Kurei-kun
December 19, 2002, 21:24
Pagi itu langit tampak mendung. Udara pagi yang biasanya hangat, kali ini terasa dingin menusuk. Sama seperti perasaanku pada hari itu. Air mataku meleleh di pagi itu, karena kejadian yang kualami kemarin siang.
Kemarin aku bertemu lagi dengan P, P menceritakan hubungannya dengan A selama ini, katanya kemarin mereka baru saja pergi bareng lagi. Ah ... selama aku jauh dari mereka, menahan rinduku untuk A, dan hanya dapat mengungkapkannya dengan puisi-puisi cinta yang entah kapan akan mengungkapkan perasaanku pada A, mereka berdua semakin dekat???
Perasaan sakit di hatiku tak tertahankan lagi, aku pun berkata dengan nada pedas pada P kalau aku malas mendengarkan ceritanya lagi. Ya ampun ... apa yang kukatakann! teriak hatiku.
"Elo juga suka sama A, iya kan!!" kata P padaku. Aku tak pandai berbohong, apalagi saat itu mataku berkaca-kaca, dan ... akhirnya terbongkarlah semuanya, dari awal perkenalan mereka, segala rasa sakit yang kurasakan, dan perasanku saat aku pindah sekolah.
"Gue cuma pengen dia bahagia, P! Sama siapapun gue gak peduli asal dia bahagia!" kataku menegaskan. P tak mengatakan apa-apa, ia hanya diam. dan aku dan P pun tak pernah saling curhat lagi. Ada jurang yang telah tercipta diantara kita, jurang persaingan, yang amat kubenci.
Namun, akhirnya kami berdua tau kalau A sudah punya kekasih. A memperkenalkan permaisuri hatinya itu pada kami berdua. Walau sakit, aku tetap merasa bahagia melihat wajah cerah A saat ia bersama permaisuri hatinya.
Lain dengan P, ia jadi membenci A. Ia berniat untuk memusuhi A. Namun aku mencegahnya. "Tolong jangan musuhin dia, P! Gimanapun juga dia sahabat gue!!" kataku memohon pada P.
"Biarin aja! LO nggak usah munafik deh! Elo sebenernya juga benci kan sama A! Terutama sama ceweknya, iya kan!!" kata P.
"Biarin gue jadi sahabatnya sampai seumur hidup, P! Gue bahagia kalau gue ada disisinya sebagai sahabat! daripada sebagai kekasih ..." kataku akhirnya. P pun akhirnya menjauhi A.
Sampai kini, A masih sangat mencintai permaisuri hatinya itu, sama seperti aku mencintainya. Sampai kapanpun, aku akan selalu mencintainya, dan aku akan tetap berkarya untuknya, entah sudah berapa puluh puisi yang telah kutulis untuknya, tanpa sekalipun ia membacanya. Namun sampai detik ini aku tetap menuliskan puisi untuknya.
Kemarin aku bertemu lagi dengan P, P menceritakan hubungannya dengan A selama ini, katanya kemarin mereka baru saja pergi bareng lagi. Ah ... selama aku jauh dari mereka, menahan rinduku untuk A, dan hanya dapat mengungkapkannya dengan puisi-puisi cinta yang entah kapan akan mengungkapkan perasaanku pada A, mereka berdua semakin dekat???
Perasaan sakit di hatiku tak tertahankan lagi, aku pun berkata dengan nada pedas pada P kalau aku malas mendengarkan ceritanya lagi. Ya ampun ... apa yang kukatakann! teriak hatiku.
"Elo juga suka sama A, iya kan!!" kata P padaku. Aku tak pandai berbohong, apalagi saat itu mataku berkaca-kaca, dan ... akhirnya terbongkarlah semuanya, dari awal perkenalan mereka, segala rasa sakit yang kurasakan, dan perasanku saat aku pindah sekolah.
"Gue cuma pengen dia bahagia, P! Sama siapapun gue gak peduli asal dia bahagia!" kataku menegaskan. P tak mengatakan apa-apa, ia hanya diam. dan aku dan P pun tak pernah saling curhat lagi. Ada jurang yang telah tercipta diantara kita, jurang persaingan, yang amat kubenci.
Namun, akhirnya kami berdua tau kalau A sudah punya kekasih. A memperkenalkan permaisuri hatinya itu pada kami berdua. Walau sakit, aku tetap merasa bahagia melihat wajah cerah A saat ia bersama permaisuri hatinya.
Lain dengan P, ia jadi membenci A. Ia berniat untuk memusuhi A. Namun aku mencegahnya. "Tolong jangan musuhin dia, P! Gimanapun juga dia sahabat gue!!" kataku memohon pada P.
"Biarin aja! LO nggak usah munafik deh! Elo sebenernya juga benci kan sama A! Terutama sama ceweknya, iya kan!!" kata P.
"Biarin gue jadi sahabatnya sampai seumur hidup, P! Gue bahagia kalau gue ada disisinya sebagai sahabat! daripada sebagai kekasih ..." kataku akhirnya. P pun akhirnya menjauhi A.
Sampai kini, A masih sangat mencintai permaisuri hatinya itu, sama seperti aku mencintainya. Sampai kapanpun, aku akan selalu mencintainya, dan aku akan tetap berkarya untuknya, entah sudah berapa puluh puisi yang telah kutulis untuknya, tanpa sekalipun ia membacanya. Namun sampai detik ini aku tetap menuliskan puisi untuknya.