya, terutama setelah melihat CV film bioskop yg dikerjakan dia seperti Charlie's Angels yg jayus dan terlewat stylish dan juga Full Throttle yg sangat buruk itu. Namun di tangan dia, TS digarap dengan serius, semua shot ditata dengan rapi dan adegan action-nya dishot dengan komposisi yang jelas (ditunjang dengan lighting professionalnya Shane Hurlbut) dan sense of geography yg benar jadi audience tidak merasa kehilangan ditengah2 kekacauan adegan action yg gila2an. Sepertinya dia lebih ngikutin James Cameron daripada kontemporer-nya (i.e. Michael Bay). Gue yakin, dengan skrip yg baik, dia bisa bikin film yg bagus.
Walaupun tidak didukung dengan script yg bagus, setidaknya Terminator Salvation adalah film yg utuh dengan jalan ceritanya sendiri, tidak seperti Terminator 3 yg intinya adalah remake dari Terminator 2 (http://terminatorguide.webs.com/T3special.htm). Setelah ditinggalkan James Cameron, seri Terminator udah berasa kehabisan bensin, dengan T3 yg maksa dan serial Sarah Connor Chronicles yg gak dianggap kanon. Lalu dengan script yg buruk, TS should not work at all, and have a possibility to be a cinematic disaster. Tapi talenta McG and production crew membuat filmnya layak ditonton sebagai spectacle yg cukup thrilling. It may not be a good entry to the franchise, but as an action film it's above-average. Layak ditonton di layar lebar yg ditunjang dengan sound system yg ok.
6 / 10
Movie Review : GARUDA DI DADAKU
Pemain :
Emir Mahira : Bayu
Aldo Tansani : Heri
Marsha Aruan : Zahra
Ikranagara : Kakek Usman
Maudy Koesnaedi : Ibu Wahyuni
Ary Sihasale : Pak Johan, pelatih sekolah sepakbola
Ramzi : Bang Duloh
Sutradara : Ifa Isfansyah
Penulis Skenario : Salman Aristo (Ayat Ayat Cinta, Laskar Pelangi, Kambing Jantan)
Penata Musik : Aksan Sjuman dan Titi Sjuman (http://www.imdb.com/name/nm2379408/) (Laskar Pelangi, King)
Produser : Shanty Harmayn
Produksi : Sbo Films Dam Mizan Productions
http://img198.imageshack.us/img198/1718/garudadidadaku.jpg
Garuda di dadaku, Garuda kebanggaanku
Kuyakin hari ini pasti menang
Kobarkan semangatmu, tunjukkan mobilitasmu
Kuyakin hari ini pasti menang
Lagu "Garuda di Dadaku" adalah lagu yang selalu dinyanyikan PSSI (timnas sepak bola Indonesia) setiap akan bertanding. Lagu ini notasinya diambil dari lagu daerah asal Papua, Apusé.
Meski sepak bola merupakan olahraga dan hiburan rakyat Indonesia, namun ada semacam pemikiran pada sebagian orang-orang Indonesia bahwa menjadi pemain sepak bola identik dengan hidup miskin dan tidak punya masa depan. Dalam film ini, pemikiran itu pula yang selalu terlontar pernyataan-pernyataan Kakek Usman (Ikranegara) agar Bayu (Emir Mahira), cucunya itu tidak akan menjadi pemain sepak bola seperti ayahnya. Melalui film ini, ada pesan khusus kepada kita semua, bahwa kita perlu mengapresiasi olah-raga sepak bola dan para pemainnya. Melalui sepak bola nasional, kita mengenal salah satu atlit cerdas yang dimiliki Indonesia, Bambang Pamungkas dan masih banyak deretan nama-nama lainnya yang menjadi icon timnas PSSI di masa lalu .
Bayu, 12 tahun yang masih duduk di kelas 6 Sekolah Dasar, menghadapi dilema menyenangkan kakeknya atau meraih mimpi dalam hidupnya menjadi pemain sepak bola hebat. Setiap hari Bayu secara diam-diam berlatih sepak bola sendiri dengan penuh semangat, ia menggiring bola menyusuri gang-gang di sekitar rumahnya sambil mendribble bola "rolling-rolling" untuk sampai ke lapangan bulu tangkis bermain dengan anak-anak lainnya. Beruntung Bayu mempunyai sahabat yang bernama Heri (Aldo Tansani) si penggila bola, Heri selalu mendorong agar Bayu untuk masuk Tim Nasional U-13 yang nantinya akan mewakili Indonesia berlaga di arena internasional.
Dengan dukungan sahabatnya ini, Bayu menjadi pantang menyerah untuk meraih mimpinya menjadi pemain sepak bola. Dibantu teman baru bernama Zahra yang misterius, Bayu dan Heri harus mencari-cari berbagai alasan kepada Sang Kakek, agar Bayu dapat terus berlatih sepak bola. Tetapi hambatan demi hambatan terus menghadang mimpi Bayu ini, dan bahkan persahabatan tiga anak itu terancam putus. Konflik inilah yang dikemas secara apik oleh sang penulis dengan menanamkan nilai-nilai pendidikan, semangat hidup dan persahabatan yang terjalin erat diantara anak-anak dari kelas sosial yang berbeda.
Bayu, Heri dan Zahra (Marsha Aruan) adalah anak-anak yang mempunyai kendalanya masing-masing, namun mereka bukanlah tipe anak-anak yang loyo, yang gampang menyerah. Heri meski ia cacat tetapi justru menjadi motivator handal bagi Bayu, Zahra dari kalangan jelata pun mempunyai potensi yang bisa diandalkan dengan jiwa seninya. Bayu menghadapi ambisi besar sang Kakek dan harus menjadi anak yang penurut, namun di balik itu, ia justru melakukan sebuah pemberontakan karena ia mempunyai mimpi dan ambisi yang lebih besar untuk menjadi pemain sepak bola. Dan pada akhirnya mimpi Bayu yang kuat ini, berakhir pada kebahagiaan. Lewat kerja keras dan dukungan sahabat-sahabat yang memicu semangatnya dan sekaligus usaha mendapat restu dari sang Kakek.
Garuda di Dadaku adalah film Indonesia yang bagus dan mendidik, Ikranegara menampilkan figur kakek yang sesuai dengan karakter cerita. Ari Sihasale melakukan totalitas karakter sebagai seorang pelatih sepakbola. Dan ada haru, kadang juga jenaka dan tawa. Pada bagian ini, apresiasi, layak diberikan kepada Ramzi, yang berperan sebagai Bang Duloh. Apresiasi khusus kepada Aksan Sjuman dan Titi Sjuman, pasangan suami istri ini menghadirkan music score yang bagus sekali, yang mampu membawa para penonton pada suasana batin yang riuh dan gempita. Dengan musik itu, membawa mata kita memandang bagaimana Bayu, sang pemain bola cilik itu menggiring bola di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Bola, bila sudah dalam penguasaan kakinya sulit direbut lawan. Kaki Bayu seolah mencengkram bola itu sekuat burung Garuda. Aksan dan Titi Sjuman memilih scoring musiknya ini ditampilkan oleh Beijing Simphony Orchestra di Beijing, China.
Selain pesan-pesan pendidikan, semangat pluralitas dan persahabatan ditampilkan secara lugas. Dalam film ini juga membawa kembali pesan-pesan bagi anak-anak kita untuk kembali mengingat akan lambang negara kita Garuda Pancasila yang tertera jelas pada seragam timnas PSSI. Pancasila sebagai falsafah dasar bernegara dan berpedoman hidup bangsa Indonesia pada masa sekarang ini sedikit demi sedikit telah ditinggalkan dalam sistem pendidikan di Indonesia ini. Sehingga banyak perilaku remaja masa sekarang yang tidak mencerminkan pribadinya sebagai warga Indonesia yang berasaskan pancasila. Melalui "Garuda di Dadaku" mari kita kembali untuk sadar, bahwa Pancasila itu mengandung toleransi, dan sila-sila dari Pancasila itu terdiri dari nilai-nilai dan norma-norma yang positif yang sesuai dengan pandangan hidup bangsa Indonesia.
http://img188.imageshack.us/img188/7782/bambangpamungkas.jpg
Bambang Pamungkas
Ada Garuda di dadaku
Ada cinta buat negeriku Indonesia Raya.
Blessings,
Bagus Pramono
June 24, 2009.
http://portal.sarapanpagi.org/entertainment/movie-review-garuda-di-dadaku.html
KING, Sang Legenda
http://img10.imageshack.us/img10/6733/kingpostert.jpg
Pemain :
Rangga Raditya – Guntur
Mamiek Prakoso – Pak Tejo
Lucky Martin – Raden
Ario Wahab – Mas Raino
Asrul Dahlan – Bang Bujang
Wawan Wanisar – Pak Lurah
Yati Surachman – nenek Raden
Surya Saputra – Pelatih Bulutangkis
Sutradara : Ari Sihasale
Dirmawan Hatta – penulis skenario
Penata Musik : Aksan Sjuman dan Titi Sjuman
Produser : Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen Sihasale.
Produksi : Alenia Productions
Movie Review :
Setelah "Garuda di Dadaku" (http://portal.sarapanpagi.org/entertainment/movie-review-garuda-di-dadaku.html) Satu lagi film anak-anak plus olah-raga turut meramaikan musim liburan kali ini. Judulnya pendek saja "KING", film cerita pertama di dunia yang bercerita tentang olah-raga Bulutangkis. "KING" adalah karya perdana dari sutradara Ari Sihasale, seorang aktor senior sekaligus produser yang sukses menelorkan "DENIAS – Senandung di Atas Awan" (http://portal.sarapanpagi.org/entertainment/denias-senandung-di-atas-awan.html) dan "Liburan Seru". "KING" diproduksi oleh Alenia Productions yang didirikan oleh Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen. Dua sejoli ini aktif membuat film, setelah sukses dengan "Denias", kini mereka menghadirkan "KING" yang kisahnya terinspirasi legenda bulutangkis Indonesia, Liem Swie King (28 Februari 1956 - ). Walaupun memang ada banyak deretan nama-nama legenda Bulutangkis di Indonesia, seperti Rudi Hartono, Tan Joe Hok, Iie Sumirat, Christian Hadinata, Ade Chandra, Tjun Tjun, Johan Wahyudi, Icuk Sugiarto, Alan Budi Kusuma, Susi Susanti,, dan lain-lain, namun hanya ada satu yang mempunyai ciri khas yang dikenang sampai sekarang, yaitu smash dengan cara melompat (jumping smash) yang kemudian dikenal dengan sebutan "King Smash" yang hingga kini masih melegenda dan ditiru oleh pemain-pemain dunia.
