View Full Version : Buat Aku Tersenyum







CeeCee
February 21, 2003, 06:56
Dania menyalin rumus-rumus matematika yang tertulis di papan tulis. Saat ini sudah jam istirahat, jamnya anak-anak pada ke kantin atau ngobrol bareng sohib kental. Tapi apa yang dilakukan Dania? Malahan belajar dan menekuni rumus baru itu dengan wajah serius. Dania duduk mengkerut serius di pojok kelas sambil melahap bekalnya, roti burger dan kentang goreng.
“Serius amat belajarnya, ulangannya kan masih lama,” tukas Lavid tiba-tiba, mencomot kentang goreng.
Dania tersenyum tipis dan menarik napas panjang. “Emang bener sih kata lo, Vid! Tapi gue bener-bener nggak ngerti! Blank abis! Makanya gue harus ngerti nih! Kalo enggak, ulangan gue nilainya bisa jeblok! Ntar nyokap gue nyap-nyap tiap hari lagi!”
“Tapi jangan sampe seserius itu dong, Non!” ujar Lavid santai menimpali paparan alasan kenapa Dania tahan duduk di kursi kayunya yang udah mulai hot itu.
“Biarin aja! Suka-suka gue! Kalo nggak serius belajarnya, ntar nggak masuk-masuk tau!” tukas Dania membalas. Muka Dania langsung deh ditekuk sedemikian rupa. Sehingga tampang Dania yang biasanya smile foreva jadi sepet kelipet-lipet.
“Iya, deh, iya! Gue kan cuma ngasih tau, lo lebih cakep kalo lagi senyum,” gumam Lavid nggak jelas.
“Apa, Vid?” tanya Dania, nggak yakin akan apa yang ia dengar tadi. Di dalam hatinya sih, Dania berharap aja apa yang tadi didengarnya bukan cuma salah denger aja.
“Ya, iya. Masa lo nggak denger sih?” ujarnya mulai salah tingkah. Mukanya yang biasanya cool (atau sok cool?!) itu jadi kayak orang cengo. Ia menggaruk-garuk kepalanya bingung, gelisah, resah. Diam-diam Dania geli juga ngeliat Lavid yang biasanya pede (maybe aja sok pede) tiba-tiba jadi salting. Kejadian langka tuh!
“Enggak. Gue nggak denger, Vid! Apaan sih? Kasih tau gue, kek!” paksa Dania.
Setelah Dania memaksa Lavid dengan 1001 cara, akhirnya Lavid menyerah. “Oke, oke. Gue kasih tau deh!”
Dania berseru gembira, “Gitu dong, Vid!” Wajahnya yang sepet jadi sumringah dan smile lagi.
“Tadi gue ngomong kalo lo cakep kalo lagi senyum,” ujarnya. Namun sebelum Dania sempat melambung en flying ke langit ketujuh, eh, Lavid langsung menariknya kembali, membebankan jangkar ke tubuhnya.
“Eits, jangan melayang dulu, Dan! Gue bilang lo kalo senyum cakep, soalnya jadi kayak si Abu sih!” ujarnya mengakhiri ucapannya.Si Abu yang dimaksud oleh Lavid di sini adalah monyet peliharaannya Alladin. Jelas aja ucapan Lavid ini membuat Dania down to earth, eits, fall to earth kayaknya lebih tepat deh!
Kemudian Perang Dunia ke-3 antara Lavid dan Dania berlangsung sampai bel masuk berbunyi.

CeeCee
February 21, 2003, 06:58
Datanglah sayang, dan biarkanku berbaring. Di pelukanmu, walaupun ‘tuk sejenak. Usaplah dahiku, dan ‘kan kukatakan semua...
Dania mematikan walkman-nya. Mendengar lagu Buat Aku Tersenyum yang dilantunkan Duta vokalis grup Sheila On 7 itu membuat kenangan pahit yang terkubur di lubuk hatinya yang terdalam kembali tergali dan terkuak kembali. Saat itu sungguh indah rasanya hidup ini menurut Dania.
Saat itu musim penghujan, tiap hari hujan pasti turun, hingga udara dingin menggigit dan becek di mana-mana. Itu sebabnya ibunya Dania yang over-protective selalu membawakan payung Winnie The Pooh, yang memiliki kenangan manis tak terlupakan bersama cinta pertamanya.
Cinta pertamanya itu anak SMU kelas 2 saat ia masih duduk di bangku SLTP kelas 3. Anaknya baik, care, ramah, sopan, pinter, and many more. Pokoknya anak-anak satu sekolahan aja nggak bisa percaya cowok se-handsome and se-almost perfect dia bisa mau sama Dania. Yah... maklum aja, soalnya waktu SMP Dania tuh dikenal rebel banget. Anaknya juga selalu bikin amarah Dania yang suka meledak-ledak itu reda. Pokoknya cuma cowok itu yang ngerubah The Rebel Dania become The Cheer Dania.


Niel namanya.

