View Full Version : Meditasi Untuk Memahami Diri







Ðãñì룮hä®d†
March 22, 2006, 17:01
[Akan disajikan dalam simposium di Unika
Soegijapranata, Semarang, pada 1 April 2006.]

Meditasi Untuk Memahami Diri

Oleh: Dr. Hudoyo Hupudio, M.P.H.

(1) Kata 'meditasi' [meditation] didefinisikan sebagai "praktek berpikir
secara mendalam dalam keheningan, terutama untuk alasan keagamaan atau
untuk membuat batin tenang." (Oxford Advanced Learner's Dictionary).
Dalam kamus yang bersifat umum ini, 'meditasi' dianggap sebagai proses
'berpikir'. Ini hampir sama dengan 'kontemplasi' yang didefinisikan
secara persis sama. Tetapi kalau dikaji secara lebih mendalam dan
dipraktekkan, akan ternyata bahwa di dalam 'meditasi' justru proses
berpikir berhenti untuk sementara.
Pada dasarnya, 'meditasi' adalah "pemusatan perhatian pada suatu obyek
batin secara terus-menerus." Memang ada obyek-obyek meditasi tertentu
yang berupa pikiran atau ide/konsep, sehingga terjadi tumpang tindih dan
tidak dapat dibedakan secara tegas antara 'meditasi' dan 'kontemplasi'.

Dalam makalah ini selanjutnya, penulis akan menguraikan 'meditasi'
berdasarkan praktek meditasi Buddhis, yang penulis ketahui dan ajarkan.
Pada garis besarnya ada dua jenis meditasi:

(a) 'konsentrasi' atau 'meditasi ketenangan' [samatha-bhavana], di mana
perhatian dipusatkan pada satu obyek meditasi, dengan tujuan untuk memperoleh
ketenangan di dalam tingkat-tingkat kesadaran yang lebih tinggi [altered states
of consciousness];

(b) 'meditasi pencerahan' [vipassana-bhavana], di mana perhatian mengamati,
secara pasif tanpa memilih/tanpa bereaksi, seluruh proses badan & batin ini
terus-menerus pada saat proses itu terjadi – tujuannya adalah untuk mengenal
diri sendiri, apa yang disebut 'aku', dan dengan demikian bebas dari 'aku'.
Dalam pembahasan selanjutnya, penulis akan mengkhususkan diri pada jenis
meditasi kedua ini; 'meditasi pencerahan' ini bersifat unik dan hanya ditemukan
di dalam ajaran Buddha Dharma.

(2) Kata kunci dari 'meditasi pencerahan' terletak pada ungkapan
"memahami diri" atau "mengenal diri". Bagaimana kita biasanya memahami
diri kita?

Kita biasanya mencoba memahami diri kita dengan menggunakan pikiran untuk
mengkaji kembali segala pikiran, perasaan, keinginan, harapan, kekecewaan,
kehendak, keputusasaan, dsb, yang kita alami di masa lampau. Upaya seperti
itu, yang termasuk bidang kajian disiplin psikologi, disebut introspeksi
yang bersifat retrospektif (menengok ke belakang).

Kalau pun upaya seperti itu menghasilkan perubahan dalam batin kita,
perubahan itu tidak pernah tuntas. Lagi pula, upaya seperti itu tidak
bisa memberikan pencerahan mengenai hakekat diri kita sesungguhnya.
Mengapa? Karena alat yang digunakan, yakni pikiran (penalaran, rasionalitas),
selalu terbatas dan terkondisi (conditioned). Ia tidak bisa melihat dirinya
bebas dari keterkondisian oleh masa lampau.

(3) Sifat dasar dari pikiran sehari-hari ialah bersifat dualistik, yang
pada dasarnya merupakan sumber dari semua konflik yang kita alami dalam
diri kita. Ada dua buah dualitas yang paling dasar, yakni:

(a) dualitas antara aku dan bukan aku (dualitas antara subyek dan obyek);

(b) dualitas antara saat kini dan masa depan.

