mudunpapat
December 08, 2007, 23:52
Minggu, 09 Des 2007,
Negeri Lain Sudah Lupa, Nyaris Pesimistis
Mempromosikan Indonesia Today dengan Semangat New Asia Africa Strategic Partnership (NAASP)
Dengan semangat NAASP (New Asia Africa Strategic Partnership), Departemen Luar Negeri RI mengirimkan dua delegasi ke beberapa negara di Asia dan Afrika, pertengahan November lalu. Wartawan Jawa Pos Rukin Firda tergabung dalam delegasi Asia yang mengunjungi India, Sri Lanka, dan Tiongkok.
Fakta sejarah menunjukkan, Indonesia berperan besar dalam sejarah dunia, terutama yang berkaitan dengan negara-negara dunia ketiga. Indonesia dua kali menjadi tuan rumah Konferensi Asia Afrika (KAA), 1955 dan 2005.
KAA 1955 menjadi salah satu pengantar kemerdekaan negara-negara di Asia dan Afrika, yang sebelummya dijajah Barat. Juga menjadi pemicu terbentuknya gerakan Nonblok (Non Alignment) di tengah perang dingin. Peran besar itu kembali dipegang Indonesia tepat setengah abad kemudian dengan penyelenggaraan KAA 2005 di Bandung, kota yang sama dengan pelaksanaan KAA 1955.
Menyandang peran tadi, Indonesia menyelusuri jejak sejarah KAA di beberapa negara di Asia Afrika, selain menawarkan kerja sama dengan konsep NAASP. Satu delegasi mengunjungi Aljazair, Mesir, dan Etiopia di Afrika dan satu delegasi lainnya ke India, Sri Lanka, dan Tiongkok.
Delegasi Asia beranggota dua akademisi, yaitu dua ketua jurusan hubungan internasional dari dua perguruan tinggi ternama di Indonesia. Yaitu, Hariyadi Wirawan dari Universitas Indonesia Jakarta dan Teuku Rezasyah dari Universitas Padjadjaran Bandung.
Juga tokoh pemuda yang diwakili Sekretaris Jenderal KNPI (Komite Nasional Pemuda Indonesia) Munawar Fuad serta satu-satunya delegasi perempuan Intan Mardiana N., direktur museum Dirjen Sejarah dan Arkeologi Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.
Misi utama delegasi tersebut adalah memperkenalkan Indonesia Today dengan semangat NAASP. Caranya adalah dengan dialog ilmiah bersama akademisi, organisasi pemuda, kalangan media, dan lembaga-lembaga think tank negara-negara tujuan.
Yang mengejutkan dan sedikit membuat anggota delegasi nyaris kecewa dan pesimistis adalah ketiga negara yang dikunjungi tersebut terkesan sudah melupakan konferensi yang bisa jadi salah satu milestone sejarah internasional itu. Jawaban mengejutkan datang dari Direktur Departemen Museum Nasional Sri Lanka Nanda Wickramasinghe.
"I’m sorry, I’ve just head about itu (Maaf, saya baru mendengar tentang itu," katanya jujur ketika ditanya peran KAA terhadap sejarah Sri Lanka. Jawaban tersebut membuat anggota delegasi nyaris patah semangat mengingat Sri Lanka memiliki peran kunci dalam sejarah KAA. Adalah Perdana Menteri Sri Lanka Sir John Kotalawala yang menggagas Colombo Conference yang kemudian berkembang menjadi KAA pada 1955.
Namun, optimisme muncul setelah pejabat perempuan tersebut berjanji membongkar arsip negerinya untuk menemukan hal-hal yang berkaitan dengan KAA. "Termasuk, bagaimana pemberitaan media Sri Lanka kala itu terkait konferensi tersebut," tambahnya.
Kekecewaan juga muncul ketika mencoba menelisik serjarah KAA di Museum Jawaharal Nehru di New Delhi, India. Setelah berkeliling ke museum, yang konon adalah rumah perdana menteri pertama India itu, tidak ditemukan jejak KAA.
Padahal, Nehru juga menjadi salah seorang tokoh kunci KAA yang tentu saja hadir dalam penyelenggaraan 1955 tersebut. Seorang petugas museum menjelaskan bahwa saat itu sedang diadakan Festival Nehru. Jadi, tidak semua arsip terkait dengan Nehru dipajang di museum tersebut. Pertanyaannya, tidak pentingkah KAA bagi Nehru -padahal dia termasuk tokoh kunci- sehingga tidak ikut dipamerkan?
