View Full Version : Tulis Disini Berita Dukacita Tokoh/Seleb Dalam dan Luar Negeri







aleks75012
June 12, 2003, 14:30
Bagi yg menggeluti ilmu-ilmu sosial (sosiologi, hukum, psikologi dll) pasti mengenal karya-karyanya.

Turut berduka cita.





Wafatnya Selo Sumardjan, Kehilangan Besar Dunia Ilmu Sosial


Jakarta, Rabu

Wafatnya Sosiolog pertama di Indonesia Prof Dr Selo Sumardjan bukan saja merupakan kehilangan besar bagi dunia sosiologi tetapi juga kehilangan besar dunia ilmu-ilmu sosial Indonesia.

Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia (UI) Dr Gumilar Somantri dihubungi saat menuju ke Rumah Duka Jl Kebumen 6, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (11/6) sore, mengatakan, jasa Selo Sumardjan begitu besar bagi sosiologi dan ilmu-ilmu sosial di Indonesia. "Beliau senantiasa mengabdikan dirinya kepada bangsa dan negara, melalui berbagai ide cemerlang yang telah banyak direalisasikan, juga tulisan-tulisannya serta kuliah-kuliahnya," katanya.

Di saat-saat terakhirnya di usia 88 tahun, Selo Sumardjan masih sangat aktif bertemu muka dengan para generasi muda akademisi dalam serangkaian diskusi yang membahas berbagai masalah kebangsaan dan kepedulian terhadap situasi bangsa saat ini.

Kepada FISIP UI, lanjut Gumilar, Selo juga berjasa telah menjadi inisiator pendiri Fakultas Ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan (FIPK) UI dari yang dahulunya menjadi satu dengan Fakultas Hukum (FH) UI. FIPK kemudian menjadi Fakultas Ilmu Sosial (FIS) yang menjadi cikal bakal FISIP UI sekarang.

Selo Sumardjan yang pernah menjadi Sekretaris Sri Sultan Hamengku Buwono IX ketika menjabat Wakil Presiden. Kemudian Selo menjadi Dekan pertama FIPK. "Beliau aktif mengembangkan ilmu-ilmu sosial bukan saja dalam hal mengembangkan ilmu pengetahuan sosial itu sendiri tetapi juga mengembangkan komunitas ilmuwan sosial di Indonesia, seperti
himpunan ilmuwan sosial Indonesia dan Yayasan Ilmu Sosial (YIS)," katanya.

Selo yang merupakan sesepuh Ikatan Sosiologi Indonesia (ISI), di saat-saat terakhirnya masih aktif mengajar di FH UI, FISIP UI dan lembaga ilmu sosial lainnya. Sebelum wafat tepatnya pada perayaan Hari Ulang Tahunnya yang ke-88 pada 30 Mei lalu, ujar Gumilar, sempat dilakukan penandatanganan prasasti Selo Sumardjan Research Center yang akan menjadi wadah dunia penelitian ilmu sosial, khususnya sosiologi.

Pada hari itu pula sesepuh ilmu-ilmu sosial itu menerima naskah-naskah yang ditulis 12 Sosiolog yang akan segera diterbitkan, ujarnya. (Ant/prim)

Scofield
June 12, 2003, 21:26
Gregory Peck bintang film Hollywood menigal dalam usia 87 tahun, di rumahnya di Los Angeles. Dia meninggal karena usianya yang sudah tua.

Peck sepanjang karirnya memerani 50 Film, mendapat Oscar tahun 1962. Filmnya antara lain Moby Dick, The Trial of the Cantonsville Nine.

DWibowo1.
April 17, 2004, 00:22
Gwe ambil dari www.kompas.com
Turut berduka cita


Tokoh Tinju Boy Bolang Telah Berpulang

Jakarta, Jumat

Masyarakat tinju profesional Indonesia merencanakan akan mengadakan malam kebaktian untuk memberikan doa kepada Boy Bolang yang telah menghembuskan nafas terakhirnya di RSP Pertamina Jakarta, Jumat (16/4) pukul 17.33 WIB.

Ketua Umum Asosiasi Tinju Indonesia (ATI) Manahan Situmorang yang dihubungan via telepon di Jakarta, Jumat malam, menyatakan, dirinya yang akan mengambil inisiatif untuk mengadakan kebaktian buat Boy Bolang tersebut.

"Saya akan koordinasi dengan insan tinju lainnya untuk mengadakan malam kebaktian ini," ujar Manahan Situmorang.

Ia yang telah lama mengenal Boy Bolang merasa kehilangan seorang teman yang mempunyai dedikasi besar untuk dunia tinju.

"Saya salut dengan Boy Bolang karena seluruh usianya diberikan untuk dunia tinju, bahkan setelah terserang stroke beberapa kali, ia masih mengabdikan untuk tinju," ujarnya.

Ditegaskannya, Boy Bolang yang pernah mengantarkan Elyas Pical sebagai juara dunia patut dan pantas menerima penghargaan dari pemerintah.

Pendapat yang sama juga disampaikan promotor kondang dari Surabaya, Herry Aseng Sugiarto dengan menyatakan Boy pantas dan layak mendapatkan kehormatan dari pemerintah dan masyarakat tinju profesional Indonesia.

Boy Bolang yang terserang stroke akut sejak 10 April lalu hingga menghembuskan nafas terakhirnya, Jumat, tidak sadarkan diri, walaupun telah menjalani operasi dari tim dokter RSP Pertamina Pusat.

Boy yang berusia 56 tahun itu meninggalkan lima orang anak dan salah satunya masih ditunggu kedatangannya dari Amerika.

Salah seorang penata tanding, Syarifuddin Lado menginformasikan, jenazah almarhum akan disemayamkan di Rumah Duka yang terletak di wilayah Cikini, Jakarta.

"Belum diketahui kapan akan dikebumikan. Mereka masih menunggu keluarga yang lain," ujar Syarifuddin Lado.

Segudang pengalaman

Boy yang dilahirkan di Surabaya 12 Januari 1948 menggeluti tinju sejak 1962, mempunyai segudang pengalaman di dalam dan luar negeri sebagai petinju, penata tinju dan segala kegiatan yang berkaitan dengan dunia adu jotos itu.

Putra salah satu pendiri Pertina, Johannes Bolang ini pertama dilatih kakaknya yang juga petinju terkenal juara nasional Johny Bolang.

Dia menjadi juara pertama Jakarta dalam kelas welter ringan pada 1968, juara kelas welter pada 1969, juara pertama invitasi nasional kelas welter pada 1970 dan jaura pertama POM Palembang mewakiloili UI pada 1971. Dia juga pemegang medali emas PON VIII 1973, juara kelas menengah ringan 1973, juara nasional kelas menengah di Semarang pada 1974, di Surabaya pada 1975 dan mewakili Indonesia ke kejuaraan Asia di Yokohama pada 1975.

Di bidang organisasi tinju dia pernah menjadi ketua harian Pengda Pertina DKI Jaya dan mendirikan yayasan olahraga Riva untuk tinju dan sepakbola.

Sebagai penyelenggara pertandingan, dia pernah menggelar pertandingan pro Rudy Siregar, Sparling Pangaribuan, Jimmy Sinantan, Rudy Chaerudin dan Jeff Malcolm pada 1979, merintis pertandingan antara juara nasional Thomas Americo dan petinju AS Soul Mamby pada 1981 serta mengorbitkan Ellyas Pifal menjadi juara dunia kelas junior bantam IBF pada 1985.

Aktif dalam berbagai organisasi tinju internasional, almarhum juga terctat sebagai promotor pertama Sabuk Emas RCTI pada 1997

MARC GENE
August 29, 2004, 06:39
MANTAN orang kuat Indoneia yg menjabat Pangab & menhankam ditahun 1983-1993 meninggal dunia dini hari pkl 01.30.

banyak sekali pejabat2 yg melayat jenderal Purnawiran itu


Benny yg dimasa berkuasanya dikenal sebagai Jenderal yg keras dan Tokoh sentral Dinas Intelejen Negeri ini adalah sosok yg tidak populer tapi sangat berkuasa,semua kekuatan oposisi pemerintah orde baru saat itu dibungkam dan dibuat tdk berkutik...


dimasanya juga dikenal peristiwa Petrus(penembakan Misterius)&Kasus Tanjung periok....

