View Full Version : Puisi untuk Romeo and Juliet







poet society
December 20, 2002, 16:56
Mutiara di Ujung Sana

mentari senja
perlahan tenggelam
membiaskan cahaya kemerahan
burung camar memekik petang
menangisi mentari pulang, menangisi

kita duduk di tepian,
mendengarkan gemercik mengalir
tak terbendung
darimanakah sumbernya
air matamu pun menderas

kulihat senja perlahan
ingin kutahan kenangan ini
tak akan sempat berlalu
walau sekejap
tak akan kulepaskan
kekasih yang kudekap erat, erat

ah, senja yang kelabu, kuning dan ungu
biarkan aku sebebas burung camar itu
biarkan kutangkap pelangi diujung sana
sedang mentari merah disampingku
mengalirkan muara duka dan bahagia

bercerita tanpa kata-kata
menangis tanpa air mata
langit bagaikan layar,
kisah tentang perjalanan
ombak di ketenangan pusaran

tapi waktu tak berpihak
pada angin dan ombak
pada saatnya harus berpisah
menemukan dunia kita
yang tersembunyi dibalik kenangan

katakan dengan senyummu, pelangi
akan kutemukan
mutiara diujung sana

Jakarta, 19 Juni 2002, 20:00-24.00
"Inpired by Romeo and Juliet"

Yanz
December 21, 2002, 10:01
nice poem... :) :rolleyes:

poet society
January 19, 2003, 03:52
bidadari merajut sinarnya malam ini,
seindah kilauan jejaring laba laba
pada temaram langit malam

bintang bintang bersembunyi malu
ketika engkau kenakan jubah perakmu

kutunggu tarianmu malam ini
ketika desahan daun membangunkan malam
jangan kau sembunyikan senyummu malam ini
bungkus aku dengan keheningan rembulan

hentikan waktuku,
ku tak mau beranjak
enggan, walau sejenak

18 Januari 2003, 00:18

poet society
January 19, 2003, 03:52
seraut wajah putih bersih
kulihat lagi malam ini

diterpa dingin malam di bukit
rembulan di pelukan
terbungkus rapi oleh gulungan awan

menciptakan pelangi malam ini
kaubawa aku bermimpi

18 Januari 2003, 23.16

akachan
January 19, 2003, 14:39
ah..:nangis::nangis: gue mendengar puisi ini!!

poet society
January 29, 2003, 14:43
napa nangis chan ?
keinget someone yah ?

poet society
February 16, 2003, 16:21
kabut biru sedang membungkus malam ini
mengantarkanku kepada kaki tangga di cakrawala
kuraih rembulan diatas sana
melompati anak tangga bukit demi bukit
semakin jauh mencoba, senyumnya semakin terang
tetapi aku masih seakan berlari tak beranjak
bungkus aku malam ini dengan sihirmu, peri bulan
derukan angin dan kacaukan kabut biru
sedang aku cuma perlu satu anak tangga lagi
menujumu
tapi ternyata engkau hanyalah sepotong rembulan di air kolam

16 Februari 2003

poet society
February 27, 2003, 13:42
Pernikahan dan Pertalian
Special for : Meilany & Hendi (si Isenk)

untuk pernikahan dan pertalian, sahabat
kukirimkan kartu ucapan selamat dan simpati
karena sudah saatnya kau ikatkan dirimu
dalam satu pertalian yang dinamakan pernikahan
mengikat, tapi tidak menyesakkan
membebaskan, tapi tahu akan batasan

menjaga hubungan, sahabat
jauh lebih sulit daripada pada saat mendapatkannya
melepaskannya, apalagi, engkau akan kehilangan dirimu
karena pada saat pertalian ini, engkau relakan setengah dirimu

menyayangi, adalah rahasia terbesar kekuatan dalam diri manusia
temukanlah dirimu dalam naungannya
dan dengan itulah engkau akan menemukan dirimu selengkapnya
ucapkanlah kata kata sederhana, tidak perlu muluk muluk
tetapi sekadar membetulkan kancing bajunya, atau
berikan sekuntum senyum setiap pagi untuknya

jika saja pertalian ini madu, habiskan pelan pelan dan nikmatilah
karena madu dan sengat takkan hidup berjauhan
kadang kala sengatanmu akan mencipta badai di matanya
tetapi percayalah akan kekuatan cinta, berikan kelembutan dan kehangatan surga
niscaya retak dan belah akan menyatu kembali

kekuatan itu akan tetap kau bawa sampai penghabisan
berdua

27 February 2003, 11.23

Arwan
February 27, 2003, 14:06
makin manteb aja puisinya hehehe... barusan aku lihat kamu di Cybersastra :)

poet society
February 27, 2003, 15:41
thanks Wan, btw Pada Sajak juga nongol di cybersastra.net ... keren loh ... gue suka banget :-)

Arwan
February 27, 2003, 15:45
hehe.. thanks prend. kirim puisi2 kamu kesana dong :)

poet society
February 27, 2003, 15:53
iya tuh, dah beberapa yang dikirim ... tapi kayaknya ngantri tampil dehh ...kadang cepet, kadang lama juga sih ...banyak kali yang kirim yahh ...
ikutan milis penyair juga ? aku ikut cuma gak pernah buka, abis banyak banget sihh ...

Arwan
February 27, 2003, 15:59
udah ada yg dimuat blom?

poet society
February 27, 2003, 16:22
kemarin dah kirim lagi, gak tau deh belum dimuat kayaknya ...
paling masuk ke persemaian ... kok namanya aneh yahh persemaian ...
kalau yang lama sih udah pernah dimuat cuma pake nama Fredy Purnomo ..

poet society
March 01, 2003, 20:21
SESUATU itu akan selalu ada

kutemukan diriku pada sesaknya dada, tapi muncul pada pesta ria
kucari di udara, namun muncul di derasnya nadi nadi
aku yang menenggelamkan matahari, juga menggantungkan rembulan
pada lantangnya kokok ayam aku ikut bersenandung
turut kuhembusan nafas-nafas yang sekarat,
temukan aku di dahan kelam, atau di monitor benderang
embun akan segera membungkus aku, tetapi api juga selimutku
siapakah aku,
tidak akan mengganggu tidur malammu
tetapi adakah aku disampingmu,
itu akan menjadi berita basi di koran pagimu
aku akan tetap mengambang, pada konsentrasi
jika saja tak kau cari aku, pasti akan ketemu

2 Maret 2003

poet society
March 01, 2003, 21:29
Apakah itu engkau ?

apakah itu engkau,
yang mengetuk ngetuk jendela musim gugur
ataukah hanya sekadar dedaunan
yang sedang mencari tempat untuk berbaring
aku memang tak hendak menunggu
tetapi butiran hujan terus menggoda
kenangan itu terus bergaung,
walau di dalam cangkang
masih kusembunyikan suaramu, bergaung
bergaung

apakah itu engkau,
yang mengetuk ngetuk jendela musim semi,
ataukah hanya mentari
yang sedang mencari celah ke hati
bukankah butiran cahaya itu sudah
perlahan lahan membunuhi gelap di ruang tersembunyi
pendar pendar cahayanya menghangatkan dan mewarnai
jika saja tidak kau tutup tirai itu lagi,
biarkan saja, biarkan semu merah di pipimu
akan menghangatkan warna warni semi

apakah itu engkau,
yang mengetuk ngetuk jendela musim panas
datang berkendara gelembung udara yang memadat beringas
memudar, memecah dan membakar
masih ada senyum yang kau tinggalkan di gelas, anggur
dan canda di goresan kayu, kering
itukah hutan dan deras pancuran yang kau janjikan

apakah itu engkau,
yang mengetuk ngetuk jendela musim dingin,
dengarkan sapaan salju di halaman dan bisikan angin kebekuan
yang menghembuskan selimut putih di jendela
tinggalkan aroma di perapian yang mulai berkarat
pada jiwa jiwa lelah yang ingin pulang
kutemukan sebuah mutiara berkilat
membungkus kebekuan setiap angin kesedihan

masihkah engkau berharap ?
hanya ada empat musim
itulah hidupmu.

