View Full Version : Do you know you make me cry







honey374
March 02, 2003, 15:03
Ini cerpen pertama gw,silakan beri kritik & saran.
sebelumnya gw pernah posting di KG tapi pake username allday13b.

honey374
March 02, 2003, 15:08
DO YOU KNOW YOU MAKE ME CRY


Hari ini hari ke-5 ekskul karate. Seperti biasa, Riana sahabatku di SMU ini menungguku untuk pulang bersama. Rumah kami searah.

“Tya, ceweknya nungguin tuh”, canda kakak seniorku. Memang aku ini tomboy abis dan suka berkelahi kalo diganggu cowok-cowok jahil. Waktu SMP aku diputusin cowokku karena aku berkelahi dengan musuhnya padahal untuk membelanya. Katanya dia nggak suka cewek yang sok jagoan, sebenarnya sih dia malu. Aku jadi sebel dan sampai saat ini aku nggak mau jadian sama cowok pengecut, tapi aku belum menemukannya.

Setelah beres-beres, aku langsung cabut dan nemuin Riana. “Tya, nanti kita lewat jalan depan aja ya” pinta Riana, “lho kenapa? Lewat belakang kan lebih cepat, naik angkutannya Cuma sekali doang” kataku. “nggak ah, pokoknya lewat depan, nanti aku ongkosin deh”. Tumben, kenapa ya?

Tiba-tiba aku mendengar Riana bergumam “o.o. ternyata mereka disini”. Lalu dia menundukkan kepalanya dengan wajah panik tapi terus berjalan. “Kamu kenapa sih?” tanyaku. Dia menjawab sambil menunduk “aku takut, mereka….seperti mengincarku sekarang”. “Apa?belum kapok mereka?” mereka adalah 2 cowok kelas 2 yang suka gangguin adik kelasnya. Dan kali ini Riana adalah korban ke-3 yang aku lindungi. Sebelumnya aku belum pernah mengeluarkan kata-kata apapun, biasanya hanua jurus2 jitu, tapi aku ingin coba “Hei kalian! Beraninya sama cewek, kelas satu lagi. nggak sopan, kalian….pengecut!” Wah, sepertinya mereka sangat marah. Matanya melotot melihat kearahku. “Kurang ajar!” katanya, lalu mereka mendekati kami. Aku langsung teriak, “Riana lariii!”. Akhirnya kami lari ke arah belakang. :kabur:

Ma®™
March 03, 2003, 02:01
Ini da pernah baca, d mana yah??? :eek:

Lov3-ly
March 03, 2003, 11:26
Kalo ngga salah di KG kan ??

honey374
March 03, 2003, 14:22
iya di KG. kan udah ditulis di pembuka cerpennya (Post#1)
makasih ya dibaca

Ma®™
March 04, 2003, 02:16
Hahaha gua kira dejavu :hehe

Ho oH Dibaca donkkkzzz, wont miss anythin from cerpen

shella
March 04, 2003, 06:12
iya gue juga udah pernah baca nih...

eh mar yg bener loe baca setiap postingan di cerpen?? :hmmm:

Ma®™
March 04, 2003, 09:33
Hahaha iyah lah, ga smoa sih, kalo menuruD gua ga menarik yah gua ga baca lah, bikin puyeng aja ;D

honey374
March 05, 2003, 13:31
eh di KG kan udah lumayan banyak cerpen ini, menurut loe gimana? tapi sebenarnya nih cerpen belum masuk ke inti cerita lho

honey374
March 05, 2003, 14:04
Sepertinya mereka tidak lagi mengejar. Kami berhenti, Riana membungkuk dengan napas terengah-engah.

Belum pernah aku dikejar-kejar seperti ini. Gawat! Apa yang akan mereka lakukan besok? Akan diapakan aku nanti? Aku jadi tidak tenang. Apa yang harus kulakukan? Aku terus mencari cara untuk…. Eh, mungkin nggak ya aku pura-pura jadi baik bahkan jadi teman mereka dan diam-diam aku hilangkan kebiasaan buruk mereka atau kububarkan mereka?

Keesokannya…

Pada jam istirahat, salah satu cowok badung itu sedang duduk dikantin. Aku temui dia. Aku belum menceritakan rencanaku ini bahkan pada Riana.

“Hei, mana temanmu?” aku tanya dia yang sedang menikmati mie pangsit dan dia tersedak mendengar ucapanku tadi. Dia langsung menoleh ke belakang, ke arahku.

“Aku tidak salah dengar?”tanyanya. “Tidak” jawabku. Lalu dia tertawa. Aku melihat sekeliling kantin, hampir semua yang ada dikantin melihat kami dengan heran.

