Šćńģ룮hä®d†
November 23, 2005, 16:32
Bila ada kegiatan diri, tidak mungkin ada meditasi. Ini sangat penting untuk dipahami, bukan dengan kata-kata, melainkan secara aktual. Meditasi adalah proses mengosongkan batin dari semua kegiatan diri, dari semua kegiatan ‘aku.’ Jika Anda tidak memahami kegiatan diri, maka meditasi Anda hanya menghasilkan ilusi, meditasi Anda hanya menghasilkan penipuan-diri, meditasi Anda hanya menghasilkan distorsi lebih jauh. Jadi untuk memahami apa meditasi itu, Anda harus memahami kegiatan diri.
Diri memiliki seribu pengalaman duniawi, indrawi, atau intelektual, tetapi ia bosan dengan semua itu oleh karena semuanya tidak punya arti. Keinginan untuk memperoleh pengalaman lebih luas, lebih ekspansif, transendental, adalah bagian dari ‘aku,’ diri. Bila Anda memiliki pengalaman, atau penglihatan seperti itu, Anda tentu dapat mengenali pengalaman-pengalaman itu, atau penglihatan-penglihatan itu, tetapi bila Anda dapat mengenalinya, maka mereka bukan baru, mereka adalah proyeksi latar belakang Anda, proyeksi keterkondisian Anda, yang di situ batin bersenang hati seolah-olah itu sesuatu yang baru. Jangan setuju dengan saya, tetapi lihatlah kebenarannya; maka itu menjadi milik Anda.
Salah satu tuntutan, dorongan, keinginan batin, diri adalah mengubah ‘apa yang ada’ menjadi ‘apa yang diharapkan.’ Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan terhadap ‘apa yang ada’ oleh karena ia tidak dapat memecahkan ‘apa yang ada’; oleh karena itu ia memproyeksikan suatu ide tentang ‘apa yang diharapkan’, yang adalah cita-cita. Proyeksi ini adalah antitesis dari ‘apa yang ada,’ dan dengan demikian terdapat konflik antara ‘apa yang ada’ dengan ‘apa yang diharapkan.’ Konflik itu sendiri adalah hakekat dari diri.
Salah satu kegiatan diri adalah kehendak--kehendak untuk menjadi sesuatu, kehendak untuk berubah. Kehendak adalah suatu bentuk perlawanan dan kita telah dididik dalam hal itu sejak kecil. Kehendak menjadi luar biasa penting bagi kita, secara ekonomis, sosial, maupun religius. Kehendak adalah suatu bentuk ambisi, dan dari kehendak muncullah keinginan untuk mengendalikan--mengendalikan suatu pikiran dengan pikiran lain, suatu kegiatan pikiran dengan kegiatan pikiran lain. “Saya harus mengendalikan keinginanku”; si ‘aku’ dibentuk oleh pikiran, suatu pernyataan verbal sebagai ‘aku’ beserta ingatannya dan pengalamannya. Pikiran itu ingin mengendalikan, membentuk, menyangkal suatu pikiran lain.
Salah satu kegiatan diri adalah memisahkan diri sebagai ‘aku’, sebagai si pengamat. Si pengamat adalah masa lampau, seluruh timbunan pengetahuan, pengalaman, ingatan. Jadi, si ‘aku’ memisahkan dirinya sebagai si pengamat dari ‘kamu,’ yang diamati. ‘Kami’ dan ‘mereka.’ ‘Kami’ orang Jerman, orang Komunis, orang Katolik, orang Hindu, dan ‘mereka’ orang kafir, dan seterusnya, dan sebagainya. Selama ada kegiatan diri, selama ada si ‘aku’ sebagai si pengamat, sebagai si pengendali, sebagai kehendak, sebagai diri yang menuntut, menginginkan pengalaman, maka meditasi menjadi cara menghipnotis-diri, suatu pelarian dari kehidupan sehari-hari, pelarian dari semua kesengsaraan dan masalah. Selama kegiatan-kegiatan itu ada, tentu ada pengelabuan. Lihatlah realitas, bukan dengan kata-kata, melainkan secara aktual, bahwa orang yang menyelidiki masalah meditasi, yang ingin melihat apa yang terjadi, perlu memahami semua kegiatan diri.