Kedua jenis dualitas ini memang fundamental dan esensial, karena bertujuan
untuk melestarikan diri (survival). Pikiran atau intelek ber-evolusi
dalam batin spesies manusia ini dengan tujuan meningkatkan peluang untuk
survive, karena manusia adalah hewan yang fisiknya lemah dibandingkan
dengan binatang buas yang ada. Hewan-hewan lainnya selain manusia tidak
ber-evolusi mengembangkan pikiran; mereka survive dengan menggunakan
instinknya. Manusia juga mempunyai instink, tetapi instink manusia
dikendalikan oleh egonya; ego ini berkembang bersama pikiran/intelek.

Namun, setelah menekankan pentingnya peran pikiran/intelek secara
evolusioner dan fungsional, di lain pihak perlu ditekankan pula bahwa
pikiran/intelek tidak dapat menangkap atau memahami kenyataan atau
aktualitas yang sejati, yakni saat kini yang bebas dari aku, di mana
kedua jenis dualitas di atas tidak ada. Di samping itu, dalam kehidupan
sehari-hari, pikiran/intelek tidak pernah bisa menciptakan sistem kehidupan
bermasyarakat (politis, ekonomis dan sosial) yang benar-benar bisa
menghasilkan masyarakat yang damai, adil dan sejahtera.

Pikiran (thought) selalu berada di masa lampau, entah masa lampau yang
jauh, yang dekat atau sangat dekat (baru saja terjadi). Bahkan ketika
orang berpikir ke masa depan (yang belum terjadi), sesungguhnya ia berada
di masa lampau; ia menggunakan data dari masa lampau untuk untuk membuat
proyeksi atau rencana ke masa depan. Dengan kata lain, pikiran tidak pernah
dan tidak mungkin berada pada saat kini. Untuk berada pada saat kini, pikiran
harus berhenti. Di sinilah kita masuk ke dalam meditasi. Meditasi yang khusus
untuk memahami diri, bukan meditasi yang bertujuan lain.

Dengan demikian, meditasi adalah cara lain untuk memahami diri, yang
berbeda dengan introspeksi. Justru pemahaman yang diperoleh dari meditasi
jauh lebih tepat dan sesuai dengan keadaan sebenarnya dibandingkan dengan
pemahaman dari introspeksi yang dipengaruhi oleh kebiasaan-kebiasaan pikiran
yang tidak disadari sehingga memberikan hasil yang bias. Di samping itu,
pemahaman diri yang diperoleh dari meditasi bersifat transformatif (mengubah),
oleh karena pemahaman itu melibatkan seluruh aspek diri (kognitif, afektif,
volisional dsb). Di lain pihak, pemahaman melalui introspeksi kebanyakan hanya
bersifat kognitif saja, sehingga biasanya tidak banyak perubahan yang terjadi.

(4) Saat kini adalah satu-satunya yang nyata, yang aktual. Masa depan
belum tiba, dan masa lampau hanya ada di dalam pikiran. Berbeda dari
apa yang dibayangkan oleh pikiran, keabadian (eternity) bukan terletak
di masa depan, melainkan justru terletak di saat kini. Bila orang berada
sepenuhnya di saat kini, pikirannya tidak bergerak; dengan kata lain,
ia tidak berada di masa lampau dan masa depan maka ia berada dalam keabadian,
ia berada dalam keadaan tanpa-waktu (timeless). Kesadaran seperti itu dapat
dicapai di dalam meditasi, baik meditasi ketenangan (samatha-bhavana) maupun
meditasi pencerahan (vipassana-bhavana). (Dalam samatha-bhavana kesadaran
tanpa-aku dan tanpa-waktu itu bersifat terkondisi dan sementara, sedangkan
melalui vipassana-bhavana dapat dicapai kesadaran itu secara menetap). Menurut
hemat penulis, inilah yang dimaksud dengan 'pikiran murni' atau 'batin murni'.

Yang perlu ditekankan di sini ialah bahwa pikiran murni tidak menegasikan
pikiran sehari-hari. Pikiran sehari-hari perlu untuk hidup sehari-hari,
sedangkan pikiran murni melihat apa adanya (yathabhutam nyanadassanam) tanpa
dipengaruhi oleh keterkondisian pikiran dan harapan-harapan si aku; dengan
kata lain, pikiran murni melihat kenyataan yang sejati, kenyataan apa adanya.

