View Full Version : Beginner Question: Kenapa Boddhisattva mesti tunda Nirvana?
Yoserunami
April 29, 2004, 17:31
Hi,
gue belon lama belajar agama Buddha jadi belon bener2 ngerti konsep dasar nya ..
Dalam Mahayana, diajarkan kalau Boddhisattva adalah individu yang udah layak menerima Nirvana, tapi memutuskan untuk ga masuk ke Nirvana dulu karena ingin menolong sentient beings yang lain untuk mencapai pencerahan.
Agama Buddha Mahayana juga mengajarkan penganutnya untuk berdoa pada para Buddha - Shakyamuni, Amitabha, Medicine Buddha, dll.
Pertanyaan gue: Kenapa para Boddhisattva mesti sampai menunda masuk Nirvana untuk bisa menolong mahluk laen? Kalo udah masuk ke Nirvana, apa mereka udah ga bisa lagi menolong manusia?
Terus, kalau sudah mencapai Nirvana dan menjadi Buddha penuh lantas mereka tidak terlibat lagi dengan dunia, kenapa umat Buddha Mahayana masih berdoa pada para Buddha?
Likewise, kalo para Buddha masih bisa terlibat langsung untuk menolong manusia, kenapa para Boddhisattva sampe repot-repot menunda Nirvana?
hahaha muter muter de ..
hyper
April 30, 2004, 02:20
Halo Yos…
Sambil menunggu jawaban dari teman-teman Mahayana, perlu kita catat bahwa Nirvana itu bukan surga , alam atau suatu tempat. Tapi setahu saya mereka yang “mencapai” (bukan menerima) Nirvana, mereka sudah tidak ada lagi keinginan apapun, sesuai dengan istilah Nirvana itu sendiri yaitu meniup padam segala napsu keinginan, dan tidak ada lagi jasmani dan batin.
langitbiru
April 30, 2004, 04:44
alow juga,
aduh, pertanyaan sulit... aku pribadi ga tau apa pemikiran aku ini benar atau tdk. buddha yg sdh mencapai parinibana ada atau tdk? jawabannya : tdk bisa dibilang ada, tdk bisa dibilang tdk. nah lo.. jawaban spt itu, bagaimana bisa mengerti kenapanya... pemikiran aku, mrk menjd netral saja, jd bagian dr alam semesta (maybe?), mungkinnnnnn elemen2 pembentuk mryg lalu melebur dgn elemen2 alam semesta (mungkinnnnnn), krn itu bodhisatva menunda masuk nibana.
soal berdoa, dlm agama buddha, berdoa bukan berarti memohon pd mahkluk lain, tp menginggat pont2 positif dr para mahkluk suci lainnya. para buddha mengajarkan jalan spy manusia bisa meningkatkan kemampuannya menjd sempurna. jd walau mrk tdk ada pun, mrk diingat akan kebaikannya.
Rick7
April 30, 2004, 09:30
Hello..Saya bukan dari budha Mahayana. Di sini hanya memberi masukan. Mohon maaf bila ada kata2 yg salah.
Dalam Mahayana, diajarkan kalau Boddhisattva adalah individu yang udah layak menerima Nirvana, tapi memutuskan untuk ga masuk ke Nirvana dulu karena ingin menolong sentient beings yang lain untuk mencapai pencerahan.Kenapa para Boddhisattva mesti sampai menunda masuk Nirvana untuk bisa menolong mahluk laen?
Mungkin Kata kunci di sini adalah cinta kasih. Bodhisattva diterjemahkan secara tertulis sebagai berikut:” Seseorang yg memiliki kebijaksanaan sempurna “atau “seseorang yg di takdirkan untuk medapatkan pencerahan.” Ciri2 dari bodhisattva adalah cinta kasih, tidak mementingkan diri sendiri, bijaksana, dan mempunyai sifat melayani. Di sini, bodhisattva telah mencapai pencerahan tapi memutuskan untuk mengorbankan kehidupan nirvana untuk menolong lainnya untuk mencapai pencerahan. Bodhisattva bersumpah akan membebaskan semua mahkluk hidup dari penderitaanIni adalah contoh bagaimana seorang bodhisattva mempunyai sifat yg besar, sifat sabar, cinta kasih kepada makhluk hidup lainnya Ini adalah sifat kebaikan tertinggi dari seorang bodhisattva.
Terus, kalau sudah mencapai Nirvana dan menjadi Buddha penuh lantas mereka tidak terlibat lagi dengan dunia, kenapa umat Buddha Mahayana masih berdoa pada para Buddha?
Seorang bodhisattva dapat memberikan merits atau pahala kepada yg membutuhkan karma. Karena kemampuan ini, bodhisattva menjadi figure penyelamat bagi orang yg menginginkan pencerahan (enlightement). Umat buddha Mahayana melihat bodhisattva dan juga buddha sebagai seorang yg dapat memberikan karunia ini. Oleh karena itulah umat budha Mahayana masih berdoa kepada buddha. Pencerahan dicapai melalu ketaatan hidup, kesetiaan dan juga kedisplinan pada ajaran. 10. ajaran bodhisattva :
1.dana 2.sila 3.ksanti 4.virya 5.dhyana 6.prajna 7.upaya 8.ranidhana 9.bala 10.jnana Buddha
Setiap orang bisa mendapatkan pencerahan ini asal menjalani 10 ajaran ini,
Bagi Mahayana Budha, nirvana bukan berarti "melarikan diri" tetapi "awakening /bangun kesadaran" juga seperti yg dikatakan saudara hyper, "tidak ada lagi keinginan apapun, sesuai dengan istilah Nirvana itu sendiri yaitu meniup padam segala napsu keinginan, dan tidak ada lagi jasmani dan batin."
Mungkin bagi saudara2 seiman ada masukan lain?
salam
udah nyampe, ngasih tau ke yang laen gimana caranya biar ikutan nyampe
gitu kli
The_One
April 30, 2004, 17:04
Bodhisattva itu merupakan representasi dari kasih sayang.
Trus, doa dlm agama Buddha, beda ama yg laen dlm arti pengertian.
Semoga membantu.
Senyum :)
May 01, 2004, 11:30
Karena masih ada sedikiit ikatan. Mungkin. :)
Originally posted by asal
Karena masih ada sedikiit ikatan. Mungkin. :)
Mungkin saja. Karena dalam Mahayana seorang Bodhisatva memiliki iklar.
Tapi satu yang masih saya pertanyakan. Apakah Nirvana itu bisa ditunda tunda ?
Jika Nirvana itu suatu tempat , surga, atau alam mungkin bisa ditunda untuk PERGI ke sana. Tapi Nirvana bukan tempat.
Jika Nirvana adalah suatu keadaan batin yang sadar, apakah keadaan batin tersebut bisa ditunda ? Untuk menjadi sadar tentunya kita memerlukan proses dan langkah tertentu. Bukankah dengan adanya niat menunda tentunya ada langkah tertentu di dalam “mencapai” kesadaran yang dihilangkan atau tidak dikerjakan. Contoh : kita makan cabe, apakah kita bisa menunda rasa pedas cabe itu ? Untuk menunda rasa pedas itu berarti mungkin satu-satu caranya adalah menunda makan cabe.
Gimana menurut teman-teman ?
( OTT ngak ya ? )
langitbiru
May 04, 2004, 04:42
huehehe... cuman bisa bilang... mungkin perumpamaannya tdk spt makan cabe :hehe
aku kira semakin tinggi tingkat spiritualnya, semakin sadar pd tiap saat (sepersekian juta detik.. maybe), jd ketika sadar akan memasuki nibbana, mrk msh mungkin untuk menundanya... (ini mungkin lohhh... blm sampe nibbana sih ;D )
Originally posted by langitbiru
aku kira semakin tinggi tingkat spiritualnya, semakin sadar pd tiap saat (sepersekian juta detik.. maybe), jd ketika sadar akan memasuki nibbana, mrk msh mungkin untuk menundanya... (ini mungkin lohhh... blm sampe nibbana sih ;D )
Tapi bagaimana cara menundanya , CLB ? Apakah dengan cara tetap memiliki pikiran yang terikat (melekat) ?
Saya ingin membahas arti dari menjadi seorang bodhisattva. Dan juga meluruskan arti dari 'bangun/kesadaran' yg sebelumnya saya maksudkan.
Ketika kita berbicara tentang bodhisattva, kita sering mengaitkan dengan gambaran patung budha atau foto seorang bodhisattva. Banyak orang yg mengartikan bodhisattva sebagai dewa/dewi yg setelah mengalami pencerahan memiliki ilmu sakti yg dapat menurunkan hujan atau menghentikan badai. Sebenarnya arti bodhisattva lebih dari itu. Bodhisattva sebenarnya disini dapat diartikan ‘seorang yg memiliki belas kasih.’
Kita bisa menjadi seorang bodhisattva bila kita memiliki komitmen untuk ‘mencari jalan Budha' dan mengenalkan ajaran budha. Seorang bodhisattva menjembatani manusia dari lautan sensara. Bagaimana seorang budha mendapatkan pencerahan? karena cinta kasih dan kemurahan hati kepada setiap makhluk hidup. Dua kata yg mejabarkan karakter seorang bodhisattva adalah tidak mempunyai rasa egois dan kemurahan hati. Dengan dua karakter ini akan terbentuk kebijaksanaan diri.
Bodhisattva berasal dari kata Sanskrit ‘bodhi’ yg berarti pencerahan dan ‘sattva’ yg berarti ‘mahkluk hidup’. Bila kita gabung mengartikan ‘seorang individu/manusia yg menemukan ‘kebenaran/ mencapai kesadaran’. Pertama2 adalah komitment atau dedikasi untuk mencari jalan ‘kebenaran’ ini. Seorang bodhisattva adalah seseorang yg menemukan jalan ini.
Di dalam sutra di jelaskan bahwa belas kasih adalah landasan dari dharma. Belas kasih ini menjadi landasan bagi seorang bodhisattva untuk menyelamatkan manusia dari kesengsaraan dunia. Cinta kasih juga menjadi sumber energi bagi seorang bodhisattva .Ini bisa dilambangkan sebagai sinar matahari yg menyinari kehidupan. Contoh dari belas kasih ini misalnya cinta kasih dari Avalokitesvara Bodhisattva (Dewi Quan Yin). Dengan welas kasih nya, avalokitesvara bodhisattva membuat 12 sumpah untuk menolong semua mahkluk hidup melewati lautan sengsara. Ketika manusia mengalami kesulitan dan meminta pertolongan nya ia akan menjelma wujudnya dan membantu kita. Ia bisa menjelma menjadi manusia. Kebesaran dan kemampuan ini dimiliki seorang bodhisattva karena cinta kasih dan welas kasih seorang bodhisattva.Rasa cinta kasih akan melahirkan rasa pengorbanan, pengorbanan kepada sesama mahkluk hidup. Dalam hati seorang bodhisattva tidak ada ‘diri’, hanya ‘kita’ semua makhluk hidup.Karena alasan rasa cinta kasih ini juga, bodhisattva mengorbankan dirinya untuk lahir kembali ke dunia untuk membantu dan membawa manusia ke jalan yg benar. Seorang bodhisattva dapat mengambil sumpah untuk menolong manusia lain atas landasan ini dan dilahirkan ke dunia.
Ketika mengajarkan kepada umatnya, Budha menggunakan kata’nirvana’ sebagai gambaran dari ‘kebebasan’. Sebelumnya saya mengartikan nirvana sebagai 'kesadaran' karena kesadaran itu bersifat bebas jadi kita memiliki pilihan. Memang sangat sulit mengibaratkannya. Kalau seumpamanya kita mengibaratkan cabai; kita sadar bahwa cabai itu pedas, maka kesadaran itu akan menolong kita untuk tidak menelan cabai. Kesadaran mengatakan bahwa cabai itu pedas maka kita akan memiliki pilihan untuk makan atau tidak. Kita tidak harus menunda, karena kita memiliki kebebasan itu. Atau bisa saja kalo kita mau menunda karena alas an kuat dari ‘kesadaran kita’ untuk menundanya.
Yg pasti ‘kesadaran’ itu akan menjadi fondasi yg kuat bagi kita…...seorang yg belajar menjadi seorang bodhisattva…...
Mohon maaf bila ada kata2 yg salah.
Senyum :)
May 04, 2004, 11:50
Hyper : Siapa yang memastikan nirvana itu nama keadaan batin doank ? Ngga sesederhana itu kawan... btw kalo belum sampai ke 'keadaan' itu ngapain berteori ttg itu, kan ?
Nah sekarang kalo ngga perlu berteori ttg sesuatu yg belum kita alami, ngapain musingin bodhisatva itu sapa atau apa atau kenapa... mending senyum2 aja ama gwe, lebih seneng... :):):):):) :D
langitbiru
May 04, 2004, 13:41
Originally posted by hyper
Tapi bagaimana cara menundanya , CLB ? Apakah dengan cara tetap memiliki pikiran yang terikat (melekat) ?
mungkin... (ini cuman dugaan loh). pikiran terikat/melekat yg positif tentunya, krn di sini melekat pd cinta kasih pd semua mahkluk, pd pikiran yg tdk melekat pd ego... ;D
langitbiru
May 04, 2004, 13:46
Rick7 : setuju kurang lbh ama pendpt kamu (blm punya pengalaman nibbana sih) :D
asal : woii.. ati2 .. senyum2 nanti dianggap g*** loh.. :D
salam
nyampe sana [gw kan disini :p] , trus balik lagi buat ngerumpiin ada paan
Originally posted by Rick7
………..Ketika mengajarkan kepada umatnya, Budha menggunakan kata’nirvana’ sebagai gambaran dari ‘kebebasan’. Sebelumnya saya mengartikan nirvana sebagai 'kesadaran' karena kesadaran itu bersifat bebas jadi kita memiliki pilihan. Memang sangat sulit mengibaratkannya. Kalau seumpamanya kita mengibaratkan cabai; kita sadar bahwa cabai itu pedas, maka kesadaran itu akan menolong kita untuk tidak menelan cabai. Kesadaran mengatakan bahwa cabai itu pedas maka kita akan memiliki pilihan untuk makan atau tidak. Kita tidak harus menunda, karena kita memiliki kebebasan itu. Atau bisa saja kalo kita mau menunda karena alasan kuat dari ‘kesadaran kita’ untuk menundanya.
Yg pasti ‘kesadaran’ itu akan menjadi fondasi yg kuat bagi kita…...seorang yg belajar menjadi seorang bodhisattva…...
Ok. Pertama kita garis bawahi bahwa kita membahas mengenai Nirvana dalam konteks “state of mind”
Inti yang dimaksud dari Rick7 adalah kesadaran merupakan pondasi dan penentu. Saya setuju. Tapi, (ada tapinya nih..:D) jika kita menganalogikan Nirvana dengan rasa pedas yang di”hasilkan” dari makan cabe, cabe sebagi objek(perbuatan) yang dimakan (dilakukan) dan kesadaran kita yang menentukan kita makan cabe atau tidak. Jika kita tidak mau pedas maka kita tidak melakukan hal berupa memakan cabe. Pertanyaannya objek apa atau perbuatan apa atau hal apa yang tidak dilakukan seorang bodhisattva sehingga ia dapat menunda/tertunda Nirvana ?
