View Full Version : KABAR dari RUMAH DUNIA by GOLA GONG







begawan
March 20, 2003, 03:03
salut sama penulis satu ini, dia ngebikin sebagian rumhanya untuk taman bacaan gratis untuk anak2 sekitar lingkungannya, kegiatannya beragam.
baca aja laporannya :D
org gini yg dibutuhkan dunia :D

begawan
March 20, 2003, 03:10
Junal pustakaloka RUMAH DUNIA

Edisi September 2002

Oleh Gola Gong



Wisata Tulis Di Pustakaloka RUMAH DUNIA:

OTAK TADINYA KOSONG, KINI SUDAH TERISI

Malam Minggu yang lalu (21/9), saya kedatangan dua orang tamu dari Ciloang, kampung tempat kami tinggal. Yaitu Pak Pandi (Ketua Pemuda Kampung), dan Pak Chudori (dia mengaku sebagai orang yang cinta pada kesenian). Sehari-hari kami sering berpapasan di jalan; saling sapa dan saling senyum. Bahkan dengan Pak Pandi, saya sering satu bus jika berangkat ke Jakarta. Pak Pandi bekerja sebagai penjaga toko di kawasan Mangga Dua, Jakarta. "Apakah sekedar bersilaturahmi, atau ada keperluan penting?" begitu saya mengawali pembicaraan. Mereka menjawab, "Silaturahmi dan membicarakan pustakaloka RUMAH DUNIA!"

begawan
March 20, 2003, 03:11
BERISI
Jujur saja, saya merasa malu kedatangan mereka. Harusnya saya sebagai pendatang di kampung mereka, sowan terlebih dahulu. Saya keduluan. Sudah lama saya dan istri merencanakan akan sowan ke orang-orang kampung tentang keberadaan Pustakaloka RUMAH DUNIA (Pstk RD). Tapi kami agak bingung mencari metode, bagaimana cara menyampaikan atau mengemukakan gagasan dan rencana kami. Khawatir salah memahami. Makanya, kami mengambil strategi: Bikin dulu. Biarkan mereka mengenal dan menilai sendiri.

Istri saya suatu hari pernah bercerita. Ketika dia pulang dari suatu tempat dengan naik becak, si pengayuh becak mengajaknya berbincang-bincang. Dia mengutarakan kekhawatirannya tentang kedua anaknya yang suka datang ke Pstk RD. Istri saya kaget, "Khawatir tentang apa?" Si Abang becak bertanya, berapa dia harus membayar untuk kartu anggota yang dilaminating dan diberi foto? Istri saya menjelaskan, bahwa semua yang ada di pstk RD dunia tidak dipungut bayaran. Dengan kedatangan anak-anak bapak saja, itu sudah merupakan kebanggaan buat kami. Saya sendiri pernah mngalaminya. Ketika saya naik ojek, hal itu pun ditanyakan. "Betul kartu anggota itu gratis?" Mungkin bagi mereka, kartu angota itu “barang yang menakutkan” atau “momok”!

Kedua tamu itu juga pernah mempermasalahkan soal kartu anggota. Mereka pikir, apakah kartu itu nanti "ujung-ujungnya duit". Kata Pak Chudori, ketika anaknya menerima kartu angota, dia menunggu. Jika nanti harus bayar, dia akan datang dan protes ke saya. Bahkan kalau perlu, menyuruh saya menutup pstk RM. Tapi, ketika semuanya serba gratis, itu jadi alasan mereka berdua untuk datang bersilaturahmi. Saya terharu mendengarnya.

Saya tanyakan, apakah keberadaan pstk RD merusak tatanan yang sudah ada di sini. Mereka menjawab: tidak. Kalau perubahan: iya. Mereka bercerita, bahwa obrolah dari anak-anak kampung sudah berubah. "Kini berisi!" kata Pak Chudori. Mereka kadang suka diam-diam mendengarkan obrolan anak-anak kampung. Topik pembicaraannya, mulai dari membahas dongeng-dongeng yang biasa mereka dengar di hari Rabu (nabi-nabi atau Malin Kundang) sampai dengan buku-buku yang sudah mereka baca.

"Maka teruskan. Kami mendukung!" kata Pak Pandi. Pak Chudori yang sering bikin tablikh Akbar di alun-alun Serang menambahkan, bahwa dirinya bisa memahami visi dan misi pstk RD; yaitu sebagai kawah untuk meningkatkan kualitas sumber daya anak-anak, yang kelak akan jadi generasi penerus mereka!

begawan
March 20, 2003, 03:11
WISATA TULIS

Sudah sejak Juli pstk RD menggelinding dengan segala kekukarangan dan keterbatasan. Efektifnya 3 bulan. Wisata yang paling ramai dikunjungi adalah "Wisata Gambar" di hari Selasa. Bisa sekitar 60-anak bertebaran menumpahkan imajinasinya lewat pinsil warna secara bergantian. Tapi, “Wisata Tulis” pada hari Kamis pun mendapat tempat. Kami memulainya dengan perlahan, karena kami tahu, budaya tulis belum terbiasa di sini.

Ketika kami suruh mereka menulis puisi, tenyata masih banyak yang belum orisinil. Seperti yang pernah saya singgung di jurnal yang kedua, bahwa pemahaman mereka pada “meniru” berbeda dengan “menghapal”. Merka bisa bedalih, bahwa puisi karya Pujangga Baru yang mereka tulis ulan, bukanlah meniru, tapi karena mereka sudah menghapalnya di luar kepala. Jadi ketika menuliskanya, mereka tidak perlu melihat (mencontek) ke buku lagi, tapi langsung menuliskannya. Kini beberapa puisi sedang kami seleksi.

Kamis yang baru lalu, istri saya menyuruh anak-anak untuk membuat karangan pendek tentang keberadaan pstk RD. Dengan sangat antusias mereka menuliskannya. Ada beberapa karangan yang persis sama (saling mencontek) dan ada yang dengan gayanya sendiri. Saya membacanya juga dengan sangat antusias. Beberapa karangan sudah saya pisahkan. Mulai tahun depan, akan kami buka kelas menulis. Insya Allah, akan saya didik mereka untuk jadi penulis (bisa wartawan atau pengarang). Dua buah karangan bisa kita nikmati di jurnal September ini. Simaklah apa yang mereka tulis ini. Saya sengaja tidk mengeditnya. Saya tulis apa adanya seperti yang mereka tulis dengan pinsil. Selamat membaca, Kawan!



1. KESAN DI RUMAH DUNIA

Oleh Istianah, Kelas 6 SDN Sumber Agung

Pada hari pertama saya ke rumah dunia saya merasa senang sekali. Dan saya membaca buku cerita tentang nabi-nabi. Tadinya saya tidak tahu cerita nabi Daud sekarang saya sudah tahu. Di sini saya belajar menggambar, menulis puisi dan mendengarkan dongeng nenek tentang nabi. Saya ingat waktu membaca cerita nabi daud yang anaknya durhaka terhadap ayahnya. Saya senang baca-baca buku di perpustakaan rumah dunia jadi saya terisi otaknya. Tadinya kosong saya sudah terisi. Daripada bengong di rumah mendingan baca-baca buku di perpustakaan ini. Saya senang bisa membaca cerita-cerita itu. Terima kasih.



***

2. PENASARAN CERITA ADIK

Oleh Noviyanti, kelas 6 SDN Sumber Agung

Setelah saya datang ke sini dan mendapatkan kartu anggota saya sudah merasa senang apalagi ditmbah membaca buku cerita yang menambah ilmu pengetahuan saya. Saya datang kesini dari pukul 01.00 s/d 02.30 siang. Tujuannya saya datang ke sini untuk membaca buku cerita (dongeng) seperti:majalah, Malin kundang, nabi-nabi dan sebagainya. Saya mendaftarkan diri ke pustakaloka rumah dunia ini karena saya setiap hari mendengar cerita dari adik saya (Puji). Saya semakin penasaran. Oleh sebab itu saya daftar ke perpustakaan ini. Ternyata memang enak datang ke sini. Di perpustakaan ini pemandangannya enak dari pada dirumah kesal, tidak ada buku yang bisa dibaca. Di sini udaranya sejuk dan menyenangkan. Dan di sini banyak pepohonan seperti: bunga-bunga, pohon pisang, pohon jambu, pohon pepaya, dan sebagainya. Majalah-majalah di sini sangat bagus dan menyenangkan. Di sini banyak komik-komik yang bagus seperti: komik Doraemon, Dragon Ball, Kung fu Boy, dan sebagainya. Kesan lain yang saya dapatkan di sini masih banyak di antaranya di dalam pelayanan yang baik terutama Pak Heri dan Bu Tias. Dan penjaganya juga baik-baik. Seperti kak Deden, teh Rini, dan teh Ijah.



***

begawan
March 20, 2003, 03:14
jurnal #5
edisi November

DARI KUNJUNGAN ISTRI GUBERNUR
SAMPAI BUKA PUASA BERSAMA

"Salam dari Rumah Dunia!" begitu teriak kesembilan anak pustakaloka RUMAH DUNIA (Pstk RD) kepada para penonton, 16 November lalu, di Gedung Kesenian Banten, Alun-alun Timur Serang. Wajah mereka yang sejak awal bulan tegang, kini mulai mencair. Saya lihat, istriku berdiri tersenyum di salah satu sudut. aku sibuk menjepretkan kamera sambil ikut berbahagia. Kedua anakku; Bella dan Abi, lalu-lalang sambil minta jajan ini-itu. Tadinya aku ingin Bella ikut baca puisi juga. tapi jawab Bella, "Nggak mau, Pah! Malu!"

SUKSES
Acara launching antologi puisi "Salam dari Rumah Dunia", buatku termasuk sukses. Walau pun penontonya tidak membludak. Yang membuatku terharu, Kabiro Humas Pemprov Banten, Kudi Matin, datang membawa ratusan paket berbuka puasa. Bahkan kegiatan ini didokumentasikan dengan kamera video. Terus terang, kami merasa tersanjung. Selama hampir setengah tahun, belum pernah ada peristiwa pejabat dari Pemprov Banten datang berkunjung ke GKB.
Ini adalah peluncuran pertamakali antologi puisi anak-anak. Sebelumnya, baru sebatas antologi saya dan Toto ST Radik saja. Jadi, saya bisa memaklumi, ketika di Sabtu sore yang sejuk itu, beberapa penonton lebih suka "mengintip" di pintu. Beberapa kali saya menyuruh mereka untuk masuk ke dalam gedung. Tapi merka masih malu-malu. Kata Toto ST Radik, "Di kita, nonton pertunjukkan nkesenian masih memakai pola budaya mengintip!"
Ya sudah, biarkan saja.

TEGANG
Acara launching itu memang awalnya sangat menegangkan. Ketika ide itu kami bicarakan dengan anak-anak pstk RD, mereka menyambutnya dengan saling pandang. Baca puisi? Hal yang sangat luar biasa bagi mereka; yang dalam kesehariannya terbiasa bermain lumpur, ngangon kambing dan kerbau. Pernah kami kedatangan tamu dari kampung Ciloang. Yang pertama, 2 orang tua. Mereka menayakan, mau ada apa di alun-alun? Bapak yang pertama merasa takjub, karena anaknya suka latihan baca puisi. Sedagnkan bapak yang kedua kecewa, kenapa anaknya tidak diikutkan. Kami menjelaskan,m bahwa tidak semua anak dilibatkan baca puisi ke alun-alun. Yang diutamakan adalah, yang puisainya diserrtakan di antologi. Lalu mereka menawarkan, apakah IRQOC (Ikatan Remaja Qosidah Ciloang) bisa diikutkan? Kami dengan senang hati mengiyakan.
Hari pun bergulir. Memasuki minggu kedua, anak-anak tak begitu antusias. Mereka masih asing dengan pembacaan puisi. Tapi Tias dengan sabar membimbing mereka. Dipilihlah 10 orang pembaca puisi. Tidak semuanya yang puisinya temuat di antologi. Lalu beberapa orang mundur. Untung rekan-rekan di Forum Kesenian Banten ikut membantu. Nazla Thoyib Amir, Budi Wahyu, dan Piter denan ikhlas datang melatih di setiap Senin dan Rabu. Ketika bedug Mahgrib tiba, mereka berbuka puasa sama-sama; makan kolak dan tertawa gembira.
Alhamdulillah, ketegangan selama sebulan cair sebentar, ketika Hj. cucu joko Munandar, istri gubernur Banten, datang berkunjung secara tak resmi. Kedatangan beliau memompa semangat anak-anak. Apalagi ketika diselingi foto bersama, istri gubernur itu tidak subgkan-sungkan memeluk anak-anak Ciloang yang dekil dan korengan.
Pada malam sebelum acarfa launching, kami kedatangan Pak RW Ciloang dan ketua pemudanya. Mereka menyampaikan rasa terimakasih, karena kami sudah memberikan "sesuatu" pada anak-anak mereka. Kami terharu mendengarnya.

HIKMAH
Bulan puasa ini memang banyak hikmahnya bagi kami. Selain kunjungan tak resmi itu, beberapa kali keberadaan kami dipublikasikan media massa lokal (Harian Banten) dan nasional (Koran Tempo, Tempo, dan Kompas). terima kasih takm terhingga buat rekan-rekan wartawan. Ini support yang tak ternilai bagi kami. Kunjungan dari rekan2 1001Buku yangf begitu banyak cadangan energinya, juga merupakan bergelas-bergelas air yang menyapu rasa dahaga kami. Semoga kalian senang dan bergembira ketika berbuka puasa di tempat kamiu (walaupun makanannya ransuman!). Rekan-rekan dari TPI (Televisi Pendidikan Indonesia), yang menyiarkan pstk RD di acara "Mozaik Ramadhan". Tak lupa pula, sumbangan buku secara perorangan dari Renny yaniar (1q0 buku) dan Morning Dew (4 buku).
Trimakasih, sobat! Membaca adalah kegiatan yang - Insya allah - tak akan pernah berhenti di pstk RD! (gg)

begawan
March 20, 2003, 03:16
Serba-serbi

Pustakaloka RUMAH DUNIA (PRD) di ujung tahun ini sedang musim tanam dan tumbuh. Semua jenis benih pada bertumbuhan. Yang rumput liar, yang tanaman hias, pepaya kecil mulai menjemput matahari, dan keempat bebek sering menari riang jika datang hujan. Anak-anak PRD juga nggak kalah semangat; mereka terus latihan komedi satu babak, dengan harapan bisa dipentaskan di British Council (BC).

BUKU

Komedi satu babak itu mneceritakan tentang anak-anak sekarang yang sedang demam PS, , TV, dan boneka impor. Mereka lama kelamaan jenuh juga. Tiba-tiba datang 2 kawannya yang membawa sebuah buku raksasa. "Apa itu?" tanya mereka. "Ini harta karun!" jawab kedua orang itu. Mereka berebut ingin memiliki buku raksasa itu. Ternyata dari dalam buku raksasa itu lahirlah anal-anak buku; ada buku pusi dan buku prosa. Anak-anak ada yang kecewa. Dikiranya ada mainan baru. Tapi, ketika seorang anak membacakannya, mereka jadi tertarik.

COKLAT

Komedi satu babak ini istriku yang bikin. Dia terinspirasi, ketika paket 2 koli datang. Saat itu (Kamis siang), kami sedang duduk-duduk di teras samping, memikirkan pertunjukkan apa yang akan ditampilkan di BC nanti. Lalu datang paket 2 koli itu. Istriku berteriak girang! "Dari GRAMEDIA, Pah!"

Dua dus besar dibuka oleh istriku. Ketika tahu isinya buku, istriku "histeris" dan kegirangan. "Bilang ke Mbak Lies, Pah! Serasa seperti sedang membuka sekotak coklat Van Houten!" kata istriku. Setelah itu, barulah istriku punya ide untuk komedi satu babak itu. Dia lari ke kebun di belakang. Menemui 2 pelatih teater PRD. Aku mengekor saja. Istriku menjelaskan komedi satu babak itu pada anak-anak, yang sedang latihan vocal.

Malamnya kami bongkar isi 2 kardus kiriman GRAMEDIA itu. Istriku dengan semangat 45 dan sambil terus bilang "buku itu sama denan coklat" (sebetulnya istriku memang kesukaannya coklat, kok!), menulisi buku-buku itu. Alhamdulillah, ada 232 buku remaja dan 119 buku untuk anak-ana. Totalnya, 351 buku! Yang remaja ada novel Hilman-Boim, Smara GD, Rl Stine (Goosebumps, Fear Street), Harlequin, Hirchocck, Frederick Forsyth, Darren Shan, Chiung Yao, Barbarea Taylor Bradford, V. Lestari, Mira W, Philip Margolin, dan Mary Higgins Clarck. Begitulah.

Terima kasih!

begawan
March 20, 2003, 03:19
Jurnal #6
Edisi Akhir Tahun

DARI BRITISH COUNCIL DAN 2 KOLI BUKU GRAMEDIA

Pustakaloka RUMAH DUNIA (PRD)menggelinding terus seiring waktu. Tak ada diamnya mengikuti geliat anak-anak, yang tak pernah mau berhenti bertanya dan berimsjinasi. Kami harus putar otak jika ada pretanyaan dari mereka: Ada kegiatan apa lagi sekarang?
Ketika kami kabari bahwa akan ke Jakarta, merka langsung teriak-teriak minta diikutkan! Mereka protes, bahwa harus ada seleksi lagi. Hanya 10 orang saja yang kami bawa! Ini dengan perhitungan kualitas dari masing-masing anak.

BRITISH COUNCIL
Khabar dari 1001Buku, bahwa 10 orang anak PRD akan dilibatkan sebagai pengisi acara (baca sajak dan prosa) di peluncuran 1001Buku, 10 Januari nanti, bertempat di British Council, kami pikir itu suatu anugrah bagi anak-anak PRD. Ke Jakarta adalah idam-idaman mereka! Melihat kota besar! tanpa perlu mengeluarkan uang! Tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Pada hari Senin lalu (22/12), kami adakan seleksi. Mereka kami suruhmaju untum berbicara apa saja. Ada yang kami suruh jadi seorang anak yang merengek minta dibelikan baju oleh ayahnya, anak yang menangis karena uang untuk beli beras kecurian, yang jadi pelawak, yang jadi pencuri... Mereka sangat antusias mengikutinya. Terpilih sudah 5 orang. Yang 5 orang lagi kami pilih dari 5 terbaik penulis resensi novel sastra. Komplit sudah 10 orang yang akan kami bawa ke acara launching 1001Buku di British Council. Sekarang mereka sedang giat berlatih (tiap hari), dibimbing Budi dan Piter dari DForum Kesenian Banten.
Rombongan PRD yang akan berangkat sekitar 15 orang; masing-masing 10 anak-anak, 2 pelatih teater/puisi, Pak RW dan Ketua Pemuda Ciloang, seorang wartawan koran lokal "Harian Banten (Rahmat Yanto Suharja). Dan tentu kami sekeluarga (saya, tias, bella, abi). Desek-desekan, ya!

KELAS KURSUS
Tahun 2003 nanti, PRD juga mulai mengisi kegiatan pendidikan luar srekolah. Semacam kursus. Ada kursus teater, menulis (jurnalistik dan fiksi), serta menggambare. Semuanya tanpa dipungut biaya. Tapi, ketika mendaftar, mereka harus menyumbang 1 buku ke PRD!. Kelas mneulis akan dimulai pada 5 Januari nanti.

2 KOLI
Anugrah lain, baru saja kami mendapat kiriman 2 koli novel remaja/buku cerita anak dari GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA (Makasih Mbak Lies!). Bayangkan, 2 koli! Kami belum merinci jenis2 novelnya! Istri saya sampai berdebar-debar ketika membuka isi kardus. Dia mnejerit-jerit kegiranan. "Wah, harus cepet-cepet bikin gedung prpustakaannya, Pah! Jangan pendopo lagi!" kata istriku. Aku hanya mengangguk saja. Aku hanya bisa berdoa, semoga saja masih ada novelku yang diproduksi jadi sinetron oleh PT. INDIKA. Semoga saja.
Membangun gedung perpustakaan yang permanen, memang impian kami. Tak bisa ditawar-tawar lagi. Semoga saja niat kami ini mendapat ridho dari Allah SWT! Amien.
Terima kasih buat GPU!
Selamat Menyambut Tahun Baru! Hari baru.
Semoga kita bisa lebih baik lagi menisi hari!

begawan
March 20, 2003, 03:25
Kelas menulis RUMAH DUNIA:
MENYIAPKAN GENERASI MUDA UNTUK MANDIRI DENGAN MENGGELUTI PROFESI PENULIS

Alhamdulillah, di akhir Desember 2002 dan awal Januari 03, kegiatan di PRD tak pernah mengendor. Insya Allah. Selain anak-anak PRD yang sedang giat-giatnya latihan teater dengan pelatih Budi dan Piter dari FORUM KESENIAN BANTEN, untuk ditampilkan di launching 1001Buku Jakarta 10 januari nanti bertempat di British Council. Selain itu pada Minggu (5 Januari) lalu, telah dimulai kelas menulis RUMAH DUNIA.. Pesertanya baru 13 orang. Terdiri dari 2 orang anggota PRD, 3 orang dari Sanggar Sastra Siswa Indonesia Serang, 4 orang dari GESBICA STAIN Serang, 2 orang dari SIGMA (Pers Kampus) STAIN, dan 2 orang penyair Banten yang masih kuiah di Jakarta.

KEBERSAMAAN
Kelas dibagi dalam 3 kelompok. Metode yang diterapkan adalah diskusi, sehingga kecenderungan peserta yang merasa lebih pintar dihindari. Jika ada peserta yang kemampuan menyerap ilmunya kurang, dharapkan bisa terkatrol oleh rekan-rekannya yang lain. Kebersamaan dalam kelompok, itulah yang lebih penting.
Seperti Minggu kemarin. Waktu kursus selama 1 jam dibagi 3 sesi. Duapuluh menit pertama adalah pengantar, 20 menit kedua praktek menulis, dan terakhir berbicara (budaya lisan) di muka kelas.

PROFESI
Pada pertemuan pertama ini, saya baru memperkenalkan bahwa profesi menulis di Banten (bahkan Indonesia) sedang menjadi primadona. Di wilayah Banten saja, koran lokal bertumbuhan. Pasti mereka membutuhkan SDM-SDM wartawan yang berkualitas. TV juga konon akan muncul di Banten. Penulis naskah adalah alternatif lain yang pasti diincar. Yang lainnya adalah copy writer; pemulis iklan.
Perkiraan awal, selama 3 bulan kelas akan bergulir. Bulan pertawa saya akan memperkenalkan teori-teori dasar jurnalistik, bulan kedua tentang teori jurnalistik yang bisa diaplikasikan ke fiksi (lebih ke prosa/cerpen/novel), dan follow upnya di bulan ketiga adalah bagaimana karya fiksi itu dituangkan ke skenario televisi. Tentu akan diselingi praktek menulis.

OTAK KEPERAS
Setelah 20 menit pertama usai, peserta diberi lembaran kerja. Ada beberapa pertanyaan yang harus dijawab dengan cara menuliskannya. Bukan sistim pilihan ganda. Peserta kelas diharapkan bisa terlatih menuliskan gagasannya lewat media bahasa. Tentu secara berkelompok (kelompok Lengkeng, Pisang, dan .. lupa lagi saya!). Mereka dipersilahkan mendiskusikan pertanyaan-pertanyaan itu. Yagn tidak tahu diperbolehkan bertanya ke rekannya yang tahu. Hanya saja, dalam menuliskan jawabannya tidak boleh mencontek.
Beberapa peserta menyatakan, bahwa cara belajar seperti ini efektif walaupun memeras otak dan cepet lapar. Saya katakan, bahwa RUMAH DUNIA memang memperkenalkan peserta kelas kepada situasi dan kondisi, yang selalu ditemui oleh para penulis; yaitu dead line. Menulis dengan sikon dikejar-kejar waktu! Bisa setengah jam atau sejam.

LISAN
Tampak sekali mereka bergairah. Itu terbukti pada seorang peserta, yang awalnya ogah-ogahan mendaftar jadi peserta. "Lihat-lihat dululah!" katanya. Dia anak SMUN 1Serang.
Saya bilang, "Insya Allah, kamu nggak akan rugi ikut, deh!"
"Akan ada pekerjaan rumahnya nggak?" tayanya.
Dan ketika ada lembaran yang mesti diisi dengan cara menuliskan gagasan, dia tampak bersemangat sekali. Apalagi ketika di sesi 20 menit kedua, dia mendapat giliran untuk maju ke muka kelas; mengemukakan gagasannya yang tadi dia tulis dengan cara lisan, dia makin bersemangat.
Yang paling mengharukan buat saya, adalah ketika Deden, anak Ciloang (kami angkat menjadi Pengurus Haarian PRD) maju ke depan. atanpa malu-malu dia mengemukakan gagasannya secara lisan. Walaupun belepotan, tapi dia berani juga berbicara. Tapi 3 oragn temannya yagn lain, tidak datang ke kelas menulis ini. Kami belum tahu alasannya apa. Kami khawatir mereka minder, karena kelas menulis ini terbuka untuk umum.
Hanya saja, ada saja yang lucu. Beberapa menit setelah usai kelas pertama, kawan saya yang jadi dosen di Untirta datang berkunjung. Dia meminta agar 4 mahasiswanya bisa ikyt pada pertemuan kedua. "Sebetulnya mereka sudah datang ke kampus. Mereka berkumpul dan nungguin saya dateng. Soalnya mereka belum tau alamat PRD!"
Ada-ada saja para mahasiswa itu. Ya, malu bertanya sesat di jalan. Tapi, peserta kelas yang lain mempersilahkan 4 anggota baru ini bergabung minggu depan. (gg)

begawan
March 20, 2003, 03:26
Numpang lewat sebentar.
Sekedar berbagi informasi.
Iin berkaitan dengan gerakan Indonesia Membaca.
Dalam skala kecil, kami adopsikan gerakan itu ke "Banten Membaca". Happy reading, ya.

Alhamdulillah, di awal tahun ini, RUMAH DUNIA nambah 1 pendopo (baca: saung) lagi. Ukurannya sekitar 5 kali 3 meter. Masih terbuka dan beratap daun kelapa. Kalau pendopo pertama diisi dengan 2 rak besar untuk anak-anak dan remaja, kini saung kedua lebih diutamakan untuk anak SMA dan mahasiswa. Sudah diisi dengan 3 rak dan 1 bufet. Kesannya sesak, tapi tetap lega karena terbuka. Semuanya sudah terisi pemuh dengan buku-buku. Ada biografi orang2 besar (Malcom X, Gandhi, Soe Hok Gie, Mc Arthur, Bung Karno, dll), novel2 sastra mutakhir (seperti Djenar, Dee, dan Dinar, dan Ayu, Roy), psikologi, filsafat, sosial, budaya, antologi esai (Caping GM) politik, tips menulis (jurnalistik-fiksi), jurnal2; Pantau, MataBaca, contoh2 skenario film lebar, dan tv, disain2 program tv...

Pembukaan saung kedua ini sejalan dengan kelas menulis, yagn rutin digelar setiap Minggu sore (jam 15.30-17.30pm). Peserta kelasnya mencapai 25 orang. Dari perguruan tinggi Unirta dan STAIN juga dari anak-anak SMU. Mereka diwajibkan membawa satu buku untuk dititipkan di RUMAH DUNIA. Rencananya kelas akan berakhir 3 bulan ke depan dan akan dibuka kelas baru (angkatan kedua sekitar April). Kusus menulisnya gratis-gratis sajalah.

Begitulah dulu kabar dari "kampung teroris".

gg
RUMAH DUNIA
Komplek Hegar Alam 40
Serang 42118, Banten

ps. buat para penulis yang mau menitipkan novel2 terbarunya, dengan senang hati kami menerima.
Di Serang, rada susah nyari toko buku yang representatif.
Juga buat penerbit-penrbit yang nerbitin jurnal, ditunggu partisipasinya. Thx!

begawan
March 20, 2003, 03:27
Ketika saung kedua sudah kami isi 3 rak kecil dan 1 bufet yang penuh dengan buku-buku biografi orang besar, filsafat, psikologi, sosial-budaya, tips jurnalistik, fiksi, menulis skenario, novel2 sastra mutakhir, dan jurnal-jurnal, ternyata masih ada yang kurang, yaitu mahjalas sastra HORISON.

Sudah tahunan saya tak membaca majalah Horison.
Ketika "Kelas Menulis RUMAH DUNIA" dibuka, ada beberapa peserta yang menanyakan: Kok, nggak ada majalah Horison? Iya, juga. Kami memang kurang gigih berburu majalah tersebut.

Mungkin rekan-rekan ada yang punya berlebih? Majalah Horison versi lama juga nggak apa-apa. Dari pada numpuk di gudagn, bolehlah kami dikirimi.

Atau 1001Buku punya majalah Horison?
Tolong deh, majalah/junal sastra dikirim buat RUMAH DUNIA. Nanti kami jemput bola, deh. Buku-buku buat anak2 juga (nambah!). Anak2 RUMAH DUNIA sudah pada nuntut, minta buku2 yang baru. Kalau ada jatah, ya!

Kami akan dengan senang hati menerima kiriman majalah tersebut.

Tetap semangat membaca dan menulis
gg

Atau moga2 Pak Taufik membaca surat saya ini.
Kami siap membeli majalah Horison lama (tentu dengan diskon, ya!). Dan juga siap berlangganan via pos.

begawan
March 20, 2003, 03:29
Rekan-rekan, ada respon yang sangat bagus tentang kiriman post card dari Amerika untuk RUMAH DUNIA. Di situ saya ceritakan, bahwa rata-rata anak-anak di RUMAH DUNIA belum pernah melakukan korespondesi. Lihat post card saja baru kali itu.

Rekan-rekan bisa mebaca surat (respon) dari Donna tersebut di bawah surat saya. Ide dari Donna sangat luar biasa bagi saya. Donna mengusulkan atau mengajukan dirinya untuk siap menjadi sahabat pena bagi anak-anak RUMAH DUNIA. Saya pikir, niat baik mesti disegerakan dan dikabarkan juga pada rekan-rekan. Siapa tahu rekan-rekan juga ingin berbuat baik seperti Donna.

Saya barusan kontak ke istri saya. Dia langsung histeris menyambut gagasan Donna tersebut. Lalu dia dengan antusias menyebut beberapa nama yang diingatnya. Saking banyaknya. "egitu dulu deh, Pah!" kata istri saya (nama-namanya tertulis di bawah). Kami tetu sangat berbahagia sekaligus senang, jika rekan-rekan mau meluangkan waktu untuk menulis surat kepada anak-anak di bawah ini. Silahkan dipilih salah satu anak. Jadikanlah merela sahabat rekan-rekan untuk saling berbagi cerita. Dan mohon maaf, jika nggak keberatan, sertakan pula perangko balasan bagi mereka. Insya Allah, niat baik kita akan mendapat balasan dari-Nya!

Selamat menjadi sahabat pena, ya!


NAMA-NAMA UNTUK SAHABAT PENA:
1. SITI NADRHOTUL AIN (12 tah, klas 6 SD)
2. ROSLIANA (11 tahun, kelas 6 SD)
3. ETI SUHAETI (Kelas 5 SD)
4. WAHYUDI (Kelas 6 SD)
5. LUKMAN HAKIM (kelas 5 SD)
6. AJAT (kelas 2 SD)
7. ROSTINI (kelas 5 SD)
8. MELAWATI (kelas 2 SMP)
9. KHUSNUL AINI (Kelas 4 SD)
10. SRI ASTUTI (Kelas 1 MStn)
11. NOVIANTI (Kelas 6 SD)
12. II KUNAEFI (kelas 5 SD)
13. ANGGA (Kelas 5SD)
14. ALAN (kelas 5 SD)
15. IPIN (kelas 4 SD)
16. DINA FUJIANA (kelas 5 SD)
17. TUTI RAHMAWATI (kelas 6SD)
18.. PUJI UZLIFAH (Kelas 3SD)
19. EPIR (kelas 2SD)
20. DIVA NURLITA (kelas 2 SD)
21. SITI SHOLIHAH (kelas 1 SD)
22. FAJAR TAUFIK (kelas 3 SD)

Rata-rata orang tua mereka petani, tukang becak, pedagang kelontong di pasar, pedagang loak, dan buruh.

Sekedar catatan, mereka pernah memenangkan lomba kegiatan reguler WISTA TULIS pada hari Kamis. Untuk kelas 1 sampai kelas 3 SD lomba menulis halus. Untuk kelas 4 hingga 6 SD lomba mengarang cerita secara kelompok.

ALAMAT SURAT:
Pustakaloka RUMAH DUNIA
Komplek Hegar Alam 40, Ciloang
Serang 42118, Banten

Menurut istri saya, sebaiknya surat di alamatkan ke RUMAH DUNIA saja, supaya kegembiraan itu bisa dirasakan oleh semuanya. Supaya kami bisa memantau juga perkembangan mereka.

Tetap semangat membangun generasi mendatang
gg - tt

begawan
March 20, 2003, 03:30
gw mo ngirim banyak2 kartu pos yg bagus2 :D

begawan
March 20, 2003, 03:35
Ciloang, Rumah Dunia

PENGANTAR:
Bekerja sama dengan koran lokal "HARIAN BANTEN", Pustakalokaloka RUMAH DUNIA membuka rubrik khusus yang diberi nama "Salam Dari Rumah Dunia" (SdRD). Tulisan-tulisannya kelak berupa jurnal. Dimunculkan rutin setiap Senin. Tujuan utamanya adalah menjangkau pelosok-pelosok Banten yang belum terjamah internet. Ini agar masyarakat Banten yang tertinggal jauh dalam soal pniikan dan wawasn, bisa bergairah menyambut AFTA 2002. Semoga dengan adanya rubrik SdRD ini masyarakat tergugah untuk ikut andil mengembangkan potensi di lingkungannya sendiri. Dengan begitu, semoga Banten bisa dikepung oleh perpustakaan. Dan harapan kita smua, generasi Banten 20 tahun mendatang menjadi kritis dan bukan menjadi generasi Banten yang suka malingi duit rakyat. Semoga.

Edisi pertama terbit Senin kemarin (3 Feb). Kami dari RUMAH DUNIA memohon keikhlasan rekan-rekan anggota milis untuk menerima postingan dari kami. Ini semacang berbagi pengalaman, bahwa di Bumi Banten ada sesuatu yang sedang bergolak. jika diibaratkan dalam creita fiksi (mengutip Karl Masy), Bnten adalah padang prairi. Wilayah Barat yang masih gelap. Dulu sangat terkenal sekali denan atmosphere "jawara" dan "debus/magic. Semoga dengan jurnal "Salam Dari Rumah Dunia", yang akan kami posting secara rutin setiap Minggu (tentu setelah pemuatan di "Harian Banten".

Happy reading
Gola Gong - Tias Tatanka

begawan
March 20, 2003, 03:37
Salam dari RUMAH DUNIA #1
PUSAT BELAJAR MASYARAKAT
BANTEN MASA DEPAN
Kampung Ciloang hanya 900 meter ke jalan protokol Sudirman (Kemang – Pusri), dan sekitar 1 kilometer ke gedung dewan yang terhormat di Ciceri. Tapi, sangat ironis kondisi wawasan remaja dan anak-anaknya. Mereka ada yang belum lancar membaca, menulis, belum pernah ke alun-alun, tidak mengenal atlas (peta dunia), belum tahu fungsi kartu pos, belum pernah berkorespondensi, tidak tahu letak kota Surabaya, dan masih banyak lagi. Tapi anehnya, mereka tahu F4 (boys band Taiwan), Shah Rukh Khan (bintang Bollywood), dan Asereje (lagu populer dari Las Kechup).


TANGGUNG JAWAB

Bagi kami mereka ibarat “katak dalam tempurung”, yang dalam kesehariannya hanya dicekoki televisi. Mereka adalah “anak kandung” TV. Mereka terasing dari buminya sendiri; tanah Banten. Kami tidak tahu, apakah hal ini pun terjadi di cabang-cabang sepanjang jalan protokol di ibu kota provinsi Banten ini? Atau hanya di Ciloang? Rasanya dengan letak geografis yang strategis seperti itu sangat ironis dan sudah tak relevan lagi dengan era AFTA 2003.

Lantas siapa yang harus bertanggung jawab? Apakah tanggung jawab semua institusi yang selalu berbusa-busa mengatasnamakan rakyat; seperti OKP (dan komite yang memayunginya), dinas terkait, atau orsospol? Puluhan “proposal sinterklas atas nama rakyat” sudah mereka letakan di meja gubernur Banten dan menunggu diteken. Duit milyaran bersliweran. Tapi, apakah betul masyarakat yang bernasib malang itu akan tersentuh program mereka? Berhakkah dan proporsionalkan mereka menuntut; bahwa pendidikan itu adalah hak semua warganegara?

Menunggu realisasi “proposal sintreklas” itu seperti “menunggu godot” (menunggu keajaiban) saja. Megel-megeli, jere wong Banten mah. Itulah kenapa Pustakaloka RUMAH DUNIA (PRD) kami bentuk sebagai “pusat belajar” masyarakat di Ciloang. Tak perlu membuat proposal mewah. Tak perlu merengek-rengek minta dana dari Pemkab atau Pemprov. Cukup dengan memahami, bahwa di dalam harta kita itu ada hak orang lain sebesar 2,5% saja, maka bismillahirrahmanirrahim….. sejak Maret 2002 menggelindinglah kami. Buku-buku yang biasanya menghuni home library, kami ikhlaskan untuk dibaca oleh mereka.



BUKU - DUNIA

Ya, kami hanya mampu berbuat lewat buku. Memindahkan dunia lewat kata-kata. Mengajak anak-anak dan remaja di Ciloang mengenal dunia lain dengan buku. Tak terasa juga PRD menggelinding selama 10 bulan. Anggotanya mencapai 350-an. Kebanyakan dari lingkungan Ciloang, bergeser sedikit ke kampung tetangga, Cikubil, dan Kesuren. Sebetulnya, siapa saja boleh mnjadi angota PRD. Tapi, mungkin letak geografis masih jadi kendala. Keberadaan PRD pun sudah diketahui khalayak ramai; masyarakat Banten bahkan Indonesia. Ini dipermudah karena selain Harian Banten sering mempublikasikan PRD, media massa nasional, beberapa TV swasta, juga jurnal bulanan yang rutin kami sebar di pelbagai milis. Ini tentu saja membahagiakan, karena kami merasa mempunyai kawan dalam membentuk masyarakat Banten membaca (khususnya di Ciloang).

Mungkin manfaatnya baru dirasakan oleh masyarakat di lingkungan sekitar PRD (Ciloang dan Komplek Hegar Alam) saja. Itu tampak pada perkembangan intelektual mereka (anak-anak dan remaja). Dari yang semula membaca itu harus dengan mengeja keras-keras, kini mereka sudah bisa membaca walaupun belum lancar betul. Dari yang semula hanya membolak-balik halaman buku tanpa dibaca, kini sudah menemukan jenis buku bacaan yang mereka suka.

Ini bukan kerja mudah dan pendek. Kami tahu ini kerja marathon dan melelahkan. Tapi kami sudah memulai dan tidak akan mundur lagi. Jam buka perpustakaan yang cuma empat hari dalam seminggu kami gunakan seefektif mungkin. Ketentuan untuk hanya membaca buku di Pustakaloka tetap kami pertahankan dengan pertimbangan logis: orang datang ke Pustakaloka memang bertujuan untuk membaca, tetapi jika meminjam untuk dibawa pulang, belum tentu buku itu dibaca tuntas di rumah.



PROGRAM KREATIF

Maka kami menyiapkan sejumlah program dari hari Senin hingga Kami (jam 13.00 – 17.00pm). Program ini bukan hanya membaca buku, tapi juga pelatihan cara berekspresi. Hari Senin yang tadinya “wisata baca” berubah mulai awal 2003 menjadi “wisata gambar & kreatif” (Senin). Di program ini anak-anak dituntun agar imajinasi dari hasil membaca tersebut dituangkan dalam bentuk gambar. Selama hampir setahun bergulir, PRD sudah mengadakan beberapa kali lomba menggambar dan mewarnai. Hadiahnya mulai dari pinsil warna dan uang jajan sebesar 10 ribu rupiah. Karya-karya mereka pun dibundel rapi dan pernah dipamerankan di PRD.

Lalu Selasa “wisata baca”, yaitu mengarahkan anak-anak dan remaja berimajinasi lewat bacaannya. Di hari ini juga ada “kelas teater” untuk anak-anak. Kak Nazla Thoyib Amir, Budi, dan Peter dari “Forum Kesenian Banten” (FKB) menjadi pelatih mereka. Hasilnya sudah lumayan. Sepuluh anak terpilih diundang ke peluncuran relawan buku, 1001Buku, di British Council Jakarta (17/1). Mereka membawakan komedi satu babak; Harta Karun. Akhirnya mereka yang tadinya cuma dalam tempurung saja, kini sudah berwisata ke metropolitan tanpa harus mengeluarkan biaya sepeser pun.

Lanjut ke Rabu, ada “wisata dongeng”, dimana anggota PRD diminta mendongeng keseharian di rumah, dengan teman-temannya, di sekolah, atau menceritakan kembali buku-buku yang pernah dibaca. Juga mereka mendengarkan dongeng yang diceritakan oleh Tias Tatanka dan Ny. Hj. Atisah Harris. Biasanya dongeng kisah nabi-nabi, cerita rakyat Nusantara (Bawang Merah Bawang Putih) juga mancanegara (Pinokio, Itik Buruk Rupa, serta Jack dan Kacang Ajaib). Kadangkala Tias menceritakan apa saja pada mereka. Misalnya tentang bumi yang bulat. Bulan yang mengelilingi Bumi. Atau juga kota-kota lain selain Serang. Sebetulnya untuk “wisata dongeng” ini, kami sangat menantikan relawan yang mau mendongeng. Silahkan saja datang, kami pasti akan bahagia menyambutnya.

Besoknya, Kamis, ada “wisata tulis”. Di sini anggota PRD (khususnya yang SD hingga SMP) diminta menuliskan segala hal yang sedang dipikirkan atau dirasakan. Baik dalam bentuk prosa atau puisi. Hasilnya sebuah antologi puisi (Salam dari RUMAH DUNIA) sudah diterbitkan. Toto ST Radik dari Sanggar Sastra Siswa Indonesia cabang Serang ikut membantu menseleksi puisi yang masuk. Berisi sekitar 40-an puisi. Bahkan sudah diluncurkan saat puasa 2002 oleh FKB di GKB Alun-alun Serang. Sambutan masyarakat luar biasa. Bahkan 3 mobil rombongan dari 1001Buku menyempatkan untuk datang dalam peluncuran antologi puisi itu. Kini antologi jilid 2 sedang kami persiapkan. Toto baru saja selesai menseleksi. Ternyata sekarang anak-anak sangat antusias menulis puisi.

Di hari Minggu khusus ada “kelas menulis” bagi anak-anak SMU dan mahasiswa. Kelas dibuka pertigabulan sekali. Pesertanya setiap angkatan dibatasi 25 orang saja. Materi yang diberikan adalah teori jurnalistik, penulisan fiksi, dan skenario TV. Angkatan pertama sudah efektif selama 1 bulan. Pesertanya dari siswa SMUN 1, SMK, dan STAIN. Ketika mendaftar, mereka diharuskan menyumbang sebuah buku ke PRD. Pemberi materinya Gola Gong.

Tapi jika ada para pelajar SMU atau mahasiswa yang datang hanya untuk baca saja tidak apa-apa. Mereka bisa mencari-cari tempat yang nyaman untuk mojok baca, agar tak terganggu oleh anak-anak TK atau SD, yang sedang mengikuti program reguler. Kebun seluas 500m2 rasanya cukuplah. Pernah juga PRD kedatangan bebrapa orang dari Kragilan, Balaraja, atau Kramatwatu, yang ingin meminjam buku untuk rujukan pembuatan paper. Tapi, mereka selalu ingin meminjam bukunya ke rumah. Jika tidak, mereka memilih pulang ketimbang membaca di PRD.



KEPUNG

Seperti pernah disinggung oleh Abdul Malik dalam “Refleksi” (12/10/02) berjudul “Suatu Ketika Dari Kampung Ciloang”, bahwa kami memang memang sedang menularkan budaya membaca di lingkungan tempat kami tinggal. Sedang memasyarakatkan gemar membaca di kalangan anak-anak sejak dini. Semoga 5, 10, atau 20 tahun mendatang akan tercipta generasi Banten baru yang kritis dan berwawasan luas.

