Ðãñì룮hä®d†
May 15, 2006, 05:28
Apakah yang Anda Maksud dengan Cinta?
Cinta adalah yang tak dapat diketahui. Ia hanya dapat direalisasikan
apabila apa yang diketahui dipahami dan ditransendensikan. Hanya
apabila batin bebas dari yang diketahui, baru terdapat cinta.
Demikianlah, kita harus mendekati cinta secara negatif, bukan secara positif.
Apakah cinta itu bagi kebanyakan dari kita? Bagi kita, bila kita
mencinta, di situ terdapat kemilikan, dominasi, atau penghambaan.
Dari pemilikan ini muncul kecemburuan, dan takut kehilangan, dan kita
mengesahkan instink posesif ini. Dari kemilikan ini muncul
kecemburuan dan konflik yang tak terhitung jumlahnya yang kita semua
kenal. Jadi, kemilikan bukanlah cinta. Cinta juga bukan sentimental.
Menjadi sentimental, menjadi emosional, berarti tidak mencinta.
Sensitivitas dan emosi hanyalah sekadar sensasi.
... Hanya cinta dapat mengubah ketakwarasan, kebingungan, dan
pergulatan. Tidak ada sistem, tidak ada teori--baik kiri maupun
kanan--yang dapat membawa perdamaian dan kebahagiaan bagi manusia.
Apabila terdapat cinta, tidak ada kemilikan, tidak ada irihati; yang
ada adalah pengampunan dan welas asih, bukan dalam teori, melainkan
secara aktual--terhadap istri Anda dan anak-anak Anda, terhadap
tetangga Anda dan pelayan Anda. ... Hanya cinta yang dapat
menghasilkan pengampunan dan keindahan, ketertiban dan kedamaian.
Terdapat cinta beserta berkahnya apabila 'Anda' berakhir.
Cinta Bukan Kewajiban
... Bila terdapat cinta, tidak terdapat kewajiban. Bila Anda
mencintai istri Anda, Anda berbagi segala sesuatu dengan dia--harta
Anda, permasalahan Anda, kecemasan Anda, sukacita Anda. Anda tidak
mendominasi. Anda bukan sang laki-laki dan dia perempuan untuk
dipakai dan dibuang, semacam mesin pembiak untuk melestarikan nama
Anda. Bila terdapat cinta, kata 'kewajiban' lenyap. Laki-laki tanpa
cinta dalam hatinyalah yang berbicara tentang hak dan kewajiban, dan
di negeri ini kewajiban dan hak telah mengambil-alih tempat
cinta. Peraturan telah menjadi lebih penting daripada kehangatan rasa
sayang. Bila terdapat cinta, masalahnya menjadi sederhana; bila tidak
terdapat cinta, masalahnya menjadi rumit. Bila orang mencintai
istrinya dan anak-anaknya, ia tidak mungkin berpikir tentang
kewajiban dan hak. Pak, selidikilah hati dan batin Anda sendiri. Saya
tahu, Anda menertawakannya--itu adalah salah satu kiat untuk tidak
berpikir panjang, menertawakan sesuatu dan mengesampingkannya. Istri
Anda tidak ikut memikul tanggung jawab Anda, istri Anda tidak ikut
memiliki harta benda Anda, dia tidak memiliki separuh dari apa yang
Anda miliki oleh karena Anda menganggap perempuan kurang daripada
diri Anda sendiri, sebagai sesuatu untuk disimpan dan digunakan
secara seksual sekehendak Anda bila nafsu Anda menginginkannya. Jadi
Anda menciptakan kata 'hak' dan 'kewajiban'; dan bila perempuan
berontak, Anda melemparkan kata-kata itu kepadanya. Masyarakat yang
statis, masyarakat yang lapuklah yang bicara tentang kewajiban dan
hak. Jika Anda sungguh-sungguh meneliti hati dan batin Anda sendiri,
Anda akan menemukan bahwa Anda tidak punya cinta.
