Inith
November 11, 2006, 02:10
Anggapan mengemis hanya dilakoni orang miskin bisa berubah bila bertemu
kakek yang satu ini. Penampilannya memang memelas, namanya saja orang sudah
tua. Umurnya 70 tahun tentu kulit sudah kerut merut. Sudah begitu bajunya
compang-camping pula.
Dan di siang yang terik itu, kakek itu menggelesot saja di depan teater
Senen, Jakarta Pusat. Setiap ada orang lewat, ia mengulurkan tangannya. Hati
siapa yang tidak iba. Kasihan orang sudah setua itu pasti sudah tidak bisa
bekerja, mungkin begitulah pikir orang yang mengangsurkan uang kepadanya.
Tapi jangan salah. Kakek tua itu adalah Cahyo. Ia berasal dari Madura, Jawa
Timur. Sudah menjadikan pengemis sebagai profesi utama sejak dua tahun lalu.
Dan pendapatannya dari pekerjaan tidak terhormat itu ternyata besar. Bahkan
mengalahkan pegawai kantoran.
"Dalam setengah hari saya bisa mendapatkan Rp120 ribu. Bahkan dalam sehari
bisa mencapai Rp200 ribu. Karena sekarang jarang ada orang memberikan Rp
200, minimal biasanya Rp 500," cetus kakek ini.
Cahyo awalnya bekerja menjadi pemulung dan tinggal bersama anaknya di
Pademangan. Namun karena sudah tua, pria asal Madura itu tidak kuat lagi
melakoni kerja pemulung yang berat. Ia kemudian beralih profesi menjadi
pengemis di sekitar Senen. Kakek ini lalu mengontrak rumah petak di Kampung
Gaplok, Senen. Biaya sewanya Rp 150 ribu per bulan termasuk listrik. Di sini
ia tinggal bersama dua orang cucunya yang juga menjadi peminta-minta. "Iya
mau bagaimana lagi? Itung-itung ada pemasukan tambahan," kata Cahyo soal
cucunya.
Cucu Cahyo biasanya mangkal di Perempatan ITC Cempaka Putih. Mereka dibawa
orang yang lebih dewasa sehingga penghasilan pun dibagi dua. Dalam sehari
rata-rata cucu Cahyo membawa pulang Rp 70-90 ribu. Banyak uang tidak membuat
Cahyo lupa menabung. Uang itu biasanya kemudian dipakai untuk ongkos pulang
kampung. Bila pulang kampung, kakek ini memegang Rp 3 juta untuk biaya hidup
selama seminggu di sana.
Selain untuk ongkos, sisa tabungan dibelikan sapi. Kini setelah dua tahun
bekerja di Jakarta, Cahyo sudah bisa memiliki 8 ekor sapi. Setiap pulang
kampung, kakek ini membeli 3-4 ekor sapi.
Untuk merawat binatang ternak itu, si kakek membayar orang. "Setelah itu
nanti hasilnya dibagi dua dengan yang merawat. Itung-itung untuk bagi-bagi
rezeki," katanya santai. Dengan penghasilan yang lumayan itu, jangan heran
bila Cahyo betah menjadi pengemis. Ia tidak kapok melakoni profesi tidak
terhormat itu meski sudah pernah ditangkap trantib.
Penangkapan itu terjadi beberapa bulan lalu. Saat itu Cahyo sedang berada di
depan bioskop Senen. Hari itu si kakek tidak membayar uang keamanan. Maka ia
pun dilaporkan dan ditangkap trantib. Untuk bisa bebas lagi, Cahyo terpaksa
harus membayar Rp 600 ribu. Kini Cahyo lebih berhati-hati. Ia telah
menemukan trik agar tidak tertangkap lagi. Setiap hari ia tidak lupa
membayar uang keamanan pada preman Senen. Hasilnya hingga kini tidak pernah
ada masalah lagi saat terjadi razia.
Keberadaan pengemis seperti Cahyo ini diketahui benar oleh Dinas
Kesejahteraan Sosial (Dinas Kesos) DKI Jakarta. Dalam razia, instansi yang
dipimpin Syarif Mustofa ini sering menemukan bukti pengemis bukan berasal
dari orang miskin.
Syarif Mustofa pun lantas menyebut para pengemis sebagai pemalas. Mereka
pura-pura menjadi gelandangan di Jakarta, padahal di kampungnya mereka cukup
berada. "Saya membuktikan sendiri bahwa mereka orang berada, karena saya
pernah mengantar mereka sampai ke depan rumah?" kata Syarif.
Berdasarkan realitas itu, menurut Syarif, solusi paling tepat mengurangi
jumlah gepeng di Jakarta adalah dengan tidak menaruh belas kasihan pada
kelompok ini. Warga Jakarta diimbau tidak memberikan uang kepada para
pengemis di jalanan. Uang sebaiknya disumbangkan pada badan amal yang bisa
dipertanggungjawabkan....
kakek yang satu ini. Penampilannya memang memelas, namanya saja orang sudah
tua. Umurnya 70 tahun tentu kulit sudah kerut merut. Sudah begitu bajunya
compang-camping pula.