CeeCee
February 21, 2003, 06:59
Saat itu hujan rintik-rintik turun di daerah sekitar sekolahan Dania yang lama, tak lama turun setelah bel pulang berdering nyaring. Adrenalin di dalam tubuh anak-anak remaja awal itu bersemangat untuk menyongsong saat lepas dan bebas. Saat pulang sekolah.
Semua naik ke mobil, pulang dengan meninggalkan jejak di lumpur. Yang lainnya memaksa diri untuk tetap pulang mumpung saat itu masih rintik-rintik. Ada juga yang jadi malas pulang dan nongkrong di sekolah, ngobrol dengan teman-teman lainnya, menghabiskan waktu untuk obrolan tak pasti.
Dania duduk di ruang tunggu, menunggu sopirnya menjemput. Sopirnya tadi menelepon ke hand phone-nya, minta maaf karena mobilnya kejebak macet di tengah jalan. Dania mencoba meredam amarahnya dengan memasang walkman, melupakan kekesalannya. Keteledoran sopirnya membuat ia terpaksa menunggu sendirian di ruang tunggu. Dania kesal, ia merasa kayak orang bego sendirian di sana. Well, mau apa lagi? Selama ini Dania emang nggak pernah deket ama siapa-siapa.
So, siapa juga yang mau deket-deket sama dia, The Rebel Dania yang kerjaannya ke kantor guru buat dihukum, sering diskorsing, en selalu diperingatin guru BP gara-gara kelakuannya yang nggak dapat diterima oleh akal sehat.
Dania memasang kaset Sheila On 7, yang bertitel 07 Des. Lantunan suara Duta segera membuat amarahnya lenyap. Ia mengulang-ngulang lagu-lagu yang itu-itu lagi selama kira-kira 3 jam. Sampai akhirnya ia mematikan walkman-nya, menelepon sopirnya.
Nggak aktif lagi! Bego! Emangnya tuh sopir dikasih HP buat apa? Buat ngeceng? Buat nongkrong? Buat pamer? Jelas-jelas buat bisa dihubungi Dania! Terus kenapa juga Hpnya di non aktif-in! Stupid banget, omel Dania dalam hati. Jadi, artinya ia sudah menunggu 3 jam tanpa hasil, dan ia harus menunggu lebih lama lagi?!
Dania dengan marah membuka tasnya dan mengeluarkan payung Winnie The Pooh. Ia membuka payung di depan pintu ruang tunggu, dan berjalan menyusuri jalanan menuju gerbang sekolah. Langkahnya hampa, monoton, dan statis. Ia menatap percik air yang ia buat ketika melangkah.
Tiba-tiba terdengar langkah orang berlari di belakangnya. Dania menoleh ke asal suara itu, dan di kejauhan ia bisa melihat sosok anak berseragam SMU berlari sambil memayungi kepalanya dengan tasnya yang basah kuyup. Dania seperti terpaku, tak bergerak menatap sosok itu, sama seperti jantungnya yang tak berdegup.
Sosok itu berlari ke arahnya, dan.... Bruk! Sosok itu menabraknya! Dania jatuh tersungkur di lantai aspal yang kasar dan keras. Dania mengaduh kesakitan, memegangi lututnya yang memar dan meneteskan darah segar bercampur air hujan. Sementara cowok itu memegangi hidungnya sambil meringis kesakitan.

CeeCee
February 21, 2003, 07:02
Cowok itu berdiri dan membantu Dania berdiri (cowok gentle nih!) kemudian mengambilkan payung Dania. Dania merebut payungnya dengan sedikit gusar, mengingat ia baru aja badmood. Ia dengan ketus membentak cowok itu, nggak ada sopan-sopannya, padahal kakak kelas.
“Jalan tuh di mana-mana pake mata! Nggak bisa liat ya?” teriak Dania. Dania mengangkat kepalanya dengan angkuh, menaikan alisnya hingga bertaut.
Cowok itu mendesah, merasa bersalah. “Aduh, sorry banget ya! Gue lagi buru-buru banget nih! Dan gue emang nggak liat kalo ada elo di depan, soalnya gue nggak pake kacamata!” jelasnya.
“Ah...! Eh, Bung! Di jaman millenium ini, udah banyak tuh pembohong yang ketangkep basah! Contohnya jaa banyak kan koruptor-koruptor yang ketahuan belangnya! Jadi, ngan macem-macem deh! Nipu tuh in the right time and the right place dong!” omel Dania judes.
Cowok itu terbengong menatap Dania yang ngomel-ngomel di tengah derasnya hujan. Dania menatap wajah cowok itu, ehm.... lumayan juga sih....! Tapi tetep aja Dania ngerasa bete dan kesel sama kelakuan tuh cowok. Yap! Dania emang anti banget ama yang namanya pembohong! Jauh-jauh, deh!
“Tapi... tapi... Ehm, gini ya. Gue sama sekali enggak bohong sama lo! Omongan gue ini fakta, realita, kenyataan hidup yang bener-bener terjadi! Gue sama sekali nggak ngeboongin elo! Lo aja yang terlalu curigaan, Non!”
Dania menatap cowok itu dengan tatapan sinis. Namun dalam hatinya ia memuji cowok ini. Baru sekali ini ada orang yang berani menentang omongannya terang-terangan. Biasanya sih orang lain cuma menuding dia dari belakang, munafik gitu deh!
“Oke, oke. Kalo emang lo ngotot kalo omongan lo tadi tuh fakta, berarti lo mesti bisa ngebuktiin omongan lo tadi. Understand?”
“Oke!” cowok itu mengeluarkan sesuatu dari kantung kemejanya. Sebuah kacamata berbingkai plastik hitam. Dania yang tadinya menatap cowok itu sinis jadi malu.
“See? So, gue ingetin aja, lo jadi orang seharusnya jangan nuduh orang secara sembarangan tanmpa bukti dan saksi yang kuat. Remember, don’t judge the book by it’s cover!” tukas cowok itu.
Baru kali ini Dania bisa terpesona sama seseorang. Dan baru kali ini juga Dania dipermalukan. Dan hal yang baru ini bikin Dania ngerasa beda. Kayak ada sesuatu yang muncul di dirinya. Perasaan baru yang bikin Dania terpukau sama cowok itu, yang bikin jantung Dania berdetak cepet, dan yang bikin perasaan Dania berbunga-bunga menatap matanya.
“Sorry banget, ya! Tau nggak, baru kali ini omonganku dibales sama orang. Dan baru kali ini juga aku kalah adu mulut sama orang.”
“Iya?”
“Sumpeh deh!” tukas Dania sambil tersenyum manis. Kalo ada anak sekolahnya yang ngeliat saat itu, pasti nggak percaya dan bakal ngucek-ngucek mata buat mastiin kalo hal itu salah. Come on! The Rebel Dania senyum manis? Itu tuh bakal masuk Guinness Book of Record atau jadi salah satu keajaiban dunia!
“Oke, lo udah kalah. Berarti, lo harus minta maaf dong sama gue!” tukasnya.
Dania mengerutkan keningnya. “Apa?! Gue?! Minta maaf?! No way! Itu tuh bukan salah gue!”
“Oh.... Bukan salah lo, neh....?!” ujar cowok itu sambil menggoyang-goyangkan kacamatanya di depan mata Dania, menunggu Dania mengucapkan kata-kata itu dari bibirnya.
Namun tiba-tiba......

Krek!

Ternyata.... kacamatanya patah jadi dua!

begawan
February 23, 2003, 02:35
CeeCee welcome :D

CeeCee
February 23, 2003, 14:04
“Hah? Patah lagi! Mati gue! Pasti nyokap gue ngomel lagi nih!” tuturnya kaget. Kacamatanya patah jadi dua.

Pokoknya nasib kacamatannya naas banget deh! Belom lagi hidungnya lecet dan luka. Dania jadi nggak tegaan.