Mempertimbangkan Perkawinan
Kita mencoba memahami masalah perkawinan, yang di situ terkandung
masalah hubungan seksual, cinta, hidup bersama, penyatuan. Jelas
bahwa jika tidak ada cinta, perkawinan menjadi memalukan, bukan? Lalu
perkawinan menjadi sekadar pemuasan nafsu. Mencinta adalah salah satu
hal yang paling sukar, bukan? Cinta hanya bisa muncul, hanya bisa ada
apabila diri ini lenyap. Tanpa cinta, hubungan adalah menyakitkan;
betapa pun memuaskan, atau betapa pun dangkal, ia membawa kepada
kebosanan, kepada rutinitas, kepada kebiasaan dengan segala
implikasinya. Lalu, masalah seksual menjadi mahapenting. Di dalam
mempertimbangkan perkawinan, apakah perlu atau tidak, kita harus
pertama-tama memahami cinta. Sesungguhnya, cinta adalah murni, tanpa
cinta Anda tidak bisa murni; Anda mungkin menjadi selibat, laki-laki
maupun perempuan, tetapi itu bukan murni, itu bukan suci, bila tidak
ada cinta. Jika Anda mempunyai cita-cita tentang kemurnian, artinya
jika Anda ingin menjadi murni, di situ juga tidak ada cinta, oleh
karena ia sekadar keinginan untuk menjadi sesuatu yang Anda pikir
mulia, yang Anda pikir akan membantu Anda menemukan realitas; di situ
sama sekali tidak ada cinta. Mengumbar hawa nafsu adalah tidak murni,
ia hanya membawa kepada kemerosotan, kepada kesengsaraan. Begitu pula
mengejar suatu cita-cita. Kedua-keduanya menyingkirkan cinta,
keduanya menyiratkan upaya menjadi sesuatu, memuaskan diri di dalam
sesuatu; oleh karena itu Anda menjadi penting, dan bila Anda penting,
maka cinta tidak ada.
Cinta Tidak Dapat Disesuaikan
Cinta bukanlah berasal dari pikiran--bukan? Cinta bukanlah sekadar
perbuatan seksual--bukan? Cinta bukanlah sesuatu yang dapat
dibayangkan oleh pikiran. Cinta bukanlah sesuatu yang dapat
dirumuskan. Dan tanpa cinta Anda berhubungan; tanpa cinta Anda kawin.
Lalu, di dalam perkawinan itu, Anda "menyesuaikan diri" satu sama
lain. Manis sekali kalimat itu!
Anda menyesuaikan diri satu sama lain, yang lagi-lagi suatu proses
intelektual--bukan? ... Penyesuaian ini jelas suatu proses mental.
Begitulah semua penyesuaian. Tetapi, sesungguhnya cinta tidak dapat
disesuaikan. Tuan, Anda tahu, bukan, bahwa jika Anda mencintai seseorang,
tidak ada "penyesuaian diri". Yang ada tidak lain adalah penyatuan
lengkap. Hanya bila tidak ada cinta, maka kita mulai menyesuaikan.
Dan penyesuaian ini dinamakan perkawinan. Dengan demikian, perkawinan
akan gagal, karena ia adalah sumber konflik itu sendiri, pertempuran
antara dua orang. Ini adalah masalah yang luar biasa rumit, seperti
sifat semua masalah, tetapi lebih rumit lagi karena nafsu-nafsu,
dorongan-dorongan begitu kuat. Jadi, batin yang hanya sekadar
menyesuaikan diri tidak pernah dapat suci. Batin yang mencari kenikmatan
melalui seks tidak pernah dapat suci. Sekalipun Anda, dalam perbuatan
itu, untuk sesaat menafikan diri Anda, melupakan diri Anda,
tindakan mengejar kenikmatan itu, yang berasal dari pikiran,
membuat batin tidak suci. Kesucian hanya muncul apabila ada cinta.