Film "KING" ini mengemas drama keluarga sarat dengan pesan pendidikan, perjuangan, dan nasionalisme. "KING" mengisahkan perjuangan dalam prestasi olah raga dari seorang anak dari desa, dengan kemauan dan latihan yang keras akan membawakan hasil yang heran. Senada dengan film "Garuda di Dadaku" (http://portal.sarapanpagi.org/entertainment/movie-review-garuda-di-dadaku.html), film "KING" ini disamping bertema olah-raga juga tentang persahabatan, suatu persahabatan ala "Hamlet dan Horatio". Suatu jenis persahabatan yang dapat mengungkapkan kepada kita bahwa manusia tidak dapat hidup sendirian. Setiap kesuksesan, apapun jenisnya selalu memerlukan dukungan dari orang-orang sekitarnya yang terdekat.
Pak Tejo adalah seorang ayah yang begitu mengidolakan salah-satu superstar Bulutangkis Indonesia Liem Swie King. Sehingga anaknya pun dinamai Guntur (nama lain Liem Swie King). Mamiek Prakoso cukup bagus memerankan karakter Pak Tejo sangat mencintai Bulutangkis dan dia menularkan semangat dan kecintaannya itu pada Guntur. Pak Tejo adalah seorang komentator pertandingan Bulutangkis antar kampung yang juga bekerja sebagai pengumpul bulu-angsa, bahan untuk pembuatan shuttle-cock. Walaupun dia sendiri tidak bisa menjadi seorang juara bulutangkis, ia berambisi agar anaknya Guntur ini akan menjadi juara Bulutangkis. Guntur, setiap kali berlaga di arena Bulutangkis di kampungnya, ia dijuluki "King" dengan harapan agar si Guntur kecil ini suatu saat nanti akan menjadi juara seperti Liem Swie King. Di pihak lain, didikan keras dan disiplin dari Pak Tejo ini sering membuat Guntur tertekan.
Raden adalah sosok "Horatio" bagi Guntur, Raden adalah teman yang sejati. Ia setia dan bersedia melakukan apa saja agar sahabatnya ini dapat menjadi juara. Raden menyadari betul bahwa sang bakal juara ini perlu dukungan seorang teman sebayanya. Raden tahu betul bahwa ayah Guntur telah melatihnya dengan sangat keras. Maka Raden menempatkan dirinya khusus sebagai penghibur sekaligus penyemangat agar sang bakal juara ini tidak pernah putus-asa. Dialek-dialek khas Jawa-Timuran membuat film ini mempunyai sentuhan-sentuhan jenaka seperti "ngawur koen", "gak asik koen", "ayune rek...". Lucky Martin pemeran tokoh Raden ini mempunyai pembawaan yang pas untuk memainkan tokoh Raden yang jenaka, yang sifatnya ini berseberangan dengan Guntur yang mempunyai sikap temperamental. Namun kedua karakter ini menjalin hubungan yang erat dan menjadi sahabat sejati. Raden, senantiasa mendorong dan berusaha dengan berbagai macam akal, agar Guntur dapat diterima masuk ke dalam klub PB Djarum di kota Kudus yang banyak melahirkan pemain nasional.
"KING" adalah film keluarga yang ringan, menghibur tapi berbobot. Sebagai insan film yang memiliki idealisme, Ari Sihasale di filmnya ini bekerja cukup hati-hati untuk perolehan produksi film yang baik. Ia berusaha menampilkan karakter Guntur yang di satu sisi, ia harus mampu berakting dengan baik, tetapi sekaligus juga harus dapat bermain Bulutangkis dengan sempurna. Untuk itu, ia meminta bantuan Hastomo Arbi sebagai penasehat tekhnis Bulutangkis dan sekaligus menjadikan aktor belia pendatang baru, Rangga Raditya menjadi seorang pemain Bulutangkis yang baik sekaligus aktor yang baik. Demikian juga pemilihan lokasi syuting, Ari Sihasale mampu memberikan sinematografi yang cantik yang diambil dari kawasan Kawah Ijen dengan perkampungannya, Pasar Blambangan, Banyuwangi, dan Baluran – Jawa Timur. Perlu kita diperhatikan dan hayati, sajian musik latar yang bagus dan inspiratif disajikan dan dikemas dengan baik oleh Aksan dan Titi Sjuman.
Di film "KING" ini juga memunculkan sederetan atlet Bulutangkis sebagai cameo – yang memerankan diri sendiri – tentu saja tokoh utama Liem Swie King dan beberapa bintang lain seperti Hariyanto Arbi, Hastomo Arbi, Ivanna Lie, Rosiana Tendean, dan Maria Kristin. Film ini mengangkat pula rasa nasionalisme masyarakat, sekaligus mengangkat citra Bulutangkis Indonesia sekaligus penghormatan kepada para pahlawan Bulutangkis negeri ini. Semangat nasionalisme menjadi semakin kental dengan hadirnya lagu kebangsaan "Indonesia Raya" di akhir cerita. Film ini dapat menjadi motivasi bagi anak-anak kita dengan sukses KING, bahwa keberhasilah hanya diraih dengan kerja keras dan usaha tanpa henti untuk menjadi yang terbaik. Menjadi juara itu bukan kebetulan, sebaliknya senantiasa ada persiapan yang panjang dan latihan yang disiplin.
Bravo KING!
http://sejahterabadminton.files.wordpress.com/2009/06/liem.jpg
Video The "King's smash" by Liem Swie King :
http://www.youtube.com/watch?v=94p10aoMNiA
Blessings,
Bagus Pramono
1 Juli 2009
http://portal.sarapanpagi.org/entertainment/king-sang-legenda.html
denny_frost
July 08, 2009, 12:58
The Hannah Montana Movie (2009)
Love it Love it Love it Love it Love it Love it Love it
bener-bener puas banget gw dengan Hannah Montana The Movie ini, sangat jauh lebih bagus daripada tv seriesnya, jelas hampir sempurna, sayang di awal2 aja yg gw krng demen, ama bbrp joke jg gak lucu dan krng lucu. Tapi setelah Miley/Hannah ini mulai ada di desanya, film ini jelas cukup sempurna di jokes dan dramanya dapet banget, pesan di akhir film juga sangat mengena dan bbrp kali scene yg heartwarming/mengharukan. Film ini juga cukup romantis, chemistry Miley dengan Travis dapet banget
Miley di Hannah Montana The Movie ini sangat charm, lovely, beautiful and sexy. Jelas dia dah bertambah dewasa dan penampilannya patut di acungi jempol, sayang dia tidak berhasil memenangkan breakthrough artist di MTV Movie Awards 2009 yg di menangkan oleh Ashley Tisdale itu (i like her too), melihat penampilannya di sini, gw rasa jika terus mengasah kemampuannya dan juga pandai dalam memilih script dan juga tidak berkutat-kutat sebagai Hannah Montana, saja niscaya dia bakal menjadi artis yg hebat, melihat seniornya dulu dan idolanya Hilary Duff (idola gw dulu jg) yg krng mendapat film yg bagus dan skrng berkutat di film independen, memang gw sndr agak ragu, kalau2 saja Miley akan seperti Hilary yg krng sukses di dunia film saat ini, gw harap Hilary Duff jg akan bangkit kembail, tapi Miley jelas bukan Hilary Duff, serial Hannah Montananya jelas lbh terkenal dari Lizzie McGuire dan juga lagu2 Miley jg lbh booming drpd Hilary Duff. Jadi gw optimis Miley Cyrus akan menjadi entertainer/bintang film/penyanyi yg hebat
untuk lagu2 jelas gw sangat suka, apalagi aksi panggung Miley/Hannah, ditambah dgn penampilan Taylor Swift semakin membuat film ini menjadi sempurna. Bagi yg krng menyukai lagu2 dari Miley/Disney/Country kmngkn akan krng menyukai film ini, krn jelas film ini bnyk unsur2 lagi Miley/Disney/Country
mengenai rating di IMDB yg hancur lebur gw rasa di karenakan krn bnykny Miley/Disney Haters yg mungkin saja ga nonton film ini tapi nge vote dgn nilai terburuk, namun memang bnyk jg yg ngaggep film ini jg terlalu biasa, plot jelek, overacting, dll. Ya gw rasa memang plot standar saja dan simpel krn memang lbh di tujukkan buat anak2, tapi jelas hanya di awal aja film ini krng bagus namun setelah itu layak untuk di tonton, apalagi untuk anak2 maupun remaja, sangat cocok untuk di tonton satu keluarga krn Hannah Montana The Movie ini bisa di bilang film keluarga. Jika mau di bandingkan rottentomatoes dan metacritic msng2 memberikan nilai keseluruhan gabungan kritikus adalah 46 dan 47, hal yg sama di peroleh High School Musical 3 yg hancur lebur di IMDB namun memiliki nilai yg jauh lbh baik di rottentomatoes dan metacritic, jadi kalau boleh di bilang, dibenci penonton awam (mngkn haters) tetapi cukup di sukai oleh kritikus baik Hannah Montana The Movie maupun High School Musical 3, mngkn orng2 hny iri saja dgn kesuksesan 2 franchise Disney itu, tapi memang lagi2 gw bilang bisa saja memang banyak orng yg telah menonton dan memang sangat tidak menyukai film ini
bsk rencana mau nonton lagi ama temen gw, tadi ama keluarga gw dan jelas bgt gw pasti bakal beli Blu-raynya, di amazon.com msh mahal banget 40 dolar, dulu gw liat 30 dolaran dech, parah bgt, tunggu diskon gede aja, ato plng nunggu amazon.co.uk aja yg beli 2 dapet 3 itu, HSM 3 gw dpt pake cara itu http://forum.kafegaul.com/images/smilies/biggrin.gif
tadinya mau di beri nilai sempurna, tetapi bbrp joke krng kena/lucu, ama awal2 film ini krng bagus
9.5/10
CyberDorama
July 08, 2009, 13:29
film jadul nih wkwkwk
Chakushin Ari 1 (One Missed Call 1)
Film tahun 2003 menceritakan kutukan yang memakan korbannya melalui Chakushin Ari atau voice mail. Nakamuri Yumi dan Yoko sedang menghadiri sebuah pesta kecil ketika ponsel Yoko berdering dimana deringannya tidak pernah keduanya dengar sebelumnya. Ternyata, dia mendapatkan 1 voice message (Chakushin Ari) yang dikirim oleh Yoko dari masa depan berisi suara "ah.. ame..." (it's raining) diikuti dengan suara teriakan Yoko. Ternyata, hal itu benar-benar terjadi. Di lain waktu, teman Yoko yang lain menjadi korbannya. Yumi pun kemudian mendapatkan bahwa ternyata kutukan tersebut akan menyerang salah seorang yang nomornya terdaftar pada kontak ponsel milik korban sebelumnya. Bersama seorang laki-laki yang adiknya menjadi korban dari Chakushin Ari, Nakamura Yumi mencari bagaimana menghentikan kutukan tersebut. Movie ini diakhiri tanpa penjelasan apakah kutukan Chakushin Ari telah berhasil dihentikan atau tidak. Menurut gw pribadi, versi TV Series (renzoku)nya jauh lebih seru dan bagus dibandingkan movie ini (juga menceritakan Nakamura Yumi yang berbeda tetapi). Film ini sudah diadaptasi menjadi One Missed Call oleh Amerika(?) dengan budget tinggi dan khas western lah (seperti adaptasi Ringu oleh The Ring yang ga mengena banget 3/10).