“Aduh, kacamata lo patah, terus gimana lo bisa liat?” spontan Dania mengomentari.

Cowok itu mengangguk, menyetujui komentar Dania. “Yap. Gue nggak bisa liat jalan neh!”

Dania jadi nggak enak hati, mau nggak mau sebagai orang yang punya iman, dia setidaknya harus menolong cowok ini. Walau kacamatanya patah bukan karena Dania, tapi Dania kan juga ngerasa kasian.

Akhirnya dengan berat hati Dania melupakan kekesalannya dan memutuskan untuk mengantarkan cowok itu kembali ke habitatnya yang sesungguhnya.

“Gue anterin lo ke rumah deh, tinggal nunggu sopir gue jemput bentar lagi. Oke? Anggep aja sebagai permintaan maaf gue, walau itu bukan salah gue,” ujar Dania sambil menatap cemas akan jawaban cowok yang udah setengah buta ini.

Cowok itu mengangguk, “Thanks, ya! Untung aja lo mau nganterin gue, kalo enggak gue nggak tau gimana caranya gue pulang. Maklum, minus gue udah minus tujuh sih! Jadinya kalo nggak pake kacamata, gue udah serasa orang buta!”

Dania mengangguk, “Nunggu di ruang tunggu aja, yuk! Daripada kehujanan, nanti sakit lagi!”

Akhirnya mereka berjalan berbarengan. Dania membantu cowok itu berjalan. Mengarahkan ke mana ia harus melangkah, kayak nuntun orang buta nyeberang jalan. Akhirnya mereka duduk di ruang tunggu, menggigil kedinginan. Maklum, tubuh mereka basah kuyup.

Lagian, mereka juga sih! Mana ada orang yang berantem di tengah jalan di tengah-tengah derasnya hujan! Cuma mereka berdua aja tuh! Dasar keduanya emang keras kepala!

Dania duduk menjauh dari cowok itu, sebab jantungnya berdetak tak menentu saat ia berdekatan dengannya. Dengan bingung Dania memikirkan perasaan apa yang menguasainya. Namun cowok itu mendekat dan duduk di sampingnya, sambil menggemeletuk kedinginan, membuat Dania merasa semakin kedinginan.

Sampai akhirnya keheningan terpecah. “Nama lo siapa sih?” tanya Dania dengan suara tercekat.

Cowok itu menatapnya (padahal nggak keliatan apa-apa kan?) dan menjawab, “Niel. Nama lo siapa?”

Dania langsung memerah malu, untung aja cowok itu rabun kalo nggak pake kacamata, kalo enggak dia pasti tahu kalo Dania ada rasa sama dia. “Eh, nama gue Dania. Lo kelas berapa sih?”

“Kelas 2 SMA. Lo gimana? Lo SMP apa SMA sih?”

“Gue kelas 3 SMP.”

“Oh, kelas 3, udah mo naik SMA dong!”

“Iya. Gue bingung mo masuk mana nih! Nyokap gue maksa gue masuk ke Yogya.”

“Jauh banget! Mending di Jakarta aja! Lagian di Jakarta juga masih banyak sekolahan kan?”

“Iya, emang sih.”

“Masuk SMA gue aja, jadi ntar gue bisa ngerjain lo pas MOS! He, he, he!”

“Ye! Dasar! Niatnya nggak baik tuh!”

“Becanda doang, kok! Tapi, beneran deh, masuk SMA sini aja! Kan bisa ketemuan lagi!”

“Ah, ngapain juga ketemu lo lagi?! Ntar gue sial lagi!”

“Masa sih? Enggak juga ah!”

“Buktinya pertama ketemu lo, gue udah sial. Kalo gue satu sekolah ama lo, gue bisa sial tujuh turunan lagi! Ogah, deh!”

Mereka akhirnya berbincang-bincang, sampai akhirnya pembicaraan melenceng ke musik, film, dan hal-hal lainnya. Mereka ternyata punya minat yang sama. Bahkan group band kesukaan mereka sama, Sheila On 7.

“Eh, gue bawa kasetnya lho! Mo dengerin bareng? Daripada be-te nunggu, mending juga dengerin suaranya Duta,” ujar Dania dengan riang, mengobrak-abrik tasnya, mencari walkman dan kaset kesayangannya itu. Untung aja tas Dania kedap air, kalo nggak rusak deh walkman-nya itu.

“Lo bawa? Boleh tuh!” timpal Niel sambil dengan bersemangat memasang salah satu earphone di kupingnya. Earphone yang satu lagi dipasang di kuping Dania, kemudian mereka berdua mendengarkan bersama lagu-lagu Sheila On 7.

Mereka mulai diskusi soal Sheila On 7. Mulai dari lagu favorit mereka, pengarang lagu favorit, sampe personil favorit mereka. Obrolan mereka terhenti saat lagu Buat Aku Tersenyum mulai dilantunkan.

“Nah, ini dia lagu kesukaan gue!” teriak Dania berbarengan dengan Niel. Mereka saling berpadangan, dengan takjub serta heran, ternyata mereka menyukai lagu yang sama. Akhirnya mereka menghabiskan sore yang dingin diiringi musik hujan rintik-rintik sembari menyanyikan lagu itu bersama-sama. Hingga makna lagu itu menjadi begitu berarti bagi mereka berdua.
Sampai pukul lima mobil Dania belom juga datang. Hujan sudah reda, udara mulai menghangat.

Mereka berdiri di luar ruang tunggu sambil bercanda berdua. Sampai akhirnya Dania melihat bintik-bintik uap mulai menghiasi angkasa dengan ketujuh warna nirwananya. Pelangi indah yang mewarnai sore ceria itu.

Akhirnya mobil Dania datang juga, tapi Dania nggak marah, soalnya karena telat dijemput, ia jadi kenal sama Niel. Kemudian Dania mengantarkan Niel ke rumahnya, dan payung Dania terbawa oleh Niel.

Besoknya Niel sengaja menghampirinya untuk mengembalikan payung Winnie The Pooh itu. Niel udah pake soft lens, gantiin kacamatanya yang udah patah itu. Mulai dari perkenalan sederhana, simpel, dan romantis layaknya cerita khayal dramatik di sinetron-sinetron, hingga akhirnya benih cinta yang ditebar tumbuh dan mengikat mereka menjadi sepasang kekasih.

