Ðãñì룮hä®d†
November 22, 2005, 20:41
Sesungguhnya, di dalam pengakhiran terdapat pembaruan, bukan?
Hanya di dalam kematian sesuatu yang baru bisa muncul.
Saya tidak memberi Anda kenyamanan. Ini bukan sesuatu untuk
dipercaya atau dipikir-pikir atau secara intelektual diselidiki
dan diterima, oleh karena kalau begitu Anda akan membuatnya menjadi
suatu kenyamanan kembali, seperti Anda sekarang percaya akan
reinkarnasi atau kelangsungan di akhirat, dan sebagainya.
Tetapi fakta yang aktual adalah bahwa sesuatu yang berlangsung
tidak punya kelahiran kembali, tidak punya pembaruan.
Oleh karena itu, di dalam mati setiap hari terdapat pembaruan,
terdapat kelahiran kembali. Itulah keabadian.
Di dalam kematian terdapat keabadian bukan kematian yang Anda takuti,
melainkan kematian dari kesimpulan-kesimpulan, ingatan-ingatan,
pengalaman-pengalaman yang lalu, semua yang Anda kenal sebagai ‘aku’.
Dengan matinya ‘aku’ setiap menit terdapat keabadian, terdapat kekekalan,
terdapat sesuatu yang dialamibukan untuk direka-reka atau diceramahkan,
seperti yang Anda lakukan dengan reinkarnasi dan sebagainya itu....
Bila Anda tidak lagi takut, oleh karena setiap menit terdapat pengakhiran
dan oleh karena itu pembaruan, maka Anda akan terbuka terhadap yang tak diketahui.
Realitas adalah yang tak diketahui.
Kematian adalah juga yang tak diketahui.
Tetapi mengatakan bahwa kematian adalah indah, mengatakan betapa mengagumkannya
kematian karena kita akan berlangsung terus di akhirat dan semua nonsens
seperti itu, tidak punya kenyataan. Yang nyata adalah memandang kematian
sebagaimana adanya_pengakhiran; pengakhiran yang di situ terdapat pembaruan,
kelahiran kembali, bukan kelangsungan. Karena sesuatu yang berlangsung pasti
akan luruh; tetapi sesuatu yang mampu memperbarui dirinya adalah abadi.
The Book of Life: 16 November
J. Krishnamurti
Diterjemahkan oleh: Hudoyo Hupudio
Hanya di dalam kematian sesuatu yang baru bisa muncul.
Saya tidak memberi Anda kenyamanan. Ini bukan sesuatu untuk
dipercaya atau dipikir-pikir atau secara intelektual diselidiki
dan diterima, oleh karena kalau begitu Anda akan membuatnya menjadi
suatu kenyamanan kembali, seperti Anda sekarang percaya akan
reinkarnasi atau kelangsungan di akhirat, dan sebagainya.
Tetapi fakta yang aktual adalah bahwa sesuatu yang berlangsung
tidak punya kelahiran kembali, tidak punya pembaruan.
Oleh karena itu, di dalam mati setiap hari terdapat pembaruan,
terdapat kelahiran kembali. Itulah keabadian.
Di dalam kematian terdapat keabadian bukan kematian yang Anda takuti,
melainkan kematian dari kesimpulan-kesimpulan, ingatan-ingatan,
pengalaman-pengalaman yang lalu, semua yang Anda kenal sebagai ‘aku’.
Dengan matinya ‘aku’ setiap menit terdapat keabadian, terdapat kekekalan,
terdapat sesuatu yang dialamibukan untuk direka-reka atau diceramahkan,
seperti yang Anda lakukan dengan reinkarnasi dan sebagainya itu....
Bila Anda tidak lagi takut, oleh karena setiap menit terdapat pengakhiran
dan oleh karena itu pembaruan, maka Anda akan terbuka terhadap yang tak diketahui.
Realitas adalah yang tak diketahui.
Kematian adalah juga yang tak diketahui.
Tetapi mengatakan bahwa kematian adalah indah, mengatakan betapa mengagumkannya
kematian karena kita akan berlangsung terus di akhirat dan semua nonsens
seperti itu, tidak punya kenyataan. Yang nyata adalah memandang kematian
sebagaimana adanya_pengakhiran; pengakhiran yang di situ terdapat pembaruan,
kelahiran kembali, bukan kelangsungan. Karena sesuatu yang berlangsung pasti
akan luruh; tetapi sesuatu yang mampu memperbarui dirinya adalah abadi.
The Book of Life: 16 November
J. Krishnamurti
Diterjemahkan oleh: Hudoyo Hupudio