“Nanti pulang sekolah aku tunggu kalian ber-2 di gerbang depan” pesanku singkat. Aku langsung meninggalkannya. Sambil berjalan menuju kelas, aku mengingat-ingat siapa saja tadi yang melihatku di kantin. Kebanyakan sih kelas 1, ada juga sih yang kelas 3 tapi mereka tidak menghiraukan.

Saat mengerjakan tugas di kelas, aku mendengar seperti ada yang nggosip di deretan bangku belakang. Aku kira mereka sedang berdiskusi mengerjakan tugas, ternyata tidak. Aku menoleh sedikit, siapa sih mereka. Oops! Mereka melihatku. Apa mereka sedang gosipin aku? Sepertinya mereka yang tadi ada di kantin.

“Oh ya Riana, nanti kamu pulang duluan aja ya. Aku ada urusan sedikit” pintaku. “Lho, urusan apa? tumben. Tapi nanti kalo ada cowok2 itu lagi gimana?”. “Kamu lewat pintu belakang aja, aku jamin aman.”

honey374
March 10, 2003, 13:05
Lalu bel pulang berbunyi. Aku jadi deg-degan. Aku lihat mereka sudah menunggu. Setelah berpisah dengan Riana, aku langsung menuju mereka di gerbang depan. Stop! Apa aku serius? Apa yang akan aku katakana nanti? Aku kan tidak pandai berbicara. Aku lihat mereka diam-diam saja di sana. Mereka tidak mengganggu siapapun yang lewat! Apa sih yang sedang mereka lakukan. Kujadikan rencanaku. Aku segera kesana. Aku sampai di belakang mereka persis. Sepertinya mereka sedang mebicarakan sesuatu. Sebelum menegur mereka, aku lirik kanan-kiriku. Masih banyak murid-murid yang lewat. Masa bodo lah.

“Hai cowok!” aku tegur mereka. Mereka ber-2 langsung berbalik badan. Aku sempat kaget. Kami mulai berbicara. Pertama-tama mereka agak menakutiku lalu kami berkenalan dan lama-lama kami mengobrol! Mereka tidak mengusik siapapun bahkan kami mengobrol seperti teman biasa tapi kata-kata mereka agak sedikit kasar sih. Nama mereka Sakti dan Doni. Tak terasa 20 menit berlalu. Aku harus mengakhiri pembicaraan. Sekolah mulai sepi. “Eh, aku ada permintaan” kataku. “Permintaan?” Doni mengulangi. “Ya. Aku minta kalian jangan ganggu teman-temanku lagi”. “Boleh saja, asal kau mau menemui kami lagi besok disini” jawabnya. Lagi? Mereka mau apa sih? Apa sebenarnya yang mereka incar itu aku? Nggak mungkin ah. “OK. Sampai ketemu besok”. Aku langsung pergi meninggalkan mereka.

Setelah berjalan lumayan jauh, aku mendengar mereka bersorak ‘berhasil’. Iih, aneh. Apa yang mereka rencanakan? Tapi tadi mereka baik-baik aja kok. Memang sih bicaranya agak kasar, namanya juga cowok, untung aku nggak.

honey374
March 10, 2003, 13:07
Ini hari ke-3 setelah berkenalan dengan cowok2 itu, tapi pertemuan hari ini bukan pertemuan yang ke-3. Dua hari kemarin kami tak sengaja bertemu di kantin. Kami saling menyapa dan sedikit mengobrol. Tapi lama-lama terasa tak enak karena banyak gossip macam-macam tersebar. Ada yang mengira aku bersekongkol dengan mereka untuk merencanakan sesuatu yang tidak-tidak, ada yang mengira aku diguna-guna bahkan dikira aku jadian sama salah satu diantara mereka. Banyak anak kelas satu yang memandangku aneh. Padahal aku kan hanya berteman dengan mereka, toh akhirnya mereka tidak diganggu lagi. Mereka bukan saja memandangku dengan aneh bahkan takut. Sampai-sampai Riana pun sepertinya juga begitu, dia tidak banyak bicara.

Sepulang sekolah, Riana mengajakku ke depan mading sekolah, sepertinya ada yang ingin dibicarakan. Kami berhenti persis di depan selembar karton manila yang ditempel di sebelah mading. Di atasnya banyak tulisan tangan. “Coba baca!” Riana menyuruhku. Aku baca. Tulisannya macam-macam, tak hanya satu orang yang menulisnya.