CeeCee
February 23, 2003, 14:17
Bila kulelah tetaplah di sini. Jangan tinggalkan aku sendiri. Bila kumarah biarkanku bersandar. Jangan kau pergi untuk menghindar...

“Dania! Temanmu datang nih!” teriakan mamanya membuyarkan mimpi Dania. Dania menguap sejenak, kemudian menggeliat dengan malas di atas ranjangnya.

Dania mematikan radionya. Ternyata lagu Buat Aku Tersenyum lagi diputar di radio. Dania mengucek-ngucek matanya dengan malas berteriak menjawab, “Iya, Ma! Bentar ya!”

Dania menyisir rambutnya yang acak-acakan itu, kemudian mengikat rambutnya menjadi ekor kuda. Ia merapikan bajunya, dan keluar dari kamar. Menuruni tangga, membelok ke ruang tamu.

Di sana duduk Lavid dengan gugup memainkan jari-jari tangannya. Lavid tersenyum lega begitu melihat Dania menghampirinya.

Dania duduk di hadapan Lavid, “Ada apa nih, Vid?”

Dania menyodorkan segelas teh dingin ke hadapan Lavid. Kemudian Dania meneguk tehnya sendiri. Lavid ikut meneguk tehnya hingga setengah gelas habis. Dania memandang Lavid curiga, nggak biasanya Lavid bertingkah seunik ini.

“Vid, lo kenapa sih hari ini? Kok aneh banget!” tukas Dania sambil memeluk bantal sofa ruang tamunya. Lavid makin salah tingkah. Ia menggaruk-garuk kepalanya lagi.

“Gini lho, Dan, gue ngebantuin elo belajar mat. Tadi kan lo nggak ngerti rumus mat. Gue pengen ngebantuin elo supaya ngerti. Gitu aja sih,” ujarnya.

“Cuma itu aja? Buat apa juga lo ngajarin gue?” jawab Dania dingin. Badmood Dania keluar lagi deh, apalagi Dania baru aja bermimpi soal kenangan pahitnya.

“Ya, ampun, Dan, lo sinis banget! Gue kan niat baik mo ngajarin lo, kalo lo nggak mau, ya udahlah!” Lavid jadi gusar. Lavid berdiri dan melempar bantal sofa.

Dania buru-buru bangun, “Vid, gue nggak serius kok! Tadi gue tuh cuma becanda doang! Sejujurnya sih gue seneng banget lo mau ngajarin gue!”

“Masa?” ujar Lavid nggak percayaan.

Dania mengangguk, “Serius deh!”

Akhirnya mereka belajar bersama. Sampai akhirnya malam menjemput, dan itu tandanya Lavid harus kembali ke peraduannya.

Lavid berdiri di depan pintu rumah Dania, enggan untuk berpulang. Ia masih ingin melihat wajah manis Dania yang sering masuk ke dalam mimpinya, mengisi kekosongan hatinya selama ini.

“Bye, Vid! Hati-hati di jalan ya! Nyetirnya jangan meleng!” nasihat Dania sambil mengantar Lavid ke depan pintu rumahnya. Pintu pagar sudah dibukakan satpam rumah Dania. Mobil Lavid sudah menanti untuk dinaiki pulang. Namun hati Lavid masih tetap terpancang di sini.

“Gue balik dulu ya, Dan! Take care!” ujarnya pendek. Sebenarnya masih ribuan kata yang ingin ia ungkapkan, namun malam telah menghalanginya untuk menumpahkannya.

“Yok!” Dania menyahut, hendak menutup pintu. Namun tangan Lavid lebih gesit, menghalang pintu itu menutup hubungan mereka, juga menutup hati Dania.

“Kenapa, Vid?” tanya Dania dengan polosnya. Lavid cuma menggeleng-geleng dengan jengah, bingung harus bagaimana. Lavid cuma tersenyum sambil melambai, menuruni tangga teras rumah Dania. Dania balas melambai, kemudian menutup pintu. Kemudian kosong. Kosong.

Lavid dengan hati yang patah dan remuk meninggalkan sangkar emas Dania, kembali pada jalannya yang gelap semula. Ia pikir ia bisa dengan mudah mendapatkan hati Dania, ternyata dugaannya salah besar! Dania begitu sulit untuk dicapai, layaknya mustahil untuk menggapai bintang di langit.
Lavid berpulang dengan hati retak yang luka dan memar.

Semuanya mungkin karena Dania, namun obat bagi sakit hatinya itu hanya satu, yaitu Dania itu sendiri. Lavid telah terkena racun karena cinta. Kini harapannya nampak pupus dan tenggelam.

shella
February 24, 2003, 08:05
wahh Cecee ikut lomba!! ::up::

CeeCee
February 26, 2003, 08:57
Testing neh!!!

CeeCee
February 26, 2003, 09:32
testing

CeeCee
February 26, 2003, 09:35
test

CeeCee
February 26, 2003, 09:55
test

alma_4eva
February 26, 2003, 13:58
testingnya banyak amat cee? ;D

shella
February 27, 2003, 04:23
iya nih kirain gue cecee lagi nerusin ceritanya

lynda
February 27, 2003, 05:23
ini yg pernah di KG yah?
kayaknya pernah baca...

CeeCee
February 27, 2003, 09:46
oops, banyak juga yach.... jadi malu dech.... ::malu::

iya neh, udah pernah dimuat di KG waktu itu. Bosen ga bacanya??? He he he..... Lagi malez nulis cerpen neh.... :zzz:
Vakum dulu.....

So, gmn jadinya KG neh???

Moga2 aja everything will be ok.... ::boxing:: fight2!!!

CeeCee
February 27, 2003, 09:50
Lavid mengendarai mobilnya di tengah kemacetan kota Metropolitan. Ia mendesah panjang, kemudian mengotak-ngatik tombol radio, mencoba menemukan radio yang asyik.

Tapi hasilnya nihil. Semuanya tak cocok dengan suasana yang bergemuruh di hatinya.

Lavid memukul kedua tangannya ke setir, mencoba melepas lelah dan penat di tubuhnya. Ia menatap kemacetan panjang yang terbentang jauh di hadapannya. Ia akhirnya dengan pasrah mengambil hand phone, menelepon ke rumahnya.

“Hallo? Ini Mama? Iya, Ma, aku lagi di jalan mo pulang. Tapi di sini macet banget!” ujarnya. “Iya, iya. Aku masih di jalan, Ma. Iya, aku langsung balik kok ke rumah, mama tenang aja!”

