View Full Version : Mentalitas Bangsa Klien







pokerface
December 23, 2004, 07:14
Mentalitas Bangsa Klien

Oleh Kuntowijoyo

KITA belajar dari Pemilu 2004, pilpres 2004, tayangan teve, kehidupan sehari-hari, dan dari hubungan internasional. Kesimpulannya tidak menggembirakan. Kita sekarang jadi bangsa klien (klien yang tergantung pada patron).

Melalui modal dan produk, kita menjadi klien Amerika, Eropa, Jepang, Taiwan, Korea Selatan, Singapura, dan RRC. Melalui tenaga kerja Indonesia (TKI)/ tenaga kerja wanita (TKW), kita menjadi klien Malaysia dan Timur Tengah. Melalui teve, kita menjadi klien Amerika, Jepang, Amerika Latin, Taiwan, dan India. Melalui utang, kita menjadi klien IMF, Bank Dunia, ADB, CGI, dan IDB.

Presiden 2004-2009 harus dapat mengubah bangsa klien menjadi bangsa mandiri. Sementara itu, mentalitas kita pun juga harus berubah. Pada tahun 1945, kita sudah berubah dari bangsa terjajah menjadi bangsa mandiri. Kemudian kita terpuruk menjadi bangsa klien. Kalau salah urus, dari bangsa klien kita bisa jadi bangsa kuli, dari bangsa kuli menjadi "gelandangan di rumah sendiri"-istilah Emha Ainun Nadjib.

Bangsa klien

Ada kesamaan dan perbedaan antara bangsa terjajah dan bangsa klien. Kesamaannya, keduanya punya ketergan- tungan; satu pada penjajah, satunya lagi pada patron. Perbedaannya, ambillah sampel Surakarta awal abad ke-20 untuk bangsa jajahan dan Indonesia awal abad ke-21 untuk bangsa klien. Akan terlihat ada dua perbedaan, yaitu konkret atau abstraknya permasalahan yang dihadapi dan kesatuan motif masing-masing.

Pertama, bangsa terjajah menghadapi penjajahnya secara konkret. Demikianlah, pada awal abad ke-20, orang Solo bisa melihat meneer dan mevrouw dengan mata kepala di Societeit Harmonie, dan tuan dan nyonya Belanda naik trem yang melintas jantung kota di depan paheman Radyo Poestoko. Akan tetapi, pada awal abad ke-21 ini bangsa klien hanya tahu secara abstrak bahwa ada kapitalisme Amerika. Orang bisa mengebom Kedutaan Amerika, restoran cepat saji KFC dan McDonald’s, tetapi tidak bisa mengebom kapitalisme Amerika. Orang bisa mendemo pertemuan IMF, tetapi tak bisa mendemo institusi IMF. Negara-negara tujuan TKI/TKW sepertinya abstrak. Kita bisa mencaci maki majikan TKI/TKW di Malaysia, di Arab Saudi, dan di Timur Tengah, tetapi tak bisa menggugat negara-negara berdaulat itu.

Kedua, keduanya mempunyai kesatuan motif sendiri-sendiri. Elite dan massa bangsa jajahan awal abad ke-20 mempunyai kesatuan motifnya sendiri, demikian pula bangsa klien pada awal abad ke-21 ini. Michel Foucault menyebut kesatuan motif itu dengan unities of discourse-kesatuan wacana, artinya di permukaan sejarah ada kesatuan motif yang menghubungkan unit-unit pengetahuan. Elite dan massa bangsa jajahan pada awal abad ke-20 mempunyai kesatuan wacana penghubung sistem pengetahuan mereka, yaitu kemajuan.

Dengan merujuk pada kemajuan, dalam ilmu pengetahuan Padmosusastro dari Solo, pemimpin majalah Sasadara, mengganti takhayul tentang raksasa yang memakan bulan dengan ilmu kodrat tentang kedudukan Bulan, Matahari, dan Bumi. Atas nama kemajuan, priayi di Kasunanan Solo mendirikan perkumpulan Abipraya. Atas nama kemajuan, perkumpulan proto-nasionalis Budi Utomo berdiri pada tahun 1908. Atas nama kemajuan, dalam agama, Muhammadiyah berdiri pada tahun 1912. Karena kemajuanlah orang Jawa di Surakarta mencukur rambut yang semula digelung dan orang China memotong kucir (taucang).

Adapun pada awal abad ke-21, sekarang ini sebagai bangsa klien secara diam-diam juga punya semacam unities of discourse, yaitu kemakmuran. Elite dan massa bangsa klien mengidamkan kemakmuran. PTN BHMN dan PTS terkenal menarik bayaran mahal karena lulusannya dapat mendatangkan kemakmuran. Akademi komputer, sekretaris, dan manajemen laku keras. Juga LPK (lembaga pendidikan kejuruan) dan LPTK (lembaga pendidikan tenaga kerja) banyak didirikan karena mereka bisa mendatangkan kemakmuran bagi pengelola dan peserta. Dengan alasan kemakmuran, di masa depan orang memasukkan anaknya ke fakultas-fakultas kedokteran, ekonomi, teknik, dan informatika.

Mentalitas

Di sini ini akan dikemukakan empat mentalitas bangsa klien, yaitu kompleks inferioritas, sindrom selebriti, mistifikasi, dan xenomani.

1. Kompleks inferioritas. Sebagai bangsa klien, kita tidak merasa bangga bila belum mengonsumsi barang-barang impor, yang tampaknya buatan luar negeri atau setidaknya barang-barang produk franchise.

Inferioritas itu akan makin terasa-bagi elite-bila kita sempat ke luar, ke negeri-negeri yang menjadi patron. Tidak ada pengemis di Bangkok, Singapura, Kuala Lumpur, Tokyo. Sekolah kita juga tertinggal jauh. Sementara kita masih bergulat dengan iptek, negeri-negeri patron sudah bergerak ke humaniora sebab iptek itu sudah taken for granted bagi negeri luar.

Penelitian Taufiq Ismail (1997) pada SMU di beberapa negeri menunjukkan bahwa wajib baca buku sastra di Indonesia adalah nol, sementara negeri jiran Malaysia enam judul buku dan Amerika Serikat 32 judul buku.

2. Sindrom selebriti. Dalam tayangan teve, kita pun meniru Amerika dengan American Idol, gemerlap bintang dalam hadiah Oscar, Miss America, dan Miss Universe. Hasilnya ialah maraknya tayangan semacam dalam teve kita. Meskipun banyak tayangan yang bermanfaat, ada pula yang menyakitkan hati mengingat banyaknya kemiskinan.

Kita pun senang nonton selebriti. Kita jadi tahu banyak soal selebriti, kekayaan mereka, kawin-cerai, dan gosip. Penyanyi, bintang sinetron, bintang iklan, model, dan foto model jauh lebih kaya ketimbang dosen, pemikir, sastrawan, dan PNS pada umumnya. Semua selebriti serba ceria, semua serba mewah. Kita semua ingin jadi selebriti. Bagi teve sendiri menjual selebriti itu mudah. Ada Kabar-Kabari, ada Cek & Recek, ada Kiss, ada Eko Ngegosip, ada Star7. Sekarang ada jalan untuk jadi selebriti: ada AFI, KDI, Indonesian Idol.

Rumus "selebriti" dan "enteng-entengan" itulah yang dengan baik ditangkap oleh perancang iklan pasangan calon presiden (capres)-calon wakil presiden (cawapres) pada pilpres 5 Juli 2004. Juallah capres dengan nalar selebriti, tidak dengan nalar kenegaraan, nalar rasionalitas, atau nalar hati nurani, pastilah orang akan tertarik. Lalu muncul iklan dan berita capres-cawapres menyanyi di depan massa, fisik capres dipuji-puji di warung kopi. Capres-cawapres ditampilkan sebagai selebriti.

3. Mistifikasi. Mistifikasi artinya menganggap sesuatu sebagai misteri. Kebanyakan mistifikasi dilakukan oleh rakyat di bawah. Kemakmuran itu irasional, tak terpahami. Pengalaman sehari-hari petani ternyata mendukung gagasan itu. Seorang petani tebu TRI yang bekerja selama lebih dari 18 bulan dinyatakan bahwa rendemen tebunya rendah padahal ia masih harus menyewa tanah dan membayar orang untuk mencabuti pokok-pokok tebu. Sementara itu, petani lain sawahnya diserang hama wereng padahal ia sudah mengeluarkan uang untuk membeli pupuk, menyewa pembajak, dan membayar penyiang. Bila rasional, mereka yang terjatuh dapat memakai cara- cara konvensional pula untuk menyiasati kemakmuran. Mereka dapat menjual tanah dan beralih profesi, uang untuk dana pensiun, atau masuk pasar tenaga kerja di kota, bertransmigrasi, para istri jadi TKW, anak perempuan jadi PSK, suami jadi TKI.

Mereka yang berkesimpulan bahwa kemakmuran adalah misteri menghadapi misteri dengan misteri. Tidak usah memasuki pasar, pergilah ke dukun pesugihan, dukun pengganda uang, pelihara tuyul, cari jimat, bertapa, minta restu penunggu gunung, berdoa di tempat keramat, dan banyak perilaku menyimpang lain. Mistifikasi kemakmuran juga terjadi pada pembeli togel, penjudi, koruptor, dan permainan "ketangkasan" meskipun mereka tidak ke dukun.

4. Xenomani. Kegandrungan pada produk asing itu dialami oleh semua tingkat-ini pasangan kompleks inferioritas. Kelas atas berbelanja, berobat, sight seeing, membeli rumah, dan menyekolahkan anak ke Singapura, Jepang, Eropa, dan Australia. Mereka juga berulang tahun satu miliar di hotel Jakarta yang ball-room-nya disulap jadi ball-room hotel mewah di Amerika, pesta manten di Perth, dan sekurang-kurangnya berlibur ke Bali atau Disney Land.