Dikatakan Nirvana adalah “state of mind” yang digambarkan sebagai ‘kebebasan’, padamnya napsu keinginan rendah secara total, dan kadangkala disebut sebagai pencerahan sempurna. Bukankah dengan menunda Nirvana berarti seorang bodhisattva menolak/menunda ‘kebebasan’, menunda padamnya napsu keinginan rendah secara total, dan menunda pencerahan sempurna ? Dengan kata lain bukankah dengan demikian dalam diri seorang bodhisattva masih ada ‘ketidakbebasan’, masih ada sedikit napsu keiinginan rendah, dan belum tercerahkan secara sempurna ?
Originally posted by asal
Hyper : Siapa yang memastikan nirvana itu nama keadaan batin doank ? Ngga sesederhana itu kawan...
Tentu saja tidak ada yang mengatakan bahwa Nirvana itu keadaan batin doank , dan saya pun tidak mengatakan demikian, my pren :D (btw, dari mana my pren tahu bahwa tidak sesederhana itu ? :D )
btw kalo belum sampai ke 'keadaan' itu ngapain berteori ttg itu, kan ?
Nah sekarang kalo ngga perlu berteori ttg sesuatu yg belum kita alami, ngapain musingin bodhisatva itu sapa atau apa atau kenapa... mending senyum2 aja ama gwe, lebih seneng... :):):):):) :D
Welll….sometime kita perlu mengenal sesuatu dengan kata-kata sehingga dapat mengambil manfaat dari hal itu seperti : mendapatkan pengertian dan semangat untuk lebih maju dan lebih baik. Misalnya kita melihat orang mati ketabrak kereta, kepala dan kakinya pisah (kepala sama kaki memang pisah :P ), kita dengan perasaan ngilu berkata “aduh pasti sakit sekali !” dan akhirnya kita selalu berhati-hati menyeberang rel kereta. Apakah rasa sakit dari orang yang ketabrak kereta dapat dirasakan sama dengan kita yang hanya melihatnya dan berkata “aduh pasti sakit sekali !“ ? Tidak kan . Tapi kita tetap bisa membayangkan, melukiskan, betapa sakitnya orang yang ketabrak kereta sehingga ogah untuk menabrakkan diri ke kereta yang lagi jalan. Wajar ngak sih ?
Begitu juga Nirvana. Kita sah-sah saja membicarakannya, menggambarkannya walaupun memang tidak sama dengan kenyataannya. Dengan membicarakannya kita mendapat sedikit pengertian dan semangat untuk mewujudkannya. Dan sekali lagi memang terbatas sekali, tapi bukan berarti kita kemudian menjadi tabu untuk berbicara mengenainya.
Dan my pren mengajak senyum. Aku sih Ok-Ok aja :D tapi bukankah lebih indah jika senyum itu ada di pikiran kita ? :) :) :D
(CMIIW)
Cinta kasih sejati
Mungkin ada baiknya saya jelaskan arti dari ‘cinta kasih’ terlebih dahulu, karena menurut saya cinta kasih ini adalah landasan yg besar dari seorang menjadi bodhisattva.
Cinta kasih yg dimaksudkan ini bukan cinta kasih seperti mencintai orang tua, adik, kakak ataupun teman, tetapi cinta kepada semua makhluk hidup dengan keinginan untuk menyingkirkan penderitaan dan memberi kebahagian hidup kepada semua makhluk. Cinta kasih ini timbul dari keinginan/kesadaran untuk bebas dari pengalaman penderitaan, ini disebut ‘cinta kasih sejati’. Biasanya orang akan timbul perasaan kasihan melihat penderitaan orang lain, dan seketika timbul perasaan untuk ingin membebaskan penderitaan tersebut. Melihat orang yg miskin kelaparan dijalan, dan dalam hati kita akan timbul rasa kasihan yg kemudian menggerakkan hati kita untuk meringankan penderitaan orang itu. Kadang juga rasa kasihan yg timbul melihat orang yg mempunyai banyak harta tetapi hidup nya hancur, keluarga nya berantakan. Dalam hati kita juga timbul perasaan kasihan. Kedua contoh ini membuat sanubari kita berpikir apakah ada kebahagian sejati di dalam dunia ini? Orang kaya hidup berkecukupan tetapi tidak bahagia, orang miskin hidup kekurangan juga tidak bahagia. Penderitaan pada dasarnya memiliki banyak bentuk, tapi yg pasti keinginan paling penting bagi setiap orang adalah sama yaitu mencapai kebahagian. Bagaimana untuk mencapai kebahagian ini? Seorang bodhisattva telah menemukan jawaban ini. Atas kesadaran ini mereka menginginkan agar semua makhluk hidup dapat membebaskan diri dari penderitaan. Keinginan untuk ‘bebas’ ini yg saya maksudkan. Seorang bodhisatta menyadari bahwa kebahagian dapat dicapai melalui pengorbanan duniawi; seorang bodhisattva juga menyadari bahwa hidup ini hanya sementara dan mereka telah menemukan kebahagian sejati.
Ada banyak metode untuk membebaskan penderitaan makhluk hidup. Menurut ajaran Buddha kebahagiaan dan sumber dari kebahagiaan berasal dari dalam‘hati’, maka kita harus mengerti bagaimana membangun kebahagian dalam hati kita. Keinginan hati untuk membebaskan mahkluk lain dari penderitaan dan menanam akar kebahagian inilah yg yg dikenal dengan istilah ‘bodhicitta’ yg kemudian menjadi jalan bagi seorang bodhisattva.
Kesadaran hati
Hyper quotes: Dikatakan Nirvana adalah “state of mind” yang digambarkan sebagai ‘kebebasan’, padamnya napsu keinginan rendah secara total, dan kadangkala disebut sebagai pencerahan sempurna. Bukankah dengan menunda Nirvana berarti seorang bodhisattva menolak/menunda ‘kebebasan’, menunda padamnya napsu keinginan rendah secara total, dan menunda pencerahan sempurna ? Dengan kata lain bukankah dengan demikian dalam diri seorang bodhisattva masih ada ‘ketidakbebasan’, masih ada sedikit napsu keiinginan rendah, dan belum tercerahkan secara sempurna ?
Ketika bersumpah seorang bodhisattva tidak berarti menunda nirvana, karena ketika mengalami pencerahan seorang bodhisattva telah/ sudah sampai kepada stage of ‘nirvana’ ini. Tetapi atas landasan cinta kasih yg besar dengan mengesampingkan keinginan/ kemauan diri dgn menghilangkan rasa egois diri maupun keyakinan dan keinginan yg betul2 murni bahwa ia akan lahir kembali ke dunia ini untuk menyelamatkan mahkluk di dunia. Menunda ‘kebebasan’ berbeda pengertian dengan mencapai ‘kebebasan’. Maka pertama kali saya kurang begitu setuju dengan kata ‘menunda’. Karena menunda berarti masih memiliki keterikatan akan sesuatu/ pikiran yg menginginkan sesuatu. Seperti menunda pergi yg memiliki arti tidak pergi tapi akan pergi dan ini akan dilakukan suatu waktu. Mencapai kebebasan ini yg saya maksudkan adalah melepaskan diri dari keterikatan atau ‘kesadaran hati’. Seorang bodhisattva contohnya Avalokitesvara bodhisattva (Dewi Quan Yin). Mungkin ada yg tahu berapa kali Dewi Quan yin lahir kembali (reincarnate) di dunia ini?
Maaf Hyper bila saya tidak memakai contoh ‘makan cabai’ lagi, karena memang sulit untuk mengistilahkannya. Bagaimanapun seseorang sebelum mencapai pencerahan sempurna harus bebas dari segala nafsu. Keinginan bodhisattva untuk kembali dilahirkan ke dunia adalah bagian dari keinginan mereka berlandaskan sifat ‘tidak mementingkan diri sendiri’.
Avalokitesvara Bodhisattva terkenal dengan tekad cinta kasih nya yg besar. Dewi Quan Yin bersumpah untuk dilahirkan kembali ke dunia atas keinginannya membebaskan penderitaan makhluk di dunia dan Keinginan yg murni ini yg menjadi dasar alasan yg kuat bagi nya untuk dilahirkan di dunia. Bagi manusia biasa, dilahirkan di dunia mereka tidak mempunyai kebebasan untuk memilih. Bagi seorang bodhisattva mereka memiliki pilihan, pilihan untuk dilahirkan oleh keluarga mana, tanggal berapa, tempat dimana, dan sebagainya. Bagi manusia yg memiliki nasib/takdir akibat perbuatan baik hidup sebelumnya akan memiliki ‘kecepatan’ dalam mengetahui ‘kesadaran’ ini karena mereka sebelumnya telah mengalami ‘tahap pencerahan’ ini.
Bagi kita yg masih dalam tahap belajar menjadi seorang bodhisattva, ada baiknya untuk mulai dari perbuatan awal seperti membantu/ menolong semua mahkluk hidup entah teman, maupun musuh, orang dikenal maupun tidak dikenal, orang yg baik maupun yg jahat kepada kita, tanpa membeda bedakan ras/suku bangsa, mencintai makhluk hidup yg bergerak maupun tidak bergerak.’kesadaran’ hati ini akan menjadi landasan yg utama untuk menjadi seorang bodhisattva….seperti bodhisattva yg welas asih Dewi Quan Yin…
Mohon maaf bila ada kata2 yg salah dan tidak berkenan di hati.
Originally posted by hyper
....... Kita sah-sah saja membicarakannya, menggambarkannya walaupun memang tidak sama dengan kenyataannya. Dengan membicarakannya kita mendapat sedikit pengertian dan semangat untuk mewujudkannya. Dan sekali lagi memang terbatas sekali, tapi bukan berarti kita kemudian menjadi tabu untuk berbicara mengenainya.
(CMIIW)
setuju sekali
Senyum :)
May 05, 2004, 13:22
Originally posted by hyper
Tentu saja tidak ada yang mengatakan bahwa Nirvana itu keadaan batin doank , dan saya pun tidak mengatakan demikian, my pren :D (btw, dari mana my pren tahu bahwa tidak sesederhana itu ? :D )
RHS :D
Begitu juga Nirvana. Kita sah-sah saja membicarakannya, menggambarkannya walaupun memang tidak sama dengan kenyataannya. Dengan membicarakannya kita mendapat sedikit pengertian dan semangat untuk mewujudkannya. Dan sekali lagi memang terbatas sekali, tapi bukan berarti kita kemudian menjadi tabu untuk berbicara mengenainya.
Dan my pren mengajak senyum. Aku sih Ok-Ok aja :D tapi bukankah lebih indah jika senyum itu ada di pikiran kita ? :) :) :D
(CMIIW)
Lebih baik sih senyum dari hati :D :D :D :D :D
Pengertian apa yg didapet tanpa kesadaran ? Sampai kapan bisa ngerti ? Misalnya gwe punya 1000 teori ttg nirvana, apa itu berguna ? Kalo nurut gwe sih mending "jalan" dulu sampe sono.. ntar alami sendiri, tau sendiri... kan beres. CMIIW
aznjecht
May 08, 2004, 05:44
Menurut gw, nirvana merupakan state of non-dualism or emptiness. Maksudnya emptiness ini adalah absolute. Emptiness di sini bukan "kekosongan" sebagai sesuatu (ex:hole inside a cup). Kekosongannya adalah mutlak, tidak terpengaruh pada apapun.
Bodhisattvas menolak nirvana karena mereka masih memiliki kasih untuk menyelamatkan manusia. Jika mereka menerima nirvana maka mereka dengan sendirinya adalah kekosongan mutlak itu sendiri.
Dalam lotus sutta tercantum bahwa Bodhisattva Avalokitesvara akan menjadi apa saja untuk membabarkan dharma. (ex: Ia akan menjadi bentuk seorang Buddha, atau Setan atau Dewa, dll)
Jadi menurut saya (pribadi loh) Buddha Sakyamuni merupakan penjelmaan dari Bodhisattva juga, sebab Buddha yang sebenarnya sudah mencapai nirvana.
Nah, kalo ada kata2 yang salah mohon dimaafkan
aznjecht
May 08, 2004, 06:05
Correction: Bodhisattvas memiliki kasih untuk menyelamatkan tidak hanya manusia tetapi semua makhluk yang masih menjadi object tumimbal lahir seperti Hell-Dwellers, Beasts, etc
Senyum :)
May 08, 2004, 11:59
kasih atau ikatan ? (no offence yah ? cuman nanya :D)
Emang kasih perlu alasan ?
iching
May 11, 2004, 14:55
Saya rasa masih yang banyak terjebak dengan kata "menunda" ya. Trus, kayaknya Yose sendiri masih belum menanggapi jawaban dari temen2 juga ya, tapi saya juga pengen coba memberi jawaban, semoga memberi tanggapan nya ya.
Dalam Buddhis Mahayana, sebenarnya arti kata para bodhisatva menunda nirvana itu tidak boleh kita mengartikannya secara mentah2. Itu hanya sebuah kiasan saja.
Menurut Buddhis Mahayana, Pencapaian tingkatan tertinggi dari makhluk hidup adalah menjadi seorang Samyaksambuddha.
Untuk menjadi seorang Buddha, ada 52 tahap jalan Bodhisatva yang harus dijalankan makhluk tsb. Setelah mencapai tahap Bhumi ke 7 (atau tahap ke 47), Sang Bodhisatava baru benar2 telah terbebas dari Tumimbal lahir. Tahap ini Sama dengan tingkatan dari seorang arahat. Di tahap ini lah istilah "menunda nirvana" diangkat kepermukaan, yang sebenarnya hanya untuk membedakannya dengan seorang Arahat. Mengapa ? Karena ditahap ini , Arahat ibarat telah selesai mencapai apa yang dicita2kan dan merealisasi nirvana, sedangkan Bodhisatva tidak akan berhenti hanya karena telah merealisasi nirvana karena sesuai dengan tekad nya yakni masih harus mengejar tingkatan lebih tinggi - Samyaksambuddha. Jadi sebenarnya bukan "menunda" mencapai nirvana , tapi sebaliknya malahan telah dicapainya. Hanya saja bodhisatva belum selesai menjalani tekadnya, maka seolah2 terkesan bahwa beliau belum mau mencapai nirvana. Karena dari sudut pandang cita cita ke- Arahat-an , nirvana itu merupakan garis akhir dari sebuah perjuangan. Jika telah mencapai garis akhir, apa lagi yang masih harus dilakukan? Namun itulah yang namanya bodhisatva , justru garis akhir bagi seorang arahat itulah sebenarnya merupakan sebuah garis awal bagi bodhisatva sebagai perjuangan yang sesungguhnya, disinilah peran bodhisatva semakin nyata dalam usaha menyelamatkan para makhluk yang menderita, disini sebagai tahap Bhumi ke 7 , bodhisatva akan menjalani misinya untuk mencapai lagi ke tahap ke 8, 9, 10 , 11 dan akhirnya baru mencapai Samyaksambuddha.
Bersambung...
selama lingkungan tetangga kita pada kotor, kaya gotnya macet , kesumpet , pada jorok2 tetangganya ... maka rumah kita akan sulit menjadi bersih , sulit bukan berarti ngak bisa :)
nah dari pada kita milih rumah kita ajah yang paling bersih mendingan kita ngebantu lingkungan kita ajah , bersihin got rame2 ... ajak kerja bakti ,dst ...
nah klo lingkungan bersih , rumah kita ikut bersih .... :)
arsydiatasair
May 12, 2004, 09:29
salam kenal.
