Bromocorah
April 17, 2006, 23:49
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0604/18/utama/2589707.htm
Subway Jakarta
JMS Digarap Konsorsium Nasional
Jakarta, Kompas - Proyek pembangunan sistem angkutan massal atau mass rapid transportation akhirnya diserahkan kepada konsorsium yang terdiri atas 10 badan usaha milik negara dan lima perusahaan swasta.
Badan usaha milik negara (BUMN) yang terlibat adalah PT Adhi Karya sebagai pemimpin konsorsium, PT Wijaya Karya, PT Hutama Karya, PT Pembangunan Perumahan, PT Waskita Karya, PT Indah Karya, PT INKA, PT LEN Industri, PT Kereta Api, dan PT Danareksa Sekuritas.
Adapun lima perusahaan swasta anggota konsorsium adalah PT Saka Adhi Prada, PT Wiratman and Associates, PT Bukaka Trans System, PT Indonesia Transit Central, dan PT Global Profex Synergy.
Direktur Utama PT Adhi Karya Syaeful Imam seusai penandatanganan kesepakatan bersama atau memorandum of understanding (MOU), Senin (17/4) di Jakarta, mengatakan, proyek itu dinamai Jakarta Metro System (JMS) karena terdiri atas jalur bawah tanah (subway) sekitar 30 persen dan jalur layang (elevated lines) 70 persen. Jalur sepanjang 15,4 kilometer itu memiliki rute Lebak Bulus-Fatmawati-Senayan-Dukuh Atas-Bundaran Hotel Indonesia.
"Perkiraan awal biaya investasi proyek ini sebesar 550 juta dollar AS, terdiri atas biaya konstruksi, biaya kereta ditambah sistem mekanisasi dan kelistrikan, dan biaya lain-lain, tetapi belum termasuk biaya pembebasan tanah," kata Syaeful.
Menurut Menteri Negara BUMN Sugiharto, setelah penandatanganan MOU, akan dilakukan studi kelayakan, pendanaan, kemudian pembangunan proyek. Pembangunan konstruksi diperkirakan bisa diselesaikan dalam tiga tahun.
"Pembentukan konsorsium ini merupakan alternatif untuk menekan biaya investasi dengan memaksimalkan sumber daya lokal. Pencarian dana investasi nantinya bisa dengan cara pemerintah ke pemerintah, swasta dengan swasta, atau kemitraan pemerintah dengan swasta (public private partnership)," kata Sugiharto.
Seperti diberitakan sebelumnya, rencana pembiayaan proyek sistem angkutan massal oleh Jepang belum terlaksana karena belum tercapai kesesuaian keinginan antara Indonesia dan Jepang. Pihak Indonesia antara lain menghendaki agar kandungan lokal dalam proyek ini mencapai 75 persen dari semua kebutuhan.
Terkait dengan kesemrawutan lalu lintas di berbagai wilayah di Jakarta, Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Senin, menetapkan perubahan rute untuk enam trayek angkutan umum. Perubahan rute itu untuk membelokkan arus keenam angkutan umum dari Jalan Mas Mansyur ke Jalan Kebon Kacang, Jakarta Pusat. Angkutan umum akan berbalik arah pada putaran jalan yang masih berada di Jalan Kebon Kacang, lalu kembali lagi ke Jalan Mas Mansyur. "Perubahan ini dilaksanakan mulai Rabu pukul 06.30," kata Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Nurrachman.
Angkutan umum yang terkena perubahan rute terdiri atas tiga trayek bus Kopaja, meliputi S602 Tanah Abang-Ragunan, S608 Blok M-Tanah Abang, dan S615 Tanah Abang-Lebak Bulus. Selain trayek bus Kopaja, angkutan Jewa Dian Mitra Bs07 Tanah Abang-Kampung Melayu, JP03 Karet-Roxi Mas, dan JP03A Bendungan Hilir-Roxi Mas juga mengalami perubahan rute.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mempersiapkan rancangan pola transportasi makro dengan moda transportasi yang lebih tertata. Di antaranya dengan bus transjakarta yang memiliki jalur khusus di 15 koridor, tetapi saat ini baru terselesaikan tiga koridor saja. (TAV/NAW)
Subway Jakarta
JMS Digarap Konsorsium Nasional
Jakarta, Kompas - Proyek pembangunan sistem angkutan massal atau mass rapid transportation akhirnya diserahkan kepada konsorsium yang terdiri atas 10 badan usaha milik negara dan lima perusahaan swasta.