Meditasi adalah mengosongkan batin dari kegiatan diri. Dan Anda tidak bisa mengosongkan batin dari kegiatan diri dengan latihan apa pun, dengan metode apa pun, atau dengan berkata, “Katakan kepada saya apa yang harus saya lakukan.” Dengan demikian, jika Anda sungguh-sungguh berminat terhadap hal ini, Anda harus menemukan sendiri kegiatan diri Anda sendiri--kebiasaan-kebiasaan, pernyataan-pernyataan verbal, isyarat-isyarat tubuh, pengelabuan-pengelabuan, rasa bersalah yang Anda pupuk dan pegangi seolah-olah itu suatu benda berharga alih-alih membuangnya, hukuman-hukuman--seluruh kegiatan diri. Dan itu membutuhkan keelingan.
Nah, apa artinya eling? Eling menyiratkan suatu pengamatan yang di situ tidak ada pemilihan apa pun, hanya sekadar mengamati tanpa menafsirkan, menerjemahkan, mendistorsikan. Dan itu tidak akan terjadi selama ada si pengamat yang MENCOBA untuk eling. Dapatkah Anda eling, penuh perhatian, sehingga di dalam perhatian itu hanya ada pengamatan dan tiada si pengamat?
Sekarang, simaklah ini. Anda telah membaca pernyataan itu: keelingan adalah keadaan batin yang di situ tidak ada si pengamat dengan sikap memilih-milihnya. Anda mendengar pernyataan itu. Anda langsung ingin mempraktekkannya, menjadikannya tindakan. Anda berkata, “Apa yang harus saya lakukan? Bagaimana saya bisa eling tanpa si pengamat?” Anda menginginkan kegiatan langsung--yang berarti Anda tidak sungguh-sungguh menyimak pernyataan itu. Anda lebih berkepentingan dengan menerapkan pernyataan itu menjadi tindakan alih-alih menyimak pernyataan itu. Itu seperti memandang sekuntum bunga dan membaui bunga itu. Bunga itu ada di situ, keindahannya, warnanya, daya tariknya. Anda memandangnya, lalu memetiknya dan mulai merobek-robeknya. Dan Anda lakukan yang sama ketika Anda menyimak pernyataan bahwa di dalam keelingan, di dalam perhatian tidak ada si pengamat, bahwa jika si pengamat ada, maka Anda menghadapi masalah pilihan, konflik. Anda mendengar pernyataan itu dan reaksi batin yang seketika adalah, “Bagaimana saya melakukannya?” Jadi Anda lebih berkepentingan dengan tindakan apa yang harus dilakukan dengan pernyataan itu alih-alih menyimaknya secara aktual. Jika Anda menyimaknya secara lengkap, maka Anda menghirup keharumannya, kebenarannya. Dan keharuman, kebenaran itu bertindak, bukan si ‘aku’ yang berjuang untuk bertindak secara benar. Pahamkah Anda?
Jadi, untuk menemukan keindahan dan kedalaman meditasi, Anda perlu menyelidiki kegiatan diri, yang dibentuk oleh waktu. Jadi Anda perlu memahami waktu.
Harap simak ini. Simak saja, jangan lakukan apa-apa terhadapnya; simak saja. Temukan apakah itu palsu atau benar. Amati saja. Simak dengan sepenuh hatimu, bukan dengan pikiranmu yang kerdil.