Yoserunami
May 28, 2004, 17:49
hmmm!! jawaban IChing menarik sekali .. kalau boleh gue tahu, sumbernya dari mana? mantep juga ada level bhumi 47 segala, hehehe ... pengin belajar langsung dari original literature nya, soalnya gue masih bener2 beginner in buddhism ...
btw sorry kalo reply nya telat ... kebiasaan kalo di forum2 laen biasanya ada automatic reminder ke email kalo ada reply di forum, tapi rupanya webgaul punya ga jalan?? soalnya gua ga pernah dapet notification kalo ada yang nge post .. or did i do the setup wrong?
many thanks to everyone who's contributed ^_^
iching
May 29, 2004, 13:15
Jalan Bodhisatva dibagi atas 52 tingkatan, terdapat pada berbagai sutra Mahayana, seperti : Avatamsaka Sutra, bagian DasaBhumika varga. 52 tingkat bodhisatva itu terbagi atas:
1. 10 shing (bhs.mandarin, maaf bhs. sanskritnya gak tau..)
2. 10 zhu
3. 10 xing
4. 10 huixiang
5. 10 di (tingkatan ini disebut DasaBhumi), sepadan dengan tingkatan yang dimulai dari 40. 10 Bhumi ini terdiri dari :
1. Tingkat Pramudhita
2. tingkat Vimala
3. tingkat Prabhakari
4. tingkat Arcismati
5. tingkat Sudurjaya
6. tingkat Abhimukhi
7. tingkat Durangama
8. tingkat Acala
9. tingkat Sadhumati
10. tingkat Dharmamegha
6. 1 tingkat DengJue
7. 1 tingkat MiaoJue --> tingkat menjadi Buddha.
Total 52 tingkat.
Avatamsaka Sutra bag. DasaBhumika secara khusus membahas 10 tingkat terakhir ini.
Seorang bodhisatva menapaki tahapan tersebut satu persatu, hingga mencapai keBuddhaan, dan karena masih harus melalui tingkatan2 tsb, maka berarti seorang Bodhisatva juga masih belum sempurna. Bodhisatva Maitreya adalah contoh bodhisatva yang telah mencapai tingkatan DengJue.
Originally posted by Rick7
Ketika bersumpah seorang bodhisattva tidak berarti menunda nirvana, karena ketika mengalami pencerahan seorang bodhisattva telah/ sudah sampai kepada stage of ‘nirvana’ ini. Tetapi atas landasan cinta kasih yg besar dengan mengesampingkan keinginan/ kemauan diri dgn menghilangkan rasa egois diri maupun keyakinan dan keinginan yg betul2 murni bahwa ia akan lahir kembali ke dunia ini untuk menyelamatkan mahkluk di dunia. Menunda ‘kebebasan’ berbeda pengertian dengan mencapai ‘kebebasan’. Maka pertama kali saya kurang begitu setuju dengan kata ‘menunda’. Karena menunda berarti masih memiliki keterikatan akan sesuatu/ pikiran yg menginginkan sesuatu. Seperti menunda pergi yg memiliki arti tidak pergi tapi akan pergi dan ini akan dilakukan suatu waktu. Mencapai kebebasan ini yg saya maksudkan adalah melepaskan diri dari keterikatan atau ‘kesadaran hati’. Seorang bodhisattva contohnya Avalokitesvara bodhisattva (Dewi Quan Yin). Mungkin ada yg tahu berapa kali Dewi Quan yin lahir kembali (reincarnate) di dunia ini?
Dari komen Sdr. Rick7, bisa dikatakan bahwa seorang Bodhisattva belum “mencapai” Nirvana mutlak (Maha Parinibbana) sehingga masih dilahirkan kembali, tetapi sudah mencapai “satate of mind”, apakah demikian ?
Untuk di kritisi. Kita tahu bahwa untuk mencapai “state of mind” Nirvana perlu usaha tertentu. Pertanyaannya, apakah sama “satate of mind” yang digapai oleh seorang Bodhisattva dengan seorang Buddha, mengingat kedudukan seorang Buddha di atas seorang Bodhisattva ?
Dan juga untuk di kritisi, sama dengan pertanyaan Sdr. Asal, landasan dasar seorang Bodhisatta untuk menunda Maha Parinivarna, apakah kasih, keterikatan atau keterikatan yang terbentuk dari kasih ?
Originally posted by iching
Dalam Buddhis Mahayana, sebenarnya arti kata para bodhisatva menunda nirvana itu tidak boleh kita mengartikannya secara mentah2. Itu hanya sebuah kiasan saja.
Menurut Buddhis Mahayana, Pencapaian tingkatan tertinggi dari makhluk hidup adalah menjadi seorang Samyaksambuddha.
Untuk menjadi seorang Buddha, ada 52 tahap jalan Bodhisatva yang harus dijalankan makhluk tsb. Setelah mencapai tahap Bhumi ke 7 (atau tahap ke 47), Sang Bodhisatava baru benar2 telah terbebas dari Tumimbal lahir. Tahap ini Sama dengan tingkatan dari seorang arahat. Di tahap ini lah istilah "menunda nirvana" diangkat kepermukaan, yang sebenarnya hanya untuk membedakannya dengan seorang Arahat. Mengapa ? Karena ditahap ini , Arahat ibarat telah selesai mencapai apa yang dicita2kan dan merealisasi nirvana, sedangkan Bodhisatva tidak akan berhenti hanya karena telah merealisasi nirvana karena sesuai dengan tekad nya yakni masih harus mengejar tingkatan lebih tinggi - Samyaksambuddha. Jadi sebenarnya bukan "menunda" mencapai nirvana , tapi sebaliknya malahan telah dicapainya. Hanya saja bodhisatva belum selesai menjalani tekadnya, maka seolah2 terkesan bahwa beliau belum mau mencapai nirvana. Karena dari sudut pandang cita cita ke- Arahat-an , nirvana itu merupakan garis akhir dari sebuah perjuangan. Jika telah mencapai garis akhir, apa lagi yang masih harus dilakukan? Namun itulah yang namanya bodhisatva , justru garis akhir bagi seorang arahat itulah sebenarnya merupakan sebuah garis awal bagi bodhisatva sebagai perjuangan yang sesungguhnya, disinilah peran bodhisatva semakin nyata dalam usaha menyelamatkan para makhluk yang menderita, disini sebagai tahap Bhumi ke 7 , bodhisatva akan menjalani misinya untuk mencapai lagi ke tahap ke 8, 9, 10 , 11 dan akhirnya baru mencapai Samyaksambuddha.
Bersambung...
Sepertinya rekan Iching perlu memperjelas yang dimaksud dengan Nirvana di sini apa, karena dalam pemikiran saya ada 2 Nirvana, yaitu state of mind (kondisi batin/pikiran) dan maha parinivarna (kemangkatan mutlak).
Jika yang dimaksud adalah state of mind (kondisi batin/pikiran), pertanyaannya: apakah ada state of mind yang lebih tinggi dari Nirvana, sehingga anda mengatakan bahwa Nirvana adalah awal dari perjuangan seorang bodhisattva ? Jika ya, apa itu ?
Kemudian, dikatakan awal perjuangan tentu ada akhirnya dan tentunya antara pengapaian di awal perjuangan tentu ada perbedaan dengan hasil akhir yang digapai. Dari bodhisattva menjadi Samyaksambuddha tentu ada perbedaan. Pertanyaannya, apakah berbeda “state of mind” (Nirvana) seorang bodhisattava dengan “state of mind” seorang Samyaksambuddha ?
Untuk sementara itu dulu pertanyaannya :)
andisuwito
May 31, 2004, 03:00
Nibbana adalah sesuatu yang tidak bisa digambarkan. Boleh saja kita mengungkapkan segala teori-teori kita, tapi bukankah lebih baik kita lihat, alami, dan rasakan sendiri bagaimana Nibbana itu apabila kita telah mencapainya. Misalkan kita melihat teman kita sedang makan permen,kata teman kita bahwa rasanya enak sekali. Kita hanya tau bahwa permen itu enak,tapi enak yang bagimana kita tidak tau dan tidak dapat kita gambarkan. Tapi apabila kita coba minta permen itu,lalu memakannya sendiri,lalu kita rasakan bagaimana enaknya permen itu,baru kita tahu,oooo...gini toh enaknya permen itu.
Begitu pula nibbana... rasakan sendiri dengan pengalaman pribadi sendiri. Tiada sesuatu mahkluk apapun yang dapat membuat kita merasakannya kecuali pengalaman spiritual kita sendiri. Maka daripada itu Sang Bhagava berkata kepada kita untuk selalu :
"Sanditthiko, Akaliko, Ehipassiko, Opanayiko, paccatang veditabbo vinnuhi 'ti yang artinya = Bagi siapa saja dipersilahkan untuk memeriksa, meneliti, menyelami dan mempraktekkan (Ehipassiko),Jangan hanya percaya begitu saja (percaya buta)."
(Dhammanussati, Bait1).
Trims
Namo Buddhaya
Originally posted by aznjecht
Menurut gw, nirvana merupakan state of non-dualism or emptiness. Maksudnya emptiness ini adalah absolute. Emptiness di sini bukan "kekosongan" sebagai sesuatu (ex:hole inside a cup). Kekosongannya adalah mutlak, tidak terpengaruh pada apapun.
Betul bahwa nirvana merupakan state of non-dualism or emptiness. Tapi sepertinya mungkin kita tidak perlu seakan-akan menolak emptiness itu adalah kekosongan dengan tanda kutip, karena memang emptiness itu kekosongan .
Bodhisattvas menolak nirvana karena mereka masih memiliki kasih untuk menyelamatkan manusia. Jika mereka menerima nirvana maka mereka dengan sendirinya adalah kekosongan mutlak itu sendiri.
Ok. Yang dimaksud nirvana oleh Az di ini adalah kekosongan (maha parinivarna). Pertanyaannya :Siapa yang memiliki lebih besar kasihnya, seorang bodhisattva atau seorang samyak sambuddha yang diakhir hidupnya “mencapai” Nirvana Mutlak / parinirvana (kekosongan) ?
Dalam lotus sutta tercantum bahwa Bodhisattva Avalokitesvara akan menjadi apa saja untuk membabarkan dharma. (ex: Ia akan menjadi bentuk seorang Buddha, atau Setan atau Dewa, dll)
Sekedar untuk mengkritisi. Pertama. Apakah seorang bodhisattva dapat menjadi seorang Buddha bahkan samyaksambuddha untuk membabarkan dhamma ? Apakah kualitas ajarannya bodhisattva tersebut akan sama dengan seorang Buddha atau Samyaksambuddha sendiri yang mengajar ?
Jadi menurut saya (pribadi loh) Buddha Sakyamuni merupakan penjelmaan dari Bodhisattva juga, sebab Buddha yang sebenarnya sudah mencapai nirvana.
Dalam banyak sutra, sering kita baca Buddha Sakyamuni sedang membabarkan, mengajarkan dhamma yang dihadiri oleh banyak siswanya, para bhikkhu/ni, para dewa, garuda, bahkan para bodhisattva. Nah, jika Buddha Sakyamuni sesungguhnya adalah seorang bodhisattva, maka kembali pertanyaan awal , Apakah kualitas ajarannya bodhisattva tersebut akan sama dengan seorang Buddha atau Samyaksambuddha sendiri yang mengajar ? Bukankah dengan demikian sama saja bodhisattva mengajar bodhisattva ?
Demikian. :)
iching
May 31, 2004, 16:48
Sepertinya rekan Iching perlu memperjelas yang dimaksud dengan Nirvana di sini apa, karena dalam pemikiran saya ada 2 Nirvana, yaitu state of mind (kondisi batin/pikiran) dan maha parinivarna (kemangkatan mutlak).
Saya pribadi mengenal konsep nirvana dari kitab suci. Saya sendiri tidak sanggup menjelaskannya dari sudut pandang saya, karena saya belum mencapainya. Tapi saya melihat nirvana sebagai sebuah tujuan yang mutlak dari sisi kehidupan yang menderita ini. Di sinilah mengapa saya mengagumi sang Buddha , karena beliau telah menjelaskannya dengan baik sekali.
Buddha menjelaskan sifat dari nirvana sbb: "Para bhikkhu, terdapat kedaaan di mana tidak ada tanah, tidak ada air, api, dan udara; bukan alam yang tak terbatas atau yang berkesadaran tak terbatas, atau yang kosong, atau bukan alam dari pencerapan maupun bukan pencerapan, bukan dunia ini atau dunia lain, ataupun dua duanya; tidak ada matahari atau rembulan. Para bhikkhu, ini Aku katakan tidak ada kedatangan karena kelahiran, tidak ada kepergian karena kematian, bebas dari waktu dan kelapukan, tak ada awal atau pembentukan, tak ada hasil, tak ada sebab; Inilah sesungguhnya akhir dari penderitaan"
Nirvana memiliki 2 aspek, yaitu Nirvana yang dicapai Arahat sewaktu masih hidup, yang disebut sebagai nirvana dengan sisa(saupadisesa), dan nirvana yang dicapai oleh arahat setelah meninggal dunia, yang disebut nirvana tanpa sisa (anupadisesa).
Nirvana dengan sisa, oleh sang Buddha dijelaskan sbb "Dalam hal ini, seorang bhikkhu adalah Arahat, orang yang telah melenyapkan semua noda, yang telah menyempurnakan kehidupan sucinya, yang telah melakukan apa yang harus dilakukan, tidak lagi menanggung beban, telah mencapai tujuan, menghancurkan belenggu2 penjelmaan dan sepenuhnya terbebas melalui pengetahuan yang sempurna. Dalam dirinya kelima indra tetap berfungsi, dan dengan indra itu, karena belum meninggal dunia, dia masih mengalami apa yang menyenangkan dan tidak menyenangkan, merasakan kenikmatan dan penderitaan. Hilangnya hawa nafsu, kebencian dan kegelapan batin di dalam dirinya itulah yang disebut sebagai aspek Nirvana dengan sisa. (It. 38)
"Apakah aspek nirvana tanpa sisa? Dalam hal ini seorang bhikkhu adalah arahat, orang yang telah melenyapkan semua noda,....terbebas melalui pengetahuan yang sempurna. Para bhikkhu, semua pengalamannya tak satu pun menarik lagi baginya, akan menjadi padam sendiri. Itulah yang disebut aspek nirvana tanpa sisa" (It 38).
Jika yang dimaksud adalah state of mind (kondisi batin/pikiran), pertanyaannya: apakah ada state of mind yang lebih tinggi dari Nirvana, sehingga anda mengatakan bahwa Nirvana adalah awal dari perjuangan seorang bodhisattva ? Jika ya, apa itu ?
Saya menjawab tidak ada. Dari segi kondisi batin, apa yang dicapai telah dicapai, tidak ada lagi yang lebih tinggi. Dalam sutta sering menyebut orang yang telah menjadi arahat sebagai "apa yang hendak dicapai telah dicapai, tidak ada lagi yang perlu dicari lagi " TETAPI INGAT, di sini yang dituju adalah dari aspek penghapusan noda batin saja.