Tentu kami tidak akan mampu melakukannya sendirian. Yang perlu kita lakukan adalah menyatukan visi kita untuk menciptakan kualitas SDM Banten pada diri anak-anak kita. Caranya sederhana saja. Mengepung Banten dengan “pusat belajar”. Kita bisa melakukannya di mana saja. Di halaman depan, di teras rumah, di ruang tamu yang sempit, di mushola komplek, di jalanan komplek, di fasilitas umum lainnya di lingkungan tempat kita tinggal. Tidak mampu dengan buku, dengan apa sajalah. Bayangkan coba, jika Banten kita kepung seperti itu. Insya Allah, 20 tahun ke depan, Banten seperti pada abad 15 dan 16! Tidak percaya? Mari kita buktikan sama-sama! (Minggu depan tentang program Sahabat Pena RUMAH DUNIA)







KAMI MENERIMA SUMBANGAN BERUPA BUKU ANAK-ANAK DAN REMAJA. SUMBANGAN BISA DIANTAR LANGSUNG, VIA POS, ATAU UNTUK WILAYAH SERANG BISA KAMI AMBIL SENDIRI.

Pustakaloka RUMAH DUNIA:

Komplek Hegar Alam 40, Ciloang - Serang 42118, Banten

begawan
March 20, 2003, 03:38
Salam dari Rumah Dunia

Oleh Gola Gong



T66 + FKB = KELAS TEATER PRD

(LANTAS DI MANA KAU, DKB?)


“Hari sudah sore, Barabah,” kata kakek Banio (diperankan Budi Wahyu) pada istri keduabelasnya yang masih muda. “Kesinikan tambur itu. Aku ingin memainkannya,” pintanya. Barabah (dimainkan Nazla Thoyib Amir) memberikan tambur pada suaminya, yang mendambakan anak lelaki darinya. “Tam, tam, tam…..” Banio memukul tambur dengan halus dan bunyinya sendu. Seperti sedang mengiringi para prajurit yang pulang ke barak militer di saat senja. Dan pertunjukkan Teater 66 (T66) yang mengusung lakon “Barabah” karya Motinggo Busye (Sabtu malam, 15/2) pun usai. Sekitar 300-an penonton meninggalkan gedung DPD Golkar dengan hati puas. Langkah awal yang bagus dari FORUM KESENIAN BANTEN (FKB) dalam pentas keliling 5 kota

(Serang, Cilegon, Tangerang, Pandeglang, dan Lebak).



MASYARAKAT TEATER

Ya, itu langkah bagus dalam memasyarakatkan dan mengembangkan kesenian (seni teater) di Banten. Kami menontonnya dengan bangga. Sudah sejak puasa 2002 lalu mereka jadi kakak-kakak asuh di kelas teater Pustakaloka RUMAH DUNIA. Hanya dengan suguhan air putih, mereka membawa anak-anak Ciloang mengenal hati nurani lewat seni teater. Hal yang seharusnya dipikirkan oleh komite sastra Dewan Kesenian Banten (DKB), yang sudah di(paksa)bentuk di ujung tahun 2002, tapi entah bagaimana khabarnya sekarang.

Ujung dan pangkalnya sederhana saja: keikhlasan mengabdi tanpa pamrih pada masyarakat. Kelompok Kajian Bank Dunia (1995) menyebutnya “partisipasi sebagai proses dimana para pemilik kepentingan (stakeholders) mempengaruhi dan berbagi pengawasan atas inisiatif dan keputusan pembangunan serta sumber daya yang berdampak pada mereka”. Partisipasi ini ada yang didanani oleh pemerintah atau yang independen dengan filosofi “ngumpul-ngumpul sing penting berkesenian”.

Nah, T66 + FKB memilih yang terakhir. Mereka datang ke Ciloang untuk membentuk masyarakat teater lewat kelas teater PRD di hari Selasa, jam 14.00 s/d 16.00pm. Anak-anak dibawa ke sebuah transformasi budaya yang dahsyat dan dunia baru. Mereka duduk melingkar dan mengolah pernafasan dan berolah vocal. Nazla Thoyib Amir, Budi Wahyu, Piter Tamba, dengan sabar menuntun mereka. Hasilnya tidak mengecewakan. Anak-anak berhasil membacakan puisi-puisi mereka yang terkumpul di antologi “Salam dari Rumah Dunia” saat puasa 2002 di Gedung Kesenian Banten, yang kini tinggal puing-puingnya saja. Juga mereka sukses mementaskan lakon “Harta Karun” di British Council, saat peluncuran organisasi relawan 1001Buku Jakarta, Januari lalu.

Ketika asyik menonton “Barabah”, kami terlempar ke masa lalu. Adalah Toto ST Radik dan Dadi RSN, yang dengan “door to door” mengetuki pintu-pintu sekolah dan kampus di Serang sejak 15 tahun yang lalu. Mereka ibarat “jawara” yang mengenalkan “ilmu nurani’ lewat seni teater. Merekalah peletak dasar-dasar seni teater di Banten. Mulai dari teater Awan di SMUN 1 dan Lamac di SMUN Ciruas sampai ke GESBICA di STAIN SMHB. Lalu muncul generasi pelapis yang bernama Bagus Bageni dengan “Jagat Teater”-nya. Hanya sayang, seiring waktu mereka menemukan jalannya sendiri. Dadi yang jadi “birokrat seni” di Kasubdin Budaya, Disbudpar Banten dan Bagus Bageni berkubang di politik praktis pasca Banten jadi provinsi. Mereka berdua kini sedang lupa pada “ilmu nurani”nya yang pernah disemaikan ke anak-anak asuhnya. Keberadaan Dadi di sistem ternyata tidak membawa seni dan budaya ke perubahan berarti dalam lingkup kekaryaan (bukan komoditas kepentingan sesaat). Malah menambah daftar panjang kisah dewan kesenian, yang pembentukannya ditenderkan ke lembaga swasta. “Jangankan bikin gedung kesenian, kantor saja masih ngontrak,” kata Dadi. Sedangkan yang tersisa hanya Toto, yang kini masih murni berkesenian dan memilih sebagai si outsider.



ANTUSIAS

Padahal jika melihat pertunjukan T66 dengan “Barabah”, tampak antusiasme yang dulu pernah diimpi-impikan Toto, Dadi, dan Bagus. Ketika menonton pertunjukan teater harus membayar Rp. 5000, karcis yang terjual di kisaran 300-an lembar lebih orang adalah suatu fenomena. Bahkan kami sempat memergoki sepasang muda-mudi yang saling berpegangan tangan saat memasuki gedung. Mungkin hal itu sudah lazim jika melihatnya di lobi cinemaplex sekelas 21. Tapi saat menonton teater dan di Banten pula? Pada momen itu Toto menjadi penonton yang khidmat. Sedangkan dadi dan Bagus entah berada di mana. Beruntunglah Toto sebagai si outsider, karena ikut menjadi saksi ditancapkannya tonggak kebangkitan seni teater di Banten.

Antusiasme seperti itu juga muncul di kelas teater PRD. Saat Kak Nazla melatih mereka menerjemahkan ide-idenya. Kami sempat terharu sekaligus merasa lucu melihatnya. Nazla membagi 3 kelompok. Setiap kelompok diharuskan mementaskan sebuah lakon. Kelompok pertama dengan lakon “para murid yang bandel”, kedua dengan “tertangkapnya pencuri”, dan terakhir “Darmaji (dahar lima ngaku hiji)”. Mereka (anak-anak SD yang kesehariannya berkubang lumpur di sawah) disuruh menciptakan dialog sendiri. Awalnya kami sempat ragu; apakah mereka bisa?

Ruang baca dijadikan panggung sementara. Kami menontonnya dengan harap-harap cemas. Begitu juga anak-anak yang lain. Kelompok pertama maju ke pentas; menampilkan guru yang sabar saat mengajar di kelas yang muridnya bandel. Dialog-dialognya lucu. Kemudian yang kedua menampilkan sekelompok masyarakat yang melakukan “pengadilan masa” saat menangkap basah pencuri. Pemeran malingnya – saking semangatnya, berlari ke luar pentas (bahkan areal PRD) dan jidatnya benjol kebentur rak buku! Sedangkan kelompok ketiga lebih heboh lagi. Berkali-kali mereka “try and error”. Salah seorang pemainnya keseringan tertawa, sehingga jalannya cerita terganggu. Nazla dengan tegas menyuruh mereka mengulang lagi dari awal, jika ada pemain yang tertawa. Akhirnya, pemain yang suka tertawa (kadang juga ditertawakan penontonnya) memilih mengundurkan diri dari pentas dengan air mata yang terurai.

Kami membiarkan saja mereka mengambil keputusannya sendiri. Kami hanya mengarahkan. Biarkan mereka tumbuh dengan impiannya sendiri saat mengenal seni teater. Di akhir latihan, nazla berseru pada kami dengan penuh semangat, “Kita bikin teater anak-anak!” Siapa takut! Tapi by the way, dimanakah kau, DKB?



DAFTAR PENYUMBANG:

Iwan Nit Net, Serang; 2 meja, 1 rak buku.
Winny Rosalina, RCTI Jakarta; 30 komik Paman Gober, 30 majalah Donald Bebek dan Cinemags.
Herawati Wasito, Jakarta; 1 globe, 1 atlas gantung, 2 kalender
Donna Widjajanto,Jakarta; 3 novel, 2 majalah (Junior & Kawanku)
Penerbit Fatahilah Bina Alfikri, Jakarta; 33 novel remaja islami.
The British Council, Jakarta; 1 buku (Mewujudkan Partisipasi).
Dynamic Duo, Bandung; 40-an novel, 10 majalah
Siapa menyusul?

begawan
March 20, 2003, 03:40
Salam dari Rumah Dunia:

FLP, NURUL FIKRI, DAN LSPB

(AKU STAKEHOLDERS, LANTAU KAU APA?)

Selama Februari ini kami mengikuti banyak kegiatan, yang berhubungan dengan dunia tulis-menulis. Di Islamic Centre Serang, di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, di Pesantren Nurul Fikri Cinangka, dan di Aula Gubernuran Serang. Keempat peristiwa itu bagi kami, seolah mempertunjukkan sebuah "oase" di tengah eskalase sosial politik Banten yang semrawut dan tak mencerminkan kesucian motonya; "Iman dan Taqwa".

FLP

Peristiwa pertama (22/2), bersama dengan peserta kelas menulis Rumah Dunia, kami meluncur ke TIM. Di sana ada milad ke-6 Forum Lingkar Pena (FLP) Pusat, sebuah wadah penulis muda, yang mempunyai moto berbakti, berkarya, dan berarti. Dalam FLP tak ada orientasi politik apa-apa, selain ingin menciptakan generasi muda yang cerdas dan ktisis lewat membaca dan menulis. Anggotanya tersebar di seluurh nusantara; berjumlah 3500-an dan 300 diantaranya berprofesi wartawan, pengarang, penyair, penulis naskah TV-iklan, serta sisanya guru, ustad, dosen, buruh, pelajar-mahasiswa yang bersemangat ingin jadi penulis.

Sepulang dari TIM (23/2) dan bertempat di Pustakaloka RUMAH DUNIA (PRD), peserta kelas menulis PRD yang berstatus pelajar SMU dan mahasiswa di Banten, mendeklarasikan "Forum Lingkar Pena (FLP)" Serang. Mereka sepakat ingin berperan serta mewujudkan "Banten Membaca dan Menulis". Semoga saja hal itu diikuti oleh pembentukan FLP Tangerang, Lebak, Pandeglang, dan Cilegon. Kita lihat saja nanti kiprah mereka.

NURUL FIKRI

Yang kedua, masih 23 Februari, kami diundang jadi pembicara dalam "Seminar Sehari Cerpen Islami" di Pesantren Nurul Fikri, Cinangka-Serang. Ada yang membuat kami terhenyak saat itu. Sepanjang perjalanan aspal mulus dari Pal Lima-Ciomas-Pandarincang-Cinangka, kami disuguhi durian yang berjejer di pinggiran jalan, pesawahan yang bagai permandani, dan gunung Karang di sisi kiri serta pegunungan Sayar di kanan yang menghutan. Itu bukti bahwa Banten sangat kaya dengan hasil bumi. Ironis jika melihat kenyataan, bahwa masyarakat Banten masih miskin dalam hal sandang dan pangan. Ah, yang ini biar dijawab oleh para pemimpin dan penguasa Banten saja.

Lalu di kampung Sedatani, kami membelok ke kiri. Kira-kira 1 Km perjalanan, kami terhenyak lagi. Di depan mata kami terhampar kawasan Pondok Pesatren Nurul Fikri, yang dibangun dengan menyesuaikan kontur perbukitan seluas 100 hektar. Betapa mempesona mata dan hati kami. Di sinilah sekitar 120-an anak setingkat SLTP dan SMU, mengisolasi diri dari kesemrawutan duniawi. Mereka membuka mata dan hati hanya untuk ilmu lewat hubungan vertikal dengan Allah. Yang paling ironis, tak ada seorangpun siswa yang berasal dari Serang. Mereka adalah anak-anak Jakarta, Bandung, dan Malaysia.

LSPB

Yang terakhir dan paling prestisius, adalah peluncuran buku "Stakeholders dan Kebijakan Publik dalam Dinamika Politik dan Pembangunan Daerah Provinsi Banten" di aula gubernuran Serang (27/2). Buku keluaran Lembaga Strategis Pembangunan Banten (LSPB), itu merupakan himpunan pemikiran, pengamatan, dan pengalaman dari 26 penulis Serang serta Jakarta dari beragam profesi (dosen, peneliti, birokrat, legislatif, LSM, dan wartawan), yang mengkritisi kondisi Banten di era duet Djoko Munandar dan Ratu Atut Chossiyah. Para penulis itu diwisuda oleh LSPB sebagai para stakeholders (pemilik kepentingan) dalam proses transisional penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan Provinsi Banten.

Kami datang ke sana tanpa undangan dan predikat "stakeholders". Hanya karena kecintaan pada buku saja, kami berharap bisa menimba ilmu dengan wajah menahan malu. Tapi launching itu seremonial belaka. Hanya sambutan dari gubernur Banten, Uwes Qorny (sebagai dewan penasehat LSPB), dan HS Dillon (Kemitraan Bagi Pembaruan Tata Pemerintahan di Indonesia). Ada banyak kepentingan politik di sana dan penuh basa-basi. Tak ada diskusi tentang isi buku itu. Wilayah publik yang dicomot mereka jadi terpinggirkan di sini. Kami rupanya telah datang ke alamat yang salah.

Itu tampak sekali dari isi bukunya. Dengan sederetan nama besar dan embel-embel gelar yang "wah", rasanya buku ini lebih cocok sebagai unjuk kekuatan LSPB kepada para penguasa, pengusaha, dan pemimpin Banten lewat kecendikiaan mereka. Bukan untuk publik (baca: masyarakat akar rumput). Sebetulnya tak ada pemikiran yang baru di sini. Lebih bersifat umum dan tidak membumi.. Tak ada kedekatan geografis, apalagi psikologis. Hanya pengulangan dan teori belaka dengan daftar pustaka yang panjang. Konon begitulah kalau para cendekia menulis.

Seperti tulisan Prof. Dr. HI. Tihami, MA (Implementasi Otonomi Daerah dalam Kajian Sosial Budaya). Kentara sekali, bahwa Pak Prof kita ingin menjelaskan kepada para pemimpin, pengusaha, dan penguasa (terutama anggota dewan yang terhormat) di Banten, bahwa otda itu seperti ini lho; bla,bla, bla…. Padahal akan lebih signifikan dengan kapasitasnya sebagai Ketua dan Guru Besar STAIN SMHB Serang, jika yang ditulisnya adalah tentang bagaimana sistem pendidikan yang baik diterapkan di Banten paska provinsi. Itu juga ditegaskan lagi oleh Syahrul Ibrahim (Stakeholders, Kebijakan Publik, dan Pembagunan). Yah, semoga saja para pemimpin, penguasa, dan pengusaha di Banten membaca buku ini. Sehingga ujung-ujungnya, semoga di kemudiaan hari mereka mengerti, jika ada proyek seperti pembuatan median jalan protokol di Serang, yang mengerjakannya adalah Pemerintah Kota, bukan Provinsi.

Melihat eskalasi sosial politik di Banten selama Februari ini, kami jadi berandai-andai, jika sebuah wilayah dikuasai oleh para "pedagang" yang haus kekuasaan dengan "budaya berhitung"nya, cenderung yang diterapkan adalah cara-cara pemaksaan lewat kekerasan. Dan jika dikuasai oleh para cendekia (yang juga haus kekuasaan), yang biasa terjadi adalah retorika berbusa-busa dan cenderung minterin rakyat (baca membodohi). Semoga saja LSPB tidak mengarah ke sana.

Tapi ada yang menarik dari ucapan Uwes Qorny dalam sambutannya. "Banten miskin literatur!" katanya. Itu juga yang jadi alasan utama penerbitan buku ini. Di "Persembahan Editor", pada alinea pertama jelas tertulis; Prof. Tihami selalu mengingatkan, agar orang Banten dari kalangan profesi apa saja, rajin menuliskan apa saja mengenai dan atau apapun yang terjadi di Banten. Kelak, tulisan-tulisan itu akan menjadi kekayaan berharga untuk diwariskan pada generasi mendatang. Ironisnya, tak ada satu tema pun yang menyinggung soal betapa pentingnya sebuah sarana gedung perpustakaan (lengkap dengan bukunya) dibangun di Banten, agar masyarakat umum bisa mengakses ilmu pengetahuan! Termasuk juga membaca buku keluaran LSPB ini. Jadinya omongan Uwes itu terkesan omdo. Tak ada relevansinya.

Buku ini jelas berharga sebagai bagian menuju Banten membaca. Tapi, aroma "budaya berhitung"nya masih tinggi. Itu tampak dari proses pengadaan tulisan yang dipesan kepada para penulis dengan tema-tema yang sudah ditentukan. Harusnya LSPB yang disokong dengan nama-nama besar dan dana besar pula, bisa berbuat lebih banyak lagi. Semoga saja di buku-buku keluaran LSPB nanti, tulisan-tulisannya didasarkan pada data-data di lapangan lewat metode penelitian dan kajian. Lalu hasilnya nanti disosialisasikan ke publik dalam arti sesungguhnya (baca: masyarakat), lewat media-media lokal. Dan buku-buku yang diterbitkan disumbangkan ke perpustakaan pemda, instasi, sekolah, LSM, serta PRD, agar masyarakat luas bisa membacanya.

Tapi bagi kami, yang menarik dari LSPB bukan sepak terjangnya di wilayah politik praktis. Justru di lembaga "pendidikan formal"nya, yang saat ini menampung lebih dari 50 orang siswa/siswi. Dalam profilnya dijelaskan, bahwa anak-anak yang tak mampu secara ekonomi itu belajar secara lesehan di ruang belakang sekretariat LSPB. Hal itu sangat sejalan dengan apa yang sekarang sedang kami lakukan di PRD.

Hanya saja, hati-hatilah menggunakan istilah "stakeholders" ketika melibatkan wilayah publik. Pada akhirnya jangan jadi seperti begini; "Aku stakeholders, lantas kau apa"? Begitulah kira-kira.

***

DAFTAR PENYUMBANG:

5. Penerbit Fatahilah Bina Alfikri, Jakarta; 33 novel remaja islami.

6. The British Council, Jakarta; 1 buku (Mewujudkan Partisipasi).

7. Dynamic Duo, Bandung; sedus novel anak-anak dan majalah.

8. Mr. Prb, Jakarta; alat menggambar seharga Rp. 200.000,-

(crayon, buku gambar, dll).

9. LSPB; 3 buku (Banten Paska Provinsi, 2 buku "Stakeholders…..").

10. Fara Apriyanti, siswa TK Al-Azhar Serang, 25 buah buku gambar, 3 lusin pinsil 2B

11. Herawati Wasito, Jakarta, 1 buku sketchbook, 1 set spidol warna, 2 set kertas surat dan kertas berwarna

12. Siapa menyusul?

begawan
March 20, 2003, 03:48
Salam dari Rumah Dunia:

DARI PENSIL WARNA, SPIDOL,

DAN CRAYON KE WISATA KELUARGA

Ahad, 2 Maret 2003, Pustaklok RUMH DUNIA (PRD) kedatangan tamu yang sudah lama kenal tapi belum pernah bertemu. Disebut begitu, karena kami sama-sama ikut di milis 1001Buku. Jadi, selama ini kami ngobrol dan diskusi lewat e-mail (surat elektronik) saja. Sesekali telepon-ria atau lewat SMS. Tapi ya, tetap tidak afdol kalau tidak bertemu langsung.

OLEH-OLEH

Mereka Pak Wasito dan Bu Wati Wasito sekeluarga, sedang long weekend Muharaman (tahun baruan Islam) ke Banten. Mereka mampir berwisata dulu di PRD. Kami pikir PRD bakalan sepi, karena hari Ahad tidak ada kegiatan. Lalu muncul inisiatif mengundang anak-anak sekitar untuk datang. Kami tiupkan khabar lewat angin: ada tamu dari Jakarta. Satu persatu mereka berdatangan. Tentu saja kami membiarkan mereka berlaku seperti halnya hari-hari reguler PRD (Senin hingga Kamis). Apalagi, kedatangan tamu yang concern pada mereka adalah sesuatu yang ditunggu-tunggu. Hampir setiap saat, mereka suka menanyakan apakah kak Yudith akan datang ke PRD. Juga kak Donna, kak Izma, dan lain-lain. Yudith adalah seorang mahasiswa S2 di Jerman yang ikut program sahabat pena buat anak-anak PRD. Donna Widjajanto adalah pegawai PT Gramedia Pustaka Utama yang juga berkorespondensi dengan mereka. Izma Fardiana adalah wartawan dari Surabaya.

Nah, sekarang tentang kedatangan Pak Wasito sekeluarga. Kami gembira melihat anak-anak merasa senang dapat bertemu langsung. Apalagi ada oleh-oleh yang dibawa. Sebelumnya mereka mendengar dari cerita kami saja, bahwa globe dan peta Indonesia di PRD adalah sumbangan Bu Wati dari Jakarta. Tidak ada acara seremonial karena kami tidak mengharapkan begitu, cuma foto-foto bersama, saat Bu Wati menyumbang satu set spidol, kertas surat-warna, dan sketchbook. Kami minta salah seorang anak PRD, Rostini untuk menerima bingkisan tersebut. Bingkisan itu kami buka di depan mereka. Dengan mata berbinar, mereka memandangi kertas surat yang beraneka gaya. Kami pun mengijinkan mereka untuk menggunakan spidol saat itu juga, karena hari itu adalah ‘special day’.

Berawal dari cerita-cerita tentang kegiatan di PRD, termasuk teater dan puisi. Sampai putri-putri Pak Wasito minta mereka main teater. Kemudian, yang terjadi malah lebih ramai lagi, karena anak-anak itu tidak menolak. Kami membagi mereka yang mau main teater menjadi tiga kelompok. Masing-masing dengan cerita berbeda. Lalu mengalirlah mereka dalam adegan, dialog dan gaya. Tentu, sesuai kemampuan mereka. Setelah teater usai, anak-anak itu masih ingin maju lagi. Kami tak tega menolak. Mereka lalu baca puisi. Rupanya mereka punya motto sendiri: sekali berani maju, ingin maju lagi! Bahkan Della (9 th), keponakan Bu Wati, dengan “berjibaku” maju membacakan karangannya sendiri, yang akan diikutsertakan dalam lomba mengarang Jakarta Books. Pak Wasito sendiri tidak mau kalah. Dia membaca satu puisi. “Long weekend yang menyenangkan,” kata Pak Wasito.

Kami lantas memutuskan, PRD di hari Minggu dibuka saja. Sejak pagi (jam 09.00am) hingga sore. Toh, selepas tengah hari, kakak-kakak mereka yang ikut kelas menulis PRD serta yang tergabung di Forum lingkar Pena Serang berdatangan. Kata Tias, “Asyik juga kalau para keluarga berwisata di hari minggu ke PRD. Anak-anak mereka bisa berekspresi di sini; membca puisi ataau berteater.” Ya, betul juga. Apaalagi di Serang, ruang berekspresi untuk anak-anak sangat jarang. Kami pikir ini baik untuk pengembngn rsa percaya diri pda nk-nak. Silakan saja datang ke PRD. Siapa tahu anda dan anak-anak akan gembira dan berbahagia, karena menemukan suasana yang berbeda. Dengan catatan, sebelum kunjungan harap memberitahukan lebih dulu, via e-mail atau telepon. Jadi, rencnakanlah untuk datang dan berbagilah dengan mereka!

GURU BARU

Selasa, 4 Maret 2003. Sesuai pengumuman, akan ada yang baru di wisata gambar, yaitu kedatangan guru gambar. Anak-anak bertanya-tanya, siapakah guru itu. Apalagi mereka tertarik dengan crayon baru. Kami menjanjikan crayon itu digunakan saat mereka belajar bersama guru baru tersebut. Ada cerita seru dengan crayon baru ini. Kami mendapat anugrah dari seseorang yang kami sebut Mr. Pr di Jakarta. Dia mentransfer uang sebanyak Rp.200.000,- Bahkan dia menjanjikan akan rutin membantu anak-anak PRD dengan mengirim sejumlah uang setiap bulan. Hal ini sudah dilakukan oleh majalah “Annida” dan “Aku Anak Soleh”, yang rutin mengirimkan majalahnya sejak thaun lalu. Juga Dynamic Duo dari Bandung, yang rutin mengirimkan paket buku serta majalah sejak dua bulan lalu.

Paket bantuan pertama Mr.Pr ini kami belikan selusin crayon, pensil, dan beberapa buku cerita. Anak-anak pasti surprise, karena selama ini di “wisata gambar” menggunakan pinsil warna. mungkin ini hikmah dari tahun baru 1 Muharam bagi PRD. Hijrh dari pensil warna ke crayon dan mendapat guru menggambar, yang ikhlas menyisihkan waktunya untuk berbagi ilmu tanpa pamrih.

Tepat 02.30pm, Pak Indra Kusuma, guru kesenian MAN 2 dan tergabung di Padepokan Seniman Bunderan, hadir bersama putrinya, Nada. Gadis cilik kelas nol kecil itu juga suka menggambar seperti ayahnya. Pak Indra adalah alumni Universitas Taman Siswa tahun 1998, Yogyakarta, Fakultas seni Rupa, Jurusan Seni Lukis. Setelah berkenalan, sesi gambar dimulai. Karena jumlah crayon terbatas, seperti biasa dibentuk kelompok menggambar. Sayang sekali kami baru dapat membagikan selembar kertas yang diambil dari buku gambar ukuran kecil. Padahal, kata Pak Indra, idealnya mereka menggambar di kertas A3 atau paling tidak ukuran 20x30. Apa boleh buat, kertas kecil itu yang dipakai dulu, biar anak-anak menuntaskan euphoria pada crayon.

Pelajaran diawali dengan bagaimana menggambar orang, dari depan dan samping. Anak-anak terus mengikuti garis dan bentuk yang digambar pak Indra. Lalu mereka dipersilakan melanjutkan gambar orang sesuai keinginan mereka. Setelah itu mereka boleh mewarnainya dengan crayon.

Ada yang masih takut-takut memegang crayon, ada yang mewarna tipis-tipis. Kami menjelaskan agar mereka tidak takut crayon itu habis, karena toh nantinya akan habis juga. Apalagi pak Indra menyebutkan agar seluruh kertas tertutup oleh warna. Kami terharu melihat hasil gambar yang begitu berbeda saat mereka menggunakan pensil warna. Ada delapan gambar yang lolos seleksi untuk dipasang di majalah dinding. Pak Indra memilih gambar terbaik sesuai usianya, tingkat SMP dan SD. Paling kecil, Iyah, umur 5 tahun. Gambar orangnya memang belum sempurna, juga cara pewarnaan yang masih bolong di sana-sini. Tapi gambarnya lumayan untuk ukuran seusia dia (gg/tt).

***



DAFTAR PENYUMBANG:

8. Mr. Pr; Jakarta; Rp.200.000, dibelikan crayon dan alat gambar.

9. LSPB, Rangkas; 3 buku (Paska Provinsi, Stakeholder…)

10. Herawati Wasito; Jakarta, 1 set spidol, kertas surat dan warna, 1 sketchbook.

11. Fara Apriyanti, TK Al-Azhar serang; 25 buku gambar, 3 lusin pensil 2B.

12. Majalah “Annida” dan “Aku Anak Soleh”, Jakarta; rutin setiap terbit sejak tahun lalu.

13. Siapa menyusul?

begawan
March 20, 2003, 03:56
Salam dari Rumah Dunia:



BERAWAL DARI PETA NUSANTARA,

LALU KABARKAN BANTEN PADA DUNIA LEWAT TULISAN



“Kota Serang adalah tempat kelahiranku dan tempat aku dibesarkan. Saat aku masih kecil, ayah ibuku bercerita, jaman dahulu kota Serang dijajah Belanda. Saat itu ibuku masih kecil. Ibuku tidak bisa dan tidak boleh sekolah, yang boleh sekolah hanya anak direktur, anak yang terkaya, atau anak laki-laki. Zaman itu adalah zaman kebodohan. Dan bersyukurlah kepadaNya, kepada Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Penyayang yang telah memperbolehkan aku sekolah dan belajar sejak kecil hingga dewasa. Dan aku ingin kota Serangku menjadi kaya dan termakmur di seluruh dunia. Aku ingin di kota Serang kujadikan ramai dan damai. Aku tak ingin pencopet dan pencuri ada di kota Serang. Aku ingin kota Serang sejahtera dan sentosa.”



***



PETA NUSANTARA

Tulisan di atas adalah petikan dari karangan Sri Astuti, kelas IE Madrasah Tsanawiyah Negeri Serang. Kami telah menyuntingnya tanpa merubah isi dan ‘heroisme’ karangan tersebut. Beberapa karangan lain dalam “Wisata Tulis” Pustakaloka RUMAH DUNIA (PRD) ini hampir senada, karena kami meminta mereka untuk menulis karangan dengan tema: ‘Kota Serang yang kucintai’. Rata-rata mereka menulis –juga dengan heroiknya!, betapa menyenangkan tinggal di Serang, tumbuh besar di lingkungannya, melihat keramaian kota, atau berpendapat tentang keributan antara pedagang dan pengembang Pasar Rau (Pasar Induk Serang). Kami membebaskan mereka menulis apa saja asal sesuai tema. Ide ini memang dampak dari kejadian-kejadian kecil di hari-hari reguler PRD yang mengusik hati kecil kami.

Semua berawal dari peta Wawasan Nusantara terpampang di salah satu pilar pendopo PRD. Peta itu sumbangan dari Bu Wati Wasito-Jakarta. Gambar wilayah Nusantara terbuka lebar, hingga dapat terlihat pulau besar dan kecil, wilayah paling utara dan selatan. Lalu sampai ke sebuah daerah di barat Pulau Jawa: Provinsi Banten. Lalu di manakah Banten? Serang? Ciloang? Beruntun petanyaan dari anak-anak.

Kami tunjukkan letak Banten dengan sedikit penjelasan meliputi batas-batas wilayah, daerah-daerah yang termasuk Banten, dan luas provinsi ini yang melebihi DKI Jakarta. Kami beritahukan, bahwa Ciloang berada di dalam “lingkaran titik” bernama Serang. Kami sodorkan juga pemikiran bahwa dengan luas provinsi, kekayaan alamnya, betapa banyak yang bisa dilakukan oleh Banten. Oleh mereka kelak. Tapi respon anak-anak cuma sampai itu, seolah data-data hanya sekedar data.

Tentu saja kami tak bisa menyalahkan, karena sebagian besar mereka jarang bepergian keluar Serang. Jangankan keluar kota, di Serang saja wilayah yang biasa terjamah adalah rute Royal-Pasar Lama-Pasar Rau. Itu pun jarang. Kami suka sedih membayangkan masih banyak yang belum pernah ke alun-alun, kantor pos, Masjid Agung, Kabupaten, apalagi Gubernuran! Mungkin juga mereka tak tahu siapa Bupati dan Gubernurnya!



PETA SERANG-BANTEN

Kami jadi ingat masa kecil dulu. Kegemaran yang sering kami lakukan adalah, berdiri lama-lama di depan sebuah peta dan globe. Membayangkan betapa menyenangkannya bisa menjelajahi dunia; singgah di kota-kota baru dan mengenal masyarakat (budaya) baru. Juga kami suka berlama-lama mengamati peta sebuah kota; bisa Jakarta, Bandung, atau Yogya. Berada di mana kami? Lantas kami berkhayal, sedang menyusuri garis-garis berwarna hitam (pertanda jalan) atau biru (sungai). Pada kenyataannya, di kegiatan Pramuka, mengikuti kegiatan tanda jejak sangatlah menyenangkan.

Mungkin institusi lokal sudah harus segera mengeluarkan peta Provinsi Banten dan kota Serang (atau sudah?). Sebarkan (sosialisasikan) di tempat-tempat umum seperti Kantor Pos, bank, terminal, serta fasilitas umum dan pusat pelayanan masyarakat lainnya. Dengan kedua peta itu, siapa tahu masyarakat serang-Banten makin mencintai wilayahnya sendiri.



DUTA TULISAN

Kami jadi ingin tahu, apa saja yang mereka ketahui tentang kotanya. Karena itu tema yang kami ambil adalah tentang Serang. Tapi ternyata homework kami masih banyak dan panjang! Tak sekedar sim salabim! untuk membuat mata hati dan pikiran mereka terbuka: inilah kota Serang itu, kelilingilah ia, lihat segala sesuatu yang ada pada Serang, bermimpilah untuknya, lakukan sesuatu untuk kotamu, lalu ceritakan pada dunia!

Lagi-lagi institusi lokal seperti sekolah dan instansi terkait (Dindik, Disbudpar dan perpustakaan Provinsi Banten), perlu melakukan trobosan-terobosan, agar generasi muda Banten nanti mencintai bumi Banten. Misalnya, mengadakan lomba mengarang tentang “Banten Yang Kucintai”. Jadikan pemenangnya sebagai “Anak Duta Banten”. Lalu pemenangnya dibawa berkeliling Banten (jangan pejabatnya saja yang studi banding). Siapa tahu kelak, mereka menjadi pemimpin-pemimpin Banten, yang cerdas, kritis, dan tidak asing dengan kebantenannya sendiri. Bagaimana, Bapak-bapak? (gg/tt)



BOKS 1:

DAFTAR PENYUMBANG:



10. Herawati Wasito; Jakarta, 1 set spidol, kertas surat dan warna, 1 sketchbook.

11. Fara Apriyanti, TK Al-Azhar serang; 25 buku gambar, 3 lusin pensil 2B.

12. Majalah “Annida” dan “Aku Anak Soleh”, Jakarta; rutin setiap terbit sejak tahun lalu.

13. Gradia Book Centre, Serang, 3 buku (Sosial-Politik)

14. Dynamic Duo, Bandung, 25 novel (Sydney Sheldon, Tarian Bumi- Oka, dll…)

15. Yayasan Multimediasastra, Jakarta; 2 “Grafiti Imaji”, 2 “Grafiti Gratitude”.

16. Femina Group; Jakarta, 6 majalah Parent Guide

17. Siapa menyusul?



BOKS 2:

STOP PRESS:

KELAS MENULIS PRD ANGKATAN KE-2

Membuka kesempatan bagi pelajar dan mahasiswa Banten (15-22 th) untuk belajar teori dasar jurnalistik, fiksi, dan skenario TV. Peserta tidak dipungut biaya, tapi diwajibkan menghibahkan sebuah buku apa saja untuk PRD saat mendaftar. Kelas baru berlangsung 6 April dan dibatasi 20 peserta saja.

begawan
March 24, 2003, 04:28
Salam dari Rumah Dunia:

LABORATORIUM ALAM



Beberapa kupu-kupu berterbangan di Pustakaloka Rumah Dunia
(PRD) dan hinggap di bunga-bunga untuk menghisap madu serta bertelur. kedua anak kami; Bella (5 th) dan Abi (3,5th) berkejaran; berusaha menggapai mereka. Tak lama setelah itu beberapa pohon diserang ulat bulu. Dan Subhanallah, jenis ulatnya pun berbeda-beda. Pohon jeruk dengan ulat hijau, pohon Handeuleum diserang ulat bulu kebiru-biruan, dan ulat hitam yang menempel di dau pohon Jambu batu serta kelapa hibrida.



METAMORPHOSA

Lantas kami mempunyai ide untuk menggunakan fenomena alam itu untuk bahan perbincangan di kalangan anak-anak PRD. Kami masukkan beberapa ekor ulat bulu yang menyerang pohon Handeuleum (konon berkhasiat untk wasir) ke dalam toples, berikut beberapa helai daun Handeuleum. Toples kami tutup dengan kain kasa dan diikat karet.

Awalnya banyak yang berkomentar negatif, ngeri, bulu kuduk merinding, jijik, keheranan, cari-cari kerjaan, sampai ada yang tidak mau mendekati toples sama sekali. Perlahan kami ajak mereka untuk memperhatikan apa yang dilakukan ulat-ulat itu. bentuk tubuh ulat, warna-warni ulat yang nyaris sama, jumlah kaki, cara berjalan, cara makan ulat –belakangan mereka sebut rakus!-, lalu perubahan morfologis ulat.

Berebut anak-anak PRD ingin menjawab pertanyaan kami tentang perubahan bentuk ulat menjadi kupu-kupu, meski harus sedikit keras mengingatnya; metamorfosis. Ada sedikit perdebatan di antara mereka, istilah yang benar adalah metamorphosa ataukah metamorfosis.



PERCOBAAN

Kami mengambil sebuah buku pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam yang menjadi koleksi PRD. Kami tunjukkan pada mereka betapa banyak percobaan sederhana yang menunjukkan gejala-gejala alam yang bisa mereka lakukan di rumah. Dan yang terpenting: tidak berbahaya jika mereka lakukan sendiri.

Semula mereka tidak percaya percobaan segelas air penuh, ditutup selembar kertas, lalu perlahan dibalikkan, dan ternyata air dalam gelas itu tidak tumpah. Kami menjelaskan melalui gambar di whiteboard, dan meminta mereka menjelaskan alasan mengapa kertas tidak jatuh dan air tidak tumpah. Beberapa berpikir serius untuk menjawab fenomena itu, beberapa menjawab asal, bahkan yang tak ada hubungannya sama sekali. Dan jawaban fenomena itu kedengaran aneh : udara menekan ke segala arah, termasuk ke permukaan kertas yang menutup gelas berisi air.

Diam-diam, salah satu anak, Tuti Rohmawati (kelas 6SD), pulang ke rumahnya ketika kami masih menjelaskan percobaan itu. Ternyata di rumahnya dia melakukan percobaan itu sendirian. Lalu dia tergopoh-gopoh kembali ke PRD dan menceritakan semuanya. Dia mencoba mengisi segelas air dan menutupnya dengan kertas, tetapi gagal, air tumpah seketika. Kami tekankan, bahwa untuk melakukan percobaan jangan cuma sekali, karena untuk menemukan lampu pijar, Thomas Alfa Edisson harus melakukan percobaan ratusan kali. Begitu juga dengan para penemu lainnya.



LAPORAN

Kami meminta mereka untuk melakukan percobaan itu di rumah, lalu di Wisata Tulis –hari Kamis- mereka menuliskannya sebagai laporan. Tetapi untuk minggu itu juga, kami mengajak mereka membuat percobaan yang dilakukan berkelompok, dengan menulis laporan lengkap setiap hari atas apa yang terjadi pada percobaan Fransisco Redi (percobaanya membuktikan, bahwa makhluk hidup berasal dari makhluk hidup).

Tiga buah gelas aqua diisi materi percobaan yang mudah membusuk. Karena tak ada bahan hewani (daging), kami gunakan sepotong tahu sebagai materi percobaan. Masing-masing gelas diisi seiris kecil tahu, lalu gelas pertama ditutup plastik, gelas kedua ditutup kain kasa, gelas ketiga dibiarkan terbuka. Kami meminta mereka menuliskan semua laporan percobaan mulai dari anggota kelompok, bahan percobaan, cara percobaan, sampai hasil percobaan yang diamati tiap hari.

Sampai tulisan ini turun, kami belum mendapatkan hasil sebagaimana Fransisco Redi dapatkan dulu. Tapi, jika percobaan ini gagal, kami akan mengajak mereka mengulanginya lagi dari awal, dengan evaluasi dari percobaan sebelumnya. Atau ada yang punya saran atau masukan atas percobaan di atas? (gg/tt)



BOKS 1:

DAFTAR PENYUMBANG:



13. Gradia Book Centre, Serang, 3 buku (Sosial-Politik)

14. Dynamic Duo, Bandung, 25 novel

15. Herry Latief; Jakarta, buku puisi “Ilusiminimalis”

16. Sitha Sidharta, LKN Jakarta; 10 buku (Roald Dahl, Astrid Lindgren, Seri Kekayaan Yang Tersembunyi).

17. Femina group, Jakarta, 6 majalah Parents Guide.

18. Yayasan Multimedia Sastra; 2 buku Graffiti Imaji, 2Graffiti Gratitude

19. Siapa Menyusul?



BOKS 2:

STOP PRESS:

KELAS MENULIS PRD ANGKATAN KE-2

Membuka kesempatan bagi pelajar dan mahasiswa untuk belajar teori dasar jurnalistik, fiksi, dan skenario TV. Peserta tidak dipungut biaya, tapi diwajibkan menghibahkan sebuah buku untuk PRD dan contoh fiksi cerpen serta non fiksi saat mendaftar. Kelas dimulai 6 April dan dibatasi 20 peserta saja. Pendaftaran ditutup 5 April.




PUSTAKALOKA RUMA DUNIA

Komplek Hegar Alam 40, Ciloang

Serang 42118, Banten

begawan
March 31, 2003, 03:56
Jurnal #14:

Salam dari Rumah dunia:

BUKU DAN PERPUSTAKAAN DI MATA MEREKA

(Atas nama buku, berbuatlah sesuatu!)



“Buku adalah sesuatu yang berharga, tanpa buku kita tidak tahu apa itu globe dan kepompong. Karena bukulah aku bisa mengenal semua yang ada di lingkungan kita. Manfaat buku besar sekali, kalau kita membaca buku terus-menerus kita akan tahu segalanya dari nama benda sampai nama hewan. Dan kita juga bisa tahu nama-nama kota, nama pulau dan sebagainya. Sedangkan perpustakaan adalah sesuatu yang harus kita ketahui. Perpustakaan bagiku sangat berguna karena kita bisa melihat-lihat buku dan membacanya setiap hari. Setiap pulang sekolah saya selalu pergi ke perpustakaan. Kalau saya merasa sedih, saya membaca buku-buku yang lucu dan rasa sedih pun hilang. Itulah mengapa saya suka dengan buku dan perpustakaan.” (Ninik Al Khayagenik, kelas 5 SDN Cipocok Jaya 4, Serang)


***

MANFAAT

Siapa bilang buku tidak ada gunanya? Di Pustakaloka Rumah Dunia (PRD) hal itu sudah menjawab keraguan para pemimpin Banten selama ini, bahwa “Perpustakaan belum perlu di Banten”. Silakan baca lagi Wahyudi, kelas 5 SDN Sumber Agung, Serang; “Suatu hari saya pergi ke perpustakaan. Saya datang untuk membaca buku yang bermanfaat. Perasaan saya di perpustakaan itu sungguh terharu melihat teman-teman yang giat membaca. Yang tidak bisa membaca jadi bisa, yang menulisnya jelek jadi bagus. Membaca itu sangat bermanfaat bagi semua orang. Karena membaca itu bekal di hari tua. Bayangkan, di mata Wahyudi, perpustakaan bisa mengetuk perasaanya manakala melihat teman-temannya yang tidak bisa membaca dan menulis jadi bisa.

Masih belum percaya? Baca lagi saja tulisan Anisah, kelas 5 SDN Karang Tumaritis Serang; “Manfaat buku adalah membuat kita membaca lebih lancar dan tahu semua isi bacaan buku itu.Orang yang pandai menuntut ilmu asalnya karena banyak membaca buku, karena buku adalah gudangnya ilmu.” Bayangkan lagi! Anak kelas 5 SD sudah berani mengeluarkan pendapat bahwa “buku adalah gudangnya ilmu”.

Ketiga tulisan di atas adalah cuplikan pemenang “Wisata Tulis” (WT) reguler yang diadakan hari Kamis (27/3) lalu. Kami meminta anak-anak PRD untuk membuat karangan bertema “Buku dan Perpustakaan Menurut Pendapatku”. Tak sampai duapuluh tulisan yang terkumpul memang, tapi itulah hasil ‘seleksi alam’ selama kegiatan reguler di PRD. Anak-anak itulah yang selama ini aktif mengikuti kegiatan –terutama WT- di PRD. Mereka merasa dengan menulis dapat mengungkapkan pikiran, perasaan, doa, harapan, bahkan kemarahan sekalipun.

