View Full Version : [NEWS] Kardinal desak perbaikan pelayanan pastoral pada perayaan tahbisan Uskup







star_netz
July 11, 2008, 14:39
Kardinal desak perbaikan pelayanan pastoral pada perayaan tahbisan Uskup
11 Juli 2008 10:32

http://www.mirifica.net/uploadan/urbi/kardinaljulius.jpg

kardinal darmaatmadja Jakarta (UCAN) -- Pada peringatan ke-25 tahbisan uskup, Julius Kardinal Riyadi Darmaatmadja dari Jakarta mengajak para pekerja pastoral keuskupan untuk bersama dia menciptakan sebuah "Pelayanan Gembala Baik" yang sesungguhnya.
Ini berarti semua orang yang terlibat, "baik itu komisi, pemikat, para imam, seksi dan dewan paroki, katekis, ketua lingkungan, dan ketua kelompok kategorial, dan saya perlu mengubah atau menyempurnakan cara kerja," kata kardinal Yesuit itu pada Misa peringatan yang diadakan 29 Juni.
Sekitar 4.000 orang yang menghadiri liturgi di Katedral St. Perawan Maria Diangkat Ke Surga di Jakarta Pusat itu antara lain Uskup Agung Leopoldo Girelli, Duta Vatikan untuk Indonesia, dan 19 uskup.
Kardinal Darmaatmadja ditahbiskan sebagai uskup agung Semarang pada 29 Juni 1983. Ia diangkat menjadi kardinal pada November 1994 dan diangkat sebagai uskup agung Jakarta pada Januari 1996.
Sebuah "pelayanan Gembala Baik," jelas prelatus itu, berarti mencari dan menemani "mereka yang tidak terjangkau oleh karya pastoral kita." Pelayanan Gembala Baik perlu menjangkau orang lain secara spiritual dan membantu mereka yang memerlukan "kebutuhan hidup yang mendasar." Ia menjelaskan bahwa "seorang gembala yang baik tidak menghendaki seorang pun hilang, merawat yang sakit, dan membawa domba ke padang rumput yang subur."
Seraya menekankan aspek-aspek komunitas dan kerjasama untuk memastikan bahwa pelayanan pastoral menguntungkan semua orang, ia mengakui bahwa pelayanan yang diimplementasikan melalui Komunitas Basis Gerejani semacam itu masih belum menjangkau banyak orang.
Hidup di Jakarta itu tidak mudah, katanya mengamati. "(Seseorang) dapat merasa sendirian meski di tengah orang banyak. Tuntutan pekerjaan dapat menghabiskan seluruh hari sehingga tak ada waktu cukup untuk keluarga. Situasi ekonomi yang berat juga menciptakan kesulitan baru bagi kehidupan beriman, kehidupan berkeluarga, dan lain-lain. Belum semangat sekular dan materialistis membuat orang tidak merasa membutuhkan Allah."
Keesokan harinya, kardinal mengulang kembali ajakannya kepada sekitar 500 klerus, kaum religius pria dan wanita, dan para frater pada sebuah Misa lain di katedral.
Kemudian, UCA News berbicara dengan sejumlah imam dan umat awam yang men-sharing-kan pandangan mereka tentang visi pelayanan dari kardinal.
Pastor Alexius Widyanto, yang mengajar di Seminari Menengah Wacana Bakti di Jakarta, menyambut baik ajakan itu dan mengakui bahwa ia "harus membina para seminaris agar menjadi gembala yang baik."
Pastor Gilbert Keirsblick CICM dari Paroki St. Thomas Rasul di Bojong Indah, Jakarta Barat, mengatakan bahwa pelayanan semacam itu "penting supaya kita tidak menjauhkan orang yang jauh dari Gereja." Agar pelayanan ini efektif, lanjutnya, "kita perlu membangun spiritualitas dalam diri kita."
Stefanus Sudharmanto dari Paroki St. Antonius dari Padua di Bidaracina, Jakarta Timur, juga setuju dengan ide kardinal untuk memperbaiki pelayanan pastoral. "Pelayanan ini akan baik jika menjawab kebutuhan umat."
Sebelum kedua perayaan tersebut, kardinal mengeluarkan sebuah surat gembala yang dibacakan pada Misa 21 dan 22 Juni.
Dalam surat gembala itu, kardinal mendesak semua umat Katolik di Keuskupan Agung Jakarta, khususnya, dan di Indonesia, umumnya, untuk meningkatkan solidaritas. "Siapa yang punya supaya memberi yang tidak punya; paroki yang mampu supaya membantu paroki yang lebih lemah. Dan hendaknya paroki -- lewat lingkungan -- memastikan agar jangan sampai ada satu pun umat kita yang membutuhkan bantuan untuk hidup tidak mendapatkannya."
Menyadari bahwa situasi ekonomi yang sulit di tanah air, Kardinal Darmaatmadja mengatakan bahwa ia ingin peringatan perak tahbisan uskupnya dirayakan dengan cara sederhana.
"Tak akan ada pesta khusus," tegasnya. "Saya mengajak Anda sekalian bersyukur bersama saya, dan berdoa bagi saya -- dengan cara mendoakan saya dalam keluarga atau dalam Misa di paroki Anda masing-masing -- dan siap membagikan apa yang dimiliki kepada yang lebih papa."