OLeh sebab itulah yang membedakan Arahat dan Bodhisatva adalah Arahat mengfokuskan pencariannya hanya pada aspek Batin dirinya saja kemudian (arahat meskipun mengajarkan dharma kepada para makhluk pada masa hidupnya tetapi) setelah Tubuhnya hancur beliau pun mencapai nirvana tanpa sisa, Sedangkan bodhisatva walau SAMA seperti arahat bebas dari noda batin dan penderitaan, Namun bodhisatva masih bertekad membantu makhluk lain, dan setelah Tubuhnya hancur, Bodhisatva tidak mau mencapai nirvana yang tanpa sisa ini, nah...disinilah yang sering dikatakan bodhisatva menunda nirvana yang sebenarnya adalah menunda nirvana tanpa sisa ini. Beliau berjuang lagi meraih kekuatan yang lebih tinggi yang tidak dimiliki seorang arahat, yakni kekuatan batin yang lebih luas yang semata mata demi menyempurnakan tekadnya untuk semua makhluk hidup. (Dan itulah sebab adanya orang yang mencapai Samyaksambuddha).
Kita lihat sendiri kenyataan bahwa para arahat meskipun telah sempurna dari segi penghapusan noda batin, tetapi dari segi pengetahuan abinna, arahat masih memiliki batas batasnya. Ada arahat yang hanya mampu mengetahui 10 kehidupan lampau, ada yang mengetahui 20, 30, 100, 200 bahkan hanya 1000. Ada yang tidak memiliki kemampuan melihat sejauh 10 yojana, 100 yojana, bahkan 1000000 yojana.
Kemudian, dikatakan awal perjuangan tentu ada akhirnya dan tentunya antara pengapaian di awal perjuangan tentu ada perbedaan dengan hasil akhir yang digapai. Dari bodhisattva menjadi Samyaksambuddha tentu ada perbedaan. Pertanyaannya, apakah berbeda “state of mind” (Nirvana) seorang bodhisattava dengan “state of mind” seorang Samyaksambuddha ?
JIka state of mind yang anda maksud adalah menyangkut Nirvana saja , tidak ada perbedaan. Jika ada perbedaan, bagaimana bisa disebut NIrvana lagi???
Tetapi Jika state of mind dari pribadi seorang bodhisatva secara keseluruhan tentu berbeda dengan seorang Buddha.
Dalam sutra sering dikatakan bahwa Batin/pikiran seorang Buddha hanya dapat diketahui oleh antar para Buddha saja. Bodhisatva tingkat tertinggi sekalipun tidak dapat mengetahui batin/pikiran seorang Buddha
hyper
June 02, 2004, 04:44
Originally posted by iching
Nirvana memiliki 2 aspek, yaitu Nirvana yang dicapai Arahat sewaktu masih hidup, yang disebut sebagai nirvana dengan sisa(saupadisesa), dan nirvana yang dicapai oleh arahat setelah meninggal dunia, yang disebut nirvana tanpa sisa (anupadisesa).
Ok kita sependapat bahwa Nirvana itu ada 2 aspek saupadisesa (istilah yg saya pakai state of mind, karena batin saja yang mengalami) dan anupadisesa (istilah yg saya pakai maha paribibbana/ mangkat)
Nirvana dengan sisa, oleh sang Buddha dijelaskan sbb "Dalam hal ini, seorang bhikkhu adalah Arahat, orang yang telah melenyapkan semua noda, yang telah menyempurnakan kehidupan sucinya, yang telah melakukan apa yang harus dilakukan, tidak lagi menanggung beban, telah mencapai tujuan, menghancurkan belenggu2 penjelmaan dan sepenuhnya terbebas melalui pengetahuan yang sempurna. Dalam dirinya kelima indra tetap berfungsi, dan dengan indra itu, karena belum meninggal dunia, dia masih mengalami apa yang menyenangkan dan tidak menyenangkan, merasakan kenikmatan dan penderitaan. Hilangnya hawa nafsu, kebencian dan kegelapan batin di dalam dirinya itulah yang disebut sebagai aspek Nirvana dengan sisa. (It. 38)
Apakah seorang bodhisattva sudah menggapai Nirvana dalam aspek ini ? Apakah seorang Samyaksambuddha sudah menggapai aspek ini ? Apa bedanya Nirvana dalam aspek ini pada seorang Samyaksambuddha dengan seorang bodhisattva ? Jika seorang bodhisattva saja sudah menggapai aspek ini untuk apa ia berjuang lagi untuk menjadi Samyaksambuddha ?
Jika belum, bukankah itu berarti seorang bodhisatta dapat dikatakan belum menghilangkan kriteria-kriteria yang ada dalam aspek Nirvana saupadisesa seperti hawa napsu, kebencian, dan kegelapan batin ?
Saya menjawab tidak ada. Dari segi kondisi batin, apa yang dicapai telah dicapai, tidak ada lagi yang lebih tinggi. Dalam sutta sering menyebut orang yang telah menjadi arahat sebagai "apa yang hendak dicapai telah dicapai, tidak ada lagi yang perlu dicari lagi " TETAPI INGAT, di sini yang dituju adalah dari aspek penghapusan noda batin saja.
Jika tidak ada yang lebih tinggi, mengapa dikatakan bahwa nirvana adalah awal dari perjuangan seorang bodhisatta ?
Dan bukankah noda batin itu sendiri tidak lain adalah kondisi batin/pikiran (state of mind) itu sendiri yang masih kotor ? Jika seorang bodhisatta belum mencapai Nirvana khususnya saupadisesa bukankah ia belum menghapus noda batin ? Jika sudah, kembali lagi ke pertanyaan sebelumnya, apalagi yang perlu diperjuangkan ? Apa lagi yang hendak dicapai dari seorang bodhisatta jika seorang sammasambuddha memiliki kondisi batin yang sama dengan seorang bodhisatta ?
JIka state of mind yang anda maksud adalah menyangkut Nirvana saja , tidak ada perbedaan. Jika ada perbedaan, bagaimana bisa disebut NIrvana lagi???
Tetapi Jika state of mind dari pribadi seorang bodhisatva secara keseluruhan tentu berbeda dengan seorang Buddha.
Dalam sutra sering dikatakan bahwa Batin/pikiran seorang Buddha hanya dapat diketahui oleh antar para Buddha saja. Bodhisatva tingkat tertinggi sekalipun tidak dapat mengetahui batin/pikiran seorang Buddha
Yang saya maksud dengan state of mind bukan bagaimana seorang bodhisatta atau Buddha berpikir atau tidak sedang berpikir, tetapi kondisi pikiran/batin dari bodhisatta atau Buddha seperti bebas dari napsu, seimbang, dsb yang dihasilkan dari melengkapi paramita, dsb sehingga dapat dikategorikan mereka telah mencapai Nirvana saupadisesa.
OLeh sebab itulah yang membedakan Arahat dan Bodhisatva adalah Arahat mengfokuskan pencariannya hanya pada aspek Batin dirinya saja kemudian (arahat meskipun mengajarkan dharma kepada para makhluk pada masa hidupnya tetapi) setelah Tubuhnya hancur beliau pun mencapai nirvana tanpa sisa, Sedangkan bodhisatva walau SAMA seperti arahat bebas dari noda batin dan penderitaan, Namun bodhisatva masih bertekad membantu makhluk lain, dan setelah Tubuhnya hancur, Bodhisatva tidak mau mencapai nirvana yang tanpa sisa ini, nah...disinilah yang sering dikatakan bodhisatva menunda nirvana yang sebenarnya adalah menunda nirvana tanpa sisa ini. Beliau berjuang lagi meraih kekuatan yang lebih tinggi yang tidak dimiliki seorang arahat, yakni kekuatan batin yang lebih luas yang semata mata demi menyempurnakan tekadnya untuk semua makhluk hidup. (Dan itulah sebab adanya orang yang mencapai Samyaksambuddha).
Pertanyaannya, dapatkah nirvana anupadisesa ditunda atau istilahnya ditolak mengingat nirvana anupadisesa tidak lain adalah kemangkatan (kematian) mutlak bagi mereka yang telah mencapai nirvana saupadisesa selama hidupnya dimana mereka tidak lagi memupuk benih-benih, memutus sebab-sebab munculnya kehidupan selanjutnya ?
Bagaimana mungkin mereka yang telah mencapai Nirvana saupadisesa yang telah meleyapkan kegelapan batin , dilahirkan kembali ?
Dan yang perlu kita catat bahwa salah satu sebab kelahiran kembali adalah adanya tanha bhava (napsu keinginan untuk menjelma).
iching
June 02, 2004, 15:18
Apakah seorang bodhisattva sudah menggapai Nirvana dalam aspek ini ? Sudah ..
Apakah seorang Samyaksambuddha sudah menggapai aspek ini ? Sudah...
Apa bedanya Nirvana dalam aspek ini pada seorang Samyaksambuddha dengan seorang bodhisattva ? Tidak berbeda. Noda2 batin yang telah dilenyapkan secara total bagaikan cermin yang telah bersih dari debu, semua cermin yang telah bebas dari debu adalah sama kilatnya.
Jika seorang bodhisattva saja sudah menggapai aspek ini untuk apa ia berjuang lagi untuk menjadi Samyaksambuddha ?
Demi kesejahteraan semua makhluk hidup. Dalam kitab Buddhavamsa sendiri menyatakan seorang Bodhisatta berikrar menjadi seorang Bodhisatta setelah mencapai kearahatan.
Samyaksambuddha merupakan pencapaian tertinggi, karena setelah itu seseorang yang meraih samyaksambuddha menjadi seorang yang mahatahu, guru dari para dewa dan manusia, yang terunggul, pengenal segenap penjuru alam. Jadi, Nirvana itu dikatakan tertinggi hanya dari aspek batin saja. Bagi seorang bodhisatva, mencapai pemurnian batin saja tidak cukup solid untuk menyelamatkan semua makhluk hidup, hanya apabila telah meraih segenap pencerahan sempurna, semua makhluk barulah dapat dibebaskan.
Jika belum, bukankah itu berarti seorang bodhisatta dapat dikatakan belum menghilangkan kriteria-kriteria yang ada dalam aspek Nirvana saupadisesa seperti hawa napsu, kebencian, dan kegelapan batin ? Jalan Bodhisatva memang panjang, dalam Sutra menyatakan bahwa Bodhisatva sebelum tingkat Bhumi ke-7 masih tersisa noda2 batin(kilesa), semakin tinggi tingkatannya, semakin berkurang kilesa-nya, dan pada tingkat Bhumi ke-7 inilah Bodhisatva baru mencapai pemurnian batin, mencapai nirvana, bebas dari tumimbal lahir. Sepadan dengan Arahat.
Jika tidak ada yang lebih tinggi, mengapa dikatakan bahwa nirvana adalah awal dari perjuangan seorang bodhisatta ?Sudah dikatakan bahwa Nirvana ini dari aspek batin saja, sedangkan awal perjuangan disini ditujukan untuk menyempurnakan paramitanya agar meraih segenap pengetahuan sempurna, pengenal segenap penjuru alam, yang terunggul di alam semesta...
Dan bukankah noda batin itu sendiri tidak lain adalah kondisi batin/pikiran (state of mind) itu sendiri yang masih kotor ? Jika seorang bodhisatta belum mencapai Nirvana khususnya saupadisesa bukankah ia belum menghapus noda batin ?Memang demikianlah
Jika sudah, kembali lagi ke pertanyaan sebelumnya, apalagi yang perlu diperjuangkan ? Apa lagi yang hendak dicapai dari seorang bodhisatta jika seorang sammasambuddha memiliki kondisi batin yang sama dengan seorang bodhisatta ?
Sudah dijawab, bahwa batin yang telah murni itu bukan berarti akhir dari segalanya bagi seorang Bodhisatva, kalo Arahat memang tidak perlu berjuang lagi, karena aspirasi arahat ya hanya ingin bebas dari tumimbal lahir, lalu selesai, kalo ada kesempatan mengajar makhluk lain, ngajar, abis itu jika dia mati, dia memasuki nirvana tanpa sisa. Bodhisatva tidak, mengapa? apalagi yang ingin diperjuangkan? yakni Kesejahtreaan makluk lain , dan keinginan untuk mensejahterakan makhluk lain itu bukan Tanha, bukan kilesa, keinginan ini adalah manifest dari maitri karuna-nya karena batin nya yang murni. Seperti sang Buddha ingin membabarkan dharma di kota Magadha , apakah keinginan sang Buddha itu adalah Tanha?Kilesa? tidak bukan? itu adalah manifest dari maitri karuna sang Buddha.
Pertanyaannya, dapatkah nirvana anupadisesa ditunda atau istilahnya ditolak mengingat nirvana anupadisesa tidak lain adalah kemangkatan (kematian) mutlak bagi mereka yang telah mencapai nirvana saupadisesa selama hidupnya dimana mereka tidak lagi memupuk benih-benih, memutus sebab-sebab munculnya kehidupan selanjutnya ? Dapat, itulah keunggulan2 yang dimiliki makhluk suci, jika bahkan untuk menunda Parinirvana aja nggak bisa bagaimana pantas disebut Makhluk unggul? Dalam Mahaparinibbana sutta aja ada tulis Sang Buddha dapat hidup satu kappa lagi bila ia mau, ini bukti bahwa anupadisesa itu dapat ditunda. Tapi beliau tidak mau melakukannya, itu masalah lain.
Bagaimana mungkin mereka yang telah mencapai Nirvana saupadisesa yang telah meleyapkan kegelapan batin , dilahirkan kembali ? Memang betul. Mereka tidak dilahirkan kembali tapi mereka sanggup menjelma dalam bentuk apapun demi menyelamatkan semua makhluk, mereka dapat terlihat seolah olah dilahirkan kembali, tapi tentu mereka punya maksud istimewa untuk melakukannya. Apa sebab mereka sanggup berbuat demikian? Karena hasil dari sila, samadhi dan prajna mereka sangat mantap dan aspirasi mereka sangat besar demi semua makhluk hidup.
Dan yang perlu kita catat bahwa salah satu sebab kelahiran kembali adalah adanya tanha bhava (napsu keinginan untuk menjelma). Ya, itu bagi mereka yang masih banyak kilesa-nya . Bagi bodhisatva yang telah lenyap kekotoran batinnya, nafsu keinginan rendah itu tidak ada lagi. Mereka bukan dilahirkan kembali, tapi mereka menjelma dengan cara bijaksana yakni memasuki rahim seorang manusia dengan pikiran murni. Itulah kualitas unggul dari seorang bodhisatva.
hyper
June 07, 2004, 05:39
Originally posted by iching
Tidak berbeda. Noda2 batin yang telah dilenyapkan secara total bagaikan cermin yang telah bersih dari debu, semua cermin yang telah bebas dari debu adalah sama kilatnya.
My friend, jika Nirvana saupadisesa yang digapai oleh seorang bodhisatta sama dengan seorang samyaksambuddha bukankah jalan yang ditempuh untuk menggapainya juga sama ? Bukankah paramita yang telah dijalani oleh samyaksambuddha seharusnya sama dengan bodhisatta yang tersebut ?
Contoh: untuk memenuhi sebuah ember dengan air, si S menuangkan air 2 liter, segingga menghasilkan ember yang berisi 2 liter air. Jika si B ingin menghasilkan ember berisi 2 liter air maka ia mau tidak mau juga harus menuangkan air sebanyak 2 liter. Input yang sama menghasilkan output yang sama.