Ketakutan untuk menulis salah sudah mereka tepis, tak peduli karangannya berhias coretan bolpen sana-sini. Mereka sudah memulai sebuah langkah besar setelah memenuhi otak dengan membaca. Tentu saja itu sedikit sulit bagi mereka yang di lingkungan sekitarnya tidak terbiasa dengan budaya membaca dan menulis. Kini kami bisa sedikit lega dan berbahagia, karena proses panjang dari WT itu menampakkan hasil menggembirakan. Ketika kami menanyakan pada anak-anak itu, manfaat yang mereka rasakan dengan adanya kegiatan membaca dan menulis di PRD, mereka menjawab dengan yakin: “Saat mengarang di sekolah, terasa lebih gampang!”



KANTONG BACA

Kami jadi ingat salah satu mimpi kami, yang diwujudkan oleh Perpustakaan Setda Provinsi Banten di Alun-alun Serang, dimana digelar sebuah taman bacaan mini yang penuh pengunjung di hari Minggu. Arealnya dibatasi spanduk berisi ajakan untuk mampir membaca. Lalu tiap orang sehabis olah raga dapat istirahat sambil membaca.Tapi kini tak ada lagi. Semoga setelah penggagasnya (Pak Yaya) jadi Kepala Perpustakaan Pemprov Banten, taman bacaan itu dihidupkan lagi dan Perpustakaan Banten di Cinanggung mulai dibenahi dan dibuka untuk umum.

Kami lantas berandai-andai, jika kantong-kantong membaca dan menulis seperti PRD berdiri di beberapa titik di Serang. Masing-masing dengan kegiatan membaca, mendongeng dan menulis, atau apa pun yang dapat membuat anak-anak dapat berlayar dengan imajinasinya. Pihak pengelola kantong-kantong baca pun tak harus kelabakan mencari dropping buku, karena Pemda atau bahkan Pemprov sangat mudah mengucurkan dana untuk kegiatan seperti itu. Aih! Mimpikah kami?

ASIL LABORATORIUM ALAM

Omong-omong, menyambung tulisan kemarin, alhamdulillah, percobaan Fransisco Redy dengan tiga gelas yang diisi materi percobaan berupa seiris tahu, gelas pertama ditutup plastik, gelas kedua ditutup kain kasa, dan gelas ketiga dibiarkan terbuka berjalan sukses. Memang sih, sampai hari keempat belum membuahkan hasil, hanya binatang-binatang kecil (kami menyebutnya remetuk, bahasa Latinnya apa ya?) dan lalat yang beterbangan di gelas kedua dan ketiga. Tapi begitu hari ketujuh, mulai muncul belatung di dua gelas terakhir. Hari kedelapan lebih heboh lagi, karena di gelas pertama pun muncul belatung, dan ketiga gelas itu mengeluarkan bau yang tidak sedap.

Sebelum gelas-gelas plastik itu akhirnya dibuang, kami mendiskusikannya dulu dengan anak-anak. Ketika disodorkan pertanyaan dari mana asal belatung, sebagian ragu menjawab, sebagian lagi menuduh tahu itu sendiri yang membawa belatung. Kami mengajak mereka melihat fakta adanya remetuk dan lalat yang terbang-pergi, bahkan terjebak di gelas pertama yang tertutup plastik.

Tampaknya kesimpulan bahwa remetuk dan lalat-lah yang meninggalkan telur-telurnya di permukaan tahu dan tumbuh menjadi belatung, dapat diterima anak-anak. Kami menyarankan mereka menanyakan dan mendiskusikan hal itu dengan gurunya di sekolah. Satu dampak positif yang muncul dari percobaan-percobaan yang mereka lakukan: ingin melakukan percobaan lagi, terutama yang berkaitan dengan Ilmu Pengetahuan Alam.

Sekali lagi, bolehkan jika kami berandai-andai, tiap sekolah memperbanyak percobaan-percobaan sederhana, agar pengetahuan Ilmu Alam anak-anak sekolah tak jadi teori belaka…. (tt)

***

BOKS 1:

DAFTAR PENYUMBANG:



13. Gradia Book Centre, Serang, 3 buku (Sosial-Politik)

14. Dynamic Duo, Bandung, 25 novel

15. Herry Latief; Jakarta, buku puisi “Ilusiminimalis”

16. Sitha Sidharta, LKN Jakarta; 10 buku (Roald Dahl, Astrid Lindgren, Seri Kekayaan Yang Tersembunyi).

17. Femina group, Jakarta, 6 majalah Parents Guide.

18. Yayasan Multimedia Sastra; 2 buku Graffiti Imaji, 2Graffiti Gratitude

19. Fahri Asiza, LKN Jakarta, ; 18 novel (anak dan remaja)

20. Moh. Rival Aldifa Hidayah, Jakarta, Rp. 100.000,- (dibelikan 5 buku gambar A3, 1 rim HVS, 5 lusin bulpen, 10 notes kecil untuk hadiah)

21. Farida, Nindya dan Dwita, Bekasi; 6 buku gambar, 2 kertas warna, 3 puzzles, 2 pensil warna, 2 lem, 2 buku cerita

22. Siapa Menyusul?



BOKS 2:

STOP PRESS:

KELAS MENULIS PRD ANGKATAN KE-2

Membuka kesempatan bagi pelajar dan mahasiswa untuk belajar teori dasar jurnalistik, fiksi, dan skenario TV. Peserta tidak dipungut biaya, tapi diwajibkan menghibahkan sebuah buku untuk PRD dan contoh fiksi cerpen serta non fiksi saat mendaftar. Kelas dimulai 6 April dan dibatasi 20 peserta saja. Pendaftaran ditutup 5 April.

begawan
April 07, 2003, 13:55
Jurnal #15

Salam dari Rumah Dunia:

MENGAJAK ANAK-ANAK TETAP KREATIF

“Di sebuah desa bernama Ciloang, ada seorang ibu yang mengabdi pada keluarganya. Ibu itu bernama Sariah. Umurnya 35 tahun. Lahir di Ciloang. Suaminya bernama Risim (40 tahun), asal Bekasi. Ibu Sariah sewaktu kecil sekolah agama di madrasah. Dia punya anak Taufik (20), Rosida (almarhum), Saudi (14), Rostini (10), Hadi (8), Azis (almarhum).

Ibu Sariah bekerja menjadi penjual gorengan. Dia menjualnya di rumah. Gorengan itu dia buat sendiri. Setiap hari ibu sariah pergi belanja pukul 9 dan pulang pukul 10. Setelah ia pulang ia langsung memasak gorengan.

Dulu suaminya bekerja di pabrik kueh di Jembatan Lima, Jakarta. Sekarang pabrik itu bangkrut. Lalu dia berkerja menjadi tukang sayuran. Sekarang ia jadi tukang bangunan.” (Siti Nadhrotul Ain, Kelas 6 SDN Cipocok Jaya 4 Serang)

***

WARTAWAN CILIK

Tulisan di atas adalah hasil dari “Wisata Tulis”, Kamis lalu. Kali ini bukan puisi atau mengarang. Tapi hasil dari wawancara dengan nara sumber. Kegiatan di Pustakaloka Rumah Dunia (PRD) memang tak melulu membaca dan menulis, sesekali kami mengajak mereka bermain, meski juga menghindari bermain dalam arti yang sesungguhnya (just for playing). Kami tidak menyediakan mainan dan sejenisnya, dengan pertimbangan agar perhatian anak-anak pada buku tak terganggu. Semua kegiatan di PRD kami jalankan sebagai permainan kreatif yang berhubungan dengan buku, gambar dan tulisan, tapi harus tetap bervariasi agar anak tidak bosan.

Salah satu variasi itu adalah mengajak anak-anak membuat profil seseorang yang mereka temui dan mewawancarai seputar profesi dan motivasinya. Di saat “Wisata Tulis” (Kamis), mereka kami minta menuliskannya. Istilah mereka, jadi “wartawan cilik”. Untuk kali pertama kami meminta kesediaan Bu Sariyah, penjual nasi uduk di Ciloang sebagai narasumber. Kebetulan tiga orang putra-putri Bu Sariyah menjadi anggota PRD. Sebelumnya kami menjelaskan pada anak-anak tentang teknik wawancara dan apa saja yang harus ditanyakan. Kami jabarkan tentang unsur berita; 5 W + 1 H (who,what, when, where, why +how). Kemudian kami memandu mereka tahap demi tahap saat mewawancarai Bu Sariyah.

Sesekali terdengar tawa, juga jawaban malu-malu Bu Sariyah, karena yang mewawancarai adalah keponakan, tetangga bahkan anak kandungnya sendiri (Rostini). Begitu pula anak-anak itu, mereka sempat rikuh untuk bertanya langsung, dan lebih memilih bertanya pada kami. Beberapa ibu yang kebetulan lewat jadi tertarik dan ikut menyaksikan wawancara itu. Yang terjadi lebih heboh lagi karena anak-anak terlihat lucu ketika serius mewawancarai Bu Sariyah.

Tetapi, ketika kami meminta mereka menuliskan hasil wawancara itu, mereka menyatakan belum mampu. Buat kami itu tak jadi soal, malah kami sudah mengagendakan metode wawancara seperti itu pekan depan. Kami tidak ingin melihat hasil tulisan mereka bagus begitu saja, yang lebih penting lagi adalah kemampuan mereka menanyakan hal-hal seputar kehidupan narasumber. Dan kami sudah melobi ke beberapa nama agar bersedia diwawancara.

LOMBA GAMBAR

Seperti yang sudah kami jadwalkan, Selasa (“Wisata Gambar”, 1/4) diadakan lomba menggambar. Jurinya tutor menggambar, Pak Indra Kusuma (guru Kesenian MAN 2 Serang). Sejak pukul 12 siang anak-anak sudah muncul dan siap ikut lomba. Kami membagikan kertas gambar dan krayon. Lomba ini diprioritaskan sebulan sekali bagi anak-anak PRD sebagai special event.

Di tengah acara lomba, kami kedatangan tamu dari Disbudpar Banten, yaitu Pak Dadie Rsn (Kasubdin Kebudayaan) dan Pak Nandi (Kasubdin Promosi). Hadir juga penyair nasional asal Serang, Toto St Radik. Anak-anak makin senang ketika diajak berfoto bersama beliau-beliau ini. Untuk pemenang lomba gambar Insya Allah diumumkan pekan depan.

Pak Nandi ternyata terkesan melihat hasil gambar anak-anak. Dia akan mengusahakan, jika Disbudpar Banten mengadakan acara promosi atau tourist gathering, akan melibatkan beberapa “pelukis cilik” dari PRD. Selain itu, kami juga menawarkan kepada Disbudpar Provinsi, PRD bisa dijadikan daerah tujuan wisata kota denan potensi kegiatan regulernya di Senin hingga Kamis. Terutama Minggu. Kami menamakannya “Wisata Ekspresi”. Dimulai jam 10.00 – 12.00. Kegiatannya bebas saja. Anak-anak dipersilahkan berekspresi sesuka hati. Ada yang baca puisi, berteater, atau sekedar baca buku. Supaya tak bosan, Toto bersedia mengajari anak-anak baca dan membuat puisi, serta Rina (alumni ASTI Bandung) mengajar menari (tradisi dan kontemporer), bergiliran selama 2 minggu sekali. Nah, buat keluarga di Serang atau Banten umumnya, jika bosan piknik ke mall atau pantai, silahkan berkunjung dan berbagilah dengan anak-anak; tentang betapa nikmat dan bahagianya berekspresi secara bebas.

KOLASE

Banyak yang terjadi dan bergulir di PRD minggu-minggu terakhir. Masukan dari berbagai pihak, kiriman buku baik reguler dan insidentil, membuat PRD makin bergerak. Demikian pula surat-surat dan e-mail dari mereka di Nusantara dan mancanegara, yang bersedia menyisihkan waktu untuk menjadi sahabat pena anak-anak, seperti suntikan semangat bagi kami, bahwa masih banyak yang peduli pada kegiatan seperti ini. Padahal mereka adalah orang-orang yang sibuk dililit pekerjaan, diburu deadline, tapi masih ‘dipaksa’ membaca surat-surat dari sebuah kampung bernama Ciloang, Serang. Terima kasih tak terhingga!

Kami juga berterimakasih pada mereka yang telah memberi saran dan ide-ide segar, sehingga kami tidak kehabisan akal untuk terus membuat anak-anak PRD ‘sibuk’ dan ‘bergerak’ mengikuti kegiatan sepanjang Ahad-Kamis. Kiriman berupa kertas berwarna, lem dan kertas gambar kami manfaatkan untuk membuat kolase. Sebuah kotak kardus bertutup yang dihias bungkus kado dan diberi sekat-sekat kecil –handmade Kakeknya Bella- kami sodorkan sebagai alternatif kegiatan kreatif bagi anak-anak. Ketika mereka lelah membaca, mereka bisa membuat kolase berdasar gambar kreasi mereka sendiri. Jika belum selesai, mereka dapat meneruskan lain waktu. (tias tatanka)

***

DAFTAR PENYUMBANG

19. Fahri Asiza, Jakarta, ; 18 novel (anak dan remaja)

20. Moh. Rival Aldifa Hidayah, Jakarta, Rp. 100.000,- (dibelikan 5 buku gambar A3, 1 rim HVS, 5 lusin bulpen, 10 notes kecil untuk hadiah)

21. Farida, Nindya dan Dwita, Bekasi; 6 buku gambar, 2 kertas warna, 3 puzzles, 2 pensil warna, 2 lem, 2 buku cerita

21. Farida, Nindya dan Dwita, Bekasi; 6 buku gambar, 2 kertas warna, 3 puzzles, 2 pensil warna, 2 lem, 2 buku cerita

22. Hamba Allah, Bandung; Rp. 150.000,-

23.Aku Anak Saleh dan Annida

24. Agus Wahyudi, PT Pos Indonesia; paket benda-benda pos dan brosur

25. Izma Fardiana, Surabaya; boneka kertas dan tips kerajinan boneka

26. Siapa menyusul?

sher
April 09, 2003, 04:39
nih sama ama Taman Bacaan nya Yessy Gusman gitoo???

todiq
April 10, 2003, 08:04
mentong..!
gola gong :bravo: bgt... aku selalu suka cerpennya.!
apalagi bangkok love stroy

begawan
April 22, 2003, 06:46
Salam #12
Salam dari Rumah Dunia
TELOR ASIN, PANGGUNG TEATER, DAN CAT AIR!

“Di kampung Ciloang ada seorang pengusaha telur asin, dan usaha tersebut dilakukan sendiri karena mereka tidak mempunyai karyawan. Telur itu didapatkan dari kampung Cimiung, Banten, setiap pemesanan telur kira-kira mencapai 300 butir.Pengusaha telur asin itu adalah ibu Hj Salikah (50 tahun) dan suaminya bpk H.M.Sufi (55 tahun), mereka mempunyai 9 orang anak. Bu Hj Salikah asli dari Ciloang, sedangkan Pak Haji asli dari Nambo, Ciruas, Serang. Alasan Pak Haji membuat telur asin, karena memang itu pekerjaan sehari-hari. Bu Hj Salikah sendiri bekerja mengkreditkan baju.

Bahan untuk membuat telur asin adalah telur bebek, batu bata yang sudah diayak, garam dan air. Untuk 300 butir telur dibutuhkan 20 kg batu bata yang sudah ditumbuk dan diayak, garam 7 kg dan air secukupnya. Cara membuat telur asin adalah telur bebek dicuci terlebih dahulu. Sesudah dicuci satu persatu telur diselimuti dengan batu bata yang sudah dicampur dengan garam dan air. Dalam 1 bak besar memuat 200 burit telur bebek, dan telur itu dibiarkan selama 6 hari.

Setelah 6 hari, telur dicuci supaya bersih dan batu batanya disimpan lagi ke dalam bak, untuk digunakan lagi. Telur kemudian direbus, jika menggunakan panci besar maka muat 100 butir telur, dengan lama perebusan 1 jam. Telur asin tersebut dijual ke warung-warung sekitar, setiap warung biasanya diisi kira-kira 50 butir telur, dengan harga eceran Rp 1000,-.

Telur asin dibuat dua hari sekali. Jika batu bata sudah digunakan 3 bulan maka harus diganti. Mendapatkan telur bebek mentah di hari pasaran yaitu setiap hari Selasa dan Sabtu. Usaha telur asin ini berdiri pada tahun 2000 dan hingga sekarang masih berjalan lancar. Usaha ini karena meneruskan saat di Nambo, waktu itu Bu Haji mengkreditkan baju. Karena banyak yang membayar dengan telur bebek, jadi telur-telur itu dijadikan telur asin. (Noviyanti, kelas 6, SDN Sumber Agung, Serang)”


***
Senin (14/4) lalu kami dan empat belas anak PRD menemui Bu Hj. Salikah, pengusaha telor asin di Ciloang, Serang. Hal yang sederhana terjadi di sekitar kita, tapi kadang terlewat begitu saja, bahwa membuat telor asin pun memerlukan serentetan proses, seperti yang ditulis Novi. Dia terpilih karena karangannya memuat data-data yang cukup lengkap yang diperoleh saat wawancara bersama-sama, meski untuk itu ia harus mewawancarai ibu kandungnya sendiri.


PANGGUNG

Pekan lalu betul-betul meriah di Pustakaloka Rumah Dunia (PRD). Terutama berkat kehadiran panggung sederhana ukuran 4X4 meter persegi, berdiri persis di depan PRD. Pemilik tanah (Bapak Nawawi) mengijinkan kami memakai tanahnya untuk kepentingan anak-anak. Kelak jika kami mendapat rezeki dari Allah, tanah itu akan kami beli untuk pegembangan PRD. Untuk sementara, dari uang sumbangan yang ada, maka jadilah panggung sederhana, beralaskan papan-papan yang disangga pilar batu bata setinggi 50 cm, dengan latar belakang pohon Areng yang konon berkhasiat untuk obat. Mang Maryani dan Mang Toni, kami suruh ngebut membuat panggung itu. Kami suka memandangi panggung itu, berkhayal dari situ kelak muncul anak-anak muda pecinta seni, yang akan tegak mengekspresikan dirinya, berani berlakon dan berhadapan dengan khalayak.

Langkah awal telah dimulai. Dua minggu lalu, kami menggaet Toto St Radik untuk mengisi “Wisata Ekspresi” (WE) di Minggu pagi (jam 09.00 – 12.00) untuk membagikan ilmunya dalam membuat dan membaca puisi. Pada pertemuan pertama, anak-anak PRD diminta membuat puisi dengan tema bebas, yang kemudian hasilnya dibahas bersama. Masih banyak penggunaan kata yang hambur dan hambar, atau seharusnya ‘oh…bunga..’ tetapi ditulis ‘ho…bunga..’ dan lain-lain. Berpuisi memang tak sekadar membaca, tapi juga harus bisa menyusun kata-kata indah sarat makna. Kami masih menunggu antusiasme anak-anak itu nanti, ketika melihat Om Toto –begitu mereka memanggil Toto St Radik- beraksi membaca puisi.

Minggu berikutnya, Wisata Ekspresi diisi latihan menari. Kami meminta Bu Rina untuk mengajarkan gerakan tari yang mudah dahulu, karena ini permulaan buat mereka. Cuaca panas tidak mengurangi kegembiraan anak-anak PRD mengikuti latihan menari yang dibagi dua kelompok berdasar umur, meski mereka harus mengulang gerakan beberapa kali.

Jika dikaji, ada benang merah yang menghubungkan teater, puisi dan tari. Ketiganya memerlukan kelenturan gerak sesuai irama. Inilah yang nanti akan ditampilkan di atas panggung, kelak, oleh anak-anak itu. Saat ini mereka tengah antusias naik panggung, yang mempunyai dua anak tangga di sisi kiri dan kanan. Entah apa yang mereka lakonkan di sana, yang jelas –tanpa sadar- mereka tengah menguji keberanian dirinya sendiri untuk berada di tempat yang lebih tinggi, dan jadi perhatian orang sekitar.



Teater dan Tukang Kue
“WL” –kini hari Kamis- mulai menggunakan panggung untuk latihan. Seperti biasa, anak-anak dibagi menjadi beberapa kelompok, dengan cerita berbeda. Tanpa banyak kesulitan mereka segera berlatih sesuai kelompoknya. Ini yang jadi kebahagiaan bagi kami, minimal anak-anak itu punya keberanian untuk memerankan suatu karakter. Rata-rata usia mereka 10-12 tahun, tapi jangan salah, karena seringkali ide cerita berasal dari mereka sendiri. Kami hanya perlu memancing inspirasi mereka, seterusnya mereka sendiri berimprovisasi.

Jika latihan teater adalah hal biasa buat anak-anak PRD, hal yang tidak biasa adalah keberadaan tukang kue di antara penonton. Mungkin karena panggung berada di areal terbuka, ibu-ibu pedagang kue itu tak sungkan lagi ikut duduk menonton sembari berdagang. Itu namanya simbiosis mutualisme, anak-anak yang lapar tidak perlu jauh-jauh mencari tukang kue, sementara pedagang kue menikmati tontonan teater gratis sambil memetik untung.

Kegiatan “Wisata Gambar” pun tak mau kalah. Karena peserta membludak, akhirnya kelompok kelas empat SD ke atas ‘diungsikan’ ke areal panggung, sedangkan kelas tiga SD ke bawah menggambar di ruang baca. Pak Indra Kusuma (tutor Wisata Gambar) meminta kami untuk menyediakan sarana cat air setelah crayon. Dia rela bolak-balik antara panggung dan pendopo di areal PRD, memberi contoh dan penjelasan. Apalagi itu adalah kali pertama anak-anak PRD menggambar menggunakan cat air.

Cerita air tumpah, baju belepotan cat air, mewarnai kegiatan Selasa kali itu. Pun ketika mereka harus berbagi warna dalam kelompok, tidak mengurangi keseriusan menggambar. Hasilnya memang belum menggembirakan, masih banyak warna yang belum ‘muncul’, tak apalah. (tias tatanka)



DAFTAR PENYUMBANG:

26. Endah Nugroho Jati; Jakarta, Rp. 500.000,-

27. Boim Lebon, Jakarta; Rp 50.000,-

28. Majalah Horison, Jakarta; 4 buku Horison Sastra Indonesia, 1 buku sastra Pelajar

29. W. Sunaryo, guru SMUN 1 Serang, buku-buku pelajaran dan paper

30. Agus Sutisna, STIE Latansa Mashiro Lebak; buku "Revitalisasi Kajaroan,

31. Siapa menyusul

aleks75012
April 22, 2003, 09:02
salut buat Gola Gong :bravo:

udah lama nggak ketemu dia.
I know him personally :)

begawan
April 22, 2003, 13:19
Originally posted by sher
nih sama ama Taman Bacaan nya Yessy Gusman gitoo???

bukan, ini beridiri sendiri kok di Banten

begawan
April 30, 2003, 05:22
PABRIK ROTI, PROMOSI WISATA DAN PESTA BUKU


Di kampung Ciloang ini ada sebuah pabrik roti bernama “Arum Sari”. Orang yang mempunyai pabrik ini adalah kakak beradik Pak Ade Saefudin dan Pak Ruhiyat. Mereka berdua berasal dari Tasikmalaya dan mereka mempunyai 30 karyawan, 3 orang diantaranya perempuan.

Jenis roti yang dibuat bermacam-macam yaitu: coklat, mocca, kelapa dan kacang ijo. Pabrik ini berdiri berdiri pada tahun 2002, sampai sekarang berjalan lancar.

Bahan-bahan untuk membuat roti adalah tepung terigu, gula pasir, telur, mentega dan air sedikit. Cara membuatnya adalah tepung terigu, gula pasir, telur, mentega dan air dicampur dan digiling selama ½ jam sampai halus. Adonan yang dihasilkan dibentuk bulatan-bulatan kecil.

Sedangkan bahan untuk membuat isi coklat adalah coklat bubuk dan gula, untuk mocca berupa campuran mentega dan gula. Isi kelapa dibuat dari kelapa dan gula diaduk dan dimasak sampai matang. Kacang ijo diperoleh dari kacang ijo giling dan gula yang lalu dimasak. Menurut Pak Ruhiyat, resep roti ini diperoleh dari Kuningan. Pak Ade dan Pak Ruhiyat membuat usaha roti ini berawal dari bekerja pada orang lain, sebagai pedagang roti juga. Seterusnya mereka ingin membuka usaha sendiri.

Untuk memasak roti dengan menggunakan tiga buah tabung gas yang dapat dipakai selama dua hari. Dalam satu jam dapat memasak 113 buah loyang. Semua loyang yang ada 800 loyang. Pak Ade dan Pak Ruhiyat mengeluarkan modal awal 30 juta. Mereka mulai membuat roti kira-kira pukul 5 pagi hingga tiga sore atau sampai selesai. Roti itu dipasarkannya ke Pandeglang, Tangerang, Cilegon dan ciruas. Setiap hari memerlukan 10 karung tepung terigu, masing-masing berisi 25 kilogram.

Roti dipanggang dengan dua buah oven besar. Sekali panggangan setiap oven memuat 12 loyang, masing-masing loyang berisi 9 buah adonan roti. Waktu pemanggangan tergantung sampai rotinya matang.

Sekali menggiling, setiap karung dapat diperoleh 1000 buah roti. Jadi dalam sehari dapat menghasilkan 10.000 buah roti. Macam-macam roti yang dibuat tergantung pesanan pedagang.

Roti-roti itu dimasukkan ke dalam plastik (bungkus) dan diberi merek “Arum Sari” pada malam hari kira-kira pukul 6 sore-8 malam. Setelah membungkus roti, lalu para karyawan beristirahat dan ngobrol-ngobrol di depan rumah. Jika setelah pukul 21.00 para karyawan disuruh masuk dan tidur. (Noviyanti, kelas 6 SDN Sumber Agung, Serang)



***

BUKU HARIAN

Tulisan di atas buat kami termasuk istimewa. Sudah bisa kami kategorikan sebagai “laporan jurnalistik”, karena memenuhi kriteria kelengkapan bahan, bobot isi dan bahasa. Juga ada informasi yang diperoleh Novi di luar wawancara. Ini wajar, karena ia mengenal beberapa karyawati pabrik roti itu. Dua karangan terbaik lainnya adalah tulisan Siti Nadrotul Ain (kelas 6 SDN Cipocok Jaya 4) dan Anisah (kelas 5, SDN Karang Tumaritis).

Bersama dua belas anak Pustakaloka Rumah Dunia (PRD), Sabtu (19/4) dan Ahad (20/4) pukul 07.30 WIB kami berkunjung ke sebuah pabrik roti tak jauh dari PRD. Karena khawatir mengganggu kelancaran pekerjaan di pabrik, kami membagi rombongan dalam dua hari kunjungan. Masing-masing kelompok enam orang anak, yang berbincang dengan Pak Ruhiyat. Esoknya, rombongan kedua diterima Pak Suryana, salah seorang karyawan, karena Pak Ade Saefudin dan Pak Ruhiyat tidak ada di tempat.

Kami mengarahkan mereka untuk memakai rumus 5W+1H dalam mewawancarai narasumber. Setelah kunjungan, kami membahasnya di PRD, sambil menikmati roti Arum Sari yang kami beli di pabrik. Nyam.. nyam… Pada hari Rabu saat “Wisata Tulis”, anak-anak PRD menuliskan karangan hasil wawancara. Tak semua dari peserta wawancara menuliskan laporannya, meski kami menyediakan buku tulis baru. Kami jelaskan, dengan menulis di buku tulis tebal itu, mereka dapat mendokumentasikan hasil karangan, agar kelak mereka melihat perubahan mulai dari gaya bahasa, mutu tulisan, sekaligus memperoleh bermacam-macam informasi. Anggap saja buku tebal itu sebagai “buku harian” mereka.



AGENDA
Kejutan lain datang dari Disbudpar Provinsi Banten, yang akan mengadakan Tourist Gathering di kawasan Karawaci, Tangerang. Kami diminta menyertakan beberapa anak untuk menggambar bersama di arena promosi wisata tersebut, hari Ahad (27/4). Sayang sekali, karena kami harus memberikan ceramah di UNPAD dan UPI Bandung, kami tidak dapat mengawal anak-anak. Untung Pak Indra Kusuma, tutor “Wisata Gambar” PRD, bersedia menggantikan kami untuk melihat lokasi, memilih anak-anak yang akan ikut, dan mengawal mereka selama di sana sampai selesai acara. Untungnya lagi, pihak Disbudpar menanggung biaya transportasi dan akomodasi selama di Karawaci. Berita selengkapnya dapat dinikmati pekan depan.

Agenda lainnya, setelah anak-anak PRD (wisata lakon) tampil di British Council, mereka akan mengisi acara di “Parade Seni”, di alun-alun Serang, yang diselenggarakan oleh kakak-kakak dari “Jaringan Kerja Kesenian Banten” (24-25 Mei). Juga diundang untuk mentas di “Pesta Buku Jakarta” (29 Mei). Kami juga mendaftarkan delapan orang anak (wisata gambar) untuk ikut lomba menggambar, yang diselenggarakan oleh Dindik Banten. Sebelumnya kami sudah menyertakan delapan anak dari “Wisata Tulis” dalam lomba mengarang “Cinta Tanah Airku”, yang diselenggarakan oleh Jakarta Book. Memang belum ada yang bisa menyabet pemenang, tapi mdereka mendapat hadiah masing-masing sebuah kaos dari panitia. Semoga saja di hari-hari mnedatang mereka makin kreatif, tekun, kritis, dan tiak lupa bergembira di masa kanak-kanaknya! (tias tatanka)



DAFTAR PENYUMBANG:

Majalah Horison, Jakarta; 4 buku Horison Sastra Indonesia, dan 1 buku sastra Pelajar
W. Sunaryo, guru SMUN 1 Serang, buku-buku pelajaran dan paper
Iwan Sutisna; Rangkas, 1 buku “Revitalisasi Kajaroan”
Hamba Allah, RCTI Jakarta, Rp. 300.000,-
Siapa menyusul?

fifiluZu
April 30, 2003, 06:52
emang anak anak itu ngga bisa pake email? kalo bisa pake email ..bagusan pake e-pal deh....sorry....kalo gw ngomong salah lageee heheheh ...but anak anak yg di poto itu cuman bisa duduk baca? ngga sofa empukah or komputer ??

begawan
April 30, 2003, 06:59
itu gretongan mbakne
semua usaha gola gong sendiri dan buku2nya semua sumbangan
gimana mo ngasi blajar komputer

masalah sofa emopuk itu bukan masalah, wong sengaja dibikin semacam dunia permainan gitu
disitu kan nggak cuman baca tapi juga lukis, teater dll
u mau nyumbang?
kirim aja ke gola_gong@hotmail.com

begawan
May 05, 2003, 20:40
Jurnal#19:
Salam dari Rumah Dunia:
WISATA GAMBAR, DISBUDBAR BANTEN, DINDIK SERANG,
DAN PERPUSTAKAAN TANGERANG ITU
(Apa khabar Perpustakaan Serang dan Banten?)

“Pada hari Minggu tanggal 27 April, pukul 11.00 WIB, saya pergi ke Tangerang bersama Pak Indra dan teman-teman. Teman-teman saya yang ikut ke Tangerang adalah Rostini, Anisah, Adam, Saripah, Aryati dan Iyah. Serta ada yang membantu yaitu Kak Deden. Perjalanan ke sana memang cukup lama, kira-kira jam 11.56 WIB kami sampai. Dan saya bisa melihat pemandangan misalnya gunung dan sawah. Waktu saya sudah sampai di Karawaci, saya dan teman-teman bermain di hotel dan bolak-balik ke WC untuk buang air kecil karena di dalam hotel itu sangat dingin karena AC. Sehabis makan siang, kami mulai menggambar bebas. Di pertengahan menggambar tiba-tiba hujan lebat dan kita tidak bisa menggambar kira-kira setengah jam.
Pukul 14.00 WIB kami menggambar lagi, dan saya melihat orang asing dan orang korea. Saya menggambar sambil menonton acara misalnya tari Jaipongan, pencak silat dan banyak lagi lainnya. Pada waktu saya sedang menggambar, saya mengobrol dengan Bu Gubernur Banten. Saya ditanya nama, kelas berapa dan kapan saya berlatih menggambar. Saya juga menjawab saya tinggal di ciloang, kelas enam, dan menggambar tiap selasa jam setengah dua siang.
Waktu itu juga ada anak orang asing yang ikut menggambar. Dia minta crayon dengan bahasa Inggris dan saya tidak mengerti yang dia bicarakan. Kemudian gambar kedua anak orang asing itu dibawa pulang. Pada waktu saya sudah menggambar ada orang asing yang melihat gambar saya dan membicarakannya. Kemudian waktu Bu Gubernur mau pulang, Pak Indra memberikan gambar saya untuk kenang-kenangan.
Pulangnya, di pertengahan jalan mobil mogok , saat mau masuk ke gerbang Serang Timur mobil itu mau meledak dan saya merasa kaget karena di jok depan yang diduduki Pak Indra mengeluarkan asap yang ternyata adalah radiator kekurangan air. Ada setengah dus air akua kecil habis, bahkan teman-teman saya mengambil akua lalu dimasukkan ke radiator itu. Lalu waktu akan menuju ke Cikepuh, mobil itu mogok lagi. Kami minta air di rumah di bawah jalan. Alhamdulillah diberi. Hari sudah malam. Sekali lagi mobil masih mogok, kemudian ganti mobil lain. Ketika dibagikan uang jajan anak-anak pada rebutan.(Lukman Hakim, kelas 6 SDN Sumber Agung, Serang)”

***

MESTINYA DINDIK
Tulisan di atas adalah catatan perjalanan Lukman Hakim, satu dari tujuh anak Pustakaloka Rumah Dunia (PRD) yang diundang oleh Disbudpar Provinsi Banten untuk menggambar di acara “Banten Expatriates Gathering (BEG)” yang diadakan di Imperial Aryaduta, Karawaci, Tangerang, Minggu (27/4). Rombongan PRD dipimpin Pak Indra Kusuma, tutor Wisata Gambar PRD, karena kami masih di Bandung (ceramah di Unpad dan UPI)
Awalnya, menurut Pak Indra, anak-anak merasa agak asing dengan tempat baru. Tetapi setelah menjelajahi lokasi hotel, keramaian acara dan lalu-lalang pengunjung tidak mengganggu emosi mereka saat menggambar. Malah mereka menggambar seperti di “wisata gambar” PRD saja. Sayang di tengah acara hujan deras. Tenda tak mampu menahan tempias air hujan. Whiteboard yang menampilkan lukisan anak-anak PRD selama kegiatan “wisata gambar” jatuh tertiup angin yang cukup kencang.
Terima kasih Pak Affandi Sulaeman (Kepala Disbudbar Banten) dan Pak Deni (Kasubdin Promosi Disbudbar Banten) karena sudah memberi kegembiraan dan kebahagian pada mereka. Walaupun sebetulnya instansi terkait yang mesti mengurusi ini (pendidikan luar sekolah) adalah Dindik Serang atau Banten (apa khabar, Pak Didik Sipriyadi?), yang dengan perspektifnya mestinya bisa melihat, bahwa PRD adalah investasi SDM masa depan. Padahal yang kami dengar, ada sisa anggaran Dindik Serang pada 2003 sebesar Rp. 9,7 milyar. Andai saja dana itu dialokasikan untuk membuat beberapa pusat belajar seperti PRD, kami yakin akan muncul generasi baru yang cerdas dan kritis di bumi Serang pada 10 sampai 15 tahun mendatang. Tapi perspektif Disbudbar tak bisa disalahkan, walaupun masih melihat sebuah sanggar seni atau pusat belajar seperti PRD, adalah sesuatu yang cocok dipamer-pamerkan atau dijadikan barang pajangan dalam agenda promosi wisata.

TANGERANG
Keinginan kami melihat pusat belajar seperti PRD bertumbuhan di Serang-Banten terobati, saat kami diundang sebagai nara sumber pada diskusi “Perpustakaan Binaan dan Mitra Perpustakaan Tangerang”, Selasa (30/4), di Balaraja. Tema yang diusung “Promosi Perpustakaan untuk Mengenalkan, Mendekatkan dan Menjadikan Perpustakaan sebagai Bagian dari Kebutuhan Masyarakat”. Nara sumber lainnya Trini Haryanti dari Pakta Foundation Jakarta, LSM yang bergerak di capacity building. Hasil diskusi merekomendasikan, bahwa promosi untuk memperkenalkan perpustakaan sangatlah penting. Medianya bisa lewat brosur atau kunjungan ke setiap sekolah.
Jika kita ke Jakarta lewat jalan lama, selepas pasar Balaraja, di sebelah kiri ada gedung bekas Kawedanaan. Saat itu kami betul-betul tercengang dan tidak percaya, karena sedang berada di sebuah perpustakaan di tanah Banten. Bangunan tua seluas 3000 meter persegi itu kini jadi Kantor Perpustakaan Umum Daerah Tangerang. Bangunan utamanya dipakai untuk perpustakaan dengan jumlah 21.000 judul buku (bandingkan dengan Perpustakaan Banten yang baru 2500 judul buku!). Anak-anak kecil membaca buku-buku cerita mutakhir sambil tidur-tiduran di karpet. Sementara para pelajar SMU asyik bertebaran membaca buku. Di samping kanannya ada beberapa rungan untuk kantor dan sebuah aula untuk kegiatan seminar. Di halaman belakang ada mushola terbuka serta halaman berumput, yang bisa dipakai untuk berdiskusi. Pohon-pohon rindang menjadi peneduh. Bagi kami areal itu seperti oase di tanah Banten yang lebih sibuk memikirkan kursi dan tender proyek. Beruntunglah masyarakat Balaraja, karena pepustakaan daerahnya berada di sana. Dan malulah Pemkab Serang (terutama Kepala Perpustakaannya) dan Pemprov Banten (juga Yaya sebagai Kepala Perpustakaan Banten), karena masih membiarkan gedung perpustakaannya sepi kegiatan seperti kuburan.
Saat memberi sambutan, Drs. H. Dedi Supriyadi, Kepala Perpustakaan Umum daerah Tangerang, tampak sangat optimis sekali. Dengan dana sebesar Rp.1,2 milyar dari APBD 2003, dia berharap bisa mengembangkan perpustakaan yang ada di Kabupaten Tangerang. Supaya masyarakat mengetahui keberadaan perpustakaan umum Tangerang ini, pihaknya sudah mneyiapkan dana promosi sebesar Rp. 100 juta. Pada 2002 dengan dana Rp. 600 juta saja, pihaknya sudah melakukan pembinaan perpustakaan di 9 wilayah kecamatan, 7 tempat ibadah, dan 9 desa. Bahkan tahun ini akan diselenggarakan lomba karya tulis di bidang sosial dengan total hadiah sebesar Rp.1.200.000,- Bandingkan dengan APBD Serang 2003 yang hanya menganggarkan dana untuk biaya modal buku/perpustakaan sebesar Rp. 89,5 juta saja. Di manakah logika berpikir para pemimpin Serang dalam hal ini, ya? Ada yang bisa menjawabnya, Pak? (tias/gong)

DAFTAR PENYUMBANG:
28. Iwan Sutisna; Rangkas, 1 buku “Revitalisasi Kajaroan”
29. Hamba Allah, Jakarta, Rp. 300.000,-
30. Dynamic Duo, Bandung; dua tas plastik buku anak-anak
31. Anwar Holid, Jakarta, manuskrip buku “HalamanGanjil”.
32. Siapa menyusul?

begawan
June 03, 2003, 05:56
PEMENTASAN TEATER, PERPUSTAKAAN BANTEN,
TAMAN BUDAYA, DAN KLUB DISKUSI

?Hatiku sedih, hatiku gundah, hidupku sungguhlah malaang?. Hatiku bertanya, hatiku curiga, mengapa ku tak kaya-kayaaa?. Orangtua sakit parah, tapi tak ada biaya, aku harus bagaimana, tabungan sudah tak bersisa?.?

***

Lagu sedih yang diadaptasi dari lagu ?Lihatlah dari Dekat?-nya Sherina itu kini jadi populer di kalangan anak-anak Pustakaloka Rumah Dunia (PRD), terutama saat latihan teater tiap Kamis (Wisata Lakon/WL). Itu adalah bait dari penggalan naskah drama satu babak, yang mereka persiapkan untuk pementasan di ?Pesta Buku Jakarta?, 30 Mei nanti. Ceritanya tentang keseharian mereka, anak-anak jalanan yang masih ingin sekolah, tapi terbentur masalah biaya. Peran loper koran, pengamen, dan pemulung bukan hal asing, karena sebagian dari mereka menjalankan profesi itu sepulang sekolah. Kami sering bertemu mereka di jalan, dan tetap menyapa mereka, untuk menunjukkan bahwa pekerjaan mereka pantas dihargai, selama mereka berlaku benar.

Waktu yang tersedia tak cukup banyak. Kami menggembleng mereka dengan tiga kali latihan dalam seminggu (Kamis, Jumat, dan Minggu), di bawah arahan Budi Wahyu dan Ade dari Teater 66 Serang. Toto ST Radik juga mengarahkan para pembaca puisi, karena pentas itu memadukan puisi dan teater dalam satu babak. Insya Allah kami akan berangkat bersama sepuluh orang anak yang terpilih berdasarkan audisi. Kami kadang tertawa geli melihat betapa semangatnya mereka, datang latihan membawa naskah. Jika di WL reguler mereka biasa berimprovisasi sendiri, kali ini mereka harus tunduk pada naskah dan sutradara. Belum lagi blocking para pemain yang masih perlu dibenahi.



WARUNG BACA

Hal yang patut dibenahi juga tejadi pada Perpustakaan Daerah Banten. Tak disangka tak diduga, Senin (5 Mei) lalu, Pak Yaya dan 2 orang lainnya, dari Perpustakaan Banten berkunjung ke PRD. Mereka mencoba memaparkan program-programnya; mengembangkan perpustakaan yang ada di Banten. Caranya dengan membentuk warung-warung baca di setiap desa. ?Tapi yang utama, kami harus membenahi dulu lembaganya. Semacam konsolidasilah,? kata Pak Yaya. Secara kelembagaan, Perpustakaan Daerah Banten memang belum dikenal masyarakat . Maklum, umurnya masih seumur jagung.

Kami menyarankan, sebaiknya mereka melakukan sosialisasi dulu ke masyarakat lewat dua koran lokal di Banten. Hanya saja ada yang mengganjal kami, kepala perpustakaannya bukanlah orang yang mengerti tentang perpustakaan. Dengar-dengar mutasi dari Dispenda. Tau sendirilah Dispenda; keesringan berkeipak dengan uang, bukannya program. Apalagi dana yang tersedia sangat minim. Dibanding dengan Perpustakaan Umum Daerah Tangerang, yang mengalokasikan dana sebesar Rp. 1,2 milyar (Rp. 100 juta untuk dana promosi), Perpustakaan Daerah Banten belum apa-apa. Koleksi bukunya saja baru 2500 eksemplar (sekitar 800 judul buku).



KLUB DISKUSI

Di PRD bukan hanya anak-anak saja yang yang bertebaran. Pada Sabtu (10 Mei), kami mengadakan soft launching Klub Diskusi Rumah Dunia (KDRM); sebuah wadah pengkaderan yang dikelola oleh PRD, Forum Lingkar Pena (FLP) dan Sanggar Sastra Remaja Indonesia (asuhan Toto). KDRM muncul ke permukaan, karena kekecewaan kami pada kondisi berkesenian dan berkebudayaan di Serang, yang tidak mengarah pada kekaryaan. Selama 3 tahun Serang menjadi ibukota provinsi Banten, ternyata belum menumbuhkan iklim berkesenian yang positif. Terutama dengan munculnya generasi penulis baru. Kami berharap dengan adanya KDRM, akan menjadi wadah regenerasi di dunia kesenian. Terutama lewat tataran praktisnya, yaitu menulis.

KDRM merupakan forum diskusi terbatas. Pesertanya bisa berganti-ganti, tergantung dari siapa nara sumbernya. Tentu lebih memprioritaskan topik di seputar dunia kesenian, kebudayaan, dan perpustakaan. Rencanya diskusi akan bergulir setiap sebulan sekali dan bertempat di PRD.