Badan usaha milik negara (BUMN) yang terlibat adalah PT Adhi Karya sebagai pemimpin konsorsium, PT Wijaya Karya, PT Hutama Karya, PT Pembangunan Perumahan, PT Waskita Karya, PT Indah Karya, PT INKA, PT LEN Industri, PT Kereta Api, dan PT Danareksa Sekuritas.
Adapun lima perusahaan swasta anggota konsorsium adalah PT Saka Adhi Prada, PT Wiratman and Associates, PT Bukaka Trans System, PT Indonesia Transit Central, dan PT Global Profex Synergy.
Direktur Utama PT Adhi Karya Syaeful Imam seusai penandatanganan kesepakatan bersama atau memorandum of understanding (MOU), Senin (17/4) di Jakarta, mengatakan, proyek itu dinamai Jakarta Metro System (JMS) karena terdiri atas jalur bawah tanah (subway) sekitar 30 persen dan jalur layang (elevated lines) 70 persen. Jalur sepanjang 15,4 kilometer itu memiliki rute Lebak Bulus-Fatmawati-Senayan-Dukuh Atas-Bundaran Hotel Indonesia.
"Perkiraan awal biaya investasi proyek ini sebesar 550 juta dollar AS, terdiri atas biaya konstruksi, biaya kereta ditambah sistem mekanisasi dan kelistrikan, dan biaya lain-lain, tetapi belum termasuk biaya pembebasan tanah," kata Syaeful.
Menurut Menteri Negara BUMN Sugiharto, setelah penandatanganan MOU, akan dilakukan studi kelayakan, pendanaan, kemudian pembangunan proyek. Pembangunan konstruksi diperkirakan bisa diselesaikan dalam tiga tahun.
"Pembentukan konsorsium ini merupakan alternatif untuk menekan biaya investasi dengan memaksimalkan sumber daya lokal. Pencarian dana investasi nantinya bisa dengan cara pemerintah ke pemerintah, swasta dengan swasta, atau kemitraan pemerintah dengan swasta (public private partnership)," kata Sugiharto.
Seperti diberitakan sebelumnya, rencana pembiayaan proyek sistem angkutan massal oleh Jepang belum terlaksana karena belum tercapai kesesuaian keinginan antara Indonesia dan Jepang. Pihak Indonesia antara lain menghendaki agar kandungan lokal dalam proyek ini mencapai 75 persen dari semua kebutuhan.
Terkait dengan kesemrawutan lalu lintas di berbagai wilayah di Jakarta, Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Senin, menetapkan perubahan rute untuk enam trayek angkutan umum. Perubahan rute itu untuk membelokkan arus keenam angkutan umum dari Jalan Mas Mansyur ke Jalan Kebon Kacang, Jakarta Pusat. Angkutan umum akan berbalik arah pada putaran jalan yang masih berada di Jalan Kebon Kacang, lalu kembali lagi ke Jalan Mas Mansyur. "Perubahan ini dilaksanakan mulai Rabu pukul 06.30," kata Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Nurrachman.
Angkutan umum yang terkena perubahan rute terdiri atas tiga trayek bus Kopaja, meliputi S602 Tanah Abang-Ragunan, S608 Blok M-Tanah Abang, dan S615 Tanah Abang-Lebak Bulus. Selain trayek bus Kopaja, angkutan Jewa Dian Mitra Bs07 Tanah Abang-Kampung Melayu, JP03 Karet-Roxi Mas, dan JP03A Bendungan Hilir-Roxi Mas juga mengalami perubahan rute.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mempersiapkan rancangan pola transportasi makro dengan moda transportasi yang lebih tertata. Di antaranya dengan bus transjakarta yang memiliki jalur khusus di 15 koridor, tetapi saat ini baru terselesaikan tiga koridor saja. (TAV/NAW)