View Full Version : SAHM (Stay At Home Mum) vs Working Mum







Von^Krumm
June 12, 2007, 09:09
Gue pernah mengalaminya on both side; pernah jadi full time mum (waktu hamil sama sesudah Thomas lahir for quite sometimes) dan saat ini jadi working mum (meskipun nggak full time). Selama ini pendapat orang2 ada bagus dan baiknya.

Ada yang bilang gue ini kejam wong Thomas masih bayi udah dititipin di daycare, ada yang mendukung karena ini penting bagi my self esteem (bangga khan bisa spending gaji sendiri).
People kadang lupa bahwa it's not always about money. Mungkin one mau merintis karirnya, dllsb.

Gimana ya menurut kalian (nggak necessary buat mums aja loh ini pertanyaannya infact gue nanya dalam bentuk serious, makanya gue mau minta pendapat disini, soalnya pasti deh klo nanya sesama ibu jelas we know the answer, dan gue butuh not just that

Thanks...

terryan
June 12, 2007, 16:57
thanks VK udah inisiatif utk membuka thread baru di forum baru ini :)

kita akan sama2 belajar dan mencari format yang tepat utk forum ini yah.. Tuh saya baru merubah sedikit aturan main forum karena saya notice thread kamu memang sesuai utk sub forum ini tp sebelumnya di Aturan Main dijelaskan kalau forum harus di approve dulu.. stl saya pikir2 lagi, aturan main baru saya ubah sedikit tuh. Thanks! ;)

anyway, karena forum ini adalah forum utk Taking Sides, which side yg kamu ambil? working mom or stay home mom?

tentu di real life setiap choices pasti ada pro and con-nya. Tp the point dari argumen ttg ethics ini, saya berharap masing2 mengambil satu point of view dan hold on to their point (biarpun sesungguhnya mungkin pendapatnya somewhere in between :D ).

mungkin dlm hal ini kamu bisa bilang, saya pilih....

sebagai contohnya.. you know I'm a stay home mom, but in this thread, I'll take on the working mom's perspectives.. :hehe

argumen saya, kondisi dan sistem lapangan pekerjaan yang sangat kompetitif tidak mendukung perempuan (atau siapapun) untuk take a long break on their career.

setiap tahun ada begitu banyak new graduates yg siap utk memasuki lapangan pekerjaan. Saat seorang perempuan berhenti bekerja untuk mengurusi anaknya untuk suatu jangka waktu, akan susah nantinya untuk perempuan tadi memasuki kembali dunia profesional.

dan ini bisa dipandang sebagai kemunduran dari peran perempuan di dunia profesional :D

and the rebuttal would be.... (please anyone... :hehe )

Enche
June 12, 2007, 17:50
Menurut gue stay home mom itu penting, memang ada pengorbanan terutama bila
anak-anak mereka masih balita. Anak umur-umur segitu penting banget untuk dekat
ama orang tua kandungnya.

Di zaman sekarang ini, gue melihat kecenderungan pasangan suami istri untuk
bekerja mati-matian untuk mengejar materi, sehingga anak-anak mereka
ditinggalkan ke orang lain, mungkin neneknya, day care etc.

Cerita pengalaman sedikit, di Philadelphia misalnya, banyak imigran newlyweds
di sini, melahirkan di AS tapi kemudian anaknya di kirim ke Indonesia untuk
diasuh kerabat mereka, padahal masih berumur beberapa bulan. Beberapa
anaknya udah bener2 ga in touch secara emotional, kenal aja kagak.

Contoh lain dimana teman dekat dan partner bisnis saya seorang istri
dari empat orang anak, 13, 8, 5 dan 4 tahun, 1 co, 3 ce. Bisa dibilang
bercekukupan (punya bisnis agen tenaga kerja, dengan omzet 1-6 juta U$ /taon)
nah karena istrinya juga sibuk mati2an di bisnis, sehingga anaknya
sering dititipin dan bukan cuma anaknya suaminya juga di ititipin.
Ga pernah masak dirumah atau bangun suasana harmonis di keluarga
Jadinya bukan hanya anak-anak mereka suffer dari kasih sayang dan perhatian
tapi juga hubungan suami istri. Dan akhirnya akhir tahun kemaren mereka
memutuskan bercerai.

