View Full Version : Surah Yasin







militiaman
November 13, 2008, 08:25
Pro & kontra tentang amalan atau membaca Surah Yasin masih saja terjadi, bagaimana dengan anda ?

militiaman
November 13, 2008, 08:26
Kalo ane lakukan aja yang udah jadi keputusan & ane anggap baik menurut Allah SWT.

militiaman
November 13, 2008, 08:28
Keutamaan Membaca Surah Yasin

“Sesungguhnya setiap sesuatu ada hatinya, dan sesungguhnya hati al Quraan adalah (Yaasin), barang siapa yang membacanya; seolah-olah dia telah membaca al Qur`aan sepuluh kali.”

Hadits ini dikeluarkan oleh at Tirmidziy (4/46), ad Daarimiy (2/456) dari jalan Humeid bin `Abdirrahman dari al Hasan bin Shoolih dari Haarun Abi Muhammad dari Muqaatil bin Hibbaan dari Qataadah dari Anas marfuu`an. Berkata at Tirmidziy: “Hadist ini hasan gharib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari jalan ini, sedang Haarun abu Muhammad majhuul (tidak dikenal), pada bab ini juga dari Abu Bakr as Shiddiiq, tidak shohih, sebab sanadnya lemah, dan pada bab ini juga dari Abi Hurairah radhiallahu `anhu.”

Jadi hadits tersebut memanglah hadits dha’if atau lemah, tetapi tidak sampai maudhu’ atau palsu. Bahkan At-Tarmidzi mengatakan bahwa hadits itu hasan gharib. Dalam hal fadhilah atau keutamaan suatu amal, hadits dha’if masih dapat dipakai. Karena hadits dha’if itu masih dianggap hadits atau perkataan Rasulullah SAW, hanya saja jalur periwayatannya kurang kuat. Hadits dha’if ini masih diambil sebagai hadits. Barangsiapa menyebut hadits dha’if sebagai hadits palsu, berarti ia telah mendustakan Rasul. Hadits dha’if adalah perkataan Rasul, barangsiapa mendustakannya, berarti mendustakan perkataan Rasul. Barangsiap mendustakan perkataan Rasul, maka bersiaplah atas tempatnya di neraka.

Dari Jundub radhiallahu `anhu berkata: berkata Rasulullahi Shollallahu `alaihi wa Sallam: “Barang siapa yang membaca “Yaasin” pada malam hari mencari Wajah Allah, Allah Tabaaraka wa Ta`aala mengampuni dosanya.”

Berkata asy Syaikh al Albaaniy: Hadist ini diriwayatkan oleh Maalik dan Ibnu as Sunniy dan Ibnu Hibban dalam “Shohih”-nya (6/312 no.2574), at Thobaraaniy di “al Mu`jamus Shoghiir” (1/149) dan “al Ausath” (4/21 no.3509).

“Hati al Qur`aan adalah “Yaasin”, tidaklah membacanya seorang lelaki yang menginginkan Allah dan kehidupan akhirat; kecuali Allah Ta`aala akan memberikan ampunan baginya, bacakanlah “Yaasin” itu atas orang yang meninggal diantara kalian.”

Asy Syaikh al Albaaniy telah berkata: “Hadist ini dho`if (lemah), diriwayatkan oleh: Ahmad, Abu Daawud, an Nasaaiiy dan lafadz ini bagi an Nasaaiiy, dan Ibnu Maajah, dan al Haakim dan dishohihkan olehnya.”

Bahkan seorang salafy gigih seperti Al-Albani pun menyebut hadits ini lemah. Lalu mengapa para pengikutnya begitu keras berkata bahwa hadits-hadits ini adalah palsu? Bahkan Al-Hakim mengatakan bahwa hadits tersebut adalah shahih.

Wallahu a’lam.

http://hotarticle.org/keutamaan-membaca-surah-yasin/

http://manhaj-salaf.net46.net/keutamaan-membaca-surah-yasin/

kapiten
November 13, 2008, 08:40
wah salah tempat nih :kakaka: [joget]

harusnya dipindah ke Islam aja :lol:

チャン
November 13, 2008, 08:42
Wah ga salah nih... :D:D:D

AlfaOmega
November 13, 2008, 22:25
koq kosong :D

militiaman
November 14, 2008, 00:29
Hadits dan Atsar Mengenai Surah Yasin

oleh: Moulana Muhammad ibn Moulana Haroon Abbassommar, ulama spesialis dalam Hadits di Afrika Selatan

Sayyiduna Ma’aqal ibn Yassaar (radiyAllau ‘anhu) meriwayatkan bahwa Rasulullah (sallAllahu ‘alayhi wasallam) bersabda, “Yasin adalah qalbu dari Al Quran. Tak seorangpun yang membacanya dengan niat menginginkan Akhirat melainkan Allah akan mengampuninya. Bacalah atas orang-orang yang wafat di antaramu.” (Sunan Abu Dawud). Imaam Haakim mengklasifikasikan hadits ini sebagai Sahiih (Autentik), di Mustadrak al-Haakim juz 1, halaman 565; lihat juga at-Targhiib juz 2 halaman 376.

Imaam Ahmad meriwayatkan dalam Musnad-nya dengan sanad beliau dari Safwaan bahwa ia berkata, “Para ulama biasa berkata bahwa jika Yasin dibaca oleh orang yang tengah maut, Allah akan memudahkan maut itu baginya.” (Lihat Tafsiir Ibn Katsir juz 3 halaman 571)

Sayyiduna Jund ibn Abdullah (radiyAllahu ‘anhu) meriwayatkan bahwa Rasulullah (sallAllahu ‘alayhi wasallam) bersabda, “Barangsiapa membaca Surah Yaseen pada malam hari dengan niat mencari ridha Allah, dosa-dosanya akan diampuni.” (Muwattha’ Imaam Maalik). Imaam ibn Hibbaan mengklasifikasikan hadits ini sebagai Sahiih, lihat Sahiih ibn Hibbaan Juz 6 halaman 312, ( lihat juga at-Targhiib juz 2 halaman 377).

Riwayat serupa oleh Sayyiduna Abu Hurayrah (radhiyAllahu ‘anhu) juga telah dicatat oleh Imaam Abu Ya’ala dalam Musnad beliau dan Hafiz ibn Katsir telah mengklasifikasikan rantai periwayatnya (Sanad) sebagai “Baik” (Hasan) (lihat Tafsiir Ibn Katsiir Juz 3 halaman 570).

Berdasarkan riwayat ini, Allamah Munaawi (rahmatullah ‘alayh) telah menganalisis bahwa barangsiapa hendak membaca Surah Yasin di pagi hari, juga akan diampuni dosanya, Insya Allah. (Lihat kitab Faydhul Qadiir, juz 6, halaman 259).

Sayyiduna ibn ‘Abbaas (radiyAllahu ‘anhu) mengatakan, “Barangsiapa membaca Yasiin di pagi hari, pekerjaannya di hari itu akan dimudahkan dan barangsiapa membacanya di akhir suatu hari, tugas-tugasnya hingga pagi hari berikutnya akan dimudahkan pula.” (Sunaan Daarimi, juz 2, halaman 549).

Riwayat serupa juga dicatat oleh Imaam Daarimi dari Attaa’ ibn Abi Rabah.

Wallahu A’lam bissawab (Dan Allah Lebih Mengetahui)

http://hotarticle.org/hadits-dan-atsar-mengenai-surah-yasin/

militiaman
November 14, 2008, 00:31
Antikel Kontra

Derajat Hadits Fadhilah Surat Yasin

Kebanyakan kaum muslimin membiasakan membaca surat Yasin, baik pada malam Jum'at (hari Jum'at menjelang khatib naik mimbar,
tambahan-peny) , ketika mengawali atau menutup majlis ta'lim, ketika ada atau setelah kematian dan pada acara-acara lain yang mereka anggap penting.

Saking seringnya surat Yasin dijadikan bacaan di berbagai pertemuan dan kesempatan, sehingga mengesankan, Al-Qur'an itu hanyalah berisi surat Yasin saja. Dan kebanyakan orang membacanya memang karena tergiur oleh fadhilah atau keutamaan surat Yasin dari hadits-hadits yang banyak mereka dengar, atau menurut keterangan dari guru mereka.

Al-Qur'an yang di wahyukan Allah adalah terdiri dari 30 juz. Semua
surat dari Al-Fatihah sampai An-Nas, jelas memiliki keutamaan yang setiap umat Islam wajib mengamalkannya. Oleh karena itu sangat dianjurkan agar umat Islam senantiasa membaca Al-Qur'an. Dan kalau sanggup hendaknya menghatamkan Al-Qur'an setiap pekan sekali, atau sepuluh hari sekali, atau dua puluh hari sekali atau khatam setiap bulan sekali. (Hadist Riwayat Bukhari, Muslim dan lainnya).

Sebelum melanjutkan pembahasan, yang perlu dicamkan dan diingat dari tulisan ini, adalah dengan membahas masalah ini bukan berarti penulis melarang atau mengharamkan membaca surat Yasin.

Sebagaimana surat-surat Al-Qur'an yang lain, surat Yasin juga harus kita baca. Akan tetapi di sini penulis hanya ingin menjelaskan kesalahan mereka yang menyandarkan tentang fadhilah dan keutamaan surat Yasin kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Selain itu, untuk menegaskan bahwa tidak ada tauladan dari Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam membaca surat Yasin setiap malam Jum'at, setiap memulai atau menutup majlis ilmu, ketika dan setelah kematian dan lain-lain.

Mudah-mudahan keterangan berikut ini tidak membuat patah semangat, tetapi malah memotivasi untuk membaca dan menghafalkan seluruh isi Al-Qur'an serta mengamalkannya.

KELEMAHAN HADITS-HADITS TENTANG FADHILAH SURAT YASIN

Kebanyakan umat Islam membaca surat Yasin karena -sebagaimana dikemukakan di atas- fadhilah dan ganjaran yang disediakan bagi orang yang membacanya. Tetapi, setelah penulis melakukan kajian dan penelitian tentang hadits-hadits yang menerangkan fadhilah surat Yasin, penulis dapati Semuanya Adalah Lemah.

Perlu ditegaskan di sini, jika telah tegak hujjah dan dalil maka kita
tidak boleh berdusta atas nama Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam sebab ancamannya adalah Neraka. (Hadits Riwayat Bukhari, Muslim, Ahmad dan lainnya).

HADITS DHA'IF DAN MAUDHU'

Adapun hadits-hadits yang semuanya dha'if (lemah) dan atau maudhu' (palsu) yang dijadikan dasar tentang fadhilah surat Yasin diantaranya adalah sebagai berikut :

1."Artinya : Siapa yang membaca surat Yasin dalam suatu malam, maka ketika ia bangun pagi hari diampuni dosanya dan siapa yang membaca surat Ad-Dukhan pada malam Jum'at maka ketika ia bangun pagi hari diampuni dosanya". (Ibnul Jauzi, Al-Maudhu'at, 1/247).

Keterangan : Hadits ini Palsu.
Ibnul Jauzi mengatakan, hadits ini dari semua jalannya adalah batil,
tidak ada asalnya. Imam Daruquthni berkata : Muhammad bin Zakaria yang ada dalam sanad hadits ini adalah tukang memalsukan hadits. (Periksa : Al-Maudhu'at, Ibnul Jauzi, I/246-247, Mizanul I'tidal III/549, Lisanul Mizan V/168, Al-Fawaidul Majmua'ah hal. 268 No. 944).

2."Artinya : Siapa yang membaca surat Yasin pada malam hari karena mencari keridhaan Allah, niscaya Allah mengampuni dosanya".

Keterangan : Hadits ini Lemah.
Diriwayatkan oleh Thabrani dalam kitabnya Mu'jamul Ausath dan
As-Shaghir dari Abu Hurairah, tetapi dalam sanadnya ada rawi Aghlab bin Tamim. Kata Imam Bukhari, ia munkarul hadits. Kata Ibnu Ma'in, ia tidak ada apa-apanya (tidak kuat). (Periksa : Mizanul I'tidal I:273-274 dan Lisanul Mizan I : 464-465).

3."Artinya : Siapa yang terus menerus membaca surat Yasin pada setiap malam, kemudian ia mati maka ia mati syahid".

Keterangan : Hadits ini Palsu.
Hadits ini diriwayatkan oleh Thabrani dalam Mu'jam Shaghir dari Anas, tetapi dalam sanadnya ada Sa'id bin Musa Al-Azdy, ia seorang pendusta dan dituduh oleh Ibnu Hibban sering memalsukan hadits. (Periksa : Tuhfatudz Dzakirin, hal. 340, Mizanul I'tidal II : 159-160, Lisanul Mizan III : 44-45).

4."Artinya : Siapa yang membaca surat Yasin pada permulaan siang (pagi hari) maka akan diluluskan semua hajatnya".

Keterangan : Hadits ini Lemah.
Ia diriwayatkan oleh Ad-Darimi dari jalur Al-Walid bin Syuja'. Atha'
bin Abi Rabah, pembawa hadits ini tidak pernah bertemu Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam. Sebab ia lahir sekitar tahun 24H dan
wafat tahun 114H. (Periksa : Sunan Ad-Darimi 2:457, Misykatul Mashabih, takhrij No.2177, Mizanul I'tidal III:70 dan Taqribut Tahdzib II:22).

5."Artinya : Siapa yang membaca surat Yasin satu kali, seolah-olah ia membaca Al-Qur'an dua kali". (Hadits Riwayat Baihaqi dalam Syu'abul Iman).

Keterangan : Hadits ini Palsu.
(Lihat Dha'if Jamiush Shaghir, No. 5801 oleh Syaikh Al-Albani).

6."Artinya : Siapa yang membaca surat Yasin satu kali, seolah-olah ia membaca Al-Qur'an sepuluh kali". (Hadits Riwayat Baihaqi dalam Syu'abul Iman).

Keterangan : Hadits ini Palsu.
(Lihat Dha'if Jami'ush Shagir, No. 5798 oleh Syaikh Al-Albani).

7."Artinya : Sesungguhnya tiap-tiap sesuatu mempunyai hati dan hati (inti) Al-Qur'an itu ialah surat Yasin. Siapa yang membacanya maka Allah akan memberikan pahala bagi bacaannya itu seperti pahala membaca Al-Qur'an sepuluh kali".

Keterangan : Hadits ini Palsu.
Hadits ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (No. 3048) dan Ad-Darimi
2:456. Di dalamnya terdapat Muqatil bin Sulaiman. Ayah Ibnu Abi Hatim berkata : Aku mendapati hadits ini di awal kitab yang di susun oleh Muqatil bin Sulaiman. Dan ini adalah hadits batil, tidak ada asalnya. (Periksa : Silsilah Hadits Dha'if No. 169, hal. 202-203) Imam Waqi' berkata : Ia adalah tukang dusta. Kata Imam Nasa'i : Muqatil bin Sulaiman sering dusta. (Periksa : Mizanul I'tidal IV:173).

8."Artinya : Siapa yang membaca surat Yasin di pagi hari maka akan dimudahkan (untuknya) urusan hari itu sampai sore. Dan siapa yang membacanya di awal malam (sore hari) maka akan dimudahkan urusannya malam itu sampai pagi".

Keterangan : Hadits ini Lemah.
Hadits ini diriwayatkan Ad-Darimi 2:457 dari jalur Amr bin Zararah.
Dalam sanad hadits ini terdapat Syahr bin Hausyab. Kata Ibnu Hajar : Ia banyak memursalkan hadits dan banyak keliru. (Periksa : Taqrib I:355, Mizanul I'tidal II:283).

9."Artinya : Bacakanlah surat Yasin kepada orang yang akan mati di antara kamu".

Keterangan : Hadits ini Lemah.
Diantara yang meriwayatkan hadits ini adalah Ibnu Abi Syaibah (4:74 cet. India), Abu Daud No. 3121. Hadits ini lemah karena Abu Utsman, di antara perawi hadits ini adalah seorang yang majhul (tidak diketahui), demikian pula dengan ayahnya. Hadits ini juga mudtharib (goncang sanadnya/tidak jelas).

10."Artinya : Tidak seorang pun akan mati, lalu dibacakan Yasin di
sisinya (maksudnya sedang naza') melainkan Allah akan memudahkan (kematian itu) atasnya".

Keterangan : Hadits ini Palsu.
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Nu'aim dalam kitab Akhbaru Ashbahan I:188. Dalam sanad hadits ini terdapat Marwan bin Salim Al Jazari. Imam Ahmad dan Nasa'i berkata, ia tidak bisa dipercaya. Imam Bukhari, Muslim dan Abu Hatim berkata, ia munkarul hadits. Kata Abu 'Arubah Al Harrani, ia sering memalsukan hadits. (Periksa : Mizanul I'tidal IV : 90-91).

Penjelasan
Abdullah bin Mubarak berkata : Aku berat sangka bahwa orang-orang zindiq (yang pura-pura Islam) itulah yang telah membuat riwayat-riwayat itu (hadits-hadits tentang fadhilah surat-surat tertentu). Dan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah berkata : Semua hadits yang mengatakan, barangsiapa membaca surat ini akan diberikan ganjaran begini dan begitu SEMUA HADITS TENTANG ITU ADALAH PALSU. Sesungguhnya orang-orang yang memalsukan hadits-hadits itu telah mengakuinya sendiri. Mereka berkata, tujuan kami membuat hadits-hadits palsu adalah agar manusia sibuk dengan (membaca surat-surat tertentu dari Al-Qur'an) dan menjauhkan mereka dari isi Al-Qur'an yang lain, juga
kitab-kitab selain Al-Qur'an. (Periksa : Al-Manarul Munffish Shahih
Wadh-Dha'if, hal. 113-115).

KHATIMAH

Dengan demikian jelaslah bahwa hadit-hadits tentang fadhilah dan
keutamaan surat Yasin, semuanya LEMAH dan PALSU. Oleh karena itu, hadits-hadits tersebut tidak dapat dijadikan hujjah untuk menyatakan keutamaan surat ini dan surat-surat yang lain, dan tidak bisa pula untuk menetapkan ganjaran atau penghapusan dosa bagi mereka yang membaca surat ini. Memang ada hadits-hadits shahih tentang keutamaan surat Al-Qur'an selain surat Yasin, tetapi tidak menyebut soal pahala.

Wallahu A'lam.

Yazid bin Abdul Qadir Jawas

http://kafemuslimah.com/article_detail.php?id=1104

AlfaOmega
November 16, 2008, 23:12
Dalil umum yang saya pakai:

setiap huruf yang kita baca dalam Al Qur'an, itu memberikan 10 hasanah.
Alif Lam Miim itu bukan 1 huruf, tapi 3 huruf.

Itu fadhilah membaca Al Qur'an pada umumnya.

:D

aschu
November 16, 2008, 23:31
Dalil umum yang saya pakai:

setiap huruf yang kita baca dalam Al Qur'an, itu memberikan 10 hasanah.
Alif Lam Miim itu bukan 1 huruf, tapi 3 huruf.

Itu fadhilah membaca Al Qur'an pada umumnya.

:D

daripada baca Surat Yasin, mending baca Al Baqarah sekalian, jauh lebih panjang dan hurufnya juga lebih banyak, bukankah pahalanya brati lebih banyak kalo berdasarkan dalil umum... kenapa harus mengkhususkan Surat Yasin..

AlfaOmega
November 18, 2008, 22:03
daripada baca Surat Yasin, mending baca Al Baqarah sekalian, jauh lebih panjang dan hurufnya juga lebih banyak, bukankah pahalanya brati lebih banyak kalo berdasarkan dalil umum... kenapa harus mengkhususkan Surat Yasin..

Bener....

Bagi guwe...
Mengapa mesti melawan arus utk mencari pahala ?
padahal dengan memanfaatkan arus, guwe bisa mendapatkan pahala.
[rokok]

aschu
November 18, 2008, 23:24
Bener....

Bagi guwe...
Mengapa mesti melawan arus utk mencari pahala ?
padahal dengan memanfaatkan arus, guwe bisa mendapatkan pahala.
[rokok]

melawan arus?? emang yang dimaksut arus tuh apaan? ::mikir::

AlfaOmega
November 19, 2008, 22:26
melawan arus?? emang yang dimaksut arus tuh apaan? ::mikir::

kita lihat kondisi / situasi / keadaan / waqi' dakwah

kemudian, kita manfaatkan kondisi / situasi / keadaan / waqi' tersebut, sehingga kita bisa mendapatkan pahala Allah sebesar-besarnya
sehingga kita bisa mendapatkan syurga Allah SWT.


Contoh...
Jika suatu daerah biasa mengikuti perayaan Idul Fitri versi pemerintah.
Kemudian ada ustadz baru yg pinter banget, dia menetapkan hari raya berdasarkan kemampuan canggih dia, yg kebetulan berbeda dgn versi pemerintah.

Orang model itu.... biasanya bakal ditingalin umat karna dia sudah berbuat berbeda atau menentang dengan kebiasaan setempat.

AlfaOmega
November 19, 2008, 22:29
Contoh lain:
di adat tempat guwe tinggal, budaya Yaa sin an cukup tebal.
tapi, di pondok biasanya gak makai Yaa sin an. :haha
pak kyai biasa membuat kumpulan wirid yg disebut Kautsaran.
akhirnya, kalau ada acara-acara di rumah, awalnya adalah Yaasin-an, kemudian baru baca wirid Kautsaran

:haha :kakaka:
:lol:

aschu
November 19, 2008, 23:13
kita lihat kondisi / situasi / keadaan / waqi' dakwah

kemudian, kita manfaatkan kondisi / situasi / keadaan / waqi' tersebut, sehingga kita bisa mendapatkan pahala Allah sebesar-besarnya
sehingga kita bisa mendapatkan syurga Allah SWT.


Contoh...
Jika suatu daerah biasa mengikuti perayaan Idul Fitri versi pemerintah.
Kemudian ada ustadz baru yg pinter banget, dia menetapkan hari raya berdasarkan kemampuan canggih dia, yg kebetulan berbeda dgn versi pemerintah.

Orang model itu.... biasanya bakal ditingalin umat karna dia sudah berbuat berbeda atau menentang dengan kebiasaan setempat.

maskutnya kita ngikutin budaya yah bukan ngikutin Syariat?? apakah begitu??

conto nya:
di daerahku kalo Sholat Jama'ah budayanya Shaf nya renggang2.. nah apa kita harus ngikutin budaya mereka? atau merapatkan Shaf sendiri? walaupun risikonya berbuat berbeda atau menentang dengan kebiasaan setempat.

militiaman
November 20, 2008, 07:40
Budaya apabila membantu untuk syiar islam gak ada masalah [yasinan ibu 2 / yasinan bapak 2 tiap malam jum'at], karena budaya bisa dijadikan sarana dakwah [sejarah sunan Kalijaga & sunan Bonang].

cobalt_6982
November 20, 2008, 08:27
Budaya apabila membantu untuk syiar islam gak ada masalah [yasinan ibu 2 / yasinan bapak 2 tiap malam jum'at], karena budaya bisa dijadikan sarana dakwah [sejarah sunan Kalijaga & sunan Bonang]
kamu darimana bisa nyimpulin gpp?

militiaman
November 20, 2008, 09:08
Ini bukan kesimpulan saya, tetapi saya banyak tanya sama para ulama, & mereka mengatakan Allah tidak menyusahkan umatnya [Islam], seperti kebiasaan yasinan di lingkungan saya, & cara dakwah yang dilakukan Sunan Kalijaga & sunan Bonang, apakah anda sehebat para sunan & para ulama ?

cobalt_6982
November 20, 2008, 09:21
Ini bukan kesimpulan saya, tetapi saya banyak tanya sama para ulama, & mereka mengatakan Allah tidak menyusahkan umatnya [Islam], seperti kebiasaan yasinan di lingkungan saya, & cara dakwah yang dilakukan Sunan Kalijaga & sunan Bonang, apakah anda sehebat para sunan & para ulama ?
Allah tidak menyusahkan umatnya....tapi jg tidak berarti Allah membebaskan umatnya untuk membuat acara2 mereka sendiri....sudah begitu...acara tersebut berdasarkan dari dalil yang lemah dan palsu....

coba gw tanya....
Kenapa yasinan dikhususkan tiap malam jum'at dan berdalil apa?
Kenapa yang dibaca adalah yasin...gak surat laen?
Dan apa saja yang biasa dibaca dalam acara yasinan di kampung kamu?
Dan kenapa dibacanya bareng2 dengan satu suara?
Dan kenapa dibacanya ngebut kayak kereta api?

mercury_man
November 20, 2008, 09:24
... mulai deh.. [sigh]

dari sini akan mulai perdebatan yang melelahkan... :D

:kakaka:

mercury_man
November 20, 2008, 09:24
... mulai deh.. [sigh]

dari sini akan mulai perdebatan yang melelahkan... :D

:kakaka:

cobalt_6982
November 20, 2008, 09:31
gak maw dijawab yah gpp....huhuhuhuhu

Jadi kasihan gw sama walisongo....keburu mate seh mereka sebelum mereka mengajarkan kaidah keilmuan mereka....akibatnya...banyak yang mengatasnamakan mereka untuk ajaran2 bid'ah yang berlandaskan dalil2 lemah dan palsu....

asal ada acara gak berdasar kuat...wali songo yang kena...atau sunan fulan yang kena...apalage banyak perkara musyrik yang diatasnamakan mereka

kesian gw....huhuhuhuhuhu

mercury_man
November 20, 2008, 12:35
sabar... sabar... :D

semuanya sabar ya... ::v:: P.E.A.C.E.

mudunpapat
November 20, 2008, 14:17
gak maw dijawab yah gpp....huhuhuhuhu

Jadi kasihan gw sama walisongo....keburu mate seh mereka sebelum mereka mengajarkan kaidah keilmuan mereka....akibatnya...banyak yang mengatasnamakan mereka untuk ajaran2 bid'ah yang berlandaskan dalil2 lemah dan palsu....

asal ada acara gak berdasar kuat...wali songo yang kena...atau sunan fulan yang kena...apalage banyak perkara musyrik yang diatasnamakan mereka

kesian gw....huhuhuhuhuhu
ya udah bal, lu aja jadi walisedoso

[rokok]

aschu
November 20, 2008, 15:31
klo Kobal jadi Walisedoso nantinya bakal ditingalin umat karna dia sudah berbuat berbeda atau menentang dengan kebiasaan setempat.

militiaman
November 21, 2008, 02:00
gak maw dijawab yah gpp....huhuhuhuhu

Jadi kasihan gw sama walisongo....keburu mate seh mereka sebelum mereka mengajarkan kaidah keilmuan mereka....akibatnya...banyak yang mengatasnamakan mereka untuk ajaran2 bid'ah yang berlandaskan dalil2 lemah dan palsu....

asal ada acara gak berdasar kuat...wali songo yang kena...atau sunan fulan yang kena...apalage banyak perkara musyrik yang diatasnamakan mereka

kesian gw....huhuhuhuhuhu

Kamu boleh menghina masyarakat yang melakukan yasinan, tapi
-Apa kamu dapat menghimpun semua umat islam dalam satu kemajemukan ?
-Apa kamu telah melakukan minimalisasi perbedaan mazhab di masyarakat ?
-Apa kamu telah menguasai ilmu alat untuk mendalami Al Qur'an [Nahu, syorof, mantiq, bayan dll] ?
-Apa kamu yakin Allah SWT meridho'i kamu, yang selalu meremehkan kemajemukan umat islam ?
-Apa kamu tau dimana manusia sudah merasa paling hebat [sombong], sesungguhnya amal ibadahnya dihapus oleh Allah SWT, kamu harus ingat diatas langit masih ada langit, karena kebenaran itu mutlak milik Allah SWT, dalam konteks yasinan ini dapatkah kamu yang hebat mengetahui tingkat keimanan & ketakwaan dari orang yang melakukan yasinan [jangan cuma cari sensasi diatas kemajemukan & perbedaan mazhab islam] ?

mercury_man
November 21, 2008, 09:03
-Apa kamu tau dimana manusia sudah merasa paling hebat [sombong], sesungguhnya amal ibadahnya dihapus oleh Allah SWT, kamu harus ingat diatas langit masih ada langit, karena kebenaran itu mutlak milik Allah SWT, dalam konteks yasinan ini dapatkah kamu yang hebat mengetahui tingkat keimanan & ketakwaan dari orang yang melakukan yasinan [jangan cuma cari sensasi diatas kemajemukan & perbedaan mazhab islam] ?

Yak, selayaknya kita menganut ilmu padi..

Semakin berisi, semakin menunduk....

Semakin banyak ilmu yang kita punya, akan semakin sadar kita, bahwa masih banyak sekali ilmu Allah di muka bumi ini yang masih belum mampu kita sentuh, apalagi kita pahami..

Mari belajar dan belajar...::cheer::

"Tholabul 'ilm, fariidhotun alaa kulli muslimiin..." (wal muslimaat..)

AlfaOmega
November 21, 2008, 15:19
maskutnya kita ngikutin budaya yah bukan ngikutin Syariat?? apakah begitu??

conto nya:
di daerahku kalo Sholat Jama'ah budayanya Shaf nya renggang2.. nah apa kita harus ngikutin budaya mereka? atau merapatkan Shaf sendiri? walaupun risikonya berbuat berbeda atau menentang dengan kebiasaan setempat.

Apakah kalau shaf nya renggang, terus dijadikan alasan utk tidak sholat jamaah ?
Yang penting, ikut aja shalat jamaah :haha
silakan rapatkan shaf sendiri

renggangnya shaf shalat jamaah, tidak membatalkan sholat jamaah.

Memang tidak sempurna.... tapi, sholat jamaah tidak batal.

:haha :kakaka:

aschu
November 21, 2008, 15:30
Apakah kalau shaf nya renggang, terus dijadikan alasan utk tidak sholat jamaah ?
Yang penting, ikut aja shalat jamaah :haha
silakan rapatkan shaf sendiri

renggangnya shaf shalat jamaah, tidak membatalkan sholat jamaah.

Memang tidak sempurna.... tapi, sholat jamaah tidak batal.

:haha :kakaka:

Masalah yang kutanyakan adalah BUDAYA dan Syariat. BUDAYA setempat Shaf renggang, dan jika kita merapatkan Shaf dianggap berbuat berbeda atau menentang dengan kebiasaan setempat (saya sendiri pernah ditegur mengenai Shaf karena berbeda dengan BUDAYA setempat).

Padahal yang saya ketahui, rapat dan lurus dalam Shalat Berjama'ah mendapat perhatian khusus dan keras dari Rasulullah, bahkan kata Ust. di Masjid Fatimatuzahra, tidak ada Fadilah Shalat Berjama'ah jika shafnya tidak rapat (terputus). Apakah kita perlu mengorbankan KESEMPURNAAN Sholat Berjama'ah hanya untuk menghormati BUDAYA setempat???

AlfaOmega
November 21, 2008, 15:49
Masalah yang kutanyakan adalah BUDAYA dan Syariat. BUDAYA setempat Shaf renggang, dan jika kita merapatkan Shaf dianggap berbuat berbeda atau menentang dengan kebiasaan setempat (saya sendiri pernah ditegur mengenai Shaf karena berbeda dengan BUDAYA setempat).

Padahal yang saya ketahui, rapat dan lurus dalam Shalat Berjama'ah mendapat perhatian khusus dan keras dari Rasulullah, bahkan kata Ust. di Masjid Fatimatuzahra, tidak ada Fadilah Shalat Berjama'ah jika shafnya tidak rapat (terputus). Apakah kita perlu mengorbankan KESEMPURNAAN Sholat Berjama'ah hanya untuk menghormati BUDAYA setempat???

Kalau lu tanya guwe ttg hal tersebut...

Shaf renggang tidak membatalkan sholat jamaah
shalat jamaah pun, hanyalah sunnah muakkad, tidak sampai kepada derajat wajib ataupun fardhu.

Sedangkan berpecah belah, itu dilarang dalam Islam
Memecah silatur rahmi dengan sesama muslim, itu dilarang dalam Islam.

Jadi...
guwe rela sholat jamaah guwe tidak sempurna, demi menjaga persatuan dan kesatuan umat Islam di daerah tersebut, dan tetap menjaga tali silatur rahmi dengan mereka.

Dalam fiqih prioritas disebut...
Jika perbuatan baik kita, itu secara otomatis melanggar larangan Allah SWT.
Maka... dahulukanlah menghindari larangan Allah SWT.

aschu
November 21, 2008, 16:15
Kalau lu tanya guwe ttg hal tersebut...

Shaf renggang tidak membatalkan sholat jamaah
shalat jamaah pun, hanyalah sunnah muakkad, tidak sampai kepada derajat wajib ataupun fardhu.

Sedangkan berpecah belah, itu dilarang dalam Islam
Memecah silatur rahmi dengan sesama muslim, itu dilarang dalam Islam.

Jadi...
guwe rela sholat jamaah guwe tidak sempurna, demi menjaga persatuan dan kesatuan umat Islam di daerah tersebut, dan tetap menjaga tali silatur rahmi dengan mereka.

Dalam fiqih prioritas disebut...
Jika perbuatan baik kita, itu secara otomatis melanggar larangan Allah SWT.
Maka... dahulukanlah menghindari larangan Allah SWT.

walaupun BUDAYA yang direlakan untuk merusak KESEMPURNAAN Sholat berjama'ah itu BUDAYA yang SALAH??? ::mikir::

AlfaOmega
November 21, 2008, 17:05
Budayanya memang perlu diperbaiki...

Tapi, memperbaiki budaya tidak dengan mengorbankan silaturrahmi sesama muslim, atau tidak pula dengan membuat suasana masjid menjadi 'gerah'.

Preman_Cakung
November 21, 2008, 18:46
Muslim itu klo secara individual memang banyak yang hebat tapi klo di suruh kolektif susahnya minta ampun.....:kakaka:





senengnya ngurusin yang kecil2 kemudian dibesar2kan.....:kakaka:


wa la tafarraqu.....wa la tafarraqu.....wa la tafarraqu.....
Ya Sayyidi....tabokin tuh umatmu....:kakaka:

aschu
November 22, 2008, 01:56
Budayanya memang perlu diperbaiki...

Tapi, memperbaiki budaya tidak dengan mengorbankan silaturrahmi sesama muslim, atau tidak pula dengan membuat suasana masjid menjadi 'gerah'.

bagaimana langkah Konkretnya untuk memperbaiki BUDAYA??

yang ada malah BUDAYA tersebut sudah mengakar kuat di dalam Masyarakat, dan kalo dalam pelatihan yang pernah kuikuti, semacam sudah berada dalam Zona Nyaman, dan untuk melaksanakan Perubahan harus rela melepas Zona Nyaman tersebut.

Kalo diriku menganalogikan yang terjadi di Masyarakat adalah seperti:

Ada seseorang yang telah dewasa yang asalnya BUKAN Islam, Lalu ada seorang yang memiliki Ilmu Agama yang sangat Tinggi berusaha Mengislamkan orang dewasa tersebut. Dan perlahan Orang Dewasa tersebut tertarik masup Islam, namun dengan keimanannya saat itu, orang Dewasa tersebut belum mampu melaksanakan seluruh Syariat Islam tersebut (sebagai conto: Baru dapat melaksanakan Sholat 3 waktu belum 5 waktu), dan oleh sang Ahli Agama tersebut masih dimaklumi karena masih dalam tahap baru masup Islam dan pelaksanaan Sholat 3 waktu tersebut masih dibiarkan dengan alasan UMUM daripada tidak Sholat kan masih tahap belajar.Namun tidak lama kemudian sang guru agama tersebut meninggal dan si Orang Dewasa Tersebut akhirnya tetap melaksanakan Sholat 3 waktu seterusnya dan telah menjadi BUDAYA dirinya, dengan pemikiran sudah Nyaman cuma melaksanakan Sholat 3 waktu dan "diperbolehkan" oleh orang yang Ilmu Agamanya sudah sangat tinggi. Saking menjadi Budayanya dia mengajarkan juga kepada keluarganya Sholat 3 waktu tersebut.
Beberapa Tahun kemudian,ada orang yang Ilmu Agamanya belum seberapa namun mengerti akan Syariat Islam berjumpa dengan orang dewasa tersebut, dan heran akan "pelaksanaan" Sholat 3 waktu tersebut, dan kemudian memberitahu orang dewasa tersebut bahwa Sholat yang benar adalah 5 waktu bukan 3 waktu. namun sang orang Dewasa tersebut langsung saja mengatakan, apakah anda sehebat guru saya yang memperbolehkan saya hanya Sholat 3 waktu??? Saya sudah merasa NYAMAN dengan Sholat 3 waktu dan BUDAYA dikeluarga saya pun demikian, anda jangan datang kesini untuk merusak BUDAYA disini dan merusak persaudaraan kita (saya dan anda) sesama Muslim... dan setiap ada orang yang ingin memberitahukan Syariat yang benar kepada orang itu selalu dijawab demikian, Apakah Anda SEHEBAT guru saya?????

sampai akhirnya hal ini dikerjakan secara turun temurun dan diikuti juga oleh masyarakat sekitar dan akhirnya menjadi BUDAYA yang semakin KUAT,MENGAKAR dan semakin sulit diluruskan bahkan di daerah tersebut muncul Kiyai2 yang melegitimasi BUDAYA tersebut dengan berbagai macam dalil yang disambung-sambungkan.


*kisah diatas hanya fiksi belaka hanya sebagai perumpamaan kasar apa yang terjadi di Indonesia*

aschu
November 22, 2008, 02:00
Muslim itu klo secara individual memang banyak yang hebat tapi klo di suruh kolektif susahnya minta ampun.....:kakaka:


Alhamdulillah sepanjang yang saya temui, lebih Indah lagi jika Muslim yang secara Individu memegang teguh Syariat Islam tanpa dicampuri Budaya, kemudian bersatu dan menjadi kolektif hasilnya Luar Biasa Indah, dan orang2 yang seperti mereka ini yang justru benar2 taat dalam menjalankan Syariat Islam dibanding orang2 yang (mungkin) secara jumlah kolektif lebih besar namun karena dasarnya dicampuri juga dengan unsur budaya, yang ada hanya perpecahan dan perpecahan dan munculkan pengkultusan Individu bahkan ada yang rela mati demi Individu2 tertentu...

dan hal tersebut sudah saya temui, bukan fiksi belaka...

mercury_man
November 22, 2008, 02:58
::mikir:: perasaan threadnya tentang surah yaasin...


back to topic.. :o

kapiten
November 22, 2008, 04:45
surah yasin itu ada berapa ayat sih?? :kakaka: [joget]

udah ada yg hapal belum?? :lol:

mercury_man
November 22, 2008, 04:56
bentar kap... gw buka Qur'an dulu....

