Socrates
July 08, 2005, 22:55
Being Catholic
Ditengah-tengah mentalitas dunia yang makin pelik dan sarat dengan tarikan ajaran-ajaran yang nampaknya menarik, tiba-tiba aku tergelitik untuk bertanya mengapa aku tetap (setia) menjadi katolik? Adakah aku menjadi katolik melulu dalam rangka tuntutan sisio-psikologik sebagai mahkluk dihadapan sesama dan Sang khalik? Ataukah seperti halnya yang lain, sebagai manusia aku mesti memiliki suatu yang laik. Terutama ketika aku menghadapi peristiwa yang membuaku tercekik. Kalau ini jawabanya, lalu apa bedanya aku menjadi katolik dan aku yang memiliki sekian harta milik yang bisa aku lepas dan tarik tergantung topik.
Menjadi katolik pasti bukan soal tindakan eksoterik dan rasa romantik yang terkadang penuh konflik. Kalau itu soal eksoterik, maka kegelisahanku menjadi katolik hanya bolak-balik pada soal apa yang aku dapatkan dari sang khalik. Lalu aku mulai naik ke altar supaya aku menjadi apik, tidak burik, dihindari dari yang masokik. Pokoknya semoga memperoleh segala yang baik. Dan ironiknya ketika aku dihadapankan pada suatu yang tragik, tiba-tiba aku menjadi musrik dan sebagai ganti kata “amin” (baca: TABIK) aku lalu lebih suka berseru “TAIK!”
Being catholic, agaknya juga tidak boleh direduksir hanya soal rasa romantik yang penuh daya tarik. Sehinngga aku menjadi katolik dipahami hanya soal bangga dan menarik. Apakah aku mengerti atau mendalami atau menghayati bukanlah sesuatu yang perlu dipikirkan dengan pelik. Yang penting aku katolik. titik!!. Jangan tanya mengapa, jangan tanya untuk apa, jangan tanya apa konsekwensinya. “ Aku katolik , so what gitu lhoo “ begitu kata si nonik. Dan aku memang bisa tetap katolik, tapi jijik jika harus berhadapan dengan tuntutan memikul salib setiap detik.
Lalu apa sih artinya being katolik? Kalau ditarik benang merah, maka being katolik adalah mencoba menjadi identik dengan Kristus dalam lirik maupun tindakan heroik. Heroismenya kristianik tentu tidak dalam semangat masokik pun juga dalam belenggu hukum-hukum kanonik yang ujung-ujungnya membuat seseorang berjiwa sadistik dalam apologetik. Heroisme kristianik mungkin lebih senada dengan keanggunan musik klasik.
Sayangnya identifikasi ini tidak bisa instant hanya lantaran air babtis atau pencurahan roh dalam doa karismatik. Proses ini membutuhkan latihan psikomotorik. Karena itu segala kegiatan rohani katolik betapapun nampak naif dan tidak logik, tetaplah suatu proses yang perlu dimanasik. Pada akhirnya kita sendirilah yang menentukan apakah kita menjadi katolik yang epik atau katolik yang komik.
Senin 4 Juli 2005
Socrates
July 08, 2005, 23:00
Da Vincinya Dan
Fiksi Kode da vinci adalah sebuah ungkapan kegemasan. Agaknya apapun yang nampaknya polos atau kolot membuat manusia menjadi gemas tak tertahan. Apalagi kepolosan dan kekolotan itu lebur dalam sebuah lembaga tua yang bernama Vatikan. Dan lahirlah sebuah fiksi yang menghebohkan. Sampai-sampai seorang Kardinal perlu membuat suatu seruan. „Kode da Vinci bisa membahayakan iman!“
Sebuah reaksi yang agak berlebihan. Seolah sebuah Fiksi karya seorang Dan bisa menghancurkan kebenaran Tuhan yang telah berusia duaribuan dan dihidupi milyaran insan. Dalam beberapa hal, Vatikan memang terkadang agak kurang kerjaan.
Ajaran si manusia Dan ini memang terkesan jenial, dan meyakinkan. Namun kejeniusannya bukan terletak pada kehebatanya menemukan suatu yang mengherankan tapi pada kecerdasannya menjadikan suatu khayalan seolah adalah suatu kenyataan. Untuk yang satu ini, Dan memang novelis yang mencengangkan.