Kelas menengah makan di Pizza Hut, McDonald’s, KFC, sarapan kopi dan sepotong Dunkin’ Donuts. Kelas bawah membeli jeans Levi’s buatan Bandung, sepatu Gucci buatan Magetan, hem-eh-T-Shirt "Man" buatan Tangerang, ayam KenTuku Yogya, handuk berhuruf China, dan makan di restoran Kei Mura. Ketiga kelas bersama-sama suka menonton telenovela Amerika Latin, kartun Jepang, dan film Amerika.

Karena sekarang ini kita menjadi bangsa klien, mentalitas kita telah rusak. Agar supaya mentalitas itu tidak mengganggu kesehatan mental elite dan massa, harus dilakukan perubahan. Perubahan itu ialah dari bangsa klien kembali jadi bangsa yang mandiri.



link (http://www.kompas.com/kompas-cetak/0412/23/opini/1457232.htm)

DWibowo1.
December 23, 2004, 07:24
Gwe jadi inget kmaren baca artikel di Tempo yg tentang staf ahli Menteri BUMN yg org Aussie. Baru jadi pelaksana harian, SK belom keluar, aja udah berani perintah2 deputi menteri buat dateng rapat ngadep dia. Kurang ajar bener tuch bule...bukan siapa2 aja udah berlagak kayak ghitu

Hamlet
December 23, 2004, 13:10
Good article :)

DearJJ
December 23, 2004, 16:43
bagus

sayangnya di artikel tidak disebutkan bagaimana cara menjadi bangsa mandiri. memang sih bisa di balikin aja, kalau suka mistik menjadi tidak suka mistik, kalau sindrom selebriti, menjadi hidup berdasarkan apa adanya/yang riil aja dan nggak usah aneh2 niru2/terhisap sama tingkah laku selebriti. dll.

blueduck
December 23, 2004, 16:52
Mentalitas Bangsa Klien

Oleh Kuntowijoyo

Pertama, bangsa terjajah menghadapi penjajahnya secara konkret. Demikianlah, pada awal abad ke-20, orang Solo bisa melihat meneer dan mevrouw dengan mata kepala di Societeit Harmonie, dan tuan dan nyonya Belanda naik trem yang melintas jantung kota di depan paheman Radyo Poestoko. Akan tetapi, pada awal abad ke-21 ini bangsa klien hanya tahu secara abstrak bahwa ada kapitalisme Amerika. Orang bisa mengebom Kedutaan Amerika, restoran cepat saji KFC dan McDonald’s, tetapi tidak bisa mengebom kapitalisme Amerika. Orang bisa mendemo pertemuan IMF, tetapi tak bisa mendemo institusi IMF. Negara-negara tujuan TKI/TKW sepertinya abstrak. Kita bisa mencaci maki majikan TKI/TKW di Malaysia, di Arab Saudi, dan di Timur Tengah, tetapi tak bisa menggugat negara-negara berdaulat itu.


tanggulangi dengan kemampuan diri sendiri, kepada IMF kita tidak perlu berhutang, punya kemampuan sendiri dong, caranya?
punya teknologi sendiri sehingga uang tidak habis utk teknologi asing.
korupsi tinggalin, jangan kita melihat orang lain, kalo diri kita sendiri juga bobrok dan bisa dibeli.


Mentalitas

Di sini ini akan dikemukakan empat mentalitas bangsa klien, yaitu kompleks inferioritas, sindrom selebriti, mistifikasi, dan xenomani.

1. Kompleks inferioritas. Sebagai bangsa klien, kita tidak merasa bangga bila belum mengonsumsi barang-barang impor, yang tampaknya buatan luar negeri atau setidaknya barang-barang produk franchise.


sekarang di indo tidak liat merk, hanya sebagian kecil aja, itupun masih dipandang sebagai mutu. Produk indo yg masih ada TV, radio, elektronik yg lain diminati, kalo yg lain memang ga ada produk di indo : handphone tidak ada, komputer tidak ada, kendaraan juga tidak ada, pakaian pun hampir tidak ada sekarang


Inferioritas itu akan makin terasa-bagi elite-bila kita sempat ke luar, ke negeri-negeri yang menjadi patron. Tidak ada pengemis di Bangkok, Singapura, Kuala Lumpur, Tokyo. Sekolah kita juga tertinggal jauh. Sementara kita masih bergulat dengan iptek, negeri-negeri patron sudah bergerak ke humaniora sebab iptek itu sudah taken for granted bagi negeri luar.

Penelitian Taufiq Ismail (1997) pada SMU di beberapa negeri menunjukkan bahwa wajib baca buku sastra di Indonesia adalah nol, sementara negeri jiran Malaysia enam judul buku dan Amerika Serikat 32 judul buku.


ya gw setuju iptek dikembangkan, sekarang memang sedang tapi belon bisa banyak, contoh yg sudah ada dg ikut olimpiade sains, matematik dan lain2, dulu juga sempet ada beberapa sekolah yg muridnya berprestasi, dari itb juga sempet ada tapi penemuannya tidak bernilai jual kali?
dan ini yg bobroknya, badan yg dibiayai dg dana yg besar ternyata tidak menghasilkan apa2 (BPPT), banyak pembelian peralatan yg sangat jauh tingkat teklnologinya, sehingga alat tidak dipakai, pegawai ditraining di luar, balik tidak ada kerjaan, isi dan pelaksanaan di badan ini benar2 tidak nyambung dg kepentingan pengusaha dan rakyat, tidak tau teknologi apa aja yg pernah dihasilkan dan berguna, seandainya adapun apa bisa berguna dari segi finasial?
gw ada bukti ttg hal ini, cuma agak tidak etis ditulisnya


2. Sindrom selebriti. Dalam tayangan teve, kita pun meniru Amerika dengan American Idol, gemerlap bintang dalam hadiah Oscar, Miss America, dan Miss Universe. Hasilnya ialah maraknya tayangan semacam dalam teve kita. Meskipun banyak tayangan yang bermanfaat, ada pula yang menyakitkan hati mengingat banyaknya kemiskinan.

Kita pun senang nonton selebriti. Kita jadi tahu banyak soal selebriti, kekayaan mereka, kawin-cerai, dan gosip. Penyanyi, bintang sinetron, bintang iklan, model, dan foto model jauh lebih kaya ketimbang dosen, pemikir, sastrawan, dan PNS pada umumnya. Semua selebriti serba ceria, semua serba mewah. Kita semua ingin jadi selebriti. Bagi teve sendiri menjual selebriti itu mudah. Ada Kabar-Kabari, ada Cek & Recek, ada Kiss, ada Eko Ngegosip, ada Star7. Sekarang ada jalan untuk jadi selebriti: ada AFI, KDI, Indonesian Idol.

Rumus "selebriti" dan "enteng-entengan" itulah yang dengan baik ditangkap oleh perancang iklan pasangan calon presiden (capres)-calon wakil presiden (cawapres) pada pilpres 5 Juli 2004. Juallah capres dengan nalar selebriti, tidak dengan nalar kenegaraan, nalar rasionalitas, atau nalar hati nurani, pastilah orang akan tertarik. Lalu muncul iklan dan berita capres-cawapres menyanyi di depan massa, fisik capres dipuji-puji di warung kopi. Capres-cawapres ditampilkan sebagai selebriti.


makanya sby juga harus mengkritik isi tayangan, sehingga moral tidak rusak
gw ga usulin juga pemerintah ngatur tayangan, tapi liat dan kontrol apa semua penonton bisa milih2 mana tontonan yg baik ato tidak


3. Mistifikasi. Mistifikasi artinya menganggap sesuatu sebagai misteri. Kebanyakan mistifikasi dilakukan oleh rakyat di bawah. Kemakmuran itu irasional, tak terpahami. Pengalaman sehari-hari petani ternyata mendukung gagasan itu. Seorang petani tebu TRI yang bekerja selama lebih dari 18 bulan dinyatakan bahwa rendemen tebunya rendah padahal ia masih harus menyewa tanah dan membayar orang untuk mencabuti pokok-pokok tebu. Sementara itu, petani lain sawahnya diserang hama wereng padahal ia sudah mengeluarkan uang untuk membeli pupuk, menyewa pembajak, dan membayar penyiang. Bila rasional, mereka yang terjatuh dapat memakai cara- cara konvensional pula untuk menyiasati kemakmuran. Mereka dapat menjual tanah dan beralih profesi, uang untuk dana pensiun, atau masuk pasar tenaga kerja di kota, bertransmigrasi, para istri jadi TKW, anak perempuan jadi PSK, suami jadi TKI.

Mereka yang berkesimpulan bahwa kemakmuran adalah misteri menghadapi misteri dengan misteri. Tidak usah memasuki pasar, pergilah ke dukun pesugihan, dukun pengganda uang, pelihara tuyul, cari jimat, bertapa, minta restu penunggu gunung, berdoa di tempat keramat, dan banyak perilaku menyimpang lain. Mistifikasi kemakmuran juga terjadi pada pembeli togel, penjudi, koruptor, dan permainan "ketangkasan" meskipun mereka tidak ke dukun.


teknologi belon masuk ke desa, seandainya sudahpun terputus, contohnya : bibit2 pertanian belon banyak dikembangkan, yg banyak sekarang malah bibit dari luar (perlu biaya tambahan lagi), kerja sama dg ipb sudah ada mudah2an berhasil.
dari semua itu, kalangan pengusaha lebih banyak berperan, pemerintah masih nol besar.



4. Xenomani. Kegandrungan pada produk asing itu dialami oleh semua tingkat-ini pasangan kompleks inferioritas. Kelas atas berbelanja, berobat, sight seeing, membeli rumah, dan menyekolahkan anak ke Singapura, Jepang, Eropa, dan Australia. Mereka juga berulang tahun satu miliar di hotel Jakarta yang ball-room-nya disulap jadi ball-room hotel mewah di Amerika, pesta manten di Perth, dan sekurang-kurangnya berlibur ke Bali atau Disney Land.

Kelas menengah makan di Pizza Hut, McDonald’s, KFC, sarapan kopi dan sepotong Dunkin’ Donuts. Kelas bawah membeli jeans Levi’s buatan Bandung, sepatu Gucci buatan Magetan, hem-eh-T-Shirt "Man" buatan Tangerang, ayam KenTuku Yogya, handuk berhuruf China, dan makan di restoran Kei Mura. Ketiga kelas bersama-sama suka menonton telenovela Amerika Latin, kartun Jepang, dan film Amerika.

