View Full Version : Ttg Pacaran dalam Buddhis
Enche
August 22, 2004, 13:14
kayaknya ga dibahas ya dalam pelajaran Agama Buddha di sekolah
ada yang tau gak atau ada aturan2 khususnya gak?
iching
August 22, 2004, 14:40
Mungkin di pelajaran kimia baru ada
lyana
August 26, 2004, 01:53
guru agama gua dulu sering nasehatin kita2 bahwa berpacaran tuh boleh tp kitanya harus hati2.. n bagi murid2 cewe, hati2 dlm memilih cowo.. jgn ampe dapet yg punya sifat2 kejam :D
hyper
August 26, 2004, 02:57
Saya rasa ada. Di sekolah Buddhist diajarkan sex education.
Mengenai pacaran, pertama kita lihat dulu pacaran disini maksudnya apa. Jika pacaran yang dimaksud adalah penjajakan untuk mengenal lebih jauh dan berakhir pada pernikahan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan seperti sama kemoralan, sama keyakinan, sama kebijaksanaan, sama dana. Dengan demikian diharapkan pernikahan tsb bisa bahagia.
Selain itu juga ketika pacaran tidak melanggar norma-norma setempat, karena agama Buddha selalu menghormati adat setempat. Dan juga tidak melanggar Pancasila khususnya sila ke-3 yaitu melakukan hubungan seksual yang tidak diperkenankan.
lulu
September 02, 2004, 13:27
emang ada kah aturan dalam berpacaran menurut agama?
bukannya sekedar mengikuti aturan tidak tertulis (norma) di masyarakat itu udah cukup? :)
ReiNHearT
September 02, 2004, 16:07
yupe agree wit u lulu .. rasanya gue juga belom pernah dengar ada nya aturan pacaran dalam agama Buddha .. anyway berdasarkan norma2 yang di masyarakat udah cukup ketat kok
Crystaline
September 03, 2004, 18:08
yach.....kayaknya sich sama aja seperti menjalankan pancasila buddhis, salah stunya, sila ketiga tuh........no sex before marriage.....:D
hyper
September 05, 2004, 09:20
Originally posted by meleena
yach.....kayaknya sich sama aja seperti menjalankan pancasila buddhis, salah stunya, sila ketiga tuh........no sex before marriage.....:D
'tul... no sex before and... no French Kiss ;)
Crystaline
September 11, 2004, 17:25
:haha no french kiss?
ga boleh ampe ke lidah yach?
kalo kiss biasa, tapi di bibir juga?
superfanny
September 11, 2004, 18:15
Kenapa nggak boleh french kiss ( lidah ) kalau dilakukan private????
Coba saya tebak alasannya....
ada yang bilang mulut, anus, genital itu adalah alat seks. Jadi jika kita melakukan french kiss, kita sudah melakukan seks.....
well, ini pendapat pribadi saya. Kan lihat2 dulu di masyarakatnya. Masyarakat di sini tidak terlalu bermasalah dengan french kiss ( kalau private ). Jadi saya pikir tidak masalah. Bukankah buddhist menghormati kebudayaan setempat. Coba lihat apakah ada karma buruk dari french kiss private??? Mungkin bisa meluncur ke "yang itu". Tapi itu kan tergantung orang apakah bisa mengendalikan diri sendiri. Lalu itu adalah hub seks ( french kiss ), jadi sudah melanggar sila. Tapi kalau dipikir2, kan kita tidak melakukan dengan kekerasan. Kan kita melakukannya atas kesepakatan bersama. Jadi, it's ok kalau dilakukan orang dewasa...... yang bisa mengendalikan diri sendiri.
Well, sekali lagi itu pendapat pribadi. Baca sekali lagi. Di atas itu adalah pendapat pribadi. Bukan fakta. Anda tidak setuju, no problemo.
hyper
September 12, 2004, 06:26
Originally posted by superfanny
Kenapa nggak boleh french kiss ( lidah ) kalau dilakukan private????
Coba saya tebak alasannya....
ada yang bilang mulut, anus, genital itu adalah alat seks. Jadi jika kita melakukan french kiss, kita sudah melakukan seks.....
well, ini pendapat pribadi saya. Kan lihat2 dulu di masyarakatnya. Masyarakat di sini tidak terlalu bermasalah dengan french kiss ( kalau private ). Jadi saya pikir tidak masalah. Bukankah buddhist menghormati kebudayaan setempat. Coba lihat apakah ada karma buruk dari french kiss private??? Mungkin bisa meluncur ke "yang itu". Tapi itu kan tergantung orang apakah bisa mengendalikan diri sendiri. Lalu itu adalah hub seks ( french kiss ), jadi sudah melanggar sila. Tapi kalau dipikir2, kan kita tidak melakukan dengan kekerasan. Kan kita melakukannya atas kesepakatan bersama. Jadi, it's ok kalau dilakukan orang dewasa...... yang bisa mengendalikan diri sendiri.