2 Maret 2003

surfergirl
March 02, 2003, 03:03
eh poet...... gw baru separoh baca...
huehueheuhe :D
bagus bgt dehhh.....
kudu dibagusin lagi lay outnya !

poet society
March 02, 2003, 09:46
oh iya ? he he he
iya tuh masih agak serampangan editornya (editor sendiri)
Little Lovely Something aku dah baca hampir semua, bagus kok, oke punya ... kapan mau diterbitin nihh .. btw, fontnya bagus punya tuh, dari depan ke belakang ... (ternyata diem diem jago desain juga nihh ...)

surfergirl
March 02, 2003, 12:18
siap terbit deh anytime...
tapi kayanya itu kurang tebel dikit, mustinya sampe 70-an hlmn
udah gitu belum ada daftar isi (soalnya gue bingung gimana cara ngasih halamannya, kan engga bisa otomatis, masa atu2??)
kok kamu bisa ya? kasih tips donk!

klo urusan font serahin aku deh... hehehe, sayang cetaknya kurang rapih, tintanya tuh kemana2...

eh biaya bikin Valentine itu brp, trus waktu fotokopi itu bentuknya masih A4 ato udah dipotong dua2? pake kertas brp gram?? sori nanya mulu, abis pengen bikin yg bagus sih!!
::cheer::

poet society
March 02, 2003, 16:07
iya daftar isinya diketik atu atu ... he he he mestinya bisa otomatis cuma hasilnya kurang bisa diatur ...
aku cetak nsakah aslinya di kertas quarto, pakai yg 80 gram, trus biaya per buku (dihitung 140 halaman+ jilid) sekitar 26 ribu rupiah.

Arwan
March 02, 2003, 18:38
dan kelir dibentangkan
bunga berembun di pagi hari
yang senja merindu
tiada gurun di tepi lautan

poet society
March 03, 2003, 15:59
Originally posted by Arwan
dan kelir dibentangkan
bunga berembun di pagi hari
yang senja merindu
tiada gurun di tepi lautan

thanks Wan mau mampir, little lovely one ...

btw, TS Pinang ngajak kita kita bereksperimen dengan puisi puisi lama ... kayak pantun, syair, gurindam, soneta, haiku, macapat ...
menarik juga ...
macapat itu yg gimana sih lupa, dulu pernah ikut karawitan tapi cuma jadi drummer doank (kendang) ...
trus syair ama soneta itu yg gimana ? lupa juga ..

Arwan
March 03, 2003, 16:22
syair ama soneta? haha.. itu pelajaran smp,..
syair itu puisi yang bersajak, A,A,A,A
pantun bersajak a,b,a,b

contoh

yang merona wajah
merah jambu bungah
tersebutku jengah
dengan dada terengah

gurindam itu sajak dua baris hehe..

alkemis
March 03, 2003, 20:18
LAGU NOSTALGIA

minta meja untuk dua orang, ya. ada yang harus kami bicarakan. penting. tentu saja bukan soal puisi. ini soal hidup dan mati. masa depan kami

kalau nanti kami berciuman di sini, tolong tak usah peduli. kami ini remaja. belum begitu percaya pada agama, atau bahkan sudah lupa. bawakan saja hidangan anda yang paling istimewa. juga lagu nostalgia tentang cinta

kalau nanti ada airmata mengalir di pipi kami, biarkan saja. itulah cara kami menulis prasasti, agar ada bahan untuk buku diary. tetapi jika anda punya sedikit saran yang bijak, boleh juga kami dengar, siapa tahu jalan kami ini kurang benar, atau terlalu kurangajar. kami ini remaja. masih perlu banyak belajar

minta meja untuk dua orang, ya. kami ingin mendengarkan Frank Sinatra. lagu kesukaan orang tua kami saat pacaran. siapa tahu lagu itu membawa berkah, bagi kami yang sedang dirundung gairah. ada yang ingin tumpah, tapi kami belum mau menyerah

kalau ada orang tua kami mencari, dan kami tak ada lagi di sini, katakan saja kami sudah mengerti. bagi kami Romeo-Juliet adalah kisah basi


2003

poet society
March 04, 2003, 17:20
thanks alkemis dah mau mampir, btw ... semuanya benar adanya ...
romeo n juliet adalah kisah basi ...
( tapi tidak bagi yang mengalaminya :D)

poet society
March 04, 2003, 18:12
hmm baca puisi alkemis,
ternyata memang aku harus lebih giat menulis dan bermimpi ...

asli men, bagus bener ...

gloryoflove
March 05, 2003, 06:58
kalau engkau sungguh inginkan diriku menjadi romeo ...

kumau kau memohon sambil tersenyum dan mengerlingkan mata ...

kuingin tahu seberapa lama aku bisa tahan untuk tidak mengiyakan apa yang kau ingini itu ...

sebab seandainyapun engkau tidak memohon hal itu kepadaku ...

... sungguh mati aku ingin benar menjadi romeo yang ter-tunggang langgang karena cinta dan pesona mu ...

duh

poet society
March 05, 2003, 12:53
duh,
thanks atas gelitikan sihir puisimu glory ...

LisaCantik
March 12, 2003, 06:18
datang baru lagi

LisaCantik
March 12, 2003, 06:21
weoooo bagi dong responya/////

LisaCantik
March 12, 2003, 06:26
FOR AS THE SUN IS DAILY NOW AND OLD, IN MY LOVE STILL WHAT IS TOLD

LisaCantik
March 12, 2003, 06:31
AKU , AKU , AKU
MMMM DALAM KEHENINGAN ...
TANPA TAHU KENAPA?

poet society
March 12, 2003, 14:14
alo lisacantik ... met mampir di warung sederhana ini ...

menu yang ada,
apa adanya,
silahkan disantap

Arwan
March 12, 2003, 14:17
mana gula mana kemenyan
sama terasa dalam jilatan
sajak menapous

Arwan
March 12, 2003, 14:19
acoustic shores,.. fredy purnomo hehe.. di galeri puisi

poet society
March 12, 2003, 15:04
Originally posted by Arwan
acoustic shores,.. fredy purnomo hehe.. di galeri puisi

thanks Wan, perhatiin juga tho ...
kutunggu juga edisimu berikutnya di cybersastra.net ...

poet society
March 12, 2003, 15:30
ha ha ha Wan, apa maksudnya puisi malas-mu di cybersastra ???

AgustinusWahyon
March 12, 2003, 19:40
wah ada Arwan disini rupanya... puisi kau itu makin menggigit aja wan hehehe

Arwan
March 12, 2003, 21:47
puisiku belum punya taring :D

poet society
March 13, 2003, 09:58
Originally posted by AgustinusWahyon
wah ada Arwan disini rupanya... puisi kau itu makin menggigit aja wan hehehe

wah bung Agustinus ini yang cybersastra yah ?
welcome to webgaul ...

poet society
April 04, 2003, 16:16
In the Midst of Angel

i. Voices of Peace

mimpi berlabuh
pada kecipak sungai yang menggoda teduh
jauh dari muka yang tertunduk pilu
meradang dan tertusuk ngilu

daun berhenti berjatuhan
burung berkicau menengadahkan harapan
serempak menyerukan
sebuah peluit usai
bidadari menari
dipelupuk pagi

ada sebuah tarian tunggal
sesapan embun
geletaran dahan
rayuan daun
gelitikan air
mengisi kendi-kendi dengan kekosongan sempurna

arus berputar lambat
bisikan angin kerinduan
dalam sebuah ruang antara
bumi dan surga


4 April 2003, 22.38


ii. Canyon Legacy

jauh dari kejayaan manusia
dalam sebuah gulungan risalah
tersembunyi dalam ketopong berdarah
kutemukan ditempat yang tak terjamah
sudut sudut kedamaian
sebuah kerinduan tak terpuaskan
lukisan lengkap tanpa peminat
senyuman abadi mengulum ke tingkap tingkap surga
di ceruk yang tak akan pernah kau temukan lagi
ilalang yang terhilang, dan kemanakah
dan burung burung pulang petang, dan kemanakah
senja yang tersenyap dalam diam, dan kemanakah
sebuah kenangan terlukis jelas
dalam kabut yang menggulungku perlahan