Di hari Sabtu yang hangat itu, KDRM dihiasi oleh sekitar 20-an orang dari beragam komunitas kesenian; mulai dari Komunitas Sastra Indonesia Tangerang (Wowok Hesti Prabowo), Majalah Sastra Horison (Wan Anwar), Forum Kesenian Banten (Ruby B, Nazla TA, dan Asep GP), Gebar Sasmita (Bunga Rumput Pandeglang), Indra Kusumah (karikaturis) Café_‰de Untirta, Padepokan Seni Saung, Gesbica STAIN, serta kehadiran dua koran lokal; Fajar Banten dan Harian Banten.

Topik yang kami diskusikan hari itu tentang ?Perlunya Ruang Bagi Masyarakat Untuk Berkesenian?. Kami sepakat, bahwa itu sangat perlu dan semestinya harus segera diadakan. Ruby membocorkan sebuah rahasia, bahwa Dindik (Dinas Pendidikan) Banten sedang mengusahakan pembangunan Taman Budaya. Bahkan tanah seluas 5 hektar sudah dipersiapkan. Lokasinya kira-kira di Karundang, Serang Selatan, (berdekatan dengan Lembaga pemasyarakatan). Yang menarik dengan Taman Budaya itu adalah sarana pendukungnya. Mulai dari gedung kesenian (teater tertutup), teater terbuka, mess bagi pengelola, pasar seni, penginapan, ruang seminar, ruang pameran, dan mesjid.

Wan Anwar mengingatkan, jika Taman Budaya itu akan dibangun, pihak Dindik (secara institusi sudah betul dan memang semestinya) mengundang berbagai komunitas kesenian yang ada di Banten, agar kelak Taman Budaya itu tidak menjadi seperti gedung lainnya, yang selalu berganti-ganti fungsi; hari ini jadi ruang seminar, besok jadi ruang penganten. ?Satu hal lagi, arsitekturnya jangan asal-asalan!?



***



DAFTAR PENYUMBANG:

Nina; Bandung, 7 buah buku anak
Dynamic Duo, Bandung; 2 buku sastra (Haji Mukti dan John Steinbeck), dua tas plastik buku anak-anak
Hamba Allah, RCTI, Jakarta, Rp. 300.000
Anwar Holid, Jakarta, manuskrip buku ?HalamanGanjil?.
Mr. Pr, Jakarta; Rp. 100.000,-
Tuni, RCTI Jakarta; 10 buku agama
Meutiah, 8 buku cerita anak-anak
Delima Saragih, Serpong, 100 buah pensil
Siapa menyusul?

begawan
June 03, 2003, 05:59
Salam dari Rumah Dunia

PARA SUKARELAWAN ITU

Sejak digulirkan jadwal Senin-Kamis, Maret 2002, Pustakaloka Rumah Dunia (PRD) hingga kini mempunyai anggota sekitar 400 orang. Sebagian besar diantaranya usia Sekolah Dasar, sisanya SLTP, SLTA, dan dewasa. Pengunjung di luar anggota biasanya adalah mereka yang ikut kelas menulis PRD tiap Ahad sore, peserta diskusi Klub Diskusi Rumah Dunia (KDRD), atau pengunjung biasa yang numpang baca.



NON PROFIT. Sampai awal semester kedua (Desember 2002) kami menghadapi limpahan pengunjung dan pendaftar baru. Ratusan anak-anak usia sekolah berduyun-duyun mendaftarkan diri, bertebaran dengan bacaan favoritnya. Mereka dengan antusias mengikuti kegiatan yang kami adakan.

Seiring dengan seabreg kegiatan itu, muncul perhatian dan respon dari berbagai pihak, yang kemudian mengajukan diri atau kami minta untuk menjadi volunteer (sukarelawan). Kami menyadari, tidak semua kegiatan di PRD dapat kami tangani sendiri. Selain itu, kami juga ingin memberi kesempatan bagi orang lain untuk dapat berbagi pengetahuan bersama anak-anak PRD. Meskipun sejak awal kami tekankan bahwa proyek masa depan ini non-profit, alhamdulillah, para voluntir itu tetap berkenan membantu kami.

Kini, setahun PRD berjalan, banyak perubahan yang terjadi. Berkat publikasi yang istimewa dari ?Harian Banten?, PRD terus mencoba menggapai impian dan harapan. Pengunjung memang tak sebanyak dulu. Tetapi, kami melihat beberapa anggota telah ?berubah?, dilihat dari cara mereka mengekspresikan diri dalam prosa, puisi, gambar, atau teater. Ini bukan kerja sia-sia bagi anak-anak PRD dan para voluntir itu.



GAMBAR FAVORIT. Indra Kusuma (guru kesenian MAN 2 Serang) termasuk volunteer yang mempunyai energi berlebih. Dia tak pernah melewatkan waktu untuk mengajari anak-anak PRD menggambar di Wisata Gambar (WG), setiap Selasa. Tak peduli siang terik, alumni Perguruan Taman Siswa Yogyakarta ini tak ingin mengecewakan anak-anak PRD. Bayangkan saja antusiasme anak-anak; sejak usai adzan Dzuhur atau sepulang sekolah, mereka sengaja melintas di depan gerbang PRD dan meminta kepastian kami, apakah Pak Indra akan datang. Dan ketika Pak Indra ada keperluan sehingga tidak bisa hadir, mereka sangat kecewa. Atau saat-saat menunggu kedatangan Pak Indra, mereka tampak berharap-harap cemas. Tetapi coba lihat saat Pak Indra datang dan WG berlangsung, mereka bertebaran di sekeliling area, tak peduli panas terik, mereka asyik melukis.

Agenda WG setelah tampil menggambar di acara ?Banten Expatriates Gathering? (Imperial Aryaduta, Karawaci, Tangerang, 27 April lalu), kami dan Pak Indra akan mengajak mereka menggambar di luar PRD. Misalnya di alun-alun Serang atau di halaman ?Gedong Negara?.



FESTIVAL TEATER. Lain halnya dengan Wisata Lakon (WL) yang sekarang sedang mempersiapkan diri untuk baca puisi dan pentas drama di ?Pesta Buku Jakarta?, 30 Mei mendatang. WL saat ini dilatih oleh ?duet maut?; Budi Wahyu Buleneng (semester 8 STAIN Jurusan Syari?ah) dan Ade Muliawati (semester 6 STAIN Jurusan Tarbiyah PAI). Keduanya dari Teater 66 Serang, pimpinan Nazla Thoyib Amir, yang kini mengikuti suami mukim di Jakarta. Jika sedang di Serang, Nazla menyempatkan datang mengevaluasi perkembangan. Nama-nama lain yang membantu WL adalah Piter Tamba, Hanafi Gemblong dan Muthoharoh. Mereka dari STAIN juga.

WL kini sedang menggodok ?Festifal Teater Anak-anak? di Juli nanti. Tapi khusus untuk anggota PRD saja dulu. Rencananya kami akan membagi mereka dalam beberapa kelompok. Naskah atau ceritanya kami serahkan pada mereka untuk mengarang sendiri. Pada kegiatan reguler, mereka pernah membuktikan hal itu, pentas dengan cerita karangan mereka!

Para tutornya sudah sangat akrab dengan anak-anak. Terutama Ade. Saat libur panjang kemarin, sekitar 6 orang anak bertamasya di rumah Ade. Bahkan mereka menginap segala. Begitulah di PRD; kekeluargaan sangat dijunjung tinggi.



ANTOLOGI PUISI. Sedangkan WISATA EKSPRESI dilatih oleh Toto ST Radik untuk kelas puisi dan tari oleh Rina Andriani Firdaus (alumni ASTI Bandung, 1994). Di puisi, secara bertahap Toto mengajarkan mereka cara membuat puisi yang sederhana. Mulai dari mengambil ide-ide di sekitar rumah; pohon jambu, mangga, dan sebagainya. Juga tentang isi hati sendiri. Hasilnya mereka mulai terbiasa mencoba menggunakan kata sehemat mungkin.

Selain belajar cara menulis puisi, Toto pun mengajarkan cara membacakannya. Dengan adanya panggung di lahan rindang milik Pak Nawawi, anak-anak dengan antusiasnya menjadi ?Rendra? dan ?Jajang Pamoentjak?. Kadang warga Ciloang dan Hergar Alam menonton mereka. Insya Allah, antologi ?Salam dari Rumah Dunia 2? siap diluncurkan pada Juli nanti.



KELAS MENULIS DAN DISKUSI. Di Minggu sore (jam 16.00 ? 17.30) giliran pelajar dan mahasiswa menimba ilmu. Kami menamainya ?Kelas Menulis?. Setelah mereka lebih dulu (jam 13.00 ? 15.00pm) belajar tentang sastra di ?Sanggar Sastra Remaja Indonesia? (asuhan Toto ST Radik). Kami mnenalkan merka tentang apa itu jurnalistik, fiksi, dan skenario TV. Siapa pun boleh menjadi tutor di sini. Tentu para praktisi. Yang penah ikut nimbrung selain kami, Rahmat Yanto Suharja (wartawan Harian Banten), Iman NR (Sinar Harapan), dan Prana Badrun (dosen Sastra dan Bahasa Matlaul Anwar Pandeglang dan STIK Serang).

Dalam perjalanannya, mereka membentuk ?Forum Lingkar Pena Serang?, wadah bagi para penulis muda. Seabrek agenda mulain disusun. Antologi cerpen sedang diseleksi. Juga jurnal ?Rumah Dunia? yang siap diluncurkan. Kami mendapat bantuan SUHUD Mediapromo dalam urusan cetak mencetak.

Sekarang sudah masuk ke angkatan kedua. Anggotanya sudah lebih dari 20 orang. Mereka yang sudah terbiasa menulis di media massa lokal kini makin trampil dan produktif. Yang belum pun ikut terpacu mengejar ketertinggalan. Kelak, merekalah penjaga nurani Banten lewat tulisan-tulisan di koran lokal.

Selain itu, bekerjasama dengan Sanggar Sastra Remaja Indonesia, Forum Lingkar Pena Serang, Suhud Sentra Itama, Harian Banten, dan Fajar Banten, kami membentuk KLUB DISKUSI RUMAH DUNIA. Dilaksanakan setiap awal bulan. Diskusi pertama berlangsung sukses pada 10 Mei lalu. Topik yang dibahas tentang "Perlunya Ruang Berkesenian Bagi Masyarakat Banten". Rekomendasi dari peserta diskusi adalah, perlunya dibangun sesegera mungkin sebuah taman budaya yang representatif di Banten. Peserta diskusi dari beragam komunitas kesenian yang tersebar di Serang, Pandeglang, dan Tangerang. Diskusi kedua rencanaya 7 Juni mendatang dengan topik "Strategi Pengembangan Kesenian di Banten". Nah, tanpa kerja keras para sukarelawan itu, PRD hanyalah sebidang kebun belaka. Anda tertarik bergabung? (tt/gg)



***



DAFTAR PENYUMBANG:

Nina; Bandung, 7 buah buku anak
Dynamic Duo, Bandung; 2 buku sastra (Haji Mukti dan John Steinbeck), dua tas plastik buku anak-anak
Hamba Allah, RCTI, Jakarta, Rp. 300.000
Anwar Holid, Jakarta, manuskrip buku ?HalamanGanjil?.
Mr. Pr, Jakarta; Rp. 100.000,-
Tuni, RCTI Jakarta; 10 buku agama
Meutiah, 8 buku cerita anak-anak
Delima Saragih, Serpong, 100 buah pensil
Firman Venayaksa, Rangkasbitung, buku nya ?Tunas Kecil Lahir..?
Benny Ramdhani, bukunya ?Biarkan Kami Bernyanyi?.
Siapa menyusul?


Alamat:

Pustakaloka RUMAH DUNIA

Komplek Hegar Alam 40, Ciloang

Serang 42118 - Banten

tlp: 0254 - 202861

Rekening: BCA CABANG SERANG

a/n: Asih Purwaningtyas Chasanah

No. 245-188-5733

begawan
June 03, 2003, 06:01
Jurnal #22

Salam dari Rumah Dunia:
GARA-GARA TEATER JADI BERANI DAN KREATIF
SERTA PERPUSTAKAAN TELUK NAGA TANGERANG

?Saya senang main drama, soalnya main drama itu bermanfaat bagi kita, yaitu menambah ilmu pengetahuan, menambah imajinasi, membuat lebih berani dan kreatif. Saya ingin menjadi pemain sinetron anak, mudah-mudahan keinginanku ini tercapai. Amin. Dan saya harus terus berlatih teater! (Rosliana, kelas 5 SDN Cipocok Jaya 4, Serang)

***

BERANI

Rosliana adalah satu diantara 10 anak Pustakaloka Rumah Dunia (PRD), yang sejak sebulan terakhir ini berlatih keras mementaskan naskah ?Nyanyian Anak Jalanan?. Budi dan Ade (Teater 66 Serang) dengan sabar dan tekun melatih mereka. Rosliana menuliskan kesan-kesannya saat bersinggungan dengan teater di ?Wisata Tulis? (Rabu).

Baca juga apa yang ditulis Siti Nadrotul Ain, kelas 6, SDN Cipocok Jaya 4, Serang, ?Aku suka teater karena teater/drama bisa membuatku merasakan atau menjadi seseorang yang diperankan (kita bisa menjadi siapapun yang kita inginkan)?

Biasanya, di kegiatan ?Wisata Lakon? reguler tiap Kamis, anak-anak itu hanya diberi alur cerita, selebihnya mereka berimprovisasi sendiri. Kadang-kadang, dialog yang muncul jadi terkesan lucu, klise, dan kaku. Kini, mereka belajar dialog yang terarah, tapi masih memberi banyak kemungkinan untuk improve. Semula kami tidak yakin betul apakah mereka mampu membawakan naskah drama yang agak serius ini. Tapi bayangan dan keinginan pentas di ?Pesta Buku Jakarta 2003?, 30 Mei nanti, membuat mereka lebih tekun berlatih dan memaksa diri menghafal naskah.

Teater juga membuat mereka yang tadinya malu jadi berani. Tidak percaya? Baca saja apa yang ditulis Husnul Aini, kelas 4 SDN Sumber Agung Serang, ?Waktu baru main teater saya malu, tapi sekarang saya jadi sedikit berani. Selama ini saya ikut latihan teater tetapi saya tidak berbakat teater, saya bakatnya menggambar. Walau tidak dipilih saya tetap berusaha biar kapan-kapan bisa dipilih dan saya mendoakan semoga pentas di Jakarta nanti berhasil dan bisa pentas dengan bagus.?

Agenda pentas mereka ternyata padat. Pada 14 Juni rencananya akan unjuk kabisa di ulang tahun GESBICA STAIN SMHB Serang. Setelah itu ?BIBIT Kids Centre? mengundang mereka untuk tampil di acara ?Kiprah Anak Banten 2003, 21 Juli mendatang.



PENUNJANG

Tak pernah terbayangkan oleh kami, jika isi kepala mereka selama setahun lebih bergulir bersama buku-buku di PRD, mulai dipenuhi dengan hal-hal yang mengejutkan. Sangat tak terduga. Mereka yang sebelumnya hanya asyik membuang waktu dengan bermain, kini sudah menemukan ?dunia baru? lewat buku. Padahal sebetulnya koleksi buku di PRD tidaklah banyak. Bahkan tak layak disebut sebagai perpustakaan. Hanya dua buah gubuk beratapkan rumbia dengan beberapa rak yang dipenuhi buku cerita.

Kami menyadari keterbatasan koleksi buku di PRD. Kami lebih menekankan pada kegiatan penunjangnya di Senin hingga Kamis serta di Minggu. Dengan membaca, mereka harus mampu menuangkan isi kepala lewat tulisan. Jika bergembira, mereka bisa bebas mengekspresikannya lewat warna dan puisi. Bahkan menari serta berteater!

Itulah sebabnya kami menamakan tempat ini dengan sebutan ?Pustakaloka Rumah Dunia?. Sebuah taman buku, dimana dunia bisa dipindahkan ke sini. Atau seperti sajak yang kami pahat di prasasti di depan rumah; rumahku rumah dunia, kubangun dengan kata-kata.

Hasilnya kini ibarat tunas. Akan terus tumbuh menggapai sinar matahari. Jari-jari mereka tak kaku lagi jika memainkan pena di atas kertas. Mereka makin rileks ketika kami suruh menuangkan gagasan atau isi pikiran mereka tentang sesuatu hal. Menulis mulai menjadi altrenatif yang menyenangkan bagi mereka jika isi kepala sedang penuh oleh beragam peristiwa.



ADOPSI

Hal itulah juga yang kini sedang dirintis oleh Kantor Perpustakaan Umum Daerah Tangerang. Pada Kamis (22/5) lalu, bertempat di Perpustakaan Kecamatan Teluk Naga Tangerang, kami diundang sebagai nara sumber dalam works shop ?Ekspresi Lewat Menulis?. Perpustakaan ini termasuk binaan yang mendapat bantuan dari Coca Cola Foundation, bermitra dengan Pakta Foundation, LSM yang bergerak di capacity. Lagi-lagi gedung bekas kawedaan dialihfungsikan jadi perpustakaan. Satu langkah yang mestinya ditiru oleh wilayah lain di Banten.

Kami kagum melihat Perpustakaan Teluk Naga ini. Mulai dari anak-anak, pelajar, sampai orangtua merasakan betul manfaat sebuah perpustakaan. Mereka tak hanya datang untuk membaca buku, tapi juga berdiskusi dan menimba ilmu lewat kegiatan-kegiatan penunjang. Itu tampak saat mereka mengikuti work shop. Betapa antusias mereka menanyakan tentang jurnalistik dan fiksi!

Bu Sri, Kepala Tata Usaha Perpustakaan Tangerang, pernah menyampaikan ketertarikannya dengan kegiatan penunjang di PRD. Terutama ?Wisata Tulis?. Katanya, ?Saya akan mengadopsi kegiatan di PRD untuk diterapkan di seluruh perpustakaan binaan Tangerang.?

Kadang jika malam-malam, kami suka memandangi areal kebun yang jadi lokasi PRD. Sambil memandangi langit kami terpekur. Kami mencoba membaca rahasia-Nya. ?Akan Engkau bawa ke mana PRD ini?? Biarlah nanti waktu yang akan menjawabnya. (tias/gong)





DAFTAR PENYUMBANG:

Tuni, RCTI Jakarta; 10 buku agama
Meutiah, 8 buku cerita anak-anak
Delima Saragih, Serpong, 100 buah pensil
Firman Venayaksa, Rangkasbitung, buku nya ?Tunas Kecil Lahir..?
Benny Ramdhani, bukunya ?Biarkan Kami Bernyanyi?
Siapa menyusul?
***



Pustakaloka RUMAH DUNIA

Komplek Hegar Alam 40, Ciloang

Serang 42118, Banten

Tlp: 0254 ? 202861

E-mail: gola_gong@hotmail.com

Rekening a/n Asih Purwaningtyas Chasanah

BCA Serang, No. 245 ? 188 - 5733

begawan
June 03, 2003, 06:02
PUSTAKALOKA RUMAH DUNIA
Dengan sangat sederhana mempersembahkan:

NYANYIAN ANAK JALANAN
Kolaborasi puisi dan drama satu babak
cerita: tias tatanka/gola gong
naskah: tias tatanka

CERITA: Tentang sekelompok anak jaanan (pengamen, pemulung, asongan, loper koran) berkumpul di sebuah halte. Mereka saling curhat. Ada yang nggak bisa sekolah, ada yang setorannya kurang, dan ada yang orangtuanya sakit. Mereka pun terketuk untuk membantu temannya yang butuh biaya buat beli obat. Lalu mereka mengumpulkan uang dari penghasilan hari itu.

WAKTU DAN TEMPAT:
PESTA BUKU JAKARTA
Selasar Gelora Bung Karno, Senayan Jakarta
30 Mei 2003, Jam 14.00

Dateng, ya!
Jangan lupa ngasih oleh-oleh buku buat Pustakaloka RUMAH DUNIA!

Tetap semangat
gola gong

begawan
June 03, 2003, 06:05
Jurnal#23

Salam dari Rumah Dunia:

PENTAS DI PESTA BUKU JAKARTA 2003,

HATI SENANG RIANG GEMBIRA



Hampir setiap hari kami bermain teater yang dilatih oleh Kak Budi dan Teh Ade dari Teater 66 Serang, untuk persiapan pentas di Jakarta. Setiap latihan kami selalu bersemangat, bergembira karena di dalam latihan kami seperti bermain bersama-sama, tidak terlalu tegang dan ketakutan, karena Kak Budi dan Teh Ade serta teman-teman selalu kocak/selalu bikin ketawa saja.

Setelah lama berlatih , akhirnya waktu yang dinanti-nanti pun datang. Kami berangkat pkl 10.00 pagi. Di dalam mobil tak ada yang bersuara karena tegang. Mobil berjalan mendekati Jakarta. Tiba-tiba Kak Budi berkata, mendingan kita bernyanyi supaya rasa tegang di hati kita hilang. Lalu kita pun bernyanyi riang bersama. Mobil pun berhenti. Kita tiba di Jakarta. Di Jakarta banyak motor, mobil dan gedung-gedung besar.

Tiba-tiba terdengar suara adzan Duhur. Kita pun mencari tempat untuk sholat. Setelah sholat kami pergi ke depan panggung sambil makan. Di panggung ada beberapa orang yang sedang bernyanyi menghibur penonton.

Giliran kami pun tiba. Kami di panggil ke panggung untuk pentas. Di atas panggung anehnya hati kami tak tegang/biasa saja. Tapi malahan gembira sekali. Setiap giliran diberi tepuk tangan. Apalagi drama. Setiap adegan penonton selalu tertawa terbahak-bahak. Pulangnya kami merasa senang sekali dan puas menikmati acara itu.

***

SAMA BERARTI

Apa yang bisa kita nikmati dari catatan ringan karya S. Nadrotul Ain (siswi kelas 6 SDN Cipocok Jaya 4 Serang) itu? Beberapa orang anak berlatih teater. Ada kerja keras, rasa gembira, tegang, dan tepuk tangan. Ya. Sepuluh orang anak Pustakaloka Rumah Dunia (PRD), yang lolos seleksi di ?Wisata Lakon? (Rabu), 30 Mei lalu mentas di ?Pesta Buku Jakarta 2003?, GOR Bung Karno, Senayan Jakarta. Mereka adalah Abdul Goni, Siti Nadrotul Ain, Dina Fujiyana, Rosliana, Sahauni, Agus Sugiyanto, Royadi, Melawati, Rostini, dan Wahyudi. Mereka mementaskan lakon drama berjudul ?Nyanyian Anak Jalanan? karya Tias Tatanka. Sebuah kolaborasi pembacaan puisi dan drama, yang menceritakan tentang suka duka anak-anak jalanan. Ada yang pengamen, pedagang asongan, preman, dan pemulung. Mereka menjadi anak jalanan bukan semata-mata keinginan mereka, tapi karena terdesak kebutuhan ekonomi. Uangnya mereka berikan pada orangtua untuk menambah makan sehari-hari dan ditabung untuk keperluan sekolah. Suatu ketika, sahabat mereka tertimpa musibah; ibunya sakit. Dengan ketulusan hati, mereka pun mengumpulkan uang hasil bekerja hari itu untuk menambahi biaya obat.

?Dengan pementasan ini, kami berharap mereka punya kebanggaan. Kami ingin bahwa profesi mereka itu sama berartinya dengan profesi yang lain,? Tias Tatanka memberi pengantar di awal acara. Beberapa orang anak yang hari itu sukes sebagai aktor panggung, dalam kesehariannya memang melakukan profesi itu. Ada yang jadi pedagang asongan, pemulung, atau mengamen di terminal. Tapi itu mereka lakukan setelah pulang sekolah. Hasilnya sebagian untuk membantu orangtua, sisanya ditabung untuk membeli alat-alat sekolah.

KERJA KERAS DAN TEPUK TANGAN

Melihat saat pementasan, kami jadi teringat kala mereka berlatih teater untuk mempersiapkan pentas itu. Mereka harus bekerja keras menggali kemampuan dan improvisasi hingga didapat karakter yang pas dengan perannya. Sekian puluh kali latihan membuat penonton di sekitar lokasi PRD di Ciloang, tak asing lagi dengan dialog dan adegan anak-anak itu. Sebagian penonton ?biasanya anak kecil- malah hafal dan ini terkadang mengganggu jalannya latihan, karena seolah ia mendikte salah satu pemain.

Hari-hari terakhir latihan sempat mereka sempat tegang, membayangkan apa yang bakal mereka hadapi di Jakarta nanti. Kami tetap memberikan applaus setiap mereka selesai latihan, memompa semangat mereka untuk tetap semangat. Kami menegaskan tak ada yang menuntut mereka tampil sempurna, jadi bermain saja sewajarnya.

Salah satu anak yang main total adalah Rosliana, pemeran pemulung kedua. Karena kebagian peran sedih, dia berusaha menangis sungguhan tiap latihan. Tapi kadang gaya teman-temannya yang lucu membuat dia tak bisa menangis, malah jadinya tertawa. Atau di saat serius sedang menghayati perannya, adegan dia distop oleh Kak Budi atau Teh Ade karena bloking atau gaya yang kurang pas dengan peran masing-masing. Saking seriusnya Rosliana berlatih, pernah suatu kali latihan, ibunya datang menonton. Larut dalam peran anaknya yang sedih, si ibu ikut menangis. Ini malah membuat penonton terpingkal-pingkal.

Banyak kejadian yang lucu dan indah selama latihan, salah satunya suara sekitar yang sering mengganggu konsentrasi anak-anak berlatih. Ada suara tangis anak kecil, ibu-ibu kue sedang menawarkan dagangan, penonton mengobrol, motor atau mobil yang melintas, atau ibu-ibu yang memanggil anaknya. Kami mengenang hal itu sebagai sesuatu yang wajar, alami, dan indah.

Saat pentas itulah kerja keras anak-anak PRD telah membuahkan hasil, tepuk tangan penonton yang menjadi kebahagiaan tersendiri. Selama latihan, kami menganggap dialog dan gaya mereka biasa-biasa saja, sesuai kemampuan mereka. Tetapi pentas sebenarnya telah membuktikan bahwa kerja keras mereka bukan hal yang remeh. Buktinya banyak pihak yang menyatakan salut dan takjub melihat permainan anak-anak itu. Kami sependapat dengan Budi, pelatih teater, saat ditanya Melvi Imel, panitia penyelenggara dari IKAPI DKI, yang mengundang kami. ?Anak-anak itu sebenarnya berlatih sendirian, karena jika bukan karena semangat mereka sendiri, tak mungkin mereka bisa bermain sebaik itu,? begitu Budi menjelaskan.

Pementasan ?Nyanyian Anak Jalanan? hari itu ditutup oleh pembacaan puisi dari Siti Sahauni (kelas 5 SDN Cipocok Jaya 4). Dengarlah apa yang dia bacakan:



Mengapa engkau menjadi pengemis

Padahal badanmu masih kuat

Bukankah bekerja itu lebih baik

Daripada meminta-minta



Tepuk tangan pun mengiringi mereka. Jika ingin menonton mereka, Insya Allah, mereka akan tampil lagi di ulangtahun GESBICA STAIN SMHB Serang (14 Juni) dan ?Kiprah Anak Banten? BIBIT Kids centre, pada 20 Juli mendatang. Sampai jumpa! (tias/gong)

***



DAFTAR PENYUMBANG:

38. Nommy, Jakarta; 15 buku gambar, 15 pensil 2B, 6 serutan, 2 boneka ayam, 3 kotak pensil warna, 6 novel Pujangga Baru, buku pintar, dan uang Rp. 100.000,-

39. Fahri Asiza, jakarta, Rp. 50.000,-

40. DAR! Mizan, Bandun; 51 buku cerita anak-anak, dan 6 buah komik poster

41. Heri Latief, Jakarta; 4 nove/puisi

42. Siapa menyusul?



Pustakaloka RUMAH DUNIA

Komplek Hegar Alam 40, Ciloang

Serang 42118, Banten

Tlp: 0254 ? 202861

E-mail: gola_gong@hotmail.com

Rekening a/n Asih Purwaningtyas Chasanah

BCA Serang, No. 245 ? 188 - 5733

begawan
June 11, 2003, 03:27
Jurnal #24:

Salam dari Rumah Dunia:

AWAS, VIRUS RUMAH DUNIA MULAI MENYEBAR!



Suatu hari di bulan awal Maret, keluarga Wasito Djati Pribadi, Jakarta, datang bersama anak dan keponakanya di Minggu pagi yang cerah. Mereka membawa oleh-oleh alat-alat gambar untuk dihadiahkan ke anak-anak PRD. Mereka pun membaca puisi, bergantian dengan anak-anak PRD. Betapa indah peristiwa itu kami kenang. Itulah juga mimpi kami yang lain: Pustakaloka Rumah Dunia (PRD) menjadi daerah tujuan wisata. Mereka akan kami suguhi pementasan teater, pembacaan puisi, menggambar, atau apa saja yang bisa menggembirakan kita.

KUNJUNGAN - Semuanya diawali dengan kunjungan para relawan 1001Buku Jakarta, yang membawa 2 dus komik Jepang (kungfu Boy dan Dora Emon). Dari kunjungan berlanjut ke undangan pentas teater di launching 1001Buku Jakarta, di British Council (17/01). Lalu Helvy Tiana Rosa cs dengan Forum Lingkar Pena dan majalah Annida, yang membawa dua tas plastik majalah serta beberapa novel. Juga Asma nadia dengan beberapa novel FBA-nya. Saat itulah kami melihat “virus Rumah Dunia” mulai menyebar di seluruh sel darah anak-anak Ciloang. Lalu Yangkee dari PT. Indika Entertainment, membawa satu dus novel anak-anak. Berkat Indikalah, yang membeli right novel-novel kami untuk dibikin sinetron, PRD ini bisa kami dirikan.
Secara perseorangan bemunculan. Firman Venakyaksa dan Heri Latief, penyair dari Cybersastra Jakarta. Heri Latief, yang menerbitkan antologi sajaknya; Ilusuminimalis, datang di Minggu sore (25/5). Dia berbagi tetang proses kreatifnya di depan peserta kelas menulis. Yang paling hangat di Minggu pagi kemarin, kedatangan Rama Surya, fotografer handal Gramedia group, yang datang bersama ayahanda dan adindanya. Juga Gator Raharjo, wartawan majalah SERU! Jakarta. Mereka disugi pembacaan sajak dan pementasan teater yagn naskahnya karangan anak-anak. Judulnya ANAK BARU. Rama memperlihatkan kesaktiannya dalam memotret. Sewmua objek dibidik dan dalam angle yang beragam. Sampai-sampai seoragn anak PRD, yagn sedang membaca sajak, langsung "ngacir" saking groginya. Soalnya Rama memotret peris di depan dia dalam posisi menengadah. Pemotretan hari Minggu itu merupakan pengalaman berharga bagi anak-anak PRD. Sedagnkan Gator di sore harinya, membagi-bagikan pengalamannya seputar dunia kewartawanannya kepada peserta kelas menulis, yang rata-rata pelajar dan mahasiwa.



Di tingkat lokal, istri gubernur Banten, Hj. Cucu Djoko Munandar, berkunjung tahun lalu. Kemudian Disbudpar Banten mengajak anak-anak PRD di kelas “Wisata Gambar” ikut meramaikan “Banten Expatriates Gathering (BEG)” di Karawaci, Tangerang (27/4). Yaya Suhendar dari Perpustakaan Banten berdiskusi tentang pengembangan perpustakaan di Banten, Tosyin Bolesh dari Yayasan Gradia yang peduli pada buku, Sri dari Perpustakaan Tangerang, yang ingin mengadopsi kegiatan di PRD untuk diterapkan di seluruh perpustakaan binaannya. Serta si Uzi dari BIBIT Kids Centre, mengajak anak-anak PRD, mengisi acara di “Kiprah Anak Banten”, 20 Juli nanti.



Kunjungan para keluarga pun tak ketinggalan. Keluaga Efi Saferi, dari perumahan Lopang Indah, berkunjung setelah melihat PRD di koran “Harian Banten”. Syafiq sekeluarga (31/4), piknik di PRD. Pegawai Asahi Mas Cilegon, itu langsung terlonjak girang, karena menemukan komik Kungfu Boy nomor 36. Lalu keluarga Bambang, dari Perumahan Citra Gading, Banjar Sari, Serang. Tak lupa kami menyarankan, agar mencoba membuat pusat belajar masyarakat seperti PRD di lingkungan mereka. Dan dalam hati kami berbisik, “virus Rumah Dunia” pelan-pelan mulai menyebar di luar Ciloang…



WAWANCARA - Paling terkini, Kamis (5/6) lalu merupakan hari yang mendebarkan bagi anak-anak PRD. Siang itu, koresponden Kompas wilayah Tangerang (Robert Adhi) mewawancarai anak-anak PRD seputar aktifitas mereka selama PRD berdiri. Saat wawancara berlangsung, kami membiarkan anak-anak menjawab sesuai dengan persepsi mereka sendiri. Beberapa hal memang harus kami jelaskan, selebihnya anak-anak itu yang bicara. Kami pun tetap memperkenalkan setiap anak yang datang, disertai catatan bakat dan prestasi mereka.



Saat itulah kami merasa kerja keras kami tak sia-sia, meskipun perjalanan yang harus ditempuh masihlah panjang. Minimal, kami telah melihat keberanian anak-anak itu untuk berhadapan dan berbicara dengan orang asing, tanpa meninggalkan sopan-santun. Mereka tak lagi asal bicara atau berteriak-teriak tak keruan. Kami menganggap mereka sudh pandai diajak bercakap-cakap.



Sebenarnya wawancara dari Kompas bukan sekali ini, karena bulan November tahun lalu tim Kompas dari Jakarta sempat berkunjung dan mengobrol dengan anak-anak itu. Saat itu, kesan yang diperoleh dari salah satu wartawannya, adalah begitu sulit mengajak anak-anak itu bicara, atau lebih banyak diam karena malu. Tapi hari Kamis itu, amboi… hati kami berbunga-bunga. Anak-anak itu sudah memberi kebahagiaan tak terkira pada kami. Ternyata, pengalaman tampil di beberapa tempat telah membuat mereka lebih percaya diri untuk berbicara dengan orang di luar wilayah mereka.



TAMU KECIL - Setelah anak-anak dari “Taman Pustaka Mini” (asuhan Goosal Gozali), Trondol, Serang berkunjung April lalu untuk saling unjuk kabisa membaca puisi, pada Rabu (4/6) lalu kami kedatangan siswa-siswi kelas 4 dari SD Negeri 3, Ciceri, Serang. Awalnya anak-anak PRD agak tegang, justru saat berhadapan dengan sebayanya. Apalagi tamu-tamu kecil itu memberi komentar ini-itu atas secuil adegan dari drama satu babak, “Nyanyian Anak Jalanan”. Rasa malu pun muncul, disertai minder karena perbedaan kelas sosial dan ekonomi. Tapi kami berusaha merangkul semuanya, agar tak ada yang merasa istimewa ataupun tersisih, dengan meminta salah satu wakil dari SDN 3 dan PRD untuk memperkenalkan diri kepada teman-temannya.
Saat berbincang itulah, kami menjelaskan kegiatan yang berlangsung hari itu, dalam “Wisata Tulis”. Kami sedang melatih anak-anak untuk membuat karya sendiri (puisi dan cerita pendek) untuk dikirim ke salah satu majalah anak-anak. Kekakuan, malu dan minder pun mencair di Kamis, kesokan siangnya (5/6) saat latihan teater dalam “Wisata Lakon”. Setelah berlatih drama satu babak “Nyanyian Anak Jalanan” untuk persiapan pentas di STAIN (14/6) nanti, kami memberi kesempatan pada siswa-siswa SDN 3 untuk ikut dalam kegiatan reguler. Alhasil, komunikasi antar mereka makin lancar, karena mereka harus berakting dalam tiap kelompok dengan cerita yang berbeda.

Kami makin yakin, secara perlahan, virus RUMAH DUNIA mulai menyebar.. Tapi ini bukan virus sembarang virus, karena virus ini dampak dari itikad baik, agar gerakan membaca muncul di mana-mana. Hal ini tak pernah berhenti kami tularkan. Alangkah menyenangkan jika di setiap komplek perumahan di bumi Banten ini ada satu saja kantong baca. Bayangkanlah apa yang akan terjadi pada anak-anak kita kelak. Jadi, jika anda berkunjung ke PRD, siap-siap menerima virus pustaka! (tias/gong)

DAFTAR PENYUMBANG:

38. Nommy, Jakarta; buku gambar 15, pensil 2B 15, serutan 6, boneka ayam 2, pensil warna 3 kotak, 6 novel Pujangga Baru, buku pintar, dan uang Rp. 100.000,-

39. Fahri Asiza, jakarta, Rp. 50.000,-

40. DAR! Mizan, Bandung; 51 buku cerita anak-anak, dan 6 buah komik poster

41. Heri Latief; Cibersastra Jakarta, 2 novel, 2 antologi puisi

42. Winny Rosalina, RCTI, Jakarta, 3 komik Ramayana, dan satu tas plastik majalah dan komik Donald

43. Trini, Pakta Foundtion Jakarta, 1 buku cara mengelola perpustakaan.

44. Wowok Hesti Prabowo, KSI Tagerang, 1 antologi sajak Mandarin

45. Buanergis Muryono; LKN Jakarta; 2 novel Tutur Tinular

46. Gatot Raharjo, Jakarta; 20 majalah SERU

47. Heri Latief, Jakarta; 20 buku cerita rakyat nusantara

48. Siapa menyusul?

begawan
June 16, 2003, 07:21
Jurnal #25:

Salam dari Rumah Dunia

CITA-CITA ITU, PROFESI, PANGGUNG,

DAN FESTIFAL TEATER ANAK-ANAK



Aku ingin sekali menjadi reporter. Sebenarnya, waktu kecil aku milih ingin menjadi pengusaha. Setelah dipikir-pikir aku malah ingin menjadi reporter, karena aku ini gemar menonton televisi, terutama berita. Di acara berita kan banyak sekali reporter. Reporter itu kan kerjanya membawakan berita, dari kota yang jauh dari studio TVnya. Maka dari itu saya tertarik. Bisa saja aku bekerja sambil berjalan-jalan. Misalnya saya ditugaskan untuk bereporter di Aceh. Saya kan belum pernah ke Aceh. Dan di situlah saya diberi kesempatan untuk merasakan pernah di Aceh. (Hardiyani, kelas VI SDN Sumber Agung Cipocok, Serang)



***



Lihatlah! Salah seorang dari anggota Pustakaloka Rumah Dunia (PRD) sudah menuliskan cita-citanya: menjadi reporter. Dalam “Wisata Tulis” di hari Rabu, kami menyuruh anak-anak PRD untuk menuliskan cita-citanya. Seperti halnya kebanyakan anak-anak Indonesia, profesi dokter, pengusaha, pilot, insinyur, guru, dan polisi adalah cita-cita yang selalu melekat di otak mereka. Atau menjadi orang yang berguna, kaya, punya uang banyak, dan mobil adalah ukuran keberhasilan cita-cita bagi mereka. Tapi tulisan Hardiyani bagi kami seperti air di padang tandus.



PENULIS

Lalu di kegiatan reguler lainnya, dalam Wisata Baca/Dongeng (setiap Senin), kami dan anak-anak PRD berbincang-bincang tentang profesi. Salah satunya: penulis. Ini berawal dari kemalasan mereka jika kami suruh menulis atau mengarang, lantaran menganggap hal itu tidak semenarik teater. Jadilah kami ngobrol di siang hari, di antara semilir angin. Kami menyodorkan kenyataan, bahwa begitu banyak orang yang berprofesi sebagai penulis, dan itu dapat dimulai sejak masih sekolah. Jam kerjapun dapat disesuaikan sendiri, hanya bermodal kertas, pena dan topik bahasan. Bagian yang paling menarik, jika telah dimuat akan mendapat honor.

Tapi sebuah karangan yang baik tidak terjadi begitu saja, seperti seorang pesulap: sim salabim! Tidak bisa sekali menulis langsung kirim, dengan asumsi pasti dimuat. Menulis adalah pekerjaan yang juga memerlukan proses. Ketika hasil tulisan (draft) pertama telah jadi, seorang penulis memerlukan membaca ulang dan revisi di sana-sini. Sebuah tulisan yang baik adalah setelah melewati beberapa kali revisi. Saat anak-anak protes dengan proses menulis yang dianggap berbelit-belit, kami merayu mereka dengan bercerita tentang pengalaman kami menulis puisi, cerpen, novel dan skenario sinetron, yang nominal honornya bagi mereka diawang-awang.

Anak-anak itu memandang dengan takjub nominal honor yang kami sebutkan. Mereka sendiri beberapa kali sudah menerima “honor” atas jerih payahnya sebagai pemain drama. Anak-anak pun tergiur, apalagi punya kesempatan untuk jadi terkenal dan bertemu selebritis. Kami tegaskan bahwa menulis puisi, cerpen, novel, dan skenario pun memerlukan revisi beberapa kali. Bahkan tidak jarang skenario yang sudah jadi harus dirombak total. Tapi jika sudah terbiasa menulis, hal itu bukan masalah besar. Saran kami buat mereka, teruslah menulis! Tapi sepertinya kami harus meramu virus lain buat anak-anak PRD agar mereka gemar menulis.



PANGGUNG

Tapi di minggu kedua Juni ini, pada Sabtu (14/6), adalah hari yang melelahkan sekaligus membahagiakan bagi kami dan anak-anak PRD. Naskah drama satu babak ‘Nyanyian Anak Jalanan’ kembali dipentaskan dua kali dalam sehari itu. Yang pertama, ba’da sholat dzuhur, mereka pentas di acara ulang tahun Gema Seni Budaya Islam Campus (Gesbica) STAIN Maulana Hasanudin, Serang. Kebetulan, pelatih teater PRD (kak Budi dan teh Ade) tergabung dalam Gesbica.

Bermain di panggung teater sebenarnya, dengan tata lampu yang menyilaukan mata dan penonton mayoritas mahasiswa, tidak membuat semangat anak-anak itu surut. Beruntung mereka tidak langsung tampil, karena ada sebuah pementasan drama mahasiswa dari Cilegon, sehingga anak-anak PRD mempunyai waktu untuk beradaptasi dengan panggung dan penonton, yang tentu masih sangat asing bagi mereka.

Beragam pertanyaan meluncur dari mereka. Ada yang bertanya, kenapa jendela ditutupin kertas hitam sehingga ruangan jadi gelap, yang khawatir tidak bisa melihat baris-baris puisi yang harus dibacakan, yang aneh melihat tata panggung dan kostum grup teater lainnya. Pokoknya, hari itu mereka mendapat pelajaran berharga, bahwa ternyata seni teater itu banyak diminati oleh oran dewasa dan bisa menghibur. Itu terbukti. Ketika mereka tampil, para mahasiswa memberi applaus dan tertawa mendengar dialog-dialog satire dari mereka.



DISKUSI

Kemudian pada hari itu juga (jam 14.30), mereka tampil di depan sekitar 50-an peserta “Klab Diskusi Rumah Dunia”. Para peserta diskusi yang hadir hari itu sangat beragam. Mulai dari Prof. Yosef Iskandar (ketua dewan Kesenian Banten), Maya Rani Wulan (guru kesenian SMPN 2 Serang, yang juga pengelola sanggar tari Resksa Budaya), Wowok Hesti Prabowo (Komunitas Sastra Indonesia), Gito (Radar Tangerang), Ruby A. Bhaedowi (Forum kesenian Banten), Firman Venayaksa (seniman Lebak yang aktif di milis Cybersastra), Khusnul Qhuluki (Komunitas Kebon Nanas), Gebar Sasmita (Komunitas Bunga Rumput Pandeglang), Komunitas Tusuk Semar Cilegon, dan beberapa komitas dari Serang.

Topik diskusi yang diprakrsai Forum Lingkar Pena Serang, Sanggar Sastra Remaja Indonesia, dan PRD membahas “Strategi Pengembagan Kesenian di Banten”. Pembicaranya Ruby (FKB) dan Prof. Yosef (DKB) sangatlah seru. Pro-kontra selama ini bisa ditengahi oleh peseta diskusi. Yosef sendiri bilang, “DKB akan mendukung seluruh kegiatan FKB. Kami hanyalah fasilitator. Untuk teknis pelaksanaan, silahkan FKB dan kantung-kantung komunitas yang tersebar di Banten. Soal dana, kalau nanti cair, kami akan bagikan untuk kegiatan.”

