View Full Version : SISTER by nagita







Ma®™
March 15, 2003, 01:36
Atas permintaan smoanya, ini gua posting karya our Te Op Pe best writer :hehe

Gua cmen bantu mostingin loh git bukan ngejiplak or wotever.. Hope you enjoy it guys..

---------------------------

SISTER


Sinopsis:

Cerita drama yang mengharukan dengan setting tahun 1955 di pedalaman Skoltandia, Highlands. Tiga bersaudara, Jodie, Janet dan Blessha dengan karakteristik yang berbeda, berusaha untuk menyatukan perbedaan yang telanjur menjurang sejak kematian orang tuanya. Jodie sebagai kakak memiliki karakter keras, tegas, ulet, cerdas, kaku namun setia. Dia memegang tampuk perusahaan warisan orang tuanya, mengelolanya, mengembangkan dengan begitu baik. Jodie telah menikah dengan Henry, seorang laki-laki ber-ide brilian, sangat mencintai Jodie yang ikut membantunya mengelola perusahaan.

Janet, anak kedua yang kerjanya hanya hura-hura dan foya-foya. Sangat terbuka, sangat sensual dan berpola hidup freeseks. Cantik, mengairahkan, cerdik dengan seribu akal bulus, sangat percaya diri dan dia merasa yakin mampu menaklukkan siapa saja dengan kesensualitasannya yang menjadi idola setiap pria di desa itu. Baginya adalah suatu kebanggaan bisa menaklukkan setiap pria, membuatnya bertekuk lutut lalu menuruti semua keinginannya. Sesungguhnya ia adalah anak yang baik, tapi kasih sayang orang tuanya yang sedari kecil yang tidak seimbang, lebih mengasihi Jodie si cerdas, Blessha si malang daripada Janet si perengek. Sering bentrok dengan Jodie karena Jodie seorang penganut agama yang kuat sebagaimana telah menjadikan ia seorang yang tangguh, keras dan disiplin.

Blessha, si bungsu yang malang, sangat tertutup, sangat pemalu karena ia mengidap suatu penyakit (sejenis anyan menahun) yang membuatnya terus menerus mengeluarkan liur dan dapat membuatnya shockram seketika apabila ia menghadapi sesuatu yang begitu berat. Blessha sebenarnya seorang anak yang manis dan sopan, tapi kondisinya yang agak sedikit idiot dengan gaya berbicara yang gagap membuatnya tidak memiliki teman apalagi teman pria, karena saat itu semua orang di desa itu menganggap penyakit Blessha adalah kutukan. Hal ini membuatnya sangat minder. Pernikahan baginya adalah sebuah mimpi yang sangat sulit menjadi kenyataan. Ia hampir tidak dapat melakukan semuanya sendirian, karena untuk menyuap makanannya sendiri pun sangat sulit dilakukannya.

Pertentangan sifat masing-masing karakter, terutama Janet yang pemberontak dan liar telah mengakibatkan perpecahan pada keluarganya; antara Jodie dan Henry, Blessha dan nama besar keluarganya sendiri. Apakah mereka bertiga dapat tetap mempertahankan hubungan darahnya diantara pertentangan sifaT, kejamnya hukum adat masyarakat desa kecil, luput dari pengadilan agama atas tuduhan pembunuhan berencana dan selamat dalam keterasingannya karena kabur dari desa tersebut?! Bagaimana nasib Jodie si tegar, Janet si penakluk yang juga pembunuh dan Blessa si malang yang menjadi terdakwa dan bulan-bulanan kutukan masyarakat???

Cerita ini penuh intrik, mengharukan dan sedikit menegangkan. Saya lagi bikin draft untuk posternya (cielah...) dan buat yang berminat boleh kirimin e-mail ke saya. Kalo udah jadi, pasti dikirim balik penokohan sebenarnya, karakteristiknya kali aja bisa lebih menjiwai. Thank You....

Ma®™
March 15, 2003, 01:37
Penginapan Lovely Palace…

Suasana kamar itu begitu remang-remang. Hanya sedikit berkas cahaya lampu luar yang menerobos masuk melalui celah-celah jendela. Namun suasana kamar yang terlihat, adalah kamar kelas terelite di Penginapan Lovely Palace. Interior kamar yang tertata apik, dengan bahan baku yang tentunya, terbaik. Dipermanis dengan sentuhan kuningan yang berkilau diterpa bias cahaya dari celah-celah jendela.

Suasana kamar elite itu berantakan. Pakaian pria dan wanita yang bertebaran di kursi, meja rias, lampu dinding, lantai dan…ujung ranjang. Seorang wanita tidur membekap bantal dengan punggung telanjang. Sprei warna krem muda itu hanya menutupi bagian bokongnya yang padat berisi. Wanita itu, Janet Anthroph. Wanita sensual yang digilai semua laki-laki di Peace Highlands. Wanita tercantik, terseksi, tersensual yang juga terbinal yang dibenci wanita-wanita Peace Highlands karena mereka tidak memiliki nasib seberuntung dan sifat sebebas Janet Anthroph. Ia bebas mengutarakan apa saja yang terbersit dibenaknya, bebas bertindak semaunya, tidak seperti kebanyakan wanita Peace Highlands yang pemalu dan sangat penurut. Janet, gadis pemberontak, cantik laksana peri yang sedang tidur di palungan. Rambut ikal coklatnya tergerai seadanya menutupi sedikit daerah punggung. Tapi punggungnya? Ah…luka apakah itu, sehingga terlihat seperti bekas luka biru lebam menggaris disekujur punggungnya? Dan disampingnya, pria tampan atletis yang juga digilai gadis-gadis desa itu, Reene Kulham. Sekilas mereka terlihat sebagai pasangan serasi. Janet cantik yang seksi dengan Reene Kulham atletis yang gagah.
Janet menggeliat. Ia melenguh, perih. Goresan-goresan biru lebam dipunggung itu telah menghitam. Ia berusaha berbalik, tapi tidak bisa. “Kamu melakukannya lagi…” gunamnya. Kesal. Akhirnya, ia menggeliat dan “Aaaahhhhhh…….” Rintih Janet. Ia duduk di ranjang, meraba punggungnya yang terasa perih. Tubuh putih mulus itu bertelanjang dada, menantang. Selimut itu menutupi bagian vitalnya seadanya. Sensual. Tidak heran seorang Janet dijuluki Sang Penakluk. Sekilas, ia melirik Reene dan “Bangun, tolol. Kamu melakukannya lagi,” Janet berusaha memukul dada bidang telanjang Reene dan mengumpat,”Kamu melakukannya lagi. Berapa kali harus kukatakan kepadamu untuk tidak melakukannya lagi?! Bangun! Bangun k'parattt…!!” Rene menggeliat malas. Ia malah berbalik memunggung. Janet semakin marah. Tangan jenjang berkuku tajam itu mendarat di pundak Reene dan seketika “AAAAA….. “ Reene menjerit dan terbangun, terduduk menghadap Janet. Meringis, sakit dan marah. “Jangan salahkan aku. Kamu pun menghendakinya semalam. Lupa? Haruskah kuulangi sekali lagi apa yang kamu katakan semalam?!” bentak Reene kasar. “Tapi kamu tidak harus melakukannya hingga seperti ini. Lihat! Punggung ini tidak mulus lagi. Puih! Bercinta denganmu, membuatku menjadi semakin jelek!!” “Kamu menginginkannya semalam!”debat Reene tak mau kalah. “Malah kau katakan; lebih keras lagi..!” “B'jingan kau!” maki Janet. Nafasnya tersengal-sengal, menahan kemarahan yang meledak-ledak. “Mengapa? Kamu takut tidak menemukan pria lain untuk malam ini? Huh. Keluargamu punya 20 dokter pribadi, tanyakan pada mereka obat apa yang akan menyembuhkan luka itu dalam waktu sekejab!”cibirnya. Janet menyeringai, perih. “Sakit sekali, Reene. Aku bahkan tidak bisa berdiri tegak!” Reene berdiri, mencari sesuatu di meja kecil samping tempat tidur. Dan… “Pakailah ini. Ini akan mengurangi sakitmu,” ia menyodorkan sebuah kotak mini. Janet menatapnya ragu-ragu. “Aku tidak ingin menggunakannya lagi. Itu membuatku tolol. Seperti semalam. Kalau aku tidak menggunakannya, tidak akan jadi seperti ini”sungutnya. “Ya, tapi kamu menikmatinya kan? Dan sekarang kamu kesakitan saat ini. Ayolah, gunakan ini, setelah itu tidur lagi, bercinta lagi…hahha…tidak ada cambuk lagi. Jangan kuatir, lalu.. kamu siap tampil cantik untuk nanti malam,”tawar Reene menggoda. Ia mengerlingkan sebelah matanya penuh arti. Janet tersenyum dan meraih kotak kecil dari tangan Reene. Sebuah kotak yang membuatnya nikmat bukan kepalang.

Diluar…gerimis itu telah menjadi hujan. Begitu lebatnya, sehingga menelan bunyi derapan langkah kaki teratur menaiki tangga Penginapan Lovely Palace itu pelan-pelan.

Ma®™
March 15, 2003, 01:38
Kediaman Keluarga Anthroph...

Jodie Anthroph sibuk mengemas dokumen-dokumen yang berantakan di mejanya. Tangan cekatannya begitu gesit memilah-milah data, lalu membundelnya menjadi satu dan dimasukkannya ke laci. Sekeliling ruangan yang tertata apik dan elegan itu, sangat bersih dan rapi. Ekslusif. Lukisan yang terpajang di ruang kerjanya, bisa dipastikan karya pelukis terkenal. Koleksi senapan bedil yang dipastikan warisan buyut Jodie, entah berapa harganya. Begitu klasik, begitu berseni, begitu berkelas. Sekelas dengan Jodie Anthroph sendiri, kakak terbesar dari tiga putri Anthroph bersaudara. Jodie, wanita karir dengan kepercayaan diri tinggi, pebisnis ulung yang menopang dan mengembangkan bisnis keluarga Anthroph. Ia mengerjakannya begitu sempurna, begitu gemilang dan begitu maju dengan tangannya sendiri. Tentunya semuanya tidak mudah ia dapatkan. Setelah kecelakaan kereta yang merenggut nyawa kedua orang tuanya, Jodie sebagai kakak terbesar harus banting tulang memegang kendali perusahaan. Umurnya baru 22 tahun saat itu. Masih begitu muda, begitu segar, begitu bersemangat... tapi bukan Jodie namanya jika ia mudah menyerah. Cerdas, dinamis dan keras. Krakk... pintu terbuka, Henry Shamz muncul dengan senyum sumringahnya, membawa barang bawaan di tangan kanannya. "Hallo, sayang..."sapanya sambil mencium pipi Jodie lembut. Jodie tersenyum dan membalas ciuman itu lembut, hangat dipipi Henry. Pemuda maskulin yang selalu tampil rapi itu tersenyum, merangkul pinggang istrinya dengan sangat hangat. "Hmmm...sibuk?"tanyanya. "Hanya tinggal sedikit saja, setelah itu aku bebas..."senyum Jodie, sejenka menikmati rangkulan suaminya. "Kukira tidak pernah ada hari libur bagimu..."sindir Henry manis. Jodie berbaling, dan berbalik menatap suaminya. Ia tersenyum penuh arti,"Inikah caramu merayuku? Masih saja tidak berubah"cubit Jodie mesra. Kemesraan itu terhenti dengan terdengarnya suara ketukan pintu. Tok tok tok. "Ya?"Henry menyahut. Ia langsung melepaskan rangkulannya dari pinggang Jodie. "Makan malam sudah siap, Tuan, Nyonya."sapa si pelayan hormat, dalam baju seragamnya. "Ya, kami akan segera kesana," Lalu, Jodie merapikan sisa dokumen yang terakhir sebelum melangkah keluar dari ruang kerjanya menuju ruang makan. "Panggil Blessha, kami menunggunya di ruang makan.."kata Jodie pada salah satu pelayan yang berpapasan dengannya. Mantap. Tegas.

Langkah kaki yang gemulai. Blessha dipapah Samantha, suster khusus yang telah merawatnya lebih dari 20 tahun, saat Blessha masih sangat kecil. Samantha adalah orang kepercayaan mendiang ibu Blessha. Ia termasuk orang yang paling berpengaruh di keluarga Anthroph, setelah Jodie sendiri. Umurnya hampir seumur ibu Blessha, 60 tahun. Tapi ia masih sangat cekatan mengurus Blessha, bahkan sudah dianggapnya seperti anak sendiri. Blessha, gadis malang yang tidak pernah mengecap bebasnya dunia. Tidak memiliki teman, tidak pernah pergi bersenang-senang seperti layaknya Janet. Tidak ada yang mau berteman dengannya. Teman-teman sebayanya menganggap Blessha sangat menjijikkan dengan liur yang terus menerus keluar dari mulutnya setiap kali ia berbicara, terbata-bata. Pandangan matanya seperti juling. Dan gerak-geriknya kaku, lamban seperti robot. Ia bahkan tidak mampu menyuap makanannya sendiri dengan benar. Untuk berpakaian pun ia masih harus dibimbing. Walaupun demikian, ia masih dapat membaca dan menulis dengan benar, walaupun lamban dengan tulisan yang jelek. Sangat bertolak belakang dengan Jodie yang cerdas dan Janet yang supel dan sensual. Blessha? Anak gadis yang malang. Satu-satunya tempat yang paling dikenalnya adalah gereja. Jodie membawanya kesana setiap minggu, tapi ia tetap tidak mendapatkan teman disana. Penduduk disana menganggap penyakit Blessha adalah kutukan. Tidak ada yang ingin menjadi temannya. "Blessha, hati-hati.." Jodie membimbing Blessha, menggantikan posisi Samantha yang menarik kursi makan untuknya. Perlahan, Blessha duduk. Dia menatap sekeliling dengan pandangan mata yang sedikit juling, dengan kepala miring. Tersenyum terbata. "Bagaimana Blessha hari ini, Bibi?" tanya Jodie pada Samantha. "Ia baik-baik saja, seperti biasanya,"jawab Samantha sopan, sedikit menunduk. Walaupun usianya jauh lebih tua dari Jodie, Samantha tetap bersikap sopan padanya. Samantha adalah anak buruh miskin yang hampir dijual ke rumah bordil, sebelum Keluarga Anthroph membelinya dan mempekerjakannya, menyekolahkannya dan memberinya berbagai keterampilan untuk hidup layak. Rambutnya mulai memutih, matang dan penuh kesabaran. Raut wajahnya tenang, dengan kewibawaan sebagai orang kepercayaan yang dapat diandalkan. Jodie duduk berseberangan dengan Blessha, sementara Henry duduk di tengah meja makan keluarga. "Blessha, bagaimana keadaanmu hari ini?"tanya Henry lembut, pandangannya sangat lembut. "Ba-ik,"jawabnya terbata-bata. "Maaf, Nona Jodie..apakah kita tidak menunggu Nona Janet?"sela Samantha sopan. "Hmmm..Bibi tahu dia tidak pernah bergabung untuk makan malam..kita mulai saja,"tegasnya. Janet mengambil beberapa potong daging dan meletakkannya di piring Blessha sementara Samantha mengajarinya menggunakan pisau dan garpu. Blessha mengirisnya dengan pelan, sesekali saus daging itu muncrat dan menodai taplak. Tapi toh Blessha tetap mengirisnya, pelan-pelan dengan bantuan Samantha. Jodie dan Henry berpandangan, pilu menatap Blessha. Jodie sangat menyayangi Blessha. Ia anak yang polos dan baik. Jodie pun merasa bersyukur mendapatkan suami seperti Henry yang dapat mengerti keadaan Blessha tanpa mencemoohnya.
Dan, makan malam itu berlangsung tanpa Janet. Janet hampir tidak pernah bergabung untuk makan malam. Dia selalu pulang larut malam dalam keadaan mabuk. Kadang tidak pulang sama sekali. Jodie pun tidak perduli lagi dengan apa yang dilakukan Janet, walaupun itu sangat menyakitinya. Kadang ia merasa gagal mendidik Janet, gunamnya pada diri sendiri. Dan Blessha? Apa yang dapat ia lakukan untuk membantu penyembuhan Blessha? Gadis itu masih terlalu muda... Tiba-tiba makan malam itu terganggu dengan masuknya Ahmet, kepala pelayan itu masuk, tampak tegang. "Nona Jodie.."panggilnya. Jodie menoleh, mengernyitkan keningnya. Firasatnya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres. Tidak seperti biasanya Ahmet masuk ke ruang makan dan mengganggu acara makan malam itu. Blessha menatap Ahmet dengan pandangan mata heran, tanpa disadarinya air liurnya mengalir. Ia pun dapat menangkap sesuatu yang tidak enak sedang terjadi. Sesekali ia mendelik, menunggu Ahmet mengungkapkan apa yang terjadi. "Maaf. Maaf mengganggu Anda, Tuan, Nona. Tapi..."Ahmet tidak meneruskan kalimatnya. Raut wajah Jodie menegang, giginya gemeletuk menahan geram. Pasti tentang Janet si perusuh. "Ada apa. Katakan padaku ada apa,"kata Henry lembut, menetralisir suasana. Ia melihat mimik wajah istrinya yang berubah dingin. "Begini Tuan...Tentang Nona Janet...dia ada di rumah tahanan sekarang. Ditangkap basah di Penginapan Lovely Palace dalam keadaan mabuk karena menggunakan.."Ahmet tidak meneruskan kalimatnya. Sangat memalukan menyebut nama barang terlarang itu dikalangan keluarga Anthroph yang elegan. Jodie mendelik,"Lagi??!! Aku tidak akan kesana untuk membebaskannya. Ini sudah yang ketiga kalinya!"emosinya. "Jodie.."Henry berusaha menenangkan istrinya. Blessha melotot, tak terasa tangannya mengejang dengan pisau ditangan kanannya dan...pisau itu menggores telapak tangan Samantha ketika berusaha meraihnya..

Ma®™
March 15, 2003, 01:39
Kantor Keadilan Peace Highlands.

Jodie dan Henry duduk mematung diruang tunggu. Kerut wajah Jodie jelas terlihat sangat marah. Henry hanya terdiam, sambil menggenggam jemari istrinya, sesekali mengusap rambutnya. Jodie mematung. Giginya gemeletuk menahan geram. Ini adalah yang ketiga kalinya Janet tertangkap basah menggunakan linting ganja dalam keadaan teler, mabuk dan telanjang bulat. Sungguh memalukan! Entah dosa apa keluarga Anthroph hingga ditimpa masalah memalukan yang selalu dibuat Janet. Jodie harus berjalan lebih depan dan menunjukkan betapa keluarga Anthroph adalah keluarga yang harus diperhitungkan! Sukses, kaya raya, disegani walaupun tidak pernah rukun. Tapi Janet selalu menghancurkannya dengan segala kebinalan dan kehidupan bebasnya yang jelas-jelas sangat tidak pantas diterima didesa kecil kolot ini.
"Nona Jodie..." panggil sipir.
Jodie masih mematung ketika Henry menyentuh pundaknya dan memberitahukan panggilan itu. Jodie tersentak dari lamunannya dan bergegas berdiri. Angkuh. Anggun. Citra perempuan ekslusif yang mandiri dan cerdas. Gaun panjangnya tergerai dengan anggun, lembut menyapu ubin. Janet keluar dengan sempoyongan, dalam balutan gaun seadanya. Dia ditangkap dalam keadaan telanjang bulat dan mabuk. Tidak heran jika gaun yang dikenakannya, sungguh tidak pantas dilihat. Menantang. Reflek, Henry membuka jasnya dan membalutkannya pada tubuh Janet. Lembut dan penuh kasih sayang. Penuh kedewasaan dan hangat. Janet tertunduk, sedikit merasa bersalah melihat raut wajah Jodie yang bagai ingin melumatkan dirinya. Henry menyambut tubuh Janet yang masih sedikit lemah karena pengaruh linting ganja itu dengan sabar, mendekapnya didada bidangnya. Ia menatap Jodie, menunggu. "Sekali lagi nona Janet Anthroph tertangkap, kami akan memenjarakannya. Hingga saat ini kami masih mencari pasangan intimnya. Harap diperhatikan dengan baik, Nona Jodie. Ini sudah yang ketiga kalinya. Lebih dari ini, aku khawatir tidak dapat lagi membantu Anda,"kata Samuel, kepala penjara. Dia begitu hormat pada keluarga Anthroph. Berwibawa. Jodie menahan gemeretak giginya. Tak ada sahutan. Menatap Janet dengan pandangan marah. Bara dimatanya bagai ingin membakar Janet hidup-hidup. Memalukan! "Terima kasih, Samuel. Kamu baik sekali,"jawab Henry, mengulurkan tangan. Samuel menyambutnya dengan senyum mirisnya. Mantap, henry menjabat tangan itu. Sangat bersahabat, lalu memberi sinyal bahwa dia akan pergi. Samuel mengangguk dan mengantarnya sampai kedepan pintu. Tanpa berkata sepatah katapun Jodie berlalu, menahan rasa malu. Janet bagai mencoreng setumpuk arang dimukanya. Susah payah Jodie menghapusnya, tapi selalu tercoreng lagi dengan ulah adik binalnya. Jodie berlalu, berjalan tegak lurus khas wanita bangsawan. Janet berjalan sempoyongan, erat dalam pelukan Henry suaminya. Sesekali Henry harus menarik jas yang melorot dari tubuh Janet, menutupinya dengan baik. Janet terdiam sambil memeluk pinggang itu erat, merasa damai dalam pelukan Henry. Tersungging sedikit senyum, misterius.

Ma®™
March 15, 2003, 01:39
“Memalukan!!”bentak Jodie. Ia menatap Janet dengan pandangan mata mendelik marah. Biasanya ia sangat tenang dalam menghadapi persoalan apapun tapi kali ini ia benar-benar marah. Janet terdiam, hingga akhirnya,”Mereka menjebakku!”belanya.
“Karena kamu pantas diberi pelajaran. Apakah tidak ada lagi rasa malu di otakmu sehingga yang kamu pikirkan cuma bersenang-senang dan berfoya-foya?!”tangkis Jodie. Ia menarik napas, berusaha tenang. Mungkin jika ia menghadapi Janet dengan lebih tenang, adik bandelnya ini akan melunak dan mendengarkannya. Bagaimana pun juga, Jodie mengakui ia hampir tidak punya waktu untuk Janet kecuali si malang Blessha. Anak ini terlalu liar, terlalu bebas dan terlalu keras kepala untuk diatur. Tapi setiap kali menatap cara berpakaian Janet, wajah cueknya yang seakan-akan tidak perduli akan amarahnya, tingkah polahnya yang tak terkontrol, emosi Jodie naik lagi sampai ke ubun-ubun. “Apakah tidak ada hal lain yang lebih menarik selain berfoya-foya, hura-hura dan pesta seksmu?”tanya Jodie, menyudut. Ia berusaha memelankan suaranya, berusaha keras mengontrol emosinya tapi kekesalan ini sudah terpendam terlalu lama. Sangat memalukan. Dan Jodie bukanlah seorang yang pandai bemanis kata seperti Janet. Karakter kerasnya, gaya bicara blak-blakkannya yang terkadang menyudutkan orang lain adalah hal positif dalam berbisnis karena ia selalu pintar dalam memenangkan saingannya, tapi juga merupakan hal negatif dalam berkomunikasi. Keras, tegas, langsung. Hal inilah yang sering memancing percekcokan keluarga, Jodie yang tegas dan keras, Janet yang keras kepala dan bandel. Sangat sulit diajak untuk kompromi.
“Aku? berfoya-foya? Aku tidak menghabiskan uangmu! Apa yang aku habiskan adalah milikku, aku dapatkan sendiri!”keras Janet. Ia mendengus kesal, membuang muka dan mencibir. Cuek.
“Milikmu? Ya. Aku tahu itu semua milikmu. Milikmu yang kau dapatkan dari teman-teman intimmu! Mau jadi apa kamu?! Lalu mana teman intimmu, siapalah itu kali ini? Mana pria yang kamu bawa tidur malam lalu, aku tidak melihatnya. Jangan katakan padaku dia kabur meninggalkanmu dalam keadaan teler dan......” Jodie tidak mampu meneruskan kata-katanya. Emosi yang berusaha ditekannya menyeruak naik, meninggikan saraf dikepalanya. Ingin sekali rasanya Jodie menarik Janet dan mengurungnya dalam kamar atau tahanan manalah yang tidak dapat membebaskan Janet sampai dia benar-benar sadar bahwa apa yang dia lakukan itu sangat memalukan! Nafasnya tersengal-sengal. Tapi tidak Janet. Ia menatap Jodie tajam. Bibirnya terkatup rapat, sebelum serentetan kata-kata pedas keluar dari bibirnya ketika Jodie mengingatkannya pada nama yang sejak semalam ia sumpah serapahi. ”Ya. Reene. Reene Kulham. Dia tidur bersamaku malam itu. Lalu mau apa. Apa yang ingin kau ketahui tentang kami? Aku akui dia laki-laki pengecut.”Janet menghentikan kalimatnya, menahan geram pada seulas nama Reene Kulham. “Pengecut dan pecundang. Tapi aku memiliki kehidupan sendiri dan kupertanggungjawabkan sendiri. Kau uruslah kuli-kulimu, bisnismu, suamimu dan adik kita Blessha yang malang,”
“Malang? Dia jauh lebih beradab dari kamu, Janet! Aku mengira kamu tidak menyayanginya. Bagimu, Blessha hanya pembuat malu karena keterbelakangannya sementara kamu tampil sempurna bak bidadari sensual yang mampu menaklukkan siapa saja! Tapi ingat Janet, Blessha tidak memalukan seperti kamu! Ia jauh lebih kuat dari kamu, semangat hidupnya, keinginannya untuk belajar dan menjadi lebih baik dari sebelumnya, tidak seperti kamu yang dari tahun ke tahun tidak ada perubahan baik!”
“Huh! Aku tahu keterbelakangannya, aku tahu kamu hanya sibuk mengurusnya disamping bisnis dan suami sempurnamu, karena itu kamu tidak dapat menikmati kehidupanmu sendiri, kamu tidak tahu apa itu kebebasan, kamu tidak tahu apa itu kehidupan malam yang penuh dengan gairah hidup karena kamu hidup dalam kemonotonan!! Kamu hidup dalam rutinitas yang membosankan sehingga kamu tidak dapat memahami orang lain!! Kamu bahkan tidak tahu bagaimana posisi yang menyenangkan, kamu bahkan tidak tahu apa itu variasi sekss!!!”bentak Janet. Mereka berhadapan, saling melotot dan menunjuk.

Teriakan-teriakan itu sampai terdengar diluar, dimana Blessha melantai dengan debaran di dadanya. Ia tertarik untuk mendengar percakapan di ruang baca yang kebetulan bersebelahan dengan kamarnya. Suara-suara keras itu memancing keingintahuannya, keterbelakangannya masih mampu menangkap dengan jelas apa yang mereka ributkan dengan tubuh gemetar.
Emosi Jodie memuncak, sehingga..”Blessha tidak pernah mempermalukan aku seperti kamu mempermalukan aku. Apa yang ia alami adalah keterbelakangan dan bawaan lahir!. Tapi kamu, lihatlah kamu. Aku memang hidup dalam kemonotonan, tapi lihat apa yang aku hasilkan dari kemonotonanku,...”
“Bisnis hebat, suami penurut yang dapat kamu maki, kamu perintah, kamu perlakukan seenaknya dan Blessha malang yang dimanjakan dan masih tidak mampu melakukan apapun! Kuli-kuli ladang yang kau kuras tenaganya dengan upah minim, sedikit iming-iming tapi kau....”potong Janet cepat.
“Aku mendapatkan segalanya! Aku membuat nama keluarga ini menjadi lebih baik, jauh lebih baik bahkan untuk seorang Blessha yang idiot ia tidak memalukan! Jangan bawa-bawa suamiku, Janet. Aku membuat kehidupan kita nyaman dengan segala kebutuhan yang dapat aku cukupi dari tanganku sendiri! Tapi kamu, kamu! Bertingkah polah seperti wanita jalang, ratu pesta, pecandu dan gila seks! Hal lain apa yang kamu ketahui selain tidur dengan sembarang pria dan tertangkap basah dalam keadaan bugil??!!”teriak Jodie. Urat lehernya nampak jelas di leher jenjang putihnya.
“Aku adalah kebebasan. Dan aku menyukainya! Aku menikmatinya walau aku harus menjadi wanita jalang, aku....” PLAK! “Pelacurrrr........!!!!!” teriak Jodie, lepas kontrol. Janet terpaku sejenak, kemudian meraba pipinya, panas.

Ia menatap Jodie dengan segala rasa yang bergejolak, sebelum Henry masuk dengan Blessha yang mengigil dalam pelukannya,”Cukup! Aku tidak memberikan waktu untuk saling menyalahkan!”
Blessha mengigil, ketakutan. Suara-suara keras itu menakutkannya. Begitu rapuh dalam pelukan Henry. “Kami belum selesai!”timpal Jodie. “Cukup kataku,”tegas Henry. “Tutup kembali pintu itu dan uruslah pekerjaanmu!”seru Jodie. Ia lepas kontrol. Emosinya sudah meletus, sehingga ia tidak perduli lagi dengan siapa ia berhadapan. Henry terdiam, ia berusaha memahami istrinya tapi ini adalah kesekian kalinya Jodie memperlakukannya dengan kasar. Ia sedang emosi, batinnya sabar. Seperti biasanya, Henry mengalah. Tapi sebelum ia memutar tubuhnya, ingin meninggalkan ruangan itu, Janet memanggilnya,”Henry!” Henry menoleh, diantara sisa hatinya yang malu dan terluka karena umpatan Jodie, wanita yang sangat dia cintai..”Wanita yang mendapatkan kamu adalah wanita yang paling beruntung. Tapi wanita yang memiliki kamu kali ini, adalah wanita super yang tidak dapat menghargai keberuntungannya.”kata Janet. Tajam. Terbuka. Ia menatap Henry dengan separuh emosi yang telah teredam dengan sempurna. Sosok Henry menyejukkan kemarahan Janet. Meredamnya. Bahkan untuk anak yang diberkati, Blessha yang erat memeluknya dalam gemetarnya. Lalu, Janet menatap Jodie yang berdiri mematung, merenungi kesalahan ucapannya membanting Henry didepan adik-adiknya. “Kamu adalah wanita super yang tidak dapat menghargai keberuntunganmu. Akan kupastikan dia berada ditempat yang seharusnya,”bisik Janet misterius, hampir tak terdengar. Debaran didadanya membuat bibirnya bergetar. Air matanya menggenang, hampir mengalir untuk membasuh pipi panasnya. Lalu ia berlalu menahan linangan air matanya, meninggalkan Janet, Henry dan Blessha yang tetap pada posisinya. Berjalan tegak lurus membawa luka hati, sedikit rasa malu, seulas dendam dan setumpuk rasa yang bergejolak ketika ia melewati Henry yang memandangnya tanpa mampu berkata apa-apa. Mata biru itu...Janet membuang pandangannya. “Ka-kak.....”panggil Blessha, spontan. Firasatnya menangkap sesuatu yang tidak enak telah terjadi. Tangannya menggapai, ingin menyentuh Janet. Janet menoleh, memandang Blessha dengan pandangan haru,”Maafkan kakak, Blessha. Jodie benar, kamu adalah adik yang kuat,” belainya. Dipaksakannya seulas senyum dan berlalu, melewati para pelayan yang berdiri berjejer mencari tahu.

Jodie terdiam. Ia memikirkan kesalahan ucapannya, tamparannya, bentakannya dan...kalimat Janet pada Henry berikut bisikannya yang entah mengapa, menimbulkan debaran aneh di hatinya. Perasaan yang sudah lama hilang dan ia bunuh ketika ia menjejaki dunia sepi yang ia ramaikan sendiri. Khawatir.....

Ma®™
March 15, 2003, 01:40
Janed termangu menghadap jendela. Bias matahari pagi menyentuh lembut kulit putihnya. Ia menarik nafas panjang, memikirkan pertengkaran semalam suntuk yang mengupas nuraninya. Terlintas kemarahan, kekecewaan, kesedihan dan dendam... "Pelacurrrr...." umpatan Jodie mengiang begitu pedas ditelinganya. Aku adalah sang penakluk, dan sang penakluk adalah aku, batinnya. Apa yang telah aku lakukan? Nurani Janet memaparkan kesalahannya. Janet tertunduk, melihat pelayan-pelayan keluarga Antroph yang mulai sibuk membersihkan kebun yang menghijau disekeliling puri Antroph yang begitu megah. "Janet.."sapaan itu mengejutkannya. Janet menoleh, dan menemukan Henry berdiri dibelakangnya. Sejenak ia tergagap, dan..."Oh..maaf. Aku..." ia tak meneruskan katanya2. Matanya sembab begitu melihat sosok Henry muncul dihadapannya. "Maafkan Jodie, Janet. Dia terlalu emosional. Ia lepas kontrol dan saya yakin dia tidak bermaksud menyakitimu.."desah Henry gundah. Memohon permohonan maaf atas diri istrinya, yang telah berulang kali menyakiti dan terkadang..menginjak martabatnya sebagai seorang laki-laki kepala keluarga Antroph. Janet menghambur dalam pelukan Henry, ia memeluk laki-laki tegap itu dengan segenap hatinya dan terisak. Bukan isakan haru, tapi ia menyesali mengapa Henry masih juga membelanya. Lengan kokoh itu balas memeluknya, terpaku di tengah ruangan kamar yang begitu elit dan elegan. Bias sinar matahari menerpa keduanya, menghangatkan. "Aku tidak mengharapkan kamu meminta permohonan maaf untuknya bila kau datang kesini.."bisik Janet. Ia merapatkan pelukannya dan semakin terisak. Berhentilah mencintai dia, Henry...teriaknya dalam hati. Henry bergetar. Tubuh sintal yang merapat dalam pelukannya menimbulkan desiran aneh. Tapi bukan tubuh seksi itu, bukan body sempurna itu yang menggetarkan kelelakiannya. Isakan itu! Jodie tidak pernah seperti itu, ia terlalu kuat untuk menangis. Bahkan terakhir kalinya ia melihat Jodie menangis ketika di pemakaman orang tuanya. Selebihnya, Jodie bagai wanita super yang sempurna, yang tidak membutuhkan perlindungan siapapun! Tapi lihatlah Janet..betapa ia merindukan untuk diperlakukan sebagai laki-laki yang patut dimintai perlindungan. Wanita lemah yang manja, dengan segala emosi, air mata dan keinginan untuk dilindungi. Janet...membuatnya bergetar dan menjadi seorang laki-laki..? Tangan itu mengelus rambut ikal Janet lembut. Perasaannya kacau. Ia mencintai Jodie, tapi Jodie seperti wanita super yang tidak membutuhkan kehadirannya. Sedangkan Janet membuatnya merasa dibutuhkan, dimana kehadirannya sangat diharapkan. "Henry..."bisik Janet. "Ya..?" "Saat yang paling berkesan dalam hidupku, adalah..." Janet tidak meneruskan kata-katanya. Henry terus mendekap Janet, menikmati getaran yang mengaliri nadinya, menanti kelanjutan kata-kata Janet, "Saat menemukan kamu di festival kota malam itu.." Henry terkesiap. Ia menatap Janet tak percaya. Mereka saling bertatapan, kenangan beberapa tahun yang lalu membentang...

------------------------------------

9 tahun yang lalu...


Kota tetangga diseberang Peace Highlands mengadakan festival kekerabatan untuk mempererat persahabatan yang telah terjalin selama itu. Festival itu diharapkan dapat memperlancar pembagian hasil bumi dan pendistribusin ke kota masing-masing. Festival besar itu menampilkan berbagai macam atraksi menarik, mulai dari tari-tarian, jamuan makan massal hingga atraksi adu ketangkasan ringan. Janet muda saat itu baru berumur 16 tahun. Ia datang bersama Jodie yang 5 tahun lebih tua darinya beserta rombongan keluarganya, pelayan-pelayannya kecuali Blessha yang baru berumur 13 tahun. Keluarga Antroph merupakan tamu kehormatan dalam festival itu, karena mereka memiliki banyak relasi orang-orang ternama. Janet muda yang saat itu mulai nakal tidaklah sebinal seperti saat ini. Ia dan Jodie mengikuti tarian massal dimana masyarakat sana boleh menari sambil berganti-ganti pasangan, bergandengan tangan diiringi musik yang meriah. Festival itu sangat meriah. Janet asyik menari dengan pasangan-pasangan pria pengganti, bergoyang seirama musik dengan hentakan-hentakan kaki yang selaras. Ia menjadi bunga malam itu. Kecantikannya, kemulusan kulitnya, keindahan tubuhnya telah nampak pada usia yang sangat belia. Rambut coklat ikalnya diikat keatas dengan topi bunga mungil yang tersemat manis dirambutnya. Janet asyik bergoyang, sebelum ia mendapatkan pasangan yang membuatnya terpana... Laki-laki itu, paling baru berusia 24 tahun. Tapi lihatlah mata biru itu, dan senyum yang tersungging dengan sederatan gigi putih yang terkembang. Sangat gentel, sangat maskulin dan membuat Janet jatuh cinta pada pandangan pertama. Sopan, laki-laki itu memperkenalkan dirinya dan mencium punggung tangan Janet lembut. Pipinya merona dan sedikit canggung, ia membalas gandengan tangan Henry Shamz dan menari, bergoyang mengikuti irama musik. Dan selama itulah, pandangan Janet tidak lepas dari mata biru yang menghipnotisnya dan mencuri hatinya diantara dentuman nada. Perkenalan itu, membekas dihatinya. Ia pun memperkenalkan Henry pada keluarganya dan terkejut ketika menemukan orang tuanya ternyata sahabat karib orang tua Henry. Festival persahabatan itu mengeratkan hubungan keluarga Antroph dengan keluarga Shamz. Tapi Janet masih sangat belia, masih sangat muda, sangat segar... ia tidak menyangka ketika Henry menemukan Jodie pada perkenalan pertamanya dan jatuh cinta pada Jodie yang angkuh, matang dan berkarakter. Janet runtuh dengan segala impian manisnya tentang sang pangeran. Hingga kedekatan Henry dan Jodie yang terasa begitu menyakitkan baginya, ditambah lagi kematian orang tuanya dimana Henry begitu tekun membantu Jodie meneruskan usaha keluarga hingga akhirnya menikahinya. Janet hanyalah type hura-hura, foya-foya, yang mungkin tidak sejalan dengan karakter Henry yang berwibawa, matang, dewasa dan tentunya menginginkan gadis yang tidak jauh berbeda dari karakternya...

Dan sejak saat itu, segalanya berubah. Janet mencari sosok seorang Henry Shamz diantara teman-teman prianya, tapi tak satupun yang dapat menggantikan pangeran sempurna itu dimatanya. Tanpa disadari, Henry telah mencuri hatinya saat itu dan tanpa disadari pula oleh Henry, Janet telah begitu lama mencintainya dengan diam-diam...

Ma®™
March 15, 2003, 01:41
Henry diam tak bergeming, memdekap Janet dalam pelukannya. Bias matahari pagi menerpa tubuh yang saling berdekapan itu, hangat. Janet tengadah memandang Henry, ia bagai anak-anak yang merindukan kehangatan seorang kakak. Pandangan matanya begitu sayu, tangannya terulur membelai rambut Hernry Shamz lembut. Begitu lembut dan penuh perasaannya belaian itu membuat Henry benar-benar bergetar. Janet merasa menjadi seorang wanita yang berperasaan. Punya cinta, punya sayang dan merindukan kasih sayang dan cinta sejati dari seorang laki-laki yang dicintainya. Sungguh kebinalannya musnah ketika berada dalam pelukan Henry. Ia masih tetap tengadah memandang wajah diam Henry ketika berbisik,
"Tahukah kamu...sudah lama sekali aku ingin merasakan dekapan seperti ini..dekapan yang aku rindukan dari orang yang aku cintai.." Janet berjinjit, menyentuh bibir tipis itu, melumatinya dengan penuh perasaan. Henry masih tetap terdiam, batinnya bergejolak diantara kenangan dan posisinya saat ini. Ia tidak menyangka Janet mencintainya, dan melampiaskannya dengan cara yang salah. Ia tidak membalas ciuman Janet. Ia tidak menerimanya, tapi juga tidak menolaknya. Jujur kecupan itu menyentuhnya. Janet kembali menatap Henry, memeluknya begitu erat. Beningan air matanya mengalir, tanpa isak tanpa tangis. Dengan suara datar ia kembali berbisik,"Sudah lama sekali aku merindukan ciuman ini. Ciuman yang aku bayangkan siang malam, dengan segala hasrat dan kerinduan yang harus aku tahan dan aku dapatkan setelah 9 tahun menunggu.. Henry...sejak saat itu, aku tidak pernah berhenti mencintaimu. Dan tidak sedetikpun aku berhenti mencintaimu..." tangannya turun, menyentuh dada bidang itu, membelainya sambil sesekali menggenggam lengan kekar itu,"Setiap kali melihat kemesraanmu, aku merasa sangat iri dan cemburu. Tapi apa yang harus aku lakukan? Itu sangat menyakitiku, tapi tetap tidak dapat membuatku berhenti mencintaimu..." Ya. Aku tidak dapat berhenti mencintaimu. Tidak sedetikpun. Waktu tidak dapat menjamah apalagi menghentikan cinta bisuku.