4 April 2003, 22.49


iii. Stillness of Dawn

malam telah lelah dan ngantuk
dalam sebuah perjalanan panjang
menghantarkan bintang gemintang
kepada selimut keabadian
sebentar kemudian matanya terkatup
sementara kicauan pun masih terlelap
sebuah pagi tercipta tanpa sambutan

4 April 2003, 22.58


iv. Ancient Air

menghirup menghisap meraga
deburan demi deburan
menderas ke nadi nadi yang lelap
mengalirkan nyawa nyawa baru
dalam gelegak ombak yang berseru
melahirkan kembali
dalam naungan dan derasan
kecipaknya masih terasa
percikan percikan tercipta

4 April 2003, 23.11

poet society
April 16, 2003, 16:06
Suara Suara Purba

nada bersahutan dalam alunan sendu
kemudian menghentak dalam barisan bertalu
lirik memandang ragu
pada ketukan berikut kenangan indah tersapu

susunan nada berlompatan
dalam sebuah ketopong kesenyapan
berputar dalam arus putaran
riuh suara-suara purba memanggil roh roh kerinduan

16 April 2003

YuaEviL
April 17, 2003, 10:47
wah...banyak puitis2 yg udah saling kenal n tenar d web laen neh......duh...jd minder neh yg pemula......heheh

poet society
April 17, 2003, 16:10
wah jangan minder YuaEvil, kita semua sedang belajar ...
dan asiknya, tidak ada kata selesai ...

Arwan
April 17, 2003, 16:34
Originally posted by poet society
Suara Suara Purba

nada bersahutan dalam alunan sendu
kemudian menghentak dalam barisan bertalu
lirik memandang ragu
pada ketukan berikut kenangan indah tersapu

susunan nada berlompatan
dalam sebuah ketopong kesenyapan
berputar dalam arus putaran
riuh suara-suara purba memanggil roh roh kerinduan

16 April 2003
'
yang ini bagus Poet :)

poet society
April 17, 2003, 17:17
thanks men, karya karya Arwan sepertinya banyak banyak peningkatan ... udah bagus tambah bagus dehh ... dah baca Maaf !!! di Penyair ? itu protes sosial aja kok ...

Arwan
April 17, 2003, 17:22
aku mengerti itu man, hehee..

poet society
April 17, 2003, 17:28
thanks Bro ...

YuaEviL
April 18, 2003, 12:07
selamat untukmu.....
berdua itu indah....
ada yang menangis....ada yang tersenyum....
dua hati direkatkan jiwa yang satu....

tak mesti sehidup dan semati...
terus tertawalah bersama....
meski harus duka yang ada....
usah berhenti...sebelum sampai....yang di hati....

poet society
April 18, 2003, 16:24
thanks YuaEvil, poems nya menyentuh hiks hiks

poet society
April 26, 2003, 00:02
Sebuah Rumah Mungil

akan ada beribu kerut dan senyuman didalam sebuah rumah mungil,
dimana keluh dan peluh akan terekam di dindingnya
dimana pesta dan sukacita akan terikat di bubungannya
dimana lampu lampu adalah cahaya pelita arah
dan dinding dinding putih menjadi pelarut kesedihan
dimana atap atap sederhana dengan kokoh menahan prahara
dengan sebuah taman kecil pelipur lara dan mata air yang menderaskan kebahagiaan

bunga bunga kecil
yang terinjak
oleh kaki kaki mungil

canda canda di malam yang terasa panjang
senyum berhamburan untuk sebuah kerinduan yang terpendam
meja meja yang berbenturan dan bercerita tentang kehidupan
vas vas bunga yang layu jika mendung sepanjang hari
pelangi muncul di halaman seperti kemarau merindukan hujan
denting sendok dan garpu untuk hari hari yang melelahkan
mimpi buruk dan tangisan bulan yang jatuh di air kolam
mimpi indah seperti kilat yang bersahutan

sebuah semesta kecil
mewujud
dalam sebuah rumah mungil

26 April 2003, 23.46

poet society
April 28, 2003, 18:04
Hujan Terlahir Dari Ruang Kosong Di Depan Jendela
Inspired from Somewhere I Belong - Linkin Park

trotoar jalan dengan aroma kelabu
masih menyimpan kenangan
teramat indah untuk dilukai
namun matahari bisa membaca
dan menebarkan benih keemasan
berlomba dalam gegas gemuruh

dan sudah saatnya
rahim awan mencurahkan ketubannya
dan melahirkan hujan

sebuah dunia yang kau tawarkan,
dalam sebuah kotak kosong di jendela
ada sinar keemasan yang membuat luka
dan tak menemukan kemana sang lebah itu pergi
namun dengungannya masih berbisik bisik
berdetak berdentum

dengarkan,
teriakan yang teredam, dalam nada nada suram
kemanakah engkau sembunyikan diri
memandu pada dunia yang tak kumengerti

sebuah dunia, dalam kotak kosong yang menghadap jendela
berharap kenyataan itu menggantikan cahaya lilin
dalam dunia mistis yang kau ciptakan
kutemukan diriku tidak pernah ada

dalam kuyup dan redup,
tak kucari lagi siapa diriku
dalam keheningan senja
tak ada hujan yang tak pernah reda

teriakanku masih tersekat antara
ruang kosong di depan jendela

hujan masih berlanjut
pada pesta pora aransemen rintik
membahana. Dalam debur


29 April 2003, 00:49

poet society
April 30, 2003, 01:00
Untuk Tuhan yang nggak cuman ada di hari Minggu

Pengembaraan
-------------------
sekali aku mengembara,
dipadang jauh dan tandus membara
dan ketika mata air tak kutemukan
Tuhan menunjukkan jalan pulang

29 April 2003


Kesia-siaan
--------------
Ikut sidang, tapi tak bersidang,
bagi nikmat, tapi tak merasa nikmat,
melayani, tapi tak sepenuh hati,
berdoa, tapi tak menjamah Allah,
membaca Alkitab, tapi tak berhikmat
menyeru nama Tuhan, tapi tak disegarkan

29 April 2003

NB : sidang = kebaktian, bagi nikmat = kesaksian


Konsikrasi - Persembahan Diri
-------------------------------------
Tuhan,
aku datang
pada malam malam ketika aku berlutut
melepaskan beban dan letih lesu
menengadah dan berdoa
sungguh, aku merindukan diriMu

Tuhan,
kepada siapa aku berbaring
melepaskan penat dan pilu
kepada siapa aku berpaling
Dikaulah perhentianKu

Tuhan,
datanglah
biarlah hadirMu menjadi nafasku
biarlah dariku
tersembah apa yang aku punya

Tuhan,
biarlah diriku
tiada sisa diri dan ronta lagi

1996

Channie
April 30, 2003, 08:47
how sweet :)

poet society
May 01, 2003, 18:54
thanks channy, nih satu lagi ....

Surat Cinta
----------------
Hari ini aku lihat burung burung pulang petang. Langit masih kelabu dan
sedikit semu merah. Matahari sudah bersiap pasang kelambu. Angin sore yang
mulai menusuk nusuk tengkuk, terus menyadarkan aku. Jelas tergambar di
horison, wajahmu yang ayu dan sendu. Membuat serat serat rindu ini terus
terajut semakin kuat.
Sejak pertemuan kita yang pertama, ada deburan deburan yang kau hempaskan
ke pantai hati ini. terus bergulung gulung dan menggema dari ruang hati
yang sepi. Kemanakah muara muara itu berakhir ? Jika bukan ke wajah ayu
yang sendu merayu dipelukanku. Jika ini mimpi, jangan bangunkan aku. Jika
ini kenyataan, akan kutahan kenangan ini. sampai mati.