Well, sekali lagi itu pendapat pribadi. Baca sekali lagi. Di atas itu adalah pendapat pribadi. Bukan fakta. Anda tidak setuju, no problemo.
Betul, yang saya tahu tidak diperkenankan French Kiss dalam berpacaran walaupun private. Dan betul bahwa menurut Dhamma, mulut adalah salah satu organ seksual.
Dalam kebudayaan timur kita tidak ada istilah French Kiss apalagi ketika berpacaran. Jika kita ingin melihat kebudayaan timur yang asli kita bisa bertanya kepada orang-orang tua kita dimana mereka sangat menjaga norma-norma ketika berpacaran. Mereka tidak melakukan French Kiss bahkan menyentuh/ memelukpun adalah hal yang kurang sopan dalam berpacaran.. Jadi jika kita ingin melihat budaya kita lihatlah budaya yang asli bukan yang sudah terkontaminasi dengan budaya barat modern. Jadi jelas Buddhist menghormati budaya setempat yang juga sesuai dengan nilai-nilai moral.
Apakah ada karma buruk dari french kiss private?? Jelas ada walau tidak seburuk membunuh. Why ? Pertama kita harus memahami dulu apa itu karma buruk (perbuatan buruk). Menurut Dhamma perbuatan buruk adalah perbuatan yang didasari oleh niat yang berdasarkan dosa (kebencian), lobha (kehausan/keserakahan), dan moha (kebodohan batin). Ketika melakukan French Kiss jelas mengandung salah satu unsur yaitu lobha (kehausan)/napsu. Dan jelas seperti yang rekan Super katakan bahwa French Kiss akan bisa mengarah ke hal yang lebih rendah lagi. Ini jelas French kiss mengandung unsur ketagihan. Dan ini jelas melanggar Dhamma (jika tujuan hidup kita mencapai Nibbana).
Apakah French Kiss melanggar sila ? Jika kita berbicara dalam konteks berpacaran, ya French Kiss melanggar sila ke-3 yaitu Kamesumicchacara , melakukan hubungan seksualitas yang salah. Kenapa salah ? Karena ketika melakukan French Kiss waktu berpacaran berarti melakukan kontak seksual dengan orang yang belum patut. Orang yang tidak patut di adakan kontak seksual antara lain : yang belum menikah, masih di bawah perlindungan orang tua, saudara laki-laki/perempuan, sanak saudara, Negara, pelaksana dharma, dan yang sudah menjadi "milik" orang lain (bersuami/beristri)
Dan bukan hanya karena melanggar sila saja French Kiss itu tidak diperkenankan ketika berpacaran. Dalam hal kesehatan pun akan memiliki resiko. Tahu HIV AIDS ?? Penyakit AIDS menyebar bukan hanya melalui darah (pemakaian suntikan), hubungan kelamin, tapi juga air liur (ludah) ketika melakukan French Kiss.
Jadi dalam masalah French Kiss dalam konteks berpacaran, bukan masalah bisa atau tidak bisa mengendalikan diri, bahkan French Kiss itu sendiri merupakan manifestasi dari diri yang tidak bisa mengendalikan diri akan kenikmatan sentuhan kulit.
Ini semua adalah batasan-batasan dalam Buddhism agar kita bisa mengurangi penderitaan kita yang kita tidak tahu kapan datangnya.
superfanny
September 13, 2004, 09:17
apakah French kiss melanggar sila?
Menurut pandangan pribadi saya, tergantung. Jika kita ( dengan asumsi kita sudah tidak tergantung orang tua ) melakukannya dengan orang yang tidak tergantung orang tua lagi ( sudah kerja singkatnya ), tidak karena ok, french kiss itu seksual. Tapi hub seksual itu tidak pantas jika dilakukan dengan orang yang masih berada dalam perwalian, saudara kandung, pasangan orang lain. Sedangkan apakah boleh french kiss dengan orang yang belum menikah tidak disebutkan....
saya kutip dari sini:
http://www.buddhistonline.com/tanya/td72.shtml
Dalam kriteria pelanggaran sila ketiga, permasalahannya bukan mau sama mau, tapi ada kriteria yang diluar hal itu. Kriteria pelanggaran tersebut adalah jika salah satu pelakunya adalah
1. Saudara kandung sendiri (kakak atau adik kandung)
2. Anak dibawah umur (belum dewasa)
3. Anak dibawah perlindungan (masih tergantung pada orangtua atau wali)
4. Suami atau istri orang lain.
5. Mereka yang sedang menjalankan sila (samanera atau Bhikkhu)
Jadi tidak disebutkan kalau berhub seksual dengan orang yang belum menikah itu pelanggaran sila 3. Jadi it's ok.