BRAK!
Pintu itu terkuak, Jodie berdiri didepan pintu, terkejut. Detak jantungnya bagai berhenti ketika menemukan Henry dan Janet saling berpelukan. Tapi ia hanya bisa mematung, melihat air mata Janet mengalir, balik memandangnya dengan tatapan dingin. Sekejap, suasana terasa mati. Tak ada kata-kata atau makian yang keluar. Yang ada hanya pertanyaan yang tak mampu ia jawab saat itu. Ia pun memucat. putih.

3 bulan kemudian…


Peace Highlands,
Penginapan Saturday Night, pukul 01.00am……

Sosok berbadan tegap mengetuk pintu sebuah losmen, ketukan dengan isyarat tiga kali itu segera mendapat jawaban. Seorang wanita, hati-hati mengintip melalui celah-celah pintu yang kemudian segera membukakan pintu bagi pria bermantel selutut, dengan wajah yang ditutupi oleh syal tebal sehingga menyulitkan orang untuk menebak siapa laki-laki berbadan tegap itu.

Kraaakkk….

Pintu terbuka, laki-laki itu segera masuk kedalam dan disambut dengan pelukan hangat penuh kerinduan dari wanita yang telah lama menunggunya. “Henry……”peluknya hangat, mesra. Laki-laki itu, Henry. Langsung membalas pelukan wanita itu dengan hangat. Senyumnya terkembang manis, sumringah. Janet tampak begitu manis dengan sikap yang penuh lemah lembut dan kemesraan. Bergegas, mereka saling berciuman. Masing-masing bergerak, saling melepaskan kerinduan sambil melucuti pakaian beserta semua yang dikenakan. Suasana remang-remang dan begitu dingin. Diluar sana, begitu hening. Desahan nafas yang berpacu memburu, penuh kerinduan, kehangatan dan rasa saling membutuhkan. Janet melucuti pakaian Henry penuh hasrat. Henry hanya bisa pasrah sambil sesekali memeluknya. Wajah-wajah bahagia diatas perselingkuhan yang telah mereka lakukan 2 bulan lamanya. Dan selama itu segalanya berakhir di tempat tidur. Selalu dilakukan diluar kediaman keluarga Antroph. Janet memiliki alasan kuat untuk jarang pulang karena kekecewaannya pada Jodie, seperti hal yang sering dia lakukan sebelumnya. Dan Henry, setelah cercaan Jodie, dia hampir tidak berhasrat untuk kembali menjadi suami ideal yang mati-matian mempertahankan pernikahan yang telah dingin tanpa status kepala keluarga dipundaknya. Janet dengan sisi seorang wanita yang butuh perlindungan telah menggodanya. Jodie sendiri begitu sibuk dengan kerjanya. Buruh-buruh ladang yang ia kuras untuk menghasilkan lebih banyak gandum karena ini terjadi pada musimnya. Henry lebih sering menghabiskan waktunya diluar rumah. Dan selama itu pula ia sering bertemu Janet di bar, disela-sela jam istirahatnya. Hingga akhirnya semuanya berkembang. Janet berubah, dia tidak sebinal dulu. Apa yang ia cari telah ia dapatkan walaupun ia berdosa akan hal itu. Apakah cinta begitu egois sehingga ia menempatkan dosa pada urutan kesekian???

Nafas itu memburu, seiring dengan berpacunya waktu. “Waktuku hanya sedikit, Janet. Mengapa kamu begitu memaksa untuk bertemu? Kita dapat melakukannya dilain waktu,” bisik Henry. “Tidak. Minggu depan kamu harus pergi ke Greentown. Aku tidak mau seharipun lewat tanpa bersamamu. Akan kupuaskan segalanya sebelum kamu pergi.”jawab Janet. “Hanya beberapa waktu,”kata Henry lagi. “Sewaktupun tak akan kurelakan kamu pergi dariku,”tutup Janet. Dan keduanya larut. Segalanya terjadi begitu cepat bersama terbakarnya bara. Waktupun merambat. Tempat itu hanyalah penginapan kelas menengah yang letaknya tak begitu jauh dari kediaman Antroph. Meja dengan perabotan sederhana yang tertata seadanya, tidaklah semewah penginapan Lovely Palace. Tak mungkin mau seorang Janet yang penuh gengsi menyentuh penginapan murahan seperti itu. Tapi tunggu dulu, ada seorang pangeran yang akan bertandang dan pesonanya yang menyilaukan telah menerangi segala kesederhanaan penginapan itu. Tempat yang mudah dijangkau keduanya dan Henry pun tak kesulitan kembali ke pelukan Jodie sebelum fajar.

BANG! BANG!! Janet dan Herny tersentak dari baranya,meloncat kesisi tempat tidur. Keduanya mendelik tegang kearah pintu. Seseorang berusaha mencoba merusak gerendel pintu. Tak sampai 2 menit gerendel itu rusak dan

Brakkkkkk!!!!!!
Pintu dengan kayu rapuh itu terbuka, menimbulkan suara yang sangat keras. Jodie berdiri di depan pintu dengan sebilah kampak ditangannya. Mendelik. Marah. Murka. Ia tak percaya pada penglihatannya. Diatas pembaringan itu, Henry dan Janet mematung dalam lindungan selimut untuk menutupi tubuhnya yang telanjang. Pucat pasi tanpa kata. Jiwanya seketika terbang. Ia membeku. Semuanya gelap.

Ma®™
March 15, 2003, 01:41
Jodie tepekur dikamarnya. Matanya sembab. Kejadian itu menari-nari dipelupuk matanya, membuat rasanya semakin mati. Sudah lama ia tak menangis. Tapi hari itu, ia menangisi dirinya. Apakah aku yang membuat kesalahan itu, sehingga ia menghakimiku? batinnya perih. Herny laki-laki yang sangat ia cintai. Tapi mungkin ia lebih mencintai pekerjaannya. Ia begitu puas, begitu bangga dengan kemampuannya mengurus hektaran tanah pertanian dan ratusan buruh pekerjanya. Aku adalah seorang wanita super yang tidak membutuhkan apa-apa karena aku dapat melengkapi diriku, mengurus diriku bahkan menjadi tokoh yang disegani oleh masyarakat desa kecil ini. Jodie mengusap kepalanya, ia meringis. Mungkin ketika ia terjatuh, kepalanyamembentur sesuatu. Ia telah mencium perselingkuhan itu sebelumnya. Tapi ia sama sekali tidak menyangka bahwa perselingkuhan itu benar bahkan memergokinya dengan mata kepalanya sendiri. Dia adik dan suamiku. Aku tak pernah mengurusi Janet. Aku tak pernah mengajarinya sebelum ia telanjur rusak. Dan Henry, aku mengurusinya, aku mencintainya, aku melayaninya tapi...apakah aku kurang menghargainya? Aku wanita hebat dan kepala rumah tangga di kediaman Antroph!! Jodie berperang diri. Ia tak ingin bertemu siapa pun juga, tidak juga Henry. Ia mengusir Henry dan Janet keluar dari kediaman keluarga Antroph. Selanjutnya, ia tak tahu harus bagaimana. Mungkin Henry telah mengurus uang suap untuk pemilik penginapan dan seorang pelayannya yang ikut memergoki dan menyadarkan pingsannya Jodie. Tentu saja. Jika tidak, bumi Peace Highlands ini sudah ribut. Perzinahan sangat diharamkan. Entah berapa banyak uang suap yang digunakan henry untuk menutup mulut saksi mata.

Jodie terbatuk. Kerongkongannya serak. Ia hanya ingin sendirian saja. Terlintas dibenaknya raut wajah memelas Henry yang memohon maaf dan akan menjelaskan semuanya. Maaf? Aku bukanlah pemberi maaf yang baik. Aku tak suka berkata maaf, karena itu akupun tak mau melakukan sedikitpun kesalahan. Dan sekarang aku harus memaafkan suatu perzinahan kotor yang menusukku dari belakang? Huh. Ia tak tahu kemana perginya Henry, juga Janet. Mungkin mereka meneruskan perzinahannya diluar desa sana. Perih. Memang tak semua keluarga Antroph tahu aib ini, tapi Jodie yakin mereka mengendusnya. Hanya orang-orang penting dikeluarga ini saja yang tahu, kecuali Blessha. Anak itu tak tahu apa-apa dan dia tak perlu tahu apa-apa. Jodie akan menghadapinya sendiri. Butuh waktu. Butuh kepercayaan dan keyakinan untuk membuatnya sembuh dari duka yang terasa sangat berat dipikulnya. Aku mencintaimu, Henry. Kulakukan semuanya untukmu. Tapi ternyata kamu lebih suka berbinal ria dengan Janet. Tak tahu malu. Binatang. Aku tak butuh binatang-binatang pengerat di rumahku. Aku akan membuktikan bahwa seorang Jodie adalah wanita sempurna yang tidak membutuhkan siapa pun juga. Aku memiliki segala-galanya. Aku tak perlu cinta yang berdusta.

Blessha duduk diatas ranjang, mendekap bantalnya. Kepalanya miring dengan mata yang sebentar2 melotot memperhatikan Samantha yang sedang membereskan buku-buku belajar yang berserakan. Jemarinya meremas-remas bantal, entah apa maksudnya. Liurnya sebentar-sebentar keluar dari bibirnya dan...sluurrrppp..... ia menghirupnya lagi dengan satu tarikan nafas berat. "Bi-bbi..."panggilnya lemah. Samantha menoleh, diam sesaat. Ia memasukkan buku terakhir kedalam laci, lalu menghampiri Blessha. Juling, Blessha memelototi Samantha sambil mengulurkan tangannya, ingin menyentuh Samantha. "Ja-net Hen-ry..ma-na."tanyanya putus-putus. Samantha menarik nafas panjang, berat. Entah apa yang harus ia katakan pada Blessha. "Pergi. Sedang pergi. Seperti biasanya, Blessha," "Ber-sa-ma Hen-ry...??"tanyanya lagi. Samantha terkesiap, entah tau dari mana anak ini. Tidak ada yang tahu pasti kejadian itu selain Jodie, Samantha dan Ahmed kepala penjaga kepercayaan keluarga Antrhoph. "Tidak. Nona Janet pergi ke kota lain.." "Ti-dak. A-a-aku men-den-gar-nya hhh...da-rri Ka-kak Jo-die." "Tidak mungkin, Blessha. Sekarang tidurlah. Kamu harus istirahat. Mereka akan kembali nanti," Samantha merebahkan Blessha ke tempat tidur dan menyelimutinya. Masih mendekap bantalnya, Blessha memelototi Samantha. Liurnya berceceran. Sabar, Samantha me-lap liur tumpah itu. "A-aku men-de-ngar-nya da-ri Ka-kak Jooo-die. Di-ka-mar. Ia ma-rah pa-da se-se-o-rang. Dan me-ngu-sir Ka-kak Hen-ry da-ri si-nniii," "Tidak, Blessha, tidak. Mereka hanya bertengkar sesaat dan itu wajar pada pasangan suami-istri. Nanti mereka akan rukun sendiri, sekarang tidurlah!"tegas Samantha sambil merapikan selimutnya dan bergegas menuju pintu. Anak ini memang agak idiot, tapi bukan berarti ia tidak bisa menganalisa keadaan dengan batinnya. Toh batinnya tetap normal, hanya kemampuannya berinteraksi, berbicara dengan lingkungan saja yang terbatas. Anak ini, peka.

"Bi-bi..."panggil Blessha lemah sebelum Samantha menutup pintu kamar. "Ya?" Samantha menyempatkan menjawab, mungkin ada yang diperlukannya.

"A-aa-ku i-ngin pu-nya te-man. A-kkku in-gin.....me-ni-kahh..."

Ma®™
March 15, 2003, 01:43
Dua bulan setelah kepergian Janet dan Henry...


Reene Kulham tak terlalu lama menunggu. Santun, ia berdiri dan mengecup punggung tangan Jodie yang menyambutnya dengan dingin. Dia mengacuhkan pandangan dingin Jodie dan membalasnya dengan sikap simpatik. Jodie tak bergeming. Dia tahu betul siapa Reene Kulham. Teman intim Janet ini tak ubahnya seperti ular berkepala dua. Sisi luar sangat simpatik. Tapi dalamnya, tak bernyali. Menjijikkan.

"Jadi, Tn. Kulham...angin apa yang membawamu kesini?"tanya Jodie dengan pandangan mengejek. Suaranya bergema diantara pilar-pilar yang menjulang menopang kaca bundar bermozaik ditengah-tengah ruangan. Berkas sinar masuk diantara mozaiknya, memantulkan warna-warna lembut yang menyapu dinding ivory dan membias diantara lantai-lantai marmer berwarna gelap. Di pojok tengah ruangan terdapat tangga bercabang dua menuju sisi kiri dan kanan beralaskan karpet merah tua. Ruang tamu yang tertata rapi, juga beralaskan karpet merah tua sebagai alas sofa. Wewangian bunga bertebaran hampir disemua ruangan. Jodie Antroph penggemar bunga. Ia senang menurunkan kegemarannya pada adik kesayangannya, Blessha yang juga betah berlama-lama untuk belajar bertanam bunga atau sekedar menikmati harumnya. Buket-buket bunga segar tersemat dipojok-pojok ruangan, diatas meja, memberi warna hidup pada interior serba kelam itu. Jendela besar di kiri-kanan ruangan berhorden putih transparan memberikan pemandangan luar yang menghijau menyejukkan mata. Nikmati lembah hijau dibawah terik matahari, atau selami keindahannya kala senja, dimana lembah-lembah tampak samar tertutup kabut yang bersayapkan mentari jingga. Bunga-bunga harum di luar jendela dengan kelopak yang menyembul tepat dibawah jendela. Lukisan-lukisan mahal, benda-benda koleksi berumur lebih dari satu abad. Sungguh citarasa tinggi yang bernuansa seni. Mewah. Romantis. Dingin. Juga lenggang membuat tapak kakipun bergema. Lalu,"Jika anda datang untuk mencari Janet disini, anda salah besar. Kupikir seharusnya anda lebih tahu dimana dia berada,"

Reene Kulham bersenyum. Santai, ia duduk setelah mengikuti Jodie sebagai tuan rumah, menghenyakkan ******nya diatas sofa mewah dengan beludru merah tua. Dalam hatinya, ia mengagumi sosok Jodie. Tapi bukan tipenya. Dia suka wanita sensual dan hangat seperti Janet. Tak perlu pintar menata rumah atau berbisnis. Reene punya puluhan pembantu, ratusan budak, asset-asset kekayaan tak ternilai. Tak kalah dengan keluarga Antroph. Reene menyukai Janet yang bisa tertawa selepas-lepasnya,bertindak apa adanya menyuarakan kebebasan hatinya. Kebebasan bertindak yang tidak dimiliki oleh wanita manapun di Peace Highlands. Sosok yang tidak terikat pada hukum, norma dan adat istiadat. Tentunya, wanita yang pandai menyenangkan hatinya. Dan ia yakin Jodie Antroph bukanlah type wanita seperti itu. "Tentu saja tadinya aku datang untuk mencari Janet. Tapi aku telah mendengar desas desus..."ia tidak meneruskan kata-katanya. Dinikmatinya delikan mata Jodie yang menusuk sinis. "Anda kupersilahkan untuk pergi, apabila Anda datang hanya untuk menanyakan desas desus murahan itu," "Tidak terlalu murah untuk bayaran perginya seorang suami dan seorang adik,"jawab Reene simpatik dengan senyum dikulum penuh arti. Jodie diam. Ditatapnya Reene dengan gigi gemeletuk. Tangannya terkepal, meremas renda gaunnya geram. "Hmm...harap Anda tidak tersinggung, nona Jodie. Saya datang bukan untuk berdebat. Tapi saya datang...untuk mengajukan penawaran.."katanya menetralisir suasana. "Maaf. aku tidak berbisnis dengan orang seperti Anda. Kupikir Anda dapat menemukan pebisnis lain yang lebih handal, aku hanyalah pemula dan aku tidak berminat untuk menjalin hubungan apapun dengan anda"elak Jodie.

Pembicaraan terhenti. Blessha muncul didepan pintu, digandeng Samantha. Seperti biasanya setiap sore Samantha mengajaknya memutari taman luas keluarga Antroph untuk mengajaknya jalan-jalan. Pandangan Reene terhenti. Sejenak ia beradu pandang dengan Blessha yang sebentar-sebentar mendelik. Samantha memapahnya masuk. Tapi toh Blessha tidak melepaskan pandangannya dari Reene Kulham yang simpatik. Ia bahkan sampai harus membalikkan tubuhnya untuk memandang Reene. Spontan, Reene bangkit dari duduknya, tersenyum dan menganggukkan kepalanya begitu santun. Diam-diam Jodie memperhatikan sikap Reene. Dia cukup terhibur karena Reene tidak menunjukkan pandangan jijik yang selalu didapatkan adik malangnya. Syukurlah ia masih bisa bersopan santun didepan adik idiotnya. Reene tersenyum, mengikuti berlalunya Blessha dan Samantha yang menghilang dibalik ruang tamu. Kembali duduk dengan posisi kaki kanan yang ditopangkan pada dengkul kiri. santai. Dibalik senyum itu, tersimpan pemikiran gila yang menurut Reene sangat sinting tapi harus dijalani apabila ia masih mau melihat Janet muncul dihadapannya. Janet memang binal. Dan Reene Kulham, playboy kelas kakap penakluk hati. Toh ia tak dapat mengingkari kenyataan bahwa ia: mencintai Janet Antroph. Aku adalah sang penakluk. Tapi Janet Antroph, bidadari liar itu telah menaklukkan aku dan membuat aku sangat menderita. Terlintas dibenaknya salam-salam rindu yang ditolak Janet mentah-mentah, hadiah-hadiah mahal yang dikembalikan Janet ketika ia mencoba mendekati Janet beberapa bulan terakhir ini. Sangat aneh, menurutnya. Janet sangat gila dan sangat senang dihadiahi barang-barang mahal. Dia sangat gila akan barang mewah. Jiwa penakluknya tertantang. Tapi ia lebih memikirkan perasaannya. Aku tak ingin kehilangan dia, batinnya. Dia memang binal. Tapi aku tidak akan dapat menemukan wanita seperti ini diseluruh bumi Peace Higlands. Belum tentu juga jika aku harus mati dan hidup kembali untuk kesekian kalinya. Tapi sikap Janet belakangan ini sangat membuatnya tersinggung. Ternyata, perubahan itu didasari pada cinta Janet pada Henry yang sedang indah-indahnya berbunga. Pantas ia mengacuhkan Reene.

"Jadi, apakah Anda berubah pikiran, Tn. Kulham?" Jodie memecah keheningan. Reene tersenyum,"Tidak, Nona Jodie. Aku tetap pada tawaranku. Aku datang untuk melamar Blessha,"

Jodie tersentak. Tanpa sadar ia langsung berdiri dari duduknya. Alisnya mengernyit dengan mata mendelik yang kemudian menyipit penuh curiga. Sore itu lenggang. Angin yang bertiup dari kisi jendela membawa wewangian bunga. Diluar sana, matahari senja sedang memancarkan kemilau jingga. Udara mulai dingin. Tapi tidak membekukan pikiran Jodie dari sentakan tawaran Reene Kulham. MUSTAHIL!

Aku tak ingin kehilangan dia, batinnya.
Dia memang binal. Tapi aku tidak akan dapat menemukan wanita seperti ini diseluruh bumi Peace Higlands.
Belum tentu juga jika aku harus mati dan hidup kembali untuk kesekian kalinya.

"Bibi, apa yang harus aku lakukan?"tanya Jodie pelan. Ia, Samantha dan Ahmet kepala rumah tangga kepercayaan kumpul di ruang baca. Malam itu begitu dingin, tapi tak mampu mendinginkan pikiran yang berkecamuk dibenak ketiganya. "Kupikir Tuan Reene Kulham memiliki maksud lain, nona. Tak mungkin dia akan menikahi Blessha,"pendapat Samantha. "Hmm...akupun berpendapat demikian. Setahuku dia sangat menyukai Nona Janet, jadi tidak mungkin tiba-tiba dia mau menikahi Blessha,"sambung Ahmet. "Jadi maksudmu dia memiliki keinginan lain yang tidak terlepas dengan Janet?"tanya Jodie. Keduanya mengangguk. "Tapi Blessha ingin sekali menikah, mengapa tidak kita izinkan?" "Menikah? Bagaimana mungkin orang seperti Tuan Kulham mau menikahi Blessha? Ia mampu mendapatkan gadis lain yang jauh melebihi Blessha,"kata Samantha. "Bibi, Blessha hanya ingin memiliki teman dan dia tidak pernah memiliki teman seumur hidupnya apalagi seorang teman laki-laki. Aku hanya ingin ia menikmati hidup dengan wajar, seperti gadis-gadis lain," Jodie mengurut keningnya, pusing. "Maaf Nona, tidakkah nona pikirkan bagaimana kehidupan Blessha setelah itu? Dia tidak mungkin dapat dibanggakan oleh Tuan Kulham. Jelas aku yakin tidak akan ada cinta dalam pernikahan itu,"sambung Samantha. Tatapannya tajam menghujam Jodie, ia sama sekali tidak menyetujui pernikahan itu. "Nona...pikirkanlah sekali lagi. Pernikahan ini tidak mungkin dilakukan, sangat mustahil untuk dilakukan,”pinta Ahmed. Ia adalah kepala rumah tangga keluarga Antroph. Sudah lama sekali ia ikut keluarga Antroph, tak lama setelah Samantha diselamatkan oleh orang tua Jodie. Ia cukup disegani oleh buruh-buruh ladang walaupun berkulit hitam. Umurnya sedikit lebih muda dari Samantha. Ia banyak membantu Jodie dalam urusan pekerjaan. Bisa dibilang ia adalah tangan kanan Jodie. Bijaksana, tegas, berloyalitas tinggi dan sangat setia pada keluarga Antroph.

Ma®™
March 15, 2003, 01:43
Jodie berdiri, menghadap jendela. Dewi malam telah mengembangkan gulitanya. Suasana puri begitu lenggang. “Aku harus memutuskannya sekarang,”desis Jodie menerawang. “Nona, pikirkanlah sekali lagi,”pinta Samantha. “Aku hanya ingin Blessha punya teman. Mungkin saja kehidupan mereka akan rukun setelah mereka punya anak,”terawang Jodie. “Nona. Blessha akan mati jika punya anak. Dia tidak akan mampu, pikirkanlah itu!”tegas Samantha. “Tidak mungkin bagi anak seperti Blessha untuk melahirkan, sama saja Anda membunuhnya,”lanjut Samantha. Ahmed tak berkomentar. “Ada sesuatu yang diinginkan Tuan Reene dari keluarga ini, kupikir pasti berkaitan dengan Nona Janet. Mungkin dia menikahi Nona Blessha hanya untuk mendekati atau tidak ingin berpisah dengan Nona Janet”gunamnya. “Ha. Apa yang akan dilakukan Janet setelah tahu kekasih gelapnya menikah dengan adiknya?”sinis Jodie. Penuh dendam. “Kupertimbangkan pendapat kalian. Tapi aku tetap berkeras pada pendapatku, bahwa Blessha pantas untuk memiliki seorang teman. Akan kutanyakan padanya dan biarkan dia memutuskan.”akhir Jodie sepihak. Samantha dan Ahmed saling bertatapan. Jodie sangat keras, tak seorang pun yang dapat menentang keinginannya. “Cukup adil bukan? Kita tanyakan pada Blessha, biarkan dia memutuskan. Akan kujelaskan semua duduk permasalahannya...dan biarkan dia memutuskan. Aku hanya mencoba memberinya kesempatan untuk merasakan hidup yang sesungguhnya, hanya itu saja. Apakah aku salah? Terkadang kita harus berani berjudi dan mengambil resiko, itulah hidup. Lebih baik mencobanya daripada tidak sama sekali. Kita tidak akan tahu bagaimana hasilnya sebelum mencobanya. Lagipula aku bukan orang yang tolol, akan kuajukan penawaran pada Reene Kulham. Jangan khawatir, Bibi, Ahmed. Aku tidak akan membiarkan dia menyakiti Blessha. TIDAK AKAN PERNAH!!” putus Jodie. Samantha dan Ahmed hanya menarik napas. “Aku adalah wanita sempurna yang memiliki segalanya. Tapi lihat, aku gagal dalam perkawinanku,"pahitnya. "Mungkin Blessha memiliki nasib yang lebih baik dibalik kekurangannya... Aku akan mempertimbangkannya...”

Dua hari berlalu. Tidak terdengar kabar setuju atau tidaknya Jodie dengan tawaran Reene. Blessha sendiri tidak menampiknya. “A-ku in-ngin pu-nya te-man,”katanya. Tawaran itu membuat Jodie benar-benar pusing. Pagi itu, Jodie begitu sibuk diladangnya, mengurusi buruh-buruh ladang yang ia kuras tenaganya untuk menghasilkan lebih banyak lagi. Terlihat ia membentak seorang buruh dengan umpatan kasar,”Aku tidak perduli dengan apa yang akan terjadi pada istrimu, apakah dia akan melahirkan atau tidak. Tapi selesaikan dulu perkerjaanmu, setelah itu kau boleh pulang!” “Tapi Nyonya, aku harus menemaninya...ia akan melahirkan hari ini, berilah aku sedikit kelonggaran waktu, akan kutebus dengan kerja lembur setelah istriku melahirkan,”pinta si buruh. “TIDAK!! Keluar dari sini jika tetap melanggar perintahku! Aku memberikan apa yang harus aku berikan. Upah, istirahat dan makan yang cukup. Sekarang, kupinta apa yang harus aku dapatkan karena aku telah memberikan apa yang harus kalian dapatkan!”seru Jodie. Boro, buruh malang itu hanya bisa tertunduk sedih diiringi tatapan miris teman-temannya. Istrinya sedang hamil tua dan akan melahirkan anak pertamanya. Setidaknya ia harus ada disana untuk membantu proses persalinan karena tempat tinggalnya cukup terpencil sedangkan dukun beranak yang dipanggilnya baru datang dua hari lagi. Ia hanya meminta izin untuk tidak masuk satu hari saja, untuk memanggil dukun beranak itu datang hari ini juga karena istrinya akan melahirkan pagi ini, lebih cepat dari dugaan dukun beranak itu sebelumnya. “Sudahlah, Boro. Semoga istrimu baik-baik saja. Mungkin hanya perasaanmu saja istrimu akan melahirkan hari ini,”hibur temannya. “Nona Jodie kejam sekali,”keluh Boro sedih. “Aku khawatir sekali akan nasib istriku,” Boro melenggang pergi, kembali bekerja dengan separuh hati. Ingin rasanya nekat pergi, tapi tidak mungkin. Sangat sulit mendapatkan pekerjaan. Lagipula Jodie menetapkan sistim yang keras, dimana gaji buruh hanya diberikan 75% dari gaji penuhnya, sisanya disimpan Jodie sebagai tabungan, katanya. Jika ia keluar dengan cara yang tidak hormat, ia tidak akan mendapatkan tabungannya. Sistim itu sudah berlaku turun temurun di keluarga Antroph. Sangat sulit mendapatkan pekerjaan dimasa krisis yang tidak menentu. Mereka seharusnya bersyukur masih bisa mendapatkan pekerjaan.

“Jodie...” Jodie menoleh. Raut wajahnya terlihat kusut dikalungi masalah terus menerus belakangan ini. Ia hampir meledak ketika menyadari pemilik suara itu,”Kamu? Mau apa kamu kesini?”sinisnya. “Jodie...kamu tidak memiliki sedikitpun rasa kasihan. Berilah dia waktu libur,”kata Janet kalem. “Huh. Apa urusanmu. Masih tidak cukup untuk menghancurkan hidupku? Tidak tahu malu. Aku tidak menyangka kamu masih berani menampakkan muka disini,”sindirnya. “Aku datang hanya untuk memintamu berpikir....”Janet menarik nafas sejenak,”Jangan biarkan Reene menikahi adik kita,” Jodie mengernyitkan alisnya. Ia berjalan memutari Janet, memelototinya dari ujung rambut hingga ujung kaki. “Hmm...tahu dari mana kamu? Oh ya..aku hampir lupa, adikku yang satu ini memang memiliki banyak teman, jadi....sangat wajar jika dia tahu..."ledeknya. "Kamu masih merasa punya adik? Apakah kamu pernah merasa bahwa kamu juga memiliki kakak? Kamu tidak merasa memiliki apapun!! Jika kamu merasa memiliki keluarga, kamu tidak akan menghancurkan pernikahanku!! Kamu....kamu...merebut suamiku!!” “Jodie...itu sudah berlalu, aku...” “Tidak akan pernah berlalu bagiku, Janet. Kamu menghancurkan segalanya. Dan sekarang, aku tidak pernah merasa memiliki adik sepertimu. Tidak tahu malu!!” “Karena itu, Jodie. Jangan kamu menghancurkan Blessha. Reene seorang yang sangat licik, dia menikahi Blessha hanya untuk balas dendam,” Janet berusaha sabar. Terik matahari sangat menyengat. Kemarahan Jodie sudah sampai ke ubun-ubun. Ia begitu marah, gemas dan terluka. “Janet. Aku akan menikahkan Blessha dengan Reene Kulham,"geramnya. “Jodie...pertimbangkan lagi, kamu menghancurkan hidup Blessha jika melakukannya,”pinta Janet. “Jangan menghakimi aku dengan cara seperti ini, aku akan menanggung segala dosa-dosaku padamu, tapi kumohon...jangan libatkan Blessha,”mohon Janet. Ia merasa sangat berdosa pada Jodie. Dosa yang membuatnya tak berani ketus pada Jodie. Sadar atau tidak, Janet telah berubah. Ia lebih kalem dan lebih tenang setelah kejadian itu. “Tidak, Janet. Aku akan menikahkan Blessha dengan Reene. Kamu boleh datang pada pesta pernikahannya...” Jodie berbalik dan pergi. Ia sangat terluka. Tanpa ia sadari, air matanya menetes. Ia menangis diantara luka dan kepedihannya. Jodie benar-benar marah dan terluka. Ia meninggalkan Janet yang masih berdiri, memandangnya dengan tatapan pilu.

Ma®™
March 15, 2003, 01:44
Dendam......
selalu memberikan akhir yang tidak menyenangkan.

Ma®™
March 15, 2003, 01:45
Rumah Boro, setengah mil dari pusat kota Peace Highlands...


Maya mendesah berat. Ia terbaring diatas dipan, dengan posisi menelentang dengan kaki terikat dan terkangkang, hampir siap untuk melahirkan. Sebentar-bentar ia meringis menahan sakit. Lori, tetangga terdekatnya pergi mencari dukun beranak. Sebelumnya ia sempat mengikat tangan dan kaki Maya dengan posisi menelentang hingga membentuk huruf X, seperti pengalamannya ketika melahirkan Nezam, anak perempuannya. Nezam, anak perempuan Lori yang baru berusia 12 tahun duduk disamping Maya sambil memegang kain kumal basah, untuk menyeka keringatnya. "Sebentar, bibi...mama sedang pergi mencari bantuan, bertahanlah..."rapalnya berulang-ulang dengan tubuh gemetar. Baik Boro suami Maya ataupun Saseem suami Lori, sama-sama bekerja di perkebunan keluarga Antroph. Seharusnya Boro sudah pulang dari tadi, batin Maya tak mengerti. Kelahiran anak pertamanya ini sangat sulit baginya tanpa bantuan dukun beranak. Maya, perempuan bertubuh kurus itu baru berusia 18 tahun. Berkulit hitam, rambut sepinggang, berperawakan sedang. Sangat muda, tapi sangat biasa bagi penduduk sana menikah dalam usia muda. Kelahiran anak pertama ini sangat sulit bagi Maya, apalagi tanpa bantuan siapapun. Seharusnya ia tidak akan semenderita ini jika prosesnya tidak lebih cepat dari waktu yang telah diperkirakan dukun beranak. Jarak rumah yang satu dengan yang lain agak jauh, apalagi rumah dukun beranak itu sendiri. Maya menjerit tertahan, ia tidak kuat lagi. "AAAkkkhhhh....sshh...sshh..."pekiknya. Nezam gemetaran, mundur beberapa langkah. Ia menatap Maya dengan pandangan takut, tubuhnya bergetar hebat. Tak terasa anak kecil itu terisak tanpa seorangpun datang untuk membantu. Maya mencengkram alas kain dengan mata melotot, keringatnya membanjir. Bau amis bercampur jadi satu dalam gubuk sederhana itu. Jeritannya menggambarkan rasa sakit yang dirasakannya. Nezam hampir terbirit jika ia tidak ingat kalau Maya adalah sahabat ibunya. Perempuan lembut ini sering menemani Nezam apabila Lori pergi ke perkebunan untuk bekerja sebagai buruh harian di perkebunan Antroph.

"Bibi Maya...bertahanlah..mama hampir sampai..."isaknya berulang-ulang. Ia mulai tak dapat menahan tangisannya melihat kondisi Maya yang sekarat berperang ajal. "Borooo......"jerit Maya histeris. Kaki yang terkangkang itu menegang diiringi jerit kesakitan yang keluar dari bibir luka yang digigitnya sendiri..."AAAAAKKKHHHHH......"pekiknya lepas, menggelinjang tegang dengan tangan terikat. Pergelangannya terkelupas, terluka oleh sentakan-sentakan kesakitan yang dideritanya. Sebentar-sebentar ia mencoba mengedan untuk mendorong janin itu keluar dari perutnya tanpa bantuan orang lain. Tapi janin itu bagai tak bergerak sedikitpun untuk keluar dari perut Maya. Butuh seseorang untuk membantu menekan perut dari atas kebawah agar janin itu dapat segera keluar. Perempuan kurus itu tersengal-sengal, janin itu masih berkutat diperutnya. Akhirnya, dengan sisa tenaganya yang terakhir, ia mendorong kandungannya. "AAAAAAAKKKKKKHHHHHHHHHH............." jeritnya lepas dengan mata melotot. Entah apa yang dirasakannya terkuak dari pangkal pahanya, tanpa daya timbal balik untuk menekan, ataupun menarik janin itu keluar dari tubuhnya. Maya tergeletak dengan sisa nafas yang terakhir. Tubuh itu lunglai tak berdaya, dengan sorot mata yang menggambarkan betapa ia menderita berperang ajal untuk menyelamatkan dirinya dan kandungannya. Ia tergeletak tak bernyawa. Ia tak dapat menyelamatkan dirinya. Tak dapat pula menyelamatkan kandungannya. Dan tak ada pula yang dapat menyelamatkannya.

Diluar, hari mulai sore. Nezam berlari keluar, menjerit dan menangis sejadi-jadinya. Anak perempuan itu menjerit histeris dengan gema yang ditelan rerimbunan pohon raksasa disekelilingnya. Diujung pandang sana, tampak Lori dan dukun beranak berduyun-duyun menuju rumah. Nezam segera berlari jatuh bangun menyerbu arah datangnya Lori. Sekilas, Lori terkesiap melihat kepanikan anaknya dan segera berlari menghampiri...

Kepiluan tak terelakkan. Tak tahu harus menyalahkan siapa, tak tahu harus berbuat apa. Lori hanya bisa menyuruh Nezam pergi ke perkebunan Antroph, mencari Boro untuk memberitakan berita duka itu.

Kematian Maya, istri Boro meninggalkan luka yang mendalam bagi Boro. Perkawinannya masih sangat muda. Dalam hatinya sangat marah dan benci pada Jodie Antroph. Kalau saja Jodie mengizinkannya pulang pagi itu, mungkin Maya akan selamat. Maya, wanita lembut yang sangat dia cintai itu sangat manis. Perkenalannya sudah 5 tahun yang lalu setelah itu baru Boro berani meminangnya. Apa boleh buat, apa daya. Ia hanyalah buruh ladang kecil yang sesekali dapat didepak Jodie Antroph. Tak ada yang berani bersuara, apalagi protes. Masih untung diberi pekerjaan, daripada mati kelaparan ditengah krisis yang melanda bumi desa kecil itu.

Boro, hanya dapat menyimpan luka hati dan kesedihannya dalam hati yang bagai tenggelam diantara hiruk-pikuknya kota kecil itu menyambut pernikahan semarak Blessha Antroph dan Reene Kulham...

Blessha sedang berdiri mematut diri didepan cermin, dibantu Samantha dan 3 orang penjahit untuk mencoba gaun pengantinnya. Ia berusaha keras untuk berdiri dengan kepala tegak diam. "Ssshhh...."ia mendesis kagum. Samantha membantu penjahit menjepit beberapa bagian pada pinggang yang agak kedodoran. "Berdiri tegak, Blessha.."pinta Samantha. Sejenak, Blessha berdiri tegak namun tak lebih dari satu menit, gadis tanggung itu kembali bungkuk. Tangannya tak bisa diam, selalu gemetar membuat penjahit yang sedang mengukur bagian tangan agak kewalahan. "Auucchhh..."pekiknya. "Maaf, maaf Nona..maaf.."mohon salah seorang penjahit yang sedang berusaha menjepit baju di lengan Blessha. Samantha mengelus-ngelus lengan kecil itu,"Hati-hati,"peringatnya. Si penjahit mundur beberapa langkah, bingung bagaimana harus menusukkan jarum untuk mengepas bagian tangan yang agak kedodoran. "A-ku can-tik...??"tanya Blessha terputus-putus. "Ya, sayang. Cantik sekali,"jawab Samantha sambil tersenyum. Gaun pengantin warna krem itu, begitu anggun bersahaja. Model bahu terbuka dengan rose mungil yang tersemat pada lipatan-lipatan gaun. Bagian dadanya terbuka, mencoba menonjolkan lekukan tubuh yang dimiliki Blessha. Renda dengan bordiran emas di ujung-ujung gaun menyentuh lantai. Bagian belakang gaun itu sendiri dibuat sedikit lebih panjang dari gaun depannya, dengan lipatan-lipatan pada punggung gaun sehingga kelihatan lebih mengembang. Pada bagian lengan, jahitan yang menyempit pada siku lalu melebar hingga jari tangan dengan bahan renda halus. Bunga rose mungil tersemat diantara sambungannya. Motek-motek dengan taburan mutiara dan bordiran emas didepan gaun sungguh memberikan kesan mewah. Bahkan gaun ini lebih mahal dari gaun pengantin Jodie Antroph. Desainer gaun itu sendiri, Wilma Kruz adalah desainer kesayangan Janet Antroph. Tarifnya sangat mahal, tapi sangat pantas jika kita melihat hasil rancangannya. Dan kepada Wilma-lah Jodie meminta untuk mendesainkan sebuah gaun mewah untuk Blessha. "Aku ingin Blessha kelihatan seperti putri. Kamu harus mampu menutupi segala kekurangannya,"pesan Jodie. "Nona, jangan banyak bergerak, sangat sulit mengepas gaun ini jika nona terus-menerus bergerak,"pinta Wilma berusaha sabar. Ia bukanlah tipe seorang yang penyabar, tapi melihat keadaan Blessha, mau tidak mau Wilma harus sedikit bersabar. "A-ku di-am"kata Blessha pelan. Ia melirik Samantha yang sebentar-sebenar menghapus liur yang keluar dari mulutnya. Blessha mematut dirinya didepan cermin, cantik. Anggun. Matanya berbinar-binar.

Ia hanyalah seorang gadis lugu yang ingin memiliki teman. Sayang, hidup tidaklah semudah membalikkan telapak tangan.

"Blessha!" Blessha menoleh. Janet berdiri didepan pintu dengan pandangan tegang. "Ka-kak"senyumnya terkembang. Samantha sendiri terkejut melihat kehadiran Janet. Janet menghampiri Blessha, sekilas ia kagum melihat adiknya dengan gaun pengantin itu. Binar dimata Blessha, kehangatannya yang memeluk Janet erat. Nelangsa, Janet membalas pelukan itu dengan pandangan lurus ke Samantha. "Ke-ma-na sa-ja ka-kak" Senyum Janet tampak dipaksakan. "Kerja, Blessha. Aku sekarang bekerja,"jawabnya. "A-ku a-kan me-ni-kah" "Ya, aku tahu."lesu Janet. "Kamu cantik sekali, Blessha," dan,"Rancangan yang bagus, Wilma,"puji Janet. Wilma tersenyum mengangguk. Begitu banyak kalimat yang ingin diucapkan Janet, tapi lidahnya begitu kelu begitu menemukan kebahagiaan Blessha. Betapa ia ingin membatalkan pernikahan itu...tapi semuanya tak mampu ia lakukan. "A-ku a-kan pu-nya te-man,"senyum Blessha. "Ya...aku telah mendengar semuanya," "Ka-kak ju-ga ha-rus can-tik, khekhekeh.." "Blessha, biarkan Wilma mengepas gaunmu agar enak dikenakan, dan kamu akan menjadi putri paling cantik,"puji Janet. Ia menghampiri Samantha, meninggalkan Blessha yang kembali dikelilingi penjahit.