India sepertinya kurang memandang penting Indonesia saat ini. Padahal, dalam sejarah, kedua negara memiliki kedekatan yang akrab, terutama saat kepemimpinan Nehru di India dan Soekarno di Indonesia.
Ironisnya, banyak jalan di New Delhi yang menggunakan nama tokoh-tokoh dunia, seperti Joseph Broz Tito dari Yugoslavia. Namun, jangan harap menemukan Jalan Soekarno. Padahal di masa lalu, Nehru begitu dekat dengan Soekarno sehingga memberikan lahan yang cukup luas untuk dijadikan kompleks KBRI (Kedutaan Besar RI), yang lokasinya persis bersebelahan dengan rumah Nehru, yang kini menjadi museum tadi.
Hubungan Indonesia-India yang pasang surut itu tidak terlepas dari perjalanan sejarah. India menilai Indonesia cenderung membela Pakistan ketika India berperang melawan negeri tetangga yang juga pecahannya tersebut. Dua kapal selam Indonesia yang "diparkir" di laut lepas Pakistan mengurungkan India menyerang Pakistan.
Ditambah dengan situasi terkini, Indonesia sudah lebih dari setahun tidak menempatkan duta besarnya di New Delhi. "Mereka menilai masalah ini serius dan berkali-kali menanyakannya," kata Kuasa Usaha Ad Interim (KUAI) Indonesia di New Delhi, Rizali W. Indrakesuma.
Menurut Rizali -yang saat kuliah membentuk band pelesetan Pancaran Sinar Petromax (PSP) itu- sikap RI tadi dinilai tidak memandang penting India. Jadi, jangan salahkan juga jika India tidak memandang penting Indonesia.
Situasi yang sama terjadi di Sri Lanka. Sama seperti di India, Indonesia tidak menempatkan duta besarnya di Kolombo selama lebih dari setahun. Karena itu, hubungan Indonesia dengan kedua negara di Asia Selatan yang dalam sejarah memiliki kedekatan tersebut kini terkesan "suam-suam kuku".(*)
kenyataan memang pahit :)
Negeri Lain Sudah Lupa, Nyaris Pesimistis
Mempromosikan Indonesia Today dengan Semangat New Asia Africa Strategic Partnership (NAASP)
Dengan semangat NAASP (New Asia Africa Strategic Partnership), Departemen Luar Negeri RI mengirimkan dua delegasi ke beberapa negara di Asia dan Afrika, pertengahan November lalu. Wartawan Jawa Pos Rukin Firda tergabung dalam delegasi Asia yang mengunjungi India, Sri Lanka, dan Tiongkok.
Fakta sejarah menunjukkan, Indonesia berperan besar dalam sejarah dunia, terutama yang berkaitan dengan negara-negara dunia ketiga. Indonesia dua kali menjadi tuan rumah Konferensi Asia Afrika (KAA), 1955 dan 2005.
KAA 1955 menjadi salah satu pengantar kemerdekaan negara-negara di Asia dan Afrika, yang sebelummya dijajah Barat. Juga menjadi pemicu terbentuknya gerakan Nonblok (Non Alignment) di tengah perang dingin. Peran besar itu kembali dipegang Indonesia tepat setengah abad kemudian dengan penyelenggaraan KAA 2005 di Bandung, kota yang sama dengan pelaksanaan KAA 1955.
Menyandang peran tadi, Indonesia menyelusuri jejak sejarah KAA di beberapa negara di Asia Afrika, selain menawarkan kerja sama dengan konsep NAASP. Satu delegasi mengunjungi Aljazair, Mesir, dan Etiopia di Afrika dan satu delegasi lainnya ke India, Sri Lanka, dan Tiongkok.
Delegasi Asia beranggota dua akademisi, yaitu dua ketua jurusan hubungan internasional dari dua perguruan tinggi ternama di Indonesia. Yaitu, Hariyadi Wirawan dari Universitas Indonesia Jakarta dan Teuku Rezasyah dari Universitas Padjadjaran Bandung.
Juga tokoh pemuda yang diwakili Sekretaris Jenderal KNPI (Komite Nasional Pemuda Indonesia) Munawar Fuad serta satu-satunya delegasi perempuan Intan Mardiana N., direktur museum Dirjen Sejarah dan Arkeologi Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.