Lalu kalau anda bilang french kiss itu pengumbaran nafsu atau ketamakan, itu relatif. Jika saya ber-french kiss. Terus saya makan es krim dengan "merasakan kenikmatannya" dengan lidah, itu pun tidak lebih bagus daripada french kiss. Saya mendengarkan musik, "memanjakan indera telinga", itu pun pengumbaran nafsu. saya menonton hiburan, seperti film, "memanjakan mata", itu pun tidak lebih bagus daripada french kiss. Jika Anda meng-no-kan french kiss karena nafsu, bagaimana dengan es krim, film, atau musik. Kecuali jika kita bisa makan tanpa "menikmati dengan indera" seperti yang dilakukan master spritual..... makan demi kelangsungan hidup...
Jadi, menurut pendapat pribadi saya, it's ok french kiss selama ada batasan..... baca sekali lagi... ini pendapat pribadi saya..... saya manusia... saya bisa salah..... ini pendapat pribadi saya....
trims....
superfanny
September 13, 2004, 09:50
oh yah, hyper.... lupa....
tambahannya:
saya cuma penasaran bagaimana kalau kita orang Prancis yang notabene lebih meng-ia-kan french kiss? Bagaimana situasinya kalau kita tinggal di masyarakat Prancis ( atau Amrik, .... ) ?
Kemudian ingin mengomentari mengenai HIV bisa menular lewat air liur. Yah, itu benar, tapi kan tidak ada hubungan dengan thread ini....
Thread ( pacaran dalam buddhist ) ini kan mengasumsikan kalau kita berpacaran dengan orang yang sehat ( bukan HIV )......
Makanan bisa menularkan penyakit..... Apakah hanya karena itu Anda tidak mau makan lagi??? HIV bisa menular lewat hub seksual..... Apakah hanya karena itu Anda ( dengan asumsi Anda memutuskan untuk hidup menikah ) tidak mau berhubungan seks dengan istri ( atau suami??? ) Anda????? Itu maksud saya.....
Yah, jaga diri lah, french kiss ( saya kan semi pro french kiss ) jangan dengan sembarangan orang..... :)
Ok, trims....
hyper
September 14, 2004, 15:36
apakah French kiss melanggar sila?
Menurut pandangan pribadi saya, tergantung. Jika kita ( dengan asumsi kita sudah tidak tergantung orang tua ) melakukannya dengan orang yang tidak tergantung orang tua lagi ( sudah kerja singkatnya ), tidak karena ok, french kiss itu seksual. Tapi hub seksual itu tidak pantas jika dilakukan dengan orang yang masih berada dalam perwalian, saudara kandung, pasangan orang lain. Sedangkan apakah boleh french kiss dengan orang yang belum menikah tidak disebutkan....
saya kutip dari sini:
http://www.buddhistonline.com/tanya/td72.shtml
Dalam kriteria pelanggaran sila ketiga, permasalahannya bukan mau sama mau, tapi ada kriteria yang diluar hal itu. Kriteria pelanggaran tersebut adalah jika salah satu pelakunya adalah
1. Saudara kandung sendiri (kakak atau adik kandung)
2. Anak dibawah umur (belum dewasa)
3. Anak dibawah perlindungan (masih tergantung pada orangtua atau wali)
4. Suami atau istri orang lain.
5. Mereka yang sedang menjalankan sila (samanera atau Bhikkhu)
Jadi tidak disebutkan kalau berhub seksual dengan orang yang belum menikah itu pelanggaran sila 3. Jadi it's ok
Benar, yang rekan Super katakan, dan benar yang dikutip dari buddhistonline mengenai syarat pelanggaran sila ketiga. Namun penjelasan tersebut belum lengkap. Dalam buku “Buddha Dharma dan Seksualitas” karya Dhammasukha Jo Priastana M. Hum dan dalam Buku karya Drs. Teja SM Rashid mengenai “Sila dan Vinaya”, mengatakan bahwa yang belum menikah dapat diartikan sebagai mereka yang masih dalam perlindungan baik orang tua, wali, saudara, pelaksana dharma, bahkan NEGARA. Jadi sebelum menikah pun dapat diartikan masih dalam lindungan walaupun ia sudah mandiri (tidak tergantung orang tua) karena pada akhirnya pun ketika mau menikah memerlukan restu ortu/wali/bahkan Negara. Dan jika masih ada ortu, dalam Sigalovada Sutta, peran orang tua yang terakhir adalah mencarikan jodoh (sekali lagi mencarikan bukan memaksakan) bagi anaknya. Jadi peran ortu belum habis sampai seorang anak menikah (jika memang mau).