"Bibi..apakah semuanya sudah dipikirkan dengan matang?" Samantha menarik nafas panjang,"Entah Nona. Bibi merasa sangat khawatir,"keningnya berkerut, wajah tua itu kelihatan begitu prihatin. "Kemana saja Nona selama ini? Kami sangat mengkhawatirkan Nona,"desah Samantha. "Aku tinggal disuatu tempat, Bibi. Tidak mungkin kembali kesini, Jodie sangat membenciku,"Janet membuang pandangannya, dan menemukan pantulannya dicermin oval setinggi dirinya. Sekilas, terselip rasa malu dibenaknya. "Bibi, batalkanlah pernikahan ini. Aku tahu seperti apa Reene," Samantha menunduk, bergunam lirih,"Seandainya aku bisa, Nona. Tapi aku berharap, apa yang akan terjadi ini akan membawa akhir yang bahagia,"katanya sambil menatap Blessha dengan pandangan miris.

Ma®™
March 15, 2003, 01:45
Cuplikan:

Malam pengantin itu biadab. Bukan hanya perlakuan kasar Reene pada Blessha tapi juga kata-katanya. "Dari dirimu, aku hanya berhasrat untuk menikmati bagian tubuh dari leher kebawah. Selebihnya, aku tak mampu. hsssshhhhh..." ia memacu Blessha yang berteriak-teriak kesakitan dengan tangan mengapai mencari pegangan "Aaaa-aakkhh..."teriaknya tak berdaya. AH! "Hssshhhh! Dan kamu harus belajar pada Janet betapa pandainya ia melayaniku," Reene bagai kesetanan,"AAhhh...Aku tak percaya kamu masih perawan,"desisnya penuh kemenangan, meninggalkan Blessha yang tergeletak lemas dengan tubuh biru lebam...

Ma®™
March 15, 2003, 01:46
Janet baru saja menuruni anak tangga terakhir ketika ia berpapasan dengan Reene Kulham. Acuh, dengan cueknya ia melangkah pergi meninggalkan Reene yang tersenyum memandangnya.
“Janet..”panggil Reene sambil menarik tangan Janet ketika akan melaluinya. Janet menoleh dengan tatapan sinis. Reene tersenyum sumringah,”Lama tak bertemu, kamu semakin cantik saja,”pujinya. Muak, Janet menghempaskan tangan Reene dan melangkah pergi. “Aku akan menikahi Blessha, Janet”kata Reene menggantung, menunggu respon. Janet menghentikan langkahnya, lalu bahu itu memutar, berbalik memandang lurus ke Reene. “Satu-satunya makhluk yang paling menjijikkan yang pernah aku kenal adalah kamu, Reene. Terlalu menjijikkan sehingga kamu harus menempuh cara seperti ini,” Tersenyum, Reene menghampiri Janet, berdiri tegak lurus dihadapannya dan tiba-tiba kedua tangannya menggenggam jemari tangan Janet lembut,”Kamu cemburu?”senyumnya. Senyum itu seharusnya meluruhkan hati setiap wanita. Begitu manis, begitu macho dengan tubuh tinggi tegap, dada bidang yang terbalut stelan rapi. Rambut pirangnya tersisir rapi dan wajah itu klimis. Sepintas Janet melihat sedikit perubahan dalam diri Reene Kulham yang dulunya agak brewokan dengan sisiran rambut yang tergerai sekenanya...tapi toh ia tetap keren. Wajah itu beradu, senyum Reene semakin mengembang, ingin mengecup bibir itu. Janet langsung membuang muka dan mendorong tubuh tegap itu.

Seketika kebenciannya merebak,”Kamu pengecut!”geramnya “Batalkan pernikahan ini, kamu tidak pantas untuk adikku! Tak pantas untuk hidup. Tidak tahu malu.” Acuh, Reene memalingkan muka, menikmati lenggangnya ruang tamu elegan itu. “Batalkan pernikahan ini, Reene!”seru Janet sekali lagi. “Menikahlah denganku.”tangkis Reene. Janet mendelik,”Aku tidak akan sudi menghabiskan waktuku untuk laki-laki sepertimu. Pengecut!” “Tampaknya kamu masih mendendamiku, bukan maksudku meninggalkan kamu waktu itu...aku telah berusaha membangunkan kamu, tapi kamu terlalu mabuk. Jadi....” “Ke_parat kau!!”maki Janet. “Aku telah menebus kesalahanku, Janet. Makanya aku datang kesini mencarimu...tapi..kabar yang terakhir kudengar...” Reene tersenyum penuh arti. Janet semakin muak. “Aku ingin sekali kamu mati!”makinya lagi. Reene tergelak,”Kamu akan merindukanku, kamu akan merindukan segalanya dariku Janet, akuilah kita adalah pasangan yang tidak dapat terpisahkan. Hanya tolol sekali jika kamu harus berselingkuh dengan suami kakakmu itu...apakah tidak ada laki-laki lain selain dia..atau kamu yang terlalu rakus sehingga iparmu sendiri harus kau lahap,”sindir Reene. Nafas Janet memburu, kebenciannya semakin merebak dengan muka merah padam. “Batalkan pernikahan ini, Reene!!”bentak Janet. “Aku telah memberikan penawaran untukmu, menikahlah denganku...” Puih! Janet meludah. Kasar. “Kalau begitu, nikmatilah pernikahan kami,” Reene berjalan memutari Janet,”Nikmatilah segalanya...Kamu akan melihat adik kesayanganmu duduk disampingku, dan malam pertamanya...akan penuh dengan kenangan. Dia akan mengingat aku untuk selama-lamanya...huh...sayang sekali, Janet. Sesungguhnya....aku terpaksa menikahinya. Dia sama sekali bukan typeku. Sangat berbeda denganmu, sangat bertolak belakang tapi...”ia berhenti dan berbisik ditelinga Janet,”Dia masih perawan!”bisiknya penuh kemenangan. Janet langsung menampar pipi itu keras. Begitu keras dan cepatnya membuat Reene tak sempat mengelak. Tamparan itu mengenai daerah seputar pipi dan telinga. Berdenging. Ia mengelus pipinya pelan, menatap Janet penuh marah. Seumur hidupnya ia tak pernah dilecehkan seperti ini. Ia selalu dipuja dan menjadi pusat perhatian dimanapun dia berada. Apa yang tidak dapat aku miliki? Angkuhnya.

“Aku tidak akan mengampunimu jika kamu menyakitinya!”marah Janet. “Aku tidak akan mengampunimu jika kamu menyakitinya, Reene Kulham!”ulang Janet sekali lagi, kerasnya suara bergema diantara pilar-pilar tinggi yang lenggang. Memancing seseorang yang baru saja tiba untuk ikut mendengarkan percakapan itu.

“Aku akan membunuhmu! Aku akan membunuhmu!!”seru Janet sambil bergegas berlalu. Reene Kulham mematung, mendengar gema langkah kaki beranjak pergi yang semakin menghilang. Pikirannya berkecamuk, kemarahannya menyesak didada. Bukan ancaman itu yang ia khawatirkan. Tapi penolakan Janet. Tamparan Janet menyakiti hatinya. Ia menoleh sekeliling, mencari kalau-kalau ada seseorang yang ikut menguping atau melihat kejadian itu. Lalu ia pun pergi dari tempat itu. Lenggang.

Tapi...ternyata ia tidak sendirian. Hampir tanpa bersuara, Jodie melangkah pergi sambil menyimpan bait kata terakhir ancaman Janet...

Ma®™
March 15, 2003, 01:47
Apakah perkawinan tanpa cinta akan bahagia? dan apakah cinta tanpa perkawinan pun akan selalu berakhir tragis? Aku tidak tahu. Tapi apabila perkawinan tanpa cinta itu terjadi dan akibat terakhirnya adalah k e h a m i l a n ........ apakah anak yang dilahirkan nanti dapat dinamakan b u a h c i n t a ? ?

Ma®™
March 15, 2003, 01:48
Reene Kulham di kediamannya, bersama Jack pelayan prihadinya yang mengurusi segala keperluan Reene...

"Tuan, semua keperluan Tuan telah aku sediakan, ada perintah lagi untukku?"tanya Jack sopan. "Segalanya sudah? Hmmm...cek sekali lagi, aku tidak ingin ada yang tertinggal. Aku ingin tampil sesempurna mungkin." "Baik, Tuan." Jack melangkah ke pintu, tapi ketika hendak keluar ia berbalik,"Maafkan aku jika aku lancang, Tuan. Tapi Tuan sungguh-sungguh ingin menikahi Nona Blessha Antroph?" Reene tersenyum seadanya, melemparkan pandangannya ke luar jendela...menikmati taman lapang yang menghijau diantara perbukitan. "Tentu saja, Jack. Aku akan menikahi Blessha. Tapi kamu sangat mengenalku, aku tidak akan sungguh-sungguh menikahinya. Aku hanya ingin membalas penolakan Janet. Dia sangat sombong. Aku ingin melihat apakah dia masih dapat berkutat dengan kesombongannya, setelah menyadari suka duka adikknya ada ditanganku," "Saya mengerti, Tuan. Maafkan kelancangan saya,"tunduk Jack sopan. "Tak apa-apa. Karena itu persiapkan segalanya dengan baik. Aku tak ingin tercela sedikitpun dihadapan Janet. Dan aku ingin Jodie menyadari betapa beruntungnya Blessha, bahwa masih ada orang sesempurna aku yang menikahi adik idiotnya. Tenanglah. Aku tahu apa yang harus aku lakukan. Biarkan orang bergunjing. Aku tidak setolol dugaan mereka..."

Akhirnya, hari pernikahan itu tiba sudah. Puri Antroph benar-benar meriah dengan hiasan-hiasan indah yang benar-benar memamerkan kekayaannya. Bunga-bunga disepanjang ruangan, keharumannya merebak kesegala penjuru. Para pelayan dengan seragam bagus dan rapi, masakan-masakan lezat yang entah berapa banyak disediakan Jodie untuk dinikmati tamu-tamu kehormatannya. Pernikahan Blessha Antroph dan Reene Kulham benar-benar gemerlap. Kemewahannya jauh melampaui pernikahan Jodie sendiri. Begitu banyak pengunjung yang mengagumi kecantikan Blessha, keindahan gaun dan perhiasannya, tapi dibalik semua itu...mereka menggunjingkan keidiotan Blessha yang sebentar-sebentar berliuran, atau bergetar dengan kepala miring ke kanan dengan mata mendelik-delik. Betapa Blessha bahagia. Dia mencintai Reene dan jatuh cinta pada play boy tampan itu pada pandangan pertama. Sikap Reene begitu bersahaja. Dia melemparkan senyum bahagianya pada setiap undangan, menyalaminya dengan hangat dan penuh suka cita seolah-olah dia telah mempersunting gadis yang paling dicintainya. Tak ada seorangpun yang akan menduga topeng dibalik semua itu. Betapa Reene muak melihat kekurangan Blessha, jijik harus berhadapan dengan liurannya, merinding harus menatap delikan matanya dengan kepala miring dan tubuh yang terkadang kelojotan. Tapi, bukan Reene Kulham jika ia tidak dapat menyimpan semua sikap antipatinya. Dia begitu sabar membimbing Blessha untuk duduk, atau menggandengnya mesra mengitari tamu, menyapanya dalam obrolan-obrolan ringan. Dan diapun tampak begitu sayang pada Blessha, dengan sikap mesranya yang sebentar-sebentar mencium kening Blessha, merapikan gaun panjangnya yang kadang terinjak oleh Blessha sendiri, atau memeluknya kala tubuh kurus itu kelojotan. Tak ada seorangpun yang menduga, bahwa dibalik semua itu, Reene Kulham hampir muntah dan jijik.

Jodie sendiri tersenyum penuh suka cita menyalami para undangan yang hadir. Anggun penuh kharisma. Sifat khas Jodie, wanita elegan yang berkelas.

Reene Kulham tampil sempurna malam itu. Dia bagai seorang pangeran dengan mempelai yang serba kekurangan. Tapi toh Reene harus mengancungkan jempol pada dirinya sendiri untuk kesempurnaan aktingnya. Menikmati pandangan puas Jodie Antroph pada sikap hangatnya, menikmati pandangan benci Janet Antroph pada kemesraannya. "Munafik!"desis Janet ketika menyalaminya. Reene tersenyum hangat, "Terima kasih, aku akan menjaganya,"balasnya. Janet benar-benar muak. Dia hanya dapat berdiri berjejeran dengan Ahmed dibelakang karena Samantha duduk didepan berdampingan dengan Blessha dan Jodie. "Aku tak percaya pernikahan ini akan terjadi, tapi aku berharap mereka bahagia, Nona,"kata Ahmed tanpa melepaskan pandangannya dari pasangan pengantin. "Ya, semoga. Tapi aku tetap tidak percaya pada Reene Kulham. Dia sangat licik." Ahmed menoleh,"Kita memang patut untuk mencurigainya, tapi kulihat dia sangat menyayangi Blessha. Semoga saja mereka bahagia, Nona," Janet tak menjawab. Sejenak ia terpana memperhatikan sesosok tubuh bermantel selutut dengan topi hitam berkelebat diantara pelayan-pelayan yang hilir mudik membawa hidangan. Detik berikutnya Janet langsung berlari mengejar bayangan itu....."HENRY!!"panggilnya. Tubuh itu tak langsung berhenti, dia tetap bergegas pergi menerobos keramaian. Janet mengejar, hingga disebuah taman yang agak sepi tubuh itu berhenti.

"Henry..."panggil Janet lemah, dan..."Aku tahu itu kamu. Kamu tidak dapat mengelabui aku," Tubuh itu berbalik pelan, menyingkapkan seraut wajah yang begitu dirindukan Janet. Spontan, Janet langsung memeluknya begitu erat. Sepintas tubuh itu oleng diterjang Janet, kemudian bergetar karena eratnya pelukan. "Aku tahu itu kamu, Henry. Kamu dapat mengelabui semua orang dipesta itu, tapi tidak aku. Tidak aku, cintaku. Karena aku mengenalmu dengan mata hatiku. Bahkan aku dapat membaui tanah pijakanmu, karena mata hatiku mencintaimu..."bisiknya. Penuh gelora rindu. "Janet...aku tak mau dilihat orang..aku harus pergi.."elak Henry pelan. Dia hanya memeluk pinggan ramping dengan ****** sekal itu lemah.
"Bawa aku, aku ingin selalu bersamamu, aku sungguh-sungguh merindukanmu, Henry...jangan pergi lagi, aku mohon..." "Aku harus pergi, Janet. Aku tidak mau melakukan kesalahan. Aku tidak ingin menyakiti Jodie, mengertilah..." "Kalau begitu katakan dimana kamu tinggal, aku akan datang."mohon Janet. "Tidak, semuanya telah berakhir ketika semuanya terbongkar. Kita tidak mungkin bersama, tidak. Karena bagaimana pun juga aku masih suami Jodie. Dan...aku masih mencintainya..." Janet mematung dengan hati terkulai lemas. Pelukannya mengendur, hingga akhirnya dia melepaskan pelukannya, menatap Henry dengan pilunya. Melepaskan tubuh tegap itu berbalik pergi. Saat itu, musik lembut mengalun dari ruang tengah. Saatnya berdansa, lagu tradisional masyarakat desa itu mengiringi kaki-kaki yang mulai melangkah untuk berpasang-pasangan.

Ma®™
March 15, 2003, 01:49
Lagu itu mengingatkan Janet pada peristiwa 9 tahun yang lalu, saat pertama kalinya dia mengenal Henry, berdansa dengannya dan jatuh cinta untuk pertama kalinya pada pandangan pertama. "Henry!!"panggilnya. Tubuh itu tak berhenti sama sekali. Lalu..."Sembilan tahun yang lalu, aku jatuh cinta padamu. Saat itu, pada pesta itu, dengan lagu ini. Saat itu, Henry...untuk pertama kalinya aku mengenalmu. Hingga detik ini...AKU MASIH MENCINTAIMMU!!!"serunya. Tak perduli seruan itu mengganggu tamu-tamu undangan pesta. Tentu saja mereka tidak akan terganggu, musik bertalu-talu didalam sana. Henry menghentikan langkahnya. Janet menghampirinya, memandangnya dengan air mata berlinang. "Aku mencintaimu. Aku selalu mencintaimu. DAN KAMU TAHU ITU!!" Dan, dia menundukkan tubuh dan kepalanya, tangannya terbuka dengan posisi berdansa. Henry tidak dapat lagi mengelak. Dia menyambut tangan itu, lembut bergoyang mengikuti musik. Sayup-sayup. Dingin menggigit diluar sini. Tapi bara dihati mereka, menghangatkan segalanya. Janet bagai melayang, ingatannya kembali pada peristiwa 9 tahun yang lalu. Dia bagai melayang, mendewakan laki-laki ini diatas segalanya. Janet mencintainya. Henry tahu itu. Tapi sayang, dia tidak menyadari seberapa besar cinta Janet. Gadis binal ini, berubah.

Henry meninggalkan Janet dengan sebuah kecupan dikening dan hangatnya pagutan dibibirnya. Membiarkan air mata Janet mengalir melepaskan laki-laki yang dicintainya, menghilang diantara pekatnya pepohonan.

Dari dalam, sepasang mata basah mengawasi keduanya tak bersuara. Jodie....

"Sampaikan salamku pada Blessha. Katakan padanya aku turut berbahagia atas pernikahannya. Dan tolong katakan pada Jodie...aku menyesal. tapi aku harus pergi. Mungkin suatu hari nanti, dia dapat kembali menerimaku. Katakan padanya, aku akan menunggu.."

Kata-kata itu bergema diantara rerimbunan pohon. gaungnya menghantam keras perasaan Janet. Menatap manusia yang dicintainya berbaur dengan pekatnya malam. Bagaimana mungkin kulupakan pesonanya?

Dan,
mereka ada disini. Samantha memapah Blessha memasuki kamar pengantinnya. Malam ini mereka memang berpesta dan bermalam dikediaman Jodie, mempertimbangkan kondisi Blessha. Jodie hanya ingin memastikan segalanya berjalan baik, dibawah pengawasannya. Entah apa yang harus Blessha lakukan, ia sendiri tidak mengerti. Reene masih bermabuk ria bersama teman-temannya dibawah. Samantha membantu Blessha melepaskan gaun pengantinnya, menggantinya dengan gaun tidur berbahan lembut. Blessha duduk didepan cermin, bingung. "Bi-bi...a-pa yang ha-rus a-ku la-ku-kan?"tanyanya. "Heemmmm.....Nona..kamu sekarang telah bersuami, Bibi kan sudah mengajarkan apa yang harus kamu lakukan,"jawab Samantha sambil menyisir rambut Blessha. "A-ku ta-kut," "Tidurlah. Suamimu akan membimbingmu nanti. Dan..terimalah perlakuannya, itu adalah tanda cintanya padamu. Mungkin akan terasa sakit sedikit, tapi itu adalah tanda bahwa dia mencintaimu. Dan setelah kalian mengulanginya, semuanya akan terasa sangat indah,"papar Samantha sambil berjongkok didepan Blessha, mengelus rambut itu lembut. Ia begitu sayang pada Blessha, ia sangat mengasihinya. "Ta-pi a-pa yang ha-rus a-ku la-ku-kan?" "Nona...kamu tidak harus melakukan apapun. Kamu tidak perlu merencanakan apapun. Kamu akan melakukannya sendiri karena semuanya digerakkan oleh hatimu. Kamu akan dengan sendirinya mengikuti keinginan suamimu, karena kamu mencintainya. Sayangku, selalu ada pengorbanan yang dalam pada diri seorang wanita, tapi kamu adalah wanita luar biasa yang akan mengorbankan dirimu demi orang yang kamu cintai, demi cintamu. Seperti kayu yang mengorbankan dirinya demi api, agar tercipta bara yang indah untuk menghangatkan segalanya..."

Pintu kamar terkuak, Jodie masuk menghampiri Blessha. "Ada apa? Bagaimana puteri jelitaku?"tanyanya pada Samantha. Samantha bangkit dari jongkoknya,"Nona Blessha sedikit khawatir pada malam pengantinnya, Nona,"jawab Samantha. "Oh...Blessha..." Jodie menggenggam tangan itu lembut,"Blessha...kamu akan melaluinya dengan baik. Seperti kakak dulu, tapi...semuanya terasa sangat indah..."mata Jodie menerawang, membayang sesosok tubuh yang dia cintai sekaligus dia benci. "Tapi...kakak berharap perkawinanmu akan lebih baik. Dan Reene akan menjagamu dengan baik. Kamu pasti bisa, karena itu adalah ungkapan cinta dari dua insan yang saling mencintai..." Ya...semoga saja.

Namun...cinta seperti apa yang membuat seseorang mampu untuk melukai, menyakiti dan kemudian...m e n c a m p a k k a n ? ?

Ma®™
March 15, 2003, 01:50
Reene masuk ke kamar dalam keadaan sempoyongan dengan botol minuman ditangannya. Sesekali ia menabrak meja, jatuh dan bangun lagi, berjalan sempoyongan menghampiri Blessha yang meringkuk ketakutan melihat Reene yang begitu berbeda dari biasanya. "Blesshaaa.....hahaha... akhirnya kamu menikah juga ya?" ia menengguk habis sisa minumannya. Bau alkohol merebak dari tubuhnya yang biasa harum dan rapi. Malam itu Reene tampak begitu berantakan. "Tahukah kamu....kamu telah menikahi Reene Kulham. Pemilik Istana Kulham termegah, terkaya dan....." ia kembali menabrak kursi dan terduduk,"dengan segala sesuatu yang dapat aku miliki hanya dengan menjentikkan jariku...laki-laki paling berkuasa dan paling tampan disegala...." Ia berdiri, menghampiri Blessha. Blessha mundur ke ujung ranjang, ketakutan. Merapatkan dengkulnya, menguncinya dengan pelukan lengannya. Ia sempat mengejang beberapa kali karena shock menemukan kelakuan Reene yang sungguh diluar bayangannya.

Reene berdiri didepan ranjang dengan angkuhnya. Pakaiannya berantakan, ia benar-benar mabuk. "Blessha. Kamu memang wanita yang beruntung. Tapi hahha...kukatakan kepadamu, adik manis... Satu-satunya alasan mengapa aku menikahimu adalah....karena JANET! Dia menolakku. Saudara perempuan binalmu itu telah MENOLAKKU! Dan aku, Reene Kulham pantang menerima penghinaan itu. Jadi...kunikahi kamu. hahaha...aku menikmati semua pandangan marahnya, semua sumpah serapahnya.....karena kecemburuannya. Blessha, aku dan Janet adalah pasangan yang tidak terpisahkan. Kami saling mencintai. Bahkan Janet terlalu mencintai aku sehingga dia rela membiarkan aku menikahi adik idiotnya. Janett...dia bagai dewi fortuna yang sempurna dalam segala hal! Sedangkan kamu....lihatlah kamu hhhhhh...mimpi ini terlalu indah untuk ada dalam genggamanmu. Kamu kunikahi hanya untuk balas dendam...hahhahhahha...." Reene tertawa terbahak-bahak, sementara Blessha benar-benar shock mendengar semua itu. Dan tubuh kurus itu mulai mengejang. Ia selalu kejang-kejang apabila mengalami sesuatu yang tak mampu diterimanya. Tubuh itu langsung terbaring diranjang dengan kaki terkangkang dan mengejang. Giginya gemeletuk dan saling beradu seakan berusaha menahan sesuatu dengan gigitannya. Matanya terbeliak. Berliuran. Yang ada dalam pikirannya adalah dia tidak percaya segala itu adalah dusta. Reene jahat. Perasaannya hancur. Belum lagi semua cacian, hinaan dan kenyataaan yang Reene buka disela-sela ceracaunya, benar-benar menghancurkan Blessha. Tangan itu terkepal, menggenggam sprei ranjang. Dia mengejang, kram akut.

Reene tidak membuang kesempatan. Dia naik keatas ranjang, mencengkram tubuh kurus itu dan merobek gaunnya dengan kasar. Sesekali ia menampar dan memukul Blessha tanpa perasaan kasihan sedikitpun. Gadis malang itu menjerit kesakitan dengan bibir berdarah dan muka kebiruan. Ia tidak pernah membayangkan malam pengantinnya akan sekasar itu. Untuk membayangkan sebuah malam pengantin penuh cinta pun, mungkin tak pernah terlintas dibenaknya. Reene menggaulinya dengan brutal. Ia begitu menikmati rasa sakit dan jerit tangis Blessha. Seperti itulah Reene. Reene Kulham yang dianggap Janet memiliki kelainan seksual. Tapi berbeda dengan Janet, dia dapat menjadi teman intim yang sepadan dan ikut menikmati kekasarannya. Tapi Blessha...dia hanyalah seorang gadis idiot yang masih sangat lugu dan mengalami kali pertamanya bergaul, bersentuhan dan berdampingan dengan seorang laki-laki. Bagaimana mungkin dia siap menerima perlakuan seperti itu?

Malam pengantin itu biadab. Bukan hanya perlakuan kasar Reene pada Blessha tapi juga kata-katanya. "Dari dirimu, aku hanya berhasrat untuk menikmati bagian tubuh dari leher kebawah. Selebihnya, aku tak mampu. hsssshhhhh..." ia memacu Blessha yang berteriak-teriak kesakitan dengan tangan mengapai mencari pegangan "Aaaa-aakkhh..."teriaknya tak berdaya. AH! "Hssshhhh! Dan kamu harus belajar pada Janet betapa pandainya ia melayaniku," Reene bagai kesetanan,"AAhhh...Aku tak percaya kamu masih perawan, tidak seperti Janet. Dia seperti pela_cur murahan yang mau melayani siapa saja yang disukainya. Huh. Apa yang tidak dapat kumiliki? Aku mampu memberikan segala-galanya!!"cecaunya.

Akhirnya, tubuh itu tergeletak lemas bersimbah peluh. Langsung terlelap bersama kepuasannya, meninggalkan Blessha yang tergeletak lemas dengan tubuh biru lebam. Gadis malang itu hanya mampu menangis. Segala dayanya telah terkuras untuk mempertahankan kesadarannya. Ia tak pernah membayangkan malam pengantin sesadis ini. Pelan, ia merapatkan kakinya, menahan keperihan yang mendalam. Wajahnya memerah, penuh bekas tamparan. Sekujur tubuhnya penuh cakaran, dengan rambut awut-awutan bekas jambakan Reene. Tubuh itu penuh luka yang berdarah. Tapi hatinya lebih terluka lagi. Segalanya berdarah. Dan telah dipenuhi oleh darah....

Ma®™
March 15, 2003, 01:50
Kata orang, cinta itu penuh dengan kelembutan.
Tapi mengapa aku harus terluka?

Katakanlah aku masih terlalu lugu dan buta akan cinta,
tapi bukankah apa yang menjadikan aku seperti hari ini...
adalah cinta?

Lalu mengapa kamu melukai aku?
Tak cukupkah aku mencintai kamu, sehingga kamu harus melukaiku?

Maafkan aku atas segala kekuranganku.
Tapi yang dapat kuberikan cuma satu,
aku mampu mencintai kamu, lebih dari yang pernah kamu dapatkan.
Lebih dari segalanya. Melebihi diriku sendiri.



-Blessha-

Ma®™
March 15, 2003, 01:50
Cuplikan:


Kakak, dia suamiku.
Tak kumiliki sesuatupun selain dia suamiku
Jangan curi dia dariku,
aku mencintai segalanya dia.

Ma®™
March 15, 2003, 01:52
Namun,

penderitaan Blessha berlanjut. Ia tak berdaya melihat tingkah Reene Kulham yang melecehkannya dengan cara hura-hura bersama teman-temannya ataupun membawa pulang perempuan-perempuan jalang untuk ditidurinya. Blessha yang gagap, tak mampu mengeluarkan sepatah katapun untuk melarang suaminya bertindak seenaknya. Ia hanya menjadi bahan tertawaan suami dan teman-temannya. Ia hanya dapat menangis sendirian dikamar yang ditidurinya sendirian. Ia sendirian sejak malam pertamanya. Reene tak pernah lagi menyentuh atau memperdulikannya. Ia asyik bersama teman-temannya. Sedikitpun ia tak merasa bersalah membawa pulang perempuan-perempuan jalang, bercinta disetiap sudut tempat diinginkannya. Teriakan-teriakan erotis yang didengar Blessha setiap malam sangat menyiksanya. Tapi apa yang dapat dilakukannya? Tapi ia tak menyesal mengenalnya. Ia tak menyesal mencintainya. Ia pun tak menyesal mengawininya. Reene Kulham adalah laki-laki pertama dalam hidupnya. Bagaimana mungkin Blessha dapat melupakannya?

Bahkan gadis malang itu hanya dapat mengutuki dirinya sendiri, atas ketidak normalan dirinya untuk menjadi seorang wanita sempurna bagi Reene. Betapa ia ingin setegar Jodie Antroph atau sesensual Janet. Betapa ia bermimpi untuk menjadi seorang Janet Antroph yang telah membuat suaminya tergila-gila membicarakannya setiap hari. Ia hanya dapat mengutuki dirinya.

Betapa ia merindukan kasih sayang kakak dan pengasuhnya, pelayan2 Puri Antroph. Disini, puri megah ini terlihat sangat dingin, tanpa sentuhan kehangatan. Pelayan-pelayan cuek, pengasuh yang seadanya merawatnya tanpa kasih sayang. Tak ada seorangpun yang perduli atau menghormatinya. Tak jarang Blessha menerima cacian, umpatan bahkan teguran apabila ia menumpahkan sup kala ia mencoba menyuapi makanannya sendiri, atau menjatuhkan gelas kala ia ingin menggenggamnya. Jemari kurus yang bergetar, gemetaran kala ia ingin menyuapi makanan kemulutnya. Hanya sedikit yang masuk ke lambungnya. Sisanya lebih banyak tumpah dimeja. Karena itu tubuh itu semakin kurus. Belum lagi perlakuan sinis karena teguran, ejekan dan hinaan. Betapa idiotnya istri laki-laki sesempurna Reene Kulham. "Saya tak percaya Tuan Reene menikahi wanita seperti Anda." atau,"Saya bukan pengasuh yang dapat mengurus semua keperluan Anda, Nona. Saya juga mempunyai pekerjaan lain, kepentingan-kepentingan lain yang harus saya kerjakan. Belajarlah mengurus diri Anda sendiri karena saat ini Anda sudah berstatus seorang Istri. Bagaimana mungkin Anda dapat mengurus suami Anda apabila untuk mengurus diri Anda sendiri, Anda tidak becus?"

Blessha Antroph yang malang itu belajar banyak dari hinaan para penghuni kediaman Reene. Ia belajar untuk makan sendiri, berjalan sendiri sambil memegang meja atau menyenderi tembok walaupun ia harus jatuh bangun, menjatuhkan vas-vas mahal koleksi keluarga Reene Kulham. Mencoba mengenakan pakaiannya sendiri, walau ia harus merobek beberapa gaun mahal itu karena tangan kakunya yang selalu gemetar. Menyisir rambutnya, mendandani dirinya walau ia harus ditertawan satu puri karena bedak make up yang belepotan. Blessha Antroph...tak pernah membayangkan kehidupan seperti ini akan dialaminya setelah pernikahan. Anggapan bahwa semua orang sebaik keluarga besarnya sangat salah. Ia mulai kebal dengan hinaan walau betapa hatinya terluka karenanya. Ia ingin sekali menjadi seorang gadis yang normal, gadis yang dapat melayani dan dibanggakan suaminya. Gadis malang itu, akan belajar segala hal, akan menerima segala hal dengan harapan......ia akan dicintai oleh suaminya. Sedikit saja cinta.

Mulut itu selalu terkunci. Ia tak pernah menceritakan penderitaannya pada siapapun, termasuk Jodie yang menjenguknya seminggu sekali bersama Samantha. Dan selama itulah Reene Kulham berlaku manis apabila Jodie datang. Ia hanya dapat menikmati peluk dan ciuman dari laki-laki yang dicintainya seminggu sekali. Tapi ia bahagia karenanya. Perlakuan yang penuh kehangatan itu hanya didapatnya kala Jodie datang. Saat itu dia senang karena didandani, dilayani sedemikian rupa oleh pelayan-pelayan Reene. Namun setelah Jodie pulang, semuanya kembali seperti semula. Tak ada cinta dan kehangatan. Hanya dinginnya pandangan yang menusuk ulu hati.

Dua bulan kemudian, di kediaman Reene Kulham.....

Janet Antroph memasuki ruang megah itu dengan gaya tersendiri. Bibirnya terkatup rapat, tak menghiraukan sapaan sopan para pelayan Reene yang menyapanya, melayaninya bak seorang putri. Ia begitu cuek, bahkan menunjukkan sikap arogan tanpa ingin didekati. Tenang, ia memasuki kamar baca dan menemukan Reene Kulham sedang duduk berjongkok disamping perapian sambil mengaduk kayu dengan besi bara. Gemercik api sesekali terhempas menimbulkan letusan-letusan kecil khas perapian. Kamar baca itu sangat besar, lebih besar dari kamar pribadi Janet sendiri. Buku-buku tersusun rapi pada rak yang menjulang hingga ke langit-langit kamar. Jendela besar setinggi orang dengan gorden merah tua bertirai putih sesekali melayang disapu angin. Ditengah ruangan, tergantung lukisan seorang pria dan wanita setengah baya yang diketahui adalah orang tua Reene Kulham. Mereka telah meninggal sejak Reene berusia 10 tahun. Selama itu Reene dibesarkan oleh pamannya, yang akhirnya pindah karena pertengkaran mulut antara Reene saat ia mulai beranjak dewasa. Janet tak tahu permasalahannya apa, dan ia pun tak pernah bertanya. Tak perduli. Sifat keras kepala Reene, tingkah seenaknya memang khas seorang Reene Kulham. Ia tak mau mengalah sedikitpun. Anak manja kaya raya itu mampu mendapatkan apa saja dengan harta warisan dan hektaran perkebunan subur yang tak habis dinikmati turun temur

Akhir tahun itu mulai terasa dingin. Janet mengigil sesaat. Ia memperhatikan seluruh ruang baca ini dengan seksama. Tak ada yang berubah. Bahkan saat terakhir kalinya ia datang dan bercinta diatas meja baca, disamping perapian itu masih diposisi yang dulu. Janet mengusir bayang masa lalu itu, membuang pandangannya pada sosok berdada bidang yang memunggunginya. "Api. Memiliki keindahan tersendiri apabila kita dapat menguasai dan memandang percikannya pada sisi tertentu..." dan,"Mereka memang pembumi hangus yang sempurna. Tapi kamu dapat memanfaatkannya untuk keindahan, seperti indahnya bola lampu api...atau indahnya jilatannya ketika melumatkan kayu," Reene meletakkan besi bara dengan ujung memerah itu kemudian berdiri memandang Janet yang terpaku ditempatnya. "Akhirnya kamu datang juga..."kata Reene memecah keheningan,"Aku sudah terlalu lama menunggu,"lanjutnya. Janet menyipitkan matanya, menatap dengan pandangan penuh selidik. "Aku datang untuk adikku. Dimana dia. Apa yang terjadi padanya?"sinisnya. Reene tersenyum, ia menghampiri jendela, melepaskan tatapannya pada rerumputan yang mulai menguning karena musim gugur. Terpaan cahaya sore itu menimbulkan siluet tersendiri pada wajah tampan, dengan rambut tertiup angin. Ia melirik Janet, senyum itu meruntuhkan hati. "Blessha baik-baik saja. Cuma belakangan ini dia sering sakit, semakin sering kejang-kejang dan mimpi buruk. Aku tak tahu apa yang menyebabkannya seperti itu. Karena itu aku ingin kamu datang untuk memastikan apa sebabnya. Mungkin dia membutuhkan seorang kakak untuk berbagi perasaan. Kamu tahu, Janet...dia sangat tertutup."

Ma®™
March 15, 2003, 01:52
"Aku tak yakin kamu melayaninya dengan baik..."timpal Janet. Reene tersenyum, ia menghampiri Janet, berdiri berhadap-hadapan. "Kamu sangat cantik, Janet..."isentuhnya poni keriting yang tergerai dikeningnya, menyelipkannya ditelinga Janet. "Seharusnya kamu menyadari bahwa kita adalah pasangan yang tidak dapat dipisahkan. Kamu membutuhkan aku, akupun membutuhkan kamu. Jadi mengapa kamu membiarkan adik manismu datang diantara kita, dan membiarkannya merebut aku dari pelukanmu?tanya Reene lembut. "Karena kamu tak lagi berharga dimataku."desis Janet. Tangan Reene berhenti memainkan anak rambut Janet,"Kamu masih saja keras kepala. Tak berubah. Aku telah melakukan segala cara untuk membuat kamu bahagia, tapi kamu memang tak tahu diri,"makinya. Janet membuang muka. "Aku tak perlu tahu diri dengan binatang sepertimu."balasnya. "Kebahagiaan Blessha ada ditanganku, Janet. Apabila kamu mau memperlakukan aku dengan baik, maka aku akan memperlakukan adikmu dengan layak." Janet menatap Reene marah. Reene tergelak, ia berbalik membelakangi Janet dengan pongahnya,"Adik idiotmu tak pantas dan tak layak untuk kujadikan istri. Jadi maaf saja jika aku hanya memanfaatkan kelemahannya untuk menyakitimu. Dia pikir siapa dia, sampai dia merasa layak untukku? Untuk mengurus dirinya saja dia tidak becus! Oh, tentu saja...karena dia idiot, berotak lamban maka dia tak mampu berpikir sampai sejauh itu, hahahhahha......."

"********!" Janet menyerbu Reene ingin menamparnya, tapi tangan itu ditangkap Reene sigap. "Dengar Janet! Aku ingin kamu datang karena kamu harus menggantikan posisi idiot itu untuk melayaniku! Dia sama sekali tak dapat berbuat apa-apa, untuk melihatnya pun aku sama sekali TAK bergairah. Dia sama sekali tidak dapat menyenangkanku, tidak seperti gadis-gadis jalang yang harus kupaksa untuk tidur bersamaku, hanya karena dia TIDAK MAMPU melayaniku!! Dia, sama sekali tidak berguna!! TIDAK BERGUNA!!! Dan kamu harus menebus segalanya dengan tubuhmu!!!" teriak Reene kesetanan. Ia mendorong Janet keatas meja baca besar itu, bergerak merobek gaun ingin menodainya. Janet menggapai-gapai mencari apa saja yang dapat digunakan untuk menghantam kepala Reene. Tapi tenaga itu terlalu kuat, kesetanan. Janet menamparnya sekali sebelum kedua tangannya ditekuk Reene keatas, dan tangan kanannya sibuk meraba tubuh Janet buas. Mendengus-dengus diantara dada dan lehernya. Janet berteriak, tapi tak ada seorangpun yang datang untuk menolong. Mungkin para pelayan itu mengira mereka sedang keasyikan dengan gaya bercinta Reene yang memang aneh diluar kewajaran. Janet berjuang untuk mempertahankan dirinya,"********!! LEPASKAN AKU!! TERKUTUKLAH KAMU, REENE, TERKUTUKLAH!!"maki Janet berulang-ulang. Reene tak perduli, ia mengeluarkan sejumlah kata-kata kotor tentang segala hal. "Aku tidak akan melepaskan kamu, Janet. Kamu harus membayar semua yang tidak mampu dilakukan adik idiotmu!!!" Brutal, ia merobek gaun Janet, tiba-tiba.....

CROSSSS.......!!!!!

Reene berteriak keras, panjang. Gerakannya terhenti. Janet terkesiap ketika menemukan sebuah besi berujung tajam menembus jantung Reene, berdarah memenuhi kemejanya. Sedetik kemudian, Reene rebah dengan tubuh menimpa tubuh Janet. Janet histeris, ia langsung mendorong mayat itu hingga jatuh berdebum ke lantai dengan besi yang langsung menembus sedalam-dalamnya begitu pertama kalinya menyentuh lantai kemudian tertimpa tubuh Reene. CROSSS!!! Menembus tubuh. Reflek, Janet Melemparkan pandangannya pada sesosok gadis yang terhuyung mundur ketakutan hingga menabrak meja kecil dengan guci antik seukuran paha orang dewasa, jatuh berkeping-keping ke lantai. Suara kepingannya memecah keheningan yang mencekam. Gadis itu jatuh terduduk dengan nafas tersengal-sengal, pucat. Janet terpaku, bengong tak percaya. Disampingnya, mayat Reene tergeletak dengan besi bara tembus hingga ke jantung. Karpet merah tua itu semakin merah oleh darah.....


Dan,
semuanya serasa mati.

Ma®™
March 15, 2003, 01:53
Mati.
Sejak detik itu, segalanya menjadi hitam bagiku.
merahnya darahmu telah menghitamkan hidupku.

Tapi aku tak menyesal.
Kuputihkan hidup insan yang paling aku kasihi.

Aku tak akan pergi.