Ternyata pengaruhnya didlm tubuh ABRI sangat terasa dan sampai akhir hayatnya,dia masih disegani kawan dan lawan

pokerface
September 07, 2004, 09:01
salah satu "musuh" bebuyutan TNI meninggal dunia dalam perjalanan ke belanda.

ada yang tahu berita lebih lengkap?

StopidStarGazeR
September 07, 2004, 09:09
detikcom – Jakarta
Aktivis HAM, Munir SH, meninggal dunia dalam perjalanan menuju Bandara Schipol, Amsterdam, Belanda. Munir ke Belanda dalam rangka melanjutkan studi.

Menurut informasi yang dikumpulkan detikcom, dalam penerbangan dengan memakai pesawat Garuda, pria berambut kemerahan itu telah merasakan sakit saat berada di Singapura. Namun dia terus melanjutkan perjalanan. Sekitar 3 jam sebelum pendaratan, Tuhan mengambilnya.

Seorang staf Kontras, lembaga yang pernah dipimpinnya, mengaku kantornya banjir telepon untuk mengkonfirmasi hal itu. "Banyak rekan-rekan wartawan yang mengkonfirmasi hal itu," kata staf bernama Indri pada detikcom, Selasa (7/9/2004). Setahu Indri, Munir tidak mempunyai riwayat penyakit.

Bo Tat
September 08, 2004, 01:02
Munir itu pendukung berat Amin Rais, dan kalo AR jadi presiden, dia bisa dipastikan akan menjadi jaksa agung. Sayang, sejarah berkata lain...

Selamat jalan bang Munir...

"Secara formal, Orde Baru sudah musnah. Tetapi ia survive dalam banyak indidivu-indidu prominen dan di dalam nilai-nilai. Dimana-mana kita menyaksikan orang bicara tentang reformasi tetapi membela Orde Baru. Saya fikir tidak ada satu parpol pun tanpa tanda-tanda Orba yang melekat pada dirinya. Visi Orde Baru masih kuat di dalamnya melalui pandangan dan ideologi dan pada masyarakat." (Munir, SH)

aleks75012
September 08, 2004, 07:16
Cerita Kematian Munir di Pesawat


Jakarta, Rabu

kompas.com


Aktivis HAM Munir yang meninggal dalam penerbangan ke Amsterdam sempat di tolong oleh seorang dokter yang turut menumpang dalam pesawat GA-974.

Setelah mendapat perawatan, Munir tidur dan tampak tenang. Dua jam sebelum pesawat mendarat di Bandara Schipol, Amsterdam, pk 08.10 waktu setempat, 7 September 2004, Munir diketahui meninggal dalam tidurnya.

Demikian keterangan yang diperoleh dari pihak Garuda Indonesia dalam siaran persnya, Selasa (7/9). Kepala Komunikasi Perusahaan PT Garuda Indonesia, Pujobroto, dalam siaran pers tersebut mengatakan, Garuda Indonesia siap menerbangkan keluarga almarhum Munir ke Amsterdam, sekaligus membantu menerbangkan jenazah tokoh penegakkan hak asasi manusia (HAM) itu ke tanah air.

"Sejauh ini Garuda masih menunggu perkembangan hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh pihak otoritas Bandara Schipol, Amstedam," katanya.

Dijelaskan, aktivis HAM Munir meninggal dunia dalam penerbangan pesawat GA-974 dari Jakarta ke Amsterdam via Singapura, sekitar dua jam sebelum pesawat mendarat di Bandara Schipol, Amsterdam pada pukul 08.10 waktu setempat, tanggal 7 September 2004.

Pesawat GA-974 berangkat dari Jakarta pada tanggal 6 September 2004, pukul 21.55 WIB, tiba di Singapura pada tanggal 7 September 2004, pukul 00.40 waktu setempat.

Setelah melakukan transit di Singapura, kemudian pesawat melanjutkan perjalanan dari Singapura menuju Amsterdam. Pesawat berangkat dari Singapura 7 September 2004 pukul 01.50 waktu setempat dan tiba di Amsterdam pukul 08.10 waktu setempat.

Muntah-muntah
Kantor Berita Antara melaporkan, Munir sempat muntah-muntah di pesawat. Berdasarkan keterangan dari para penumpang, Munir bolak-balik ke toilet.

Siaran pers Garuda menyebutkan, sekitar tiga jam setelah pesawat lepas landas dari Bandara Changi, Singapura, seorang "purser" (supervisor awak kabin) pesawat, Najib, menyampaikan laporan ke pilot kapten Pantun Matondang bahwa terdapat seorang penumpang yang duduk di kursi nomor 40 G bernama Munir mengalami sakit yang ditandai dengan yang bersangkutan beberapa kali ke toilet.

Ditolong Dokter
Selanjutnya, Capt. Pantun Matondang memerintahkan kepada Najib untuk segera meminta pertolongan kepada penumpang lain yakni seorang dokter yang duduk di kursi nomor 1 J untuk memberikan pertolongan kepada penumpang yang bersangkutan.

Kapten Pantun Matondang juga meminta kepada Najib agar terus memonitor kondisi penumpang dan melaporkan perkembangannya. Setelah mendapat bantuan pengobatan dari dokter, tempat duduk Munir dipindahkan berdekatan dengan tempat duduk dokter yang memberikan bantuan. "Ketika itu Bapak Munir dalam keadaan tenang dan beristirahat," jelas dia.

Meninggal
Selanjutnya, pada saat sekitar dua jam pesawat akan mendarat di Bandara Schipol, Amsterdam dan ketika purser Najib dan dokter melihat kondisi Bapak Munir ternyata sudah meninggal dunia.

Setelah pesawat mendarat di Bandara Schipol, Amstedam maka sesuai dengan ketentuan/regulasi otoritas Bandara Schipol, Amsterdam, pihak otoritas Bandara Schipol, Amsterdam melakukan pemeriksaan terhadap jenazah Munir.

"Garuda juga telah melakukan koordinasi dengan Kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia di Den Haag," kata Pujobroto. (Ant/Mbk)

MARC GENE
September 08, 2004, 15:59
seorang lagi panglima ABRI,Menhankam & tokohsupersemar yg terkenal

Jenderal{purn) M Jusuf meninggal malam ini dimakassar dlm usia 74 thn

SpawnTheAnthony
September 12, 2004, 02:37
Tadi malam jenazah Munir di bawa ke Universitas Brawijaya.
Jenazah datang di gedung Rektorat Universitas Brawijaya jam 21.00 WIB. Kebetulan kostku persis tepat berada di belakang kampus Universitas Brawijaya. Kaget juga nih waktu dengar bunyi sirene. Kirain apa. Ternyata jenazah Munir dibawa ke Universitas Brawijaya. Di gedung Rektorat ada acara ngomong-ngomong sebentar yg sifatnya formal. Terus dilanjutkan dengan sholat bersama. Setelah semuanya selesai, jenazah dibawa lagi ke Batu untuk dikuburkan besoknya [hari Minggu] jam 08.00 WIB. Sepintas aku melihat ada Adnan Buyung Nasution dalam rombongan.

Djakartians
September 25, 2004, 10:00
Akhirnya setelah koma selama enam bulan... Sukma Ayu meninggal dunia...

Turut berduka cita untuk keluarga yang ditinggalkan...

Bo Tat
September 25, 2004, 14:43
Selamat jalan Sukma.
Semoga amal ibadahmu diterima Nya...

Eh, tadi pagi ada siaran langsung menjelang kematian beliau lho. Ditunggu punya tunggu. Ternyata gak jadi tadi pagi. Malah setelah crew nya pada ngilang dari rumah sakit, Sukma baru pergi...

Satu pelajaran baru gue dapat dari siaran-siaran mengenai kematian Sukma; kasih sayang orang tua itu ternyata luar biasa ya. Contohnya aja orang tua nya Sukma... Luar biasa pengorbanan mereka.

lovelezarcher
October 11, 2004, 06:57
Sad news, folks,.. Christopher Reeves who plays Superman has died of heart failure at the age of 52.

sigh..
so sad

StopidStarGazeR
October 11, 2004, 10:17
Actor Christopher Reeve dies


Actor Reeve had become an advocate for spinal cord injury research
Actor Christopher Reeve, star of the Superman films in the 1970s and 80s, has died.
The 52-year-old had been suffering from an infection as a result of a pressure wound and died on Sunday, his publicist Wesley Combs said.

