jinsbelel
February 06, 2003, 11:33
Di industri musik Tanah Air, menjual sebuah album yang berisi komposisi musik instrumental memang belum seberuntung album-album pop. Apalagi kemasan kaset satu ini, dilihat dari judulnya saja, 'hanya' menyuguhkan dominasi instrumen gitar. Rock pula!
Bahkan seorang gitaris terkenal seperti Tohpati pun tidak berani membuat album yang sepenuhnya instrumental. Untuk menarik pembeli, ia terpaksa harus menghadirkan seorang Glenn Fredly untuk membawakan satu komposisi yang berlirik. Begitu juga dengan Donny Suhendra, yang menarik Syaharani untuk mendukung album solo debutnya. Mungkin hanya Dewa Budjana dan Wayan Balawan saja yang terbilang lebih bernyali untuk tampil pol-polan dengan idealisme.
Kendati demikian, kehadiran album Smash Gitar 2 terbitan Alfa Records ini tentu saja tidak bisa buru-buru dinilai sebagai proyek bunuh diri. Buktinya, di luar dugaan, rilisan sebelumnya, yakni Smash Gitar 1 (2001) mendapat respon positif dan terpaksa harus memperpanjang masa penjualannya untuk. Padahal bisa dibilang, gitaris yang ambil bagian di album tersebut masih terbilang 'bau kencur'. Yang tentu saja tidak bisa dibandingkan reputasinya dengan gitaris tangguh yang ada di Indonesia macam Eet Syahranie, Dewa Budjana, Baron, Tjahjo Wisanggeni atau Pay Siburian.
Tapi satu yang patut dipuji, mereka punya nyali. Apalah arti sebuah nama. Dan tentu saja, untuk proyek album macam ini, harus ada yang memulai. Tak mesti menunggu nama besar dulu untuk melahirkan sebuah karya.
Bahkan seorang gitaris terkenal seperti Tohpati pun tidak berani membuat album yang sepenuhnya instrumental. Untuk menarik pembeli, ia terpaksa harus menghadirkan seorang Glenn Fredly untuk membawakan satu komposisi yang berlirik. Begitu juga dengan Donny Suhendra, yang menarik Syaharani untuk mendukung album solo debutnya. Mungkin hanya Dewa Budjana dan Wayan Balawan saja yang terbilang lebih bernyali untuk tampil pol-polan dengan idealisme.
Kendati demikian, kehadiran album Smash Gitar 2 terbitan Alfa Records ini tentu saja tidak bisa buru-buru dinilai sebagai proyek bunuh diri. Buktinya, di luar dugaan, rilisan sebelumnya, yakni Smash Gitar 1 (2001) mendapat respon positif dan terpaksa harus memperpanjang masa penjualannya untuk. Padahal bisa dibilang, gitaris yang ambil bagian di album tersebut masih terbilang 'bau kencur'. Yang tentu saja tidak bisa dibandingkan reputasinya dengan gitaris tangguh yang ada di Indonesia macam Eet Syahranie, Dewa Budjana, Baron, Tjahjo Wisanggeni atau Pay Siburian.
Tapi satu yang patut dipuji, mereka punya nyali. Apalah arti sebuah nama. Dan tentu saja, untuk proyek album macam ini, harus ada yang memulai. Tak mesti menunggu nama besar dulu untuk melahirkan sebuah karya.