Karena sekarang ini kita menjadi bangsa klien, mentalitas kita telah rusak. Agar supaya mentalitas itu tidak mengganggu kesehatan mental elite dan massa, harus dilakukan perubahan. Perubahan itu ialah dari bangsa klien kembali jadi bangsa yang mandiri.


mulailah dg pemerintah dan pemimpin2nya dulu, jangan malah mereka dulu yg lomba2 punya apartemen mewah, nginep di hotel mewah, studi banding keluar (DPR dan KPU benar2 memuakkan) dll.

DWibowo1.
December 23, 2004, 17:21
Lha ghimana rakyatnya ndak ikut2-an mas Blueduck kalo pemerintahnya aja malah milih barang bikinan asing. Liat aja kalo ada sidang Menteri apa DPR ghitu, mic kecil yg didepannya itu merk Philips khan? Memangnya Maspion ghitu ndak bisa toch bikin mic? TNI ghitu malah pilih beli senapan AK daripada pake SS-1nya PINDAD. Helikopter (TNI dan Puteh) malah beli bikinan Russia, padahal PT DI udah punya lisensi untuk ngerakit Helikopter Super Puma.
KRL juga kemaren malah PERUMKA pilih beli bekas dari Jepang ketimbang beli baru buatan INKA. Padahal yg bikinan Jepang itu udah tua banget ghitu bentuknya gwe liat di kaskus. Berapa tuch nanti biaya restorasinya.

Blueduck, yg BPPT itu ditulis aja. Ndak apa2 kalo toch memang benar adanya.

blueduck
December 23, 2004, 18:01
iya gw setuju ama ACham, memang banyak produk2 seperti itu dipake dikalangan pemerintah sendiri.
barang2 asing dibeli biasanya karena sifatnya bantuan ato utang, dg syarat memakai barang produksi negara pengutang, hal2 seperti ini harus dihilangkan, karena indo tuh rugi 2 kali, udah utang, barang yg dipakai barang negara lain, belon masalah bengkak biaya pengadaan juga.

mengenai BPPT, gw sendiri pernah liat BPPT kayak apa, tapi ya udah tau lah yg umum bocor2nya, dan 'waste' nya kayak apa badan itu.

pabrik pesawat juga kurang lebih banyak bocor, 'atas' dan 'bawah', shg produksi mahal, dan susah jual.

PINDAD dananya minim, gw rasa shg ga berkembang

Nelson
December 23, 2004, 20:51
mana ada negara yang mandiri dalam semua hal. amerika saja yang negara terkaya dan termaju di dunia tergantung dengan hutang luar negeri senilai 2 triliun dolar. barang2 retail hampir semuanya diimpor dari cina, india atau latin amerika. mobil2 jepang dan impor lainnya semakin banyak dan mengalahkan bikinan dalam negeri.

sejarah menunjukkan kalau negara2 yang mengadopsi polis mandiri atau import substitution policy akhirnya menjadi tidak effisien dan ketinggalan dalam hal teknologi maupun kualitas kehidupan. cina di abad 19, jepang sebelum reformasi meiji, india, korea utara, dll. sebaliknya sejarah menunjukkan kalau orientasi negara adalah menuju perdagangan bebas mereka hampir pasti akan memperluas target pasar dan kualitas kehidupan rakyatnya. inggris, belanda, amerika, singapura, hong kong, jepang dll

contoh konkret adalah kalau indonesia mengangkat larangan impor beras, harga akan turun karena dan lebih banyak orang miskin yang akan tertolong. nggak ada alasan kenapa indonesia harus membuat mic, senapan, helikopter, kereta api atau semua barang dengan sendiri. lebih bagus kalau indonesia berkonsentrasi membuat barang2 dimana mereka lebih kompetitif. zaman sekarang siapa patron dan siapa klien sudah tidak jelas lagi. negara2 maju justru mempunyai hutang terbanyak, mereka malah mengkorbankan industri manufakturing mereka ke negara2 lain. dalam era sekarang hubungan antar negara lebih menuju garis horinzontal

pokerface
December 24, 2004, 01:43
Originally posted by Nelson
dalam era sekarang hubungan antar negara lebih menuju garis horinzontal

banyak yang bilang belum.

salah satunya Joseph Stiglitz dalam buku best sellernya Globalization and Its Discontents.

kalau orang indonesia Kwik Kian Gie

memang secara teoritis perdagangan internasional itu menguntungkan. tapi praktek saat ini belum seperti itu.

pokerface
December 24, 2004, 01:51
Ada cerita dari Pak Kwik yang menarik tentang academic smart dan street smart.

Pada suatu hari ada seorang pengamen jalanan duduk di pinggir sungai bersama dengan seorang Profesor Matematika. Sungai itu kira-kira lebarnya 5 meter. Kemudian si pengamen bertanya “Profesor, butuh berapa lompatan buat seekor katak untuk menyeberangi sungai ini?”

Dengan yakin Profesor menjawab “Lebar sungai ini dibagi dengan berapa jauh rata-rata katak itu bisa melompat dalam setiap lompatan, maka itulah jumlah lompatan yang diperlukan oleh sang katak untuk menyeberang sungai ini”.

Secara logika akademik betul kan?

Lalu dengan enteng si pengamen menjawab “Salah Profesor, katak itu cuman butuh dua kali lompatan yaitu melompat masuk sungai dan melompat keluar sungai. Seumur hidup saya belum pernah melihat katak melompat-lompat di dalam air”

Moral ceritanya adalah bahwa semua hal yang logis dan masuk akal dalam dunia akademis belum tentu benar dalam prakteknya di dunia nyata. Dan Stiglitz serta Kwik adalah orang2 yang memiliki kompetensi tinggi baik di dunia akademik maupun dunia nyata.

DWibowo1.
December 24, 2004, 03:49
Originally posted by Nelson
mana ada negara yang mandiri dalam semua hal. amerika saja yang negara terkaya dan termaju di dunia tergantung dengan hutang luar negeri senilai 2 triliun dolar. barang2 retail hampir semuanya diimpor dari cina, india atau latin amerika. mobil2 jepang dan impor lainnya semakin banyak dan mengalahkan bikinan dalam negeri.

sejarah menunjukkan kalau negara2 yang mengadopsi polis mandiri atau import substitution policy akhirnya menjadi tidak effisien dan ketinggalan dalam hal teknologi maupun kualitas kehidupan. cina di abad 19, jepang sebelum reformasi meiji, india, korea utara, dll. sebaliknya sejarah menunjukkan kalau orientasi negara adalah menuju perdagangan bebas mereka hampir pasti akan memperluas target pasar dan kualitas kehidupan rakyatnya. inggris, belanda, amerika, singapura, hong kong, jepang dll

contoh konkret adalah kalau indonesia mengangkat larangan impor beras, harga akan turun karena dan lebih banyak orang miskin yang akan tertolong. nggak ada alasan kenapa indonesia harus membuat mic, senapan, helikopter, kereta api atau semua barang dengan sendiri. lebih bagus kalau indonesia berkonsentrasi membuat barang2 dimana mereka lebih kompetitif. zaman sekarang siapa patron dan siapa klien sudah tidak jelas lagi. negara2 maju justru mempunyai hutang terbanyak, mereka malah mengkorbankan industri manufakturing mereka ke negara2 lain. dalam era sekarang hubungan antar negara lebih menuju garis horinzontal


Negara2 Amerika Latin membuka pasarnya ngga ada hasilnya tuch.

kalo Indonesia ngga "disarankan" untuk membuat barang sendiri, lantas mau ghimana? Kalo nurutin saran supaya Indonesia selalu untuk stick on yang kompetitif (kompetitif dalam waktu sekarang ini) aja, well terus terang sech Indonesia sampe kiamat juga bakal cuman bisa bergantung pada export SDA doank.

Gwe rasa ngga ada satupun pemerintah di dunia ini yg ga nyupport industri dalam negerinya, no matter ketinggalan barangnya. Liat aja G.W. Bush. Kenapa mobil dinas dia cuman Cadillac DeVille? Kenapa koq dia ga pake Lexus LS 430 or Mercedes Benz S600 yang jelas2 kalo di review majalah2 automotif menempati peringkat teratas? Terus misalnya dia ganti Air Force One yg sekarang, apakah dia nantinya bakal pake pesawat bikinan Airbus? Airbus sekarang udah penguasa pasar terbesar loch. Tapi pasti ga mungkin ada pesawat Airbus berlambang kepresidenan USA.
Polisi2 di US, kenapa mereka ga pake mobil2 Jepang yg lebih bagus and efisien bahan bakar? or mobil Jerman yg performance-nya udah ga diragukan ghitu? Or kenapa Angkatan Udara US pake repot2 mahal2 ngadain tender buat proyek JSF or raptor? Kenapa mereka ga simply beli aja dari Dassault or Sukhoi? Khan lebih murah. Katanya udah ga ada klien dan patron laghi.