- Janet Antroph -

Ma®™
March 15, 2003, 01:54
Gadis itu jatuh terduduk. Nafasnya tersengal-sengal dengan muka sepucat kertas. Matanya melotot dengan gigi gemeletuk beradu. Pecahan guci yang berkeping-keping dilantai melukai telapak dan tangannya saat jatuh. Tapi gadis itu seakan tidak merasakan sakitnya. Ia tidak merasakan perihnya luka yang terkoyak. Janet melotot tak percaya dengan pandangan tegang, tak mampu bersuara. Tubuh kurus kering yang rapuh itu, bagai patung hidup yang membeku sambil menatap mayat berlumuran darah. Laki-laki yang paling dicintainya. Laki-laki pertama yang menyentuhnya. Suaminya.

Tak ada suara, semuanya tercekat dikerongkongan. Janet terhentak, ia langsung bangun dan menarik tubuh itu sedaya upayanya. "Ayo Blessha, kita harus pergi!!" Blessha masih mematung tanpa merespon tarikan Janet yang panik. "AYO BLESSHA, KITA HARUS PERGI!!"bentak Janet histeris. Tubuh kurus itu melemah, bagai terhipnotis mengikuti seretan Janet. Bergegas, mereka berdua melangkah ke pintu keluar dengan wajah pucat, jatuh bangun. Janet kalap, tak perduli lagi ia menyeret tubuh Blessha yang terasa begitu berat. Kasar. Dingin. Sedingin mayat Reene yang tewas dengan mengerikan. Besi bara itu menghanguskan beberapa bagian tubuh kulit Reene, menimbulkan bau gosong, amis darah yang terbakar.

Tapi, begitu mereka menuju pintu keluar, seorang pelayan masuk kedalam karena terpancing oleh suara ribut guci pecah. Ia terkejut menemukan dua gadis bermuka seputih kertas. Memalingkan pandangannya dan lebih kaget lagi menemukan mayat Reene Kulham tergeletak dengan kondisi mengerikan. Pelayan itu menjerit, melengking mengoyak keheningan yang mencekam.

"AAAAAAAAAA........." Menggema. Janet merasa seluruh persendiannya lepas. Nyawanya terasa melayang. Namun Blessha.....diam tak bergeming. Menatap kosong kedepan dengan pandangan linglung. Shock.

Ia tak merasa. Mungkin ia sudah lama mati.

Sejak detik itu, segalanya berubah.
Semuanya tak lagi sama.....

Ma®™
March 15, 2003, 01:55
Kantor Keadilan Peace Highlands...

Janet terpaku di balai keadilan Peace Highlands. Didepannya, Samuel duduk sambil mengepalkan tangannya, tertunduk lesu. Kepalan tangannya menyentuh dahi. Janet menatap kosong kedepan, sementara Blessha dari tadi diam dengan mata yang mendelik-delik, terkadang tubuhnya bergetar ketakutan. Lalu diam lagi. Tak ada sepatah katapun terucap. Sudah satu jam ini Samuel menanyai keduanya tapi tak ada satu katapun yang keluar dari bibir dua gadis ini.
"Nona Janet, sekali lagi....tolong ceritakan padaku kejadiannya. Agar aku dapat membelamu jika memang benar Nona tidak bersalah." Diam. Samuel menarik napas panjang. "Masalah ini bukan masalah kecil, Nona. Nona dapat dituduh sebagai pembunuh dan juga...penzinah. Karena nona berada di kediaman Tuan Reene dan berdua dalam satu kamar. Tolonglah saya, Nona. Saya harus menjelaskannya pada semua orang tentang kejadian yang sebenarnya. Nona tahu hukum di Peace Highlands sangat kejam bagi para penzinah dan pembunuh. Jika saya tidak cepat datang tadi, saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada nona berdua..."

"Nona Janet Antroph, tolong akui siapa pembunuh Tuan Reene Kulham....."

TOk TOK TOK.

Seorang sipir masuk dan berbisik ditelinga Samuel, diikuti anggukan kepala Samuel. Tak berapa lama kemudian, seseorang datang. Jodie Antroph. Ia masuk ke ruangan Samuel dengan wajah cemas, langsung memeluk Blessha. Tak ada waktu untuk memaki, tak ada waktu untuk mengutuki kejadian itu. Jodie terlalu kaget sehingga ia tak sempat berpikir ataupun menerka kejadian yang sebenarnya. Ia datang bersama Ahmed dan Samantha yang juga berwajah tak kalah tegang. Segera, Samuel berdiri memberi hormat.
"Apa yang terjadi, Samuel? Ceritakan padaku."katanya cepat. "Maaf, nona. Kedua adik anda dari tadi diam saja. Saya sendiri tidak tahu kejadiannya. Mereka sama sekali tidak mau bekerja sama." Jodie memalingkan mukanya, menatap Janet tajam. Bibirnya bergetar menggeletuk, antara cemas dan mengutuki kejadian yang membuatnya hampir pingsan ketika dikabari Ahmed. Wajah tegas itu menatap Janet meminta penjelasan. "Janet. Ceritakan padaku apa yang terjadi!" Janet masih terdiam, menatap kosong ke depan. Jodie berjongkok di samping Blessha, membelai rambutnya dengan tangan gemetar,"Blessha...ceritakan pada kakak apa yang terjadi. Ceritakan pelan-pelan, Blessha." Blessha mendelik-delik. Samantha bergerak mengelap liur yang membanjiri dagu dan lehernya. Blessha lebih lagi tidak dapat diharapkan untuk berbicara.

"Nona, sejauh ini dugaan kami yang membunuh Tuan Reene Kulham adalah Nona Blessha,"kata Samuel tegas. "APA?? Blessha? Bagaimana mungkin? Jangan menuduh sembarangan, Samuel. Anda tidak dibayar untuk memberikan tuduhan palsu."bantah Jodie kasar. "Melihat dari bukti yang ada, mungkin Tuan Reene Kulham mencoba menodai Nona Janet, lalu Blessha datang dan menusuknya dari belakang dengan besi bara."papar Samuel. Ia adalah opsir cerdas. Tidak mudah membohonginya. Karena itu Peace Highlands termasuk kota yang aman, karena diberlakukannya hukum yang begitu keras bagi para pelanggarnya. Dan Samuel, tokoh keadilan yang cukup disegani itu menerapkannya pada siapa saja tanpa pandang bulu. "Tidak mungkin Blessha mempunyai kekuatan sebesar itu untuk menusuk Reene. Tidak mungkin! Samuel, aku ingin kau telaah lagi tuduhanmu. Kamu bahkan belum menanyai mereka."bantah Jodie lagi. "Karena itu, nona...ini adalah dugaan sementara. Saya melihat dari bukti yang ada, pakaian yang terkoyak dari Nona Janet, meja yang berantakan, bekas carakan pada mayat Tuan Reene Kulham.....dan posisi mayat itu sendiri membuktikan bahwa dia ditusuk dari belakang. Belum lagi bukti lain yang akan menguatkan tuduhan saya bahwa ada orang lain yang menusuk Tuan Reene dari belakang. Tidak ada siapapun dalam ruangan itu kecuali mereka bertiga; Tuan Reene, Nona Janet dan Nona Blessha."tegasnya. "Tapi mungkin saja ada orang lain yang masuk kedalam ruangan itu ketika....."kata Jodie. "Pintu kamar perpustakaan itu dalam keadaan tertutup. Pintu itu terbuka oleh pelayan yang terpancing dengan suara Tuan Reene dan guci pecah. Jadi tidak mungkin ada orang lain selain mereka bertiga." "Samuel, aku ingin kamu menyimpan dugaanmu. Aku tidak ingin mereka dihukum. Aku tidak ingin!! Kamu belum mendapatkan keterangan apapun dari adik-adikku, tapi aku ingin kamu menyimpan semua dugaanmu. Aku ingin kamu melindungi adik-adikku. Benar atau salah!!"tegas Jodie. Ia menatap mata Samuel tajam, menembus relung hati opsir berkulit hitam itu.

Samuel memalingkan wajah, menggelengkan kepalanya. "Nona Jodie...kita memiliki hukum sendiri disini. Dan tidak ada yang dapat lolos dari hukum adat masyarakat kita sendiri...sejauh ini." "Tapi itu cara lama. Saat ini aku yang berkuasa di Peace Highlands. Aku tidak ingin hukum itu ada!"seru Jodie merinding. "Siapa pun tidak ingin melihat orang yang dikasihinya......" Samuel tidak meneruskan kata-katanya. Menarik napas lagi, menghembuskannya dengan berat sebelum melanjutkan kata-katanya,"....terbakar......"

Jodie melotot dengan gigi beradu. Geram. "Aku tidak mau melihat satu kejadian pun yang menimpa adik-adikku. Kamu harus menyelamatkannya, Samuel!! APAPUN CARANYA!!" Samuel bangkit dari duduknya,"Aku pun ingin menyelamatkan setiap orang yang duduk disini, melewati mejaku dan menerima hukuman pada persidangan adat nanti. Aku ingin sekali, Nona Jodie!! Tapi bukan aku yang menentukan salah atau tidaknya seseorang. Sesepuh kita. Dan bukan hanya satu sesepuh saja. Hukum adat masyarakat ini sudah ada sebelum aku lahir. Apa yang harus aku lakukan? Menentang hukum yang umurnya lebih tua dariku, bahkan mungkin lebih tua dari orang tuaku sendiri?? Nona Jodie, aku ingin sekali membantu, tapi aku tidak bisa. Aku ingin dapat membantu semuanya, tapi AKU TIDAK BISA!!"papar Samuel keras. Ia dan Jodie berpandang-pandangan dengan mata mendelik. Perlahan, Jodie mengendurkan uratnya, memandang Janet dan Blessha yang masih duduk mematung didepan Samuel dengan pandangan kosong. "Hhhh.....jadi...hukuman apa yang akan mereka terima?"gunamnya hampir tak terdengar. Hopeless. "Hukuman bagi penzinah dan pembunuh adalah.......dibakar.... Tapi sebelumnya, dia harus menjalani hukuman setelah persidangan nanti, sebelum digiring di alun-alun kota untuk dibakar hidup-hidup..."lesu Samuel. Jodie melotot. Samantha terpekik, langsung memeluk Blessha dengan air mata berlinang. Ahmed sendiri, langsung membalikkan tubuhnya, menahan kesedihan yang teramat sangat. Jodie tercengang. Kerut didahinya tampak begitu jelas. "Jadi Blessha......."gunamnya menerawang. Blessha sendiri mendadak berteriak, menangis histeris. Ia menangis dan menjerit sejadi-jadinya, ketakutan. Tubuh itu bergetar. Janet terkesiap, ia begitu ketakutan dan langsung memeluk Blessha dan Samantha. Menangis. Balai keadilan itu seketika pecah dengan suara tangis dan histeris ketakutan. Dua gadis bermuka sepucat kertas itu memang dari tadi diam saja. Tapi bukan berarti mereka tidak dapat mendengar....

Ma®™
March 15, 2003, 01:56
Tiba-tiba Janet berdiri dan mengeprak meja Samuel dengan mata merah, "TIDAK!! TIDAAAKKK!! Akulah yang membunuh Reene Kulham. AKU YANG MEMBUNUHNYAAAA!!!!"jerit Janet. Histeris.

Takut.
Aku.........
t a k u t.


-Janet Antroph

Ma®™
March 15, 2003, 01:56
scene Janet Antroph

Cuplikan:


Zetta menjambak rambut Janet kasar. Tangan kanannya menjambak rambut belakang kepala Janet sementara tangan kirinya mencengkram tenguk Janet kasar. Kuku runcing yang terawat rapi itu menusuk leher Janet, semakin membuat merah leher yang sudah mulai membiru itu.

"Perempuan jalang!! Tahukah kamu bahwa kamu telah menghancurkan hidupku??" Eeegggghhhh.....keluh Janet tertahan ditenggorokan ketika Zetta semakin memperkuat cengkramannya. Sadis, ditempelkannya pipi Janet ke lantai hingga mencium lantai penjara jorok itu,"Kamu telah merebut suamiku. Kamu telah menghancurkan hidupnya, keluargaku, dan HIDUPKU. Dasar PELA-CUR!!"

Janet tak mampu memberontak, tangan dan kakinya dipegangi sipir-sipir penjara itu begitu erat, tanpa menghiraukan kulit tubuhnya yang lecet terkelupas oleh kuku-kuku tajam. Zetta memindahkan tangan kanannya ke leher, bergerak mencekik Janet dari belakang. Janet megap-megap, memberontak tanpa daya. Beberapa saat ia sekarat meregang nyawa, ketika tiba-tiba Zetta melepaskan cengkramannya, menarik kepala Janet kemudian membenturkannya dengan keras ke lantai..... DUGGG!!

Janet tak sempat lagi berteriak. Ia merasa kesadarannya setengah melayang. Perih dan pusing. Sakit sekali. Cairan kental itu mengalir ke keningnya. Ia terkulai lemas tanpa daya, ngos-ngosan menghirup udara. Pengap semakin terasa pengap. Zetta berdiri dan memandang Janet dengan perasaan penuh dendam,"Sekarang kamu tahu bagaimana rasanya mati. Seperti itulah aku ketika mendapatkan kamu merebut suamiku."

Zetta melangkah ke arah pintu keluar, berjalan dengan penuh keangkuhan sambil berkata,"Aku tidak akan membiarkanmu mati semudah itu, Janet Antroph..." Kemudian ia berhenti di depan pintu keluar, berpaling menatap Janet dengan mata menyipit penuh kebencian,"Aku ingin melihatmu sekarat terpanggang matahari sebelum terbakar bersama api. Aku bersumpah akan menghancurkanmu lebih dari kamu menghancurkan hidupku!!"

Lalu ia melirik sipir-sipir penjara berbadan tambun itu, menggeram,"Gunduli dia!!!"

Ma®™
March 15, 2003, 02:00
Scene Jodie Antroph

Cuplikan :


Jodie Antroph termangu. Ia memandang sekeliling, mencoba menilai nilai kekayaan yang diraihnya dengan tangannya sendiri. Pandangannya berhenti pada perbukitan yang menguning dibalik jendela. Disana, ratusan hektar tanah dan ladang adalah miliknya. Seketika ia merasa apa yang ia miliki menjadi hangat, hanya menunggu segalanya menguap.

Jodie menghempaskan tubuhnya ke kursi, mendekap kepalanya dengan tangannya. Ia tersenguk. Apakah segalanya sia-sia? Apa yang telah aku capai, aku dapatkan, aku miliki....segalanya akan sia-sia?

Berapakah nilai sebuah nyawa? Apakah ia sebanding dengan apa yang aku miliki saat ini? Apa yang aku perjuangkan dengan seluruh daya yang ada, dan hampir menghabiskan separuh hidupku, kebahagiaanku untuk mendapatkan segalanya?

Jodie berperang batin. Ia tak mampu menahan kesedihan dan kebimbangannya. Ia menangis. Wanita berhati baja itu menangis. Seketika bayangan Henry terlintas dibenaknya, menari-nari didepan matanya. Segala sesuatu yang seharusnya dilakukan Henry tapi mampu dilakukannya.....seakan menertawainya.

"Henry......aku ingin sekali kamu ada disini.....membantuku memecahkan masalah yang sepertinya akan menjadi kiamatku nanti......"

Ma®™
March 15, 2003, 02:01
Scene Blessha Antroph

Cuplikan

Blessha ditarik dikerumunan para buruh. Sepertinya orang-orang desa itu berkumpul hanya untuk menertawakan dan melihat anak malang itu. Hiruk pikuk. Mereka meneriakinya. Beberapa diantaranya menghujaninya dengan batu-batu kecil. Samantha langsung memeluk gadis malang yang bergetar ketakutan karena tidak pernah melihat massa yang begitu banyak, begitu menakutkan dan meneriakinya. "Terkutuk....terkutuk..." beberapa diantaranya berteriak,"Asingkan...asingkan......." Blessha bergetar keras, ketakutan setengah mati. Air mata dan genakan liurnya sepertinya menjadi satu, membasahi seluruh wajahnya. Ia mendekap Samantha sambil menangis, menyembunyikan wajahnya di dada Samantha.

"Dasar manusia kejam, apakah kalian tidak melihat dia adalah manusia? Dia adalah Nona Antroph, majikan kalian sendiri!! Pergi!! Jangan ganggu diaaa!!" bentak Samantha marah.

"Ia memang manusia, tapi manusia yang terkutuk! Dia tidak seperti manusia normal, dan hanya manusia yang terkutuk diberi tanda lahir yang lain dari manusia biasanya. DIA TIDAK NORMAL KARENA DIA TERKUTUK!!!" teriak salah seorang buruh.

Ma®™
March 15, 2003, 02:01
Janet digiring masuk ke salah satu ruangan dengan pintu kayu, dengan jendela berkisi rapat. Pintu itu begitu berat, menimbulkan suara berderik ketika sipir penjara wanita itu menutupnya. Janet berbalik dan memandang Jodie, Blessha, Samantha dan Ahmed dengan air mata berlinang. Ia begitu ketakutan, begitu cemas. Jodie hanya bisa memeluk Blessha yang menangis dalam pelukannya dengan tubuh bergetar. Tak ada satupun kata yang terucap, hanya pandangan miris menatap Janet dibalik pintu. Kusam, pengap.

Penjara itu sesungguhnya lebih mirip tempat penampungan. hanya tersedia beberapa kamar kosong dengan bangku reyot didalamnya. Tempat itu lebih sering kosong, karena hukum di Peace Highlands sangat kejam. Paling yang tertangkap hanya pencuri-pencuri kecil, atau beberapa orang dengan pertengkaran kecil. Jarang sekali ada penzinah apalagi pembunuh. Hukum di Peace Highlands tidak mengenal status sosial. Si pelanggar akan diadili oleh delapan orang sesepuh adat kota kecil itu, lengkap dengan bukti-bukti pelanggarannya.

Apapun boleh terjadi di Peace Highlands, tapi jangan sampai tertangkap. Sekali tertangkap, dia tidak akan bisa lolos...

Pengakuan Janet disimpan Samuel untuk sementara. Ia masih sibuk menyiapkan berkas-berkas data pelanggaran Janet, menulisnya pada secarik kertas lusuh. Kata-kata Jodie Antroph terngiang-ngiang di benaknya. Kacau, dia menghempaskan kertas-kertas dimejanya, lalu terdiam dengan kedua tangan memegang kepala. Terpekur.

Samuel, kepala keamanan Peace Highlands itu, tidak akan menjadi seperti ini tanpa orang tua gadis-gadis malang itu. Dulu ia hanyalah buruh harian di perkebunan Antroph. Samuel yang miskin dengan orang tua yang sakit-sakitan, harus mau bekerja apa saja. Pagi hari dia menjadi buruh harian di perkebunan Antroph, malamnya dia bekerja sebagai penjaga gudang perkebunan Antroph. Yang membedakan dia dari para buruh lainnya hanyalah ketekunan dan kerajinannya. Ia mau mengerjakan apa saja yang diminta oleh Tuan Antroph...apa saja. Dari dulu dia seorang yang jujur dan berani. Ketika itu ada beberapa pencuri yang masuk ke puri Antroph dan mencuri beberapa kuningan, vas-vas kecil keluarga itu. Samuel berhasil memergoki dan sempat baku hantam dengan para pencuri itu. Walaupun dia luka-luka, tapi pencurian itu berhasil digagalkan. Samuel seketika menjadi pahlawan bagi keluarga Antroph yang tidak pernah terusik dengan kejadian-kejadian seperti itu. Seketika kedudukannya terangkat menjadi kepala keamanan di perkebunan itu, membantu Ahmed yang kala itu bertugas sebagai kepala buruh. Usia Samuel memang jauh lebih muda dari Ahmed, karena itu dia banyak belajar bagaimana mengangkat sedikit martabatnya sebagai orang kulit hitam dari Ahmed. Jodie, Janet dan Blessha juga dia kenal baik. Bahkan gadis-gadis kecil itu kadang suka mengunjungi perkebunan bersama orang tuanya.

Tanpa Tuan Antroph, mungkin nasib Samuel tetaplah sebagai kepala keamanan yang tak jauh berbeda dengan Ahmed. Tapi ia tak ingin membandingkan dirinya dengan Ahmed yang puas membalas budi dengan cara mengabdi pada keluarga Antroph. Ia ingin maju, ia ingin berbeda. Bahkan istrinya saat ini pun dikenalnya berkat Tuan Antroph. Keluarga Jodie sungguh membawa perubahan besar bagi hidupnya kala itu. Hutang budi Samuel boleh jadi tak terbayarkan. Mungkin dia akan tetap menjadi buruh miskin yang dipandang sebelah mata dan hina.

Samuel sendirian di ruangannya. Gambaran masa lalu seakan menyergapnya, menjerembabkannya pada posisi serba salah.

"Kamu harus membantunya, kamu harus menyelamatkan adik-adikku, benar ataupun salahnya mereka"

"benar atau salahnya mereka......"


"salahnya mereka......"


"mereka...."



" m e r e k a . . . . . . . "


"........"

Ma®™
March 15, 2003, 02:02
Jodie memapah Blessha masuk ke kamarnya lalu membantu Samantha melepaskan pakaiannya. Memapahnya ke kamar mandi dengan hati kosong dan duduk ditepian bak sambil memandang Samantha memandikan Blessha. Suara kecipak air memecah keheningan. Hati Jodie lenggang, ia merasa duduk diantara hidup dan matinya alam.

"Ka-kak ma-af-kan a-ku..."rintih Blessha pelan. Jodie tak bergeming. Pikirannya melayang. Blessha terisak,"A-ku yang ber-sa-lah. A-ku yang me-mulai se-mua i-ni. Ka-re-na a-ku ma-u meee-ni-kaahh de-ngan Re-nee..." Jodie mengalihkan pandangannya, memandang adiknya dengan tatapan miris. "Sudahlah, Blessha. Kamu...tidak bersalah...."nelangsa Jodie. Lalu ia bangkit dari duduknya,"Aku harus menemui Ahmed. Aku harus mencari seseorang yang dapat menyelamatkan Janet. "Nyonya Jodie....."panggil Samantha. Jodie menoleh,.... "Selamatkan Nona Janet...."isak Samantha. "Aku...tidak mau melihatnya...mati...." Samantha tidak dapat menahan isak tangisnya. Jodie menghela napasnya, berat. "Aku akan menyelamatkannya, Samantha. Berdoalah dia akan selamat." Jodie melangkah pergi.

"Ka-kak...tung-ggu...."panggil Blessha parau dengan tangan hendak menggapai Jodie. "A-ku ing-in me-nga-ta-kan se-su-a-tu...." Jodie menghentikan langkahnya,"Ada apa lagi?" "Ka-kak...ten-tang ke-ma-ti-an Ree-neeee......"terputus Blessha. "Sudahlah, kita lihat bagaimana dipersidangan nanti. Aku akan berusaha menyelamatkan Janet." Lalu ia pergi. "Ka-kakkkk...."

Pemberontakan....

Jodie mencari Ahmed di hampir diseluruh penjuru rumah. Tapi dia tidak menemukan laki-laki berkulit hitam itu. Biasanya Jodie cukup menunggu di ruang keluarga, tinggal Ahmed yang akan datang menemuinya. Tapi sudah 20 menit Ahmed tak muncul. Kalaupun dia ada di perkebunan, tidak membutuhkan waktu terlalu lama untuk menuju puri Antroph. Jodie tak sabar.

Ia beranjak dari duduknya dan mencari Ahmed ke perkebunan. Tak seperti biasanya, puri kelihatan begitu sepi. Tak ada pelayan yang lalu-lalang membereskan rumah ataupun menyiapkan sesuatu. Perasaan Jodie tak enak. Ia langsung keluar rumah menuju perkebunan yang tak jauh dari puri Antroph, hanya 10 menit perjalanan yang dihabiskan untuk menempuh jarak menuju perkebunan, yang semua tanahnya adalah milik keluarga Antroph.

Dari jauh Jodie melihat para pelayan berkumpul membentuk barisan seperti pagar, menghadap sesuatu. Semakin dekat, suara ribut semakin jelas. Jodie tambah merasa tak enak. Hampir tiba di pintu masuk perkebunan, dia dihadang oleh seorang pelayan dengan wajah tegang,"Nyonya, jangan pergi ke perkebunan!!" "Ada apa?"tanya Jodie cemas. "Itu nyonya...ada pemberontakan buruh, jangan masuk. Jangan pergi kesana, Nyonya..sangat berbahaya!!"paniknya lagi. "Pemberontakan?? Bagaimana mungkin? Mana Ahmed?!"tanya Jodie dengan suara tinggi. "Di-di dalam.....sedang..." Tanpa menghiraukan hadangan tubuh pelayan itu, Jodie bergegas masuk ke perkebunan. "Nyonya...jangan kesana. Jangan masuk, Nyonya...." pelayan itu mengejar Jodie, berusaha menghalangi. "Jangan halangi aku!!"bentaknya. Pelayan itu mundur kebelakang dengan wajah ketakutan.

Semakin dekat hiruk-pikuk semakin terdengar. Jodie melihat para pelayan bercampur buruh berkumpul. Terdengar teriakan-teriakan kasar yang diikuti oleh dengungan protes. Suasana sangat ribut. Ia langsung menangkap punggung Ahmed yang sedang berdiri di depan para buruh sambil berteriak-teriak membentak. "Ahmed, ada apa??"seru Jodie dari belakang. Melihat kemunculan Jodie, para buruh semakin ribut. Mereka berteriak mengejek Jodie. "Pemeras....pemerassss......."

"NYONYA!! JANGAN KESINI!! PERGILAH!!" "KATAKAN PADAKU APA YANG TERJADI. MENGAPA MEREKA MEMBERONTAK!!" Belum sempat Ahmed menjawab, Jodie langsung menyeruak maju dari desakan para pelayan. Didepan para buruh itu, ia berteriak lantang,"Lancang!! Ini bukan saatnya protes. KEMBALI BEKERJA!!"teriaknya. Ahmed berusaha meraih Jodie, tiba-tiba..... "Kami tidak akan dapat bekerja dibawah wanita pemeras seperti Anda, Nyonya Jodie...."seru sebuah suara. Tubuh itu menyeruak diantara kerumunan para buruh, berdiri didepan Jodie tegak.

Bagaimana mungkin Jodie dapat melupakan sosok itu. BORO!! Buruh malang yang beberapa bulan lalu minta keringanan waktu untuk menemani istrinya melahirkan tapi malang istrinya tak tertolong. Dan Jodie disalahkan atas kematian itu. "KAMI TIDAK DAPAT BERKERJA DIBAWAH MANUSIA YANG TIDAK MEMPUNYAI PERASAAN!! TIDAK BERPERIKEMANUSIAAN!!"lantangnya diikuti sorakan para buruh.

Jodie tercengang. Buruh itu Boro. Buruh bertubuh kurus itu menatap Jodie dengan mata merah membara, penuh dendam. Pandangan matanya penuh dendam!!

Seketika semuanya menjadi begitu panas.
Sekeliling Jodie bagai merah membara.
Menjadi api yang sepertinya...
siap membakarnya hidup-hidup.....

Ma®™
March 15, 2003, 02:04
This jail...

Janet duduk sambil melipat kakinya diatas lantai dingin berlumut. Penjara ini jorok sekali. Dingin. Janet tak pernah membayangkan nasibnya akan seperti ini. Kehidupan gemerlap serasa melayang didepan matanya. Tak mungkin dapat dirangkulnya lagi. Dia sekarang seorang tertuduh. "Aku tidak membunuhnya....."batinya berkali-kali. "Tapi.....aku tidak mungkin membiarkan Blessha menanggung semua ini," Janet terisak. Ia menangis tersenguk-senguk. Kenyataan ini begitu sulit diterimanya. Aku adalah seorang nona muda Antroph yang memiliki segala-galanya....tapi sekarang aku kehilangan segala-galanya.....

Janet mencoba menghibur diri. Setidaknya dia masih memiliki hati nurani untuk menyelamatkan Blessha. Tapi mati dibakar hidup-hidup?? Janet bergidik. Ia mengelus kulitnya yang semulus sutera. Putih dengan bulu-bulu halus di lengannya. Kulit ini....akan terbakar. Lalu ia mengelus rambut coklat ikalnya...dan mengelus wajahnya. Janet semakin terisak. Ia menangis tersenguk-senguk dengan tubuh gemetar. Ketakutan.

Malam ini begitu dingin. Ia tak mendapatkan alas tidur selain kain kumal yang dilempar oleh sipir penjara itu dengan kasar. Bahkan ia belum menyentuh piring makanan yang entah apa lauknya....Janet sendiri tak tahu. Ia tak berniat makan. Ia biarkan makanan itu dingin dan entah basi ditepi pintu. Ia sama sekali tak berniat makan. Ia kenyang oleh ketakutannya. Aku tak mau mati terbakar....selamatkan aku. Batinnya ribuan kali.

Salam perkenalan...

BRAKKK!!

Pintu penjara Janet seketika terbanting. Suaranya bergema memenuhi ruangan. Me-mekakkan telinga. Janet seketika terlonjak dari tidurnya, begitu kagetnya ia sampai terantuk dinding sandarannya. Belum sempat berpikir, dua orang sipir masuk dan dengan kasar menarik tangan kanan dan kiri Janet, menyeretnya keluar.

"Apa yang kalian lakukan!! Lepaskan!! Lepaskan!!!" teriaknya. Sipir-sipir berbadan tambun itu tak menggubrisnya. Mereka menyeret Janet keluar hingga ke tengah ruangan lapang. Disana, seorang lagi menyambut Janet dengan guyuran air dingin seember.

BYURRRR........ Janet terpekik kedinginan. Ia belum benar bangun, bahkan menguap pun belum sempat dilakukannya. Ia begitu kaget,"Ke-parat kalian semua!!" makinya. Janet Antroph, wanita bebas yang berkelas itu tak sudi diperlakukan begitu saja. Ia menatap sipir-sipir itu satu persatu dengan pandangan marah. Giginya gemeletuk beradu. Penuh kebencian.

"Binatang kalian semua!! Apakah kalian tidak tahu bagaimana cara memperlakukan orang? Dasar tidak tahu diri!!"makinya berani sambil memandang satu persatu sipir-sipir wanita itu. Dua berbadan tambun, satu yang mengguyur Janet bertubuh lebih kurus. Semuanya bertampang dingin. Memuakkan. Lalu, sipir bertubuh kurus kembali menggayung air ke ember kayu, hendak kembali mengguyur Janet. Janet bangkit dan langsung menyerangnya.

Bummm.....!! Suara orang jatuh ketanah. Sipir kurus itu berteriak kaget, Janet mencakarnya mukanya dengan perasaaan marah penuh caci maki. Tidak lama, karena ia langsung kembali dijambak oleh sipir bertubuh gemuk, dan yang satunya mencengkram tangannya, lalu melemparkan tubuhnya ke tembok. DUG!! Janet terpekik. Ia merasa kesadarannya setengah melayang. Kepalanya terasa begitu sakit. Belum sempat ia berpikir, sipir-sipir itu langsung mencengkramnya dari belakang dan menekuk siku Janet ke belakang. Janet menjerit kesakitan. AAAAA....... Tangan itu mereka jepit dan ditekuk kebelakang atas.... Janet berusaha memberontak, tapi semakin ia memberontak, tekukannya semakin keatas. Ia tak berdaya, hingga akhirnya ia terkulai lemas ke lantai dengan tubuh lunglai.

Sipir-sipir itu memandangnya tanpa rasa kasihan. Tak bersuara. Dingin sedingin pandangannya.

Diantara kaburnya pandangan, Janet menangkap sosok seseorang masuk kedalam. Seorang wanita bergaun mewah dengan seorang sipir di sebelah kanannya. Janet mencoba menangkap sosok yang masih berupa bayangan dimatanya. Dan....pandangan kaburnya perlahan sirna. Matanya mulai menangkap jelas sosok itu. Wanita bergaun mewah itu, rasanya dikenalnya. Janet melenguh perlahan, ia bingung.

Wanita itu maju selangkah. "Janet Antroph. Apakah kamu masih ingat aku?" Janet mengenali suara itu. Suara itu sudah satu tahun ini menghilang dari ingatannya. Tapi sekarang diingatnya kembali. "Apakah kamu masih ingat aku? Aku percaya kamu tidak akan melupakan aku...."ulangnya lagi. "Zeta..."gunamnya pelan. Wanita itu tersenyum sinis. "Bagus. Ingatanmu masih baik. Tapi ingatanku lebih baik lagi, Janet. Aku tak perlu memandangmu terlalu lama untuk mengenalimu..." ia berjalan beberapa langkah lebih maju hingga berada tepat didepan Janet yang terduduk. "Namaku, Zeta Corlaz Almedius. Mungkin itu akan sedikit menyegarkan pikiranmu...."

"Corlaz Almedius....."


"Almedius...."


"Almedius......................"

pikiran Janet melayang. Nama Almedius mengingatkannya pada seseorang. Seseorang........... yang berhubungan sangat dekat dengan Zeta. Suaminya.

Dosa masa lalu

Zeta Corlaz Almedius adalah anak sesepuh pertama yang paling disegani di Peace Highlands. Kehidupannya dengan Richard Almedius, suaminya sangat bahagia. Usianya tiga tahun diatas Jodie, sedangkan Richard sendiri sebaya dengannya. Matang, cerdas dan keras kepala. Ia memang tak secerdik Jodie yang mampu mengelola bisnis keluarga sedemikian baik, tapi Zeta lebih pandai menyenangkan Richard, suaminya ketimbang Jodie si wanita super.

Pernikahan bahagia itu berakhir ketika Janet Antroph datang menyapa. Sang penakluk itu berhasil meluluhlantakkan hati Richard ke pelukannya. Zeta hanya bisa menahan kemarahan setiap kali menemukan suaminya pulang dalam keadaan mabuk, tengah malam atau bahkan tak pulang sama sekali. Dan selama itu tak ada yang dapat menangkap basah keduanya. Zeta pun tak menghendaki demikian. Sungguh memalukan bagi keluarga Sesepuh pertama apabila menemukan menantunya berzinah. Zeta tak akan mau melihat suaminya mati terbakar walau betapa ia ingin memergoki keduanya.

Janet, memang berada diatas angin. Ia mendapatkan apa saja dari Richard, memiliki apa saja yang inginkannya, sementara Zeta hampir tak kebagian perhatian dan kasih sayang Richard. Richard mabuk oleh Janet. Perselingkuhan itu berjalan beberapa bulan, menyiksa Zeta sedemikian berat. Emosional yang tak terkendali, beban hati dan pertengkaran demi pertengkaran antara dia dengan Richard telah berakibat fatal.

Ma®™
March 15, 2003, 02:05
Malam itu, Richard pergi dari rumah. Beberapa hari kemudian dia ditemukan tak bernyawa. Apa penyebabnya, tidak diketahui pasti karena tewasnya Richard di kota tetangga Peace Highlands; Greentown. Mayat Richard pun ketika ditemukan telah mulai membusuk. Beberapa sumber menduga dia terlibat perjudian hingga berakhir dengan pertengkaran dengan sesama pengunjung bar, ada juga yang mengatakan dia over dosis karena linting ganja, entah mungkin dia mabuk dan terpeleset ke jurang.... dan berbagai desas-desus yang menghantam keluarga terhormat itu, jatuh hingga kedasar bumi. Memalukan.

Malangnya lagi, Zeta yang ketika itu hamil muda harus kehilangan kandungannya. Ia menyimpan luka hati yang dalam dan mendendami keluarga Antroph hingga ke tulang belulang. Wanita jalang yang diyakininya menghancurkan kebahagiaannya, Janet Antroph lepas tanpa tuduhan secuilpun!! Menyaksikan Janet melenggang dan kembali dengan kebebasan binalnya.

Namun sekarang, perempuan itu meringkuk dibawah kakinya. Hidup mati Janet berada ditangan ayahnya; sesepuh pertama. Zeta yakin Janet tidak akan tertolong. Perzinahan sangat dikutuki didesa kecil itu. Sekarang, Zeta tinggal mengumpulkan bukti kesalahan Janet yang akan semakin memberatkannya di pengadilan adat nanti. Zeta tidak akan membiarkan Janet hidup. Bahkan untuk matipun, Janet harus menderita.

Jodie duduk di ruang keluarga dengan perasaan gundah. Ia memantapkan hati bertamu kekediaman sesepuh pertama untuk meminta keringanan hukuman Janet. Karena itu dia memberanikan diri untuk bertandang kesini. Butuh waktu 3 jam untuk berpikir, mengesampingkan keangkuhan, ke-egoannya untuk sementara. Betapa lamanya waktu 3 jam itu, yang ia habiskan hanya untuk berpikir. Jarang sekali... Tapi ia tak punya pilihan lain. Terjepit pada pemberontakan buruh-buruh di pertanian membuatnya sungguh pusing. Kalut. Ia bingung harus menentukan langkah. Pemberontakan itu hanya teredam sementara dengan bantuan Ahmed. Tak lama. Jodie sangat yakin. Akhirnya, setelah ia pertimbangkan masak-masak, ia harus menyelamatkan Janet terlebih dahulu dengan cara mendekati sesepuh pertama.

Meminta? Tepatnya memohon. Jodie Antroph tak pernah memohon pada seseorang. Tapi kali ini...ia sungguh harus memohon. Gara-gara Janet!! Sebal. Marah. Putus asa. Sesungguhnya ia begitu pesimis kalau sesepuh pertama dapat menyelamatkan Janet, karena kesalahan Janet begitu berat. Jodie tak dapat menghitung daftar kesalahan yang telah dilakukan Janet apabila sesepuh pertama mengajukan bukti-bukti kesalahan masa lalu Janet. Apalagi hubungan Jodie dengan sesepuh pertama sangat buruk sejak pertikaian Janet dengan Zeta. Jodie hampir tak pernah mau turut campur atau pun bertegur sapa dengan para tetua desa. Ia begitu malu, tapi menutupinya dengan sifat angkuhnya. Bisa apa mereka? Hanya duduk dan menghakimi seseorang tanpa dapat menghasilkan apa-apa. Mereka hanya bisa mengakhiri atau mempersulit hidup orang lain, sedangkan aku? Aku menyambung hidup orang lain dengan mata pencaharian yang aku berikan pada mereka. Sombongnya waktu itu.

Walaupun demikian, Jodie harus mengakui mereka lah hukum. Jodie memang kaya raya di desa itu, wanita super serba bisa. Tapi ia adalah seorang wanita. Dan wanita harus tunduk pada laki-laki. Laki-laki adalah pemegang tampuk. Mereka pengambil keputusan. Wanita hanya sebagai pendukung. Tidak memiliki kuasa apa-apa.....betapapun supernya dia.

Dulu, Henry rajin mengurusi segala sesuatunya, entah rapat antar tetua, Henry selalu diundang dan dihargai sebagai salah satu keluarga berada. Tapi semenjak perselingkuhannya dengan Janet terbongkar oleh Jodie, Henry hilang entah kemana. Jodie mengusirnya kala itu. Menginjak-injak martabatnya sebagai seorang laki-laki kepala keluarga. Sekali lagi, "Bisa apa mereka?"

"Ehemmm...."suara batuk itu menghenyakkan Jodie dari lamunannya. Ia menoleh ke sumber suara, berdiri dari duduknya dan,"Selamat malam...."sapanya. Laki-laki itu, Jose Corlaz. Sesepuh pertama penentu hukuman di Peace Highlands. Tubuh kurus itu terbalut pakaian serba hitam. Ia berdiri di tepi kursi, mungkin sudah lama ia memperhatikan Jodie yang tidak menyadari kehadirannya. Usianya sekitar 70 tahun. Rambutnya setengah botak, putih sebahu yang disisir kebelakang. Kening tingginya penuh dengan gurat usia dan tingkat kecerdasannya. Matanya coklat tua cekung kedalam dengan alis putih. Hidungnya mancung persis seperti paruh bebek. Berkumis dan berjanggut putih dengan bibir yang terkatup rapat tanpa senyum sama sekali.

"Selamat malam,"sapa Jodie sekali lagi. Tangan kurus itu terulur dan memberi tanda untuk duduk. Jodie segera duduk sembari memperhatikan laki-laki itu duduk dengan agak susah. Tangan kanannya memengang tongkat sementara tangan kirinya meraba bangku. Jodie menunggu hingga ia merasa nyaman dengan duduknya, dan..."Maafkan saya mengganggu istirahat Anda, Tuan. Saya mempunyai sedikit masalah dan sepertinya hanya anda yang dapat membantu saya,"katanya membuka pembicaraan. Sesepuh pertama tak bergeming. Ruang itu terasa begitu lenggang dengan hawa dingin yang mulai menusuk kulit. Pelan, Jodie melanjutkan,"Adik saya, Janet Antroph...terpenjara dengan tuduhan pembunuhan atas Reene Kulham. Sejujurnya saya tidak tahu pasti bagaimana kejadiannya, mungkin ada yang sengaja menjebak adik-adik saya atau ada dendam pribadi....."ia menarik napasnya. "Tapi saya ingin meminta bantuan anda untuk memastikan bahwa adik saya tidak bersalah atas tuduhan itu,"tegasnya. Raut wajah Jodie tampak begitu serius. Sesungguhnya ia sangat senewen dan pesimis. Tapi ia tak punya pilihan lain.