Overall: 7/10
Versi Renzoku: 9.3/10
CyberDorama
July 14, 2009, 03:10
Chakushin Ari 2
Chakushin ARi 2 menceritakan seorang guru yang ayah temannya meninggal karena mengangkat telepon dari temannya tersebut di hari yang akan mendatang. Hingga akhirnya, sang guru ini sendiri menerima telepon darinya di masa yang mendatang. Selidik punya selidik, kasus ini ternyata berbeda dengan kasus Chakushin Ari yang lain dimana sang korban selalu mengeluarkan permen merah dari mulutnya. Tetapi, di dalam tubuh setiap korban terdapat bahan tambang! Ia dibantu pacarnya dan seorang wartawan yang pacarnya juga mendapat one missed call untuk menggaghalkan kutukan tersebut yang berasal daeri Li Li (bukan Mimiko) di akhir cerita akan diketahui bahwa wartawan tersebut sebenarnya sudah mati dan sama seperti Nakamura Yumi, ia menjadi setan meninggalkan tubuhnya dan kemudian membunuh pacarnya(?). Di akhir cerita, ia akan mengeluarkan permen dari dalam tubuhnya dan tertawa terbahak2
Menurut gw, Chakushin Ari 2 ini adalah yg paling bagus dibandingkan prekuel dan sekuelnya/ Pengembangan karakter sangat baik dan cukup menegangkan dan alur ceritanya cepat. Kelemahannya, mungkin adegan2 yang berdarah2 dan mengerikan agak kurang dan lagi2 endingnya yg kurang jelas.
Akting : 4.5 / 5
Pengembangan Karakter : 4.8 / 5
Alur : 4.5 / 5
Overall : 9/10
Prekuel: 7/10
Renzoku: 9.3/10
Sekuel : 5/10
denny_frost
September 07, 2009, 15:03
Hannah Montana The Movie My Blu-ray Review - Peter Chelsom said "Miley could do movie like Juno" "Miley Stewart = Clark Kent"
http://i160.photobucket.com/albums/t193/denny_frost/DSC00467.jpg
http://i160.photobucket.com/albums/t193/denny_frost/DSC00475.jpg
Film
Untuk film dah gw tulis panjang lebar di http://forum.wgaul.com/showpost.php?p=4157669&postcount=364
review singkatnya This is my fav film of all time :), but not my best film of all time :)
gw skrng membahas Blu-raynya
sdkt sharing tentang Blu-ray
Blu-ray adalah teknologi baru yg di luncurkan tahun 2006 oleh Sony, sblmnya ada HD-DVD keluaran Toshiba yg jg setingkat kualitasnya dgn Blu-ray namun pada akhirnya Blu-ray menang format war dan HD-DVD skrng hanya tinggal sejarah
Kelebihan Blu-ray di banding DVD
DVD Single Layer kapasitasnya hanya mampu 4.7 Giga, Dual Layer 8.5 Giga
sedangkan Blu-ray Single Layer kapasitasnya 25 Giga, Dual Layer 50 Giga
Resolusi DVD hanya mampu 480i atau 720×480 (NTSC) or 720×576 (PAL) sedangkan Blu-ray mencapai
1080p atau 1920x1080
Lanjut ke Blu-ray Hannah Montana
Video
Hannah Montana: The Movie menggunakan 1080p/AVC-encoded transfer, gmbr sudah cukup tajam dan
jelas lbh baik drpd gambar di DVD ataupun di Bioskopnya. Namun bbrp adegan terasa kurang
maksimal ketajaman gambarnya
9/10
Sound
memakai DTS-HD Master Audio 7.1 surround, sudah luar biasa, namun gw lbh suka PCM Uncompressed
jadi suara bener-bener tidak di compress :)
8/10
Features
* Audio Commentary dari Peter Chelsom Sutradara Film Hannah Montana The Movie : Gw sangat suka dgn Audio Commentary nya apalagi ada textnya sehingga ga usah susah-susah konsentrasi buat dengernya :D. Berbagai hal menarik di ucapkan oleh Peter Chelsom
- Miley could do a film like Juno = Wow, ini sebuah pernyataan yg menarik krn, Juno sndr adalah Film kualitas Oscar dan Ellen Page sndr mendapatkan nominasi Oscar di sana, gw sndr lom menonton Juno, tetapi pendapat gw Miley berakting sangat baik di Hannah Montana The Movie ini dan Peter Chelsom sndr dan gw jg mengatakan Miley akan menjadi bintang film yang besar dan gw rasa dia bisa saja mendapat Golden Globe atau Oscar, kita tunggu saja film terbaru dia The Last Song
- Miley Stewart = Clark Kent = gw rasa ini adalah sebuah pembelaan terhadap kritikus yg mengatakan "Bagaimana mungkin orng tidak tahu kalau Miley Stewart = Hannah Montana di dlm film itu nah sutradara dan produser sndr dan jg gw jg berpikir Clark Kent = Superman saja orng pada tidak tahu, jadi sepertinya sah-sah saja kalau Miley Stewart = Hannah Montana orng di dlm film itu tidak tahu
- Setidaknya ada 4x menggunakan special effect
Adegan Miley di kejar ayam menggunakan special effect krn ayamnya susah di latih untuk mengejar Miley
Adegan Oswald dan Jackson yg berhadapan dgn buaya jg merupakan special effect
Adegan Oswald yg jatuh krn buah kenari yg di buka Miley dari truk jg memakai special effect,
jadi Oswald diikatkan tali ke trailer sehingga jatuhnya bisa di atur, kemudian talinya di hilangkan dgn special effect
Adegan terakhir Hannah bernyanyi You'll Always Find Your Way Back Home kemudian long shot memperlihatkan seluruh theme park, sebenarnya orang-orangnya tidak sebanyak itu, cuma di tambahkan dgn special effect seperti halnya film 300
- Peter Chelsom sangat menyukai Tara Banks, sehingga Tara Banks bisa ada di film ini, Peter Chelsom sampai bilang "I Love Her"
- Kotak Make Up Miley merupakan ide dari Peter Chelsom
- Peter Chelsom "memaksa" semua pemain dan kru untuk dance Hoedown. Para pemain dan krujg "memaksa" Peter Chelsom untuk dance juga
- Peter Chelsom mengatakan kalau membuat film ini sangat menyenangkan, sehingga dia ingin membuat film ini lagi, come on Chelsom give me sequel :D
- Peter Chelsom mengatakan Lucas Till yg berperan sebagai Travis Brody akan menjadi big star
* Backstage Disney (HD, 54 minutes):
The Hoedown Throwdown Home Experience" (a twenty-five minute, two-part Blu-ray exclusive)
ada 2 bagian, bagian ke 1 menceritakan bagaimana para pemain latihan dance hoedown dan berkomentar tentang dance itu. Bagian ke 2 di ajarkan cara dance hoedown oleh koreografer, Mitchel Musso dan Moises Arias
"Find Your Way Back
Menceritakan kampung halaman Miley Cyrus dan Emily Osment
Miley bisa dikatakan dari kota kecil atau bisa juga di katakan desa. Miley sendiri memang lahir di Franklin, Tennesse di mana syuting film ini
Emily Osment merupakan gadis kota dan ia pun menceritakan tentang kota Los Angeles
"I Should Have Gone to Film School”
lebih berbau teknis dan banyak istilah-istilah film yang menarik untuk di pelajari dan menceritakan behind the scene pembuatan Hannah Montana The Movie juga
* Deleted Scenes (HD, 11 minutes):
ada 4 deleted scene
- Miley sedang bermain gitar dan berdiskusi dgn ayahnya
- Jackson sebenarnya tidak masuk universitas dan dia berusaha membohongi ayahnya, sayang jg scene ini hilang krn cukup lucu
- Oswald yg memesan kamar motel dan mendapati kalau ada burung unta dan buaya di kamarnya, buayanya sndr memakai special effect
* Music Videos (HD, 27 minutes): ada 7 scene
(six of which are Blu-ray exclusives)
including Billy Ray Cyrus' "Back to Tennessee," Hannah Montana's "You'll Always
Find Your Way Home" and "Let's Get Crazy," Rascal Flatts "Bless the Broken Road," Taylor Swift's
"Crazier," and two performances of Miley Cyrus' "The Climb."
* Outtakes (HD, 4 minutes): Bloopers yg cukup lucu jg
* BD-Live Functionality: gw lom coba
surfangelove
September 16, 2009, 08:14
recent movies dalam tahun ini yg gw tonton di bioskop sih... Transformer 2, Drag me to hell (krn ga ada tontonan lain), Harry Potter 6, Ice age 3 dan terakhir GI JOE... gila i love this movie, kereeeeeeeeeeen abeeeeeesssss!!! efeknya mantafff... pemainnya ganteng (mas tatum channing) hohohoo... film ini seperti menampilkan ke dunia nyata imajinasi cowo2 deh, gadgetnya, mobil2nya, kostumnya dan skill jagoannya di gambarkan dalam bentuk yg sangat cool dan high tech + ada sedikit campuran budaya asia (ninja2an gituh).
FYI.. untuk film Pirates of carribean (salah satu my most fave movies nih!) berikutnya akan dirilis pada musim panas 2011... wadoooooow lama amirrrr!!!! >.< menurut artikel yg gw baca di www.megindo.net tepatnya dari majalah Cinemags! ceritanya ntar tentang usaha jack sparrow dan barbosa dalam mencari air mancur awet muda... film ini merupakan adaptasi dai novel karya Tim Power! jadi kalo udah keburu penasaran, mending beli novelnya aja dulu... biar bisa membayang2kan! :zzz:
qbiz
February 16, 2010, 00:58
MICHAEL JACKSON – This Is It!
http://www.sonymusic.pl/images/albumy/d/this_is_it_430324.jpg
Movie review :
Michael Jackson sang Raja Pop dunia adalah legenda, si genius dan seorang yang dikenal perfeksionis. Yang sering dalam bayangan kita menghadapi seorang yang perfeksionis, kita sering akan menggambarkan orang itu cerewet setengah mati, tidak segan mendamprat orang, galak/ menakutkan seperti dedemit ketika melihat sesuatu yang tidak cocok dengan apa kemauannya. Ah rupanya patron itu tidak dimiliki Michael Jackson. Dalam film berdurasi sekitar 112 menit ini kita disuguhi sebuah presentasi sosok MJ yang humble, sopan terhadap semua rekan kerjanya, entah itu musisi, penari, sound man maupun stage director-nya. Kita bisa menilai ketulusannya terhadap setiap orang karena memang sesi latihan yang difilmkan itu sebenarnya bukan untuk konsumsi publik. MJ sebagai seorang yang menjadi sentral dalam persiapan konser itu mampu me-leading setiap orang dengan tegas namun selalu dibungkus dengan kata-kata yang manis dan sikap yang sopan. Ia memberikan contoh bagaimana betotan bass yang harus dimainkan untuk dapat me-leading sebuah ritme lagu dengan benar, bagaimana piano harus dimainkan, bagaimana sebuah lagu dinyanyikan dengan ekspresi yang total. Seperti ketika ia meminta Orianthi Panagaris, gitarisnya untuk memainkan nada-nada tinggi. Dia berkata kepadanya supaya tidak ragu-ragu untuk memainkan nada tinggi, "It's time for you to shine, we'll be with you, it's time for you to shine...". Sikap-sikap seperti ini ditunjukkan kepada para pemain band dengan cara yang sangat halus dan sopan. Terlihat bahwa ia menganggap setiap orang dalam 'team-work'-nya itu adalah bagian dari dirinya sendiri. Dan dengan cara itu orang-orang disekelilingnya pun mampu mengimbangi dan menuruti kemauan sang bintang untuk bekerja-keras dalam persiapan rencana konser "This Is It" yang sedianya akan dimulai pada July 13, 2009.