-Apa jadinya kalau karateka masuk ke dalam geng pengganggu? –NN.1-1
- Kita bisa digangguin habis-habisan! –Jl.1-1
- Tya lagi cari pengalaman. –Js. 2-1
- PENGALAMAN PAHIT! –MQ. 1-3
- Kita bukan saja dipalak tapi dihajar –QQ. 1-4
- Siapa lagi dong yang belain kita? –JQ.1-2
- Mereka merencanakan sesuatu yang bahaya –Sn. 1-2
- UUU takuuuut. –Nt. 1-2
- Mereka hanya jadian. –Lilly-3-2
- Tya bodoh! –R.1-2

Dan masih banyak lagi.

“Apa-apaan ini?” aku kesal.

“Apa sih yang kamu lakukan sama mereka Tya? Kamu dihipnotis? Mereka itu laki-laki. Mereka nakal!” Riana memperingatiku.

honey374
March 12, 2003, 14:31
“Terima kasih. Baru kamu yang bilang aku perempuan. Tapi, sungguh, aku dan mereka hanya teman, nggak ada apa-apa, kami nggak rencanakan apa-apa.” jelasku.

“Mereka merokok, kalo kamu ketularan gimana? trus gimana kalo mereka ternyata pake narkoba? Masa depan kamu bisa hancur”.

“Kamu jangan terlalu negatif thinking gitu dong. Dengar, aku sedang menjalankan rencanaku. Aku hanya bermaksud menghentikan kebiasaan buruk mereka, mengganggu kita. Makanya aku butuh support kamu, supaya nggak terpengaruh mereka sama sekali”.

“Tya, kamu nggak sadar? Kamu nggak lihat pandangan anak-anak?mereka jadi takut sama kamu dan otomatis aku yang selalu bersamamu kena juga.”

“Apa? aku pikir kamu ngerti perasaanku. Terserah kamu pilih mereka atau aku!”

“Enak aja! Harusnya aku yang ngomong begitu! Kamu pilih cowok-cowok itu atau aku!!! Dasar cowok!”

Riana langsung pergi. Kenapa jadi begini? Teganya Riana bicara seperti itu. Siapa sebenarnya yang salah? Dadaku sakit. Aku…seperti ingin menangis. Aku langsung duduk di bangku panjang di depan mading. Aku tertunduk. Tapi, mataku belum juga berair. Ah, aku tidak boleh menangis. Aku harus tegar.

honey374
March 15, 2003, 13:58
“Kenapa kamu tidak temui kami digerbang?” Sakti dan Doni menghampiriku. Aku tak berkata apa-apa. Aku hanya menunjuk ke arah tulisan-tulisan di karton itu. Setelah membacanya, mereka seperti mendiskusikan sesuatu. Kemudian Sakti membungkukkan badan ke arahku.

“Sebenarnya kami mengincarmu, bukan Riana atau siapa pun.” Perkataanya membuatku kaget.

“Kenapa kalian tidak langsung menggangguku? Kenapa teman-temanku yang jadi sasaran? Apa itu hanya untuk memancingku?” tanyaku.

“Yap.” Jaawabnya singkat.

“Kalau aku tidak berteman dengan kalian lagi, apa kalian akan kembali mengganggu teman-temanku? Langsung saja katakana apa yang kalian inginkan. Tidak usah ganggu teman-temanku.”

honey374
March 18, 2003, 14:43
“Kami tidak ingin macam-macam. Kami hanya ingin kau berpamitan kepada ketua ekskul karate sebelum pulang ekskul. Jangan langsung cabut.”

“Hanya itu?”

“Ya”

“Hanya itu?”

“Ya”

“Tidak ada yang lain?”

“Tidak”

“Kalian ngerjain aku ya? Kenapa tidak langsung bilang dari dulu? Kenapa aku harus menghajar kalian segala? Kalian membuatku kesal! Sangat kesal! Apa perlu kuhajar kalian lagi sekarang?” kataku kesal.

“Tidak-tidak. Kami juga ingin mengetes kemampuanmu. Eh… kami juga mau minta maaf kalau kami telah membuat teman-temanmu beranggapan salah”.

“Tentu”

“Kami juga tidak mau dianggap pengganggu selamanya karena sebenarnya kami tidak begitu. Jadi tolong lepas karton itu dan ganti dengan yang ini”.

Dia memberikan selembar kertas HVS yang bertuliskan ‘Si jagoan Tya telah berhasil menjinakkan cowok-cowok pengganggu. Buktikan dan berterimakasihlah padanya’.

“Hah? Jagoan? Berterimakasih? Ini terlalu berlebihan.” Kataku geli. Setelah kutempel, aku robek kartonnya. Syukurlah, semoga semua ini berakhir. Mereka tidak nakal, hanya iseng, tapi kenapa aku harus berpamitan kepada ketua ekskul?