Mencinta Berarti Suci
Masalah seks tidak sederhana, dan itu tidak dapat dipecahkan pada
tingkatannya sendiri. Mencoba memecahkannya secara biologis adalah
absurd; dan mendekatinya melalui agama, atau mencoba memecahkannya
seolah-olah itu sekadar masalah penyesuaian fisik, proses kelenjar,
atau memagarinya dengan tabu-tabu dan pengutukan, semuanya begitu
tidak matang, kekanak-kanakan dan bodoh. Ia membutuhkan kecerdasan
pada tingkat tertinggi. Memahami diri kita di dalam hubungan kita
dengan orang lain membutuhkan kecerdasan yang jauh lebih cepat dan
halus daripada memahami alam. Tetapi kita mencoba memahami tanpa
kecerdasan; kita ingin tindakan seketika, solusi seketika, dan
masalahnya makin lama menjadi makin menonjol. ... Cinta bukanlah
sekadar pikiran; pikiran hanyalah tindakan lahiriah dari otak. Cinta
adalah jauh lebih dalam, jauh lebih halus, dan kehalusan hidup hanya
dapat ditemukan di dalam cinta. Tanpa cinta, hidup tidak punya
arti--dan itulah yang menyedihkan dalam eksistensi kita. Kita menjadi
tua sementara tetap tidak matang; tubuh kita menjadi tua, gemuk,
jelek, dan kita tetap tidak berpikir. Sekalipun kita membaca dan
membicarakan hal itu, kita tidak pernah mengenal keharuman hidup.
Sekadar membaca dan memperbincangkan saja menunjukkan tidak adanya
kehangatan hati yang memperkaya hidup; dan tanpa kualitas cinta, apa
pun yang Anda lakukan, memasuki perkumpulan apa pun, membuat hukum
apa pun, Anda tidak akan memecahkan masalah ini. Mencinta berarti suci.
Sekadar intelek bukanlah kesucian. Orang yang mencoba suci dalam
pikiran adalah tidak suci, oleh karena ia tidak memiliki cinta.
Hanyalah orang yang mencinta yang suci, murni, tak terkotori.
[i]J. Krishnamurti
Cinta adalah yang tak dapat diketahui. Ia hanya dapat direalisasikan
apabila apa yang diketahui dipahami dan ditransendensikan. Hanya
apabila batin bebas dari yang diketahui, baru terdapat cinta.
Demikianlah, kita harus mendekati cinta secara negatif, bukan secara positif.
Apakah cinta itu bagi kebanyakan dari kita? Bagi kita, bila kita
mencinta, di situ terdapat kemilikan, dominasi, atau penghambaan.
Dari pemilikan ini muncul kecemburuan, dan takut kehilangan, dan kita
mengesahkan instink posesif ini. Dari kemilikan ini muncul
kecemburuan dan konflik yang tak terhitung jumlahnya yang kita semua
kenal. Jadi, kemilikan bukanlah cinta. Cinta juga bukan sentimental.
Menjadi sentimental, menjadi emosional, berarti tidak mencinta.
Sensitivitas dan emosi hanyalah sekadar sensasi.
... Hanya cinta dapat mengubah ketakwarasan, kebingungan, dan
pergulatan. Tidak ada sistem, tidak ada teori--baik kiri maupun
kanan--yang dapat membawa perdamaian dan kebahagiaan bagi manusia.
Apabila terdapat cinta, tidak ada kemilikan, tidak ada irihati; yang
ada adalah pengampunan dan welas asih, bukan dalam teori, melainkan
secara aktual--terhadap istri Anda dan anak-anak Anda, terhadap
tetangga Anda dan pelayan Anda. ... Hanya cinta yang dapat
menghasilkan pengampunan dan keindahan, ketertiban dan kedamaian.
Terdapat cinta beserta berkahnya apabila 'Anda' berakhir.