Dari pengamatan gue selama disini, gue melihat tidak ada salahnya
wanita untuk menjalani karir, tapi yang penting harus bisa memanage
time, apabila memang kurang waktunya untuk keluarga, istri harus
memprioritaskan keluarga terlebih dahulu.

Soal uang? kalau istri menjalankan tugas dengan baik, tentunya
suaminya akan menjalankan pekerjaannya dengan lebih semangat
dan produktif, keutuhan keluarga juga akan lebih terjaga.

Untuk kebutuhan self-actualization untuk wanita, sepertinya bisa dicapai
dengan hal-hal lain yang tidak berkaitan dengan bidang karir dan dinilai
dari bentuk jabatan dan uang. Bukankah unpaid labor itu yang paling mulia?

Ibu2 remaja sekarang, karena ibunya sibuk mencari duit, banyak remaja
(crucial time for life development) menjadi banyak terpengaruh dengan
peer pressures sehingga terjebak dalam hidup yg tidak jelas dan berantakan
Di masa tuanya menyesal, setelah tidak produktif lagi di lapangan kerja,
anak-anak mereka pun gak ada yang sukses karena kurangnya guidance
dari mereka.

Von^Krumm
June 13, 2007, 01:24
Wah baca2 postingan terryan sama Enrique bikin mata terbuka lebih lebar lagi nih!

Btw gue taking side buat working mum, being working mum myself. Karena pernah punya experience on both side gue bisa merasakan bahwa working mums tuh yang paling sering "diserang" oleh berbagai pihak karena let's face it for some ini merupakan lifestyle baru (jaman lama khan ibu/mum/wife harus staying dirumah blah blah). Nggak entirely true sih sebab nyokap gue kerja. Gue menerima banyak banget pandangan dan pendapat negative being working mums.

Seperti yang Enrique bilang bahwa "working itu artinya ngejar materi" Ini sama sekali tak benar. Ya mungkin ada kasus-nya berfokus ke materi 100%. Tapi kalau dipikir dan dilihat lebih dalam lagi seperti yang gue bilang it's not always about money. Bahkan quite the contrary. Mereka bekerja keras karena demi masa depan anak. By doing so hikmah yang diambil banyak oleh semua pihak (dg catatan mereka yg involve doing it the right way respect each other position etc) dibawah hasil2 positive of having working mums around:


Pihak suami pasti happy sebab hey siapa sih yang nggak happy kalau sang istri ikutan nyumbang income buat keluarga? Suami gue bangga sama gue yang suka mandiri meskipun gaji gue nggak seberapa enough buat beli Thomas's toys. But he knows bahwa going back to work itu important for me.
Sang istri; dengan bekerja itu dapat "me time" yakni away dari kehidupan monoton ngurusin popok dan hal2 yang berbau ngurusin rumah. Seperti yang terryan bilang kondisi dan sistem lapangan pekerjaan yang sangat kompetitif tidak mendukung perempuan (atau siapapun) untuk take a long break on their career Ini bener2 spot on loh. Contoh jelasnya kakak kandung gue, sekarang dia pingin kembali kerja but the chance is very small utk dapet kerjaan di bidangnya unless she's willing to start from the bottom by doing some cafe work misalnya. Sebab her office skills udah out of date, yang generasi masih muda fresh dari college aja struggling nayri kerja nowadays let alone my sister yg dah vacuum for 12 years!
Let's be honest buat full time ibu rumah tangga pasti nggak-lah berkutat 24 7 dirumah terus, kalaupun iya pasti ada hiburan lain untuk "recharging the baterei", misalnya by going online, belanja, window shopping, going to playgroup and so on. Nah sebagai working mum, by being at the office ketemu sama colleagues itu my way of "recharging the baterei". Bisa dipastikan habis ngantor pasti gue neh feeling fresh! So what's the difference? Kok sulit sih menerima posisi working mums? (Biasanya yg bisa fully understood my position itu ibu2 yang pernah kerja juggling work dan family sebab mereka udah pernah merasakannya. But ini hanya small precentage saja, masih banyak yang looking down ke kita. The sama case some working mums yang meremehkan full time mum. Terribly sad memang. Ini yang bikin gap of understanding each other makin besar kayaknya ya.