"Saya percaya adik-adik saya tidak akan melakukan hal seperti itu. Dan saya pun percaya bahwa tuduhan itu......tidak benar. Kalau pun benar.......saya mohon bantuan anda untuk menyelamatkan mereka,"lanjutnya pahit. Serak. Jodie tak dapat menahan kesedihannya, ia tertunduk.

"Aku tahu....."kata sesepuh pertama dengan suara berat. Penuh wibawa. Jodie langsung terdongak, memandangnya dengan pandangan penuh harap. "Tapi aku tidak dapat menolongnya,"lanjut sesepuh pertama tegas. "Kota kecil ini punya hukum, Jodie. Siapa pun yang bersalah patut menerima hukuman." "Tapi Tuan, adik saya masih sangat muda. Wajar jika mereka melakukan sedikit kesalahan dan saya mohon...." "Kesalahan Janet tidak hanya ini. Aku tahu semua daftar kesalahannya. Hanya saja kali ini dia tidak beruntung,"tegasnya lagi. Dingin. Angkuh. "Tuan, anda adalah sesepuh pertama. Anda penentu hukuman. Saya percaya Anda dapat menyelamatkannya,"pinta Jodie. "Sekali lagi, kota kecil ini mempunyai hukum. Aku bukanlah satu-satunya penentu. Janet Antroph telah melakukan terlalu banyak kesalahan yang merugikan..."

Ma®™
March 15, 2003, 02:06
"Demi Tuhan, jangan hakimi Janet karena dendam pribadi..."celotosnya lepas. Ia terdiam sejenak ketika sadar apa yang telah diucapkannya. Suasana kembali hening. Sesepuh pertama membasahi bibirnya,"Jika aku mendendami adikmu, Jodie....dia sudah lama mati."katanya penuh wibawa. "Dosa adikmu telah membuat hidup putriku menderita bertahun-tahun. Tapi, telah kukatakan berkali-kali bahwa kota kecil ini mempunyai hukum. Dan untuk itu diperlukan bukti-bukti kuat yang menunjukkan bahwa orang itu bersalah. Adikmu Janet, telah melakukan dosa yang terlalu banyak. Sayang kali ini dia tidak beruntung,"tegasnya. Jodie kehilangan kata-kata. "Janet Antroph harus menerima hukuman atas dosa-dosanya. Bukan hanya aku yang menjadi penentu hidup matinya dia. Tapi masih ada 9 orang sesepuh lain yang akan menentukan nasibnya. Aku tidak dapat membantunya. Selamat malam,"ia menutup pembicaraan. "Tapi Tuan....Tuan! Aku akan memberikan apa saja untuk memperbaiki kesalahannya. Aku mohon, jangan hakimi dia dengan hukuman mati. Aku akan memberikan apa saja...."mohon Jodie. Sudah lama sekali ia tidak memohon seperti itu. Entah kekuatan apa yang membuatnya mau mengesampingkan keangkuhannya dan memohon pada orang lain.

Sesepuh pertama bangkit dari duduknya dengan tubuh gemetar, lalu tertatih-tatih berjalan menuju ruangan dalam. "Jodie, kalau boleh kuanjurkan padamu......berdoalah...untuk adik-adikmu,"katanya sambil berlalu. Parau. Menyisakan sedikit gaungan. Jodie terduduk lemas sambil mendekap kepalanya. Kali ini ia putus asa. Beberapa saat ia menenangkan dirinya, hingga kemudian dia bangkit dan berjalan menuju pintu. Rumah ini kosong dan lenggang. Tak bersahabat. Bahkan mungkin tak ada tanda-tanda kehidupan. Penghuninya pun seperti mayat hidup. Makinya. Ia membuka pintu keluar ketika didengarnya suara panggilan,"Jodie...." Ia menoleh. Zeta muncul dari sudut ruangan sambil tersenyum penuh arti. Ia menghampiri Jodie dan berdiri didepannya. "Aku tahu kamu akan datang kesini,"senyumnya. Seperti senyum penuh kemenangan. Jodie membuang muka. Ia benci mimik itu. "Walaupun kamu tak datang pada pemakaman suamiku, tapi aku yakin kamu akan datang pada pemakaman adikmu Janet,"senyumnya.

Kilat dimata Jodie berkilat tajam. Ia menatap Zeta dengan perasaan benci. Senyum kemenangan Zeta membakar amarahnya. Tapi ia tak berniat membalasnya. Ia mengontrol dirinya dan melangkah keluar pintu. Marah. Kecewa. Dan putus asa.

Pulang ke rumah, Jodie segera mengabarkan berita duka. Samantha, Ahmed dan Blessha berkumpul di ruang keluarga dengan raut wajah prihatin.

"Saya telah berusaha semaksimal mungkin, tapi sesepuh pertama tetap pada pendiriannya. Dia tidak dapat menyelamatkan Janet. Daftar dosanya sudah terlalu banyak,"kata Jodie. Samantha langsung memeluk Blessha dengan terisak. Gadis malang itu lebih gemetaran lagi. Gambaran jilatan kobaran api yang membakar tubuh Janet menari-nari didepan matanya. Slrruupppp.....ia menghisap liurnya tanpa sadar, lalu kembali memeluk Samantha. Terisak. Ketakutan.

Ahmed yang dari tadi diam bersidekap akhirnya bicara,"Jadi, apa yang akan nyonya lakukan?"tanyanya. Jodie menerawang. "Aku tak tahu, Ahmed. Aku ingin sekali menyelamatkannya, tapi bagaimana caranya?" "Mengerahkan tenaga bantuan, misalnya buruh-buruh pertanian?"celotos Samantha. "Tidak mungkin, Samantha. Buruh-buruh itu masih memberontak. Mereka hanya tenang beberapa saat sambil menunggu hasil persidangan nanti. Tidak mungkin mereka mau."potong Ahmed.

"Berapakah harga sebuah nyawa? Apakah ia setara dengan harta yang aku miliki saat ini?"tanya Jodie tanpa sadar. Samantha, Ahmed dan Blessha langsung menoleh dan memandang Jodie dengan tatapan bingung. "Aku belum siap. Tapi aku ingin menyelamatkannya. Biarkan aku berpikir."kata Jodie lagi. Ia terlihat begitu lelah. "Aku dapat meminta bantuan pada teman-teman lain, Nyonya. Mungkin dapat kubujuk Samuel sedikit...."hibur Ahmed. Kosong. Jodie tersenyum pahit. "Aku lelah. Aku mau tidur dulu. Tinggalkan aku sendiri,"katanya seraya bangkit dari duduknya. Berjalan lemas, masuk kedalam ruangan lain. Samantha, Ahmed dan Blessha berpandangan. Putus asa.

Pagi bersama Janet...

Jodie mengunjungi Janet di penjara. Ia begitu kaget melihat kondisi Janet yang berantakan dengan luka biru lebam diwajahnya. Seketika emosinya meledak, ia langsung membentak para sipir yang membukakan pintu penjara Janet. "Apa yang kalian lakukan pada adikku? Apa!!"bentaknya pada sipir gendut yang mengantarnya. "Saya tidak tahu, nyonya."jawabnya acuh. "Jangan pura-pura bodoh! Kamu memukulinya, kan? Aku dapat menuntutmu karena kamu dan teman-teman rendahmu telah memukuli pesakitan!!"ancam Jodie sambing mencengkram baju sipir gendut itu, mendorongnya kebelakang. Sipir gendut itu berteriak-teriak minta tolong. Sipir-sipir yang lainpun segera datang mengelilingi Jodie dan melerainya. "Sekarang kalian semua ada disini. Dan aku ingin tahu apa yang telah kalian lakukan pada adikku!! Siapa yang memukulinya??!!"bentaknya tanpa rasa hormat. Salah satu sipir maju kedepan,"Jangan kurang ajar disini, Nyonya Jodie. Walaupun Anda adalah wanita terhormat disini, tapi Anda tidak dapat bertindak sesuka Anda. Adik anda adalah terhukum disini. Jadi hendaknya anda tidak perlu memamerkan kuasa apa-apa karena itu tidak dapat mengubah apapun juga. Adik anda tetap saja akan mati."katanya dingin. Jodie melotot menahan geram.

Perlahan, Janet menyentuh bahu Jodie dari belakang. "Biarkan mereka, Jodie..."katanya lemah. Jodie memandangi Janet sejenak, kemudian kembali memeloti sipir-sipir berwajah dingin itu,"Jika kalian melakukannya lagi, aku akan memastikan kalian kehilangan segalanya,"ancam Jodie. Sipir-sipir itu hanya mendengus dan bubar. Emosi Jodie meluap-luap. Ia menyandarkan tubuhnya ketembok dan memegangi kepalanya yang terasa sakit. Meringis.

"Maafkan aku......telah membuatmu..." "Sudahlah. Tak perlu repot-repot."sungut Jodie memotong pembicaraan Janet. Ia terpaksa bersandar dan berjongkok pada lantai jorok itu, sementara Janet duduk melantai. Jodie sangat jijik dengan suasana penjara itu. Kotor, pengap dan jorok sekali. "Aku akan mati, Jodie. Maafkan aku. Maafkan semua kesalahanku,"terawang Janet. Jodie terdiam. Beberapa saat ia terpaku. "Aku pun minta maaf. Juga maaf karena tidak dapat menyelamatkanmu. Aku telah berusaha membujuk sesepuh pertama tapi..."ia menarik napas panjang. "Aku tahu. Terima kasih karena kamu telah berusaha,"lemah Janet. Beberapa saat suasana hening. Heningnya membuat tetesan air yang bocor dari langit-langit ruangan terdengar begitu jelas.

"Janet, apakah kamu sungguh membunuh Reene? Katakan padaku..."Jodie menatap Janet. Wajah itu tak lagi mulus. Biru lebam penuh bekas tumbukan. Janet tersenyum sambil memalingkan muka,"Adalah kesalahan terbesar karena aku ada disana waktu itu,"gunam Janet.

Jodie tercekat. Ia terpojok. Ia merasa begitu menyesal. Ia tak mampu berkata apa-apa. Ia begitu menyesal!! "Oh Tuhan, seandainya tak kubiarkan Reene menikahi Blessha......."

Ma®™
March 15, 2003, 02:06
Tersudut. Terpojok.
Aku bagai ditelanjangi.
Aku menyesal.

Mengapa ia selalu datang terlambat?


_____
Jodie

Ma®™
March 15, 2003, 02:08
Sebelum Jodie berlalu, Janet memanggilnya. Jodie menoleh. Kata-kata Janet tercekat dikerongkongan. Ragu-ragu. Tapi Janet merasa perlu untuk mengatakannya karena hidupnya tidak lama lagi. "Maafkan aku..."katanya lirih. "Maaf? untuk apa?"tanya Jodie sambil membalikkan badannya. "Maafkan aku untuk Henry, untuk Blessha, untuk Reene....dan untuk semua penghuni keluarga Antroph,"katanya sambil memandang Jodie lirih. Jodie mematung sesaat. Tanpa bersuara, ia segera memeluk Janet erat. Dua kakak beradik itu bertangis-tangisan. Jodie tak dapat lagi menyimpan kegalauan hatinya. Ia meneriakkan kesedihannya, melepaskannya. Janet memeluk Jodie erat. Ia menangis. Pelukan ini sudah lama tidak dirasakannya. Suasana hanya terisi oleh isak tangis penyesalan. Menyesali segalanya yang sudah terlambat. Menyesali apa yang terlewat, tanpa kesadaran, melalaikan perbaikan sehingga akhirnya harus hancur berantakan.

"Kamu adikku, adik yang manis. Aku bangga memiliki adik sepertimu,"bisik Jodie lirih.
"Aku yang seharusnya bangga, karena memiliki kakak sempurna sepertimu, Jodie. Maafkan aku, maafkan aku yang telah menghancurkan semua perjuanganmu....."isak Janet.
"Kamu begitu kuat. Aku hampir tak percaya kamu bisa setabah ini.... Janet. Maafkan kakak juga..."

Dan waktupun merambat. Cahaya mentari mulai memudar bersama kereta malam yang menebarkan pekatnya membawa Jodie berlalu dari situ.. Janet terduduk di lantai dingin itu, merapatkan dengkulnya yang bergetar kedinginan. "Aku tak mungkin mengatakannya,"isaknya. "Anggaplah ini tebusan atas segala dosa-dosaku, semoga Tuhan mengampuniku,"

Pagi berdarah

Janet dikejutkan oleh suara bantingan pintu. Dua sipir masuk dan menyeret Janet keluar. Mereka menjerembabkan Janet tepat dibawah kaki Zeta. Janet mendongak pelan, mengeluh kesakitan karena kulitnya terkelupas akibat seretan itu. Ia bahkan belum sadar benar dari tidurnya. "Janet malang, hidupmu tinggal satu hari,"senyum Zeta. "Kemarin Jodie datang padaku. Dia memohon untuk membebaskan kamu. Hmm...hebat. Aku tak pernah melihat wajah Jodie sememelas itu. Dia benar-benar memohon, Janet. Kamu seharusnya seharusnya melihat raut wajah Jodie....."Zeta membalikkan tubuhnya, berjalan kebelakang perlahan-lahan. Lalu ia menyibak gaunnya, berdiri anggun memandangi Janet dengan tatapan hina. Gaun itu lembut menyapu lantai. "Sayang, ayahku tak dapat menyelamatkanmu. Dosa-dosamu, Janet. Salahkan dosa-dosamu. Salahkan dirimu, Janet,"khotbah Zeta tersenyum kemenangan.

"Aku tak perduli tinggal berapa lama lagi hidupku, Zeta. Kalaupun aku harus mati, aku akan mati saat itu juga. Tetapi kamu, kamu merasa mati selama hidupmu, karena kamu terlalu picik. Kamu akan termakan oleh dendammu sendiri. Seumur hidupmu, kamu akan mengingat aku. Satu-satunya perempuan yang digilai suamimu! Kamu boleh membusungkan dadamu pada setiap orang karena telah berhasil membawaku pada kematian. Tapi sebaiknya, kamu sama sekali tak berharga. Suami tercintamu, rela meninggalkanmu demi merangkak dibawah kakiku!!! Huh!"sinis Janet tak mau kalah. Janet memang keras kepala.

Zeta mendelik marah. Zetta menjambak rambut Janet kasar. Tangan kanannya menjambak rambut belakang kepala Janet sementara tangan kirinya mencengkram tenguk Janet kasar. Kuku runcing yang terawat rapi itu menusuk leher Janet, semakin membuat merah leher yang sudah mulai membiru itu.

"Perempuan jalang!! Tahukah kamu bahwa kamu telah menghancurkan hidupku??" Eeegggghhhh.....keluh Janet tertahan ditenggorokan ketika Zetta semakin memperkuat cengkramannya. Sadis, ditempelkannya pipi Janet ke lantai hingga mencium lantai penjara jorok itu,"Kamu telah merebut suamiku. Kamu telah menghancurkan hidupnya, keluargaku, dan HIDUPKU. Dasar PELA-CUR!!"

Janet tak mampu memberontak, tangan dan kakinya dipegangi sipir-sipir penjara itu begitu erat, tanpa menghiraukan kulit tubuhnya yang lecet terkelupas oleh kuku-kuku tajam. Zetta memindahkan tangan kanannya ke leher, bergerak mencekik Janet dari belakang. Janet megap-megap, memberontak tanpa daya. Beberapa saat ia sekarat meregang nyawa, ketika tiba-tiba Zetta melepaskan cengkramannya, menarik kepala Janet kemudian membenturkannya dengan keras ke lantai..... DUGGG!!

Janet tak sempat lagi berteriak. Ia merasa kesadarannya setengah melayang. Perih dan pusing. Sakit sekali. Cairan kental itu mengalir ke keningnya. Ia terkulai lemas tanpa daya, ngos-ngosan menghirup udara. Pengap semakin terasa pengap. Zetta berdiri dan memandang Janet dengan perasaan penuh dendam,"Sekarang kamu tahu bagaimana rasanya mati. Seperti itulah aku ketika mendapatkan kamu merebut suamiku."

Zetta melangkah ke arah pintu keluar, berjalan dengan penuh keangkuhan sambil berkata,"Aku tidak akan membiarkanmu mati semudah itu, Janet Antroph..." Kemudian ia berhenti di depan pintu keluar, berpaling menatap Janet dengan mata menyipit penuh kebencian,"Aku ingin melihatmu sekarat terpanggang matahari sebelum terbakar bersama api. Aku bersumpah akan menghancurkanmu lebih dari kamu menghancurkan hidupku!!"

Lalu ia melirik sipir-sipir penjara berbadan tambun itu, menggeram,"Gunduli dia!!!"

Tembok-tembok itupun membisu. Seakan menutup mata dan telinga tanpa sanggup melihat penderitaan Janet. Jeritan-jeritan kesakitan, lengkingan marah, putus asa bercampur dengan tangis. Apakah masih belum cukup untuk menebus kesalahan?

Pengadilan Agama

Jodie, Blessha, Samantha, Ahmed sudah masuk terlebih dahulu. Suasana pengadilan pagi itu padat. Hampir seluruh penghuni Peace Highlands menyempatkan dirinya untuk mengikuti persidangan, walau mereka harus berterik panas diluar. Di depan, Samuel duduk dengan berkas-berkas dokumen, memandang Jodie dan Ahmed dengan tatapan tak enak. Zeta sendiri duduk tak jauh dari Jodie, tak sabar. Tak lama kemudian semuanya dipersilahkan berdiri dan sepuluh sesepuh memasuki ruangan.

Mereka duduk dikursi-kursi tinggi yang berjejeran didepan menghadap pengunjung. Pengadilan itu sederhana. Meja-kursi seadanya dengan perlengkapan secukupnya. Terdengar suara pintu berderit terbuka, "Krieeetttt......" Diiringi Janet berjalan masuk dengan sempoyongan diikuti seorang sipir wanita gemuk dibelakangnya. Seluruh pengunjung berteriak menyoraki Janet,"Penzinah...penzinah...bakar...bakar...." beberapa diantara menyorakinya "Pela-cur". Suasana hiruk pikuk, salah seorang sesepuh mengangkat tangannya memberi tanda untuk diam. Suasana kembali hening. Janet melangkah perlahan dengan pandangan mata berkunang-kunang. Pakaiannya awut-awutan dengan rambut pitak-pitak bekas digunduli. Jodie hampir berdiri dan protes jika saja tangannya tak segera ditahan oleh Samantha. Samantha menggelengkan kepalanya memberi isyarat untuk tenang. Degug dada Jodie tak beraturan. Ia marah. Blessha menatap Janet dengan pandangan ketakutan, sementara Ahmed hanya menunduk prihatin. Hanya Zeta yang tersenyum melihat hasil karyanya atas diri Janet. Biru lebam sekujur tubuh, penuh luka yang tentunya sangat menyakitkan sehingga membuat Janet berjalan sempoyongan menuju ke tengah ruangan, duduk didepan para sesepuh membelakangi pengunjung.

Ma®™
March 15, 2003, 02:09
"Janet Antroph, anda dituduh telah membunuh Tuan Reene Kulham, menusuknya dengan besi bara hingga menembus jantung, mengakibatkan korban mati seketika. Akuilah kebenarannya dan ceritakan kejadiannya!"kata sesepuh ketiga singkat dan langsung.

Janet yang sedari tadi menunduk, perlahan-lahan mendongakkan kepalanya memandanga para sesepuh itu satu persatu,"Ya. Aku telah membunuhnya. Aku tak perlu menceritakannya, karena bagian itu tak layak untuk aku ingat."jawabnya pendek.
Para sesepuh berpandangan, salah seorang sesepuh kembali berkata,"Jika kamu tidak mau menceritakannya, kami akan mencari beberapa altenatif dugaan antara kamu dan adikmu Blessha. Karena ditemukan sedikit kejanggalan pada letak tusukan dan jika dikaitkan dengan kejadian yang telah kami reka, hampir tidak mungkin Anda sanggup menusuknya,"
Mendengar nama Blessha disebut, membuat gadis itu gemetar ketakutan. Ia menimbulkan suara-suara gelisah ketakutan. Mulai terisak.

"Baik. Kalian ingin mendengarnya? Huh. Dengarkan baik-baik, aku tidak akan mengulangnya. Reene Kulham...... Ia mengundangku untuk datang karena mengkhawatirkan keadaan Blessha. Karena ini menyangkut adikku, aku datang. Aku datang karena aku ingin menengok adikku, aku tidak ingin terjadi sesuatu atas dirinya. Reene Kulham itu ba-jingan. Lalu aku masuk ke ruang baca. Ia menungguku disana. Kami berbincang sejenak dan akhirnya kami bertengkar. Ia menghina kekurangan Blessha. Katanya, ia menikahi Blessha hanya untuk balas dendam karena aku telah menolaknya."Janet berhenti sesaat, menelan ludah. Maafkan aku, Blessha...batinnya dalam hati.

"Lalu, ia menarikku dan menindihku diatas meja. Ia ingin menodaiku. Aku membela diriku, meraih apa saja yang ada didekatku sambil menendang selangkangannya. Waktu beberapa detik itu aku manfaatkan untuk meraih besi bara dan menusuknya dari belakang..."urai Janet tenang. Ia seakan sudah pasrah akan hidup matinya. Pandangan matanya kosong kedepan. Penuh rasa tidak puas, tapi ia harus pasrah.

Para sesepuh berpandangan, Janet menatap mereka satu persatu dengan pandangan sinis. "Para sesepuh yang budiman, hal paling buruk yang dialami oleh seorang perempuan adalah diperkosa. Aku tidak akan membiarkan dia mencemarkan diriku dengan perbuatan terkutuknya. Aku tidak bersalah, karena aku membunuhnya untuk membela diri!!"seru Janet memecah keheningan. Pandangan mata Blessha mendelik-delik, gadis itu tegang dan shok. Ia terkulai di bahu Samantha dengan mulut berliuran dan tangan yang mengejang kaku. Samantha memeluk untuk menenangkannya. Blessha melotot, gambaran kematian Reene terpampang jelas dipelupuk matanya. "A-a-a-a-a-a...."rintihnya tanpa sadar.

"Aku memang wanita jalang di kota ini."katanya. "Tapi itu bukan berarti aku bebas membiarkan diriku disetubuhi paksa!!"serunya nekat. Suasana pengadilan menjadi sedikit ribut. Masing-masing pengunjung bergunjing dengan versi masing-masing. Wajah Janet terlihat tegang. "Aku tidak bersalah!!"teriaknya lantang. "Sudah jelas bahwa ba-jingan itu sengaja mengundangku dengan tujuan jahat. Ia telah menipuku dengan kedok mengkhawatirkan adikku. Ini jelas-jelas sudah direncanakan. Tanyakan pada pesuruhnya! Aku tidak bersalah!!"

Para sesepuh saling berdiskusi. Janet menanti harap cemas. "Baiklah. Kami akan menjabarkan sedikit kejadian masa lalumu, Nona Janet. Karena bukti-bukti ini sangat dibutuhkan untuk menilai apakah kau bersalah atau tidak. Dari sini kami dapat menilai dirimu. Apakah kamu juga merekayasa kejadian atas dasar rasa tidak puas karena Reene menikahi adikmu, kecemburuan, atau....dugaan lainnya,"

Kemudian salah seorang mengacungkan tangan meminta pengunjung untuk tenang. Setelah pengunjung tenang, salah seorang menepuk tangannya memberi isyarat. Orang yang paling berdampak atas tepukan tangan itu, adalah Samuel. Ia memandangi Jodie sesaat, kemudian bangun dari duduknya. Dipaksanya berjalan tegap, lalu ia menyerahkan berkas dokumen kepada salah seorang sesepuh. Daftar dosa Janet!!

Daftar Dosa Janet

Janet bergidik, memandangi Samuel dengan tatapan tak percaya. Ia merasa dikhianati. Bagaimana mungkin orang tuanya yang telah menjadikan Samuel seperti hari ini, telah berbalik menikam anak dari manusia yang berjasa itu?? Ia tertunduk lemas. Samuel duduk dengan perasaan tak enak, menghindari pandangan marah Jodie dan pandangan kecewa Ahmed. Samuel meraba keningnya sesaat, lalu memandang sesepuh yang ia serahi berkas membuka dokumen. Keringatnya bercucuran. Betapa ia merasa tak enak!

"Hmmm......mungkin ini ada sedikit bukti yang dapat memberatkan Nona Janet. Bukti-bukti ini sudah sangat lama, hmmm....penyimpangan-penyimpangan rahasia, penzinahan, perselingkuhan....semua bukti pelanggaran yang dilakukan oleh Nona Janet...."katanya sambil membalik-balik dokumen. Olehnya, ia menyerahkan dokumen itu pada sesepuh lainnya. Sedetik kemudian, daftar dosa Janet dibuka dan dibaca dengan lantang.

Janet menyusut. Ia tak berdaya. Jodie, Samantha dan Ahmed tertunduk lemas. Muka Janet dan Jodie memerah mendengar daftar dosa yang dibuka oleh para sesepuh. Apalagi tentang Henry. Saksi-saksi yang dihadirkan pada saat Janet dan Herny tertangkap basah berzinah ria di penginapan sederhana tak jauh dari kediaman Antroph adalah pemilik dan pelayan penginapan yang menemukan Jodie dalam keadaaan pingsan karena memergoki keduanya. Semuanya memberatkan. Janet tak berkutik. Tak ada sanggahan. Terlalu banyak kesalahan. Blessha shock, ia menjerit histeris. "Ti-tidd-daakkkk...... ka-kak Ja-net tid-dak ber-sa-lllahhhh....."jerit Blessha histeris. Samantha segera membawanya keluar dari ruang sidang. Sambil keluar, gadis itu berteriak-teriak dengan mata melotot, ludah berliuran,"A-kuuu.....akkk--uuu........."jeritnya tanpa dapat dimengerti dan diulang-ulang. Histeris. Penuh tangis.

Detik itu segalanya menjadi hitam. Bait-bait daftar dosa Janet seakan berubah menjadi batu-batu gunung yang runtuh menghujam kepala Janet hingga rata kebumi.....

Aku tak enak.
Apakah aku seorang pecundang?


----- Samuel

Ma®™
March 15, 2003, 02:12
"Ada sanggahan, Nona Janet Antroph?"tanya sesepuh itu setelah selesai membaca daftar dosa Janet. Janet tertunduk. Matanya memandang kosong kedepan. Ia melihat kesempatan untuk hidupnya terbang didepan matanya. Lemas.

"Ada sanggahan, Nona Janet Antroph?"ulangnya. Hening. Janet kehilangan semangat untuk membela diri.

Tiba-tiba,"YA. ADA!!"teriak salah satu suara.

Jodie!! Jodie berdiri dari duduknya. Ia berdiri begitu begitu tegak dengan dada terbusung. "Para sesepuh yang budiman, aku tahu dosa masa lalu adikku. Aku tahu perzinahan diharamkan disini. Dan pembunuhan yang terjadi, bukan atas keinginan Janet. Ia akan diperkosa!!. Hal yang paling memalukan yang terjadi pada diri seorang wanita adalah diperkosa. Ia membunuh karena membela diri!! Bayangkan jika istri kalian, anak gadis kalian...mengalami hal seperti itu...mereka pasti akan melakukan apa saja untuk membela dirinya, membela kehormatannya...termasuk membunuh!!"seru Jodie.

"Hmm...tapi disengaja atau tidak, membunuh adalah tindakan kriminal yang terjadi atas diri seseorang. Itu tetap dinamakan kejahatan."tegas sesepuh pertama.

"Baik. Kejahatan katamu. Janet membunuh untuk membela dirinya. Ba-jingan seperti Reene pantas untuk mati, karena jika ia tidak mati, bisa saja ia melakukan kesalahan yang sama pada perempuan lainnya. Memperkosa perempuan lainnya. Dan jika dia tidak membunuh, apa yang akan terjadi pada dirinya setelah hari terkutuk itu? Apakah dia akan terus hidup? DIA AKAN MERASA MATI!! Jadi apa gunanya hidup, jika dia tidak dapat menikmati hidupnya sendiri sementara si pemerkosa bebas berkeliaran dimana saja? Bagaimana dengan trauma? Bagaimana dengan ketakutan, ketidakseimbangan emosi setelah kejadian itu? Apakah kalian pernah mempertimbangkan APA yang akan terjadi setelah itu?"jabar Jodie tegas. Wanita berkelas itu berkemauan keras untuk menyelamatkan adiknya. Jodie sudah kepalang tanggung. Ia tak perduli siapa orang-orang yang menamakan dirinya terhormat duduk didepannya, memandangnya dengan tatapan tak senang.

"Anda tidak berhak untuk membela Janet Antroph."sekak salah seorang sesepuh, sinis.

"Aku berhak untuk keadilan! Aku tidak berbicara atas nama keluarga Antroph. Tapi aku berbicara atas nama KEADILAN!!"bantah Jodie.

"Keadilan akan ditegakkan dan kami akan menghukum mereka yang pantas menerima hukuman. Duduklah dengan tenang dan ikuti persidangan atau anda kami persilahkan untuk menemani adik anda diluar!"ancamnya lagi.

"Baik. Aku mau lihat keadilan seperti apa yang akan kalian tegakkan. Kalaupun kalian bersikeras menghukum adikku, kukatakan pada kalian semua, para sesepuh yang budiman... kalian tidak boleh hanya menghukum adikku!! Kalian juga harus menghukum pasangannya! Dan aku mau melihat berapa banyak perempuan disini yang akan kehilangan suaminya, berapa banyak orang tua yang akan kehilangan anak laki-lakinya! Aku mau aib itu dibuka selebar-lebarnya dan kita nikmati bersama!!"seru Jodie dengan wajah merah. Suaranya bergema memenuhi ruangan, diiringi dengung gunjingan para pengunjung sidang.

"Aku tidak akan membiarkan kalian duduk didepan sana hanya untuk menghakimi adikku seorang. Kalaupun dia harus mati terbakar, aku mau semua pasangan intimnya, yang telah mengambil keuntungan atas adikku, juga harus MATI TERBAKAR!!" Jodie manatap para sesepuh itu satu persatu, pandangannya tajam menusuk hati. Penuh dengan emosi yang bergejolak.

"Janet Antroph telah lama melakukan penzinahan, beberapa diantaranya bersuami, beberapa diantaranya tidak..."

"Kalau begitu kalian harus menimbang lagi hukumannya! Jika pasangan intim adikku tidak bersuami, lebih baik kalian mencoret daftar dosa itu dari beban hukuman, karena itu bisa saja dilakukan oleh sepasang muda-mudi lajang yang dimabuk cinta. Tak perlu munafik. Tapi jika pasangannya telah beristri, kalian harus menarik laki-laki itu. Kalian mengklaim bahwa Peace Highlands adalah kota keadilan yang berhukum. ADIKKU, tidak melakukan kesalahan itu sendirian. Dia melakukannya DENGAN orang lain. Berarti, kalian HARUS menghukum pasangannya!! Itu baru keadilan!!"potong Jodie berani.

"KEADILAN!!"teriak Jodie sambil mengepalkan tangannya.

Suasana menjadi ribut. Para sesepuh berdiskusi. Janet menoleh kebelakang, menatap Jodie dengan pandangan tak percaya. Ia begitu terharu. Air matanya menggenang dipelupuk matanya. Ia tertunduk sambil mendekap kepalanya. Perasaannya kacau, ia kehabisan kata-kata. Jodie masih berdiri sambil memandangi para sesepuh itu satu persatu. Urat sarafnya tersamar dikening. Ia bagai berada diantara hidup dan mati, walaupun ini bukan sidangnya.

"Nona Janet telah merusak kehidupan rumah tangga orang lain. Peace Highlands adalah kota hukum. Kami selalu menerapkan hukuman yang lebih berat pada biang-biang perusak hukum. Dan Nona Janet Antroph, dinyatakan sebagai biang perusak rumah tangga orang. Porsi hukuman yang kami berikan kepada biang perusak tentu berbeda dibandingkan dengan orang yang dipengaruhi. Kami akan tetap memberikan sanksi pada pasangan-pasangan intim Nona Janet Antroph. Tapi hukuman untuk Nona Janet, yang dituduh sebagai 'biang' perusak....tetap dijalankan! Selama ini kami telah bersabar menanggapi tingkah laku bebas Nona Janet Antroph, menimbang jasa-jasa orang tua Anda pada kota ini. Tapi kami tidak dapat melepaskan dia dari tuduhan pembunuhan atas Tuan Reene Kulham. Dia bersalah karena telah mengunjungi dan membunuh Tuan Reene Kulham!!"

"Tidak adil!!"bentak Jodie. "Apakah kalian tidak pernah mau mempertimbangkan bahwa setiap manusia boleh merubah dirinya? Adikku, telah bertobat!! Kalian harus mempertimbangkannya. Kalian tidak berhak memutuskan hidupnya ketika dia telah menyadari kesalahannya dan mau berubah!! Itu adalah dosa masa lalu. MASA LALU!! Adikku tidak pernah lagi melakukan kesalahan setelah....setelah penzinahannya yang terakhir!!" Jodie menelan air liurnya. "Aku tidak perduli dengan dosa-dosa masa lalu adikku!! DIA TELAH BERUBAH!! Samuel!! Kamu orang yang paling tahu kesalahan-kesalahan penduduk disini. Katakan pada mereka kapan terakhir kalinya adikku tertangkap melakukan penzinahan!! Dan Reene Kulham, dia itu ba-jingan!! Dia pantas mati karena dia telah menelantarkan istrinya Blessha, melecehkan Blessha dengan menyusun rencana untuk menodai Janet. Perkawinannya hanya sebagai tameng!! Aku tidak terima! Aku minta dihadirkan saksi!!"seru Jodie meninggi. Dipelototinya Samuel. Samuel memalingkan muka tak enak.

"Anda dipersilahkan untuk duduk dengan tenang, Nyonya. Anda tidak berhak untuk menyela dipersidangan. Apakah anda meragukan kemampuan kami dalam menangani kasus ini?!"tegur sesepuh.

"Melihat cara kalian menilai kesalahan orang lain, piciknya pikiran kalian dalam mengakhiri kehidupan seseorang, kalian tidak pantas dinamakan sesepuh!!" Kata-kata Jodie tercetus tanpa disadari. Ia terdiam sesaat, mengoreksi kesalahannya. Emosinya telanjur meledak. Memecah kesabaran. Ruang sidang itu langsung ramai. Orang-orang mengejek Jodie. Beberapa diantara bergunjing dengan versi masing-masing yang memojokkan Janet. Para sesepuh yang sedari tadi menahan diri, mulai gemas. Marah. Menghardiknya dengan muka memerah. Siapa kamu, perempuan.....berani sekali memaki aku? Ego masing-masing.

"Anda telah menghina persidangan agama yang sakral ini, Nyonya!! Peace Highlands adalah kota hukum!! Janet Antroph tidak mempertimbangkan perasaan perempuan lain, istri-istri lain yang dia rebut suaminya. Bagaimana perasaan perempuan-perempuan malang itu? Kehilangan suami, kehilangan kasih sayang, kehilangan hak-hak seorang istri....beberapa diantaranya kehilangan anak! Rumah tangganya hancur. Beberapa lagi terlunta-lunta karena ditinggal pergi oleh suaminya. Bagaimana dengan anak-anak yang kehilangan ayahnya, menerima kenyataan bahwa keluarganya hancur? Pernahkah kau pertimbangkan semua itu, Nyonya Jodie? Apakah Janet terpikir sampai kesitu? Apakah anda pernah memikirkan hal itu? Janet Antroph tidak hanya mengangkangi keadilan di Peace Highlands, tapi dia juga telah mengangkangi dan melukai hati semua penduduk kota ini!! Ditanganku ini, tertulis semua daftar dosa Janet Antroph, bukti-bukti yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Penzinahan diharamkan dikota ini, tapi Janet Antroph tidak takut akan hukum. Ia melakukan pelanggaran berkali-kali dan terus menerus...baik dengan mereka yang sudah bersuami ataupun masih lajang!! Jika kami melepaskan Adik anda, akan ada seratus orang lagi dibelakang yang siap melanggar keadilan disini. Hukum harus ditegakkan. Janet Antroph dinyatakan bersalah atas pembunuhan, penzinahan dan pelecehan keadilan di Peace Highlands!!"putus sesepuh pertama. Raut wajahnya keras tanpa ingin dibantah.

Ma®™
March 15, 2003, 02:13
"TIDAKKK!!! AKU TIDAK BERSALAH!!!"teriak Janet tiba-tiba. "Aku akui kesalahanku, tapi tolong pertimbangkan lagi hukumannya. Aku tidak mau mati terbakar!! AKU TIDAK MAU!!"teriak Janet sambil terisak-isak.

"Aku membela diriku!! Aku HARUS membela harga diriku!! Aku tidak bersalah untuk itu!!! Aku akui kesalahan masa laluku, aku telah berubah!! Beri aku kesempatan untuk membuktikan bahwa AKU TELAH BERUBAH!"seru Janet panik.

Ruang sidang itu seketika ribut. Janet menjerit histeris. Tiba-tiba pintu didobrak, Blessha muncul didepan pintu dengan tubuh sempoyongan.

"Ti-ti-daakkkk....ka-kak Ja-net ti-dak ber-sa-llahh...."jeritnya terpatah-patah.

Samantha segera memeluk gadis itu, membawanya pergi dengan kerepotan. Tenaga Blessha begitu kuat saat kalap begitu. Kondisinya sangat menjijikkan. Ludahnya sendiri sudah membasahi leher dan dadanya. Matanya mendelik-delik sambil menunjuk-nunjuk dirinya, berceloteh tentang kata-kata yang sulit dipahami.

"Reen ja-hat. Reeennn jaa-haattt.... a-kku a-kkuu di-aa ja-haat...akk-kuu b-bbu-nnuhh-hhh"katanya berulang-ulang. Sulit dipahami.

Ia memberontak dalam pelukan Samantha. Ia berjalan sempoyongan, hampir roboh menimpa para pengunjung sidang. Para pengunjung pun berteriak ketakutan, sebagian diantaranya begitu jijik menatap Blessha. "Terkutuk...terkutuk....."seru mereka sambil menatap Blessha dengan tatapan jijik.

Melihat Blessha menyelonong masuk sambil berceloteh tak karuan, Janet segera berdiri, berbalik dan berteriak,

"Bawa adikku pergi dari sini!! BAWA DIA PERGI DARI SINI!!"jerit Janet. Ia menunjuk Ahmed.

Ahmed segera bangkit dari duduknya dan berlari menghampiri Samantha yang kerepotan membawa Blessha pergi dari situ. Tangan kekarnya langsung memeluk tubuh gadis itu dan membawanya menyingkir dari depan pintu, sedikit menyeretnya. Janet memandang Blessha dengan pandangan takut, anak ini kalap. Tanpa pikir panjang, dia segera berbalik, menghadap para sesepuh dan berseru,

"Aku telah membunuh Reene Kulham. Aku mengakuinya, aku melakukannya dan...aku akan menerima hukumannya!!"

"Aku telah membunuh Reene Kulham.

Aku mengakuinya,

aku melakukannya dan...

aku akan menerima hukumannya!!"


Pengakuan Janet tidak hanya menghempas semangat Jodie entah kemana, tapi juga menghempas semangat orang-orang yang mengasihinya.

Diluar,
Blessha berteriak-teriak histeris. Ia kejang-kejang, tergeletak dengan mulut berbusa, tangan yang mencengkram leher Ahmed kuat. Leher hitam itu merah tertusuk kuku. Ahmed menahan perihnya. Blessha begitu kuat kala kalap.

Tapi saat ini, gadis itu tergeletak tak berdaya, dengan mulut berbusa. Ia mengalami tekanan jiwa yang dashyat, perasaan tak rela tersorot dari matanya. Ia marah. Tapi kemampuan fisik gadis malang itu, tak mampu menggambarkan pikirannya.

Jodie memeluk Janet, mencoba menahan tangis yang sedari tadi akan pecah. Janet menangis, pasrah.

Putusan Pengadilan Agama disambut meriah oleh pengunjung. Mereka tampak begitu puas.

"Hukuman akan dilaksanakan dua hari lagi, tengah hari."

Setelah itu,
sipir-sipir langsung menarik tubuh Janet, menjauhkannya dari Jodie. Jodie berusaha merangkul Janet, ingin memeluknya lebih lama. Tanpa perasaan sipir-sipir itu memisahkan keduanya. Pun ketika Janet berteriak memohon sedikit waktu, mereka tak mengindahkannya.

"Lepaskan aku!! Biarkan aku memeluknya lebih lama!! Lepaskan aku!! Kakak...."jerit Janet.

Beberapa orang sipir menghalangi langkah Jodie untuk menggapai adiknya. Bahkan ketika Janet keluar dan melewati Blessha yang tergeletak tak berdaya dalam pelukan Samantha, ia semakin histeris.