:D

mercury_man
November 22, 2008, 04:56
bentar kap... gw buka Qur'an dulu....

:D

aschu
November 22, 2008, 06:18
Jangan lupa yah, Tajwidnya jangan ditinggalin...

badboyZzz
November 22, 2008, 06:40
maskutnya kita ngikutin budaya yah bukan ngikutin Syariat?? apakah begitu??

conto nya:
di daerahku kalo Sholat Jama'ah budayanya Shaf nya renggang2.. nah apa kita harus ngikutin budaya mereka? atau merapatkan Shaf sendiri? walaupun risikonya berbuat berbeda atau menentang dengan kebiasaan setempat.

Sori nimbrung diskusinya.
Inti yang gua tangkap dr tulisan kang alfa adalah melaksanakan budaya tanpa melanggar syariat. Krn budaya pada dasarnya mubah asal tdk melanggar syariat.
Tapi klo aschu menganggap membaca Yaasin itu melanggar syariat....silahkan jgn diikuti kebudayaan yg sering membaca Yaasin.

Budaya shaf (klo itu dianggap budaya) yg renggang jelas2 budaya yang melanggar syariat. Haram diikuti.
Tp utk merubah itu gak gampang, namanya jg jamaah...banyak orang. Klo diajak ngomong susah ya ditunjukin caranya.
Tp klo ditunjukin jg susah krn klo kita coba merapatkan nanti kaki kita ngangkang kemana-mana. :kakaka:
:lol:

badboyZzz
November 22, 2008, 06:44
^kok gua ngelantur lagi ya :hehe

Back to topic! :D


Gua seneng Yaasinan krn dikit2 dah hapal...jd lebih lancar bacanya dr pd baca Al Baqarah [joget] :hehe

mercury_man
November 22, 2008, 06:54
Sebenernya, gw ga setuju kalo dianggep semua surah dalam Al Qur;an itu punya kedudukan yang sama.
Kalo sama, kenapa yang wajib dibaca dalam solat cuman Al-Fatehah?
Kenapa Al-Ikhlas nilainya sama dengan sepertiga AlQur'an?
Kenapa Al-Kaafiruun nilainya sama dengan seperempat AlQur'an?
Jadi, kalau orang lebih suka baca yasiin daripada surat yg lain, kenapa ga boleh? apalagi sudah ada keterangan tentang keutamaan surah Yaasiin seperti yg dibawakan militiaman..

Kenapa hayo kenapa? :D

Gw nanya lo...jangan diketusin... :o

:haha

mercury_man
November 22, 2008, 06:54
Sebenernya, gw ga setuju kalo dianggep semua surah dalam Al Qur;an itu punya kedudukan yang sama.
Kalo sama, kenapa yang wajib dibaca dalam solat cuman Al-Fatehah?
Kenapa Al-Ikhlas nilainya sama dengan sepertiga AlQur'an?
Kenapa Al-Kaafiruun nilainya sama dengan seperempat AlQur'an?
Jadi, kalau orang lebih suka baca yasiin daripada surat yg lain, kenapa ga boleh? apalagi sudah ada keterangan tentang keutamaan surah Yaasiin seperti yg dibawakan militiaman..

Kenapa hayo kenapa? :D

Gw nanya lo...jangan diketusin... :o

:haha

cobalt_6982
November 23, 2008, 12:35
ya udah bal, lu aja jadi walisedoso
kita udh bahas ini kan ndut di sms?
huhuhuhu

Kamu boleh menghina masyarakat yang melakukan yasinan, tapi
-Apa kamu dapat menghimpun semua umat islam dalam satu kemajemukan ?
-Apa kamu telah melakukan minimalisasi perbedaan mazhab di masyarakat ?
-Apa kamu telah menguasai ilmu alat untuk mendalami Al Qur'an [Nahu, syorof, mantiq, bayan dll] ?
-Apa kamu yakin Allah SWT meridho'i kamu, yang selalu meremehkan kemajemukan umat islam ?
-Apa kamu tau dimana manusia sudah merasa paling hebat [sombong], sesungguhnya amal ibadahnya dihapus oleh Allah SWT, kamu harus ingat diatas langit masih ada langit, karena kebenaran itu mutlak milik Allah SWT, dalam konteks yasinan ini dapatkah kamu yang hebat mengetahui tingkat keimanan & ketakwaan dari orang yang melakukan yasinan [jangan cuma cari sensasi diatas kemajemukan & perbedaan mazhab islam] ?
Kebenaran memang mutlak milik Allah...akan tetapi bukankah kebenaran itu telah Allah turunkan melalui jibril dan lisan RosulNya?

Tampaknya kamu mendukung sekali kemajemukan umat Islam yah?
huhuhuhu

kalau aq...aq mendukung kemajemukan umat Islam...tapi hanya dari hal dunia saja...misalkan perbedaan warna kulit, ras, dsb....sebeda apapun umat Islam dari hal tersebut maka pendapatku seh sah2 saja...

Akan tetapi...terhadap hal2 konteks peribadatan dan keilmuan Islam...majemuk itu boleh asalkan dalilnya kuat sama kuat...akan tetapi...jikalau dalilnya adalah kuat dengan lemah...atau kuat dengan sama sekali tidak berdalil...maka haram bermajemuk dalam hal ini...karena Allah telah mengatakan dalam Al Qur'an "Barangsiapa mengikuti Allah dan Rosulnya...sungguh dia berada dalam keberuntungan yang besar (Fauzan 'Azima)....

Yak, selayaknya kita menganut ilmu padi..

Semakin berisi, semakin menunduk....

Semakin banyak ilmu yang kita punya, akan semakin sadar kita, bahwa masih banyak sekali ilmu Allah di muka bumi ini yang masih belum mampu kita sentuh, apalagi kita pahami..

Mari belajar dan belajar...

"Tholabul 'ilm, fariidhotun alaa kulli muslimiin..." (wal muslimaat..)
Apabila datang kepadamu dalil dan pendapat yang lebih kuat...maka terimalah dalil dan pendapat tersebut....inilah semangat para penuntut ilmu....dan inilah yang engkau lupa

cobalt_6982
November 23, 2008, 12:56
Budayanya memang perlu diperbaiki...

Tapi, memperbaiki budaya tidak dengan mengorbankan silaturrahmi sesama muslim, atau tidak pula dengan membuat suasana masjid menjadi 'gerah'.
oi om alfa...sekarang begini dh...

sebetulnya yang ngebuat gerah itu siapa?

apa orang2 yang tidak menerima dalil hanya karena budaya mereka seperti itu...ataukah orang yang memberitahu dalilnya?

sekarang kita liat aj kenyataannya...
Kalau memang dalil tersebut kuat dan benar adanya....maka kenapa pula kita harus gerah dan tidak menerimanya?

Apakah engkau akan mengalahkan dalil hanya karena budaya?

Nah...kalo liat dari hal tersebut...siapakah yang bikin gerah?

sekarang liat jg kenyataannya....
Didaerah ku...saudara2ku (anggaplah mereka sefaham dengan ku) telah mengajarkan dengan lemah lembut...dalilnya mereka beri tahu...mereka beri jg buku yang membahas tentang kesalahan jama'ah di masjid...tanpa amarah dan tanpa hinaan...

tapi nyatanya?

kamilah yang dijauhi....

Padahal...apabila kami bertemu mereka...kami ucapkan salam kepada mereka...kami senyum kepada mereka...kami toh tidak pernah merasa putus silaturrahim

tapi tetap saja...kami yang dijauhi...

malah aq berhasil mengorek keterangan...bahwasanya mereka yang kami nasehati...sampe sekarang jg masih membenci kami....

rasanya miris sekali melihat kenyataan tersebut....

Sori nimbrung diskusinya.
Inti yang gua tangkap dr tulisan kang alfa adalah melaksanakan budaya tanpa melanggar syariat. Krn budaya pada dasarnya mubah asal tdk melanggar syariat.
Tapi klo aschu menganggap membaca Yaasin itu melanggar syariat....silahkan jgn diikuti kebudayaan yg sering membaca Yaasin.

Budaya shaf (klo itu dianggap budaya) yg renggang jelas2 budaya yang melanggar syariat. Haram diikuti.
Tp utk merubah itu gak gampang, namanya jg jamaah...banyak orang. Klo diajak ngomong susah ya ditunjukin caranya.
Tp klo ditunjukin jg susah krn klo kita coba merapatkan nanti kaki kita ngangkang kemana-mana
ngangkang?
huhuhuh
udh pernah dicoba belom merapatkan shaff kaki dengan kaki rapat dan bahu dengan bahu rapat?

masalah merapatkan shaff....hal ini sudah ku bahas...
jangan diperpanjang....

Sebenernya, gw ga setuju kalo dianggep semua surah dalam Al Qur;an itu punya kedudukan yang sama.
Kalo sama, kenapa yang wajib dibaca dalam solat cuman Al-Fatehah?
Kenapa Al-Ikhlas nilainya sama dengan sepertiga AlQur'an?
Kenapa Al-Kaafiruun nilainya sama dengan seperempat AlQur'an?
Jadi, kalau orang lebih suka baca yasiin daripada surat yg lain, kenapa ga boleh? apalagi sudah ada keterangan tentang keutamaan surah Yaasiin seperti yg dibawakan militiaman..

Kenapa hayo kenapa?

Gw nanya lo...jangan diketusin...
semua kedudukan surat dalam Al Qur'an adalah sama...tetapi isi dan fadhillah nya berbeda

harap dipikirkan dengan teliti...

Masalah kedudukan surat...surat apapun dalam Al Qur'an adalah sama...coz itu adalah wahyu Allah

tetapi masalah isi dan fadhillah...ini ada perbedaan...

seperti contoh yang telah kamu sebutkan...

Akan tetapi...perbedaan isi dan fadhillah...tidaklah menjadi dasar bahwa yang mutlak haruslah dikhususkan....

contoh...kamu membawakan orang yang suka membaca surat yasin ketimbang surat lain...
Hal ini...tidak lah menjadi dasar bahwa orang tersebut khusus membaca surat yasin pada malam tertentu saja....dan tidaklah menjadi dasar untuk orang tersebut agar membaca surat yasin saja...tapi surat Al Qur'an lain tidak dibaca....

coba jawab...kalo memang dia suka membaca surat yasin...kenapa tidak setiap hari dia baca....kenapa dibaca hanya pada malam tertentu?

dan untuk yang saya bold...apa benar militiaman telah membawakan keutamaan surat yasin?
bukannya justru sebaliknya...bahwa hadits2 yang sering dibawakan oleh orang2 tentang keutamaan surat yasin dan dijadikan alasan untuk yasinan adalah hadits2 dho'if dan maudhu'?

Preman_Cakung
November 23, 2008, 13:23
Alhamdulillah sepanjang yang saya temui, lebih Indah lagi jika Muslim yang secara Individu memegang teguh Syariat Islam tanpa dicampuri Budaya, kemudian bersatu dan menjadi kolektif hasilnya Luar Biasa Indah, dan orang2 yang seperti mereka ini yang justru benar2 taat dalam menjalankan Syariat Islam dibanding orang2 yang (mungkin) secara jumlah kolektif lebih besar namun karena dasarnya dicampuri juga dengan unsur budaya, yang ada hanya perpecahan dan perpecahan dan munculkan pengkultusan Individu bahkan ada yang rela mati demi Individu2 tertentu...

dan hal tersebut sudah saya temui, bukan fiksi belaka...

Please deh Aschu......itulah yang sekarang tidak bisa dipecahkan dari dulu sampai sekarang.....gak tahu klo nanti....


gimana hidup klo gak ada kontaminasi budaya....:kakaka:

aschu
November 23, 2008, 13:33
Please deh Aschu......itulah yang sekarang tidak bisa dipecahkan dari dulu sampai sekarang.....gak tahu klo nanti....


gimana hidup klo gak ada kontaminasi budaya....:kakaka:

urusan agama pa urusan dunia?? klo urusan dunia sih silahkan membentuk budaya selama itu baik dan tidak dilarang oleh agama...

tp klo urusan Agama sih kayaknya malah rusak deh klo tercampur budaya...

cobalt_6982
November 23, 2008, 13:33
Please deh Aschu......itulah yang sekarang tidak bisa dipecahkan dari dulu sampai sekarang.....gak tahu klo nanti....


gimana hidup klo gak ada kontaminasi budaya....
kontaminasi budaya terhadap apa?
kalo kontaminasi budaya terhadap syari'at ini ada 2 macam...sepanjang budaya tersebut sesuai dengan sunnah...ini seh no prob...tetapi jikalau menyelisihi sunnah...ini yang patut diluruskan

contoh...
masyarakat jawa itu sering gotong royong dalam membersihkan lingkungan...atau sungai..atau membangun rumah...dalam Islam ini diperbolehkan...

Akan tetapi...apabila ada budaya macem tahlilan yang sering mereka lakukan...yang menyelisihi sunnah...inilah yang haram dilakukan

Preman_Cakung
November 23, 2008, 13:42
^ no comment ah klo masalah khilafiyah.....:kakaka:




mending gua susah payah mikirin negara syariah ketimbang pusing sama tahlilan....:kakaka:

cobalt_6982
November 23, 2008, 13:45
^ no comment ah klo masalah khilafiyah.....

mending gua susah payah mikirin negara syariah ketimbang pusing sama tahlilan....
justru gw malahan pesimis man terhadap negara syariah...
gmn maw mendirikan negara syariah...dinasehati dengan dalil saja gerah?

Preman_Cakung
November 23, 2008, 13:45
urusan agama pa urusan dunia?? klo urusan dunia sih silahkan membentuk budaya selama itu baik dan tidak dilarang oleh agama...

tp klo urusan Agama sih kayaknya malah rusak deh klo tercampur budaya...

justru itu aschu.....Agama itu mengatur dunia.....dan budaya gak bisa lepas didalamnya....terlebih di Jawa penyebaran Islam melalui jalan mistisme alias tasawuf....


lain halnya sama Sumatra....
Budaya ini lah yang tidak bisa terpisahkan sekarang ini....
daripada omongin budaya jawa yang tidak Islami mending gua perangin Ghazwul fikiri dah....sama orang2 kafir.....:kakaka:

Preman_Cakung
November 23, 2008, 13:47
justru gw malahan pesimis man terhadap negara syariah...
gmn maw mendirikan negara syariah...dinasehati dengan dalil saja gerah?

Klo lo sih bukan nasehati bro....tapi menggurui jelas aja pada gerah.....:kakaka:

aschu
November 23, 2008, 13:57
justru itu aschu.....Agama itu mengatur dunia.....dan budaya gak bisa lepas didalamnya....terlebih di Jawa penyebaran Islam melalui jalan mistisme alias tasawuf....


lain halnya sama Sumatra....
Budaya ini lah yang tidak bisa terpisahkan sekarang ini....
daripada omongin budaya jawa yang tidak Islami mending gua perangin Ghazwul fikiri dah....sama orang2 kafir.....:kakaka:

tapi apa perlu juga Ibadah terkontaminasi budaya????

cobalt_6982
November 23, 2008, 13:58
Klo lo sih bukan nasehati bro....tapi menggurui jelas aja pada gerah.....
whatever lah...yang jelas memberitahu...dan gw rasa sekasar2nya gw dalam bicara cuma perkataan "jelas aj dalil gw nguap...gw nuangin air ke batu cadas" (sry to said)....

dan mengenai gerah...bukan hanya terjadi terhadap orang yang gw nasehati aj koQ...tapi hampir seluruh penjunjung tinggi "budaya Islam"....

ini fenomena apa neh man?
huhuhuhu

mercury_man
November 23, 2008, 15:03
nasehat oh, nasehat... :D

ta'awanu 'alal birri wattaqwaa walaa ta aawanuu 'alal itsmi wal udwaan..

(gw masih belum bisa posting tulisan arab.. :kakaka:)

mari berlapang dada.. :D

mudunpapat
November 23, 2008, 16:11
urusan agama pa urusan dunia?? klo urusan dunia sih silahkan membentuk budaya selama itu baik dan tidak dilarang oleh agama...

tp klo urusan Agama sih kayaknya malah rusak deh klo tercampur budaya...
gimana bisa mengajarkan agama kepada manusia tanpa budaya

[rokok]

AlfaOmega
November 23, 2008, 22:36
tapi apa perlu juga Ibadah terkontaminasi budaya????

Kenapa mesti terkontaminasi ?

Dalam hal sholat jamaah renggang shafnya...
itu pertanda belum sempurnanya pemahaman masyarakat atas sholat jamaah. :D

Guwe bukan orang perfectionist.. :haha
guwe gak nganggap bahwa kalau shalat jamaah shaf nya renggang, maka itu suatu kesalahan.
guwe gak nganggap kalau gak sempurna, pasti salah.

Dalam hal ini, memang ada yang perlu diperbaikin.


Bagi guwe...
budaya adalah gambaran kehidupan suatu masyarakat atau daerah, dalam menerapkan Islam dalam segala sendi kehidupan.
Jadi, masyarakat masih dalam proses menuju kesempurnaan pelaksanaan Islam.

Kalau melihat adanya ketidak sempurnaan, silakan diperbaiki tanpa merusak apa yang udah ada.
Karna budaya itu kompleks dan multi dimensi... :D

Orang-2 muda dengan semangat besar...
dia biasanya melihat dan memperbaiki satu sisi aja, tapi pada saat yg sama ngerusak sisi yang lain.

Alangkah baiknya...
pelajari dan pahamin dulu sistem yang ada
kemudian perbaiki sistem itu, tanpa mengacaukan sistem yang ada

Ulama yang faham dan faqih
biasanya dalam berbuat dia maju selangkah utk memperbaiki, kemudian melihat respons dari sistem yang ada...
jika respons negatif atau ada yang rusak, dia mundur selangkah lagi...

pertimbangannya: Menghindari kerusakan itu lebih mulia daripada
memaksakan kebaikan (yang pada saat yang sama menimbulkan kerusakan).

Preman_Cakung
November 24, 2008, 04:50
nasehat oh, nasehat... :D

ta'awanu 'alal birri wattaqwaa walaa ta aawanuu 'alal itsmi wal udwaan..

(gw masih belum bisa posting tulisan arab.. :kakaka:)

mari berlapang dada.. :D

koreksi ah....
bukan 'alaa tapi bi

bil birri wa attaqwa dan bil itsmi....



maaf.....:maaf:

cobalt_6982
November 24, 2008, 06:00
nasehat oh, nasehat...

ta'awanu 'alal birri wattaqwaa walaa ta aawanuu 'alal itsmi wal udwaan..

(gw masih belum bisa posting tulisan arab.. )

mari berlapang dada..
coba artikan apa yang dimaksud?

gimana bisa mengajarkan agama kepada manusia tanpa budaya
gimana bisa memasukkan budaya kuffar kedalam agama?

Kenapa mesti terkontaminasi ?

Dalam hal sholat jamaah renggang shafnya...
itu pertanda belum sempurnanya pemahaman masyarakat atas sholat jamaah.

Guwe bukan orang perfectionist..
guwe gak nganggap bahwa kalau shalat jamaah shaf nya renggang, maka itu suatu kesalahan.
guwe gak nganggap kalau gak sempurna, pasti salah.

Dalam hal ini, memang ada yang perlu diperbaikin.


Bagi guwe...
budaya adalah gambaran kehidupan suatu masyarakat atau daerah, dalam menerapkan Islam dalam segala sendi kehidupan.
Jadi, masyarakat masih dalam proses menuju kesempurnaan pelaksanaan Islam.

Kalau melihat adanya ketidak sempurnaan, silakan diperbaiki tanpa merusak apa yang udah ada.
Karna budaya itu kompleks dan multi dimensi...

Orang-2 muda dengan semangat besar...
dia biasanya melihat dan memperbaiki satu sisi aja, tapi pada saat yg sama ngerusak sisi yang lain.

Alangkah baiknya...
pelajari dan pahamin dulu sistem yang ada
kemudian perbaiki sistem itu, tanpa mengacaukan sistem yang ada

Ulama yang faham dan faqih
biasanya dalam berbuat dia maju selangkah utk memperbaiki, kemudian melihat respons dari sistem yang ada...
jika respons negatif atau ada yang rusak, dia mundur selangkah lagi...

pertimbangannya: Menghindari kerusakan itu lebih mulia daripada
memaksakan kebaikan (yang pada saat yang sama menimbulkan kerusakan).
buat yang saya bold...
diperbaiki tanpa merusak apa yang ada yah?

bagaimana maw memperbaiki...sedangkan orang yang hendak diperbaiki tidak maw bahkan gerah untuk diperbaiki?
Bahkan sesuatu yang hendak diperbaiki itu malah budaya mereka itu sendiri

aq faham apa yang kamu maksudkan
bahwa kalo ada indikasi yang lebih buruk kami jg akan melakukan tindak represif satu langkah...dan ini jg yang sekarang aq terapkan...

Akan tetapi...tindakan represif satu langkah tersebut bukanlah dasar bagi kami untuk tidak berkata yang haQ...

contoh kecil...liat saja pembahasan pada thread ini...

demi Allah aq tidak akan ikut campur kalau saja sang TS membahas hanya masalah yasinan saja...apakah itu dasar2nya...atau bacaan2nya...dan lain sebagainya...

Akan tetapi...berhubung si TS berkata seperti dibawah ini...liat yang saya bold...
Budaya apabila membantu untuk syiar islam gak ada masalah [yasinan ibu 2 / yasinan bapak 2 tiap malam jum'at], karena budaya bisa dijadikan sarana dakwah [sejarah sunan Kalijaga & sunan Bonang]
maka menjadi suatu keharusan bagi kami untuk berkata yang haQ...

Sama seperti thread bid'ah...
Kalau saja tidak ada embel2 perkataan bahwa bid'ah hasanah itu boleh2 saja untuk dilakukan...niscaya kami tidak akan campuri...tetapi...berhubung wacara tersebut keluar...yah...kami campuri...

mercury_man
November 24, 2008, 06:23
koreksi ah....
bukan 'alaa tapi bi

bil birri wa attaqwa dan bil itsmi....



maaf.....:maaf:


makasih koreksinya, man... ::malu::

tapi memang ada dua versi itu kok.

ada yg pake 'ala dan ada yg pake bi :D

kapiten
November 24, 2008, 09:06
wah rame lagi nih!!!!
asik!!!
gue mau mengomentarin yg mana ya???

gue baca2 dulu deh!! :kakaka: [joget]

filsufsufi
November 24, 2008, 09:27
^hihihhi itu namanya..klo dalam main catur "jalan dulu baru mikir"..."ngepost dolo baru baca2"..hehe (ops, catur kan lebih bid'ah dari Yasinan kalee..hihi)

Saaammma donk...hehe

mercury_man
November 24, 2008, 10:07
ceritanya mau lanjut lagi ke bid'ah nih?? :o

:kakaka:

AlfaOmega
November 24, 2008, 22:27
coba artikan apa yang dimaksud?


gimana bisa memasukkan budaya kuffar kedalam agama?


buat yang saya bold...
diperbaiki tanpa merusak apa yang ada yah?

bagaimana maw memperbaiki...sedangkan orang yang hendak diperbaiki tidak maw bahkan gerah untuk diperbaiki?
Bahkan sesuatu yang hendak diperbaiki itu malah budaya mereka itu sendiri

aq faham apa yang kamu maksudkan
bahwa kalo ada indikasi yang lebih buruk kami jg akan melakukan tindak represif satu langkah...dan ini jg yang sekarang aq terapkan...

Akan tetapi...tindakan represif satu langkah tersebut bukanlah dasar bagi kami untuk tidak berkata yang haQ...

contoh kecil...liat saja pembahasan pada thread ini...

demi Allah aq tidak akan ikut campur kalau saja sang TS membahas hanya masalah yasinan saja...apakah itu dasar2nya...atau bacaan2nya...dan lain sebagainya...

Akan tetapi...berhubung si TS berkata seperti dibawah ini...liat yang saya bold...

maka menjadi suatu keharusan bagi kami untuk berkata yang haQ...

Sama seperti thread bid'ah...
Kalau saja tidak ada embel2 perkataan bahwa bid'ah hasanah itu boleh2 saja untuk dilakukan...niscaya kami tidak akan campuri...tetapi...berhubung wacara tersebut keluar...yah...kami campuri...

Mengapa menggunakan istilah 'berkata HAQ'
terhadap orang yang sudah berusaha melaksanakan sholat 5 waktu berjamaah, walaupun shaf nya renggang ?
Seolah-olah mereka telah berbuat suatu kemungkaran yang besar.

Coba aja perhatikan di masyarakat sekitar tempat tersebut...
1. berapa orang dari masyarakat sekitar, yang tidak melaksanakan shalat berjamaah ?
2. berapa orang dari masyarakat sekitar, yang tidak melaksanakan sebagian dari shalat 5 waktu, walau sendirian ?
3. berapa orang dari masyarakat sekitar, yang tidak melaksanakan shalat 5 waktu sama sekali ?

Bagi saya sich...
1. Selama shalatnya memenuhgi syarat rukun dari shalat, insya Allah sah.
2. selama mereka ruku' bersama orang-orang yang ruku', itulah yang disebut shalat jamaah.

Shaf yang kurang rapat, tidak membatalkan shalat jamaah; dan tidak pula membatalkan shalat fardhu.
Shaf yang kurang rapat, hanya mengurangi kesempurnaan shalat jamaah...

Jadi, kalau mau memperbaiki mereka... silakan dengan cara yang proporsional dengan perbuatan mereka.
Cara memperbaiki masing-masing orang ini berbeda-beda...., gunakanlah cara yang sesuai dengan perbuatan mereka....
1. orang berjamaah shaf nya renggang
2. orang gak shalat berjamaah
3. orang yang kadang shalat 5 waktu
4. orang yang tidak shalat 5 waktu

militiaman
November 25, 2008, 01:41
Seumur hidup ane Bal, ane banyak bergaul sama orang yg pahamnya sama kaya ente [muhammadiyah,persis,PKS,PBB,PPP,PII,HMI,Usroh dll], tapi mereka oke aja selama yasinan itu digunakan untuk syiar Islam demi meguatkan keimanan & ketaqwaan kepada Allah SWT, malah temen ane yang ABRI waktu dikirim ke Atambua & Aceh dia mendawamkan baca yasinan dgn teman2nya untuk berinteraksi dgn masyarakat, ternyata masyarakat menyambut baik kehadiran mereka [apa itu salah?], coba deh ente keluar dari lingkungan kampus & berda'wah di daerah konflik atau daerah garapan agama lain, trus ente terapin gaya ente disana [tampa yasinan], gimana hasilnya ? [berani coba].

mercury_man
November 25, 2008, 01:49
^
^

kayaknya cobel ga semua itu, deh mili... :D

koreksi klo gw salah.. cobel wahabi ya? :D

badboyZzz
November 25, 2008, 02:04
ngangkang?
huhuhuh
udh pernah dicoba belom merapatkan shaff kaki dengan kaki rapat dan bahu dengan bahu rapat?

masalah merapatkan shaff....hal ini sudah ku bahas...
jangan diperpanjang....



Bal...bal. Loe kagak mudeng jg ya ama apa yg gua tulis :hehe

Seblm loe mosting ttg shaf...gua dah tau. Jd jgn sok ngerasa telah ngajari gua dan gua gak ngerti2 [rokok]

Capek emang ::cry::

badboyZzz
November 25, 2008, 02:05
wah rame lagi nih!!!!
asik!!!
gue mau mengomentarin yg mana ya???

gue baca2 dulu deh!! :kakaka: [joget]

Baca yaasin dulu gih :hehe

militiaman
November 25, 2008, 06:09
wah rame lagi nih!!!!
asik!!!
gue mau mengomentarin yg mana ya???

gue baca2 dulu deh!! :kakaka: [joget]

ten yg lo baca tentang yasinan, jangan tentang tahlil..............:hehe

militiaman
November 25, 2008, 06:45
sedikit info :

Tradisi Yasinan dalam Perdebatan

Menurut sejarah, lahirnya tradisi Yaasin dan Tahlil berangkat dari akulturasi budaya Islam dengan Jawa yang bernuansa Hindu-Budha. Islam ketika masuk ke tanah Jawa, pada masa awal penyebarannya dilakukan melalui dakwah kultural. Hal ini dimotori oleh Sunan Kalijaga yang juga seorang budayawan.

Pada saat itu, kebiasaan lek-lekan (kumpul malam hari) sepeninggalnya seseorang dulunya diisi dengan kegiatan-kegiatan yang kurang Islami, main kartu, minum-minuman, dan sebagainya. Kemudian sedikit demi sedikit tradisi lek-lekan itu dikawinkan dengan nilai-nilai Islam melalui ritual Yaasin dan Tahlil. Akhirnya, mitong dino, matang puluh dino, mendhak sepisan dan seterusnya sampai saat ini dapat kita saksikan dalam ritual Yaasin dan Tahlil. Dan dakwah semacam itu cukup efektif yang menjadikan Islam besar di tanah Jawa.

Pada sisi lain, seperti tradisi Halal bi Halal sendiri, tradisi Yaasin dan Tahlil hanya di kenal di Indonesia. Tidak salah jika beberapa intelektual muslim berpendapat bahwa Islam di Indonesia adalah unik, memiliki rasa dan tidak gersang seperti di Timur Tengah atau negara lainnya. Sehingga ada yang lebih suka menyebutnya dengan ‘Islam Indonesia’, bukan Islam di Indonesia.

Sedangkan mengapa sampai saat ini NU masih tetap melestarikan tradisi Yaasin dan Tahlil, bukan hanya karena kegiatan Yaasin dan Tahlil adalah salah satu modal sosial, tetapi juga karena secara hukum adalah sah. Tidak ada dalam teks Al-Quran pun Hadist yang secara qoth’iy (pasti) mengharamkan atau melarangnya. Sedangkan, kelompok modernis Islam yang dulu dimotori oleh Muhammadiyyah menghukumi tradisi Yaasin dan Tahlil sebagai bid’ah yang didasarkan pada Hadist yang berbunyi, “Kullu bid’atun dlolaalatun”. Sayangnya Hadist tersebut salah dipahami dengan memaknainya sebagai “Setiap bid’ah adalah buruk”. Yang semestinya lafadl (kata) ‘kullu’ pada Hadist di atas dimaknai ‘sebagian’ (bi ma’na ba’dli). Artinya, memang benar ada bid’ah yang dlolaalah (buruk) dan pada sisi lain ada juga bid’ah yang hasanah (baik). Sayangnya, pada term yang terakhir kita jarang menyebutnya dengan bid’ah hasanah tetapi lebih sering dengan sebutan ijtihad.

Saya akan menawarkan beberapa fakta yang mungkin akan membuat Anda berfikir ulang tentang bid’ah. Mungkin sampai saat ini Anda masih mendefinisikan bid’ah sebagai tata cara ibadah atau ibadah (‘ubudiyyah) yang sebenarnya tidak pernah digariskan oleh Allah dalam Al-Quran dan Hadist. Singkatnya tata cara ibadah atau ibadah yang mengada-ada. Jika Anda tahu, sampai ini pemerintah Saudi Arabia telah melakukan perombakan-perombakan syariah haji (tata cara); seperti perluasan batas geografi Arafah dan Mina, perluasan Safa-Marwah, pengaturan penyembelihan hewan kurban, dan yang paling mutakhir, memperlebar ukuran Jamarat dari hanya tiang kecil menjadi tembok selebar tujuh meter[4]. Hal tersebut dilakukan karena semakin membludaknya jamaah haji pertahunnya.

Jika Anda masih konsisten dengan definisi bid’ah di atas, maka apakah Anda bisa mengatakan kebijakan pemerintah Saudi Arabia yang mengkreasi sedemikian rupa syariah haji akan Anda sebut juga sebagai bid’ah (dlolaalah)? Saya yakin, pada fakta di atas Anda akan cenderung menyebutnya sebagai proses ijtihad dalam rangka mengurangi kecelakaan yang terjadi akibat penumpukan jemaah. Nah, logika semacam itu juga berlangsung dalam tradisi Yaasin dan Tahlil, sebagai bentuk ijtihad dalam rangka dakwah kultural. Hanya saja kita—sekali lagi—alergi untuk menyebutnya dengan bid’ah hasanah. Karena term ‘bid’ah’ sudah kadung peyoratif dalam katalog kata kita.

Saya membaca bahwa Yaasin dan Tahlil sebagai bentuk ijtihad dalam rangka melakukan kodifikasi (pengumpulan-pelembagaan) dari bacaan surat Yaasin, dzikir dan do’a yang kemudian diritualkan. Hal ini saya pandang sejajar dengan kumpulan do’a-do’a, dzikir yang dikeluarkan oleh Ulama tertentu untuk pengikutnya. Seperti kumpulan do’a, dzikir dan sebagainya dalam Majmu’ Assyarif atau majmu’-majmu’ lainnya.

Saya kembali ingat, ada kaidah Fiqih yang berbunyi, “Al ‘adaatul muhakkamah”[5]. Artinya, “Adat atau kebiasaan bisa ditetapkan sebagai hukum”. Kontekstualisasi dari kaidah ini, bahwa kebiasaan atau tradisi yang secara esensial berisi nilai-nilai Islami dapat ditetapkan hukumnya menjadi sah atau boleh. Hal semacam ini dilakukan tidak semata-mata sebagai strategi an sich melainkan juga dalam kerangka penghormatan terhadap budaya tradisi yang nota benenya adalah hasil cipta, rasa dan karsa manusia yang memuat nilai-nilai kemanusiaan dan kemasyarakatan. Mujamil Qomar dalam disertasinya menulis, bahwa penghormatan pada tradisi yang baik ini pada akhirnya memuncak dengan memosisikannya sebagai hukum. Kalangan NU mengikuti kaidah Al ‘adaatul muhakkamah. Penetapan ini tidak sekedar berdasarkan pertimbangan-pertimbangan sosial-kultural, tetapi juga memiliki sandaran teologis, baik Al-Quran maupun Hadist yang mendasari bangunan kaidah tersebut sehingga merasa haqqul yaqiin dalam menerapkannya[6]. Sandaran teologis yang dimaksud tepatnya adalah Hadist yang berbunyi, “Maa roohul muslimuuna hasanan fahuwa ‘indallahi hasanun”. Yang artinya, “Apapun yang menurut kaum muslimin pada umumnya baik, maka baik pula bagi Allah”[7].

thanks to :
Firdos Putra Aditama atas artikelnya yang sudah memberi sedikit pemahaman.

sumber
3. Hal. 24 Terjemah Kitab Al Faraidul Bahiyyah: Risalah Qawaid Fiqh. Tahun 1977.
4. Luthfi Assyaukanie dalam, “Perlunya Merombak Teologi Haji” tahun 2007.
5. Hal 1. Terjemah Kitab Al Faraidul Bahiyyah: Risalah Qawaid Fiqh tahun 1977.
6. Mujamil Qomar dalam NU “Liberal” . Hal 97 tahun 2002.

http://lare44.blog.friendster.com/2008/11/tradisi-yasinan-dalam-perdebatan/

filsufsufi
November 25, 2008, 08:08
^wah bakalan kena syarah neh..

bagi 'Kapten' mungkin Yasinan lebih tercela dari yg main catur or merokok, semua itu budaya kafir, semua kumpul2 dilarang dan diharamkan, kecuali ada dalil khusus yg berbunyi : "Hadirilah..hadirilah..Yasinan di rumah si Fulan"

hihihi

Preman_Cakung
November 25, 2008, 15:28
^ wakakakakak.....si sufi bisa aja.....gua pikir lo gak bisa melawak.....:kakaka:

Preman_Cakung
November 25, 2008, 15:33
Bal...bal. Loe kagak mudeng jg ya ama apa yg gua tulis :hehe

Seblm loe mosting ttg shaf...gua dah tau. Jd jgn sok ngerasa telah ngajari gua dan gua gak ngerti2 [rokok]

Capek emang ::cry::

Sumpah BB.....dia bukan adek gua.....klo mau tabok silahkan.....:kakaka:

kapiten
November 27, 2008, 03:15
si kobel masih kuliah jadi belum sempat komentar lagi. dan mungkin dia akan segera berangkat berdakwah di wamena :lol:


:kakaka: [joget]

mercury_man
November 27, 2008, 04:40
wamena dimana, kap? [???]

badboyZzz
November 27, 2008, 05:35
Sumpah BB.....dia bukan adek gua.....klo mau tabok silahkan.....:kakaka:

Gua jd inget omongan filsuf....keras itu hanya buat yg kafir aja ::malu::


Sori....gua serahin ke elo aja naboknya :kabur: :kakaka:

Preman_Cakung
November 28, 2008, 05:59
Gua jd inget omongan filsuf....keras itu hanya buat yg kafir aja ::malu::


Sori....gua serahin ke elo aja naboknya :kabur: :kakaka:

Ya sudah........gua yang urus deh tapi pinjam tangannya ya BB.....:kakaka: :kabur:

kapiten
November 28, 2008, 17:29
Seumur hidup ane Bal, ane banyak bergaul sama orang yg pahamnya sama kaya ente [muhammadiyah,persis,PKS,PBB,PPP,PII,HMI,Usroh dll], tapi mereka oke aja selama yasinan itu digunakan untuk syiar Islam demi meguatkan keimanan & ketaqwaan kepada Allah SWT, malah temen ane yang ABRI waktu dikirim ke Atambua & Aceh dia mendawamkan baca yasinan dgn teman2nya untuk berinteraksi dgn masyarakat, ternyata masyarakat menyambut baik kehadiran mereka [apa itu salah?], coba deh ente keluar dari lingkungan kampus & berda'wah di daerah konflik atau daerah garapan agama lain, trus ente terapin gaya ente disana [tampa yasinan], gimana hasilnya ? [berani coba].

^
^

kayaknya cobel ga semua itu, deh mili... :D

koreksi klo gw salah.. cobel wahabi ya? :D

untung gue gak pernah ikut semua itu, soalnya gue belum tau ada dalilnya sih :kakaka: [joget]

mercury_man
November 28, 2008, 17:34
Lu apa dong, kap??