Saya tidak berminat untuk membahas apakah benar kenyataan tentang cawan suci atau Yesus yang disebut-sebut memiliki keturunan. Untuk apa mencoba mengerti seorang yang sedang gemas melihat keelokan dan kemolekan? Yang jelas membaca Kode Da Vinci adalah sebuah pembelajaran dalam beriman. Pertama, perlunya dalam beriman, orang mengadakan pendalaman. Beriman tidak cukup hanya soal menjalankan kewajiban. Namun juga mesti masuk dalam pergulatan yang terkadang melelahkan. Dalam iman katolik, tidak pernah diharamkan untuk meragukan pewahyuan karena Tuhan memang memberi manusia akal budi dengan resiko demikian. Pendalaman itu tentu saja tidak bisa hanya berdasar pada pendewaan sebuah keraguan ( apalagi kalau keraguan itu hanya berdasarkan fiksi khayalan ala Dan). Seseorang yang dewasa dalam iman, berani masuk dalam sebuah hubungan personal dengan Tuhan. Suatu hubungan yang tidak hanya memakai akal sebagai jalan, tetapi juga jiwa dan perasaan.
Yang terakhir, beriman ternyata membutuhkan suatu kecerdasan. Saya bersyukur kita masih cerdas dalam menanggapi kegemasan Dan akan Vatikan. Hingga tak perlu ada fatwa hukum mati untuk fiksi yang bagaimanapun juga tetaplah sebuah khayalan. Jadi kalau ada komentar yang mengatakan bahwa kode Da Vinci akan menggoncangkan Iman, saya hanya bisa berkata : KASIHANNNNNN.
Rabu 6 Juli 2005
Socrates
July 08, 2005, 23:04
Pintu gerbang
Seorang pastur tua mantan aktivis karismatik yang kini menjadi pertapa berkata kepadaku : „doa karismatik adalah pintu gerbang“. Dan apapun fonemena yang terhidang di sana ,suatu saat orang harus berani membuang sebab memang semua itu hanyalah gerbang. Karena itu sembayang yang sampai tumbang, dengan dendang dan rasa yang melayang-layang, semuanya harus dibiarkan usang jika saatnya telah datang. Guna gerbang hanya menghantar seseorang terbang ke arah yang lebih tenang.
Jadi sebagai gerbang, dia boleh tetap ada dan berkembang. Namun sekaligus mesti diingatkan bahwa gerbang bukanlah sarang, apalagi mengira bahwa disanalah tempat Sang hyang. Tetapi yang paling membuat berang adalah suara sumbang yang mengatakan bahwa karunia karismatik adalah tanda dekat, berkenan dan dikuduskan Sang Hyang. Disinilah banyak orang terperosok kedalam lobang dan beriman menjadi sesuatu yang tegang karena siap berperang dengan segala setan dengan semua hulubalangnya.
Gerbang memang terkadang dihias dengan aneka lambang yang membuat kita terangsang untuk memandang dan lupa bahwa gerbang pada akhirnya mesti dilewati dengan hati lapang. Disaat itulah orang kadang bimbang. Karena sesudah melewati gerbang ternyata terbentang padang yang gersang yang sunyi, sepi namun garang. Disinilah sembayang kita diuji dan ditimbang. Apakah yang kucari dalam sembayang? Perasaan-perasaan melayang? kenikmatan-kenikmatan yang merangsang? Siapakah yang kucari? Diriku yang selalu merasa kurang ataukah Tuhan sang maha sayang?
Mengapa orang tidak boleh tinggal bersarang di gerbang? Karena pesona gerbang membuat seseorang menjadi tidak beriman dengan seimbang. Beriman bukan soal berapa gobang aku terima dari sang hyang. Kita sembayang bukan karena kita adalah pialang. Kita sembayang karena beriman adalah soal menjadi TERANG bagi para petualang. Kita sembayang bukan untuk memperoleh rasa senang dan girang, tapi sebagai kekuatan untuk menapaki palang di bebatuan karang. Akhirnya kita sembayang bukan untuk bersarang di gerbang, tapi bertemu dengan Sang Hyang.
Untuk menuju istana Raja, seseorang perlu lewat gerbang, karena itu gerbang jangan ditumbangkan. Tapi keluarga dan kerabat kerajaan , bisa diam-diam lewat jalan rahasia dan tiba-tiba sudah ada di depan singgsana dan bercengkerama dengan Sang Hyang.
Selasa, 5 Juli 2005
Socrates
July 08, 2005, 23:08
Ayat-ayat penguat
Apakah ayat-ayat dalam kitab bisa membuat seorang menjadi kuat dalam keadaan sekarat? Jawabannya tergantung sejauh mana seseorang bersahabat dengan sang ayat. Karena ayat-ayat memang tidak pertama-tama ditulis untuk menjadi mantra obat kuat. Ayat-ayat adalah hikmat manusia dalam pengalaman dengan sang Rahmat. Jadi apakah ayat bisa menjadi penguat? Jawabanyanya: Manakala seseorang telah terlibat didalam pergulatan iman yang marifat.