DWibowo1.
December 24, 2004, 03:52
Originally posted by Nelson
mana ada negara yang mandiri dalam semua hal. amerika saja yang negara terkaya dan termaju di dunia tergantung dengan hutang luar negeri senilai 2 triliun dolar. barang2 retail hampir semuanya diimpor dari cina, india atau latin amerika. mobil2 jepang dan impor lainnya semakin banyak dan mengalahkan bikinan dalam negeri.

sejarah menunjukkan kalau negara2 yang mengadopsi polis mandiri atau import substitution policy akhirnya menjadi tidak effisien dan ketinggalan dalam hal teknologi maupun kualitas kehidupan. cina di abad 19, jepang sebelum reformasi meiji, india, korea utara, dll. sebaliknya sejarah menunjukkan kalau orientasi negara adalah menuju perdagangan bebas mereka hampir pasti akan memperluas target pasar dan kualitas kehidupan rakyatnya. inggris, belanda, amerika, singapura, hong kong, jepang dll

contoh konkret adalah kalau indonesia mengangkat larangan impor beras, harga akan turun karena dan lebih banyak orang miskin yang akan tertolong. nggak ada alasan kenapa indonesia harus membuat mic, senapan, helikopter, kereta api atau semua barang dengan sendiri. lebih bagus kalau indonesia berkonsentrasi membuat barang2 dimana mereka lebih kompetitif. zaman sekarang siapa patron dan siapa klien sudah tidak jelas lagi. negara2 maju justru mempunyai hutang terbanyak, mereka malah mengkorbankan industri manufakturing mereka ke negara2 lain. dalam era sekarang hubungan antar negara lebih menuju garis horinzontal



Negara2 Amerika Latin membuka pasarnya ngga ada hasilnya tuch. Yang ada tuch mereka cuman dimanfaatin upah buruh murahnya. Hal ini udah pernah terjadi sama negara2 Asia tenggara. Sekarang upah negara Asia Tenggara udah naek, udah ada hak2 buruh, mereka cabut ke Cina. besok kalo upah di Cina naek, hak2 buruh diakui, gwe yakin 100% pasti mereka bakal cari tempat laen kayak Kamboja, Laos or even Africa. Itu tuch yg dibilang meningkatkan kualitas rakyatnya? Rakyat yang mana yg meningkat kemakmurannya? The top 2 %? or the bottom 70%?
kalo Indonesia "disarankan" untuk tidak membuat barang sendiri, lantas mau ghimana? Kalo nurutin saran supaya Indonesia selalu untuk stick on yang kompetitif (kompetitif dalam waktu sekarang ini) aja, well terus terang sech Indonesia sampe kiamat juga bakal cuman bisa bergantung pada export SDA doank.

Gwe rasa ngga ada satupun pemerintah di dunia ini yg ga nyupport industri dalam negerinya, no matter ketinggalan barangnya. Liat aja G.W. Bush. Kenapa mobil dinas dia cuman Cadillac DeVille? Kenapa koq dia ga pake Lexus LS 430 or Mercedes Benz S600 yang jelas2 kalo di review majalah2 automotif menempati peringkat teratas? Terus misalnya dia ganti Air Force One yg sekarang, apakah dia nantinya bakal pake pesawat bikinan Airbus? Airbus sekarang udah penguasa pasar terbesar loch. Tapi pasti ga mungkin ada pesawat Airbus berlambang kepresidenan USA.
Polisi2 di US, kenapa mereka ga pake mobil2 Jepang yg lebih bagus and efisien bahan bakar? or mobil Jerman yg performance-nya udah ga diragukan ghitu? Or kenapa Angkatan Udara US pake repot2 mahal2 ngadain tender buat proyek JSF or raptor? Kenapa mereka ga simply beli aja dari Dassault or Sukhoi? Khan lebih murah. Kenapa juga AMTRAK masih pake kereta2 bikinan General Electric? kenapa koq mereka ga pake kayak kereta yg TGV or Shinkansen Jepang? Khan jauh lebih canggih tuch.
Katanya udah ga ada klien dan patron laghi.

blueduck
December 24, 2004, 06:08
Originally posted by Nelson
mana ada negara yang mandiri dalam semua hal. amerika saja yang negara terkaya dan termaju di dunia tergantung dengan hutang luar negeri senilai 2 triliun dolar. barang2 retail hampir semuanya diimpor dari cina, india atau latin amerika. mobil2 jepang dan impor lainnya semakin banyak dan mengalahkan bikinan dalam negeri.


hutang US dibandingkan dg GDP nya berapa persen? (gw belon dapet data2nya dr inet, kayaknya sih di bawah 100 persen )
tapi hutang indo banding GDP kurang lebih 154 persen

US betul import barang2 dr luuar negrinya, tapi liat teknologinya siapa punya?, GM contohnya : pabriknya di jepang, US sendiri tetap nrima lisensi, ato bagi hasil, jadi industrinya bisa dibilang punya US juga, dan kalo tidak salah sebagian desain mobil jepang dan jerman masih di desain di amerika, dalam hal2 makanan MC'D dll.


sejarah menunjukkan kalau negara2 yang mengadopsi polis mandiri atau import substitution policy akhirnya menjadi tidak effisien dan ketinggalan dalam hal teknologi maupun kualitas kehidupan. cina di abad 19, jepang sebelum reformasi meiji, india, korea utara, dll. sebaliknya sejarah menunjukkan kalau orientasi negara adalah menuju perdagangan bebas mereka hampir pasti akan memperluas target pasar dan kualitas kehidupan rakyatnya. inggris, belanda, amerika, singapura, hong kong, jepang dll


jepang setelah PD 2 bukannya dia mencoba mandiri sendiri, memproduksi barang2 sendiri di tahun 70 banyak sekali barang2 produksi jepang, sampai akhirnya jepang menjadi negara maju.
jepang, inggris, belanda, amerika negara yg punya teknologi :
jepang : elektronik, kendaraan, dll
inggris : pertanian, perternakan mereka maju
belanda : negara kecil aja, maju dibidang konstruksi, berikut peralatan mereka yg canggih

tidak mungkin suatu negara bisa maju kalo tidak ada teknologinya



contoh konkret adalah kalau indonesia mengangkat larangan impor beras, harga akan turun karena dan lebih banyak orang miskin yang akan tertolong. nggak ada alasan kenapa indonesia harus membuat mic, senapan, helikopter, kereta api atau semua barang dengan sendiri. lebih bagus kalau indonesia berkonsentrasi membuat barang2 dimana mereka lebih kompetitif. zaman sekarang siapa patron dan siapa klien sudah tidak jelas lagi. negara2 maju justru mempunyai hutang terbanyak, mereka malah mengkorbankan industri manufakturing mereka ke negara2 lain. dalam era sekarang hubungan antar negara lebih menuju garis horinzontal

sekarang indo lebih pro mana industri ato pertanian, peternakan dll?, masa semua mau dikalahin sama perdagangan dari luar?
Cina masih melindungi industrinya
US juga masih melindungi industrinya (jatuhnya nilai dollar masih ada yg menilai 'kesengajaan' dari pihak US)
utk buat mic ato elektronik , kereta api lainnya knapa? teknologinya udah ada, cuma kesempatannya belon banyak, coba kalo pemerintah juga DPR/MPR kasih contoh yg baik memakai produk indo, knapa engga?
senjata? negara bekas eropa timur banyak yg mencoba mengembangkan ini.

betul indo sebaiknya bisa mengembangkan industri yg kompetitif, tapi apa? kalo tidak dicoba dulu ga bakalan bisa!.
caranya perbaikin dulu mental2 bobroknya.
untuk superpuma : sebagian besar metal2nya import hanya sebagian kecil yg separo jadi, pelat2 import jadi, coba teknologi yg ada dimanfaatkan (metalurgi), jadi pengecoran bisa di indo.
salahnya indo bukan pengolahan dasar bertingkat yg dikuasai tapi langsung teknologi tingkat tinggi.

Nelson
December 24, 2004, 22:58
Originally posted by gimli
banyak yang bilang belum.

salah satunya Joseph Stiglitz dalam buku best sellernya Globalization and Its Discontents.

kalau orang indonesia Kwik Kian Gie

memang secara teoritis perdagangan internasional itu menguntungkan. tapi praktek saat ini belum seperti itu.

hmm sepertinya kalau dilihat malah contoh praktek banyak sekali. kalau dilihat dari sejarah, kebudayaan yang aktif berdagang dengan negara lain tampaknya makmur dan berjaya. dari kekaisaran romawi, britania, belanda sampai ke amerika, korea selatan, jepang, singapura, hong kong, malaysia dan akhirnya cina dan india dimana ratusan juta diangkat dari garis kemiskinan setelah mereka membuka ekonomi mereka

sebaliknya contoh dimana negara yang menutup ekonomi mereka dan ingin mandiri seperti cina di abad 19, jepang sebelum reformasi meiji, india sebelum reformasi 1980an, korea utara, kuba, uni soviet semuanya ketinggalan dan runtuh ekonominya.

Nelson
December 24, 2004, 23:40
Originally posted by anak_chambers

Negara2 Amerika Latin membuka pasarnya ngga ada hasilnya tuch. Yang ada tuch mereka cuman dimanfaatin upah buruh murahnya. Hal ini udah pernah terjadi sama negara2 Asia tenggara. Sekarang upah negara Asia Tenggara udah naek, udah ada hak2 buruh, mereka cabut ke Cina. besok kalo upah di Cina naek, hak2 buruh diakui, gwe yakin 100% pasti mereka bakal cari tempat laen kayak Kamboja, Laos or even Africa. Itu tuch yg dibilang meningkatkan kualitas rakyatnya? Rakyat yang mana yg meningkat kemakmurannya? The top 2 %? or the bottom 70%?


latin amerika? coba lihat sejarah mereka dulu. tahun 1950 argentina, uruguay dan venezuela masih termasuk dalam 20 negara terkaya di dunia tapi kemudian tahun 1949 mereka mengadopsi strategi import substitution industrialization. hasilnya 15 tahun kemudian ekonomi mereka semakin ketinggalan dibandingkan dengan asia timur yang aktif berdagang. dan mereka pun terperangkap dalam krisis minyak tahun 1970an akibat ngotot mempertahankan industri tidak efisien mereka dan akhir terbawa krisis hutang sampai ke tahun 1980an.
tapi coba lihat meksiko setelah ikut serta dalam NAFTA di tahun 1994. ekonomi mereka tumbuh lebih stabil. coba lihat kenapa chili dan panama berhasil dan kenapa standar kehidupan di venezuela malah menurun. argentina dan brazil pun akhir2 ini tumbuh pesar berkat ekspansi ekspor ke cina.

asia tenggara juga tumbuh pesat berkat globalisasi dan strukturasi pekerja global. salah sekali kalau bilang investor2 asing hanya menggunakan upah buruh murah. kalau emang begitu bukannya malaysia, singapura dan thailand seharusnya sudah hancur sekarang? mereka malah mengupgrade aktivitas mereka ke produksi barang2 value added yang lebih tinggi. dalam 30 tahun singapura berubah dari basis manufakturing barang2 elektronik murah ke pusat riset biotechnology dan IT di asia. di cina pun sama saja. VW sudah ada disana sejak 20 tahun lalu tapi mereka malah tetap ekspansi produksi mereka walaupun gaji sudah naik. bedanya disini adalah buruh2 juga meningkatkan produktifitas mereka sehingga gaji yang lebih tinggi bisa diimpasi dengan hasil kerja yang lebih bagus dan cepat.


