View Full Version : [Autokritik] Mecaru dengan korban sapi, bolehkah?
DenBagoes
March 28, 2007, 07:31
Mecaru atau korban suci dalam agama Hindu yang menggunakan korban sapi apakah diperbolehkan?
Pertanyaan saya dilandasi atas pandangan Hindu bahwa sapi adalah hewan suci. Kerananya daging sapi tidak boleh dimakan atau menjadi pantangan utama bagi orang Hindu. Hanya susu sapi yang boleh dikonsumsi. Tetapi kenyataanya dalam upacara-upacara besar pecaruan dilakukan korban sapi atau kerbau.
Di India, sapi/lembu hanya boleh diternakkan untuk keperluan penghasil susu. Sapi pun sangat dimuliakan disana. Bahkan pernah saya baca di sebuah majalah, jika seseorang menabrak sapi di India akan berakibat fatal bagi si penabrak, jauh lebih fatal dari menabrak anak kecil misalnya.
Saya minta pendapat rekan-rekan, thanks....
klikdoang
March 31, 2007, 13:57
tetap tidak diperbolehkan, sebab merekalah kendaraan vishnu.
sakradeva
April 02, 2007, 00:51
perasaan wahana Dewa Vishnu itu Garuda putra Winata deh......
klo masalah Mecaru kayaknya ga tepat deh disebut Korban Suci ( jgn minjam ato ikut2an make istilah sodara qta yg berAgama lain dong.... )
mecaru adalah suatu upacara untuk menyeimbangkan makrokosmos dan mikrokosmos ( seperti menetralisir unsur2 negatif di alam ini, mgkin klo di Bali qta kenal istilah Nyomiang Bhuta bukan ngulah Bhuta).
klo pemakaian sarana upacara berupa Sapi/Kerbau ataupun Binatang lainnya qta kembali pada paham/ aliran yang di anut masyarakat Hindu di suatu tempat.
Hindu di Bali menganut ajaran Siwa Siddanta (malah dulu banyak paham/sekte yang ada seperti Indra, Vayu, Pasupata, Gana, Surya, Bhairawa dll ) tentu akan lain pelaksanaan ritual agamanya di India ( di India pun banyak terdapat aliran, Shiva Waisnava, Hare Khrisna dll ).
jadi qta ga bisa men judge pelaksanaan suatu ritual yg ini salah yg itu benar.
mgkin teman2 yg lain punya pendapta lain ayooo.......
lengkonk
April 11, 2007, 16:07
memang seharusna caru sapi itu tidak dilakukan
mungkin perlu pembahasan lebih lanjut di PHDI u/ memberikan kebijakan yg sesuai dg weda itu sendiri
DenBagoes
April 12, 2007, 05:03
memang seharusna caru sapi itu tidak dilakukan
mungkin perlu pembahasan lebih lanjut di PHDI u/ memberikan kebijakan yg sesuai dg weda itu sendiri
Setuju. Kok sepertinya kontradiktif sekali dengan isi Weda. Dalam salah satu kitab suci Weda disebutkan; barang siapa yang berani mempersembahkan sapi sebagai korban maka dosa yang akan diterimanya sebanyak kelipatan dari bilangan bulu sapi itu. Kalau pecaruan agung yang menggunakan sapi lantas siapa yang menerima dosanya, pemuputkah atau panityakah atau masyaraktkah? Kalau masyarakat maka saya pun terwakili padahal dalam hati tidak setuju untuk mengorbankan sapi.
ignpluhur
April 15, 2007, 06:29
Setuju. Kok sepertinya kontradiktif sekali dengan isi Weda. Dalam salah satu kitab suci Weda disebutkan; barang siapa yang berani mempersembahkan sapi sebagai korban maka dosa yang akan diterimanya sebanyak kelipatan dari bilangan bulu sapi itu. Kalau pecaruan agung yang menggunakan sapi lantas siapa yang menerima dosanya, pemuputkah atau panityakah atau masyaraktkah? Kalau masyarakat maka saya pun terwakili padahal dalam hati tidak setuju untuk mengorbankan sapi.
