Ðãñì룮hä®d†
March 02, 2006, 06:17
Disadur dari The Book of Life (J. Krishnamurti), yang diterjemahkan oleh Bpk. Hudoyo Hupudio :)
Batin yang Bebas Memiliki Kerendahan Hati
Pernahkah Anda menyelami masalah ketergantungan psikologis? Jika Anda
menyelaminya sangat dalam, Anda akan mendapati bahwa kebanyakan dari
kita sangat kesepian. Kebanyakan dari kita memiliki batin yang begitu
dangkal dan kosong. Kebanyakan dari kita tidak tahu apa arti cinta.
Maka, dari rasa kesepian itu, dari rasa ketidakcukupan itu, dari rasa
kemiskinan hidup itu, kita melekat kepada sesuatu, melekat kepada
keluarga; kita bergantung padanya. Lalu apabila istri atau suami
berpaling dari kita, kita cemburu. Cemburu bukanlah cinta; tetapi
cinta di dalam keluarga yang diakui masyarakat dijadikan terhormat.
Itu adalah bentuk pertahanan lain, bentuk lain pelarian dari diri
kita sendiri. Demikianlah setiap bentuk perlawanan menghasilkan
ketergantungan. Dan batin yang bergantung tidak pernah bebas.
Anda harus bebas, karena Anda akan melihat bahwa batin yang bebas
memiliki esensi kerendahan hati. Batin seperti itu, yang bebas dan
oleh karena itu memiliki kerendahan hati, dapat belajar--bukan batin
yang menolak. Belajar adalah sesuatu yang luar biasa--belajar, bukan
menimbun pengetahuan. Menimbun pengetahuan adalah hal yang lain
sekali. Yang kita sebut pengetahuan adalah relatif mudah, oleh karena
hal itu adalah gerak dari yang diketahui menuju yang diketahui.
Tetapi belajar adalah gerak dari yang diketahui menuju yang tak
diketahui--Anda hanya belajar secara itu, bukan?
Kita Tidak Pernah Mempertanyakan Ketergantungan
Mengapa kita bergantung? Secara psikologis, di dalam, kita bergantung
pada suatu kepercayaan, kepada suatu sistem, kepada suatu filsafat;
kita bertanya kepada orang lain tentang patokan perilaku; kita
mencari guru yang akan memberi kita cara hidup yang akan membawa kita
kepada suatu harapan, suatu kebahagiaan. Jadi, bukankah kita
selamanya mencari suatu bentuk ketergantungan, keamanan. Mungkinkah
bagi batin untuk membebaskan dirinya dari rasa bergantung ini? Yang
bukan berarti bahwa batin harus mencapai ketaktergantungan; itu
hanyalah reaksi terhadap ketergantungan. Kita tidak membicarakan
ketaktergantungan, kebebasan dari suatu keadaan tertentu. Jika kita
bisa menyelidik tanpa bereaksi mencari kebebasan dari suatu keadaan
ketergantungan tertentu, maka kita bisa menyelaminya jauh lebih
dalam. ... Kita menerima perlunya ketergantungan; kita berkata itu
tidak bisa dihindarkan. Kita tidak pernah mempertanyakan keseluruhan
masalah itu sama sekali, mengapa kita masing-masing mencari suatu
bentuk ketergantungan. Bukankah kita, sungguh jauh di dalam,
membutuhkan keamanan, kekekalan? Berada dalam keadaan bingung, kita
menginginkan seseorang akan membebaskan kita dari kebingungan itu.
Maka, kita selalu memikirkan bagaimana cara melepaskan diri dari atau
menghindari keadaan yang di situ kita berada. Dalam proses
menghindari keadaan itu, mau tidak mau kita akan menciptakan suatu
bentuk ketergantungan, yang menjadi otoritas kita. Jika kita
bergantung kepada orang lain untuk keamanan kita, untuk kesejahteraan
batin kita, maka dari ketergantungan itu muncullah berbagai masalah
yang tak terhitung banyaknya, lalu kita mencoba memecahkan
masalah-masalah itu--masalah kelekatan. Tetapi kita tidak pernah
bertanya, kita tidak pernah mendalami masalah ketergantungan itu
sendiri. Jika kita dapat sungguh-sungguh dengan cerdas, dengan
kesadaran penuh, menyelami masalah ini, maka mungkin kita akan
menemukan bahwa ketergantungan bukanlah masalahnya sama sekali--bahwa
itu hanyalah satu cara untuk melarikan diri dari suatu fakta yang lebih dalam.