Waktu adalah gerakan, secara fisik maupun secara psikologis. Secara fisik, untuk bergerak dari sini ke sana dibutuhkan waktu. Secara psikologis, gerakan waktu adalah untuk mengubah ‘apa yang ada’ menjadi ‘apa yang diharapkan.’ Jadi pikiran, yang adalah waktu, tidak pernah bisa diam karena pikiran adalah gerakan, dan gerakan ini adalah bagian dari diri. Kita berkata, pikiran adalah gerakan waktu. Pikiran adalah gerakan waktu oleh karena ia adalah tanggapan dari pengetahuan, pengalaman, ingatan, yang adalah waktu. Jadi pikiran tidak pernah bisa diam. Pikiran tidak pernah baru. Pikiran tidak pernah menghasilkan kebebasan.
Bila kita eling akan gerakan diri dalam seluruh kegiatannya--sebagai ambisi, mencari pemenuhan dalam hubungan--dari situ muncullah batin yang sepenuhnya diam. Bukan pikiran yang diam--pahamkah Anda perbedaannya? Kebanyakan orang mencoba mengendalikan pikiran mereka, dan dengan itu berharap menghasilkan keheningan di dalam batin. Saya pernah melihat puluhan orang yang telah berlatih bertahun-tahun mencoba mengendalikan pikiran mereka, mengharapkan memiliki batin yang sungguh-sungguh hening. Tetapi mereka tidak melihat bahwa pikiran adalah gerakan. Anda boleh membagi gerakan itu menjadi si pengamat dan yang diamati, atau si pemikir dan pikirannya, atau si pengendali dan apa yang dikendalikannya, tetapi itu tetap gerakan. Dan pikiran tidak pernah bisa diam: jika diam ia mati, oleh karena itu ia tidak mau diam.
Jika Anda telah menyelami ini secara mendalam, ke dalam diri Anda sendiri, maka Anda akan melihat bahwa batin menjadi diam sepenuhnya--bukan dipaksa, bukan dikendalikan, bukan dihipnotis. Dan ia harus diam oleh karena hanya di dalam diam itu sesuatu yang sama sekali baru, sesuatu yang tak dikenal bisa muncul. Jika saya memaksa batin saya diam dengan berbagai cara dan latihan, kejutan, maka itu adalah diamnya batin yang bergulat dengan pikiran, mengendalikan pikiran, menekan pikiran. Itu sama sekali lain dari batin yang telah melihat kegiatan diri, melihat gerakan pikiran sebagai waktu. Perhatian terhadap seluruh gerakan itu sendiri menghasilkan kualitas batin yang diam sepenuhnya, yang di situ sesuatu yang sama sekali baru dapat muncul.
Diri memiliki seribu pengalaman duniawi, indrawi, atau intelektual, tetapi ia bosan dengan semua itu oleh karena semuanya tidak punya arti. Keinginan untuk memperoleh pengalaman lebih luas, lebih ekspansif, transendental, adalah bagian dari ‘aku,’ diri. Bila Anda memiliki pengalaman, atau penglihatan seperti itu, Anda tentu dapat mengenali pengalaman-pengalaman itu, atau penglihatan-penglihatan itu, tetapi bila Anda dapat mengenalinya, maka mereka bukan baru, mereka adalah proyeksi latar belakang Anda, proyeksi keterkondisian Anda, yang di situ batin bersenang hati seolah-olah itu sesuatu yang baru. Jangan setuju dengan saya, tetapi lihatlah kebenarannya; maka itu menjadi milik Anda.
Salah satu tuntutan, dorongan, keinginan batin, diri adalah mengubah ‘apa yang ada’ menjadi ‘apa yang diharapkan.’ Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan terhadap ‘apa yang ada’ oleh karena ia tidak dapat memecahkan ‘apa yang ada’; oleh karena itu ia memproyeksikan suatu ide tentang ‘apa yang diharapkan’, yang adalah cita-cita. Proyeksi ini adalah antitesis dari ‘apa yang ada,’ dan dengan demikian terdapat konflik antara ‘apa yang ada’ dengan ‘apa yang diharapkan.’ Konflik itu sendiri adalah hakekat dari diri.