kalo Indonesia "disarankan" untuk tidak membuat barang sendiri, lantas mau ghimana? Kalo nurutin saran supaya Indonesia selalu untuk stick on yang kompetitif (kompetitif dalam waktu sekarang ini) aja, well terus terang sech Indonesia sampe kiamat juga bakal cuman bisa bergantung pada export SDA doank.

intinya disini adalah indonesia tidak perlu memproduksi semua barang yang dia mau konsumsi. artinya nggak perlu sampai membuat pabrik mic, kereta api, mesin jahit, tv, pesawat, radio, mesin cuci, lampu dll. mereka harus konsentrasi untuk bisa unggul dalam beberapa sektor yang mengimpor barang2 yang negara lain bisa memproduksi dengan lebih effisien. bukan artinya indonesia harus membuat barang yang murah dan rendah tingkat teknologinya. tapi semuanya itu ada langkahnya. jepang sukses dalam industri mobil karena waktu itu yang membuat mobil cuma segelintir negara saja. kalau sekarang indonesia mau ikut2an membuat mobil apa bisa bersaing di pasar yang sudah oversupply? tapi dalam industri biotechnology dan IT indonesia masih bisa bersaing. india adalah contoh baik bagaimana mereka bisa mengeksploitasi industri yang baru.


Gwe rasa ngga ada satupun pemerintah di dunia ini yg ga nyupport industri dalam negerinya, no matter ketinggalan barangnya. Liat aja G.W. Bush. Kenapa mobil dinas dia cuman Cadillac DeVille? Kenapa koq dia ga pake Lexus LS 430 or Mercedes Benz S600 yang jelas2 kalo di review majalah2 automotif menempati peringkat teratas? Terus misalnya dia ganti Air Force One yg sekarang, apakah dia nantinya bakal pake pesawat bikinan Airbus? Airbus sekarang udah penguasa pasar terbesar loch. Tapi pasti ga mungkin ada pesawat Airbus berlambang kepresidenan USA.
Polisi2 di US, kenapa mereka ga pake mobil2 Jepang yg lebih bagus and efisien bahan bakar? or mobil Jerman yg performance-nya udah ga diragukan ghitu? Or kenapa Angkatan Udara US pake repot2 mahal2 ngadain tender buat proyek JSF or raptor? Kenapa mereka ga simply beli aja dari Dassault or Sukhoi? Khan lebih murah. Kenapa juga AMTRAK masih pake kereta2 bikinan General Electric? kenapa koq mereka ga pake kayak kereta yg TGV or Shinkansen Jepang? Khan jauh lebih canggih tuch.
Katanya udah ga ada klien dan patron laghi.
tentu saja masih ada unsur2 proteksi dibeberapa industri yang seharusnya bisa dieleminasikan demi effisiensi. di amerika pun masih ada yang namanya pork-barrel. tapi sistim kapitalis selalu menunjukkan kalau dukungan untuk industri yang lemah pasti akhirnya akan merugikan baik pihak konsumen maupun produsen. misalnya bush ngotot tetap memakai cadillac sedangkan lexus lebih bagus. tentu cadillac tidak mempunyai insentif untuk mengimprove teknologi mereka karena yakin sudah mendapat kontrak dari permerintah. sedangkan lexus tetap mengimprove teknologi mereka. akhirnya orang awam lebih memilih lexus dan cadillac kehilangan pasar konsumen. makanya banyak perusahaan jepang yang didukung seperti itu gagal dan mengakibatkan ekonomi jepang macet.

tapi dari contoh2 diatas banyak yang masuk akal kok. air force one adalah pesawat terbesar yang kebetulan adalah boeing 747. airbus belum mempunyai pesawat yang lebih besar dari itu, paling tidak sebelum A380 diluncurkan. polisi2 memerlukan mobil yang mempunyai tenaga terbesar bukan mesin yang hemat bahan bakar. dan siapa lagi yang lebih hebat membuat mobil2 bertenaga besar? teknologi pesawat tempur amerika adalah yang terbaik dan anggaran militer amerika adalah yang terbesar, kenapa harus membeli pesawat yang murah dan inferior? GE lebih canggih dan maju, malahan mereka punya subsidiaries di eropa dan jepang.

Nelson
December 24, 2004, 23:55
Originally posted by blueduck
hutang US dibandingkan dg GDP nya berapa persen? (gw belon dapet data2nya dr inet, kayaknya sih di bawah 100 persen )
tapi hutang indo banding GDP kurang lebih 154 persen


debt to GDP ration amerika adalah 62.43%, indonesia adalah 70%.
http://www.infid.be/imf_man.htm
hile Indonesia faces a substantial debt burden, we believe that it is manageable. The overall public debt-to-GDP ratio has fallen from over 100 percent of GDP in year 2000, to less than 70 percent at present, divided roughly equally between domestic and external debt.



US betul import barang2 dr luuar negrinya, tapi liat teknologinya siapa punya?, GM contohnya : pabriknya di jepang, US sendiri tetap nrima lisensi, ato bagi hasil, jadi industrinya bisa dibilang punya US juga, dan kalo tidak salah sebagian desain mobil jepang dan jerman masih di desain di amerika, dalam hal2 makanan MC'D dll.

sama halnya banyak perusahaan amerika dimiliki oleh investor asing. itulah globalisasi.


jepang setelah PD 2 bukannya dia mencoba mandiri sendiri, memproduksi barang2 sendiri di tahun 70 banyak sekali barang2 produksi jepang, sampai akhirnya jepang menjadi negara maju.
jepang, inggris, belanda, amerika negara yg punya teknologi :
jepang : elektronik, kendaraan, dll
inggris : pertanian, perternakan mereka maju
belanda : negara kecil aja, maju dibidang konstruksi, berikut peralatan mereka yg canggih

tidak mungkin suatu negara bisa maju kalo tidak ada teknologinya


memang benar makanya indonesia harus konsentrasi menggunakan uang riset di beberapa sektor saja. mana mungkin bisa membangun semua industri dengan sendiri. beberapa harus diimpor dan beberapa harus dikembangkan sendiri.


sekarang indo lebih pro mana industri ato pertanian, peternakan dll?, masa semua mau dikalahin sama perdagangan dari luar?
Cina masih melindungi industrinya
US juga masih melindungi industrinya (jatuhnya nilai dollar masih ada yg menilai 'kesengajaan' dari pihak US)
utk buat mic ato elektronik , kereta api lainnya knapa? teknologinya udah ada, cuma kesempatannya belon banyak, coba kalo pemerintah juga DPR/MPR kasih contoh yg baik memakai produk indo, knapa engga?
senjata? negara bekas eropa timur banyak yg mencoba mengembangkan ini.

coba lihat lagi, malahan rata2 tarif di cina sudah turun sejak 10 tahun lalu sampai sekarang setelah menjadi anggota WTO. cina sekarang sudah meningkatkan impornya dan menjadi mesin ekonomi global terutama diasia. makanya korea dan jepang bisa bangkit kembali. mereka mengimpor barang2 yang mereka nggak kompetitif dan berkonsentrasi di industri2 yang mereka handal seperti tekstil, elektronik, dll.


betul indo sebaiknya bisa mengembangkan industri yg kompetitif, tapi apa? kalo tidak dicoba dulu ga bakalan bisa!.
caranya perbaikin dulu mental2 bobroknya.
untuk superpuma : sebagian besar metal2nya import hanya sebagian kecil yg separo jadi, pelat2 import jadi, coba teknologi yg ada dimanfaatkan (metalurgi), jadi pengecoran bisa di indo.
salahnya indo bukan pengolahan dasar bertingkat yg dikuasai tapi langsung teknologi tingkat tinggi.
itu salah satu contoh bagus. karena indonesia kaya sumber daya alam, sudah sepantasnya kalau mereka ahli dalam memproses juga. banyak sekali sektor yang indonesia bisa konsentrasi. turisme, manufakturing barang2 industri ringan, perkapalan, pesawat kecil, dll.

Nelson
December 24, 2004, 23:56
Originally posted by blueduck
hutang US dibandingkan dg GDP nya berapa persen? (gw belon dapet data2nya dr inet, kayaknya sih di bawah 100 persen )
tapi hutang indo banding GDP kurang lebih 154 persen


debt to GDP ration amerika adalah 62.43%, indonesia adalah 70%.
http://www.infid.be/imf_man.htm
http://www.economist.com/countries/USA/profile.cfm?folder=Profile-Economic%20Data
while Indonesia faces a substantial debt burden, we believe that it is manageable. The overall public debt-to-GDP ratio has fallen from over 100 percent of GDP in year 2000, to less than 70 percent at present, divided roughly equally between domestic and external debt.