credit to :www.mirifica.net

ann_prue10
July 11, 2008, 16:36
Sekarang gua ngeliat paroki2 udah cukup aktif meningkatkan pelayanan ke umat2 nya,
dan pelayanan ini bisa berlangsung klo ada kerja sama dari umatnya juga.
Kemarin ini, keluarga gua dapat kunjungan dari gereja, sekedar tuk doa bersama aja, kaget seh pas gua pulang kerja, ternyata masih ada gereja yang memperhatikan umatnya.Sebenarnya ini bukan kunjungan pertama seh, sebelumnya suster juga ada yg bertamu ke rumah, padahal jarak rumah ke paroki tuh cukup jauh 20 mnt kalo jalan..
gua seh berharap generasi muda dapat melakukan hal yang sama, termasuk gua..intinya seh PELAYANAN

-glenX-
July 12, 2008, 03:03
Malah di sebuah Paroki ada Pastor yang umurnya udah 80 tetapi semangatnya bagus sekali. Baru 1.5 tahun tetapi sudah mengunjungi 1000 rumah. Beberapa hari minggu kemarin disampaikan dalam homili di Gereja tsb.

Ada umat yang dikunjungi Pastornya tanggapannya bagus sekali, eh ada umat yang diketuk2 pintunya (rumah besar dengan tembok yang tinggi) sampai 3 kali Pastornya cerita "heiii ini ada Pastor datang", kemudian baru dibuka pembantunya terus pembantunya bilang pergi, Pastor tsb tidak pantang menyerah, besoknya balik lagi ke rumah itu, hasilnya juga sama.

Sampai 3x datang ke rmh tersebut, baru ketemu itu penghuni rumah, dengan sapaan biasa2 aja.

Nah aktifnya Gereja (Lingkungan dan Wilayah) tergantung dari Pastor Paroki baik Pastor Kepala, Pastor Pembantu, Ketua Lingkungan, Ketua Wilayah dan umat itu sendiri. Kalo komponen2 dari Gereja aktif namun umatnya sendiri menghindar juga tidak efektif kegiatan menggereja. Sebaliknya kalau Pastor, Ketua Lingkungan, Ketua Wilayah ini "loyo" dan umatnya "loyo" habis lah... nanti yang ada pindah gereja lain (masih bersyukur kalo pindah paroki/stasi lainnya), kalo dombanya sudah hilang jauh pasti susah juga untuk menarik kembali domba yang hilang itu.

Dalam lingkup Paroki sendiri ada Wilayah yang berkembang, ada yang stagnan ada juga yang merosot. Itulah gunanya Wilayah dan Lingkungan yang ada di Gereja Katolik, mendekatkan umat satu sama lain.