Pengetahuan d sini masih sedikit nih:-) Tapi penggunaan sapi sendiri dalam suatu upacara tdk dapat d lepaskan dari desa, kala, patra. Dengan kata lain, mkn saja d suatu tempat ada yg mengharuskan menggunakan sapi(contohnya desa banyuning d buleleng, tidak mengikuti nyepi bersama karena ada nyepi desa). mkn bisa d tanyakan langsung dengan pedanda gunung ya?? pedanda gunung ada fsna tu, coba d ajak ke WG, kan bagus.
lengkonk
April 16, 2007, 16:41
pedanda gunung punya fs....
brapaan nomorna...bagi dunkKk!!!
ignpluhur
April 16, 2007, 17:35
pedanda gunung punya fs....
brapaan nomorna...bagi dunkKk!!!
liat aja d fs ane, luhurkorsika@yahoo.com
DenBagoes
April 18, 2007, 06:47
Katanya fsna Pedanda Gunung, kok yg nongol einte funya email, einte mau tifu ana rufanya :kakaka:
ignpluhur
April 18, 2007, 07:03
Katanya fsna Pedanda Gunung, kok yg nongol einte funya email, einte mau tifu ana rufanya :kakaka:
la carina dari fs ane dolo, liat d friends. email beliau gak tau si. ngapain ane mo tipu ente. lagian d atas kan dah ane bilank, liat d fs ane (liat d "friends" fs ane). gt bos ;))
sakradeva
April 21, 2007, 03:33
Setuju. Kok sepertinya kontradiktif sekali dengan isi Weda. Dalam salah satu kitab suci Weda disebutkan; barang siapa yang berani mempersembahkan sapi sebagai korban maka dosa yang akan diterimanya sebanyak kelipatan dari bilangan bulu sapi itu. Kalau pecaruan agung yang menggunakan sapi lantas siapa yang menerima dosanya, pemuputkah atau panityakah atau masyaraktkah? Kalau masyarakat maka saya pun terwakili padahal dalam hati tidak setuju untuk mengorbankan sapi.
isi weda yang mana Bli... ?
jgn baca sepenggal2 trus ditafsirkan begitu saja dunk.
sebelum membaca Weda kita disarankan baca Itihasa ( Mahabharata&Ramayana) dan Purana.
Pasti dah baca Purana kan? dr 18 Mahapurana dan beberapa Upapurana ,satu Purana ma Purana yg lain isinya banyak yg kontradiktif (lebih tepatnya inkosisten, wuiih keren banget ngomongnya) tapi setelah qta tau klo scr mendasar qta tau sifat (orientasi penekanan dikaitkan dengan Brahma Vishnu Shiva) Purana ada tiga Jenis Rajasika (memuliakan Brahma ) Sattwika (memuliakan Vishnu) dan Rajasika (memuliakan Shiva) didalamnya juga dijelaskan berbagai jalan untuk menuju Penyatuan dengan Tuhan sesuai dengan Orientasi dan dasar yg dianut ( apakah Rajasika,Sattwika atau Rajasika). satu ma lain terlihat bertentangan tapi esensinya sama yaitu cara menuju Brahman (Tuhan).
Semua Purana mengacu pada Weda... isi Purana maupun Itihasa adalah penjabaran dari Weda.
Weda memberikan berbagai pengetahuan dan cara untuk penyatuan dengan Brahman sesuai Moda (sifat/ kecendrungan) masing2 individu, Weda tidak seperti Kitab Agama lain yang merujuk pada keseragaman praktek keagamaan Harus begini harus begitu.....
Hindu di Bali tidak harus sama dalam praktek keagamaan dengan di India, kalimantan, jawa, Amerika ... jadi kuranglah Bijak jika qta berkiblat pada suatu praktek keagamaan di suatu tempat ( meskipun itu India ).
lengkonk
April 21, 2007, 17:12
ignpluhur: OK dee fsna
skalian ane add yaa....
lengkonk_boy@hotmail.com
(koo jadi tuker2an fs) hehehe...
ignpluhur
April 21, 2007, 17:36
ignpluhur: OK dee fsna
skalian ane add yaa....
lengkonk_boy@hotmail.com
(koo jadi tuker2an fs) hehehe...