US betul import barang2 dr luuar negrinya, tapi liat teknologinya siapa punya?, GM contohnya : pabriknya di jepang, US sendiri tetap nrima lisensi, ato bagi hasil, jadi industrinya bisa dibilang punya US juga, dan kalo tidak salah sebagian desain mobil jepang dan jerman masih di desain di amerika, dalam hal2 makanan MC'D dll.

sama halnya banyak perusahaan amerika dimiliki oleh investor asing. itulah globalisasi.


jepang setelah PD 2 bukannya dia mencoba mandiri sendiri, memproduksi barang2 sendiri di tahun 70 banyak sekali barang2 produksi jepang, sampai akhirnya jepang menjadi negara maju.
jepang, inggris, belanda, amerika negara yg punya teknologi :
jepang : elektronik, kendaraan, dll
inggris : pertanian, perternakan mereka maju
belanda : negara kecil aja, maju dibidang konstruksi, berikut peralatan mereka yg canggih

tidak mungkin suatu negara bisa maju kalo tidak ada teknologinya


memang benar makanya indonesia harus konsentrasi menggunakan uang riset di beberapa sektor saja. mana mungkin bisa membangun semua industri dengan sendiri. beberapa harus diimpor dan beberapa harus dikembangkan sendiri.


sekarang indo lebih pro mana industri ato pertanian, peternakan dll?, masa semua mau dikalahin sama perdagangan dari luar?
Cina masih melindungi industrinya
US juga masih melindungi industrinya (jatuhnya nilai dollar masih ada yg menilai 'kesengajaan' dari pihak US)
utk buat mic ato elektronik , kereta api lainnya knapa? teknologinya udah ada, cuma kesempatannya belon banyak, coba kalo pemerintah juga DPR/MPR kasih contoh yg baik memakai produk indo, knapa engga?
senjata? negara bekas eropa timur banyak yg mencoba mengembangkan ini.

coba lihat lagi, malahan rata2 tarif di cina sudah turun sejak 10 tahun lalu sampai sekarang setelah menjadi anggota WTO. cina sekarang sudah meningkatkan impornya dan menjadi mesin ekonomi global terutama diasia. makanya korea dan jepang bisa bangkit kembali. mereka mengimpor barang2 yang mereka nggak kompetitif dan berkonsentrasi di industri2 yang mereka handal seperti tekstil, elektronik, dll.


betul indo sebaiknya bisa mengembangkan industri yg kompetitif, tapi apa? kalo tidak dicoba dulu ga bakalan bisa!.
caranya perbaikin dulu mental2 bobroknya.
untuk superpuma : sebagian besar metal2nya import hanya sebagian kecil yg separo jadi, pelat2 import jadi, coba teknologi yg ada dimanfaatkan (metalurgi), jadi pengecoran bisa di indo.
salahnya indo bukan pengolahan dasar bertingkat yg dikuasai tapi langsung teknologi tingkat tinggi.
itu salah satu contoh bagus. karena indonesia kaya sumber daya alam, sudah sepantasnya kalau mereka ahli dalam memproses juga. banyak sekali sektor yang indonesia bisa konsentrasi. turisme, manufakturing barang2 industri ringan, perkapalan, pesawat kecil, dll.

blueduck
December 25, 2004, 17:00
Originally posted by Nelson
debt to GDP ration amerika adalah 62.43%, indonesia adalah 70%.
http://www.infid.be/imf_man.htm
http://www.economist.com/countries/USA/profile.cfm?folder=Profile-Economic%20Data
while Indonesia faces a substantial debt burden, we believe that it is manageable. The overall public debt-to-GDP ratio has fallen from over 100 percent of GDP in year 2000, to less than 70 percent at present, divided roughly equally between domestic and external debt.


tapi data2 di atas bener,
tulisan jakpos, menyangkut hanya hutang pemerintah aja (USD 70 miliar + 300 Triliun), sedang kan yg swasta USD 63 miliar tidak disebut, data yg gw pake memang data tahun 2001, karena menurut gw tidak banyak perubahan dari th 2001 s/d sekarang.
jadi total debt itu kurang lebih 130 persen dibanding GDP indo (mungkin perubahan karena kurs)

sedang data yg economic, itu disebut public debt (pengertian gw sih non goverment), ga tau bener engga?



sama halnya banyak perusahaan amerika dimiliki oleh investor asing. itulah globalisasi.

memang benar makanya indonesia harus konsentrasi menggunakan uang riset di beberapa sektor saja. mana mungkin bisa membangun semua industri dengan sendiri. beberapa harus diimpor dan beberapa harus dikembangkan sendiri.


iya gw setuju memang industri itu harus kompetitif, tapi harus jelas maunya (sby waktu kampanye pernah berjanji industri tertentu akan diperdalam dari hulu s/d hilir)


coba lihat lagi, malahan rata2 tarif di cina sudah turun sejak 10 tahun lalu sampai sekarang setelah menjadi anggota WTO. cina sekarang sudah meningkatkan impornya dan menjadi mesin ekonomi global terutama diasia. makanya korea dan jepang bisa bangkit kembali. mereka mengimpor barang2 yang mereka nggak kompetitif dan berkonsentrasi di industri2 yang mereka handal seperti tekstil, elektronik, dll.


iya betul cina banyak import, tapi sebagian dg tujuan melindungi sumber daya alamnya, dan mereka mengembangkan teknologi sendiri (tidak seperti indo, yg biasa nya disebut industri "tempel/ tukang jahit")
contoh :
cina import, bahan2 utk industri, seperti batu apung, batu bara, sifatnya utk pengolahan, sedangkan indo tekstil, masih banyak yg setengah jadi, bahan2 sintetis masih import, di sini tinggal cap, dan potong, mesin2 nya di indo juga impor, mungkin impor buatan cina juga
cina sudah bisa membuat mesinnya sendiri juga

kayu, cina import mentah dari indo, dijual dg harga yg lebih murah dari pada produk indo (bukan karena biaya tenaga murah di cina, tetapi birokrasi indo "besar", juga indo harus impor mesin2 dari luar, cina sudah bisa membuat mesin sendiri)
dll.
elektronik juga, mesin gulungan travo pun masih impor

jadi cina memang industri saling mendukung, sungguhpun lisensi dari luar utk mesin2, tapi langsung bisa dipakai utk industrinya sendiri


itu salah satu contoh bagus. karena indonesia kaya sumber daya alam, sudah sepantasnya kalau mereka ahli dalam memproses juga. banyak sekali sektor yang indonesia bisa konsentrasi. turisme, manufakturing barang2 industri ringan, perkapalan, pesawat kecil, dll.
iya gw setuju asal saling mendukung pasti berhasil, contoh BPPT bisa kerja sama dg krakatau steel utk pembuatan pelat2 besi ato baja utk industri dan langsung diolah menjadi barang siap pakai, jangan nanti pemerintah dan pihak industri main mata, bahan baku industri baru ato bekas diekspor dan diolah diluar baru masuk lagi.
besi KS tuh kualitasnya bagus (non pelat), besi2 pabrik lokal yg lain juga menyaingi, tapi koq hanya dipakai sebagian utk keperluan konstruksi aja, coba naikin kualitas utk dipakai mesin, ato pesawat dll

DWibowo1.
December 26, 2004, 21:16
latin amerika? coba lihat sejarah mereka dulu. tahun 1950 argentina, uruguay dan venezuela masih termasuk dalam 20 negara terkaya di dunia tapi kemudian tahun 1949 mereka mengadopsi strategi import substitution industrialization. hasilnya 15 tahun kemudian ekonomi mereka semakin ketinggalan dibandingkan dengan asia timur yang aktif berdagang. dan mereka pun terperangkap dalam krisis minyak tahun 1970an akibat ngotot mempertahankan industri tidak efisien mereka dan akhir terbawa krisis hutang sampai ke tahun 1980an.
Waktu tahun 1950-an itu kondisi dunia seperti apa sich? Waktu itu sebagian negara2 Asia baru aja lepas dari penjajahan, sebagian masih dijajah. Africa masih sebagian besar dijajah. Negara2 Eropa hancur akibat perang. Praktis cuman Latin America aja yang terisolasi dari perang. Dan kalau contoh yang diberikan adalah pada tahun 1950, justru pada saat itulah negara2 Amerika Latin sedang dalam masa2 puncak nasionalisme ekonomi-nya seperti di Argentina, Mexico, Brazil.
Tahu kenapa negara2 Latin America pada awal abad 20-an melakukan nationalization besar-besaran? Kalo loe mengerti apa yang terjadi pada periode "economic booming" atau sering disebut "progress" di Latin America yang dimulai pada pertengahan abad 19, gwe rasa ga aneh kalo nationalization itu dilakukan. Benar saat itu memang negara2 Latin America membuka pasarnya lebar2, export meingkat tajam. Tapi siapa yang menikmati itu semua? Immigrant dari Eropa (terutama Italia dan Spanyol) yang dateng ke Latin America dan sangat berperan dalam booming itu dapet apa? banyak dari mereka ini yang pulang laghi ke negara asalnya, dan bukan karena mereka ini ngga punya keterampilan tapi karena kesenjangan ekonomi yang makin melebar. Biarpun Latin America menikmati booming economy selama 80 tahun lebih, justru orang2 miskin semakin banyak (buruh dan pekerja di pertanian). Pabrik2 asing hanya memanfaatkan pasar dalam negeri Latin America dan ngga pernah ada rencana untuk membuat industri Latin America bisa lebih maju karena mesin2 yang didatangkan adalah mesin2 yang sudah outdated. Tanah2 di sana yang semula dimiliki oleh penduduk Indian semakin lama jadi milik cabildos yang jadi semakin kaya. Banyak orang2 yang tadinya punya tanah malah kemudian jadi buruh perkebunan. Sebagai catatan, 1/3 tanah di Mexico saat itu dikuasai oleh 3 keluarga. Investor2 minyak dari US berdatangan, tapi mereka ini bahkan ngga menganggap putusan pengadilan Mexico yg memenangkan para pekerja untuk mendapat kenaikan gaji. Makanya ga heran kalo banyak industri2 itu akhirnya dinasionalisasi karena sama sekali ngga membawa manfaat untuk negara2 Latin America. Untuk para pekerja, kesejahteraan mereka jadi lebih bagus setelah industri2 itu jadi milik pemerintah. Makanya ga heran kalo tokoh2 seperti Getulio Vargas, Juan Peron, or Lazaro Cardenas sampe sekarang pun masih dicintai.


tapi dari contoh2 diatas banyak yang masuk akal kok. air force one adalah pesawat terbesar yang kebetulan adalah boeing 747. airbus belum mempunyai pesawat yang lebih besar dari itu, paling tidak sebelum A380 diluncurkan.

and pertanyaan gwe di postingan gwe yang sebelumnya bukan kenapa 747 yang dipake, tapi apakah mungkin kalo Air Force One berikutnya adalah sebuah pesawat Airbus? Mungkinkah kita bisa lihat pesawat Airbus berlambangkan kepresidenan USA?

polisi2 memerlukan mobil yang mempunyai tenaga terbesar bukan mesin yang hemat bahan bakar. dan siapa lagi yang lebih hebat membuat mobil2 bertenaga besar?