Sedangkan bagi anak-anak PRD, itu adalah pementasan terakhir mereka. Rencananya, kesepuluh anak yang mementaskan naskah “Nyanyian Anak Jalanan” itu akan dibubarkan dan disebar, untuk membentuk kelompok-kelopok teater. Pada 13 Juli nanti, saat liburan sekolah, mereka akan unjuk kabisa lewat “Festifal Teater Rumah Dunia”. Untuk kelangsungan acara ini, jika ada perusahaan yang ingin berpromosi dan secara perseorangan ada rezeki berlebih, silahkan di rekening: A/n Asih Purwaningtyas Chasanah, BCA Serang, No. 245 – 188 – 5733. Kami akan bahagia mnereimanya. Ayo, marilah kita bergembira bersama anak-anak kita! (tias/gong)



DAFTAR PENYUMBANG:

43. Trini, Pakta Foundtion Jakarta, 1 buku cara mengelola perpustakaan.

44. Wowok Hesti Prabowo, KSI Tangerang, 1 antologi sajak Mandarin

45. Heri Latief; Cybersastra Jakarta, 20 buku cerita rakyat Nusantara

46. Buanergis Muryono, LKN Jakareta; 2 novel Tutur Tinular

47. Asma Nadia, Jakarta; Rp. 250.000,-

48. Siapa menyusul?



Pustakaloka RUMAH DUNIA

Komplek Hegar Alam 40, Ciloang

Serang 42118 – Banten

Tlp: 0254 – 202861, e-mail: gola_gong@hotmail.com

Rekening: A/n Asih Purwaningtyas Chasanah

BCA Serang, No. 245 – 188 - 5733

si goblok
June 16, 2003, 14:32
wow... bagus sekali ada ini
salut! :bravo: :maaf:

begawan.. itu jurnal2nya kamu dapet dari mana?
ada sitenya?

begawan
June 17, 2003, 04:05
nggak, gw ikut milis layarkata.com
dia kasi laporan rutin kok :D

Feud
June 17, 2003, 15:43
gola gong sapa seh? :o gak kenal.. mo baca articlenya pusing.. buanyak banget.. :kakaka:

D1zzy
June 17, 2003, 16:19
ceritain intinya donk. :(
males bacanya panjang bener :(

si goblok
June 17, 2003, 20:39
Originally posted by begawan
nggak, gw ikut milis layarkata.com
dia kasi laporan rutin kok :D
oo... hehe.. thx begawan...
kalo ada jurnal2nya lagi.. dipost lagi ya ke sini.. :D

kemaren saya baca, sampe2 jadi pengen ikut nyumbang buku.. cuman buku2 saya biasanya udah disumbangin ke tempat laen sama ortu sih.. mungkin kapan2 saya kirimin majalah aja deh.. ato bikin pembatas buku ajah buat anak2 itu.. hihihi..

si goblok
June 17, 2003, 20:51
btw.. gola gong seorang pengarang buku tuh
dulu waktu kecil saya pernah baca bukunya, lupa deh judulnya..

hehe, iya sih postingan2nya panjang banget.. tapi isinya not bad kok..
intinya.. baca aja postingan pertama di thread ini.. hehe..
itu intinya ada dijelasin singkat sama begawan.. :D

yah, daripada anak2 (yang rata2 anak tukang beca, buruh, petani dll) ngabisin waktu berkubang lumpur di sawah, si golagong bikin taman bacaan di pekarangan rumahnya sendiri... dan semuanya gratis.. kan bagus buat ngedidik anak2 tuh... selain baca, juga dikasi program2 laennya, kaya theater, nulis, ngegambar dll...... dan efeknya juga keliatan, karena bahan obrolan anak2 kampung itu udah laen, jadi lebih berisi gitu...

salut deh..
diperlukan lebih banyak orang kaya gola gong yang peduli lingkungan.. :bravo:

Feud
June 18, 2003, 01:18
oh begitu toh.. :o :D

Fere
June 18, 2003, 15:14
kalo pernah baca novel serial "Balada Si Roy" pasti tau siapa itu Gola Gong

begawan
June 18, 2003, 15:26
kirim kartu pos aja ke anak2 disitu
ada kok nama2 merek di beberapa halaman depan
mungkin 2 :D

begawan
June 26, 2003, 06:15
Jurnal#26:

Salam dari Rumah Dunia

MENUJU FESTIVAL TEATER ANAK, 12 JULI 2003

Kid’s Station, Kelompok Kece, Kelompok Centil, Ghoosebumps, Daborija
(Damai
Boleh Ribut Jangan), adalah sebagian nama kelompok teater yang
mengikuti
proses awal “Festival Teater Anak Rumah Dunia 2003”. Sedianya festival
akan
dilaksanakan pada tanggal 13 Juli 2003, sehari sebelum tahun ajaran
baru
dimulai. Tetapi beberapa personil yang tergabung dalam grup qasidah
kampung
Ciloang, akan mengikuti lomba di Bogor pada hari yang sama. Ketika kami
usulkan untuk memajukan hari festival, hampir semua kompak
menyetujuinya.
Akhirnya disepakati tanggal 12 Juli sebagai hari Festival.


BANGGA-MOTIVATOR - Animo anak-anak PRD cukup bagus, apalagi mereka
diberi
kebebasan menentukan cerita dan menamai kelompoknya. Tentang nama-nama
kelompok seperti tersebut di atas, menjadi keasyikan tersendiri karena
mereka menjadi eksentrik dalam sesaat. Kami suka tersenyum melihat
betapa
bangga mereka dengan nama kelompok, atau dengan naskah yang mereka
susun
sendiri.

Sepuluh orang aktor dan aktris yang sudah mementaskan
“Nyanyian
Anak Jalanan”, kami sebar di beberapa kelompok, dengan harapan mereka
dapat
menjadi motor bagi anggota kelompok yang belum pernah pentas. Nyatanya,
pengalaman manggung beberapa kali sangatlah berharga, karena anak-anak
itu
mampu ‘menghasut’ temannya untuk tampil berlatih di panggung.

Bagi peserta baru, berakting bukan hal yang mudah. Karenanya, sejak
latihan
bersama Ade dan Budi (teater 66 Serang), kami tekankan pada mereka,
sekali
mereka berani naik panggung dan mengatasi rasa takut atau malu,
seterusnya
akan terasa lebih ringan. Tapi kenyataannya, jangankan naik panggung,
ketika
latihan pun untuk menunjukkan pose terjelek, mereka ragu-ragu. Mereka
takut
ditertawakan dan diolok-olok. Tapi justru di situlah tantangannya bagi
mereka: harus bisa mengalahkan rasa takut dan malu untuk bergaya
seperti
apapun.

Kami berusaha menyemangati mereka, bahwa jika mereka ditertawakan, itu
hanya
akan berlangsung untuk sekian detik saja. Tapi efeknya setelah itu luar
biasa, pasti akan muncul sendiri keberanian. Dan kemudian mereka
membuktikannya sendiri. Hasilnya, mereka sudah mulai berani.


NASKAH SENDIRI - Bagi para motor dan ‘penghasut’ itu, bermain bersama
anak
baru terasa sedikit melelahkan, karena improvisasi anak-anak baru itu
rata-rata kurang. Kami harus mengingatkan mereka kembali, bahwa mereka
disebar untuk mengangkat motivasi teman-temannya, dan untuk membagikan
ilmu
dan pengalaman yang telah mereka punya. Kami ingatkan, mereka sukses
pentas
di beberapa tempat setelah melewati proses yang panjang dan
membosankan,
sama seperti saat-saat ini. Alhamdulillah mereka mengerti, meski masih
terdengar gerutuan di sana-sini. Biasalah, anak-anak!

Bagi anak-anak yang akan ikut berlombam, mementaskan naskah karya
sendiri.
Ternyata lebih pe de dan bikin bangga. Kami melarang penggunaan
kata-kata
kasar dan jorok. Tapi tidak menutup kebebasan mereka menggunakan bahasa
prokem. Kami menyarankan mereka untuk menyusun naskah sebaik mungkin,
karena
akan dipilih pula sebagai naskah terbaik di antara mereka.

Tema dan judul yang mereka pilih bermacam-macam, dari mulai
preman hingga orang kaya yang sombong. Untuk anak-anak kecil, temanya
tentu
saja lebih sederhana, tetapi intinya, mereka sendiri yang menemukan
jalinan
ceritanya. Jadi, jangan harap menemukan cerita aneh di antara anak-anak
itu,
karena yang mereka tulis dan mainkan adalah seperti yang biasa mereka
saksikan.


PARTISIPASI - “Festival Teater Anak Rumah Dunia 2003” tinggal dua
minggu
lagi. Anak-anak pun sedang bersemangat latihan dengan kelompoknya.
Beberapa
sukarelawan ikut berpatisipasi demi kelancaran acara itu. Anak-anak
GESBCA
STAIN dan Teater 66 siap terjun membagikan ilmunya. Mereka adalah Ade,
Budi,
Piter, Hanafi. Juga dari Forum Lingkar Pena Serang; Mahdi dan Qizink.
Jurinya Toto ST Radik, Nazla, dan Ruby A. Bhaedowi.

Acaranya akan berlangsung sehari penuh, pada 12 Juli nanti.
Kami
akan memimilh 3 terbaik jenis kelompok, aktor dan aktris terbaik, serta
naskah terbaik. Rencananya kami akan memberikan hadiah berupa uang
serta
piagam. SUHUD Sentra Utama sudah siap bepartisipasi untuk urusan
percetakan.
Nah, jika ada perusahaan yang ingin berpromosi atau perseorangan yang
ada
rezeki bderlebih, silahkan di BCA Serang a.n. Asih Purwaningtyas
Chasanah.
A/c. 245-188-5733.

Mari kita bergembira bersama anak-anak.

Sampai jumpa 12 juli! (tias/gong)



DAFTAR PENYUMBANG:

48. RUMAH BACA PEDULI RCTI -Yayasan Cahaya Hati Bangsa (sekardus
buku-buku + Rp 420.000,-)

49. Mita Nurani-RCTI Jakarta (Rp 500.000,-)

50. Himpunan alumni mahasiswa Jepang (AOTS), biografi Matsushita
Konosuke, tokoh pengusaha sukses.

51. SUMITOMO CORP. Jakarta; Rp. 750.000,-

Pustakaloka RUMAH DUNIA

Komplek Hegar Alam 40, Ciloang

Serang 42118 – Banten

Tlp: 0254 – 202861, e-mail: gola_gong@hotmail.com

Rekening: A/n Asih Purwaningtyas Chasanah

BCA Serang, No. 245 – 188 - 5733

begawan
July 09, 2003, 07:09
Jurnal#28:
Salam dari Rumah Dunia
DIARY, FESTIVAL DIUNDUR (LAGI),
KLUB DISKUSI DAN BELAH KETUPAT

Pengalaman saya yang sangat, sangat menyedihkan, ketika saya mendengar
bahwa
kepala sekolah saya meninggal. Saya terkejut sekali karena dia itu guru
atau
Kepala Sekolah yang sangat baik hati. Ia meninggal karena mendapat
kecelakaan, yaitu tertabrak mobil angkot. Dan saya lebih terkejut lagi
bahwa
yang menabrak kepala sekolah saya itu, mantan sopir angkot ayah saya.
Lalu
saya sangat bersyukur dan sedih, karena waktu menabrak, dia tidak
sedang
membawa mobil angkot ayah saya. Coba kalau dia sedang membawa mobil
angkot
ayah saya, saya pasti sangat bersedih sekali, sebab saya juga merasa
salah
atas kematian Bapak Kepala Sekolah saya. Dan sekarang bekas sopir ayah
saya
itu sedang diberi hukuman yang setimpal. Saya selalu mendoakan Kepala
Sekolah supaya dia diterima di sisi Allah. Amin. (Hardiyani, 12 tahun,
baru
saja lulus SD)

begawan
July 09, 2003, 07:10
DIARY
Hardiyani, Anak Baru Gede yang tengah menantikan tes masuk di salah
satu SMP
Negeri di Serang, menuliskan perasaan sedihnya di awal kertas tugasnya.
Ayahnya mempunyai dua buah mobil angkot di Kampung Ciloang, dan kami
sesekali mencarter mobilnya untuk keperluan anak-anak Pustakaloka Rumah
Dunia (PRD).
Pada Wisata Tulis (hari Rabu) lalu, kami meminta anak-anak untuk
menceritakan pengalamannya yang paling menyenangkan dan paling
menyedihkan.
Ini dimaksudkan sebagai terapi kreatif bagi mereka untuk dapat
mengutarakan
kenangan mereka dalam bentuk tulisan. Kami ingin menunjukkan bahwa
sebuah
kenangan indah maupun sedih dapat menjadi inspirasi sebuah tulisan,
selain
itu mereka menemukan ruang untuk menumpahkan uneg-uneg yang ada di hati
dan
pikiran.
Semula memang agak susah untuk mengajak mereka mulai mengarang lagi,
maklum,
liburan sekolah inginnya bersenang-senang saja. Tapi, iming-iming
hadiah
pensil warna membuat kami menerima enam buah karangan. Tak banyak
memang,
tapi hasil tulisan mereka telah menunjukkan kemajuan menggembirakan,
karena
kami tidak perlu susah payah memahami maksud tulisan mereka. Enam anak
itu
adalah Melawati, Tuti Rohmawati, Ita Konita, Husnul Aini, Hardiyani dan
Nadrotul Ain. Mereka telah menunjukkan perkembangan dari tulisan satu
ke
tulisan lain.
Aneka ragam pengalaman senang dan sedih mereka tulis, bahkan ada yang
menulis tentang pertengkaran orang tuanya. Sayang, meski tulisan itu
lumayan
bagus dan ringan untuk dibaca, tentu tak etis jika kami angkat di intro
tulisan ini.
Kami mendorong mereka untuk menjadikan buku tebal yang telah kami
sediakan
untuk beberapa orang yang gemar menulis, sebagai sebuah diary. Bahkan,
ada
yang suka menggambar di buku tulis itu. Tapi kembali lagi kami harus
maklum,
mereka masih anak-anak, tidak adil untuk selalu melarang kreativitas
mereka.
Buku itu juga menjadi penghubung kami untuk mendorong semangat mereka
terus
kreatif. Sesekali kami menuliskan komentar, revisi, pesan dan dukungan
agar
mereka tak bosan menulis.

begawan
July 09, 2003, 07:10
MUNDUR FESTIFAL
Sama halnya dengan rencana Festival Teater Anak Rumah Dunia 2003,
ternyata
harus diundur lagi hingga 20 Juli 2003. Keputusan ini kami ambil
setelah
berdialog dengan anak-anak dan pelatih teater (Ade dan Budi Wahyu).
Meski
sebagian anak-anak meminta tak diundur, tetapi pelatih melihat
kekompakan
anak-anak masih kurang, sementara waktu makin mendesak. Kami berharap
waktu
pengunduran itu tepat, seperti harapan agar anak-anak dapat menjadikan
festival itu sebagai ajang berekspresi, membebaskan diri mereka menjadi
orang yang mereka inginkan, meski sesaat. Tidak gampang mengkoordinir
anak-anak yang belum pernah merasakan arti festival.
Bukan hal yang mudah menjaga semangat anak-anak itu untuk mengikuti
setiap
kegiatan reguler maupun insidental di PRD. Kami tak pernah memaksa
mereka
untuk datang setiap hari buka perpustakaan, karena mereka harus
merasakan
sendiri bahwa mereka datang untuk sesuatu yang bermanfaat.

begawan
July 09, 2003, 07:11
KLAB DISKUSI
Untuk yang ketiga kalinya, Klab Diskusi Rumah Dunia, yang diprakarsai
oleh
Forum Lingkar Pena Serang, Sanggar Sastra Remaja Indomesia, dan PRD,
berhasil menggelar diskusi dengan topik “Peran Pemerintah dalam
Pengembangan
Kesenian di Banten”, Sabtu (57) lalu. Hadir sebagai pembicara Dadi RsN
(Kasubdin Kebudayaan Disbudpar), Pratikno (Kasubdin Kebudayaan Dindik),
dan
Iman Noer Rosyadi (wartawan Sinar Harapan).
Tumpang tindih instansi yang mengurusi kesenian dan kebudayaan,
akhirnya
terpecahkan hari itu. Dadi RsN bilang, bahwa Disbudpar hanya bertugas
mempromosikan produk-produk kesenian setempat yang unggul, ke
mancanegara
atau ke berbagai kota di Indonesia. Sedangkan versi Pratikno, dinasnya
bergerak di pemberdayaan lewat sekolah-sekolah. “Kurikulum adalah
senjata
kami,” kata Pratikno. Sedangkan Iman menyarankan, sebaiknya instasi
yang
mengurusi itu satu saja, agar fokus.
Yan paling menarik adalah paparan Pratikno, yang baru saja tiba dari
Solo,
membawa anak-anak di beberapa sekolah di banten, tampil dalam acara
Festival
Seni se-Jawa. Dia memaparkan, bahwa Dindink akan membikin taman budaya.
Bahkan dirinya sendiri sedang mengajukan ide membentuk perkampungan
seniman.
“Semua seniman berkumpul di situ. Diberikan ruang untuk berekspresi,”
katanya bersemangat.

begawan
July 09, 2003, 07:11
BELAH KETUPAT
Malam harinya (malam Minggu), anak-anak yang tergabung di Kelas Menulis
Rumah Dunia dan Forum Lingkar Pena Serang, mengeluarkan “produk” baru,
yaitu
Belah Ketupat (BK) – Bedah Telaah Kesenian dan Apresiasi Sastra. Ruang
ini
mereka sediakan bagi para seniman Banten khususnya (juga luar Banten
umumnya) untuk mengekspresikan karya-karyanya. Baik itu pembacaan
sajak,
monolog, musikalisasi puisi, atau pementasan teater. Acaranya sebulan
sekali
dan dilakukan di pangung terbuka di atas tanah milik Pak Nawawi (persis
di
depan PRD). Soft launching BK malam Minggu itu, Mahdi Duri, penyair
asal
Balaraja, membacakan puisi-puisinya yang terkumpul dalam antologi “Mr.
Pooeey”.
Kampung Ciloang yang biasanya sepi, malam Minggu itu meriah. Kebun Pak
Nawawi yang rindang, benderang dikerubungi “laron-laron”. Pohon-pohon
dibungkus koran bekas dan dibentuk menyerupai orang-orangan berkepala
monyet. Daun-daunnya digantui pesawat “Sukhoi” dari koran. Lubang
sampah pun
dilapisi koran dan di atasnya diletakkan sebuah kursi. “Pers dan
Kekuasaan!”
kata Qizink Laaziva, koordinator BK. Jadilah seni instalasi koran
dadakan.
Yang menarik adalah segment pertama BK, yaitu “Kule Lapis”. Segment
ini
dimaksudakan sebagai ruang bagi anak-anak PRD untuk berekspresi. Ini
adalah
suatu bentuk regenerasi. Malam Minggu itu, Ain, Hardiyani, Abdul Goni,
dan
Dina tampil membcakan sajak-sajak ciptaannya sndiri. Bahkan mereka
tampil
secara duet. Orang tua dan kerabat mereka menontonnya dengan bangga.
Anak-anak yang lain pun bersemangat untuk bisa mendapat giliran tampil
di BK
bulan depan.
Pembaca budiman, kami menuliskan yang kami lihat, anda pun semoga bisa
menikmati dan ikut mengalir dalam cerita kami. Nikmati saja kabar dari
kami,
seperti anak-anak PRD menikmati sumbangan para donatur yang masuk ke
rekening kami. Insya Allah, semua niat baik kita akan bermanfaat bagi
anak-anak kita kelak. Jangan lupa, jika ada perusahaan yang ingin
berpromosi atau perseorangan ada rezeki berlebih, silahkan di BCA
Serang
a.n. Asih Purwaningtyas Chasanah. A/c. 245-188-5733.
Mari kita bergembira bersama anak-anak.
Sampai jumpa 20 Juli di Festifal Teater Anak Rumah Dunia! (tias/gong)

***
DAFTAR PENYUMBANG:
Fachri Asiza, Jakarta; Rp. 100.000,-
Winny Rosalina, RCTI Jakarta; komik seri Mahabarata

Pustakaloka RUMAH DUNIA
Komplek Hegar Alam 40, Ciloang
Serang 42118 – Banten
Tlp: 0254 – 202861, e-mail: gola_gong@hotmail.com
Rekening: A/n Asih Purwaningtyas Chasanah
BCA Serang, No. 245 – 188 - 5733

begawan
July 13, 2003, 16:19
Jurnal #29
Salam dari Rumah Dunia
KELAS BARU, JADWAL BARU, DAN TRANS TV

Bermula dari keluhan anak-anak akan sulitnya mempelajari bahasa
Inggris,
kami menawarkan pada beberapa voluntir untuk membantu memecahkan
problem
anak-anak Pustakaloka Rumah Dunia (PRD). Hasilnya, mulai Ahad (7/7)
lalu,
salah seorang pengurus Forum Lingkar Pena (FLP) Serang, Ibnu Adam
Aviciena,
seminggu sekali mengajar Bahasa Inggris di bawah rindang pepohonan,
dekat
panggung PRD.

JADWAL RUBAH
Belum banyak siswa yang datang, tapi mereka umumnya antusias
mempelajari
Bahasa Inggris yang dibawakan Ibnu dengan santai tapi serius. Rata-rata
anak-anak itu sudah mendapat pelajaran bahasa Inggris di sekolah, hanya
di
setiap Ahad pagi mereka dapat lebih leluasa mendiskusikannya dengan
tutor
PRD. Kami terus berharap agar pola seperti itu dapat memicu kemauan
mereka
untuk mempelajari bahasa asing.
Kelas baru dibuka dan kelas lama ternyata mengalami preubahan, yaitu
“Wisata Lakon”, yang Insya Allah mulai diterapkan bulan Agustus 2003,
semula
Kamis sore, diganti Jumat sore. Hal ini disebabkan anak-anak PRD banyak
yang
mengikuti sekolah agama tiap sore, kecuali hari Jumat, mereka libur.
Akhirnya, kami mulai memikirkan menambah satu hari buka PRD, di hari
Jumat.
Di atas kertas, kami melihat beberapa anak PRD yang ‘sudah siap latih’
untuk memerankan karakter apa saja. Tapi di atas panggung, di hadapan
audiens yang sesungguhnya, mereka akan ditantang dalam Festival Teater
Anak
PRD, 20 Juli mendatang. Mungkin ini lebih tepat sebagai sarana
memperkenalkan sebuah festival bagi mereka, karena kami merencanakan
akan
ada festival-festival lain selain teater yang diadakan di PRD. Kabar
selanjutnya, kita tunggu setelah 20 Juli 2003.

AJARAN BARU
Kegiatan di PRD terus bergulir dan fleksibel, disesuaikan dengan
kemampuan
kami dan para voluntir dalam mengatur waktu. Kadang-kadang, jika salah
seorang voluntir tidak bisa hadir, kami berupaya anak-anak PRD tetap
punya
kegiatan sendiri, jangan sampai mereka datang sia-sia. Sesekali karena
keterbatasan kami atau karena kepentingan mendesak, harus memundurkan
jadwal
voluntir yang bersangkutan. Ini memang benar-benar pertemanan yang
indah,
karena komitmen yang sama, untuk membantu anak-anak PRD makin maju.
PRD sengaja tidak mematok agenda tahunan sebagai acuan untuk terus
berkreasi, termasuk menyambut tahun ajaran baru ini. Ada banyak rencana
yang
terpikirkan, untuk mendukung semangat mereka bersekolah dan
berkegiatan.
Kami merencanakan lomba-lomba reguler untuk memperebutkan hadiah
alat-alat
tulis, yang tentu mereka perlukan sebagai murid sekolah.

TRANS TV
Yang paling isrtimewa tentu pada “Wisata Ekspresi”, Minggu pagi (13/7)
lalu. Crew Trans TV dari program “Buka Mata” datang meliput. Anak-anak
pun
begairah menyuguhkan kepiawaiannya berteater dan membaca puisi. Saat
kamera
diarahkan ke wajah mereka, tak ada lagi kegugupan atau demam kamera,
seperti
dulu saat photografer Rama Surya membidikan kameranya. Mereka udah
mulai
bergaya dengan percaya diri. Beberapa orang menjadi nara sumber untuk
diwawancarai.
Lalu datang giliran anak-anak mewawancarai Mira (reporter) dan Nova
(kameraman). Anak-anak yang sudah diperkenalkan dengan rumus 5W + 1H
dan
pernah mempraktekannya dengan mewawancarai para pelaku bisnis (tukang
roti,
nasi dukun, dan pengusaha tahu), kini bertanya ini-itu seputar dunia
televisi pada Mira dan Nova. Ketika giliran Nova menjelaskan
seluk-beluk
kamera, mereka asyik menyimak. Rencananya TRANS TV akan menayankannya
pada
acara “Buka Mata”, Rabu, 16 Juli, jam 06.30.am. Pada nonton, ya!
Hanya sayang, beberapa menit setelah “Wisata Ekspresi” bubar (tepat
jam
12.00am), rombongan keluarga Farhar Jafar dari Bumi Serpong Damai
datang
berkunjung. Anak-anak mereka tak jadi saling unjuk kabisa dengan
anak-anak
“Rumah Dunia”. Mungkin lain waktu, ya! Satu hal lagi, jangan lupa
jika ada
perusahaan yang ingin berpromosi atau perseorangan ada rezeki berlebih,
marilah berbagi kebahagiaan dan kegembiraan di BCA Serang a.n. Asih
Purwaningtyas Chasanah. A/c. 245-188-5733.
Sampai jumpa 20 Juli di Festifal Teater Anak Rumah Dunia! (tias/gong)

***
DAFTAR PENYUMBANG JULI:
1. Winny Rosalina; RCTI JAKARTA; komik seri Mahabarata
2. Fachri Asiza, Jakarta; Rp. 100.000,-
3. 1001Buku Jakarta; 1 dus komik, novel, dan cerita anak
4. Keluaga Farhan Jafar, BSD Tangerang; Rp.270.000,-

Pustakaloka RUMAH DUNIA
Komplek Hegar Alam 40, Ciloang
Serang 42118 – Banten
Tlp: 0254 – 202861, e-mail: gola_gong@hotmail.com
Rekening: A/n Asih Purwaningtyas Chasanah
BCA Serang, No. 245 – 188 - 5733

number7
July 15, 2003, 02:32
wah.. baru tau ada thread ini..
salut berat buat Gola Gong, gua suka karya2nya..
Sempet sering baca Balada Si Roy waktu masih dimuat di majalah HAI.
Awalnya dari modal sendiri lagi.. ::up::. Moga-moga makin banyak orang yang kayak dia..:)

begawan
July 15, 2003, 08:55
Pustakaloka RUMAH DUNIA
AGENDA JULI

16 JULI, RABU, JAM 06.30
Trans TV, acara "Buka Mata"
(yang punya tv pada nonton yeeh. Yang nggak, nebeng di TV tetatangga, deh.)


20 JULI, MINGGU, JAM 09.00 - 12.00
Festifal Teater Anak Rumah Dunia
sebuah ajang kompetisi antar anggota, yang aktif di "Wisata Lakon", setiap hari Kamis. Diikuti oleh 5 kelompok
Tempat: Pustakaloka Rumah Dunia
Komplek Hegar Alam 40, Ciloang
Serang 42118

begawan
July 22, 2003, 10:17
Jurnal#30

PESTA ANAK RUMAH DUNIA 2003



Hari Minggu lalu (20/7), anak-anak anggota Pustakaloka Rumah Dunia (PRD) berpesta kreativitas! Mulai dari festifal teater, pembacaan puisi, serta menggambar. Tak ada peristiwa semeriah seperti Minggu itu di halaman depan PRD, Ciloang, Serang – Banten. Belum pernah ada. Saya menyaksikan, sorot mata penuh kekaguman para orang tua, menatap anak-anak mereka yang sedang mentas di panggung. Setelah bubar acara, mereka mendatangi Tias Tatanka dengan mata berkaca-kaca, “Terim kasih, terima kasih. Kami akan selalu mendoakan, semoga rezeki mengalir terus ke PRD.”

begawan
July 22, 2003, 10:19
PETA

Saya jadi teringat masa-masa pacaran dulu. Ketika saya melamar, Tias menanyakan mas kawin yang akan saya berikan. Jawab saya, sebidang tanah di Ciloang. Tias berkelakar, Ciloang tak pernah dia baca di dalam peta Indonesia. Saya tak mau kalah gertak, “Kita yang akan memasukkan Ciloang ke dalam peta! Dan semua orang kelak akan membacanya.”

Perlahan-lahan mimpi kami mulai terwujud. Atas bantuan teman-teman kami di Harian Banten, serta koran Jakarta; Kompas, Republika, Koran Tempo, bahkan media elektronik seperti TPI, Indosiar, dan Trans TV, PRD pelan-pelan mulai masuk ke dalam peta Indonesia. Peran milis di internet seperti FLP, 1001Buku, pasarbuku, layarkata, penyair, pojokteater, wongbanten, smunsaserang, indokarlmay, serta intramail RCTI pun cukup berperan mensosialisasikan PRD.

begawan
July 22, 2003, 10:20
PENUNJANG

Sebetulnya yang paling penting di PRD bukanlah terletak pada buku-bukunya yang sedikit itu. Tapi terletak pada kegiatan penunjangnya. Itulah kekuatan PRD. Mereka tidak sekedar membaca, tapi juga bisa belajar langsung dari para ahlinya. Setelah setahun lebih bergulir, pada “Pesta Anak Rumah Dunia”, yang dibuka oleh Pak dadi RsN, Kasubdin Budaya Disbudbar Banten, Minggu lalu, anak-anak yang menjadi anggota PRD betul-betul unjuk kabisa. Atau “show of force”.

Luar biasa. Tias Tatanka yang begitu sabar selama setahun lebih mendampingi mereka, tampak duduk tekun menyimak detik ke detik semua peristiwa di atas panggung. Saya masih ingat apa yang pernah dikatakannya, “Dengan adanya panggung, anak-anak jadi belajar berdiri lebih tinggi dari teman-temannya. Mereka sedang belajar menjadi orang yang diperhatikan.” Hari Minggu itu, mereka rupanya berhasil menguasai panggung dan mampu berdiri dengan bangga di sana. Saya hampir menitikan air mata melihatnya

begawan
July 22, 2003, 10:22
TEATER - PUISI

Sekarang kita periksa kehebatan mereka satu persatu. Panen awal yang dipetik dari kegiatan reguler selama setahun, “Wisata Baca”, “Wisata Tulis”, dan “Wista Lakon”, mereka kini sudah dengan lancar menuliskan naskah teater yang akan di festifalkan. Lima kelompok; Play Actink Group, 4 Sweet gilrs, Kecil-kecil Cabe Rawit, Kelompok Kece, dan Daborija (Damai Boleh Ribut Jangan), bersaing memperebutkan yang terbaik. Akhirnya terpilih “Kelompok Kece” (Rosliana, Novi, Dina, dan Ani) sebagai grup teater terbaik terbaik. Naskah yang dipentaskan berjudul “Orang Gila yang Tersesat”. Ide dan penulis naskahnya Rosliana. Naskah ini menceritakan seorang anak periang yang sedang bermain dengan dua anak seumurnya. Mereka langsung akrab. Tapi dua orang anak itu berkata, “Kamu ini aneh, tapi lucu!”

Semua jadi jelas ketika seorang dokter muncul serta membawa pulang anak yang periang itu. Eh, ternyata si periang itu orang gila yang teressat. Anak itu jadi gila, karena orangtuanya terlalu mengekang dan melarang si anak bermain. Anak itu dikurung di kamarnya. Roasliana (kelas 6 SD Cipocok Jaya) cukup baik memerankannya tokoh anak gila. Tak heran kalau Piter Tamba dan Gemblong Hanafi dari Gesbica STAIN SMHB yang ditunjuk sebagai juri, memilih dia sebagai aktris terbaik Uang jajan sebesar Rp.20.000,-, piagam dari SUHUDsentra utama, serta paket alat tulis dari Azmirini Aznawi dia rebut.

Giliran naskah terbaik direbut Hardiyani (kelas 1 SMP 3 Cipocok, Serang). Judulnya “Opera SMP”. Menceritakan seorang guru yang galak, tapi ternyata baik hati. Terbukti si guru mengangkat seorang pengemis untuk dijadikan “anak asuhnya”. Dan aktor terbaik jatuh pada Wahyudi (Kelas 6 Sumber Agung Serang) dari grup Daborija. Mereka semua mendapat hadiah uang Rp. 20.000,-, paket alat tulis, dan piagam.

Di sela-sela festifal teater itu, Mahdi Duri yang sudah sangat akrab di anak-anak PRD sebagai “Mr. Pooeey”, memberi kesempatan kepada penonton untuk membaca puisi. Seorang anak dari “Pustaka Mini” Trondol, maju mmbacakan puisi karynya. BPaket alat tulis pun dia peroleh. Kemudian Ain, dan Deden tak mau kalah membacakan puisinya juga. Sang guru merka; Toto ST Radik, hanya senyum-senyum saja melihat penampilan kedua muridnya di “Wisata Ekspresi”.

begawan
July 22, 2003, 10:23
PAMERAN

Yang menarik dari “Pesta Anak Rumah Dunia” hasil garapan Budi Wahyu, Mahdi Duri, Ade, Ibnu Aveciana, Qizink La Azivaa, Piter Tamba, Deden, dan Andri adalah pameran lukisan anak-anak yang aktif di “Wisata Gambar”. Kak Indra Kesuma sebagai pembimbing memilih 60 lukisan. Hari Minggu itu dipilih pula 15 anak untuk pamer dalam menggoreskan warna-warna crayon di atas kertas. Para orang tua lagi-lagi terharu melihat hasil karya anak-anak mereka, yang sebelumnya hanya main di sawah, sungai, atau main layangan.

Pak Yaya Suhendar dari Perpustakaan Banten, Pak Pratikno dari Dindik Banten, Ilham dari LSM Lingkungan, terinspirasi untuk mengundang mereka ke setiap event yang diadakan instansi terkait. Malah untuk peluncuran pembukaan Perpustakaan Banten September nanti, Pak Yaya menjanjikan akan mengundang anak-anak PRD mentas.

“Satu lukisan akan kami pajang di cover belakang buletin provinsi Juli ini,” kata M. Iwan dan Rehan, dari buletin provinsi Banten, Menara Banten.

Juga kalau tak ada aral melintang, beberapa lukisan akan dijadikan kalender untuk 2004. Kita lihat saja nanti, apakah rekan-rekan masih ikhlas berbagi di Asih Purwaningtyas Chasanah, BCA Serang, No: 245 – 188 – 5733 (gola gong)

begawan
July 29, 2003, 04:30
SUMBER DANA

Pustakaloka Rumah Dunia adalah perpustakaan independen, yang sumber pembiayaannya dari kocek pribadi serta dari partisipasi pribadi-pribadi, yang ikhlas membantu. Atau juga kelak dari lembaga yang terpanggil membantu. Siapa saja silahkan membantu tanpa kepentingan apa-apa. Tapi, ada cara lain yang ditempuh PRD, yaitu bekerja sama dengan penerbit untuk menerbitkan antologi cerpen atau novel, di mana sebagian dari royaltinya disubsidikan untuk pengembangan PRD. Jadi, jika Anda membeli novel ini, berarti Anda sudah terlibat membantu dalam pengembangan PRD ke depannya. Insya Allah.



PRODUK KELAS MENULIS

Selain novel dwilogi "Kupu-kupu Pelangi', PRD sedang mempersiapkan beberapa antologi dan novel dari peserta "Kelas Menulis Rumah Dunia". Antologi cerpen yang sedang disiapkan adalah; KACA MATA SIDIK dan LELAKI YANG LELAH BERDIRI, serta novel PROPOSAL UNTUK TUHAN karya Ibnu Adam Aveciana.



SERI RUMAH DUNIA

Juga novel "SERI RUMAH DUNIA" karya Gola Gong dan Tias Tatanka. Novel SERI RUMAH DUNIA sangatlah menarik. Akan muncul berseri dan menceritakan tentang sebuah keluarga yang cinta buku dan anak-anak. Tema-temanya diagnkat dari peristiwa keseharian yang setiap hari terjadi di PRD dan lingkungan di sekelilingnya. Tentu diramu dengan bumbu-bumbu imajinasi. Jadilah sebuah realitas dalamn fiksi.



Begitulah rekan-rekan, cara dari PRD untuk tetap mandiri dan terus bisa berkesenian lewat puisi, prosa, teater, dan lukis, serta berkebudayaan lewat diskusi-diskusi.





SELAMAT MEMBELI DAN BERBAHAGIA LEWAT BUKU



Gola Gong - Tias Tatanka

Pengelola Pustakaloka Rumah Dunia

Komplek Hegar Alam 40, Ciloang

Serang 42118 - Banten

begawan
July 29, 2003, 05:39
Jurnal #31

Salam dari Rumah Dunia:

LATIFA, dr. IWAN, DAN DINKES BANTEN





Dr. Iwan Setiawan adalah dokter muda lulusan Trisakti, Jakarta. Ayah seorang nak berumur 2 tahun ini bekerja sebagai dokter pelaksana di Puskesmas Serang Kota. Dia selalu membaca jurnal “Salam dari Rumah Dunia”. Dalam benak putra Aman Sukarso, Sekda Pemkab Serang, ini sempat terpikir, “Apakah masalah kesehatan sudah diagendakan di Pustakaloka Rumah Dunia?” Sudah ada dalam rencananya untuk datang ke PRD untuk mengecek hal itu.

begawan
July 29, 2003, 05:40
KESEHATAN

“Dan ternyata tanpa perlu datang ke sana, suara hati saya sudah di dengar oleh Allah,” kata ayah seorang putra ini. Dia bercerita, Asep, divisi Operasional LATIFA (Lembaga Yatim Dhuafa) Serang meneleponnyan suatu malam. “Kita ke PRD. Memberikan pengobatan gratis!” begitu Asep mengabarkan. Di LATIFA dr. Iwan sebagai penanggung jawab divisi Kesehatan. Sebelum di PRD, bersama LATIFA dia meakukan pengobatan gratis di Pamarayan. “Ini adalah keajaiban dari Allah. Jika kita ingin berbuat baik, insya Allah, semua dipermudah oleh-Nya!” Ya, begitulah jika Tuhan sudah bekerja, selalu misterius, tak bisa diduga.

Maka hari Minggu lalu (27/7), LATIFA memberikan pengobatan kesehatan di PRD. Saat itu sedang ada “Wisata Ekspresi” menari, dengan instruktur Bu Rina Abdryani Firdaus. Hanya sayang, anak-anak yagn datang tidak sebanyak biasanya. Beberapa anak memang kelelahan setelah MOS (Masa Orientasi Siswa) dan beberapa ada yang takut saat mendengar ada pemeriksaan kesehatan dari dokter. Mereka memilih tidak datang atau diam-diam pulang. Tapi 13 orang anak dengan takut-takut menjalani pemeriksaan saat itu.

“Hari ini kita baru screening saja dulu,” jelas dr. Iwan. Dari ketiga belas anak itu terdeteksi beberapa jenis penyakit. Ada yang kulit kering kaena kekurangan gizi, dermatitis (korengan/buduk), telinga tersumbat kotoran yang membeku, dan gigi bolong. Tak ada gejala anak-anak yang berpenyakit TBC. Kalau pun ada, kami tak perlu risau. Kata dr. Iwan, Dinkes Banten akan memberikan kartu menuju sehat (KMS) kepada mereka. “Pengobatannya gratis!”

begawan
July 29, 2003, 05:40
TAMBAHAN

Hartono, direktur LATIFA dan Saefullah, Pj. Sosial dan kesehatan, menyarankan agar anak-anak PRD diberi makanan tambahan seperti susu dan bubur kacang. Serta kedepannya, mereka harus dididik mandi dengan sabun dan gosok gigi yagn benar.

“Sebaiknya mereka diajarkan di sini. Sediakan saja sabun dan peralatan gosok giginya. Beri nama satu persatu,” saran Saefullah, karyawan Pabrik Chandra Asri, Cilegon. Hari Minggu itu, beberapa anak yang terkena penyakit dermatitis diajari mandi di PRD.

Dalam hati kami berpikir, anak-anak itu sudah terbiasa mandi di sungai kecil, yang membelah persawahan di kampung mereka. Kadang kali itu jika sedang kemarau seperti sekarang, lebih mirip MCK terpanjang. Airnya coklat kehitaman dan penuh sampah. Akahkah itu memkbawa perubahan dalam prilaku kesehatan merka sehari-hari? Padahal sebelumnya, kami berencana memasukkan agenda kesehatan ini tahun depan. Tapi rupanya LATIFA dan dr. Iwan mempercepatnya. Tidak apa. Itu tadi, kadang Tuhan kalau sudah bekerja selalu saja misterius.

begawan
July 29, 2003, 05:41
MOMBI

Di sela-sela pemeriksaan kesehatan gratis dari LATIFA dan dr. Iwan itu, banyak sekali tamu berdatangan. Ada radio LINK FM Serang, dan Gianna dari majalah anak-anak MOMBI, Jakarta. Dengan Radio Link, kami membicarakan kemungkinan mengisi program on air di sana. Sedangkan Giana mewawancarai Tias Tatanka serta beberapa anak. Tak lupa pula, mereka disuguhi ekspresi pembacaan puisi dadakan dari Rosliana, Wahyudi, Sri, Sauni, dan Khusnul Aini.

Selain pengobatan, “Wisata Ekspresi”, yagn dimulai pukul 10.00am, dua jam sebelumnya sudah berdiskusi soal cerpen-cerpen yang akan dikumpulkan dalam antologi cerpen KACAMATA SIDIK dengan peserta “Kelas Menulis Rumah Dunia” (KMRD). Lepas Ashar, giliran angkatan kedua KMRD belajar jurnalistik. Hari itu sangatlah padat. Tapi, kami sangatlah bahagia karena bisa mengisinya dengan berbagi dan bergembira. Kalian tertarik bergabung? Tak ada waktu dan pikiran, silahkan saja dengan ikhlas berbagi di Asih Purwaningtyas Chasanah, BCA Serang, No: 245 – 188 – 5733. (gola gong)

begawan
July 29, 2003, 05:41
Daftar penyumbang Juli minggu ketiga:

2. AZMIRINI AZNAWI, Jakarta, paket alat-alat tulis (pinsil, penghapus, buku tulis, tempat pinsil, buku gambar, crayon) untuk 40 anak.

3. MATOUQ AMIN AJ, RCTI Jakarta; 30 buku gambar

4. BENNY RHAMDANY; FLP Jakarta, Rp. 100.000,-

5. NOOR TRI WINDIESATI, RCTI Jakarta; 30 novel (Barbara Cartland, Titi Said)

6. Siapa menyusul?





Salam cinta buku



Pustakaloka RUMAH DUNIA

Komplek Hegar Alam 40, Ciloang

Serang 42118 – Banten

Tlp: 0254 – 202861, e-mail: gola_gong@hotmail.com

Rekening: A/n Asih Purwaningtyas Chasanah

BCA Serang, No. 245 – 188 - 5733

begawan
August 05, 2003, 06:31
Jurnal#32:

Salam Rumah Dunia:

REFLEKSI 1 TAHUN



Setahun yang lalu, saya, Abdul Malik, (Redpel Harian Banten), Rahmat Yanto Suharja (wartawan Harian Banten), berbincang-bincang di Sanggar Sastra Serang milik Toto ST Radik. Kami lagi-lagi membicarakan kepedulian pemerintah provinsi Banten, yang sangat tidak peduli pada kondisi perpustakaan yang ada di Banten. Masih segar diingatan kami waktu itu, bahwa pihak eksekutif dan legislatif di Banten menganggap perpustakaan belum sesuatu yannpenting di Banten. Mereka beranggapan, “Kalau perpustakaan dibangun, siapa nanti yang akan datang membaca?”



PRIHATIN

Kami tentu prihatin. Seprihatin ketika “Harian Banten” melemparkan program “Tebar Sejuta buku”nya. Dalam waktu 3 bulan (Juli – September 2002), hanya terkumpul 3000-an buku. Itu pun hanya buku pelajaran bekas dan paper-paper usang (yang layak disebut sampah). Tak satupun dari instansi pemerintah yang menyumbang. Pada saat itu, saya sedang bersemangat membangun Pustakaloka Rumah Dunia (PRD). Sudah lima edisi jurnal disebar secara mingguan di beberapa milis (Forum Lingkar Pena, pasarbuku, layarkata, 1001Buku, indokarlmay, pojokteater, penyair, wongbanten, dan smunsaserang,intramail RCTI).