Sang anak. Gue ngasih contoh gak usah jauh2, yakni anak gue. Dia bener2 enjoying being at daycare (gue kerja 2 days/week so dia ke daycare 2 days/week juga). Dia learn and minggle with other kids. FYI, we don't just dump Thomas di caycare without any purpose-ada loh full time mum yang nitip anak ke daycare so that dia bisa doing some shopping and have a break! Anak gue happy dan healthy, nggak ada alasan untuk bilang bahwa what we are doing is wrong khan?


Statement seperti Ibu2 remaja sekarang, karena ibunya sibuk mencari duit, banyak remaja (crucial time for life development) menjadi banyak terpengaruh dengan peer pressures sehingga terjebak dalam hidup yg tidak jelas dan berantakan sama sekali nggak seluruhnya benar. Depend. Peer pressure bakalan dialami oleh semua anak. Period. Baik yang dari working mum maupun pihak bapak saja yg bekerja. Tergantung bagaimana keluarga memprioritaskan kepentingan keluarga, ya benar kalau prioritasnya hanya untuk memburu uang, relationship dalam keluarga akan hancur. Kalau bokap nyokap spending time dg anak dan both ikutan ambil responsibility, anak akan dapat guidance secara benar. Bahkan anak akan belajar positive dari hal ini "wah gue kagum sama bokap dan nyokap mereka kerja keras tapi masih juga spending time sama gue", some kids proud punya ortu yg punya karier. I certainly did. Gue bangga punya working parents!

Begitulah, kita semua meraih positive masukan semenjak gue kembali ngantor. Gue beneran honest nest nest nih, nggak ada segi negative yang kita petik semenjak gue ngantor. We can still spend time like any happy normal family. Thomas sehat2 saja. Most importantly dia having fun setiap ke daycare sebab dia bisa ketemuan sama his "peers". Dan dia bakalan punya masa depan lumayan cemerlang thanks to our hardwork. Just like apapun, jika kamu doing it the right way, pasti hasilnya juga bagus.

Something to think about is all. Next time anda berpapasan either full time mum or working mum, don't judge. It's not easy life. Especially juggling between family dan work :)

Choccy
June 13, 2007, 09:45
hkksss....panjang2 ya pendapatnya ;D

gue sendiri...tergantung situasi dan individu.

kalau si ibu bisa membagi waktu dg baik dan benar, jadi tidak ada yg neglected, she should be a working mum. karena menurut gue sbg cewek, kita tidak boleh tergantung sama suami walau suami kita udah kaya. something may happen, and we have to be prepared. besides, bekerja itu kan sama dg berkarya dan aktualisasi diri. dan tentunya tambah2 uang utk masa pensiun, dan utk kepentingan anak dimasa depan.

sebaliknya, kalau si ibu tidak bisa bagi waktu dg baik dan benar krn situasi tidak memungkinkan (ga bisa find a bit relaxing job misalnya), atau memang time management dia yg payah, she should stay at home. bos gue sendiri contohnya, udah punya babysitter dan pembantu, tp kadang si baby msh dibawa ke ktr, which mengganggu kerjaan. trus, dia hampir selalu dtg telat dan pulang lebih awal, padahal beliau office manager (dan kantor gue manager cuma satu krn rep office doang) which is kerjaannya selalu numpuk, dan bos2 besar gue di brussels kan baru aktif pas after lunch.

tapi kalau bener2 harus take sides....i prefer working mums. they're real-life super(wo)men :)

Choccy
June 13, 2007, 09:46
Statement seperti sama sekali nggak seluruhnya benar. Depend. Peer pressure bakalan dialami oleh semua anak. Period. Baik yang dari working mum maupun pihak bapak saja yg bekerja. Tergantung bagaimana keluarga memprioritaskan kepentingan keluarga, ya benar kalau prioritasnya hanya untuk memburu uang, relationship dalam keluarga akan hancur. Kalau bokap nyokap spending time dg anak dan both ikutan ambil responsibility, anak akan dapat guidance secara benar. Bahkan anak akan belajar positive dari hal ini "wah gue kagum sama bokap dan nyokap mereka kerja keras tapi masih juga spending time sama gue", some kids proud punya ortu yg punya karier. I certainly did. Gue bangga punya working parents!



