View Full Version : Prinsip mengubah nasib







Rick7
April 25, 2004, 04:08
Apakah nasib dapat dirubah?

Setiap orang mempunyai nasib yang berbeda beda. Mengapa ada orang yang hidupnya selalu didera kemiskinan dan juga kesusahan, biarpun hidupnya sudah di jalur yang benar tetapi tetap hidupnya selalu kesulitan. Ada orang yang jarang berbuat kebaikan, tetapi hidupnya selalu mujur dan selalu berkecukupan. Ada juga banyak yang hidupnya pas-pasan.
Setiap orang dikontrol oleh chi yin dan yang, maka hidup setiap orang dikendalikan oleh nasib. Hidup seseorang tidak dapat dikendalikan oleh nasib bila:
·Orang tersebut banyak berbuat kebajikan, nasib tidak akan dapat mengendalikannya.
·Orang yang berbuat banyak kejahatan, juga nasib tidak dapat mengendalikannya.

Apakah benar seseorang dapat merubah nasib ia dapat melepaskan diri dari nasib tersebut? Nasib ditentukan oleh pikiran kita. Baik atau buruknya nasib seseorang dibuat oleh diri kita, oleh pikiran kita. Di Sutra Budha dijelaskan bahwa jika anda berdoa untuk kekayaan atau rejeki, berdoa untuk memiliki anak, atau umur panjang, anda akan mendapatkannya. Ini bukanlah kebohongan, sebab berbohong itu dosa yang besar dalam ajaran agama Budha. Mencius (372-289 SM) menjelaskan bahwa seseorang dapat meminta apa saja dalam batas kemampuannya, dalam arti, kebajikan, kebaikan hati, penghargaan akan didapatkannya. Tetapi, bila datang kepada kekayaan, kedudukan, bagaimana kita dapat memintanya? Bila seseorang melihat hati mereka sendiri, berbuat kebaikan, maka wajar bagi seseorang untuk mendapatkan kehormatan diri dari orang lain dan mendapatkan kedudukan yang baik dalam hidup. Bila sesorang tidak dapat melihat diri mereka , maka orang tersebut tidak akan mendapatkan apa yang di carinya.

Ada sebuah cerita yang dikutib dari buku Yuan Lao Fan yg berjudul “Kunci untuk mengubah nasib”. Begini ceritanya:
Yuan dilahirkan pada jaman Ming dinasti di cina pada tahun 1550 di profinsi Wu jiang. Yuan kehilangan ayahnya ketika masih kecil sehingga tinggal dengan ibunya seorang. Ibunya mengira bahwa ada baiknya Yuan belajar kedokteran sehingga dapat memberikan nafkah keluarga dikemudian hari dan juga dapat membantu orang banyak dengan ilmu yang didapat. Yuan memiliki ambisi untuk menjadi seorang pejabat negara, tetapi tidak kesampaian karena Yuan mendengar nasihat ibunya dan melepaskan ambisinya untuk menjadi sarjana dan duduk di ujian negara untuk mendapatkan jabatan di pemerintahan. Suatu hari Yuan bertemu dengan seorang tua di sebuah kuil budha “Awan pengasihan”. Orang tua ini memiliki jenggot yg panjang dan memiliki rupa seperti seorang bijaksana. Yuan memberi hormat kepadanya. Orang tua ini berkata kepada Yuan,” Engkau ditakdirkan untuk menjadi seorang sarjana dan akan duduk di pemerintahan. Tahun depan engkau akan duduk di ranking ‘terpelajar’ (dudukan paling atas pada level sarjana). Kenapa engkau tidak sekolah? Tanya orang tua tersebut. Orang tua itu kemudian memperkenalkan diri,”nama saya K’ung dari profinsi Yunnan. Saya mempelajari ilmu meramal nasib, warisan leluhurnya Shao-Tzu” (sarjana dari dinasti Sung yg menyempurnakan lamaran nasib di cina). Orang tua ini berkata bahwa Ia akan meramal hidup Yuan. Yuan membawa orang tua ini ke rumahnya dan memperkenalkannya kepada ibunya. Ketika bertemu orang tua ini menguji ilmu melamarnya yang diperlihatkan kepada ibunya. Semua lamaran yang dikatakan orang tua ini selalu benar, baik untuk kejadian kecil maupun besar. Maka Yuan menjadi yakin akan apa yang dikatakan orang tua ini tadi tentang nasibnya. Sebelum berpisah, orang tua ini berkata kepada Yuan, bila Ia mengikuti ujian negara, pada tingkat kepala, Yuan akan mendapat rangking 14, sedangkan pada tingkat daerah, Yuan akan mendapatkan rangking 71, pada tingkat profinsi akan mendapatkan rangking 9. Pada akhir tahun, ketika ujian akhir usai, Yuan mendapatkan hasil ujian akhir dan melihat rangkingnya yang tepat seperti yang dilamarkan orang tua tersebut. Orang tua itu juga meramal seluruh hidupnya, mulai dari akan menjadi pembantu pejabat negara sampai akhirnya mendapatkan kedudukan pejabat. Begitu seterusnya, sampai akhirnya Yuan percaya dengan nasib yang sudah dilamarkan oleh orang tua tersebut. Mulai dari saat itu, Yuan menjadi yakin bahwa kesehatan, posisi, hidup dan mati mempunyai waktunya sendiri2. Semuanya sudah ditakdirkan. Sampai akhirnya Yuan menjadi tidak berminat dengan semuanya. Yuan menjadi tertarik dengan meditasi dan hilang semangat untuk belajar.