Pertanyaannya mengapa ada seseorang yang menempuh suatu usaha dan mencapai Nirvana saupadisesa tidak dapat dikategorikan sebagai samyaksambuddha padahal samyaksambuddha sendiri memiliki kualitas yang sama dengannya dan menempuh jalan yang sama ?
Demi kesejahteraan semua makhluk hidup. Dalam kitab Buddhavamsa sendiri menyatakan seorang Bodhisatta berikrar menjadi seorang Bodhisatta setelah mencapai kearahatan.
Samyaksambuddha merupakan pencapaian tertinggi, karena setelah itu seseorang yang meraih samyaksambuddha menjadi seorang yang mahatahu, guru dari para dewa dan manusia, yang terunggul, pengenal segenap penjuru alam. Jadi, Nirvana itu dikatakan tertinggi hanya dari aspek batin saja. Bagi seorang bodhisatva, mencapai pemurnian batin saja tidak cukup solid untuk menyelamatkan semua makhluk hidup, hanya apabila telah meraih segenap pencerahan sempurna, semua makhluk barulah dapat dibebaskan.
Apakah seorang bodhisatta ingin menjadi samyaksambuddha hanya karena ingin memiliki abhina untuk menolong makhluk hidup lebih banyak ?
Bukankah dalam beberapa sutra banyak dikisahkan bodhisatta yang memiliki kemampuan yang tak terbatas ?
Jalan Bodhisatva memang panjang, dalam Sutra menyatakan bahwa Bodhisatva sebelum tingkat Bhumi ke-7 masih tersisa noda2 batin(kilesa), semakin tinggi tingkatannya, semakin berkurang kilesa-nya, dan pada tingkat Bhumi ke-7 inilah Bodhisatva baru mencapai pemurnian batin, mencapai nirvana, bebas dari tumimbal lahir. Sepadan dengan Arahat.
Dari awal kita tidak berbicara mengenai bodhisatta dibawah tingkat 7 yang belum mencapai Nirvana, tetapi mereka yang telah mencapai tingkat 7.
Sudah dikatakan bahwa Nirvana ini dari aspek batin saja, sedangkan awal perjuangan disini ditujukan untuk menyempurnakan paramitanya agar meraih segenap pengetahuan sempurna, pengenal segenap penjuru alam, yang terunggul di alam semesta...
Kita semua tahu Nirvana adalah yang tertinggi dan untuk menggapainya harus memiliki paramita yang sempurna. Seorang Samyaksambuddha tentu sudah memiliki paramita yang sempurna dan mencapai Nirvana. Jika seorang bodhisatta saja sudah mencapai Nirvana tentu ia juga sudah memiliki paramita yang sempurna. Bukankah demikian ? Jadi jika ia belum memiliki paramita yang sempurna bukan tentunya ia belum mencapai Nirvana ?
Bukankah menyempurnakan paramita hanya bermanfaat dan bertujuan untuk mengembangkan batin ? Atau ada tujuan lain ?
Sudah dijawab, bahwa batin yang telah murni itu bukan berarti akhir dari segalanya bagi seorang Bodhisatva, kalo Arahat memang tidak perlu berjuang lagi, karena aspirasi arahat ya hanya ingin bebas dari tumimbal lahir, lalu selesai, kalo ada kesempatan mengajar makhluk lain, ngajar, abis itu jika dia mati, dia memasuki nirvana tanpa sisa. Bodhisatva tidak, mengapa? apalagi yang ingin diperjuangkan? yakni Kesejahtreaan makluk lain , dan keinginan untuk mensejahterakan makhluk lain itu bukan Tanha, bukan kilesa, keinginan ini adalah manifest dari maitri karuna-nya karena batin nya yang murni. Seperti sang Buddha ingin membabarkan dharma di kota Magadha , apakah keinginan sang Buddha itu adalah Tanha?Kilesa? tidak bukan? itu adalah manifest dari maitri karuna sang Buddha.
Dalam kasus ini kita tidak bisa membandingkannya dengan Sang Buddha. Why ? Pertama, Sang Buddha sudah tidak diragukan lagi pencapaiannya akan Nirvana, khususnya saupadisesa. Kedua. Sang Buddha melakukannya pada saat ia hidup dan ia tidak menunda parinibbana walaupun ia memiliki metta yang besar.
Dapat, itulah keunggulan2 yang dimiliki makhluk suci, jika bahkan untuk menunda Parinirvana aja nggak bisa bagaimana pantas disebut Makhluk unggul? Dalam Mahaparinibbana sutta aja ada tulis Sang Buddha dapat hidup satu kappa lagi bila ia mau, ini bukti bahwa anupadisesa itu dapat ditunda. Tapi beliau tidak mau melakukannya, itu masalah lain.
Kita berbicara mengenai bodhisatta bukan seorang samyaksambuddha.
Memang betul. Mereka tidak dilahirkan kembali tapi mereka sanggup menjelma dalam bentuk apapun demi menyelamatkan semua makhluk, mereka dapat terlihat seolah olah dilahirkan kembali, tapi tentu mereka punya maksud istimewa untuk melakukannya. Apa sebab mereka sanggup berbuat demikian? Karena hasil dari sila, samadhi dan prajna mereka sangat mantap dan aspirasi mereka sangat besar demi semua makhluk hidup.
Bukankah hal ini menyalahi Dhamma ? Bukankah menurut Dhamma, mereka yang hidup dan belum menyempurnakan paramita, maka mereka akan dilahirkan kembali ? Dan anda mengatakan bahwa : “…perjuangan bodhisattva disini ditujukan untuk menyempurnakan paramitanya.” Bukankah hal ini kontradiksi ? Dan bukankah Dhamma mengatakan bahwa keinginan untuk menjelma adalah salah satu dari tanha (tanha bhava) yang menyebabkan makhluk dilahirkan kembali ?
Ya, itu bagi mereka yang masih banyak kilesa-nya . Bagi bodhisatva yang telah lenyap kekotoran batinnya, nafsu keinginan rendah itu tidak ada lagi. Mereka bukan dilahirkan kembali, tapi mereka menjelma dengan cara bijaksana yakni memasuki rahim seorang manusia dengan pikiran murni. Itulah kualitas unggul dari seorang bodhisatva.
Bukankah dengan memiliki keinginan untuk menjelma seperti itu seorang bodhisatta masih memiliki tanha ?
iching
June 07, 2004, 15:09
Kita semua tahu Nirvana adalah yang tertinggi dan untuk menggapainya harus memiliki paramita yang sempurna. Seorang Samyaksambuddha tentu sudah memiliki paramita yang sempurna dan mencapai Nirvana. Jika seorang bodhisatta saja sudah mencapai Nirvana tentu ia juga sudah memiliki paramita yang sempurna. Bukankah demikian ? Jadi jika ia belum memiliki paramita yang sempurna bukan tentunya ia belum mencapai Nirvana ?
Belum memiliki paramita yang sempurna bukan berarti tidak mencapai nirvana.
contohnya arahat, arahat telah mencapai nirvana tetapi apakah arahat memiliki paramita yang sempurna?
Maka dari itu, Bodhisatva mencapai nirvana pada tingkat bhumi ke 7, namun belum memiliki paramita yang sempurna.
Coba lihat ini: Dalam ajaran mahayana ,Seorang arahat yang ingin menempuh jalan bodhisatva biasanya disebut "Beralih dari kendaraan kecil menuju kendaraan besar" dan arahat tersebut dapat dikatakan telah berada pada posisi sepadan dengan bodhisatva tingkat bhumi ke 7. Nah, arahat yang beralih ke jalan bodhisatva ini 'kan telah mencapai nirvana, tetapi paramitanya belum sempurna bukan?
Dalam buku 'THERAVADA-MAHAYANA studi banding doktrin Buddhisme Aliran Selatan dan Utara" karya Ivan Taniputera, beliau menulis dlm Bab ttg Bodhisatva, terdapat kutipan sbb: "Kitab Theravada lainnya yang membahas mengenai Boddhisatta adalah BUDDHAVAMSA. Pada kitab ini pandangan ideal seorang Bodhisatta dikembangkan hingga mencapai puncak tertinggi. Pada kitab ini disebutkan bahwa seorang bodhisatta adalah seorang yang berikrar untuk menjadi seorang Buddha yang sempurna (sammasambuddha) dikarenakan oleh belas kasihnya pada semua makhluk, yang melakukan berbagai macam kebajikan, dan yang menerima peramalan untuk pencapaian Kebuddhaan-nya pada masa mendatang. Sebagai tambahan seorang bodhisatta yang disebutkan dalam Buddhavamsa berikrar untuk menjadi bodhisatta setelah mencapai KEARAHATAN."
Lihat : setelah mencapai arahat (berarti telah mencapai nirvana 'kan?) baru kemudian berikrar menjadi bodhisatta. Apa kesimpulannya? Berarti Bodhisatva yang dulunya adalah seorang Arahat akan menyempurnakan paramitanya untuk menjadi Buddha , padahal beliau telah mencapai Nirvana saat menjadi arahat.
hyper
June 09, 2004, 02:08
Belum memiliki paramita yang sempurna bukan
berarti tidak mencapai nirvana.
contohnya arahat, arahat telah mencapai nirvana tetapi
apakah arahat memiliki paramita yang sempurna?
Tentu saja ya. Kenapa tidak ?
Ketika Pangeran Sidhartha dilahirkan apakah ada yang
menyebutnya sebagai arahat ? Disebut Bodhisatta ya
tapi kalau arahat tidak, Betul tidak ?
Maka dari itu, Bodhisatva mencapai nirvana pada
tingkat bhumi ke 7, namun belum memiliki paramita yang
sempurna.
Coba lihat ini: Dalam ajaran mahayana ,Seorang arahat
yang ingin menempuh jalan bodhisatva biasanya disebut
"Beralih dari kendaraan kecil menuju kendaraan besar"
dan arahat tersebut dapat dikatakan telah berada pada
posisi sepadan dengan bodhisatva tingkat bhumi ke 7.
Nah, arahat yang beralih ke jalan bodhisatva ini 'kan
telah mencapai nirvana, tetapi paramitanya belum
sempurna bukan?
Terdapat perbedaan konsep arahat dalam Mahayana dan
Theravada.
Dalam buku 'THERAVADA-MAHAYANA studi banding
doktrin Buddhisme Aliran Selatan dan Utara" karya Ivan
Taniputera, beliau menulis dlm Bab ttg Bodhisatva,
terdapat kutipan sbb: "Kitab Theravada lainnya yang
membahas mengenai Boddhisatta adalah BUDDHAVAMSA. Pada
kitab ini pandangan ideal seorang Bodhisatta
dikembangkan hingga mencapai puncak tertinggi. Pada
kitab ini disebutkan bahwa seorang bodhisatta adalah
seorang yang berikrar untuk menjadi seorang Buddha
yang sempurna (sammasambuddha) dikarenakan oleh belas
kasihnya pada semua makhluk, yang melakukan berbagai
macam kebajikan, dan yang menerima peramalan untuk
pencapaian Kebuddhaan-nya pada masa mendatang. Sebagai
tambahan seorang bodhisatta yang disebutkan dalam
Buddhavamsa berikrar untuk menjadi bodhisatta setelah
mencapai KEARAHATAN."
Lihat : setelah mencapai arahat (berarti telah
mencapai nirvana 'kan?) baru kemudian berikrar menjadi
bodhisatta. Apa kesimpulannya? Berarti Bodhisatva yang
dulunya adalah seorang Arahat akan menyempurnakan
paramitanya untuk menjadi Buddha , padahal beliau
telah mencapai Nirvana saat menjadi arahat
Sayang sekali saya belum membaca buku yang anda
maksud, sehingga saya tidak bisa menilai apakah benar
atau salah yang anda katakana :). Tapi kemarin saya
sudah membaca Buddhavamsa, dan tidak menemukan satu
katapun yang menyatakan adanya seorang bodhisatta yang
disebutkan dalam Buddhavamsa berikrar untuk menjadi
bodhisatta setelah mencapai KEARAHATAN. (atau mungkin
saja saya kelewatan)
Buddhavamsa adalah kotbah mengenai 24 Buddha masa
lampau, dan sedikit kisah mengenai seorang pertapa
bernama Sumedha pada masa Buddha Dipankara, yang tidak
lain adalah calon Buddha yang akan datang setelah masa
Buddha Kassapa berlalu, yaitu Buddha Gotama. Dan juga
kisah Bhikkhu bernama Jotipala pada masa Buddha
Kassapa yang tidak lain juga calon Buddha masa depan
yaitu Buddha Gotama sendiri. Di sini tidak ada sama
sekali dinyatakan bahwa pertapa Sumedha ataupun
Bhikkhu Jotipala sudah mencapai tingkat Arahat,
walaupun telah dinyatakan oleh Buddha Dipankara dan
Buddha Kassapa bahwa ia akan menjadi Buddha. Tapi
justru dikatakan bahwa ketika telah dinyatakan oleh
Buddha Kassapa bahwa ia akan menjadi Buddha, Bhikkhu
Jotipala mulai bertekad kembali melatih dan
menyempurnakan dasa paramita. Dan kita tahu
selanjutnya Pangeran Sidhartha sebelum dilahirkan ia
berada di surga Tusita dan disebut sebagai bodhisatta.
Dan kita tahu bahwa Surga Tusita adalah tempat/alam
terakhir seorang calon Buddha berlatih diri sebelum
dilahirkan ke dunia dan mencapai samyaksambuddha. Jadi
jelas dalam Buddhavamsa tidak ada istilah arahat bagi
mereka yang belum menyempurnakan paramita. Dan dalam
Theravada boddhisatta adalah mereka yang bertekad
menjadi Buddha dan masih perlu menyempurnakan paramita
berapapun tingkat kebodhisattaannya..
Dalam Theravada, Arahat adalah mereka yang telah
menembus tingkatan tertinggi dari pencerahan. Arahat
berarti ‘mereka yang pantas’, pantas menerima
persembahan dari umat. Titel Arahat adalah title
tertinggi bagi kondisi batin tanpa perduli bagaimana
didapatkannya.Dan dalam Theravada ada 3 jenis mereka
yang telah menembus tingkatan tertinggi dari
pencerahan (arahat), yaitu 1. Samyaksambuddha (mereka
yang telah menembus tingkatan tertinggi dari
pencerahan yang di temukan dengan usaha sendiri dan
dapat mengajar dharma). 2. Pacceka Buddha (mereka yang
telah menembus tingkatan tertinggi dari pencerahan
yang di temukan dengan usaha sendiri tapi tidak bisa
mengajar). 3. Savaka Buddha (mereka yang telah
menembus tingkatan tertinggi dari pencerahan setelah
mendengar dan mempraktikan ajaran Samyaksambuddha).
Jadi jika ada pertanyaan apakah Arahat = Buddha ?
Jawabnya Ya sama (lihat definisi arahat). Bukti bahwa
Arahat adalah tingkat tertinggi dapat kita temukan
dalam Pubbabhaganamakara waktu kebaktian dan banyak
sutta yang berbunyi, “Namo Tassa Bhagavato
Arahato SammaSambuddhassa”, Dalam Vinaya
Pitaka, di Mahavagga, dikatakan :” Sekarang ada enam
(6) arahat di dunia…” Siapa 6 arahat itu ? Yaitu
Buddha dan 5 siswa utama.