"Tidaaakkk!!! Beri aku sedikit waktu, aku ingin memeluk adikku!! Beri aku sedikit waktu!! TOLONGLAH!! SEBENTAR SAJA...TIDAK...TIDAAAAKKKKKK..............."

Mereka tetap saja tak bergeming. Menyereti tubuh Janet yang biru lebam. Wajah gadis itu tak karuan dengan rambut setengah botak, pitak-pitak penuh luka pada kulit kepala. Aroma tak sedap keluar dari bekas lukanya.

Janet terlihat SANGAT kacau. Ia tak lebih dari gembel paling jorok sekalipun. Menyedihkan.

Lalu,

tangan-tangan kasar itu
memisahkan aku dari mereka.

Aku tak tahu lagi kapan aku dapat memeluk tubuh itu,
mencium aroma dan merasakan kehangatannya.

Kehangatan keluarga,
yang tak kuindahkan ketika ada didepan mataku.


----- Janet Antroph

Ma®™
March 15, 2003, 02:14
Diluar,

orang-orang bersuka ria menyambut putusan pengadilan. Mereka saling bergujing dengan wajah berseri-seri. Jodie begitu muak melihat semua itu. Beberapa diantaranya berani mengejeknya, mencibirnya. Jodie langsung mengikuti Samantha dan Ahmed yang memapah Blessha naik ke kereta.

Tapi, beberapa langkah mendekati kereta, Jodie memelankan langkahnya. Ia merasa tak enak, merasa sedang diperhatikan oleh seseorang. Tanpa sadar, ia menoleh ke sebelah kanan.......


dan menemukan sosok tubuh terbalut pakaian serba hitam dan bertopi, bersyal tebal berdiri di sudut jalan, diam diantara kerumunan orang, menatapnya.

Jantung Jodie berhenti berdetak. Bagaimana mungkin ia lupakan sosok itu? Walau terbalut samaran, Jodie tetap dapat mengenalnya. Mata teduh itu...

Jodie melongo, ia menghentikan langkahnya. "Henry......"desisnya.

Ma®™
March 15, 2003, 02:15
Aku mencintaimu.
tak perduli arang itu melingkupimu.

Aku mencintaimu.
Akan selalu mencintaimu,
untuk berjuta tahun cahaya,
hingga belulang rata dan membumi.


----- Jodie Antroph

Ma®™
March 15, 2003, 02:16
Cuplikan:

"Tidaaakkkkk......."jerit Janet. Ia segera mundur, memalingkan wajahnya dan menekuk kepalanya disudut ruangan. Gemetar ketakutan. Air matanya berlinang.

"Mengapa? Janet, aku ada disini."katanya lembut berusaha menenangkan.

"Tidaakk....pergilah. Aku...tidak ingin kamu ada disini. Aku tidak siap untuk bertemu, aku...aku sangat buruk......pergilah. Aku...sudah rela kamu pergi..."tangisnya dengan hati hancur.

"Janet, aku ada disini....."ulangnya lagi. Dipandangi tubuh yang membelakanginya dengan tatapan lembut. Penuh kasih.

Laki-laki itu menghampiri Janet, menyentuh tangannya. Janet gemetar ketakutan, minder. Lalu, laki-laki itu membentangkan tangan Janet, meletakkannya pada pinggangnya. Tangan kekarnya sendiri memeluk pinggang itu, erat dan semakin erat.

"Jangan takut. Aku ada disini...."bisiknya.

Aku akan selalu mencintaimu.
sejak sembilan tahun yang lalu,

saat itu,
pada pesta itu,
diantara musik itu,
dalam tarian itu,

telah kau bawa separuh jiwa dihatiku.


----- Janet Antroph

Ma®™
March 15, 2003, 02:17
Cerita yang lalu,

dan menemukan sosok tubuh terbalut pakaian serba hitam dan bertopi, bersyal tebal berdiri di sudut jalan, diam diantara kerumunan orang, menatapnya.

Jantung Jodie berhenti berdetak. Bagaimana mungkin ia lupakan sosok itu? Walau terbalut samaran, Jodie tetap dapat mengenalnya. Mata teduh itu...

Jodie melongo, ia menghentikan langkahnya. "Henry......"desisnya.

----------------------------------------

Dan,
mereka saling berpandangan. Jodie melongo. Jarak mereka paling hanya sekitar 6 meter. Jodie tak mendengar panggilan Samantha untuk memintanya naik ke kereta. Ia telanjur kehilangan separuh nyawanya. Laki-laki bermata teduh itu juga berdiri menatapnya. Beberapa detik. Tapi belum sempat Jodie memanggilnya, seseorang telanjur menyadarkannya...

"Jodie!!"seru seseorang.
Jodie menoleh. Pandangan matanya masih terlihat kaget. Ia lebih kaget lagi ketika menemukan pemilik suara. Zeta.

Ia menoleh memandangi Zeta sekilas, dan segera kembali memandangi tempat berdiri laki-laki yang dicintainya. Raib. Tempat itu kosong. Tak ada Henry. Hanya penduduk lalu lalang yang masih menyerukan teriakan puas atas dihukumnya Janet.

"Jodie...."panggil Zeta. Ia menghampiri Jodie dengan raut wajah senang. Kesal, Jodie menoleh dan memelototinya. Marah karena Zeta telah mengacaukan konsentrasinya.....

"Aku ikut berduka atas keputusan bersalahnya Janet, Jodie."langsung Zeta. Ia tersenyum, memalingkan muka sejenak kearah Samantha dan Ahmed yang memandangnya tak senang.

"Aku ikut prihatin."katanya lagi.

Jodie membuang muka. Pandangan sinisnya dilemparkan pada orang-orang yang masih bergerombol mengejeknya dari seberang jalan. "Aku tak butuh rasa simpatimu."angkuhnya.

"Tak apa. Aku puas dengan segala bukti yang kukumpulkan....daftar dosa Janet." Zeta memandangi Jodie dengan mata berkilat-kilat.

Jodie langsung menoleh, menatap Zeta dengan pandangan marah. "Jadi kamu yang mengumpulkannya....."geramnya.

"Tentu. Kuberikan pada Samuel..... dia telah melaksanakan tugasnya dengan baik. Tak terlalu lengkap, karena adik binalmu sangat pandai melompat....."ejeknya.

"Kamu tahu, Zeta. Adikku, jauh lebih baik. Dia adalah seorang pemenang dalam segala hal. Dia memenangi segala hal. Termasuk kamu!"desis Jodie dingin. Ia menatap Zeta seakan ingin menelan tubuh itu dan mencabiknya menjadi beribu bagian.

Zeta mendelik tak senang. Belum sempat ia membalas, Jodie sudah kembali berkata,"Adikku memang perempuan binal. Tapi kamu, kamu pecundang. Adikku; pemenang. Kamu kalah. Kamu tak berguna dimata suamimu. Karenanya dia rela meninggalkanmu demi adikku. Huh, sungguh memalukan."sinis Jodie sambil berlalu, menghampiri kereta dimana Blessha, Samantha dan Ahmed telah menunggu.

"Janet....janet akan mati! Kamu akan melihatnya mati terbakar, Jodie!!"seru Zeta marah. Ia meremas gaunya gemas.

Jodie tersenyum, ia menoleh sebelum masuk ke dalam kereta,"Dia akan dikenal sebagai sang penakluk. Sedangkan kamu.....malang sekali!"

Kereta itupun berlalu. Meninggalkan Zeta yang masih berdiri dengan penuh perasaan marah. Jodie tak menghiraukannya. Pikirannya melayang.

H e n r y .

Apakah aku melamun? Apakah itu benar dia? Aku tak percaya. Mungkin aku salah..... gunamnya dalam hati.

Jodie menoleh. Ia menemukan Blessha lemas dalam pelukan Samantha. Jodie memandangi perempuan itu, kemudian kembali memandangi Blessha. Prihatin. Mereka diam. Seperjalanan itu hening. Separuh jiwa keempat manusia itu melayang. Masing-masing terkurung dalam kesedihan yang mendalam. Sejenak Samantha terisak. Perempuan separuh baya itu tak kuat. Ia menahan tangisnya. Air matanya berlinang. Tanpa isak. Tanpa sadar pula ia memeluk gadis idiot yang masih terus berliuran, kotor menjijikkan.

Diluar, Ahmed menjalankan kereta kuda itu dengan hati tabah. Sepanjang jalan terdengar ejekan ataupun suara tawa kemenangan. Mata-mata yang memandang mereka dengan sinis dan penuh rasa puas. Jodie mematung. Pikirannya melayang entah kemana. Buntu. Selamban laju kereta itu sendiri. Ia tak tahu apa yang menantinya di rumah. Pemberontakan?

Pengakuan Blessha

Sesampai di puri, Samantha langsung membawa Blessha ke kamar. Jodie berdiri dibalik jendela, mengintip apa yang terjadi dibawah. Didepan purinya, ia melihat dalang pemberontakan itu. Boro. Pemuda kurus itu tampak begitu bersemangat meneriakkan yel-yel yang diikuti para buruh-buruh lainnya. Yel yang memojokkannya. Menghinanya.

"Lancang!!"geramnya. Ia melihat Ahmed tampak berusaha berdamai. Sejauh ini tak membuahkan hasil apa-apa. Mereka malah balik menyoraki Ahmed dengan ejekan-ejekan yang tak enak didengar.

"Nyonya...."panggil Samantha memecah keheningan.
Jodie menoleh. "Ada apa?"tanyanya acuh tak acuh.

"Blessha....ia terus menyebut-nyebut nama Nyonya. Katanya dia ingin bicara..."kata Samantha lagi.

Jodie tak menjawab. Ia segera melangkah pergi menuju kamar Blessha. Samantha mengiringi dari belakang. Membuka pintu kamar Blessha, dan Jodie langsung masuk, duduk disamping ranjang.

Blessha sudah bersih. Samantha begitu cekatan mengganti dan me-lap bekas liuran Blessha. Gadis itu terbaring di ranjang dalam balutan pakaian bersih. Matanya mendelik-delik menatap Jodie.

"Ka-kakkkk......" tangan itu menggapai tangan Jodie. Jodie menyambutnya dan menggenggam tangan gadis malang itu dengan kedua tangannya. Blessha mencengkram pergelangannya dengan kuat. Jodie tak bergeming. "Ada apa, Blessha?"tanyanya pelan. Ia menarik tangan kirinya dari cengkraman Blessha dan mengelus keningnya.

"KA-KAKKK....ak-ku...akk-kuuu...."desis Blessha. Ia kembali berliuran. Samantha segera melap liur yang berceceran hingga ke leher itu.

"Ada apa, Blessha...katakan pelan-pelan..."kata Jodie. Pelan. Tanpa semangat.

"Ka-kak Ja-net tid-dak ber-saa-llaahhh.....di-a ti-daak mem-bu-nuhh Ree-nee....."

Jodie mengernyitkan alisnya. "Maksudmu?"

"Akk-kku....akk-kuu yang mem-buunnn-nnuhh Ree-neee......"

Jodie tersentak. Samantha terpekik. Ia langsung memandangi Blessha dengan mata melotot.

"Blessha, jangan main-main!! Aku tidak mengajarkanmu untuk berbohong di rumah ini!!"seru Jodie marah.

"Tidd-daaakkk ka-kak...... akk-ku ber-sum-pahh. Akk-ku yang memb-bu-nnuh Ree-nee....ka-re-nna ia mau men-ja-hatt-i ka-kak Ja-nett. Ak-kku yang me-nu-suk-nya dar-ri be-la-kangg...."

Jodie bagai tersambar oleh kilat yang paling kuat sekalipun.

Ia mematung dengan mata melotot. Waktu bagai membeku detik itu.

Ia mematung.


Ia tak percaya.


Tapi Blessha........tak mungkin berdusta.

Ma®™
March 15, 2003, 02:19
Dikamarnya,

Jodie Antroph termangu. Ia memandang sekeliling, mencoba menilai nilai kekayaan yang diraihnya dengan tangannya sendiri. Pandangannya berhenti pada perbukitan yang menguning dibalik jendela. Disana, ratusan hektar tanah dan ladang adalah miliknya. Seketika ia merasa apa yang ia miliki menjadi hangat, hanya menunggu segalanya menguap.

Jodie menghempaskan tubuhnya ke kursi, mendekap kepalanya dengan tangannya. Ia tersenguk. Apakah segalanya sia-sia? Apa yang telah aku capai, aku dapatkan, aku miliki....segalanya akan sia-sia?

Berapakah nilai sebuah nyawa? Apakah ia sebanding dengan apa yang aku miliki saat ini? Apa yang aku perjuangkan dengan seluruh daya yang ada, dan hampir menghabiskan separuh hidupku, kebahagiaanku untuk mendapatkan segalanya?

Jodie berperang batin. Ia tak mampu menahan kesedihan dan kebimbangannya. Ia menangis. Wanita berhati baja itu menangis. Seketika bayangan Henry terlintas dibenaknya, menari-nari didepan matanya. Segala sesuatu yang seharusnya dilakukan Henry tapi mampu dilakukannya.....seakan menertawainya.

"Henry......aku ingin sekali kamu ada disini.....membantuku memecahkan masalah yang sepertinya akan menjadi kiamatku nanti......"

Pengakuan Blessha lebih lagi memukul Jodie. Sedari tadi Jodie hanya duduk diam termangu, entah sudah berapa jam. Suara-suara ribut dari luar tak dihiraukannya lagi.

Perlahan Jodie bangkit dari duduknya, berjalan kearah bingkai lukisan yang tergantung didinding ruangan. Lukisan orang tuanya. Jodie menatap lukisan itu sesaat, kemudian berpaling ke lukisan yang lebih kecil disebelahnya. Di lukisan itu, tampak Jodie, Janet dan Blessha dilukis bertiga. Usia mereka masih sangat muda ketika itu. Wajah-wajah polos dan tawa cerita, suasana hangat terpancar dari lukisan itu. Jodie menahan napas. Perasaannya begitu sakit. Seandainya orang tuanya masih hidup, mungkin kehidupan saat ini tak akan sesulit ini.

Dan,
lukisan itu membayanginya. Kehangatan yang terpancar dari ketiganya sedikit menghangatkannya. Jodie tersentak.

Aku tak mungkin membiarkannya mati. Berapakah harga sebuah nyawa? Ia lebih berharga dari apa yang aku miliki. Karena dia seharga dengan nyawaku....

Masa lalu yang tertinggal...

Janet terduduk disudut ruangan. Ia melantai sambil menekuk lutut dan memeluknya, menekukkan kepalanya diatasnya. Matanya menatap kosong ke lantai hitam yang berlumut. Sipir-sipir itu tidak lagi menyiksanya. Mereka mencampakkan Janet didalam ruangan pengap yang hanya memiliki satu jendela dengan sinar seadanya dari bintang-bintang diluar sana.

Masih mending. Ada sedikit angin berhembus yang dapat membantunya bernafas didalam ruangan jorok ini. Angin dari luar. Tapi teralis itu terlalu kuat untuk ditembus. Tembok ini kuat. Janet tak mungkin dapat meloloskan diri. Ia hanya dapat memandang gemerlap bintang diluar sana dari dalam. Membayangkan saat-saat kebebasan yang indah, kebebasan yang liar hingga membawanya pada kamar kecil tak bersahabat ini.

Aku akan mati....... desisnya berulang-ulang. Apa yang akan aku lakukan? Apa yang akan aku minta sebelum aku mati? Apa yang telah aku lakukan dan apa yang belum sempat aku lakukan?

Tapi, aku tidak mau mati. Aku tidak mau mati seperti ini. Isaknya. Air matanya kering sudah. Wajah itu sembab. Kondisinya sangat tidak menarik. Begitu jauh dari seorang Janet yang sempurna. Janet si penakluk. Sang pecinta.

Aku sekarang??????

Janet mendengar suara langkah kaki. Menghampirinya? Ya! Tak lama kemudian terdengar suara kunci diiringi suara engsel pintu yang berderit terbuka. Tumben. Mereka tidak membanting pintu seperti yang sudah-sudah. Janet tak berhasrat untuk menoleh. Mungkin Zeta. Atau sipir-sipir jelek itu datang mengantar makanan basi. Janet tak menoleh. Ia tetap memandangi lantai berlumut itu dengan pandangan kosong.

"Silahkan, Tuan. Waktu Anda tak banyak..."kata seorang sipir sopan.

Tuan? Janet tersentak juga dari lamunannya. Siapa? batinnya. Lalu, dia menoleh ke arah pintu. Sesosok tubuh tinggi dengan jaket, mantel, topi dan syal serba hitam masuk. Janet tak tahu siapa dia. Apa yang melekat ditubuhnya hampir menutupi semua lapisan kulit. Janet heran.

Tubuh itu melangkah maju, sedikit kearah cahaya. Tanpa sadar, Janet berdiri. Ia penasaran ingin tahu siapa yang datang malam-malam begini. Mereka saling berpandangan.

Dibawah temaram cahaya bintang yang masuk dari jendela atas, Janet dapat melihat sedikit lebih baik. Tubuh itu maju selangkah. Kali ini lebih jelas. Janet melongo.

Apa yang dikenakan laki-laki itu memang hampir membungkus seluruh kulit tubuhnya. Tapi mata itu....

mata itu....

Ma®™
March 15, 2003, 02:20
"Tidaaakkkkk......."jerit Janet. Ia segera mundur, memalingkan wajahnya dan menekuk kepalanya disudut ruangan. Gemetar ketakutan. Air matanya berlinang.

"Mengapa? Janet, aku ada disini."tubuh itu maju berusaha merangkulnya. Janet menghindar kesamping.

"Tidaakk....pergilah. Aku...tidak ingin kamu ada disini. Aku tidak siap untuk bertemu, aku...aku sangat buruk......pergilah. Aku...sudah rela kamu pergi..."tangisnya dengan hati hancur.

"Janet, aku ada disini....."ulangnya lagi. Dipandangi tubuh yang membelakanginya dengan tatapan lembut. Penuh kasih.

Laki-laki itu menghampiri Janet, menyentuh tangannya. Janet gemetar ketakutan, minder. Lalu, laki-laki itu membentangkan tangan Janet, meletakkannya pada pinggangnya. Tangan kekarnya sendiri memeluk pinggang itu, erat dan semakin erat.

"Jangan takut. Aku ada disini...."bisiknya.

Tangis Janet tumpah. Tanpa air mata. Ia memeluk tubuh itu kuat-kuat. Laki-laki itu memeluknya sedemikian erat. Penuh kasih.

"Aku...aku.....mengapa kamu datang? Bagaimana kamu masuk?"tanya Janet disela-sela tangisnya. Menyembunyikan wajahnya didada bidang laki-laki itu.

"Kamu tak perlu tahu, Janet. Aku hanya ingin kamu tahu, bahwa aku ada disini. Aku ada untukmu,"jawabnya. Tangan itu mengelus rambut Janet.

"Tidaakk...pergilahhh..."Janet berusaha mendorong tubuh itu, tapi dengan sigap laki-laki itu kembali mendekapnya.

"Hen-ry.....aku tak siap. Aku sangat buruk....."tangis Janet.

Henry menunduk, ia mengulurkan tangannya, menyentuh dagu Janet dan mengangkatnya. Mereka saling bertatapan.

"Tidak. Kamu cantik..."bisiknya.

Janet kembali menyembunyikan wajahnya di dada Henry. "Katakan padaku, Janet.....kamu tidak membunuhnya."tegas Henry langsung.

Janet terdiam, ia masih terisak. Tak ingin menjawab. "Aku tahu kamu tidak membunuhnya,"ulangnya lagi, kali ini lebih lembut.

"Ba-bagaimana kamu tahu?"tanya Janet. Ia mencoba memberanikan diri menatap wajah itu.

Henry sedikit berubah. Tubuh itu terasa lebih kurus dan wajah itu sedikit brewokan. Sedikit. Tapi ia masih tetap tampan. Masih tetap maskulin.

"Aku tahu....."jawabnya.

Janet memeluk tubuh itu erat. Penuh kerinduan. Atau Janet sendiri tak tahu apa namanya. Beban hidupnya terasa sedikit terlupakan. Apakah cinta dapat menawarkan kegetiran? Janet tak tahu. Ia merasa mendapatkan kedamaian yang telah hilang sejak pertama kalinya ia membunuh Reene Kulham. Henry bagai bias sinar yang meneranginya dijalan yang begitu pekat.

Aku selalu mencintai kamu, Henry.....sembilan tahun yang lalu, hingga detik ini. Dan tak pernah sedetikpun aku berhenti mencintaimu.....batinnya dalam hati. Tangisnya kembali pecah.

Dan,
bayangan sembilan tahun yang lalu kembali terkuak. Pada pesta itu. Tarian itu. Sentakan kaki itu, sentuhan itu.

Bagaimana mungkin kulupakan?
Kamu begitu indah....

"Janet......aku tak berani memberimu satu harapan pun..." Herny menatapnya dalam.

"Tapi aku akan mencoba menyelamatkanmu......"

Ma®™
March 15, 2003, 02:22
Sebuah Rencana

Tok. Tok. Tok.

Samuel baru saja berniat untuk istirahat ketika didengarnya ketukan pintu. Ia langsung berdiri, berjalan menghampiri pintu dan membukanya.
Laki-laki bermantel itu masuk dengan cepat. Didalam, ia membuka mantel dan topinya, lalu segera berjalan menuju perapian menghangatkan diri.

“Bagaimana?”tanya Samuel. “Aku baru saja menjenguk Janet. Dia sangat tertekan,”jawab Henry sambil menggosok-gosokkan telapak tangannya diatas perapian. Samuel manggut-manggut.

“Ya, malang sekali nasib anak itu..”gunamnya. “Aku merasa seperti seorang pecundang...”lanjutnya lagi.

“Sudahlah, Samuel. Kamu hanya melakukan tugasmu,”kata Henry seraya menepuk bahu Samuel. Mereka duduk berhadap-hadapan. “Kita harus menyelamatkan Janet. Dia tidak bersalah,”katanya.

“Maksudmu, dugaanku benar?”tanya Samuel ingin tahu.

Henry mengangguk. Diiringi tarikan nafas panjang Samuel. Ia merebahkan punggungnya, penat semakin penat.

“Aku sudah menghimpun sedikit teman, buruh-buruh yang masih setia dan juga orang-orang upahan untuk menyelamatkan Janet. Aku butuh bantuanmu untuk menyusun siasat karena kamu lebih tahu proses jalannya hukuman,”

Dan, mereka pun berembuk. Waktu tak terasa berlalu, dini hari. Kerut wajah Samuel menceritakan kekhawatirannya, dia kelihatan tegang.

“Kenapa? Apa yang kamu khawatirkan?”tanya Henry.

Samuel tak menjawab. Ia menyeka keringatnya, berdiri menghampiri jendela. Menyibak sedikit tirai dan tertangkap oleh pekat.

“Aku tak tahu apa yang akan terjadi pada istri dan anak-anakku, Henry. Apabila penyelamatan ini gagal.....”

“Oh.....Mereka sudah tahu...bukan??”tanya Henry tajam.

“Ya. Aku sudah menceritakannya pada istriku semalam. Ia mengkhawatirkanku. Apabila aku.....”gelisah Samuel. Ia mengecilkan nada suaranya, melirik kearah ruangan dalam. Wajah manis istri dan anaknya bermain dipelupuk mata.

“Samuel. Kamu bergerak dari belakang. Aku akan berusaha untuk tidak membuatmu terlibat lebih jauh. Aku mengerti maksudmu, kamu memiliki kehidupan sendiri dan keluarga. Aku mengerti. Aku tidak akan membuatmu terlibat secara langsung,”kata Henry sambil menghampirinya.

“Maafkan aku, Henry. Aku ingin sekali menyelamatkan gadis-gadis malang itu. Aku berhutang budi pada keluarganya. Tapi istri dan anak-anaku....” Samuel merangkulnya. “Penyelamatan ini akan sangat berat. Keluarga Antroph sedang terjepit dengan masalah pemberontakan buruh pertanian... banyak yang harus kita lakukan. Meleset sedikit saja, kita pun tak akan selamat,” terawang Samuel.

“Aku tahu,”senyum Henry. Ia meraih mantel dan topinya, mengenakannya dengan cepat. “Tapi aku siap. Aku hanya bisa melakukan sedaya upayaku,”katanya.

“Henry..!!”cegah Samuel sebelum Henry membuka pintu. Henry menoleh, mengernyitkan alisnya.

“Hati-hati... Kamu....bisa terbunuh.....”katanya gemetar.

Henry tersenyum. Ia tak menjawab. Terus membuka pintu dan langsung hilang dalam kegelapan malam.

Samuel mengurut dada. Ia menutup pintu dengan galau. Malam kelam itu menggigit kulit. Mengigil.

Keinginan Blessha

Ruang makan keluarga, suasana sunyi. Jodie dan Blessha makan berdua dalam satu meja besar itu. Blessha menyuapi makannya dengan gemetar, sesekali terdengar suara sendok jatuh. Jodie menatapnya tajam. Blessha terlihat gelisah.

"Ada apa, Blessha? Kamu ada masalah?"tanya Jodie tajam.
Blessha takut-takut mencuri lihat ke arah Jodie,"Ak-u...ak-u ing-in per-gi ke pe-ma-ka-man Ree-neee....."

Jodie langsung menghentikan makannya. Menatap Blessha dengan mata lebar. Marah mendengar nama Reene masih juga disebut.

"Untuk apa??!! Masih belum cukup kamu sadar bahwa dia adalah biang segala masalah di rumah ini? Aku tidak akan mengizinkanmu!"

"Ta-ppi ka-kaak.... ak-ku ing-in. Ak-ku is-tri-nya..."patah Blessha.

Jodie langsung berdiri dari duduknya.
"Dia telah membuat kamu membunuhnya! Karena tindakanmu itu, Janet dipenjara. Dia akan dihukum mati, sekarat disana dan kamu masih mau menjenguk ba-jingan seperti itu?? Biarkan dia tak tenang di alam sana. Aku tidak akan mengizinkanmu pergi!! Mereka akan menertawakanmu!! Kamu pikir kamu istrinya? ISTRINYA, HA?!! Buka pikiranmu, Blessha! Kamu hanya dimanfaatkan! Kamu...kamu......aaahhhh....."Jodie mendengus kesal.

"A-kku...a-kkku men-cin-***-nya, ka-kak...."Blessha terisak.

PYARR!!
Jodie menghempas piring makannya, dan menggebrak meja.
"CINTA???!!"desisnya. "Ha! Lihat apa yang telah dilakukannya padamu, LIHAT!! Cinta. Aku tidak menyalahkan kamu mencintainya walaupun ia sangat tidak pantas dicintai! Tapi aku minta, gunakan akal sehatmu, PIKIRKANLAH!! Demi Tuhan, aku tidak ingin kamu pergi, aku tidak ingin kamu terluka....dihina lagi oleh mereka...."lemas Jodie berusaha menahan kemarahan yang menyentak kepalanya.

Blessha terisak. Ia segera bangun dari duduknya, dipapah Samantha menuju kamar. Tak bicara sepatah kata pun.

Jodie terduduk dimeja makan itu sendirian. Memegang kepalanya yang seketika terasa sakit. Dosa apa yang telah aku lakukan? Gunamnya berulang-ulang.

Api dan 'Api'

"Nyonya Jodie,"panggil Ahmed yang tiba-tiba masuk. Jodie mendongak.

"Para buruh mulai membakar ladang..."katanya lagi.

Jodie tersentak. "APAA??!!" Jodie langsung melangkah menuju pintu keluar. Ahmed buru-buru menahannya.

"Tunggu, Nyonya! Sangat berbahaya. Jangan pergi ke ladang!! Aku hanya mengabarkan berita ini, agar kita berhati-hati. Mungkin....kita harus bersiap-siap untuk..."Ahmed tidak melanjutkan kata-katanya. Pandangan mata Jodie seakan mau menelannya.

"Untuk apa? Untuk apa, Ahmed?!!"bentak Jodie marah.

"Untuk berkemas, Nyonya..."

"APAA?!! BERKEMAS?! AKU HARUS BERKEMAS??! Beraninya kamu, Ahmed!! Aku tidak akan meninggalkan rumahku!! Aku tidak akan dapat diusir oleh buruh-buruh hina itu!!"seru Jodie marah.

Ia menuju pintu keluar, membukanya dengan marah. Ahmed menyusul Jodie dari belakang dan berusaha menahan perempuan perkasa itu. Jodie melangkah dengan cepat, penuh amarah yang menyentak kepalanya.

"Nyonya, sangat berbahaya. Aku akan berusaha menghalau mereka. Aku rasa puncak pemberontakan akan mencapai besok, saat pengadilan Janet. Biarkan mereka, Nyonya. Sangat berbahaya. Aku akan menahannya semampuku,"

"Jangan perintah aku, Ahmed!! Aku tidak akan membiarkan mereka menghanguskan apa yang aku kumpulkan dengan susah payah, Ahmed!!”desis Jodie.

“Nyonya, berbahaya!!”

Suara sorakan terdengar semakin jelas. Jodie terus melangkah dengan garangnya, penuh perasaan marah yang meledak-ledak. Dari jauh sana dia melihat kerumunan buruh yang berkumpul membakar ladang. Api mulai merembet hingga ke gudang penyimpanan. Beberapa buruh dan pengurus keluarga Antroph yang masih setia berusaha menghalau dan memadamkan kobaran api. Buruh-buruh pemberontak itu sendiri tidak terlalu ngotot untuk terus membakar. Mereka hanya menyoraki kobaran api dari jauh. Puas.

Mata Jodie merah oleh pantulan api. Kemarahanna memuncak.

"JANGAN HALANGI AKU!!"bentaknya pada pelayan-pelayan yang berusaha menghalangi jalannya.

Semakin dekat, ia dapat melihat siapa dalang pemberontakan itu. Boro. Laki-laki kurus berkulit hitam legam itu bersorak ditengah-tengah sorakan para buruh ladang. Pandangan mata Boro menangkap datangnya Jodie, diikuti sorak ejekan para buruh-buruh lainnya. Jodie tak menggubris. Ia tak kelihatan takut sama sekali.

Ia berdiri di tempat yang lebih tinggi, berkacak pinggang dan...

"LANCANG!! Apa kalian tidak dapat mengerjakan perkerjaan lain selain memberontak dan membakar ladang? Kalian pikir ini punya moyangmu?? LANCANG!! Kurang ajar!!"bentak Jodie lantang.

"Huuuu......pemeras...pemerasss........"ejek para buruh serempak. Boro tersenyum puas melihat teman-temannya yang kompak.

Ma®™
March 15, 2003, 02:23
Jodie memelototi Boro berani.
"Huh! Anak malang ini ternyata pendendam. Boro! Kupikir diantara kita memang punya dendam yang harus diselesaikan! Apa maumu?! Pengecut!! Kamu hanya mampu bersembunyi diantara teman-teman yang dapat kamu pengaruhi untuk membenciku! APA MAUMU?!! SELESAIKAN DENDAMMU SEKARANG JUGA!! Dan jangan kamu pikir aku takut!!"bentak Jodie. Lantang. Keras.

Boro maju beberapa langkah, melipat tangannya,
"Dendam? Selesaikan? Mudah bagimu berkata seperti itu, Nyonya Jodie yang terhormat. Tapi bagiku, buruh hina ini, kematian istriku tidak dapat diselesaikan begitu saja!! Anda harus bertanggung jawab atas semua ini!!"balasnya.

Huuuuu.......para buruh bersorak lagi

"Aku?? AKU katamu?? Tidak tahu diri!! Salahkan dirimu sendiri, keterbatasanmu, kemiskinanmu, ketidakberdayaanmu menyelamatkan istrimu, bukan AKU!! Istrimu sendiri yang tidak dapat menyelamatkan dirinya, mengapa harus aku yang bertanggung jawab?? Kukatakan padamu, Boro...masih banyak yang harus kamu pikirkan kembali dengan otakmu!! Sebegitu piciknya pikiranmu... HUH!! Memalukan!!"sinis Jodie.

Ahmed hanya mampu memandangi Jodie dengan perasaan prihatin. Ia sangat khawatir perpecahan akan semakin menjurang.

Boro menatap Jodie dengan pandangan marah, merasa terhina.
"Baik. Percuma aku berdebat dengan anda, nyonya yang terpelajar. Aku hanya buruh kasar yang punya pemikiran sendiri, berbeda denganmu...."gantungnya,

Jodie membuang muka.

"Tapi biarlah hukum yang berlaku saat ini adalah hukum tanpa adat! Hutang nyawa harus dibayar nyawa!! Secara tidak langsung anda telah membunuh istriku!! Anda membunuh istri dan anakku!! Anda harus menebusnya!! Aku bersumpah anda harus menebusnya, Nyonyaaa!!!"

Para buruh kembali bersorak. Salah satu dari mereka kembali menyalakan api yang tadinya sudah mulai padam.

Jodie semakin naik darah. Caci makinya sudah diujung bibir ketika....

"Boro!! Aku minta, hentikanlah pertikaian ini. Tidak ada untungnya bagi kita semua. Jika ladang ini terbakar, tidak ada yang kalian dapatkan. Kalian semua akan kehilangan pekerjaaan!!"kata Ahmed mencoba bernego.

Boro membuang muka.
"Aku masih bisa memandang mukamu, Ahmed. Tapi majikanmu itu, terpelajar yang berhati binatang!! Aku akan menghanguskan segala yang ada disini, agar dia tahu bagaimana rasanya kehilangan!!!"seru Boro.

Seruan itu menggema. Membuat Jodie merinding. Bergidik.

"Menghanguskan

segala yang ada disini,

agar dia tahu

bagaimana rasanya kehilangan!!!"


Api. Lagi-lagi api.

----------------------------------

Api

menghanguskan segalanya
mengapa ia tak dapat menghanguskan amarah?

-----------------------------------

[b]Berjanjilah Kepadaku...[b]

Lalu,
buruh-buruh itu kembali membakar ladang. Para buruh setia yang masih tersisa beserta para pelayan keluarga Antroph sibuk memadamkan api. Jodie mematung tak percaya. Mengamati kobaran api dengan pandangan marah dan tak rela. Ia tak menghiraukan suasana hiruk-pikuk disekelilingnya, juga Ahmed yang sibuk memberi komando pada para pelayan. Jodie hanya mampu mematung. Tak percaya.

Ditengah kebingungannya, tangannya ditarik oleh seseorang. Jodie terkejut dan langsung menoleh.
"Ikutlah denganku, Jodie..."kata Henry. Jodie tak mampu membantah. Ia segera mengikuti Henry pergi, menyingkir ke sisi lain perkebunan pada tempat yang jauh dari keramaian.

Tiba disana, Jodie memandangi suaminya dengan mata berkaca-kaca. Ia lebih kaget lagi. Henry tersenyum. Tak pelak lagi, Jodie langsung memeluk tubuh itu dan menangis sejadi-jadinya. Henry mengusap rambut istrinya lembut.

"Sudahlah. Tak ada yang perlu disesali,"hiburnya.

"Aku sangat menyesal, Henry...Maafkan aku,"tangisnya.

"Ya. Aku pun minta maaf...."gunam Henry menerawang.

"Jodie, tak ada yang perlu disesali. Yang harus kita lakukan adalah memperbaiki keadaan,"Henry mendongakkan kepada Jodie, menyentuh dagunya lembut.

Jodie menatap Henry penuh kerinduan, tiba-tiba ia langsung mencium bibir Henry penuh kerinduan yang membuncah. Henry tidak melepaskannya. Keduanya berpagutan begitu lama, menumpahkan kerinduan yang terpendam.

"Aku rindu sekali, hmmm...."gunamnya. Hingga beberapa saat, mereka terdiam dengan nafas memburu. Pandangan mata Jodie penuh gairah, memandangi Herny dengan penuh hasrat. Henry tersenyum geli,"Sudah lama aku tidak melihatmu seperti ini,"

Jodie tersipu malu,"Tidak. Aku hanya kangen...kangen sekali."peluknya lagi. Erat. Herny membalas pelukan itu tak kalah erat.

"Aku sudah menjenguk Janet,"kata Henry.

"Kamu....sudah menjenguknya.....?"terawang Jodie. Sinar matanya meredup sedih.

"Dia sangat menderita. Karena itu kita harus menyelamatkannya. Jodie.....aku tahu tidak mudah bagimu mengumpulkan semua ini,"kata Henry sambil melemparkan pandangannya pada bukit-bukit yang menguning. "Tapi Janet....adalah adikmu. Dia lebih bernilai dari semua ini,"dielusnya rambut Jodie lembut. "Kamu akan merasa semua yang kamu miliki tidak berarti ketika kamu kehilangan dia,"

Jodie tertunduk. "Aku tahu, Henry. Aku siap mengorbankan segalanya untuk Janet. Hanya saja...aku sangat menyesal. Mengapa semua ini harus terjadi...,"desah Jodie prihatin. "Dan pemberontakan itu,....ahhh....aku benci!"lanjutnya.

"Kita tak akan melakukan kesalahan apabila kita telah lebih dulu menyadarinya. Yang harus kita lakukan adalah memperbaikinya. Bayangkan, setelah besok hari, kita akan berkumpul kembali seperti dulu, hanya kali ini....beda. Kita akan penuh kehangatan. Kalian pun akan penuh kehangatan dan aku percaya kesalahan-kesalahan dulu tak akan terulang karena kita telah menyadarinya dan karena kalian adalah saudara....,"

"Saudara...."desis Jodie. "Kata-kata itu hampir hilang..."

"Henry tahukah kamu Janet tidak membunuh Reene..." "Aku tahu."potong Henry lembut.

"Darimana kamu tahu? Kupikir dia sungguh akan membunuh Reene. Karena aku mendengar ancamannya pada Reene...."

"Tidak. Janet tidak memiliki keberanian sebesar itu, Jodie. Nah, kamu lihat, Janet sendiri berani menyelamatkan Blessha walau ia harus menderita untuk Blessha,"

"Karena kami adalah saudara,...."isak Jodie. Ia merasa ada bagian masa lalunya yang terkuak, dengan keindahan masa kecil yang menjepitnya, melemparkannya pada perasaan bersalah.

"Masih ada tugas yang harus kita selesaikan, Jodie....dengarkan aku...."

Mereka duduk diantara rerumputan yang mulai menguning memasuki musim gugur. Jodie mendengarkan dengan seksama, sambil sesekali mereka berciuman lagi dan lagi. "Jadi sekarang yang harus kau lakukan adalah berkemas, Jodie. Siapkan kereta kuda, bawalah barang yang perlu dibawa. Aku hanya ingin mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Bawalah juga perlengkapan Blessha, dia pasti akan sangat menderita dalam perjalanan. Juga Samantha, jangan sampai dia terpisah dari Blessha... Aku dan Ahmed akan berjaga untuk kalian... Dan juga para pelayan....suruh mereka berkemas juga,"

"Ahmed? Ber-ke-mas....."gunam Jodie. Lemas tubuhnya.

Ma®™
March 15, 2003, 02:25
"Ya. Berkemas. Kamu harus cepat. Dan aku harus kembali untuk memastikan segalanya berjalan dengan lancar. Kamu harus sigap, Jodie...harus benar-benar sigap. Besok adalah hari yang berat....tapi percayalah kita akan melalui semuanya dengan baik. Aku harus pergi,"kata Henry. Ia mencium kening Jodie dan mengulum lembut bibirnya.

"Tidak! Tinggallah bersamaku. Malam ini!"cegah Jodie. Ia memegang erat tangan Henry yang baru saja akan pergi.

"Tidak bisa, Jodie. Aku harus mempersiapkan segalanya, aku sudah menjelaskannya padamu tadi,"

"Malam ini saja, Henry. Aku sangat rindu,"pinta Jodie memelas. Tak biasanya dia seperti itu.

"Aku pun rindu, Jodie. Tapi...aku tak bisa. Kita akan melepaskannya apabila semua ini telah lewat. Kita akan memulainya dari awal lagi,"

"Aku....jangan pergi...!"isak Jodie. "Aku tak tahu kapan lagi akan melihatmu,"gunamnya tak sadar.

"Sayang, besok. Besok aku akan ada untukmu. Setelah hari esok, kita akan memulainya lagi, dari awal. Aku janji!"

"Oh tidakk....."tangis Jodie pecah.

"Aku berjanji. Aku akan ada untukmu," Henry menggenggam tangan istrinya erat. Menenggelamkannya dalam pelukannya.

"Berjanjilah....."pasrah Jodie. "Berjanjilah kamu akan kembali untukku, selamat hanya untukku saja,"

"Aku berjanji,"Henry melepaskan genggamannya. Mundur beberapa langkah tanpa mampu melepaskan pandangannya dari Jodie. "Aku cinta padamu,"bisiknya. Lalu ia berbalik, pergi. Berbaur dengan rerimbunan pohon dan menghilang.


Jodie mengikuti hilangnya Henry dengan hati hampa. Entah mengapa ia merasa begitu takut. Begitu cemas. "Aku cinta padamu,"bisiknya.

"Kembalilah dengan selamat, aku berjanji akan menjadi seorang istri yang baik. Aku berjanji...."

--------------------------------------

"Ternyata dia sangat mencintai aku...,"
Kadang kita baru menyadarinya ketika dia sudah tak ada.