Ini gwe kasi data perbandingan spesifikasi mobil2 police di US (at least NYPD) yaitu Crown Vic and Impala dibanding mobil 4 pintu yg dipake polisi Jepang (Infiniti G35 and Subaru Impreza):

klik (http://autos.yahoo.com/newcars/comparison/results.html;_ylt=Ag_YCUVzUkWUu.g7OmGqPPcOc78F?pag etitle=overview&search_type=all&make=subaru&model=3960%3Asubaru_impreza_2005&trim=15014&carid0=14947&carid1=15194&carid2=16588)

Mesin besar? benar. Boros BBM? benar. Bodi bongsor dan handling yg buruk? benar. Tenaga besar? oops... I think we should give credits to the Japanese :hehe
Itu aja gwe belom masukin mobil2 Polisi Jerman yg pake BMW M5 or Mercedes yg udah dirombak oleh AMG :haha

teknologi pesawat tempur amerika adalah yang terbaik dan anggaran militer amerika adalah yang terbesar, kenapa harus membeli pesawat yang murah dan inferior?
inferior? :haha
Pernah baca tentang latihan dogfight antara Luftwaffe dengan USAF? I bet belum. MiG-29 Luftwaffe "membabat" semua F-16 USAF dalam latihan itu.
Juga pernah baca antara latihan dogfight Su-27 AU India melawan F-15 USAF? F-15 USAF juga "rontok" semua oleh pilot2 India.
Dan tercanggih? :hehe JSF itu ga lebih dari sekedar F-16 yang dipermak tampangnya aja. Gwe yakin Sukhoi yang baru dibeli Indonesia punya kemampuan manuver lebih hebat :p Si Darkstar kemarin baru kasi tau gwe kalo ada F-22 raptor yang jatuh dalam uji coba, padahal katanya raptor udah bakal disupply dalam waktu dekat ini :p

GE lebih canggih dan maju, malahan mereka punya subsidiaries di eropa dan jepang.

GE lebih canggih dan maju? :p setau gwe kereta maglev yg dipake di Shanghai itu dikembangkan oleh perusahaan Jerman :p udah pernah liat kereta GE terbaru yang dipake AMTRAK? :p Cobalah bandingkan dengan kereta supercepat di Perancis, Jerman , dan Jepang :p


Dari sini aja udah keliatan bahwa meskipun produk2 US ga sehebat apa yang dibilang si Nelson, tapi tokh nyatanya pemerintah US tetep pake juga. Nach dari sini timbul pertanyaan. Kalo pemerintah US aja yang paling sering teriak2 supaya negara lain membuka pasarnya and paling aktif memelopori perdagangan bebas masih memilih produknya sendiri, kenapa Indonesia yang industrinya perlu dilindungi ngga boleh melakukan langkah serupa?

Laghian Indonesia sudah ada teknologinya, seperti kapal, pesawat, senjata, kereta api, electronic, dsb. Akan sia2 kalo ini ngga dimanfaatkan. Gwe setuju dengan usul BlueDuck supaya industri2 yang ada itu lebih dikembangkan dari sekedar "tukang jahit" aja seperti halnya PT DI. Tapi bagaimana mereka bisa ngembangin kalo ide agar pemerintah memakai produk dalam negeri aja udah ditentang dengan alasan pasar bebas?

terryan
December 27, 2004, 00:41
Sekali lagi I feel like I have to sided w/ Nelson... :D
Biarpun gw ancungin dua jempol buat knowledge ancham, tp I think you missed the point that Nelson was trying to make. What he was saying was, we don't have to try to be good in everything, just focus on several things and be the best on those. I'm a simple woman, and I rely on my common sense. Nelson's argument suits my common sense more ;)

DWibowo1.
December 27, 2004, 01:08
Sebenarnya apa yang udah gwe kasi sebagai contoh itu kalau Indonesia mau mengembangkan bisa dapet manfaat besar loch. Dan itu kita udah punya, bukan bikin baru. Semuanya kita udah punya dari jaman 70-an dan 80-an, cuman kita malah pilih buatan luar aja. Coba kalo kita liat dalam hal ini dimana gwe nyebut tentang industri pesawat, kereta, dan senjata yang kita miliki. Ketiga industri yg udah kita miliki ini punya potensi besar sekali kalo dikembangkan. Ambil contoh pesawat misalnya. Orang taunya pesawat Indonesia cuman di-barter sama ketan dari Thailand dan taxi proton dari Malaysia. Padahal ga banyak yang tau kalo pesawat bikinannya DI (or waktu masih IPTN dulu) banyak diexport ke negara2 laen macam: KorSel, Pakistan, Yordania, Filipina juga denger2 punya CN-235 yg versi MAP. Lalu Libya juga waktu anaknya Khadafi kesini kemaren udah sempat lihat2 mau beli. Ini kalo misalnya dikembangkan pasarnya masih luas sekali. Untuk di dalam negeri aja masih banyak butuh pesawat2 kecil untuk daerah Indonesia Timur misalnya. Bisa juga kita coba tawarin pesawat CN235 untuk airlines di negara2 macam Filipina, Vietnam, Myanmar, or Sri Lanka misalnya yang butuh pesawat tapi ga mampu beli pesawat jet. nach kalo kita bisa jual lebih murah daripada Embraer dan bisa meyakinkan mereka akan kualitas pesawat bikinan kita, ini khan sangat menguntungkan.
Or Kereta Api misalnya. Kita bisa tawarin gerbong bikinan INKA ke negara2 ASEAN misalnya. Senjata juga. Senjata SS-1 buatan PINDAD itu selain dipakai oleh TNI juga dipakai oleh Angkatan Bersenjata Myanmar. Bayangin aja kalo kita bisa membujuk Myanmar untuk menjadi konsumen tetap. Lalu bisa juga tawarin ke Kamboja, Laos, Timor Leste dsb.

Tentu aja untuk semua itu mereka perlu dana untuk pengembangan dan Pemerintah dalam hal ini, selaku pemilik industri tsb, akan jauh lebih bijak kalo sedapat mungkin memakai barang buatan mereka. Menurut gwe, mereka ini perlu diproteksi sampai bener2 mapan. Nach kalo sekarang, pemerintah aja malah pilih beli kereta bekas yang udah tua. Mana itu efisiennya? Yang ada malah biaya perawatan besar, belum biaya restorasinya segala macem. Kita juga ga dapet apa2. PT INKA juga ga dapet pemasukan, lama2 bisa bangkrut juga. Terus Indonesia dapet apa kalo udah ghitu? Industri yang semula berpotensi besar malah dibiarkan runtuh demi alasan perdagangan bebas dsb. Malah jadinya kita tambah makin ngga punya modal apa2 untuk menghadapi perdagangan bebas kalo sudah beghitu. Mumpung masih jauh di 2020, kita masih punya cukup waktu untuk mengembangkan industri2 yg diatas tadhi sebelum kita ngga mampu untuk melindunginya laghi.

Well, that's pretty much my point. Tapi ada sich orang yg bilang Indonesia ngga perlu bikin kereta api, senjata, pesawat ghitu. Padahal itu industri berprospek bagus. Ga tau dia punya ide apaan tuch. Export panci kali.

pokerface
December 27, 2004, 01:56
Originally posted by terryan
Sekali lagi I feel like I have to sided w/ Nelson... :D
Biarpun gw ancungin dua jempol buat knowledge ancham, tp I think you missed the point that Nelson was trying to make. What he was saying was, we don't have to try to be good in everything, just focus on several things and be the best on those. I'm a simple woman, and I rely on my common sense. Nelson's argument suits my common sense more ;)

ya saya juga setuju dengan pendapat nelson dan teryan yang gw bold. memang nggak masuk akal kalau indonesia harus memproduksi sendiri segala sesuatu kebutuhannya dan tidak pernah ada negara yang sepenuhnya mandiri. tapi berusaha untuk mandiri dalam beberapa bidang kan harus selalu menjadi tujuan?

masalahnya, apakah indonesia sudah memulai untuk fokus di bidang yang memiliki potensi untuk bersaing di pasar global? menurut saya belum.

makanya harus selalu ada orang2 yang "menyentil" pemerintah untuk sedikit demi sedikit beranjak dari "bangsa klien" menuju "bangsa patron". tidak lalu menerima apa adanya.

memang tulisan kuntowojoyo terkesan terlalu meng-generalisir masalah. tapi dia kan memang "tukang sentil" yang tugasnya begitu, seperti juga gus dur dan amien rais. yang melakukan action ya mestinya pemerintah.

pokerface
December 27, 2004, 02:23
Originally posted by Nelson
hmm sepertinya kalau dilihat malah contoh praktek banyak sekali. kalau dilihat dari sejarah, kebudayaan yang aktif berdagang dengan negara lain tampaknya makmur dan berjaya. dari kekaisaran romawi, britania, belanda sampai ke amerika, korea selatan, jepang, singapura, hong kong, malaysia dan akhirnya cina dan india dimana ratusan juta diangkat dari garis kemiskinan setelah mereka membuka ekonomi mereka

sebaliknya contoh dimana negara yang menutup ekonomi mereka dan ingin mandiri seperti cina di abad 19, jepang sebelum reformasi meiji, india sebelum reformasi 1980an, korea utara, kuba, uni soviet semuanya ketinggalan dan runtuh ekonominya.

setuju, pernyataan saya sebelumnya perlu dikoreksi.

tapi kan ada juga kasus negara yang memiliki potensi untuk dirugikan karena perdagangan internasional dus globalisasi?

industri keuangan indonesia sejak paket deregulasi sektor keuangan pada pertengahan dan akhir 80-an membawa indonesia masuk dalam negara2 yang paling terbuka dan liberal dalam sektor keuangan.

hasilnya?

tahun 1997 perbankan kolaps dan ikut menyeret sektor lain dalam krisis berkepanjangan.

itu bukan salah teori globalisasinya. jangan salahkan pula negara lain.

salahkan diri sendiri. nah justru di situ point-nya.

kita belum siap.