Jadi jelas dari analisa di atas jdalam Theravada ,
Arahat adalah tingkat yang paling tinggi dan telah
menggapai Nirvana dan telah melengkapi paramita karena
Sammasambuddha pun adalah seorang Arahat
Sumber :
http://www.saigon.com/~anson/ebud/ebdha064.htm
http://www.triplegem.plus.com/gcobv12.htm#1
http://www.nibbana.com/gcobv1a.htm
iching
June 09, 2004, 08:16
Tapi kemarin saya
sudah membaca Buddhavamsa, dan tidak menemukan satu
katapun yang menyatakan adanya seorang bodhisatta yang
disebutkan dalam Buddhavamsa berikrar untuk menjadi
bodhisatta setelah mencapai KEARAHATAN. (atau mungkin
saja saya kelewatan) .
JIka ternyata memang tidak ada kutipan seperti itu, maka kita mestinya memberi tahu kpd si Penulis (Ivan Taniputera) untuk tidak mengekspos sesuatu yang tidak ada.
Mari kit lihat secara lebih rinci atas kutipannya, setelah pada kalimat :
“Sebagai tambahan seorang bodhisatta yang disebutkan dalam
Buddhavamsa berikrar untuk menjadi bodhisatta setelah
mencapai KEARAHATAN."
Ada kalimat lanjutan demikian :
“Hal ini tercermin pada riwayat Bodhisatta Sumedha, kelahiran masa lampau dari Sang Buddha saat ia masih menempuh jalan Bodhisatta. Saat itu Beliau terlahir pada masa Buddha Dipankara. Pada saat itu Sumedha merelakan tubuhnya diinjak oleh Buddha Dipankara agar kakiNya tidak kotor. Pada saat itu sang Buddha berpikir: “Jika mau, aku dapat membakar sampai habis kekotoranku sekarang [juga]. [Namun] apakah gunanya merealisasi Dhamma di sini [tanpa menguntungkan makhluk lain]? Setelah mencapai kemahatahuan, aku akan menjadi Buddha di dunia ini…”
Memang Buddhavamsa tidak terdapat pernyataan langsung bahwa bodhisatta berikrar menjadi bodhisatta setelah mencapai Kearahatan. Tetapi sang penulis Ivan T. menerjemahkan kalimat terakhir di atas ini sebagai cerminan bahwa Sumedha telah menjadi Arahat.
Ini memang menjadi ‘debatable’, karena semua orang kadang mencerna sebuah kalimat secara berbeda-beda. Saya pribadi saat membaca tulisannya juga agak sulit mengerti bahwa apakah benar Sumedha itu telah menjadi arahat? Saya malah memiliki pengertian bahwa Sumedha dapat menjadi Arahat (tapi belum jadi), akan tetapi beliau tidak mau. Beliau ingin menjadi Buddha.
Tapi akhirnya saya tetap memilih kutipan Ivan T. untuk menyanggah pernyataanmu yang terdahulu, hal ini karena memang pada dasarnya dalam konteks Mahayana telah ada konsep yang menyatakan Arahat dapat memilih menjadi bodhisattva lagi untuk kemudian mencapai kebuddhaan.
Jadi jika ada pertanyaan apakah Arahat = Buddha ?
Wah…ini sih relative juga ya, yang namanya “sama“ itu dalam hal apa? Dan porsi sama itu sampai pada tingkat berapa baru benar2 disebut sama? Soalnya pada kenyataannya dalam persamaan itu tetap ada perbedaan.
Persamaan: mencapai pencerahan.
Perbedaan:
Dari unsur batin:
Seorang Buddha memiliki 18 keistimewaan yang terbagi atas 4 bagian, yakni 10 kekuatan (DasaBala), 4 jenis kebebasan dari rasa takut, 3 jenis keseimbangan spiritual, dan 1 belas kasih agung (maha karuna).
Dari segi fisik:
Buddha memiliki 32 ciri fisik manusia agung.
Dari kedua segi fisik maupun batin yang dimiliki Buddha, Arahat tidak memilikinya. Ini menunjukkan bahwa seorang Buddha adalah melebihi seorang Arahat, dengan kata lain seorang Buddha adalah pasti Arahat, sementara seorang Arahat belum tentu Buddha.
Jadi jika ada pertanyaan apakah Arahat = Buddha ? ya.
Tapi jika ada pertanyaan apakah Arahat berbeda dengan Buddha? Jawabnya Ya juga..
Jadi jelas dari analisa di atas jdalam Theravada ,
Arahat adalah tingkat yang paling tinggi dan telah
menggapai Nirvana dan telah melengkapi paramita karena
Sammasambuddha pun adalah seorang Arahat.
Dari awal saya setuju arahat telah menggapai nirvana, tetapi saya betul2 tidak setuju bahwa arahat telah melengkapi paramita . Kita tahu bahwa calon Buddha bertempuh sekian lama untuk melengkapi Paramitanya lalu mencapai Buddha dan hasilnya adalah Buddha memiliki 18 ciri keistimewaan (pengetahuan sempurna) dan 32 ciri fisik unggul yang tidak dimiliki Arahat. Jadi sulit untuk menerima pendapat bahwa Arahat telah melengkapi paramitanya sementara masih memiliki kekurangan seperti yang dimiliki seorang Buddha.
hyper
June 10, 2004, 07:51
Originally posted by iching
JIka ternyata memang tidak ada kutipan seperti itu, maka kita mestinya memberi tahu kpd si Penulis (Ivan Taniputera) untuk tidak mengekspos sesuatu yang tidak ada.
Mari kit lihat secara lebih rinci atas kutipannya, setelah pada kalimat :
“Sebagai tambahan seorang bodhisatta yang disebutkan dalam
Buddhavamsa berikrar untuk menjadi bodhisatta setelah
mencapai KEARAHATAN."
Ada kalimat lanjutan demikian :
“Hal ini tercermin pada riwayat Bodhisatta Sumedha, kelahiran masa lampau dari Sang Buddha saat ia masih menempuh jalan Bodhisatta. Saat itu Beliau terlahir pada masa Buddha Dipankara. Pada saat itu Sumedha merelakan tubuhnya diinjak oleh Buddha Dipankara agar kakiNya tidak kotor. Pada saat itu sang Buddha berpikir: “Jika mau, aku dapat membakar sampai habis kekotoranku sekarang [juga]. [Namun] apakah gunanya merealisasi Dhamma di sini [tanpa menguntungkan makhluk lain]? Setelah mencapai kemahatahuan, aku akan menjadi Buddha di dunia ini…”
Memang Buddhavamsa tidak terdapat pernyataan langsung bahwa bodhisatta berikrar menjadi bodhisatta setelah mencapai Kearahatan. Tetapi sang penulis Ivan T. menerjemahkan kalimat terakhir di atas ini sebagai cerminan bahwa Sumedha telah menjadi Arahat.
Ini memang menjadi ‘debatable’, karena semua orang kadang mencerna sebuah kalimat secara berbeda-beda. Saya pribadi saat membaca tulisannya juga agak sulit mengerti bahwa apakah benar Sumedha itu telah menjadi arahat? Saya malah memiliki pengertian bahwa Sumedha dapat menjadi Arahat (tapi belum jadi), akan tetapi beliau tidak mau. Beliau ingin menjadi Buddha.
Tapi akhirnya saya tetap memilih kutipan Ivan T. untuk menyanggah pernyataanmu yang terdahulu, hal ini karena memang pada dasarnya dalam konteks Mahayana telah ada konsep yang menyatakan Arahat dapat memilih menjadi bodhisattva lagi untuk kemudian mencapai kebuddhaan.
Saya rasa tidak akan menjadi “debatable” jika kita meneliti lebih seksama. Ada beberapa alasan yang menjadi jawaban bahwa Sumedha pada waktu itu belum menjadi Arahat karena belum melengkapi paramita.
1. Perkataan Sumedha :” “Jika mau, aku dapat membakar sampai habis kekotoranku sekarang [juga]. [Namun] apakah gunanya merealisasi Dhamma di sini [tanpa menguntungkan makhluk lain]? Setelah mencapai kemahatahuan, aku akan menjadi Buddha di dunia ini…” sama sekali tidak bisa dijadikan alasan bahwa ia sudah menjadi Arahat. (kita tidak bisa mengatakan ya hanya berdasarkan pendapat orang lain dalam hal ini Sdr. Tan dan tidak menghiraukan bukti-bukti lain)
2. Justru dengan adanya kalimat “….apakah gunanya merealisasi Dhamma di sini [tanpa menguntungkan makhluk lain]?” mencerminkan bahwa Sumedha belum merealisasikan Dhamma, belum mewujudkan dhamma dalam tindakan. Dhamma itu apa ? Ajaran. Jika belum merealisasikan /melaksanakan ajaran bagaimana bisa disebut Arahat ?
3. Kehidupan Sumedha tidak lepas dari kehidupan Jotipala yang hidup pada masa Buddha Kassapa. Ketika dinyatakan oleh Buddha Kassapa bahwa jotipala akan menjadi Buddha selanjutnya, ia merasa sangat gembira dan bertekad menyempurnakan paramita. Di sini jelas ia juga belum menjadi seorang Arahat karena seorang arahat harus menyempurnakan paramita. Apa buktinya seorang Arahat harus menyempurnakan paramita ? Tercantum dalam kalimat “Namo tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddha” Jelas dan terang bahwa seorang Samamsambuddha juga adalah seorang Arahat (title tertinggi bagi batin).
4. Tidak mungkin tingkat Arahat dapat beralih menjadi bodhisatta atau tingkat yang lebih rendah lainnya. Arahat bukanlah pangkat seperti colonel, jenderal dalam kemiliteran yang kalau tidak suka bisa turun naik seenaknya. Arahat adalah suatu hasil dari menjalani “Sang Jalan” oleh karena itu sering kita dengar istilah Arahat phala, Anagami phala, dsb (cmiiw :D ). Nah, jika berbicara mengenai phala / hasil/ akibat tidak akan lepas dari sebab, inilah hukum sebab akibat. Dan seperti yang telah kita pelajari, jika sebab telah berbuah, maka kita tidak bisa menolak atau menunda kehadiran akibat. Begitu pula mereka yang mencapai Arahat dan mencapai Nirvana, tidak bisa menolak atau menunda.
Wah…ini sih relative juga ya, yang namanya “sama“ itu dalam hal apa? Dan porsi sama itu sampai pada tingkat berapa baru benar2 disebut sama? Soalnya pada kenyataannya dalam persamaan itu tetap ada perbedaan.
Persamaan: mencapai pencerahan.
Perbedaan:
Dari unsur batin:
Seorang Buddha memiliki 18 keistimewaan yang terbagi atas 4 bagian, yakni 10 kekuatan (DasaBala), 4 jenis kebebasan dari rasa takut, 3 jenis keseimbangan spiritual, dan 1 belas kasih agung (maha karuna).
Dari segi fisik:
Buddha memiliki 32 ciri fisik manusia agung.
Dari kedua segi fisik maupun batin yang dimiliki Buddha, Arahat tidak memilikinya. Ini menunjukkan bahwa seorang Buddha adalah melebihi seorang Arahat, dengan kata lain seorang Buddha adalah pasti Arahat, sementara seorang Arahat belum tentu Buddha.
Jadi jika ada pertanyaan apakah Arahat = Buddha ? ya.
Tapi jika ada pertanyaan apakah Arahat berbeda dengan Buddha? Jawabnya Ya juga..
Betul sekali hal tersebut relative.
Dari awal saya setuju arahat telah menggapai nirvana, tetapi saya betul2 tidak setuju bahwa arahat telah melengkapi paramita . Kita tahu bahwa calon Buddha bertempuh sekian lama untuk melengkapi Paramitanya lalu mencapai Buddha dan hasilnya adalah Buddha memiliki 18 ciri keistimewaan (pengetahuan sempurna) dan 32 ciri fisik unggul yang tidak dimiliki Arahat. Jadi sulit untuk menerima pendapat bahwa Arahat telah melengkapi paramitanya sementara masih memiliki kekurangan seperti yang dimiliki seorang Buddha.
My friend, dalam keistimewaan tertentu, Arahat memang berbeda dengan Sammmasambuddha. Tetapi dalam tingkatan batin mereka telah meraih tingkat batin tertinggi. Dalam konteks ini (batin dalam tingkat tertinggi) Sammasambuddha tidak berbeda dengan Arahat. Oleh karena itu ada kalimat “ Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddha”. Jadi dalam hal melengkapi paramita antara Sammasambuddha dan Arahat adalah sama, sama-sama telah melengkapi paramita, karena paramita adalah jalan menuju Nirvana itu sendiri. Sekali lagi ini dalam konteks batin tertinggi (melenyapkan noda-noda batin, dsb).
Nah yang perlu dicatat, adalah perbedaan yang ada antara Sammasambuddha dan Arahat yang mungkin menjadi jawaban atas kekurangan “keistimewaan tertentu” dalam diri Arahat, yaitu KUANTITAS , jumlah berapa banyak paramita yang terhimpun. Sammasambuddha dan Arahat sama-sama telah melengkapi (katakanlah) 10 paramita yang menjadi syarat Nirvana. Perbedaannya, Sammasambuddha telah melaksanakan ke-10 paramita sebanyak (katakanlah) 1000 kappa, tetapi Arahat mungkin hanya 500 kappa. Jadi tidak heran terjadi perbedaan, tapi walaupun demikian tetap kedua-duanya telah melengkapi ke -10 paramita. Dan bukan berarti Arahat belum melengkapi paramita dalam arti hanya 7 dari 10 paramita yang dilengkapi.
Demikian. :)
iching
June 10, 2004, 14:55
Kembali ke topik utama:
Tapi satu yang masih saya pertanyakan. Apakah Nirvana itu bisa ditunda tunda ?
Jika Nirvana itu suatu tempat , surga, atau alam mungkin bisa ditunda untuk PERGI ke sana. Tapi Nirvana bukan tempat.
Jika Nirvana adalah suatu keadaan batin yang sadar, apakah keadaan batin tersebut bisa ditunda ? Untuk menjadi sadar tentunya kita memerlukan proses dan langkah tertentu. Bukankah dengan adanya niat menunda tentunya ada langkah tertentu di dalam “mencapai” kesadaran yang dihilangkan atau tidak dikerjakan. Contoh : kita makan cabe, apakah kita bisa menunda rasa pedas cabe itu ? Untuk menunda rasa pedas itu berarti mungkin satu-satu caranya adalah menunda makan cabe.
Gimana menurut teman-teman ?
( OTT ngak ya ? )
Menurut saya bisa. contohnya Bodhisatva Maitreya. Beliau telah diramal oleh sang Buddha sebagai calon Buddha, dan salah satu kualifikasi calon Buddha adalah sanggup mencapai Arahat (baca:Nirvana) , tetapi tentu saja Sang Maitreya tidak mau merealisasi Arahat karena beliau ingin menjadi Buddha. Ini berarti beliau menunda nirvana, iya kan?