Sayang sekali, konser "This Is It" harus dibatalkan karena Sang Bintang meninggal dunia pada tanggal 25 Juni 2009, 18 hari sebelum konser itu dimulai. Sebelumnya tidak pernah ada terpikir bahwa "sesi latihan" yang kini direlease dalam film itu akan dipertontonkan ke publik, demikian kata sang sutradara Kenny Ortega, namun karena kematian MJ yang mendadak itu, akhirnya rekaman sesi latihan ini diproduksi untuk para penggemar MJ. Sebelum "This Is It" direlease, ada ketidak-setujuan dari pihak keluarga, dan beberapa orang yang menganggap ini untuk tujuan komersial saja. Ya, segi komersialnya memang kental, dan kenyataannya memang apapun dengan label MJ itu masih layak jual. Buktinya demam MJ terus terjadi setelah delapan bulan ia meninggal. Kini, penjualan video "This Is It" ini menempati peringkat pertama penjualan di toko-toko DVD. Para penggemar MJ langsung memburu film ini dalam bentuk DVD dan Blue Ray. Menurut Home Media Magazine, penjualan DVD "Michael Jackson – This Is It" ini sudah mencapai 1.2 juta kopi. Dan merupakan rekor penjualan tercepat di rental dan toko DVD di Amerika dalam minggu pertama setelah dirilis.
Saya adalah termasuk penggemar yang diuntungkan dengan direleasenya video Sang Bintang yang terakhir ini, karena dari situ dapat mencermati sekaligus belajar dari sosok seorang bintang yang memiliki kepribadian yang luar-biasa. Di posisinya sebagai seseorang yang dipuja, dia tetap mampu menempatkan dirinya sebagai sosok yang sangat bersahabat bagi orang-orang sekelilingnya. MJ seseorang yang rendah hati dan sikap 'bossy' rasa-rasanya tidak ditemukan dalam setiap lakunya. Terlihat apresiasi dari MJ kepada setiap orang yang telah melakukan apa yang menyenangkan hatinya, ia dengan spontan berkata kepada orang-orang itu "God bless you" atau "I love you". Berkali-kali pula MJ mengatakan "This is for love", "do it with love", "thank you" dan "sorry" yang mudah terlontar dari mulutnya. Dengan senyuman dan sorot mata yang ramah, itu dilakukannya bukan untuk show, ya memang begitulah "tata-krama" yang melekat dalam diri Sang Bintang yang mendarah daging . Agaknya terlalu sadis bagi dirinya jika kita kembali mengingat adanya berita-berita miring yang pernah menerpa sosok seperti MJ.
MJ yang perfeksionis bersama team-nya berlatih keras untuk konser terakhirnya, dalam sesi latihan itu, seluruh peralatan dan pernak-pernik konser sudah hampir seperti konser beneran. Melalui sesi latihan itu saja, kita sudah disuguhi sebuah atraksi konser yang hebat, sajian show yang hi-tech, kualitas vocal yang baik dan tata gerak yang menawan. Ditampilkan pula pakaian-pakaian yang akan digunakan untuk show tersebut, kostum panggung yang spektakuler karya designer Zaldy Goco yang menghabiskan jutaan dolar untuk pernak-pernik kristal Swarovski saja. Di usianya yang ke 50 itu, MJ masih mampu memperlihatkan pesonanya dengan tubuh yang meliuk-liuk dalam gerakannya yang khas, dan vocal yang masih prima.
MJ adalah seorang seniman yang 'too good to be true', unique, one of a kind, ia bernyanyi, bermusik, menari, menulis lyric dan seorang pemimpi yang mampu membawa orang lain masuk ke dalam imaginasinya, ini tidak mudah kita temukan lagi dalam diri orang-orang lain. MJ seorang yang puitis, dan karya sastranya ini dijumpai dalam kesehariannya, terlihat darimana ketika ia mengarahkan kepada orang-orang sekelilingnya bahwa sebuah lagu cinta harus diungkapkan dengan bahasa cinta dan perasaan cinta yang benar-benar dihayati, bukan hanya yang dari suara yang keluar di bibir. Kemudian saya teringat pada sebuah buku yang saya beli tahun 1992, sebuah buku kumpulan puisi yang ditulis MJ yang berjudul "Dancing the Dream", dari buku itu MJ menambah gelarnya untuk layak disebut sebagai seorang filsuf, dan berdasarkan kesaksian dari film "This Is It" saya ingin menambahkan gelarnya lagi, bahwa ia adalah seorang motivator yang handal. Di akhir sesi latihan itu MJ berbicara di hadapan team-worknya bagaikan seorang guru dan panutan, ia seolah memberikan khotbah, dan itu khotbahnya yang terakhir :
"Lets continue and believe and have faith. Give me your all, your endurence, your patience, and your understanding. But it's an adventure, it's a great adventure, it's nothing to be afraid about. They just want wonderful experiences, they want escanism.
We wanna take them places, that they've never been before. We wanna show them talent, like they've never seen before, so give you all. And I love you all, and we're a family, just know that, we are a family.
We're putting love back, into the world to remind, the world that love is important.
Love is important. To love each other. We're all one. That's the message. And take care of the planet. We have four years to get it right or else it's irreversible the damage we've done. So we have an important message to give, okay? It's important. But thank you for your cooperation so far. Thank you. Big thank you. Blessings, blessings to all."
This is it..... video dengan durasi 112 menit itu telah mampu bicara banyak tentang kemanusiaan dan relasi antar manusia.
Blessings,
Bagus Pramono
February 5, 2010
ms.sabbath
March 07, 2010, 16:37
Mrs. Winterbourne (1996)
http://img97.imageshack.us/img97/7269/mrswinterbourne.jpg (http://img97.imageshack.us/i/mrswinterbourne.jpg/)
Sinopsis :
Connie Doyle (Ricky Lake), seorang wanita muda dengan perut hamil besar, tidak punya tempat tujuan dan uang, bertemu dengan sepasang suami istri di kereta api. Pertemuannya ini mengubah nasibnya, menjadi seorang Mrs. Winterbourne.
Segitu aja reviewnya, lebih dari itu bakal jadi spoiler ;D
Review :
Film Mrs. Winterbourne, diadaptasi dari novel I married a dead man, yg kemudian film ini diadaptasi lagi menjadi serial tv Taiwan berjudul Magic Ring.
Yang duluan kutonton itu Magic Ring, dan baru belakangan gw ngeh kalau serial itu adalah adaptasi dari film Hollywood.
Kalau serialnya mengharukan, dimana bbrp eps terakhir banjir air mata, filmnya sendiri lebih cocok disebut komedi romantis. Kalau dibandingin, gw lebih demen serialnya, karena bisa mengenal karakternya lebih dalam dan juga keliatan proses bagaimana si Connie Doyle akhirnya diterima menjadi bagian keluarga Winterbourne.
Mayan menghibur, apalagi kalau kangen film2 era 90an yang lebih memorable daripada film2 skrg.
Overall 7.9/10
ms.sabbath
March 11, 2010, 16:10
The Hurt Locker
http://www.impawards.com/2009/posters/hurt_locker_ver3.jpg
Sebuah film tentang perang.
Dari temanya saja sebenarnya sudah cukup untuk membuat saya ga jadi nonton film ini. I hate war.
Tapi, berbeda dengan film2 perang lain yang sudah kutonton sebelumnya, The Hurt Locker berbeda. Bercerita tentang sekelompok tentara Amerika yang ditugaskan di Irak ( Bravo Company), setiap orang mempunyai tugas berbeda. Tidak ada yang lebih berbahaya daripada menjadi seorang penjinak bom.
William James, adalah seorang penjinak bom yang menggantikan Matt Thompson, sergeant terbunuh karena ledakan bom. Sifatnya yang cenderung keras kepala dan tidak mendengarkan orang lain, membuat rekan2nya selalu menebak2 apa sebenarnya yang ada dipikiran si penjinak bom ini. Kenapa nyalinya begitu besar? Kenapa begitu tenang ? Dengan adegan2 yang terkesan sangat nyata, tidak dipenuhi dengan special effect, membuat film ini lebih berkesan.
The hurt locker lebih memperlihatkan apa yang diderita para tentara perang tersebut. Bukan pekerjaan paling enak di dunia tentunya. Setelah nonton film ini, I hate war even more.
8/10
qbiz
March 27, 2010, 00:02
NINE
http://i.clevver.com/fullphoto/227779/500/950/nine-movie-poster-1.jpg
Movie Review:
Setelah sukses dengan Film Musikal Chicago (2002) (http://www.imdb.com/title/tt0299658/), Rob Marshall (http://www.imdb.com/name/nm0551128/) kembali membuahkan film dengan genre yang sama "NINE" (2009) (http://www.imdb.com/title/tt0875034/). Broadway's "NINE" adalah drama musikal yang diadaptasi dari film semi biografi 8 ½ (http://www.imdb.com/rg/tt-recs/link/title/tt0056801/) karya Federico Fellini (http://www.imdb.com/name/nm0000019/) di tahun 1963.
Ada beberapa nama yang pernah memerankan drama musikal Broadway's "NINE" sebagai 'Guido Contini' misalnya Raul Julia (http://www.imdb.com/name/nm0000471/), dan Jonathan Pryce (http://www.imdb.com/name/nm0000596/), tetapi kali ini di film "NINE" (http://www.imdb.com/title/tt0875034/), sosok Daniel Day-Lewis (http://www.imdb.com/name/nm0000358/) tampaknya lebih 'khas Italia'. Daniel (http://www.imdb.com/name/nm0000358/), tampil lebih pas dari aktor-aktor sebelumnya dengan nilai tambah postur tubuh, raut muka spesifik dan tentu saja 'his amazing Italian accent'. Daniel (http://www.imdb.com/name/nm0000358/) adalah seorang aktor yang memiliki "impressive accent skills" yang sudah tidak perlu diragukan, dan itu dapat dibandingkan dengan film-film sebelumnya misanya, There Will Be Blood (2007) (http://www.imdb.com/title/tt0469494/) yang memberinya Oscar, juga filmnya yang lain misalnya Gangs of New York (2002) (http://www.imdb.com/title/tt0217505/), In the Name of the Father (1993) (http://www.imdb.com/title/tt0107207/), dll. Menikmati perubahan-perubahan aksen bicara yang ditampilkan Daniel (http://www.imdb.com/name/nm0000358/) pada film-film yang berbeda, selalu menarik untuk didengar.