Muhammad NU persis PKS?? :kakaka:

kapiten
November 28, 2008, 17:35
gue jadi pengamat aja deh :kakaka: [joget]

AlfaOmega
November 28, 2008, 22:14
:kakaka: :haha

mungkin, karna di kamus bahasa Arab, gak ada imbuhan -an :haha

tahlil menurut mereka OK, tapi kalo diberi -an, jadi bid'ah karna gak ada di kamus.
yaa sin sich OK, tapi kalo diberi imbuhan -an, juga gak ada dalam kitab referensi.


kalau diberi imbuhan -donk.....
boleh atau gak, ya ?

mercury_man
November 29, 2008, 04:35
ade2 aje..... :hehe

kapiten
November 29, 2008, 05:50
ternyata alfa dah jago ngelawak :kakaka: [joget]

mudunpapat
November 29, 2008, 07:22
kalo gitu kasi tambahn ria saja mas, janganlah kita bertahlilan tp bertahlil ria dan beryasin ria saja

[joget]

cobalt_6982
November 30, 2008, 13:45
Mengapa menggunakan istilah 'berkata HAQ'
terhadap orang yang sudah berusaha melaksanakan sholat 5 waktu berjamaah, walaupun shaf nya renggang ?
Seolah-olah mereka telah berbuat suatu kemungkaran yang besar.
kalau tidak menggunakan kata haQ harusnya menggunakan kata apa om alfa?

oke lah aq tidak menggunakan kata haQ...tapi aq menggunakan kata meluruskan...walau ujung2nya akan sama

kata "haQ" dipakai belum tentu untuk memberantas kemungkaran yang besar...tapi ini bisa saja digunakan untuk kemungkaran yang kecil...

haQ itu kan bisa berarti benar...

jadi...jika aq menggunakan kata haQ...bukan berarti aq menyindir bahwa apa yang dicontohkan adalah kemungkaran yang besar....terhadap semua hal yang patut untuk diluruskan

Coba aja perhatikan di masyarakat sekitar tempat tersebut...
1. berapa orang dari masyarakat sekitar, yang tidak melaksanakan shalat berjamaah ?
2. berapa orang dari masyarakat sekitar, yang tidak melaksanakan sebagian dari shalat 5 waktu, walau sendirian ?
3. berapa orang dari masyarakat sekitar, yang tidak melaksanakan shalat 5 waktu sama sekali ?

Bagi saya sich...
1. Selama shalatnya memenuhgi syarat rukun dari shalat, insya Allah sah.
2. selama mereka ruku' bersama orang-orang yang ruku', itulah yang disebut shalat jamaah.

Shaf yang kurang rapat, tidak membatalkan shalat jamaah; dan tidak pula membatalkan shalat fardhu.
Shaf yang kurang rapat, hanya mengurangi kesempurnaan shalat jamaah...

Jadi, kalau mau memperbaiki mereka... silakan dengan cara yang proporsional dengan perbuatan mereka.
Cara memperbaiki masing-masing orang ini berbeda-beda...., gunakanlah cara yang sesuai dengan perbuatan mereka....
1. orang berjamaah shaf nya renggang
2. orang gak shalat berjamaah
3. orang yang kadang shalat 5 waktu
4. orang yang tidak shalat 5 waktu
nah skarang...kalo ada orang yang bilang bahwa sholat 5 waktu tidak usah...atau sholat tidak usah berjama'ah....terhadap orang yang seperti ini kamu bilang apa?
tentu saja perkataan yang haQ...yang meluruskan pendapat mereka

dalam memperbaiki memang harus proporsional...seperti yang kamu sebutkan...akan tetapi...kalo yang diperbaiki secara baik2 tetapi gerah hanya karena "tidak sesuai ajarannya" atau hanya karena "beda aliran" atau pendapat2 bodoh yang sejenisnya...gmn ?

Seumur hidup ane Bal, ane banyak bergaul sama orang yg pahamnya sama kaya ente [muhammadiyah,persis,PKS,PBB,PPP,PII,HMI,Usroh dll], tapi mereka oke aja selama yasinan itu digunakan untuk syiar Islam demi meguatkan keimanan & ketaqwaan kepada Allah SWT, malah temen ane yang ABRI waktu dikirim ke Atambua & Aceh dia mendawamkan baca yasinan dgn teman2nya untuk berinteraksi dgn masyarakat, ternyata masyarakat menyambut baik kehadiran mereka [apa itu salah?], coba deh ente keluar dari lingkungan kampus & berda'wah di daerah konflik atau daerah garapan agama lain, trus ente terapin gaya ente disana [tampa yasinan], gimana hasilnya ? [berani coba].
terserah...kalo memang mereka anggap itu oke2 saja itu terserah mereka...
tapi kalo ada yang bilang bahwa yasinan atau tahlinan dibolehkan dalam ajaran Islam...ini haruslah disertai dalil dan pendapat yang kuat...

kayaknya cobel ga semua itu, deh mili...

koreksi klo gw salah.. cobel wahabi ya
isyhadu bi anna muslim...

aq jadi ingat perkataan Imam Asy Syafi'i Rahimahulullahuta'ala "Jikalau membela hak ahlul bait (keluarga nabi) disebut sebagai rafidhi (syi'ah rafidhah)...maka sebutlah aq rafidhi"

dari situ...tuan2 harus tanamkan dalam diri tuan...bahwasanya orang yang berkata sesuatu atas dasar petunjuk Allah dan RosulNya dan atas pemahaman para Salaful Ummah janganlah dikaitkan dengan golongan tertentu....

contoh...dalam hal ini...setiap apa yang aq posting...aq selalu mengusahakan agar berdasarkan petunjuk Allah dan RosulNya dan pemahaman Salaful Ummah...maka janganlah tuan2 kaitkan aq dengan suatu golongan...apakah itu wahabi atau sejenisnya....

Karena manhaj ku ialah manhaj Rosulullah Muhammad SAW dan Salafus Shalih....Insya Allah

Bal...bal. Loe kagak mudeng jg ya ama apa yg gua tulis

Seblm loe mosting ttg shaf...gua dah tau. Jd jgn sok ngerasa telah ngajari gua dan gua gak ngerti2

Capek emang
kalo loe udh tau...dan loe merasa udh ngerti...ngapain lage loe posting2 tulisan kayak dibawah ini
Tp klo ditunjukin jg susah krn klo kita coba merapatkan nanti kaki kita ngangkang kemana-mana
make bilang ngangkang...emangnya udh loe coba?

cobalt_6982
November 30, 2008, 14:06
Menurut sejarah, lahirnya tradisi Yaasin dan Tahlil berangkat dari akulturasi budaya Islam dengan Jawa yang bernuansa Hindu-Budha. Islam ketika masuk ke tanah Jawa, pada masa awal penyebarannya dilakukan melalui dakwah kultural. Hal ini dimotori oleh Sunan Kalijaga yang juga seorang budayawan.

Pada saat itu, kebiasaan lek-lekan (kumpul malam hari) sepeninggalnya seseorang dulunya diisi dengan kegiatan-kegiatan yang kurang Islami, main kartu, minum-minuman, dan sebagainya. Kemudian sedikit demi sedikit tradisi lek-lekan itu dikawinkan dengan nilai-nilai Islam melalui ritual Yaasin dan Tahlil. Akhirnya, mitong dino, matang puluh dino, mendhak sepisan dan seterusnya sampai saat ini dapat kita saksikan dalam ritual Yaasin dan Tahlil. Dan dakwah semacam itu cukup efektif yang menjadikan Islam besar di tanah Jawa.

Pada sisi lain, seperti tradisi Halal bi Halal sendiri, tradisi Yaasin dan Tahlil hanya di kenal di Indonesia. Tidak salah jika beberapa intelektual muslim berpendapat bahwa Islam di Indonesia adalah unik, memiliki rasa dan tidak gersang seperti di Timur Tengah atau negara lainnya. Sehingga ada yang lebih suka menyebutnya dengan ‘Islam Indonesia’, bukan Islam di Indonesia.
Nah...inilah yang harus kalian pikir...
Apakah kalian akan tetap berpegang pada budaya bid'ah yang telah lama melekat pada diri bapak moyang kalian...termasuk pada diri kalian...ataukah kalian akan tinggalkan itu semua dan masuk kepada Islam yang tanpa campuran2 asing?

seperti yang telah kalian katakan sendiri...bahwasanya asal muasal tahlilan yasinan dsb itu disebabkan oleh tradisi kaum kuffar yang sedikit demi sedikit "dikawinkan" dengan nilai Islam...

Mestinya dari situ saja kalian harus bisa melihat beberapa hal:
1. Karena apa "kanjeng" wali mengadakan hal tersebut
2. Kaidahnya apa
3. Jangka waktu diterapkannya kaidah itu hingga kapan
4. Apa pembatal kaidah tersebut
5. Apakah "kanjeng" wali menghendaki agar hal ini berlangsung terus menerus atau hanya waktu tertentu saja
6. Objek hal ini apakah terbatas pada yang hendak "diislamkan" atau seluruh muslim

dan yang tidak kalah pentingnya adalah
6. Hukum melaksanakan hal ini dalam Islam
7. Hukum melaksanakan hal ini bagi yang telah mengetahui hukum Islam
8. Adakah cara lain yang lebih baik dari cara ini yang lebih sesuai dengan hukum Islam

Apalagi...hal ini berasal dari budaya kuffar yang memang telah dikikis...tapi...kita jg harus ingat...tujuan dikikis itu untuk apa?
untuk dihancurkan...atau dipelihara hasil kikisannya?
Kalau untuk dipelihara hasil kikisannya...buat apa repot2 mengikis?

dan lage...mengikuti budaya kuffar berbentrokkan dengan hadits Rosulullah...jadi...sejauh mana usaha kalian mengikis budaya kuffar...tapi dasarnya budaya tersebut tetap dibawa2...maka secara pribadi saja...saya meragukan kekaffahannya dia dalam Islam...

secara Islam...saya tidak meragukan keislaman orang yang telah bersyahadat...tapi mengenai kaffah atau tidaknya...hal ini bisa langsung terlihat dari lekat atau tidaknya budaya jahil bin kuffar yang ada pada dirinya

Buat yang saya bold...memangnya para ahli itu menganggap Rosulullah Muhammad SAW orang Indonesia y?
yang Islam nya tidak gersang?

seharusnya mereka itu sadar...Rosulullah dan para Salafush Shalih darimana

cobalt_6982
November 30, 2008, 14:33
Sedangkan mengapa sampai saat ini NU masih tetap melestarikan tradisi Yaasin dan Tahlil, bukan hanya karena kegiatan Yaasin dan Tahlil adalah salah satu modal sosial, tetapi juga karena secara hukum adalah sah. Tidak ada dalam teks Al-Quran pun Hadist yang secara qoth’iy (pasti) mengharamkan atau melarangnya. Sedangkan, kelompok modernis Islam yang dulu dimotori oleh Muhammadiyyah menghukumi tradisi Yaasin dan Tahlil sebagai bid’ah yang didasarkan pada Hadist yang berbunyi, “Kullu bid’atun dlolaalatun”. Sayangnya Hadist tersebut salah dipahami dengan memaknainya sebagai “Setiap bid’ah adalah buruk”. Yang semestinya lafadl (kata) ‘kullu’ pada Hadist di atas dimaknai ‘sebagian’ (bi ma’na ba’dli). Artinya, memang benar ada bid’ah yang dlolaalah (buruk) dan pada sisi lain ada juga bid’ah yang hasanah (baik). Sayangnya, pada term yang terakhir kita jarang menyebutnya dengan bid’ah hasanah tetapi lebih sering dengan sebutan ijtihad.

buat yang saya bold...
Kalo kamu mampu membawakan seperti itu...maka kamu jg harus mampu membawakan dalil dan pendapat para ulama yang menguatkan apa yang kamu bawa...

maka dari itu...coba kamu tunjukkan


Saya akan menawarkan beberapa fakta yang mungkin akan membuat Anda berfikir ulang tentang bid’ah. Mungkin sampai saat ini Anda masih mendefinisikan bid’ah sebagai tata cara ibadah atau ibadah (‘ubudiyyah) yang sebenarnya tidak pernah digariskan oleh Allah dalam Al-Quran dan Hadist. Singkatnya tata cara ibadah atau ibadah yang mengada-ada. Jika Anda tahu, sampai ini pemerintah Saudi Arabia telah melakukan perombakan-perombakan syariah haji (tata cara); seperti perluasan batas geografi Arafah dan Mina, perluasan Safa-Marwah, pengaturan penyembelihan hewan kurban, dan yang paling mutakhir, memperlebar ukuran Jamarat dari hanya tiang kecil menjadi tembok selebar tujuh meter[4]. Hal tersebut dilakukan karena semakin membludaknya jamaah haji pertahunnya.
Jika Anda masih konsisten dengan definisi bid’ah di atas, maka apakah Anda bisa mengatakan kebijakan pemerintah Saudi Arabia yang mengkreasi sedemikian rupa syariah haji akan Anda sebut juga sebagai bid’ah (dlolaalah)? Saya yakin, pada fakta di atas Anda akan cenderung menyebutnya sebagai proses ijtihad dalam rangka mengurangi kecelakaan yang terjadi akibat penumpukan jemaah. Nah, logika semacam itu juga berlangsung dalam tradisi Yaasin dan Tahlil, sebagai bentuk ijtihad dalam rangka dakwah kultural. Hanya saja kita—sekali lagi—alergi untuk menyebutnya dengan bid’ah hasanah. Karena term ‘bid’ah’ sudah kadung peyoratif dalam katalog kata kita.
Saya membaca bahwa Yaasin dan Tahlil sebagai bentuk ijtihad dalam rangka melakukan kodifikasi (pengumpulan-pelembagaan) dari bacaan surat Yaasin, dzikir dan do’a yang kemudian diritualkan. Hal ini saya pandang sejajar dengan kumpulan do’a-do’a, dzikir yang dikeluarkan oleh Ulama tertentu untuk pengikutnya. Seperti kumpulan do’a, dzikir dan sebagainya dalam Majmu’ Assyarif atau majmu’-majmu’ lainnya.
kamu telah membawakan wacana Ijtihad dan bid'ah...tetapi kenapa kamu tidak menjelaskan apa itu bid'ah dan apa itu Ijtihad sehingga tampak perbedaannya yang jelas...dan biar lebih jelas lage contoh keduanya....
Kamu hanya membawakan kedua hal tersebut dari sisi keumuman sifat keduanya...tetapi kamu tidak membawakan penjelasannya...

Kalau kamu mengatakan yasinan sebagai Ijtihad...berarti pendapat mu tidak beda dengan orang2 yang "berijtihad" berdzikir dengan kerikil hingga akhirnya Ibnu Mas'ud Rohimahulullahuta'ala membantah mereka

Saya kembali ingat, ada kaidah Fiqih yang berbunyi, “Al ‘adaatul muhakkamah”[5]. Artinya, “Adat atau kebiasaan bisa ditetapkan sebagai hukum”. Kontekstualisasi dari kaidah ini, bahwa kebiasaan atau tradisi yang secara esensial berisi nilai-nilai Islami dapat ditetapkan hukumnya menjadi sah atau boleh
mestinya...sebelum kamu membawakan yang dimaksud dengan "adat" kamu harus mengetahu...apakah "adat" dalam bahasa arab sama maksudnya dengan "adat" dalam bahasa Indonesia?

Yang dimaksud "adat" dalam kaidah tersebut adalah Ibadah Ghairu Mahdhoh...yang Allah dan RosulNya tidak menetapkan aturan main nya...sehingga dinilai boleh...selagi tidak ada nash yang melarangnya...atau dia tidak menyelisihi sunnah

Seperti pembagian daging qurban dan bekerja...ini ghairu mahdhoh...akan tetapi yasinan dan tahlilan...merupakan pemuqayyadan (pengikatan) ritual keagamaan yang seharusnya hal tersebut hukumnya adalah mutlak (bebas)

jadi...tertolak jikalau yasinan dan tahlilan masuk dalam kategori kaidah diatas

Mujamil Qomar dalam disertasinya menulis, bahwa penghormatan pada tradisi yang baik ini pada akhirnya memuncak dengan memosisikannya sebagai hukum. Kalangan NU mengikuti kaidah Al ‘adaatul muhakkamah. Penetapan ini tidak sekedar berdasarkan pertimbangan-pertimbangan sosial-kultural, tetapi juga memiliki sandaran teologis, baik Al-Quran maupun Hadist yang mendasari bangunan kaidah tersebut sehingga merasa haqqul yaqiin dalam menerapkannya[6]. Sandaran teologis yang dimaksud tepatnya adalah Hadist yang berbunyi, “Maa roohul muslimuuna hasanan fahuwa ‘indallahi hasanun”. Yang artinya, “Apapun yang menurut kaum muslimin pada umumnya baik, maka baik pula bagi Allah”[7].
hadits yang aq bold diatas ini...insya Allah pada pertemuan berikutnya aq jelaskan derajat dan maknanya serta hukumnya menyandarkan pendapat pada hadits ini

thanks to :
Firdos Putra Aditama atas artikelnya yang sudah memberi sedikit pemahaman.

sumber
3. Hal. 24 Terjemah Kitab Al Faraidul Bahiyyah: Risalah Qawaid Fiqh. Tahun 1977.
4. Luthfi Assyaukanie dalam, “Perlunya Merombak Teologi Haji” tahun 2007.
5. Hal 1. Terjemah Kitab Al Faraidul Bahiyyah: Risalah Qawaid Fiqh tahun 1977.
6. Mujamil Qomar dalam NU “Liberal” . Hal 97 tahun 2002.
@Preman Cakung

wah man...manteb neh sumber2nya...rupanya orang FAIS sekarang lebih sreg mengambil hukum dari budak2 liberalisme ketimbang ngambil hukum dari ulama Mekkah dan Madinah

ngomong2...dulu tulisan tentang sejarah Al Qur'an yang udh pernah gw syarah itu loe ambil dari tulisan luthfi asy syaukanie jg kan man?

cobalt_6982
November 30, 2008, 14:37
^wah bakalan kena syarah neh..

bagi 'Kapten' mungkin Yasinan lebih tercela dari yg main catur or merokok, semua itu budaya kafir, semua kumpul2 dilarang dan diharamkan, kecuali ada dalil khusus yg berbunyi : "Hadirilah..hadirilah..Yasinan di rumah si Fulan"

hihihi
ini maw membahas tentang catur dan merokok jg?

huhuhuhu

Sumpah BB.....dia bukan adek gua.....klo mau tabok silahkan.....
sapa bilang loe kk gw man?
bawahan koQ dibilang kk...wkwkwkwkwk

sry man...cuma bercanda...wkwkwkwkw

terserah loe gak anggap gw adik...tapi kalo loe gak bilang gw saudara...gw ancurin cakung
wkwkwkwkw

si kobel masih kuliah jadi belum sempat komentar lagi. dan mungkin dia akan segera berangkat berdakwah di wamena
yupz...kuliah...

wogh..bertugas di wamena masih sekitar 3 tahun lage...Insya Allah
wkwkwkwk

lagepula DJKN di wamena gak ada kalee....paling jauh gw tugas di makassar...wkwkwkw

cobalt_6982
November 30, 2008, 14:41
Gua jd inget omongan filsuf....keras itu hanya buat yg kafir aja


Sori....gua serahin ke elo aja nabokny
kalo sufi bilang keras hanya buat yang kafir aj....mestinya dia menjelaskan keras disini dalam hal apa?

untung gue gak pernah ikut semua itu, soalnya gue belum tau ada dalilnya sih

mungkin, karna di kamus bahasa Arab, gak ada imbuhan -an

tahlil menurut mereka OK, tapi kalo diberi -an, jadi bid'ah karna gak ada di kamus.
yaa sin sich OK, tapi kalo diberi imbuhan -an, juga gak ada dalam kitab referensi.


kalau diberi imbuhan -donk.....
boleh atau gak, ya ?
kalo gitu kasi tambahn ria saja mas, janganlah kita bertahlilan tp bertahlil ria dan beryasin ria saja
3 quote ini gak gw bahas ah....capek2 aj

kapiten
December 01, 2008, 02:28
kalo abis wudhu baca surah yasin itu haram gak??
ada gak dalilnya?

cobalt_6982
December 01, 2008, 06:46
Sandaran teologis yang dimaksud tepatnya adalah Hadist yang berbunyi, “Maa roohul muslimuuna hasanan fahuwa ‘indallahi hasanun”. Yang artinya, “Apapun yang menurut kaum muslimin pada umumnya baik, maka baik pula bagi Allah
ini hadits tidak sah kalau dibilang marfu' sampai kepada Nabi SAW...ini hanyalah perkataan Abdullah bin Mas'ud Radiyallahu 'anhu yang mauquf dari Ibnu mas'ud saja

Ibnul Qoyyim mengatakan "sesungguhnya atsar ini bukanlah dari sabda Rosulullah SAW hanya orang2 yang tidak memiliki ilmu tentang hadits sajalah yang menyandarkan perkataan tersebut kepada beliau SAW. Atsar itu hanya merupakan perkataan Ibnu Mas'ud

Ibnu 'Abdil Hady berkata ?Perkataan tersebut diriwayatkan secara marfu' dari Anas dengan sanad lemah sekali, dan yang benar adalah bahwa atsar tersebut hanya mauquf hanya sampai Ibnu mas'ud

Az Zaila'iy berkata "Atsar tersebut gharib marfu' dan saya belum mendapatkan jalur riwayat kecuali secara mauquf dari Ibnu Mas'ud"

Al Albany berkata " Ia tidak punya dasar riwayat secara marfu' riwayat itu hanyalah mauquf kepada Ibnu Mas'ud"

Jadi...dari atsar tersebut dapat dilihat beberapa kesimpulan...
1. Perkataan orang yang berkata bahwa bid'ah secara syari'at itu ada yang hasanah...ini perkataan bathil...sekalipun dia menyandarkan dirinya kepada atsar ini...sebab atsar ini tidak bisa dibenturkan dengan hadits dari Rosulullah SAW sendiri...sekalipun atsar ini dari Shahabat beliau
2. bahwa huruf Alif Lam pada perkataan "Al Muslimuun(a)" berfungsi sebagai Al 'Ahd (yang harus kembali kepada sosok yang jelas), dan dalam hal ini kembali kepada Shahabat sendiri, mereka lah yang dimaksud oleh atsar tersebut sebagai Al Muslimuun, sebagaimana yang bisa dipahami dari alur atsar tersebut yang berbunyi
"Sesungguhnya Allah memandang hati para hamba Nya lalu Dia dapati hati Muhammad SAW sebagai hati terbaik dari para hamba Nya lalu beliau dipilih Nya dan diutuslah sebagai Rosul Nya. Kemudian Allah melihat hati hamba-hamba Nya setelah hati Muhammad SAW lalu Allah dapati hati para shahabat sebagai hati yang terbaik, maka mereka dijadikan sebagai menter-menteri nabi Nya. Mereka berperang dan berjuang di atas agama Nya. Maka apa saja yang dipandang baik menurut kaum muslimin (Shahabat) maka baik pula menurut Allah, dan apa saja yang buruk menurut mereka, buruk pula menurut Allah"

Dalam riwayat lain ada tambahan "Dan seluruh sahabat telah bersatu pendapat untuk mengangkat Abu Bakar menjadi khalifah"

Dengan demikian...menjadi jelas bahwa yang dimaksud adalah para Shahabat...hal ini jg diperkuat oleh Imam Hakim serta imam pengarang kitab hadits lain...silahkan anda merujuk kepada Al Mustadrak...

Jikalau demikian, maka akan terlihat bahwa yang namanya bid'ah hasanah...tertolak oleh atsar ini...sebab yang namanya Shahabat telah bersepakat mencela bid'ah...ini aq paparkan nanti

3. Kalau huruf Alif Laam disini tidak berfungsi sebagai Al 'Ahd maka akan berfungsi sebagai Istighraaq (meliputi keseluruhan kaum muslimin) maka yang dimaksud adalah Ijma Ulama...kalau yang dimaksud adalah Ijma' Ulama...maka akan menjadi batal bahwasanya bid'ah itu ada yang hasanah secara syari'at...karena para ulama bersepakat bahwasanya bid'ah maw bagaimanapun bentuknya, tersurat atau tersirat, baik atau buruk ialah tetap bid'ah...kecuali pendapat sebagian "ulama" yang nyeleneh

4. Lihat ini atsar bersumber dari siapa...gak lain gak bukan..ini atsar bersumber dari Ibnu Mas'ud...kita kenal Ibnu Mas'ud dengan tegas beliau menolak bid'ah sekalipun itu DIPANDANG BAIK

sebagaimana atsar beliau yang lain
"berittiba' lah kamu kepada Rosulullah dan janganlah beribtida' (mengada-ada tanpa dalil), toh itu sudah cukup bagimu, dan setiap bid'ah adalah kesesatan"

nah..segitulah penjelasan tentang atsar ini...semoga Allah membuka pintu hati kalian...

kemudian yang terakhir adalah...

Sayangnya Hadist tersebut salah dipahami dengan memaknainya sebagai “Setiap bid’ah adalah buruk”. Yang semestinya lafadl (kata) ‘kullu’ pada Hadist di atas dimaknai ‘sebagian’ (bi ma’na ba’dli). Artinya, memang benar ada bid’ah yang dlolaalah (buruk) dan pada sisi lain ada juga bid’ah yang hasanah (baik).
Kata kullu disitu difahami oleh Ibnu Hajar dengan perkataan beliau
"perkataan Rosulullah SAW tentang setiap bid'ah itu sesat merupakan suatu kaidah agama yang menyeluruh baik secara tersurat ataupun tersirat. Adapun secara tersurat, maka seakan-akan beliau bersabda "hal ini bid'ah hukumnya dan setiap bid'ah itu adalah kesesatan" sehingga ia tidak termasuk bagian dari agama ini, sebab agama ini seluruhnya adalah petunjuk. Oleh karena itu maka apabila telah terbukti bahwa suatu hal tertentu hukumnya bid'ah, maka berlakulah dua dasar hukum (setiap bid'ah sesat dan setiap sesat bukan dari agama) sehingga kesimpulannya adalah tertolak"

Berkata pula Imam Malik bin Anas rohimahulullahu ta'ala "Barangsiapa melakukan suatu bid'ah dalam Islam yang dia menganggap baik bid'ah tersebut, maka sungguh ia telah menuduh bahwa Muhammad SAW telah menghianati Risalah ini sebab Allah berfirman (Q.S Al Maidah ayat 3). oleh sebab itu apa saja yang bukan merupakan agama pada hari itu maka ia bukan termasuk agama pula pada hari ini "

Berkata pula Syekh Al Utsaimin "Sesungguhnya perkataan beliau SAW Kullu bid'atin dholalah merupakan ungkapan yang bersifat umum dan menyeluruh, karena diperkokoh dengan kata yang menunjukkan makna menyeluruh dan umum yakni Kullu" maka setiap apa saja yang diklaim sebagai bid'ah hasanah maka dijawab dengan dalil ini"

Diperkuat dengan hadits dari Aisyah "Barang siapa yang mengamalkan satu amalan yang dibuat-buat dalam ajaran kami padahal amalan itu bukan berasal dari agama ini, maka amalan tersebut tertolak"

Asy Syaukani berkomentar "Dan betapa tegas hadits ini dan betapa jelas indikasinya terhadap kebathilan para fuqaha' yang membagi bid'ah menjadi beberapa macam serta hanya menolak sebagaian bid'aj saja tanpa ada dalil yang mengkhususkannya baik dari dalil aqly maupun dalil naqly"

Dan terakhir Abdullah bin Umar berkata "Setiap bid'ah itu adalah kesesatan sekalipun manusia menganggapnya hasanah (baik)"

cobalt_6982
December 01, 2008, 06:49
kalo abis wudhu baca surah yasin itu haram gak??
ada gak dalilnya?
terserah...kalau habis wudhu kamu maw baca yasin atau seluruh Al Qur'an sekalipun itu diperbolehkan...karena salah satu syarat membaca Al Qur'an loe harus dalam keadaan suci dan tidak berhadats...
Akan tetapi...kalo tiba2 dijadikan pengkhususan bahwasanya habis wudhu dibiasakan membaca yasin...tertolak...coz ini mengada-ada

filsufsufi
December 01, 2008, 10:04
^bid'ah lagi..bid'ah lagi..

aq berlepas diri dari orang yg menafikan bid'ah hasanah dan aq berlepas diri dari orang yg memvonis sesat mereka, berapa juta umat Muslim yg telah disesatkan oleh orang ini karena memaksa batasan bid'ah menurut kehendaknya sendiri ?

Coba sebut dengan tegas dan singkat (gak usah bertele2), apa batasan BID'AH yg DISEPAKATI ? klo batasan anda tidak disepakati, lalu anda tidak senang orang menolak devinisi yg anda buat, itu tandanya jelas PEMAKSAAN dan jelas anda tidak bisa menerima pendapat orang lain tentang bid'ah ini, sedangkan dalam agama saja tidak ada paksaan, apatah lagi sekedar devinisi bid'ah !

mudunpapat
December 01, 2008, 23:14
gw kok baru tahu ada aturan yg menolak org untuk berdoa

ada dalilnya ga !!! [joget]

kapiten
December 02, 2008, 02:59
terserah...kalau habis wudhu kamu maw baca yasin atau seluruh Al Qur'an sekalipun itu diperbolehkan...karena salah satu syarat membaca Al Qur'an loe harus dalam keadaan suci dan tidak berhadats...
Akan tetapi...kalo tiba2 dijadikan pengkhususan bahwasanya habis wudhu dibiasakan membaca yasin...tertolak...coz ini mengada-ada

wakakakakakaka

kalo begitu apakah bid'ah juga jika setelah selesai sholat mmbaca surat Al-Fatihah, lalu surat Al-Ikhlas lalu berdoa dan itu juga menjadi sebuah kebiasaan gue. dan termasuk bacaan2 yg lain.
kalo itu bid'ah, rasanya sangat sempit sekali deh

:kakaka: [joget]

filsufsufi
December 02, 2008, 03:44
^ paye jg neh bung kapiten...yg gak bole itu klo dijadiin WAJIB, atawa 'pengkhususan' ente ngajarin "Woi..selesai sholat mmbaca surat Al-Fatihah, lalu surat Al-Ikhlas lalu berdoa ye !", karena perintah itu gak pernah dilakuan Nabi saw, masa' hebatan perintahnye kapiten dari Rasul..kan gak mungkin donk...makenye jadi termasuk bid'ah juga

bukan gitu bung Co?

filsufsufi
December 02, 2008, 03:52
Akan tetapi...kalo tiba2 dijadikan pengkhususan bahwasanya habis wudhu dibiasakan membaca yasin...tertolak...coz ini mengada-adaklo untuk pribadi seh gpp, die juga gak bilang jadi wajib cuma die mau dawamin aje, misal seorang bilang : "ah aq mo mendawamkan baca Yasin selesai wudhu ah"..ye bole2 aje..sape juga yg NOLAK perbuatan ntuh?! wong gak ada bertentangan AQ dan Sunnah den gak menyalahi syari'at

Klo menjadikan hal itu menjadi syariat baru tentu JELAS gak bole dan TERTOLAK

militiaman
December 02, 2008, 04:24
Gw akur sama jawaban filsufsufi...........

kr3kzz
December 02, 2008, 05:59
tergantung niat :hehe

kapiten
December 02, 2008, 13:17
wajib sama khusus beda gak sih??

:kakaka: [joget]

militiaman
December 03, 2008, 01:18
Beda tipis kale........

kapiten
December 03, 2008, 04:30
wakakakaka....terus dijadikan alasan :kakaka: [joget]

militiaman
December 03, 2008, 06:12
sekarangkan lagi jamannya beda sedikit di jadikan sarana perpecahan kaya pilkada aja..............:lol::nono

mercury_man
December 04, 2008, 16:00
ternyata masih rame disini....

apa kabar semua ::wave::

:kakaka:

jalaluddin
December 05, 2008, 10:48
Emang ada apa dengan Surat Yasin 'Bro...?? Rasanya emang tiap2 surat kebanyakannya punya keutamaan, sebagaimana halnya hari, bulan dll.

Yang paling penting sekarang ini adalah jangan anggap "Surat Yasin atau Al Quran" itu punya engkong ato nenek moyang kita sehingga dengan seenaknya maen kirim2 sama orang yang udah meninggal lage... udah gitu alamatnya kagak jelas dimana, er te - er we berapa, jalan apa, kode post berapa Ha3x....

Yang penting kalo kita mengimani keutamaan surat tersebut ya... jalankan asal tidak bertentangan dengan hukum dalam Al Quran...

cobalt_6982
December 06, 2008, 10:39
^bid'ah lagi..bid'ah lagi..

aq berlepas diri dari orang yg menafikan bid'ah hasanah dan aq berlepas diri dari orang yg memvonis sesat mereka, berapa juta umat Muslim yg telah disesatkan oleh orang ini karena memaksa batasan bid'ah menurut kehendaknya sendiri ?
sapa pula yang memvonis sesat?
hei...yang memvonis orang yang melakukan kebid'ahan sesat itu bukan aq...tapi langsung dari lisan Rosulullah...
Kullu bid'atin dholalah wa kullu dholalatin fin naar

Coba sebut dengan tegas dan singkat (gak usah bertele2), apa batasan BID'AH yg DISEPAKATI ? klo batasan anda tidak disepakati, lalu anda tidak senang orang menolak devinisi yg anda buat, itu tandanya jelas PEMAKSAAN dan jelas anda tidak bisa menerima pendapat orang lain tentang bid'ah ini, sedangkan dalam agama saja tidak ada paksaan, apatah lagi sekedar devinisi bid'ah !
baca thread bid'ah lage dah...apa maw dibuka lagE?...disitu telah jelas...bahwasanya dikatakan oleh Ibnu taimiyah rahimahullahu ta'ala dan ijma' para ulama (tentunya bukan ulama2 an khas Indonesia...huuhuhuh) bid'ah adalah i'tiqod (keyakinan) dan ritual ibadah yang diada2kan...yang pada jaman Rosulullah hal ini tidak pernah ada...inilah dasar batasan bid'ah...Ibnu Hajar, Ibnu Taimiyah, Syeikh Asy Syatibi, para Imam mahzab dan orang2 yang sejalan dengan mereka...semuanya bersepakat atas hal ini...

gw kok baru tahu ada aturan yg menolak org untuk berdoa

ada dalilnya ga !!!
duh2...modie yang satu ini...udh dijelaskan berulang kali...bahwasanya bukan do'anya yang tertolak...tetapi cara yang kalian yang tertolak...
kalian maw membaca surat yasin atau berdo'a silahkan...akan tetapi jgn sampe terjadi pengkhususan...sebab hukum membaca surat Al Qur'an dan berdo'a dalam kehidupan sehari2 adalah mutlak (bebas)...
Apa yang sudah dimutlakan oleh Allah dan Rosulnya maka haruslah tetap mutlak...jangan di muqoyyad...begitu jg yang muqoyyad (terikat) jangan dibuat mutlak

wakakakakakaka

kalo begitu apakah bid'ah juga jika setelah selesai sholat mmbaca surat Al-Fatihah, lalu surat Al-Ikhlas lalu berdoa dan itu juga menjadi sebuah kebiasaan gue. dan termasuk bacaan2 yg lain.
kalo itu bid'ah, rasanya sangat sempit sekali deh
kalo membaca ayat Al Qur'an setelah sholat ini telah ada tuntunannya...yaitu membaca ayat kursi, Al ikhlas, al falaq dan an nas...setelah itu berdzikir seperti yang telah ada dalam hadits2 shahih...
Tuntunan berdzikir dan membaca beberapa ayat Al Qur'an setelah sholat pun ada caranya...
1. Tidak dijama'ahkan
2. Tidak di jahrkan (sekali2 boleh di jahr tetapi hal ini hanya untuk pengajaran dan tidak boleh sering2 sebagaimana pendapat Imam Asy Syafi'i rohimahulullahu ta'ala
3. Berdo'a boleh...tetapi hal ini hukummnya mutlak (bebas)..jangan kamu khususkan hanya setelah sholat saja...
4. Mengenai membaca surat Al Fatihah setelah sholat...gw belum menemukan satu dalil shahih tentang hal ini

klo untuk pribadi seh gpp, die juga gak bilang jadi wajib cuma die mau dawamin aje, misal seorang bilang : "ah aq mo mendawamkan baca Yasin selesai wudhu ah"..ye bole2 aje..sape juga yg NOLAK perbuatan ntuh?! wong gak ada bertentangan AQ dan Sunnah den gak menyalahi syari'at

Klo menjadikan hal itu menjadi syariat baru tentu JELAS gak bole dan TERTOLAK
liat yah ucapan mu yang aq bold...kamu pegang tuh ucapan
membaca yasin setelah berwudhu aq telah sampaikan diatas...akan tetapi kalau sampai terjadi pengkhususan...misalkan setiap habis wudhu membaca yasin...inilah yang namanya membuat syari'at baru

nah skarang...terkait masalah yasinan dan tahlilan...Rosulullah mencontohkan gak?ato para Shahabat memberikan sinyalemen2 memperbolehkan?ato ada diantara tabi'in dan tabi'ut tabi'in yang melakukannya jg?

Kalo tidak ada...maka itu namanya membuat syari'at baru...sekalipun hal ini kamu pandang baik...lihat pernyataan Imam Malik
Berkata pula Imam Malik bin Anas rohimahulullahu ta'ala "Barangsiapa melakukan suatu bid'ah dalam Islam yang dia menganggap baik bid'ah tersebut, maka sungguh ia telah menuduh bahwa Muhammad SAW telah menghianati Risalah ini sebab Allah berfirman (Q.S Al Maidah ayat 3). oleh sebab itu apa saja yang bukan merupakan agama pada hari itu maka ia bukan termasuk agama pula pada hari ini "
Bukankah kamu mengakui bahwasanya kamu membuat bid'ah...dan bid'ah itu kamu tambahkan embel2 hasanah (baik)?

Maka kalau begitu...kembali lage kepada pernyataan mu...bukankah kamu telah terhitung menjalankan syari'at baru?