Lavid mematikan ponselnya dan menaruhnya di kantong celana jeans-nya. Ia meneguk habis air mineral dari botol minumnya.

Tak lama kemudian mobil di depannya berjalan, nampaknya sudah lancar. Lavid memasukkan gigi dan menginjak pedal gas.

Tak lama kemudian ponsel Lavid berbunyi, bergetar di dalam kantongnya. Lavid buru-buru mengambil ponselnya seraya tetap menstabilkan kecepatan kendaraannya. Ia menekan tombol angkat pada ponselnya, rupanya dari teman lamanya.

“Hallo? Oh, elo! Kenapa nih nelepon gue? Hah?! Serius lo? Mo balik ke sini Minggu?” Lavid dengan gembira menerima telepon dari sohib lamanya.

“Oke, jam tiga sore gue jemput di bandara deh! Yok! Bye!”
Lavid tersenyum sambil mengantongi ponselnya lagi. Senyum tipis menghias bibirnya.

CeeCee
February 27, 2003, 09:52
Rasakan resahku dan buat aku tersenyum. Dengan canda tawamu, walau ‘tuk sekejap. Karna hanya engkaulah yang sanggup redakan aku...


Dania saat itu gundah, hatinya resah. Ia menunggu Niel datang sudah berjam-jam lamanya. Ia sudah menghabiskan tiga gelas coke. Menunggu Niel di fast food sambil main sms bareng sohib karibnya. Tapi tetap saja tiga jam yang terlewat terasa seperti tiga abad lamanya. Bahkan lagu kesayangannya yang mengalun terus-menerus di mall nggak bikin suasana hatinya lebih fresh en santai.

Akhirnya Niel berlari menghampiri mejanya dengan napas tersengal-sengal. Dania menyambutnya dengan wajah memberengut marah. Niel meminta maaf, “Sorry, Dan! Tadi gue ada urusan sama nyokap. Gue berantem sama nyokap gue, makanya gue telat!”

“Telat sih telat! Tapi ngaretnya jangan sampe tiga jam dong! Tega banget sih lo, nyuruh gue nunggu selama itu! Lo pikir gue nih apa? Dasar jam karet!” bentak Dania kesal.

Ia menyiramkan gelas coke keempatnya yang masih penuh itu ke muka Niel. Niel yang tadinya mau membantah ocehan Dania langsung diam.

Dania bangkit berdiri dan berjalan dengan kesal dan tanpa arah pasti. Niel di belakang menyusulnya, tak perduli tetesan coke masih menetes dari bajunya, membasahi lantai mall. Ia sempat ditegur beberapa orang, namun ia tak peduli. Yang ia peduli hanya Dania. Dania. Dania.

Niel mengejarnya, sambil berteriak padanya, berusaha meluruskan segalanya. “Dan, maafin gue dong! kan gue udah bilang, kalo gue telat dateng gara-gara gue ribut sama nyokap! Masa lo nggak bisa ngerti juga?!”

“Nggak! Gue nggak bisa ngerti! Lo mau gue ngerti setelah gue nunggu lo tiga jam di sini?! Nggak mungkin deh, Niel! Nggak!” teriak Dania membalikan badannya dan menatap Niel dengan muka marah.

Niel menarik tangan Dania sebelum Dania sempat berjalan. Dania berusaha melepaskan genggaman tangan Niel, namun Niel mencengkramnya begitu erat. Dania memberontak dan berteriak, “Lepasin, Niel!”

Semua orang menatap mereka, namun Niel tetap mencengkram tangan Dania. “Gue lepasin, tapi lo harus dengerin penjelasan gue, Dan!”

Dania menggeleng, “Nggak akan! Gue nggak akan maafin lo, Niel! Lepas nggak?!” ancamnya kesal. Dania memberontak.

“Gue berantem sama nyokap karena dia mau gue kuliah di Australia!” teriak Niel melontarkan segala unek-uneknya. Segala yang ada di hatinya.

Hening.

Dania berhenti memberontak, tatapan matanya yang sayu itu menatap sosok cowok pertamanya yang dicintainya, yang sebentar lagi akan lenyap dari hadapannya. Yang terucap dari bibirnya hanya, “Serius?”

Niel mengangguk, kemudian ia melepaskan tangan Dania yang terisak Dania menangkupkan wajahnya ke bahu Niel yang basah, namun Dania nggak peduli.

Dania berbisik menahan tangis, “Niel, gue mo pulang...”

CeeCee
February 27, 2003, 09:53
Dania dan Niel duduk di teras depan rumah Dania. Raut wajah mereka tampak begitu tegang, juga sedih.

Dua cangkir teh hangat yang sudah disiapkan pembantu rumah Dania yang semula mengepul kini sudah mendingin. Menandakan lamanya mereka berdiam di depan.

Niel melawan dingin yang merayap di tubuhnya. Coke yang disiramkan Dania ke tubuhnya sudah dikeringkan dengan handuk, kebetulan dipinjamkan oleh Dania.

Dania meminjamkan bukan dengan rasa bersalah, bukan pula dengan rasa simpati. Mungkin karena ini terakhir kalinya Dania bisa membantu Niel, karena tak akan ada lagi kali lainnya.

“Dan, jangan diem gitu dong,” ujarnya membuka pembicaraan.
“Niel, kayaknya mendingan kita jangan ketemuan lagi deh mulai sekarang,” tukas Dania dengan nada dingin. Niel tersentak, ia tak pernah mendengar nada sedingin itu terucap dari bibir Dania.

“Emangnya kenapa, Dan? Lo udah nggak sayang sama gue?”

“Gue masih sayang banget sama lo, Niel. Tapi apa gunanya gue sayang sama lo kalo akhirnya ntar lo pergi juga ke Australia. Ninggalin gue. Percuma kan?”

“Dan, walau gue ke sana, nggak berarti gue bisa ngelupain elo, karena nggak mungkin banget gue bisa ngelupain elo. So, please jangan putusin gue. Gue masih butuh lo,” ujar Niel.

“Apa harus gue yang menunggu di sini? Ini nggak fair, Niel! Ini nggak fair! Lo di sana, gue di sini. Gue nggak yakin apa bisa gue sendiri di sini tanpa lo. Gue nggak tau mesti gimana tanpa lo... Gue nggak tau...” Dania mulai terisak.