Salah satu kegiatan diri adalah kehendak--kehendak untuk menjadi sesuatu, kehendak untuk berubah. Kehendak adalah suatu bentuk perlawanan dan kita telah dididik dalam hal itu sejak kecil. Kehendak menjadi luar biasa penting bagi kita, secara ekonomis, sosial, maupun religius. Kehendak adalah suatu bentuk ambisi, dan dari kehendak muncullah keinginan untuk mengendalikan--mengendalikan suatu pikiran dengan pikiran lain, suatu kegiatan pikiran dengan kegiatan pikiran lain. “Saya harus mengendalikan keinginanku”; si ‘aku’ dibentuk oleh pikiran, suatu pernyataan verbal sebagai ‘aku’ beserta ingatannya dan pengalamannya. Pikiran itu ingin mengendalikan, membentuk, menyangkal suatu pikiran lain.
Salah satu kegiatan diri adalah memisahkan diri sebagai ‘aku’, sebagai si pengamat. Si pengamat adalah masa lampau, seluruh timbunan pengetahuan, pengalaman, ingatan. Jadi, si ‘aku’ memisahkan dirinya sebagai si pengamat dari ‘kamu,’ yang diamati. ‘Kami’ dan ‘mereka.’ ‘Kami’ orang Jerman, orang Komunis, orang Katolik, orang Hindu, dan ‘mereka’ orang kafir, dan seterusnya, dan sebagainya. Selama ada kegiatan diri, selama ada si ‘aku’ sebagai si pengamat, sebagai si pengendali, sebagai kehendak, sebagai diri yang menuntut, menginginkan pengalaman, maka meditasi menjadi cara menghipnotis-diri, suatu pelarian dari kehidupan sehari-hari, pelarian dari semua kesengsaraan dan masalah. Selama kegiatan-kegiatan itu ada, tentu ada pengelabuan. Lihatlah realitas, bukan dengan kata-kata, melainkan secara aktual, bahwa orang yang menyelidiki masalah meditasi, yang ingin melihat apa yang terjadi, perlu memahami semua kegiatan diri.
Meditasi adalah mengosongkan batin dari kegiatan diri. Dan Anda tidak bisa mengosongkan batin dari kegiatan diri dengan latihan apa pun, dengan metode apa pun, atau dengan berkata, “Katakan kepada saya apa yang harus saya lakukan.” Dengan demikian, jika Anda sungguh-sungguh berminat terhadap hal ini, Anda harus menemukan sendiri kegiatan diri Anda sendiri--kebiasaan-kebiasaan, pernyataan-pernyataan verbal, isyarat-isyarat tubuh, pengelabuan-pengelabuan, rasa bersalah yang Anda pupuk dan pegangi seolah-olah itu suatu benda berharga alih-alih membuangnya, hukuman-hukuman--seluruh kegiatan diri. Dan itu membutuhkan keelingan.
Nah, apa artinya eling? Eling menyiratkan suatu pengamatan yang di situ tidak ada pemilihan apa pun, hanya sekadar mengamati tanpa menafsirkan, menerjemahkan, mendistorsikan. Dan itu tidak akan terjadi selama ada si pengamat yang MENCOBA untuk eling. Dapatkah Anda eling, penuh perhatian, sehingga di dalam perhatian itu hanya ada pengamatan dan tiada si pengamat?