Dan di siang yang terik itu, kakek itu menggelesot saja di depan teater
Senen, Jakarta Pusat. Setiap ada orang lewat, ia mengulurkan tangannya. Hati
siapa yang tidak iba. Kasihan orang sudah setua itu pasti sudah tidak bisa
bekerja, mungkin begitulah pikir orang yang mengangsurkan uang kepadanya.
Tapi jangan salah. Kakek tua itu adalah Cahyo. Ia berasal dari Madura, Jawa
Timur. Sudah menjadikan pengemis sebagai profesi utama sejak dua tahun lalu.
Dan pendapatannya dari pekerjaan tidak terhormat itu ternyata besar. Bahkan
mengalahkan pegawai kantoran.
"Dalam setengah hari saya bisa mendapatkan Rp120 ribu. Bahkan dalam sehari
bisa mencapai Rp200 ribu. Karena sekarang jarang ada orang memberikan Rp
200, minimal biasanya Rp 500," cetus kakek ini.
Cahyo awalnya bekerja menjadi pemulung dan tinggal bersama anaknya di
Pademangan. Namun karena sudah tua, pria asal Madura itu tidak kuat lagi
melakoni kerja pemulung yang berat. Ia kemudian beralih profesi menjadi
pengemis di sekitar Senen. Kakek ini lalu mengontrak rumah petak di Kampung
Gaplok, Senen. Biaya sewanya Rp 150 ribu per bulan termasuk listrik. Di sini
ia tinggal bersama dua orang cucunya yang juga menjadi peminta-minta. "Iya
mau bagaimana lagi? Itung-itung ada pemasukan tambahan," kata Cahyo soal
cucunya.
Cucu Cahyo biasanya mangkal di Perempatan ITC Cempaka Putih. Mereka dibawa
orang yang lebih dewasa sehingga penghasilan pun dibagi dua. Dalam sehari
rata-rata cucu Cahyo membawa pulang Rp 70-90 ribu. Banyak uang tidak membuat
Cahyo lupa menabung. Uang itu biasanya kemudian dipakai untuk ongkos pulang
kampung. Bila pulang kampung, kakek ini memegang Rp 3 juta untuk biaya hidup
selama seminggu di sana.
Selain untuk ongkos, sisa tabungan dibelikan sapi. Kini setelah dua tahun
bekerja di Jakarta, Cahyo sudah bisa memiliki 8 ekor sapi. Setiap pulang
kampung, kakek ini membeli 3-4 ekor sapi.
Untuk merawat binatang ternak itu, si kakek membayar orang. "Setelah itu
nanti hasilnya dibagi dua dengan yang merawat. Itung-itung untuk bagi-bagi
rezeki," katanya santai. Dengan penghasilan yang lumayan itu, jangan heran
bila Cahyo betah menjadi pengemis. Ia tidak kapok melakoni profesi tidak
terhormat itu meski sudah pernah ditangkap trantib.
Penangkapan itu terjadi beberapa bulan lalu. Saat itu Cahyo sedang berada di
depan bioskop Senen. Hari itu si kakek tidak membayar uang keamanan. Maka ia
pun dilaporkan dan ditangkap trantib. Untuk bisa bebas lagi, Cahyo terpaksa
harus membayar Rp 600 ribu. Kini Cahyo lebih berhati-hati. Ia telah
menemukan trik agar tidak tertangkap lagi. Setiap hari ia tidak lupa
membayar uang keamanan pada preman Senen. Hasilnya hingga kini tidak pernah
ada masalah lagi saat terjadi razia.
Keberadaan pengemis seperti Cahyo ini diketahui benar oleh Dinas
Kesejahteraan Sosial (Dinas Kesos) DKI Jakarta. Dalam razia, instansi yang
dipimpin Syarif Mustofa ini sering menemukan bukti pengemis bukan berasal
dari orang miskin.
Syarif Mustofa pun lantas menyebut para pengemis sebagai pemalas. Mereka
pura-pura menjadi gelandangan di Jakarta, padahal di kampungnya mereka cukup
berada. "Saya membuktikan sendiri bahwa mereka orang berada, karena saya
pernah mengantar mereka sampai ke depan rumah?" kata Syarif.
Berdasarkan realitas itu, menurut Syarif, solusi paling tepat mengurangi
jumlah gepeng di Jakarta adalah dengan tidak menaruh belas kasihan pada
kelompok ini. Warga Jakarta diimbau tidak memberikan uang kepada para
pengemis di jalanan. Uang sebaiknya disumbangkan pada badan amal yang bisa
dipertanggungjawabkan....