Cinta Bukan Kewajiban
... Bila terdapat cinta, tidak terdapat kewajiban. Bila Anda
mencintai istri Anda, Anda berbagi segala sesuatu dengan dia--harta
Anda, permasalahan Anda, kecemasan Anda, sukacita Anda. Anda tidak
mendominasi. Anda bukan sang laki-laki dan dia perempuan untuk
dipakai dan dibuang, semacam mesin pembiak untuk melestarikan nama
Anda. Bila terdapat cinta, kata 'kewajiban' lenyap. Laki-laki tanpa
cinta dalam hatinyalah yang berbicara tentang hak dan kewajiban, dan
di negeri ini kewajiban dan hak telah mengambil-alih tempat
cinta. Peraturan telah menjadi lebih penting daripada kehangatan rasa
sayang. Bila terdapat cinta, masalahnya menjadi sederhana; bila tidak
terdapat cinta, masalahnya menjadi rumit. Bila orang mencintai
istrinya dan anak-anaknya, ia tidak mungkin berpikir tentang
kewajiban dan hak. Pak, selidikilah hati dan batin Anda sendiri. Saya
tahu, Anda menertawakannya--itu adalah salah satu kiat untuk tidak
berpikir panjang, menertawakan sesuatu dan mengesampingkannya. Istri
Anda tidak ikut memikul tanggung jawab Anda, istri Anda tidak ikut
memiliki harta benda Anda, dia tidak memiliki separuh dari apa yang
Anda miliki oleh karena Anda menganggap perempuan kurang daripada
diri Anda sendiri, sebagai sesuatu untuk disimpan dan digunakan
secara seksual sekehendak Anda bila nafsu Anda menginginkannya. Jadi
Anda menciptakan kata 'hak' dan 'kewajiban'; dan bila perempuan
berontak, Anda melemparkan kata-kata itu kepadanya. Masyarakat yang
statis, masyarakat yang lapuklah yang bicara tentang kewajiban dan
hak. Jika Anda sungguh-sungguh meneliti hati dan batin Anda sendiri,
Anda akan menemukan bahwa Anda tidak punya cinta.
Mempertimbangkan Perkawinan
Kita mencoba memahami masalah perkawinan, yang di situ terkandung
masalah hubungan seksual, cinta, hidup bersama, penyatuan. Jelas
bahwa jika tidak ada cinta, perkawinan menjadi memalukan, bukan? Lalu
perkawinan menjadi sekadar pemuasan nafsu. Mencinta adalah salah satu
hal yang paling sukar, bukan? Cinta hanya bisa muncul, hanya bisa ada
apabila diri ini lenyap. Tanpa cinta, hubungan adalah menyakitkan;
betapa pun memuaskan, atau betapa pun dangkal, ia membawa kepada
kebosanan, kepada rutinitas, kepada kebiasaan dengan segala
implikasinya. Lalu, masalah seksual menjadi mahapenting. Di dalam
mempertimbangkan perkawinan, apakah perlu atau tidak, kita harus
pertama-tama memahami cinta. Sesungguhnya, cinta adalah murni, tanpa
cinta Anda tidak bisa murni; Anda mungkin menjadi selibat, laki-laki
maupun perempuan, tetapi itu bukan murni, itu bukan suci, bila tidak
ada cinta. Jika Anda mempunyai cita-cita tentang kemurnian, artinya
jika Anda ingin menjadi murni, di situ juga tidak ada cinta, oleh
karena ia sekadar keinginan untuk menjadi sesuatu yang Anda pikir
mulia, yang Anda pikir akan membantu Anda menemukan realitas; di situ
sama sekali tidak ada cinta. Mengumbar hawa nafsu adalah tidak murni,
ia hanya membawa kepada kemerosotan, kepada kesengsaraan. Begitu pula
mengejar suatu cita-cita. Kedua-keduanya menyingkirkan cinta,
keduanya menyiratkan upaya menjadi sesuatu, memuaskan diri di dalam
sesuatu; oleh karena itu Anda menjadi penting, dan bila Anda penting,
maka cinta tidak ada.