He had suffered a cardiac arrest at his New York home and slipped into a coma, Mr Combs added.

Reeve was paralysed nine years ago when he broke his neck after being thrown from a horse.

He had become an advocate for spinal cord injury research.

In recent years, he had regained sensation in some parts of his body.

He had also returned to acting, appearing in a 1998 production of Rear Window, a modern version of the Alfred Hitchcock thriller about a man in a wheelchair who becomes convinced that a neighbour has been murdered.

The role won him a Screen Actors Guild award.

Reeve's wife Dana said in a statement: "On behalf of my entire family, I want to thank Northern Westchester Hospital for the excellent care they provided to my husband.

"I also want to thank his personal staff of nurses and aides, as well as the millions of fans from around the world who have supported and loved my husband over the years."
http://www.foxnews.com/story/0,2933,135003,00.html

http://abcnews.go.com/Entertainment...d=101123&page=1

turut berduka cita

DWibowo1.
December 11, 2004, 17:44
Turut berduka cita atas meninggalnya Harry Roesli. Semoga diterima di sisi-Nya


Musikus dan pimpinan Depot Kreasi Seni Bandung (DKSB) Harry Roesli meninggal hari ini pada usia 53, Sabtu (11/12) pukul 20.10 WIB di Rumah Sakit (RS) Harapan Kita akibat lemah jantung, setelah dirawat selama seminggu, masing-masing dua hari di Boromeus Bandung, kemudian dipindah ke RS Harapan Kita menggunakan helikopter karena kritis.

Menurut pihak keluarga, seperti yang dituturkan kepada pekerja seni asal Bandung Wawan Juanda, kondisi Harry semakin lemah empat hari belakangan ini. Terakhir, dipakai alat pacu jantung sejak Sabtu pagi. Tapi aliran darahnya ke jantung sangat lemah hingga akhirnya koma pada pukul 16.00 WIB.

Saat mengehembuskan nafas terakhirnya, Harry ditunggui oleh Kania (istri) dan kedua anaknya Yahala dan Yahami.

Malam ini jenazah disemayamkan di rumah ibunda Harry di Jalan Besuki nomor 10, Jakarta Pusat. Menurut rencana, jenazah akan dimakamkan besok pagi di pemakaman keluarga di Bogor.

Wawan Juanda yang mengaku sebagai murid almarhum mengaku amat kehilangan. "Dia sahabat, teman dan guru yang baik. Terakhir saya dibantu dia saat ulang tahun Jakarta yang ke 477 (tahun 2004) di mana dia menjadi konduktor untuk 500 orang pemain perkusi," kenang Wawan.

Sementara Ketua Dewan Kesenian Jakarta Ratna Sarumpaet yang sempat menjenguk almarhum pada Sabtu pukul 14.00 WIB, mengaku amat sedih. Meski tak sempat ketemu langsung, namun ia masih sempat berkomunikasi dengan bahasa tubuh.

"Saya memang gak bisa ketemu langsung. Tapi dari balik kaca aku masih bisa dadah, cium jarak jauh dan dia merespon dengan senyum. Ekspresinya seperti mengatakan ’dont worry’," ungkap Ratna saat dihubungi KCM.

Ratna mengaku, kontak dengan Harry lewat telepon berlangsung sebulan yang lalu. Kala itu, ujar Ratna, Harry minta dukungan untuk sebuah konser musik kepada Ratna.

Satu hal yang membuat Harry begitu istimewa di mata Ratna adalah, kepedulian Harry pada persoalan-persoalan sosial. "Dia itu orang yang kalau ada hajatan keprihatinan selalu ada. Ada persoalan HAM dia nimbrung di situ."

Ratna menambahkan, Harry bukanlah jenis seniman yang sok eksklusif meski telah memiliki nama besar. "Dia selalu memikirkan orang lain. Kalau orang lain susah, diperlakukan tidak adil, dia pasti ada di situ, Dan itu membuat saya hormat kepada dia."

Harry, kata Ratna, adalah satu-satunya musisi yang khusus membuat acara keprihatinan buat Ratna saat pimpinan Teater Satu Merah Panggung itu mendekam di bui pada tahun 1998.

Pemusik yang selalu berpakaian hitam-hitam ini juga dikenal ringan tangan untuk membantu, maupun menerima permintaan bantuan dari mana pun. Sebelum Jak-Jazz 93 misalnya, ia berada di Bali dan Lombok bersama Eberhard Schoener, pemusik Jerman yang pernah menggarap Bali Agung. Sering pula ia menggarap musik Teater Koma (juga pernah dengan Teater Mandiri). Bahkan ia terlibat di dalam kegiatan teater-teater yang "belum punya nama" serta dalam acara pembacaan puisi.

Apapun kata orang, Harry Roesli tetaplah seniman yang unik. Dia bisa berada di mana saja dan diterima oleh siapa saja, baik mereka yang berdiri di dunia intelektual, industri musik, hingga mereka yang menempati ranah musik idealis. Selamat jalan Mas Harry! (jy)

source: www.kompas.com

french_fries
August 29, 2005, 17:51
Cetak Berita Page 1 of 1
Dia Berpulang dengan Wajah Damai
Nizar Suhendra, staf pribadi Nurcholish Madjid bertutur, wajah cendekiawan itu terlihat damai saat menghadap Sang Khalik. Saat mengembuskan napas terakhirnya, Nurcholish, kelahiran Jombang 17 Maret 1939 itu pun melafalkan nama “Allah”.
“Saya menyaksikan sendiri Cak Nur tersenyum saat mengembuskan napas terakhirnya,T’ kata Nizar Suhendra di Auditorium Universitas Paramadina di Jalan Gatot Subroto, tempat jenazah Rektor Universitas Paramadina itu disemayamkan sejak Senin (29/8 ) sore.
Adalah suasana yang amat mengharukan saat detik-detik terakhir akan meninggalkan dunia fana, Nurcholish Madjid yang akrab dipanggil Cak Nur itu dikelilingi keluarga dan sahabat-sahabat dekatnya. Cak Nur menutup mata terakhir kalinya di Rumah Sakit Pondok Indah pada Senin pukul 14.05 WIB sejak dirawat pada 15 Agustus lalu.
Umat Islam Indonesia dan bahkan seluruh bangsa Indonesia kehilangan seorang tokoh yang menjadi ikon pemikiran pembaruan dan gerakan Islam di negeri in Boleh dibilang sulit memisahkan nama pria bersahaja mi dan pemikiran Islam di Indonesia.
Gagasan putera KH Abdul Madjid asal Mojoanyar, Jombang, yang paling sering disuarakannya adalah masalah pluralisme. Direktur Center for Spirituality and Leadership Budi Munawar-Rachman dalam artikelnya di Kompas, mengatakan Cak Nur menganggap penting pluralisme, bukan hanya dan segi teologis. Karena, ia sudah meyakini bahwa pluralisme adalah bagian dan ketentuan Tuhan yang tak terelakkan.
Cak Nur mengembangkan pemikiran mengenai hal mi lebih jauh sehingga merentang pada pentingnya isu pluralisme dalam hubungan agama-agama di Indonesia. Cak Nur menaruh pluralisme dalam bingkai civil society, demokrasi, dan peradaban.
Menurut pandangan pria berpenampilan sederhana in jika bangsa Indonesia mau membangun peradaban, pluralisme adalah inti dan nilai keadaban itu-termasuk di dalamnya, dengan sendirinya, penegakan hukum yang adil dan pelaksanaan hak asasi manusia.
Lebih lanjut, kembali pada pemaparan Nizar, penyakit hati yang kembali menggerogoti kondisi fisik suami Omi Komariyah itu membuat tekanan darahnya turun pada sekitar pukul 11.00 WIB. Kemudian, sejak pukul 12.00 WIB, kondisi ayah dua anak, Nadia Madjid dan Ahmad Mikail Madjid, mi makin kritis hingga ajal menjemput.
Almarhum Cak Nur yang menempuh pendidikan doktoral di Universitas Chicago, Amerika Serikat pada 1978-1984 i, menurut rencana akan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata pada Selasa (30/8 ) pukul 10.00 WIB. Jenazah akan diberangkatkan dan Universitas Paramadina didahului upacara penyerahan jenazah dan keluarga kepada negara. Acara itu akan dipimpin Menteri Agama Maftuh Basyuni.
Sementara, acara pemakaman secara kenegaraan di TMP (Taman Makam Pahlawan) Kalibata akan dipimpin oleh Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat AIwi Shihab. Selamat jalan Cak Nur!
Un : /utama/news/0508/29/1 94535.htm
http://www.kompas.com/kirim berita/print. cfm?nnum=78670 8/29/2005

Turut berduka cita =(

DWibowo1.
April 30, 2006, 04:45
Salah satu sastrawan terbesar Indonesia sepanjang masa, Pramoedya Ananta Toer, meninggal dunia. Semoga beliau diterima di sisi-Nya.