Sama seperti hal2 yang Allah dan RosulNya telah mutlakkan (bebas tidak terkait waktu)...barangsiapa membuat nya menjadi muqoyyad(terikat) maka dia tidak lain tidak bukan membuat syari'at baru...begitu pula sebaliknya...hal2 yang telah di muqoyyad kan...apabila di mutlakkan...maka dia membuat syari'at baru

^ paye jg neh bung kapiten...yg gak bole itu klo dijadiin WAJIB, atawa 'pengkhususan' ente ngajarin "Woi..selesai sholat mmbaca surat Al-Fatihah, lalu surat Al-Ikhlas lalu berdoa ye !", karena perintah itu gak pernah dilakuan Nabi saw, masa' hebatan perintahnye kapiten dari Rasul..kan gak mungkin donk...makenye jadi termasuk bid'ah juga

bukan gitu bung Co?
bukan...huhuhuh

sebab membaca Al ikhlas setelah selesai sholat hal ini telah disyari'atkan oleh Rosulullah...jadi...kalo kapiten membaca surat Al ikhlas setelah selesai sholat apalage ditambah dengan An nas dan Al falaQ serta ayat kursi...maka ini seperti yang telah disyari'atkan oleh Rosulullah SAW

Gw akur sama jawaban filsufsufi...........
terserah...ente maw anggap yang bid'ah adalah sunnah atau yang sunnah adalah bid'ah jg gpp...asal jgn sekali2 kamu munculkan wacana itu didepan ku...

sama seperti kalau kamu bilang..menjadi kafir itu tidak apa2...kalo kamu yakini hal ini secara pribadi...aq tidak akan mempermasalahkan hal ini...tetapi kalo kamu munculkan menjadi sebuah wacana...dan aq melihatnya...maka jangan salahkan daku kalo aq ikut campur...

filsufsufi
December 07, 2008, 06:32
^terserah bung Cobalt degh, mo menyamakan orang yg bilang Yasinan boleh adalah "sama seperti kalau kamu bilang..menjadi kafir itu tidak apa2.."

atau bung Cobalt mo bilang: sapa pula yang memvonis sesat?
hei...yang memvonis orang yang melakukan kebid'ahan sesat itu bukan aq...tapi langsung dari lisan Rosulullah...
Kullu bid'atin dholalah wa kullu dholalatin fin naarorang yang Yasinan sesat karena SABDA Nabi saw tsb silakan...

yang jelas...

gak ada orang yg Yasinan bilang gpp jadi kafir, dan gak ada Rasul saw menyebut kata Yasinan adalah SESAT, itu cuma tafsiran dari bung Cobalt terhadap Hadits, tidak ada TEKTUAL yg tersuratnya

bener kan bro..? mana ada hadits yg bilang "orang yg Yasinan sama dengan mengatakan kafir gpp" ? juga gak ada sabda beliau "Yasinan sesat", gak ada bro..kecuali setelah antum menafsirkan bahwa "Yasinan adalah bid'ah" dan salah menafsirkan hadits "Kullu Bid'ah dholalah"

Kami pun mengimani hadits tsb, tapi tidak menggunakan penafsiran antum bro..klo antum berulang2 menjelaskan makna bid'ah sesuai versi yg antum setujui, mengapa pula kami tak bole mengulang2 penjelasan berlainan penafsiran dgn antum?

Bagi kami (tentu yg sepihak dgn aq), "Dalam urusan Ibadah Mahdoh yg tidak ada bid'ah"

Tidak usah memaksakan pendapat antum bro...apalagi kata2 keras antum yg bikin renyuh dan bikin hilang kasih sayang sesama Mu'min diatas

Terakhir kali saya katakan "Tidak ada seorang pun yg mewajibkan Yasinan", dan tidak ada ygn mengatakan "Yasinan adalah syariat Islam" namun sekedar ada yg melestarikannya sebagai budaya Islami, budaya bukan Ibadah mahdoh, dan budaya itu ada yg baik ada yg buruk,

Dalam budaya kita melihat dampak sosial..., klo orang karena Yasinan orang jadi tertarik untuk melakukan perbuatan keji; merampok, berjudi, berzinah itu berarti menjadi BUDAYA JELEK, tapi klo orang karena Yasinan jadi saling kenal, saling sayang, saling bantu, bukankah itu jadi BUDAYA BAIK ?!

Yasinan adalah mu'amalah..bagi kami dalam mu'amalah tentu "ada sesuatu yg baru, yg sengaja diada2kan"

Di Indonesia pada umumnya mengadakan BUDAYA..sekali lagi BUDAYA bro.. BUDAYA Yasinan, kalau antum ingin menghapus BUDAYA ini (yg dampak sosialnya adalah baik, emank ada yg abiz yasianan lasung bareng2 merampok,dll?!), bukankah masih banyak urusan BUDAYA BARU yg berdampak jelek pada umat Islam, dari media masa cetak maupun elektronik, nah prioritaskan dulu yg berdampak JELEK itu lha bro..daripada memusuhi umat Islam di Indonesia yg sudah ratusan tahun mengadakan BUDAYA tsb

Perumpamaannya case Yasinan ini; daripada meributkan soal orang sholat berqunut dgn tidak berqunut, lebih baik mejalankan 'amar ma'ruf nah mungkar' kepada orang yg tidak sholat, jadi lebih baik urusin orang2 yg belum bisa BACA QUR'AN daripada urusin orang2 yg lagi baca Yasin, tentu minimal mereka uda bisa baca Qur'an bro..

Sekali lagi..mungkin antum benar, Yasinan adalah BID'AH, tapi antum gak pernah benar klo menvonis Yasinan adalah SYARIAT, gak ada yg bilang Yasinan itu SYARIAT bro..

saya akhiri..Amalmu amalmu bro Cobalt..amal kami ya amal kami..tidak ada paksaan dalam agama bro...ingat kamu atau saya hanya menyampaikan...

mudunpapat
December 08, 2008, 22:51
duh2...modie yang satu ini...udh dijelaskan berulang kali...bahwasanya bukan do'anya yang tertolak...tetapi cara yang kalian yang tertolak...
kalian maw membaca surat yasin atau berdo'a silahkan...akan tetapi jgn sampe terjadi pengkhususan...sebab hukum membaca surat Al Qur'an dan berdo'a dalam kehidupan sehari2 adalah mutlak (bebas)...
Apa yang sudah dimutlakan oleh Allah dan Rosulnya maka haruslah tetap mutlak...jangan di muqoyyad...begitu jg yang muqoyyad (terikat) jangan dibuat mutlak

coba sebutkan dalil pengkhususan membaca yasin disini bal !!

militiaman
December 09, 2008, 01:54
terserah...ente maw anggap yang bid'ah adalah sunnah atau yang sunnah adalah bid'ah jg gpp...asal jgn sekali2 kamu munculkan wacana itu didepan ku...

sama seperti kalau kamu bilang..menjadi kafir itu tidak apa2...kalo kamu yakini hal ini secara pribadi...aq tidak akan mempermasalahkan hal ini...tetapi kalo kamu munculkan menjadi sebuah wacana...dan aq melihatnya...maka jangan salahkan daku kalo aq ikut campur...

Waduh hebatnya ente, yang mungkin udah menguasai seluruh kitab di jagat ini, ente mau bilang ane kafir gpp [ hanya Allah SWT yg tau], tapi yasinan ini udah dilakukan para ulama terdahulu [ane anggap ente paling hebat udah secara gak langsung meng kafirkan ulama terdahulu] sebagai salah satu dakwah Islam [ente udah buktikan belum dng melakukan dakwah ke kalangan marjinal / preman / garapan agama lain tampa yasinan], jangan "omdo" ya.

mahrus
December 09, 2008, 03:20
Assalamualaikum

dahulu mengenai Yasinan tidak pernah jadi permasalahan, padahal umat dan ulama dahulu (mungkin) lebih baik dan lebih bersih dari umat dan ulama saat ini (apakah lebih pintar ? , mungkin umat saat ini yang lebih pintar/ atau keminter).

jadi logikanya, kenapa baru sekarang hal yasinan ini di permasalahkan..?
jika ini persaingan antar generasi muda versus generasi tua, jika masalah agama yang lebih banyak urusan bathinnya(rohani), mungkin kita lebih mengaju pada golongan tua.....mungkin loh, akal pikiran logika sejarah dan teknologi lalu semua itu mengaduk aduk agama islam dengan dalih pembaharuan, mungkin saja begitu.

Bisa jadi generasi muda kita sudah "pangling" pada generasi tua, dan meneriakan protes, reformasi dan revolusi kalau bisa. jadi semua adat, kebiasaan dan cara beribadah generasi tua pun mulai di"teliti-ulang", di periksa, mungkin banyak cara generasi tua yang salah dalam beribadah, beragama dan bertuhan, sehingga membuat rusak moral bangsa Indonesia umumnya. bisa jadi semua kerusakan bangsa ini dari segala sudut (KKN, zina, premanisme, narkoba ,dll) adala tanggung jawab generasi tua sehingga perlu di periksa semua cara dan kebiasaan mereka dalam beribadah, dimana kesalahan mereka hingg a ALLAH membuat banyak kerusakan dan maksiat meraja lela di muka bumi ini
mungkin saja begitu..

Salam.

cobalt_6982
December 09, 2008, 04:19
^terserah bung Cobalt degh, mo menyamakan orang yg bilang Yasinan boleh adalah "sama seperti kalau kamu bilang..menjadi kafir itu tidak apa2.."
menyamakan?
huahuahuhau

lihat dong...aq tidak menyamakan...aq hanya membawakan pendapat ku...bahwasanya sekalipun kamu atau orang yang sepaham dengan kamu menjadi kafir sekalipun...itu hak kalian...toh aq tidak berhak melarang kalian kan?

bukankah kalian sendiri yang dari awal maw islam sendiri2 (nafsi2)?

Jadi..sekalipun kalian kafir...itu bukan tanggungan ku...toh aq telah berlepas diri dari apa yang kalian lakukan...

rang yang Yasinan sesat karena SABDA Nabi saw tsb silakan...

yang jelas...

gak ada orang yg Yasinan bilang gpp jadi kafir, dan gak ada Rasul saw menyebut kata Yasinan adalah SESAT, itu cuma tafsiran dari bung Cobalt terhadap Hadits, tidak ada TEKTUAL yg tersuratnya

bener kan bro..? mana ada hadits yg bilang "orang yg Yasinan sama dengan mengatakan kafir gpp" ? juga gak ada sabda beliau "Yasinan sesat", gak ada bro..kecuali setelah antum menafsirkan bahwa "Yasinan adalah bid'ah" dan salah menafsirkan hadits "Kullu Bid'ah dholalah"
memang gak ada dalil sedikpun yang bilang bahwa yasinan adalah sesat secara tekstual...tapi adakah dalil yang menyatakan bahwa Rosulullah pernah melakukan tahlilan atau yasinan?

Yasinan jelas menjadi bid'ah...sebab-sebab nya sebagai berikut
1. Dalil yang kalian pakai telah nyata menjadi maudhu' dan dho'if lihat halaman pertama...jikalau dalil yang demikian telah dho'if dan maudhu'...dalil mana lage yang akan kalian pakai untuk melegalisasi tindakan kalian?
2. Hukum membaca Al Qur'an termasuk yasin merupakan Ibadah yang mutlak...artinya Rosulullah tidak menetapkan nya atau mensyaratkannya untuk waktu tertentu...akan tetapi...kalian membuat hukum mutlak ini menjadi muqoyyad (terikat)..kalian ikat waktu yasinan dengan pengkhususan...dan itupun berdasarkan dalil yang lemah dan palsu sebagaimana yang telah disinggung pada halaman pertama
3. Para shahabat yang merupakan orang yang paling paham terhadap ilmu dari Rosulullah tidak pernah mengadakan tahlilan...begitupula para salafus shalih yang lain
4. Kalian memasukkan yasinan sebagai bid'ah hasanah...tidakkah kalian lihat perkataan Ibnu Umar dan Imam Malik bahwasanya segala bid'ah adalah sesat sekalipun kalian menganggapnya baik.

Dan...jikalau kamu menganggapku salah dalam menafsirkan makna kullu bid'atin dholalah...maka silahkan anda datangkan tafsiran anda kepada ku

Kami pun mengimani hadits tsb, tapi tidak menggunakan penafsiran antum bro..klo antum berulang2 menjelaskan makna bid'ah sesuai versi yg antum setujui, mengapa pula kami tak bole mengulang2 penjelasan berlainan penafsiran dgn antum?
nah...kamu itu pake penafsiran siapa?
walisongo yang kamu agung2kan itu?
atau pake tafsiran ulama JIL seperti yang pernah dibawakan militiaman?

Lihat lah kembali halaman2 sebelumnya...aq disitu memekai tafsiran dari Ibnu Hajar, Imam Malik, Asy Syathibi, dan bahkan di thread bid'ah aq bawakan dengan lengkap perkataan Ibnu Taimiyah dan ulama2 kuat lainnya....dan diperjelas oleh Syekh Al Utsaimin....

Silahkan kalo anda maw membawakan tafsiran anda...siapa pula yang melarang?

toh dari mulai si syahrul husni membuka thread bid'ah...aq dengan tegas mengatakan...sini bawakan dalil kalian kepada ku...

Bagi kami (tentu yg sepihak dgn aq), "Dalam urusan Ibadah Mahdoh yg tidak ada bid'ah"
Tidak usah memaksakan pendapat antum bro...apalagi kata2 keras antum yg bikin renyuh dan bikin hilang kasih sayang sesama Mu'min diatas
Nah...tentunya...kalo kamu berani mengatakan seperti diatas ini...tentunya kamu sebutkan pula darimana kamu bisa berkata seperti ini...
ato ulama siapa yang menguatkanmu?

Kalau dibilang bahwa aq membuat hilang kasih sayang sesama mu'min dan aq dibilang memaksakan pendapat...maka pemikiran mu terlalu sempit...

Aq toh tidak pernah memutuskan silaturrahmi terhadap sesama muslim di fais ini...selain itu bukankah aq sudah berkata kepada kalian bahwasanya sekalipun kalian menjadi kafir itu bukan tanggungan ku?
Mana ada aq memaksakan pendapat?

kalo toh kamu memang tidak menerima pendapat ku...datangkanlah yang lebih baik

Terakhir kali saya katakan "Tidak ada seorang pun yg mewajibkan Yasinan", dan tidak ada ygn mengatakan "Yasinan adalah syariat Islam" namun sekedar ada yg melestarikannya sebagai budaya Islami, budaya bukan Ibadah mahdoh, dan budaya itu ada yg baik ada yg buruk,

Dalam budaya kita melihat dampak sosial..., klo orang karena Yasinan orang jadi tertarik untuk melakukan perbuatan keji; merampok, berjudi, berzinah itu berarti menjadi BUDAYA JELEK, tapi klo orang karena Yasinan jadi saling kenal, saling sayang, saling bantu, bukankah itu jadi BUDAYA BAIK ?!

Memangnya tidak ada cara lain yang lebih baik dari itu?
Rosulullah saja tidak pernah memakai "bungkus" budaya kafir kemudian membuang isinya dan menggantinya dengan isi islam tapi tetap dalam "bungkus" nya
Apa Rosulullah pernah memakai budaya2 kafir kemudian disisipi nilai2 Islam seperti yang kalian lakukan?

Kamu membuang kebathilan dengan kebid'ahan....maka itu sama seperti TIDAK MENGGANJA TETAPI MEROKOK

Kalian kurangi mudhorot besar dengan mudhorot2 kecil...tetapi kalian tidak pernah menyadari bahwasanya mudorot tetap mudhorot walaupun itu kecil...

Kekafiran atau kebathilan memang berbeda dengan kebid'ahan...tetapi ketahuilah...2 cara itu adalah cara Iblis menjauhkan manusia dari rahmat Allah

Toh ujung dari kedua itu tetap saja neraka?

Lagepula bukankah kita disuruh untuk masuk Islam secara Kaffah...bahwasanya terimalah apa yang datang dari Rosul?
Ibnu Mas'ud menegaskan..."cukuplah berittiba' jangan beribtida'"

Kamu memang tidak mewajibkan yasinan...tetapi kamu mengadakan yasinan...Kebid'ahan tetaplah kebid'ah sekalipun kalian tidak menjadikan kebid'ahan itu sebagai sebuah kewajiban....

Bedakanlah...antara membaca yasin dengan yasinan jelas berbeda

Yasinan adalah mu'amalah..bagi kami dalam mu'amalah tentu "ada sesuatu yg baru, yg sengaja diada2kan"
Mu'ammalah pada dasarnya adalah boleh....selama tidak ada dalil yang melarangnya...

Nah...Yasinan dan tahlilan telah jelas letak kebid'ahannya. (walaupun kalian tutup mata bahwa ini bukan bid'ah)...dan untuk sebuah kebid'ahan jelas ada larangannya....jadi...sekalipun kalian anggap ini mu'ammalah...maka tetap hal ini menjadi terlarang...

Contoh gak jauh...liat peristiwa bid'ah hasanah lainnya yaitu maulid nabi...Ulama dari mulai 4 Imam mahzab, Ibnu Hajar, Ibnu Taimiyah dan lainnya sepakat menyatakan haram hukumnya

Maw sekalian kubawakan hukum2nya?

Di Indonesia pada umumnya mengadakan BUDAYA..sekali lagi BUDAYA bro.. BUDAYA Yasinan, kalau antum ingin menghapus BUDAYA ini (yg dampak sosialnya adalah baik, emank ada yg abiz yasianan lasung bareng2 merampok,dll?!), bukankah masih banyak urusan BUDAYA BARU yg berdampak jelek pada umat Islam, dari media masa cetak maupun elektronik, nah prioritaskan dulu yg berdampak JELEK itu lha bro..daripada memusuhi umat Islam di Indonesia yg sudah ratusan tahun mengadakan BUDAYA tsb
Kamu ini tidak pernah membaca penegasanku yah bahwasanya aq sama sekali tidak mengharamkan sebuah budaya...asalkan budaya tersebut tidak bertentangan dengan sunnah...

Nah skarang begini...media masa dan elektronik...adakah mereka bertentangan dengan sunnah?
Ada yang bertentangan....ada yang tidak...

Sama dengan budaya...ada yang bertentangan..ada yang tidak...

Yang tidak bertentangan dengan sunnah...seperti yang telah aq sebutkan...yaitu adat gotong royong...kemudian kebiasaan menyapa orang dijalan..dan lain sebagainya

Sementara yang bertentangan dengan sunnah...yah seperti yang kalian lakukan itu

Perumpamaannya case Yasinan ini; daripada meributkan soal orang sholat berqunut dgn tidak berqunut, lebih baik mejalankan 'amar ma'ruf nah mungkar' kepada orang yg tidak sholat, jadi lebih baik urusin orang2 yg belum bisa BACA QUR'AN daripada urusin orang2 yg lagi baca Yasin, tentu minimal mereka uda bisa baca Qur'an bro..
kamu ngerti gak apa yang dimaksud amar ma'ruf nahi munkar?
Apa yang namanya 'Amar ma'ruf nahi munkar itu memilih2?

Tidak...
yang namanya amar ma'ruf nahi munkar itu ialah menegakkan apa saja yang merupakan syari'at Islam...baik besar maupun kecil

Permasalah bid'ah...jangan ente anggap enteng...sebab yang namanya seseorang melakukan bid'ah...semakin dia beribadah kepada Allah...semakin jauh dia masuk kedalam kesesatan

Sekali lagi..mungkin antum benar, Yasinan adalah BID'AH, tapi antum gak pernah benar klo menvonis Yasinan adalah SYARIAT, gak ada yg bilang Yasinan itu SYARIAT bro..
Kalau memang bukan syari'at...kenapa harus kamu jalankan?
Sudah jelas disitu adalah nilai syari'at...

Kamu masukkan apa yang telah dimutlakkan Allah dan Rosulnya menjadi muqoyyad...jelas ini merupakan pelanggaran nilai2 syari'at

saya akhiri..Amalmu amalmu bro Cobalt..amal kami ya amal kami..tidak ada paksaan dalam agama bro...ingat kamu atau saya hanya menyampaikan...
Nah...kalau begitu jangan bilang saya kerasa kalo saya mengatakan
"sekalipun kamu kafir...itu bukan urusan ku"

cobalt_6982
December 09, 2008, 04:29
coba sebutkan dalil pengkhususan membaca yasin disini bal
ndut...dengan sangat hormat...ente mendingan minggir dulu dh...
ente baca dulu thread bid'ah...kenapa sesuatu menjadi bid'ah...kemudian ente kaitkan dengan thread yasinan...sebab2 kenapa yasinan menjadi bid'ah...supaya ente paham...coz udh terlihat sekali...pertanyaan ente itu pertanyaan berulang-ulang...padahal saya kira sudah cukup saya jelaskan

ato maw contoh mudah?

oke..saya kasih...

Ente kalo minum obat disuruh 3 kali sehari...boleh gak ente minum 10 kali sehari?

Terus...ente kan bebas minum air...tiba2 ente disuruh sama presiden cuma minum air satu gelas aj buat 1 bulan....ato 1 gelas seminggu...gmn tindakan ente?

Waduh hebatnya ente, yang mungkin udah menguasai seluruh kitab di jagat ini, ente mau bilang ane kafir gpp [ hanya Allah SWT yg tau], tapi yasinan ini udah dilakukan para ulama terdahulu [ane anggap ente paling hebat udah secara gak langsung meng kafirkan ulama terdahulu] sebagai salah satu dakwah Islam [ente udah buktikan belum dng melakukan dakwah ke kalangan marjinal / preman / garapan agama lain tampa yasinan], jangan "omdo" ya.
Ulama mana?

hoi...kamu contoh aj Rosulullah...beliau berdakwa mulai dari orang2 yang terpandang hingga kepada bandit2 arab badui...tapi apakah Rosulullah pernah memakai tradisi Jahiliyah buat menarik mereka masuk Islam?

Kemudian lihat contoh dari para Shahabat...bagaimana Ibnu Mas'ud menolak keras orang yang berdzikir pake biji-bijian atau kerikil...padahal orang2 itu bilang unuk kebaikan...
Mengajak orang untuk masuk Islam atau untuk berbuat kebaikan...tidak harus pake cara bid'ah kan?

dahulu mengenai Yasinan tidak pernah jadi permasalahan, padahal umat dan ulama dahulu (mungkin) lebih baik dan lebih bersih dari umat dan ulama saat ini (apakah lebih pintar ? , mungkin umat saat ini yang lebih pintar/ atau keminter).
sekarang begini...
Kalo kamu memang berkata lebih baik dan lebih bersih...saya tanya...generasi mana dalam Islam yang paling baik dan bersih?

Tentu saja generasi Shahabat, Tabi'in dan Tabi'ut Tabi'in kan?

Nah sekarang...diantara generasi2 tersebut...mana yang menjalankan yasinan atau bid'ah hasanah lainnya?

jadi logikanya, kenapa baru sekarang hal yasinan ini di permasalahkan..?
jika ini persaingan antar generasi muda versus generasi tua, jika masalah agama yang lebih banyak urusan bathinnya(rohani), mungkin kita lebih mengaju pada golongan tua.....mungkin loh, akal pikiran logika sejarah dan teknologi lalu semua itu mengaduk aduk agama islam dengan dalih pembaharuan, mungkin saja begitu.

Bisa jadi generasi muda kita sudah "pangling" pada generasi tua, dan meneriakan protes, reformasi dan revolusi kalau bisa. jadi semua adat, kebiasaan dan cara beribadah generasi tua pun mulai di"teliti-ulang", di periksa, mungkin banyak cara generasi tua yang salah dalam beribadah, beragama dan bertuhan, sehingga membuat rusak moral bangsa Indonesia umumnya. bisa jadi semua kerusakan bangsa ini dari segala sudut (KKN, zina, premanisme, narkoba ,dll) adala tanggung jawab generasi tua sehingga perlu di periksa semua cara dan kebiasaan mereka dalam beribadah, dimana kesalahan mereka hingg a ALLAH membuat banyak kerusakan dan maksiat meraja lela di muka bumi ini
mungkin saja begitu..
Permasalahan yasinan dan bid'ah hasanah lainnya sejak dahulu telah dibahas oleh para ulama dan ulama yang rajih sepakat dalam mengharamkan bid'ah sekalipun itu hasanah...
Jadi...perkataan mu yang mengatakan bahwa kenapa baru sekarang yasinan baru diperdebatkan adalah sama sekali tidak berdasar

mahrus
December 09, 2008, 04:42
Jadi...perkataan mu yang mengatakan bahwa kenapa baru sekarang yasinan baru diperdebatkan adalah sama sekali tidak berdasar

jawabnya, sejak munculnya organisasi bernama muhammmadiyah-lah baru banyak masalah, banyak bid'ah, banyak pertentangan...karena menolak cara dan kebiasaan kaum tua yaitu nahdatul ulama atau NU.

maka bisakah orang NU mengkafirkan orang Muhammadiyah atau sebaliknya..?
atau bisakah kita mempertahankan pendapat kita dengan menghancurkan mengharamkan pendapat yang lain..?
jelas membid'ah-kan dan mengkafirkan saudara seagama adalah kesalahan dan kecerobohan besar, bagaimana menurut sampeyan...?

cobalt_6982
December 09, 2008, 04:54
jawabnya, sejak munculnya organisasi bernama muhammmadiyah-lah baru banyak masalah, banyak bid'ah, banyak pertentangan...karena menolak cara dan kebiasaan kaum tua yaitu nahdatul ulama atau NU.
kamu salah kalo kamu bilang hal tersebut baru menjadi perdebatan semenjak Muhammadiyah....
Yang namanya bid'ah hasanah telah muncul pada masa Shahabat...dan ini telah ditentang oleh para Shahabat....jadi...masalah penentangan2 terhadap bid'ah...telah ada semenjak masa Rosulullah wafat....
Contohnya ada pada riwayat Ibnu Mas'ud Rohimahulullahuta'ala yang menentang bid'ah dzikir pake biji2an

Nah...adapun di Indonesia...secara sepintas memang baru ada pada masa Muhammadiyah...tetapi mungkin kamu lupa...bahwasanya ketika wali songo masih hidup...hal ini pun sudah diperdebatkan oleh mereka...yaitu...tidak semua wali songo setuju atau mendukung cara yang dipakai oleh Sunan Kalijaga dalam menyebarkan Islam di tanah jawa...coba lihat kembali lembaran sejarah kita...

maka bisakah orang NU mengkafirkan orang Muhammadiyah atau sebaliknya..?
atau bisakah kita mempertahankan pendapat kita dengan menghancurkan mengharamkan pendapat yang lain..?
jelas membid'ah-kan dan mengkafirkan saudara seagama adalah kesalahan dan kecerobohan besar, bagaimana menurut sampeyan...?
mengkafirkan?
Hanya orang bodoh mengkafirkan orang yang berbuat bid'ah...walaupun bid'ah itu sendiri bisa menjelma menjadi sebuah kekafiran

Akan tetapi...kalau berkata bahwa hal ini bid'ah dengan disertai dalil2 yang ada...maka hal ini diperbolehkan...

militiaman
December 09, 2008, 05:14
Bal, ente kalo ditanya udah buktikan belum dng melakukan dakwah ke kalangan marjinal / preman / garapan agama lain tampa yasinan, selalu gak jawab, apa ente cuma bisa ngomong di forum & kampus doang, kalo emang nyali ente gede segede ngomong ente, ane cuma perlu bukti ente di lapangan & di daerah mana, jangan ngeles terus .............

mudunpapat
December 09, 2008, 08:49
ndut...dengan sangat hormat...ente mendingan minggir dulu dh...
ente baca dulu thread bid'ah...kenapa sesuatu menjadi bid'ah...kemudian ente kaitkan dengan thread yasinan...sebab2 kenapa yasinan menjadi bid'ah...supaya ente paham...coz udh terlihat sekali...pertanyaan ente itu pertanyaan berulang-ulang...padahal saya kira sudah cukup saya jelaskan

ato maw contoh mudah?

oke..saya kasih...

Ente kalo minum obat disuruh 3 kali sehari...boleh gak ente minum 10 kali sehari?

Terus...ente kan bebas minum air...tiba2 ente disuruh sama presiden cuma minum air satu gelas aj buat 1 bulan....ato 1 gelas seminggu...gmn tindakan ente?

hormat grak !!!

emang lo kuat nggeser gw bal, kok disuruh minggir ::banana::

pan diatas lu bilang sendiri, bukan doanya yg tertolak tp caranya yg mengkhususkan yg tertolak, nah gw skrg minta dong dalil pengkhususan membaca yasin yg kau sebut sebut sbg alasan utama pembidahan membaca yasin ini bal !!!

tegap grak !!!

[joget]

militiaman
December 09, 2008, 09:38
sedikit info buat yang suka baca Yasin & Tahlilan :

Yasinan dan Tahlilan Itu Sunnah dan Tidak Bid'ah (Dasar Hukum Bacaan Tahlilan dalam Al-Qur'an dan Hadis)

Oleh: Tsalis Muttaqin

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
Pendahuluan
Tulisan ini diarahkan untuk menjawab keragu-raguan sebagian kaum Muslimin tentang tradisi tahlilan yang dilakukan mayoritas umat Islam di penjuru dunia. Bagi pihak-pihak yang menuduh bacaan tahlilan dan Yasinan itu sebagai amalan bid'ah, sebaiknya menunjukkan dalil di mana letak bid'ah-nya. Karena jika asal mem-bid'ah-kan dikhawatirkan masuk dalam lumpur dosa yang tercantum dalam hadits berikut ini:

Artinya: Dari Abdullah radliallahu 'anhu, sesungguhnya Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda: "Memaki kaum muslim itu ke-fasiq-an dan membunuhnya adalah ke-kufur-an". (Hadits riwayat: Al-Bukhari dan Muslim).

Dikatakan demikian, karena mem-bid'ah-kan termasuk bagian dari bentuk makian, apalagi orang yang dimaki-maki sedang ber-dzikir kepada Allah. Bahkan mem-bid'ah-kan merupakan makian yang sangat menyakitkan hati, karena perilaku bid'ah pada dasarnya sangat dibenci dalam ajaran Islam.
Alangkah lebih baik lagi jika ada perbedaan di kalangan umat Islam diselesaikan lewat jalan dialog dan musyawarah dengan cara yang baik, sehingga tidak menimbulkan fitnah dan perpecahan.

Setelah dilakukan telaah, ternyata setiap bacaan tahlilan ada dasar yang disandarkan kepada Al-Qur'an dan Hadits, artinya ayat-ayat dan bacaan dzikir yang dipilih memang ada dasar yang disandarkan kepada Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam, bahwa ayat-ayat dan bacaan tersebut mempunyai ke-khusus-an yang telah diterangkan oleh Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam.

Pengertian Tahlilan
Kata Tahlilan berasal dari bahasa Arab tahliil (تَهْلِيْلٌ) dari akar kata:
هَلَّلَ – يُهَلِّلُ – تَهْلِيْلٌ
yang berarti mengucapkan kalimat: لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ . Kata tahliil dengan pengertian ini telah muncul dan ada di masa Rasulullah, sebagaimana dalam sabda beliau shalla Allahu alaihi wa sallam:

Artinya: Dari Abu Dzar radliallahu 'anhu, dari Nabi shalla Allahu alaihi wa sallam, sesungguhnya beliau bersabda: "Bahwasanya pada setiap tulang sendi kalian ada sedekah. Setiap bacaan tasbih itu adalah sedekah, setiap bacaan tahmid itu adalah sedekah, setiap bacaan tahlil itu adalah sedekah, setiap bacaan takbir itu adalah sedekah, dan amar makruf nahi munkar itu adalah sedekah, dan mencukupi semua itu dua rakaat yang dilakukan seseorang dari sholat Dluha. (Hadits riwayat: Muslim).

>

militiaman
December 09, 2008, 09:39
Di kalangan masyarakat Indonesia istilah tahlilan populer digunakan untuk menyebut sebuah acara dzikir bersama, doa bersama, atau majlis dzikir. Singkatnya, acara tahlilan, dzikir bersama, majlis dzikir, atau doa bersama adalah ungkapan yang berbeda untuk menyebut suatu kegiatan yang sama, yaitu: kegiatan individual atau berkelompok untuk berdzikir kepada Allah. Pada hakikatnya tahlilan adalah bagian dari dzikir kepada Allah.

Keutamaan berdzikir kepada Allah
Artinya: Allah Ta'aalaa berfirman: "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang berdzikir kepada Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka hindarkanlah kami dari siksa neraka. (Surat Ali Imran: 190-191)

Artinya: dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda: Allah 'Azza wa Jalla berfirman: "Aku adalah berdasarkan sangkaan hambaKu terhadapKu. Aku bersamanya ketika dia mengingatKu (berdzikir kepadaku). Apabila dia mengingatKu dalam diriya, niscaya Aku juga mengingatnya dalam diriKu. Apabila dia mengingatKu dalam satu kaum, niscaya Aku juga mengingatnya dalam suatu kaum yang lebih baik daripada mereka. Apabila dia mendekatiKu dalam jarak sejengkal, niscaya Aku mendekatinya dalam jarak sehasta. Apabila dia mendekatiKu dalam jarak sehasta, niscaya Aku mendekatinya dalam jarak sedepa. Apabila dia datang kepadaKu dengan berjalan, niscaya Aku akan datang kepadanya dengan berlari". (Hadits Qudsiy riwayat Al-Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi, An-Nasa`i, Ibnu Majah. Imam Ahmad meriwayatkan hadis seperti ini dengan sanad shahih, di akhir hadits ada tambahan: Qataadah berkata: "Dan Allah sangat cepat memberi ampunan").
Artinya: Dari Abu Musa Al-Asy`ariy radliallahu 'anhu, ia berkata: Nabi shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda: "Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Tuhannya dan orang yang tidak berdzikir kepada Tuhannya, laksana orang yang hidup dan orang yang mati". (Hadits riwayat: Al-Bukhari).

Adapun tentang ketumaan rumah yang dibuat berzikir, diterangkan dalam hadits berikut ini:
Artinya: Dari Abu Musa Al-Asy`ariy radliallahu 'anhu, ia berkata: Nabi shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda: "Perumpamaan rumah yang di dalamnya digunakan berdzikir kepada Allah dan rumah yang di dalamnya tidak digunakan berdzikir kepada Allah, laksana orang yang hidup dan orang yang mati". (Hadits riwayat: Muslim).

Dalil-dalil mengenai Tahlilan atau Dzikir Bersama
Artinya: Dari Abu Sa'id al-Khudriy radliallahu 'anhu, Mu'awiyah berkata: Sesungguhnya Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam pernah keluar menuju halaqah (perkumpulan) para sahabatnya, beliau bertanya: "Kenapa kalian duduk di sini?". Mereka menjawab: "Kami duduk untuk berdzikir kepada Allah dan memujiNya sebagaimana Islam mengajarkan kami, dan atas anugerah Allah dengan Islam untuk kami". Nabi bertanya kemudian: "Demi Allah, kalian tidak duduk kecuali hanya untuk ini?". Jawab mereka: "Demi Allah, kami tidak duduk kecuali hanya untuk ini". Nabi bersabda: "Sesungguhnya

>

militiaman
December 09, 2008, 09:39
aku tidak mempunyai prasangka buruk terhadap kalian, tetapi malaikat Jibril datang kepadaku dan memberi kabar bahwasanya Allah 'Azza wa Jalla membanggakan tindakan kalian kepada para malaikat". (Hadits riwayat: Ahmad, Muslim, At-Tirmidziy dan An-Nasa`iy).
Jika kita perhatikan hadits ini, dzikir bersama yang dilakukan para sahabat tidak hanya sekedar direstuinya, tetapi dipuji Nabi, karena pada saat yang sama Malaikat Jibril memberi kabar bahwa Allah 'Azza wa Jalla membanggakan kreatifitas dzikir bersama yang dilakukan para sahabat ini kepada para malaikat.


Sekarang marilah kita perhatikan hadits berikut ini:
Artinya: "Dari Al-Agharr Abu Muslim, sesungguhnya ia berkata: Aku bersaksi bahwasanya Abu Hurairah dan Abu Said Al-Khudzriy bersaksi, bahwa sesungguhnya Nabi shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda: "Tidak duduk suatu kaum dengan berdzikir bersama-sama kepada Allah 'Azza wa Jalla, kecuali para malaikat mengerumuni mereka, rahmat Allah mengalir memenuhi mereka, ketenteraman diturunkan kepada mereka, dan Allah menyebut mereka dalam golongan orang yang ada di sisiNya". (Hadits riwayat: Muslim)

Dalil-dalil Mengenai Bacaan Tahlilan
Sedangkan bacaan-bacaan yang selalu dibaca dalam acara tahlilan yaitu:

1. Membaca Surat Al-Fatihah.
Dalil mengenai keutaman Surat Fatihah:
Artinya: "Dari Abu Sa`id Al-Mu'alla radliallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda kepadaku: "Maukah aku ajarkan kepadamu surat yang paling agung dalam Al-Qur'an, sebelum engkau keluar dari masjid?". Maka Rasulullah memegang tanganku. Dan ketika kami hendak keluar, aku bertanya: "Wahai Rasulullah! Engkau berkata bahwa engkau akan mengajarkanku surat yang paling agung dalam Al-Qur'an". Beliau menjawab: "Al-Hamdu Lillahi Rabbil-Alamiin (Surat Al-Fatihah), ia adalah tujuh surat yang diulang-ulang (dibaca pada setiap sholat), ia adalah Al-Qur'an yang agung yang diberikan kepadaku". (Hadits riwayat: Al-Bukhari).

2. Membaca Surat Yasin.
Dalil mengenai keutamaan Surat Yasin.
Artinya: "Dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu., ia berkata: "Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa membaca surat Yasin di malam hari, maka paginya ia mendapat pengampunan, dan barangsiapa membaca surat Hamim yang didalamnya diterangkan masalah Ad-Dukhaan (Surat Ad-Dukhaan), maka paginya ia mendapat mengampunan". (Hadits riwayat: Abu Ya'la). Sanadnya baik. (Lihat tafsir Ibnu Katsir dalam tafsir Surat Yaasiin).

Artinya: Dari Ma'qil bin Yasaar radliallahu 'anhu, ia berkata: Nabi shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda: "Bacalah Surat Yaasiin atas orang mati kalian" (Hadits riwayat: Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majah).

>

militiaman
December 09, 2008, 09:40
Artinya: Dari Ma'qil bin Yasaar radliallahu 'anhu, sesungguhnya Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda: Surat Al-Baqarah adalah puncak Al-Qur'an, 80 malaikat menyertai diturunkannya setiap ayat dari surat ini. Dan Ayat laa ilaaha illaa Huwa Al-Hayyu Al-Qayyuumu (Ayat Kursi) dikeluarkan lewat bawah 'Arsy, kemudian dimasukkan ke dalam bagian Surat Al-Baqarah. Dan Surat Yaasiin adalah jantung Al-Qur'an, seseorang tidak membacanya untuk mengharapkan Allah Tabaaraka wa Ta'aalaa dan Hari Akhir (Hari Kiamat), kecuali ia diampuni dosa-dosanya. Dan bacalah Surat Yaasiin pada orang-orang mati kalian". (Hadits riwayat: Ahmad)

3. Membaca Surat Al-Ikhlash.
Dalil mengenai keutamaan Surat Al-Ikhlash.
Artinya: Dari Abu Said Al-Khudriy radliallahu 'anhu, ia berkata: Nabi shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda kepada para sahabatnya: "Apakah kalian tidak mampu membaca sepertiga Al-Qur'an dalam semalam?". Maka mereka merasa berat dan berkata: "Siapakah di antara kami yang mampu melakukan itu, wahai Rasulullah?". Jawab beliau: "Ayat Allahu Al-Waahid Ash-Shamad (Surat Al-Ikhlash maksudnya), adalah sepertiga Al-Qur'an" (Hadits riwayat: Al-Bukhari).