(bersambung)

Rick7
April 25, 2004, 05:53
Orang tua tersebut juga meramalkan Yuan akan hidup sampai dengan umur 53 dan meninggal pada tgl 14 Agustus lengkap beserta jam waktunya. Sampai waktu tersebut Yuan tidak akan memiliki anak.
Pada akhir tahun Yuan masuk ke perguruan tinggi di daerah Utara ibukota. Ketika kembali pulang, Yuan mengunjungi Yun Ku-Hui, Zen master dari Gunung Ch’i. Mereka duduk berhadapan selama 3 hari tiga malam tanpa tidur. Master Yun (begitu nama Zen master tersebut) berkata,”alasan mengapa orang biasa tidak dapat menjadi suci dan bijaksana karena mereka memiliki banyak pikiran dan keinginan.
Yuan berkata,” orang tua dari kuil Budha “Awan pengasihan” meramal hidup saya, hidup dan mati seseorang sudah ditakdirkan, jadi tidak perlu untuk menginginkan apa2. Selama 20 tahun ke belakang saya telah di dikelilingi dengan ramalan orang tua tersebut tanpa bisa berbuat apa2. Yuan menceritakan panjang lebar kisah hidupnya.
Yuan kemudian bertanya,” apakah benar seseorang tidak bisa merubah takdir? Mendengar ini the Zen master mulai tertawa. Kemudian ia berkata,”nasib orang dibuat oleh diri kita sendiri, oleh pikiran kita sendiri, nasib baik atau nasib buruk juga yang menentukan diri kita sendiri. Zen master tersebut kemudian bertanya kepada Yuan,” Apakah yang seharusnya nasib yang akan kamu terima? Mendapatkan posisi yang lebih tinggi? Apakah kamu berharap akan mendapatkan anak?…Yuan menalar pertanyaan tersebut selama beberapa menit dan kemudian berkata,”Setiap orang yang menduduki suatu posisi tinggi negara pasti memiliki kekayaan banyak. Saya tidak kelihatan seperti orang yang memiliki kekayaan yang banyak. Saya juga bukanlah orang yang sabar, dan juga tidak berbuat banyak kebajikan dan juga tidak disiplin, dan berkata tanpa menahan diri. Saya juga memiliki kesombongan diri. Yuan akhirnya mengerti maksud Zen master dengan pertanyaannya. Ada sebuah pepatah, musim semi mulai dari tanah, air yang jernih kadang tidak ada ikannya. Saya kadang2 mudah tersinggung dan jarang berbuat kebaikan untuk orang lain, itulah alasan saya tidak akan mempunyai anak. Zen master kemudian menambahkan,” menurut mu ada banyak dalam kehidupan ini yg orang tidak pantas mendapatkannya, bukan hanya anak atau posisi. Di dunia ini, mengapa banyak orang kaya yg kecukupan dan miskin yg kekurangan karena mereka membuatnya nasibnya sendiri. Surga akan memberi semuanya itu menurut benih yag ditabur dalam hidupnya. Sama seperti memiliki anak, bila seseorang mengumpulkan pahala selama 100 tahun hidupnya, maka orang tersebut akan mempunyai generasi 100 tahun lamanya. Jika seseorang mengerti prinsip ini hidupnya akan berubah. Merubah dari sifat malas mejadi rajin, keburukan hati menjadi kebaikan. Kekejaman menjadi kebajikan. Mencintai hidupnya dan tidak menyia-nyiakannya. Bila seseorang dapat memulai hidup baru dan mencoba mengumpulkan pahala, maka hidupnya akan berubah total.
Mulai saat itu , Yuan sadar dan mengerti akan prinsip merubah nasib. Yuan menulis keinginannya untuk medapatkan kelulusan pada ujian negara yg akan datang dan bersumpah akan melakukan pahala sebanyak 3000. Zen master tersebut juga mengajarkan bagaimana mencatat pahala yg telah diperbuat dan juga mengajarkan menjapa mantra untuk menguatkan apa yg di inginkan. Mantra Cundi dapat didapat di banyak kitab budha. Ia juga mengajarkan rahasia membaca mantra tersebut, dari awal sampai akhir dalam proses keheningan lepas dari semua pikiran. Dalam keadaan ini mantra dapat bekerja.