--------------------------------------

Pengadilan Terakhir

Hampir seluruh penghuni Peace Highlands memenuhi jalan subuh itu. Terlalu pagi untuk bangun dan menyaksikan proses hukuman Janet. Tapi mereka berlomba-lomba untuk mendapat tempat didepan jalan dan melihat lebih jelas secantik dan seburuk apa Janet Antroph. Teriakan-teriakan tak sabar, yel-yel telah terdengar sejak subuh.

Jodie, Ahmed dan Samantha tak tidur semalaman. Mereka sibuk berkemas-kemas, menyiapkan barang-barang penting yang harus dibawa, perbekalan dan kereta dari kuda-kuda terbaik. Suasana tegang menyelimuti keluarga Antroph. Pagi itu begitu mencekam. Dingin menggigit dengan rasa cemas, takut dan keinginan untuk terus hidup bercampur menjadi satu.

"Angkat ini ke kereta!"perintah Jodie pada seorang pelayan.

"Nyonya, kita tak membawa banyak perbekalan, bukan? Aku khawatir akan terlalu berat sehingga..."

"Tidak, bibi. Ini hanya untuk beberapa hari. Kita membutuhkannya dalam perjalanan. Jarak kota tetangga cukup jauh, telah kuperkirakan perbekalan ini cukup hingga tiba disana,"potong Jodie.

Pagi itu mencekam. Matahari mulai menampakkan kemilaunya di sudut timur, tertutup oleh perbukitan yang menguning. Menyapa Janet melalui kisi-kisi jendela, menyentuh kulit itu lembut. Kelembutan yang membuat Janet semakin mengigil.

Tak lama, karena pintu itu segera terkuak dan sipir-sipir itu menariknya keluar, mengikat tangannya dimana ujung talinya diikatkan pada seekor kuda berpenunggang....

Di alun-alun kota, orang-orang telah menantinya. "Pelacur...pelacurr....."maki mereka bersahutan. Entah kata-kata kasar apa lagi yang dilemparkan kepada Janet, Janet kelihatan begitu tabah. Atau separuh jiwanya telah melayang, sehingga ia tak lagi perduli hidup dan matinya? Ia berjalan pelan dengan tangan terikat, ditarik oleh seekor kuda berpenunggang. Kuda itu masih berjalan pelan didepan Janet menuju alun-alun kota yang letaknya lumayan jauh. Disepanjang jalan itu, orang-orang menyorakinya dengan kata-kata kasar. Menghinanya, meludahinya.... Janet hanya mampu terdiam, menunduk mengikuti arah didepannya.

"Penzinah!!"teriak seseorang. Teriakan itu disertai dengan lemparan buah busuk kewajah Janet. Janet terhenti. Ia memandang pelempar itu dengan marah, mata yang sedari tadi begitu hampa seketika berkelit. Tapi tak lama, sinar itu kembali meredup, membuat orang-orang semakin brutal. Beberapa diantaranya kembali melempari Janet dengan benda apa saja. Mulai dari kerikil, buah, batu, kayu..... Janet terhuyung-huyung menyelamatkan dirinya, mencoba berjalan lebih cepat dibelakang kuda. "Jangan.....jangann......oh tidaaakkkk....."jeritnya ketakutan. Massa begitu kalap melemparinya, dan entah batu darimana terlempar mengenai pan-tat kuda, batu yang lumayan besar itu cukup menimbulkan reaksi. Kuda itu meringkik panik, seketika berlari menerobos kerumunan.

"Tolong...tolongg.....menyingkir!! Semua menyingkirrr.....!!!" Sipir-sipir yang berjalan paling depan kalang-kabut menyelamatkan diri. Mereka berlari ke kiri-kanan dengan ketakutan. Paniknya kuda membuat penunggangnya pun panik. Berusaha mengontrol tali kendali, kuda itu telanjur lepas kendali. Berlari menerobos kerumunan, menyeret Janet yang mati-matian mengimbanginya.

Malang, Janet tak pandai berlari. Ia roboh dan terseret. Perih menikam seluruh tubuhnya, terbanting-banting dijalanan berkerikil tajam. "Aaaaa......aduh.....tolongggg......"jeritnya putus asa. Orang-orang disekelilingnya tak berperi, terus melemparinya dengan benda apa saja, tanpa rasa kasihan. Tinggallah Janet yang berteriak kesakitan, penuh luka yang berdarah.

Jeritan itu terdengar begitu mengerikan. Luka berdarah yang menggores tubuh biru lebam itu, sakit tak terlukiskan. Apakah ini puncak penderitaan Janet?

Alun-alun Kota

Sebuah kayu tertancap ditengahnya, dikelilingi ranting-ranting pohon disekelilingnya. Didepannya berdiri sebuah podium tempat para sesepuh dan orang-orang terhormat duduk untuk mengikuti proses jalannya hukuman. Sekitarnya telah penuh oleh penduduk yang tidak sabar menanti jalannya hukuman. Matahari pagi masih menampakkan sinarnya yang hangat. Podium tempat para sesepuh itu sendiri masih kosong. Janet memang diharuskan untuk dijemur terlebih dahulu sebelum ia dibakar hidup-hidup pada tengah hari.

Suara derap langkah kaki kuda yang tidak beraturan memancing rasa ingin tahu penonton. Mereka segera lari tunggang langgang ketika tahu seeokor kuda tak terkendali berlari tak beraturan, menyeret Janet dibelakangnya. Jodie tersentak melihat pemandangan mengerikan itu. "Apa yang terjadi?! Mengapa bisa seperti itu?!! Tidaakk!! Selamatkan adikku!! Dia bisa mati!!"paniknya, memerintah siapa saja yang ada disekelilingnya. Tapi tak seorangpun bergerak, ia seakan tak punya kuasa apa-apa. Jodie langsung turun dari podium, menerobos kerumunan dengan susah payah kearah Janet . Tali kendali itu ditarik dengan kencang oleh si penunggang, membuat kuda itu meringkik hebat dan terpaksa berhenti.

"Janettt...."jeritnya histeris. "Nyonya, kembali ke tempat!"perintah salah seorang sipir menghalangi jalannya.

BUG!!
Tanpa pikir panjang Jodie menonjok muka sipir itu, membuatnya terhuyung kebelakang dengan wajah pusing. Reflek, WOW!! Tak pernah terlintas dibenak Jodie dia akan memukul seseorang. Ia segera berlari ke arah Janet, memeluknya dengan air mata berlinang.

"Janett...janettt...tidak, tidak sayang....kamu tidak boleh mati,"tangisnya tumpah. "Janet BANGUN!!"teriaknya histeris.

Janet diam tak bergeming. Tubuh itu penuh luka goresan, kulit yang terkelupas, lecet, sungguh sangat mengerikan. Penuh dengan darah. Sipir-sipir itu segera menarik tangan Jodie, memisahkannya dari Janet.

Jodie memberontak,"Pergi kalian!! BINATANG!! PERGI!! TERKUTUKLAH KALIAN SEMUAAA!!"makinya dengan kaki menendang siapa saja yang didekatnya. Penuh kemarahan, nyonya muda terhormat itu mengeluarkan kata-kata sumpah serapah. Kedua tangannya dipegangi begitu erat, dipelintir kebelakang terpaksa membuatnya tak berdaya.

Sebuah tumbukan keras ditenguknya menjerembabkannya. Ia terjatuh mencium tanah. Nyonya muda keluarga Antroph itu terkulai diatas tanah yang kotor dan berdebu!! Samar, ia masih sempat melihat ikatan Janet dilepas dari kuda dan dibawa ke tiang bakar.

Ma®™
March 15, 2003, 02:27
Samar-samar, ia melihat semua itu dengan pandangan perih. "Ti-daakkk....."rintihnya. Tangannya terangkat lemas. Jodie hanya mampu menangis, melihat sipir-sipir itu mengikat tangan Janet pada tiang bakar.....

Dan seterusnya hinaan itu semakin jelas terdengar. Tawa puas, senang dan kemenangan terbahak membahana. Meluruhkan segalanya. Tak ada kehormatan. Tak ada status. Tak ada yang perduli.

-------------------------------------

Ada kalanya kita terpaksa meninggalkan status
dan keberadaan diri kita
berbaur dan menjadi manusia biasa

manusia biasa yang bukan siapa-siapa,
dan tak punya apa-apa...

--------------------------------------

Banyak Orang di Perkebunan!

Samantha lalu lalang mengatur para pelayan. "Cepat, bawalah barang yang diperlukan saja!"perintahnya pada para pelayan.
Pelayan yang lain sendiri sibuk mengemas barang bawaannya, suasana begitu kacau.

Di luar, pemberontakan semakin menggila. Dari subuh tadi para buruh membakar ladang, kobaran api menggunung mengerikan. Ahmed dan para pelayan lain, juga sisa buruh yang masih setia berusaha untuk memadamkan api, sambil sesekali terjadi bentrokan mulut.

Suasana semakin tak terkendali, perlawanan sungguh tak berimbang. Para buruh terus mendesak menuju kediaman Antroph. Ahmed dan para pendukungnya semakin tak berdaya. Mereka bertahan semampunya hingga baku hantam pun tak terelakkan. Boro dan teman-temannya berhasil memukul mundur Ahmed beserta para pendukungnya. Buruh-buruh itu menerobos masuk ke halaman kediaman keluarga Antroph...

"Blessha, ikut aku! Kita harus segera pergi!"seru Samantha panik melihat buruh-buruh sudah berlari-larian sampai ke halaman puri.

"A-aaa......"Blessha menoleh kiri kanan, bingung. Secepat kilat Samantha langsung menarik tangannya, setengah menyeretnya untuk keluar melalui pintu belakang. Para pelayan pun panik, berlari-lari dengan barang bawaan seadanya, berhamburan kearah pintu. Ada yang keluar melewati pintu belakang, ada yang keluar melewati pintu samping. Pintu depan sekali sudah telanjur dikunci Samantha. Pintu belakang menghadap ke perbukitan yang menggunung, dimana diharapkan Samantha mereka dapat bersembunyi diantara hutan lebat diluar sana.

"Blessha CEPATLAH!!"teriak Samantha sambil menarik Blessha. Blessha berusaha untuk berjalan lebih cepat, merapat kebelakang tubuh gempal Samantha yang berusaha menerobos para pelayan yang juga panik.

"AAaaa-aaaa....."desahnya terus menerus dengan perasaan takut, panik dan bingung.

Samantha dan Blessha berhasil keluar, mereka kembali berlarian dipekarangan belakang menuju pintu pagar belakang.

"Cepat buka pintunyaaa!!"teriaknya pada para pelayan yang mengerumuni pintu.

Clik! Kunci terbuka dan pintu terkuak. Samantha menyeret Blessha keluar. Raut wajahnya terlihat begitu tegang. Teriakan-teriakan marah memenuhi kediaman Antroph. Samantha dapat menangkap bayang-bayang didalam puri. Buruh-buruh beringas itu telah masuk kedalam puri, mengobrak-abrik apa saja yang ada didalamnya.

Suasana kacau. Lebih kacau lagi ketika buruh-buruh itu melihat para pelayan kabur lewat pintu belakang. Mereka lari mengejar, berteriak-teriak kesetanan.

Samantha dan Blessha tak dapat pergi jauh, mereka tak dapat pergi ke kereta yang telah disiapkan. Keduanya dihadang ditengah-tengah perbukitan yang menguning, dikelilingi oleh buruh-buruh pemberontak.

Buruh-buruh yang penuh dendam...

Keduanya digiring ke alun-alun kota tempat Janet akan dihukum mati. Tanpa perasaan, mereka menyeret keduanya untuk berjalan lebih cepat dan lebih cepat lagi. Matahari semakin merambat naik. Entah berapa kali Blessha jatuh bangun karena tak mampu mengikuti rombongan. Selama itu mereka mendengar teriakan-teriakan kasar, caci maki dan hinaan atas keterbatasan Blessha.

Keluar dari kediaman Antroph terdapat jalan setapak menuju pemukiman penduduk. Disini mereka lebih disambut dengan arogan. Penduduk desa yang memandangi Blessha dari atas hingga bawah, meludahinya, mencubitnya hingga menjambak rambutnya sambil mengutukinya dengan perasaan jijik.

Blessha hanya dapat memeluk Samantha, menyembunyikan wajah ketakutannya pada kekalapan penduduk yang mengakui dirinya cinta damai...

Hampir tiba dialun-alun kota, Blessha ditarik dikerumunan para buruh. Mereka menertawakan anak malang itu. Hiruk pikuk. Mereka meneriakinya. Beberapa diantaranya menghujaninya dengan batu-batu kecil. Samantha langsung memeluk gadis malang yang bergetar ketakutan karena tidak pernah melihat massa yang begitu banyak, begitu menakutkan dan meneriakinya.

"Terkutuk....terkutuk..." beberapa diantaranya berteriak,"Asingkan...asingkan......."

Blessha bergetar keras, ketakutan setengah mati. Air mata dan genangan liurnya sepertinya menjadi satu, membasahi seluruh wajahnya. Ia mendekap Samantha sambil menangis, menyembunyikan wajahnya di dada Samantha.

"Dasar manusia kejam, apakah kalian tidak melihat dia adalah manusia? Dia adalah Nona Antroph, majikan kalian sendiri!! Pergi!! Jangan ganggu diaaa!!" bentak Samantha marah.

"Ia memang manusia, tapi manusia yang terkutuk! Dia tidak seperti manusia normal, dan hanya manusia yang terkutuk diberi tanda lahir yang lain dari manusia biasanya. DIA TIDAK NORMAL KARENA DIA TERKUTUK!!!" teriak salah seorang buruh.

Dan, mereka melemparinya dengan kerikil, buah-buah busuk hingga ranting-ranting kayu yang dipatahkan sepanjang perjalanan. Mengiringnya hingga ke alun-alun kota, tempat Janet terikat dan Jodie yang terduduk lemas diantara para sesepuh.

Samantha segera menarik Blessha dalam pelukannya, memelototi orang-orang disekelilingnya dengan pandangan marah,"Kalianlah yang BUKAN MANUSIA. Dia jauh lebih beradab dari kalian semua. Setiap manusia mempunyai kesempatan untuk hidup, seharusnya kalian MALU pada diri sendiri karena saat ini tingkah kalian SAMA SEKALI TIDAK MENCERMINKAN BAHWA KALIAN ADALAH MANUSIA!! Kalian mengaku bahwa kalian adalah penduduk yang cinta pada kedamaian, tapi sungguh tak bermoral melihat tingkah kalian saat ini, kalian sama dengan BINATANG!!"maki Samantha putus asa.

“Aaa-aaa....”desis Blessha ketakutan. Tubuhnya gemetar, memeluk Samantha erat-erat. Matanya melotot, ludah berliuran, kotor menjijikkan.

Sejenak, para perusuh itu berhenti sesaat. Tampaknya mereka lebih tertarik pada Janet yang terikat ditengah alun-alun. Mereka segera pergi meninggalkan Samantha danBlessha, berbondong-bondong menuju alun-alun. Berdesakan mencari tempat paling nyaman yang dapat menyaksikan proses jalannya hukuman sejelas mungkin.

br3w0k
March 15, 2003, 02:27
Thank you MAr..di postingin {)...
tapi gu enyediain waktu buat baca nehhh..sekali langsung banyak gini yah...;D

Ma®™
March 15, 2003, 02:28
Iyah w0k, gua posting ampe kelar deh, bis ini mao bantuin cowo gua pindahan ruma soale :hehe

Ma®™
March 15, 2003, 02:30
Tengah Hari kelabu

Jodie harap-harap cemas menanti. Ia begitu putus asa. Sejenak ia memandang sekeliling mencari sosok Henry diantara kerumunan. Dia telah berjanji akan menyelamatkan Janet, dia pasti datang!

Zeta tampak diantara para sesepuh. Berdiri agak kebelakang di podium, menatap Janet dengan senyum puas. Penuh kebencian. Penuh kemenangan.

Janet terikat, tertunduk lemas, menatapi ranting-ranting kayu disekelilingnya. Kulitnya melepuh terbakar panasnya matahari dari tadi pagi. Keringat bercucuran, tubuhnya gemetar. Menghitung berapa banyak kayu yang ditumpuk mengelilinginya, berapa lama waktu yang diperlukan api untuk menyentuh kulitnya. Bagaimana jika Henry tak datang? Bagaimana jika ia benar-benar terbakar? Janet bergidik membayangkan perihnya. Ia hanya mampu tabah dan berdoa. Air matanya sudah kering meratapi penderitaannya. Kondisi berantakan, penuh luka yang memborok.

Menatap sekelilingnya dengan mata nanar. Masyarakat yang mencacinya, mencibir dan meludahinya dengan kata-kata kotor, sumpah serapah dan kepuasan diri melihatnya terikat tak berdaya. Sebesar itukah dosaku?
Seketika gambaran dosa-dosanya terbentang begitu jelas, kebinalannya, kejalangannya, kebrengsekannya selama ini yang entah disadari atau tidak telah menumbuhkan dendam dan kebencian pada seluruh penduduk Peace Highlands.

Aku menyesal,...batinnya

Waktu hampir tengah hari

Sesepuh pertama bangkit dari duduknya,"Baik, Nona Janet Antroph.....waktu yang ditentukan telah tiba. Apakah ada kata terakhir yang akan kau sampaikan?"

Janet mendongak, menatap para sesepuh itu satu persatu, berhenti sejenak pada Jodie, lalu memberanikan diri menatap massa di kiri kanannya. Membuang muka sebentar, kembali menatapi para sesepuh sambil tersenyum sinis,

"Aku akui aku berdosa. TAPI AKU TIDAK BERSALAH!! AKU TIDAK AKAN MENGAKUI APAPUN KESALAHANKU, KARENA AKU TIDAK BERSALAAAHHH!!!"teriak Janet.
Keras kepala. Sudah kepalang hancur, berkata baik pun tidak akan merubah keadaan...

"Baik. Kamu masih saja keras kepala. Seharusnya kau ajukan permohonan maaf pada seluruh penduduk Peace Highlands sebagai kata terakhirmu,"kata Sesepuh pertama lagi.

ia melirik pemegang obor, mengedipkan matanya dan......

"TIDAKKKK........"jerit Jodie histeris. Ia bangkit dari duduknya, berlari ke tengah alun-alun...

Pemegang obor maju ketengah tiang gantung, hampir menyulut api ketika,"AAAAAAA........"ia berteriak kesakitan. Sebuah belati tertancap dilambungnya. Dari kerumunan, menyeruak Henry, Ahmed dan teman-temannya, berlarian ketengah sambil menghunuskan pedang.

Sebagian massa yang sedari tadi menyaksikan proses jalannya hukuman kalang kabut bubar. Sebagian lagi, para buruh perkebunan dan pihak keamanan Peace Highlands memasang kuda-kuda siap bertempur. Para sesepuh-sesepuh tua itu segera bubar menyelamatkan diri. Suasana langsung berubah kacau.

Pertempuran tak terelakkan. Pemegang obor itu roboh dan obornya terpental membakar ranting disamping kiri Janet. Api pun tersulut. "AAAAA.....TIDAKKKK....."teriak Janet histeris melihat api disebelah kirinya tersulut begitu besar.

Jodie jatuh bangun berusaha berlari ke arah Janet, terjatuh sekali lagi sebelum ia merasa seseorang menarik kakinya. ZETA!! "Ke-parat kau Jodie, aku tidak akan membiarkan kamu berdua hidup!!" Jodie menghentakkan kakinya, menendang wajah Zeta. Mereka berdua saling mencengkram, mencakar berusaha untuk saling menaklukkan.

Henry, Ahmed dan teman-temannya sibuk dengan lawan masing-masing. Bertempur dan bertempur, tidak perduli hidup mati lawannya. Bunyi pedang beradu menyemarakkan suasana. Kumpulan buruh pemberontak begitu banyak, ditambah pihak keamanan Peace Highlands yang menambah armadanya.

Janet meronta-ronta berusaha melepaskan diri dari kobaran api yang semakin besar, mulai menyulut gaunnya. Ia menjerit histeris minta tolong. Jodie dan Zeta masih saling bergumulan hingga menabrak mayat si pemegang obor. Jodie tergencet oleh tubuh bongsor Zeta. Perempuan kesetananan itu mencekik leher Jodie. Tangan kiri Jodie mencengkram leher Zeta sementara tangan kanannya bebas berusaha merengkuh benda apa saja didekatnya. Panas api membakar. Mereka berdada tepat dibawah Janet yang histeris meronta berusaha melepaskan diri dari ikatannya.

"Kkkkkkhhhhh......." Jodie tercekik, cengkraman tangan Zeta pada lehernya sungguh menyesakkannya. "KKKKHHHHHH...." ia mengerang putus asa, membuat tangan kanannya semakin liar bergerak mencari benda apa saja untuk menghantam Zeta. Tangannya menyentuh dada mayat pemegang obor, sekarat menggerakkan tubuhnya untuk lebih keatas dan...

SRIPP!! menarik belati dari lambung pemegang obor dan CROSSS.....!!!! menancapkannya pada perut Zeta.

"AAAA......."teriak Zeta kesakitan. Cengkramannya mengendur, secepat kilat Jodie menendang sambil mendorong tubuh itu kesamping..."AAAAA......."jerit Zeta histeris, tubuhnya terjilat oleh api. Ia meronta kesetanan, sekarat oleh tusukan dan terbakar api. Meregang nyawa, lalu diam tak bergerak.

Jodie terbungkuk, "Huk..hukk...."terbatuk-batuk. Lehernya terasa begitu sakit. Cekikan Zeta hampir membunuhnya.

CESSS!! Henry memotong ikatan Janet pada satu kesempatan, Janet langsung menyamping, terjatuh berguling-guling karena api telanjur menjilat gaunnya,"AAAAA....AAAAA....."jeritnya berguling-guling memadamkan api. Melihat itu, Samantha yang sedari tadi mengungsi bersama Blessha langsung maju kedepan, menginjak-injak sisa kobaran api itu sambil berusaha memadamkannya dengan tanah. Api padam, Janet mengalami luka bakar. Ahmed datang langsung membantu Samantha menarik Janet ketempat Blessha sembunyi.

"Ahmeedd, cepat ungsikanmereka...!!"teriak Henry. Ahmed langsung menyeret Janet sementara Samantha menyeret Blessha kearah kereta kuda.

Henry dan teman-teman yang tersisa masih berusaha menghalau dengan armada yang tersisa. Jodie segera lari, mengejar Ahmed dan Samantha yang berjalan lebih dulu,"Henry....cepattt!!!!"teriaknya.

Ahmed mempercepat langkahnya, setengah berlari menghampiri kereta kuda karena buruh-buruh pemberontak mengejar mereka dari belakang. "Cepat, kalian harus cepat pergi!!" Ia meletakkan Janet dalam gerobak,"CEPAT!! BAWA NONA JANET PERGI!! BAWA PERGI JAUH KE TEMPAT YANG TELAH KUKATAKAN!!" perintahnya pada Joe, pemegang kemudi. Kereta kuda itu langsung melaju dengan masih dikejar buruh-buruh pemberontak.

Setengah berlari ke kereta satunya, tapi pemegang kemudi telah mati terbunuh. Ia memotong tali pengikat, lalu,"SAMANTHA, CEPAT, KAMU DAN BLESSHA HARUS PERGI!! CEPAT NAIKK!!" Ahmed kesetanan mengangkat tubuh Blessha ke punggung kuda, kemudian mengangkat tubuh tambun Samantha, "KA-KAKK.....AAA...AAA..."patah Blessha. "Jaga Blessha baik-baik, Samantha!!"dipukulnya pan-tat kuda dengan kayu. Kuda itu meringkik hebat dan langsung lari sekencang-kencangnya.

"PEGANG ERAT-ERATTTT....AAAAKKKHHHH....." Ahmed disergap sekawanan buruh, ambruk dan....

Ma®™
March 15, 2003, 02:31
"JODIE, JANGAN KESANAAA!!" teriak Henry. Ia lari mengejar Jodie, menarik tangannya ketempat lain ditempat kereta lain ia sembunyikan, berlari secepat kilat karena buruh dan sipir-sipir masih mengejar. Sebagian orang-orang Henry sendiri masih bertempur antara hidup dan mati.

Ia dan Jodie berlarian menuju perbukitan tempat disembunyikannya kereta cadangan. Lebih terkejut lagi ketika menemukan kereta kuda yang membawa Janet tertangkap oleh sekawanan buruh yang dipimpin Boro. Joe berusaha menguasai laju kereta yang tak stabil. Ia terlempar dari kereta dan dipukuli ramai-ramai.

"Jodie, bawa kuda dibalik pohon itu, CEPAT!! AKU HARUS MENYELAMATKAN JANET!!"

"HENRY...tidak!! Henry......"tangis Jodie putus asa, sambil terus berlari kearah kuda yang tersembunyi dibalik pohon.

Jangan pergi, aku tak akan meninggalkanmu!

Henry berlari kearah kumpulan buruh yang menghadang Janet, pertempuran tak terelakkan lagi. Kesetanan membabat manusia disekelilingnya, tak perduli apakah pisau itu kena sasaran ataupun tidak.
"PERGI!! PENGECUT!! HADAPI AKU!!"teriaknya. Boro melirik melecehkan, ia memberi kode dan seketika para buruh langsung mengeroyoki Henry, memukul dan CROS!

"Tidaaakkkkkk!!!"jerit Janet. Joe, pengemudi sekarat itu masih berusaha naik keatas kereta dan menjalankan kereta. Aku harus bisa, aku harus mampu menyelamatkan nona Janet... rapalnya berulang-ulang. Janet berusaha turun dari kereta, tapi ia tak mampu. Kereta telanjur jalan....walau masih pelan.

"Tidaaaakkkkkk..........HENRRRYYYYY......."jeritnya putus asa, Tangannya menggapai berusaha turun dari kereta, tapi hatinya begitu hancur melihat para buruh mengeroyoki Henry, memukulinya dan..."TIDAAAKKKKK......."jeritannya tertelan aungan suara dan dentingan pedang. Membawa sisa semangat patah dalam dirinya...

"PERGI SEMUAAA!!!"teriak seseorang. Belum sempat para buruh itu menoleh, pukulan kayu langsung menghantam mereka. Samuel datang menyelamatkan Henry. Ia bertarung dengan para buruh, berhadapan dengan biang pemberontak; Boro dan akhirnya berhasil merobohkannya dengan ketangkasannya sebagai kepala keamanan Peace Highlands. Boro roboh berlumuran darah.

"Boro!! Kamu bukan manusia!!"tikamnya. CROSSS....!!

"Henryyy!!" Jodie datang dengan kuda hitam, Samuel langsung membopong tubuh Henry yang sekarat, menaikkannya pada punggung kuda,"Cepat pergi, Jodie!!" Jodie menatap Samuel tak percaya.

"CEPAT PERGII!!"teriak Samuel. Jodie tak menjawab. Ia tak dapat berpikir suatu apapun. Ia segera melesat bersama kuda hitam perkasa itu. Menghilang dibalik rerimbunan pohon, membawa seribu kisah sedih atas nama cinta...

Henry, jangan mati. Kamu tidak boleh mati......!

--------------------------------

Puri Antroph terbakar
Ladang-ladangku terbakar
Sedikit dari kota kecil itu, terbakar

Aku memaksakan diri untuk merelakannya,
aku akan merelakannya,
tapi kumohon,
kamu harus tetap hidup!

--------------------------------

Lari Blessha!!

Kuda yang membawa Blessha dan Samantha lari entah berapa jauh sudah. Melewati entah berapa hutan, lari dan terus lari. Kuda coklat perkasa itu lari seperti kesetanan, membuat Blessha dan Samantha terpental-pental diatas pelana. Samantha memeluk Blessha kuat-kuat sambil menundukkan tubuhnya hingga Blessha dapat memeluk tubuh kuda kekar itu.

Berderap-derap, larinya menggila. Melintasi pepohonan, mematahkan ranting-ranting disepanjang jalan yang juga menggores tubuh kuda itu sendiri.

KKIIKKKK....... Ia berhenti tiba-tiba, meringkik dashyat dengan kaki depan terangkat naik, memelorotkan Blessha dan Samantha hingga langsung jatuh terjeduk ke tanah.

BUGGG!!
Blessha jatuh menimpa tubuh gempal Samantha. "AAA-aaa....."jeritnya kaget. Gadis itu jatuh berdebum ke tanah. Masih tetap sakit walau ia menimpa tubuh Samantha.

"Aaa-aaa..."dia mendesah gelisah, berusaha berbalik. "Bi-biii....."disentuhnya Samantha.

Samantha diam tak bergerak. "Bi-biii...ban-ngun...."goyangnya lagi.
Samantha masih diam tak bergerak. Ia berjongkok, meraba pipi Samantha dengan pandangan bingung.

"Bi-biii...ban-nggun....bii-bii....."digoyangnya lagi lebih keras. Samantha tetap saja tidak bangun.

Ia mulai terisak ketakutan. Diberanikan diri meraba tubuh Samantha yang masih hangat. Jemari kurus itu bergetar, meraba leher dan pundaknya. Dilipatnya kelopak mata Samantha, ia semakin terisak.

"Ti-daakk...Bi-bii Sa-man-thaa....a-da a-pa...ban-gun...a-ku ta-kkutt...." ia mendelik-delik menatap Samantha yang diam tak bergerak.

Bingung, digoyang-goyangkannya tubuh Samantha semakin keras, dirabanya leher, wajah, kepala dan rambutnya..... menarik tangannya yang bergetar tak bisa diam,

"Aaa..aa...."mulut itu melongo menatap cairan merah dijemarinya...mengamatinya sesaat, memucat. Perlahan, didekatkan cairan merah itu kehidungnya,

hhh...hh..... mendengus-dengus curiga. Takut. Ia mendelik.
"Aaa--AAA....bi-biii....bi-bii......" diguncang-guncang tubuh Samantha, dipukulnya dada perempuan tambun itu.

Samantha diam tak bergerak. Hanya genangan merah mulai menjilat tanah.


"Bi-biii............."

Ma®™
March 15, 2003, 02:32
Blessha beringsut, ditinggalkannya mayat Samantha. Sudah hampir 3 jam dia duduk disamping mayat Samantha sambil menangis. Hutan ini begitu besar, hitam dan gelap. Menakutkan. Dikuatkan hatinya, ia ia jalan tak tentu arah, jatuh bangun. Tak pasti. Tubuhnya gemetar ketakutan, suara-suara hutan menakutkannya. Ia tak dapat menelan apa-apa. Tak ada makanan yang layak ditelannya. Tetumbuhan mulai menguning, buah-buahan hampir tak ada, ia hanya mengandalkan pada buah-buah busuk yang berjatuhan ketanah. Malang.

Tak sesekali ia makan ilalang untuk menyambung hidupnya. Tetanaman yang menguning itu sungguh tak layak untuk ditelan, tapi apa boleh buat. Ia menangis ketakutan, sepanjang jalan ia ketakutan. Mendekap tubuhnya dengan gemetar dengan mata jelalatan ke kiri dan kanannya. Malam dingin menggigit. Blessha tak ada tempat berteduh. Ia hanya mampu tidur bersandarkan pada pohon besar dan kedinginan sepanjang jalan.

Hampir mati.

Blessha tidur sampai siang. Ia lebih suka dibangunkan sinar matahari yang mulai memanas untuk menghangatinya dari dingin sepanjang malam. Tak hanya sinar matahari! Blessha dikejutkan suara geraman.

GRRRRR......
Blessha tersentak bangun. Ditolehnya sekeliling. Suara geraman itu semakin jelas. Sudah 3 hari ini dia terkapar dihutan dan bertahan hidup dengan segala daya yang ada. Dicobanya untuk bangkit. "Aaa-aaa......" ia mendesis tegang menahan napas. Matanya melotot tegang.

GRRRRR....... suara itu semakin jelas diiringi suara ranting patah. Ada sesuatu diujung sana yang mengendap-endap. Blessha semakin ketakutan, ia berjalan mundur sambil menoleh ke belakang. Firasatnya mengatakan ada sesuatu yang tak beres. Ia hampir tak punya tenaga untuk lari, hampir 3 hari ini ia makan seadanya. Kondisinya sungguh lusuh dan menjijikkan.

SRRRKKKK!!
Dari ujung sana, menyeruak binatang berkaki empat yang berlari kearahnya. Blessha terkejut panik. Spontan ia langsung membalikkan tubuhnya dan menyelamatkan diri.

"AA-AA-AAA-A....!"teriaknya panik. Ia setengah berlari. Tubuhnya seakan tak berdaya menghimpun langkah. Jatuh bangun ia menyelamatkan dirinya.

Binatang yang mengejarnya, kucing hutan itu memang tidak terlalu besar. Tapi cukup mengerikan untuk binatang kelaparan di musim dingin.

"Aa-a-a-a-a-a-...."teriaknya. Ia berlari, berlari dan berlari semakin cepat, ketakutan yang memacu tubuhnya, kakinya untuk melangkah lebih cepat dan cepat apabila mau tetap hidup.

"AAAAAA......"teriaknya panjang. Kucing lincah itu menyergapnya. Berat, Blessha jatuh berdebum ketanah.

"Ti-daakk....tid-daakkkk....to-longg....tolong....."teriaknya histeris, berusaha menahan gigitan kucing hutan yang menyerangnya.

"To-longgg....."teriaknya putus asa.

CRAP!!
Binatang itu meraung mengerikan, ia terbanting kesamping. Blessha langsung beringsut merangkak menjauhinya. Binatang itu sekarat, meraung mengerang ajal. Ia masih kuat.

Dari belakang, muncul seorang laki-laki dengan perlengkapan berburu lengkap dengan panah dan jaring.

"Kamu tak apa-apa?"tanyanya pada Blessha yang tergeletak berlumuran darah. Blessha tak menjawab.

Semua gelap.

Ma®™
March 15, 2003, 02:33
Pondok ditengah Hutan

"Ia tak apa-apa, bu?"
Seorang yang dipanggil ibu tak menjawab. Ia tak berhenti mengompres luka-luka Blessha yang tergeletak pingsan.

"Dimana kau temukan dia?"tanyanya pada pemuda itu.

"Dihutan, seekor kucing hutan kelaparan menyerangnya. Kucing hutan itu yang sering mencuri hasil buruanku..aku yakin!"

"Dia tak apa-apa."jawabnya. "Hhh....dia masih sangat muda, cuma...sepertinya ada sedikit keterbatasan mental..."
ibu itu tak melanjutkan kata-katanya. Ia menatap pemuda itu dalam. Rambut putih dan mata keriputnya yang dalam menyorotkan kegelisahan.

"Keterbatasan mental?"tanyanya Archie tak mengerti.

"Sudahlah, kau akan mengerti apabila dia sudah sadar nanti. Lagipula bukan itu yang ibu permasalahkan..." perempuan itu berdiri menuju belakang rumah. Menyiram tanaman dibelakangnya dengan air bekas kompresan Blessha.

Archie mengikuti ibunya tak mengerti,"Aku tak mengerti. Ada apa dengannya?"

Perempuan itu menahan napas. Pengalamannya tak mungkin dapat membohonginya. Kerut diwajahnya tampak semakin jelas. Tapi...

"Gadis itu hamil."

Pada waktu yang merangkak

Setelah hari itu,

Blessha tinggal di pondok Archie dan ibunya. Pondok sederhana dengan perabotan khas pemburu itu telah menyentuh hidupnya. Begitu beda, begitu jauh dengan gemerlapnya kehidupan sebelumnya. Namun, sejak hari itu kondisi Blessha semakin membaik. Ia tidak lagi terlalu terpatah-patah apabila berbicara. Ia mulai dapat menggenggam sesuatu dengan baik, mencerna pembicaraan orang dan mengutarakan keinginannya dengan jauh lebih baik dari sebelumnya.

Kebahagiaan Blessha semakin terisi oleh bayi Reene Kulham yang dikandungnya. Dalam hati Blessha masih mencintai Reene. Tapi kebaikan Archie dan ibunya sungguh merupakan karunia tak ternilai dimana mereka dapat menerima kondisi Blessha apa adanya.

Archie, pemuda sederhana dengan kulit coklat matang, tinggi, maskulin namun sangat penyabar itu telah mencuri sedikit simpati Blessha. Laki-laki itu tidak menampakkan sikap jijik apabila berhadapan dengan Blessha. Malah ia mau merawat Blessha, membelikannya sesuatu setiap ia pulang menjual hasil buruannya ke kota.

Pondok itu sederhana itu dihuni oleh orang-orang sederhana. Namun perlakukan, kasih sayang mereka ke Blessha telah mengubah sedikit perilaku Blessha, terutama Archie. Seringnya bersama membuat keduanya mulai saling membutuhkan. Sedikit demi sedikit, getar-getar cinta pun merekah. Keduanya tak kuasa menampik, saling menerima apa adanya.

Termasuk Archie, yang dapat menerima kehamilan Blessha walau perbandingan hidup dan mati Blessha seimbang. Blessha sendiri bersikeras untuk tetap menjaga kehamilannya. Ia tak perduli pada keselamatannya nanti.

"Ak-ku ingin me-lahir-kan bayi i-ni... Dia a-nakku..."

7 bulan kemudian...

Blessha sekarat mengerang kesakitan. Kelahiran bayinya sungguh tidak dapat ditunda lagi. Dari tadi pagi tangan dan kakinya telah diikat oleh ibu Archie diatas dipan. Baskom-baskom air untuk bilasan persalinan Blessha berjejeran dilantai. Archie menunggu harap-harap cemas diluar, berkeringat dingin.

"Tarik nafas, Blessha!!"
Blessha berusaha sekuat tenaga untuk menekan bayi itu keluar. Tangan dan kakinya membiru, menyentak-nyentak menahan rasa sakit yang sangat.

Swingg..... Ibu Archi mengambil sebilah pisau kecil yang sudah dibakar.

"Mmmhhhhh...MMMHHHHH....!!!!" Blessha melotot melihat pisau tajam itu berkilat diterpa sinar yang menerobos dari kisi-kisi jendela. Meronta-ronta ketakutan.

Gadis itu semakin memberontak, menyentak kuat dengan kaki terkangkang.

"Tenang Blessha, kamu bisa kehabisan napas jika terus begini...tarik nafasmu, nak. Kamu pasti bisa, Blessha. Kamu dan anak ini akan lahir dengan selamat!! Kamu pasti bisa!!" tabah ibu Archie, ia sendiri takut melihat kondisi Blessha yang pucat pasi.

"Ini akan sakit sedikit, tapi aku harus sedikit membuka jalan...bertahanlah, kamu akan melahirkan anak ini dengan selamat!!"

Srrrtttt!!
Blessha melotot menahan sakit, tak mampu berteriak karena ia sendiri menggigit gumpalan kain penyumbat mulutnya.

"Dorong!!"seru perempuan setengah baya itu. Tangannya bergerak cepat menekan perut Blessha kebawah, kebawah....

"MMMHHH.....!!! KKKHHHHHH...!!" mengerang ajal. kesakitan. Blessha tak kuasa. Ia tak mampu bertahan dari rasa sakit yang sangat luar biasa. Menekan, mengejang sesaat sebelum terkulai mendengar tangis bayi dari pangkal pahanya.

Bergema memenuhi pondok kecil itu.

"Ahhh....selamat anakku, laki-laki...."seru ibu Archie gembira, memeluk orok merah itu.

Blessha tersenyum kecut. Tergeletak lemas tak berdaya. Kehabisan daya.

Tapi ia bahagia.

-----------------------------

Waktupun merambat
terlalu lama aku terjebak pada kesunyian ini
perih menghentak
sakit tersentak
Aku harus tetap hidup.



----- Blessha Antroph

-----------------------------

Ma®™
March 15, 2003, 02:35
"Bagus Blessha, bagus sekali...selamat! Anakmu laki-laki..."senyum ibu Archie bahagia.

Tangis bayi memecah keheningan. Archie tergopoh-gopoh masuk, ia tidak dapat lagi menahan diri menunggu diluar.

"Ba-bagaimana? Keduanya selamat? selamat???"tanyanya cemas.

Ibu Archie tersenyum,"Selamat, anakku. Semuanya selamat. Bayi laki-laki yang tampan... Hanya Blessha kehilangan banyak darah, tapi kurasa dia akan selamat...." katanya sambil membungkus orok itu dan meletakkannya dalam pelukan Blessha. Blessha terisak, ia begitu bahagia. Suasana haru. Archie tak dapat bersuara. Ia memandang takjub.

"Sulit dipercaya Blessha dapat melahirkan dengan selamat...sungguh suatu karunia. Tapi aku yakin tekat dan ketabahannyalah yang telah membuatnya melalui semua ini..."gunamnya lagi tak lepas memandangi bayi merah itu dalam pelukan Blessha.

"Oh..dia tampan sekali, Blessha...tampan sekali..."desis Archie takjub. Disentuhnya pipi orok itu dengan perasaan bergetar. Begitu kecil, begitu mungil, begitu....