Kalau selama ini seseorang jarang mau melihat. Apalagi mencoba untuk giat bergulat dengan ayat-ayat. Maka mencoba mencari selamat dengan membaca ayat adalah usaha yang mudarat.
Ayat-ayat kitab adalah HAYAT bagi mereka yang dekat dengan SANG RAHMAT. Karena itu adalah salah alamat kalau kita mengharap berkat hanya karena kita tamat dengan ayat. Karena berkat dan selamat adalah buah pergulatan tiada cepat-cepat.
Yang paling perlu diingat, membaca ayat tidak seperti membaca hikayat. Kebenaran Ayat-ayat tidak bisa ditemukan seperti kita membaca harian rakyat.
Kenikmatan sebuah ayat tidak ditemukan dalam sebaris dua baris kalimat. Ayat-ayat tidak dibuat untuk menjadi semacam mantera keramat. Menikmati ayat tidak seperti menikmati madat.
Karena itu menemukan amanat ayat-ayat butuh siasat. Pertama, sikap tobat. Ayat-ayat bukanlah kerabat disaat hidup kita hampir jadi mayat. Tetapi juga sobat ketika kita merasa diri kuat. Kedua, yang kita serap dari ayat-ayat adalah hikmat bukan nikmat. Karena itu cinta kepada SANG AYAT mesti berkobar-kobar penuh semangat. Kerinduan membaca ayat-ayat mesti serupa kerinduan membaca serial silat.
Memang berat bagi yang tidak memiliki tekat bulat. Memang terasa lambat bagi yang bermentalitas “secepat kilat “ . Tapi ayat-ayat khan bukan sebuah “Dunkin Donat”?
Satu hal lagi , adalah sesat jika seseorang memperjualbelikan ayat-ayat bukan demi kepentingan akhirat namun demi kepentingan harta yang bisa dimakan ngengat. Mentalitas semacam ini mesti dibabat dan disikat, karna membuat Tuhan dimakanai hanya sebagai penentu RUGI-RABAT dan bukan SANG MAHA RAHMAT.
Kamis 7 Juli 2005
Socrates
July 08, 2005, 23:13
ATHEIS
Aku tidak pernah percaya bahwa atheisme murni benar-benar eksis. Atheisme barangkali lebih merupakan kerinduan manusia untuk mencapai orgasme dalam pemikiran filosofis. Keinginan ini mungkin karena manusia mereduksi existensi manusiawi melulu sebagai mahkluk dengan akal budi sebagai basis. “Cogito ergo sum” begitu kata Decartes filsuf Perancis. Tapi kita tidak hanya berpikir, kita juga menangis dan pipis.
“There is no atheist in the foxhole “ begitu sering ditulis. Adakah atheisme di sarang serigala yang lapar dan bengis ?? mungkin dia tidak terpipis, tapi pasti dia tidak setenang ketika mengatakan “God is for Childish!!”
Tapi aku sangat percaya banyak orang beriman menjadi atheis modern dan modis. Seseorang bisa berkesan sangat agamis dengan tutur kata manis-manis bombastis. Namun sebenarnya egois, fundamentalis, chauvinist, sadis, nudis, sexist, individualis, dan oprtunis dalam hidup praksis.. Seperti seorang dengan wajah bak selebritis tapi kulit penuh borok dan kudis. Atheis semacam ini lebih miris dari pada pengikut Nietszche si kumis.
Atheisme semacam ini mesti dikikis karena menciptakan tuhan yang sangat materialistis. Dan menjadikan agama dan Tuhan yang mestinya persoalan spirtualis menjadi kegiatan yang amat kapitalis. Celakanya kapitalis sering meminta kaum imperalis sebagai sais. Karena itu kata-kata biblis dan senjata otomatis bisa bekerja secara sinergis. Benar-benar sebuah kenyataan yang ironis. Tetapi begitulah yang akan terjadi manakala kita beriman dengan tidak cerdas dan kritis. Beriman tidak sama dengan berbisnis.
Segala macam peribadatan dan tindakan liturgis dijalani semata-mata dalam rangka tuntutan legalis, bernuansa materialis dan sarat dengan perhitungan ekonomis. Padahal segala kegiatan agamis, mestinya membawa seseorang makin menjadi altruis, populis dan sangat peduli kepada kaum papa dan pengemis.
Kamu tidak dapat mengabdi kepada mamon dan kepada Allah, demikian kebenaran biblis. Atheisnya si Kumis barangkali memilih tidak mengabdi Allah. Mereka juga barangkali tidak mengabdi pada si mamon materialis. Tapi atheis modernist tidak mampu membedakan Allah dan mamon materialis jadi mereka mengabdi keduanya dan menjadikannya satu premis. Sebuah pilihan yang simplis tapi tentu saja amat sangat tidak biblis.
Jumat 8 Juli 2005