Kurei-kun
December 20, 2002, 02:33
Aku Dina, berusia 19 tahun. Di usia 17 tahun muda aku mengalami pengalaman cinta pertama yang mungkin jarang di alami oleh anak-anak seusiaku yaitu, cinta yang diputuskan oleh kematian. Padahal aku sangat berharap, cinta pertamaku itu akan berjalan dengan penuh warna.
Awalnya ketika aku berusia 17 tahun, seorang anak baru tengah diperkenalkan di sekolahku, cowok itu bernama Boy. Dia baru saja pindah dari Kota Solo sebelah selatan kotaku (sengaja tak kusebutkan). Waktu itu aku masih duduk di bangku SMA kelas II. Dan pada saat itu rata-rata cowok yang ada di sekolahku umumnya punya sifat sangat kekanak-kanakan dan menyebalkan. Tapi boy tidak. Dia sangat berbeda. Dia lah yang menurutku paling cute, tidak hanya itu dia juga sangat dewasa. Kami pun berteman dan menjadi sangat dekat. Terlebih lagi omongan dan dan pikiran kami sama-sama nyambung. Kedekatan itu semakin berlanjut ketika pada suatu hari ia mengajakku ke luar. Pada masa itu, kalau mudah diajak pergi cowok akan jadi bahan omongan orang-orang dan membuat orang jadi tidak simpati pada kita.
Kami pun berbincang di telpon setiap malam dan terus berlanjut hingga berganti musim. Ia tidak hanya pacarku tapi juga sahabatku. Hidupku rasanya seperti dongeng, dan Boy sebagai pangeranku. Kami terus berpacaran hingga pertengahan bulan Oktober. Ku ingat hari itu seperti aku mengingat hari kemarin. Saat itu sepulang sekolah kami berjalan bersama, seperti biasa ia berniat mengantarku pulang ke rumah. Setibanya di rumah saat suasana sangat sepi, ia lalu menciumku dan mengatakan betapa ia mencintaiku. Aku saat itu masih lugu, aku tidak begitu mengerti arti cinta yang sebenarnya. Namun aku membalas pernyataannya dengan mengatakan aku juga mencintainya. Ia pun kemudian berlalu. Dengan senyum di kulum aku masuk kamar dan menikmati terus kenangan indah itu. Saat itu rasanya semua serba indah dan menyenangkan. Malah terlalu indah.
. Hanya dalam semalam, semua yang kualami berubah secara drastis. Pada suatu malam ketika aku tengah terlelap, tiba-tiba Mamaku masuk ke kamar dan membangunkan aku. Ia memintaku untuk segera berganti pakaian dan ikut dengannya malam itu juga. Sambil berganti pakaian aku terus bertanya,?Ada apa sih Ma ? Apa yang terjadi ?? Namun Mama Cuma terdiam dan memintaku untuk bergegas pergi. Usai berpakaian, kami pun langsung naik ke dalam kendaraan. Hampir selama 2 menit kami saling terdiam selama menempuh perjalanan, hingga akhirnya Mama mengatakan alasan kepergian kami malam itu. ?Sayang, Boy bunuh diri ?? Sejenak aku Cuma berkata,?Enggak lucu Mam ah?.serius dong Mam dan ia pun hanya memandangiku ada apa sih ?? Akhirnya aku baru menyadari ternyata yang Mama katakan adalah benar. Boy telah mengatakan dalam surat terakhirnya bahwa hidupnya teramat sempurna, dan semua yang sempurna akan berakhir, cepat atau lambat. Akhirnya ia memutuskan untuk gantung diri. Dengan begitu ia beranggapan bisa selalu merasa bahagia. Aku tidak akan pernah bisa melupakan dia dan selalu memikirkannya siang dan malam. Namun ketika usiaku beranjak 19 tahun, aku menyadari bahwa hidup harus terus berjalan. Memang sangat sulit menjalaninya, namun aku yakin bisa melewati semua ini.
Awalnya ketika aku berusia 17 tahun, seorang anak baru tengah diperkenalkan di sekolahku, cowok itu bernama Boy. Dia baru saja pindah dari Kota Solo sebelah selatan kotaku (sengaja tak kusebutkan). Waktu itu aku masih duduk di bangku SMA kelas II. Dan pada saat itu rata-rata cowok yang ada di sekolahku umumnya punya sifat sangat kekanak-kanakan dan menyebalkan. Tapi boy tidak. Dia sangat berbeda. Dia lah yang menurutku paling cute, tidak hanya itu dia juga sangat dewasa. Kami pun berteman dan menjadi sangat dekat. Terlebih lagi omongan dan dan pikiran kami sama-sama nyambung. Kedekatan itu semakin berlanjut ketika pada suatu hari ia mengajakku ke luar. Pada masa itu, kalau mudah diajak pergi cowok akan jadi bahan omongan orang-orang dan membuat orang jadi tidak simpati pada kita.
Kami pun berbincang di telpon setiap malam dan terus berlanjut hingga berganti musim. Ia tidak hanya pacarku tapi juga sahabatku. Hidupku rasanya seperti dongeng, dan Boy sebagai pangeranku. Kami terus berpacaran hingga pertengahan bulan Oktober. Ku ingat hari itu seperti aku mengingat hari kemarin. Saat itu sepulang sekolah kami berjalan bersama, seperti biasa ia berniat mengantarku pulang ke rumah. Setibanya di rumah saat suasana sangat sepi, ia lalu menciumku dan mengatakan betapa ia mencintaiku. Aku saat itu masih lugu, aku tidak begitu mengerti arti cinta yang sebenarnya. Namun aku membalas pernyataannya dengan mengatakan aku juga mencintainya. Ia pun kemudian berlalu. Dengan senyum di kulum aku masuk kamar dan menikmati terus kenangan indah itu. Saat itu rasanya semua serba indah dan menyenangkan. Malah terlalu indah.
. Hanya dalam semalam, semua yang kualami berubah secara drastis. Pada suatu malam ketika aku tengah terlelap, tiba-tiba Mamaku masuk ke kamar dan membangunkan aku. Ia memintaku untuk segera berganti pakaian dan ikut dengannya malam itu juga. Sambil berganti pakaian aku terus bertanya,?Ada apa sih Ma ? Apa yang terjadi ?? Namun Mama Cuma terdiam dan memintaku untuk bergegas pergi. Usai berpakaian, kami pun langsung naik ke dalam kendaraan. Hampir selama 2 menit kami saling terdiam selama menempuh perjalanan, hingga akhirnya Mama mengatakan alasan kepergian kami malam itu. ?Sayang, Boy bunuh diri ?? Sejenak aku Cuma berkata,?Enggak lucu Mam ah?.serius dong Mam dan ia pun hanya memandangiku ada apa sih ?? Akhirnya aku baru menyadari ternyata yang Mama katakan adalah benar. Boy telah mengatakan dalam surat terakhirnya bahwa hidupnya teramat sempurna, dan semua yang sempurna akan berakhir, cepat atau lambat. Akhirnya ia memutuskan untuk gantung diri. Dengan begitu ia beranggapan bisa selalu merasa bahagia. Aku tidak akan pernah bisa melupakan dia dan selalu memikirkannya siang dan malam. Namun ketika usiaku beranjak 19 tahun, aku menyadari bahwa hidup harus terus berjalan. Memang sangat sulit menjalaninya, namun aku yakin bisa melewati semua ini.