Blessha menangis bahagia. "Oh Tuhan....dia memang tampan. Dia tampan...seperti ayahnya..."senyum tipis Blessha, dan "Akan kunamai dia..... " Blessha tak melanjutkan kata-katanya. Ingatannya melayang pada sosok tampan maskulin yang selalu tampil mempesona, hangat tapi begitu dingin...

"Akan kunamai dia Reene. Renee Kulham. Aku ingin anak ini mencintai aku, membalas cintaku, seperti aku mencintai ayahnya..."

-------------------------------

Aku ingin kamu mencintai aku.
Walau aku harus mati dan lahir kembali
hingga berkali reinkarnasi.

Aku hanya ingin kamu mencintai aku.

--- Blessha Kulham

----------------------------

Sejak hari itu, pondok itu ramai.
Segalanya berubah. Mereka bertiga hidup bahagia dalam pondok kecil itu. Cinta baru tumbuh dan bersemi, Blessha Kulham belajar lagi dari awal.

Ia belajar melupakan dan mencintai.

---------------------------

8 tahun kemudian....

Pada sebuah kedai roti



"Beli roti ini satu, Nyonya!"kata Archie pada seorang pelayan.

"Jangan panggil aku nyonya. Aku belum menikah,"senyum gadis itu malu-malu.

"Oh, maaf. Kukira anda pemiliknya,"ralat Archie salah tingkah.

"Nyonya kami yang itu,"tunjuknya pada seorang perempuan separuh baya yang sedang sibuk menghitung uang.

"Oh...tapi...sepertinya pernah kulihat, tapi dimana ya..aku sendiri lupa."gunam Archie. Ia mencoba mengingat-ingat wajah yang mirip nyonya pemilik kedai roti & minuman ini.

Gadis itu tersenyum sambil meraih roti dari dalam keranjang pajang.
"Siapapun juga akan berkata seperti itu jika melihatnya. Aku tak heran. Dia sangat disegani disini. Dia sangat galak,"pelayan itu merendahkan suaranya,"Tapi dia perempuan yang hebat,"sambungnya sambil membungkus roti pesanan Archie.

"Hebat?"tanya Archie tak mengerti. Rasa ingin tahunya menggelitik untuk mengenal nyonya itu lebih jauh.

"Dia seorang pendatang. Kata orang dia dari Peace Highlands, kamu tahu? Dulu itu kota yang hebat. Tapi sekarang tidak ada artinya lagi, karena kota itu miskin. Menurut cerita orang, nyonya kami adalah pendatang dari sana. Bayangkan, dia seorang perempuan tapi dia mampu bertahan hidup disini, membuka usaha disini dan melakukan semuanya sendirian tanpa bantuan laki-laki. Walaupun dia sangat galak, tapi aku sangat mengaguminya. Asal kamu tahu saja, dia membuka pikiran perempuan-perempuan disini untuk berani bersuara, ber.."

"Ini waktu kerja, Maryane! Kamu tidak digaji untuk bercakap-cakap disini!"tegur sebuah suara keras.

Maryane terkejut, dia cepat-cepat berlalu sambil membawa roti pesanan Archie. Salah tingkah.

"Hei...ro..tiku.."suara Archie tertelan dikerongkongan. Didepannya, berdiri nyonya pemilik kedai. Wajah itu keras. Rahang itu begitu tegas dan pandangan matanya tajam menembus jantung. Archie kehilangan kata-kata. Wanita ini begitu berkharisma. Archie tak berkedip. Sepertinya wajah ini tak asing, tapi siapa ya?

"Apa yang bisa saya bantu?"tanyanya datar.

Suara itu membuyarkan lamunan Archie. "Hmm...aku minta roti itu,"tunjuk Archie.

"Berapa banyak?"tanyanya lagi sambil meraih roti.

"Satu saja,"Archie mencoba tersenyum.

Wanita itu tak banyak bicara. Ia membungkus roti itu dan menyerahkannya pada Archie. Archie membayarnya sesuai dengan harga yang tertera pada keranjang roti.

"Yakin hanya satu?"tanyanya lagi sambil menjemput uang Archie.

"Ya. Aku ingin memberikan ini pada anakku, dia pasti sangat suka bentuknya,"senyum Archie tulus.

"Ayah yang baik,"senyum wanita itu, sedikit terkesan sinis.

"Archie Bochwald"mengulurkan tangan.

Perempuan itu tersenyum tipis, mengulurkan tangan, menjabat tangan Archie mantap,

"Jodie."

Ma®™
March 15, 2003, 02:38
Pulangnya, Archie tak dapat berhenti berpikir. Ia melalui perjalanan panjang untuk kembali ke pondoknya dan menemukan Blessha dan Reene junior sedang bersenda gurau didepan pondok.

"Li-hat, papa-mu pu-lang.."senyum Blessha.
Reene junior langsung berlari sambil berteriak "Papa" dan memeluk Archie.

"Anak nakal, kamu pasti merepotkan ibumu, ya??"senyum Archie sambil memanggul Reene ke pundaknya, berjalan menghampiri Blessha.

"Perjalanan panjang yang melelahkan,"kecupnya.

"Is-tirahat dulu,"jawab Blessha sambil menggandeng Archie masuk.

"Penjualanku kali ini baik sekali, aku sampai sempat mampir..."

"Mampir?"Blessha mengernyitkan alisnya.

"Hmm..."diturunkannya Reene junior,"Ada kedai yang baru dibuka, aku sendiri tak tahu kapan jelasnya, tapi...yah...kedai itu lumayan ramai. Menjual berbagai macam minuman, juga oh! Aku sempat beli roti!" Archie mengeluarkan bungkusannya.

"Horeee....rotiii...."teriak Reene langsung menyambar roti itu.

Blessha tersenyum geli,"Seper-tinya sangat ber-kesan..a-pa yang ka-mu pikir-kan?"

Archie mematung sesaat, menatap wajah Blessha dalam. Wajah itu begitu tenang dan bahagia. "Ah, tidak apa-apa. Tak ada yang berkesan,"alihnya.

"Aku ingin istirahat. Aku sangat lelah," ia membaringkan tubuhnya. Pikirannya berkecamuk. Blessha pernah bercerita tentang keluarganya tapi begitu kebetulan pemilik kedai itu berwajah mirip dengan istrinya dan bernama Jodie.



Jodie??

Bagaimana kukatakan pada Blessha? Menurut cerita Blessha, Jodie sangat keras. Jika Jodie tahu Blessha disini, aku akan kehilangan dia?

Diliriknya Blessha dan Reene. Mereka bahagia. Keluarga kecil yang bahagia.

Jodie sibuk sekali hari itu. Kedainya ramai. "Cepat antarkan pesanan ini ke meja 3!!"perintahnya.

"Kamu, lamban begitu! Aku tidak mempekerjakan pegawai yang lamban!!"

Ia masih tidak berubah. "Apa yang kalian lakukan disini?! Pergi! Aku tidak memberikan segalanya dengan gratis! Pergiii!!" serunya pada pengemis

jalanan yang berkumpul didepan kedainya. "Pergi kataku!"teriaknya sambil mendorong salah satu.

Pengemis yang didorongnya menyenggol orang yang lewat...Ups!! Pengemis itu tak sempat menghindar, menyenggol orang yang sedang lewat dibelakangnya.

Perempuan dan pengemis itu terjatuh. Merasa tak enak, Jodie segera membantu perempuan itu berdiri, memapahnya..."Jo..Jo-die??"mulut perempuan itu bergetar.

Jodie mematung, mencoba mengingat seraut wajah. "Kamu tak ingat?"perempuan itu mencengkram tangan Jodie. "Aku..."

"Wil-ma? Kamu Wilma!!"serunya kaget.

"Oh, akhirnya kutemukan!"seru Wilma sambil memeluk Jodie.

"Wilma! Wilma Kruz sang desainer! Ah, apa yang membawamu kesini? Aku tak pernah menyangka akan bertemu dengan sesama penduduk Peace Highlands" tawa Jodie terharu.

Mereka saling melepaskan pelukan dan berpandangan selayaknya kekasih yang sekian tahun tak bertemu,

"Apa yang terjadi denganmu? Kamu bagai lenyap ditelan bumi setelah pernikahan Blessha usai."kata Jodie masih dalam kagetnya.

"Ya, memang. Setelah pernikahan Blessha, aku ikut suamiku.." kata Wilma menerawang.

"Duduklah dulu, ayo duduk!" Jodie menarik bangku, memesan minuman.

"Kami bercerai. Karena itu aku kembali ke Peace Highlands. Tapi aku menemukan kota itu kacau. Dan puri Antroph terbakar. Habis.."kata Wilma Kruz.

"Aku kehilangan pelanggan sejati gaun-gaunku,"senyumnya. Jodie tergelak. Pahit.

"Apa yang terjadi, Jodie. Aku mendengar banyak cerita tentangmu.."tanya Wilma hati-hati.

Jodie terdiam sesaat, wajahnya muram. "Hhhh...cerita lama. Aku tak ingin mengingatnya lagi. Terlalu pahit untuk kuingat...lagi pula, sekarang aku pun dapat menikmati hidupku," Jodie menghibur diri.

"Adik-adikmu? Tak ada kabar?"tanya Wilma Kruz hati-hati. Dia melihat raut wajah Jodie berubah muram. Wilma tertuntuk tak berani menatapnya.

"Minum dulu, Wilma. Ini suguhan terbaik dikedaiku,"senyum Jodie mengalihkan pembicaraan. Wilma menjumput minuman dengan perasaan lenggang.

"Aku hampir putus asa setelah itu, aku...kehilangan adik-adikku. Aku tak berhasil menemukan mereka. Entah apa yang terjadi pada mereka... Aku sungguh tak berguna!"Jodie membuka mulut menyambung pembicaraan.

"Tahun-tahun berlalu, aku sudah pindah dari kota ke kota hanya untuk mencari mereka. Hhhh....aku tak tahu kemana mereka. Apapun yang terjadi, kuharap tak lebih buruk dari apa yang aku alami...."keluhnya.

Pandangan mata Jodie menerawang..... ia memejamkan matanya. Suasana mengerikan di kota Peace Highlands, alun-alun kota, Janet yang terbakar, Blessha....Ahmed, Henry....juga Samantha yang lenyap entah kemana.

Pengadilan terakhir, kuda-kuda berpelana, massa-massa brutal, kuli-kuli ladang yang beringas, Samuel yang menyelamatkan mereka,.... dan semua yang dipenuhi oleh merah. Merahnya api dan kebencian!

Jodie bergidik. Ia terisak. "Aku...aku tak tahu dimana mereka.... Aku tak tahu lagi bagaimana harus mencarinya,"

Wilma menatap Jodie penuh arti, wajahnya terlihat pucat. Berdebar-debar.

"Kamu...tak pernah kembali ke Peace Highlands lagi?"tanya Wilma.

"....Mereka semua lenyap. Segalanya musnah terbakar. Kota itu menjadi kota baru yang hampir tak aku kenal.."

"Ada yang ingin aku katakan padamu, Jodie. Tapi aku ingin kamu ikut denganku. Ada sesuatu yang penting, yang ingin kusampaikan kepadamu. Tapi kamu harus ikut denganku pulang ke Greentown. Setelah Peace Highlands terbakar, aku tak berminat untuk hidup di kota kacau seperti itu. Ikutlah aku ke Greentown." tawar Wilma.

"Seberapa penting? Aku harus meninggalkan kedaiku? Tak mudah bagiku untuk membangun kedai ini, Wilma. Terlalu pahit dan terlalu panjang untuk diceritakan setelah hari kiamat itu," kata Jodie tak berminat.

Ma®™
March 15, 2003, 02:39
"Aku...aku ingin mempertemukanmu dengan seseorang, mungkin dia dapat membantumu mencari adik-adikmu. Tapi kamu harus ikut aku, karena tak mungkin bagiku membawanya datang kepadamu,"

"Kamu yakin? Aku telah menghabiskan terlalu banyak uang untuk jasa-jasa kosong seperti itu,"keluh Jodie.

"Kali ini, kamu harus percaya kepadaku!" Wilma menatap Jodie tajam. Membungkam bibir Jodie untuk berkata 'tidak'.

"Kita berangkat besok. Bersiap-siaplah, aku akan menjemputmu besok. Aku tidur tak jauh dari sini, kita berangkat besok pagi!" tegas Wilma.


Besok pagi...

Perjalanan yang melelahkan

Perjalanan Jodie tak tenang. Dia tak henti-hentinya mendengus gelisah, duduk tak tenang, begitu lain dengan Jodie biasanya.
Janet..... entah kemana anak itu. Dan Blessha yang malang,... Aku kakak yang tidak berguna... Tahun-tahun yang dilewati Jodie begitu panjang. Dia bahkan sempat hampir menikah lagi tapi...

"Masih lama?"tanyanya pada Wilma Kruz.

"Ya. Masih lama. Bersabarlah." jawab Wilma kalem.

Entah sudah berapa kali dia menanyakan pertanyaan itu. Wajah Wima sendiri kelihatan tegang. Tapi bekas desainer kesayangan keluarga Antroph itu kelihatan lebih tenang. Mereka tak banyak bicara. Jodie sibuk dengan pikirnya. Siapakah dia, orang yang dapat mempertemukan dirinya dengan Janet?

Apa yang terjadi dengan Janet selama ini? Apakah dia masih hidup? Dengan cara apa? Janet tak pernah berkerja. Dia tak bisa bekerja dan dia tak bisa mencari uang! Bagaimana mungkin dia mampu hidup tanpa uang?

Janet...

Beberapa jam perjalanan yang melelahkan. Mereka singgah ke penginapan sederhana untuk melanjutkan perjalanan. Greentown begitu jauh, Jodie sendiri tak tahu lagi seberapa jauh. Terlalu lama. Sudah terlalu lama, terakhir dia kesana bersama Henry. Jauh sebelum perselingkuhan itu terbongkar.

Perselingkuhan. Henry. Janet. Ah, Henry...

"Kita menginap disini," saran Wilma. Jodie tak menjawab. Dia mengangkat barang bawaannya, masuk kedalam kamar sederhana itu.

"Kamu terbiasa dengan keadaan ini, bukan?" tanya Wilma sekali lagi.

"Jangan mengejekku. Aku pernah mengalami hal yang lebih buruk dari ini," acuhnya.

"Apa yang akan kamu lakukan jika kamu sungguh-sungguh bertemu Janet?" Wilma melirik Jodie yang sedang membereskan baju-bajunya.

"Aku.... aku tak tahu." gamangnya.

"Tak tahu? Sekian tahun lamanya kamu tak tahu?"

Jodie menatap Wilma tajam. "Aku akan sangat berterima kasih padamu.."

Greentown

Greentown kota yang ramah. Sangat mudah menjual hasil ladang disini, karena semua bahan baku bergantung pada Peace Highlands. Bahan baku dari ladang Jodie. Jodie tersenyum pahit. Kota ini jauh berubah.

"Kota kecil ini...sempat mengalami krisis." Wilma menoleh, Jodie mengerutkan keningnya. "Sejak Perkebunan Antroph terbakar, kota ini krisis." lanjut Wilma. Jodie menarik napas membuang muka. Pahit.

"Tapi mereka kota kecil dengan penduduk yang rajin. Mereka mampu bertahan hidup, walau tanpa Peace Highlands sekalipun. Sekarang, Greentown jauh lebih menyenangkan dari kota gersang Peace Highlands. Luka berdarah beberapa tahun silam tak dapat dihilangkan begitu saja. Kota itu hampir mati." terawang Wilma.

"Ya...akupun hampir mati." lanjut Jodie.

Kereta kuda itu menuju ke sebuah bangunan artistik yang tak seberapa besar jika dibandingkan dengan puri Antroph dulu. Tapi di Greentown, bangunan kediaman Wilma ini tak buruk. Tergolong cukup besar.

"Aku tinggal disini," kata Wilma sambil menyerahkan jaket dan topinya pada pembuka pintu,"Masuklah Jodie," ajaknya.

"Aku ingin bertemu dengan orang itu." kata Jodie.

"Masuk. Duduklah dulu. Percayalah padaku, perjalanan kita sangat melelahkan. Istirahatlah dulu," saran Wilma.

"Aku tak dapat istirahat, Wilma. Aku sangat lelah, tapi pikiranku jauh lebih lelah. Aku tak dapat menunggu lagi,"

Wilma memandang Jodie sejenak. Prihatin. "Baiklah. Setidaknya kau minum kopi itu dulu," katanya pada pelayan yang datang membawakan kopi.

Sementar Jodie menjumput kopi, Wilma menyentuh tangan pelayan itu dan berbisik,"Dimana dia?"

"Di kamarnya, Nyonya. Masih seperti biasa," katanya hati-hati.

Pelayan itu berlalu. Wilma menatap Jodie tegang. Ia menarik nafas mengatur laju degup dadanya. "Ikut aku!"

Mereka masuk kesatu ruangan dan masuk lagi ke ruangan lain, ternyata bangunan ini sangat panjang. Tak terlalu lebar, tapi panjang. Langkah-langkah kaki bergema. Terdengar mencekam. Ruangan bawah tanah itu tak terlalu pengap, karena masih ada ventilasi udara dan sinar masuk.

"Disini ruang kerjaku, disini aku menjahit baju-baju pesanan langgananku," terang Wilma ketika mereka melewati ruang berpintu besar dengan gaun-gaun setengah jadi didalamnya.

"Disini? Diruang bawah tanah?"

"Ya. Disini tenang dan dingin. Kami dapat bekerja lebih baik. Lagipula... dia pun menginginkannya disini." misterius Wilma.

"Dia? Kemana kita?" tanya Jodie bingung ketika Wilma membuka pintu ruangan bawah tanah.

Wilma tak menjawab. Jodie semakin tegang.

Diujung ruangan, ada sebuah pintu. Krieeetttt.... "Masuklah." Wilma membuka pintu.

Jodie memandang tak mengerti. "Dia ada didalam...,"

Ma®™
March 15, 2003, 02:43
Jodie masuk. Krieeeeettttt..... engsel pintu berderit. "Maafkan aku, Jodie....cuma ini yang mampu aku berikan kepadanya," Wilma menutup pintu sebelum,"Maafkan aku karena telah membohongimu. Percayalah padaku ini baik untukmu,"

Pintu pun tertutup. Jodie ada di dalam ruangan temaram yang hanya mengandalkan lampu dari bias ventilasi kamar yang masih tersisa. Sejenak, Jodie menajamkan penglihatannya pada ruang remang-remang itu. Dia berjalan perlahan, mencoba mencari pegangan. Masih terasa gelap. Ia belum terbiasa.

Krak! Ia menginjak sesuatu. Jodie memungutnya perlahan, penggaris kayu...yang terpotong...? Ia mendesah tak mengerti.

Tiba-tiba sebuah benda melayang, DUG!! Jodie tak sempat menghindar, dia tersapu oleh entah benda apa, yang menghantam kepalanya. Jodie tersungkur, pusing.

Apa yang telah....

"Pergi...!!"kata seseorang.

Jodie tak bergerak, dia menajamkan pendengarannya. Sepertinya kudengar suara....

"Tinggalkan aku sendirian," sambung suara itu lagi.

Jodie mencoba berdiri, tangannya menyentuh sesuatu, Buku! Ia memungutnya, Buku ini yang telah menghantam kepalaku, sakit sekali.... aduhh...

Ia berdiri tanpa suara. Pandangan matanya mulai dapat menangkap suasana kamar yang remang-remang.

Jodie menebarkan pandangan. Apapun yang terdapat dikamar ini atau...gudang ini, sungguh sangat berantakan.

Jodie memutar tubuh. Hampir semua barang hancur... apa yang telah terjadi dikamar ini?

Janet...

Ma®™
March 15, 2003, 02:44
"PERGI KATAKUUU!!!" teriak suara itu lagi, kali ini terdengar begitu dekat dengan Jodie, dibelakang!!

BRUKKK!! Tubuh itu menyerang Jodie dari belakang, Jodie tak sempat mengelak. Mereka berguling-guling dilantai lembab itu hingga akhirnya tubuh itu berhasil membalikkan tubuh Jodie, duduk diatasnya dan mencekik leher Jodie dari belakang,...

"KUBUNUH KAU!! BA-JINGAN!! KUBUNUH KAU KE-PARATTT!!" teriaknya berulang-ulang sambil mencekik leher Jodie dari belakang.

"KKKHHHHH....AAKKK..... JAAA-NEETTT....." suara Jodie tercekat dikerongkongan. Ia tak mampu bergerak banyak dengan posisi seperti ini.

"KUBUNUH KAU, PEM-BUNUH!! KALIAN SEMUA PEMBUNUH! KALIAN MENGHANCURKAN AKU!! KALIAN MENGHANCURKAN KELUARGAKUUUUU!!!" teriaknya semakin histeris sambil membenturkan kepala Jodie ke lantai.

Dug! DUG!!

Jodie berusaha meraih apa saja yang ada didekatnya, ia berhasil meraih bangku yang telah patah-patah, memutarnya dan menghantamkan ke tubuh Janet...

BRAAKKKK!!! "Aaaaa............"pekik suara itu, tubuhnya terbanting kesamping, cengkramannya lepas karena hantaman bangku.

Jodie segera berguling kesamping, terduduk mundur ke belakang,"JANET!! INI AKU, JODIE!!"

Jodie terengah-engah. Cairan kental mengalir dari kepalanya. Ia terbatuk-batuk, sesak semakin sesak. Lembab.

"Janet, ini aku.... Jodie kakakmu," Jodie memelankan suara.

Tubuh yang terbanting tadi diam. Dia bangkit perlahan-lahan, berjalan kearah Jodie yang terduduk dengan mata melotot tegang.

Dekat semakin dekat, Jodie semakin tegang.

Kemudian, diantara cahaya yang mengintip masuk dari ventilasi kamar, Janet berhenti. Dia berdiri dan berhenti.

Diterpa cahaya dari samping atas, Jodie dapat melihat Janet.

Janet??

Kaki itu...tidak bersepatu. Kaki itu telanjang. Tapi bukan itu yang membuat Jodie merinding. Tubuh itu berdiri dengan posisi kaki terbuka sehingga Jodie dapat melihat dengan jelas betis, paha yang tersembul diantara gaun yang sobek-sobek... betis itu, berkerut-kerut dipenuhi bekas luka yang telah lama mengering. Terus hingga ke paha. Jodie terisak.

Luka bakar Janet....

Pandangannya naik keatas, jari jemari hingga tangan yang berkerut karena luka, dada tertutup gaun seadanya dan....

wajah itu? Wajah itu tertutup rambut yang awut-awutan. Tergerai seadanya sehingga menutupi raut wajahnya. Jodie berdiri perlahan-lahan, sangat perlahan, hingga mereka berdiri berhadap-hadapan.

"Janet, ini aku. Jodie."

Tubuh itu lemas, ia terisak. Jodie tak lagi kuasa. Ia langsung berhambur memeluk tubuh itu, dan menangis sejadi-jadinya.

"Janeeetttt......." pilunya. Tangis keduanya pecah.

Mereka saling berpelukan, hingga akhirnya tubuh itu bergetar hebat dan memanggil,

"Ka-kaaakkkkk......"

Yah. Lovely Janet.

"Sis-ter............"

(Call me sister!)

Ma®™
March 15, 2003, 02:46
nagita: Sekarang, tahukan kenapa kunamakan ini "Sister"...?

Ma®™
March 15, 2003, 02:48
"Ah, janet...kamu tak pernah memanggilku dengan sebutan 'kakak',..sudah lama sekali tak kudengar panggilan itu,"bisik Jodie memeluk Janet erat. Tangis Janet tumpah, ia menangis sepuas-puasnya. Kamar sunyi itu pecah karena jerit tangis Janet dan Jodie.

"Maafkan kakak, kakak telat mencarimu,"

Tak tahu harus berkata apa, hanya tangis yang menjawab semuanya. Suka dan duka Janet, kepedihan dan penderitaannya...hanya dijawab oleh tangis.

"Blessha?"serak Janet.

Jodie menghela napas. "Aku belom berhasil mencarinya,"

"Hen-ry...?"

Jodie memeluk Janet semakin erat. Dadanya bergemuruh. Perih.

"Dia...tak dapat tinggal bersama kita lagi,"Jodie mengatur napas.

"Henry..mati?"

Jodie tak menjawab. Ia tak ingin menjawab. Sosok Henry menari-nari didepan matanya. Semuanya gamang. Menyisakan kepedihan dan kehilangan yang mendalam.

[/b]Tiga hari kemudian...[/b]

"Terima kasih, Wilma. Terima kasih karena telah merawat Janet selama ini,"peluk Jodie.

"Aku yang harus minta maaf, Jodie. Aku menemukannya dalam keadaan yang tak baik,"Wilma membalas pelukannya.

"Setidaknya dia selamat. Setidaknya karenamu, dia tak sampai dijadikan budak dan ditempatkan entah dimana..."terawang Jodie. "Kamu telah memberikan yang terbaik, aku sangat berterima kasih,"

"Sudahlah, Jodie. Kalau ada apa-apa, kamu boleh datang mencariku disini,"katanya sambil melirik Janet. "Kamu harus lebih memperhatikan dirimu, Janet. Jangan menyia-nyiakan hidupmu lagi, bersyukurlah kalian selamat,"kata Wilma sambil mengelus rambut Janet.

"Dia masih kelihatan cantik, bukan?"senyum Jodie.

"Cantik, Jodie. Janet memang cantik,"senyum Wilma mencairkan kekakuan. Janet rapi hari ini. Setelah bertahun-tahun dia mengenakan pakaian seadanya, rambut awut-awutan dan hampir tak pernah mandi, akhirnya gadis malang ini mau juga didandanin. Itupun oleh Jodie.

"Terima kasih, Wilma..untuk menampungku selama ini,"kata Janet.

"Sudahlah, pergilah. Nanti kalian ketinggalan kereta. Hati-hati dijalan. Aku berharap kalian menemukan Blessha,"

"Kami akan menemukannya, Wilma. Kami pasti akan menemukannya,"optimis Jodie.

Lalu mereka berangkat diikuti pandangan lega Wilma Kruz hingga hilangnya kereta dari pandangan mata. Ia menarik napas lega.

"Janet...semoga nasibnya seberuntung Blessha. Anak-anak yang malang,"

Sementara itu, di tengah hutan...

"Aku akan ke kota lagi, Blessha,"kata Archie sambil memasukkan buruannya kedalam karung,"Bersama Reene.."teriaknya dari depan.

"Ber-sama Reene? Kam-mu akan mem-bawa Reene pergi ke-kota?"tanya Blessha.

"Aku akan membawa sikecil itu ke kota. Aku telanjur bercerita bahwa ada kedai roti enak disana, dan dia ingin ikut,"jelasnya.

Blessha menggenggam tangan Archie,"Tapi per-jalanan-nya jauh dan me-lelah-kan," cemas Blessha.

"Tak terlalu jauh, Blessha. Aku sudah terbiasa. Lagi pula baik untuk Reene ikut denganku, dia sudah cukup besar untuk belajar. Selama ini pun tak ada masalah jika dia ikut berburu bersamaku, jadi tak perlu cemas ya..."kecup Archie.

"Jan-ngan terla-lu lama, Aku khawatir.. Jaga Reene ba-ik-baik.."peluk Blessha.

"Tentu sayang, tentu. Aku berangkat sekarang. Si bandel itu sudah dari tadi menunggu diluar. Perjalanan ini tak jauh, kalau sudah sampai dibatas kota, kami tinggal menumpang kereta gerobak untuk sampai disana. Jangan khawatir, aku sudah terbiasa. Reene anak yang kuat," senyum Archie.

Blessha membantu Archie berkemas. Archie melirik istrinya,"Blessha...."

"Ya?"kernyit Blessha.

"Kamu...dulu kamu bilang kamu memiliki saudara perempuan...?"

"Ya...kenapa?"tanya Blessha tak mengerti. Tak biasanya Archie tiba-tiba bertanya hal yang sudah terlalu sering diceritakan Blessha.

"Tidak," Archie buru-buru menggelengkan kepalanya,"Tidak apa-apa. Lupakan saja,"

Mereka keluar pondok. Pondok sederhana itu sudah jauh lebih besar dari saat pertama Blessha datang. Mereka merasa nyaman tinggal disana, tak terlalu jauh dari batas kota. Lagipula dekat-dekat sana sudah ada penetap baru, hanya jaraknya cukup jauh untuk disebut tetangga. Diluar, Reene kecil sedang sibuk menyiapkan buntelan mininya, mengisinya dengan bekal kecilnya. Dia anak muda yang tampan, setampan ayahnya; Reene Kulham. Tapi Reene tak pernah tahu siapa ayahnya. yang dia tahu, Archie...

"Reene, jan-ngan nakal,"kata Blessha sembari memeluk puteranya.

"Tidak, mommy. Aku tidak akan nakal,"katanya sambil melirik Archie. Archie membalasnya dengan kedipan mata, sambil mengikat karung yang berisi buruannya.

Lalu mereka pergi berdua. Blessha melepasnya dengan rasa tak rela. Baru pertama kalinya Reene pergi ke kota. Ia masih menangkap sayup-sayup cerianya suara Reene yang bergema di dalam hutan yang lebat ini. Mereka berjalan berdampingan dengan Archie yang memikul bekal dan Reene berjalan disampingnya sambil berlari-lari kecil...

"Daddy, aku bantu bawa bekalnya,"

"Tak perlu, sayang. Berat,"

"Aku sudah cukup besar, aku kuat,"

"Tidak, sayang, ini terlalu berat untukmu,"

"Tapi aku bisa, aku kuat,"katanya sambil memperlihatkan lengannya.

"Nanti, jika kamu sudah lebih besar, aku akan memberimu semua yang aku bawa sekarang,"

"Sungguh?"

"Ya. Pasti,"


"P a s t i,"

Tiga hari kemudian

"Terima kasih, Archie. Kamu harus lebih banyak lagi berburu, aku menerima pesanan sangat banyak jika kamu mau menyanggupinya,"kata seorang laki-laki gemuk kepada Archie sambil menyerahkan uang.

"Tidak, ini cukup buatku. Aku mulai mengerjakan pekerjaan lain disamping berburu, aku cukup puas dengan hasilku. Kamu tahu kan, aku punya keluarga bahagia,"senyum Archie.

Laki-laki gendut itu hanya tersenyum sesaat, kemudian dia kembali sibuk dengan pekerjaannya.

Archie keluar dari toko kecil itu,"Hmmm....sudah selesai, Reene. Ayo kita pulang,"senyum Archie sambil memasukkan koin-koin hasil penjualan kedalam kantung. Suasana jalan cukup ramai, mereka berhenti ditepi jalan.

"Tapi daddy bilang mau beli roti...,"rungut Reene.

Archie tersenyum, ia berjongkok hingga tubuhnya hanya setinggi Reene,"Oh ya? Apakah aku berjanji untuk membelikanmu roti?"

Reene semakin merenggut,"Daddy sudah berjanji!"serunya.

Archie tertawa,"Ayo,...letaknya tak jauh dari sini, kita istirahat sejenak disana,"

Kedai roti itu tak terlalu ramai. Archie baru akan masuk ketika sebuah kereta kuda tiba disana, dengan ringkikan kuda yang menarik perhatian orang-orang didekatnya. Archie berhenti sejenak diluar dengan Reene disampingnya. Anak kecil itu merasa begitu takjub dengan pemandangan yang tak pernah dilihatnya sebelumnya. Archie bergetar ketika tahu siapa yang ada didalam kereta. Ingatannya melayang pada Blessha,Sangat mirip...tapi tidak mungkin....

Beberapa pelayan kedai keluar menghampiri kereta, membuka pintu kereta dan yang lainnya membantu membawa beberapa koper kecil.

"Selamat siang, nyonya,"sapanya.

Jodie tak menjawab. Ia turun dan berhenti disamping kereta, memegang tangan Janet sambil membantunya turun dari kereta.

"Ini kedaiku, Janet. Yang kuceritakan kepadamu,"kata Jodie.

Mereka berdua berdiri didepan kedai, Janet mengamatinya dengan perasaan kagum,"Kamu sungguh hebat, Jodie,"

"Tidak. Aku hanya berusaha untuk bertahan hidup,"katanya sambil menggandeng Janet masuk, berpapasan dengan Archie di depan pintu. Beradu mata dengan mata elang Jodie, Archie bergetar. Diliriknya perempuan disamping Jodie, Mereka mirip. Apakah dia adalah...saudara istriku? Mereka sungguh mirip, hanya...gadis ini masih terlalu pucat. Cantik. Inikah...Janet?

Archie tersenyum menganggukkan kepalanya,"Selamat siang, nyonya,"sapanya.

"Kita pernah bertemu?" Jodie mencoba mengingat-ingat,"Oh, ya...aku ingat. Kamu yang pernah singgah dan membeli roti untuk..."

"Untuk puteraku,"sambung Archie sambil membelai kepala Reene. Jodie mengalihkan pandangannya pada seorang anak bermata biru yang sungguh menggemaskan,"Ayo, berikan salam kepada kedua nyonya ini, sayang,"

"Selamat siang, bibi," Reene menundukkan kepalanya kepada Jodie dan Janet.

Jodie tersenyum tipis, keangkuhannya masih terlihat jelas. "Puteramu?"tanyanya basa-basi.

"Ya. Puteraku,"jawab Archie, menunggu Jodie memperkenalkannya pada perempuan disebelahnya, tapi tampaknya Jodie cuek saja.

"Dia....tampan sekali,"desah Janet. Janet berjongkok mengamati Reene,"Bermata...biru...kamu..sepertinya aku pernah lihat..??"desahnya. Kepalanya terasa sakit.

"Anda juga cantik sekali, bibi. Mata bibi seperti mata ibuku, coklat,"balas Reene polos.

Baik Archie, Jodie dan Janet tergelak, bagi Janet kata-kata itu sungguh menghiburnya. "Oh ya? Kalau begitu ibumu tentu seorang perempuan yang cantik...karena kamu juga tampan,"senyum Janet sambil mengelus pipi Reene. Kaku.

"Ya, ibuku cantik dan ayahku tampan,"polos Reene.

Janet tersenyum, ia berdiri. Archie mengulurkan tangannya,"Archie Bochwald,"katanya.

Janet membalas uluran tangannya,"Janet."

Jabatan tangan itu terasa dingin. Dingin karena Archie telanjur tenggelam bersama argumentasinya yang ternyata benar! Ia menatap Janet dalam, gadis ini masih tetap cantik. Ia balik menatap Jodie dan semakin merinding.

"Ayo, masuklah,"ajak Jodie. Mereka masuk ke kedai. Archie dan Reene mencari tempat duduk. "Nyonya-nyonya sekalian, anda tidak berkeberatan jika bergabung bersama kami?"ajak Archie.

"Hmm....baiklah,"jawab Janet. Tak ada salahnya ia mulai belajar beramah tamah... Jodie masuk kedalam, mengatur pelayannya sejenak kemudian kembali bergabung dalam satu meja dengan Archie.

"Mau pesan apa?"tanya Jodie. "Janet, aku sudah memesankan kamu makanan kesukaanmu,"kata Jodie. Pandangan mata Janet menerawang, berkaca-kaca. Ia segera mencairkan suasana,"Anak lelakimu sungguh tampan. Ia mengingatkan aku pada seseorang..,"

"Seseorang? Saudara anda, nyonya?"pancing Archie.

"Entahlah." Janet gamang. "Aku tak tahu siapa,"bingungnya. "Oh ya...Siapa namamu?"tanyanya.

"Reene."jawab Reene sambil memainkan sendok dan garpu ditangannya.

Ma®™
March 15, 2003, 02:49
Janet tersentak. Ia menoleh kearah Jodie, menatapnya dengan wajah tegang. "Jodie aku...aku sepertinya...ah, nama itu pernah aku dengar," Sekian tahun nama itu tak disebut, membuat Janet merinding.

Jodie menepuk pundak Janet sesaat, lalu berbalik memandang Archie. Archie membuang muka. Ia sendiri tak tahu apa yang harus dilakukannya. Bayang-bayang Blessha mengambang dipelupuk matanya, mungkinkah mereka akan mengambil Blessha dariku? galaunya.

"Katakan kepadaku sekali lagi, anak manis....siapa namamu?"tanya Jodie kaku. Kepalanya terasa sakit. Archie terlihat tegang. Ia menganggukkan kepalanya kepada Reene, memberi tanda untuk menjawab pertanyaan Jodie dan Janet.

"Reene Kulham..."jawabnya takut-takut.

Jodie langsung berdiri, menatap Archie dengan pandangan tajam,"Bagaimana mungkin?!"serunya mengagetkan orang-orang yang duduk didekat mejanya.

Janet bergetar, menggenggam tangan Reene dan,"Namamu bagus sekali...dan kamu tampan sekali,"katanya bergetar dengan muka pucat.

"Ya, ibuku yang memberikan nama itu kepadaku,"jawab Reene.

"Oh ya? I-ibu? Ibumu? S-siapa nama ibumu?"tanya Janet lagi. Jodie berdiri tegang.

Reene melirik Archie, sekali lagi Archie menganggukkan kepalanya,"Blessha Antroph,"katanya.

Janet mendelik, Jodie melotot,"Jelaskan apa yang terjadi sebenarnya!"serunya pada Archie.

Archie menarik napas,"Aku akan menjelaskannya padamu, tapi tenanglah,"

Pondok di tengah hutan, tiga hari kemudian...

Blessha sedang mengumpulkan ranting dibelakang rumah. Ranting-ranting kecil itu dia patah-patahkan, kemudian dimasukkannya kedalam keranjang. Dia tampak bahagia melakukan pekerjaan rumah itu. Sesekali tersungging senyum dibibirnya setiap kali ia mengingat Archie dan si lucu Reene. Seharusnya mereka sudah pulang, tak pernah mereka pergi selama ini. Sedikit gelisah. Dipikulnya keranjang itu ke samping rumah, ditumpukkannya kayu-kayu diatas tumpukan kayu-kayu lain. Sayup-sayup, didengarnya suara memanggil-manggil,

"Re-reene?..." dia berlari kedepan rumah,"Archie!" teriaknya senang.

Diujung sana, Reene berlari-lari kearahnya, melambai-lambaikan topi kecilnya.

"Reenee...!"teriak Blessha girang. Dia segera berlari kearah suara, ingin melepaskan rindu yang tertahan.

"Reene...!"peluk Blessha.

"Mommy.."peluk Reene penuh kerinduan.

Archie merangkul istrinya penuh kehangatan,"Senang melihatmu, aku rindu sekali,"kecup Archie.

"Bagai-mana perjalan-mu? Capek?"Blessha membalas kecupan Archie, dia terdiam menangkap sosok dibelakang Archie.

"Kau ba-wa orang? Pu-lang?"tanyanya menatap tajam pada sosok perempuan bergaun panjang yang tampak kerepotan berjalan di dalam hutan.

"Y-yaa..."jawab Archie sambil mengamati Blessha was-was.

Blessha membalikkan tubuhnya sehingga dia lebih jelas menatap dua orang perempuan diujung sana,"Si-apa?"kenyitnya.


"Blesshaaa....."

Blessha tersentak.

"Blessha...."teriak Jodie dari kejauhan.

Blessha semakin terkesiap, mukanya tampak pucat. Keningnya berkerut mencoba mengingat sesuatu, sepertinya suara itu dikenalnya.

"BLESSHAAA....!"Jodie dan Janet berbarengan.

"Jo-Jodie! Ja-janet?? Ka..kakak?"

"Blesshaaaa...."

Blessha menyentakkan kakinya, setengah berlari menghampiri asal suara,

"BLESSHAAA....INI KAMI...!!"


"KA-KAKAKK....?? KAKAKKK...........!"



"KAKAK! KAKAKKKK!"





"....!"

Pada rerimbunan pohon, tiga orang gadis itu saling berlari, berusaha mendekat, terpaku, kemudian mereka berpelukan,



setelah itu, air mata menjawab segalanya.
Kerinduan, kesakitan, keteguhan, kebahagiaan.... ada yang pergi. Ada juga yang kembali. Tetapi rasa cinta, tidak akan pernah mati.

Kita bangun kembali keluarga Antroph. Kita tidak akan terpisah lagi, kita tidak akan bercerai lagi, karena kita adalah saudara.

Saudara berarti keluarga. Dan tidak ada satupun yang boleh ditinggalkan.

Ya. Tidak ada satupun yang boleh ditinggalkan.

T A M A T

Ma®™
March 15, 2003, 02:50
Hehehe sorry yah kalo ceritanya gua asal paste aja :haha

Bis gua buru2 uda sejem gua posting nih cerita, mata gua lumayan sakiD juga :hehe

Otre deh.. cabuD doeloe.. dadah..

shella
March 15, 2003, 05:56
gile mar... ok banget loe buat ngejar GP :hehe :salut:

Ma®™
March 15, 2003, 12:54
iH nyindir nyeee dalem :o

alma_4eva
March 16, 2003, 10:16
hua ha ha, gw baru mau nyindir yg sama :D
btw, nih cerita emang top abiezzzz.... :o

Ma®™
March 17, 2003, 01:49
Yah ga papa lah d sindir mengingaD banyak yg minta ni cerita di post *cuek.com* :o