(bersambung)

Rick7
April 25, 2004, 07:19
Theory Mencius tentang hidup berkata bahwa hidup panjang dan pendek tidaklah berbeda. Secara umum, keduanya kelihatan berbeda, tetapi tanpa membedakan hati mereka adalah sama. Jika seseorang hidup dengan semestinya tanpa melihat status, maka orang tersebut akan menjadi tuan dalam nasib hidupnya. Untuk merubah hidup seorang menjadi baik, orang tersebut harus pertama mengubah kebiasaan dan pikiran buruknya. Bila pikiran buruk timbul, singkirkan dari akarnya. Untuk mengontrol pikiran adalah sesuatu yg tidak mudah. Tetapi mungkin untuk membaca mantra sampai pada titik dimana dalam keadaan tidak menjapanya saja kekuataannya akan muncul. Sampai saat itu, Yuan merubah hidupnya menjadi lebih disiplin. Melihat dan berhati2 dalam perkataan. Setelah akhir tahun, Yuan mengikuti ujian negara. Sebelumnya orang tua tersebut meramal bahwa ia akan mendapatkan rangking ke3, ternyata ia mendapatkan rangking pertama. Ramalan orang tua tersebut sedikit mulai hilang ketepatannya. Yuan mulai mencatat perbuatan baik yg dilakukan setiap hari. Misalnya memberi makanan kepada orang miskin atau membantu tetangga yg kesulitan. Membebaskan makhluk hidup seperti burung atau binatang kecil atau sekedar membantu teman yg kesusahan, semuanya dicatat pada sebuah buku. Istri Yuan akan melingkari tanggalan dan menggambar angsa pada tanggalan tersebut sesudah melakukan kebajikan. Kadang2 mereka dapat mendaptkan 10 lingkaran pada hari yg sama. Dalam waktu 2 tahun mereka dapat mengumpulkan 3000 pahala. Setelah 3 tahun berlalu, Yuan lulus dari ujian negara pada Chin-Shih level dan menjadi Pao-Ti mayor tingkat daerah. Tahun itu juga mereka mendapatkan seorang anak. Mereka kembali ke kuil budha dan berterima kasih akan karunia yg mereka dapatkan. Yuan bersumpah untuk mengumpulkan 10000 pahala dikemudian hari dan mulai mencatat segala kebajikan kebajikan yg mereka perbuat. Setelah mereka pindah karena jabatan yg ia terima pada pemerintahan, Yuan mulai merasakan sulitnya untuk berbuat kebajikan yg banyak. Istrinya menjadi khawatir karena sebelumnya di tempat yg lama mereka dapat membantu orang2 miskin disekitar tempat mereka tinggal, tetapi ditempat yg baru tersebut sangat sulit. Bagaimana kita dapat melakukan 10000 pahala? tanya istrinya. Suatu hari melalui mimpi, Yuan melihat dewa yg berkata kepadanya,”bila engkau mengurangi pajak pada ladang beras di desa tersebut, satu kebajikan akan bernilai sepuluh ribu pahala. Pajak daerah tersebut memang terkenal tinggi, setiap petani harus membayar pajak yg amat besar. Yuan berpikir bila ia mengurangi pajak menjadi setengah tetap ia tidak mengerti bagaimana satu kebajikan bernilai sepuluh ribu pahala? Pada suatu waktu ada seorang bhikku yg akan melakukan perjalanan ke gunung ‘lima dataran tinggi.’ Dan Yuan menceritakan mimpinya. Bhikku itu menjawab, bila seseorang secara ikhlas melakukan kebajikan, kebajikan tersebut dapat bernilai sepuluh ribu pahala. Ketika mengurangi pajak untuk daerah tersebut, paling sedikit 10000 orang akan merasakan manfaat. Tentu saja satu kebajikan bisa bernilai sepuluh ribu. Setelah mendengar perkataan bhikku tersebut Yuan mengucapkan terima kasihnya dan memberikan derma satu bulan gajinya untuk dibawanya kembali ke gunung ‘lima dataran tinggi’ untuk diberikan kepada 10000 bhikku.