Imam Ahmad meriwayatkan:
Artinya: Dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu, bahwasanya Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam mendengar seseorang membaca Qul huwaAllahu Ahad (Surat Al-Ikhlash). Maka beliau bersabda: "Pasti". Mereka (para sahabat) bertanya: "Wahai Rasulullah, apa yang pasti?". Jawab beliau: "Ia pasti masuk surga". (Hadits riwayat: Ahmad).


4. Membaca Surat Al-Falaq
5. Membaca Surat An-Naas
Dalil keutamaan Surat Al-Falaq dan An-Naas.
Artinya: Dari Aisyah radliallahu 'anhaa, "bahwasanya Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bila merasa sakit beliau membaca sendiri Al-Mu`awwidzaat (Surat Al-Ikhlas, Surat Al-Falaq dan Surat An-Naas), kemudian meniupkannya. Dan apabila rasa sakitnya bertambah aku yang membacanya kemudian aku usapkan ke tangannya mengharap keberkahan dari surat-surat tersebut". (Hadits riwayat: Al-Bukhari).

6. Membaca Surat Al-Baqarah ayat 1 sampai 5
7. Membaca Surat Al-Baqarah ayat 163
8. Membaca Surat Al-Baqarah ayat 255 (Ayat Kursi)
9. Membaca Surat Al-Baqarah ayat 284 sampai akhir Surat.
Dalil keutamaan ayat-ayat tersebut:
Artinya: "Dari Abdullah bin Mas'ud radliallahu 'anhu, ia berkata: "Barangsiapa membaca 10 ayat dari Surat Al-Baqarah pada suatu malam, maka setan tidak masuk rumah itu pada malam itu sampai pagi, Yaitu 4 ayat permulaan dari Surat Al-Baqarah, Ayat Kursi dan 2 ayat sesudahnya, dan 3 ayat terakhir yang dimulai lillahi maa fis-samaawaati..)" (Hadits riwayat: Ibnu Majah).


>

militiaman
December 09, 2008, 09:40
10. Membaca Istighfar :
Dalil keutamaan membaca istighfar:

Artinya: Allah Ta'aalaa berfirman: "Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat". (Surat Huud: 3)

Artinya: Dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu : Aku mendengar Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda: "Demi Allah! Sungguh aku beristighfar (memohon ampun) dan bertaubat kepadaNya lebih dari 70 kali dalam sehari". (Hadits riwayat: Al-Bukhari).

Artinya: Dari Al-Aghar bin Yasaar Al-Muzani radliallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda: "Wahai manusia! Bertaubatlah kepada Allah. Sesungguhnya aku bertaubat kepadaNya seratus kali dalam sehari". (Hadits riwayat: Muslim).

11. Membaca Tahlil
12. Membaca Takbir
13. Membaca Tasbih
14. Membaca Tahmid
Dalil mengenai keutamaan membaca tahlil, takbir dan tasbih:
Artinya: Dari Jabir bin Abdullah radliallahu 'anhumaa, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda: "Sebaik-baik Dzikir adalah ucapan Laa ilaaha illa-Llah, dan sebaik-baik doa adalah ucapan Al-Hamdi li-Llah". (Hadits riwayat: At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Artinya: Dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu, dari Nabi shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda: "Ada dua kalimat yang ringan di lidah, berat dalam timbangan kebaikan dan disukai oleh Allah Yang Maha Rahman, yaitu Subhaana-Llahi wa bihamdihi, Subhaana-Llahi Al-'Adzim".( Hadits riwayat: Al-Bukhari, Muslim, Ahmad dan Ibnu Majah).

Artinya: Dari Abu Dzar radliallahu 'anhu, dari Nabi shalla Allahu alaihi wa sallam, sesungguhnya beliau bersabda: "Bahwasanya pada setiap tulang sendi kalian ada sedekah. Setiap bacaan tasbih itu adalah sedekah, setiap bacaan tahmid itu adalah sedekah, setiap bacaan tahlil itu adalah sedekah, setiap bacaan takbir itu adalah sedekah, dan amar makruf nahi munkar itu adalah sedekah, dan mencukupi semua itu dua rakaat yang dilakukan seseorang dari sholat Dluha. (Hadits riwayat: Muslim).

15. Membaca shalawat Nabi.
Dalilnya keutamaan membaca shalawat Nabi:
Artinya: Allah Ta'aalaa berfirman: "Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya memberi shalawat* untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, ucapkanlah shalawat untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya". (Surat Al-Ahzaab: 56)

>

militiaman
December 09, 2008, 09:40
*Keterangan: Imam At-Tirmidzi berkata: diriwayatkan bahwa Imam Sufyaan Ats-Tsauriy dan ulama-ulama lain berkata: "Shalawat dari Allah artinya adalah rahmat, sedangkan shalawat dari Malaikat artinya permohonan pengampunan". Pengertian ayat ini yaitu: Sesungguhnya Allah memberi rahmat kepada Nabi dan para malaikat beristighfar (memohon ampunan) untuk Nabi. (lihat Tafsir Ibnu Katsir pada ayat ini).

Artinya: dari Amir bin Rabii'ah radliallahu 'anhu, ia berkata: Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam saat berkhothbah bersabda: "Barangsiapa membaca shalawat untukku, para malaikat senantiasa membaca shalawat untuknya, selama ia membaca shalawat. Maka sebaiknya sedikit atau banyak seorang hamba melakukan itu". (Hadits riwayat: Ahmad dan Ibnu Majah)

Dari Abdullah bin Mas'ud radliallahu 'anhu, sesungguhnya Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda: "Manusia yang paling utama disisiku pada Hari Kiamat ialah yang paling banyak membaca shalawat kepadaku" (Hadits riwayat: At-Tirmidzi, dan ia berkata: Hadits ini Hasan Gharib). Kemudian ia berkata: Dan diriwayatkan dari Nabi shalla Allahu alaihi wa sallam, sesungguhnya beliau bersabda: "Barangsiapa membaca shalawat kepadaku sekali, maka Allah memberinya shalawat (rahmat) kepadanya 10 kali dan mencatat 10 kebaikan untuknya".

16. Membaca Asma'ul Husna.
Asma'ul Husna ialah nama-nama Allah yang berjumlah 99.
Dalil keutamaan membaca Asma'ul Husna:
Artinya: Allah Ta'aalaa berfirman: "Hanya milik Allah asma-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan". (Surat Al-A'raaf: 180)

17. Membaca do'a.
Keutamaan berdoa:
Artinya: Allah Ta'aalaa berfirman: "Dan Tuhanmu berfirman: "Berdo`alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina-dina". (Surat Al-Mukmin: 60)

Artinya: Dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu, dari Nabi shalla Allahu alaihi wa sallam, beliau bersabda: "Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah daripada do`a". (Hadits riwayat: Ibnu Majah dan At-Tirmidziy, kata At-Tirmidziy: hadits ini Hasan Ghariib)


Penutup
Al-Qur'an dan Al-Hadits merupakan sumber pokok ajaran Islam. Di dalam Islam, hanya Allah dan Rasul-Nya yang berhak menentukan status hukum suatu persoalan. Menentukan hukum wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram atas suatu persoalan, harus merujuk kepada Al-Qur'an dan Al-Hadits. Demikian juga mem-bid'ah-kan suatu masalah, tidak dibenarkan jika tidak memakai sandaran Al-Qur'an dan Hadits sebagai sumber hukum. Karena masalah bid'ah adalah masalah serius dalam ajaran Islam.

>

militiaman
December 09, 2008, 09:41
Akhirulkalam, Pada dasarnya masih banyak dalil Al-Qur'an dan Hadits yang bisa diungkapkan sebagai pendukung dari pada sekedar tulisan yang serba terbatas ini. Mudah-mudahan pada lain kesempatan, tulisan ini bisa disempurnakan. Jika ada kesalahan, sudah selayaknya penulis memohon ampun kepada Allah. Kritik dan saran yang baik kiranya sangat diharapkan.
Semoga membawa manfaat bagi penulis dan kaum Muslimin umumnya.
Hanya Allah Yang Maha Tahu.


Daftar Rujukan:
1. Al-Qur'an Al-Kariim.
2. Musnad Ahmad.
3. Shahih Al-Bukhari.
4. Shahih Muslim.
5. Sunan Abu Dawud.
6. Sunan At-Tirmidziy.
7. Sunan Ibnu Majah.
8. Sunan An-Nasaa'iy.
9. Tafsir Ibnu Katsir.
10. Tafsir Al-Qurthubiy.
11. Tafsir Jalalain.
12. Syarah An-Nawawi 'Alaa Muslim.
13. Al-Mu'jam Al-Wasiith.

http://tsalismuttaqin.blogspot.com/2008/12/yasinan-dan-tahlilan-itu-sunnah-dan_03.html

smoga info ini makin bikin gerah.................

k3nj1
December 12, 2008, 09:47
Semua Bid'ah itu sesat (sesuai hadis Nabi)

Tapi tidak semua 'Perkara Baru' itu Bid'ah.

Tahlilan, Yasinan, Maulid Nabi, Istigosah, Ratiban .... itu adalah 'Perkara Baru' tapi bukan Bid'ah.

Gw mo nanya ke Cobalt Al Wahabi :
Upacara bendera, tasyakuran HUT kemerdekaan itu Bid'ah apa bukan ?

mercury_man
December 12, 2008, 11:35
Klo setau gw si,

Kullu muhdatsin bid'atun (setiap yang baru itu adalah bid'ah)

Tapi ga semua bid'ah itu sesat..

seperti sudah disampaikan para ahli di depan, Imam Syafi'i membagi bid'ah menjadi dua;
Bid'ah hasanah (hal baru yang ada tuntunannya dan sesuai dengan syariat) dan bid'ah dholalah (hal baru yang tidak ada tuntunannya dan bertentangan dengan syari'at)

Saya yg masih santri (masih belajar ilmu agama) ini menyatakan mengikuti pendapat Imam Syafi'i dengan dasar2 yang telah dibawakan oleh beliau...

mercury_man
December 12, 2008, 11:35
------------------dp------------------

syahrul husni
December 12, 2008, 14:05
walah2 masih dibahas lg toh masalah bid'ah[love][love][love][love]

mercury_man
December 12, 2008, 14:19
Iya, ya.... malah OT begini... :hehe


salah saya... salah saya... ::maaf::

cobalt_6982
December 14, 2008, 01:47
huh....ternyata masih ada yang comment disini...gw kira bakalan sadar mereka itu terhadap kebid'ahan yang mereka lakukan...tetapi ternyata masih ada yang tetap pada pendirian taqlid buta nya...huhuhuhu

Bal, ente kalo ditanya udah buktikan belum dng melakukan dakwah ke kalangan marjinal / preman / garapan agama lain tampa yasinan, selalu gak jawab, apa ente cuma bisa ngomong di forum & kampus doang, kalo emang nyali ente gede segede ngomong ente, ane cuma perlu bukti ente di lapangan & di daerah mana, jangan ngeles terus .............
jah...neh orang...udh berulang kale gw terangkan...bahwa gw itu bertanggung jawab secara khusus hanya kepada orang2 disekitar gw...termasuk dikeluarga gw...
Keluarga gw aj sampe sekarang masih belom bisa menerima bahwa yasinan itu bid'ah...tahlilan itu bid'ah...walaupun terang2an gw udh memberitahu mereka tentang dalil dan pemahaman nya...tapi tetap saja mereka belom berubah...kenapa?

Alasannya yah sama seperti kalian ini...terlalu taqlid buta terhadap ajaran2 bid'ah yang sudah membudaya....sehingga ketika gw ngomong tentang sesuatu yang haQ...gw malah dibilang masih kecil lah...ato wahabi lah...ato muhammadiyah lah...beda aliran lah...

Padahal apa yang gw ucapkan semata2 hanyalah kebenaran berdasarkan Al Qur'an dan Sunnah

ente maw bukti?
sini dateng aj ke daerah Pondok Jaya dkt Kampus STAN...ente dengar sendiri keterangan dari ku dan saudara2 ku yang berdakwah disini...dan silahkan kamu liat dengan mata terbuka lebar BAGAIMANA KEBODOHAN ORANG2 YANG BERTAKLID BUTA MENOLAK SUNNAH2 ROSULULLAH...mereka lebih percaya omongan pak kyai fulan dan hadits2 dho'if dan maudhu' ketimbang hadits2 yang shahih

hormat grak !!!

emang lo kuat nggeser gw bal, kok disuruh minggir

pan diatas lu bilang sendiri, bukan doanya yg tertolak tp caranya yg mengkhususkan yg tertolak, nah gw skrg minta dong dalil pengkhususan membaca yasin yg kau sebut sebut sbg alasan utama pembidahan membaca yasin ini bal !!!

tegap grak !!!

kebid'ahan yasinan udh aq kasih tau...liat quote dibawah ini
Yasinan jelas menjadi bid'ah...sebab-sebab nya sebagai berikut
1. Dalil yang kalian pakai telah nyata menjadi maudhu' dan dho'if lihat halaman pertama...jikalau dalil yang demikian telah dho'if dan maudhu'...dalil mana lage yang akan kalian pakai untuk melegalisasi tindakan kalian?
2. Hukum membaca Al Qur'an termasuk yasin merupakan Ibadah yang mutlak...artinya Rosulullah tidak menetapkan nya atau mensyaratkannya untuk waktu tertentu...akan tetapi...kalian membuat hukum mutlak ini menjadi muqoyyad (terikat)..kalian ikat waktu yasinan dengan pengkhususan...dan itupun berdasarkan dalil yang lemah dan palsu sebagaimana yang telah disinggung pada halaman pertama
3. Para shahabat yang merupakan orang yang paling paham terhadap ilmu dari Rosulullah tidak pernah mengadakan tahlilan...begitupula para salafus shalih yang lain
4. Kalian memasukkan yasinan sebagai bid'ah hasanah...tidakkah kalian lihat perkataan Ibnu Umar dan Imam Malik bahwasanya segala bid'ah adalah sesat sekalipun kalian menganggapnya baik
Adapun larangan tentang yasinan yang dibuat khusus padahan dia adalah umum...berasal dari ketiadaan dalil tentang yasinan itu sendiri ndut...

kalau cuma membaca yasin doang dan ini tidak ditetapkan waktunya...mungkin itu masuk kepada ibadah ghoiru mahdoh...hukum asalnya adalah boleh
tapi kalo dirangkum sedemikian rupa hingga ditetapkan waktunya atau dalam peristiwa2 tertentu saja...ditambah disitu dimasukkan pembacaan ayat serta do'a2 lainnya...maka ini tidak beda dengan ibadah mahdoh...hukum asalnya adalah haram

Jadi...sesuatu yang dibuat khusus padahal dia umum...dan sesuatu yang dibuat umum padahal dia khusus...ini merupakan penyimpangan terhadap Sunnah2 Rosulullah...inilah yang dinamakan dengan kaidah...

Kamu nanya mana dalil yang melarangnya?
Maka ini bisa menjadi mafhum dari pertanyaan ku...mana dalil yang menyuruhnya?

cobalt_6982
December 14, 2008, 01:57
Oleh: Tsalis Muttaqin

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
Pendahuluan
Tulisan ini diarahkan untuk menjawab keragu-raguan sebagian kaum Muslimin tentang tradisi tahlilan yang dilakukan mayoritas umat Islam di penjuru dunia. Bagi pihak-pihak yang menuduh bacaan tahlilan dan Yasinan itu sebagai amalan bid'ah, sebaiknya menunjukkan dalil di mana letak bid'ah-nya. Karena jika asal mem-bid'ah-kan dikhawatirkan masuk dalam lumpur dosa yang tercantum dalam hadits berikut ini:

Artinya: Dari Abdullah radliallahu 'anhu, sesungguhnya Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda: "Memaki kaum muslim itu ke-fasiq-an dan membunuhnya adalah ke-kufur-an". (Hadits riwayat: Al-Bukhari dan Muslim).

Dikatakan demikian, karena mem-bid'ah-kan termasuk bagian dari bentuk makian, apalagi orang yang dimaki-maki sedang ber-dzikir kepada Allah. Bahkan mem-bid'ah-kan merupakan makian yang sangat menyakitkan hati, karena perilaku bid'ah pada dasarnya sangat dibenci dalam ajaran Islam.
Alangkah lebih baik lagi jika ada perbedaan di kalangan umat Islam diselesaikan lewat jalan dialog dan musyawarah dengan cara yang baik, sehingga tidak menimbulkan fitnah dan perpecahan.



Kalau kami bilang bahwa orang2 yang tahlilan dan yasinan serta melakukan perbuatan bid'ah lainnya adalah ANJ*N* atau IDI*T atau TUKANG PEMBUAT GERAH itu baru yang namanya makian

tetapi demi Allah...aq tidak pernah...dan tidak akan pernah melakukan ini Insya Allah

Kalau membid'ahkan terhadap sesuatu yang jelas2 tidak bid'ah...maka inilah yang terlarang...akan tetapi kalau membid'ahkan terhadap sesuatu yang jelas2 bid'ahnya...ini jelas diperbolehkan...sebagai bentuk berlepas diri dari kebid'ahan tersebut....

"katakanlah yang benar walaupun itu pahit"

Dan lihat bagaimana Ibnu Mas'ud dan para Shahabat lainnya menolak bid'ah....mereka jelas mengatakan bahwa bid'ah tetap saja bid'ah walaupun manusia menganggap itu hasanah

Dan...kalau kau berkata bahwa mengatakan bid'ah kepada yang jelas2 bid'ah adalah makian....maka para umat Islam dari mulai para Salafus Shalih hingga ulama yang rajih jaman sekarang pasti akan menangis...sebab mereka melakukan demikian...

Dan...jalan yang kau katakan....yaitu diskusi...memang sudah sering dilakukan...tetapi ujungnya?
Nafsi2....yah sama seperti kalian ini...aq telah terangkan sedemikian rupa...ujungnya jg nafsi2...bahkan aq dibilang pembuat gerah atau sejenisnya

Setelah dilakukan telaah, ternyata setiap bacaan tahlilan ada dasar yang disandarkan kepada Al-Qur'an dan Hadits, artinya ayat-ayat dan bacaan dzikir yang dipilih memang ada dasar yang disandarkan kepada Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam, bahwa ayat-ayat dan bacaan tersebut mempunyai ke-khusus-an yang telah diterangkan oleh Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam.
oh...benarkah?
huhuhuhu

mari kita buka tirainya

cobalt_6982
December 14, 2008, 02:29
Artinya: Dari Abu Dzar radliallahu 'anhu, dari Nabi shalla Allahu alaihi wa sallam, sesungguhnya beliau bersabda: "Bahwasanya pada setiap tulang sendi kalian ada sedekah. Setiap bacaan tasbih itu adalah sedekah, setiap bacaan tahmid itu adalah sedekah, setiap bacaan tahlil itu adalah sedekah, setiap bacaan takbir itu adalah sedekah, dan amar makruf nahi munkar itu adalah sedekah, dan mencukupi semua itu dua rakaat yang dilakukan seseorang dari sholat Dluha. (Hadits riwayat: Muslim).

Keutamaan berdzikir kepada Allah
Artinya: Allah Ta'aalaa berfirman: "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang berdzikir kepada Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka hindarkanlah kami dari siksa neraka. (Surat Ali Imran: 190-191)

Artinya: dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda: Allah 'Azza wa Jalla berfirman: "Aku adalah berdasarkan sangkaan hambaKu terhadapKu. Aku bersamanya ketika dia mengingatKu (berdzikir kepadaku). Apabila dia mengingatKu dalam diriya, niscaya Aku juga mengingatnya dalam diriKu. Apabila dia mengingatKu dalam satu kaum, niscaya Aku juga mengingatnya dalam suatu kaum yang lebih baik daripada mereka. Apabila dia mendekatiKu dalam jarak sejengkal, niscaya Aku mendekatinya dalam jarak sehasta. Apabila dia mendekatiKu dalam jarak sehasta, niscaya Aku mendekatinya dalam jarak sedepa. Apabila dia datang kepadaKu dengan berjalan, niscaya Aku akan datang kepadanya dengan berlari". (Hadits Qudsiy riwayat Al-Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi, An-Nasa`i, Ibnu Majah. Imam Ahmad meriwayatkan hadis seperti ini dengan sanad shahih, di akhir hadits ada tambahan: Qataadah berkata: "Dan Allah sangat cepat memberi ampunan").
Artinya: Dari Abu Musa Al-Asy`ariy radliallahu 'anhu, ia berkata: Nabi shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda: "Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Tuhannya dan orang yang tidak berdzikir kepada Tuhannya, laksana orang yang hidup dan orang yang mati". (Hadits riwayat: Al-Bukhari).

Adapun tentang ketumaan rumah yang dibuat berzikir, diterangkan dalam hadits berikut ini:
Artinya: Dari Abu Musa Al-Asy`ariy radliallahu 'anhu, ia berkata: Nabi shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda: "Perumpamaan rumah yang di dalamnya digunakan berdzikir kepada Allah dan rumah yang di dalamnya tidak digunakan berdzikir kepada Allah, laksana orang yang hidup dan orang yang mati". (Hadits riwayat: Muslim).

Dalil2 ini kan dalil Shahih...bahwasanya dzikir adalah keumuman....artinya...sebanyak apa engkau mengingat Allah dan mengagungkan nama Nya...maka hukum asalnya adalah boleh...

Akan tetapi...dalil2 diatas ini tidak lah menjadi hujjah atas kalian bahwa berdzikir dilakukan secara serempak berjama'ah dalam waktu tertentu atau acara tertentu...

Sebab diatas sama sekali tidak diterangkan adanya pengkhususan atas waktu tertentu atau sebab tertentu

sehingga kata2 dibawah ini
Di kalangan masyarakat Indonesia istilah tahlilan populer digunakan untuk menyebut sebuah acara dzikir bersama, doa bersama, atau majlis dzikir. Singkatnya, acara tahlilan, dzikir bersama, majlis dzikir, atau doa bersama adalah ungkapan yang berbeda untuk menyebut suatu kegiatan yang sama, yaitu: kegiatan individual atau berkelompok untuk berdzikir kepada Allah. Pada hakikatnya tahlilan adalah bagian dari dzikir kepada Allah.

adalah perkataan bathil yang patut ditinggalkan....

sebab pada kenyataannya...tahlilan khusus dalam kondisi kalo ada orang mati saja....tidak seperti tahlil...yasinan khusus pada malam jum'at saja...tidak seperti yasin...dan dzikir diatas tidak diterangkan perintah agar berdzikir bersama2....serempak dipimpin satu imam yang mengeraskan bacaannya

Dalil-dalil mengenai Tahlilan atau Dzikir Bersama
Artinya: Dari Abu Sa'id al-Khudriy radliallahu 'anhu, Mu'awiyah berkata: Sesungguhnya Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam pernah keluar menuju halaqah (perkumpulan) para sahabatnya, beliau bertanya: "Kenapa kalian duduk di sini?". Mereka menjawab: "Kami duduk untuk berdzikir kepada Allah dan memujiNya sebagaimana Islam mengajarkan kami, dan atas anugerah Allah dengan Islam untuk kami". Nabi bertanya kemudian: "Demi Allah, kalian tidak duduk kecuali hanya untuk ini?". Jawab mereka: "Demi Allah, kami tidak duduk kecuali hanya untuk ini". Nabi bersabda: "Sesungguhnya aku tidak mempunyai prasangka buruk terhadap kalian, tetapi malaikat Jibril datang kepadaku dan memberi kabar bahwasanya Allah 'Azza wa Jalla membanggakan tindakan kalian kepada para malaikat". (Hadits riwayat: Ahmad, Muslim, At-Tirmidziy dan An-Nasa`iy).
Jika kita perhatikan hadits ini, dzikir bersama yang dilakukan para sahabat tidak hanya sekedar direstuinya, tetapi dipuji Nabi, karena pada saat yang sama Malaikat Jibril memberi kabar bahwa Allah 'Azza wa Jalla membanggakan kreatifitas dzikir bersama yang dilakukan para sahabat ini kepada para malaikat.


lucu kalau kamu katakan bahwa dzikir bersama adalah kreativitas...huahuahuahu

sekarang begini...jikalau dalil diatas merujuk kepada kepada dalil dzikir bersama...maka berikanlah kepada ku...adakah disitu disebutkan bahwa mereka duduk sebagaimana kalian duduk?
Maksudku ialah...adakah mereka duduk bersama...lantas berdzikir dengan satu suara sebagaimana yang sering kalian lakukan?

Demi Allah dalil diatas tidaklah menyebutkan bahwa mereka duduk, lantas berdzikir sebagaimana kalian duduk dan berdzikir....

disitu yang kamu maksud orang2 yang berdzikir bersama adalah para Shahabat kan?

Maka lihatlah pemahaman mu yang salah dalam memahami hadits diatas dengan riwayat yang aq bawakan dibawah ini
"Seorang laki - laki mengabarkan kepada Ibnu Mas'ud radhiAllahu 'anhu bahwa ada satu kaum sedang berkumpul dalam mesjid setelah melaksanakan shalat maghrib, seorang dari mereka berkata,
'Bertakbirlah kalian semua kepada Allah seperti ini ., bertasbilah kepadaNya seperti ini ., dan bertahmidlah kepadaNya seperti ini ., . maka beliau (Ibnu Mas'ud) mendatangi mereka seraya berkata, 'Dan demi Allah yang tiada ilah melainkan Dia, sungguh kalian telah datang dengan perkata bid'ah yang keji,
atau kalian telah menganggap lebih mengetahui daripada sahabat nabi'". (Ibnul Jauzy dalam Kitab Talbis Iblis hlm. 16-17 dan As Suyuti dalam Kitab Al Amru bi Al Ibtida' hlm. 83
- 84 diriwayatkan oleh Al Bukhtari)

Kamu membawakan riwayat...maka aq bawakan riwayat penjelasnya....

Jikalau perkataan mu yang mengatakan bahwa dalil diatas yang telah kamu bawakan adalah legalitas bagi dzikir bersama seperti yang kalian lakukan....maka mengapakah Ibnu Mas'ud malah melarangnya?
Padahal beliau jg seorang Shahabat?

Yang salah bukanlah dalilnya...yang salah bukanlah Ibnu Mas'ud nya...tetapi yang salah adalah pemahaman kamu dan kaum mu dalam memahami dalil....mentang2 duduk bersama lantas mereka berdzikir...jangan lantas kamu mengartikan itu dzikir bersama seperti yang kalian lakukan...

cobalt_6982
December 14, 2008, 02:29
Sekarang marilah kita perhatikan hadits berikut ini:
Artinya: "Dari Al-Agharr Abu Muslim, sesungguhnya ia berkata: Aku bersaksi bahwasanya Abu Hurairah dan Abu Said Al-Khudzriy bersaksi, bahwa sesungguhnya Nabi shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda: "Tidak duduk suatu kaum dengan berdzikir bersama-sama kepada Allah 'Azza wa Jalla, kecuali para malaikat mengerumuni mereka, rahmat Allah mengalir memenuhi mereka, ketenteraman diturunkan kepada mereka, dan Allah menyebut mereka dalam golongan orang yang ada di sisiNya". (Hadits riwayat: Muslim)

Hadits ini telah ku syarah sebelumnya dalam thread bid'ah dalam Islam...ketika aq menerangkan apa yang dimaksud dengan majelis dzikir....jangankan hadits ini...hadits yang lain yang serupa jg telah ku syarah....lihat thread bid'ah halaman 21 dan 22

Bahwasanya yang dimaksud dengan dzikir diatas bukanlah dzikir bersama seperti yang kamu lakukan
Karena yang dimaksud majelis dzikir diatas ialah majelis Al Qur'an dan Sunnah
Apakah Majelis Dzikir itu ?

Muhammad Arifin Ilham telah melakukan talbis (pemutarbalikan, red) terhadap kaum muslimin untuk mendukung kebid'ahan yang mereka kerjakan dengan dalil-dalil yang menyebutkan keutamaan majelis dzikir, dalam keadaan tidak tahu atau pura-pura tidak tahu tentang majelis dzikir yang difahami oleh salafus shaleh. Karena majelis dzikir yang dipahami oleh salafus shaleh ini adalah majelis ilmu dan mempelajari Sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa 'ala alihi wa sallam atau yang sejenisnya.

Abu Hazzan 'Atha` pernah ditanya:"Apakah Majelis Dzikir itu?" Beliau menjawab:
مَجْلِسُ الْحَلاَلِ وَالْحَرَامِ وَكَيْفَ تُصَلِّي وَكَيْفَ تَصُوْمُ وَكَيْفَ تَنْكِحُ وَكَيْفَ تَطْلُقُ وَتَبِيْعُ وَتَشْتَرِي
"Yaitu majelis tentang halal dan haram. Majelis yang mengajari bagaimana kamu shalat, puasa, menikah, talak, dan bagaimana kamu berjual-beli." (Al Hilyah 3/313).

Sa'id bin Jubair mengatakan:
كُلُّ عَامِلٍ للهِ بِطَاعَةِ اللهِ فَهُوَ ذَاكِرٌ للهِ
"Semua yang melakukan ketaatan kepada Allah karena Allah, maka dia adalah orang yang berdzikir kepada Allah."(Al Adzkar 7).

Syaikh Al Imam Abu 'Amr Ibnu Shalah pernah ditanya ukuran seseorang dikatakan sebagai orang yang banyak berdzikir kepada Allah?" Beliau mengatakan:
إِذَا وَاظَبَ عَلَى الأَذْكَارِ المَأْثُوْرَةِ المُثْبَتَّةِ صَبَاحًا وَمَسَاءً فِي الأَوْقَاتِ وَالأَحْوَالِ المُخْتَلِفَةِ لَيْلاً نَهَارًا كَانَ مِنَ الذَّاكِرِينَ اللهَ كَثِيْرًا وَ الذَّاكِرَاتِ
"Yaitu orang yang tekun melakukan dzikir-dzikir ma'tsur (diriwayatkan) yang sahih setiap pagi dan petang dalam keadaan yang berbeda, siang malam." (Al Adzkar 7).

Imam Al Qurthubi mengatakan:
مَجْلِسُ ذِكْرٍ يَعْنِي مَجْلِسُ عِلْمٍ وَتَذْكِيْرٍ وَهِيَ المَجَالِسُ الَتِي يُذْكَرُ فِيْهَا كَلاَمُ اللهِ وَسُنَّةُ رَسُوْلِهِ وَأَخْبَارُ السَلَفُ الصَّالِحِينَ وَكَلَامُ الأَئِمَّةِ الزُهّّادِ الْمُتَقَدِمِينَ المُبْرَأَةِ عَنِ التَّصَنُّعِ وَالْبِدَعِ المُنَزَّهَةِ عَنِ الْمَقَاصِدِ الرَّدِيْئَةِ وَالطَمَعِ
"Majelis dzikir adalah majelis ilmu dan nasehat (peringatan). Yaitu majelis yang diuraikan padanya firman-firman Allah, Sunnah Rasul-Nya dan keterangan para salafus shaleh serta imam-imam ahli zuhud yang terdahulu, jauh dari kepalsuan dan kebid'ahan yang penuh dengan tujuan-tujuan yang rendah dan ketamakan." (Fikih Sunnah 2/87).

Al Manawi mengatakan:"Hujjatul Islam (Al Ghazali –ed) mengatakan:"Yang dimaksud dengan majelis dzikir adalah, tadabbur Al Quran, mempelajari agama, dan menghitung-hitung ni'mat yang telah Allah berikan kepada kita." (Faidlul Qadir 5/519).

Dari penukilan perkataan ‘Ulama salaf ini jelas bagi kalian bahwa yang dimaksud oleh riwayat-riwayat yang di dalamnya disebutkan padanya “majalis adz-dzikr” atau “hilaqudz dzikr” adalah majelis ilmu yang di dalamnya dipelajari Kitabullah, Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam, jauh dari berbagai macam campuran bid’ah-bid’ah yang tidak pernah dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam.

Lalu bagaimana mungkin dzikir bid’ah model Arifin Ilham bisa dikatakan sebagai majelis dzikir yang disebutkan di dalam nash-nash tersebut? Sungguh ini suatu keanehan !!!

Diantara yang menguatkan hal ini adalah beberapa nash Al-Qur’an dan sunnah. Di antaranya adalah firman Allah Ta’ala:
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ
“Maka tanyakanlah kepada ahli dzikir jika kalian tidak mengetahuinya.” (QS An-Nahl: 43)
Para ahli tafsir menafsirkan “ahli dzikir” dengan makna “Para ‘Ulama”. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir: 2/571-572)

Dan juga hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam bersabda:
مَنْ اَغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمْعَةِ ثُمَّ رَاحَ فِي الْسَّاعَةِ اْلأُولَى فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةً, وَمَنْ رَاحَ فِي الْسَّاعَةِ الثَّانِيَةَ فَكَأَنَمَا قَرَّبَ بَقْرَةً, وَمَنْ رَاحَ فِي الْسَّاعَةِ الْثَّالِثَةَ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ كَبْشًا أَقْرَنَ, وَمَنْ رَاحَ فِي الْسَّاعَةِ %

cobalt_6982
December 14, 2008, 02:38
1. Membaca Surat Al-Fatihah.
Dalil mengenai keutaman Surat Fatihah:
Artinya: "Dari Abu Sa`id Al-Mu'alla radliallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda kepadaku: "Maukah aku ajarkan kepadamu surat yang paling agung dalam Al-Qur'an, sebelum engkau keluar dari masjid?". Maka Rasulullah memegang tanganku. Dan ketika kami hendak keluar, aku bertanya: "Wahai Rasulullah! Engkau berkata bahwa engkau akan mengajarkanku surat yang paling agung dalam Al-Qur'an". Beliau menjawab: "Al-Hamdu Lillahi Rabbil-Alamiin (Surat Al-Fatihah), ia adalah tujuh surat yang diulang-ulang (dibaca pada setiap sholat), ia adalah Al-Qur'an yang agung yang diberikan kepadaku". (Hadits riwayat: Al-Bukhari).

ini masih umum mas...

Kalo kamu memakai dalil umum...lantas kamu mengkhususkannya....maka kamu bisa dianggap melakukan penyesatan loh...huhuhuh

Coba terangkan kepada ku...adakah Rosulullah membacanya pada acara tahlilan?

bahkan acara tahlilan pun tidak ada

Dalil diatas ialah dalil tentang surat Al Fatihah sebagai Ummul Qur'an dan sebagai surat yang isinya 7 ayat yang selalu dibaca setiap sholat sebagai sebuah fardhu

Kalau saja dalil umum seperti Al Fatihah ini bisa dikhususkan menjadi tahlilan...maka orang2 yang sholat cuma niat doang dengan berdalil "Segala amal berdasarkan niat" diperbolehkan dong?huhuhuhu

Dalil mengenai keutamaan Surat Yasin.
Artinya: "Dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu., ia berkata: "Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa membaca surat Yasin di malam hari, maka paginya ia mendapat pengampunan, dan barangsiapa membaca surat Hamim yang didalamnya diterangkan masalah Ad-Dukhaan (Surat Ad-Dukhaan), maka paginya ia mendapat mengampunan". (Hadits riwayat: Abu Ya'la). Sanadnya baik. (Lihat tafsir Ibnu Katsir dalam tafsir Surat Yaasiin).

Kacau kamu....sanadnya baik?

Kamu sadar dong...hadits ini udh pernah kamu tulis di halaman 1
1."Artinya : Siapa yang membaca surat Yasin dalam suatu malam, maka ketika ia bangun pagi hari diampuni dosanya dan siapa yang membaca surat Ad-Dukhan pada malam Jum'at maka ketika ia bangun pagi hari diampuni dosanya". (Ibnul Jauzi, Al-Maudhu'at, 1/247).

Keterangan : Hadits ini Palsu.
Ibnul Jauzi mengatakan, hadits ini dari semua jalannya adalah batil,
tidak ada asalnya. Imam Daruquthni berkata : Muhammad bin Zakaria yang ada dalam sanad hadits ini adalah tukang memalsukan hadits. (Periksa : Al-Maudhu'at, Ibnul Jauzi, I/246-247, Mizanul I'tidal III/549, Lisanul Mizan V/168, Al-Fawaidul Majmua'ah hal. 268 No. 944).

Masih berani kamu bilang sanadnya baik?

Artinya: Dari Ma'qil bin Yasaar radliallahu 'anhu, ia berkata: Nabi shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda: "Bacalah Surat Yaasiin atas orang mati kalian" (Hadits riwayat: Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majah).

Artinya: Dari Ma'qil bin Yasaar radliallahu 'anhu, sesungguhnya Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda: Surat Al-Baqarah adalah puncak Al-Qur'an, 80 malaikat menyertai diturunkannya setiap ayat dari surat ini. Dan Ayat laa ilaaha illaa Huwa Al-Hayyu Al-Qayyuumu (Ayat Kursi) dikeluarkan lewat bawah 'Arsy, kemudian dimasukkan ke dalam bagian Surat Al-Baqarah. Dan Surat Yaasiin adalah jantung Al-Qur'an, seseorang tidak membacanya untuk mengharapkan Allah Tabaaraka wa Ta'aalaa dan Hari Akhir (Hari Kiamat), kecuali ia diampuni dosa-dosanya. Dan bacalah Surat Yaasiin pada orang-orang mati kalian". (Hadits riwayat: Ahmad)


Dalam riwayat Abu Dawud rahimahulullahu ta'ala hadits ini berbunyi demikian
9."Artinya : Bacakanlah surat Yasin kepada orang yang akan mati di antara kamu".



dan telah disyarah
Keterangan : Hadits ini Lemah.
Diantara yang meriwayatkan hadits ini adalah Ibnu Abi Syaibah (4:74 cet. India), Abu Daud No. 3121. Hadits ini lemah karena Abu Utsman, di antara perawi hadits ini adalah seorang yang majhul (tidak diketahui), demikian pula dengan ayahnya. Hadits ini juga mudtharib (goncang sanadnya/tidak jelas)

cobalt_6982
December 14, 2008, 02:45
3. Membaca Surat Al-Ikhlash.
Dalil mengenai keutamaan Surat Al-Ikhlash.
Artinya: Dari Abu Said Al-Khudriy radliallahu 'anhu, ia berkata: Nabi shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda kepada para sahabatnya: "Apakah kalian tidak mampu membaca sepertiga Al-Qur'an dalam semalam?". Maka mereka merasa berat dan berkata: "Siapakah di antara kami yang mampu melakukan itu, wahai Rasulullah?". Jawab beliau: "Ayat Allahu Al-Waahid Ash-Shamad (Surat Al-Ikhlash maksudnya), adalah sepertiga Al-Qur'an" (Hadits riwayat: Al-Bukhari).