Yap, same here ::love::

terryan
June 13, 2007, 10:04
oops, koq pendapatnya pd pro ke working mom semua yah.. :hehe gw liat deh, kl kedepannya masih lbh banyak yg pro ke working mom, boleh dong gw change side dan argue for stay home mom.. :haha :D

Secret_Samadhi
June 13, 2007, 10:23
working mom or stay home mom?

Kalo gue sih sekarang lebih milih ke stay home mom, walopun gue gak/belom punya anak. Tapi kalo disuruh bilang mana yg lebih bagus, yah susah juga sih karena tiap rumah tangga kan punya prioritas sendiri-sendiri.

Gue sih suatu hari nanti kalo disuruh balik lagi kerja untuk bantu economy rumah tangga yah siap sedia 100% deh :hehe tapi kalo gak yah gue lebih milih di rumah ngurus anak2x & ngerjain hobby gue yg laen.

Tapi kali mau mulai bussines from home nih biar ada extra pemasukan sedikit :hehe

aisyah
June 13, 2007, 14:37
berhubung aku ini nanti akan jadi working dan college mom, maka aku ngambil posisi SAHM yaks. :D

Rasanya the biggest pro for SAHM's is the chance to really get to know your children and be there for even their littlest milestones--be the first witness to them instead of hearing it from someone else say a nanny.
And to be their first teacher, rasanya pasti sublime sekali. :) maka mulia banget seorang ibu yg tinggal di rumah, karena yah pastilah ibu tau mana yg terbaek buat anaknya dan gak akan sembarangan membesarkannya. Dimana orang laen belom tentu memiliki "mother's touch" yg di perlukan anak2 itu, terutama pas masih kecil sekali.

(maka secara pribadi, aku juga enggak gampang percaya anak aku ama orang laen dan masih sangat amat mempertimbangkan kerja di luar rumah dan menjadi IRT, dan makanya aku milih posisi ini karena gak mau lupa juga baeknya tinggal di rumah bersama si kecil)

Granted, mungkin akan banyak bosen atau frustrasi tetapi rasanya bisa di sebelah anak kita dan membimbing mereka berkembang membuat frustrasi2 kita itu menjadi hal yg gak penting sama sekali.

Dan walo menjadi IRT, si bapak juga harus ada peran besar dalam membesarkan anak2. gak hanya karena si istri di rumah si bapak lepas tangan. gak bisa lah yaw!

okiedoke sekian dari pihak SAHM :D

** COMY **
June 13, 2007, 15:40
gue lebih suka jadi SAHM :D

menurut gue utk jadi SAHM gak gampang loh :nono
kalau anak kita gak bener padahal Ibunya ada dirumah..orang umum cenderung menyalahkan ibu nya dgn status SAHM gak bisa mengurus rumah and anak..tapi coba kalau anak yg nakal and gak bener itu ibunya yg WM,pasti orang umum banyak memakluminya " wajarkah dia nakal,ibunya kerja..yg ngurus susternya,jadi anaknya merasa gak mendapat perhatian dr sang ibu jadi dia sengaja bikin ulah"

belum lagi beban moril SAHM,kalau anaknya gak sukses alias biasa-biasa aja nilai-nilai pelajarannya,bisa dituduh ibunya gak becus ngurus anak atau memperhatikan pendidikan anak kalau anaknya di leskan krn si ibu merasa tdk mampu mengimbangi pelajaran sat ini orang umum melihat sang ibu ini malas dan tdk mau mengajari si anak,kalau WM krn sibuk mrk dimaafkan utk mengeleskan anak-anaknya di tangan orang yg berhak :(