(bersambung)

Rick7
April 25, 2004, 07:54
Orang tua melamarkan bahwa Yuan akan meninggal pada umur 53 tahun. Yuan tidak meminta atau ingin merubah umurnya, akan tetapi umur 53 telah datang dan ia selamat. Sekarang Yuan berumur 69. Mulai dari saat itu, Yuan percaya bahwa bila orang berkata nasib seseorang ditentukan oleh yg diatas, ia akan menganggap orang tersebut hanya manusia. Bila seseorang mengatakan nasib ditentukan oleh apa yg kita perbuat atau lakukan, ia menganggap orang tersebut bijaksana.

Bagaimanapun seseorang tidak mengetahui nasibnya. Ketika ia berhasil, ia harus membawa dirinya sederhana dan tidak lupa diri. Dan ketika sesuatu tidak berjalan sesuai keinginannya, ia harus membawa dirinya dengan tidak berkecil hati.Ketika memiliki kekayaan lebih kita harus merasa kebalikannya dan membantu orang2 miskin yg kesulitan. Ketika kita memiliki cinta, respect dan bantuan orang, kita tidak menjadi sombong. Bila kita berasal dari keluarga yg berada kita tidak harus bangga tetapi sebaliknya. Ketika kita memilik banyak pengetahuan kita harus membantu sesama lainnya.

Itulah prinsip mengubah nasib.

(cerita diterjemahkan dari: "The key to creating one's destiny"
-the four lessons of Liao-Fan)

Mohon maaf bila ada kata2 yg salah.
:maaf:

Rick7
April 25, 2004, 18:20
Dibawah ini pedoman nilai perbuatan kebajikan yg dicatat oleh Yuan selama mengumpulkan pahalanya.

Semoga bermanfaat bagi yg ingin melakukan kebajikan.


Papan nilai perbuatan baik/kebajikan/pahala (Merits):


100 pahala
Menolong hidup seseorang, menyelamatkan kesucian seorang gadis; mencegah orang yg tenggelam, meneruskan garis keturunan keluarga.

50 pahala
Mencegah aborsi seorang wanita; melawan hawa nafsu (sexual misconduct); memberi tempat tinggal bagi tuna wisma; mengubur orang tuna wisma; mencegah seseorang menjadi tuna wisma; mencegah seseorang melakukan tindakan kriminal; membersihkan seseorang dari rasa ketidakadilan; memberi ceramah yg menguntungkan orang banyak.

30 pahala
Mendermakan tanah untuk keluarga tuna wisma; merubah seseorang kembali kejalan benar; mengambil anak yatim piatu; menolong orang lain melakukan kebajikan.

10 pahala
Menyingkirkan kesulitan untuk orang lain; mengobati orang yg sakit; berbicara benar; memperlakukan pembantu dengan sewajarnya; menolong binatang yg membantu orang banyak, mencegah perbuatan semena-mena; mendistribusikan ajaran budha ke orang banyak.

5 pahala
Mengobati penyakit seseorang; ,mencegah seseorang berkata yg tidak benar (gossip yg tidak benar akan seseorang); berdoa untuk seseorang; bersumpah untuk tidak menyakiti mahkluk hidup; menolong binatang kecil.

3 pahala
Bertahan dari perbuatan semena2 seseorang tanpa rasa marah; menerima fitnah tanpa perasaan ingin membalas; mengubur binatang yg mati secara wajar.

1 pahala
Mencegah seseorang berbuat kesalahan; memberi makanan bagi orang lapar; memberi tempat tinggal sementara bagi orang tuna wisma; menjapa 1 bab ayat Sutra Budha; menjapa nama budha sebanyak 1000 kali, menjapa doa bertobat sebanyak 100 kali; berbicara kebenaran kepada 10 orang; mengorganisasi project yg dapat membantu 10 orang; memberikan makanan kepada seorang bhiksu; memberi sedekah kepada pengemis; meringankan penderitaan mahkluk hidup, menasihati kebaikan kepada orang; menjadi vegetarian selama 1 hari; mengubur burung yg mati; menolong serangga & binatang kecil yg hampir mati; memberi derma pakaian kepada orang yg memerlukan; memberi bantuan kepada orang yg dilibat hutang; memberi semangat orang untuk berderma; membantu pembangunan wihara/kuil; memberi persembahan di meja altar;

Rick7
April 26, 2004, 10:47
The Ten Short
Dharanis

The following ten dharanis are normally recited in the Morning Recitation of Chinese Buddhism. These mantras are recitable by anyone. A description of the mantra will be provided at the beginning of each mantra. Note: all mantras are mostly in Chinese pronunciation.