Jadi jelas melakukan French Kiss sebelum menikah tidak diperkenankan.
Lalu kalau anda bilang french kiss itu pengumbaran nafsu atau ketamakan, itu relatif. Jika saya ber-french kiss. Terus saya makan es krim dengan "merasakan kenikmatannya" dengan lidah, itu pun tidak lebih bagus daripada french kiss. Saya mendengarkan musik, "memanjakan indera telinga", itu pun pengumbaran nafsu. saya menonton hiburan, seperti film, "memanjakan mata", itu pun tidak lebih bagus daripada french kiss. Jika Anda meng-no-kan french kiss karena nafsu, bagaimana dengan es krim, film, atau musik. Kecuali jika kita bisa makan tanpa "menikmati dengan indera" seperti yang dilakukan master spritual..... makan demi kelangsungan hidup...
Apa itu napsu ? Keinginan rendah yang berasal dari indera. Apa itu pengumbaran napsu ? Pemuasan keinginan rendah indera kita secara berkesinambungan karena adanya kemelekatan. Dengan kata lain, memanjakan indera. Jadi jelas memang, apapun bentuknya yang berkaitan dengan memanjakan indera karena di dalamnya ada kemelekatan maka dikatakan pengumbaran napsu. Jika kita makan es krim dan timbul ketagihan dan tetap melakukannya, itu pengumbaran napsu. Jika kita nonton film, timbul ketagihan, dan tetap melakukannya, itu pengumbaran napsu.
Jadi jelas, kita umat awam akan dianggap “wajar” jika kita masih memiliki napsu dan mengumbar napsu disegala aspek kehidupan. Dan demikianlah kita yang awam, mau di apakan lagi ? Jika kita enggan atau risih dikatakan mengumbar napsu, maka lakukanlah apa yang dilakukan oleh para master spiritual dengan berlatih mengekang napsu itu.
tambahannya:
saya cuma penasaran bagaimana kalau kita orang Prancis yang notabene lebih meng-ia-kan french kiss? Bagaimana situasinya kalau kita tinggal di masyarakat Prancis ( atau Amrik, .... ) ?
Sebenarnya sudah disampaikan sebelumnya. Walaupun Buddhisme menghormati kebudayaan setempat, bukan berarti Buddhisme menerima begitu saja. Dalam Kalama Sutta, kita diajarkan oleh Guru Buddha untuk tidak percaya dan menerima begitu saja apapun termasuk tradisi, budaya sebelum kita menemukan kebenaran di dalamnya dan kemanfaatannya.
Kemudian ingin mengomentari mengenai HIV bisa menular lewat air liur. Yah, itu benar, tapi kan tidak ada hubungan dengan thread ini....
Thread ( pacaran dalam buddhist ) ini kan mengasumsikan kalau kita berpacaran dengan orang yang sehat ( bukan HIV )......
Makanan bisa menularkan penyakit..... Apakah hanya karena itu Anda tidak mau makan lagi??? HIV bisa menular lewat hub seksual..... Apakah hanya karena itu Anda ( dengan asumsi Anda memutuskan untuk hidup menikah ) tidak mau berhubungan seks dengan istri ( atau suami??? ) Anda????? Itu maksud saya.....
Saya rasa ada hubungannya. HIV AIDS adalah suatu ancaman bagi kehidupan manusia jika kita tidak menanggulanginya, mencegahnya. Dan Buddhisme yang concern pada kehidupan, pada bagaimana hidup lebih baik, jelas tidak bisa lepas tangan. Dan salah satu cara menanggulangi AIDS adalah kewaspadaan. Jika kita tidak waspada, ketika kita pacaran dan melakukan French Kiss “semau gue” padahal kita tidak tahu pacar kita terkena HIV dan karena kita playboy atau playgirl yang suka gonta ganti pacar, maka penyebaran virus mematikan ini mau tidak mau akan meluas.