menurut saya, secara ekstrem kondisi saat ini mungkin bisa dianalogikan dengan para petinju kelas berat yang ingin menghapuskan kelas2 dalam tinju sehingga dimungkinkan mike tyson melawan oscar de la hoya.

blueduck
December 27, 2004, 05:35
Originally posted by anak_chambers
Sebenarnya apa yang udah gwe kasi sebagai contoh itu kalau Indonesia mau mengembangkan bisa dapet manfaat besar loch. Dan itu kita udah punya, bukan bikin baru. Semuanya kita udah punya dari jaman 70-an dan 80-an, cuman kita malah pilih buatan luar aja. Coba kalo kita liat dalam hal ini dimana gwe nyebut tentang industri pesawat, kereta, dan senjata yang kita miliki. Ketiga industri yg udah kita miliki ini punya potensi besar sekali kalo dikembangkan. Ambil contoh pesawat misalnya. Orang taunya pesawat Indonesia cuman di-barter sama ketan dari Thailand dan taxi proton dari Malaysia. Padahal ga banyak yang tau kalo pesawat bikinannya DI (or waktu masih IPTN dulu) banyak diexport ke negara2 laen macam: KorSel, Pakistan, Yordania, Filipina juga denger2 punya CN-235 yg versi MAP. Lalu Libya juga waktu anaknya Khadafi kesini kemaren udah sempat lihat2 mau beli. Ini kalo misalnya dikembangkan pasarnya masih luas sekali. Untuk di dalam negeri aja masih banyak butuh pesawat2 kecil untuk daerah Indonesia Timur misalnya. Bisa juga kita coba tawarin pesawat CN235 untuk airlines di negara2 macam Filipina, Vietnam, Myanmar, or Sri Lanka misalnya yang butuh pesawat tapi ga mampu beli pesawat jet. nach kalo kita bisa jual lebih murah daripada Embraer dan bisa meyakinkan mereka akan kualitas pesawat bikinan kita, ini khan sangat menguntungkan.
Or Kereta Api misalnya. Kita bisa tawarin gerbong bikinan INKA ke negara2 ASEAN misalnya. Senjata juga. Senjata SS-1 buatan PINDAD itu selain dipakai oleh TNI juga dipakai oleh Angkatan Bersenjata Myanmar. Bayangin aja kalo kita bisa membujuk Myanmar untuk menjadi konsumen tetap. Lalu bisa juga tawarin ke Kamboja, Laos, Timor Leste dsb.

Tentu aja untuk semua itu mereka perlu dana untuk pengembangan dan Pemerintah dalam hal ini, selaku pemilik industri tsb, akan jauh lebih bijak kalo sedapat mungkin memakai barang buatan mereka. Menurut gwe, mereka ini perlu diproteksi sampai bener2 mapan. Nach kalo sekarang, pemerintah aja malah pilih beli kereta bekas yang udah tua. Mana itu efisiennya? Yang ada malah biaya perawatan besar, belum biaya restorasinya segala macem. Kita juga ga dapet apa2. PT INKA juga ga dapet pemasukan, lama2 bisa bangkrut juga. Terus Indonesia dapet apa kalo udah ghitu? Industri yang semula berpotensi besar malah dibiarkan runtuh demi alasan perdagangan bebas dsb. Malah jadinya kita tambah makin ngga punya modal apa2 untuk menghadapi perdagangan bebas kalo sudah beghitu. Mumpung masih jauh di 2020, kita masih punya cukup waktu untuk mengembangkan industri2 yg diatas tadhi sebelum kita ngga mampu untuk melindunginya laghi.

Well, that's pretty much my point. Tapi ada sich orang yg bilang Indonesia ngga perlu bikin kereta api, senjata, pesawat ghitu. Padahal itu industri berprospek bagus. Ga tau dia punya ide apaan tuch. Export panci kali.

gw setuju sama ACham
gw nangkep ACham beranggapan juga industri yg kompetitif dan bernilai jual tinggi yg harus dikembangkan, juga pemerintah harus ikut membantu dg kesempatan2 ato tidak ikut memberatkan dg "birokrasi" biaya tinggi.
Apa mudah bangun teknologi? Tidak mudah dan murah

ACham sudah menyebut kebijaksanaan US yg membantu industri nasionalnya,
sementara di jepang tahun 1970 ato 1980, pernah politik dumping?
setelah jepang unggul baru, politik itu dilepas.
di cina sekarang, pemerintah mendukung ekspor semua jenis barang, diantaranya dengan pemerintah ikut membayar pengusaha jika ada kerugian harga jual dan harga produksi.
betul tidak?

seperti yg Nelson ato pro Nelson, sangat mudah mengatakan industri yg kompetitif yg dikembangkan, tapi bagaimana?
justru yg gw tangkep, gw dan ACham beranggapan pemerintah harus ikut membantu.
juga tapi tanpa nilai jual yg tinggi tidak ada hasil apa2.
gw yakin jepang bisa buat panci semurah buatan cina, tapi knapa ga dibuat? karena ga ada nilai jual tingginya.
coba jelaskan knapa prancis ato US buat panci? karena mereka bukan sekedar jual panci, tapi ada teknologinya (teflon dll).

blueduck
December 27, 2004, 06:03
Originally posted by gimli

masalahnya, apakah indonesia sudah memulai untuk fokus di bidang yang memiliki potensi untuk bersaing di pasar global? menurut saya belum.

makanya harus selalu ada orang2 yang "menyentil" pemerintah untuk sedikit demi sedikit beranjak dari "bangsa klien" menuju "bangsa patron". tidak lalu menerima apa adanya.

memang tulisan kuntowojoyo terkesan terlalu meng-generalisir masalah. tapi dia kan memang "tukang sentil" yang tugasnya begitu, seperti juga gus dur dan amien rais. yang melakukan action ya mestinya pemerintah.

betul sekali mas Gimli, saya juga sependapat, dan yg saya tangkap ACham juga berpendapat seperti itu, juga bidang industrinya sudah di sebut ACham.

Nelson
December 27, 2004, 21:39
sebelum terseret mendebati hal2nya yang kecil inti dari argumen adalah sebuah negara nggak perlu membuat semua barang yang dikonsumsi dengan sendiri. nggak perlu anti barang2 asing kalau memang perusahaan luar lebih ahli membuatnya.

untuk indonesia ditahap sekarang lebih baik jangan terlalu banyak beriming2 ingin langsung ke industri nilai tambah yang tinggi. angka pengangguran sudah sampai jutaan sedangkan kalau mau mengembangkan industri perkapalan, pesawat terbang atau kereta, berapa banyak yang bisa dipekerjakan? dan berapa banyak kapital yang harus digunakan untuk riset dan membuat mesin2 yang akhirnya harus diimpor juga. lebih baik mengembangkan industri2 ringan padat karya dulu. itulah jalan yang diambil jepang, korsel, taiwan, hong kong, singapura dan cina. india boleh jadi bersemarak dengan industri ITnya, tapi salah satu alasan kenapa partai BJP kalah pemilu yang lalu adalah karena ratusan juta rakyat india nggak merasakan sama sekali pertumbuhan ekonomi yang dimotori oleh industri tersebut.

dan gua rasa lebih baik pemerintah jangan terlalu ikut campur memberi subsidi dan bantuan apalagi di indonesia yang mempunyai reputasi korupsi tinggi di dunia. kadang bantuan ini malah merusak insentif untuk berkompetisi dan mengakibatkan perusahaan enggan memperbaiki performa mereka. hal ini sudah bisa kita lihat misalnya di pertamina, bulog, dll. jepang dan eropa pun macet ekonominya karena perusahaan yang gagal tetap dibantu oleh pemerintah dengan cara memaksa bank2 memberi pinjaman. akhirnya perusahaan tetap rugi, bank2 memberi pinjaman jelek, bisnis2 kecil tidak mempunyai akses kekapital dan konsumen terpaksa membeli barang2 inferior dengan harga yang mahal

pokerface
December 28, 2004, 00:57
Originally posted by Nelson
sebelum terseret mendebati hal2nya yang kecil inti dari argumen adalah sebuah negara nggak perlu membuat semua barang yang dikonsumsi dengan sendiri. nggak perlu anti barang2 asing kalau memang perusahaan luar lebih ahli membuatnya.

setuju

untuk indonesia ditahap sekarang lebih baik jangan terlalu banyak beriming2 ingin langsung ke industri nilai tambah yang tinggi. angka pengangguran sudah sampai jutaan sedangkan kalau mau mengembangkan industri perkapalan, pesawat terbang atau kereta, berapa banyak yang bisa dipekerjakan? dan berapa banyak kapital yang harus digunakan untuk riset dan membuat mesin2 yang akhirnya harus diimpor juga. lebih baik mengembangkan industri2 ringan padat karya dulu. itulah jalan yang diambil jepang, korsel, taiwan, hong kong, singapura dan cina. india boleh jadi bersemarak dengan industri ITnya, tapi salah satu alasan kenapa partai BJP kalau pemilu yang lalu adalah karena ratusan juta rakyat india nggak merasakan sama sekali pertumbuhan ekonomi yang dimotori oleh industri tersebut.

setuju

dan gua rasa lebih baik pemerintah jangan terlalu ikut campur memberi subsidi dan bantuan apalagi di indonesia yang mempunyai reputasi korupsi tinggi di dunia. kadang bantuan ini malah merusak insentif untuk berkompetisi dan mengakibatkan perusahaan enggan memperbaiki performa mereka. hal ini sudah bisa kita lihat misalnya di pertamina, bulog, dll. jepang dan eropa pun macet ekonominya karena perusahaan yang gagal tetap dibantu oleh pemerintah dengan cara memaksa bank2 memberi pinjaman. akhirnya perusahaan tetap rugi, bank2 memberi pinjaman jelek, bisnis2 kecil tidak mempunyai akses kekapital dan konsumen terpaksa membeli barang2 inferior dengan harga yang mahal

inilah faktor utama yang membuat gw berpendapat kita belum siap menghadapi globalisasi walaupun nampaknya mau tidak mau kita harus masuk.

tapi nampaknya juga belum ada strategi dan keberanian dari elite untuk sedikit banyak memperbaiki daya saing