Tak akan kubiarkan siapapun membebaskan aku dari jerat asmara ini. Biarpun
itu engkau!


Surat Cinta : Sebuah Jawaban
--------------------------------------------
Telah lama kutunggu sebuah ketulusan yang sangat menggugah. Dan dalam
mimpipun aku tak berani berharap. Sebuah cinta yang ditawarkan dan
menyengatku seperti yang kau tawarkan saat ini. Apakah ini pertanda
kedewasaan, ataukan hanya bara bara api masa muda yang menggelegak? Mutiara
cinta yang kumiliki masih terlalu suci untuk kuungkapkan kepada siapapun.
Apakah engkau sudah siap untuk menjadi teman, sahabat dan kekasih dimana
kuletakkan mutiara ini ? Apakah hatimu kau rasa tidak mungkin terbagi lagi
? Ataukah ini hanya perasaan sesaat saja ?
Namun satu hal yang tak kau ketahui, aku seperti dawai kecapi yang lentur
sekaligus keras, aku akan menangis jika kau tinggalkan aku, namun aku tak
akan pernah memohon cinta darimu lagi, biarpun itu adalah keinginan
terdalamku sendiri.

1 Mei 2003

poet society
May 03, 2003, 02:43
Pangeran dan Bidadari
Episode Perpisahan

Bidadari :
kiranya ia memberikan kecupan padaku, wahai pangeran
segarmu seperti embun dipagi hari
harummu seperti wangi daun daun yang sedang bertunas
selalu kutunggu malam, ketika engkau merangkul bahuku
dan memberikan kecupan membara bagiku
seperti banteng liar layaknya engkau
apakah yang kau tunggu, sedang bunga bunga akan segera mekar
dan kemudian layu dalam sekejab
marilah habiskan waktu kita di padang
diantara lili dan bunga bakung
baringkan aku direrumputan yang hijau
dan ceritakan padaku kemanakah angin akan bertiup dan awan akan berarak
pandanglah mata ini dan lupakan keindahan bunga bunga di padang
karena pesonamu akan segera menembus jantung hatiku


Pangeran :
bidadari manisku, madu senyummu sungguh memukau aku
seperti merpati dengan kepolosan dan kelembutan sejati
merekah seperti cakrawala yang sedang terbentang
sungguh tak terbatas, dan membuat aku tenggelam di dalamnya
dimanakah kau tersembunyi selama ini,
apakah kawanan domba itu yang menyembunyikanmu
kuncup yang mekar di pipimu, seperti embun yang menetes dari langit
sungguh ingin kuhirup dan kusesap madu itu
merah merona dipipimu, seperti matahari yang baru terbit di pagi hari
kemanakah kau simpan senyummu selama ini
apakah bunga bunga dipadang yang selama ini menyembunyikanmu


Bidadari :
lihatlah betapa gagahnya engkau berkuda,
berketopong dengan kemegahan seorang pangeran sejati
walaupun engkau seorang anak gembala, aku sungguh memujimu
engkau adalah pangeran yang selalu datang dalam mimpi mimpiku
denguskan nafas cinta yng membara, kekasih
dan berikan sungai teduh yang biasa kau tinggalkan sebelum berpisah
aku akan menunggumu disini, menghitung setiap kecipak sungaimu
dan semoga burung burung itu selalu datang memberikan kecupan darimu
kutunggu debu yang mengepul di horizon, dan acungkan pedangmu sebelum engkau datang
supaya aku bisa melihat kilatan rindu di matamu
engkau matahariku, harapan diatas harapanku


Pangeran :
aku akan datang lagi, bunga liliku
harapan yang kau berikan padaku, seperti sungai yang terus mengalir
akan kusisakan nafasku untukmu, dan semoga Tuhan menjaga hari hariku di medan perang
kutunaikan tugas ini sayangku, untuk negara dan gadis manisku
akan kulihat bulan setiap dia bundar sempurna
karena dari cahayanya, aku bisa melihat engkau sedang bercermin disana
akan kutitipkan salamku pada burung burung yang kutemui di perjalanan
dan rinduku pada setiap alunan seruling yang mempesona
namun, harapan dan doamu lah yang akan selalu menjadi obat dari derita di perjalanan

Inspired from Kidung Agung
Cipondoh, 3 Mei 2003 22.08



Pangeran dan Bidadari
Episode Pertemuan

Pangeran :
seperti kumbang liar engkau diantara bunga bungaan
seperti kuncup yang segar engkau merekah
mewarnai pagi dengan embun yang kau sebarkan
kemanakah hari ini akan kau gembalakan kawanan dombamu lagi
sebab kesanalah aku akan menuju
arah mata angin tidak terlalu penting bagiku
sebab aku bisa memandang geraian rambutmu yang dipermainkan angin di padang
dan sejujurnya akupun ikut tersesat di dalamnya


Bidadari :
datanglah padaku, wahai pemuda tampan
yang datang dengan seikat bunga di langit biru
pelangi yang kau ikat jadi satu, adalah pertanda ketulusanmu
namun aku masih akan seperti kijang liar
dapatkah engkau mengejarku
apakah tujuan hari harimu, apakah tak kau hiraukan lagi pedang dan kudamu
kemana kawanan dombaku berjalan, kesanalah aku akan menuju
aku seperti bunga rumput yang bebas beterbangan
kuhirup kebebasan udara di padang yang seharum narwastu

Pangeran :
lihatlah, betapa cantik engkau, dengan baju gembala memikat mimpiku
seperti teratai di tengah danau yang sepi
engkaulah cahaya di padang ini
kemanakah rumput dan ilalang akan mengadu
jika sehari saja engkau tak bertandang
engkaulah pancaran matahari, senyummu mempesona bunga bunga dipadang
dan mereka sungguh iri akan warna-warni pesonamu
datanglah, datanglah mari kita habiskan mata air kasih yang tak terbendung ini

Bidadari :
engkau sungguh mempesona, dengan ketopong dan pedang kebesaranmu
engkau adalah bentengku, dan membuat musuh musuhku bertekuk lutut di hadapanku
engkau adalah perlindunganku, dari badai dan air mata yang menyesakkan dada
engkau adalah cahaya keemasan matahari pagi, memberikan kekuatan untuk setiap kehidupan
pada bahumu akan kuletakkan kepalaku, engkaulah sandaranku kapanpun aku membutuhkan
jangan kejar aku, akulah kijang liarmu,
marilah terbang bersamaku, seperti bunga bunga rumput di padang

Inspired from Kidung Agung
Cipondoh, 3 Mei 2003 22.50

surfergirl
May 03, 2003, 03:12
waw! Kidung Agung..! :D
kayak baca Kahlil Gibran ya?

surfergirl
May 03, 2003, 04:55
abis nonton film india kemaren... critanya tentang impian menjadi seorang aktor. ada kata2 bagus... tapi gw cuma inget dikit2...

bagaimana harus kukatakan padamu
tentang arti dirimu untukku
engkaulah cahaya, degupku, nafasku, gairah hidupku

aku menari, aku menyanyi, aku tersenyum, aku hidup
semua karnamu, untukmu seorang.

akan kuraih kau dalam genggaman
takkan kubiarkan lepas
sebab kau adalah milikku yang paling berharga

hingga suatu saat nanti
akan kubawa kau menuju sebuah pulau di tengah samudera

poet society
May 06, 2003, 03:36
itu yang diatas, karangan jeng Surf atau dari filmnya ?
kata katanya bagus banget tuhh ... kapan gue bisa bikin seromantis itu ....suwer ...

surfergirl
May 06, 2003, 06:49
Originally posted by poet society
itu yang diatas, karangan jeng Surf atau dari filmnya ?
kata katanya bagus banget tuhh ... kapan gue bisa bikin seromantis itu ....suwer ...

itu dari filmnya, tapi ngga persis gitu sih kata2nya
tapi intinya gitu...