OOT
hohoho, sudah ane add. Gak nyangka bli lenkonk ikut padmajaya, jangan2 dah master neh :D
lengkonk
April 22, 2007, 14:56
ente anak padmajaya ?? ane cuman pelna ikut skali doank...itupun cuman ikut2tan aja
setelah ikut, tetep aja bodo...hehehe...
btt...
klu bisa siihh...setiap umat yg ngaku hindu u/ ngga konsum daging sapi....
lagian sapi kan maal....mending ikan laot...dipanggang truz diisi sambel matah plus arak bali....
pasti pas tuh!!wakakakakakak
DenBagoes
April 23, 2007, 05:24
isi weda yang mana Bli... ?
jgn baca sepenggal2 trus ditafsirkan begitu saja dunk.
sebelum membaca Weda kita disarankan baca Itihasa ( Mahabharata&Ramayana) dan Purana.
Pasti dah baca Purana kan? dr 18 Mahapurana dan beberapa Upapurana ,satu Purana ma Purana yg lain isinya banyak yg kontradiktif (lebih tepatnya inkosisten, wuiih keren banget ngomongnya) tapi setelah qta tau klo scr mendasar qta tau sifat (orientasi penekanan dikaitkan dengan Brahma Vishnu Shiva) Purana ada tiga Jenis Rajasika (memuliakan Brahma ) Sattwika (memuliakan Vishnu) dan Rajasika (memuliakan Shiva) didalamnya juga dijelaskan berbagai jalan untuk menuju Penyatuan dengan Tuhan sesuai dengan Orientasi dan dasar yg dianut ( apakah Rajasika,Sattwika atau Rajasika). satu ma lain terlihat bertentangan tapi esensinya sama yaitu cara menuju Brahman (Tuhan).
Semua Purana mengacu pada Weda... isi Purana maupun Itihasa adalah penjabaran dari Weda.
Weda memberikan berbagai pengetahuan dan cara untuk penyatuan dengan Brahman sesuai Moda (sifat/ kecendrungan) masing2 individu, Weda tidak seperti Kitab Agama lain yang merujuk pada keseragaman praktek keagamaan Harus begini harus begitu.....
Hindu di Bali tidak harus sama dalam praktek keagamaan dengan di India, kalimantan, jawa, Amerika ... jadi kuranglah Bijak jika qta berkiblat pada suatu praktek keagamaan di suatu tempat ( meskipun itu India ).
Wah keren abiz boss, jadi mendapat pencerahan. Kalau mengacu pada lontar tentulah pecaruan dg menggunakan sapi ada acuannya dan bisa dipertanggungjawabkan. Ini memang sangat sulit untuk menjabarkan, terutama kalau sdh terkait dengan adat dan drsta. Nah lo .... Tp jujur aja kalau baca forum-forum Hindu yg ada, mereka (Hindu India) mempertanyakan apakak Balinese Hindu adalah Hindu. Pertenyaan mereka terutama disebabkan oleh kurangnya penghargaan orang Hindu Bali terhadap hewan yang namanya sapi. Geeetu deh ..
ignpluhur
April 23, 2007, 06:52
Wah keren abiz boss, jadi mendapat pencerahan. Kalau mengacu pada lontar tentulah pecaruan dg menggunakan sapi ada acuannya dan bisa dipertanggungjawabkan. Ini memang sangat sulit untuk menjabarkan, terutama kalau sdh terkait dengan adat dan drsta. Nah lo .... Tp jujur aja kalau baca forum-forum Hindu yg ada, mereka (Hindu India) mempertanyakan apakak Balinese Hindu adalah Hindu. Pertenyaan mereka terutama disebabkan oleh kurangnya penghargaan orang Hindu Bali terhadap hewan yang namanya sapi. Geeetu deh ..
Biarlah yg di atas menilai, yang menentukan itu kan yang diatas, kalo kita membandingkan pasti deh dipengaruhi rasa, ada yg lebih baik dan kurang baik walaupun mkn saja smuana itu baik:d
sakradeva
April 25, 2007, 03:35
correct :
Bila Orang Hindu Bali dikatakan kurang penghargaan terhadap hewan ( dlm ini Sapi ) kyknya krng tepat......