Makanan bisa menularkan penyakit ? Betul, tapi jika di dalamnya terkandung bibit penyakit. Selama kita makan makanan yang di olah secara higienis bibit penyakit tersebut tidak akan ada. Jadi di sini ada pencegahannya. (begitu kata para dokter dan ahli gizi). Dan hal ini berbeda dengan penularan HIV melalui French Kiss. Satu-satunya pencegahan HIV melalui French Kiss ya … no French Kiss, kecuali kita tahu pacar kita tidak mengidap HIV. Jika pacar kita mengidap HIV boleh saja kita tetap pacaran , kenapa tidak ? Asalkan kita tidak melakukan kontak yang berakibat tertularnya HIV itu seperti French Kiss.
Dan dalam tahap jenjang pernikahan kita bisa memastikan dulu pasangan hidup kita terkena HIV atau tidak, dan memastikan komitmen kita. Jadi di sini tidak ada hubungannya dengan menikah atau tidak menikah karena takut ada HIV, tapi bagaimana melakukan pencegahan terhadap penyebaran virus HIV itu. Kita bisa saja tetap menikah setelah tahu calon pasangan kita terkena HIV asal kita memiliki komitmen :”dialah satu-satunya pasangan hidup saya” dan menanggung resiko dari keputusan kita itu.
Begitu….
Thanks.
ehem...kita hampir OT :D
Enche
September 14, 2004, 16:06
menurut gue, sebenernya dalam budhis ga ada kata diperkenankan atau dilarang, cuma dikasi tau bahwa hal
tsb mungkin akan berakibat yang tidak baik.
so kalau kita masi mau, sikat ya udah sikat aja
yang penting siap menanggung resiko apa aja
termasuk kena hiv atau kecanduan ama french kiss tsb
hihihi..
Crystaline
September 15, 2004, 01:31
gilleeee.......
jadi apa tujuan sila ketiga dari pancasila buddhis donk?
superfanny
September 15, 2004, 09:10
Ok, saudara ( atau saudari sih????? ) hyper yang terhormat,
Pertama, tentang sila. Maaf, tapi apresiasi saya dari teks itu berbeda dengan Anda. Bagi saya pernikahan bukan jaminan dari kemandirian ( tidak tergantung lagi dari orang tua / wali ). Kemandirian itu punya banyak faktor dan batasannya agak kabur. Seperti batasan nonton film dewasa ( tidak harus porno ) yaitu 18 th. banyak yang berumur di bawah 18 th layak nonton film dewasa karena mereka lebih cepat matang. dan ada sebagian yang di atas 18 th, tapi sebenarnya belum cukup layak nonton film dewasa. tapi batasan 18 itu cukup bagus. Nah, banyak yang sudah menikah dan maaf, mereka belum mandiri. Ada yang tidak menikah, dan maaf, sudah mandiri. Ukuran kemandirian itu susah didefinisikan karena setiap orang memiliki kasus yang berbeda. Tapi bagi saya, pribadi, memiliki pekerjaan adalah ukuran yang bagus dalam menilai kemandirian seseorang. Kemandirian lebih tererat kepada sikap seseorang dalam kehidupan ini. Bagaimana dia menyikapi tantangan hidup yang lebih terarah kepada.... susah cari kata-katanya. maaf saya bukan ahli agama. Tentang peranan orang tua, itu tidak mutlak. Lagipula setiap masyarakat itu berbeda....
Kesimpulannya, bagi saya pribadi, french kiss tidak melanggar sila ketiga..... Dilarang berzinah... dengan syarat dilakukan oleh orang dewasa yang mandiri. Kalau 2 insan berlawanan jenis itu sudah bekerja, ada kemungkinan cukup besar mereka layak french kiss tanpa melanggar sila.
Kedua, tentang nafsu....Sebelumnya saya tidak membicarakan pengumbaran nafsu, tapi nafsu.... bagi saya, waktu anda melakukan french kiss dengan pasangan anda, itu sudah "menyerempet" zona nafsu. Nafsu semi seksual ( keren kan istilahnya??? :) ). Anda pulang ke rumah, mama tercinta anda memasakkan anda cap cay. Anda makan dan merazakan lelezatannya dengan lidah dan mulut , itu sudah "meyerempet" zona nafsu. Nafsu makan ( bukan nafsu makan dalam istilah biologi ). Anda selesai makan, pergi ke kamar tidur, mendengarkan musik John Lennon, Anda menikmati..... dengan otak dan telinga, itu sudah "menyerempet" zona nafsu.... nafsu hiburan. Dan seterusnya. Apa moral cerita ini???? Nafsu yah, nafsu, nafsu semi seksual tidak lebih baik atau buruk daripada nafsu makan. nafsu hiburan sama buruknya atau baikknya dengan nafsu semi seksual. Nafsu yah nafsu. Nafsu menambah penderitaan.