sama, gw juga enga bisa bikin yg romantis2 :D
emang nape poet? bukannya justru puisi kamu aliran romantis abis ... hehehe

poet society
May 07, 2003, 08:57
:Chun Khu

hati yang luka
tertusuk pena asmara
mengucurkan air mata
hari hari yang terbungkus duka
bagai jiwa pengembara
kehilangan arah dan haluan, merana

namun masihkah engkau melihat selendang pelangi yang terus menggelitik
harapan yang terus berkobar kobar walaupun dari balik sembab di mata ?
ah, andai dia tau .....

poet society
May 07, 2003, 08:58
:untuk Vina

kukenang engkau, sebagai pangeran yang datang menjemput mimpiku
-- bukan sebagai lelaki yang berpaling dari cinta yang sedang bersemi
kukenang engkau, sebagai sahabat yang membuat aku tersenyum
-- bukan sebagai teman yang terus membuat basah sapu tanganku
kukenang engkau, sebagai pahlawan dimana aku merasa nyaman bersamamu
-- bukan sebagai musuh yang terus menghancurkan mimpi mimpiku

kukenang engkau,
namun aku tak akan sirna tanpa cintamu, aku akan menjadi seperti bunga
bunga yang kau injak dan akan kuberikan wewangian memabukkan. hanya sebagai
penghargaan terakhir untuk cinta yang pernah bersemi. setelah itu, tentu
saja aku akan mati sebagai bunga dan terlahir kembali sebagai kupu kupu.
dan bebas terbang kemanapun.

Arwan
May 07, 2003, 11:14
bagus poet.. teruskan hehe

poet society
May 08, 2003, 01:33
thanks men ...

poet society
May 26, 2003, 13:20
Kaki Kaki Kecil
Inspired from The Child In The Silent Morning - Richard Clayderman

kaki kaki kecil yang berkejaran,
membuyarkan genangan di jalanan
kaki kaki yang ceria, dunia warna warni
bermain main, dalam kecipak yang dengan lembut membasahi jari
senyuman terbayang di genangan
dan pecah menjadi tawa berderai bersama dengan percikan yang berhamburan
dunia yang baru mereka temukan dibawah pelangi
mengusap senyum dipipi kemerahan
-sebuah pagi yang baru saja merekah-

26 Mei 2003, 00.03

Arwan
May 26, 2003, 13:34
kau lama tak kelihatan :)

poet society
May 27, 2003, 03:09
sekarang kebanyakan offline ...
but i'm still here...

poet society
June 10, 2003, 02:03
Angin Timur

senja yang membungkam cahaya
menghadirkan angin dari timur
dingin-keringnya menusuk tulang
desahannya bagai tiupan dewi Sri
membangkitkan geliat padi di ladang
genderang musim panenan pertama akan ditabuh
harapan dan mimpi petani tersirami air dari surga
berkuntum senyum dan percikan bahagia,
mengambang di bubungan rumah kayu yang sudah mulai tua
cerita tentang cangkul dan bajak yang mulai terasa berat
dan derita di nafas terik matahari,
pun masih bertahan dalam gigil hujan
menghela nafas untuk hama dan burung pencuri
bersyukur atas masa kritis yang terlewati
sambil menggelintir rokok klobot jagung
duduk bersila di gubug sawah, dan cukup puas memandang ladang
kelegaan datang seperti air kendi yang tercurah

angin dari timur, tak tahu kapan datang
tiba tiba tanah berlumpur menjadi kering
dan daun yang hijau menjadi coklat
suryakanta langit sedang menanak bulir bulir padi
bersamaan dengan kulit yang menjadi kehitaman
saat itu juga cerah wajah mengembang kuning keemasan
ladang yang dihidupi dari peluh dan mimpi
dikandung dalam badan renta,
sebentar lagi akan lahir dengan segala janjinya
harapan membububng seperti gelembung panas yang menyengat

berangkat pagi penuh gegas,
menyisakan kopi secangkir penuh dan rokok sebatang utuh
memanggul kantuk di bahu, dan caping, dan cangkul
mendahului matahari pagi, entah
batang padi yang terus memanggil
mimpi buruk tentang langit yang runtuh
wabah belalang menunggangi angin susulan
berkendara maut merenggut tunas
mencipta kekacauan di akar-akar kehidupan
menggerogoti daun-daun harapan
dan mengosongkan bulir-bulir mimpi
-sebuah jambangan sekejap pecah-
bunyi yang tersekap, terbebas dalam bingar kekalahan
bersimpuh pada matahari yang baru saja merenungi hari
prajurit yang kalah perang, tertunduk seperti batang padi
terdiam, ada beribu kata yang mengalir
peluh menjadi kerut, menjadi tangis
tertahan kelu dalam nafas yang tinggal satu satu

angin Timur,
yang baru saja berlalu
menangis haru

7 Juni 2003,23.02

poet society
June 10, 2003, 02:05
Aceh

berlari kaki kecil,
nampak mungil dalam balutan jubah kebesaran
katanya, ini baju bapak
yang tak hendak ikut kami, tergeletak

banyak orang datang bertandang
memberi bunga bungaan, wangi memang
walau aku terus merengek mendesak
tapi kenapa emak tak bergerak


3 Juni 2003

Arwan
June 14, 2003, 02:48
:) good work

poet society
June 25, 2003, 10:12
thanks Men

poet society
June 26, 2003, 02:36
Alone In A Dream


lorong lorong suram membelenggu
kecipaknya menenggelamkan kesadaran
dalam selimut kabut yang mulai memudar
sebuah padang rumput tersibak
dunia yang sunyi muram
dan matahari yang mulai redup
ilalang bergetar dalam cahaya keperakan
tak menemukan kumbang nakal berlarian
aku berlari
berlari
sampai matahari berpamitan pulang
aku menangis, air mataku merah

senja bergulung dengan nada segan
menyambut angin dingin yang mulai turun
dalam sebuah bingkai kekosongan
kisah kisah malam mulai mengalir
menderasi langit kelam dan meninggalkan bercak bintang
aku pilih satu, dan terhanyut kesadaran
mimpi dalam mimpi
kembali aku berlari
rembulan muncul dalam senyum dan bergincu merah
menyapa kekosongan yang tertangkap dalam irama sepoi
kuhentikan langkah dalam degup
tertahan gemuruh nafas
aku bersimpuh, air mataku darah

kekhidmatan malam telah terbentang
gesekan ilalang yang mendesah
bercerita tentang kerinduan pada rembulan
sumber air yang tercurah
menggapai sinar yang pucat meneduhkan
dan terpintal menjadi siluet cahaya sebelum jatuh ke tanah
selendang menari terus terbentuk
membiaskan cahaya dalam komposisi warna yang sempurna
menggelorakan ombak kerinduan
aku terpuruk, dalam pesona

25 Juni 2003, 22.39

poet society
July 04, 2003, 03:22
Sepasang Kupu Kupu

kupu kupu yang melintasi taman, sore ini
berkeluh kesah tentang hujan yang turun semalaman
sayap yang berkilau bercerita tentang harapan harapan
namun matanya yang sayu membisikkan kesedihan
dia hentakkan sayapnya diatas kolam taman
dan berputar putar mencari arah
entah untuk berkaca atau sekadar ingin berdua dengan bayangan
airmatanya meneteskan rahasia rahasia terpendam

kupandang sepotong senja yang mulai buram
kulangkah pergi
dengan seekor kupu kupu lekat di kaki
kekasihnya telah pergi - kukira kira saja