Malam itu, di ujung Juli 2002, Malik menawarkan tempat khusus di halaman 2 korannya (Harian Banten), untuk diisi rutin setiap Senin oleh PRD. Kami sepakat menamai rubrik itu “Salam Dari Rumah Dunia”. Jujur saja, saya da istri saat itu, merasa tidak sendirian. Malik, Rahmat, dan Toto memang kawan-kawan kami yang sejak dulu concern serta konsisten pada pengembangan sumber daya manusia lewat buku. Tapi di sisi lain, kami masih saja harus kecewa, karena Banten pasca provinsi paradigma berpikir aparat, birokrat dan teknokratnya tidak pernah berubah. Mereka masih saja menganggap comunnity development lewat buku suatu pekerjaan yang sia-sia. Yaan ada di benak para petinggi Banten itu, adalah pembangunan phisik semata. Tetutama bikin pusat pertokoan modern, bikin gedung perkantoran pemerintahan yang nyaman, bikin perumahan yang luks, bikin sekolah unggulan, promosikan pariwisata, yuk kita jalan-jalan ke luar negeri untuk study banding... yuk kita habiskan anggaran belanja daerah ini untuk bersenang-senang… Setidaknya, itulah yang kami tangkap, karena ketika kami menyodorkan realitas, bawa generasi muda Banten butuh perpustakaan yang representatif, mereka malah menolaknya: di Banten belum pantas ada gedung perpustakaan!

begawan
August 05, 2003, 06:33
SUKARELAWAN

Dalam keprihatinan yang dalam, kini jurnal “Salam dari Rumah Dunia” sudah bergulir setahun. PRD terus saja menggelinding. Memang, tak semua yang kami harapkan bisa terpenuhi. Ketidakpedulian instansi terkait seperti Dindik Provinsi dan Kota Serang tak membuat kami patah arang. Sebodoh amatlah. Kalau kami merengek-rengek, nanti jawab mereka, “Siapa suruh wee.., bikin perpustakaan! Keciaan deh lo…!”

Kalau PRD diibaratkan sebuah pohon, sejak mulai dari biji, muncul tunas, lalu sampai berdaun, karena langit di Barat tak memberi pencerahan apa-apa, akhirnya dedaunan PRD kami arahkan untuk condong menggapai matahari di langit timur, yaitu ke Jakarta. Di kota besar inilah justru respon positif bermunculan. Kami kadang suka berkelakar, bahwa aparat, birokrat, dan teknokrat yang ada di Banten boro-boro mikirin pengembangan SDM lewat buku, wong mereka itu sedang diserang budaya snob serta selera rendah duniawi; berlomba-lomba mengumpulkan proyek, menghitung komisi, mengkoleksi voucher telephone seluler, dan membuka-buka brosur kawasan wisata di mancanegara untuk study banding. Yah, bagi kami itu manusiawi. Makanya, kami tak pernah memaksa-maksa mereka untuk meluangkan waktu datang ke PRD.

Tapi, berkat bantuan beberapa sukarelawan; Indra Kesuma (wisata gambar), Budi Wahyu dan Ade (wisata lakon), Mahdi Duri, Qizink, Endang, Aad, Piter tamba, Ibnu, Ade Jahran (di klab diskusi Rumah Dunia dan Belah Ketupat), Suhud Sentrautama (percetakan), Rina Abdryani Firdaus (wisata eskpresi nari), Toto ST Radik (di wisata ekspresi puisi), Disbudpar Banten, Harian Banten, serta pribadi-pribadi di Jakarta yang tergabung di milis-milis tersebut di atas, PRD terus mengeliat dengan motonya: MENCERDASKAN DAN MEMBENTUK GENERASI BARU.

Setelah setahun berlalu, di Banten terjadi sedikit perubahan. Kini mulai ada Kantor Perpustakaan Banten. Baru instansinya dulu. Gedungnya, konon, belum masuk hitungan. Kabarnya, saat Perpustakaan Kantor Banten ini dibuka untuk umum, anak-anak PRD akan diundang untuk menampilkan seni teaternya. Pak Yaya Suhendar sebagai motornya, tampak berusaha untuk bersinergi dengan PRD. Kita lihat saja nanti.

begawan
August 05, 2003, 06:34
DISKUSI

Ya, kita lihat saja anak-anak PRD. Di sela-sela kesibukan MOS (masa orientai siswa), mereka tetap datang membaca. Bagi anak-anak yang aktif di wisata gambar, setelah pameran lukisan di “Pesta Anak Rumah Dunia (20/7), kini mereka sedang tekun menggambar untuk diikutkan dalam “Lomba Mengambar Anak” versi Dewan Kesenian Lampung.

Untuk yang remajanya, mereka sedang mempersiapkan diskusi bulanan “Klab Diskusi Bulanan”, 9 Agustus nanti, jam 14.30 – 17.00pm, dengan topik “Masa Depan Sastra di Banten”. Pembicaranya Wowok Hesti Prabowo (KSI) dan Herwan FR (penyair yang dosen UNTIRTA Banten). Diskusi ini diawali dulu dengan peluncuran novel “Jamilah” karya pengarang senior, K. Usman.

Malamnya, jam 19.30 – 22.00pm, digelar untuk yang kedua kalinya, “Belah Ketupat (Bedah Telaah Sastra dan Kesenian)”. Kali ini akan menggelar pembacaan puisi dari antologi puisi “Jus Tomat Rasa Pedas” karya Toto ST Radik. Firman Venayaksa yang asli Rangkasbitung akan menyumbang musikalisasi puisi sendirian. Biasanya dia muncul bersama kelompoknya dari Bandung, Hajjar Aswad. (gg)



DAFTAR PENYUMBANG AKHIR JULI:



5. Noor Tri Windiesati RCTI Jakarta; 30 novel (Barbara Cartland, Titi Said)

6. Gianna; Jakarta, 40 Majalah Mombi dan Kreativitas anak

7. Pipit Senja, 3 novel karangannya (Cahaya, Nurani, Serpihan Hati)

8. Bambang Joko Susilo; novel Rumah di Bukit Gagak

9. Drs. Hasuri, Yayasan Bani Ramil Serang; 22 buku pelajaran sejarah untuk SMA

10. TK Islam bunga Bangsa, 20 puluh majalah TK

11. Reni Yaniar, redaktur MOMBI Jakarta, 14 buku cerita anak

12. Matouq Amin AJ, RCTI Jakarta; 40 buku gambar

13. Siapa menyusul?

begawan
August 12, 2003, 07:12
Jurnal #33

Salam dari Rumah Dunia:

VENAYAKSA, MR. POOEEY

DAN SEABREK RENCANA ITU



Sabtu (9/8) dan Minggu lalu (10/8) di Pustakaloka RUMAH DUNIA (PRD)

terjadi kesibukan yang luar biasa. Tiga kegiatan digelar sekaligus; launching novel “Jamilah” karya K. Usman, diskusi bulanan Klab Diskusi Rumah Dunia (KDRD)yang mengusung topik “Masa Depan Sastra di Banten”, dan “Belah Ketupat (BK)” dengan antologi puisi “Jus Tomat Rasa Pedas” buah pena Toto ST Radik.



KURATOR

Kesibukan itu sudah dimulai sejak malam Sabtu. Dikomandoi oleh Piter Tamba, penata artistik PRD, dan Mahdi “Mr. Pooeey” Duri (koordinator KDRD), panggung di halaman depan PRD pun mulai disulap. Layar biru milik “Sanggar Minuit Pasar Lamar Serang” dibentangkan, tomat-tomat dan cabe merah digantungkan. Begitu juga pendopo. Semua beraroma “jus tomat rasa pedas”. Semalaman mereka menata panggung, dibantu oleh Budi Wahyu, Ibnu Adam, Deden, dan Andre. Yang menggembirakan, Firman Venayaksa pun bergabung ikut begadang malam itu.

“Sekarang saya bisa total di PRD,” ujar Venayaksa. Penulis Lebak yang jago baca dan memusikalisasikan puisi, kni tak lagi berdomisili di Bandung. Dia nge-kost bersama Irfan Hidayatullah (Ketua FLP Bandung) di Depok. “Saya keterima kuliah S2di UI, ‘Kang!” kabarnya. “Moga-moga seminggu sekali bisa bagi-bagi ilmu di PRD! Yah, paling nggak, sebulan sekali ikutan diskusi. Tergantung ongkoslah!

Jujur saja, PRD butuh orang seperti Venayaksa, yang secara akademis tahu bagaimana caranya membaca sastra. Yang juga bisa menulis, membacakan, dan menyanyikannya. Di Bandung, dia aktif dengan kelompoknya; Hajjar Aswad. Kami menawarkan Venayaksa untuk jadi kurator di PRD. Dia menyanggupi dan bahkan akan menularkan kebisaannya memetik gitar, meniup harmonika pada anak-anak PRD. “Sekarang saya siap ‘berdarah-darah’ di PRD,” Venayaksa tampak serius. Dia berharap, PRD selain jadi pusat budaya Banten, juga transit untuk nanti mendistribusikan virus seni dan budaya ke seluuh oenjuru Banten. “Dan Lebak adalah giliran saya!”

begawan
August 12, 2003, 07:13
DISKUSI

Sabtu, Jam 15.30pm, acara KDRD dimulai dengan launching novel “Jamilah” karya K. Usman.. Harian Banten dan Suhud Sentrautama hadir sebagai pendukung acara. Peserta diskusi mulai beragam. Ada dari majalah Teras Cilegon, Fajar Banten, Komunitas Kebon Nanas Tangerang, Forum Kesenian Banten, Persatuan Seniman Banten, Komunitas Seni Bunderan Serang, Kuku Semar Cilegon, dan tentu FLP Serang, serta Sanggar Sastra Serang. Abdul malik – redpel harian Banten – hari itu itu juga asyik nongkrong. Saat di pintu gerbang, mereka disuguhi sebuah tomat serta paket berisi novel “Jamilah”, antologi puisi “Jus Tomat Rasa Pedas”, majalah Teras, dn Content seharga Rp. 10.000,- Lumayan terjual 22 paket. Rencananya uang itu akan digunakan lagi untuk menerbitkan antologi puisi anak-anak Sanggar Sastra Serang.

Qizzink La Aziva (koordinator BK) selaku moderator memperkenalkan K. Usman, pengarang senior asal Palembang. Dia dulu pengasuh majalah anak-anak “Kucica”. Bersama istri, cucu, dan menantunya, dia datang ke PRD. “Banten adalah kota kelahiran istri saya,” katanya bernosatalgia. Dia sengaja meluncurkan novelnya di PRD, dengan harapan bisa menularkan spirit menulisnya di usia senja kepada anak-anak muda di PRD. Anak-anak PRD tentu saja terkesima melihat pergulatan seorang K. Usman, saat merantau dari Palembang ke Jakarta di tahun 1962-an. “Honor pertama saya untuk cerpen anak 24 rupiah, 50 sen saat itu!” katanya.

Jangan kaget. Acara launching novel dengan pengarang fiksi selain saya dan Toto ST Radik, belum pernah ada. K. Usman bisa dikatakan sebagai tonggak pertama. Bayangkan, dengan jarak 1 jam pejalanan ke Jakarta, Serang (sebagai ibu kota Provinsi Banten) tak pernah disinggahi acara-acara bedah karya sebuah karya fiksi, bertemu langsung dengan pengarangnya. Jika di koran-koran ada berita peluncuran novel sekelas Dee “Supernova” Lestari, Ayu “Larung” Utami, Helvy Tiana Rossa, Nukila Amal, Djenar Mesa Ayu, anak-anak di komunitas PRD dan Sanggar Sastra Serang hanya bisa menelan air liur. Saya selalu bilang kepada mereka, “Sabar. Sekarang yang harus dilakukan adalah membangun komunitas baca dan tulisnya dulu.”

Ya, kami tidak akan gegabah membuat diskusi-diskusi bedah buku, jika komunitasnya belum terbentuk. Herry Latief (penyair cybersastra) beberapa bulan lalu pernah “iseng” membedah antologi puisinya di PRD (ilusiminimalis). Ada tanya jawab soal proses kreatif dan pemakaian bahasa Indonesia yang seenaknya oleh Latief waktu itu. Lumayan, tejadi dialog. Setelah K. Usman ini, kini sederet nama besar pengarang sedang kami siapkan. Pernah saya berkelakar ke Wien Muldian, cowok dari Pasarbuku. “PRD ingin sekali mengundang Djenar dengan ‘Monyet’-nya itu atau yang lainnya! Tapi, kami belum yakin kalau masyarakat Serang sudah membaca karya-karya mereka.”

begawan
August 12, 2003, 07:15
SASTRA

Usai novel “Jamilah”, KDRD yang mengusung topik “Masa Depan Sastra di Banten” pun tancap gas. Tiga pembicara; Firman Venayaksa (Cybersastra), Wowok Hesti Prabowo (KSI), dan Herwan FR (dosen sastra UNTIRTA) memaparkan isi otaknya. Ternyata dari tiga kepala itu, sangat beragam pendapatnya dengan masa depan sastra di Banten. Kata Wowok. “Saya akan membuat ‘Institut Puisi’ di Tangerang. Anak-anak muda bisa belajar bagaimana caranya membuat puisi yang baik dan benar di sini. Supaya sastra di Banten cerah dan gemilang!”

Versi Venayaksa yang tak mempedulikan letak geografis lain lagi. Dia menyarankan agar anak-anak PRD dan Sanggar Sastra Serang tidak hanya belajar menulis puisi dan prosa ke Toto dan Gong saja. “Bukankah di Serang ada Wan Anwar yang redaktur Horison itu? Juga ada Herwan FR? Mereka berdua juga penulis top dari Bandung. Suruh mereka menularkan ilmunya di PRD!” Herwan FR yang duduk di sebelah Firman Cuma tersenyum. Kata Herwan, “Sebaiknya penulis lokal di Banten mulai melemparkan karya-karyanya ke koran Jakarta.”

Malam minggunya, Belah Ketupat (Bedah Telaah dan Apresiasi Sastra) untuk yang kedua kalinya kami gelar. Tikar digelar, bangku-bangku dijejerkan, dan 30 kursi plastik sumbangan dari sebuah pabrik kimia di Cilegon disusun di barisan depan. Anak-anak langsung menjajal kursi baru itu. Toto ST Radik, guru puisi mereka, menbacakan sajak-sajaknya yang terkumpul di “Jus Tomat Rasa Pedas”. Anak-anak itu dengan tekun mendengarkan sang guru bersajak, “Kursi, kursi, kursi….., tiada Tuhan selain kursi…..”

begawan
August 12, 2003, 07:17
DONGENG

Setelah setahun PRD bergulir, maka seabrek rencana pun baru bisa kami wujudkan Juli lalu. Yang pertama-tama kami lakukan adalah, membangun panggung kecil di depan halaman PRD. Pemiliknya, Haji Abu, meminjamkan halaman seluas 400meter persegi itu pada kami, dengan harapan kami bisa segera membelinya.

Kami merasa, selama setahun itu sosialisasi tempat bernama PRD sudah behasil. Para pencinta buku di Banten dan Jakarta tidak asing lagi dengan lokasi PRD, yagn hanya 5 menit dari pintu tol Serang Timur (kalo naik kendaraan). Yang namanya buku cerita, apa itu prosa, dan puisi, selama setahun itu kami sebarkan di PRD. Ketakutan akan terjadi gegar budaya di kampung Ciloang pelan-pelan bisa kami atasi. Semua kami buktikan saat Mahdi Duri meluncurkan antologinya yang berjudul “Mr. Pooeey” di awal Juli lalu. Para penonton dari segala macam usia; anak-anak hingga orang tua, dengan takjub bisa mengapresiasi setiap kata yang diucapkan Mahdi, mahasiswa STKIP (jurusan Psikologi) Balaraja yang juga buruh pabrik. Bahkan saat “Pesta Anak Rumah Dunia”, Mr. Pooeey yang jadi pembawa acara tampil sebagai “idola”. Hingga sekarang, setiap Mahdi lewat Ciloang, anak-anak akan berteriak menyapanya, “Mister Pooeey!” Bahkan keponakan kami yang berumur dua tahun, selalu mencari-cari Mr. Pooeey.

Lantas kami punya seabrek rencana lagi dengan “Mr. Pooeey”. Kami membicarakan semalaman. Lantas kami sepakat, bahwa “Mr. Pooeey” akan kami jadikan maskot PRD. Satu produklagi akan kami luncurkan, yaitu “RUMAH DUNIA MENDONGENG” (RDM). Program mendongeng ini akan kami serahkan ke Mahdi, Piter, dan Budi. Akhir September program itu akan kami luncurkan. Mereka akan tampil di panggung, mendongeng di depan anak-anak. Cerita-ceritanya dari buku-buku dongeng yang ada di rak buku PRD. Ke depannya, RDM ini akan diadakan sebulan sekali, setiap Sabtu pagi. Beberapa TK yang ada di Serang, akan kami undang untuk datang mendengarkan dongeng. Bahkan TK Bunga Bangsa Serang sudah menyatakan kesediaannya.

Doakan saja kami semua yang ada di PRD selalu sehat, punya energi dan waktu! Dan jika rekan-rekan punya rezeki berlebih, jangan lupa titipkan di Rekening: A/n Asih Purwaningtyas Chasanah BCA Serang, No. 245 - 188 – 5733. Kami akan memanfaatkannya untuk kegembiraan dan kebahagiaan lewat warna, kata, suara, dan gerak di PRD! (gola gong)



DAFTAR PENYUMBANG:

13. Toto ST Radik; antologi puisi “Jus Tomat Rasa Pedas”.

14. Hamba Allah, Rp. 100.000,-

15. Pabrik Kimia, Cilegon, 30 kursi plastik, 1 rak lastik

16. Siapa menyusul?



Salam cinta buku

Pustakaloka RUMAH DUNIA

Komplek Hegar Alam 40, Ciloang

Serang 42118 - Banten

Tlp: 0254 - 202861, e-mail: gola_gong@hotmail.com

begawan
September 05, 2003, 08:08
Jurnal #34

Salam dari Rumah dunia

LOMBA PROSA, PUISI, AAD ADKHILNI MS,

ENDANG RUKMANA, DAR! MIZAN, DAN SABILI



“Penjajah” itulah kata yang saya benci ketika membaca buku pengetahuan sosial (sejarah). Sering saya merasa iba terhadap rakyat yang telah menderita, karena kekejaman bangsa penjajah. Mereka telah berjuang mati-matian untuk mengusir para penjajah tersebut. Tapi, masih saja para bangsa penjajah itu ingin menguasai. Apalagi jika melihat gambar-gambar, mereka sangat menderita, kurus, kelaparan dan kehilangan harta benda. Hasil panen mereka harus diserahkan kepada penjajah. Mereka harus bekerja untuk bangsa penjajah tanpa diupah.

Bangsa penjajah yang paling saya benci adalah bangsa Belanda. Bangsa yang satu ini tidak berperikemanusiaan dan sangat kejam, tidak henti-hentinya menjajah bangsa Indonesia.

Sejarah yang paling berkesan bagi saya adalah kejadian di Hotel Yamato. Orang-orang Belanda memasang bendera merah-putih-biru di hotel tersebut. Mereka tidak tahu malu, kalau mereka di tanah air Indonesia hanyalah sementara, dan sebatas menjajah saja. Tapi mengapa mereka memasang bendera negaranya sendiri. Bukankah hotel Yamato tersebut masih berada di kawasan Indonesia? Itulah yang saya maksud dengan tidak tahu malu.

Akhirnya para rakyat semakin benci terhadap kelicikan Belanda. Mereka pun menyerbu hotel Yamato dan merobek warna biru bendera tersebut. Lalu berkibarlah Sang Merah Putih.

Setelah sekian lamanya, Belanda mengakui kekuasaan Republik Indonesia dan mengizinkan memproklamasikan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, dan ditetapkan sebagai Hari Proklamasi RI.

Kini Indonesia telah merdeka, telah bebas dari penjajahan dan saya ingin meneruskan cita-cita para pahlawan yaitu memajukan bangsa dan negara. (Hardiyani, kelas 1A SMPN 1 Cipocok Jaya, Serang)



***



PESTA HUT RI

Tulisan di atas adalah karya Hardiyani (kelas 1, SMPN I Cipocok Jaya), pemenang I lomba mengarang di Pustakaloka Rumah Dunia (PRD), memperingati HUT 58 RI. Semula kami tidak merencanakan lomba apa pun, karena di lingkungan PRD; Komplek Hegar Alam dan Ciloang, banyak lomba diadakan. Tapi karena anak-anak mendesak, akhirnya kami gelar lomba mengarang prosa dan puisi, serta menggambar, yang digelar Jumat (15/8) lalu.

Hasilnya, untuk jenis prosa Hardiyani, Nadrotul Ain (kelas 1 MTsN), Melawati (kelas 3 SMP). Jenis puisi terkumpul 32 puisi dari 13 orang. Tiga terbaik disabet Agus Susilo (kelas 1 SMU), Wahyudi (kelas 6 SD), Tuti Rohmawati (kelas 1 MTsN). Sedangkan menggambar, Pak Indra Kusuma memilih Husnul Aini (kelas 5 SD), Rostini (kelas 6 SD), Rosliana (kelas 6 SD). Hadiah yang mereka uang senilai Rp 10.000,-. Kami percaya, seperti yang sudah-sudah, uang itu akan mereka pergunakan untuk keperluan sekolah atau ditabung.

Pada Sabtu malam (23/8) nanti, beberapa anak-anak PRD akan membacakan puisi karya mereka di acara tujuh belasan di Komplek Hegar Alam. Salah satu puisi yang akan dibacakan adalah karya Agus Susilo, berjudul “Pahlawan”.



Walau senjatamu hanya dari bambu

tapi semangatmu bagai laju mobil perang

walau ditembus dengan peluru-peluru tajam

namun dirimu tetap memperjuangkan

bangsa dan tanah air yang dicinta.



Ketika membaca karya-karya mereka, kami seperti mendapat semangat baru untuk menggali ide, agar PRD tetap memunculkan karya-karya terbaik dari anak-anak itu. Standar kami memang masih Serang, bahkan masih seputar Ciloang.



NASIONAL

Sedagnkan untuk taraf nasional sebetulnya sudah dibuktikan oleh kakak-kakak mereka di “Kelas Menulis Rumah Dunia” (setiap Minggu sore) dan Sanggar Sastra Serang (S3) asuhan Toto ST Radik Kali ini Aad Adhkilni MS dan Endang Rukmana. Keduanya siswa SMUN 1 Serang. Aad menyabet juara I Lomba Menulis Essay Tingkat Nasional, dengan tema “Hijriah: Momentum Meneladani Kehidupan Rosulallah”, yang diadakan majalah Sabili dan Majelis Pendidik Al Irsyad Al Islamiyah. Sedangkan Endang Rukmana kebagian Harapan I.

Bagi kami, prestasi mereka luar biasa. Kita semua yang ada di Banten harus bangga memiliki kedua remaja itu. Harus mensupport mereka. Mestinya pihak sekolah dan Dindik Banten memberi mereka beasiswa. Bahkan pada 2002, Endang menggondol juara II “Lomba Karya Tulis Non Fiksi Tentang Penanggulangan Penyalahgunaan Narkoba”, yang diadakan Balai Penelitian Agama dan Kemasyarakatan Departemen Agama RI. Tulisannya mengusung judul “Republik Narkoba”.

Prestasi Aad dan Endang ternyata tidak berhenti sampai di situ saja. Baru-baru ini, untuk tingkat Banten, Aad menyabet juara II “Lomba Penulisan Cerita Rakyat Banten kategori pelajar SLTP/SLTA” dengan judul “Legenda Gunung Pinang”. Dan Endang juara III dengan judul “Asal Muasal Batu kuwung”.

Kedua remaja Serang itu termasuk tahan banting. Setiap minggu sore, bersama rekan-rekannya, mereka tak lelah-lelahnya menimba ilmu di PRD dan S3. Hasilnya sudah kelihatan, berbagai penghagaan mereka sabet Kami sebetulnya hanya menjaga spirit mereka saja, bahwa menulis bukanlah pekerjaan yang tidak diperhitungkan. Bahwa dengan menulis kita bisa hidup sejajar dengan profesi terhormat lainnya. Juga kami hanya membantu mereka memperpendek waktu, agar karya-karya mereka bisa diterbitkan oleh penerbit.

Dalam waktu dekat ini, kelas menulis PRD sedang berusaha untuk bisa mewujudkan antologi cerpen dan novel perseorangan. DAR! MIZAN sedang membaca manuskrip antologi cerpen PRD#1 dengan judul “Kaca Mata Sidik” (KMS). Di buku pertama itu memuat 10 cerpen karya rekan-rekan kelas menulis PRD dan S3; Aad Adhkilni MS, Endang Rukmana, Ibnu Aveciana, Najwa, Gola Gong, Firman Venayaksa, Tias Tatanka, Toto ST Radik, dan Qizink La Aziva. Cerpen KMS adalah yang terbaik di antara kesepuluh cerpen itu. Lagi-lagi itu karya Aad Adhkilni. Untuk PRD#2, antologi cerpen yang sedang kami persiapkan adalah: LELAKI YANG LELAH BERBURU, mencomot judul cerpen karya ENDANG RUKMANA. Tunggu saja kabar dari DAR! MIZAN nanti. (tt/gg)



DAFTAR PENYUMBANG:

15. Pabrik Kimia, Cilegon, 30 kursi plastik, 1 rak lastik

16. Fachri Asiza; Jakarta, Rp. 50.000,-

17. Siapa menyusul?



Salam cinta buku

Pustakaloka RUMAH DUNIA

Komplek Hegar Alam 40, Ciloang

Serang 42118 - Banten

Tlp: 0254 - 202861, e-mail: gola_gong@hotmail.com

begawan
September 05, 2003, 08:14
Jurnal#35

Salam dari Rumah Dunia:

GEDUNG, PERCONTOHAN,

DAN PENGOBATAN GRATIS



Kamis siang (22/8), Pustakaloka Rumah Dunia (PRD) kedatangan tamu dari PT. Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo) yang diwakili oleh Pak Winarno dan Pak Gunawan. Beberapa anak PRD telah berkumpul, dan segera mereka unjuk kebolehan berpuisi, hasil Lomba Menulis Puisi yang baru lalu.

Pak Winarno dan Pak Gunawan membawa kebahagiaan tersendiri bagi anak-anak PRD, dengan bingkisan buku-buku anak terbitan Grasindo. Bak mata yang lapar, anak-anak itu antusias membuka bingkisan dan bertambah gembiranya mereka melihat berpuluh-puluh buku cerita yang sebagian besar belum pernah mereka baca. Segera saja mereka larut dalam berbagai dongeng yang mengantar imajinasi mereka bertualang. Jadilah siang itu anak-anak PRD menyantap hidangan dengan menu baru.



PERMANEN

Kedatangan Grasindo itu membuat kami tak bisa bersabar lagi untuk segera membuat gedung perpustakaan permanen, dari bata dan semen. Kami tahu, sebentar lagi musim hujan. Tentu setelah setahun lebih buku-buku itu berada di alam terbuka, kondisinya akan semakin rapuh. Hujan, panas, dingin, angin, dan debu pasti membuat kertas cepat lapuk. Kami tentu merasa tidak enak hati kepada para simpatisan yang sudah menitipkan bukunya di PRD jika kami tak merawat buku-buku itu.

Jika tak ada aral melintang, insya Allah, akan ada novel dwilogi Gola Gong, yang diterbitkan Era Publishing Solo (judul sementara “Biarlah Waktu Bicara”), dengan sistem jual putus. Dari uang novel dwilogi itu, kami akan membuat gedung perpustakaan sederhana seluas 8 kali 5 meter. Letaknya persis di belakang pendopo, di atas lahan yang dulunya kebon singkong dan kandang bebek. Mungkin awal atau minggu kedua September, peletakan batu pertama bisa dimulai. Akan ada panggung kecil di depan perpustakaan. Pendopo yang sekarang ada kelak akan jadi teras depan perpustakaan. Panggung kecil itu sebagai penghubung pendopo dan perpustakaan. Saat diskusi, para pembicara nanti bisa duduk di panggung itu dan peserta berada di pendopo. Jika ada monolog atau pembacaan puisi, panggung berukuran 4 kali 2 merter kami rasa cukuplah.

Kelak buku-buku akan aman di gedung impian kami. Terhindar dari angin, debu, hujan, panas, dan dingin. Ibnu Adam Aveciana, mahasiswa STAIN SMHB Serang, semester IV, yang sekarang jadi kuncen PRD (tidur di mushola yang kami beri tirai penutup), sangat bersemangat sekali ketika mendengar rencana kami. Dia berharap, jika gedung itu berdiri, akan makin banyak penerbit datang menyumbangkan buku. “Serta sebuah komputer!” harapnya. Sudah sebulan dia jadi kuncen. Hampir tiap malam, bunyi tak tik tuk terdengar di sana… “Saya makin terpacu untuk terus menulis!” kata Ibnu, yang tulisan-tulisannya sudah muncul di Harian Banten dan Fajar Banten.

begawan
September 05, 2003, 08:15
PERCONTOHAN

Tak hanya mesin tik saja yang terdengar. Tapi, kriiing bunyi telepon pun makin sering saja. Yang menanyakan alamat PRD, syarat-syarat jadi anggota, kepingin ikutan kelas menulis skenario, atau yang menanyakan bagaimana caranya membuat perpustakaan. Seperti di hari Ahad pagi (24/8) terdengar dering telepon dari Pamulang Permai 2. Si penelepon adalah Bu Evi, pemerhati anak-anak yang tengah merintis sebuah taman bacaan di lingkungannya. Menurut Bu Evi, setelah membaca profil PRD dari sebuah print out yang diperoleh salah seorang temannya dari sebuah milis, ia merasa antusias dan bertambah semangat mewujudkan perpustakaan impiannya.

Dari ceritanya, Bu Evi merasa punya hambatan, karena tak ada teman yang sejalan yang mau diajak ‘berjibaku’ membentuk taman bacaan, berlelah-lelah menyebar proposal, mengkoordinir anak-anak dan hal-hal lain yang dibutuhkan untuk mendirikan sebuah perpustakaan. Secara insidentil Bu Evi yang punya latar belakang ilmu pendidikan ini telah membimbing anak-anak lingkungannya untuk berani membaca puisi di acara tujuh belasan di lingkungannya. Sebuah permulaan yang bagus. Kendalanya, anak-anak itu tidak lagi datang karena tidak ada event khusus yang membuat mereka hrus tampil dan latihan.

Kami tidak ingin membuat Bu Evi patah semangat. Kami ceritakan betapa minim modal yang kami punya, hanya setumpuk majalah dan buku cerita anak-anak kami, bertempat di teras depan yang sempit, tapi tak membuat kami putus semangat. Satu hal yang kami tekankan, jika niat baik telah dijalankan, insya Allah kemudahan akan datang. Pada Bu Evi, ditunggu kabar berikutnya!

Sebelumnya kami banyak menerima kabar senada, yang ingin menjadikan PRD sebagai perpustakaan percontohan. Kami sebetulnya jadi malu hati. Apalagi ketika boss pasabuku, Wien Muldian, datang berkunjung (Kamis 21/8) membawa rombongan dari Mambruk Hotel Anyer, yang akan membangun perpustakaan di kampung wisata, Cikoneng Anyer. Bahkan rencananya mereka akan membawa lurah Cikoneng pada kunjungan berikutnya. Itulah sebabnya, kenapa kami menyegeakan membangun gedung perpustakaan di belakang pendopo. Sebagai perpustakaan percontohan, ya jangan malu-maluin amat gitu!



OBAT GRATIS DAN LARIS

Ahad itu juga, merupakan jadwal kunjungan kesekian dari tim medis Lembaga Amil Zakat LATIFA, yang diwakili oleh Dokter Iwan Setiawan dan asistennya, Pak Fajar. Anak-anak yang semula ragu dan takut, harus diberi penjelasan serta bujukan agar mau memeriksakan diri. Hasilnya, obat yang dibawa hari itu laris manis. Apalagi ketika Vitamin C dibagikan, anak-anak berebut meminta.

Sasaran pertama yaitu kebersihan teling tampaknya belum berhasil dengan baik karena faktor anak-anak (penderita) itu sendiri. Sebenarnya bukan hal yang berat untuk meneteskan Carbol Gliserin tiga kali sehari masing-masing tiga tetes. Tetapi keluhan bau obat, tetesan obat yang keluar dari telinga, membuat anak-anak yang telah dibagi sebotol obat tetes enggan untuk menjalankan terapi itu. Mungkin untuk langkah berikutnya perlu diadakan penyuluhan hidup sehat bagi anak-anak itu.

Latifa akan terus melakukan pengobtan gratis di PRD. Dua minggu sekali. Kami tentu sangat senang, bisa memberi kesempatan pada siapa saja untuk saling berbagi. (tias/gong)



DAFTAR PENYUMBANG:

15. Pabrik Kimia, Cilegon, 30 kursi plastik, 1 rak lastik

16. Fachri Asiza; Jakarta, Rp. 50.000,-

17. Siapa menyusul?



Salam cinta buku

Pustakaloka RUMAH DUNIA

Komplek Hegar Alam 40, Ciloang

Serang 42118 - Banten

Tlp: 0254 - 202861, e-mail: gola_gong@hotmail.com

Rekening: A/n Asih Purwaningtyas Chasanah

BCA Serang, No. 245 - 188 - 5733

begawan
September 05, 2003, 08:19
Jurnal #36

Salam dari Rumah Dunia:

SEPTEMBER HEBOH



Kalau Vina Panduwinata beken denan lagu “SeptemberCeria, milik kita bersama…,” yang kini dipakai sebagai slogan sebuah TV swasta, di Pustakaloka Rumah Dunia (PRD) mencuat istilah “September Heboh”! Bagaimana tidak heboh, kalau seabrek kegiatan berjejalan di bulan September ini!



PAMERAN LUKISAN

Kita mulai dengan hari Sabtu, 6 September besok. Dimulai jam 14.30pm, akkan ada pembukaan pameran lukisan Indra Kesuma, tutor wisata gambar PRD, yang juga guru honorer di MAN 2 Serang. Mengusung judul pameran “ Di antara Dunia Hitam Kemudian Putih”, Indra memamerkan sekitar 25 – 30 lukisan. Pameran ini berlangsung selama seminggu, sampai 13 September. Terbuka untuk umum.

Menurut Firman Venayaksa, tutor PRD, dalam lukisan yang dipamerkannya ini, Indra Kesuma merefleksikan gejala sosial yang terjadi dalam kanvasnya. Begitu banyak simbol imaji menyeruak, berhamburan, saling tindih, tertatih, bersijingkat mencari sesuatu. Fenomena kehidupan dihadapan Indra, membuatnya tergoda untuk melakukan kontemplasi yang dalam. symbol of human yang paling sering dibuat Indra adalah binatang yang mirip dengan manusia: monyet atau kera.

Pameran lukisan ini adalah produk terbaru dari PRD. Tentu akan banyak kekurangan. Misalnya, Mahdi Duri, Piter Tamba, serta Gito Waluyo, yang berusaha memanfaatkan ruang yang ada di PRD untuk memajang lukisan-lukisan Indra dengan konsep minimalis (baca: kreatif ada, tapi dana tak mencukupi). Selain itu, Suhud Sentrautama membantu mendisain katalog pameran. Hanya saja proses akhirnya tidak dicetak, tapi difoto copi saja.



PERS DAN TARI

Usai pembukaan pameran lukisan, jam 15.00pm akan ada klab diskusi dengan gonjlengan wacananya. Kali ini topiknya “Seni, Budaya, Pers, dan Iklan”. Para pembicara adalah tokoh pers lokal di Banten; Agus Sanjadirja (Pemred “Fajar Banten”) dan M. Widodo (Pemred “Harian Banten”). Konfirmasi terakhir, mereka siap datang untuk berdiskusi, duduk sama rendah berdiri sama tinggi. Semuanya demi memajukan masyarakat Banten.

Kedua pemred ini, menurut desas-desus, sangat sulit dipertemukan dalam sebuah event atau moment seminar. Bahkan beberapa orang menyangsikan kedua pemred itu akan hadir. Insya Allah, “Klab Diskusi” mendobrak mitos itu dengan mempertemukan mereka di “Gonjlengan Wacana”. Dengan niat baik untuk mencerdaskan dan membentuk generasi baru di Banten, semoga saja akan lahir pemikiran, gagasan, serta komitmen baru dari mereka untuk memajukan pers di Banten serta mencerdaskan para pembacanya.

Sebetulnya kami berharap Veven SP Wardhana akan hadir sebagai pembanding. Sayang, pada konfirmasi terakhir, Veven meminta maaf tak bisa hadir. “Ada urusan keluarga yang mendesak!” begitu bunyi emailnya.

Kehebohan 6 September berlanjut ke malamnya, jam 19.30. Panggung terbuka PRD akan mEnampilakan sendatari “Merdeka ya Merdeka” dari sanggar “Sang”, Cilegon. Penata tarinya Siti Aisyah. Disambung dengan pembacaan dongeng untuk anak-anak. Ceritanya dari buku-buku yang ada di rak buku PRD saja.

begawan
September 05, 2003, 08:20
LAUNCHING NOVEL

Puncak kehebohan adalah hari minggu, 7 September, dari jam 09.00 – 12.00. Ada peluncuran novel dwilogi terbaru Gola Gong; Kupu-kupu Pelangi (penerbit DAR!MIZAN), yang pernah dimuat bersambung di “Harian Banten”. Acaranya padat sekali. Pembacaan Puisi dan teater anak-anak Rumah Dunia, peresmian Forum Lingkar Pena Serang, serta diskusi "Nilai-nilai Islami dalam Karya Fiksi". Pembicaranya Ahmadun Y. Herfanda (Redaktur Budaya Republika) dan Helvy Tiana Rossa (Ketua FLP). Acara ini terselenggara berkat suntikan dana dari DAR! MIZAN sebesar Rp. 1.000.000,- serta beberapa buku untuk door prize.

Launching novel ini terbuka untuk penrbit manapun. Agenda Oktober, penerbit Gita Nagari dari Yogyakarta sudah menyatakan kesediaannya. Novel terbaru mereka; Mahar, karangan Evi Idawati. Diharapkan dari acara seperti ini, yang akan rutin digelar tiap bulan, akan menyebarkan virus budaya tulis pada generasi muda Banten. Untuk itu, dengan mensubsidi sebesar Rp. 1.000.000,- (untuk spanduk, konsumsi peserta diskusi antara 50 – 100 orang, honor pembicara) kepada penerbit di kota-kota besar, dipersilahkan untuk menengok ke wilayah paling barat di Jawa ini. Ada satu wilayah yang sedang menggeliat dalam dunia tulis menulis, yang perlu diperkenalkan kepada proses kreatif para pengarang novel sesungguhnya. Dengan begitu BANTEN MEMBACA dalam skala kecil akan cepat terwujud.

Maka, marilah bergabung di Rumah Dunia! (gg)



DAFTAR PENYUMBANG:

15. Pabrik Kimia, Cilegon, 30 kursi plastik, 1 rak lastik

16. Fachri Asiza; Jakarta, Rp. 50.000,-

17. Nitta Sellya; 1001Buku Jakarta, 13 novel

18. K. Usman; bukunya “Abudzar Alghifari” (Fifamas)

19. Aku Anak Saleh

20. Siapa menyusul?



Salam cinta buku

Pustakaloka RUMAH DUNIA

Komplek Hegar Alam 40, Ciloang

Serang 42118 - Banten

Tlp: 0254 - 202861, e-mail: gola_gong@hotmail.com

Rekening: A/n Asih Purwaningtyas Chasanah

BCA Serang, No. 245 - 188 - 5733

begawan
September 05, 2003, 08:24
MEMPERINGATI 17 AGUSTUS DENGAN CARA KAMI, CARA ANGGOTA PRD!
Oleh

Firman Venayaksa*)

Pada tanggal 16 Agustus 2003, di rumah tempat tinggal saya begitu lengang. Aktivitas memperingati ulang tahun kemerdekaan RI yang ke 58 tak terdengar, hanya riak-riak kecil saja. Selain bendera merah putih, umbul-umbul dan bendera partai yang menghiasi kampung saya, tak ada lagi hal istimewa. Kampung saya (warunggunung-Lebak) memang terbiasa dengan cuaca sunyi. Pojok hati saya ingin pergi, maka berjalanlah saya ke Serang-Banten-sekitar 40 kilometer dari kampung, mencari warnet. Beberapa e-mail masuk, tak terlalu penting memang. Lalu saya mesuk ke mailinglist FLP. Ada sebuah surat yang cukup menarik dari Qizink la Aziva yang menyatakan bahwa Golagong berulang tahun yang ke-40. Syukurlah aku bisa mengetahui ini, lalu saya mengirim SMS ke Golagong "Nampaknya malam ini harus ada kambing guling dan kue tar, memperingati usia kita yang semakin dekat dengan kematian." Lalu Golagong menjawab dengan nada bercanda "ha3x". Saya tak langsung pergi ke rumahnya, siang hari seperti ini biasanya dia memberikan waktunya untuk keluarga, sayapun tak mau mengganggunya.

Sedekah Sastra

Seperti biasa, dalam jangka waktu satu bulan, saya membuat sebuah program khusus untuk diri saya, mempublikasikan karya-karya, atau dengan bahasa yang lebih menarik "sedekah sastra". Saya pergi ke Cilegon, sebuah tempat industri yang sekarang sudah mulai merangkak menuju kota metropolis. Supermarket-supermarket menjadi etalase di kota ini. Saya mulai menyebarkan segepok puisi saya ke beberapa orang yang melintas dihadapan saya. Ekspresi mereka beragam ketika mendapatan puisi saya. Ada yang cengar-cengir, melotot aneh, tersenyum manja, ada juga yang bilang "maaf, saya tak punya uang!" Bagi saya, itu adalah hal yang lumrah, karena puisi memang tidak terlalu berarti di mata mereka. Sehabis membaca, ada yang memasukan ke dalam tas, tapi kebanyakan malah membuang ke tong sampah. Lalu saya pungut kembali dari tong sampah, dan saya masukan kembali ke dalam tas. Hati saya sempat teriris.

Milad Golagong

Waktu mulai sore, saya bergegas naik bis menuju kampung Ciloang, ke rumah Golagong yang teras belakangnya lebih dikenal dengan nama Pustakaloka Rumah Dunia (PRD). Saya mendapatkan ketua Forum Lingkar Pena Serang (Ibnu) dan tukang jualan buku (Andri) yang baru masuk kuliah di STAIN Serang, sedang tertidur lelap. Saya bangunkan mereka. Lalu saya mulai mencetuskan ide "kemarin Golagong ulang tahun, bagaimana kalau kita membuat isu ke teman-teman yang lain bahwa malam ini di PRD bakal diadakan pesta kambing guling dan makan-makan kue tar?" Mereka menyetujuinya. Lalu saya kirim SMS ke beberapa teman. Berhasil! Sehabis maghrib, Mahdi alias Mr. Poey, Qizink, dan Piter berdatangan. Golagong kelabakan. Akhirnya ia menyediakan ayam mentah untuk dipanggang, sebagai ganti kambing guling dan kue tar yang saya rekomendasikan.

Sambil menunggu malam agak larut, kami berdiskusi tentang Pustakaloka Rumah Dunia ke depan. Membidik target-target yang akan kami lakukan seperti peluncuran buku terbaru Golagong "Kupu-kupu Pelangi" yang akan dikupas oleh Helvy Tiana Rosa dan Ahmadun Yosi Herfanda pada tanggal 7 September 2003 sekaligus peresmian FLP serang, pameran lukisan Indra Kesuma pada tanggal 6-13 September 2003, tentang kelas mendongeng, penerbitan kumcer "Kacamata Sidik" dan masih banyak agenda lain. Sayang, kami belum bisa menuntaskan diskusi tersebut karena kami akan menghadiri pembacaan puisi kemerdekaan di Universitas Negeri Tirtayasa.

begawan
September 05, 2003, 08:25
Baca Puisi

Sekitar jam 8.30 malam, kami tiba di Untirta. Beberapa wajah tak asing lagi di mata saya seperti Prof. Yoyo Mulyana (rektor untirta yang sempat menjadi dosen saya di UPI), Herwan FR (sang penyair lugu), Fais (penikmat seni sejati dari UGM), dan Wan Anwar (ketua jurusan dan redaktur majalah Horison) yang sedang gurung gusuh. Lalu aku tanya "Kang, mau ke mana?"

"Anakku tidur, aku harus pulang dulu. Terus aku harus ke DKJ, katanya ada kegiatan kebudayaan di sana sampai pagi. Heh, kau di mana sekarang?"

"Aku melanjutkan kuliah di UI ngambil prog. Sastra."

"Ya, bagus lah, jangan kayak Herwan FR kakakmu yang konon dosen itu." Terus saya tanya lagi "Sekarang jadi tambah gendut euy!" lalu dia berbisik.