Pramoedya Ananta Toer Tutup Usia

Jakarta, Minggu

Pramoedya Ananta Toer meninggal dunia di rumahnya Jl Multikarya II No.26, Utan Kayu, Jakarta Timur, Minggu (30/4) sekitar pukul 09.00 WIB.

Pria yang dipanggil Pram itu dirawat di rumah tersebut sejak Sabtu sekitar pukul 19.00 WIB karena ia meminta pulang ketika sedang menjalani perawatan di ICU RS St Carolus Jakarta.

Pram yang kini berusia 81 tahun dirawat di RS tersebut sejak Kamis (27/4) malam, karena keluhan nyeri di dada, sesak nafas dan lemah karena sudah seminggu tidak mau makan.

Sepanjang Sabtu malam sampai Minggu pagi, Pram berkali-kali melewati masa krisis tetapi ia sempat terjaga dan meminta lampu-lampu untuk dipadamkan serta bertanya: "apakah sampah sudah dibakar?."

Pada saat itu banyak pesan singkat (SMS) menanyakan kebenaran apakah ia sudah meninggal.

Dari pihak keluarga belum diperoleh informasi di mana pria yang lahir di Blora pada 6 Februari 1925 dari pasangan Toer dan Saidah itu akan dimakamkan.

Sastrawan yang secara internasional sering dijuluki Albert Camus Indonesia itu termasuk dalam 100 pengarang dunia yang karyanya harus dibaca sejajar dengan John Steinbejk, Graham Greene dan Bertolt Berecht (dikutip dari Los Angeles Time -red).

Profil Pram juga pernah ditulis di New Yorker, The New York Time dan banyak publikasi dunia lainnya. Karya-karyanya juga sudah diterjemahkan dalam lebih dari 36 bahasa asing termasuk bahasa Yunani, Tagalok dan Mahalayam.

Sumber: Ant
Penulis: Edj

Bromocorah
April 30, 2006, 23:52
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0605/01/utama/2619997.htm

Obituari
Pramoedya Telah Pergi, Berangkatlah Polemik!


Riuh kiriman pesan lewat layanan pesan singkat atau SMS sejak Sabtu (29/4) terus berlanjut hingga Minggu petang.

SMS gelombang pertama kaget bertanya, benarkah pengarang besar itu sudah meninggal dunia? Gelombang kedua bergeser, mengapa koran dan sejumlah tokoh menganggapnya pahlawan, padahal dia dulu anti-"Manikebu" dan lagi ia dulu berhaluan kiri?

Kalau Anda hadir melayat di kediaman pengarang yang pernah mendekam di bui selama 10 tahun dalam pembuangan di Pulau Buru, dengan nomor tahanan politik (tapol) 007, "perdebatan", dan sebenarnya "pembelaan" oleh sejumlah anak muda dan pendukungnya, juga terjadi menjelang jenazah diberangkatkan dan dimasukkan ke liang lahat, Minggu (30/4) siang.

Setelah dimandikan, jenazah Pramoedya dishalatkan pukul 12.00 di tengah ruangan. Saat keranda diangkat menuju ambulans sekitar pukul 13.00, tidak dinyana berkumandanglah lagu Internationale dan Darah Juang di tengah ratusan pelayat yang berdempetan di gang sempit Jalan Multikarya II/26, Utan Kayu, Jakarta Timur. Lagu yang pertama adalah sajak seorang buruh anggota Komune Paris (1871), Eugene Pottier, yang selanjutnya menjadi lagu mars kaum proletariat dan kekuasaan diktatur proletariat yang berkuasa selama 72 hari pada masanya. Internationale yang dinyanyikan adalah versi terjemahan dalam bahasa Indonesia oleh Ki Hadjar Dewantara. Yang kedua adalah lagu perjuangan mahasiswa Indonesia yang lahir di zaman reformasi menjelang jatuhnya Orde Baru, 1997-1998. Ini lagu karangan aktivis John Sonny Tobing, mahasiswa Fakultas Filsafat UGM Yogyakarta. Sebagai catatan, bersama lagu ini lahir juga Sumpah Mahasiswa, ciptaan Afnan Malay, juga aktivis dari Fakultas Hukum UGM. Meski sekilas, syair kedua lagu itu jelas, pembelaan pada rakyat kecil, pada buruh: Bangunlah kaum yang terhina/Bangunlah kaum yang lapar ("Internationale").

Keluarga besar Pramoedya Ananta Toer yang terdiri dari 8 anak, 16 cucu, dan 2 cicit semuanya berkumpul. Istrinya, Ny Maemunah, ada di sana. Minggu pukul 09.15, Pramoedya Ananta Toer meninggal dunia setelah sebelumnya jatuh di rumah Bojong Gede dan sesak napas.

Hadir di sana antara lain Goenawan Mohammad, Sitor Situmorang, Ratna Sarumpaet, Budiman Sujatmiko, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik, puluhan aktivis, sastrawan, dan cendekiawan. Sejumlah karangan bunga tanda duka, antara lain dari Kontras, artis Happy salma, pengurus DPD PDI Perjuangan, dan Dewan Kesenian Jakarta, mengantar kepergiannya.

Menjelang jenazah dimasukkan ke liang lahat di Makam Karet Bivak, Jakarta Pusat, kembali lagu Internationale dan Darah Juang dinyanyikan. Anak-anak muda yang datang sebagian dari Partai Rakyat Demokratik (PRD) dan elemennya.

Sastrawan penerima penghargaan dari dalam dan luar negeri, yang terakhir Presidential Medals of Honor for Pablo Neruda Centennial dari pemerintah Cile (2004), itu oleh pendiri PRD, Budiman Sujatmiko, dianggap sebagai gurunya. Pikiran dan buku-buku Pram adalah inspirasi sebuah perlawanan oleh anak muda, katanya. Tetralogi Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Rumah Kaca, dan Jejak Langkah adalah potret anak muda di tengah perubahan dari masa feodalisme ke kapitalisme. Mingke, adalah tokoh simboliknya. "Aku hidup di zaman Orba, pakai jalan juga jalan raya Orba, tapi bukan berarti kita berutang kepada Orba, justru fasilitas-fasilitas itu kita manfaatkan untuk melawan," kata Budiman. Penyair Yogyakarta, Joko Pinurbo, malah mengirim SMS puisi berjudul Selamat Jalan Pram: selamat jalan buku/selamat sampai di ibukata/ibunya rindu....

Generasi sezaman, sahabat eratnya, wartawan senior Amarzan Lubis (aktivis Lembaga Kebudayaan Rakyat/Lekra dan mantan Redaktur Harian Rakjat) dan Oei Hai Djun (77) (mantan anggota DPR dari Partai Komunis), melihat Pram sebagai sosok independen dan manusia kuat. Kualitas utama Pram adalah tidak pernah dapat dipatahkan oleh penderitaan. "Pram juga tidak pernah tunduk berargumen. Pikirannya mandiri," kata Oei.

Dramawan Putu Wijaya mengaku pengagum karya Pram, tetapi tidak pada kegiatan politiknya. Sejak SD, Putu mengagumi karya Pram, seperti Perburuan, Si Midah Bergigi Emas, atau Mereka yang Dilumpuhkan. "Tetapi, setelah periode itu, karya Pram berciri realisme sosial. Soal politik itu urusan beliau dan saya tidak bisa gabungkan menilainya," ujar Putu.

Sastrawan Eka Budianta melihat peran Pram pada dorongan untuk mencintai dan mengenali Tanah Air kita sedalam-dalamnya. Pram disebutnya pembina bahasa Indonesia lewat karyanya. "Pram minta adakan kongres pemuda supaya pemuda sendiri melahirkan tokoh-tokohnya," kata Eka tentang Pram yang katanya masih menyimpan sejumlah manuskrip yang belum terbit, Soekarno di Mata Dunia dan Dunia di Mata Soekarno.