3 Juli 2003, 23.27

poet society
August 13, 2003, 03:31
Percakapan Antar Teman

Jakarta, 8.03 pagi
aku dan dia, duduk berdampingan
saling merapat untuk menepiskan dingin
manusia seperti daun kering, katamu
sambil menyesap kopi dan memandangku
aku sedikit terkesiap mendengar nada keyakinan
daun kering yang gugur dari induknya
aku sedikit mengiyakan, bergumam
daun kering yang rapuh dan gersang
aku tersenyum patuh mencari arah
daun kering yang terbuang menjelang badai yang dingin
aku ikut merenung sambil merapatkan kaki
daun kering yang sebentar lagi menjadi bara dan tanah
kuusap punggung tangan yang mulai dingin
daun kering yang hanyut dalam keruh dan bersatu dengan sampah
ya kataku, sambil mengusap usap telapak tangan
dan merapatkannya ke pipi, hangat kataku
aku seperti daun kering, ucapmu lantang, bangga
kemandirian yang harus kutebus dengan kematian
aku bebas, sobat, aku bebas
terbang kemana angin membawaku,
masihkah kau dengar aku, katamu tersadar
ya kataku, mari kita lepaskan topi filosofi kita dan ambil daun daun kering
hanya mereka satu satunya harapan kita, sobat,
sebelum kita mati beku disini

dan rumput dipadang, terbahak bahak
dahan dahannya berguncang

2 Juli 2003, 15.55



Catatan Kecil Seorang Dosen


hari ini murid murid mencaciku
dan kuanggap itu berkah
kuminta mereka mencaciku dengan teori
jika aku memang salah
hari ini mereka menamparku
dan kuanggap itu ajaran berharga
kuminta mereka menamparku dengan kesadaran
jika aku memang sedang berpuas diri

hari ini mereka menangis
mencari kisi kisi dimataku
berharap bahwa rahasia rahasia ujian berlompatan dari dahiku
aku tertawa, serasa memegang dunia
pulang mereka bertapa, sebuah perjuangan melawan kebosanan
dan pada hari penentuan, aku duduk terdiam
merenungi kerut kerut harapan
berharap mereka menembus dinding dinding pengetahuan
ada desahan dan teriakan kelegaan
dan mereka bernyanyi tentang kebebasan
ketika malam hari
aku duduk terdiam
bertapa
memandangi wajah wajah diatas kertas

merekalah bunga bunga rumput
dan kuajarkan untuk bersikap terhadap angin dan kumbang
kuajarkan mereka tentang pantai dan batasan batasannya
kuperkenalkan pada kerang dan membisikkan keindahannya
kuajarkan mereka merangkai sebuah kalung
dan pada saatnya mereka kenakan sendiri
kuajarkan tentang ombak, dan manfaat manfaatnya
dan terakhir kuajarkan mereka mengukur kedalaman laut
dan jauhnya horison,
kuajak mereka bermimpi

8 Juli 2003, 14.20



JW Mariott

dan, tepp - buumm
kekosongan mengambang pada riuh gaduh
tepuk tangan
bebatuan yang runtuh seperti tercurah
senyap sebentar
debu debu berbenturan
seperti kelambu yang malu malu
menyembunyikan pekik jerit
pagelaran yang tak layak jadi tontonan
sebuah penemuan gemilang
memporakporandakan air tenang
dan kolam membanggakan keindahan
dalam kecipak yang memerah
darah !

8 Agustus 2003, 00.01


(Belum Ada Judul)

kulihat diam di mendungmu
kulihat sunyi di hembusmu
menyapu derai derai bambu di halaman

kelambu malam terbentang
terkoyak dalam satu bulatan sempurna
namun, sungguh, kulihat senyum mempesona

burung burung malam memuja muja
mengejar mega megah berarak arak
bersimpuh pada cahaya berkotbah

(Belum Selesai)

12 Agustus 2003, 23.07

ilalang
August 13, 2003, 03:51
sendu:(

Arwan
August 13, 2003, 11:52
good work :)

poet society
August 15, 2003, 10:25
Originally posted by ilalang
sendu:(

sendu yg mana Ilalang :-)

poet society
August 15, 2003, 10:26
Originally posted by Arwan
good work :)

thanks Wan ...

surfergirl
August 15, 2003, 14:00
hoeee.... pakkk... lamo tak jumpo di zini...
gimana kabar mahasiswanya yg cakep2? :hehe

poet society
August 16, 2003, 10:09
Sweet Lullabies
/Inspired from Lullaby - Brahms/

Prolog :
bunyi bunyi mungil
dari badan mungil

i. Lullabies
tidurlah, tidur bunga kecilku
marilah masuk ke dalam dekapan bunda
disana ada mimpi indah menantimu
dalam duniamu yang teramat sederhana
warna warni musik riangmu
dan kecipak air mandimu
bermain main dalam senyum di wajah mungilmu


ii. Gadis Kecil Bermain Hujan
langkah kaki mungil
dalam rintik sore temaram
meninggalkan jejak jejak kecil nan jenaka
dan senyummu ketika mengajak bunda
bermain main dengan hujan

tarian hujan yang barusan kau rangkai
dengan keriangan kanak kanak
dan mata nakal yang kegirangan
dunia dengan sejuta kenyamanan
karena ketika engkau membutuhkan
senyum bunda selalu ada untukmu


iii. Bunga Liar
engkau seperti bunga liar
tumbuh di tanah yang adalah rumah
engkau lari ketika
bunda menyiram dengan belaian
dan menyentuh dengan senyuman

engkau seperti kumbang liar
berkembang di kebun yang adalah rumah
ketika purnama ayahanda membuka jendela
dan mengajak bercakap cakap tentang bulan bundar
engkau merasa tak cukup besar
untuk meraih bulan


iv. Tangisan
tangisanmu, seperti petir yang menyambar
seluruh isi rumahmu terjaga
dari nyenyak malam
dan tiba tiba saja, malam menjadi panjang bagi semua orang
dan engkau masih tak peduli juga
walaupun ketakutan dan kesakitan,
namun nyaman diantara mereka
dengan sekencang kencangnya
engkau teruskan nyanyian
sampai pagi menjelang


v. Pelangi yang Bangun Pagi Pagi
ada helaan nafas lega
ketika tangismu reda
engkau tertawa
diantara sembab air matamu
engkau masih melihat pelangi di pagi hari
ingin kau ceritakan pada ayah bunda
dengan celotehan seru
namun mereka tentu saja tidak melihat itu
yang mereka lihat adalah pelangi
yang bangun pagi pagi


vi.Kidung Pagi Si Kecil
engkau heran,
ayah bunda kembali terlelap
kau lihat jendela dan segera menemukan
sumber keriangan pagi
hijau dan kecil
bersuara amat nyaring
engkau tersenyum polos
mengajak mereka masuk dalam dunia permainanmu
dengan langkah mungil berjingkat jingkat
kau ulurkan tangan dengan takut takut
namun yang kau tangkap
hanyalah rangkaian embun
yang ditaburi serbuk serbuk matahari

Epilog :
sebuah dunia baru
kau temukan
ucapkan selamat datang pada sang Pagi

15 Agustus 2003, 23.01

poet society
August 16, 2003, 10:15
Originally posted by surfergirl
hoeee.... pakkk... lamo tak jumpo di zini...
gimana kabar mahasiswanya yg cakep2? :hehe

alo juga jeng Surf, jangan panggil pak dunk ... kok kayaknya tua banget ... padahal masih lajang n fresh ha ha ha
mahasiswa ? come n see he he he

poet society
August 26, 2003, 13:35
Pengembaraan Dituntaskan

katakan pada angin
yang menggerakkan hujan Agustus
penutup kemarau yang menyiksa
tunas tunas September yang bersemi

ada kerinduan yang terpendam
terbebaskan dalam senyuman
pengembaraan dituntaskan
dalam satu alunan kidung
sebuah kalung air mata tercipta
dari rangkaian manik manik hati
sungai yang menderasi nadi
mengisi relung relung kekosongan
harapan harapan tumbuh kembali

ada detak yang pernah terabaikan
ada dentum dalam nada nada jenaka
terbungkus irama pengharapan
kumbang kumbang nakal yang menggoda
bunga bungaan semerbak
memberikan wangi terakhirnya
untuk sang pencinta

tunas tunas September yang bersemi
berpesta
bertaburan mimpi dan janji indah

26 Agustus 2003, 20.27

poet society
August 30, 2003, 01:28
Senyum Digital

ketika kaukatakan cinta :
semuanya menderas dalam aliran bit bit
dari nadi nadi tembaga yang mendengung
cursor yang berkedip kosong
seakan menghitung countdown
jawaban yang kau kirimkan
dalam susunan ada dan tiada
terangkum dalam pelabuhan data
dan kemudian menderas dalam sungai bit bit
bergolak oleh arus yang liar menjadi untaian kalung
melesat menjadi partikel partikel cahaya
dalam tabung berwarna dengan sejuta cerita
tertangkap oleh mata
dalam format alfanumerik yang biasa kukenal
dan tiba tiba saja,
ada gejolak yang tak tertolak
dari mata menderas ke nadi nadi
ada dentuman setiap kali cursor timbul tenggelam
menghunjam jantung dan menerkam kesadaran
aku limbung
terpesona oleh senyum digital yang kau kirim
dengan semburat merah merona
wallpaperku berubah warna menjadi merah muda !
ahh