(Kutipan dari :Paying reverence to 28 Buddhas)
This time he met the ten perfections’ qualifications:
Dana, Sila, Nekhamma, Paninia, Viriya, Khanti, Sacca, Adhittana, Metta and Upekkha - the prerequisites to Buddhahood, and met Eight qualifications:
(1) Qualified to attain Arahantship; (2) He must be a male (3) He is a Human; (4) He come face to face with living Buddha; (5) He must be an Ascetic; (6). He must possessed Psychic power (jhanas); (7). He must be prepared to lay down his life for the Buddha; (8). He must gave up arahantship to remain in Samsara for the sake of man and Gods
hyper
June 11, 2004, 07:48
Originally posted by iching
Kembali ke topik utama:
Menurut saya bisa. contohnya Bodhisatva Maitreya. Beliau telah diramal oleh sang Buddha sebagai calon Buddha, dan salah satu kualifikasi calon Buddha adalah sanggup mencapai Arahat (baca:Nirvana) , tetapi tentu saja Sang Maitreya tidak mau merealisasi Arahat karena beliau ingin menjadi Buddha. Ini berarti beliau menunda nirvana, iya kan?
Perlu dipertanyakan dulu arahat yang dimaksud dalam konteks apa ? Jika dalam konteks batin maka Arahat= Buddha, jika maitreya menolak menjadi Arahat atau menolak nirvana berarti otomatis ia menolak menjadi Buddha. Ini akan menjadi aneh dan kontradiksi. Dan perlu dicatat bahwa sesuai tradisi Dhamma, semua calon Buddha setelah melengkapi paramita dengan kuantitas yang banyak, akan mencapai ke-arahatannya (dalam konteks batin), mencapai kebuddhaannya, mencapai Nirvana saupadisesa, di bawah pohon bodhi setelah melakukan perenungan akan dukkha dan semuanya ini terjadi dikehidupannya/kelahirannya yang terakhir. Jadi jelas dalam konteks ini Maitreya bukan menunda ke-arahatan, tetapi memang belum saatnya ia menerima Arahat phala. Karena belum menerima arahat phala maka ia bukan seorang Buddha, dan ia harus dilahirkan 1 kali lagi untuk menerima arahat phala setelah saatnya tiba (semua syarat baik kualitas maupun kuantitas terpenuhi)
(Kutipan dari :Paying reverence to 28 Buddhas)
This time he met the ten perfections’ qualifications:
Dana, Sila, Nekhamma, Paninia, Viriya, Khanti, Sacca, Adhittana, Metta and Upekkha - the prerequisites to Buddhahood, and met Eight qualifications:
(1) Qualified to attain Arahantship; (2) He must be a male (3) He is a Human; (4) He come face to face with living Buddha; (5) He must be an Ascetic; (6). He must possessed Psychic power (jhanas); (7). He must be prepared to lay down his life for the Buddha; (8). He must gave up arahantship to remain in Samsara for the sake of man and Gods
Pertama, kata ‘he’ di sini jelas mengacu pada petapa Sumedha. Jika kita membaca keseluruhan kisah maka pada masa Buddha Dipankara inilah ia baru bisa dinyatakan sebagai calon Buddha dan ia baru menemukan apa yang dimaksud 10 paramita dan 8 kualifikasi menjadi Buddha. Coba kita perhatikan point 1 dalam 8 kulifikasi ke-buddhaan, yaitu Qualified to attain Arahantship (berkualitas untuk mencapai ke-arahatan, dengan kata lain perlu mencapai ke-arahatan (dalam konteks batin). Jadi mau tidak mau, mereka yang bercita-cita menjadi Buddha harus memiliki ke-arahatan dalam konteks batin yang didapat dari menyempurnakan paramita.
Kedua. Sekarang kita coba perhatikan point 8 yaitu He must gave up arahantship to remain in Samsara for the sake of man and Gods. Point ini merupakan PILIHAN yang berkaitan dengan kuantitas paramita yang diperlukan untuk menjadi Buddha. Sumedha dihadapkan 2 pilihan yaitu menjadi Arahat yang digapai karena mendengarkan ajaran Sammasambuddha dengan jumlah paramita yang “seadanya” yang biasanya bergelar Savaka Buddha, atau memilih jadi Arahat yang digapai dengan usaha sendiri dengan paramita yang banyak yang biasanya bergelar Sammasambuddha. Kedua pilihan ini sama-sama menempuh kearahatan. Jika Sumedha bertekad memilih pilihan yang ke-1 mungkin saja ia akan dilahirkan kembali dan kemudian bertemu dengan Sammasambuddha (apakah Buddha Sobitha,Buddha Kakusanddha, atau Buddha lain) dan menggapai kearahatan pada waktu mendengarkan kotbah Buddha tsb. Akhirnya Sumedha bertekad memilih pilihan yang kedua, yang berakhir dengan sempurnanya paramita yang sangat banyak dengan tercapainya keArahatan, pencerahan dengan sendirinya pada kehidupan yang terakhir di bawah pohon bodhi. Jadi di sini tidak ada istilah menunda nirvana.
Istilah menunda nirvana hanya berlaku bagi mereka yang sama sekali belum melaksanakan “sang jalan” secara sempurna. Tapi bagi mereka yang sudah menepuh “sang jalan” secara sempurna tidak ada istilah menunda apa yang memang seharusnya ia dapat dari apa yang ia perbuat. :)
iching
June 11, 2004, 17:15
Perlu dipertanyakan dulu arahat yang dimaksud dalam konteks apa ? Jika dalam konteks batin maka Arahat= Buddha, jika maitreya menolak menjadi Arahat atau menolak nirvana berarti otomatis ia menolak menjadi Buddha. Ini akan menjadi aneh dan kontradiksi. Tentu saja maksud saya bukan begitu. Anda sendiri mengatakan jika dalam konteks batin, maka kontradiksi. Baiklah bagaimana dengan konteks lainnya? dan konteks apa itu? Jika ada konteks lainnya maka konteks tsb tidak kontradiksi? Kalo gitu berarti dapat dibenarkan lagi dong untuk mengatakan bodhisatva menunda nirvana .
Coba kita perhatikan kalimat ini dalam Buddhavamsa:
Perkataan Sumedha :” “Jika mau, aku dapat membakar sampai habis kekotoranku sekarang [juga]. [Namun] apakah gunanya merealisasi Dhamma di sini [tanpa menguntungkan makhluk lain]? Setelah mencapai kemahatahuan, aku akan menjadi Buddha di dunia ini…”
“Jika mau, aku dapat membakar sampai habis kekotoranku sekarang [juga].
Pada kalimat ini mengindikasikan bahwa Sumedha dapat merealisasi Nirvana pada kehidupannya saat itu juga.
[Namun] apakah gunanya merealisasi Dhamma di sini...
KIta tahu bahwa tingkat kesucian arahat merupakan tujuan tertinggi untuk terbebas dari siklus kelahiran kembali dan akhir dari dukha. Dan arahat adalah sama dengan Buddha dalam konteks batin. Tapi pada sebutan "apakah gunanya" ini bukankah ini mengindikasikan bahwa beliau menolak merealisasikannya saat itu juga? Bukankah itu sama dengan menunda?
Dan perlu dicatat bahwa sesuai tradisi Dhamma, semua calon Buddha setelah melengkapi paramita dengan kuantitas yang banyak, akan mencapai ke-arahatannya (dalam konteks batin), mencapai kebuddhaannya, mencapai Nirvana saupadisesa, di bawah pohon bodhi setelah melakukan perenungan akan dukkha dan semuanya ini terjadi dikehidupannya/kelahirannya yang terakhir.
kearahatan yang dicapai sang calon buddha hanyalah satu dari sekian banyak kualitas yang diraih. Masih ada kualitas lain yang diraih seperti 18 keistimewaan seorang Buddha yang tidak dimiliiki seorang arahat. Makanya sudah dijelaskan dari awal bahwa Buddha adalah arahat tetapi arahat belum tentu adalah buddha.
Arahat sama dengan Buddha dalam hal pencapaian pencerahan, tetapi fakta memperlihatkan Buddha melebihi seorang arahat.
Jadi jelas dalam konteks ini Maitreya bukan menunda ke-arahatan, tetapi memang belum saatnya ia menerima Arahat phala. Karena belum menerima arahat phala maka ia bukan seorang Buddha, dan ia harus dilahirkan 1 kali lagi untuk menerima arahat phala setelah saatnya tiba (semua syarat baik kualitas maupun kuantitas terpenuhi) Saya cenderung merasa anda memiliki prinsip bahwa Arahat sama dengan Buddha secara total, meskipun anda mengatakan dari konteks batin saja, padahal kenyataannya dari konteks batinpun masih ada perbedaan antara arahat dgn buddha. Seperti Buddha mengetahui kehidupan lalu tanpa batas , arahat mengetahui dalam jumlah terbatas, dalam aspek pengetahuan seperti ini, bukankah batin yang menentukan?
Sumedha dihadapkan 2 pilihan yaitu menjadi Arahat yang digapai karena mendengarkan ajaran Sammasambuddha dengan jumlah paramita yang “seadanya” yang biasanya bergelar Savaka Buddha, atau memilih jadi Arahat yang digapai dengan usaha sendiri dengan paramita yang banyak yang biasanya bergelar Sammasambuddha. Kedua pilihan ini sama-sama menempuh kearahatan. Jika Sumedha bertekad memilih pilihan yang ke-1 mungkin saja ia akan dilahirkan kembali dan kemudian bertemu dengan Sammasambuddha (apakah Buddha Sobitha,Buddha Kakusanddha, atau Buddha lain) dan menggapai kearahatan pada waktu mendengarkan kotbah Buddha tsb. Akhirnya Sumedha bertekad memilih pilihan yang kedua, yang berakhir dengan sempurnanya paramita yang sangat banyak dengan tercapainya keArahatan, pencerahan dengan sendirinya pada kehidupan yang terakhir di bawah pohon bodhi.
ya, akhirnya Sumedha memilih kedua namun dia berkata bahwa aga gunanya merealisasi dhamma saat ini . Kira2 apa sebabnya dia ingin memilih kedua menurut anda? Apakah pilihan pertama itu memang tidak berguna?
Jadi di sini tidak ada istilah menunda nirvana
Sumedha berkata "Jika mau, aku dapat membakar sampai habis kekotoranku sekarang [juga]",
Bukankah perkataan sumedha ini mencerminkan bahwa beliau bisa mencapai nirvana saat itu, tapi beliau memilih jalan yang menuju sammasambuddha,
Pilihan pertama adalah cara cepat, pilihan kedua harus melewati berkalpa kalpa sampai paramitanya banyak yang berarti waktu tempuh nya lebih lama. Nah... menolak cara cepat lalu mengambil jalur lambat kalo bukan dikatakan menunda, lalu apa?
Istilah menunda nirvana hanya berlaku bagi mereka yang sama sekali belum melaksanakan “sang jalan” secara sempurnaSama sekali belum itu namanya "tidak", bukan "menunda".
Jadi, sama sekali belum melaksanakan sang jalan itu berarti tidak mengusahakan pencapaian nirvana, bukan menunda nirvana.
Persepsinya jadi berbeda..
hyper
June 14, 2004, 07:45
Originally posted by iching
Tentu saja maksud saya bukan begitu. Anda sendiri mengatakan jika dalam konteks batin, maka kontradiksi. Baiklah bagaimana dengan konteks lainnya? dan konteks apa itu? Jika ada konteks lainnya maka konteks tsb tidak kontradiksi? Kalo gitu berarti dapat dibenarkan lagi dong untuk mengatakan bodhisatva menunda nirvana .
Coba kita perhatikan kalimat ini dalam Buddhavamsa:
Perkataan Sumedha :” “Jika mau, aku dapat membakar sampai habis kekotoranku sekarang [juga]. [Namun] apakah gunanya merealisasi Dhamma di sini [tanpa menguntungkan makhluk lain]? Setelah mencapai kemahatahuan, aku akan menjadi Buddha di dunia ini…”
“Jika mau, aku dapat membakar sampai habis kekotoranku sekarang [juga].
Pada kalimat ini mengindikasikan bahwa Sumedha dapat merealisasi Nirvana pada kehidupannya saat itu juga.
[Namun] apakah gunanya merealisasi Dhamma di sini...
KIta tahu bahwa tingkat kesucian arahat merupakan tujuan tertinggi untuk terbebas dari siklus kelahiran kembali dan akhir dari dukha. Dan arahat adalah sama dengan Buddha dalam konteks batin. Tapi pada sebutan "apakah gunanya" ini bukankah ini mengindikasikan bahwa beliau menolak merealisasikannya saat itu juga? Bukankah itu sama dengan menunda?
Seperti saya pernah katakan bahwa istilah menunda hanya berlaku bagi mereka yang masih belum berjalan di “Sang Jalan” secara sempurna. Sumedha berkata demikian karena ia belum membakar sampai habis kekotoran, sehingga arahat phala tidak mungkin diterima, tidak mungkin berbuah sehingga berkesan ia menunda nirvana. Bagaimana mungkin ia belum berbuat tapi sudah menerima hasilnya ? Karena itu yang ia tolak sebenarnya bukan Nirvananya tapi tindakan untuk merealisasikan Dhamma / melaksanakan Dhamma, yang ia tolak adalah tindakan membakar sampai habis kekotorannya. Dan memang jika diperhatikan sekilas seperti menunda karena tindakan menolak terhadap merealisasikan Dhamma berimbas pada berbuah atau tidak berbuahnya Arahat phala.
kearahatan yang dicapai sang calon buddha hanyalah satu dari sekian banyak kualitas yang diraih. Masih ada kualitas lain yang diraih seperti 18 keistimewaan seorang Buddha yang tidak dimiliiki seorang arahat. Makanya sudah dijelaskan dari awal bahwa Buddha adalah arahat tetapi arahat belum tentu adalah buddha.
Arahat sama dengan Buddha dalam hal pencapaian pencerahan, tetapi fakta memperlihatkan Buddha melebihi seorang arahat.
Saya cenderung merasa anda memiliki prinsip bahwa Arahat sama dengan Buddha secara total, meskipun anda mengatakan dari konteks batin saja, padahal kenyataannya dari konteks batinpun masih ada perbedaan antara arahat dgn buddha. Seperti Buddha mengetahui kehidupan lalu tanpa batas , arahat mengetahui dalam jumlah terbatas, dalam aspek pengetahuan seperti ini, bukankah batin yang menentukan?
Benar, tapi ini semua tidak lebih dari abina. Dan saya tidak mengatakan bahwa Arahat= Buddha dalam semua konteks.
ya, akhirnya Sumedha memilih kedua namun dia berkata bahwa aga gunanya merealisasi dhamma saat ini . Kira2 apa sebabnya dia ingin memilih kedua menurut anda? Apakah pilihan pertama itu memang tidak berguna?
Secara pasti saya tidak tahu, tapi mungkin kira-kira begini :
Dalam suatu perjalanan panjang, ditengah jalan anda menemukan sekarung perak yang banyak dan berat, kemudian anda diberitahu oleh seseorang bahwa beberapa meter dari ujung jalan anda akan menemukan sekarung emas 2 x banyaknya dari perak. Mana yang anda pilih perak ditengah jalan atau emas di dekat ujung jalan ?
Sumedha berkata "Jika mau, aku dapat membakar sampai habis kekotoranku sekarang [juga]",
Bukankah perkataan sumedha ini mencerminkan bahwa beliau bisa mencapai nirvana saat itu, tapi beliau memilih jalan yang menuju sammasambuddha,
Pilihan pertama adalah cara cepat, pilihan kedua harus melewati berkalpa kalpa sampai paramitanya banyak yang berarti waktu tempuh nya lebih lama. Nah... menolak cara cepat lalu mengambil jalur lambat kalo bukan dikatakan menunda, lalu apa?