Niel menggenggam tangan Dania, dan mengecupnya. “Dan, ini semua terserah sama lo. Mungkin emang semuanya harus berakhir di sini, atau semuanya akan berlanjut, gue juga nggak tau. Tapi sekali lagi, semuanya tergantung elo. Gue bakal nerima segala keputusan lo.”

Dania diam. Mematung.

“Gue balik dulu ya. Bye!” Niel mengecup kening Dania perlahan, sementara Dania meneteskan setitik air mata. Membasahi pipinya dan jatuh turun ke dagunya.

CeeCee
February 27, 2003, 09:54
Karna engkaulah satu-satunya untukku dan pastikan kita selalu bersama. Karena dirimulah yang sanggup mengerti aku dalam susah ataupun senang...

Dania bangun pagi, ia nggak bisa tidur semalaman. Matanya membengkak, pikirannya semalam begitu resah, seakan dunia ini akan berakhir keesokan paginya. Mimpi akan kejadian masa lalunya bersama Niel terulang lagi. Dan terulang lagi.

“Met pagi, Dan! Lesu amat!” tegur Lavid dengan semangat menghampirinya ketika Dania duduk lesu.

“Iya nih, Vid. Semalem gue nggak bisa tidur. Ngantuk banget!” tukas Dania.

Lavid menatapnya dengan cemas, “Kurang tidur bisa gampang sakit lho!”

Dania tertawa, “Lavid, lo kok cemas banget sih?! Yang sakit kan juga gue, bukan elo!”

“Ye! Gue kan sebagai teman baik ngingetin elo! Udah bagus gue perhatiin, eh malah diomelin! Ya udah!” omelnya.

Dania tertawa, “Bercanda kok, Vid!”

“Eh, hari Sabtu ini ada acara nggak?” Lavid membuka topik pembicaraan.

Dania menggeleng, “Nggak ada, emang kenapa?”

“Bener nih? Nonton yuk!” ajak Lavid dengan mata berbinar-binar.

Dania mengerutkan kening bingung.

“Ehm... Nggak tau deh, Vid. Kayaknya gue males deh,” jawab Dania menundukkan kepalanya, nggak enak menatap wajah Lavid yang sebegitu antusiasnya.

“Kenapa? Malu ketauan jalan ama gue?” ujar Lavid tersinggung.

Dania menggeleng, “Nggak gitu, Vid. Maksud gue... Gue nggak tau deh!!”

“Ayo, Dan. Cuma nonton aja kok!” bujuk Lavid.

Dania jadi bingung. Jelas ajakan Lavid mengingatkannya akan memorinya saat Dania dan Niel pergi nonton pertama kali. Ia takut kejadian yang sama akan terjadi akan terulang. Dan ia nggak mau.

“Tapi, Vid....”

“Ayo, dong!! Gue jemput deh!”

“Bukan masalah perginya. Tapi pulangnya...”

“Gue anterin deh sampe rumah! Oke?”

“Ehm... oke deh...” Dania berat menjawab, sebenernya dia sendiri juga nggak yakin akan jawabannya.

CeeCee
February 27, 2003, 09:55
Hari Sabtu akhirnya tiba. Sekolah Dania libur pada hari Sabtu, jadi anak-anak udah pada ngerencanain mo pergi ke mana aja. Dan pada hari ini Dania udah janji bakal pergi nonton sama Lavid. Tapi entah mengapa hatinya memiliki firasat buruk. Paling enggak buruk menurut Dania.

Dan sepanjang hari hatinya terasa resah.

Mereka duduk di mobil Lavid, mencari tempat parkir di mall yang luas itu. Setelah itu mereka naik lift. Dan mereka berjalan bersisian menuju ke gedung bioskop. Memesan tiket kemudian membeli coke dan pop-corn. Mereka masuk ke studio dan duduk untuk menyaksikan film bertema drama komedi. Dan sepanjang film diputar, hati Dania bergetar resah. Ia merasakan akan ada sesuatu terjadi, sebentar lagi.

Seusai menonton, mereka berjalan menuju salah satu restoran fast food, hendak mengisi perut mereka yang memberontak.

“Kok dari tadi diem aja sih? Be-te ya?” tukas Lavid dengan bingung.

Maklum, nggak biasanya Dania yang ceria jadi sependiam ini. Lavid takut kalau-kalau Dania ngerasa be-te pergi sama dia.

Dania menggeleng, “Nggak kok, Vid. Cuma dari tadi gue ngerasa gimana.... gitu! Tau deh!!”

Mereka diam. Dania berjalan dengan langkah pendek-pendek, sementara Lavid berusaha menyesuaikan langkahnya dengan langkah Dania. Dania berjalan dengan lesu, dengan kepala menunduk tak melihat ke mana arah ia berjalan. Baru pertama kali ini Lavid melihatnya murung dan lemas.

Dari arah depan tampak seorang cowok keren dengan kemeja hitam dan celana jeans longgar hitam keperakan berjalan dari arah yang berlawanan. Cowok itu memakai kacamata hitam dan nampak sedang mencari-cari seseorang. Dan cowok itu nggak ngeliat jalan sampai akhirnya...

Bruk!

Ia bertabrakan dengan Dania.

Dania sempat ditarik oleh Lavid, sehingga nggak terjatuh, sementara cowok itu jatuh terjerembab. Dania memeluk lengan Lavid yang telah menyelamatkannya.

Sementara itu Lavid marah-marah pada cowok itu sambil memeluk punggung Dania. Dania berusaha menstabilkan posisi berdirinya, dan berbalik menatap cowok itu.

Cowok itu tersungkur di lantai sambil mengaduh dalam bahasa inggris.

CeeCee
February 27, 2003, 09:57
“Dammit!” cowok itu mengaduh sambil mencoba berdiri. Ia berdiri memunggungi Lavid dan Dania. Sementara itu Lavid masih aja terus marah-marah.

“Jalan tuh pake mata ya! Nggak bisa liat di sini ada orang?” teriak Lavid.

Cowok itu berbalik, dan...

cowok itu keliatan keren sekali dengan kacamata yang berlensa biru tua. Badannya yang tegap dan rambutnya yang jabrik.

“Are you Lavid? Lavid?” ujar cowok itu ragu-ragu.

Lavid berhenti mengoceh, ia mengerutkan kening bingung. Kenapa cowok ini bisa kenal sama dia?

Dania memperhatikan ekspresi Lavid perlahan-lahan berubah menjadi cerah.