Alkisah Guido Contini seorang sutradara brilian, dikagumi, yang kemudian masuk pada stagnansi dalam berkarya karena polemik kehidupan percintaannya. Di tengah akan memproduksi film terbarunya, ia mempunyai masalah waktu dan inspirasi, oleh karenanya ia belum memiliki skenario dan ia harus bertanggung jawab dengan sang producer (Ricky Tognazzi (http://www.imdb.com/name/nm0865574/)). Ia sulit mendapatkan inspirasi baru untuk kembali berkarya. Sehari-hari ia selalu dikelilingi wanita-wanita cantik, ia juga memiliki seorang istri yang baik dan cantik, Luisa (Marion Cotillard (http://www.imdb.com/name/nm0182839/)), tapi juga menjalin hubungan asmara dengan seorang wanita bernama Carla (Penélope Cruz (http://www.imdb.com/name/nm0004851/)) dan sempat hampir masuk perangkap Stephanie (Kate Hudson (http://www.imdb.com/name/nm0005028/)), seorang jurnalis dari majalah fashion. Masalah bertambah, hubungannya dengan Claudia (Nicole Kidman (http://www.imdb.com/name/nm0000173/)) yang menjadi pernah menjadi sumber inspirasinya pun jadi semakin rumit karena Claudia menolak untuk menjadi bagian di filmnya lagi. Semuanya perempuan pada saat yang sama ingin merebut hatinya dan ingin menjadi yang paling spesial. Saat Maestro Contini merasa benar-benar terpuruk, membawa kenangan pada sang mamma (Sophia Loren (http://www.imdb.com/name/nm0000047/)), ia kembali ingin sebagai anak kecil dalam lindungan ibunya, ia juga kembali kepada memory seorang perempuan dari kenangan masa kecilnya Saragina (Fergie). Di saat memasuki umur paruh baya, ia masih terjebak dalam sifat 'anak-anak', masa-demi masa sampai di usianya yang ke 40-an rupanya belum kunjung membuatnya menjadi pria matang dan dewasa, sehingga ia sulit memadukan tuntutan pekerjaan secara bersamaan dengan kesenangannya untuk berpetualang cinta, semuanya tidak dapat terkelola baik, malah kemudian semuanya itu tidak lagi memberinya kenikmatan. Sang Maestro di dalam keterpurukannya itu beruntung masih memiliki orang kepercayaan sekaligus penata busananya yang kemudian menjadi seorang sahabat dan motivator, Lilli (Judi Dench (http://www.imdb.com/name/nm0001132/)), sehingga pada akhirnya ia dapat kembali berkarya dan kembali dalam upayanya mengambil hati satu perempuan yang paling dicintainya diantara semuanya.
Sisi psikologis lelaki paruh baya itulah yang menjadi tema cerita, dan yang membuat film ini berkesan. Konflik-konflik ditampilkan mengalir dengan sangat bagus dari awal sampai klimaknya, dan diantara itu diselipkan kisah-kisah flashback yang mengalir manis pula. Untuk sajian ini, tentu tidak lepas dari screenplay yang ditulis oleh Anthony Minghella (http://www.imdb.com/name/nm0005237/) dan Michael Tolkin (http://www.imdb.com/name/nm0866062/). Jikalau Anda menyukai alur cerita brilian yang ada di film English Patient (1996) (http://www.imdb.com/title/tt0116209/), Anda akan memahami kejeniusan Anthony Minghella (http://www.imdb.com/name/nm0005237/) dalam mengadaptasi cerita/ novel kepada skenario film kaliber Oscar.
Film "NINE" (http://www.imdb.com/title/tt0875034/) sangat menarik, musiknya bagus, tata panggung, gerak, kostum, dan juga karena dibintangi aktris-akris kaliber Oscar dan papan atas, Marion Cotillard (http://www.imdb.com/name/nm0182839/), Penélope Cruz (http://www.imdb.com/name/nm0004851/), Nicole Kidman (http://www.imdb.com/name/nm0000173/), Judi Dench (http://www.imdb.com/name/nm0001132/), Kate Hudson (http://www.imdb.com/name/nm0005028/), Stacy Ferguson (http://www.imdb.com/name/nm0004914/), dan Sophia Loren (http://www.imdb.com/name/nm0000047/), dan ternyata mereka tidak hanya pandai berakting tetapi bisa juga menyanyi. "NINE" (http://www.imdb.com/title/tt0875034/), tidak melulu menjadi ajang parade akting dari aktor dan akris mahal, tetapi juga pertunjukan teknik artistik yang rapi, yang mengambil suasana Italia di tahun 1960-an yang dipaparkan dengan detil, sudut-sudut pengambilan gambar tersaji cantik, dengan iringan lagu-lagu karya Maury Yeston (http://www.imdb.com/name/nm1169564/) yang sudah dikenal itu, semakin menegaskan megah dan glamournya film ini.
qbiz
March 27, 2010, 00:03
Hampir semua pendukung film ini memberikan penampilan terbaik mereka, walaupun mungkin Marion (http://www.imdb.com/name/nm0182839/) yang paling terlihat menonjol di antara para bintang-bintang yang terlibat. Marion (http://www.imdb.com/name/nm0182839/), mampu mengimbangi akting Daniel (http://www.imdb.com/name/nm0000358/), berperan dengan sebagai Luisa Contini, seorang istri yang baik, patut dicintai, terlihat dari ekspresi mata, gerak tubuh, keanggunan terlihat begitu cantik. Sebagaimana di film La Vie en Rose (2007) (http://www.imdb.com/title/tt0450188/) yang pernah memberinya Oscar. Di film ini Marion (http://www.imdb.com/name/nm0182839/) juga menyanyi dengan penghayatan yang sangat bagus terutama pada lagu "My Husband Makes Movies...." (http://www.youtube.com/watch?v=fvGooAuW28g). Kate Hudson (http://www.imdb.com/name/nm0005028/) di film ini memberi satu kejutan untuk lagu Cinema Italiano (http://www.youtube.com/watch?v=Hc9tAXAR8-c), ia menyanyi dan bergoyang ala American Singer 'Britney Spears', wow! Kate (http://www.imdb.com/name/nm0005028/) sungguh mencuri perhatian! Daniel Day-Lewis (http://www.imdb.com/name/nm0000358/) berhasil membawakan Guido's Song (http://www.youtube.com/watch?v=-H6DXYh2F34) dan I Can't Make A Movie (http://www.youtube.com/watch?v=5dBg7lJLFSU) dengan totalitas penghayatan seorang yang sedang kacau penuh problema, Sedangkan Judi Dench (http://www.imdb.com/name/nm0001132/) juga dapat tampil menarik ketika membawakan lagu Folies Bergère (http://www.youtube.com/watch?v=zYkf6E9vBJo), dan nyanyian lullaby sang ibu Guarda La Luna (http://www.youtube.com/watch?v=3E3TvyXY8R0) (Sophia Loren (http://www.imdb.com/name/nm0000047/)), lagu-lagu tersebut lebih dari sekedar nyanyian untuk sebuah adegan film. Stacy Ferguson (http://www.imdb.com/name/nm0004914/) pada lagu Be Italian (http://www.youtube.com/watch?v=H5bbuXndMW4) menampilkan vokal yang prima dalam tata gerak/ koreografi yang memukau di atas panggung opera yang spektakuler. Penélope Cruz (http://www.imdb.com/name/nm0004851/) berperan sebagai perempuan yang terlibat perselingkuhan dengan Sang Maestro, menyanyi untuk lagu "A Call from the Vatican" (http://www.youtube.com/watch?v=0MuNFqlTdzI), ia dapat mengakomodasi sensualitas dirinya dengan sangat provokatif seperti penyanyi/ penari pro yang menguasai panggungnya, tidak heran dialah yang terpilih sebagai nominasi aktris pembantu terbaik untuk Oscar 2010. Lagu Take It All (http://www.youtube.com/watch?v=WLX-Ko7XMis) ditampilkan sebagai ganti dari lagu "Be on Your Own", sayang sekali..., tetapi itu dapat terobati dengan tetap tampilnya lagu Unusual Way (http://www.youtube.com/watch?v=QQPk6xolLM4), sebuah ballad yang paling cantik dalam drama musikal "NINE" (http://www.imdb.com/title/tt0875034/) ini, dan Nicole Kidman (http://www.imdb.com/name/nm0000173/) membawakannya dengan lumayan baik karena dibungkus dengan tatanan musik yang menyentuh dalam iringan orkestra dan petikan guitar yang menonjol.