Memilih. :) memilih yang terbaik dari yang paling baik. Dan sekali lagi yang ia tolak bukan Nirvana tetapi perbuatannya, tindakannya berupa membakar kekotoran. Bukankah tidak tertulis bahwa Sumedha menolak Nirvana ? Dan sekali lagi memang jika diperhatikan sekilas seperti menunda karena tindakan menolak terhadap merealisasikan Dhamma berimbas pada berbuah atau tidak berbuahnya Arahat phala.
Sama sekali belum itu namanya "tidak", bukan "menunda".
Jadi, sama sekali belum melaksanakan sang jalan itu berarti tidak mengusahakan pencapaian nirvana, bukan menunda nirvana.
Persepsinya jadi berbeda..
Perhatikan : “ Istilah menunda nirvana hanya berlaku bagi mereka yang sama sekali belum melaksanakan “sang jalan” secara sempurna” Dengan kata lain, belum sama sekali sempurna tapi telah menjalankan.
Perbedaan persepsi antara anda dan saya adalah anda menganggap Nirvana itu seperti tempat yang bisa tunda untuk berangkat ke sana atau title yang dapat ditolak. Tapi persepsi saya, Nirvana adalah buah, hasil, phala
NB :
http://www.buddhistinformation.com/bodhisattva_ideal_in_theravada.htm
The presence of the bodhisattva ideal in the Theravaada Buddhist Paali canon is primarily restricted to Gotama Buddha. The use of the term "bodhisattva" occurs in a number of the suuttas (Skt: suutra) in the Majjhima, Anguttara, and Samyutta Nikaayas where the Buddha is purported to have said: "Monks, before my Awakening, and while I was yet merely the Bodhisatta [Skt: bodhisattva], not fully-awakened...." (11) In addition to referring to the present life of Gotama, the term "bodhisattva" is also used in relation to the penultimate life of Gotama in Tu.sita (Paali: Tusita) heaven, as well as his conception and birth.
CanCerius
June 25, 2004, 16:03
Originally posted by iching
Sudah ..
Sudah...
Tidak berbeda. Noda2 batin yang telah dilenyapkan secara total bagaikan cermin yang telah bersih dari debu, semua cermin yang telah bebas dari debu adalah sama kilatnya.
Demi kesejahteraan semua makhluk hidup. Dalam kitab Buddhavamsa sendiri menyatakan seorang Bodhisatta berikrar menjadi seorang Bodhisatta setelah mencapai kearahatan.
Samyaksambuddha merupakan pencapaian tertinggi, karena setelah itu seseorang yang meraih samyaksambuddha menjadi seorang yang mahatahu, guru dari para dewa dan manusia, yang terunggul, pengenal segenap penjuru alam. Jadi, Nirvana itu dikatakan tertinggi hanya dari aspek batin saja. Bagi seorang bodhisatva, mencapai pemurnian batin saja tidak cukup solid untuk menyelamatkan semua makhluk hidup, hanya apabila telah meraih segenap pencerahan sempurna, semua makhluk barulah dapat dibebaskan.
Jalan Bodhisatva memang panjang, dalam Sutra menyatakan bahwa Bodhisatva sebelum tingkat Bhumi ke-7 masih tersisa noda2 batin(kilesa), semakin tinggi tingkatannya, semakin berkurang kilesa-nya, dan pada tingkat Bhumi ke-7 inilah Bodhisatva baru mencapai pemurnian batin, mencapai nirvana, bebas dari tumimbal lahir. Sepadan dengan Arahat.
Sudah dikatakan bahwa Nirvana ini dari aspek batin saja, sedangkan awal perjuangan disini ditujukan untuk menyempurnakan paramitanya agar meraih segenap pengetahuan sempurna, pengenal segenap penjuru alam, yang terunggul di alam semesta...
Memang demikianlah
Sudah dijawab, bahwa batin yang telah murni itu bukan berarti akhir dari segalanya bagi seorang Bodhisatva, kalo Arahat memang tidak perlu berjuang lagi, karena aspirasi arahat ya hanya ingin bebas dari tumimbal lahir, lalu selesai, kalo ada kesempatan mengajar makhluk lain, ngajar, abis itu jika dia mati, dia memasuki nirvana tanpa sisa. Bodhisatva tidak, mengapa? apalagi yang ingin diperjuangkan? yakni Kesejahtreaan makluk lain , dan keinginan untuk mensejahterakan makhluk lain itu bukan Tanha, bukan kilesa, keinginan ini adalah manifest dari maitri karuna-nya karena batin nya yang murni. Seperti sang Buddha ingin membabarkan dharma di kota Magadha , apakah keinginan sang Buddha itu adalah Tanha?Kilesa? tidak bukan? itu adalah manifest dari maitri karuna sang Buddha.
Dapat, itulah keunggulan2 yang dimiliki makhluk suci, jika bahkan untuk menunda Parinirvana aja nggak bisa bagaimana pantas disebut Makhluk unggul? Dalam Mahaparinibbana sutta aja ada tulis Sang Buddha dapat hidup satu kappa lagi bila ia mau, ini bukti bahwa anupadisesa itu dapat ditunda. Tapi beliau tidak mau melakukannya, itu masalah lain.
Memang betul. Mereka tidak dilahirkan kembali tapi mereka sanggup menjelma dalam bentuk apapun demi menyelamatkan semua makhluk, mereka dapat terlihat seolah olah dilahirkan kembali, tapi tentu mereka punya maksud istimewa untuk melakukannya. Apa sebab mereka sanggup berbuat demikian? Karena hasil dari sila, samadhi dan prajna mereka sangat mantap dan aspirasi mereka sangat besar demi semua makhluk hidup.
Ya, itu bagi mereka yang masih banyak kilesa-nya . Bagi bodhisatva yang telah lenyap kekotoran batinnya, nafsu keinginan rendah itu tidak ada lagi. Mereka bukan dilahirkan kembali, tapi mereka menjelma dengan cara bijaksana yakni memasuki rahim seorang manusia dengan pikiran murni. Itulah kualitas unggul dari seorang bodhisatva.
Bagaimana Anda bisa mengumpamakan Bodhisatva=Samyaksambuddha(cermin)? karena mereka bukan sesuatu yg sama. Bodhisatva masih belum melenyapkan noda2 bathin, karena masih terkekang oleh ¡§keinginan¡¨ menolong makhluk hidup lainnya, bathinNya masi belum mencapai ketenangan.
Mungkin inilah bedanya Mahayana dan Theravada, dimana banyak yg menganggap ajaran Theravada mementingkan diri sendiri, sedangkan Mahayana mengajarkan adanya ¡§Bodhisatva2 yang akan menolong makhluk2 hidup mencapai Nirvana¡¨
Tapi karena gue menganut aliran Theravada, maka opini gue lebih berpihak ke Theravada, so jangan tersinggung yah:)peace.
Keadaan bathin Bodhisatva tentu berbeda dengan keadaan bathin Samyaksambuddha...dimana Bodhisatva masi terikat sesuatu (keinginan untuk menolong makhluk hidup/kegelisahan bathin ) sedangkan keadaan bathin seorang yg telah mencapai Buddha (mencapai penerangan )adalah ¡§saat Ia mampu menghilangkan rasa gelisah dan khawatir , ia akan hidup tanpa dibelenggu rasa khawatir dan jiwanya akan menjadi tenang dan stabil ..saat Ia menghilangkan ketidakpastian, ia akan hidup dengan pikiran yang telah menghapuskan keragu2an dan tidak lagi digayuti sikap mental negatif¡¨ sehingga kita tidak akan mengetahui apa yg dibenci dan tidak disukai, harapan dan kecemasannya, masa2 kegalauannya, rasa gembiranya, atau kegigihannya.Apa yg tampak adalah kesan akan pengendalian diri , ketenangan dan kehalusan melampaui karakter manusia biasa , dan ketenangan hati. Jika keadaan bathin Bodhisatva dengan keadaan bathin Buddha saja sudah berbeda jauh, bagaimana mungkin bisa dikatakan keadaan bathin Bodhisatva=keadaan bathin SamyaksamBuddha dimana tingkatannya lebih "tinggi" dari Buddha?
Seseorg yg telah mencapai SamyaksamBuddha,
"Seperti nyala api yg padam oleh tiupan angin
Akan beristirahat dan tak bisa digambarkan
Demikianlah yg tercerahkan telah lepas dari belenggu ego
Ia akan beristirahat dan tak bisa dilukiskan
Lampaui segala yang ada di dunia
Lampaui kekuatan kata-kata.(Sutta Nipata5:7)".
iching
June 27, 2004, 16:16
[ Bagaimana Anda bisa mengumpamakan Bodhisatva=Samyaksambuddha(cermin)? karena mereka bukan sesuatu yg sama. Bodhisatva masih belum melenyapkan noda2 bathin, karena masih terkekang oleh ¡§keinginan¡¨ menolong makhluk hidup lainnya, bathinNya masi belum mencapai ketenangan.
Anda salah paham, saya tidak menganggap bodhisatva=samyaksambuddha(cermin).
Noda2 batin yang telah lenyap dari seorang Bodhisatva sama dengan Arahat. Tetapi karena Mahayanis berpandangan bahwa Arahat masih harus berjuang untuk mencapai samyaksambuddha, maka saya katakan bahwa dari segi noda batin yang telah dimurnikan, sama sama merealisasi nirvana. Sama dari segi penghapusan noda batin, tetapi berbeda dari segi kemampuan batin, keunggulan fisik.
Keadaan bathin Bodhisatva tentu berbeda dengan keadaan bathin Samyaksambuddha...
Saya tidak memungkirinya...
ajaran mahayana sudah jelas mengklasifikasi kondisi batin dari seorang bodhisatva tingkat pemula hingga tinggi tertinggi sampai pada pencapaian Samyaksambuddha, itu semuanya berbeda beda, semakin tinggi tingkatannya semakin berkurang noda batinnya dan kemampuannya.
Tetapi coba anda jelaskan apakah keadaan batin seorang arahat sama dengan seorang samyaksambuddha?? Padahal sama sama merealisasi nirvana.
iching
June 27, 2004, 16:31
Saya ingin tekankan bahwa seorang umat Buddha sejati seharusnya secara idealnya berjuang meraih seperti apa yang telah diraih sang buddha. Mencapai kesucian arahat dan merealisasi nirvana memang telah menghapus Dukha yang telah dikatakan sang Buddha sebagai inti perjuangan kita, tetapi jika kita renungkan secara mendalam , mencapai kesucian arahat sebenarnya ibarat kita telah menghilangkan depresi kita sepanjang masa, dan setelah itu bukankah kita mestinya akan dapat leluasa menolong orang lain tanpa merasa terganggu seperti perilaku para bodhisatva2?
Pada awalnya sang buddha sangat menekankan siswanya untuk mencapai kesucian arahat , mengapa ? karena itu langkah awal untuk menghapus depresi siswa nya terlebih dahulu, maka selanjutnya tahapan2 ajaran yang lebih tinggi baru diberikan kemudian.
markosprawira
November 30, 2007, 02:29
Salah satu yang disebut Accinteya (tidak terjangkau oleh pikiran manusia biasa) adalah Nibbana....
yang lainnya adalah :
1. Kamma
2. Asal mula alam semesta
3. Manusia pertama
huangxiaoyen
December 16, 2007, 04:44
-Secara umum Alam Dharma menunjuk pada 4 alam suci dan 6 alam tumimbal lahir. 4 alam suci : Arahat, Prateyka Buddha, Bodhisattva dan Buddha, 6 alam tumimbal lahir : dewa, manusia, jin, binatang, setan kelaparan dan Neraka. Secara keseluruhan 10 alam Dharma ini menunjuk pada berbagai jenis eksistensi dari alam semesta.
-Beda antara Arahat dan Samyaksambuddha :
1. Dibimbing oleh Samyaksambuddha
2. Sudah memutuskan penyebab penderitaan tapi tidak dapat membagikan ke yang lain(terbatas bukan tidak bisa sama sekali)
3. Kekurangan Karuna dibanding dengan Bodhisattva dan Buddha(bukan berarti tidak memiliki karuna)
-Tujuan Theravada : Arahat, Mahayana : Bodhisattva. Dalam Theravada pembagian tingkatan-tingkatan Bodhisattva memang tidak sejelas pada Mahayana.
-Prateyka Buddha : Mereka yang merealisasi Nirvana pada saat tidak ada Samyaksambuddha dengan kemampuan terbatas pula untuk membagikannya pada yang lain.
- Ketika seorang Sadhaka memiliki keinginan mencapai tingkatan lebih tinggi dari Arahat untuk tidak memasuki Nirvana sebelum semua insan terselamatkan pada awal karirnya ia disebut sebagai Bodhisattva.
- Nirvana yang direalisasikan oleh ke-3 nya sama dan tidak ada 3 jenis nirvana untuk masing2nya, mereka dapat pergi kemanapun juga sesuka hati mereka tanpa pantangan karena tidak ada kemelekatan lepas dari 6 alam tumimbal lahir.
- Ada 10 tingkatan Bodhisattva :
1. Pramudita
2. Vimala
3. Prabhakari
4. Arcismati
5. Sudurjaya
6. Abhimukhi
7. Durangama
8. Acala
9. Sadhumati
10. Dharmamegha
Pada tahap ke-8 (Acala), semua kekotoran (klesavarapa) telah dilenyapkan dengan meditasi akan sunyata. Pada tingkat ke-9, mulai menghapus Jneyavarapa. Pada tingkat ke-10, jejak-jejak terakhir dari Jneyavarapa telah dihilangkan. Dan pada akhirnya tahap Kebuddhaan dimana Avarapa telah dihilangkan seluruhnya.
Pada tahap ke-10, Bodhisattva bermeditasi pada sunyata secara jelas dan keseluruhan tetapi ia tidak dapat melihat sunyata dan fenomena dalam waktu yang sama. Tetapi Sang Buddha mampu melihat sunyata dan fenomena dalam waktu yang sama. Ada ungkapan Bodhisattva tidak dapat mengetahui pikiran daripada Buddha, hanya Buddha yang dapat mengetahui pikiran dari Buddha lainnya.
Selain itu hal tersebut menyangkut tahap-tahap perkembangan pikiran dalam meditasi yang sangat halus sungguh sulit bagi kita untuk membedakan Arahat, Prateyka Buddha, Bodhisattva, Buddha berikut juga arti-artinya karena belum mengalami sendiri. Sungguh sulit membedakan antara Bodhisattva dan Buddha tapi yang penting realisasi Nirvananya sama saja hanya tergantung anda mo pilih tingkatan mana, kan lebih baik menempuh jalan dan menjadi sama seperti Samyaksambuddha, tidak ada sesuatu yang dipaksakan kalau dah waktunya juga dialami. Untuk lebih jelasnya baca Sadharma Pundarika Sutra (jangan separuh-paruh kalo baca). N sekedar nasehat hati2 kalo mengkritik ajaran Sang Buddha baik itu Theravada maupun Mahayana...... Kalo anda mengkritik orangnya sih oke2 saja...
O ya mo nambahin tanya ada yang tau g ya Sutra Shurangama dalam Bhs Indonesia dalam bentuk e-book kalo ada dimana bisa didownload..... Soale dapete yang dalam Bhs Inggris sudah bodoh jadi g mudeng sama sekali sisinya he3....
Thanks...
vBulletin® v3.8.2, Copyright ©2000-2013, Jelsoft Enterprises Ltd.