Imam Ahmad meriwayatkan:
Artinya: Dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu, bahwasanya Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam mendengar seseorang membaca Qul huwaAllahu Ahad (Surat Al-Ikhlash). Maka beliau bersabda: "Pasti". Mereka (para sahabat) bertanya: "Wahai Rasulullah, apa yang pasti?". Jawab beliau: "Ia pasti masuk surga". (Hadits riwayat: Ahmad).


4. Membaca Surat Al-Falaq
5. Membaca Surat An-Naas
Dalil keutamaan Surat Al-Falaq dan An-Naas.
Artinya: Dari Aisyah radliallahu 'anhaa, "bahwasanya Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bila merasa sakit beliau membaca sendiri Al-Mu`awwidzaat (Surat Al-Ikhlas, Surat Al-Falaq dan Surat An-Naas), kemudian meniupkannya. Dan apabila rasa sakitnya bertambah aku yang membacanya kemudian aku usapkan ke tangannya mengharap keberkahan dari surat-surat tersebut". (Hadits riwayat: Al-Bukhari).

6. Membaca Surat Al-Baqarah ayat 1 sampai 5
7. Membaca Surat Al-Baqarah ayat 163
8. Membaca Surat Al-Baqarah ayat 255 (Ayat Kursi)
9. Membaca Surat Al-Baqarah ayat 284 sampai akhir Surat.
Dalil keutamaan ayat-ayat tersebut:
Artinya: "Dari Abdullah bin Mas'ud radliallahu 'anhu, ia berkata: "Barangsiapa membaca 10 ayat dari Surat Al-Baqarah pada suatu malam, maka setan tidak masuk rumah itu pada malam itu sampai pagi, Yaitu 4 ayat permulaan dari Surat Al-Baqarah, Ayat Kursi dan 2 ayat sesudahnya, dan 3 ayat terakhir yang dimulai lillahi maa fis-samaawaati..)" (Hadits riwayat: Ibnu Majah).
10. Membaca Istighfar :
Dalil keutamaan membaca istighfar:

Artinya: Allah Ta'aalaa berfirman: "Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat". (Surat Huud: 3)

Artinya: Dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu : Aku mendengar Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda: "Demi Allah! Sungguh aku beristighfar (memohon ampun) dan bertaubat kepadaNya lebih dari 70 kali dalam sehari". (Hadits riwayat: Al-Bukhari).

Artinya: Dari Al-Aghar bin Yasaar Al-Muzani radliallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda: "Wahai manusia! Bertaubatlah kepada Allah. Sesungguhnya aku bertaubat kepadaNya seratus kali dalam sehari". (Hadits riwayat: Muslim).

11. Membaca Tahlil
12. Membaca Takbir
13. Membaca Tasbih
14. Membaca Tahmid
Dalil mengenai keutamaan membaca tahlil, takbir dan tasbih:
Artinya: Dari Jabir bin Abdullah radliallahu 'anhumaa, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda: "Sebaik-baik Dzikir adalah ucapan Laa ilaaha illa-Llah, dan sebaik-baik doa adalah ucapan Al-Hamdi li-Llah". (Hadits riwayat: At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Artinya: Dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu, dari Nabi shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda: "Ada dua kalimat yang ringan di lidah, berat dalam timbangan kebaikan dan disukai oleh Allah Yang Maha Rahman, yaitu Subhaana-Llahi wa bihamdihi, Subhaana-Llahi Al-'Adzim".( Hadits riwayat: Al-Bukhari, Muslim, Ahmad dan Ibnu Majah).

Artinya: Dari Abu Dzar radliallahu 'anhu, dari Nabi shalla Allahu alaihi wa sallam, sesungguhnya beliau bersabda: "Bahwasanya pada setiap tulang sendi kalian ada sedekah. Setiap bacaan tasbih itu adalah sedekah, setiap bacaan tahmid itu adalah sedekah, setiap bacaan tahlil itu adalah sedekah, setiap bacaan takbir itu adalah sedekah, dan amar makruf nahi munkar itu adalah sedekah, dan mencukupi semua itu dua rakaat yang dilakukan seseorang dari sholat Dluha. (Hadits riwayat: Muslim).

15. Membaca shalawat Nabi.
Dalilnya keutamaan membaca shalawat Nabi:
Artinya: Allah Ta'aalaa berfirman: "Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya memberi shalawat* untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, ucapkanlah shalawat untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya". (Surat Al-Ahzaab: 56)


Dalil2 yang kamu bawa insya Allah Shahih...akan tetapi terhadap yang saya bold itu akan saya syarah pada pertemuan berikutnya....

tetap saja dalil2 yang kamu bawa diatas adalah umum...

tidak menjadi hujjah bagi kamu untuk comot sana comot sini dari Al Qur'an lantas dipake sebagai isi dari bungkus acara kaum kuffar

cobalt_6982
December 14, 2008, 02:53
*Keterangan: Imam At-Tirmidzi berkata: diriwayatkan bahwa Imam Sufyaan Ats-Tsauriy dan ulama-ulama lain berkata: "Shalawat dari Allah artinya adalah rahmat, sedangkan shalawat dari Malaikat artinya permohonan pengampunan". Pengertian ayat ini yaitu: Sesungguhnya Allah memberi rahmat kepada Nabi dan para malaikat beristighfar (memohon ampunan) untuk Nabi. (lihat Tafsir Ibnu Katsir pada ayat ini).

Artinya: dari Amir bin Rabii'ah radliallahu 'anhu, ia berkata: Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam saat berkhothbah bersabda: "Barangsiapa membaca shalawat untukku, para malaikat senantiasa membaca shalawat untuknya, selama ia membaca shalawat. Maka sebaiknya sedikit atau banyak seorang hamba melakukan itu". (Hadits riwayat: Ahmad dan Ibnu Majah)

Dari Abdullah bin Mas'ud radliallahu 'anhu, sesungguhnya Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda: "Manusia yang paling utama disisiku pada Hari Kiamat ialah yang paling banyak membaca shalawat kepadaku" (Hadits riwayat: At-Tirmidzi, dan ia berkata: Hadits ini Hasan Gharib). Kemudian ia berkata: Dan diriwayatkan dari Nabi shalla Allahu alaihi wa sallam, sesungguhnya beliau bersabda: "Barangsiapa membaca shalawat kepadaku sekali, maka Allah memberinya shalawat (rahmat) kepadanya 10 kali dan mencatat 10 kebaikan untuknya".

16. Membaca Asma'ul Husna.
Asma'ul Husna ialah nama-nama Allah yang berjumlah 99.
Dalil keutamaan membaca Asma'ul Husna:
Artinya: Allah Ta'aalaa berfirman: "Hanya milik Allah asma-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan". (Surat Al-A'raaf: 180)

17. Membaca do'a.
Keutamaan berdoa:
Artinya: Allah Ta'aalaa berfirman: "Dan Tuhanmu berfirman: "Berdo`alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina-dina". (Surat Al-Mukmin: 60)

Artinya: Dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu, dari Nabi shalla Allahu alaihi wa sallam, beliau bersabda: "Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah daripada do`a". (Hadits riwayat: Ibnu Majah dan At-Tirmidziy, kata At-Tirmidziy: hadits ini Hasan Ghariib
idem dah dengan apa yang ku syarah diatas

Bahwasanya hadits2 yang kamu bawakan itu merupakan keumuman ayat2 Al Qur'an, Dzikir, dan Do'a....

Sekiranya apa yang kamu katakan adalah benar...maka kenapa tidak ada riwayat yang menyatakan Rosulullah dan para Shahabat melakukan sebagaimana kalian lakukan?
Yaitu memilah milih ayat Al Qur'an...dicomot...dibuat acara khusus....dan di imam kan pula?

Al-Qur'an dan Al-Hadits merupakan sumber pokok ajaran Islam. Di dalam Islam, hanya Allah dan Rasul-Nya yang berhak menentukan status hukum suatu persoalan. Menentukan hukum wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram atas suatu persoalan, harus merujuk kepada Al-Qur'an dan Al-Hadits. Demikian juga mem-bid'ah-kan suatu masalah, tidak dibenarkan jika tidak memakai sandaran Al-Qur'an dan Hadits sebagai sumber hukum. Karena masalah bid'ah adalah masalah serius dalam ajaran Islam.

seharusnya aq tanya sama kamu...adakah diantara dalil2 yang kamu bawakan diatas menyuruh untuk seperti yang kalian lakukan?
Atau minimal kamu temukan contoh dari Rosulullah, Shahabat, Tabi'in, dan Tabi'ut Tabi'in yang melakukan seperti yang kamu lakukan

Lihat dong yang telah kamu bawakan dihalaman pertama
Penjelasan
Abdullah bin Mubarak berkata : Aku berat sangka bahwa orang-orang zindiq (yang pura-pura Islam) itulah yang telah membuat riwayat-riwayat itu (hadits-hadits tentang fadhilah surat-surat tertentu). Dan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah berkata : Semua hadits yang mengatakan, barangsiapa membaca surat ini akan diberikan ganjaran begini dan begitu SEMUA HADITS TENTANG ITU ADALAH PALSU. Sesungguhnya orang-orang yang memalsukan hadits-hadits itu telah mengakuinya sendiri. Mereka berkata, tujuan kami membuat hadits-hadits palsu adalah agar manusia sibuk dengan (membaca surat-surat tertentu dari Al-Qur'an) dan menjauhkan mereka dari isi Al-Qur'an yang lain, juga
kitab-kitab selain Al-Qur'an. (Periksa : Al-Manarul Munffish Shahih
Wadh-Dha'if, hal. 113-115).

KHATIMAH

Dengan demikian jelaslah bahwa hadit-hadits tentang fadhilah dan
keutamaan surat Yasin, semuanya LEMAH dan PALSU. Oleh karena itu, hadits-hadits tersebut tidak dapat dijadikan hujjah untuk menyatakan keutamaan surat ini dan surat-surat yang lain, dan tidak bisa pula untuk menetapkan ganjaran atau penghapusan dosa bagi mereka yang membaca surat ini. Memang ada hadits-hadits shahih tentang keutamaan surat Al-Qur'an selain surat Yasin, tetapi tidak menyebut soal pahala.


Akhirulkalam, Pada dasarnya masih banyak dalil Al-Qur'an dan Hadits yang bisa diungkapkan sebagai pendukung dari pada sekedar tulisan yang serba terbatas ini. Mudah-mudahan pada lain kesempatan, tulisan ini bisa disempurnakan. Jika ada kesalahan, sudah selayaknya penulis memohon ampun kepada Allah. Kritik dan saran yang baik kiranya sangat diharapkan.
Semoga membawa manfaat bagi penulis dan kaum Muslimin umumnya.
Hanya Allah Yang Maha Tahu.


Daftar Rujukan:
1. Al-Qur'an Al-Kariim.
2. Musnad Ahmad.
3. Shahih Al-Bukhari.
4. Shahih Muslim.
5. Sunan Abu Dawud.
6. Sunan At-Tirmidziy.
7. Sunan Ibnu Majah.
8. Sunan An-Nasaa'iy.
9. Tafsir Ibnu Katsir.
10. Tafsir Al-Qurthubiy.
11. Tafsir Jalalain.
12. Syarah An-Nawawi 'Alaa Muslim.
13. Al-Mu'jam Al-Wasiith.

http://tsalismuttaqin.blogspot.com/2...ah-dan_03.html

smoga info ini makin bikin gerah.................
gerah?
huahuhauhauhua

justru makin lucu mas...kamu udh pernah bawakan di halaman awal syarahnya

huahuahuah

cobalt_6982
December 14, 2008, 03:00
Klo setau gw si,

Kullu muhdatsin bid'atun (setiap yang baru itu adalah bid'ah)

Tapi ga semua bid'ah itu sesat..

seperti sudah disampaikan para ahli di depan, Imam Syafi'i membagi bid'ah menjadi dua;
Bid'ah hasanah (hal baru yang ada tuntunannya dan sesuai dengan syariat) dan bid'ah dholalah (hal baru yang tidak ada tuntunannya dan bertentangan dengan syari'at)

Saya yg masih santri (masih belajar ilmu agama) ini menyatakan mengikuti pendapat Imam Syafi'i dengan dasar2 yang telah dibawakan oleh beliau...

Perkataan Imam Asy Syafi'i Rahimahulullahu ta'ala bahwa Bid'ah ada hasanah dan dholalah telah dijelaskan oleh Imam Ibnu Rojab

Ibnu Rojab berkata "bahwa yang dimaksudkan oleh Imam Syafi'i Rohimahulullohuta'ala mengenai apa yang telah kami kemukakan, bahwasanya asal bid'ah yang tercela adalah apa-apa yang tidak mempunyai asal dalam syari'at sebagai tempat kembali kepadanya, dan inilah yang dimaksudkan dengan "bid'ah" menurut syari'at. Adapun bid'ah mahmudah (yang baik) yakni yang sesuai dengan sunnah yaitu apa-apa yang ada asalnya berupa sunnah sebagai tempat merujuk kepadanya dan apa yang dimaksudkan oleh beliau tersebut hanyalah merupakan pengertian "bid'ah" secara bahasa, bukan menurut syara' sebab ia sesuai dengan sunnahHal ini dapat terlihat dari contoh yang diambil beliau, yaitu tentang penulusan hadits dan sholat tarawih....
Terhadap hal ini dan hal serupa dari imam lain dan syeikh lain...telah aq jelaskan dalam thread bid'ah halaman 18...

Semua Bid'ah itu sesat (sesuai hadis Nabi)

Tapi tidak semua 'Perkara Baru' itu Bid'ah.

Tahlilan, Yasinan, Maulid Nabi, Istigosah, Ratiban .... itu adalah 'Perkara Baru' tapi bukan Bid'ah.

Gw mo nanya ke Cobalt Al Wahabi :
Upacara bendera, tasyakuran HUT kemerdekaan itu Bid'ah apa bukan ?
oh...newbie y...marhaban ye...huhuhuhu

mas baca2 dulu aj dh

mank
December 14, 2008, 05:34
Didaerah gue anak seumuran TK pd bs hafal...
dan tahu mana yg boleh atau kgak. tp cm dimulut aja prakteknya cm ikut2an aja. kgah ngertilah yg diucapkan hehehe..
Masah sama dgn anak TK?
yaa.. harus menyadari/memahami dan mengaplikasikan pd kehidupan sehari2.....
Kita bertauhid bukan dimulut doang/difikiran...
harus merembes kehati sanubari/jiwa...
biar memahami-Nya.
dgn gt bs ngerti.
klw uda ngerti pasti kgak akan menyalahkan orang /memvonis.
Maaf klw salah karena gue manusia.
KEBENARAN HANYA MILIK ALLAH

aschu
December 14, 2008, 13:03
Klo setau gw si,

Kullu muhdatsin bid'atun (setiap yang baru itu adalah bid'ah)

Tapi ga semua bid'ah itu sesat..

seperti sudah disampaikan para ahli di depan, Imam Syafi'i membagi bid'ah menjadi dua;
Bid'ah hasanah (hal baru yang ada tuntunannya dan sesuai dengan syariat) dan bid'ah dholalah (hal baru yang tidak ada tuntunannya dan bertentangan dengan syari'at)

Saya yg masih santri (masih belajar ilmu agama) ini menyatakan mengikuti pendapat Imam Syafi'i dengan dasar2 yang telah dibawakan oleh beliau...

karena topiknya Surah Yassin sekalian aja mau tanya, kebanyakan yang Yasinan itu mengaku mahzab Syafi'i, klo boleh tanya apakah Iman Syafi'i dulu yasinan juga?? dan apakah memang pendapat Imam Syafi'i bahwa yasinan itu termasuk Bid'ah hasanah dan diperbolehkan??

mercury_man
December 14, 2008, 13:18
sebentar saya buka buku dulu ya... :D

semoga ga nyelip...

syahrul husni
December 14, 2008, 13:20
Membid’ahkan (dengan konotasi sesat) tradisi (tahlilan) ini adalah bid’ah (sesat) itu sendiri. Karena hal ini sama dengan mengharamkan sesuatu yg tidak ada larangan dalam syariat. Mengharamkan hal yg halal adalah membuat syariat baru. Sedangkan membuat syariat baru berarti menambah2 dalam urusan agama. Inilah bid’ah (sesat) yang sejati.

syahrul husni
December 14, 2008, 13:21
Al-Bayhaqî mengulas kenyataan al-Rabî :

“Begitu juga dalam hal perdebatan aqidah (kalâm) dengan pereka bid‘ah, apabila mereka ini mula mendedahkan perbuatan bid‘ah (penterjemahan ) dalam aqidah mereka kepada masyarakat awam. Walaupun kaedah kalam merupakan ‘perkara baharu’ namun ianya dipuji (mahmudah) kerana ianya bertujuan untuk mendedahkan kepalsuan pereka bid‘ah itu, seperti mana yang kita sebutkan sebelum ini.

Rasulullah dan begitu juga para Sahabat ditanya soalan berhubung dengan Qada’ dan Qadar, yang jawapannya sepertimana telah sampai kepada kita hari ini. Namun pada masa itu, para Sahabat sudah berpuas hati dengan jawapan yang diberikan oleh Rasulullah . Namun sebaliknya di zaman kita ini pereka bid‘ah tidak lagi berpuas hati dengan jawapan yang sampai kepada kita (daripada Rasulullah dan para Sahabat), dan mereka tidak lagi menerimanya. Oleh itu bagi menangkis serangan mereka, yang mereka sebarkan kepada umum, perlu bagi kita berhujah menggunakan kaedah pembuktian yang diterimapakai oleh mereka sendiri. Dan sesungguhnya kejayaan itu datangnya dari Allâh jua”.6

Ini merupakan pembelaan Imâm al-Bayhaqî secara terang-terang terhadap keperluan kalâm dan sifatnya yang selari dengan tuntutan Sunnah demi mempertahankan [Islam] dari pereka bid‘ah. Pendirian yang hampir sama juga boleh dilihat dikalangan para Imam besar seperti Ibn `Asâkir, Ibn al-Salâh, al-Nawawî, Ibn al-Subkî, Ibn `Abidîn dan lain-lain

syahrul husni
December 14, 2008, 13:22
Pembahagian Bid‘ah di kalangan ‘ulama’ Ahlul Sunnah wal Jamaah dan selainnya:

(a) Definisi Imam al-Ghazâlî.

Hujjatul Islâm Imam al-Ghazâlî ketika mengulas perbahasan berhubung dengan penambahan ‘titik’ pada huruf ayat-ayat al-Qur’an dengan katanya:

Hakikat bahawa ianya perkara baharu yang diadakan (muhdath) tidak menghalang ini semua. Berapa banyak perkara baharu yang diadakan tetapi ianya baik!, seperti mana sembahyang Terawih secara berjemaah. Ianya adalah antara bid‘ah Saidina`Umar (ra) tetapi ianya adalah bid’ah yang baik (bid‘ah hasana). Bid‘ah yang keji ialah yang bertentangan dengan Sunnah Rasulullah atau yang boleh membawa kepada perubahan Sunnah itu. 7

(b) Definisi Qâdî Abű Bakr ibn al-‘Arabî al-Mâlikî.

Qâdî Abű Bakr Ibn al-`Arabî ketika mengulas berhubung dengan bid‘ah berkata:

Ketahuilah! – Moga Allah menganugerahkan kamu ilmu! – bahawa bid‘ah itu ada dua jenis (al-muhdathâtu darbân):

(i) Perkara baharu yang diadakan yang tiada asas [agama] melainkan mengikut hawa nafsu sesuka hati. Ini ada jenis yang salah, dan

(ii) Perkara baharu yang diadakan selari dengan apa yang sudah disepakati. Seperti Sunnah para Khulafâ’ dan para Imam-imam besar. Perkara baharu yang diadakan dan bid‘ah bukanlah keji kerana ianya ‘baharu’ (muhdath) [baharu yang tiada sebelum ini] atau semata-mata dipanggil ‘bid‘ah’, dan tidak juga kerana maknanya! Allâh Yang Maha Agung berfirman:

“Tidak datang kepada mereka peringatan yang baharu (muhdath) dari Tuhan mereka” (21:2) dan Saidina `Umar (ra) berkata: “Alangkah cantiknya bid‘ah ini!”

Sebaliknya, bid‘ah yang bertentangan dengan Sunnah itu yang dikeji atau perkara baharu yang diadakan yang membawa kepada kesesatan itu yang dicela. 8

syahrul husni
December 14, 2008, 13:22
Definisi Ibn Hazm al-Zahiri

Ibn Hazm al-Zâhirî berkata:

Bid‘ah dalam al-Din ialah apa jua yang datang kepada kita yang tiada disebutkan didalam al-Qur’ân dan Hadith Rasulullâh , melainkan seseorang itu diberi ganjaran pada sebahagiannya, dan mereka yang melakukannya dimaafkan jika mereka berniat baik. Di antaranya adalah yang diberi ganjaran dan dikira baik (h asan), apa yang pada asalnya diharuskan (“mâ kâna asluhu al-ibâha”) sepertimana yang diriwayatkan oleh Saidina`Umar (ra): “Alangkah baiknya bid‘ah ini!”Ia jelas merujuk kepada semua amalan kebaikan yang dinyatakan oleh nass (al-Qur’an dan Hadith) secara umum akan galakan melakukannya, walaupun amalan berkenaan itu tidak disebutkan dalam nass secara khusus. Di antaranya juga ada yang dikeji dan tidak dibolehkan apabila ada dalil-dalil yang melarangnya. 9

(d) Definisi Ibn al-Jawzi.

Ibn al-Jawzî menyatakan perkara yang sama dalam kitabnya Talbîs Iblîs:

“Ada sesetengah perkara baharu (muhdathât) diamalkan yang tidak berlawanan dengan Shari‘at atau menyalahinya, mereka [para Salaf] melihat ianya tidak mengapa untuk diamalkan, seperti tindakan Saidina Umar mengumpulkan orang bagi mendirikan sembahyang Terawih di bulan Ramad.ân, kemudian itu beliau berkata: `Alangkah baiknya Bid ‘ah ini!’”

syahrul husni
December 14, 2008, 13:23
Definisi Ibn al-Athîr al-Jazarî.

Pakar perkamusan Ibn al-Athîr menyebut di dalam kitabnya, al-Nihâyah fî Gharîb al-Hâdîth wal-Athar menyebut:

“Bid‘ah itu ada dua jenis: bid‘ah yang berpetunjuk (bid‘atu hudâ) dan bid‘ah yang sesat (bid`atu dalâlah). Apa jua yang menyalahi perintah Allâh dan RasulNya : itu termasuk dalam perkara yang dikutuk dan dipersalahkan. Dan apa jua yang masuk dalam keumuman Allâh atau RasulNya perintahkan atau galakkan: maka itu termasuk dalam hal-ehwal yang dipuji. Apa jua yang tiada amalan sebelum ini seperti terlampau pemurah atau berbuat baik – seumpama itu termasuk dalam perlakuan dipuji. Tidak dibenarkan beranggapan perkara seumpama itu sebagai menyalahi Shari‘at kerana Rasulullah telah menyebutkan bahawa amalan sedemikian itu diberi ganjaran: “Sesiapa yang memulakan sesuatu amalan kebaikan dalam Islâm (man sanna fîl-islâmi sunnatan hasana) memperolehi ia ganjarannya dan ganjaran sekalian orang yang melakukannya”. Begitu juga sebaliknya Baginda bersabda sesiapa yang memulakan amalan jahat dalam Islâm (waman sanna fîl-islâmi sunnatan sayyi’atan) memikul dosanya dan dosa sekalian mereka yang melakukannya.”10

Begitulah apabila perlakuan itu bertentangan dengan apa yang diperintahkan Allâh dan RasulNya …. Dengan maksud inilah hadîth yang menyebut “setiap yang baharu itu sesat”11
sepatutnya difahami: maksud Baginda ialah, apa jua yang
bercanggah dengan asas-asas Shari‘at dan menyalahi Sunnah.12

(f) Klasifikasi Imam al-Izz Ibn `Abdul Salâm

Shaykhul Islâm, Sultân al-`Ulâmâ’ Imâm al-`Izz Ibn `Abd al-Salâm juga berkata berhubung dengan perkara yang sama:

Di sana ada beberapa jenis perkara baharu (bid‘ah). Pertama, ialah yang apa yang tidak dilakukan di awal kedatangan Islam namun Shari‘at nyatakannya sebagai terpuji atau wajib. Yang kedua lagi ialah yang tidak dilaksanakan di awal Islam namun Shari‘at mengharamkannya dan dibenci. Yang ketiga ialah perkara yang tidak dilakukan di awal Islam dan Shari‘at mengharuskan.13

Di tempat lain beliau menyebut bahawa Bid‘ah itu ada lima jenis, sama sepertimana
yang diputuskan para fuqaha dalam amalan perbuatan seeorang, iaitu: Wâjib,Harâm, Sunat (mandűb), Makrűh, dan Harus (mubâh).14

(g) Sokongan Imam Nawawî terhadap Klasifikasi Imam al-Izz

Sheikhul-Islâm, Imâm al-Nawawî menyebut:

Bid‘ah mengikut Shari‘at ialah mereka sesuatu yang tidak pernah wujud di zaman Rasulullah dan ianya dibahagikan kepada “baik” dan buruk” (wahya munqasimatun ilâ hasanah wa qabîh ah).

Sheikh, dan Imâm sekalian ilmu-ilmu Islam yang pelbagai yang disepakati kehebatannya iaitu, Abű Muhammad `Abdul-`Azîz ibn `Abdul Salâm – Moga-moga llâh mengasihaninya! – menyebut di akhir buku beliau, al-Qawâ`id [al-Kubrâ]:

“Bid‘ah itu terbahagi kepada perkara-perkara wajib (wâjibat), Haram(muharramat), Sunat (mandűbat), Makruh (makrűhat), dan Harus (mubâhat).

Jalan untuk menilai sesuatu Bid‘ah itu ialah dengan melihat berpandukan kaedah Shari’at (qawâ‘id al-sharî‘ah).

Jika ianya jatuh dalam kategori kewajiban (îjâb) maka jadilah ia Wajib, jika ia termasuk dalam keharaman maka jadilah ia Haram; jika digalakkan maka jadilah ia Sunat, dikeji maka jadilah ia Makruh dan seterusnya yang selainnya ialah Harus.15

syahrul husni
December 14, 2008, 13:23
Sokongan al-Hafiz Ibn Hajar al-As-Qoolany terhadap Imam al-Izz.

Hâfiz Ibn Hajar berkata:

Akar kata perkataan ‘bid‘ah’ itu ialah sesuatu yang direka tanpa ada duluannya sebelum ini. Ianya digunakan dalam Shari‘at sebagai lawan kepada Sunnah, dan oleh itu dikeji. Jika diteliti, sekiranya ianya termasuk dalam apa yang digalakkan oleh Shari‘at, maka ia termasuk dalam bid‘ah baik (bid‘ah hasanah), dan jika ia termasuk dalam perkara yang dikeji maka ianya adalah bid‘ah buruk (mustaqbahah). Selain daripada itu ianya diharuskan (mubâh). Ianya juga boleh dibahagikan kepada lima kategori.16

(i) Ittifaq ‘Ulama’ berhubung Klasifikasi Imam al-Izz.

Para ulama’ dalam empat Mazhab bersetuju dengan klasifikasi lima hukum bagi Bid‘ah yang dibuat oleh Imam al-Izz sepertimana yang telah disebutkan di atas, dengan turut dipersetujui oleh majoriti besar para ‘ulama’ terkemudian setiap Mazhab seperti berikut:

(1) Di kalangan ‘ulama Mazhab Hanafî: al-Kirmânî, Ibn `âbidîn, al-Turkmânî, al-`Aynî, dan al-Tahânawî.17

(2) Di kalangan ‘ulama Mazhab Mâlikî: al-Turtűshî, Ibn al-Hâjj, al-Qarâfî, dan al-Zurqânî, kecuali al-Shâtibî yang cuba menafikannya dengan mendakwa klasifikasi Imam al-Izz itu sebagai “bid‘ah tanpa ada dalil dalam Shari ‘at”!.18

I`tisâm Imam al-Shâtibî’ telah diedarkan semula oleh dua tokoh Wahabi: Rashîd Ridhâ dan kemudiannya Salîm Hilâlî. Wahhâbî yang ketiga ialah Muhammad `Abdul Salâm Khadir al-Shuqayrî – iaitu anak murid kepada Rashid Rida. Al-Shuqayrî adalah pengarang al-Sunan wal-Mubtada`ât al-Muta`alliqah bil-Adhkâr wal-Salawât.

(3) Sepakat (ijma’) di kalangan sekalian ulama’ Mazhab Shâfi`î.19

(4) Keenganan menerimanya di kalangan ulama Mazhab Hanbalî yang terkemudian, dengan mengubah istilah Imam al-Shâfi`î dan Imam al-Izz ibn `Abdul-Salâm dengan masing-masing membawa maksud “bid‘ah dari segi bahasa” (bid‘ah lughawiyya) dan “bid ‘ah dari segi syarak” (bid‘ah shar`iyyah). Walaupun ini tidak tepat, mereka cuba memadankan apa yang Imam al-Shâfi`î’ sebutkan sebagai “dibenarkan” dan “dikeji”.20

Inilah pendekatan yang sering dibawa oleh golongan Wahabi dengan memecah-mecahkan sesuatu isu sepertimana berlaku dalam isu bid‘ah ini, walaupun sepatutnya pendekatan sebenar ialah berpandukan klasifikasi yang telah dibuat oleh majoriti ulama’ (jumhűr).

syahrul husni
December 14, 2008, 13:24
Shaykh Muhammad Bakhît al-Mutî`î menyimpulkan:

“Bid ‘ah dari segi Syarak ialah yang sesat dan dicela; adapun bid‘ah yang para ‘ulama membahagikan kepada kepada Wajib dan Haram dan seterusnya itu, adalah Bid’ah dari segi bahasa, yang lebih luas dari Bid’ah dari Syarak kerana Syarak itu juga sebahagian darinya.”21

Al-Shawkânî merumuskan di dalam Nayl al-Awtâr iaitu asas kepada pembahagian bid‘ah adalah “baik” dan “buruk”, dan inilah pandangan yang paling kukuh dan kuat sekali.22

Memadailah apabila majoriti Imam Mujtahid dari kalangan Salaf menyatakan sedemikian berdasarkan dalil-dalil al-Qur’ân and Sunnah, walau apapun yang dikatakan oleh ulama’ terkemudian – samada oleh ‘ulama bakal murajjih’ seperti al- Shawkânî atau ‘ulama bakal penyunting’ seperti al-Shâtibî.

Kerana pendirian ini telah disepakati (ijma’) di kalangan para ulama’ Mazhab al-Shâfi`î dan juga selari dengan pesanan Rasulullah s.a.w agar kita mengikuti jalan para Mu’min dan mengikut pendapat [ulama’] ramai.

“Bukanlah seorang Imâm dalam `Ilmu apabila mengikut pandangan yang ganjil/terpencil (shâdhdh)”.

- (`Abdul-Rahmân ibn Mahdî).

Dan Allah jua Yang Maha Mengetahui

syahrul husni
December 14, 2008, 13:24
Acuan:

1. Diriwayatkan dari Harmala oleh Abű Nu`aym dengan sanad dari Abű Bakr al-Al- jurrî dalam Hilyat al-Awliyâ’ (9:121 #13315=1985 edisi. 9:113) dan dinukilkan oleh Abű Shâma dalam al-Bâ`ith `alâ Inkâr al-Bida` wal-Hawâdith (edisi Riyadh 1990, hal. 93), Ibn Rajab dalam Jâmi` al-`Ulűm wal-Hikam (hal. 267= edisi Zuhaylî. 2:52= edisi Arna’űt, 2:131=sahîh), Ibn Hajar dalam Fath al-Bârî (edisi 1959, 13:253), al-Turtűshî dalam al-Hawâdith wa al-Bida` (hal. 158-159), dan al-Shawkânî, al-Qawl al-Mufîd fî Adillat al-Ijtihâd wa al-Taqlîd (edisi 1347/1929 hal. 36).


Riwayat dari Saidina `Umar disebut oleh Imam Mâlik dalam al-Muwat a’ dan al-Bukhârî dalam Sahîh Bukhari.

2. Diriwayatkan dari al-Rabî` oleh al-Bayhaqî di dalam Madkhal dan Manâqib al-Shâfi`î beliau (1:469) dengan sanad sahih sepertimana yang disahkan oleh Ibn Taymiyyah dalam Dâr’ Ta`ârud al-`Aql wa al-Naql (hal. 171) dan melalui al-Bayhaqî oleh Ibn `Asâkir dalam Tabyîn Kadhib al-Muftarî (edisi Kawtharî, hal. 97). Dinukilkan oleh al-Dhahabî dalam Siyar (8:408), Ibn Rajab dalam Jâmi` al-`Ulűm wal-Hikam (p. 267= edisi Zuhaylî. 2:52-53=edisi Arna’űt. 2:131 sahîh), dan oleh Ibn Hajar dalam Fath al-Bârî (1959 ed. 13:253).

3. Al-Haytamî, al-Tabyîn fî Sharh al-Arba`în (hal. 32)
4. Ibn al-`Arabî, `âridat al-Ahwadhî (10:147)
5. Cf. al-Lacknawî, Iqâmat al-Hujjah (hal. 12)
6. Al-Bayhaqî, Manâqib al-Shâfi`î (1:469)

syahrul husni
December 14, 2008, 13:25
7. Al-Ghazzâlî, Ihyâ’ `Ulűm al-Dîn (1:276)

8. Ibn al-`Arabî, `A rid at al-Ahwadhî (10:146-147)


9. Ibn Hazm, al-Ihkâm fî Usűl al-Ahkâm (1:47)


10.Diriwayatkan dari Jarîr ibn `Abd Allâh al-Bajalî oleh Imam Muslim, al-Tirmidhî, al-Nasâ’î, Ibn Mâjah,Ahmad, dan al-Dârimî. Juga diriwayatkan dengan kalimah yang hampir sama dari Abű Hurayrah oleh Ibn Mâjah and Ahmad; dari Abű Juhayfah oleh Ibn Mâjah; dan dari Hudhayfah oleh Imam Ahmad.


11. Diriwayatkan dari al-`Irbâd. ibn Sâriyah oleh al-Tirmidhî (hasan sahih), Abű Dâwűd, Ibn Mâjah, Ah}mad, al-Dârimî, Ibn Hibbân (1:178-179 #5 sahîh.), al-Hâkim (1:95-97= edisi 1990 1:174-177) – menyatakan ianya sahih, sementara al-Dhahabî mengesahkannya – dan di dalam al-Madkhal ilâ al-Sahîh. (hal. 80-81), al-âjurrî dalam al-Sharî`ah (hal. 54-55#79-82= hal. 46 sahîh), Ibn Abî `âsim di dalam al-Sunnah (hal. 29 #54 sahih.), al-Tahâwî di dalam Mushkil al-âthâr (2:69=3:221-224 #1185-1187 sahih), Muhammad ibn Nasr al-Marwazî di dalam al-Sunnah (hal. 26-27 #69-72 sahîh.), al-Hârith ibn Abî Usâma dalam Musnadnya (1:197-198), al-Rűyânî dalam Musnadnya (1:439), Abű Nu`aym dalam Hilyat al-Awliyâ’ (1985 ed. 5:220-221, 10:115), al-Tabarânî dalam Musnad al-Shâmiyyîn (1:254, 1:402, 1:446, 2:197, 2:298) dan al-Kabîr (18:245-257), al-Bayhaqî dalam al-Sunan al-Kubrâ (10:114), al-Madkhal (hal. 115-116), al-I`tiqâd (hal. 229), dan Shu`ab al-‘mân (6:67), al-Baghawî yang mengesahkan ianya hasan dalam Sharh al-Sunnah (1:205 #102 isnâd sahih), Ibn al-Athîr dalam Jâmi` al-Usűl (1:187, 1:279), Ibn `Asâkir dalam al-Arba`în al-Buldâniyyah (hal. 121), Ibn`Abd al-Barr dalam al-Tamhîd (21:278-279) dan Jâmi` Bayân al-`Ilm (2:924 #1758) di mana beliau mengesahkan ianya sahih, dan lain-lain.


12. Ibn al-Athîr, al-Nihâya (1:79 ‘b-d-`).


13. Ibn `Abd al-Salâm, al-Fatâwâ al-Mawsiliyyah (hal. 129).


14. Ibn `Abd al-Salâm, al-Qawâ`id al-Kubrâ (2:337-339) cf. al-Nawawî dalam al-Adhkâr (cetakan Thaqâfiyyah. hal. 237) dan Tahdhîb al-Asma’ wal-Lughât (3:20-22), al-Shâtibî dalam al-I`tisâm (Beirut, 1:188), al-Kirmânî in al-Kawâkib al-Darârî (9:54), Ibn Hajar dalam Fath. al-Bârî (13:253-254), al-Suyűtî, mukaddimah beliau pada Husn al-Maqsid dalam al-Hâwî lil-Fatâwâ; al-Haytamî, Fatâwâ Hadîthiyya (hal. 150), Ibn `âbidîn,n - Radd al-Muhtâr (1:376) dan lain-lain.

syahrul husni
December 14, 2008, 13:25
15 . Al-Nawawî, Tahdhîb al-Asmâ’ wal-Lughât (3:20-22).

16. Ibn Hajar, Fath. al-Bârî (cetakan 1959 5:156-157= cetakan 1989 4:318).



17. Al-Kirmânî, al-Kawâkib al-Darârî Sharh Sahîh al-Bukhârî (9:54), Ibn `âbidîn, H âshiya (1:376, 1:560); al-Turkmânî, al-Luma` fîl-Hawâdith wal-Bida` (Stuttgart, 1986, 1:37); al-Tahânawî, Kashshâf Istilâh.at al-Funűn (Beirut, 1966, 1:133-135); al-`Aynî, `Umdat al-Qârî dalam al-Himyarî, al-Bid`at al-Hasanah (hal.152-153).