Di Oscar 2010 (http://oscar.go.com/), "NINE" (http://www.imdb.com/title/tt0875034/) mendapat nominasi untuk: Actress in a Supporting Role (Penélope Cruz (http://www.imdb.com/name/nm0004851/)), Art Direction (John Myhre (http://www.imdb.com/name/nm0616924/), Gordon Sim (http://www.imdb.com/name/nm0799246/)), Costume Design (Colleen Atwood (http://www.imdb.com/name/nm0041181/)), dan Original Song Take It All (http://www.youtube.com/watch?v=WLX-Ko7XMis), musik dan lyric-nya ditulis oleh Maury Yeston (http://www.imdb.com/name/nm1169564/), sayang kali ini MaestroYeston (http://www.imdb.com/name/nm1169564/), kurang mujur. Tetapi walaupun lepas dari gelar-gelar "yang terbaik" di Oscar 2010 (http://oscar.go.com/), "NINE" (http://www.imdb.com/title/tt0875034/) tetapi tetap dalam posisi "kaliber oscar" yang menarik, menghibur dan sebuah sajian karya seni yang indah. Sayang sekali kalau film ini dilewatkan :)
-----
Rob Marshall (http://www.imdb.com/name/nm0551128/) ... Director
Michael Tolkin (http://www.imdb.com/name/nm0866062/), Anthony Minghella (http://www.imdb.com/name/nm0005237/) ... screenplay
Maury Yeston (http://www.imdb.com/name/nm1169564/), Arthur Kopit (http://www.imdb.com/name/nm0465792/) ... Broadway musical "Nine"
Mario Fratti (http://www.imdb.com/name/nm3688913/) ... Broadway musical "Nine" Italian original
Cast :
Daniel Day-Lewis (http://www.imdb.com/name/nm0000358/) ... Guido Contini
Marion Cotillard (http://www.imdb.com/name/nm0182839/) ... Luisa Contini
Penélope Cruz (http://www.imdb.com/name/nm0004851/) ... Carla
Sophia Loren (http://www.imdb.com/name/nm0000047/) ... Mamma
Nicole Kidman (http://www.imdb.com/name/nm0000173/) ... Claudia
Judi Dench (http://www.imdb.com/name/nm0001132/) ... Lilli
Kate Hudson (http://www.imdb.com/name/nm0005028/) ... Stephanie
Stacy Ferguson (http://www.imdb.com/name/nm0004914/) ... Saraghina (as Fergie)
Ricky Tognazzi (http://www.imdb.com/name/nm0865574/) ... Dante - Producer of 'Italia'
Blessings,
Bagus Pramono
March 23, 2010
Mithrandir
May 06, 2010, 02:04
Great Expectations: Not All That Glitters is Dubai
CITY OF LIFE (2009, Ali F. Mostafa – United Arab Emirates)
http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs573.snc3/31273_1267196446536_1428549262_30586118_7067006_n. jpg
Kawasan teluk di Timur Tengah sdg menggeliat dgn segala macam berbau perfilman belakangan ini. Beberapa festival film dr yg “tertua,” Dubai International Film Festival (DIFF) yg sdh memasuki thn keempat dan berlangsung tiap Desember; saudara sekotanya yg lbh berfokus pd film pendek dan dokumenter regional, Gulf Film Festival, sdh tiga thn bergulir tiap April; tetangganya di Abu Dhabi juga tdk ketinggalan dgn Middle East International Film Festival yg dipimpin oleh mantan artistic director Tribeca Film Festival Peter Scarlet; dan yg termutakhir di thn 2009 lalu Doha Tribeca mulai mengorbit di Qatar, berafiliasi dgn Tribeca Film Festival New York yg didirikan bersama oleh aktor Robert De Niro. Blm lagi perusahaan-perusahaan produksi film dr yg memfasilitasi produksi film-film asing di sini, spt utk film Syriana[i], [i]Transformers[i], [i]The Kingdom, sampai ke yg beraspirasi ingin menjadi Pixar-nya TimTeng. Tapi yg blm muncul adl film fitur buatan org Arab sendiri yg dibuat di kawasan ini yg bs menjadi tuan rumah di negerinya sendiri dan bs berdiri tegak disejajarkan dgn film-film internasional lainnya, utamanya Hollywood. Keadaan ini telah berubah tahun lalu saat film fitur pertama produksi UAE yg dibuat org Emirati lulusan London Film School bernama Ali F. Mostafa (keturunan dr ayah Emirati dan ibu org Inggris) berjudul City of Life melangsungkan world premiere-nya di DIFF. Tgl 22 April lalu berlanjut dgn dirilis di sejumlah bioskop UAE, menandakan langkah historis industri perfilman UAE yg baru lahir utk dpt dikonsumsi publik tdk saja oleh org pribumi, tapi juga mayoritas penduduk UAE yg merupakan pekerja asing berasal dr hampir 200 negara di seluruh dunia. Dan sbg pekerja asing kecil-kecilan (baca: TKI) berbasis di Dubai yg jg pemerhati film, sy sdh turut menunaikan dukungan sy dgn menontonnya di bioskop di mall terbaru di Dubai (yg salah satu atraksinya menawarkan bioskop dgn layar raksasa selebar 20 meter, ExtremeScreen).
Kesan setelah menonton City of Life[i] adl kepercayaan diri sutradaranya, Ali Mostafa yg masih berusia di bawah 30 thn, dlm membuat film fitur pertamanya ini. Setiap adegan yg terpapar di layar – dgn dukungan desain produksi dan sinematografi professional spt layaknya film produksi Hollywood - dieksekusi dgn profesionalisme yg bs diharapkan dr pelaku perfilman berpengalaman dlm memfilmkan kota Dubai sbg bagian yg tdk terpisahkan dgn karakter-karakter yg menghidupinya. Tp di balik kepercayaan dirinya itu, dlm banyak komentarnya Mostafa jg mengakui keterbatasan dan kompromi yg hrs diambilnya utk dpt menggolkan terselesaikannya filmnya sampai dirilisnya ke bioskop. Meskipun penyensoran film di UAE semakin melonggar dibandingkan dgn negara-negara tetangga (apalagi di Arab Saudi yg masih melarang penayangan film di bioskosp), masih ada hal-hal tertentu yg terlalu kontroversial dan tdk dpt dibicarakan begitu saja secara terbuka di ruang publik, spt misalnya prostitusi dan eksploitasi pekerja labor. Spt ditanya dlm satu wawancara dgn media barat ttg yg terakhir ini, “[i]No comment,” ujar Mostafa setelah terdiam, “Sorry… I’m not a diplomat. I’m not going to be saying the right things, so I’m not going to comment.” Mostafa jg menegaskan, “Especially with your first film, you can’t go as deep as you would like. Number one, it’s the first film and you want to make more. I scratched the surface a little bit. The surface of controversy. You don’t necessarily have to make a film more real than what I tried to portray here.”
Apakah relevan mengkritisi film yg tdk dimaksudkan utk dibuat spt apa yg dikritisikan? Untuk siapa sebenarnya film ini dibuat? City of Life adl film bertipe, meminjam istilah David Bordwell, network narratives, film dgn gaya bertutur cerita yg menjadi ciri khas sutradara Meksiko Alejandro Gonzalez Inarritu yg dikenal dgn film triloginya Amores Perros, 21 Grams dan Babel. Film yg pertama dr trilogi tsb berbahasa Spanyol, yg kedua berbahasa Inggris, dan yg ketiga menggunakan multi bahasa (Spanyol, Inggris, Arab dan Jepang), dibintangi para pemeran multi-etnis dan berlokasi di tiga benua, memperluas skala filmnya menjadi global. Struktur bercerita network narratives ini sdh diterapkan sejak lama, tapi lbh dipopulerkan oleh sutradara independen Amerika legendaris Robert Altman dr thn 70-an ke 90-an dgn film-filmnya spt MASH dan Short Cuts dan di dekade ’00 dgn Gosford Park dan film terakhirnya A Prairie Home Companion. Warisan Altman diteruskan oleh Paul Thomas Anderson yg di thn 90-an menghasilkan film Boogie Nights dan Magnolia. Film terbaru Anderson There Will Be Blood yg bukan bertipe network narratives, didedikasikan utk Altman yg menutup usia di thn 2006. Dr perfilman Eropa, ada sutradara Polandia Krzysztof Kieslowski, yg di thn 90-an membuat trilogi influential yg jg banyak menginspirasi triloginya Inarritu (dan penulis skenarionya Guillermo Arriaga), Three Colors Trilogy yg berdasarkan tiga warna bendera Prancis, Blue, White, dan Red. Dpt disebut jg film Jepang karya Akira Kurosawa yg diangkat dr literatur klasik, Rashomon, yg mungkin termasuk prototipe awal film berjenis network narratives.
Apa maksudnya film berbentuk network narratives yg banyak diterapkan di masa kini seiring dgn pengaruh globalisasi dan internet di segala bidang? Pd dasarnya adl film dgn protagonis lbh dr satu yg masing-masing memiliki jalan ceritanya sendiri dan krn satu insiden atau peristiwa kebetulan terjalin keterkaitan satu sama lain yg biasanya berlokasi di satu tempat tertentu, baik itu rumah, hotel, tempat kerja, kota atau pun satu dunia spt di Babel. Atau bisa jg terkait oleh aspek tematiknya, spt salah satu film network narratives karya Richard Linklater favoritku, [i]Fast Food Nation[i], yg mengeksplorasi proses dan industri pembuatan makanan cepat saji, lengkap dgn segala macam faktor pendukungnya, menguak keseluruhan sistem sampai ke intinya.
Mostafa jg menerapkan konvensi network narratives ini di City of Life. Namun perbandingan City of Life dgn film-film ini msh terlalu jauh, tapi jg tdk lantas membuat filmnya menjadi jelek. Dr segi teknik sdh cukup layak, tp kompleksitas dan keartistikannya relatif msh kurang. Model yg plg tepat sbg acuan City of Life adl film Paul Haggis, Crash, yg untungnya tdk sehisteris peraih film terbaik Oscar itu. Bila Crash, spt Boogie Nights dan Magnolia, ber-setting di kota Los Angeles, menampilkan interaksi penduduknya dr berbagai etnis dan strata sosial, City of Life adl ekuivalennya utk kota metropolis Dubai, kota di timur tengah dimana “barat” bertemu “timur” dan tradisi berbenturan dgn modernisasi. Hanya saja interaksi di City of Life terbatas pd satu strata, yg jg menggambarkan msh adanya perbedaan dan pemisahan kelas-kelas tertentu, dan baru bersimpangan jalan di klimaksnya saja. Spt di Crash dan banyak film network narratives lainnya, yg mempertemukan tiga jalan ceritanya adl timbulnya insiden kecelakaan yg menjadi titik balik filmnya. Dr pengatamanku sendiri, intensitas kecelakaan lalu lintas di Dubai memang cukup tinggi, terkadang tiap pergi keluar utk rekreasi atau pun kerja, ada saja kecelakaan yg terjadi, tdk sedikit jg yg cukup parah.
http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash1/hs533.ash1/31273_1267199126603_1428549262_30586120_824329_n.j pg
Tiga cerita utama di City of Life berisikan ensembel multietnis dan menggunakan tiga bahasa: Arab, Inggris dan Hindi. Yg pertama dan terutama adl ttg seorang pemuda Emirati, Faisal, kaya dan berkedudukan yg memikul beban sbg generasi penerus ayahanya, tp lbh banyak mengisi hidupnya bersenang-senang memanfaatkan statusnya itu bersama teman baiknya Khalfan, berkeliling-keliling kota mengendarai mobil sport Ferrari, Bugatti, atau pun kendaraan 4WD besar. Kedua karakter ini diperankan oleh Saoud Al Kaabi sbg Faisal, figur presenter dan selebriti TV lokal yg cukup populer (tp krn tdk pernah menonton TV, sy tdk bs mengomentari kepopulerannya itu) dan Yassin Alsalman alias The Narcicyst, seorang penyanyi hip hop asal Irak, sbg Khalfan, anak muda Emirati dr golongan menengah ke bawah bertemperamen tinggi yg tinggal bersama nenek dan adik perempuannya. Segmen ini berupaya menampilkan potret generasi muda Emirati kontemporer, keistimewaannya sbg pribumi ditengah dominasi penduduk asing beserta segala tantangannya dlm bergelut antara identitas lokal dan pengaruh budaya luar.
Mithrandir
May 06, 2010, 02:05
http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs573.snc3/31273_1267200046626_1428549262_30586121_5484077_n. jpg
Cerita yg kedua diisi karakter-karakter ekspatriat kelas menengah ke atas. Dua pramugari asal Eropa Timur, Olga (aktris Inggris Natalie Dormer) dan Natalia (si cantik Alexandra Maria Lara), yg berambisi menjalankan hidup baru yg lbh baik; Seorang pebisnis periklanan yg jg playboy kelas kakap asal Inggris Guy Berger (Jason Flemyng, aktor yg jg tampil di The Curious Case of Benjamin Button, Clash of the Titans - yg dirilis bersamaan di bioskop UAE - dan Kick Ass). Sebegitu licinnya si Guy ini sampai di filmnya dikomentari, “So smooth he can sell sand to the Arabs.” Dan cerita ketiga adl ttg kelas pekerja. Seorang sopir taksi asal Gujarat, India, bernama Basu (diperankan Sonu Sood), yg berwajah mirip dgn bintang film terkenal dan bermimpi ingin juga terjun ke dunia hiburan bermodalkan wajahnya itu. Karakter ini terinspirasi dr seseorang yg mirip Shah Rukh Khan di satu bar Bollywood di Dubai yg pernah dikunjungi Mostafa.