29 Agustus 2003, 23.02

poet society
August 30, 2003, 01:29
Menjadi Seorang Pemimpin


menjadi seorang pemimpin, sahabat,

seperti dawai kecapi yang walaupun kokoh,
namun cukup lentur untuk bersuara dengan lembut

seperti induk ayam yang mempunyai sayap cukup panjang untuk menghajar musuh,
namun menjadi pelindung bagi yang kesusahan

seperti elang yang mempunyai mata yang mampu menembus dinding,
namun menutup mata untuk kesalahan kesalahan yang terampuni

seperti benih, yang walaupun kecil
namun memiliki kekuatan untuk menerobos bebatuan

seperti angin, yang memiliki kebebasan
namun bertiup pada mereka yang membutuhkan

seperti air mata, yang harus menanggung duka
namun memberikan kelepasan pada mata mata yang sembab

seperti matahari, yang panasnya membakar kulit
namun memberikan sejuta harapan pada sang bumi

kemanakah arahmu, sobat
jika engkau sudah dibasuh oleh air mata kepedihan
dan menangis karena mereka
bukankah engkau sudah menjadi pemimpin yang sebenarnya ?

29 Agustus 2003, 23.33

poet society
August 30, 2003, 01:29
Pak Gito

pakai kumis petentang petenteng
muka sangar walau katanya hitam manis
untung bapak bawa buku
kalau nggak pasti dikira preman pasar Slipi

selalu datang pagi
sambil membawa secangkir kopi
untung bapak pakai dasi,
kalau nggak pasti dikira pedagang roti, ups

kalau kerja mejanya rapi
sambil bernyanyi beriang hati
rambut klimis berminyak wangi
itu kumis bikin geli

setiap pulang membawa kado
berisi senyuman penuh harapan,
untuk dibawa pulang dan ditanak
buat anak istri yang menanti pulang

ini puisi bukan sembarang puisi,
ini puisi dicipta khusus untuk bapak
sebagai teman, sahabat dan bapak kami

29 Agustus 2003, 23.52

poet society
November 06, 2003, 10:10
Ini Gerimis Sore

ini gerimis sore,
senja melukiskan dirinya di mata para pecinta
semburat merahnya menggoda awan
mencipta kecipak lembut mata angin
seperti kupu kupu yang memamerkan keindahan
senja adalah warna warni kematian

ini gerimis sore,
senja tak hendak pulang
sebelum bulan muncul di halaman belakang
mencipta perahu tanpa bayangan
berlayar menembusi jantung para pecinta
senja adalah hidup matinya awan awan kesepian

ini gerimis sore,
senja menangis dan sesenggukan
air matanya mengucur dan berwarna kemerahan
ada siluet pelangi yang tertinggal di sudut mata
walaupun waktu tak berpihak,
senja adalah senyum perpisahan untuk para pecinta

6 November 2003, 17.15

erish
February 19, 2005, 17:43
ssssssssssssssss

poet society
May 19, 2005, 08:51
MALAM DICIPTAKAN ULANG

Engkau menari dengan senja buatan cahaya sorot merkuri gedung pencakar langit
dan bulan muncul dengan merek casio atau semacamnya.
Semerbak gairah pelangi reklame semu yang teronggok di siang hari.
Bahkan bayanganku pun lenyap di sepanjang jalan dan mall yang penuh sesak.
Aku percaya bahwa bayangan sedang terdefinisi ulang.

Engkau lanjutkan tarian kunang kunang dari sorot mesin mesin buatan jepang.
Diantara bayangan awan kelam dibalik onggokan gedung gedung tua dan sakit.
Konser masih berlanjut di dalam denyut yang terus memompakan cahaya ke dalam debur nadi.
Sepertinya engkau menari dibawah pengaruh bulan
karena binar binarnya terus menciptakan siluet gerakan.
Dan malam diagungkan ketika lampu lampu dimatikan
dan cahaya blitz berkelebatan mengiris-ngiris kesadaran.
Aku percaya bahwa kesadaran sedang terdefinisi ulang.

Kupikir engkau akan menyudahi tarian malam ini.
Namun geletaranmu masih terus kau hembuskan ke dalam warnet warnet sepi
di kampus kampus tua dan kosong.
Engkau tarikan tarian mekarnya mawar di monitor yang berbinar terang.
Percakapan dengan kekasih imajiner yang tersusun dari degup degup cahaya.
Kau sulutkan obor obor elektrik untuk sebuah pertemuan dan perpisahan dalam semalam.
Keheningan terdefinisi ulang gara gara aliran bit dari monitor berlompatan masuk
menjadi detak detak emosi dalam format baru.

Sebuah tongkat sihir teknologi terangkat tinggi tinggi.
Dan malam diciptakan ulang.

Jakarta, 17 April 2005 22.51
Inspired by Fortune Faded - RHCP

poet society
May 19, 2005, 08:54
IBU MALAM

Seorang ibu menyuapkan malam ke dalam mulut bayinya yang kemudian menguapkan malam ke dada ibunya. Sang ibu mendekap anaknya ke dalam malam di dadanya, sembari menengadah melihat senja melalui malam di matanya. Sudah saatnya beranjak dari bangku malam yang seharian didudukinya. Dan mengambil satu kaleng berisi malam penuh di dekat kakinya. Hari ini cukup satu malam di dalam makanannya. Dua malam dia sisakan untuk bayinya. Kembali mereka ke dalam gubuk malam yang menyediakan mimpi baginya. Dan berdua tidur lelap seperti malam yang tak pernah merindukan siang..

Jakarta, 22 April 2005 00.58

poet society
May 19, 2005, 08:55
RAMUAN MALAM

Terbuat dari apakah ramuan yang bernama malam. Cukupkah ditambahkan ke dalam adukan :

- Ribuan biji bintang
- Sepotong bulan
- Jutaan nyanyian jengkerik
- Selembar benih malam
- Setangkup rasa kantuk
- Seikat ketenangan
- Sekantong angin sejuk

Masak satu gantang cahaya hingga mendidih. Sisihkan buih senja yang berwarna kemerahan. Masukkan selembar benih malam. Tambahkan seikat ketenangan dan sedikit angin sejuk. Aduk sampai rata. Tunggu sampai berwarna hitam legam. Lanjutkan dengan setangkup rasa kantuk serta jutaan nyanyian jengkerik. Angkat dan masukkan dalam cetakan setengah bulat sempurna. Setelah terbentuk, taburkan biji bintang secara merata dan berikan irisan bulan sebagai pemanis. Sajikan dingin-dingin. Boleh ditambahkan embun manis secukupnya.

Dan setiap hari ada Tangan yang meramu malam. Tanpa henti tanpa mengeluh. Letakkan dan sematkan buah gelisah dan batu khawatirmu pada bintang bintang. Sebab ramuan malam ini akan basi besok pagi dan dibuang ke dalam pelimbahan.

Jakarta, 22 April 2005, 01.16

F42ne sTilL
May 19, 2005, 10:26
masih tentang malam pada pagi hari yang cerah...
.....
manakah yang lebih indah..antara gelap dan terang...??
Apakah pagi itu sebenarnya sama dengan malam yang selama ini begitu aku banggakan...
Apakah terang silau putih matahari itu sama dengan kemilau keemasan rembulan yang selama ini begitu aku dambakan..
Lalu.. siapakan yang mempunyai suara lebih merdu mendayu..
kicau burung-burung di pagi itu atau derik jangkrik dimalam-malam hari yang selama ini selalu menjadi laguku..???
.....
dan pagi ini.. ada perasaan rindu yang sangat akan malam... akan bulan dan bintang... akan derik jangkrik..
padahal.. sang Mentari sudah didepan mata..
duh...