(5) Dengan mengembangkan kesadaran atas saat kini, maka pemeditasi
akan memahami makna harapan, kekecewaan, kepuasan, keputusasaan, dsb,
yang semuanya tidak terlepas angan-angan ke masa depan. Dengan demikian,
berangsur-angsur ia tidak akan dicengkeram berbagai emosi yang sering kali
menimbulkan konflik, kegelisahan atau penderitaan. Berangsur-angsur orang
yang memahami dirinya akan mengalami pembebasan dari segala pikiran, keinginan,
ketidaksenangan yang biasanya memenuhi batinnya. Pembebasan yang terakhir dan
sempurna disebut nibbana (nirvana), yang berarti padam, yakni padamnya aku/ego
dalam batin kita.

(6) Sampai di sini, mungkin timbul pertanyaan, apakah ada manfaat
vipassana-bhavana bagi seorang anak muda, bagi seorang mahasiswa, atau
bagi seorang pengusaha muda, yang penuh dengan harapan kesuksesan justru
dengan mengembangkan diri yang kompetitif? Apakah bagi seorang anak muda,
padamnya ego/aku tidak membuatnya menjadi orang yang tidak mempunyai inisiatif,
tidak mempunyai semangat hidup, dan dengan demikian akan kalah dalam persaingan
hidup di dunia modern? Pertanyaan ini sering diajukan kepada saya.

Dalam diri seorang pemeditasi vipassana, ego/aku itu tidak akan pernah
padam sebelum waktunya, sebelum syarat-syaratnya terpenuhi, artinya selama
ia masih mempunyai keinginan di dunia ini seberapa pun halusnya. Sebaliknya,
kalau sudah tiba waktunya, pertanyaan-pertanyaan di atas tidak relevan lagi
bagi orang seperti itu. Jadi tidak perlu khawatir.

Justru sebaliknya, dengan meditasi vipassana yang dilakukannya dengan
teratur setiap hari, akan berkembang batin yang relatif bebas dari konflik
dan ketegangan; batin seperti itu akan sangat membantu dalam memecahkan
masalah sehari-hari, dan dalam meraih kehidupan yang relatif tenteram dan
berbahagia, dibandingkan dengan orang yang tidak pernah bermeditasi sama sekali.

Ðãñì룮hä®d†
March 22, 2006, 17:01
(7) [Bagian ini ditujukan khusus kepada umat Buddha:]
Terakhir yang ingin penulis tekankan khususnya bagi umat Buddhis dipandang
dari soteriologi (pandangan tentang keselamatan) Buddhis ialah pesan para
guru vipassana pada umumnya, agar kita berupaya untuk mencapai setidak-tidaknya
tingkat kesucian Sotapanna dalam kehidupan ini juga.

Banyak umat Buddha berpendapat bahwa mencapai tingkat kesucian Sotapanna
adalah hal yang amat sukar. Bukanlah maksud para guru vipassana itu untuk
mengatakan bahwa hal itu mudah; hendaknya kita tidak mengambil kesimpulan,
bahwa mencapai tingkat Sotapanna itu mudah atau sukar.

Demikian pula, tidak ada yang lebih keliru dari mengatakan bahwa tingkat
Sotapanna itu hanya bisa dicapai oleh para bhikkhu dan mustahil dicapai
oleh seorang awam.

Yang perlu disadari ialah, bahwa hanya dengan mencapai tingkat Sotapanna
kita akan terjamin tidak akan merosot lagi ke alam-alam yang sengsara,
dan mau tidak mau akan mencapai pembebasan terakhir (nibbana) dalam
sebanyak-banyaknya tujuh kehidupan lagi. Di lain pihak, seorang Sotapanna
tidak harus meninggalkan kehidupan keluarga dan bermasyarakat; seorang
Sotapanna masih mempunyai nafsu seksual, sehingga bisa mempunyai dan
membesarkan anak,memiliki keluarga, harta benda dsb.