Kritikus film Inggris David Thomson pernah menulis buku ttg Hollywood khususnya dan kota Los Angeles pd umumnya yg judulnya, The Whole Equation, diambil dr novel F. Scott Fitzgerald yg tdk selesai, The Last Tycoon. Buku yg memandang sejarah Hollywood dan kota lokasinya dr kesubyektifan Thomson tsb membahas the whole equation, suatu formula yg membuat film-film Hollywood - ditunjang segala macam aspek yg terlibat di dalamnya - bs eksis dan berkembang mengikuti dinamika perubahan zaman dr masa-masa awal berdirinya sampai sekarang. The whole equation yg membuat kota Dubai menjadi Dubai spt sekarang jg dpt diformulasikan utk melacak pesatnya pertumbuhan dan perkembangannya, tp bila merujuk pd film City of Life, msh banyak mata rantai yg blm tersambung utk memberi gambaran yg komprehensif, apalagi inklusif. Ketiga cerita yg ditampilkan City of Life msh blm cukup merepresentasikan populasi kota Dubai yg majemuk, dan bagaimana peran kemajemukan itu dlm membentuk Dubai masa kini sedemikian adanya.
http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-sjc1/hs573.snc3/31273_1267201926673_1428549262_30586122_8023660_n. jpg
Berada dimana kaum perempuan Emirati? Ketidakhadirannya cukup terasa sepanjang film. Selain adik dan nenek Khalfan, praktis karakter perempuan Arab pribumi absen di filmnya. Apa mereka bersembunyi di belakang tembok rumah mereka masing-masing? Realita Dubai tdk sekonservatif itu. Justru mereka aktif bertebaran di kawasan-kawasan tertentu sepelosok Dubai (spt misalnya dpt mudah dijumpai di pusat-pusat perbelanjaan), lengkap dgn pakaian tradisional abaya yg menyelimuti tubuh mereka, memancarkan keeleganan yg lbh “eksotis” drpd perempuan-perempuan pendatang berbusana ketat atau pun minim. Kemana jg orang-orang Filipina, baik itu laki-laki maupun perempuan? Raut muka mereka yg mirip dgn org Indonesia ini – sampai org Indonesia sering dianggap sbg org Filipina – termasuk imigran mayoritas di Dubai yg bila ada org terdampar tanpa peta dan kompas bs menyalahartikan kota Dubai sbg bagian dr negara Filipina. Dgn hanya menampilkan seorang kakek tua bersepeda pengumpul karton bekas di awal dan akhir filmnya belumlah cukup. Begitu jg dgn org-org India, yg dominasinya lbh kuat di sektor ekonomi melebihi sektor hiburan, terutama yg berasal dr daerah Kerala (etnis Malwari). Bagaimana pula dgn org Indonesia? Hanya tampil 1 detik saja di layar saat Faisal kembali ke rumah dan berkonfrontasi dgn ayahnya, seorang pembantu rumah tangga (yg kemungkinan besar org Indonesia, tdk terlalu jelas) menyingkir ke ruangan lain.
Spt yg secara tdk langsung diakui Mostafa, isu eksploitasi pekerja labor adl hal yg sensitif. Penggunaan karakter sopir taksi yg bertempat tinggal di daerah Karama, satu kawasan komersial dan residensial menengah di Dubai, adl jln pintas yg aman utk sekedar menyerempet persoalan akut ini. Bila Mostafa lbh berani, bs saja ia menampilkan karakter pekerja kosntruksi - yg menjadi tulang punggung pesatnya pembangunan kota Dubai - dgn gaji minimum dan tinggal berdesak-desakan di akomodasi khusus pekerja labor di daerah Al Qusais yg lokasinya berdekatan dgn tempat pembuangan sampah se-Dubai. Dr sisi spektrum yg lain, terlewatkan jg penggalian lbh dalam thd budaya konsumerisme yg melekat dan sdh menjadi bagian dr gaya hidup di Dubai. Spend here what you earn in Dubai. If you got it, flaunt it.
City of Life memang bukanlah film dokumenter. Mostafa berhak merias fiksinya dgn apa pun yg menurutnya bs menghibur tanpa menutup mata sepenuhnya thd kenyataan. Keputusan Mostafa utk mengikuti formula Hollywood (dan fragmen Bollywood) adl utk dpt menjangkau audiens global seluas mungkin yg sdh terbiasa mengonsumsi produk film Hollywood dan Bollywood, memberi sentuhan yg sdh cukup familiar dlm mengangkat isu dan budaya lokal yg mungkin terlalu alien atau msh primitif utk kebanyakan org. Mau bagaimana pun reaksi atau evaluasiku thd filmnya, sy cukup terhibur menonton City of Life. Timbul jg keinginan utk menontonnya lg. Mungkin bila sdh dirilis di DVD, setidaknya bs dijadikan salah satu suvenir kenang-kenangan dr Dubai. Meskipun tdk merumuskan “the whole equation” Dubai secara utuh (tdk ada rumus E=MC2 di sini), setidaknya persoalan-persoalan konkrit ditelusuri, disertai sisi positif dan negatifnya, mengindikasikan not all that glitters is Dubai…
You feel restricted in Dubai by regular things that are normal in any other part of the world. I can’t go out and tell the grittiest or the dirtiest or the most gruesome story, especially with the first film.
"My film is not a documentary, nor is it propaganda. It's stories that I came up with, some from personal experience, but mostly fiction. That's what films are about. It's about escapism, it is a journey for the audience."
http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-sjc1/hs593.snc3/31273_1267202926698_1428549262_30586123_5243069_n. jpg
(Ali F. Mostafa)
Movie Review:
The Book of Eli – Kitab Allahku
http://movingfilms.files.wordpress.com/2010/01/book_of_eli_ver2.jpg
Denzel washington, dikenal sebagai seorang aktor yang setia beribadah di The Crystal Cathedral Church Ministries. Pada film The Book of Eli (http://www.imdb.com/title/tt1037705/) yang diproduserinya ini, ia mencoba mengungkapkan keyakinan yang selama ini diyakininya. Film The Book of Eli (http://www.imdb.com/title/tt1037705/) berkisah tentang "pasca semi-kiamat" yang terjadi di bumi ini pada tahun 2043 dan sejak itu sosok Eli (Denzel Washington (http://www.imdb.com/title/tt1037705/)) memulai perjalanannya selama 30 tahun untuk mengantar sebuah Kitab Suci satu-satunya yang masih tersisa.
Pengetahuan adalah sumber kekuasaan, itulah tema yang diangkat dalam film "The Book of Eli" (http://www.imdb.com/title/tt1037705/). Dan buku yang sedang dibawa oleh Eli adalah buku dari segala sumber pengetahuan dan hikmat. Ada permainan kata pada judul "The Book of Eli" (http://www.imdb.com/title/tt1037705/), 'Eli' adalah sebuah kata yang dijadikan nama dalam bahasa Ibrani yang bermakna 'Allah-ku' (berasal dari אֶל - 'EL (http://www.sarapanpagi.org/nama-allah-study-kata-2-vt6.html#p7141), Allah, dengan akhiran "yod" menjadi אֵלִי - 'ELI, Allahku). Maka The Book of Eli (http://www.imdb.com/title/tt1037705/) bermakna harfiah 'Kitab Allahku' yang tentu saja merujuk kepada Alkitab.
Film ini boleh dibilang sebuah film religius terutama karena rujukan Kitab Suci itu sendiri dan beberapa quote yang diambil dari ayat-ayat Alkitab. Namun demikian, menurut Denzel Washington (http://www.imdb.com/title/tt1037705/) dalam sebuah wawancaranya di NBC mengatakan bahwa film ini bukanlah film yang hanya fokus pada Alkitab, melainkan bercerita tentang kekuasaan, kejahatan dalam dunia ini dan seorang pria dengan sebuah misi khusus untuk menyelamatkan peradaban manusia. Karena itu, film ini tidak dikemas secara gamblang merujuk kepada agama tertentu atau berisi wejangan-wejangan agamawi yang mungkin terkesan menggurui, tapi lebih dikemas secara menarik dalam action ala ninja/ kungfu yang cukup menghibur.
Adegan-adegan action dalam film ini mengundang decak kagum, aksi bela diri Denzel Washington (http://www.imdb.com/title/tt1037705/) cukup terlihat cool banget. Denzel Washington (http://www.imdb.com/title/tt1037705/) di usianya yang sudah tidak lagi muda, namun ia mampu beradegan fisik yang menggambarkan karakter seorang pendekar dengan total dalam performance and act yang sangat meyakinkan. Tentang visual-sinematografi yang disajikan, sutradara kembar Albert (http://www.imdb.com/name/nm0400436/) dan Allen Hughes (http://www.imdb.com/name/nm0400441/) dan team-nya menghadirkan setting dunia pasca-perang nuklir: sunlight, shadows and silhouettes, clouds, dimanipulasi sedemikian rupa sehingga gambar-gambar yang disajikan memberikan kesan dunia yang rusak, keras dan kejam. The Hughes Brothers (http://www.imdb.com/name/nm0400436/) menuangkannya dalam gambar-gambar berwarna sepia cenderung ke arah hitam-putih. Semuanya itu untuk menggambarkan bahwa bumi telah luluh lantak dan hanya menyisakan kegersangan dimana-mana. Ketika bumi musnah dengan segala keindahannya dan yang tertinggal hanyalah debu, kesemrawutan dan sulitnya makanan dan juga air. Sinar Matahari dikesankan sangat tidak bersahabat sehingga orang-orang harus memakai kacamata hitam untuk menahan radiasi sinar matahari. Digambarkan juga langkanya air bersih, kanibalisme, pemerkosaan, pembunuhan, perdagangan sistem barter, yang semuanya itu merupakan gambaran dunia masa depan yang rusak.