menjadi SAHM juga gak gampang,harus memikirkan tiap hari menu yg menarik utk si anak dan lebih penting jgn harus bergizi,disini juga dituntut kreatifitas si ibu .
jaman dulu SAHM itu adalah ibu-ibu yg super,selain mrk pintar masak,mrk juga bisa menjahit dan memotong rambut anak-anaknya..bayangin jaman dulu SAHM mengurus anak gak cuma 1 anak,minimal 2 atau 3 anak dalam satu rumah :D

gue salute dgn SAHM dan gue tetap akan jadi SAHM :p

sekian info dr wanita mantan WM sekarang menjadi SAHM :haha

terryan
June 13, 2007, 23:05
Karena sekarang udah banyak yg mihak SAHM, gw kasih argumen utk WM lagi deh.. :hehe

Gw melihat ibu yg berkarir diluar rumah bisa menanamkan persepsi ttg persamaan gender pd anak2nya.

Jika melihat ibunya (perempuan) bekerja dirumah, sedangkan ayahnya (laki2) bekerja di luar rumah, pd anak mau tidak mau akan timbul pertanyaan, kenapa ibu bekerja dirumah dan ayah bekerja diluar?

Jika ortu tidak bisa menjelaskan dgn bijaksana, apalagi jika dlm hubungan ortu memang tidak ada kesetaraan, maka utk seterusnya dlm pikiran anak akan tercipta suatu gender division yang bisa berkonotasi negatif.

Hal ini sangat krusial utk perkembangan pola pikir anak.. baik itu anak laki2 (yg akan mempengaruhi pola pikirnya ttg gender perempuan), maupun utk anak perempuan (yg bisa mempengaruhi self-image, terutama dlm hal pendidikan dan karir profesionalnya dikemudian hari).

Enche
June 13, 2007, 23:44
ya kalau dijelaskan secara bijaksana ya gak ada masalah.

kalau gue sih malah appreciate bgt my mum karena stay home,
jadi aksesible ama anak2 dikala perlu untuk nasihat atau comfort.

trus ada satu periode waktu gue umur sekitar 4-5 tahun, my mum
aktif banget jalanin salonnya pergi mulu terutama ke jakarta, untuk kursus,
seminar tambahan2 ini itu. nah dalam periode itu yg ngurusin gue nanny,
dan pas mama gue udah memutuskan ga aktif lagi, gue aja perlu
adjustment lagi kek gak kenal mummy gue..

Apalagi yang kerja atau sibuk bisnis permanen, itu anak bisa gak ada hub yang
deket ama ortu justru jadi mempengaruhi perkembangan anaknya yang
dimana tergantung banget ama apa yang dikasi tau si nanny nya itu.

** COMY **
June 14, 2007, 16:18
gue dr dulu lebih respect ke SAHM,menurut gue..mrk bekerja utk keluarga 24 jam sehari tdk ada istilah istirahat,bandingkan dgn WM yg py jam kantor 8 jam sehari selama hari kerja..

menurut gue menjadi WM sangat tdk menyenangkan,contoh kasus apabila mempunyai anak dibawah umur,WM tdk mempunya family atau ortu utk menitipkan anaknya selama tdk ada di rumah krn bekerja,mau tdk mau WM harus mempunyai seseorang Baby sister/pengasuh yg bekerja utk mengurus dan mengasuh anaknya,krn si anak setiap berinteraksi dgn pengasuhnya,mau gak mau mrk sedikit demi sedikit terpola menurut kebiasaan yg diajarkan oleh sipengasuh termasuk kebiasaan sehari-hari,dan mau tdk mau bisa jadi kontra dgn pengajaran yg diajarkan oleh sang ortu termasuk WM.

aleks75012
June 14, 2007, 20:32
kalao gue scara pribadi gue jelas pro ibu yg tinggal dirumah !