“Eh, elo! Kok udah balik? Katanya mo balik besok! Kenapa nggak bilang-bilang? Kan bisa gue jemput di bandara!” tukas Lavid sambil berjabatan tangan dengan cowok itu.

Tingkah mereka seperti teman lama yang terpisah dalam waktu yang lama dan aus.

“Gue mo ngasih kejutan buat lo, pas gue mampir ke rumah lo, katanya lo pergi nonton sama cewek!” ujar cowok itu dalam bahasa Indonesia yang terdengar aneh, namun nikmat didengar.

Lavid tertawa, “Oh, ya, kenalin nih, Dan, sepupu gue yang kuliah di Australia.”

Dania langsung ingat Niel. Ia menunduk dan mengulurkan tangan hendak menjabat tangan cowok itu.

Cowok itu melepaskan kacamatanya sambil mengucapkan namanya dengan nada datar yang nge-bass,

“Kenalin, gue Niel.”

CeeCee
February 27, 2003, 09:58
Dania langsung menengadahkan kepalanya, menatap mata cowok itu. Menatap mata Niel. Dania yakin, ini Niel-nya dulu, Niel yang sama yang pernah meninggalkannya ke Australia, Niel yang sepupu Lavid. Mata itu masih mata Niel yang dulu, mata minus berwarna abu-abu kecoklatan. Mata yang pernah menggetarkan dawai hatinya.

“Niel?” spontan kata itu terlontar dari bibir mungil Dania. Niel terkesiap melihat Dania, cewek yang selalu duduk di singgasana hatinya selama ini, yang tak pernah ia lupakan walau sedetikpun.

“Dania?” Niel pun menggumam nggak percaya akan kebetulan yang ajaib ini.

Lavid telah mempertemukan mereka dalam keajaiban yang luar biasa.

Keajaiban yang nyaris tak bisa dipercaya dan jarang terjadi dalam kehidupan nyata. Namun, sungguh, keajaiban itu ada. Dan buktinya adalah pertemuan Niel dan Dania kembali.

“Kalian pernah kenal ya?” tanya Lavid bingung. Lavid menatap wajah Niel dan Dania bergatian. Keduanya menatap saling terpana dengan pancaran masih tak percaya kalo ini semua terjadi.

Niel mengangguk, menatap mata Dania yang mulai basah, “Dulu, Vid. Dulu. Udah lama banget...”

Dania terisak, kemudian memeluk Niel, “Niel, Niel! Niel, kenapa selama ini lo nggak pernah ngabarin gue? Nggak pernah nelepon gue, nggak pernah bales surat gue, nggak pernah inget gue...”

Niel mengelus rambut Dania penuh kerinduan yang lama tersimpan, “Dan, gue nggak bisa. Nggak bisa. Sorry banget, Dan.”

Lavid masih bingung, “Lo kenal di mana sih? Kalian kenapa sih? Terangin ke gue, kek! Gue nggak ngerti.”

“Vid, sebelum gue ke Australia, gue pernah jadian sama Dania,” jelas Niel singkat. “Dan gue masih sayang sama dia sampe sekarang....”

Lavid pucat, ia nggak percaya cewek yang dicintainya selama ini menutup hatinya untuk dirinya karena seorang cowok yang pergi jauh ke Australia, yang tak lain adalah sepupunya sendiri!
Jadi selama ini ia bertahan hanya untuk sebuah harapan kosong? Hanya untuk sebuah hal yang tak akan terjadi dan mustahil untuk terjadi.

CeeCee
February 28, 2003, 13:40
Dapatkah engkau selalu menjagaku...? Dan mampukah engkau mempertahanku...?


Lavid, Niel, dan Dania duduk di depan teras rumah Dania. Dania masih menangis terisak, melepaskan semua tangis yang tersimpan di dalam dadanya. Sementara Lavid dan Niel duduk diam. Nggak disangka semuanya akan menjadi seperti ini. Haruskah mereka yang selama ini akrab menjadi kaku karena seorang Dania?

Mungkin harus. Karena bagi Lavid, Dania adalah nirwananya, yang akan selalu ia capai walau tujuh samudra mencoba menenggelamkannya. Dan bagi Niel, Dania adalah mata air kesucian yang selalu meredakan haus dahaga akan cinta sejatinya.

Namun bagi Dania, Lavid hanyalah teman biasa. Teman sejati yang baik dan menolong. Bukan pangeran berkuda putih yang pada ending cerita dongeng klasik akan menyelamatkannya. Pangeran itu kini datang untuk Dania, Pangeran Niel.
“Dan, lo harus mutusin semuanya, biar masalah ini clear,” ujar Lavid dengan resah meremas-remas tangannya sendiri. Jelas ia ada di posisi sulit.

“Dan, semuanya tergantung elo. Apapun keputusan lo, gue rela kok,” ujar Niel sambil menghirup kopi panasnya.

Dania duduk memeluk bantal kursi, dan menatap kedua Arjuna yang menantikan cintanya. Dan ia tak tahu harus menyerahkan hatinya pada siapa.

Apakah ia harus memutuskan? Ia tak mau menyakiti siapapun. Ia menyukai kepribadian Niel dan kepribadian Lavid. Haruskah ia melukai salah satunya? Akankah mereka terluka akan keputusan yang ia ambil? Apakah keputusan yang ia ambil akan fair? Adilkah? Semua pertanyaan itu berkecamuk tak menentu di dadanya.

Dania akhirnya menatap Lavid, yang selama ini selalu mencoba untuk membuatnya tersenyum, kemudian menatap Niel, yang selama ini membuatnya berharap. Dania dihadapkan pada dua pilihan yang sulit.

“Lavid, lo mau kan selalu ada di samping gue? Selalu di sini buat gue tersenyum?” ujar Dania sambil menatap Lavid.

Niel menatap Dania nggak percaya, sementara Lavid jelas-jelas kaget atas keputusan Dania. Semuanya terkejut, bahkan Dania pun terkejut atas ucapannya tadi. Ia masih ngerasa nggak yakin dengan keputusannya.

Lavid pikir ia nggak punya peluang sama sekali, namun ternyata keputusan Dania kini adalah ingin bersamanya. Lavid menatap Niel yang nampak rela, pasrah, walau nampak tersakiti.

“Tentu saja, Dania. Gue akan selalu di sini, untuk elo,” jawab Lavid.

Niel tersenyum tipis, “Dania, gue tahu gue salah. Selama ini gue pikir elo hanya utnuk gue, namun gue salah. Sekarang gue tahu kalau cinta bukan suatu hal yang pasti. Tapi satu yang pasti, gue rela kok.”

