Talkshow..
Narasumber : Bhikkhu Uttamo
Tema : Pro Kontra Seputar Relik
Hari : Rabu, 21 Juli 2004
Waktu : 18.30 WIB
Tempat : Taman Anggrek Fitness Centre
Lt. 7 Tower 2
langitbiru
July 20, 2004, 05:50
waduh... seru nih...
btw emang ada kontra apa ttg relik? [???]
kalo ada yg ke sana, jgn lupa kasih kesimpulan ya... :D
langitbiru
July 23, 2004, 09:43
Talk Show dengan Bhante Uttamo
Jakarta, 21 Juli 2004
Topik: Pro & Kontra Relik
Sebagai umat Buddha kita sering berkata diri sendirilah pelindung bagi diri sendiri. Sukha & dukkha yang kita terima adalah akibat dari perbuatan kita sendiri. Memang tidak sulit saat kita sedang merasa hidup kita berbahagia & sukses, kita berkata karena diri sendirilah kita bisa sukses. Tapi saat kita sedang merasa putus asa & mengalami kegagalan, kita mencari perlindungan lain di luar diri kita, kita bertanya pada dukun kenapa kita bisa mengalami kegagalan & kemerosotan dalam usaha? atau mengapa seringkali terjadi percekcokan dalam rumah tangga kita?
Sering umat datang ke Vihara bertanya pada Bhikkhu, seakan-akan Bhikkhu adalah peramal. Ada umat yg datang bertanya kepada Bhikkhu: ¡°Besok saya akan berangkat ke luar negeri, kira-kira perjalanan saya akan selamat tidak? Ada lagi seorang ibu menanyakan: ¡°Bhante, bayi dalam kandungan saya bayi laki-laki atau perempuan?¡± Padahal dengan kemajuan teknologi sekarang ini, dengan mudahnya kita dapat melakukan USG dengan biaya yang tidak mahal untuk mengetahui si bayi apakah laki-laki atau perempuan.
Ada umat yg datang ke Vihara memakai kalung taring macan. Ketika ditanyakan mengapa kamu memakai kalung itu, dijawab oleh si umat kalau itu kalung perlindungan (hu). Apakah taring macan itu dapat melindungi kamu sedangkan macan tersebut tidak dapat melindungi dirinya sendiri & mati dibunuh, bagaimana mungkin ia dapat melindungi diri kamu... ?
Ada umat yang lain, kebanyakan wanita yang mengenakan kalung berisi relik. Tapi apakah itu relik sesungguhnya kita tidak tau. Tapi kalung itu selalu kita pakai & kita bawa kemanapun kita pergi, dianggap seperti jimat yang diyakini dapat melindungi diri kita dari bahaya. Coba kalu kita terjun dari lantai 7 dengan menggenggam relik itu apakah ia bisa menyelamatkan kita?
Bahkan di Thailand terdapat banyak relik yg di jual kiloan, bahkan tercantum relik tersebut adalah relik Sang Buddha, relik Arahat ini dan Arahat itu dan lain-lain... Ketika ditanyakan kepada penjualnya: ¡°Bagaimana kamu dapat mengetahui ini relik milik siapa atau itu relik milik siapa..?¡± Penjual itu menjawab: mereka mengetahui dari buku, yang dalam buku tersebut dijelaskan bentuk-bentuk relik. Misalnya yg bentuknya bulat adalah relik dari Sang Buddha, yang bentuknya persegi adalah relik Arahat ini atau Arahat itu. Tidak ada yang dapat membuktikan keaslian relik-relik tersebut.
Bila diartikan ke dalam bahasa Pali relik adalah Sarririka dhatu, yang berarti sisa dari badan jasmani. Apakah anda pernah pergi ke kuburan? Pasti pernah, tapi apakah anda pernah tidur di kuburan? Yang terlintas di pikiran bahwa disana tempat yang mengerikan, tempat orang-orang yang sudah meninggal, tempat sisa badan jasmani. Sama dengan relik yang merupakan sisa dari badan jasmani, tapi mengapa kita begitu takut untuk tinggal di kuburan, sedangkan relik itu kita bawa-bawa kemanapun kita pergi, bukankah relik juga merupakan sisa dari badan jamsani..
Banyak orang yang begitu menginginkan dapat memiliki relik. Tapi apakah sebenarnya arti sebuah relik? Relik dapat memberikan banyak manfaat, diantaranya dapat dijadikan obyek pemujaan (penghormatan), supaya dengan kita melihat reliik tersebut dapat memacu semangat kita agar kita juga dapat menjadi demikian. Relik tersebut membuktikan bahwa seorang manusia bisa mencapai tingkat kesucian. Kalo ia bisa kita pun pasti bisa. Relik juga dapat digunakan menjadi pengganti dari patung Buddha atau gambar Buddha, saat kita ingin membaca paritta atau bermeditasi.