18. Al-Turtűshî, Kitâb al-Hawâdith wa al-Bida` (hal. 15, hal. 158-159); Ibn al-Hajj, Madkhal al-Shar` al-Sharîf (Cairo, 1336/1918 2:115); al-Qarâfî, al-Furűq (4:219) cf. al-Shâtibî, al-I`tis âm (1:188-191); al-Zurqânî, Sharh al-Muwat a’ (1:238).



19. Abű Shâma, al-Bâ`ith `alâ Inkâr al-Bida` wa al-Hawâdith (Riyad: Dâr al-Raya, 1990, hal. 93, cetakan Cairo hal. 12-13) dan juga apa yang ditelah disebut sebelum ini. Perhatian: “ijmâ` adalah lebih menyeluruh dari “ittifâq” dan ianya mengikat dari segi hukum



20. Ibn Rajab, al-Jâmi` fîl-`Ulűm wal-Hikam (2:50-53), dan Ibn Taymiyyah memperkatakan tentang bid`ah dalam kitab beliau Iqtidâ’ al-Sirât. al-Mustaqîm Mukhâlafat Ashâb al-Jah îm. Ini juga merupakan pendirian Ibn Kathîr, lihat tafsiran beliau pada ayat 117 Surah al-Imran, dalam Tafsîrnya. Beliau sependirian dengan gurunya, Ibn Taimiyyah.

21. Bakhît, Fatâwâ Hadîthiyyah (hal. 205).

22. Al-Shawkânî, Nayl al-Awtâr (4:60).

syahrul husni
December 14, 2008, 13:27
aku cba membuat sudut pandang lain dari cobalt, karena jadikn perbedaan itu sebagai rahmat bukan suatu paksaan untuk mengikuti pendapat kita, balik ada yg gerah ni kwakkakkkakkakkk:hehe:hehe:hehe:hehe;D;D

kr3kzz
December 15, 2008, 06:00
gue udah pernah nge post disini blom ya?? ::mikir::



:kakaka: :kabur:

Preman_Cakung
December 15, 2008, 06:19
ini perkara soal surat Yasin aja panjangnya sampai 11 halaman....:kakaka:




ck ck ck ck.....

kapiten
December 15, 2008, 07:31
di Al-Qur'an panjangnya berapa halaman hayooo???

:kakaka: [joget]

cobalt_6982
December 15, 2008, 10:14
Membid’ahkan (dengan konotasi sesat) tradisi (tahlilan) ini adalah bid’ah (sesat) itu sendiri. Karena hal ini sama dengan mengharamkan sesuatu yg tidak ada larangan dalam syariat. Mengharamkan hal yg halal adalah membuat syariat baru. Sedangkan membuat syariat baru berarti menambah2 dalam urusan agama. Inilah bid’ah (sesat) yang sejati.
jah....ini pasti salah kaprah dalam bahasa arab neh....ckckckck

sekarang gini aj dh....kalo memang kami mengharamkan yang halal...coba tolong buktikan...

Apa yang kami cap sebagai bid'ah memang telah jelas meyakinkan bahwa itu adalah bid'ah secara syari'at...haram dilakukan...perbuatan sesat yang akan menjerumuskan pelakunya ke neraka

ente menulis seperti diatas itu sama seperti tulisan syekh As Sa'di Rohimahulullahu ta'ala dalam menanggapi masalah hukum dasar dari 'Adat

'Adat yang dimaksud ialah dalam bahasa arab...bukan adat dalam bahasa Indonesia yang berarti tradisi....
'Adat yang dimaksud ialah Mu'ammalah yang tidak lain tidak bukan biasa kita sering sebut dengan Ibadah Ghoiru Mahdhoh...dan memang hukum asal Ibadah ini adalah boleh

Akan tetapi...seperti yang telah saya berulang kali bilang...bahwasanya membaca ayat Al Qur'an atau surat Yasin memang Ibadah Ghoiru Mahdhoh...jadi hukum membacanya boleh

Beda dengan Yasinan...sebab Yasinan merupakan bentuk Muqoyyad dari Yasin yang bentuknya adalah Mutlak....

Kalau membaca surat Yasin saja tanpa embel2 waktu atau acara tertentu dan tanpa disertai do'a2 dan dzikir2 lainnya...maka ini masuk kedalam Ibadah Ghoiru Mahdhoh
Tapi kalo Yasinan...dari segi waktu saja sudah keliatan bahwa dia diikat menjadi bentuk mahdhoh...ditambah do'a2 dan lafazh dzikir apalage dibaca dengan serentak satu suara....dengan demikian...masalah Yasinan tidak bisa dihukumi menjadi boleh...tapi hukumnya menjadi haram

Al-Bayhaqî mengulas kenyataan al-Rabî :

“Begitu juga dalam hal perdebatan aqidah (kalâm) dengan pereka bid‘ah, apabila mereka ini mula mendedahkan perbuatan bid‘ah (penterjemahan ) dalam aqidah mereka kepada masyarakat awam. Walaupun kaedah kalam merupakan ‘perkara baharu’ namun ianya dipuji (mahmudah) kerana ianya bertujuan untuk mendedahkan kepalsuan pereka bid‘ah itu, seperti mana yang kita sebutkan sebelum ini.

Rasulullah dan begitu juga para Sahabat ditanya soalan berhubung dengan Qada’ dan Qadar, yang jawapannya sepertimana telah sampai kepada kita hari ini. Namun pada masa itu, para Sahabat sudah berpuas hati dengan jawapan yang diberikan oleh Rasulullah . Namun sebaliknya di zaman kita ini pereka bid‘ah tidak lagi berpuas hati dengan jawapan yang sampai kepada kita (daripada Rasulullah dan para Sahabat), dan mereka tidak lagi menerimanya. Oleh itu bagi menangkis serangan mereka, yang mereka sebarkan kepada umum, perlu bagi kita berhujah menggunakan kaedah pembuktian yang diterimapakai oleh mereka sendiri. Dan sesungguhnya kejayaan itu datangnya dari Allâh jua”.6

Ini merupakan pembelaan Imâm al-Bayhaqî secara terang-terang terhadap keperluan kalâm dan sifatnya yang selari dengan tuntutan Sunnah demi mempertahankan [Islam] dari pereka bid‘ah. Pendirian yang hampir sama juga boleh dilihat dikalangan para Imam besar seperti Ibn `Asâkir, Ibn al-Salâh, al-Nawawî, Ibn al-Subkî, Ibn `Abidîn dan lain-lain
Lihat perkataan yang aq bold...sama kan seperti tindakan orang2 yang membela adanya bid'ah hasanah dalam syari'at?

Bahwasanya mereka itu tidak menerima aturan Rosulullah...tinggal lihat saja bagaimana mereka mengubah2 apa yang sudah dimutlakkan oleh Allah dan RosulNya menjadi bentuk Muqoyyad...dan sebaliknya

Kalau dalam contoh yang kamu bawakan diatas itu tentang Qodo dan Qodar...

Terlihat jelas...bahwasanya jikalau tidak ingin disebut bid'ah...maka hendaknya mengikuti Rosulullah dan para Shahabat dalam masalah Qodo dan Qodar ini....jangan dibuat tambahan atau pengurangan apapun...

Demikian jg terhadap masalah tahlilan atau yasinan...sudah dibuat mutlak oleh Allah dan RosulNya...eh malah dibuat muqoyyad...apa ini namanya tidak menyelisihi?

(a) Definisi Imam al-Ghazâlî.

Hujjatul Islâm Imam al-Ghazâlî ketika mengulas perbahasan berhubung dengan penambahan ‘titik’ pada huruf ayat-ayat al-Qur’an dengan katanya:

Hakikat bahawa ianya perkara baharu yang diadakan (muhdath) tidak menghalang ini semua. Berapa banyak perkara baharu yang diadakan tetapi ianya baik!, seperti mana sembahyang Terawih secara berjemaah. Ianya adalah antara bid‘ah Saidina`Umar (ra) tetapi ianya adalah bid’ah yang baik (bid‘ah hasana). Bid‘ah yang keji ialah yang bertentangan dengan Sunnah Rasulullah atau yang boleh membawa kepada perubahan Sunnah itu. 7
Lihat dong...yang dimaksud dengan Bid'ah Hasanah oleh Imam Ghozali...ini adalah pengertian bid'ah secara bahasa...

Hal ini terlihat dari contoh yang beliau ambil...yaitu perkataan Umar tentang Tarawih....

bagaimana mungkin Umar bisa berkata bahwa Tarawih adalah Bid'ah padahal Rosulullah pernah melakukannya yang dengan demikian tergolong Sunnah?

Oleh karena itu...Tarawih bukanlah bid'ah secara syari'at...karena ia adalah sunnah....tetapi tarawih adalah bid'ah secara bahasa....karena bid'ah secara bahasa ialah sesuatu yang baru diadakan...

Inilah yang dipahami oleh Imam Asy Syafi'i, Ibnu Taimiyah, Ibnu Katsir, Ibnu Hajar, dan yang lainnya....

Tetapi terhadap Yasinan?
maaf2 aj...ini beda kasus...
adakah Rosulullah dan para Shahabatnya serta Salaful Ummah lainnya melakukan ini?

aschu
December 15, 2008, 10:23
hiks pertanyaanku belum ada yang jawab, Om Kobel juga klo tau boleh jawab kok..

apakah dulu Imam Syafi'i melaksanakan Yasinan?? sejak kapan dan siapa yang memulai BUDAYA Yasinan??

cobalt_6982
December 15, 2008, 10:29
(b) Definisi Qâdî Abű Bakr ibn al-‘Arabî al-Mâlikî.

Qâdî Abű Bakr Ibn al-`Arabî ketika mengulas berhubung dengan bid‘ah berkata:

Ketahuilah! – Moga Allah menganugerahkan kamu ilmu! – bahawa bid‘ah itu ada dua jenis (al-muhdathâtu darbân):

(i) Perkara baharu yang diadakan yang tiada asas [agama] melainkan mengikut hawa nafsu sesuka hati. Ini ada jenis yang salah, dan

(ii) Perkara baharu yang diadakan selari dengan apa yang sudah disepakati. Seperti Sunnah para Khulafâ’ dan para Imam-imam besar. Perkara baharu yang diadakan dan bid‘ah bukanlah keji kerana ianya ‘baharu’ (muhdath) atau semata-mata dipanggil ‘bid‘ah’, dan tidak juga kerana maknanya! Allâh Yang Maha Agung berfirman:

“Tidak datang kepada mereka peringatan yang baharu (muhdath) dari Tuhan mereka” (21:2) dan Saidina `Umar (ra) berkata: “Alangkah cantiknya bid‘ah ini!”

Sebaliknya, bid‘ah yang bertentangan dengan Sunnah itu yang dikeji atau perkara baharu yang diadakan yang membawa kepada kesesatan itu yang dicela. 8

Definisi Ibn Hazm al-Zahiri

Ibn Hazm al-Zâhirî berkata:

Bid‘ah dalam al-Din ialah apa jua yang datang kepada kita yang tiada disebutkan didalam al-Qur’ân dan Hadith Rasulullâh , melainkan seseorang itu diberi ganjaran pada sebahagiannya, dan mereka yang melakukannya dimaafkan jika mereka berniat baik. Di antaranya adalah yang diberi ganjaran dan dikira baik (h asan), apa yang pada asalnya diharuskan (“mâ kâna asluhu al-ibâha”) sepertimana yang diriwayatkan oleh Saidina`Umar (ra): “Alangkah baiknya bid‘ah ini!”Ia jelas merujuk kepada semua amalan kebaikan yang dinyatakan oleh nass (al-Qur’an dan Hadith) secara umum akan galakan melakukannya, walaupun amalan berkenaan itu tidak disebutkan dalam nass secara khusus. Di antaranya juga ada yang dikeji dan tidak dibolehkan apabila ada dalil-dalil yang melarangnya. 9

(d) Definisi Ibn al-Jawzi.

Ibn al-Jawzî menyatakan perkara yang sama dalam kitabnya Talbîs Iblîs:

“Ada sesetengah perkara baharu (muhdathât) diamalkan yang tidak berlawanan dengan Shari‘at atau menyalahinya, mereka [para Salaf] melihat ianya tidak mengapa untuk diamalkan, seperti tindakan Saidina Umar mengumpulkan orang bagi mendirikan sembahyang Terawih di bulan Ramad.ân, kemudian itu beliau berkata: `Alangkah baiknya Bid ‘ah ini!’”

Definisi Ibn al-Athîr al-Jazarî.

Pakar perkamusan Ibn al-Athîr menyebut di dalam kitabnya, al-Nihâyah fî Gharîb al-Hâdîth wal-Athar menyebut:

“Bid‘ah itu ada dua jenis: bid‘ah yang berpetunjuk (bid‘atu hudâ) dan bid‘ah yang sesat (bid`atu dalâlah). Apa jua yang menyalahi perintah Allâh dan RasulNya : itu termasuk dalam perkara yang dikutuk dan dipersalahkan. Dan apa jua yang masuk dalam keumuman Allâh atau RasulNya perintahkan atau galakkan: maka itu termasuk dalam hal-ehwal yang dipuji. Apa jua yang tiada amalan sebelum ini seperti terlampau pemurah atau berbuat baik – seumpama itu termasuk dalam perlakuan dipuji. Tidak dibenarkan beranggapan perkara seumpama itu sebagai menyalahi Shari‘at kerana Rasulullah telah menyebutkan bahawa amalan sedemikian itu diberi ganjaran: “Sesiapa yang memulakan sesuatu amalan kebaikan dalam Islâm (man sanna fîl-islâmi sunnatan hasana) memperolehi ia ganjarannya dan ganjaran sekalian orang yang melakukannya”. Begitu juga sebaliknya Baginda bersabda sesiapa yang memulakan amalan jahat dalam Islâm (waman sanna fîl-islâmi sunnatan sayyi’atan) memikul dosanya dan dosa sekalian mereka yang melakukannya.”10

Begitulah apabila perlakuan itu bertentangan dengan apa yang diperintahkan Allâh dan RasulNya …. Dengan maksud inilah hadîth yang menyebut “setiap yang baharu itu sesat”11
sepatutnya difahami: maksud Baginda ialah, apa jua yang
bercanggah dengan asas-asas Shari‘at dan menyalahi Sunnah.12

(f) Klasifikasi Imam al-Izz Ibn `Abdul Salâm

Shaykhul Islâm, Sultân al-`Ulâmâ’ Imâm al-`Izz Ibn `Abd al-Salâm juga berkata berhubung dengan perkara yang sama:

Di sana ada beberapa jenis perkara baharu (bid‘ah). Pertama, ialah yang apa yang tidak dilakukan di awal kedatangan Islam namun Shari‘at nyatakannya sebagai terpuji atau wajib. Yang kedua lagi ialah yang tidak dilaksanakan di awal Islam namun Shari‘at mengharamkannya dan dibenci. Yang ketiga ialah perkara yang tidak dilakukan di awal Islam dan Shari‘at mengharuskan.13

Di tempat lain beliau menyebut bahawa Bid‘ah itu ada lima jenis, sama sepertimana
yang diputuskan para fuqaha dalam amalan perbuatan seeorang, iaitu: Wâjib,Harâm, Sunat (mandűb), Makrűh, dan Harus (mubâh).14

(g) Sokongan Imam Nawawî terhadap Klasifikasi Imam al-Izz

Sheikhul-Islâm, Imâm al-Nawawî menyebut:

Bid‘ah mengikut Shari‘at ialah mereka sesuatu yang tidak pernah wujud di zaman Rasulullah dan ianya dibahagikan kepada “baik” dan buruk” (wahya munqasimatun ilâ hasanah wa qabîh ah).

Sheikh, dan Imâm sekalian ilmu-ilmu Islam yang pelbagai yang disepakati kehebatannya iaitu, Abű Muhammad `Abdul-`Azîz ibn `Abdul Salâm – Moga-moga llâh mengasihaninya! – menyebut di akhir buku beliau, al-Qawâ`id [al-Kubrâ]:

“Bid‘ah itu terbahagi kepada perkara-perkara wajib (wâjibat), Haram(muharramat), Sunat (mandűbat), Makruh (makrűhat), dan Harus (mubâhat).

Jalan untuk menilai sesuatu Bid‘ah itu ialah dengan melihat berpandukan kaedah Shari’at (qawâ‘id al-sharî‘ah).

Jika ianya jatuh dalam kategori kewajiban (îjâb) maka jadilah ia Wajib, jika ia termasuk dalam keharaman maka jadilah ia Haram; jika digalakkan maka jadilah ia Sunat, dikeji maka jadilah ia Makruh dan seterusnya yang selainnya ialah Harus.15

Sokongan al-Hafiz Ibn Hajar al-As-Qoolany terhadap Imam al-Izz.

Hâfiz Ibn Hajar berkata:

Akar kata perkataan ‘bid‘ah’ itu ialah sesuatu yang direka tanpa ada duluannya sebelum ini. Ianya digunakan dalam Shari‘at sebagai lawan kepada Sunnah, dan oleh itu dikeji. Jika diteliti, sekiranya ianya termasuk dalam apa yang digalakkan oleh Shari‘at, maka ia termasuk dalam bid‘ah baik (bid‘ah hasanah), dan jika ia termasuk dalam perkara yang dikeji maka ianya adalah bid‘ah buruk (mustaqbahah). Selain daripada itu ianya diharuskan (mubâh). Ianya juga boleh dibahagikan kepada lima kategori.16

(i) Ittifaq ‘Ulama’ berhubung Klasifikasi Imam al-Izz.

Para ulama’ dalam empat Mazhab bersetuju dengan klasifikasi lima hukum bagi Bid‘ah yang dibuat oleh Imam al-Izz sepertimana yang telah disebutkan di atas, dengan turut dipersetujui oleh majoriti besar para ‘ulama’ terkemudian setiap Mazhab seperti berikut:

(1) Di kalangan ‘ulama Mazhab Hanafî: al-Kirmânî, Ibn `âbidîn, al-Turkmânî, al-`Aynî, dan al-Tahânawî.17

(2) Di kalangan ‘ulama Mazhab Mâlikî: al-Turtűshî, Ibn al-Hâjj, al-Qarâfî, dan al-Zurqânî, kecuali al-Shâtibî yang cuba menafikannya dengan mendakwa klasifikasi Imam al-Izz itu sebagai “bid‘ah tanpa ada dalil dalam Shari ‘at”!.18

I`tisâm Imam al-Shâtibî’ telah diedarkan semula oleh dua tokoh Wahabi: Rashîd Ridhâ dan kemudiannya Salîm Hilâlî. Wahhâbî yang ketiga ialah Muhammad `Abdul Salâm Khadir al-Shuqayrî – iaitu anak murid kepada Rashid Rida. Al-Shuqayrî adalah pengarang al-Sunan wal-Mubtada`ât al-Muta`alliqah bil-Adhkâr wal-Salawât.

(3) Sepakat (ijma’) di kalangan sekalian ulama’ Mazhab Shâfi`î.19

[B](4) Keenganan menerimanya di kalangan ulama Mazhab Hanbalî yang terkemudian, dengan mengubah istilah Imam al-Shâfi`î dan Imam al-Izz ibn `Abdul-Salâm dengan masing-masing membawa maksud “bid‘ah dari segi bahasa” (bid‘ah lughawiyya) dan “bid ‘ah dari segi syarak” (bid‘ah shar`iyyah). Walaupun ini tidak tepat, mereka cuba memadankan apa yang Imam al-Shâfi`î’ sebutkan sebagai “dibenarkan” dan “dikeji”.20

Inilah pendekatan yang sering dibawa oleh golongan Wahabi dengan memecah-mecahkan sesuatu isu sepertimana berlaku dalam isu bid‘ah ini, walaupun sepatutnya pendekatan sebenar ialah berpandukan klasifikasi yang telah dibuat oleh majoriti ulama’ (jumhűr).
Contoh2 yang telah diungkapkan oleh Ulama2 diatas...merupakan contoh bid'ah secara bahasa...

Sebab alasan logisnya seh gampang2 saja...contoh diatas yang kamu bawakan hanya merujuk kepada 1 contoh....yaitu Perkataan Umar tentang Sholat Tarawih...

Sekarang kita pikir lah....Sholat tarawih sudah pernah dikerjakan nabi...kemudian beliau tidak sholat tarawih berjama'ah lage karena takut diwajibkan...jaman Abu Bakar jg tidak dijalankan...tetapi pada jaman Umar ini dijalankan...sebab Rosulullah telah wafat...sehingga tidak akan diwajibkan....

Nah...sesuatu yang telah dikerjakan nabi....apa pantas kita cap sebagai bid'ah sekalipun diembel2i dengan hasanah?

Sholat Tarawih kan perbuatan Sunnah...masa iya dihukumi bid'ah?

Bukankah semua muslim sepakat bahwasanya segala sesuatu yang dilakukan nabi adalah Sunnah?

Lagepula betapa beraninya kamu membawa contoh syekh Al Izz bin Abdus Salam....

Oke kamu bilang bahwa tarawih bid'ah hasanah...tetapi ingatkah kamu bahwa kalian jg menganggap bahwa nisyfu sya'ban bid'ah hasanah?

Tetapi Syekh Al Izz melalui keterangan muridnya berkata
Berikut keterangan dari murid beliau, Syihabudding abu Syaamah
"beliau adalah orang yang paling berhak menadi khatib dan imam, beliau telah menyingkirkan banyak bid'ah yang pernah dilakukan para khatib dengan pukulan pedang diatasmimbar dan lain-lain, beliau pernah mengungkapkan kebathilan dua sholat pada pertengahan bulan sya'ban (nisyfu Sya'ban) dan beliau telah melarang keduanya"

lagepula....keterangan2 mu yang seperti ini kan sudah pernah aq syarah di thread bid'ah...masa maw diulang syarah disini lage?

ckckckckc

cobalt_6982
December 15, 2008, 10:32
hiks pertanyaanku belum ada yang jawab, Om Kobel juga klo tau boleh jawab kok..

apakah dulu Imam Syafi'i melaksanakan Yasinan?? sejak kapan dan siapa yang memulai BUDAYA Yasinan??
justru karena gak ada sumbernya aq gak tau darimana yasinan berasal....huhuhuhu

sumbernya gak jelas...

Rosulullah gak pernah melakukan....Shahabat jg sama...tabi'in jg sama...tabi'ut tabi'in jg sama...4 imam mahzab jg sama...Ibnu Taimiyah jg sama...Ibnu Hajar jg sama...

Perasaan cuma orang "pinter" Indonesia aj yang melakukannya....

Kayaknya mereka lebih pinter dari yang aq sebutkan diatas kali ya?

huhuhuhuh

cobalt_6982
December 15, 2008, 10:38
aku cba membuat sudut pandang lain dari cobalt, karena jadikn perbedaan itu sebagai rahmat bukan suatu paksaan untuk mengikuti pendapat kita, balik ada yg gerah ni kwakkakkkakkakkk
sini....bawakan kepada ku dalil orang yang ngomong bahwa PERBEDAAN ADALAH RAHMAT....

Apa jangan2 kamu maw membawa hadits "bahwa perbedaan dikalangan umatku adalah rahmat?"

hadits yang gak diketahui darimana asalnya itu yang udh pernah aq syarah di thread bid'ah?

huhuhuhuhuhu

aschu
December 15, 2008, 10:41
justru karena gak ada sumbernya aq gak tau darimana yasinan berasal....huhuhuhu

sumbernya gak jelas...

Rosulullah gak pernah melakukan....Shahabat jg sama...tabi'in jg sama...tabi'ut tabi'in jg sama...4 imam mahzab jg sama...Ibnu Taimiyah jg sama...Ibnu Hajar jg sama...

Perasaan cuma orang "pinter" Indonesia aj yang melakukannya....

Kayaknya mereka lebih pinter dari yang aq sebutkan diatas kali ya?

huhuhuhuh

terus kok kalow Orang2 mulia tersebut ngga melakukannya, kok mereka kadang dijadiin rujukan Budaya tersebut yah ::mikir::

cobalt_6982
December 15, 2008, 10:48
terus kok kalow Orang2 mulia tersebut ngga melakukannya, kok mereka kadang dijadiin rujukan Budaya tersebut yah
makanya itu gw jg bingung....

dibilang bid'ah sesat tapi malah nolak....malah pake rujukan ulama2 yang terkenal....sudah begitu maen comot perkataan ulama2 tersebut tapi gak diteliti dulu apa maksud mereka....yang penting ada kata2 bid'ah + embel2 hasanah...comot langsung....

padahal ulama2 diatas gak pernah melakukannya sama sekali...bahkan mereka cenderung menentang nya....liat aj bagaimana Syeikh Al Izz menolak mentah2 saudaranya si Yasinan yaitu Nisyfu Sya'banan

Apa mungkin karena tiap yasinan disuguhi rokok makanya mereka jadi gak bisa berpikir jernih karena penuh asap rokok kali ya?

hmmm...sounds interesting

syahrul husni
December 15, 2008, 11:06
Ada sebuah hadits yang menyebutkan bahwa “Yasin lima quriat lahu”, artinya surat Yasin dibaca sesuai niat si pembaca. Yasin dapat dibaca saat kita mengharap rezeki Tuhan, meminta sembuh dari penyakit, menghadap ujian, mencari jodoh, dan lain-lain.

Akan tetapi, dalam praktik sehari-hari, akhir-akhir ini masyarakat sudah mentradisikan membaca Yasin dalam majelis-majelis kecil di kampung-kampung. Bahkan sudah lazim bacaan Yasin digabung dengan Tahlil. Tahlil dan Yasin telah menyatu menjadi bacaan orang-orang NU, dan selalu dapat kita dengar dari kelompok-kelompok kecil, kadang di siang hari, sore hari, malam hari, dan pagi hari.

Lebih dari itu, surat Yasin sudah menjadi kebiasaan masyarakat bila salah satu keluarga ada yang sakit kritis. Surat Yasin dibaca dengan harapan jika bisa sembuh semoga cepat sembuh, dan jika Allah menghendaki yang bersangkutan kembali kepada-Nya, semoga cepat diambil oleh-Nya dengan tenang.

Ada kalanya Yasin dibaca sendirian, ada juga bersamaan dengan tetangga yang lain. Yang jelas, orang yang sakit sudah ridak ada harapan lagi untuk sembuh karena tanda-tanda akan diakhirinya ke*hidupan ini sudah jelas. Dan surat Yasin menjadi pengantar kepulangannya ke hadirat Allah.

Dalil orang-orang NU membaca surat Yasin ini adalah, pertama dalam hadits riwayat Nasa'i bersumber dari Ma'qal bin Yasar al-Muzan mengatakan, Rasulullah SAW pernah bersabda:

اقْرَؤُا يس عِنْدَ مَوْتَاكُمْ

“Bacalah surat Yasin di samping saudaramu yang sedang sekarat.”

Hadits ini juga berlaku bagi yang masih hidup untuk membacakan Yasin untuk yang sudah meninggal. Persis seperti sabda Rasulullah: Laqqinu mautakum La ilaha illallah (Tuntunlah orang mati dengan kalimat La ilaha illallah). Dan termasuk dalam hadits ini adalah bacaan Yasin di atas makam. (Demikian penjelasan dalam kitab Kasyifatus Syubhat, hlm. 263)

syahrul husni
December 15, 2008, 11:07
Diriwayatkan juga: jika seorang muslim dan muslimah dibacakan surat Yasin ketika mendekati ajal maka akan diturunkan 10 malaikat berkat dari huruf-huruf Yasin yang dibaca. Para malaikat itu berdiri berbaris di samping yang sakit, membacakan shalawat dan istighfar kepadanya dan ikut menyaksikan saat dimandikan dan mengantarkan ia ke makam. (Tafsir Yasin lil Hamamy, hlm. 2)

Dalam kitab Audhaul Ma’ani Ahadits Riyadh as Shalihin disebutkan bahwa bacaan surat Yasin untuk yang sedang mendekati ajal akan menjadi bekal dia, seperti halnyaa ia membawa susu kental dalam perjalanan. Dan surat Yasin pada dasarnya dapat dibaca untuk seseorang setelah meninggal di rumah atau bahkan di makam. (Audhaul Ma’ani, hlm. 376)


KH Munawwir Abdul Fattah
Pengasuh Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta

soeyat
December 15, 2008, 13:09
hahaha....
gue ketawa sendiri liat sampean.....
yg diperdebat kan cm tata cara. sampai kgak mau kalah
hehehe.....
Kapan sampai-Nya.
pada itu tujuan sampean?
klw itu? cukup sgt kgak lebih.
perbedaan tu seninya dunia,
udah biasa.
Masah kgak ngerti?
ya klw kgak ngerti? anggap sampean yg terpinter....
klw mau? t kasih piala bergilir nanti.
masah cm segitu aja mau terjadi perpecahan/ngotot. kgak malu ya? ma tetangga.
Semoga Allah memberikan pemahaman yg sempurna pd kita dan semoga semua mahluk didunia selalu berbahagia

mercury_man
December 15, 2008, 16:01
^

ini ngomongin sapa sih? :D [joget]

Preman_Cakung
December 15, 2008, 16:32
makanya itu gw jg bingung....

dibilang bid'ah sesat tapi malah nolak....malah pake rujukan ulama2 yang terkenal....sudah begitu maen comot perkataan ulama2 tersebut tapi gak diteliti dulu apa maksud mereka....yang penting ada kata2 bid'ah + embel2 hasanah...comot langsung....

padahal ulama2 diatas gak pernah melakukannya sama sekali...bahkan mereka cenderung menentang nya....liat aj bagaimana Syeikh Al Izz menolak mentah2 saudaranya si Yasinan yaitu Nisyfu Sya'banan

Apa mungkin karena tiap yasinan disuguhi rokok makanya mereka jadi gak bisa berpikir jernih karena penuh asap rokok kali ya?

hmmm...sounds interesting

Sini balt....adu kepintaran yuk sama ane yang kepalanya sudah dipenuhi asap rokok sehingga tidak bisa berpikir jernih.....[rokok]

Preman_Cakung
December 15, 2008, 16:39
hahaha....
gue ketawa sendiri liat sampean.....
yg diperdebat kan cm tata cara. sampai kgak mau kalah
hehehe.....
Kapan sampai-Nya.
pada itu tujuan sampean?
klw itu? cukup sgt kgak lebih.
perbedaan tu seninya dunia,
udah biasa.
Masah kgak ngerti?
ya klw kgak ngerti? anggap sampean yg terpinter....
klw mau? t kasih piala bergilir nanti.
masah cm segitu aja mau terjadi perpecahan/ngotot. kgak malu ya? ma tetangga.
Semoga Allah memberikan pemahaman yg sempurna pd kita dan semoga semua mahluk didunia selalu berbahagia

Ente kurang tepat dalam memakai paradigma pikir dengan memandang rekan2 kita yang sedang mengasah pola pikir kritis dalam beragama bro....

rekan2 kita ini sedang menelaah agamanya...jadi tidak mengekor saja seperti apa yang di lakukan oleh orang tua kita terdahulu....bukankah ini yang Allah perintahkan untuk mengkaji kembali ke-islam-an kita....

kalaupun tidak ketemu sudut pandang atau titik temu bukan berarti ini tiada berguna atau tidak saling berkasih sayang....inilah pemuda2 kritis...dan ini juga adalah madrasah terbuka....

justru dengan seperti inilah kita mengerti satu batasan antara yang satu dengan yang lainnya.....bagi kobel dan lainnya saling mengasah hujjah....



bukankah ad-dunya madrasatul Kubra....[rokok]

Dunia itu madrasah terbesar

mudunpapat
December 15, 2008, 18:18
sapa mau ikut yasinan di rumah gw [joget]

tp ga ada rokoknya loh [rokok]

militiaman
December 16, 2008, 00:52
Dut gw ikut Yasinan ya, gw sekarang ngisep klobot...........[rokok]

soeyat
December 16, 2008, 01:11
Dut gw ikut Yasinan ya, gw sekarang ngisep klobot...........[rokok]
---
Wow rokok klobot....
cocok tu...
bikin fikiran yg tegang2 encer
hehehe....
apalagi ditambahi kopi susu...
pasti nikmat bngt

kapiten
December 17, 2008, 08:00
gue gak sempat kerumah elo ndut!!


:kakaka: [joget]

mudunpapat
December 17, 2008, 08:02
masih 2 minggu lg kok jix :hehe

Preman_Cakung
December 17, 2008, 09:13
Doakan saja Ndut.....aku Insya Allah bisa main ke rumah sampeyan....[rokok]




cuma harus ada rokoknya.....supaya akal saya gak jernih karena asap rokok....:kakaka:

cobalt_6982
December 20, 2008, 13:46
Ada sebuah hadits yang menyebutkan bahwa “Yasin lima quriat lahu”, artinya surat Yasin dibaca sesuai niat si pembaca. Yasin dapat dibaca saat kita mengharap rezeki Tuhan, meminta sembuh dari penyakit, menghadap ujian, mencari jodoh, dan lain-l
hadits mana tuh?
huhuhuhu

makin banyak aj hadits palsu nan dho'if yang dikeluarkan...
oi mas...dari segi matan saja sudah gak jelas...ditambah lage ketidakjelasan yang mentakhrijnya...apalage sanadnya tidak kamu cantumkan...

Akan tetapi, dalam praktik sehari-hari, akhir-akhir ini masyarakat sudah mentradisikan membaca Yasin dalam majelis-majelis kecil di kampung-kampung. Bahkan sudah lazim bacaan Yasin digabung dengan Tahlil. Tahlil dan Yasin telah menyatu menjadi bacaan orang-orang NU, dan selalu dapat kita dengar dari kelompok-kelompok kecil, kadang di siang hari, sore hari, malam hari, dan pagi hari.

Lebih dari itu, surat Yasin sudah menjadi kebiasaan masyarakat bila salah satu keluarga ada yang sakit kritis. Surat Yasin dibaca dengan harapan jika bisa sembuh semoga cepat sembuh, dan jika Allah menghendaki yang bersangkutan kembali kepada-Nya, semoga cepat diambil oleh-Nya dengan tenang.

Ada kalanya Yasin dibaca sendirian, ada juga bersamaan dengan tetangga yang lain. Yang jelas, orang yang sakit sudah ridak ada harapan lagi untuk sembuh karena tanda-tanda akan diakhirinya ke*hidupan ini sudah jelas. Dan surat Yasin menjadi pengantar kepulangannya ke hadirat Allah.

Dalil orang-orang NU membaca surat Yasin ini adalah, pertama dalam hadits riwayat Nasa'i bersumber dari Ma'qal bin Yasar al-Muzan mengatakan, Rasulullah SAW pernah bersabda:

اقْرَؤُا يس عِنْدَ مَوْتَاكُمْ

“Bacalah surat Yasin di samping saudaramu yang sedang sekarat.”

Hadits ini juga berlaku bagi yang masih hidup untuk membacakan Yasin untuk yang sudah meninggal. Persis seperti sabda Rasulullah: Laqqinu mautakum La ilaha illallah (Tuntunlah orang mati dengan kalimat La ilaha illallah). Dan termasuk dalam hadits ini adalah bacaan Yasin di atas makam. (Demikian penjelasan dalam kitab Kasyifatus Syubhat, hlm. 263)
buat yang saya bold pertama....
hadits lengkapnya bunyinya seperti ini kan...
Dari Ma`qal ibn Yasar, ia berkata: Nabi SAW bersabda: "Bacalah Yasin
untuk orang-orang yang telah (mendekati) mati dari kalian." Hadits ini
dikeluarkan oleh Abu Dawud, dalam kitab al-Jana'iz, bab (al-Qira'ah inda
al-Mayyit), hadits no: 3121, 3/191; Ibnu Majah, kitab al-Jana'iz, bab (Ma
Jaa'a fiimaa yuqaalu inda al-mariidh idza hadhara), hadits no: 1448, 1/466;
al-Baihaqy dalam Syu`ab al-Iman, diantaranya dalam bab 'Ta`zhim al-Qur`an',
pasal (Fi Fadha'il al-Suwar wa al-Ayat), hadits no: 2457. 2/478
dan sekali lage terbukti bahwa hadits ini tidak bisa menjadi dalil kalian..sebab....dari segi sanad mempunyai kelemahan... yaitu terletak pada Muhammad ibn Maki dan Abu Utsman...untuk Muhammd ibn Maki silahkan kamu lihat keterangannya dalam kitab At Taqrib oleh Al Hafiz Ibnu Hajar...sedangkan untuk Abu Utsman...dia Majhul (tidak diketahui)

Sehingga hadits ini tergolong lemah dan tidak boleh menjadi fadho'il amal (lemah terlalu lemah) dan sanadnya pun goncang

Untuk hadits yang saya bold kedua yaitu hadits yang berkata untuk menuntun orang dengan kalimat Laa Ilaha Illalahu memang ada...dan hadits ini punya jalur lainnya yang bisa diterima...akan tetapi tambahan kalimat
Dan termasuk dalam hadits ini adalah bacaan Yasin di atas makam
sama sekali saya tidak menemukannya dalam hadits tersebut....

Adapun perkataan yang mendekati atau senada dengan tambahan tersebut ialah perkataan Imam Asy Syafi'i yang menyuruh untuk dibacakan Al Qur'an satu atau dua surat atau bahkan mengkhatamkannya di depan makam....
Akan tetapi hal ini telah dibantah oleh Syekh Al Hilali dengan perkataan bahwa hal ini bukanlah perkataan Imam Asy Syafi'i...akan tetapi ini adalah perkataan murid2 beliau...Imam Asy Syafi'i sama sekali tidak pernah mengatakannya....(silahkan lihat buku Syekh Al Hilali tentang membaca surat Al Qur'an diatas makam atau kuburan)

Diriwayatkan juga: jika seorang muslim dan muslimah dibacakan surat Yasin ketika mendekati ajal maka akan diturunkan 10 malaikat berkat dari huruf-huruf Yasin yang dibaca. Para malaikat itu berdiri berbaris di samping yang sakit, membacakan shalawat dan istighfar kepadanya dan ikut menyaksikan saat dimandikan dan mengantarkan ia ke makam. (Tafsir Yasin lil Hamamy, hlm. 2)

Dalam kitab Audhaul Ma’ani Ahadits Riyadh as Shalihin disebutkan bahwa bacaan surat Yasin untuk yang sedang mendekati ajal akan menjadi bekal dia, seperti halnyaa ia membawa susu kental dalam perjalanan. Dan surat Yasin pada dasarnya dapat dibaca untuk seseorang setelah meninggal di rumah atau bahkan di makam. (Audhaul Ma’ani, hlm. 376)
Kalau kamu berkata...diriwayatkan...maka tolong disebutkan...siapa yang meriwayatkannya...dan kalau perlu kamu bawakan sanadnya....