Dania tersenyum, “Maaf, Niel. Dulu lo emang satu-satunya buat gue, tapi sekarang... rasanya Lavid satu-satunya buat gue. Maaf, ya.”

Niel berdiri, ”Nggak apa-apa kok. Oke deh, gue balik dulu ya, gue nggak mau ganggu nih!” Niel mengedipkan matanya dengan pandangan nakal ke arah Lavid.

Lavid tertawa, Niel sudah pulih dari patah hatinya. Semoga saja semuanya berjalan baik dan kembali seperti biasanya.
Lavid duduk di samping Dania, dan menggenggam tangan Dania.

“Gue janji gue bakal bikin lo tersenyum. Dan gue akan terus menjaga lo, terus mempertahankan lo untuk gue.”

Dania tersenyum, senyum paling cerah yang pernah ada.

Kemudian Dania memeluk Lavid, bukan sambil menitikkan air mata, namun sambil tersenyum cerah. Lavid tersenyum, kadang cinta bisa begitu manis.

Dari kejauhan Niel menatap sepupunya Lavid berpelukan bersama cewek yang ia cintai selama ini. Dania tepat memilih Lavid, mungkin memang hanya Lavid yang bisa membuat Dania tersenyum.

Niel berjalan sambil menendang kerikil dengan sepatu kedsnya, sembil menggerutu dalam hatinya. Walau dalam hati ia tahu ini luka ini akan mengering dalam waktu lama, ia pasti bisa melewatinya, demi Dania....

CeeCee
February 28, 2003, 13:42
Jauh dari itu, seharusnya kita semua tahu, bahwa di dunia ini tak ada hal yang pasti. Kecuali ketidakpastian itu sendiri. Semua hal yang terjadi di dunia kadang tidak bisa kita prediksikan dan kita rencanakan. Seperti cerita ini, cerita yang penuh ketidakpastian dan kemustahilan. Tapi, selalu ingatlah, bahwa mungkin saja cerita seperti ini terjadi pada seseorang dalam kehidupan nyata. Bisa aku, kamu, dia, kita, kalian, mereka

CeeCee
March 03, 2003, 06:55
Fiuh...... finally ending juga neh. *lega lega*

Ni cerpen uda pernah dimuat di thread KG, ini versi originalnya. Kalo yang di KG uda pernah gw edit2. Bagusan versi original apa editannya?? (nanya anak2 KG neh!!!)

Ma®™
March 03, 2003, 07:15
Ga beda jauh lah yah Cee hehehe.. Bikin lagi dunkkkk...

CeeCee
March 04, 2003, 13:34
Iya neh, uda ada calonnya. He he he... ada 2 macem critanya, en dua2nya true story temen gw ma someone. Tapi belom finished. Maybe abis lomba cerpen selese, mo gw pasang neh! tunggu yach!!

*uda ga sabaran neh!!!*

Carlos Alberto
March 08, 2003, 04:16
:) nice

::wave:: kenalin yaaa .... Carlos nih
*ikutan baca cerpen*

CeeCee
March 08, 2003, 14:31
Originally posted by Carlos Alberto
:) nice

::wave:: kenalin yaaa .... Carlos nih
*ikutan baca cerpen*

grqcias neh CARLOS mo baca....! sneng deh!!!!

aNaQtiRi
March 13, 2003, 10:52
cece... lanjutin yang banyak dunk :( :( :( yg ini eike dah baca di forum KG hehehe ..

delfira_daffa
March 14, 2003, 08:55
CeeCee.. gw lon sempet baca.. nanti kalok dah gw baca gw postingin komen gw disini key.. !! :)

shella
March 15, 2003, 06:48
del.... loe kayanya semua blm sempet baca yak ;D

Teophania_star
March 16, 2003, 21:01
a really unexpected story........wow................

can't believe that dania chose lavid over niel........

CeeCee
March 17, 2003, 13:02
Originally posted by Teophania_star
a really unexpected story........wow................

can't believe that dania chose lavid over niel........

Xie Xie tanggepannya.....! Tanx juga uda nyempetin baca neh!!!!!! He he he... lam kenal, teophania_star!!!!!

kristal
March 19, 2003, 08:29
Kita mulai menulis cerita pendek bersambung

Judul : Putih dan Hitam

Siang itu sepulang dari mengantarkan adiknya ke sekolah, Sakti baru berangkat ke kantor. Di pelataran parkir dilihatnya Ria yang juga baru akan masuk kantor. "Hai !",sapa Sakti keras-keras seolah takut Ria tak menggubrisnya. Ria membalas dengan senyum tipis. Arjuna itu kini telah berjalan di samping bidadari. Siapa tak kenal Ria, dia eksekutif wanita satu-satunya di kantor Sakti, sangat pandai, dan sangat disegani di empat lokasi. Pertama jelas di kantor, kedua di pabriknya, ketiga di daerah pertambangan batu bara, dan terakhir di daerah pegunungan tinggi di belakang pabrik. Masa lalunya pun tak ada yang pernah mengetahuinya dengan jelas. Sakti sendiri meskipun sudah termasuk senior di kantor, juga tak mendengar gosip ataupun kabar miring tentang Ria.
Pak Radar sudah menunggu di ruang rapat. Dia duduk sambil sesekali membolak-balik laporan tahunan. Ria mengetuk pintu
....

CeeCee
March 19, 2003, 10:10
hai, kristal... ehm, apa ngga sebaikny alo buat thread buat cerbung lo?? soalnya thread gw sepi... banget! uda kayak di kuburan aja!

Viscount
March 28, 2003, 11:31
Wah CeeCee jago ngarang yak....:salut:

chantal
March 29, 2003, 18:50
kereeeen cerpennya CeeCee :bravo:

CeeCee
March 30, 2003, 12:18
wuah.. tanx atas pujiannya vis... hue hue hue... jadi melayang deh gw!

n1k3_11
March 30, 2003, 13:48
keren juga yahh....

CeeCee
April 01, 2003, 08:23
hue hue ... tanx a lot!!! baca cerpen gw satu lagi ya smuanya!!! judulnya FOOL STORY!!!

lonely_girl
September 28, 2003, 02:09
top bgt :cool:

viani
May 03, 2004, 19:47
keren ceritanya nih

mynovel
May 08, 2004, 17:56
good good good