Sekarang, simaklah ini. Anda telah membaca pernyataan itu: keelingan adalah keadaan batin yang di situ tidak ada si pengamat dengan sikap memilih-milihnya. Anda mendengar pernyataan itu. Anda langsung ingin mempraktekkannya, menjadikannya tindakan. Anda berkata, “Apa yang harus saya lakukan? Bagaimana saya bisa eling tanpa si pengamat?” Anda menginginkan kegiatan langsung--yang berarti Anda tidak sungguh-sungguh menyimak pernyataan itu. Anda lebih berkepentingan dengan menerapkan pernyataan itu menjadi tindakan alih-alih menyimak pernyataan itu. Itu seperti memandang sekuntum bunga dan membaui bunga itu. Bunga itu ada di situ, keindahannya, warnanya, daya tariknya. Anda memandangnya, lalu memetiknya dan mulai merobek-robeknya. Dan Anda lakukan yang sama ketika Anda menyimak pernyataan bahwa di dalam keelingan, di dalam perhatian tidak ada si pengamat, bahwa jika si pengamat ada, maka Anda menghadapi masalah pilihan, konflik. Anda mendengar pernyataan itu dan reaksi batin yang seketika adalah, “Bagaimana saya melakukannya?” Jadi Anda lebih berkepentingan dengan tindakan apa yang harus dilakukan dengan pernyataan itu alih-alih menyimaknya secara aktual. Jika Anda menyimaknya secara lengkap, maka Anda menghirup keharumannya, kebenarannya. Dan keharuman, kebenaran itu bertindak, bukan si ‘aku’ yang berjuang untuk bertindak secara benar. Pahamkah Anda?
Jadi, untuk menemukan keindahan dan kedalaman meditasi, Anda perlu menyelidiki kegiatan diri, yang dibentuk oleh waktu. Jadi Anda perlu memahami waktu.
Harap simak ini. Simak saja, jangan lakukan apa-apa terhadapnya; simak saja. Temukan apakah itu palsu atau benar. Amati saja. Simak dengan sepenuh hatimu, bukan dengan pikiranmu yang kerdil.
Waktu adalah gerakan, secara fisik maupun secara psikologis. Secara fisik, untuk bergerak dari sini ke sana dibutuhkan waktu. Secara psikologis, gerakan waktu adalah untuk mengubah ‘apa yang ada’ menjadi ‘apa yang diharapkan.’ Jadi pikiran, yang adalah waktu, tidak pernah bisa diam karena pikiran adalah gerakan, dan gerakan ini adalah bagian dari diri. Kita berkata, pikiran adalah gerakan waktu. Pikiran adalah gerakan waktu oleh karena ia adalah tanggapan dari pengetahuan, pengalaman, ingatan, yang adalah waktu. Jadi pikiran tidak pernah bisa diam. Pikiran tidak pernah baru. Pikiran tidak pernah menghasilkan kebebasan.
Bila kita eling akan gerakan diri dalam seluruh kegiatannya--sebagai ambisi, mencari pemenuhan dalam hubungan--dari situ muncullah batin yang sepenuhnya diam. Bukan pikiran yang diam--pahamkah Anda perbedaannya? Kebanyakan orang mencoba mengendalikan pikiran mereka, dan dengan itu berharap menghasilkan keheningan di dalam batin. Saya pernah melihat puluhan orang yang telah berlatih bertahun-tahun mencoba mengendalikan pikiran mereka, mengharapkan memiliki batin yang sungguh-sungguh hening. Tetapi mereka tidak melihat bahwa pikiran adalah gerakan. Anda boleh membagi gerakan itu menjadi si pengamat dan yang diamati, atau si pemikir dan pikirannya, atau si pengendali dan apa yang dikendalikannya, tetapi itu tetap gerakan. Dan pikiran tidak pernah bisa diam: jika diam ia mati, oleh karena itu ia tidak mau diam.
Jika Anda telah menyelami ini secara mendalam, ke dalam diri Anda sendiri, maka Anda akan melihat bahwa batin menjadi diam sepenuhnya--bukan dipaksa, bukan dikendalikan, bukan dihipnotis. Dan ia harus diam oleh karena hanya di dalam diam itu sesuatu yang sama sekali baru, sesuatu yang tak dikenal bisa muncul. Jika saya memaksa batin saya diam dengan berbagai cara dan latihan, kejutan, maka itu adalah diamnya batin yang bergulat dengan pikiran, mengendalikan pikiran, menekan pikiran. Itu sama sekali lain dari batin yang telah melihat kegiatan diri, melihat gerakan pikiran sebagai waktu. Perhatian terhadap seluruh gerakan itu sendiri menghasilkan kualitas batin yang diam sepenuhnya, yang di situ sesuatu yang sama sekali baru dapat muncul.