Misi utama delegasi tersebut adalah memperkenalkan Indonesia Today dengan semangat NAASP. Caranya adalah dengan dialog ilmiah bersama akademisi, organisasi pemuda, kalangan media, dan lembaga-lembaga think tank negara-negara tujuan.
Yang mengejutkan dan sedikit membuat anggota delegasi nyaris kecewa dan pesimistis adalah ketiga negara yang dikunjungi tersebut terkesan sudah melupakan konferensi yang bisa jadi salah satu milestone sejarah internasional itu. Jawaban mengejutkan datang dari Direktur Departemen Museum Nasional Sri Lanka Nanda Wickramasinghe.
"I’m sorry, I’ve just head about itu (Maaf, saya baru mendengar tentang itu," katanya jujur ketika ditanya peran KAA terhadap sejarah Sri Lanka. Jawaban tersebut membuat anggota delegasi nyaris patah semangat mengingat Sri Lanka memiliki peran kunci dalam sejarah KAA. Adalah Perdana Menteri Sri Lanka Sir John Kotalawala yang menggagas Colombo Conference yang kemudian berkembang menjadi KAA pada 1955.
Namun, optimisme muncul setelah pejabat perempuan tersebut berjanji membongkar arsip negerinya untuk menemukan hal-hal yang berkaitan dengan KAA. "Termasuk, bagaimana pemberitaan media Sri Lanka kala itu terkait konferensi tersebut," tambahnya.
Kekecewaan juga muncul ketika mencoba menelisik serjarah KAA di Museum Jawaharal Nehru di New Delhi, India. Setelah berkeliling ke museum, yang konon adalah rumah perdana menteri pertama India itu, tidak ditemukan jejak KAA.
Padahal, Nehru juga menjadi salah seorang tokoh kunci KAA yang tentu saja hadir dalam penyelenggaraan 1955 tersebut. Seorang petugas museum menjelaskan bahwa saat itu sedang diadakan Festival Nehru. Jadi, tidak semua arsip terkait dengan Nehru dipajang di museum tersebut. Pertanyaannya, tidak pentingkah KAA bagi Nehru -padahal dia termasuk tokoh kunci- sehingga tidak ikut dipamerkan?
India sepertinya kurang memandang penting Indonesia saat ini. Padahal, dalam sejarah, kedua negara memiliki kedekatan yang akrab, terutama saat kepemimpinan Nehru di India dan Soekarno di Indonesia.
Ironisnya, banyak jalan di New Delhi yang menggunakan nama tokoh-tokoh dunia, seperti Joseph Broz Tito dari Yugoslavia. Namun, jangan harap menemukan Jalan Soekarno. Padahal di masa lalu, Nehru begitu dekat dengan Soekarno sehingga memberikan lahan yang cukup luas untuk dijadikan kompleks KBRI (Kedutaan Besar RI), yang lokasinya persis bersebelahan dengan rumah Nehru, yang kini menjadi museum tadi.
Hubungan Indonesia-India yang pasang surut itu tidak terlepas dari perjalanan sejarah. India menilai Indonesia cenderung membela Pakistan ketika India berperang melawan negeri tetangga yang juga pecahannya tersebut. Dua kapal selam Indonesia yang "diparkir" di laut lepas Pakistan mengurungkan India menyerang Pakistan.
Ditambah dengan situasi terkini, Indonesia sudah lebih dari setahun tidak menempatkan duta besarnya di New Delhi. "Mereka menilai masalah ini serius dan berkali-kali menanyakannya," kata Kuasa Usaha Ad Interim (KUAI) Indonesia di New Delhi, Rizali W. Indrakesuma.
Menurut Rizali -yang saat kuliah membentuk band pelesetan Pancaran Sinar Petromax (PSP) itu- sikap RI tadi dinilai tidak memandang penting India. Jadi, jangan salahkan juga jika India tidak memandang penting Indonesia.
Situasi yang sama terjadi di Sri Lanka. Sama seperti di India, Indonesia tidak menempatkan duta besarnya di Kolombo selama lebih dari setahun. Karena itu, hubungan Indonesia dengan kedua negara di Asia Selatan yang dalam sejarah memiliki kedekatan tersebut kini terkesan "suam-suam kuku".(*)
kenyataan memang pahit :)