Belum dapat dibuktikan secara ilmiah mengapa ada relik yang bisa bertambah banyak, tetap atau malah menghilang. Semua kembali pada perilaku kita, setiap relik mempunyai penjaga. Bila perilaku kita baik mungkin saja relik itu bertambah banyak, tetapi bila perilaku kita sehari-hari tidak baik maka memungkinkan relik itu menghilang, berpindah ke tempat lain. Tidak perlu kita memantau relik tersebut apakah bertambah banyak setiap harinya. Suatu hal yang sia-sia mengharapkan relik dapat melindungi kita, karena bagaimanapun diri sendirilah yang dapat melindungi diri sendiri.
Tentang relik yang diperdebatkan keasliaannya. Beberapa saat yg lalu diadakannya Pameran Relik Sang Buddha & para pengikutnya yg bertempat di Gading Marina, Kelapa Gading. Tak perduli apakah relik itu asli atau tidak, apabila banyak orang mempercayainya & meyakini bahwa itu adalah relik, maka meskipun bukan relik pun bisa menjadi relik, karena adanya kekuatan pikiran. Apalagi bila relik sesungguhnya, bila sering dibacakan paritta & semua orang meyakininya maka aura relik tersebut menjadi semakin kuat.
Pernah dengar cerita pembabar Dhamma masuk neraka, supir masuk surga? Saat pembabar Dhamma bercerita banyak orang mengantuk mendengarnya. Tapi saat seorang supir ngebut dengan kencang kita menjadi takut dan tak henti-hentinya berdoa dengan kesungguhan hati. Sama juga halnya seperti bukan relik yang dinyatakan sebagai relik, bila dipercaya & diyakini bahwa itu adalah relik lama kelamaan menjadi relik. Orang yang menyatakan bahwa itu relik akan menanggung karmanya sendiri, apakah ia jujur atau berbohong tentang kebenaran relik tersebut, tapi meski demikian ia telah mengkondisikan banyak orang untuk meyakini bahwa itu adalah relik dan merupakan perbuatan baik juga mendorong orang lain untuk berbuat kebaikan.
Dalam buku Riwayat Hidup Sang Buddha diceritakan bahwa relik berbentuk tulang-tulang dari sisa pembakaran orang suci. Diceritakan bahwa saat Sang Buddha parinibbana, jasmani Sang Buddha dilapisi 10 lembar kain, setelah dikremasi 2 lembar terakhir itu utuh & tidak terbakar, tulang-tulang itu utuh tetapi jeroan (isi perut) lenyap sama sekali.
Ibaratnya kambing adalah binatang... kambing adalah binatang... kambing adalah biantang.. Tapi apakah binatang adalah kambing? Apakah relik dapat dijadikan jaminan orang tersebut telah menjadi suci? Apakah setiap orang yang setelah meninggal mempunyai relik adalah pasti orang suci? Sekarang banyak orang yang menderita sakit, misalnya sakit diabetes, saat ia meninggal ditemukan relik.. Tapi apakah dia benar orang suci? Ataukah hanya batu ginjal? Ada kerikil yang berbentuk seperti kristal, apakah bisa disebut sebagai relik? Tak perlu dipusingkan apakah relik itu asli atau tidak, dan tidak perlu juga kita yang tidak memiliki relik untuk harus memilikinya.
Relik dapat memberikan manfaat bila kita meyakininya & berperilaku baik, mendorong kita untuk berbuat lebih baik lagi. Relik bukanlah tempat kita meminta-minta atau memohon perlindungan. Diri sendirilah pelindung bagi diri sendiri. Kalo umat lainnya mempunyai ciri khas dalam berpakaian & penampilannya, umat Buddha tersamar. Hanya dari perilaku kita lah yang dapat mencerminkan bahwa kita adalah umat Buddha. Dengan berperilaku baik & meninggalkan perilaku buruk kita, kita telah menjadi umat Buddha yang sesungguhnya. Marilah kita melatih kerelaan kita, kemoralan kita & konsntrasi kita. Tidak perlu mencari perlindungan di luar diri kita.
NB: Mohon maaf bila terdapat kekeliruan.. Salam
wah, tq banget.. gw gak sempat dtg ke sana sih..
langitbiru
July 24, 2004, 09:32
gw juga ga ke sana, cuman dpt email dr tmn :D