"Aku sekarang lagi suka minum bir." Dia tersenyum "Oke, sampai jumpa ya..." Tak berubah kesombongannya.

Beberapa pembaca puisi mulai membanjiri panggung kecil yang di-MC-i oleh teman SMU, Farid, yang konon telah menjadi penggiat kesenian di kampus ini. Suasananya cukup cair, sehingga beberapa kali tawa para apresiator lepas di malam yang cukup hangat ini. Fais datang menghampiri saya. "Kau main musikalisasi puisi ya." Saya tak enak kalau menolaknya. Lalu saya menyanyikan puisi "Aku Ingin" karya Sapardi Joko Damono dengan gitar penjaman yang agak fals. Beberapa saat kemudian, Mahdi alias Mr. Poey membacakan puisinya. Dia benar-benar gila. Dua orang wanita berpakaian putih dan merah disuruh maju untuk menemaninya membaca puisi. Gayanya campuran antara jiwa Michael Jackson dan Kera Sakti itu membuat para apresiator terpingkal-pingkal. Dia sukses membaca puisi malam itu, walaupun menghabiskan waktu.

Ayam Bakar

Selesai kegiatan malam itu, kami kembali lagi ke PRD. Tyas Tatanka -istri Golagong-menyiapkan keperluan upacara pembakaran ayam. Beberapa orang ada yang sibuk membakar, ada juga yang serius melanjutkan diskusi sampai larut malam dengan Golagong. Kegiatan seperti ini membuat kami terpacu untuk membuat karya-karya, apalagi dengan pemikiran Golagong yang terus mengompori kami, memberikan virus kebudayaan untuk terus menulis. kurang lebih satu jam, akhirnya ayam bakar telah matang. Perut kami yang keroncongan langsung melalap ayam itu dengan serius. Di selembar daun pisang itulah kami "berkarya" dengan ayam bakar. Dinner orang kampung. Sehabis makan, mata kami mulai redup. Tertidurlah kami di atas karpet. Nyamuk-nyamuk dan angin yang centil tak kami gubris. Kami tidur lelap, karena bagi kami tidur adalah jihad yang paling dahsyat!

17-an gaya PRD

Matahari mulai memancarkan sinarnya. Rupanya sudah 58 tahun Indonesia merdeka, lalau saya berteriak merdeka! Di pagi itu kami menyibukan diri dengan berbagai kegiatan. Kami tidak upacara bendera, karena upacara bendera hanya untuk orang-orang yang tak bisa merdeka. Kami merdeka dengan cara kami. Golagong sibuk membersihkan taman kecil, Mahdi Mr. Poey ngored rumput-rumput yang mulai memanjang, saya membaca puisi "Setengah Tiang" karya Toto ST. Radik, Piter membaca dan membereskan buku-buku yang berhimpitan di perpustakaan, Qizink dan Andri membaca kolom kebudayaan di beberapa koran harian lokal dan interlokal, Tyas Tatanka menyiapkan gorengan, Ibnu melanjutkan novelnya yang ia tulis dengan mesin tik. Ya, ia cemburu dengan novel "Area X" karya Eliza V. Handayani yang saya sodorkan kehadapannya. Ia cemburu. "Usianya sama dengan saya, tapi saya belum bisa meluncurkan novel." Tubuhnya bergelora. Trak-trak, tring, sret...suara mesin tik itu mencipta melodi yang asyik untuk di simak.

Persis Jam 9, pelukis Banten asal Lampung Indra Kesuma datang. Lalu kami pergi ke sebuah lapangan tempat kegiatan 17-an digelar. Indra dengan nalurinya langsung memotret keadaan dengan tustelnya. Sekitar pukul 10, penyair Toto ST. Radik, sang pangeran Banten, datang dengan motor biru muda berplat merah. Seorang penyuluh Keluarga Berencana ini ikut meramaikan PRD. Lalu kami terlibat diskusi yang cukup seru dan mengasyikan. Ibu Golagong pun memberi kontribusi dengan menyodorkan buah pepaya yang segar. Lengkap sudah "upacara" 17-an yang kami gelar pagi itu. Merdeka!

Kuliah S-3

Siang hari sekitar pukul 1, kami pergi ke rumah Toto ST. Radik, mengupas tulisan Sapardi Joko Damono mengenai puisi yang ditulis di salah satu harian umum Jakarta. Ada yang bergembira hari itu. Aad dan Endang, berhasil menjadi juara 1 dan juara harapan dalam penulisan artikel yang diselenggarakan oleh sebuah penyelenggara yang concern di bidang penulisan, yang bekerjasama dengan majalah Sabili. Selain itu mereka juga berhasil menjadi pemenang dalam sayembara penulisan cerita rakyat daerah Banten. Rupanya kedua siswa SMUN 1 Serang ini memiliki kemampuan yang bisa diandalkan kelak.

Sanggar Sastra Serang (S3) yang dimotori oleh Toto ST. Radik memiliki agenda yang cukup padat. Selain akan meluncurkan antologi puisi, mereka juga akan meluncurkan esai-esai yang berkait dengan kesusastraan. Gelora menulis yang dibangun di S3 patut diberi acungan jempol. Suatu saat akan lahir penulis handal di tempat ini. Diskusi berlanjut ke daerah sakral yang sering dipikirkan oleh para penulis pemula. "Untuk apa saya jadi penyair?" Kegamangan seperti ini memang hal yang sangat lumrah, karena hanya sedikit saja orang yang mau masuk ke "dunia sunyi" ini. Lalu Toto ST. Radik menjawab dengan cukup bijaksana. "Suatu ketika ada sebuah kejadian kepada seorang fotografer. Ia melihat ada seseorang yang hendak bunuh diri. Ia bimbang apakah ia menolong orang itu atau membidik dengan tustelnya. Akhirnya si fotografer memilih pilihan yang kedua. Ia memotret kejadian itu dengan tustelnya. Dia bilang, ‘dengan saya mengabadikan hal ini, saya melihat masa depan, menjadi bahan perenungan, agar kelak tidak lagi ada kejadian seperti ini.’ Dia setia terhadap pekerjaannya, karena pekerjaannya bukan mencari sebuah solusi, tetapi memberikan kontemplasi. Begitu juga dengan seorang penyair. Ia menyerukan kebenaran, karena penyair mengemban tugas sang nabi."

begawan
September 05, 2003, 08:27
Kelas Skenario

Selesai "kuliah S3", kami kembali ke PRD untuk menonton bersama film "Raja Maling" disiarkan RCTI dan skenarionya dibuat oleh Golagong. Kami menonton dengan khidmat, walaupun TV-nya agak bersemut. Ketika kami serius menonton, kue combro dan misro datang, lalu berhamburanlah kami dan menikmati kue itu.

Selesai kegiatan tersebut, kami lanjutkan dengan kelas skenario. Rupanya kelas ini banyak diminati, terbukti hampir 20 orang datang ke tempat itu. Golagong sebagai gurunya mentransfer ilum yang dia punyai. Istilah-istilah pembuatan skenario seperti scene, cut to, dissolve, estab shot dan lain-lain diperkenalkan kepada kami. Satu hal yang dijadikan pegangan atau mungkin kredo adalah "setiap film yang akan dibuat dimulai dengan kata-kata." "Ketika kita membuat skenario maka kita sedang menyiapkan sebuah film". Selanjutnya ia melanjutkan bahwa membuat skenario harus dikenalkan dulu dengan dunia jurnalistik dan prosa fiksi, karena tidak akan jauh dari ruang lingkup tersebut. Seperti biasa, setelah pemaparan, dilanjutkan dengan diskusi. Kegiatan santai tapi serius itu menambah wawasan yang cukup berarti buat kami. Selesai diskusi, ada pemberian yang tak saya duga sebelumnya. Mereka memberi kue tar kepada Golagong. Saya tersenyum, ternyata kue tar datang juga. Seorang akhwat yang belum saya kenal menjadi pengusung ide. Selamat Ulang tahun, Kang!

Serbu KSI Tangerang!

Magrib tiba. Kami shalat lalu bersiap untuk meluncur ke Komunitas Kebun Nanas yang digagas oleh personil KSI (Wowok Hesti Prabowo dan Eka Budianta). Kegiatan "pesta rakyat" ini memang mengasyikan. Ketika kami datang, makanan-makanan nikmat sudah terhidang. Kontan saja kami sumringah, karena kami lupa makan sore tadi. Rupanya komunitas ini beberapa langkah melejit dibandingkan dengan PRD. Selain penontonnya yang tumpah ruah memadati panggung, kegiatan ini disokong juga oleh letak geografis yang tak jauh dari ibu kota Jakarta. Apalagi dengan format yang cukup unik ini. Ya, mereka bisa memobilisir massa dengan baik. Selain pembacaan puisi yang dibaca oleh para penyair, anak-anak juga ikut meramaikan suasana panggung dengan menampilkan tarian-tarian yang cukup menawan.

Kegiatan ini dimulai dengan musikalisasi puisi dari "Davis Sanggar Matahari" yang cukup kesohor dalam memusikkan puisi. Apalagi dengan dua penyanyi wanita yang suaranya tak kalah jika dibandingkan dengan suara Britney Spears. Selanjutnya Toto ST. Radik dengan gaya panggungnya yang humoris membuat orang-orang terbahak. Ia membacakan puisi "setengah tiang". Eka Budianta juga ikut ke panggung, melakukan orasi budaya. Mr. Poey tak mau kalah. Ia berakting kembali, membacakan puisi-puisi eksperimentalnya. Malam kian larut, kami pulang dengan gelora baru.


Entah apa yang ada dalam benak Golagong kala itu, tiba-tiba ia ingin minum es kelapa. Dalam hati saya bergumam di mana ada yang jualan air kelapa malam-malam begini? Lalu Golagong memarkirkan mobilnya ke Taman Sari, sebuah taman yang dekat dengan jantung kota Serang. Kami minum teh botol dan ngobrol ngalor ngidul hingga larut, membincangkan tentang apa saja. Cuaca di Taman Sari begitu lengang, hingga kami bisa merasakan ada nafas curiga yang terbentuk di sana.

Ketika suasana lelang menyeruak ke dalam batin kami, kamipun pulang ke PRD. Tidur di hamparan karpet dan membentuk mimpi kami yang belum terwujud. Indonesia sudah 48 tahun, dan kami ingin mengisi kemerdekaan ini dengan cara kami, cara manusia-manusia absurd. Merdeka!

Tanah Air, 2003


*) Kurator Pustakaloka Rumah Dunia dan mahasiswa Pascasarjana Fakultas Ilmu Budaya, UI.

begawan
September 05, 2003, 08:29
Salam, rekan-rekan.
Mulai bulan ini, Rumah Dunia mendapat karunia seorang pemuda bernama FIRMAN VENAYAKSA (bio data terlampir di bawah). Dia siap (berdarah-darah) menjadi volunteer di PUSTAKALOKA RUMAH DUNIA sebagai kurator. Tentu dengan segala keterbatasannya, saya mohon bantuan rekan-rekan membimbing Firman. Intinya, kami di Rumah Dunia menang sedang belajar.

Kepada para moderator di semua milis,
kami memohon Firman Venyaksa untuk diikutkan sebagai anggota beberapa milis ini dengan formart daily digest.

Kedepannya, selain JURNAL RUMAH DUNIA yang kami tulis, tentu akan muncul pula postingan tentang RUMAH DUNIA dari perspektif seorang Firman.

Terima kasih telah mengikutsertakan Firman.
Semoga kita terus semangat berkarya.

Salam sejahtera,
gola gong

EMAIL FIRMAN: venayaksa80@yahoo.com
format surat: daily digest

==========================

BIO DATA FIRMAN VENAYAKSA:

Penulis lahir di Cianjur, pada tanggal 2 September. Bapaknya Kopral, Ibunya guru SD. Ia dibesarkan di Banten. Semasa kuliah, Ia bergabung di Arena Studi dan Apresiasi Sastra (ASAS). Setelah kuliah selama 4 tahun, akhirnya ia mendapatkan gelar yang tak pernah diidamkannya (S.Pd) dari Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Tulisannya berupa artikel, cerpen, dan puisi tersebar di beberapa media seperti Galamedia, Pikiran Rakyat, Annida, Sabili, dan lain-lain. Namun Ia lebih menyukai media cyber (www.cybersastra.net) untuk mempublikasikan karya-karyanya, terbukti dengan lebih dari 100 tulisannya terpampang di media tersebut. Puisinya pernah dibukukan dalam antologi bersama “Ini Sirkus Senyum...” (Bumi manusia: Yogyakarta, 2002), sedangkan cerpen pendeknya dibukukan dalam “Grafitti Imaji” (Yayasan Multimedia Sastra: Jakarta, 2002). Sekarang sedang menyelesaikan novel perdananya “Sayap-Sayap Ababil”. Selain menulis, ia juga menjadi instruktur “Bengkel Sastra” di SMU Pasundan 8 Bandung, pembina Qasidah Al-Hidayah, Pembina “Buletin Kampus 167” dan sesekali menggarap dramatisasi puisi, teater dan performance art bersama para siswanya. Pada tahun 2002, menjadi juara I pembacaan puisi Piala Rendra tingkat nasional. Selanjutnya Ia bergabung di komunitas musikalisasi puisi Hajar Aswad sebagai pencipta lagu, vokalis sekaligus gitaris. Pernah bermain di beberapa event seperti Debat Mahasiswa di TVRI Jakarta, Sari Ayu Ambasador, Bandung Music Day, Pasar Seni ITB, Pentas bersama Cak Nun dan Kyai Kanjeng di STT Telkom, bersama Sawung Jabo dan lain-lain. Kini melanjutkan studinya di program magister Program Studi Ilmu Susastra. Program Pascasarjana Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia. Sebagai Humas Pustaka;oka Rumah Dunia. Alamat: desa Selaraja, Rt 07/03 kec. Warunggunung jl. raya pandeglang km. 9,5 Lebak 42352 Banten Tlp. 0252-204675 atau 0812 80 52539, e-mail: venayaksa80@yahoo.com

begawan
September 22, 2003, 06:24
Jurnal#38:

Salam dari Rumah Dunia:



WORK SHOP DAN HPBI



Selama seminggu, pameran lukis indra Kesuma (Dunia di antara Hitam Putih) berjalan lancar dan sukses. Para pengunjung lumayan banyak. Dimulai dari para pelajar SMU Nurul Fikri Anyer, SMU Al Azhar Serang, SMU Kopo Serang Timur, anak-anak SD Muhamadiyah, para pelukis dari seniman bunderan, Kelompok Seni Kampus Untirta, pelukis asal Pandeglang, Gebar Sasmita.



PENUTUPAN

Prof. Yoyo Mulyono, wong Kaloran yang rektor Untirta Banten, berkunjung di Sabtu sore yang sejuk. Mengendarai sedan hitam, Pak Yoyo sepat bersantai mendengarkan beberapa sajak yang dibacakan oleh Agus, Ipah, dan Rostiana. Dalam waktu yagn sempit, kami berbincang-bincang soal mimpinya reektor kita tentang gedung kesenian di wilayah kmpus yagn bisa diakses oleh seluruh masyarakat Banten serta dukungannya terhadap komunitas seperti Pustakaloka Rumah Dunia (PRD).

Pada Minggunya (13/9), ada diskusi proses kreatif Indra Kesuma dengan sekitar 20-an orang dari SMU Kopo Serang. Usai itu pameran lukisan ditutup oleh Dadi Rsn, Kasubdin Kebudayaan Disbudpar Banten.



REGENERASI

Paling menarik adalah work shop jurnalistik pada hari Minggu. Para pelajar SMU Kopo sudah bertekad selama sebulan, setiap Minggu jam 10.00 – 12.00, datang ke PRD, menggali apa itu pers abu-abu. “Targetnya bikin majalah dinding yang baik,” tegas Bu iroh, guru Bahasa dan Sastra Indonesia SMU Kopo.

Pada hari pertama itu, Qizink La Aziva mengajarkan mereka tentang teori dasar jurnalistik. Minggu berikutnya Ibnu Adam Aveciana, si kuncen PRD, akan ambil giliran. Merkalah regenerasi itu. Kelak ke depannya, siapa saja boleh datagn untuk belajar tentang jurnalistik, fiksi, dan skenario di PRD. Tak perlu bayar, yagn penting masing-masing kepala datang membawa bekal sendiri; minum, kueh, dan tentu, menyumbangkan sebuah buku ke PRD. Insya Allah, dengan work shop atau crash program ini, virus menulis yang bisa menciptakan generasi baru Banten yang cerdas serta kritis makin meluas dan merambah pelosok Banten.

begawan
September 22, 2003, 06:25
HPBI

Hal lainnya, PRD – Sanggar Sastra Serang (S3), bekerjasama dengan “Harian Banten”, Suhud Sentra Utama, dan HPBI (Himpunan Pembina Bahasa Indonesia) Banten, mengadakan “Goes 2School”. HPBI dalah suatu lembaga yang menghimpun guru-guru Bahasa dan Sastra Indonesia. Dari lembaga ini kelak akn muncul kesadaran berbahasa Indonesia yang baik dan benar di masyarakat Banten. Terutama di bidang tulis menulis.

“Kebetulan program HPBI, sastrawan masuk sekolah di Banten, nyambung dengan PRD,” Bu Iroh, ketua HPBI Banten yang guru Bahasa dan Sastra Indonesia SMU Kopo menjelaskan.

Rencana pertama, pada 4 Oktober PRD-S3, Suhud, Harian Banten, dan HPBI akan menggelar “Bulan Bahasa Se-Serang Timur”. Bertempat di SMU Kopo, Serang. Di sana akan ada lomba baca puisi, teater, mengarang, dan pidato. Kami dari PRD-S3 akan bertindak sebagai juri serta mengisi hibran; seperti pertunjukan teater, pembacaan dn musikalisasi puisi. Diharapkan setelah SMU Kopo, “Goes 2School ini akan terus berlanjut. SMA PGRI 22 Serpong dan SMU Ciruas sudah mengajukan kesediaannya.

Tunggu saja kedatangan kami; membawa kebahagiaan lewat kesenian dan sastra! (gg)









DAFTAR PENYUMBANG:

15. Pabrik Kimia, Cilegon, 30 kursi plastik, 1 rak lastik

16. Fachri Asiza; Jakarta, Rp. 50.000,-

17. Nitta Sellya; 1001Buku Jakarta, 13 novel

18. K. Usman; bukunya “Abudzar Alghifari” (Fifamas)

19. Aku Anak Saleh

20. Basia-Al Azthra, Bandung, sekardus buku, novel anak-anak

21. Chang Chuang, Pasarbuku, Bali, sekadur buku

(tetralogi Pramudia, Dan Damai di Bumi, dll)

22. Pipit Senja, FLPDepok, 5 novel karangannya

23. Abdurahman Faiz, 7 tahun, Rp.100.000,-

(uang sendiri, nyisihin dari hadiah menulis “Surat Buat Presiden)

24. Kaifa Mizan, 4 buku for teens

25. Ahmadun Y. Herfanda, 4 antologi cerpennya;

Sebelum Tertawa Dilarang (Pustaka Jaya)

26. Bambang Joko Susilo, 2 novel, 1 buku

27. Soni Set-Sita Sidharta, LKN Jakarta, “Menjadi Penulis Skenario Profesional”

28. Fourclours, “Mayar dari Jogja”

29. Siapa menyusul



Salam cinta buku

Pustakaloka RUMAH DUNIA

Komplek Hegar Alam 40, Ciloang

Serang 42118 - Banten

Tlp: 0254 - 202861, e-mail: gola_gong@hotmail.com

Rekening: A/n Asih Purwaningtyas Chasanah

BCA Serang, No. 245 - 188 - 5733

begawan
September 22, 2003, 06:30
Jurnal 37:

Salam dari Rumah Dunia

PERS, LAUCHING, GOES 2 SCHOOL



“September Heboh” pada 6 – 7 September berjalan lancar dan sukses. Bertempat di panggung terbuka, dengan suara burung dan AC alam, pertemuan “Harian Banten” dan “Fajar Banten” terjadi. M. Widodo (Pemred Haban) dengan santai, penuh senyum, berhasil memberikan gambaran, bahwa iklim pers di Banten sedang tumbuh.



HUJAN

Pada 6 Septemeber, klab diskusi bulanan Rumah Dunia dengan “Gonjlengan Wacana’, menggelar topik “Pers, Seni, Budaya, dan Iklan”. Sebagai prmbicara M. Widodo datang lebih awal. Dia terkesan dengan situasi dan kondisi sederhana Pustakaloka Rumah Dunia (PRD) , yang selama ini selalu dipublikasikan dengan istimewa di koran yang dipimpinnya. Sebagai orang nomor satu di Haban, dia menginginkan korannya bisa menampung aspirasi semua kalangan; baik itu orang kaya-miskin, pejabat, tukang becak. “Pokoknya, siapa saja bisa!” tegasnya penuh senyum. Sayangnya, orang nomor satu di “Fajar Banten” tak hadir. Diwakili oleh Indra Kusumah (redaktur budaya). Sebelum diskusi dibuka, Pak Wid (begitu sapaan akrabnya) meresmikan pameran lukisan Indra Kesuma (tutor “Wisata Gambar” PRD) secara simbolik, yaitu membuka pintu gerbang. Sekitar 30-an lukisan dipajang di pendopo.

Diskusi yang berlangsung di halaman pangung terbuka dihadiri sekitar 50 peserta. Itu bisa diukur dari konsumsi mie bakso yang dipesan. Berlangsung akrab dan hangat. Terutama kehadiran anak-anak SMU Nurul Fikri Cinangka, Anyer. Dengan 2 buah mobil, mereka menyerbu diskusi dan mie bakso. Rata-rata pembicara menyadari, bahwa iklan sangatlah penting. Sayang, di tengah acara hujan turun. Diskusi pun ngungsi ke pendopo. Tapi itu tidak merubah suasana, diskusi yang dipandu Mukhlas tetap saja hangat.



LAUNCHING

Hari Minggu pagi (7/9), launching novel dwilogi Gola Gong terbitan DAR!Mizan; Kupu-kupu Pelangi (KPP) Kedua pembicara; Ahmadun Y. Herfanda (redaktur Republika) dan Helvy Tiana Rossa (Ketua Forum Lingkar Pena) merasa terkesan dengan gaya diskusi di alam terbuka. Di antara rerimbunan pohon Arem dan siulan burung. Sekitar 70-an peserta diskusi dari Serang, Cilegon, Bogor, Tangerang, Jakarta, dan Bandung, duduk melingkari panggung terbuka. Ada Cunong Suraja dari cyber sastra, Pipit Senja, Komunitas Sastra Indonesia, Forum Kesenian Banten, dan rekan-rekan Forum Lingkar Pena Pusat Acara dimulai dengan pembacaan puisi oleh anak-anak Rumah Dunia, musikalisasi puisi Firman Venayaksa, dan pementasan teater berjudul “Bawang Merang dan Bawang Putih”.

Dalam makalahnya Ahmadun menulis, bahwa novel “Kupu-kupu Pelangi” bisa saja tidak islami jika ditulis oleh tangan novelis masokis maupun snobis – yang sekarang menjamur dan umumnya kaum perempuan. Novel KKP barangkali bisa menjadi novel yang penuh adegan seks dan pornografi. KKP memang menyediakan peluang untuk ini. Sebut saja, misalnya, percintaan antara Cindy dan Leo, operasi caesar Cindy, atau petualangan cinta Anton dan Bram. Tetapi, di tangan Gola Gong, cerita di atas didekati dengan semangat yang cukup Islami. Agaknya Gola Gong tidak tertarik untuk mengeksploitasi hal-hal di seputar seksualitas dan erotika itu. Gola justru menempatkannya sebagai tragedi moral dan kemanusiaan.

begawan
September 22, 2003, 06:32
SEKOLAH

Sekitar jam 14.00pm rangkaian “September Heboh” usai. Spanduk, kain penyekat, dan bangku-bangku sudah dibereskan. Pada saat itulah sekitar 15 orang pelajar dari SMU Kopo, Kecamatan Jawilan, Serang, datang penuh dengan antusiasme. Mereka mengira acaranya jam 15.00pm. Kami menampungnya di pendopo dan terjadilah disuksi tambahan. Mereka sangat berminat sekali belajar jurnalistik dan fiksi. Lalu diaturlah jadwal crash program selama sebulan setiap Minggu, jam 10.00am. Dipandu Qizing, Toto ST Radik, dan Venayaksa, mereka berdiskusi sekputar majalah dinding, diselingi dengan pembacaan puisi. Bahkan Bu Iroh, guru bahasa Indonesia SMU Kopo, ikut menyumbang puisi.

Terinspirasi dari peristiwa “kebetulan” itu, PRD pun menggagas produk terbaru, yaitu “goes 2school” setiap Sabtu, sebulan sekali. Kami akan datang ke sekolah-sekolah untuk mengadakan workshop jurnalistik, penulisan fiksi, majalah dinding, teater, pembacaan dan musikalisasi. Rencananya 4 Oktober, bekerjasama dengan Sanggar Sastra Serang asuhan Toto ST Radik, PRD akan berkunjung ke SMU Kopo. Setelah itu, siapa yang berminat, silahkan hubungi kami di 0254 – 202861. (gg)



DAFTAR PENYUMBANG:

15. Pabrik Kimia, Cilegon, 30 kursi plastik, 1 rak lastik

16. Fachri Asiza; Jakarta, Rp. 50.000,-

17. Nitta Sellya; 1001Buku Jakarta, 13 novel

18. K. Usman; bukunya “Abudzar Alghifari” (Fifamas)

19. Aku Anak Saleh

20. Basia-Al Azthra, Bandung, sekardus buku, novel anak-anak

21. Chang Chuang, Pasarbuku, Bali, sekadur buku

(tetralogi Pramudia, Dan Damai di Bumi, dll)

22. Pipit Senja, FLPDepok, 5 novel karangannya

23. Abdurahman Faiz, 7 tahun, Rp.100.000,-

(uang sendiri, nyisihin dari hadiah menulis “Surat Buat Presiden)

24. Kaifa Mizan, 4 buku for teens

25. Ahmadun Y. Herfanda, 4 antologi cerpennya;

Sebelum Tertawa Dilarang (Pustaka Jaya)

26. Siapa menyusul?



Salam cinta buku

Pustakaloka RUMAH DUNIA

Komplek Hegar Alam 40, Ciloang

Serang 42118 - Banten

Tlp: 0254 - 202861, e-mail: gola_gong@hotmail.com

Rekening: A/n Asih Purwaningtyas Chasanah

BCA Serang, No. 245 - 188 - 5733

begawan
October 08, 2003, 05:40
Jurnal 37:

Salam dari Rumah Dunia

PERS, LAUCHING, GOES 2 SCHOOL



“September Heboh” pada 6 – 7 September berjalan lancar dan sukses. Bertempat di panggung terbuka, dengan suara burung dan AC alam, pertemuan “Harian Banten” dan “Fajar Banten” terjadi. M. Widodo (Pemred Haban) dengan santai, penuh senyum, berhasil memberikan gambaran, bahwa iklim pers di Banten sedang tumbuh.



HUJAN

Pada 6 Septemeber, klab diskusi bulanan Rumah Dunia dengan “Gonjlengan Wacana’, menggelar topik “Pers, Seni, Budaya, dan Iklan”. Sebagai prmbicara M. Widodo datang lebih awal. Dia terkesan dengan situasi dan kondisi sederhana Pustakaloka Rumah Dunia (PRD) , yang selama ini selalu dipublikasikan dengan istimewa di koran yang dipimpinnya. Sebagai orang nomor satu di Haban, dia menginginkan korannya bisa menampung aspirasi semua kalangan; baik itu orang kaya-miskin, pejabat, tukang becak. “Pokoknya, siapa saja bisa!” tegasnya penuh senyum. Sayangnya, orang nomor satu di “Fajar Banten” tak hadir. Diwakili oleh Indra Kusumah (redaktur budaya). Sebelum diskusi dibuka, Pak Wid (begitu sapaan akrabnya) meresmikan pameran lukisan Indra Kesuma (tutor “Wisata Gambar” PRD) secara simbolik, yaitu membuka pintu gerbang. Sekitar 30-an lukisan dipajang di pendopo.

Diskusi yang berlangsung di halaman pangung terbuka dihadiri sekitar 50 peserta. Itu bisa diukur dari konsumsi mie bakso yang dipesan. Berlangsung akrab dan hangat. Terutama kehadiran anak-anak SMU Nurul Fikri Cinangka, Anyer. Dengan 2 buah mobil, mereka menyerbu diskusi dan mie bakso. Rata-rata pembicara menyadari, bahwa iklan sangatlah penting. Sayang, di tengah acara hujan turun. Diskusi pun ngungsi ke pendopo. Tapi itu tidak merubah suasana, diskusi yang dipandu Mukhlas tetap saja hangat.

begawan
October 08, 2003, 05:42
LAUNCHING

Hari Minggu pagi (7/9), launching novel dwilogi Gola Gong terbitan DAR!Mizan; Kupu-kupu Pelangi (KPP) Kedua pembicara; Ahmadun Y. Herfanda (redaktur Republika) dan Helvy Tiana Rossa (Ketua Forum Lingkar Pena) merasa terkesan dengan gaya diskusi di alam terbuka. Di antara rerimbunan pohon Arem dan siulan burung. Sekitar 70-an peserta diskusi dari Serang, Cilegon, Bogor, Tangerang, Jakarta, dan Bandung, duduk melingkari panggung terbuka. Ada Cunong Suraja dari cyber sastra, Pipit Senja, Komunitas Sastra Indonesia, Forum Kesenian Banten, dan rekan-rekan Forum Lingkar Pena Pusat Acara dimulai dengan pembacaan puisi oleh anak-anak Rumah Dunia, musikalisasi puisi Firman Venayaksa, dan pementasan teater berjudul “Bawang Merang dan Bawang Putih”.

Dalam makalahnya Ahmadun menulis, bahwa novel “Kupu-kupu Pelangi” bisa saja tidak islami jika ditulis oleh tangan novelis masokis maupun snobis – yang sekarang menjamur dan umumnya kaum perempuan. Novel KKP barangkali bisa menjadi novel yang penuh adegan seks dan pornografi. KKP memang menyediakan peluang untuk ini. Sebut saja, misalnya, percintaan antara Cindy dan Leo, operasi caesar Cindy, atau petualangan cinta Anton dan Bram. Tetapi, di tangan Gola Gong, cerita di atas didekati dengan semangat yang cukup Islami. Agaknya Gola Gong tidak tertarik untuk mengeksploitasi hal-hal di seputar seksualitas dan erotika itu. Gola justru menempatkannya sebagai tragedi moral dan kemanusiaan.



SEKOLAH

Sekitar jam 14.00pm rangkaian “September Heboh” usai. Spanduk, kain penyekat, dan bangku-bangku sudah dibereskan. Pada saat itulah sekitar 15 orang pelajar dari SMU Kopo, Kecamatan Jawilan, Serang, datang penuh dengan antusiasme. Mereka mengira acaranya jam 15.00pm. Kami menampungnya di pendopo dan terjadilah disuksi tambahan. Mereka sangat berminat sekali belajar jurnalistik dan fiksi. Lalu diaturlah jadwal crash program selama sebulan setiap Minggu, jam 10.00am. Dipandu Qizing, Toto ST Radik, dan Venayaksa, mereka berdiskusi sekputar majalah dinding, diselingi dengan pembacaan puisi. Bahkan Bu Iroh, guru bahasa Indonesia SMU Kopo, ikut menyumbang puisi.

Terinspirasi dari peristiwa “kebetulan” itu, PRD pun menggagas produk terbaru, yaitu “goes 2school” setiap Sabtu, sebulan sekali. Kami akan datang ke sekolah-sekolah untuk mengadakan workshop jurnalistik, penulisan fiksi, majalah dinding, teater, pembacaan dan musikalisasi. Rencananya 4 Oktober, bekerjasama dengan Sanggar Sastra Serang asuhan Toto ST Radik, PRD akan berkunjung ke SMU Kopo. Setelah itu, siapa yang berminat, silahkan hubungi kami di 0254 – 202861. (gg)



DAFTAR PENYUMBANG:

15. Pabrik Kimia, Cilegon, 30 kursi plastik, 1 rak lastik

16. Fachri Asiza; Jakarta, Rp. 50.000,-

17. Nitta Sellya; 1001Buku Jakarta, 13 novel

18. K. Usman; bukunya “Abudzar Alghifari” (Fifamas)

19. Aku Anak Saleh

20. Basia-Al Azthra, Bandung, sekardus buku, novel anak-anak

21. Chang Chuang, Pasarbuku, Bali, sekadur buku

(tetralogi Pramudia, Dan Damai di Bumi, dll)

22. Pipit Senja, FLPDepok, 5 novel karangannya

23. Abdurahman Faiz, 7 tahun, Rp.100.000,-

(uang sendiri, nyisihin dari hadiah menulis “Surat Buat Presiden)

24. Kaifa Mizan, 4 buku for teens

25. Ahmadun Y. Herfanda, 4 antologi cerpennya;

Sebelum Tertawa Dilarang (Pustaka Jaya)

26. Siapa menyusul?



Salam cinta buku

Pustakaloka RUMAH DUNIA

Komplek Hegar Alam 40, Ciloang

Serang 42118 - Banten

Tlp: 0254 - 202861, e-mail: gola_gong@hotmail.com

Rekening: A/n Asih Purwaningtyas Chasanah

BCA Serang, No. 245 - 188 - 5733

begawan
October 08, 2003, 05:46
Jurnal #39:

Salam dari Rumah Dunia

NIA YANG TAK SEKOLAH


Sabtu malam (21/9), tim teater anak-anak Pustakaloka Rumah Dunia (PRD) asuhan Ade (teater 66 Serang) mementaskan lakon "Hadiah Buat Bawang Merah" di Komunitas Kebon Nanas, Tangerang. Saat itu juga merupakan peluncuran novel anak-anak terbitan Grasindo-Jakarta, berjudul "Di Puncak Bukit Gagak" karya Bambang Joko Susilo. Ternyata Agus, Rosliana, Wahyudi, Mela, Dina, Novi, dan Ain makin hari makin berani saja beraksi di panggung. mengekspresikan dirinya. Mereka sudah makin besar, tumbuh bersama prosa dan puisi.



TAMU
Pada Seninnya (22/9), ada peristiwa menarik di PRD. Yaitu kami kedatangan empat orang tamu kecil, pengunjung baru. Seperti lazimnya pendatang baru, kami minta mereka memperkenalkan diri, mulai dari nama, umur, sekolah, hobi serta nama ayah dan pekerjaannya. Salah satu dari empat orang itu membawa cerita sendiri, karena ia telah berlayar hingga ke Irian Jaya.Nia, nama gadis kecil itu, berusaha runtun bercerita mengikuti orang tuanya merantau. Sejak Taman Kanak-kanak ia pindah ke tanah Papua, tanah harapan keluarganya sebagai transmigran. Sebidang tanah di Karawang dijual untuk membiayai hidup di rantau.


PETA
Ketika kami tanyakan kepada anak-anak PRD yang lain, di mana letak Irian, mereka agak bingung. Untunglah ada peta Nusantara sumbangan Bu Wati Wasito, yang kami pasang di depan mushola. Ke sanalah kami bawa anak-anak itu. Di depan peta Wawasan Nusantara, kami tunjukkan letak kota Serang, Cilegon, Jakarta dan Kerawang, tempat Nia teman baru mereka berasal. Lalu kami ajak mereka "berlayar" menyusuri Laut Jawa, menuju arah timur, melewati berbagai pulau, hingga sampai di Merauke, di mana Nia pertama kali menjejakkan kaki di bumi Irian. Di sana pula adik Nia, Agus (kini 4 tahun) lahir. Kami melihat decak kagum anak-anak itu, melihat betapa jauh perjalanan Nia. Sayang, dia belum mampu menjelaskan berapa lama waktu tempuh yang dihabiskannya dalam perjalanan itu. Saat itu ia masih terlalu kecil, belum lima tahun. Mengikuti cerita Nia pula, kami menunjukkan kota-kota kecil di Irian yang pernah disambangi Nia, termasuk Ambon. Menurut Nia, ayahnya tidak berhasil dengan lahan transmigrasinya, sehingga mereka mencari penghidupan baru. Tidak lama ia dan keluarganya mukim di Ambon, karena timbul kerusuhan. Bersama penduduk desa, mereka mengungsi kembali ke Fak-fak, Irian Jaya. Dari Fak-fak, menggunakan kapal perang mereka diangkut ke Jawa, turun di Tanjung Priok.

begawan
October 08, 2003, 05:52
DRAMA
Selesai melihat peta, kami masih mendengarkan pengalaman Nia. Setelah mendarat di Jawa, keluarganya sempat tinggal di Lampung, karena ayahnya mendapat pekerjaan di kebun kopi. Tetapi karena perusahaan kopi itu bangkrut, mereka lalu pindah ke Serang, bertemu dengan seorang aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang menampung mereka di rumahnya, hingga ayah Nia mendapat pekerjaan sebagai pesuruh di sebuah komplek perumahan kecil. Tampaknya Nia mengerti kesulitan keuangan yang dihadapi orang tuanya, hingga ia belum dapat melanjutkan sekolah kembali. Nia dan keluarganya baru tiga hari lalu pindah ke Ciloang, mengontrak sepetak kamar di rumah Bu Nasiah. Kami mengenal Bu Nasiah dengan baik, karena ia adalah pedagang pisang goreng dan tahu isi, yang setiap hari Minggu memasok makanan bagi peserta Kelas Menulis Rumah Dunia (KMRD). Bu Nasiah pula yang menunjukkan PRD pada Nia, untuk mengisi waktunya selama ia belum bersekolah kembali. Kami mengenalkan pula anak-anak PRD yang hadir saat itu, kepada Nia dan teman-temannya. Masih terngiang di telinga kami, saat mendengar perkenalan Nia. "Saya lahirdi Kerawang, tahun 1993. Saya kelas lima, tapi belum mendaftar sekolah di sini, karena ayah belum punya uang. Ayah saya bekerja sebagai tukang bersih-bersih di komplek. Baru tiga hari saya tinggal di kontrakan Ciloang, bersama ayah, ibu dan adik lelaki saya yang berumur empat tahun. Sebelumnya saya tinggal di Irian. Hobi saya main drama." (tt/gg)



DAFTAR PENYUMBANG:

15. Pabrik Kimia, Cilegon, 30 kursi plastik, 1 rak lastik

16. Fachri Asiza; Jakarta, Rp. 50.000,-

17. Nitta Sellya; 1001Buku Jakarta, 13 novel

18. K. Usman; bukunya “Abudzar Alghifari” (Fifamas)

19. Aku Anak Saleh

20. Basia-Al Azthra, Bandung, sekardus buku, novel anak-anak

21. Chang Chuang, Pasarbuku, Bali, sekadur buku

(tetralogi Pramudia, Dan Damai di Bumi, dll)

22. Pipit Senja, FLPDepok, 5 novel karangannya

23. Abdurahman Faiz, 7 tahun, Rp.100.000,-

(uang sendiri, nyisihin dari hadiah menulis “Surat Buat Presiden)

24. Kaifa Mizan, 4 buku for teens

25. Ahmadun Y. Herfanda, 4 antologi cerpennya;

Sebelum Tertawa Dilarang (Pustaka Jaya)

26. Bambang Joko Susilo, 2 novel, 1 buku

27. Soni Set-Sita Sidharta, LKN Jakarta, “Menjadi Penulis Skenario Profesional”

28. Fourclours, “Mayar dari Jogja”

29. Grasindo Jakarta, 8 novel

30. Hamba Allah, Rp. 300.000,-

31. Siapa menyusul



Salam cinta buku

Pustakaloka RUMAH DUNIA

Komplek Hegar Alam 40, Ciloang

Serang 42118 - Banten

Tlp: 0254 - 202861, e-mail: gola_gong@hotmail.com

Rekening: A/n Asih Purwaningtyas Chasanah

BCA Serang, No. 245 - 188 - 5733

begawan
October 08, 2003, 05:54
Jurnal#40 - Salam dari Rumah Dunia

SEMBUNYI SAMPAI MATI, NIA SUDAH SEKOLAH,

PROGRAM BEASISWA SERI RUMAH DUNIA, DAN GOES 2 SCHOOL



Setelah launching antologi puisi “Jus Tomat Rasa Pedas”, Juni lalu, Pustakaloka Rumah Dunia (PRD), Sanggar Sastra Serang (S3), Penerbit Suhud SUHUDsentrautama, Himpunan Pembina Bahasa Indonesia Banten (HPBI), dan Harian Banten berkolaborasi menggeliatkan sastra di kalangan pelajar dan mahasiswa di Banten. Itulah yang terjadi Sabtu (27/9) lalu, di pendopo PRD yang disulap bagai panggung berlatar kain hitam terbentang, lantainya bertabur bunga, plus kurungan ayam tergantung di langit-langit.



KUALITAS

Entah ide itu diperoleh dari mana, yang jelas Qizink Laaziva, Ibnu Adam, Budi Wahyu, Piter Tamba, Firman Venayaksa, Mahdi Duri, Akmal dan Deden sibuk mempersiapkan perhelatan itu. Jumat malamnya mereka pun telah sukses dengan gonjlengan dua ekor ayam! Semangat pun berkobar, karena ini adalah perhelatan pertama mereka, yang menghimpun diri dalam sebuah antologi puisi, Sembunyi Sampai Mati (SSM) Judul itu merupakan sebuah puisi karya Akmal yang tergabung dalam antologi tersebut. Dalam kata pengantarnya, Toto ST Radik menulis, bahwa puisi yang terkumpul di SSM ini sangat beragam. Tentu saja dengan pencapaian puitiknya masing-masing. Itu sangat menggembirakan, karena sebuah komunitas bukanlah untuk menciptakan keseragaman, apalagi ketunggalan.

Bambang Q Anees, filsuf asal Pontang, Serang, yang kini dosen di IAIN SGD Bandung, membedah antologi SSM itu. Menurutnya, SSM berisi kritikan ke penguasa setempat, walaupun itu kurang garang dan greget, tapi kualitasnya masih lebih baik dari antologi yang sering diterbitkan Sanggar Sastra Tasik. Kalau versi Bu Iroh, guru Bahasa dan Sastra Indonesia SMU Kopo, Serang dan Ketua HPBI (Himpunan Pembina Bahasa Indonesia Banten), mestinya para penyair yang terhimpun di antologi SSM bisa berbuat lebih dari sekedar menulis puisi, yaitu terjadinya perubahan sosial di Banten. Misalnya, sistem dari penguasa yang cenderung korup, berhasil dirubah oleh para penyair.



BEASISWA DONATUR

Kabar selanjutnya tentang Nia, yang edisi sebelumnya diceritakan tidak dapat meneruskan sekolah karena ketiadaan biaya, insya Allah, mulai hari Selasa (30/9) sudah dapat mewujudkan mimpinya, bersekolah bersama teman-teman barunya di Ciloang. Beberapa donatur; Winny Rosalina dan Yulianti Noor dari RCTI, seorang hamba Allah, serta Bu Wati Wasito serta rekan-rekannnya di Sumitomo Corp. Jakarta, berkenan menyumbang untuk biaya pendaftaran masuk dan membeli perlengkapan sekolah; seperti sepatu, tas, buku tulis, buku paket, baju seragam pramuka, serta biaya SPP.

Atas kebijaksanaan Kepala Sekolah dan guru-guru di SD Negeri Sumber Agung, Serang, Nia dapat diterima bersekolah kembali. Karena Nia tidak mempunyai rapor atau surat keterangan sekolah apapun, mengingat ia seringkali berpindah tiga tahun terakhir, ia harus menjalani tes tertulis untuk menentukan penempatan kelas dan lulus. Senin (29/9) lalu Nia diputuskan untuk masuk kelas lima. Lega hati kami mendengar kabar baik itu. Mudah-mudahan langkah ini tidak terhenti sampai di sini. Saat ulangan matematika dan PPKN, nilainya sepuluh. Teman-temannya pada heran, “Kok, kamu nggak pernah sekolah, tapi nilainya bisa sepuluh?”

Di PRD, selain kegiatan reguler dari Senin hingga Minggu (baca, tulis, gambar, dongeng, puisi, teater, tari, jurnalistik, fiksi, skenario TV, dan diskusi seni dan budaya), juga ada program beasiswa untuk anak-anak yang ingin terus sekolah, yang akan efektif berlaku tahun depan Rencananya dari honorarium/royalti setiap buku, selain disubsidikan bagi pengembangan PRD (pembangunan sarana gedung serta infrastruktur lainnya) juga pemberian beasiswa bagi anak yang sekolah di tingkat SD sampai SLTA. Bahkan kalau memang anak itu berprestasi, misalnya di kelas “wisata gambar”, kami tak akan segan-segan menyekolahkan anak itu sampai ke perguruan tinggi.