Jangan kamu tuliskan disitu..."diriwayatkan"...tetapi kamu tidak menjelaskan siapa yang meriwayatkannya....dari segi isi saja sudah terlihat asingnya...

ditambah lage dengan perkataan Ibnu Mubarok dan Ibnu Qoyyim
Abdullah bin Mubarak berkata : Aku berat sangka bahwa orang-orang zindiq (yang pura-pura Islam) itulah yang telah membuat riwayat-riwayat itu (hadits-hadits tentang fadhilah surat-surat tertentu). Dan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah berkata : Semua hadits yang mengatakan, barangsiapa membaca surat ini akan diberikan ganjaran begini dan begitu SEMUA HADITS TENTANG ITU ADALAH PALSU. Sesungguhnya orang-orang yang memalsukan hadits-hadits itu telah mengakuinya sendiri. Mereka berkata, tujuan kami membuat hadits-hadits palsu adalah agar manusia sibuk dengan (membaca surat-surat tertentu dari Al-Qur'an) dan menjauhkan mereka dari isi Al-Qur'an yang lain, juga
kitab-kitab selain Al-Qur'an.

hahaha....
gue ketawa sendiri liat sampean.....
yg diperdebat kan cm tata cara. sampai kgak mau kalah
hehehe.....
Kapan sampai-Nya.
pada itu tujuan sampean?
klw itu? cukup sgt kgak lebih.
perbedaan tu seninya dunia,
udah biasa.
Masah kgak ngerti?
ya klw kgak ngerti? anggap sampean yg terpinter....
klw mau? t kasih piala bergilir nanti.
masah cm segitu aja mau terjadi perpecahan/ngotot. kgak malu ya? ma tetangga.
Semoga Allah memberikan pemahaman yg sempurna pd kita dan semoga semua mahluk didunia selalu berbahagia
gak jelas dh apa maksudnya....

cobalt_6982
December 20, 2008, 13:49
Sini balt....adu kepintaran yuk sama ane yang kepalanya sudah dipenuhi asap rokok sehingga tidak bisa berpikir jernih...
wah2...ada yang tersungging...eh tersinggung...wkwkwkwkw....kesian sama anak woi...ngerokok mulu....ckckckckc

sapa mau ikut yasinan di rumah gw

tp ga ada rokoknya loh
ckckckckck....

k3nj1
December 21, 2008, 05:52
Cobalt elo pasti beraliran firqoh wahaby/salafy,
Ini hadis Bukhari ramalan Nabi tentang akan munculnya orang-orang seperti elo :

"Akan keluar suatu kaum di akhir jaman* orang-orang muda berfaham buruk** Mereka banyak mengucapkan "khairil bariyah"*** (slogan yang baik). Iman mereka tidak melampaui kerongkongan mereka. Mereka keluar dari agama bagai meluncurnya anak panah dari busurnya" (HR Bukhari)

Penjelasan :
* keluar di akhir jaman : berarti bukan firqoh-firqoh klasik yg muncul di awal Islam dan sudah dikenal : Jabariyah, qadariyah, rafidah, dsb. melainkan di akhir jaman, atau firqoh yg munculnya paling belakangan di abad 18.

** berfaham buruk : pemahamannya dangkal, literalis, menerapkan dalil untuk orang kafir kepada Muslim, suka menggeneralisir tanpa memilah : semua perkara baru bid'ah, semua tasawuf sesat.

*** Khairil bariyah : slogannya (seolah) bagus : pemurnian Islam, mengkaji langsung kpd Qur'an Hadis tapi mengabaikan metode ushul fiqih, anti bid'ah, anti tahayul, khurafat, anti taqlid (melarang bermazhab)

siapa lagi yang dimaksud kalo bukan orang-orang wahabi/salafy : firqoh yg muncul paling akhir, pemahamannya buruk, tapi slogannya seolah-olah yg paling baik.

Masih mendingan orang-orang sufi, gak banyak omong tapi ibadahnya kuat.

syahrul husni
December 22, 2008, 03:12
kwakkakkkakk

mudunpapat
December 22, 2008, 06:31
Cobalt elo pasti beraliran firqoh wahaby/salafy,
Ini hadis Bukhari ramalan Nabi tentang akan munculnya orang-orang seperti elo :

"Akan keluar suatu kaum di akhir jaman* orang-orang muda berfaham buruk** Mereka banyak mengucapkan "khairil bariyah"*** (slogan yang baik). Iman mereka tidak melampaui kerongkongan mereka. Mereka keluar dari agama bagai meluncurnya anak panah dari busurnya" (HR Bukhari)

Penjelasan :
* keluar di akhir jaman : berarti bukan firqoh-firqoh klasik yg muncul di awal Islam dan sudah dikenal : Jabariyah, qadariyah, rafidah, dsb. melainkan di akhir jaman, atau firqoh yg munculnya paling belakangan di abad 18.

** berfaham buruk : pemahamannya dangkal, literalis, menerapkan dalil untuk orang kafir kepada Muslim, suka menggeneralisir tanpa memilah : semua perkara baru bid'ah, semua tasawuf sesat.

*** Khairil bariyah : slogannya (seolah) bagus : pemurnian Islam, mengkaji langsung kpd Qur'an Hadis tapi mengabaikan metode ushul fiqih, anti bid'ah, anti tahayul, khurafat, anti taqlid (melarang bermazhab)

siapa lagi yang dimaksud kalo bukan orang-orang wahabi/salafy : firqoh yg muncul paling akhir, pemahamannya buruk, tapi slogannya seolah-olah yg paling baik.

Masih mendingan orang-orang sufi, gak banyak omong tapi ibadahnya kuat.
ckckckckckck .........

Preman_Cakung
December 22, 2008, 06:40
^ wakakakakak.......:kakaka:

kr3kzz
December 22, 2008, 07:00
wedeeeew :kakaka: :lol:

kapiten
December 22, 2008, 08:42
huahahahahaha...... :kakaka: [joget]

cobalt_6982
December 22, 2008, 13:04
Cobalt elo pasti beraliran firqoh wahaby/salafy,
Ini hadis Bukhari ramalan Nabi tentang akan munculnya orang-orang seperti elo :

"Akan keluar suatu kaum di akhir jaman* orang-orang muda berfaham buruk** Mereka banyak mengucapkan "khairil bariyah"*** (slogan yang baik). Iman mereka tidak melampaui kerongkongan mereka. Mereka keluar dari agama bagai meluncurnya anak panah dari busurnya" (HR Bukhari)

Penjelasan :
* keluar di akhir jaman : berarti bukan firqoh-firqoh klasik yg muncul di awal Islam dan sudah dikenal : Jabariyah, qadariyah, rafidah, dsb. melainkan di akhir jaman, atau firqoh yg munculnya paling belakangan di abad 18.

** berfaham buruk : pemahamannya dangkal, literalis, menerapkan dalil untuk orang kafir kepada Muslim, suka menggeneralisir tanpa memilah : semua perkara baru bid'ah, semua tasawuf sesat.

*** Khairil bariyah : slogannya (seolah) bagus : pemurnian Islam, mengkaji langsung kpd Qur'an Hadis tapi mengabaikan metode ushul fiqih, anti bid'ah, anti tahayul, khurafat, anti taqlid (melarang bermazhab)

siapa lagi yang dimaksud kalo bukan orang-orang wahabi/salafy : firqoh yg muncul paling akhir, pemahamannya buruk, tapi slogannya seolah-olah yg paling baik.

Masih mendingan orang-orang sufi, gak banyak omong tapi ibadahnya kuat.
GYAHAHAHAHAHAHA....

lucuuuuuuuuuu....wkwkwkwkw

asli...gak bisa nahan ngakak gw sekalipun gw lage OL di warnet...wkwkwkwkwk

Perasaan gw udh pernah bilang yah...bahwa gw itu hanyalah menimbang suatu peristiwa berdasarkan hukum2 yang ada...dan gw gak pernah bilang diri gw aliran A atau firqah A atau firqah B...atau lainnya...

Posisi gw dalam membahas suatu thread hanyalah sebagai penganalisa atau terkadang sebagai pembanding....contoh pada thread yasinan ini...

Aq selalu mengajukan pertanyaan "dalilnya mana?"...kenapa demikian?
Karena aq menghendaki diriku menjadi pembanding dengan kalian...kalian bawakan dalil...aq syarah...demikian seterusnya...

Nah...lantas kalau demikian kalian langsung mengaitkan aq dengan suatu golongan tertentu...maka pikiran kalian sangat picik sekali....

Kamu lihat saja dalil serta pendapat para ulama yang aq bawakan....Kalo memang aq wahabi atau salafy menurut kalian...tentunya aq hanya membawakan pendapat dari Syekh Ibnu Wahab, atau Syekh bin Baz, atau Syekh Utsaimin, atau ulama2 lain yang kalian masukkan kedalam golongan ulama2 wahabi atau salafy saja....

Akan tetapi nyatanya?
Pendapat 4 imam mahzab jg aq bawa...Ibnu Hajar, Ibnu Taimiyah, Imam Bukhari dan Muslim, Ibnu Qoyyim Asy Syatibi, Ibnu Rojab dan Ulama2 lain yang hidup pada era sebelum wahabi aq bawakan jg....

Adapun kenapa aq sering menyebut dan membawakan fatwa Syekh bin Baz, Syekh Al Utsaimin, Syekh Albani, dan ulama lain yang kalian golongkan kedalam aliran wahabi...itu karena menurutku fatwa mereka sreg sebagai pembanding....dan ulama2 tersebut hidup pada masa kini dan banyak tau tentang keadaan umat masa sekarang...
Terlebih ulama2 tersebut menerapkan apa yang kamu sebutkan dibawah ini...walaupun kamu sebutkan keliru
ushul fiqih, anti bid'ah, anti tahayul, khurafat, anti taqlid (melarang bermazhab)
Ulama2 yang kamu golongkan kedalam wahabi siapa bilang tidak menerapkan ushul fiqih?
huahuahuhauha....
Mereka jg menerapkan ushul fiqih koQ...
Kalo kamu berkata bahwa mereka tidak menerapkan ushul fiqih...coba tunjukkan kepadaku...

Kemudian anti bid'ah...
Umat Islam jelas harus anti bid'ah...Rosulullah sendiri yang berkata demikian....karena bid'ah membawa kepada neraka....adapun ulama2 yang kamu golongkan kedalam wahabi berbeda dengan ulama kamu dan kamu sendiri dalam menafsirkan apakah bid'ah bercabang menjadi hasanah dan sayyiah atau tidak....

Kalian kan berkata ada bid'ah hasanah dan sayyiah...oleh karena itu aq mengambil fatwa ulama2 tersebut sebagai pembanding atas kalian

Kemudian anti tahayul dan kurafat...jelas Islam harus anti terhadap ini....karena 2 hal ini membuat diri kita "timid" kepada selain Allah....dan bisa jadi nantinya malah melanggar sabda Rosulullah....

Contoh begini...
Misalkan ada burung bunyi tengah malam...dan kita mendengarnya...
Orang Islam yang suka terhadap kurofat atau tahayul...pasti akan segera terlintas dalam hatinya bahwa ini adalah suatu pertanda...apakah itu baik atau buruk...
Hal ini jelas bertentangan dengan sabda Rosulullah tentang larangan bertatoyyur...

Kemudian anti taqlid...kenapa kamu selipi dibelakang pake tanda kurung kata2 anti bermahzab?
bertaqlid dengan bermahzab itu berbeda....

Kalau bertaqlid...maka baik pendapat seorang imam salah atau benar dia tetap pegang pendapat tersebut...
Nah sekarang...adakah Rosulullah pernah katakan kepada mu bahwa diperbolehkan berpegang pada pendapat yang salah?
Rosulullah hanya berkata 1 pahala bagi yang ijtihad nya salah dan 2 pahala bagi yang ijtihad nya benar....

tapi Rosulullah tidak berkata 1 pahala bagi yan mengikuti ijtihad yang salah padahal keterangan yang benar telah ada...

Adapun bermahzab...maka seseorang itu memegang pendapat sang imam sebagai sebuah jalan menganalisa dan mengerti sesuatu....dan orang yang bermahzab maka ketika dia temukan pendapat sang imam salah...dia tidak ikuti dia....dan dia ambil yang benar...

Karena 4 imam mahzab telah sepakat untuk mengambil dalil dan pendapat yang benar ketika dalil dan pendapat sang imam salah....

hal ini telah dicontohkan oleh murid2 terdekat para imam mahzab itu sendiri....tidakkah kalian belajar dari mereka?

kamu membawakan hadits...tapi anehnya tafsir seperti itu saya baru lihat keluar dari mulut kamu saja....huahuahuah

dan terlebih lage saya maw komentar terhadap perkataan mu bahwa sufi gak banyak omong tapi ibadah kuat...mestinya kamu cek tuh...ibadah nya sufi kebanyakan berdasar hadits shahih apa gak?

sebetulnya saya gak maw membahas masalah sufi...akan tetapi karena kamu memulainya...yah baiklah....mari kita buka tirainya........

syahrul husni
December 22, 2008, 13:49
Kitab ibnu taimiah berjudul majmuk fatawa jilid 24 pada mukasurat 324. Ibnu taimiah ditanya mengenai seseorang yang bertahlil, bertasbih,bertahmid,bertakbir dan menyampaikan pahala tersebut kepada simayat muslim lantas ibnu taimiah menjawab amalan tersebut sampai kepada si mayat dan juga tasbih,takbir dan lain-lain zikir sekiranya disampaikan pahalanya kepada si mayat maka ianya sampai dan bagus serta baik.

cobalt_6982
December 22, 2008, 14:06
Kitab ibnu taimiah berjudul majmuk fatawa jilid 24 pada mukasurat 324. Ibnu taimiah ditanya mengenai seseorang yang bertahlil, bertasbih,bertahmid,bertakbir dan menyampaikan pahala tersebut kepada simayat muslim lantas ibnu taimiah menjawab amalan tersebut sampai kepada si mayat dan juga tasbih,takbir dan lain-lain zikir sekiranya disampaikan pahalanya kepada si mayat maka ianya sampai dan bagus serta baik.
Yah...karena billingku maw abiz...jadi sedikit dulu aj dh

ente udh pernah baca majmu' fatawa belom?
huhuhuhuh

hati2...jangan cuma mengambil sepotong2 begitu....sebab itu ada kelanjutannya....coba dh tolong kamu bawakan kelanjutannya....huhuhuhu

Nah...berhubung waktunya singkat...logikanya begini saja...
Jikalau memang Ibnu Taimiyah memperbolehkan hal yang demikian...yaitu mengirim pahala tahlil, tahmid, takbir, dsb...kenapa pula Ibnu Taimiyah tidak mengumpulkan orang lantas melakukan tahlilan sebagaimana yang kalian lakukan?

huhuhuhu....

lagepula disitu disebutkan dengan jelas "seseorang"...bukan "beberapa orang digabung menjadi satu kelompok"

bisa jadi pertanyaan itu mengarahkan kata "seseorang" kepada anak sang mayit...kalo demikian halnya ini memang langsung bisa diterima....maka Ibnu taimiyah tidak salah berfatwa seperti itu

Maka dari itu...coba dong kamu bawakan lengkapnya...biar kita lihat bareng2....siapa yang dimaksud "seseorang" disitu...

mercury_man
December 22, 2008, 14:19
agama kok dipake buat bahan lelucuan ya.... ::mikir::

Gw jadi ragu, ini forum islam apa forcel ya... isinya orang saling menghina, mentertawakan dan menjelekkan semua... ::sedih::

:kakaka:

mudunpapat
December 22, 2008, 14:34
^ gimana ya kabar ukhuwah

[rokok]

k3nj1
December 22, 2008, 16:17
Perasaan gw udh pernah bilang yah...bahwa gw itu hanyalah menimbang suatu peristiwa berdasarkan hukum2 yang ada...dan gw gak pernah bilang diri gw aliran A atau firqah A atau firqah B...atau lainnya...



Lo mau Taqiyah, menyembunyikan yang sebenarnya ? kayak orang Syiah ?

Lo mau mbantah kayak apa, udah kebaca lo itu WAHABI/SALAFY.

Semakin terbukti lo gembok thread mengapa saya keluar dari wahabi/salafy.

Lo gak pingin "paham buruk" Wahabi/salafy ditelanjangi kan ?

Orang-orang wahabi/salafy kayak Lo tuh udah diramal oleh hadis Nabi :

"Akan keluar suatu kaum di akhir jaman orang-orang muda berfaham buruk Mereka banyak mengucapkan "khairil bariyah" (slogan yang seolah baik). Iman mereka tidak melampaui kerongkongan mereka. Mereka keluar dari agama bagai meluncurnya anak panah dari busurnya" (HR Bukhari)

soeyat
December 23, 2008, 01:55
agama kok dipake buat bahan lelucuan ya.... ::mikir::

Gw jadi ragu, ini forum islam apa forcel ya... isinya orang saling menghina, mentertawakan dan menjelekkan semua... ::sedih::

:kakaka:

---
nambahin....
Gue malu atas hal ini....
biasanya orang yg uda di katakan ngerti
kgak seperti ini.....
aq jd ragu...?
apa cm penampilan luarnya aja...?
gue harap kgak seperti itu....
biasanya orang yg udah memahami agama tidak akan merugikan orang atau mencela orang...
Berdebat sich boleh, tp kgak seperti ini...
gue yakin sampean lebih ngerti dari gue yg orang gunung dan awem lg.

SEMOGA ALLAH MENGHILANGKAN SEGALA KEKERUHAN DI HATI INI...

cobalt_6982
December 23, 2008, 05:43
Lo mau Taqiyah, menyembunyikan yang sebenarnya ? kayak orang Syiah ?

Lo mau mbantah kayak apa, udah kebaca lo itu WAHABI/SALAFY.

Semakin terbukti lo gembok thread mengapa saya keluar dari wahabi/salafy.

Lo gak pingin "paham buruk" Wahabi/salafy ditelanjangi kan ?

Orang-orang wahabi/salafy kayak Lo tuh udah diramal oleh hadis Nabi :

"Akan keluar suatu kaum di akhir jaman orang-orang muda berfaham buruk Mereka banyak mengucapkan "khairil bariyah" (slogan yang seolah baik). Iman mereka tidak melampaui kerongkongan mereka. Mereka keluar dari agama bagai meluncurnya anak panah dari busurnya" (HR Bukhari)
terserah kata kamu....

kamu maw panggil aq salafy, atau wahaby, atau syi'ah, atau keras kepala, atau rafidhi, atau sebagainya dan sebagainya, bahkan kamu cap aq kafir sekalipun...bagiku tidak masalah....

Sebab aq mah apa adanya aj....

Kalo kamu memang maw berdiskusi...yang ilmiah dong...jangan maen kata2an begini....wkwkwkwkwk

apalage kalo kamu ketemu yang namanya Chan Lee La...pasti kamu kebakaran jenggot nyebut dia kafir
wkwkwkwkwkwkwk....

cobalt_6982
December 23, 2008, 05:44
nambahin....
Gue malu atas hal ini....
biasanya orang yg uda di katakan ngerti
kgak seperti ini.....
aq jd ragu...?
apa cm penampilan luarnya aja...?
gue harap kgak seperti itu....
biasanya orang yg udah memahami agama tidak akan merugikan orang atau mencela orang...
Berdebat sich boleh, tp kgak seperti ini...
gue yakin sampean lebih ngerti dari gue yg orang gunung dan awem lg.

SEMOGA ALLAH MENGHILANGKAN SEGALA KEKERUHAN DI HATI INI...
seharusnya ente teriak begini ke orang2 yang ngasih gelar2 bagus ke aq tuh....wkwkwkwkwk

berarti gelar ku dah nambah 1 lage
yaitu

Cobalt As Salafy....huahuahuahuah

Preman_Cakung
December 23, 2008, 05:53
Setahu gua ini thread tentang surat Yasin.....kok malah jadi njelentrehin masalah di luar itu.....:kakaka:




tarik diri bel....tarik diri.....
orang itu harus tahu kapan tarik dan ulur.....seperti main layangan....:kakaka:

walau gua yakin semua ada hikmah dan manfaatnya.....dan setahu gua, lo juga harus bijak terhadap kritik yang dilontarkan....berkaca terhadap diri lebih baik.....muhasabah terhadap diri juga terbaik dalam hidup...

walau niat lo baik....tidak semua akan menjadi baik...bukankah Hikayat Lukmanul Hakim sudah lo baca...bukankah Imam Syafi'i juga mendengarkan orang yang berada di bawahnya, dan menanggapinya dengan seksama ....masak gak tahu hikmahnya dari hikayat tersebut.....:kakaka:

hehe....kebenaran akan bernama kebenaran bel....santai....santai....bukankah lo menganggap Syaikh Nashrudin Al-Albani seorang Muhadits mumpuni....ya sudah genggam saja....
akan menjadi pemaksaan kehendak klo kebenaran dipaksakan.....:kakaka:

Karena saudara2 kita di fais melihat lo terlalu Syaikh Al-Albani un sich dan tidak memandang pendapat lainnya....

Genggam saja yang lo anggap benar....klo dipaksakan akan jadi premature....
sesuatu yang premature akan berakibat lebih Mudlarat ketimbang Maslahatnya....:kakaka:

cobalt_6982
December 23, 2008, 06:24
Setahu gua ini thread tentang surat Yasin.....kok malah jadi njelentrehin masalah di luar itu.....

tarik diri bel....tarik diri.....
orang itu harus tahu kapan tarik dan ulur.....seperti main layangan....

walau gua yakin semua ada hikmah dan manfaatnya.....dan setahu gua, lo juga harus bijak terhadap kritik yang dilontarkan....berkaca terhadap diri lebih baik.....muhasabah terhadap diri juga terbaik dalam hidup...

walau niat lo baik....tidak semua akan menjadi baik...bukankah Hikayat Lukmanul Hakim sudah lo baca...bukankah Imam Syafi'i juga mendengarkan orang yang berada di bawahnya, dan menanggapinya dengan seksama ....masak gak tahu hikmahnya dari hikayat tersebut.....

hehe....kebenaran akan bernama kebenaran bel....santai....santai....bukankah lo menganggap Syaikh Nashrudin Al-Albani seorang Muhadits mumpuni....ya sudah genggam saja....
akan menjadi pemaksaan kehendak klo kebenaran dipaksakan.....

Karena saudara2 kita di fais melihat lo terlalu Syaikh Al-Albani un sich dan tidak memandang pendapat lainnya....

Genggam saja yang lo anggap benar....klo dipaksakan akan jadi premature....
sesuatu yang premature akan berakibat lebih Mudlarat ketimbang Maslahatnya...
wkwwkwkwkwk....

oi man...tuh ane kan diatas udh bilang...bahwasanya silahkan...maw kritik aq apa dan apa...bahkan maw sampe katakan kafir jg silahkan...gak ngaruh dh....

toh loe liat kan cara gw bermain disini?
gw cuma menimbang hukum dan membuat sebuah perbandingan diantara hukum2 yang ada...sehingga bisa terlihat mana yang harus diambil dan tidak...

Kalau misalkan gw disebut tidak mendengarkan pendapat...gw gak bakalan layani mereka dalam hal pensyarahan hadits man....huhuhuhu

gw gak pernah memaksa seseorang untuk mengikuti pendapat Syeikh Albany atau Syeikh2 lainnya koQ...gw jg gak terpaku pada fatwa ulama2 yang dianggap wahabi....

mercury_man
December 23, 2008, 07:10
mao nanya nih, ekspresi wajah "wkwkwkwkwk" dan "huhuhuhu" atau "huahuahuahuah" itu kayak gimana sih? :D

soeyat
December 23, 2008, 07:11
seharusnya ente teriak begini ke orang2 yang ngasih gelar2 bagus ke aq tuh....wkwkwkwkwk

berarti gelar ku dah nambah 1 lage
yaitu

Cobalt As Salafy....huahuahuahuah
,,,,,,,,,,,,
Gelar apaan ket?

crew147
December 23, 2008, 07:19
aduh ane masuk sini mau belajar tapi guru2 nya pada perang tanding aliran2
nga seru ah

cobalt_6982
December 23, 2008, 07:30
mao nanya nih, ekspresi wajah "wkwkwkwkwk" dan "huhuhuhu" atau "huahuahuahuah" itu kayak gimana sih?
wkwkwkwkwkwk....tinggal ketik aj ekspresi nya...wkwkwkwkw

gw pake wkwkwkwkwk coz gw ribet kalo harus cari ekspresi2 ketawa...wkwkwkwkw

cobalt_6982
December 23, 2008, 07:33
Gelar apaan ket?
oh iy...soeyat belom tau yah....huhuhu

kupikir dah tau....^^

aduh ane masuk sini mau belajar tapi guru2 nya pada perang tanding aliran2
nga seru ah
huhuhu....justru itu...bukannya malah bagus...coz kamu bisa nyari mana guru yang sesuai dengan apa yang kamu yakini....

kalo aq sih berusaha untuk fair....siapa saja boleh belajar bareng dengan ku....toh ini sebagai sarana menuntut ilmu....

kalo disebut aliran...aq gak ada aliran tersendiri koQ...aliran ku yah aliran Islam...huhuhuhu

aq tidak maw membuat diriku terkotak2 oleh suatu nama atau mahzab...

crew147
December 23, 2008, 07:48
ampun ustad cobalt ane nga ikut2an loh
bagus sih kalo banyak orang menjelas kan surat yasin dari berbagi sudut pandangan mrk sehingga ane yg di bawah ini bisa melihat dari berbagai sudut
tapi yg bikin mata ane sepet nih sindir2an nya itu loh jadi kek spt nonton sinetron deh rasa nya :lol:

mercury_man
December 23, 2008, 07:48
wkwkwkwkwkwk....tinggal ketik aj ekspresi nya...wkwkwkwkw

gw pake wkwkwkwkwk coz gw ribet kalo harus cari ekspresi2 ketawa...wkwkwkwkw

justru itu, balt...
kesannya jadi seakan mengejek dan merendahkan.. :nono

lain kalo pake smileys, meski sama2 ketawa, tapi lebih menghibur, ramah dan bersahabat. ada unsur candanya, meski memang ga sedang becanda. jadi diskusi yg panas ga menjadi semakin panas...

demikian sedikit saran... :hehe

mank
December 23, 2008, 09:01
EGO BUKAN DI PELIHARA TP DI TUNDUHKAN

klo gak ngerti?
ya belajar lg
hehehe....

cobalt_6982
December 23, 2008, 12:42
ampun ustad cobalt ane nga ikut2an loh
bagus sih kalo banyak orang menjelas kan surat yasin dari berbagi sudut pandangan mrk sehingga ane yg di bawah ini bisa melihat dari berbagai sudut
tapi yg bikin mata ane sepet nih sindir2an nya itu loh jadi kek spt nonton sinetron deh rasa nya
wkwkwkwkw...perasaan ane gak ngomelin ente...koQ minta ampun...wkwkwkwk

tenang aj...ane bukan orang yang galak koQ...

yah...kalo dikaw merisaukan yang sindiran2...biarin aj lah...anggap angin lalu...

adapun kalau dikaw menemukan aq menyindir seseorang...yah aq mohon maaf saja...mungkin itu kelepasan...huahuhauhuahuah

justru itu, balt...
kesannya jadi seakan mengejek dan merendahkan..

lain kalo pake smileys, meski sama2 ketawa, tapi lebih menghibur, ramah dan bersahabat. ada unsur candanya, meski memang ga sedang becanda. jadi diskusi yg panas ga menjadi semakin panas...

demikian sedikit saran...
saran diterima...cuma aq tetap gak maw...coz repooottt....

>.<

n dari dulu kan style nya cobalt dikenal dengan ketawa nya itu yang ada khas tersendiri....wkwkwkwkwk....huuhuhuh...hihihihi... .dan yang paling legendaris...GYAHAHAHAHAHAH

militiaman
December 24, 2008, 01:22
Gimana Bal, ente udah berhasil belon ngeberantas yasinan di kampung deket STAN ?

mercury_man
December 24, 2008, 02:30
elo kena berantas dong, mil.... :hehe

militiaman
December 24, 2008, 03:50
yoi merc, makanya gw tanya dulu, biar gw bisa cabut dulu.....[rokok]

kr3kzz
December 24, 2008, 04:27
jgn di cabut, cukur aja biar gak sakit :kakaka:

crew147
December 24, 2008, 05:11
sukron ustad cobalt
jgn galak galak eui kalo dakwah ntar orang na pada kabur eui
walau bener tapi maksa nanti terlihat negatip loh
ah ane apa sih omong begini ada di depan ustad ::brow::::brow::
ajarin ane dong tad , ane disini mau berguru nih

mercury_man
December 24, 2008, 06:11
sunnahnya dicabut lho, sek.... :kakaka:

kr3kzz
December 24, 2008, 06:19
kl dicukur bid'ah ya?? :eek: :kabur: :kakaka:

cobalt_6982
December 26, 2008, 06:02
Gimana Bal, ente udah berhasil belon ngeberantas yasinan di kampung deket STAN ?
sebagian berhasil...sebagian tidak...

yang tidak berhasil yah karena orang2 yang bertaklid buta kepada pak kyai fulan...terus kyai fulan kami ajak diskusi....eh dia ngomong sama temen2nya bahwa dia di keroyok...wkwkwkwkwkwk....

terus ngomong katanya kami dapet bantuan dana dari zionis amerika...ini yang paling bikin kami ngakak....wkwkwkwkwk....kalo misalkan gw dapet bantuan dana dari amerika...ngapain gw sekolah di STAN...langsung aj gw sekolah di princeton...wkwwkwkw

sukron ustad cobalt
jgn galak galak eui kalo dakwah ntar orang na pada kabur eui
walau bener tapi maksa nanti terlihat negatip loh
ah ane apa sih omong begini ada di depan ustad
ajarin ane dong tad , ane disini mau berguru nih
sekarang begini mas...
ane disini ngomong gak maksa koQ...
terserah...maw ente akhirnya maw nafsi2 aj...ato maw ikutin aq yah terserah...

jadi bagiku yah gak masalah...
Kalaupun ente maw berguru...jangan kepada ku....karena aq selamanya tetap sebagai pencari ilmu sama seperti perkataan Imam Malik...

Akan tetapi...kalo ente maw bertanya tentang sesuatu...selama aq bisa menjawabnya Insya Allah akan aq jawab....

kapiten
December 27, 2008, 06:21
ah sialan ini thread tentang ego modie ya??
kirain tentang Yasin.


malu tuh dilihat tetangga sebelah!!

kapiten
December 27, 2008, 06:23
balt tak bisakah dirimu lebih dewasa dari dirimu saat ini???


:kakaka: [joget]


ini pertanyaan dan kritik lho!!bukan bermaksud untuk menyudutkan. :lol:

mank
December 27, 2008, 10:42
Males...
Gara2 orang sok pintar

militiaman
December 27, 2008, 15:16
Supaya gak males, gimana kalo Mank , kapiten & semua orang yg gedawamin surah Yasin, mau ceritaain pengalamannya di tred ini tentang ngamalin surah yasin dalam hidupnya ?

militiaman
December 27, 2008, 15:26
Pengalaman gw, ketika bokap diopname & gak sadar lama, pada saat gw jaga, gw coba bacain surah yasin & ayat kursy sebanyak2 nya [+/- 2jam] sambil gw pegang kepala bokap trus gw mohon sama Allah SWT, smoga bokap cepat siuman lagi & sehat, alhammdulillah bokap langsung siuman (gw hadiahin surah yasin & ayat kursy buat kesembuhan bokap karena Allah SWT], itu salah satu pengalaman gw.

AlfaOmega
December 27, 2008, 23:20
balt tak bisakah dirimu lebih dewasa dari dirimu saat ini???


:kakaka: [joget]


ini pertanyaan dan kritik lho!!bukan bermaksud untuk menyudutkan. :lol:


kedewasaan bisa dimulai dengan

1. belajar berdiskusi dengan santun, lembut dan sabar.
Tanpa memaksakan kehendak.

2. Menghormati orang lain dan pendapat orang lain.
Sebagaimana kita ingin dihormati dan dihargai orang lain.



Ini bukan ngajarin dan menasehatin, lho....
Hanya, sharing aja karna guwe juga sedang belajar menjadi orang dewasa.
[rokok]

cobalt_6982
December 28, 2008, 12:51
ah sialan ini thread tentang ego modie ya??
kirain tentang Yasin.


malu tuh dilihat tetangga sebelah!!

yang ngebuat bukan gw kali kap...

heheheh...jadi bukan ego gw....

adapun gw...ikut turun tangan disini...kan ada sebab nya...huhuhuhu

cobalt_6982
December 28, 2008, 12:55
balt tak bisakah dirimu lebih dewasa dari dirimu saat ini???

ini pertanyaan dan kritik lho!!bukan bermaksud untuk menyudutkan.
lemparkan kritik mu ini kepada orang2 yang telah memberikan ku gelar kap....aq kan bicara masalah hukum...bukan masalah golongan dan sebagainya...

adapun kalau kalian tidak suka...maka ajukan berdasarkan hukum pula...seperti si syahrul...
dia itu kalo misalkan satu dalil dah gw syarah...dia keluarin dalil lain...yang bisa memperkuat hujjah dia...ini yang gw suka....

Bukan orang2 yang justru malah menghina2....

kedewasaan bisa dimulai dengan

1. belajar berdiskusi dengan santun, lembut dan sabar.
Tanpa memaksakan kehendak.

2. Menghormati orang lain dan pendapat orang lain.
Sebagaimana kita ingin dihormati dan dihargai orang lain.



Ini bukan ngajarin dan menasehatin, lho....
Hanya, sharing aja karna guwe juga sedang belajar menjadi orang dewasa
jazakallohu khoiron

mudunpapat
December 28, 2008, 15:33
balt, inget janjimu

[rokok]

cobalt_6982
December 28, 2008, 15:38
inget ndut....easy lah...

toh tugas gw di thread yasinan dah selesai koQ...dalil yang mendukung yasinan dah keluar semua...dan gw udh syarah....

jadi udh selesai kayaknya....

mercury_man
December 30, 2008, 12:55
gw kagak ngarti deh.... ::mikir::

maksudnya apa sih, ad dalil, di syarah... ada dalil di syarah...

apa menjamin bahwa syarah yg dikeluarkan bisa menisbikan dalilnya?

gimana kalo syarahnya disyarah balik? mumet kan?

:kakaka:

militiaman
December 30, 2008, 15:53
ucapan mercury_man, amiin...........

mercury_man
December 30, 2008, 15:59
kok di-amini, mil..??

maksudnya apa dong? :kakaka:

militiaman
December 30, 2008, 16:21
maksudnya selama yasinan itu bisa meningkatkan keimanan ane, masalah hukum biar aja itu urusan ane sama Allah SWT, jadi ngak perlu mumetkan.

kucing_kawin
December 30, 2008, 17:17
VIVA WAHABI

YANG LAIN KAGA BENER TUH PADA NGACO & SESAT

YG BENER TUH ISLAM SALAFI

[rokok]

militiaman
December 30, 2008, 22:18
emang gue pikirin...............[rokok]

mercury_man
December 31, 2008, 09:10
Islam kok pake salafi...

Islam ya Islam aja...

:haha

AlfaOmega
January 01, 2009, 23:38
VIVA WAHABI

YANG LAIN KAGA BENER TUH PADA NGACO & SESAT

YG BENER TUH ISLAM SALAFI

[rokok]



Saat guwe ngaji tahun baru hijrah...

Ada dua orang khawarij...
satu khawarij kelas teri, dan satu lagi khawarij kelas kakap.
mereka berhaji, dan memasuki padang arafah yg sudah dipenuhi jamaah haji dari manca negara....

Khawarij Kelas Teri: Subhanallah.... Banyak banget jamaah haji. Sehingga padang arafah jadi jadi lautan mahnusia.

Khawarij Kelas Kakap: Subhanallah.... banyak banget jamaah haji. Tetapi mereka semua ahli neraka. Karna hajinya gak bener. Mereka tidak seperti kita.

Khawarij kelas teri: Seberapa luaskah surga Allah SWT ?

Khawarij kelas kakap: seluas 7 kali langit dan bumi.

Khawarij kelas teri: Kalau begitu, aku ikut mereka aja.... Gak apa-apa aku masuk neraka. Daripada ikut di syurga lu yg sempit, dan berkumpul dengan orang macam engkau.




wallahu'alam

crew147
January 02, 2009, 01:27
ah bener ntuh
ane males banget deh ikut ini itu jadi ane yg sederhana aja dah ISLAM doang .
kan ALLAH juga bilang berdoalah kpd KU dgn penuh harap dan cemas jadi jgn sok pd dong masuk surga krn nabi aje nga sepede itu .

cobalt_6982
January 02, 2009, 06:11
gw kagak ngarti deh....

maksudnya apa sih, ad dalil, di syarah... ada dalil di syarah...

apa menjamin bahwa syarah yg dikeluarkan bisa menisbikan dalilnya?

gimana kalo syarahnya disyarah balik? mumet kan?

loh....kalo di syarah balik...yah silahkan...

asal kuat aj mas....

kalo aq ada kesalahan dalam mensyarah...aq justru berterima kasih kalau dibenarkan...yang jelas...asal hujjah nya kuat...

maksudnya selama yasinan itu bisa meningkatkan keimanan ane, masalah hukum biar aja itu urusan ane sama Allah SWT, jadi ngak perlu mumetkan.
itu bagi kamu...
jadi kalo menurut pribadi kamu begitu...yah silahkan...aq jg tidak keberatan koQ...

akan tetapi ini kan forum umum...jadi boleh dong aq berkomentar tentang hukum2nya?

huhuhuhu

VIVA WAHABI

YANG LAIN KAGA BENER TUH PADA NGACO & SESAT

YG BENER TUH ISLAM SALAFI
woi....parah kaw

cobalt_6982
January 02, 2009, 06:14
kebanyakan OOT....

jadi aq closed dolo..........

kalo maw dibuka lage....PM Aq...huhuhuhuhu