Jika french kiss itu buruk karena itu adalah tindakan nafsu semi seksual, berarti makan cap cay pun buruk ( menambah penderitaan ) karena itu adalah tindakan nafsu makan. Kecuali Anda bisa makan capcay tanpa merasakan kelezatannya. cuek bebek seperti yang dilakukan master spritual. Eat for survive. Begitu pula dengan mendengarkan musik, menonton film..... U name it
Ketiga, HIV tidak ada hubungannya dengan thread ini. Perhatikan analogi berikut ini:
Makanan bisa menularkan penyakit.
French kiss bisa menularkan penyakit.
Selama kita makan makanan yang higienis, kita terhindar dari penyakit yang ditularkan makanan.
Selama kita tidak sembarangan french kiss dengan orang, ( waktu berpacaran teliti dulu gaya hidup pasangan Anda ) kita terhindar dari penyakit.
Sehati-hatinya Anda, ada kemungkinan tertular HIV lewat french kiss, karena mungkin anda tertipu dengan gaya hidup pasangan anda.
Sehati-hatinya anda, ada kemungkinan tertular penyakit lewat makanan, karena bisa saja diracuni, bisa saja tertular..... yah sudahlah saya ngaku, biologi saya jelek. tapi u get the point.
Jadi menolak french kiss dengan alasan bisa menularkan penyakit adalah seperti mogok makanan karena makanan bisa menularkan penyakit.
Ini adalah aspresiasi pribadi bernuansa spritual dari saya. saya sendiri bukanlah master spritiual seperti buddha, tapi saya adalah manusia yang masih berjuang mencapai pencerahan. jadi di atas itu bukan ceramah....
saya yakin hyper tidak akan setuju dengan posting saya ini.... tapi di atas semua itu adalah argumen saya. Hyper balas ini dengan argumen lain. saya balas lagi. Hyper balas lagi. saya balas lagi. Seperti lingkaran samsara. Sudahlah, ini the last time I comment about french kiss. ini negara demokrasi. orang bebas berbeda pendapat. SAya menghormati pendapat hyper seperti saya menghormati pendapat saya. Kalaupun orang bingung mengenai french kiss, biarlah mereka membaca thread ini dan memutuskan mana yang lebih baik bagi mereka karena agama Buddha menekankan pembuktian dulu. jangan terima ajaran membabi buta.
It is my honour to have discussion about french kiss with you, hyper.
May the happiness comes to all.
Sadhu, sadhu, sadhu......
Enche
September 16, 2004, 05:41
Originally posted by meleena
gilleeee.......
jadi apa tujuan sila ketiga dari pancasila buddhis donk?
menarik, gue bikin topik baru ah tentang ini, mampir ya
hyper
September 17, 2004, 04:21
Untuk Rekan Superfanny, saya juga tidak ingin berdebat kusir dengan anda. Saya sudah sampaikan apa-apa saja yang saya ketahui dengan berbagai narasumber/literatur. Jika anda masih bersikeras dengan pendapat anda sendiri ya... itu hak anda. :)
Dan saya yakin pendapat saya sesuai dengan apa yang sebenarnya, yang sekiranya sesuai dengan Dhamma.
Dan sebagai akhiran, saya copy paste jawaban dari Y.M Bhante Uttamo, atas pertanyaan mengenai French Kiss yang ada di forum tanya jawab :
http://www.samaggi-phala.or.id/ftj.php?page=2
Dari: marss, jakarta
Namo Buddhaya,
Bhante, seringkali terjadi pada anak muda sekarang ini adalah gaya berpacaran yang 'bebas', dalam hal ini dalam ajaran Sang Buddha kita sebagai anak muda diharuskan untuk berusaha untuk tidak melakukan perbuatan asusila.
Yang ingin saya tanyakan adalah apakah melakukan ciuman (french kiss) dalam berpacaran itu termasuk perbuatan yang asusila atau tidak?
Mohon maaf jika pertanyaan ini terlalu vulgar.
Jawaban:
Gaya pacaran anak muda di Indonesia saat ini memang cenderung 'bebas'. Kenyataan ini sebenarnya cukup memprihatinkan.
Mungkin, kebebasan ini timbul karena gencarnya arus informasi dari negara asing tertentu sehingga tingkah laku anak muda di Indonesia sedikit demi sedikit mengalami perubahan.