memang bisa tergantung situasi dan kondisi keluarga nya
dan tidak bisa digeneralisir pendapat gue ini

tapi buat gue ibu sebaiknya ada disamping anak2nya
paling tidak sampai umur tertentu (6-7 tahun)


kenapa ?
karena anak masih perlu orang tua (ibu) yg melindungi
bukan artinya ada apa2 dilindungin hal2 yg sepele bgt ya
tapi rasa aman secara psikologis yg sulit dicari pengganti
diajari bicara yg baik, dipeluk disaat ketakutan, di saat sakit...

kalau saat ini ibu yg kurang bisa bagi waktu dgn pekrjaan
dan di Indonesia dipercayainnya ke mana ? ke suster, ke pembokat...
lalu disaat anak mulai belajar bicara...
dan si suster or pembokat itu sibuk nonton sinetron atau gossip show,
dpat apa coba perbendaharaan katanya ? :D

memang ibu yg kerja bisa bilang "nanti kalau saya dirumah, saya yg ambil alih"
tapi selama 8 jam (atau lebih) si ibu tidak dirumah
berapa banyak informasi (burukk) yg didengar tanpa ada penjelasan
dan berapa pelukan yg anak tidak dapatkan ?
ke-absenan ibu yg bekerja, plus kurang kasih perhatian karena udah kecapekan kerja
akan dilihat anak secara psikologis sebagai penolakan cinta nya ke ibunya !

percaya deh, anak yg merasa "ditinggalkan dan tidak dicintai" mungkin gak ngomong
(apalagi yg masih bayi) tapi dia merekam semua kejadian di rumah sperti video recorder,
malah JAUH lebih sensitif dan terekam selamanya sepanjang hidup, tapi rekaman itu sayangnya di masa depan
tidak terlhat secara jelas spt lihat televisi,
tapi tertanam dibawah sadar dan melahirkan beberapa konflik dengan orang tuanya dikemudian hari....



tapi gue sangat salut thdap para ibu yg terpaksa bekerja karena HARUS
dan setelah bekerja punya waktu untuk memeluk, berbicara dgn anak2nya
kalau ini, resiko anak merasa "ditinggalkan" oleh ibunya akan sangat kecil
dan rasa "tidak dicintai" oleh ibu nya akan sangat berkurang

coqueline
June 14, 2007, 21:12
So much talk about mother's love, kok ga ada yg nyebut2 soal father's love sih? :D

Gue sih pro ibu bekerja. Daripada ibu di rumah, dan bapak kerja pontang panting menyokong keluarga, lembur hampir tiap hari, jarang liat anak sendiri, lebih baik ibu ikut bekerja, bapak kerjanya gak terlalu ngoyo, jadi dua-duanya lebih ada waktu buat anak2nya. Jadi buat anak2nya lebih fair, dapet waktu bareng ibunya, dapet waktu dengan bapaknya juga, dan ada waktunya dia belajar mandiri dan bersosialisasi dengan orang lain kalo waktunya dititipin ke daycare/nanny kalo bapak ibunya bekerja. Menurut gue lebih balanced dan fair ke semua pihak.

Tentu aja kalo bapak dan ibu sama2 kerja ngoyo berangkat jam 5 subuh pulang jam 12 malem tiap hari ya gak fair sama anaknya, pasti ngerasa ditelantarkan banget. Maksud gue dengan bapak dan ibu bekerja bukan yg kayak begini, tapi ya dua2nya kerja dalam jam kerja yg wajar.

Peran bapak dalam perkembangan anak itu juga penting banget loh. Anak perlu merasa dicintai bapaknya juga, bukan cuman ibu. Anak cowo perlu punya role model yg sesama laki2, buat anak cewe hubungan dengan bapaknya ini bakal berpengaruh gede ke hubungan dia ke cowo besarnya nanti. Bapak2 juga sebenernya banyak yg berkeinginan punya waktu luang lebih banyak buat main sama anaknya, walaupun tuntutan sosial suka bikin mereka malu ngaku.