Cinta Tidak Dapat Disesuaikan
Cinta bukanlah berasal dari pikiran--bukan? Cinta bukanlah sekadar
perbuatan seksual--bukan? Cinta bukanlah sesuatu yang dapat
dibayangkan oleh pikiran. Cinta bukanlah sesuatu yang dapat
dirumuskan. Dan tanpa cinta Anda berhubungan; tanpa cinta Anda kawin.
Lalu, di dalam perkawinan itu, Anda "menyesuaikan diri" satu sama
lain. Manis sekali kalimat itu!
Anda menyesuaikan diri satu sama lain, yang lagi-lagi suatu proses
intelektual--bukan? ... Penyesuaian ini jelas suatu proses mental.
Begitulah semua penyesuaian. Tetapi, sesungguhnya cinta tidak dapat
disesuaikan. Tuan, Anda tahu, bukan, bahwa jika Anda mencintai seseorang,
tidak ada "penyesuaian diri". Yang ada tidak lain adalah penyatuan
lengkap. Hanya bila tidak ada cinta, maka kita mulai menyesuaikan.
Dan penyesuaian ini dinamakan perkawinan. Dengan demikian, perkawinan
akan gagal, karena ia adalah sumber konflik itu sendiri, pertempuran
antara dua orang. Ini adalah masalah yang luar biasa rumit, seperti
sifat semua masalah, tetapi lebih rumit lagi karena nafsu-nafsu,
dorongan-dorongan begitu kuat. Jadi, batin yang hanya sekadar
menyesuaikan diri tidak pernah dapat suci. Batin yang mencari kenikmatan
melalui seks tidak pernah dapat suci. Sekalipun Anda, dalam perbuatan
itu, untuk sesaat menafikan diri Anda, melupakan diri Anda,
tindakan mengejar kenikmatan itu, yang berasal dari pikiran,
membuat batin tidak suci. Kesucian hanya muncul apabila ada cinta.
Mencinta Berarti Suci
Masalah seks tidak sederhana, dan itu tidak dapat dipecahkan pada
tingkatannya sendiri. Mencoba memecahkannya secara biologis adalah
absurd; dan mendekatinya melalui agama, atau mencoba memecahkannya
seolah-olah itu sekadar masalah penyesuaian fisik, proses kelenjar,
atau memagarinya dengan tabu-tabu dan pengutukan, semuanya begitu
tidak matang, kekanak-kanakan dan bodoh. Ia membutuhkan kecerdasan
pada tingkat tertinggi. Memahami diri kita di dalam hubungan kita
dengan orang lain membutuhkan kecerdasan yang jauh lebih cepat dan
halus daripada memahami alam. Tetapi kita mencoba memahami tanpa
kecerdasan; kita ingin tindakan seketika, solusi seketika, dan
masalahnya makin lama menjadi makin menonjol. ... Cinta bukanlah
sekadar pikiran; pikiran hanyalah tindakan lahiriah dari otak. Cinta
adalah jauh lebih dalam, jauh lebih halus, dan kehalusan hidup hanya
dapat ditemukan di dalam cinta. Tanpa cinta, hidup tidak punya
arti--dan itulah yang menyedihkan dalam eksistensi kita. Kita menjadi
tua sementara tetap tidak matang; tubuh kita menjadi tua, gemuk,
jelek, dan kita tetap tidak berpikir. Sekalipun kita membaca dan
membicarakan hal itu, kita tidak pernah mengenal keharuman hidup.
Sekadar membaca dan memperbincangkan saja menunjukkan tidak adanya
kehangatan hati yang memperkaya hidup; dan tanpa kualitas cinta, apa
pun yang Anda lakukan, memasuki perkumpulan apa pun, membuat hukum
apa pun, Anda tidak akan memecahkan masalah ini. Mencinta berarti suci.
Sekadar intelek bukanlah kesucian. Orang yang mencoba suci dalam
pikiran adalah tidak suci, oleh karena ia tidak memiliki cinta.
Hanyalah orang yang mencinta yang suci, murni, tak terkotori.
[i]J. Krishnamurti