Salah satu perubahan perilaku di masa pacaran adalah menjadikan ciuman (French kiss) sebagai salah satu hal yang dianggap wajar. Padahal, dalam Dhamma perilaku ini tidak bisa dibenarkan.
Selain itu, kebiasaan berciuman akan mengantarkan pasangan tersebut untuk berbuat lebih jauh yaitu melakukan hubungan seksual yang seharusnya dilakukan ketika mereka telah menjadi pasangan suami istri.
Diterangkan dalam Dhamma adanya tiga organ seksual yaitu mulut, alat vital dan anus. Apabila seseorang melakukan hubungan seksual dengan mempergunakan salah satu atau lebih dari ketiga organ seksual tersebut kepada obyek pelanggaran seks, maka ia disebut telah melakukan pelanggaran sila ketiga Pancasila Buddhis.
Obyek pelanggaran seks yang dimaksudkan dalam kalimat tersebut antara lain adalah anak di bawah umur atau belum dewasa, anak dibawah asuhan orangtua, saudara kandung sendiri, juga pasangan hidup orang lain.
Dengan demikian, berciuman di masa pacaran dengan orang yang belum dewasa ataupun masih di bawah asuhan orangtua adalah termasuk melanggar kesusilaan.
Oleh karena itu, umat Buddha sebaiknya di masa pacaran dapat menghargai pasangannya dan berusaha menjaga kemoralan selama berpacaran. Dengan demikian, umat Buddha dapat mencegah perilaku lanjutan yang lebih tidak bermoral yang biasanya mengikuti kebiasaan berciuman tersebut.
Semoga dengan penjelasan ini akan dapat dijadikan pegangan untuk kehidupan pacaran di Indonesia.
Semoga selalu bahagia.
Salam metta,
B. Uttamo
Thanks
hyper
September 17, 2004, 04:43
Originally posted by Enrique
menurut gue, sebenernya dalam budhis ga ada kata diperkenankan atau dilarang, cuma dikasi tau bahwa hal
tsb mungkin akan berakibat yang tidak baik.
so kalau kita masi mau, sikat ya udah sikat aja
yang penting siap menanggung resiko apa aja
termasuk kena hiv atau kecanduan ama french kiss tsb
hihihi..
Betul tidak ada larangan, tapi jika kita menginginkan hidup maka maka resiko yang kita harus ambil yaitu dengan tidak melanggar sila, jika tidak kita akan tetap mengalami penderitaan yang merupakan resiko dari pelanggaran sila.
Jadi istilah dilarang atau tidak diperkenankan berlaku jika kita ingin mengambil jalan kemoralan. Karena tidaklah mungkin jika kita mengambil jalan kemoralan tapi kita tetap melanggar sila.
Begitu En.
superfanny
September 17, 2004, 08:49
Diterangkan dalam Dhamma adanya tiga organ seksual yaitu mulut, alat vital dan anus. Apabila seseorang melakukan hubungan seksual dengan mempergunakan salah satu atau lebih dari ketiga organ seksual tersebut kepada obyek pelanggaran seks, maka ia disebut telah melakukan pelanggaran sila ketiga Pancasila Buddhis.
Obyek pelanggaran seks yang dimaksudkan dalam kalimat tersebut antara lain adalah anak di bawah umur atau belum dewasa, anak dibawah asuhan orangtua, saudara kandung sendiri, juga pasangan hidup orang lain.
Pandangan di atas yang saya copy paste dari posting anda sesuai dengan pandangan saya. Nah, memang saya bilang saya tidak akan comment lagi tentang french kiss. saya hanya ingin menjelaskan kemandirian ( tidak tergantung orang tua ) versi saya yang tidak terlalu jelas pada posting sebelumnya.
saudara hyper dan saya setuju dengan pandangan di atas. Yang berbeda dari pandangan kami adalah:
menurut hyper, orang disebut tidak di bawah asuhan orang tua lagi jika orang itu sudah menikah karena peran orang tua salah satunya mencari jodoh buat anaknya. jadi jika orang itu menikah, hopla anak itu mandiri sudah......
dalam hari-hari terakhir ini saya berpikir dan merenung. Bagaimanakah seorang itu bisa dikatakan mandari / tidak tergantung orang tua lagi? saya memikirkannya pada saat saya diner, tidur, kuliah. saya menanyakan kawan2 kuliah saya. akhirnya inilah kesimpulan pribadi saya:
ada kelemahan jika pernikahan dijadikan tolok ukur kemandirian / tidak tergantung orang tua. Selain alasan yang saya sudah sebutkan pada posting sebelumnya, saya membayangkan bagaimana jika saya memutuskan untuk tidak hidup menikah forever? Apakah selamanya saya tidak pernah mandiri? Apakah selamanya saya masih tergantung orang tua? Apakah jika saya sudah berumur 42 tahun, dan tidak menikah, saya masih tetap di bawah asuhan orang tua saya?