Sebagaimana pernah diungkapkan Goenawan Mohammad, "kreativitas Pramoedya adalah krativitas polemik", agaknya inilah kehadiran Pram, karyanya dan pribadinya. Tetralogi di atas, lalu Mangir, Arok Dedes, Arus Balik, dan Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, bahkan Gadis Pantai, jelas merupakan sebuah "dekonstruksi" dan pada akhirnya perlawanan terhadap feodalisme, kekuasaan, mitos, atau kedengkian yang melahirkan penindasan.

Polemik akan mekar lagi sejak sekarang: adakah kata senapas dengan perbuatan? Bagi siapa pun di muka bumi ini....(VIN/DHF/EDN/HRD)

Bromocorah
July 31, 2006, 02:12
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0607/31/utama/2845415.htm


"In Memoriam"
Prof Daniel S Lev Berpulang


Setelah bertahan sekitar dua minggu dengan kondisi yang terus menurun, Prof (Emeritus) Dr Daniel S Lev (72), Indonesianis dari Universitas Washington, Seattle, AS, berpulang dengan tenang pada Sabtu (29/7) pukul 11.30 waktu Seattle atau Minggu sekitar pukul 01.30 WIB. Ia meninggalkan seorang istri, dua anak, dan tiga cucu.

"Kita kehilangan seorang Indonesianis yang mencintai Indonesia dengan tulus dan mempunyai keterlibatan emosi sangat dalam pada negeri ini," ujar Adnan Buyung Nasution dengan suara tertahan.

Bagi dia, "Dan Lev adalah guru dan sahabat sejati".

Dan Lev adalah kopromotornya ketika Adnan Buyung mengambil gelar doktor di bidang hukum di Belanda.

Namun, persahabatan keduanya sudah dimulai pada akhir tahun 1950-an saat Dan Lev berada di Indonesia untuk meneliti tentang Demokrasi Terpimpin. Hubungan keduanya tetap baik meski kemudian secara prinsip pandangan mereka tentang beberapa hal berbeda.

"Ia adalah salah satu tokoh yang meletakkan fondasi pembentukan Lembaga Bantuan Hukum. Selama 20 tahun ia terus datang membagikan ilmunya tentang demokrasi dan hak-hak asasi manusia," sambungnya.

Komentar senada dilontarkan Todung Mulya Lubis. "Dia paling intens mengikuti yang terjadi di Indonesia dan mempunyai keterikatan emosional dibanding Indonesianis lain," kata Todung.

"Ia bahkan lebih Indonesia dari orang Indonesia. Ia kritis, tetapi dilandasi oleh cinta terhadap negeri ini."

Ketulusan dan kecintaan itu juga ditunjukkan dengan membantu mahasiswa Indonesia yang mengambil S-2 dan S-3 bidang hukum dan politik di Universitas Washington.

Dan Lev juga menawari para aktivis untuk sekolah lagi di Seattle. Nursyahbani Katjasungkana adalah satu di antaranya.

Ketika Nursyahbani mengambil jalur politik dengan menjadi anggota DPR, Dan Lev menyambut gembira.

"Pak Dan sangat mendukung kesetaraan jender dalam politik," ujar Nursyahbani.

Dan Lev, seperti dikemukakan Todung, adalah orang yang mampu menjelaskan tentang Indonesia sehingga orang tidak apriori terhadap Indonesia.

"Ia menjadi seperti bapak bagi mahasiswa kita di AS," lanjut Todung yang menyelesaikan doktornya di bidang hukum dari UC Berkeley, AS, di mana Dan Lev adalah salah satu anggota komitenya.

Kematian yang indah

Vonis kanker paru stadium lanjut diterima Dan Lev dari pemeriksaan dokter pada awal tahun ini. Ia menjalani serangkaian pengobatan medis, namun sel-sel kankernya terus menjalar.

Sampai pertengahan bulan Juni, ia masih sempat menulis beberapa artikel dan menyusun serta menyimpan segudang rencana. Namun, keinginannya menyelesaikan buku mengenai Yap Thiam Hien, ahli hukum dan pejuang hak-hak asasi manusia pada tahun 1960-an, tak pernah terpenuhi meski sudah 900 halaman dan hanya tinggal dua bab lagi.

Menurut istrinya, Arlene (69), Dan Lev berpulang tak lama setelah teman baiknya dari Universitas Cornell, Prof Ben Anderson, membisikkan kepadanya, "Dan, tugasmu sudah selesai. Dan bilang, ’Baiklah’. Setelah itu napasnya melemah, lalu hilang."

"Kematian yang indah," lanjut Arlene.

Dua minggu terakhir kondisi Dan Lev terus menurun. Namun, ia menolak minum obat, menolak makan, dan menolak dibawa ke rumah sakit.

Seminggu lalu, ketika dihubungi melalui telepon, Arlene mengatakan, Dan Lev tidak bisa lagi duduk, tidak bisa menerima telepon, dan terus tertidur, dan hanya sesekali bangun. "Yang melegakan, ia tidak terlihat kesakitan," ujar Arlene.

Jenazahnya akan dikremasi pada hari Senin waktu Seattle.

Sangat dalam

Dan Lev lahir di Yongstown, selatan Ohio, 23 Oktober 1933. Ia menyelesaikan MA dan doktornya di Universitas Cornell, kemudian mengajar di UC Berkeley, sebelum ke Universitas Washington, Seattle, sampai pensiun pada tahun 1999.

Selama lebih dari 30 tahun ia terus melakukan riset dan mengeksplorasi bagian dari sejarah Indonesia yang tak banyak ditengok orang, yakni antara tahun 1957-1959. Padahal, bagian itu sangat penting untuk memahami dinamika politik di Indonesia dari waktu ke waktu.

Penulis buku The Transition to Guided Democracy: Indonesian Politics 1957-1959 yang sekarang menjadi buku klasik sejarah politik di Indonesia itu banyak dianggap sebagai "guru" oleh banyak intelektual muda, meski ia tidak mengetahuinya.

Namun, ia menyimpan kekaguman dan banyak harapan kepada orang-orang muda Indonesia. Itu sebabnya, ia memberikan sebagian besar isi perpustakaannya kepada Pusat Studi Kebijakan dan Hukum (PSHK), tempat para ahli hukum muda melakukan riset tentang reformasi kebijakan.

"Mari kita lanjutkan semangatnya mencintai Indonesia," ujar Ani Sutjipto, ilmuwan politik dari Universitas Indonesia dan mantan muridnya di Universitas Washington.

Terima kasih Pak Dan. Selamat jalan menuju keabadian.... (MH)

Bromocorah
August 02, 2006, 01:06
ini fotonya

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0102/03/nasional/0202jped.jpg

Von^Krumm
September 04, 2006, 07:58
Buat yang tahu ini "celebrity" barusan berita masuk ini orang meninggal disengat stingray, dia terkenal dg kalimatnya "Crikey!" dan juga sebagai Crododile Hunter...

RIP

Ini berita lengkapnya :

Steve Irwin killed by stingray

*
* Email
* Print
* Normal font
* Large font

Steve Irwin with his American wife Terri at his Australia Zoo in Beerwah, Queensland.

Steve Irwin with his American wife Terri at his Australia Zoo in Beerwah, Queensland.
Photo: Russell McPhedran

It was quite rare for someone to die from contact with a stingray ... Stingrays were dangerous if provoked

Latest related coverage

* Crocodile hunter's zoo 'will go on'
* Fact file: Stingray risks
* Flashback: Crikey, it's raw Stevo!
* America in shock at Irwin's death
* Reaction: The ultimate wildlife warrior
* Original croc man's tribute
* Irwin a modern day Noah: RSPCA
* Your say: Vale Steve Irwin
* Video: Stingray attack
* Video: Death of a larrikin icon
* Australia Zoo's statement
* Pop-up: Location map
* Photos: World coverage
* Photos: Steve Irwin's life and times

David Williams
September 4, 2006 - 4:55PM
Page 1 of 2 | Single page

Television personality and environmentalist Steve Irwin has died from a stingray wound while filming off north Queensland.

Known worldwide as the Crocodile Hunter, the 44-year-old was famous for his enthusiasm for wildlife and his catchcry "Crikey!"

The Queensland Police Service issued a statement saying Irwin collapsed after being stung at Batt Reef, Low Isles, off Port Douglas about 11am. He had been filming a documentary.