Tetapi, memang tidak ada orang lain bahkan tulisan ini pun tidakyang dapat
mendorong orang untuk mulai memalingkan perhatian kepada pembebasan dan mulai
berupaya mencapai tingkat kesucian Sotapanna, kecuali orang itu sendiri mulai
merasa jenuh dengan segala sesuatu yang dialami sehari-hari yang sebelumnya
begitu menggiurkan dan menyenangkan.

(8) Selama enam tahun terakhir, penulis menyelenggarakan retret untuk
berlatih 'meditasi pencerahan' ini. Retret ini bersifat sekuler, karena
praktek meditasi ini didekati dan diajarkan dengan menghilangkan konsep-konsep
dan istilah-istilah yang bersifat Buddhistik. Dengan demikian para peserta
retret yang beragama lain tidak merasa asing dan tidak merasa waswas ketika
mengikuti retret ini.

Kebijakan ini didasarkan pada keyakinan penulis bahwa 'meditasi pencerahan'
ini tidak berkaitan dengan konsep-konsep teologis atau religius mana pun,
sekalipun pertama kali ditemukan dan diajarkan oleh Buddha Gautama.
Penulis juga melihat adanya mutiara-mutiara di dalam agama-agama lain yang
mengacu kepada pemahaman serupa dengan yang hendak dicapai dalam
'meditasi pencerahan':

(a) Dalam Alkitab Kristiani terdapat perintah Allah:
"Diamlah, dan ketahuilah aku Tuhan." (Mazmur 46:10)

(b) Berakhirnya aku, diri/ego ini diungkapkan secara metaforis dalam ucapan
Rasul Paulus: "Aku telah disalibkan bersama Kristus and aku tidak lagi hidup,
tetapi Kristus hidup di dalamku." (Galatia 2:20)

(c) Dalam sebuah Hadits Qudsi dikatakan bahwa manusia harus mengenal dirinya
[sehingga diri itu berakhir] lebih dulu sebelum ia dapat mengenal Tuhannya:
"Man arafa nafsahu, faqad arafa rabbahu."
("Barang siapa mengenal dirinya, ia mengenal Tuhannya.")

(d) Dalam Al-Qur'an terdapat dua ayat yang menekankan sifat fana dari
"segala sesuatu di muka bumi" ini [termasuk diri/aku/ego]:
"Qullu man alaiha faana, wa yabqo wajhu rabbika." ("Segala sesuatu yang
ada akan musnah, yang tetap hanyalah Wajah Tuhanmu." – QS: Al-Qasas, 28:88;
ayat yang hampir sama bunyinya terdapat dalam QS: Al-Rahman, 55:26-27.

(e) Ada suatu perumpamaan Sufi yang mengatakan: "Di dalam diri manusia yang
sempurna (al-insan al-kamil), Allah melihat dengan matanya, Allah mendengar
dengan telinganya, Allah bicara dengan lidahnya, dan Allah berbuat dengan
tangannya."

(9) Sebagai kesimpulan: meditasi untuk memahami diri merupakan genre
tersendiri di antara sekian banyak jenis meditasi yang kita kenal di pasaran,
masing-masing dengan tujuan dan metode yang berbeda. Meditasi ini hanya
menarik bagi orang yang ingin memahami dirinya; dan keinginan demikian
biasanya dimotivasi oleh keinsyafan bahwa sumber dari segala konflik
sesungguhnya berada di dalam batin sendiri, dilandasi oleh kesadaran bahwa
segala sesuatu di alam semesta ini, termasuk di dalam diri sendiri, bersifat
selalu berubah, tidak kekal, dan tidak memuaskan.

Orang yang benar-benar memahami dirinya akan bebas dari ketergantungan pada
apa pun--dengan kata lain, jiwanya akan mandiri--karena ketergantungan pada
dasarnya adalah konflik.

Orang yang benar-benar memahami dirinya akan memahami pula makna sejati dari
kehidupannya, makna yang bukan diberikan oleh aku & pikirannya yang terkondisi,
melainkan makna yang muncul ketika aku & pikiran ini diam/hening dan ia melihat
apa adanya, yang jauh mengatasi semua yang dapat dijangkau oleh pikirannya.