02.22.03 lonely dayz

F42ne sTilL
May 19, 2005, 10:33
hai.. salam poet society..:)
(emm dengan nama apakah aku sebaiknya memanggilmu..??? :) )

poet society
May 20, 2005, 04:54
call me poet aja ...

salam kenal juga fasne still ...

F42ne sTilL
May 20, 2005, 05:48
ok Poet...
it is nice berkenalan ama kamu..n read your poems..:) :)

poet society
October 13, 2005, 12:47
Bom Bali II : Mimpi Buruk

Kucium amis darah pada embun beku yang bergelayutan di pantai sore itu. Mimpi buruk yang mulai terlupakan mengambang kembali dalam simponi yang meledak dalam sebuah tas ransel tanpa merk. Mungkin bulan tak akan sempurna senyumnya malam ini, dan matahari pasti hanya meninggalkan isak di gelombang laut yang menghempas riak sampai ke dasar palung. Laut hanya menggeletar kosong dan kemudian menjauh menuju sudut sudut horison dimana ketenangan bersemayam dengan segala keanggunan diamnya. Jauh dari hingar bingar yang menggetarkan jantung dan mencabik urat urat nadi ke dalam semburat pasir yang menciptakan pesta pora burung burung nazar. Genderang kematian ditabuh dalam irama tak putus oleh debu dan pasir. Gelombang kemarahan ditabuh oleh dentuman yang mengoyak udara. Sejenak siang lalu hilang. Dan semuanya diam. Hanya suara kematian yang mengambang seperti selimut kesedihan yang dibentangkan menutupi bintang bintang.

Dan segera saja aku bisa menikmati kesunyian sejati. Sunyi suara nafas. Sunyi denyut nadi. Sunyi detak jantung. Sunyi kesadaran. Dan sunyi kehidupan.

11 Oktober 2005, 23.47

poet society
October 13, 2005, 12:47
Bom Bali II : Dentuman

hari ini mungkin akan berlalu biasa saja. kupikir muse mengalun terlalu lembut. aku makin tenggelam dalam hysteria denting gelas dan paras. raungannya memang cukup memompa adrenalin sore yang mulai kantuk. kutunggu angin bergerak ke laut. dan ketika kulihat pelabuhan di sudut matamu. mungkin suatu saat aku akan berlabuh disana. engkau menangisi siang dipegelangan tangan, dan menciptakan pelangi malam dalam kecipak lembut bayang bayang softlens. dengan warna warni lembayung. engkau tarikan selendang lembut siluet dalam bingar malam. secawan senyum tak akan habis dalam satu malam. give me your heart n your soul. berikan aku satu ciuman dalam setetes embun dengan kadar alkohol lima persen. berikan aku satu senyuman ke dalam mangkuk yang penuh berisi parfum kembang setaman. berikan aku satu dentuman yang akan mengakhiri malam yang kelabu ini. dan aku akan mati sebagai martir. yang mati karena menyalakan cinta yang tak kuinginkan ada. dan karena sudah kucium engkau hari ini. aku mati dalam arti yang sebenar benarnya.

Inspired by Hysteria-Muse
12 Oktober 2005, 00.26

poet society
October 13, 2005, 12:48
Bom Bali II : Missing You

sepotong sms tercecer di reruntuhan malam. dari sebuah ponsel dengan warna warni smiley. tergeletak mati. berkedip kosong. selongsong yang terburai. dan kemudian terurai. menjadi warna warni bit dan terhempas oleh angin laut. nada nada kesedihan bertebaran. dan warna warna muram berpendaran. menyisakan kesesakan. pesta malam usai. sebelum waktu yang ditentukan. sms terpenggal pada titik terakhir. satu ketukan penentuan. buyar oleh alunan oktober. yang merajam kesadaran dan merontokkan impian. pesan tak tersampaikan. tercampakkan. menjadi hantu hantu bit yang menakuti cahaya. mungkin ini bukan saat yang tepat sebuah pesan dikirimkan. stag dalam memori lokal sebuah ponsel.

Inspired by No One's There-Korn
12 Oktober 2005, 23.15

poet society
October 13, 2005, 12:49
Bom Bali II : Kematian

kukagumi kematian. diantara malam dan asap hitam. sejelas embun yang menyimpan kenangan. dan beribu pelukan diciptakan, dalam hujan malam oleh isakkan. mata mata yang sembab dan ketakutan. trauma dentuman, karena disinilah arti kesendirian. sebuah sirine meraung mencari korban. bunga bunga dipanen dalam buket kesedihan. malam memerah oleh darah yang bertebaran. dalam tangisan penghabisan, semua kenangan tertumpah. malam itu.

kukecup kematian. yang menarikku bagai tatapan mata seorang kekasih yang menawarkan senyuman yang tak akan mampu aku tolak.

12 Oktober 2005, 23.38

surfergirl
October 15, 2005, 11:24
great works, fred.

rasanya udah siap untuk copypaste 2 nih... :)
bukan begitu, pak?

ayo dong, mulai digerakin tuh anak2 forum... sudah ada plan belum...

-Arya-
October 17, 2005, 08:39
Halo.... Maaf baru mampir.... ::wave::

Great works poet..... It really touched me, the Bali Bombing.. How Could they do that..?? Gue punya kenalan yg menjadi korban di peristiwa tersebut....

I dedicated this poet for her..

Seutas tali membentang cinta antara insan manusia
Kekasih, dimana kamu berada dalam lamunanmu?
Menerawang menerjang segala batas kesadaran yang membendung
Tetap saja kamu berlepas dan menyerahkan segala semangat, kasih dan cintamu..
Tatkala anak kecil berucap mama kapan pulang?
Menengok pun tidak kau lakukan
Berjalan terus dalam kesendirianmu di tengah hiruk pikuknya sukma yang berlepas dari raga
Mengungkapkan perasaan cinta untuk segenap kekasih dengan perbuatan mulia yang membawa kesadaran kami..
Pesan Cintamu telah sampai ke lubuk hati terdalam

Walaupun tali yang membentang telah putus, aku masih melihat untaian Cinta tak terbatas di antara kalian..

Selamat Jalan, sampaikan Cintamu bagi seluruh insan
Beserta permohonan maaf yang menyertainya......

poet society
October 29, 2005, 03:50
thanks buat DJ Arya,
dah mampir sini ... puisinya sangat menyentuh ...

poet society
October 29, 2005, 04:37
belumn ada plan sihh,
gimana kalau Surf yang gerakkin, ntar aku support di belakang secara penuh he he he

Originally posted by surfergirl
great works, fred.

rasanya udah siap untuk copypaste 2 nih... :)
bukan begitu, pak?

ayo dong, mulai digerakin tuh anak2 forum... sudah ada plan belum...

surfergirl
October 31, 2005, 12:05
iya, fred, maunya juga gitu... tapi apa daya...
klo duit sih skrg ada, tp waktuku uda ga sebanyak dulu.

menurutmu siapa yg cocok untuk 'diserahin' tugas bikin copypaste ini?

poet society
November 09, 2005, 04:58
wah jeng Surf mau ngebossin nihhh ? he he he
saya sebagai bendahara siap menerima ...

hmm, siapa yahh yang bisa gerak ?
kita mulai kumpulin naskah aja dulu kali yahh, masalah teknikal belakangan aja ...
gimana naskahnya ? apa mau pakai tema ? apa temanya ?
atau open aja ?

Originally posted by surfergirl
iya, fred, maunya juga gitu... tapi apa daya...
klo duit sih skrg ada, tp waktuku uda ga sebanyak dulu.

menurutmu siapa yg cocok untuk 'diserahin' tugas bikin copypaste ini?