Kami sendiri sekarang sedang menggarap novel SERI RUMAH DUNIA. Kami akan menyisihkan Rp.1.000.000,- dari setiap royalti perbuku yang didapat. Rencananya pas puasa nanti novel SERI RUMAH DUNIA (SRD) ini akan diterbitkan oleh PT. SENAYAN ABADI. Semoga nanti bisa menjadi jalan keluar yang efektif, jika ada anak anggota PRD, yagn butuh biaya untuk masuk eskolah tingkat dasar (SD).

begawan
October 08, 2003, 05:54
MIMPI SAUNI

Cerita SRD ini episodik atau habis hanya di satu buku. Cerita di setiap bukunya terinspirasi dari kisah kehidupan anak-anak yang datang ke PRD. Istilahnya “dari peristiwa ke fiksi”. Beberapa judul sudah

kami rencanakan dan dalam proses pembuatan. Mungkin akan ada sekitar 10 judul.

Novel SRD ini menceritakan tentang keluarga pencinta buku; Pak Surya Gemilang dan Bu Chandra Kirana, serta kedua anak mereka; Lintang Dinihari (5 tahun) dan Bayu Segara (4 tahun), yang menyebarkan tentang pentingnya memiliki rasa kasih sayang tehadap sesama lewat buku. Di halaman belakang rumah mereka ada kebun seluas 500m2, dimana di tengah-tengahnya dibangun perpustakaan terbuka yan diberi nama “Pustakaloka RUMAH DUNIA (PRD)”. Mereka sangat prhatin dengan kondisi di sekitarnya, yang tetinggal dalam soal pendidikan. Lalu mereka mempersilahkan anak-anak serta remaja di lingkungan rumahnya untuk datang membaca. Bahkan mereka menyediakan kegiatan reguler yang bersifat rekreatif-edukatif. Di sela-sela pekerjaan keseharian dan interaksi dengan masyarakat itulah, mereka menemukan banyak hal; cerita seorang anak yang bersemangat ingin sekolah tapi tak punya uang, yang bermimpi ingin jadi wartawan, yang bapaknya di-PHK, yang bapaknya kawin lagi, yang mencari tambahan uang untuk biaya sekolah dengan menjadi pemulung, dan sebagainya. Dengan segala keterbatasan, Pak Surya dan Bu Chandra mencoba menolong mereka.

Buku pertama SRD berjudul MIMPI SAUNI Di episode ini menceritakan tentang seorang anak bernama Sauni, yang rajin datang ke PRD. Dia sekolah di kelas 6 SD dan ingin sekali meneruskan ke SLTP. Tapi, orangtuanya tak punya uang. Ibunya pemijat dan ayahnya tak punya pekerjaan tetap. Sepulang sekolah, sebelum datang ke PRD, dia berjualan kerupuk keliling kampung. Pak Hendra dan Bu nining mencarikan jalan, yaitu dengan cara fund raising di tempatnya bekerja.

Kami juga sudah mendapatkan khabar istimewa dari GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA, tentang royalti dari novel PROJECT PRINCES, yang semuanya akan disalurkan ke PRD. Jika berjalan lancar, tahun depan PRD akan makin bersemangat mengisi hari-harinya!



AGENDA

Di ujung September ini, pada Selasa lalu (30/9) anak-anak PRD yang tergabung di “wisata gambar” asuhan Pak Indra Kesuma (guru kesenian SMU Al Azhar, Pakupatan, Serang), menggambar di halaman gubenuran, alun-alun Serang. Menurut Pak Indra, menggambar di luar PRD selain rekreasi, juga untuk memberi wawasan dan merangsang imajinasi anak-anak saat menuangkan goresanya. Beberapa pegawai pemerintah provinsi yang hendak pulang pada mampir untuk menonton.

Agenda lainnya, Sabtu besok (4/10) PRD, Sanggar Sastra Serang (S3), Himpunan Pembina Bahasa Indonesia (HPBI) Banten, bekerja sama dengan SUHUDsentrautama dan Harian Banten melakukan terobosan baru, yaitu memperkenalkan sastra, teater, puisi, prosa (cerpen dan novel), dan jurnalistik ke sekolah-sekolah di Banten. Acara bulanan yang diberinama “Goes 2 School (G2S)” dimulai di SMUN Kopo Serang, Sabtu ini (4/10). Selanjutnya dua sekolah sudah menyatakan kesediaannya; SMU PGRI 22 Serpong, Tangerang, dan SMUN Ciruas.

Iroh Siti Zahroh, S.Pd, guru Bahasa dan Sastra SMU Kopo, Serang, sekaligus Ketua HPBI Banten, menjelaskan, bahwa G2S ini berbarengan dengan acara bulan bahasa se-Serang Timur, yang ditempatkan di SMU Kopo. Acaranya ada lomba baca puisi, cipta puisi, pidato, dan pertunjukan teater kolosal berjudul “Santet”. Naskahnya dari pembina teater, Roni. “Selain itu, program PRD dan S3 sejalan dengan HPBI, yaitu ‘sastrawan masuk sekolah’.”

Dari PRD dan S3 sendiri akan meramaikan acara itu dengan pembacaan dan musikalisasi puisi dari Toto ST Radik dan Firman Venayaksa, materi jurnalistik, khususnya cara pembuatan majalah dinding diusung oleh Qizink Laa Aziva dan Ibnu Adam Aveciana, teater oleh Piter Tamba dan Budi Wahyu, sedangkan penulisan fiksi oleh Gola Gong. Anak-anak SMU Kopo bisa sepuasnya menimba ilmu dari mereka. Bahkan selama September, sekitar 15-an pelajar SMU Kopo mengikuti crash program pembuatan majalah dinding di PRD bersama Qizink dan Ibnu

“Semoga dengan G2S ini, akan tercipta generasi muda di Banten yang cerdas, kritis, dan menghapus stigma kejawaraan,” Ibnu, kuncen PRD yang mahasiswa STAIN SMHB Serang menjelaskan harapannya. “Maka, simpan golokmu, asah penamu!” Qizink menambahi dengan slogan S3-nya! (*)





DAFTAR PENYUMBANG:

15. Pabrik Kimia, Cilegon, 30 kursi plastik, 1 rak lastik

16. Fachri Asiza; Jakarta, Rp. 50.000,-

17. Nitta Sellya; 1001Buku Jakarta, 13 novel

18. K. Usman; bukunya “Abudzar Alghifari” (Fifamas)

19. Aku Anak Saleh

20. Basia-Al Azthra, Bandung, sekardus buku, novel anak-anak

21. Chang Chuang, Pasarbuku, Bali, sekadur buku

(tetralogi Pramudia, Dan Damai di Bumi, dll)

22. Pipit Senja, FLPDepok, 5 novel karangannya

23. Abdurahman Faiz, 7 tahun, Rp.100.000,-

(uang sendiri, nyisihin dari hadiah menulis “Surat Buat Presiden)

24. Kaifa Mizan, 4 buku for teens

25. Ahmadun Y. Herfanda, 4 antologi cerpennya;

Sebelum Tertawa Dilarang (Pustaka Jaya)

26. Bambang Joko Susilo, 2 novel, 1 buku

27. Soni Set-Sita Sidharta, LKN Jakarta, “Menjadi Penulis Skenario Profesional”

28. Fourclours, “Mayar dari Jogja”

29. Grasindo Jakarta, 8 novel

30. Hamba Allah, Rp. 300.000,-

31. Winny Rosalina (RCTI Jakarta), untuk Biaya sekolah Nia

32. Hamba Allah, Rp. 100.000 (untuk biaya Nia sekolah)

33. Yulianti Noor (RCTI), Rp. 100.000,-, untuk biaya Nia sekolah

34. RCTI PEDULI, Rp. 15.000.000 (untuk pembangunan gedung perpustakaan)

35. Siapa menyusul



Salam cinta buku

Pustakaloka RUMAH DUNIA

Komplek Hegar Alam 40, Ciloang

Serang 42118 - Banten

Tlp: 0254 - 202861, e-mail: gola_gong@hotmail.com

Rekening: A/n Asih Purwaningtyas Chasanah

BCA Serang, No. 245 - 188 - 5733

begawan
October 08, 2003, 05:58
Salam dari Rumah Dunia:

AWAS, JAWILAN TERJANGKIT VIRUS!



Hati-hati bagi para birokrat atau politikus yang suka ngebohongin rakyat, jika bepergian ke Jawilan, Serang Timur. Apalagi kalau bertemu dengan para pelajar SMA Jawilan! Mereka sekarang sudah tahu cara yang terbaik untuk mengeluarkan uneg-uneg atau menyampaikan kritik terhadap ketidakadilan yang terjadi di sekelilingnya.



SANTUN

Hal itu mengemuka saat pembukaan “Goes 2 School (G2S)” Pustakaloka Rumah Dunia (PRD) dan Sanggar Sastra Serang (S3) dalam acara “Bulan Bahasa” se-Serang Timur di SMA Jawilan, 4 Oktober lalu. Ketika ditanyakan, dengan cara apa kita melawan para penipu rakyat? Jawaban mereka, dengan karya! Karya apa? Jawab mereka: puisi, cerpen! Kenapa tidak berunjuk rasa turun ke jalan? Mereka menolak, karena itu tidak santun dan cerdas. Aha! Iroh Siti Jahroh, Wakepsek urusan Kesiswaan, yang juga penggagas acara ini, tersenyum puas kepada kami. Sebetulnya berkat dialah virus ini makin cepat menjalar. Andai saja ada guru seperti dia di setiap eskoolah, pekerjaan kita mencerdasakan dan membentuk generasi baru yang cerdas dan kritis akan semakin mudah.

Sekitar seratusan lebih pelajar dari Cikeusal, Ciruas, Prisma, Pamarayan, Al Azhar, Krakatau Steel, Kramat Watu, dan Taktakan berkumpul di laboratorium SMA Jawilan, yang disulap jadi aula. Bahkan Kepsek SMA Jawilan, Dindik Serang, Kasubdin SMA/SMK, Tahyudin, serta guru-guru dari perwakilan setiap sekolah ikut duduk lesehan. Mereka disuguhi musikalisasi puisi dari Firman Venayaksa, kurator PRD. Dengan gitar dan harmonika, Firman menyanyikan sajak Sapardi Djoko Darmono, “Aku Ingin Mencintaimu Dengan Sederhana”. Para penonton memberi applaus. Setelah itu pembacaan puisi “Jus Rasa Tomat” oleh Toto ST Radik, pengelola S3. Semua orang makin terkesima dengan “sihir” lewat sebuah puisi. Di sana ada kekuatan yang lebih dahsat ketimbang teriak-teriak di jalanan memprotes sesuatu. Dengan puisi, protes kita malah bisa berumur panjang dan tak lekang dimakan zaman.



LOMBA

Usai pembukaan oleh Tahyudin, G2S dan “Bulan Bahasa” pun berlangsung seharian. Firman menjadi juri dalam loba cipta puisi, Ibnu Adam dan Qizink La Aziva menggawangi baca puisi, dan Piter Tamba dan Roni di lomba pidato. Sedangkan Toto dan Gola Gong bagi-bagi ilmu teater, jurnalistik dan sastra.

Para pelajar sangat antusias sekali mengikuti acara ini. Virus sudah menjalar dan masuk ke pembuluh darah mereka. Seorang pelajar putri dari SMA 2 Krakatau Steel, bahkan dengan sangat emosional mengungkapkan perasaannya, “Walaupun jalan yang saya tempuh berliku-liku, dari Cilegon ke Jawilan, tapi saya sangat bangga bisa ikut di acara ini, bertemu dengan pelajar dari sekolah lain.” Pelajar yang lainnya mengharapkan, bahwa acara seperti ini harus diperbanyak dan rutin digelar.

Acara yang dimulai sejak jam 09.00am, berakhir pukul 15.30pm. Para juara pun diumumkan. Untuk lomba baca puisi digondol Arwan (SMA Jawilan), kemudian Nisa (SMA Kramatwatu), Nisa Rahayu (SMA Prisma). Di lomba pidato Bahroni (SMA Jawilan) jadi jawara, disusul Sumahdi (SMA Jawilan), dan Ainur Febrianti (SMA Cikeusal). Cipta Puisi disabet Rusmiati (SMA Ciruas), Rohmansyah (SMA Jawilan), dan Rutih (SMA 2 KS). Mereka tampak sangat bangga memeluk piala. Mereka saat itu sudah masuk ke dalam iklim kompetisi yang sehat, berkarya, unjuk gigi, dan mengakui keunggulan temannya dengan cara sportif!

begawan
October 08, 2003, 05:58
JAYUS

Pada saat acara penutupan, para pelajar SMA Jawilan mempertunjukan edisi perkenalan majalah sekolah ukuran buku tulis kepada dua tutor mereka; Ibnu (kuncen PRD) dan Qizink. Majalah mungil 8 halaman itu diberi nama “Si Jayus”. Perjuangan mereka selama sebulan mengikuti crash program jurnalistik di PRD kini ada hasilnya. Tahun depan, mereka akan siap melempar “Si Jayus” edisi perdana.

Saat kami bergegas pulang, tersimpan pertanyaan dalam hati kami, kenapa jalan ke sekolah mereka harus rusak separah itu? Harus ber-goyang dombret, padahal Banten sudah berumur 3 tahun hari itu? Kenapa anak-anak yang kelak akan menggantikan kita memimpin Banten, tidak diberi kenyamanan lewat jalan yang mulus saat hendak menuntut ilmu ke sekolahnya? Kenapa mereka tidak diperlakukan sama dengan anggota dewan, yang selalu meributkan soal fasilitas gedung, mobil dan rumah dinas, bahkan sampai ke masalah uang snack yang jutaan itu?! Apa susahnya memperbaiki jalan yang berlubang itu? Bagaimana sebetulnya strategi pembangunan di Banten dan Serang? Wajar saja kalau masyarakat Seragn Timur ingin memisahkan diri dari Kabupaten Serang!

Tauk ah, gelap! Mendingan kami memikirkan lagi G2S selanjutnya. Bekerja sama dengan Himpunan Pembina Bahasa Indonesia, SUHUDsentrautama, dan Harian Banten, G2S berikutnya di Gedong Juang Rangkasbitung, Lebak, 18 Oktober mendatang! Nantikan kami di sana, ya! Dan siap-siap saja terjangkiti virus sastra, teater, dan jurnalistik! (gg)

begawan
December 26, 2003, 04:37
Salam dari rumah dunia

PERLUASAN PENDOPO, RESCHEDULING KEGIATAN,

DAN DISKUSI SASTRA


Hari-hari yang bergulir di Pustakaloka Rumah Dunia (PRD) berjalan seperti
biasa. Bedanya, pendopo agak berantakan karena sedang ada perluasan kecil, ke arah selatan, seluas tiga kali empat. Permukaan lahan baru itu nantinya lebih tinggi dari areal pendopo lama, untuk 'panggung' kecil bagi pembicara diskusi-diskusi di PRD, pementasan teater atau baca puisi. Di sepanjang dinding belakangnya akan menjadi tempat menyimpan rak buku bacaan anak.


TUTOR NARI

Meskipun tempat membaca agak terganggu dengan suara ketukan palu, lalu lalang tukang, atau bunyi mesin serut kayu, anak-anak PRD merasa asyik-asyik saja. Mereka masih membaca buku-buku pilihannya, belajar bahasa Inggris bersama Ibnu (si kuncen PRD), atau belajar mengetik dengan mesin ketik manual. Mereka juga masih asyik memanjat pohon jambu, duduk santai di dahan sambil ngobrol.
Beberapa pengunjung juga masih datang untuk sekedar membaca atau diskusi seputar apa saja, berbincang-bincang bersama anak-anak. Salah satu pengunjung itu adalah Rima Indah Kumalasari, siswi SMU Jawilan. Gadis kelas dua SMU yang kerap dipanggil Riku itu akhirnya kami todong untuk berbuat sesuatu di PRD, sesuai kemampuannya. Dan hari Rabu kemarin (15/10), Riku sudah mengajar menari. Kebetulan Bu Rina Andriani, tutor tari sedang sibuk
dengan urusan keluarga.

begawan
December 26, 2003, 04:37
MUNDUR
Untuk beberapa minggu ini, menjelang puasa hingga sesudah lebaran, kami akan
mengkaji ulang jadwal kegiatan reguler PRD. Termasuk mengundurkan rencana
launching antologi puisi anak-anak PRD yang semula direncanakan Oktober ini.
Sebenarnya anak-anak juga sudah tak sabar lagi untuk tampil, tetapi kami
meminta pengertian mereka, betapa banyak hal yang harus dibenahi,
dipersiapkan, sehingga ketika launching diadakan tidak jadi sebuah acara yang biasa-biasa saja.Bahkan beberapa pelajar yang hendak belajar sastra (puisi, prosa), jurnalistik, dan skenario TV angkatan ketiga terpaksa kami undur ke tahun depan. Terlalu mepet sisa waktu di ujung tahun ini.



DISKUSI
Oktober ini adalah bulan terakhir dimana diskusi berlangsung. Kemarin, 11 Oktober, Klub Diskusi Rumah Dunia menggelar "Sastra, Sex, dan Reliji". Pembicaranya sastrawan asal Payakumbuh, Gus tf Sakai. Diskusi yang dihadiri pelajar SMA Jawilan, SMA Ciruas, dan SMA 1 Serang ini bejalan cukup meriah dan heboh. Maklu, sex memang selalu memancing minat. Gus bilang, bahwa sastra dan sex mestinya dipisahkan. "Kita bisa melihat, apakah yang menonjol teks sastranya atau malah seks-nya. Dan masing-masing mempunyai penilaian sendiri tentang itu. Sah-sah saja." Ketika disinggung soal nilai-nilai relijius di dalam sastra, Gus tidak menyanggah. Bahkan menurut dia, di dalam
sastra selalu ada nilai-nilai relijiusitas. "Tepatnya, sastra adalah relijius!"
Agenda kegiatan penutup akhir tahun ini, bersama sangar Sastra Serang,
Himpunan Pembina Bahasa Indonesia Banten, SUHUDsentrautama, dan Harian Banten,PRD akan menggelar "Goes to School" part Two, di Gedong Joang, Rangkasbitung, Sabtu besok (18/10)/ Puncaknya, Minggu (19/10) nanti, "Gonjlengan Wacana" akan mempertemukan dua kuncen yang berseteru gagasan;
Yaya Suhendar (kuncen Perpustakaan Banten) dan Ibnu Adam (kuncen PRD). Topik
yang akan diusung adalah "Menuju Banten Membaca". Silahkan bergabung di PRD,
jam 14.30pm! (tt/gg)

begawan
December 26, 2003, 04:37
DAFTAR PENYUMBANG:

Noval Ramsis, PR Hotel Ibis, Jakarta, Rp. 100.000,-

Hamba Allah, Jakarta, Rp. 1000.000,-

begawan
December 26, 2003, 04:38
Salam dari Rumah Dunia:

LEBAK PUN MULAI TERJANGKITI VIRUS



Marhaban ya Ramadhan. Tak terasa puasa sudah tiba. Tak terasa, ini puasa yang kedua bagi Pustakaloka Rumah Dunia (PRD). Tahun lalu, menjelang lebaran, ada kegiatan “Kado Lebaran”, semacam lomba menulis puisi dan prosa bagi anggota PRD. Para pemenangnya diberi hadian uagn sebesar Rp.20.000,- Semoga kali ini pun kami bisa melakukannnya lagi.



WILAYAH

Apa pun sebetulnya akan kami lakukan, jika kami mampu. Seperti 18 Oktober lalu, kami mampu dalam hal waktu, enerji, dan pikiran, maka kami (Gong, Radik, Ibnu, Qizink, Piter, Ade, dan Venayaksa) meluncur ke Rangkasbitung dalam acara “Goes to School” (G2S), berbarengan dengan peresmian pembentukan HPBI (Himpunan Pembina Bahasa Indonesia) wilayah Lebak, kami berbagi pengalaman dan ilmu tentang sastra, teater, dan jurnalistik di Gedong Joang ’45 Rangkasbitung.

Kata Yeyen, Ketua HPBI Pusat, “ HPBI wilayah di Banten baru ada di Lebak..” Dia menyarankan agar di wilayah lain (Serang, Pandeglang, dan Tangerang) HPBI dibentuk. “HPBI Pusat mempunyai agenda acara-acara kebahasaan, seperti seminar, dan juga akan memyumbang buku-buku sastra.”

Peserta yang terdiri dari guru-guru Bahasa dan Sastra Indonesia serta para siswa dari SMA se-Lebak (Rangkas, Malimping, Warung Gunung, Cibaliung) sangat antusias menanyakan tentang tips-tips membuat majalah dinding, cerpen, dan soal bagaimana agar kita bisa tekun membca buku. Bahkan beberapa ada yang ingin belajar di PRD. Sebelumnya mereka disuguhi pembacaan dan musikalisasi puisi oleh Firman Venayaksa dan Toto ST Radik.

begawan
December 26, 2003, 04:39
PERPUSTAKAAN

Pada Minggunya (19/10), Klub Diskusi Rumah Dunia menggelar “Gonjlengan Wacana” di PRD. Molor sekitar satu jam dari jadwal pukul 14.30, karena hujan deras, Drs. Yaya Suhendar (kuncen Perpustakaan Banten) dan Ibnu Adam (kuncen PRD) tidak kehilangan gairah mengusung topik “Menuju Banten Membaca”. Kalau Yaya berangkat dari realitas, bahwa masyarakat Banten miskin membaca, sedangkan Ibnu bersikeras itu semua disebabkan karena tidak ada bukunya untuk dibaca. “Mau baca, mana bukunya?” kata mahasiswa STAIN SMHB Serang itu.

Yaya lalu membeberkan program-programnya untuk mewujudkan “Menuju Banten Membaca”; yaitu pihak kantor Perpustakaan Banten akan membeli dua mobil untuk perpustakan keliling yang akan ditempatkan di Banten Selatan dan Banten Utara. “Alokasi biaya untuk satu mobil plus buku-bukunya sekitar 150 juta rupiah!” Yaya membeberkan. Sontak peserta diskusi yan beragam memprotes. “Itu tidak penting. dan hanya membuka peluang untuk korupsi," begitu kira-kira kesimpulan dari bebebapa pendapat.

Justru yang diusulkan peserta diskusi yang dihadiri para dosen Sastra dan Bahasa Untirta; Wan Anwar, Arif Sanjaya, dan Prana Badrun, mahasiswi STAIN, guru dari Pontang, dan Cilegon mendesak agar pihak Kantor Perpustakaan Banten mengusulkan pada gubernur, agar memprioritaskan membangun perpustakaan di tingkat kecamatan. Setiap tahun bisa dipilih. Dari dana 150 juta perunit mobil, mungkin bisa dialokasikan untuk pembangunan dua buah perpustakaan. Dua mobil, berarti 4 perpustakaan.

Hal lainnya, selama seminggu ini kegiatan reguler di PRD diliburkan, karena sedang ada renovasi. Pendopo yang sekama ini lantainya boncel-boncel akan ditutupi keramik mengkilat. Bahkan sejak hari Minggu kemarin, perpustakaan anak-anak dan remaja ABG, sudah menempati gedung baru, yaitu di selatan pendopo seluas 3 kali 4 meter. Posisinya lebih tinggi. Sehingga saat diskusi, para pembicara bisa duduk lebih tinggi di sana. Rak-raknya pun baru dan lebar serta panjang. Saat saya, Qizingk, Ibnu, dan Deden merapihkan buku-buku, terasa ada suasana lain dan berbeda. Buku-buku jadi kelihatan banyak dan rapih, walaupun ada beberapa bagian rak yang masih kosong. Qizink malah berkelakar, “Bagian rak atas yang kosong itu, kelak akan diisi oleh novel kita!” (gg)

begawan
December 26, 2003, 04:41
Jurnal #47:
Salam Rumah Dunia:
JEJAK-JEJAK PARA PENULIS MUDA


Dalam rangka merayakan Bulan Bahasa, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), pada 8 Noverber lalu mengumumkan pemenang lomba menulis cerpen tingkat mahasiswa se-Provinsi Banten. Lomba ini diikuti 7 peserta dengan juri Herwan FR dan Asep Sanjaya.



MENANG BANGGA

Dengan kriteria: panjang cerita 7-10 halaman 1,5 spasi kwarto, bahasa pengungkapan yang segar dan cerita aktual, juri tidak memillih pemenang pertama. Tapi dimulai dari pemenang juara dua, tiga dan harapan satu, masing-masing: Nunung Nurhasanah (mahasiswi STAIN semester 7) dengan judul cerpen “Lelaki Bercadar”, Ibnu Adam Aviciena (mahasiswa STAIN semester 5) dengan judul cerpen “Masyarakat Togel” dan Rahmat (mahasiswa Untirta). Yang membanggakan bagi kami, Nunung dan Ibnu adalah bagian dari kami; Sanggar Sastra Serang (s3) dan Pustakaloka Rumah Dunia (PRD).

Kami patut berbangga, karena s3 dan PRD, yang kegiatannya mengkhususkan diri di seputar seni dan budaya, telah melahirkan banyak generasi baru di bidang kepenulisan. Ini sesuai dengan moto kami: Mencerdaskan dan Membentuk Generasi Baru. Sederet nama kini patut diperhitungkan. Mulai dari Qizink La Aziva, Endang Rukmana, Aad Adhikilni, Nunung, Ibnu, dan Firman Venayaksa, kelak akan tumbuh menjadi penulis hebat yang dimiliki oleh Banten. Semoga kesempatan dan peluang terbuka bagi karir mereka selanjutnya.

begawan
December 26, 2003, 04:41
BEDAH PUISI

Untuk menuju jalan ke sana, jejak pertama mereka sudah pasti dengan bermunculannya tulisan mereka di HARIAN BANTEN. Kemudian akan diterbitkannya antologi cerpen KACA MATA SIDIK oleh penerbit SENAYAN ABADI Jakarta. “Insya Allah, setelah lebaran,” Dadi, menejer penerbitan SA mengabarkan.
Jejak lainnya yang sudah mereka buat adalah antologi puisi 14 penyair (Adkhilni Ms, Agung Wibawa, Akmal, Anah Muawanah, Budi W. Iskandar, El Fatrah, Firman Venayaksa, Ibnu Adam Aviciena, Mahdiduri, Moechlas M. Razaq, Purwo Rubiono, Qizink La Aziva, Qorie Lawa, Tias Tatanka) dengan judul “Sembunyi Sampai Mati” (SSM) terbitan s3, PRD dan Suhud Sentrautama. Setelah September lalu dibedah Bangbang Q. Anees, penulis yang juga pengajar di IAIN SGD Bandung, pada 8/11 lalu kembali dibedah oleh Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Tangerang, di sekretariat Komunitas Kebon Nanas, Tangerang (8/11).
Untuk membedah SSM ini, KSI menghadirkan Iwan Gunadi seorang redaktur Info Bank. “Kalau Bangbang Q Anees mengemukakan yang bagusnya, saya akan mengemukakan kekurangannya,” kata Iwan. Ketika membedah, Iwan banyak melihat sisi bahasa terutama struktur kalimat dan logika berpikir—istilah yang digunakannya untuk melihat hubungan antar kalimat. Acara ini menjadi menarik karena dihadiri oleh sekitar 20 orang peserta yang mengerti sastra. Binhard Nurahmat, wartawan Satelit News, cukup banyak berkomentar dengan pernyataan-penyataan kocaknya.

begawan
December 26, 2003, 04:42
FKB DAN 2004
Menghadapi tahun baru, kami mengutus Ibnu sebagai kuncen PRD untuk ikut urun-rembuk di Forum Kesenian Banten dalam menyusun rencana kerja untuk 2004. Acara ini dilaksanakan di sekretariat Gesbica STAIN malam Selasa (10/11). Hadir sekitar 20 orang termasuk Wowok Hesti Prabowo, Aris Kurniawan dan Gito dari KSI Tangerang.

Acara yang dimulai setelah shalat tarawih ini menghasilkan beberapa rencana kerja—setelah sebelumnya ketua FKB Ruby Ach. Baedhawy berserta kawan-kawannya mengajukan draf—antara lain: Pentas Vokal, Pameran Kartun Karya Indra Kesumah (Fajar Banten), Pesta Sastra, Pesta Etnik, Pesta Kesenian Tradisional, Workshop (Tetaer, Sastra), Pasar Seni Banten, Lomba Cipta Puisi, dan Lomba Menulis Cerpen.

Pesta Vokal yang direncanakan akan digelar sebelum tahun 2004 ini dikoordinir oleh Mahdi Duri dan Purwo Rubiono. Sementara lomba sastra diserahkah sepenuhnya ke Kominitas Sastra Indonesia (KSI) Tangerang. Untuk mendanai kegiatan ini, pihak FKB akan bekerja sama dengan Dispudpar dan Dinas Kebudayaan. “Anggarannya saja sekitar seratus sampai seratus limapuluh juta,” kata Ruby.

begawan
December 26, 2003, 04:42
AGENDA

Menutup puasa ini, pada Jum’at (14/11) di PRD akan diadakan Lomba menulis puisi dan prosa untuk anak-anak SD dan SMP, serta menggambr untuk tingkat SD. Pada Sabtu siang, (15/11) pengumuman pemenang lomba, pembacaan puisi dan prosa anak-anak. Hadiahnya berupa uang alakadrnya dari partisipasi Winny Rosalina (RCTI Jakarta), Andi Suhud Sentrautama, Dadi Rsn (Kasubdin Kebudayaan Banten), dan Silvya Kaligano (Jakarta). Lalu dilanjutkan dengan diskusi mengenai dunia kepenulisan bersama peserta “Pesantren Kilat Fisip Untirta Banten”, yang mengusung topik “Menulis Sebagai Sebuah Pilihan Profesi”. Sabtu malamnya, selepas tarawih (jam 20.30), ada diskusi “Manajemen Seni Institusional” dengan pembicara: Heru Hikayat, yang baru saja pulang mengikuti work shop di Sidney, Australia. Kepada para pengelola komunitas diharapkan hadir untuk menimba ilmu soal menejemen seni. (ibnu/gg)



DAFTAR PENYUMBANG:

Hamba Tuhan, Jakarta, Rp 500.000,-

Dadi Rsn, Serang, Rp.100.000,-

Andi Suhud, Serang, Rp. 50.000,-

Winny Rosalina, RCTI Jakarta, Rp. 150.000,-

babeh
December 26, 2003, 05:33
salut deh sama Gola Gong dan semua org yg terlibat dalam proyek ini
en salut juga sama begawan yg ngetik segitu banyakk :D
engga copy paste kan neh :hehe

begawan
December 26, 2003, 14:53
copy paste dong :hehe

begawan
January 13, 2004, 12:37
MENGHAPUS STIGMA “GILA” TENTANG BUKU



Pustakaloka Rumah Dunia (PRD) bekerja sama dengan Senayan Abadi Publishing, Sabtu (10/1) lalu sukses meluncurkan novel “Seri Rumah Dunia#1: Mimpi Sauni” karya Gola Gong – Tias Tatanka, di Gunung Agung, Plaza Depok. Acara yang berlangsung di tengah kesibukan pengunjung berhasil mencuri perhatian mereka. Pertanyaan seputar apa itu PRD, tips tentang menulis fiksi, menembus hegemoni penerbit, sampai ke motivasi penerbitan “Mimpi Sauni”mewarnai diskusi Juga ada pembacaan puisi dari anak-anak PRD; Sauni, Rosliana, dan Tuti. Joko dari tabloid Fikri ikut nimbrung, membacakan puisi “Tirtayasa”, karya Qizink La Aziva (PJ Sastra Rumah Dunia sekaligus guru SMP Anyer, Serang). Di penghujung acara, Firman Venayaksa (koordinator program Rumah Dunia yang vocalis kelompok vocal Hajjar Aswad Bandung) bermusikalisasi puisi.



STIGMA

Para pengunjung yang beragam; pelajar, mahasiswa, pekerja, serta orangtua, silih berganti nongkrong di acara peluncuran novel “Seri Rumah Dunia#1: Mimpi Sauni”. Ada seorang pengunjung yang menyatakan keheranannya dengan PRD. “Buku-buku koleksi pribadinya kok dipinjamkan? Apa nggak gila itu!”

Ada pameo yang mengatakan, bahwa jika kita meminjamkan buku berarti gila dan orang yang meminjam buku mengembalikannya juga sama gilanya. Bagi PRD justru pameo itu tidak berlaku. Stigma itu harus disingkirkan. Keberadaan buku yang ribuan eksemplar di rak-rak home library kami akan lebih banyak manfaatnya jika dperuntukan bagi masyarakat luas. Biarlah mereka yagn tak mampu membeli buku pun bisa mendapatkan kesempatan yang sama dengan kita untuk bisa menjelajahi dunia, pemikiran lewat buku-buku.

Nah, agar kita tak mendapat cap gila, ada jalan ke luar yang kami tempuh. Yaitu buku-buku tidak boleh dibawa ke luar dari areal Rumah Dunia. Hanya boleh baca di tekpat. Dari jam 13.00 s/d 17.00pm. Dengan begitu, berarti tidak ada yang gila ‘kan!

Setelah memasuki tahun ketiga, buku-buku yang ada di Rumah Dunia untuk segmen anak-anak memagn sangat cepat rusak. Itu kam maklumi. Sedangkan untuk yang remaja yang tak berada ditempat ada sekitar 5 buku; Harry Potter#4, biografi Kahlil Gibran, Seri 1001Malam #1 dan #2, Horison Sastra Indonesia #2, serta novel dwilogi Kupu-kupu Pelangi. Ini pun sedang kami lacak. Semoga saja ada dari anggota Rumah Dunia yagn hanya membawa pulang ke rumah saja untuk dibaca.

begawan
January 13, 2004, 12:38
BEASISWA

Penanya lain ada yang menanyakan kepada penerbit SENAYAN ABADI, tentang motivasi apa, kok, mau-maunya menerbitkan “Mimpi Sauni. “Ini memang keputusan nekat dari kami,” kata Daddy, menejer penerbitan SENAYAN ABADI. “Sementara yang lain gencar menerbitkan jenis remaja, serta sastra perempuan beraromakan seks, kami malah menerbitkan ‘Mimpi Sauni’, yang menurut kami tujuannya mulia.”

Target pembaca dari “Mimpi Sauni” sebetulnya remaja putri, mahasiswi putri, serta ibu-ibu muda. Di dalam novel ini diceritakan tenang sebuah keluarga muda yang mencintai buku Mereka mengikhlaskan home librarynya dipakai untuk kepentinhan umum. Pelajaran saling berbagi sangat kuat sekali, serta menularkan kebiasaan membaca pada sekeliling sangat kuat. Romantika percintaan juga muncul di sini.



Rencana kami, insya Allah, akan menyisihkan untuk biaya masuk sekolah Sauni ke SMP. Anggap saja ini adalah "kail" bagi Sauni. Sisa yang lain, tentu buat pengembangan Rumah Dunia. Luas lahan Rumah Dunia sekaragn sudah bertambah 500m2 lagi. Berkat bntuan dari pemirsa RCTI lewat “RCTI PEDULI” sebesar Rp.15.000.000,- serta penulis Kampung Ramadan RCTI; Fahri Asiza, Ekky Malaki, Benny Ramdani sebesar R. sudah Begitulah. Maka, jika Anda membeli"Seri Rumah Dunia #1: MIMPI SAUNI" terbitan SENAYAN ABADI, berati sudah membantu mempertahankan keberadaan PRD untuk mencerdaskan dan membentuk generasi baru Banten di masa 20 tahun yang akan datang.

nia,

begawan
January 13, 2004, 12:39
OPERASIONAL

Selain itu juga, novel "Seri Rumah Dunia" ini adalah suatu usaha dari kami untuk memperoleh sumber dana bagi pengembangan Rumah Dunia. Terutama untuk biaya operasional sebanyak Rp.2jt/bulan. Selama ini masih mengandalkan kocek pribadi sekitar 75%. Sisanya dari simpatisan secara pribadi-pribadi, seperti dari Suhud Sentrautama, Radar Banten, Herawati dari 1001buku, M.Praba dari mlis Pasarbuku., serta Yanto Prawoto dari milis Layarkata.

Di tahun 2004 ini program kerjanya sangat padat. Ada wisata reguler seperti gambar, tulis, dan teater. Tentu butuh pinsil warna, crayon, kertas, pinsil, dan bulpoin. Donatur tetap memang sangat kami butuhkan. Sementara ini yang baru bersedia jadi donatur tetap Fahri Asiza sebanyak Rp.100.000,- Diharapkan akan banyak lagi pribadi-pribadi yang bersedia menjadi donatur tetap di 2004 ini.


BINTANG

Yagn menarik adalah ketika Fahri Asiza, penulis novel remaja yagn sangat concern ke Rumah Dunia menanyakan pada Sauni, bagaimana perasaannya saat itu. Di toko buku Gunung Agung, hari itu Sauni menjadi bintang. Dia membacakan puisi dan jadi pusat pehatian. “Saya gembira berasa di sini,” jawab Sauni. Tapi ketika ditanya kesan-kesannya setelah membaca novel “Mimpi Sauni”, yang terinspirasi dari kehidupannya, dia menjawab pelan, “Saya sedih ketika membaca novelnya.” Usai itu, Fahri mendekati Sauni dan menyelipkan uang untuk dibelikan alat-alat tulis sekolah sbesar Rp.50.000,- Sauni kontan kaget dan mendekati Fahri untuk mengucapkan terima kasih.

Yang paling mengejutkan, pada hari Sabtu itu juga, di tempat berbeda, tepatnya di tugu proklamasi, Komunitas 1001buku, jaringan relawan dan pengelola perpustakaan anak, dalam acara Peringatan 1 Tahun 1001buku yang diselenggarakan di
Gedung Harkat Bangsa, Pegangsaan, Jakarta Pusat, Sabtu lalu (10/10)., memberikan penghargaan kepada Pustakaloka Rumah Dunia yang pengelolaan dan perannya merupakan teladan bagi anggota jaringan perpustakaan anak1001buku lainnya. (*)

begawan
January 14, 2004, 11:38
Radar Banten – Kamis, 15 January 04



Salam Rumah Dunia:

SURAT BUAT BUPATI SERANG DAN

LAPORAN PABRIK KERUPUK



Kepada Yth Bupati Serang. Pertama-tama saya akan memperkenalkan diri saya sendiri. Nama saya Tuti Rahmawati, kelas Ie Madrasah Tsanawiyah Negeri Serang. Alamat saya Linkungan/Kampung Ciloang, anggota PRD (Pustakaloka Rumah Dunia).

Saya akan menceritakan tentang Serang yang tercinta. Saya ingin kota Serang seperti kota Jakarta. Misalnya ada gedung-gedung bertingkat, ada Mangga Dua dan lain-lain yang ada di kota Jakarta.

Setelah itu aku ingin sekali kota Serang bersih, nyaman dan indah. Bersih itu seperti buang sampah tidak sembarangan dan pada tempatnya. Pasar Rau itu sangat becek sekali karena apa, pedagang di pasar Rau itu jorok sekali. Buang sampah di jalan-jalan kemudian kalau musim hujan tiba pasti pasar Rau itu banjir sekali dan seperti comberan airnya.

Banyak anak-anak pengamen jalanan di jalan atau lampu merah. Mengapa anak jalanan pada berserakan di jalan-jalan, karena orang tuanya tidak mampu untuk mengurus anak-anaknya dan menyuruh anak-anaknya untuk berusaha dan bekerja keras untuk keluarganya. Seandainya dia tidak sekolah masa depannya harus bagaimana, masa harus terus-menerus kerja seperti itu.

Saya ingin mengumpulkan semua anak yatim dan pengamen. Kita harus membuat pondok panti asuhan untuk anak yang tidak mampu.

Kenapa pemerintah tidak mempedulikan sekolah yang rusak. Di Serang banyak sekolah yang rusak tapi tidak ada yang bantu.

Seandainya saja saya jadi Bupati, saya akan membantu orang yang tidak mampu dan saya ingin kota Serang ada beasiswa setahun sekali. Saya tuh tidak ingin ada yang buang sampah di sungai, di selokan dan di manapun yang berhubungan dengan air mengalir. Jangan sampai kota Serang yang tercinta ini kebanjiran. Amin ya robal alamin. (Tuti Rohamawati, Ie, MTsN Serang)



***

begawan
January 14, 2004, 11:39
TULIS

Setelah vakum beberapa lama karena penataan dan penjadwalan ulang “Rumah Dunia”, wisata tulis kami giatkan kembali. Dimulai dengan tugas minggu pertama yaitu menulis surat untuk Bupati Serang, yang ternyata topik ini kurang diminati anak-anak. Terbukti hanya tiga orang yang serius menulis surat. Tulisan di atas adalah satu yang terbaik di atara ketiga tulisannya.

Sedangkan tugas minggu berikutnya (4/1) adalah wisata studi, kali ini kunjungan ke pabrik kerupuk sangrai. Lokasinya di tepi jalan Kemang Pusri, yang terlewati jika anda akan menuju Rumah Dunia, dua ratus meter setelah rel kereta. Mungkin agak sulit menemukannya, karena pabrik ini adalah home industry kecil tanpa papan nama pabrik.

Kami lihat betapa bersemangatnya anak-anak mengikuti kegiatan wisata tulis ini, dengan rela berpayah-payah berjalan dari Rumah Dunia menuju lokasi pabrik (sekitar 800 meteran). Setelah wawancara pun mereka masih betah mengikuti pembahasan wawancara, mengingat lagi unsur-unsur sebuah berita (who, what, where, when, why + how). Juga tak terdengar protes ketika kami meminta mereka menuliskan laporan wawancara itu dan dikumpulkan esok harinya (Kamis, 5/1). Betapa lancarnya mengarahkan mereka!

begawan
January 14, 2004, 11:42
DEPOK

Usut punya usut, ini karena iming-iming kami, hadiah bagi dua penulis laporan terbaik akan diajak ke acara peluncuran novel “Seri Rumah Dunia #1: Mimpi Sauni” terbitan SENAYAN ABADI, Sabtu (10/1) di toko buku Gunung Agung, Plaza Depok. Ternyata ada tiga tulisan terbaik, sehingga kami mengambil kebijaksanaan untuk menempatkan pemenang ketiga (tulisan Dina Fujiyana di atas) dalam jurnal “Salam dari Rumah Dunia” di Radar Banten, sebagai penghargaan khusus. Silahkan membaca tulisan Dina di bawah ini:



Ada seorang laki-laki yang bernama Pak Ujang yang berusia 30 tahun. Dia memiliki pabrik kerupuk yang terletak di Kesuren ujung jalan pusri Kemang Kelurahan Serang. Lalu aku dan teman-teman memasuki pabrik itu dan langsung menanyakan tentang proses atau pembuatan kerupuk itu.

Kerupuk itu dinamakan kerupuk sangria yang terbuat dari tepung tapioca, bumbu (bawang putih, vetsin, kaldu, garam dan gula), pewarna (merah dan kuning), air panas dan pasir laut. Alat-alat untuk pembuatan kerupuk itu: wajan besar untuk menggoreng, langseng/dandang besar untuk mengukus.

Pak Ujang mempunyai karyawan 5 orang, 3 untuk produksi sedangkan yang 2 untuk membungkus. Pak Ujang pun mempunyai tenaga luar/karyawan luar untuk berdagang. Produksi mulai 07.00-15.00 WIB . Pak Ujang pun membutuhkan dalam sehari 1 karung/ 50 kg aci (tepung tapioka).

Tidak lupa pasir laut yang diambil di Anyer. Pasir itu direndam dulu/dicuci sehingga air perendam menjadi bening. Setelah itu pasir dipakai untuk 3 bulan sehingga menjadi hitam.

Kerupuk itu hasilnya 7500 bungkus kecil, lalu dijual ke warung-warung kecil di Serang dalam kemasan bungkus kecil, sedang dan besar seharga Rp 100,- , Rp 500,- dan Rp 1000,-. Pak Ujang bekerja karena berbakat membuat kerupuk dan belum ada saingan. Pak Ujang pun berencana memakai merek atau menamakan pabrik itu menjadi pabrik Mahkota. (Dina Fujiyana, kelas 5, SDN Sumber Agung Serang)



***



Kami tak bisa menceritakan betapa antusiasnya mereka ketika pengumuman pemenang digelar. Juga kegembiraan pada pemenang yang akhirnya ikut ke Depok. Terbayang oleh anak-anak itu, suasana dan pengalaman baru yang akan mereka hadapi di Depok sana……. (tias tatanka)