Perang Nuklir terjadi dan menyisakan kerusakan total di atas seluruh bumi. Dunia menjadi reruntuhan, peradaban sudah mati, manusia tinggal sedikit dan kembali ke hukum rimba. Alam telah berubah, yang ada hanya puing-puing sisa kejayaan peradaban modern yang tadinya sangat dibanggakan umat manusia di masa lalu. Eli adalah satu dari sedikit orang di jaman tersebut yang masih beriman akan adanya Tuhan. Hal ini dapat dimengerti karena Eli hidup sebelum perang nuklir itu terjadi. Dan yang lebih penting sosok Eli disini dilukiskan sebagai 'pewaris tunggal' dari peradaban dan keyakinan akan Tuhan yang pernah ada di muka bumi ini. Sosok Eli digambarkan sebagai seorang pendekar penjaga warisan kitab suci satu-satunya yang berkelana sendirian di tanah (yang dulunya disebut) Amerika Serikat. Eli mendapat panggilan melalui suara hatinya yang tentu saja berasal dari kuasa Tuhan yang membisikan ke dalam sanubari Eli suatu tugas suci. Eli dalam panggilannya itu ditugasi untuk menyelamatkan sebuah Kitab Suci untuk dibawa menuju ke Barat. Kitab Suci itu adalah cetakan tersisa satu-satunya, secara implisit diungkapkan bahwa setiap eksemplarnya sengaja dimusnahkan/ dibakar karena Kitab tersebut dianggap sebagai asal-muasal terjadinya perseteruan dan peperangan. Alasan tersebut dapat diterima dengan menimbang banyaknya perseteruan antar manusia selama ribuan tahun terhadap keyakinannya, manusia berperang karena agama .
Eli dalam perjalanannya hanya membawa perlengkapan seadanya, berbagai senjata untuk bertahan hidup. Eli adalah seseorang yang cinta damai dan hanya menyerang apabila diserang untuk pertahanan diri. Di dunia yang telah rusak itu manusia tidak lagi mengenal hukum, alam semesta tidak bersahabat, tanah tidak ada tanaman dengan dedaunannya yang hijau, air dan makanan sangat langka, dan itu membuat sebagian manusia menjadi kanibal saling membunuh untuk bertahan hidup. Di film ini digambarkan cara mengetahui seorang kanibal atau bukan adalah dengan mengecek tangan tiap orang. Manusia kembali ke zaman batu, manusia hanya dapat menggunakan peralatan sisa-sisa zaman modern. Perdagangan tidak lagi menggunakan alat tukar uang, tetapi dengan barter, tidak ada pendidikan, banyak manusia yang buta huruf, kekacauan terjadi karena tidak ada hukum sipil yang mengatur komunitas manusia.
Dalam perjalanan membawa Kitab Suci itu Eli banyak bertemu dengan banyak komunitas manusia yang sudah rusak dalam komunitas-komunitas kecil yang berseteru satu sama lain. Eli bertahan hidup dengan ketangkasannya bela-diri dan inilah poin yang sangat menghibur dalam film ini, kita disuguhi aksi pendekar yang berkungfu dengan kecepatan tangan ala Bruce Lee dan bermain senjata pedang dan panah ala Ninja. Sampai kemudian pada suatu saat Eli bertemu dengan penguasa komunitas gangster bersenjata yang buta huruf, yang sangat mengincar Kitab Suci yang dibawa Eli, dia adalah Carnegie (Gary Oldman (http://www.imdb.com/name/nm0000198/)). Perjalanan Eli ini terhadang oleh Carnegie yang menginginkan Kitab Suci tersebut untuk kepentingan pribadinya. Di dalam komunitas yang dikepalai oleh Carnegie, terlihat hanya dialah yang bisa membaca. Carnegie berfikir apabila dia dapat memiliki Kitab Suci itu, maka kitab itu akan dapat memperlengkapi kekuatannya untuk dapat mengendalikan "rakyat"nya, dan dengan Kitab tersebut dia berencana akan membuat tatanan "dunia baru" dan tidak ada orang yang akan berani melawannya. Karena Kitab Suci itu, terjadilah pertaruhan nyawa antara Eli dan Carnegie dan dalam film ini kita akan sungguh menikmati akting dari dua aktor senior kaliber oscar.
"Apakah kamu suka membaca buku?" tanya Carniege, dan Eli menjawab bahwa ia selalu membaca setiap hari. Kemudian Carniege menyambung "Hanya orang-orang seperti kita, yang suka membaca buku yang bisa menentukan masa depan." Eli dan Carnegie digambarkan sebagai sosok yang sama-sama pernah mengalami hidup sebelum peristiwa kehancuran dunia terjadi, dan mereka tahu ada suatu saat di masa lalu dimana di dunia ini pernah terjadi suatu peradaban yang sangat tinggi dalam tatanan dunia yang terkendali dan serba modern. Manusia hidup dalam kenyamanan dan memperoleh kemudahan dalam tekhnologi dunia modern. Mereka sama-sama mengetahui kekuatan Kitab Suci tersebut, sebab kitab itu berisi tentang hukum dasar yang mengantar manusia untuk hidup dalam tatanan komunitas yang tertata rapi dalam bermasyarakat. Pendeknya mereka menyadari kekuatan Kitab tersebut sebagai sumber peradaban hidup manusia. Kitab tersebut juga merupakan sumber bagi manusia-manusia yang haus akan kebutuhan spiritual, haus akan kebenaran.
Eli berusaha tetap maju terus pantang mundur mencapai tujuannya untuk mengantarkan Kitab Suci ke Barat. Karena Eli tidak mau menyerahkan kitabnya, jelas pertumpahan darah takkan terhindarkan. Dalam perseteruannya dengan Carnegie ini, Eli dipertemukan dengan Claudia (Jennifer Beals (http://www.imdb.com/name/nm0000884/)) seorang wanita tuna-netra dan anak perempuannya Solara (Mila Kunis (http://www.imdb.com/name/nm0005109/)). Carnegie adalah ayah tiri dari Solara. Claudia menimbang bahwa bersama Eli, Solara akan mendapat kehidupan yang lebih aman. Eli sedikit banyak memberikan pengaruh dalam diri Solara, seorang gadis yang hidup tanpa pengetahuan sama sekali tentang ketuhanan, dan ia adalah seorang gadis yang buta huruf. Ia terkesima doa yang diucapkan Eli ketika mensyukuri makanan sebelum makan, ia tersentuh dengan sebuah puisi yang diucapkan Eli yang diambil dari Mazmur 23. Kata-kata itu bagaikan sebuah siraman air di tanah yang tandus, bukan sekedar kata-kata biasa sebab semuanya itu adalah Firman Allah yang mempunyai kekuatan.
Perjalanan Eli bersama Solara banyak terhadang oleh banyak kekerasan dan ancaman termasuk dari gangguan para perampok dan kelompok kanibal, sementara itu Carnegie terus bersemangat memburu Eli dan Kitab yang dibawanya. Sampai pada suatu saat Eli harus kalah dan merelakan Kitab itu. Carnegie pun membawa pulang Kitab itu, dan membiarkan Eli tergeletak di tengah padang pasir. Namun, tanpa disangka setelah Carnegie membuka gembok Kitab tersebut ia mendapati halaman demi halaman dalam Kitab tersebut ditulis dalam huruf Braille yang tak dapat ia baca. Aha... Eli selama ini ternyata adalah seorang tunanetra... Kehilangan Kitab tersebut, tak membuat semangat Eli sang pendekar itu surut, ia tetap menuju ke arah Barat sebagaimana bisikan yang memerintahkannya. Akhirnya sampai di suatu tempat yang kita kenal sebagai penjara di masa lalu "Alcatraz," Eli mengakhiri perjalanannya disini. Memasuki tanah Alcatraz yang dijaga superketat. Eli mengungkapkan bahwa ia mempunyai King James Bible lengkap. Alcatraz dikelola oleh Lombardi (Malcolm McDowell (http://www.imdb.com/name/nm0000532/)) yang mengoleksi/ mencetak ulang macam-macam buku-buku berharga dan mengoleksi benda-benda warisan abad modern yang hampir musnah. Lombardi sangat antusias dengan King James Bible yang dibawa oleh Eli, ia mengatakan bahwa ia telah mengumpulkan banyak buku-buku berharga di masa lalu, Shakespeare, seri lengkap Encyclopedia Britannica, buku musik karya Mozart, dll. dan mencetaknya ulang, namun selama ini ia belum pernah menemukan Bible/ Alkitab.
Penonton agak dibuat bingung dengan pernyataan Eli tersebut bahwa ia membawa King James Bible lengkap, kita tahu buku itu telah dirampas Carnegie. Ada kejutan di film ini, dimana Eli kemudian meminta kepada Lombardi untuk mengambil kertas dalam jumlah banyak dan alat tulis untuk menulis semua isi dari Alkitab. Ternyata Eli mendiktekan ayat demi ayat dari King James Bible yang berhasil dia hafalkan selama 30 tahun pengembaraan. Di akhir film, Eli akhirnya mati karena luka-lukanya, dan sebelum kematiannya itu, ia telah menyelesaikan pengungkapan seluruh isi King James Bible lengkap kepada Lombardi yang dengan tekun mencatat ayat-demi-ayat yang didiktekan kepadanya. Ada suatu ending yang manis di film ini yaitu narasi yang diucapkan Eli yang mengambil dari ayat Alkitab yang mau tak mau membuat penonton tersentuh: "Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman." (2 Timotius 4:7). Kalimat kemenangan ini diucapkan setiap abdi Allah ketika ia menyelesaikan misi yang diembankan kepadanya.
Kemudian King James Bible tersebut dapat kembali dicetak. Kitab itu ditempatkan oleh Lombardi pada sebuah rak buku. The King James Bible ditempatkan berjejer dengan Kitab Tanakh, Kitab Torah, History of the Jew, Al-Quran, dll. yang sudah dia dapatkan sebelumnya. The Book of Eli (http://www.imdb.com/title/tt1037705/) – 'Kitab Allahku' menjadi awal dan tanda bagi terciptanya kembali abad yang baru setelah bumi ini rusak oleh kejamnya perang. Sebuah tatanan dunia yang baru yang diawali dengan Firman Allah "In the beginning God created the heaven and the earth" (Genesis 1:1). Bunyi ayat ini terasa kuat dan menggetarkan dalam narasi yang dicapkan Eli.... sosok karakter sempurna abdi Allah yang berhasil dibawakan dengan baik oleh seorang aktor Denzel Washington (http://www.imdb.com/title/tt1037705/), bravo!
Cast:
Denzel Washington (http://www.imdb.com/title/tt1037705/) ... Eli
Gary Oldman (http://www.imdb.com/name/nm0000198/) ... Carnegie
Mila Kunis (http://www.imdb.com/name/nm0005109/) ... Solara
Jennifer Beals (http://www.imdb.com/name/nm0000884/) ... Redridge
Malcolm McDowell (http://www.imdb.com/name/nm0000532/) ... Lombardi
Michael Gambon (http://www.imdb.com/name/nm0002091/) ... George
Ray Stevenson (http://www.imdb.com/name/nm0829032/) ... Redridge
Directors: Albert (http://www.imdb.com/name/nm0400436/) & Allen Hughes (http://www.imdb.com/name/nm0400441/)
Written by Gary Whitta (http://www.imdb.com/name/nm1729428/)
Blessings,
Bagus Pramono
June 6, 2010
http://portal.sarapanpagi.org/entertainment/movie-review-the-book-of-eli-kitab-allahku.html
vBulletin® v3.8.2, Copyright ©2000-2013, Jelsoft Enterprises Ltd.