"Steve was hit by a stingray in the chest," said local diving operator Steve Edmondson, whose Poseidon boats were out on the Great Barrier Reef when the accident occured.

"He probably died from a cardiac arrest from the injury," he said.

Police said that, after the attack, Irwin's crew called for medical treatment at 11am and the Queensland Rescue Helicopter responded with a doctor and paramedic on board.

Puncture wound

Irwin had a puncture wound to the left side of his chest and was pronounced dead at the scene.

Police said Irwin's family had been advised and Irwin's body was being flown to Cairns.

It is believed his American-born wife Terri was trekking on Cradle Mountain in Tasmania when the accident happened.

Police in Tasmania say she had been told.

The Irwins have two children, a daughter, Bindi Sue, 8, and a son, Robert Clarence, usually known as Bob, 3.

The Irwins married in 1992 - the same year Irwin made a one-off documentary, The Crocodile Hunter, which later became a world-famous TV series and movie.

When asked if he had ever heard of anyone dying from a stingray barb, Matthew Hurley, general manager of Quicksilver Group, whose company has taken tours to Low Isles for 26 years, said: "No, definitely not.

"We've never heard of or been involved with anything like that."

Ross Coleman, acting director at at University of Sydney Institute of Marine Science, told smh.com.au it was "quite rare" for someone to die from contact with a stingray and he couldn't recall hearing of another incident.

Stingrays were "dangerous if provoked", he said.

"As a recreational diving instructor you hear of people getting injured by standing on them ... but they rarely die."

'The zoo will go on'

Irwin's wife Terri would not close down the zoo, predicted Jim Dalrymple, whose local irrigation firm helped maintain the water supplies to Irwin's Australia Zoo in Beerwah on Queensland's Sunshine Coast.

Ref: SMH (http://www.smh.com.au/news/national/crocodile-hunters-deadly-dive/2006/09/04/1157222051512.html)

Von^Krumm
September 08, 2006, 05:28
Another sad news dari Australia---Home » National » Article
Peter Brock 'killed in crash'
September 8, 2006 - 3:07PM


Racing legend pembalap ternama Peter Brock ... reported killed.

AdvertisementMotor racing champion Peter Brock has reportedly been killed in an accident in Western Australia.

Utk berita selengkapnya: www.smh.com.au

Oh dear...lets hope and pray....

DWibowo1.
November 17, 2006, 21:02
Belom ada yang ngepost meninggalnya salah satu legenda sepakbola dunia, Ferenc Puskas ya? Rest In Peace Mr.Puskas

Dunia Mengenang Ferenc Puskas




Buudapest, Jumat - Sepakbola dunia bersedih atas kepergian legenda sepakbola Ferenc Puskas dalam usia 79, Jumat (17/11) setelah lama menderita Alzheimer.

Puskas telah menjalani perawatan karena penaykitrnya selama enam tahun. Ia meninggal dunia di rumah sakit Kutvolgyi, Budapest, Jumat pagi.

Kematian Puskas disambut dengan kesedihan oleh insan sepakbola di seluruh dunia. Alfredo di Stefano, rekannya saat memperkuat Real Madrid pada 1950-1960-an mengaku terkejut dnegan berita kematian Puskas.

"Mereka memberi tahu berita sedih tersebut pada pukul tujuh pagi. Saya merasa kehilangan seorang teman dan pemain yang berkualitas. Ia merupakan salah satu pemain terbesar sepanjang jaman," kata Di Stefano.

Di Stefano saat ini menjadi Presiden Kehormatan Real Madrid. Pada 1950-1960-an, duet Puskas dan Di Stefano sangat ditakuti barisan belakang klub-klub Eropa. Mereka bermain bersama antara 1958 hingga 1967, saat keduanya memutuskan mundur sebagai pemain.

Pertandingan keduanya yang paling dikenang adalah saat mereka membawa Real Madrid menjadi juara Eropa dengan menagalahkan Eintracht Frankfurt di final 7-3. Dalam pertandingan tersebut Puskas mencetak empat gol, sementara Di Stefano tiga gol.

"Terakhir kali saya melihat dia dua tahun lalu saat saya bersama beberapa pemain veteran lainnya datang ke Budapest untuk suatu pertandingan penghormatan dirinya," kata Di Stefano.

Real sendiri memberi pernyataan penghormatan secara resmi melalui situs mereka. "Nama Puskas selalu dikaitkan dengan kemanangna gemilang Real Madrid di kandang mau pun di luar negeri, terutama di ajang Piala Eropa."

Puskas mencetak 512 gol buat Real dalam 528 gim antara 1958 dan 1967. pada 1962 ia memperoleh kewarganegaraan Spanyol dan memperkuat negara tersebut dalam Piala Dunia di Cile tahun itu.

Di Italia, mantan jenderal lapangan tengah Azzurri, Gianni Rivera memuji skil dan tenaga Puskas. "Saya hanya sekali bermain menghadapi dia. Namun ia membuat semua serangan menjadi begitu mudah. Kerjasamanya dengan Di Stefano berjalan dengan baik karena keduanya memiliki sikap sama."

Sebagai kapten timnas Hongaria, Puskas membawa negaranya meraih medali emas Olimpiade Helsinki 1952 dan menjadi juara dua Piala Dunia 1954. Di final, mereka kalah tragis 2-3 dari Jerman Barat.




http://www.kompas.com/ver1/Olahraga/0611/17/225107.htm

x-orgasmatron
December 14, 2006, 06:48
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0612/14/utama/3170912.htm

Obituari
Hamdani Amin Meninggal di LP Cipinang


jakarta, kompas - Terpidana korupsi Hamdani Amin meninggal dunia di LP Cipinang, Rabu (13/12) sekitar pukul 10.15 dalam usia 62 tahun. Mantan Kepala Biro Keuangan Komisi Pemilihan Umum itu, meninggal, setelah bermain bulutangkis bersama narapidana lain selama dua jam. Penyebab kematian belum diketahui karena pihak keluarga Hamdani menolak otopsi.

Namun sebelumnya Hamdani, jatuh terpeleset, dan kepalanya membentur benda keras. Benturan mengenai batang otaknya .

Menteri Hukum dan HAM Hamid Awaludin yang tiba di LP Cipinang pukul 12.00 mengatakan, keluarga H menerima kejadian yang menimpa almarhum dan telah membuat surat pernyataan menolak otopsi. Surat pernyataan itu ditandatangani oleh istri almarhum, Sulasmiwati.

Mengenai pengajuan Peninjauan Kembali ke Mahkamah Agung terhadap kasus korupsi itu, Hamid mengatakan otomatis dihentikan karena yang bersangkutan telah meninggal dunia.

Hamdani divonis empat tahun penjara dan denda Rp 300 juta subsider empat bulan kurungan. Ia juga diminta membayar uang pengganti sebesar Rp 13,392 miliar secara tanggung renteng bersama Ketua KPU Nazaruddin Sjamsuddin. Keputusan itu diambil majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi karena Hamdani terbukti melakukan korupsi secara bersama-sama dalam pengadaan asuransi kecelakaan diri dan pengumpulan dana rekanan di KPU 2004 senilai Rp 20 milyar.

Menurut Hamid bulu tangkis sudah menjadi kegiatan rutin Hamdani sejak dia masuk ke LP Cipinang awal Oktober lalu. Hamdani main bulu tangkis setiap hari Minggu, Rabu, dan Jumat. "Dia sempat bermain dua set dari pukul 07.00 sampai pukul 09.00. Di set ke dua, dia tampak lemah. Setelah itu dia mandi dan sarapan pagi. Usai sarapan, dia bilang ingin bertemu dengan temannya di masjid. Belum sampai masjid, tiba-tiba dia terjatuh dan langsung meninggal dunia," kata Hamid.

Sementara pengacara Hamdani, Djonggi M Simorangkir SH mengatakan, selama ini Hamdani tidak memiliki riwayat penyakit. Ketika dia melihat kondisi jenazah, dia melihat ada luka di tengkuk kiri Hamdani dan ada sebuah jahitan. "Menurut dokter lapas, jahitan ini dilakukan dalam keadaan Hamdani sudah meninggal dunia," ujar Simorangkir.