Nah, saya memikirkan tolok ukur lain.... bagaimana kalau saya gunakan tolok ukur bisa menghidupi diri sendiri. jadi orang itu mandiri / tidak di bawah asuhan orang tua lagi jika dia bisa menghidupi diri sendiri secara finansial. kelemahannya..... banyak pasangan yang sudah menikah masih tergantung pada orang tua secara finansial.... terutama pasangan muda yang menikah pada umur 20-an.... wajar, mengingat kehidupan semakin mahal saja. kita lulus kuliah, sekali bekerja dapet berapa sih? kerja lembur beberapa tahun juga sulit untuk exist tanpa dukungan finansial dari orang tua sekarang ini.
lalu saya beralih ke tolok ukur pekerjaan. orang itu mandiri / tidak di bawah asuhan orang tua lagi jika dia sudah memiliki pekerjaan. setidaknya orang itu sudah bisa merasakan susahnya mencari uang.
tapi kemudian saya menanyakan kenapa kemandirian / tidak di bawah asuhan orang tua lagi selalu diasosiakan dengan tolok ukur dari luar. Kemudian saya merevisikan kesimpulan saya. kemandirian lebih terkait dengan sikap / watak anda di mana orang tua anda sudah bisa untuk tidak perlu lagi mengatur dan mencampuri urusan2 kita. saya susah gambarkan tepatnya bagaimana. pokoknya orang tua tidak perlu "lagi mengaturi hidup kita". kita sudah bisa mengatur hidup sendiri. Ada masalah, misalnya ingin buat sim, berurusan dengan adminstrai hukum, kota, dan surat-suratan, mendapat masalah dengan polisi dan kita ditahan di ruang polisi, terjadi permasalahan pembayaran di kuliah yg mengakibatkan kuliah anda terancam cuti satu semester, Anda bisa mengurusinya sendiri tanpa menyusahkan orang tua. Kalau pun orang tua ikut campur, peranan orang tua tidak lagi dominan. itulah yang disebut mandiri dan tidak tergantung orang tua lagi. itulah kemandirian versi saya. yah, saya akui contoh yang saya berikan itu konyol. but u get the point. anda setidaknya sudah mengerti.
tapi jika anda sudah memiliki pekerjaan, atau anda sudah menikah, apalagi anda sudah tidak memerlukan dukungan finansial dari orang tua anda lagi, kemungkinan sangat besar anda bisa dikategorikan tidak tergantung orang tua lagi atau tidak di bawah asuhan orang tua lagi atau mandiri. jika anda melakukan french kiss, anda tidak melanggar sila ke 3. tapi tentunya orang yang menerima french kiss anda harus memenuhi syarat yang sudah disebutkan.
jika anda sudah kuliah, ada kemungkinan anda sudah mandiri.
kalau saya bilang anda, itu bukan hyper, tapi anda secara umum.
sekian,
pendapat kita berbeda tapi kita adalah saudara dalam cinta kasih.
may the happiness comes to all.
r4iny_ch3ri3
September 25, 2004, 15:26
Hi all, [kedip]
Lam knal ya.. ::bahagia:
::malu::
Crystaline
September 26, 2004, 03:43
oke......
bagaimana dengan mereka2 yang mempunyai adat, tiap kali ketemu, cium..........cium di bibir juga........
tapi tuh hanya sekedar cium doank........
Enche
September 26, 2004, 04:05
gpp, kayak di america sini, mereka sangat friendly,
touch, hug, kiss sana sini ampe lipstik nyasar2
biasa2 aja.
karena itu emang customs nya mereka.
nah.. emangnya being friendly, bisa kiss2 gitu
elo pikir mereka mau 'intimate' ama elo ?
kagak coi.... ini yang sering salah paham
mereka cuma coba being friendly aja.
so... kembali lagi intinya tergantung pikiran kita
apakah kita suka horny2 gitu atau biasa2 aja
kalau kita horny, dianya biasa2 aja cuma coba friendly
dan ramah.. nah karma buruknya kita yang bikin
dia sih biasa2 aja huhuuh..
Crystaline
September 26, 2004, 04:08
:haha
ampe segencar ini bela kissing culture, en :p
vBulletin® v3.8.2, Copyright ©2000-2013, Jelsoft Enterprises Ltd.