------oOo------
Batin yang Bebas Memiliki Kerendahan Hati
Pernahkah Anda menyelami masalah ketergantungan psikologis? Jika Anda
menyelaminya sangat dalam, Anda akan mendapati bahwa kebanyakan dari
kita sangat kesepian. Kebanyakan dari kita memiliki batin yang begitu
dangkal dan kosong. Kebanyakan dari kita tidak tahu apa arti cinta.
Maka, dari rasa kesepian itu, dari rasa ketidakcukupan itu, dari rasa
kemiskinan hidup itu, kita melekat kepada sesuatu, melekat kepada
keluarga; kita bergantung padanya. Lalu apabila istri atau suami
berpaling dari kita, kita cemburu. Cemburu bukanlah cinta; tetapi
cinta di dalam keluarga yang diakui masyarakat dijadikan terhormat.
Itu adalah bentuk pertahanan lain, bentuk lain pelarian dari diri
kita sendiri. Demikianlah setiap bentuk perlawanan menghasilkan
ketergantungan. Dan batin yang bergantung tidak pernah bebas.
Anda harus bebas, karena Anda akan melihat bahwa batin yang bebas
memiliki esensi kerendahan hati. Batin seperti itu, yang bebas dan
oleh karena itu memiliki kerendahan hati, dapat belajar--bukan batin
yang menolak. Belajar adalah sesuatu yang luar biasa--belajar, bukan
menimbun pengetahuan. Menimbun pengetahuan adalah hal yang lain
sekali. Yang kita sebut pengetahuan adalah relatif mudah, oleh karena
hal itu adalah gerak dari yang diketahui menuju yang diketahui.
Tetapi belajar adalah gerak dari yang diketahui menuju yang tak
diketahui--Anda hanya belajar secara itu, bukan?
Kita Tidak Pernah Mempertanyakan Ketergantungan
Mengapa kita bergantung? Secara psikologis, di dalam, kita bergantung
pada suatu kepercayaan, kepada suatu sistem, kepada suatu filsafat;
kita bertanya kepada orang lain tentang patokan perilaku; kita
mencari guru yang akan memberi kita cara hidup yang akan membawa kita
kepada suatu harapan, suatu kebahagiaan. Jadi, bukankah kita
selamanya mencari suatu bentuk ketergantungan, keamanan. Mungkinkah
bagi batin untuk membebaskan dirinya dari rasa bergantung ini? Yang
bukan berarti bahwa batin harus mencapai ketaktergantungan; itu
hanyalah reaksi terhadap ketergantungan. Kita tidak membicarakan
ketaktergantungan, kebebasan dari suatu keadaan tertentu. Jika kita
bisa menyelidik tanpa bereaksi mencari kebebasan dari suatu keadaan
ketergantungan tertentu, maka kita bisa menyelaminya jauh lebih
dalam. ... Kita menerima perlunya ketergantungan; kita berkata itu
tidak bisa dihindarkan. Kita tidak pernah mempertanyakan keseluruhan
masalah itu sama sekali, mengapa kita masing-masing mencari suatu
bentuk ketergantungan. Bukankah kita, sungguh jauh di dalam,
membutuhkan keamanan, kekekalan? Berada dalam keadaan bingung, kita
menginginkan seseorang akan membebaskan kita dari kebingungan itu.
Maka, kita selalu memikirkan bagaimana cara melepaskan diri dari atau
menghindari keadaan yang di situ kita berada. Dalam proses
menghindari keadaan itu, mau tidak mau kita akan menciptakan suatu
bentuk ketergantungan, yang menjadi otoritas kita. Jika kita
bergantung kepada orang lain untuk keamanan kita, untuk kesejahteraan
batin kita, maka dari ketergantungan itu muncullah berbagai masalah
yang tak terhitung banyaknya, lalu kita mencoba memecahkan
masalah-masalah itu--masalah kelekatan. Tetapi kita tidak pernah
bertanya, kita tidak pernah mendalami masalah ketergantungan itu
sendiri. Jika kita dapat sungguh-sungguh dengan cerdas, dengan
kesadaran penuh, menyelami masalah ini, maka mungkin kita akan
menemukan bahwa ketergantungan bukanlah masalahnya sama sekali--bahwa
itu hanyalah satu cara untuk melarikan diri dari suatu fakta yang lebih dalam.
------oOo------