Dia juga menjelaskan, tiga hari lalu ada permintaan ke Menteri Hukum dan HAM dari Hamdani untuk memindahkan Hamdani ke LP Cianjur. "Menurut Pak Hamid, sebenarnya semalam Pak Hamid akan bertemu dengan Hamdani untuk membicarakan kepindahan itu. Tetapi karena hujan, pertemuan itu batal. Rencananya hari ini Pak Hamid akan bertemu dengan Hamdani. Tetapi belum sampai bertemu, Hamdani sudah meninggal dunia," jelas Simorangkir.

Jenazah Hamdani langsung dibawa dari LP Cipinang dengan ambulans pukul 12.50 ke rumahnya di Perum Indraprasta II, Tegal Gundil, Bogor Utara.

Sidang PK kasus Hamdani sendiri telah berlangsung dua kali. PK ini diajukan karena Hamdani bukanlah anggota pengadaan barang KPU. Sidang yang terakhir dilaksanakan hari Jumat minggu lalu.

Hamdani bersalah melakukan tindak melawan hukum dalam pengadaan asuransi kecelakaan diri untuk lima juta penyelenggara pemilu dengan premi senilai Rp 14,8 miliar. Menurut majelis, pengadaan asuransi yang dilakukan melalui penunjukan langsung kepada PT Bumi Putera Muda telah melanggar Pasal 10 Ayat (1) dan Pasal 20 Ayat (4) KeputusanPresiden No 10 Tahun 2003.

Majelis juga menyatakan Hamdani bersalah telah menerima uang diskon Rp 5,32 miliar dari PT Bumida. Selain karena tidak ada perjanjian diskon, uang itu juga tak disetorkan ke kas negara, melainkan dibagi-bagi untuk menambah kesejahteraan karyawan dan anggota KPU. (ARN)

Jalan Destarata VIII Nomor 5. Sampai Rabu malam tamu terus berdatangan, termasuk anggota KPU Valina Singka dan Ramlan Surbakti.

Tepat Rabu tengah malam akan dibawa ke BAndara Soekarno untuk diterbangkan ke Banjarmasin, dimakanmkan di kampung jalamannnya, di Kandangan, Martapura. Di sana, ibu kandungnya, Hj manuroh (85). Menurut anak tertuanya, Rama Cahyadi (29), Ini kepuitusan keluarga untuk dimakamkan di Kandangan.

Istri Hamdani, Sulasmiwati, masih terlihat terpukul. Menurut Rama, dua hari sebelumnya, mereka sempat menjenguk, melihatnya aneh.

PAda saat itu ngomong kepada keluarganya, minta dipindahkan ke LP Ciandjur agar keluarga lebih dekat saat menjenguk.. Romi Wimaulana (24), Yuni Nurfajriah (17).

Von^Krumm
December 14, 2006, 09:40
Bagi penggemarnya "Everybody Loves Raymond"

RIP to Peter Boyle (pemeran bokapnya Raymond; Frank Baron)...he was 71.

Thanks for the laugh Mr Boyle...

Frank Barone: You want to know the meaning of life? You're born, you go to school, you go to work, you die. Canole... Marie!

ana.mia
December 20, 2006, 12:39
Melky Goeslaw, ayah dari Melly Goeslaw tadi sore sekitar pukul 16.00 WIB meninggal dunia di RS Pusat Pertamina.
penyebabnya masih belum diketahui.

turut berduka cita,
may he rest in peace.. :(

mudah-mudahan arwahnya tenang di sisi Tuhan & keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan & kekuatan. :(

http://www.detikhot.com/index.php/tainment.read/tahun/2006/bulan/12/tgl/20/time/184611/idnews/722524/idkanal/230

Ecclesia
December 26, 2006, 13:41
James Brown, musisi penyanyi lagu 'I Feel Good' yang melegenda meninggal dunia kemarin.....

may He RIP ;) [doa]

EojDlanor2
December 26, 2006, 13:55
James Brown, musisi penyanyi lagu 'I Feel Good' yang melegenda meninggal dunia kemarin.....

may He RIP ;) [doa]

wuaks... :shock: :shock: kaget...

ana.mia
December 26, 2006, 15:52
Adi Firansyah, tabrakan motor.
udah gue bikin threadnya di gosel.

may he rest in peace.

DWibowo1.
December 30, 2006, 05:33
Saddam Hussein. Rest in Peace deh. No matter what, dia khan manusia juga and udah meninggal ya udah.

handycandra
January 01, 2007, 07:37
Americans pay respects to late president Ford

WASHINGTON : Americans paid their last respects to former president Gerald Ford, who was praised by former aides and lawmakers for offering steady leadership after the Watergate scandal.

Ordinary Americans filed past Ford's flag-draped casket in the Congress building's Rotunda after being greeted by one of the late president's sons, Jack.

Ford died in California on December 26 at the age of 93, and will lie in state in the US Capitol Rotunda until Tuesday.

Vice President Dick Cheney, who served as Ford's chief of staff, delivered a speech on Saturday evening hailing Ford for his most criticised decision - pardoning his predecessor Richard Nixon.

Cheney told mourners the former president "was almost alone in understanding that there can be no healing without pardon."

During a time of "great malice" following Nixon's resignation in 1974, Cheney said Ford's decision saved the country from division and disaster.

"It was this man, Gerald R. Ford, who led our republic safely through a crisis that could have turned to catastrophe," Cheney said.

"We will never know what further unravelling, what greater malevolence might have come in that time of furies turned loose and hearts turned cold."

In September 1974, Ford delivered an unconditional pardon for any crimes Nixon may have committed, a move that Nixon's opponents viewed as unjust and led to speculation that a deal had been cut beforehand.

Ford was also remembered for his humble manner and his reputation for honesty. "Few have ever risen so high with so little guile or calculation," Cheney said.

After finishing the eulogy, Cheney said a few words to former first lady Betty Ford before leading her over to the casket, where they were joined by the Ford children.

President George W. Bush and First Lady Laura Bush will view the casket at the Capitol on Monday. The series of solemn tributes to Ford will conclude with a national day of mourning on Tuesday and a service at the National Cathedral.

The outgoing Speaker of the House of Representatives, Dennis Hastert, said Ford provided a steady hand at a difficult moment in history.

"We needed a healer. We needed a rock. We needed honesty, candor, and courage. We needed Gerald Ford," Hastert told mourners.

Apart from the crisis prompted by the Watergate scandal, Ford also inherited the final phase of US military involvement in Vietnam.

In an interview conducted before his death with the Washington Post but published for the first time Sunday, Ford recalled the US presence in Vietnam with regret.

"I hope we never live through another era like that in American history. The answers were very evasive. The results were very disillusioning," he said in an interview agreed on condition it would not be released until after his death.

In keeping with his family's wishes, the funeral services scheduled for the 38th president will be more muted than those for former president Ronald Reagan two years ago, when a horse-drawn caisson carried Reagan's body through the streets of the capital.

On Wednesday, Ford's remains are to be laid to rest at the Gerald Ford Museum in Grand Rapids, Michigan.

Ford served in Congress for 25 years before being appointed vice president by Nixon in 1973.

Nixon resigned in 1974, under the cloud of the Watergate scandal, leaving Ford to assume the presidency from mid-1974 to early 1977.

Flags on federal buildings have been flying at half mast since Ford's death was announced, and Bush has declared January 2 as a national day of mourning in his honour.

On Wall Street, the major stock exchanges said they would close next Tuesday as a mark of respect. - AFP/de


original quote from www.channelnewsasia.com

Redriz
January 08, 2007, 13:10
Prof. Miriam Budiarjo.

afifkhazin
January 08, 2007, 14:24
Kasdam VI Tanjungpura, Brigjen TNI Muswarno Moesanip SiP meninggal dunia karena serangan jantung saat mengikuti turnamen golf di Balikpapan hari Sabtu 06 Januari 2007

rpangkerego
March 26, 2007, 13:12
Nelly Adam Malik.

Liputan6.com, Jakarta: Jenazah almarhumah Nelly Adam Malik, Senin (26/3) siang, dimakamkan di Tamam Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan, bersisian dengan makam suaminya. Upacara pemakaman dipimpin Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah.

Sebelum pemakaman, sejumlah pejabat negara sempat melayat ke kediaman almarhumah di Jalan Dipenogoro, Jakarta Pusat. Di antaranya Wakil Presiden Jusuf Kalla beserta sejumlah menteri, serta mantan Wakil Presiden Habibie.