Tapi gue respect loh sama yg SAHM, soalnya dari pengalaman gue sendiri jadi SAHM itu capek luar biasa, ditambah lagi rutinitasnya bener2 mind-numbing, paling engga buat gue. Gue justru bisa jadi ibu yg lebih baik, lebih perhatian dan lebih sabar setelah gue balik kerja, karena gue bisa menghargai the quality of the time spent sama anak. Bukannya gue manjain juga boro2 jarang ketemu kok, cuman perspektif gue sebagai ibu itu jauh lebih improve setelah gue punya space buat punya kehidupan di antara orang dewasa lainnya. Everybody needs balance in their life, termasuk ibu rumah tangga, bapak, ataupun bayi sekalipun...

Kamenrider
June 15, 2007, 12:15
kalo gw pribadi, kalo punya istri, gw berharap bisa memenuhi kebutuhan finansial keluarga sehingga istri nggak perlu jadi WM. Kalaupun jadi WM, sebaiknya karirnya tidak menuntut dedikasi terlalu penuh seperti petugas kantoran. Umpamanya punya usaha di rumah, kerja freelance, penulis buku dan lain-lain. Soalnya kalau istri banyak diatur atau dituntut kesetiaannya oleh lingkungan kerja, saya pasti merasa cemburu :D

Von^Krumm
June 17, 2007, 08:15
Thanks buat yg udah kasih masukan. A forever interesting topik for me, baik waktu jadi full time mum, maupun sekarang jadi part time buruh :haha

Dua2nya punya significant role buat masa depan anak. Yang kita (me and my husband) pentingkan/prioritaskan sih Thomas's wellbeing, family time itu penting, keberadaan mum and dad itu penting BUANGET, apa gunanya dad kerja full time mum dirumah tapi dad saking sibuknya gak bisa spending time with the family?

Biar kita kerja (2 days/week for me) but kita spending a lot of time together as family, lalu suami biar full timer dia tapi dia tetep involve 100% sama Thomas's upbringing, dari mandiin, spending time as family, reading bedtime stories sebelum anak gue tidur dll), hasilnya bisa dilihat, anak gue happy healthy and contented wee man :D

terryan
June 18, 2007, 02:21
itu mungkin jalan keluar yg terbaik... berarti elu dpt the best deal in life tuh! (sesuai emang dgn your statement, "Life's Good" :haha

tp bgmana dgn org2 tidak, alias harus memilih either this or that.. ayo, take your side, vk.. :hehe

Von^Krumm
June 18, 2007, 02:25
Gue editted yah, utk jawabin terryan diatas...

Khan udah dijelasin didepan2, ada rasa bangga tersendiri nerima gaji2 sendiri spending uang2 sendiri, lalu dg bekerja gue dapet "me time" dg punyanya kesempatan spending time with my colleagues jadi bisa having break dari mundane living jadi seorang wife. Gue jadi a better mum semenjak kerja deh. Lebih semangat, lebih positive (klo pas full time mum gue selalu memble karena gak ada stimulasinya, dan gue bukan tipe belanja2 for fun)

Some people memandang klo ibu kerja itu negligence ke anak, anak entar bisa gini gitu. Nggak tuh, gue contoh dari "product" working parents, nggak pernah do drugs, salah langkah sebab apa, ortu gue involved sama my upbringing, gue nggak merasa dilantarkan sebab as soon as beliau2 dirumah fokusnya ke kita, anak2. (altho my old man keseringan baca koran klo dah pulang kantor sih :haha ).

We do the same ke anak gue, biar gue cuman kerja part time, tapi tetep aja not easy loh juggling family dan carier esp pekerjaaan yg stress levelnya tinggi kayak punya mine. Begitu kita di rumah (or even waktu kita ngantor) number one prioritas kita gak berubah, our son, his wellbeing dan his future. Jadi kita spending quality time sama dia setiap kita ada waktu. It's not about quantity, tapi quality.

Believe you me the effects quality time lebih mengena daripada quantity time. Which one kamu pilih? Working mum tapi selalu spending quality time sama keluarga as much as she could, OR full time mum dirumah terus tapi ignoring the kids sebab terlalu sibuk dg other things (going online terus2an)?

Gue nggak berpandangan buruk ke SAHM or meninggikan my posisi loh, never, gue mah pro damai, sebab am sure banyak dedicated loving caring SAHM out there. Ini hanya a gentle reminder mengingatkan, untuk be fair and square :hehe