Bukankah di Bali kita melaksanakan rerainan : Tumpek Andang ( Binatang terutama Hewan Peliharaan ) Tumpek Uduh ( Tumbuh2an ) apa itu bukan suatu penghargaan? ..... mungkin orang akan berkilah bahwa itu adalah local genius Org Bali tapi yg jelas itu dijiwai dengan ajaran Hindu ( kitab2 suci, sprti Purana menyebutkan beberapa Hewan dan Tumbuhan yg disucikan )
lagi pula Hindu di Bali akrab dengan konsep Tri Hita Karana ( keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan ( Parahyangan ) Manusia ( Pawongan ) dan Alam/Lingkungan ( Palemahan ).
jadi jangan mengukur penghormatan atau Suci hanya dari kasus makan atau tidak makan.
kasus : orang Bali ga makan daging Ular Anjing ( meski elakangan segelintir orang doyan mengkomsumsi 2 jenis daging ini.... he he ) apakah itu berarti orang Bali menghormati /menyucikan atau pemuja Ular dan Anjing ?
DenBagoes
April 26, 2007, 03:35
Tetapi yang bikin saya heran dan gak masuk logika sama sekali adalah kenyataan bahwa seorang yang sudah menjalani agem-agem kepemangkuan, kalau dia makan daging sapi dia akan merasakan sakit kepala yang hebat. Padahal sebelimnya dia tidak pernah bermasalah dengan daging sapi sebelum mejalani agem-agem kepemangkuan. Saya pernah menanyakan ke beberapa orang pemangku dan mendapat jawaban yang nyaris sama.
sakradeva
April 27, 2007, 02:01
hmmmmm.......... ya juga ya kenapa bisa gitu? di desa saya juga da seorang Pemangku bilang gt tp anehnya klo dia metajen ( meski mangku dia masih suka meTajen he he.... ) dia ga sakit kepala (lebih anaeh kan?) .... walo di dalam Gegelaran Kepemangkuan ( kewajiban dan Larangan ) disebutkan dilarang Berjudi.... etc. include juga ga makan daging sapi dan Babi.....
Di Bali dalam praktek keagamaan sangat unik.... sugessti dan mistis membaur jadi satu jadi klo qta pake logika (versi ilmiah Barat ) tuk menganalisa kejadian atau fenomena yg ada wah.............. bakalan pusing tujuh keliling.
banyak kejadian diluar logika ( irrasional) dlm kehidupan ini dan Irrasional bukan berarti buruk ato salah tapi cuma belum bisa dijelaskan secara logika.
Fenomena Mangku yg sakit kepala karena makan daging sapi hanya salah satu dr sekian banyak fenomena contoh lain : kejadian seseorang yg dlm kondisi kerauhan (trance) menjadi sadar setelah diperciki tirtha...... ( coba ja analisa secara logika... bingung juga kan )
DenBagoes
April 27, 2007, 05:32
Kalau pemangku metajen .... wah lucu juga, kurang tuh nyaet indriya-nya. Kan pemangku sudah berbeda dengan orang kebanyakan. Dia sudah menyatakan diri sebagai pembantu sesuhunan/dewa yang dilayaninya. Mungkin perlu dilakukan penataran untuk para pemangku. Bila perlu sebagai narasumbernya Ida Pedanda Gde Gunung. He he he ...
Yup setuju, diluar kemapuan kita berfikir, di Bali memang banyak kejadian supranatural dan akan berlangsung terus. Salah satunya yang baru saja mengagetkan kita semua, fenomena colek pamor. Sampai sekarang belum ada yang bisa menangkap apa maknanya.
sakradeva
April 30, 2007, 02:39
PHDI dulu dah pernah bikin program Penataran buat mangku.... mngkin skrg masih berlanjut ga ya.... ???
namun kyknya bukan masalah dilakukan penataran/ ga..... tp kembali juga ke individualnya.. mereka yg sudah jadi Pemangku dah tau betul Aturannya tp ttp aja dilanggar...
mungkin klo qta tanya ke oknum bersangkutan..... dia akan bernyanyi
MANGKU JUGA MANUSIA..................... he he just kidding
Siva_Devotee
September 02, 2008, 03:59
Fenomena colek pamor apaan sih??? gw penasaran nihh??
Gw mau nanya dikit...
emangnya weda memperbolehkan sembahyang(upacara2) dengan mengorbankan hewan?
mohon pencerahannya...
vBulletin® v3.8.2, Copyright ©2000-2013, Jelsoft Enterprises Ltd.