Istri mantan almarhum Wakil Pesiden Adam Malik ini tutup usia kemarin di Rumah Sakit MMC Kuningan, Jaksel. Almarhumah meninggal akibat komplikasi penyakit yang dideritanya. Nelly wafat diusia 82 tahun dengan meninggalkan lima anak dan 17 cucu [baca: Nelly Adam Malik Mangkat].

Semasa hidupnya, almarhumah aktif diberbagai organisasi dan yayasan sosial, serta pernah mendirikan sejumlah kursus keterampilan wanita di Jakarta. Bahkan pada 1982, Nelly pernah menerima penghargaan bintang Mahaputra Adhi Pradhana.(IAN/Tim Liputan 6 SCTV)

DWibowo1.
March 30, 2007, 03:07
Salah satu penyanyi legendaris Indonesia, Chrisye, telah meninggal dunia

Selamat Jalan Chrisye...


Laporan Wartawan KCM Ati Kamil


JAKARTA, KCM - Indonesia harus kembali kehilangan penyanyi terbaiknya. Penyanyi kawakan Chrismansyah Rahadi atau yang dikenal dengan nama Chrisye tutup usia di usia 58 tahun, pada Jumat (30/7) pagi sekitar pukul 04.08 WIB

Almarhum meninggalkan seorang istri, G.F. Damayanti Noor (52) dan empat orang anak, Rizkia Nurannisa (24), Risty Nurraisa (21), dan si kembar Randa Pramasha dan Rayinda Prashatya (18).

Hal tersebut dibenarkan pengamat musik Denny Sakrie saat dihubungi KCM. Ia mengaku mendapatkan kabar dari kakak ipar Chrisye, Firzy Noor tadi pagi. Sampai saat ini baik keluarga Chrisye maupun produser rekaman Indriati Wijaya (Acin) belum bisa dihubungi.

Namun menurut penuturan Denny, almarhum meninggal pukul 04.08 WIB. Saat ini jenazah disemayamkan di rumah duka dan rencananya akan dikebumikan di Taman Pemakaman Umum (TPU) Jeruk Purut, Jakarta Selatan, pukul 14.00 WIB.

Selama ini Chrisye memang menderita penyakit dalam dan divonis menderita kanker paru-paru stadium empat sejak tahun 2005. Ia beberapa kali mendapatkan perawatan kemoterapi di rumah sakit Mount Elizabeth, Singapura, sejak 31 Juli 2005. Namun, belakangan pihak keluarga memilih untuk memberikan perawatan di rumah dengan melakukan pengobatan alternatif.

red_conjurer
March 30, 2007, 04:48
Selamat jalan chrisye.

red_conjurer
April 09, 2007, 06:42
Pada tanggal 28 April 2007 sisa abu kremasi dari James Doohan pemeran dari
Scotty Start Trek akan di luncurkan keruang angkasa melalui pesawat ruang
angkasa SpaceLoft XL.

Beam me up Scotty!

Himawari
June 17, 2007, 10:35
Mantan Gubernur Timor Timur, Abilio Jose Osorio Soares (60), meninggal dunia di RSUD Prof WZ Johannes Kupang, Minggu (17 Juni 2007), sekitar pukul 11.16 Wita.

fallenanger
June 27, 2007, 03:06
http://a.abcnews.com/images/US/fm_benoit_070626_ms.jpg

June 26, 2007

Pro wrestler Chris Benoit asphyxiated his son and wife, leaving copies of the Bible next to each of their bodies, before he hanged himself in a basement weight room using a cord from one of the weight machines, law enforcement officials said Tuesday afternoon.

Police ruled the deaths a murder-suicide a day after discovering Benoit, his wife, Nancy, and their 7-year-old son, Daniel, dead in the family's suburban Atlanta home.

Nancy Benoit was bound, had blood under her head and was wrapped in a towel, Pope said. Fayette Count District Attorney Scott Ballard described the state of her body -- face down on the hardwood floor -- as "the only sign of a struggle."

"Her hands were bound together, her feet were bound together and there was a little blood over her face," Ballard told ABC News in an interview after the press conference. "The medical examiner found bruising on the small of her back and bruising on the front of her body consistent with being crushed up against the floor."

Police said Benoit then asphyxiated their son early Saturday morning. The boy was found face down in his bed, and there were no handmarks on his neck, Ballard said.

Benoit killed himself in the basement either late Saturday or early Sunday. Ballard said the wrestler, listed as 5 feet 10 inches, and weighing 220 pounds, was found hanging by his neck from a weight machine.

fallenanger
July 21, 2007, 15:08
Jakarta, Pelawak Asmuni tutup usia. Anggota Srimulat itu meninggal dunia dalam usia 76 tahun pada pukul 13.30 WIB di Kampung Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur.

Berdasarkan informasi yang diperoleh detikhot, Sabtu (21/7/2007), jenazah Asmuni rencananya dimakamkan Minggu pukul 09.00 WIB di tanah kelahirannya, Jombang, Jawa Timur. Ia meninggal setelah sebelumnya dirawat di RS Rekso Waluyo Mojokerto.

Asmuni awalnya mengeluh sakit gigi. Ia kemudian diberi obat, namun muntah. Keluarga melarikannya ke RS Mojokerto.

Asmuni kelahiran Jombang, 31 Juni 1931. Ia adalah salah satu pelawak senior Indonesia yang tergabung dalam grup Srimulat.

Asmuni dikenal dengan kumisnya yang mirip Charlie Chaplin. Salah satu ciri khasnya yang lain adalah blangkon yang tak pernah ketinggalan di kepalanya

Von^Krumm
September 06, 2007, 07:34
Italian tenor Luciano Pavarotti dies

Thursday Sep 6 15:49 AEST
Luciano Pavarotti (Getty Images)

Italian opera star Luciano Pavarotti, hailed by many as the greatest tenor of his generation, died early on Thursday after a long battle with cancer, his manager Terri Robson said.

"The great tenor Luciano Pavarotti died today at 5am at his home in Modena," Robson said in a statement. He was 71.

"The Maestro fought a long, tough battle against the pancreatic cancer which eventually took his life.

"In fitting with the approach that characterised his life and work, he remained positive until finally succumbing to the last stages of his illness."

advertisement
The rotund, black-bearded tenor known as "Big Luciano" helped bring opera to the masses and performed to vast stadium audiences round the world.

He shot to fame with a stand-in appearance at London's Covent Garden in 1963 and had soon had critics gushing about his voluminous voice.

His last public singing performance was at the opening ceremony of the Winter Olympics in Turin in February 2006.

In July last year, Pavarotti underwent surgery in New York for pancreatic cancer and retreated to his villa in Modena. He had to cancel his first planned public reappearance a few months later.

Pavarotti was taken to a hospital in Modena last month and treated for more than two weeks. He was released on August 25, and spent his final hours at home with family and friends nearby, the statement said.

A Modena television station reported on Wednesday that Pavarotti had lost consciousness and suffered kidney failure towards the end of his life.

Perhaps Pavarotti's biggest gift to the music world was when he joined forces with Spanish stars Placido Domingo and Jose Carreras at the 1990 soccer World Cup and introduced operatic classics to an estimated 800 million people around the globe.

"I always admired the God-given glory of his voice - that unmistakable special timbre from the bottom up to the very top of the tenor range," Domingo said in a statement from Los Angeles.

"I also loved his wonderful sense of humour and on several occasions of our concerts with Jose Carreras - the so-called Three Tenors concerts - we had trouble remembering that we were giving a concert before a paying audience, because we had so much fun between ourselves."

The tenor, who seemed equally at ease singing with soprano Joan Sutherland as with the Spice Girls, scoffed at accusations that he was sacrificing his art in favour of commercialism.

"The word commercial is exactly what we want," he said, after appearing in the widely publicised Three Tenors concerts.

"We've reached 1.5 billion people with opera. If you want to use the word commercial, or something more derogatory, we don't care. Use whatever you want."

Other tenors - Domingo included - may have drawn more praise from critics for their artistic range and insights, but none could equal the combination of natural talent and personal charm that so endeared Pavarotti to audiences.

"Pavarotti is the biggest superstar of all," the late New York Times music critic Harold Schonberg once said.

"He's correspondingly more spoiled than anybody else. They think they can get away with anything. Thanks to the glory of his voice, he probably can."

©AAP 2007

Ref: ninemsn.com.au

-------------------------------

micell
September 06, 2007, 08:40
selamat jalan Luciano Pavarotti..