The Cintamani Cakra Avalokitevara Mantra
(The Wish- Fulfilling Wheel Mantra of Avalokitesvara)
People who recite this mantra, will attain the wisdom the the Buddhas. One can then easily understand the profound teachings of the Buddha. This mantra can turn the sufferings into the Bodhi mind. If one recites this mantra with a pure mind, when one is about to die, the Buddha Amitabha and Bodhisattva Avalokitesvara will come and take you to the Western Paradise of Buddha Amitabha.

Namah Ratnatrayaya Namo Aryavalokitesvaraya Bodhisattvaya Mahasattvaya Mahakarunikaya Tadyatha: Om tso- jie- ra- fa di- Chintamani mo-ho bo-den mi. ru-ru-ru-ru. di- se tsa. re- ra- a-jie ri. sa-ya HONG! Om Padma Chintamani rera Hong! Om- ba-la-to-bo dan-mi HONG!

The Auspicious Disaster Destroying Mantra
This mantra was taught to an assembly of gods and goddesses by the Buddha. The Buddha said that if one can recite this mantra 108 times, all disasters will dissappear and auspicious conditions will follow.
Namo saman do. mu-to-nan. a-bo-la-di. ho-do-se. so-lan-nan. Tadyatha: chie-chie. chie-shi chie-shi. Hong hong. ru-wa-la ru-wa-la bo-la-ru-wa-la bo-la-ru-wa-la. di-se-tsa di-se-tsa. se-tsi-li se-tsi-li. so-po-tsa so-po-tsa san-di ja. sriye. Svaha!

The Precious Vituous Mountain Dharani
Reciting this mantra once, is equal to prostrating to great buddhas and prostrating to the doctrine 45,400 times. If those who are destined to go to hell recite this mantra, they can be reborn in the Western Paradise of Amitabha.
Namah Ratnatrayaya Om shi-di hu-ru-ru shi-du-ru. chi-li-po. ji-li-po. shi-da-li. bu-ru-li. Svaha!

The Buddha Mother Cundi Mantra
Reciting this mantra can fulfill the wishes of any person.
I take prostrate and take refuge to Susiddhi.
With my head, I bow to the Seven Cundis.
Today, I praise the great Maha-cundi,
With compassion, may you please bestow me your bleesing!
Namo sa-do-nan. samyak sam buddha cundi nan. Tadyatha. Om jale jule cundi Svaha!

The Holy Inmesurable Long Life Light Dharani
People who are destined to have short lives can recite this mantra to increase the life span. One can also quickly attain the great Bodhi mind.
Om Namo Bhagavate Abharamita Ayuri a na. Supini. de-tsi-ta. de-tso-la-tsai-ye. tathagataya, arhate samyak sam budhaya. Tadyatha. Om saribha sanskri bali suta da-la-ma-di. ko-ko-nai. san-ma-wu-ko-di. so-ba-wa. bi-shu-di. ma-ho-na-ye bari-wari Svaha!

The Medicine Buddha Empowerment Mantra
This mantra is the mantra of the Medicine Buddha. If one recites this mantra, one can eliminate the sickness in the body and gain a long life. This mantra is in pure Sanskrit.
Namo Bhagavate Bhaisajya Guru Vaidurya. Prabha. Rajaya. Tathagataya. Arhate samyak sambuddhaya. Tadyatha. Om Bhaisajye bhaisajye. Bhaisya. Samudgate. Svaha!

The Divine Mantra of Avalokitesvara
This mantra has the same purpose as the Wish-fulfilling Mantra of Avalokitesvara.
Om Mani padme Hum! Ma-ge-ni-ya-na. ji-tu-te-ba-da. ji-tu-se-na. we-da-ri-ge. sarwarta- bu-ri-shi-ta-ge. na-bu-la-na. na-bu-li. dio-te-ban-na. na-ma-ru-ji. svaraya Svaha!

The Repentance Mantra of the Seven Buddhas
If one has made a great transgression or many transgresion, he or she is suitable to recite this mantra.
Li-po-li-po-di. cho-ho-cho-ho-di. do-lo-ni-di. ni-ho-la-di. pi-li-ni-di. maha-chie-di. jen-ling-chien-di. Svaha!

The Pure-Land Dharani
This dharani is the dharani of the Buddha Amitabha. Thus, if one recites it, he or she can be reborn in the Western Paradise of Amitabha.
Namo Amitabhaya. Tathagataya. Tadyatha. Ami-ri-do-po-pi. ami-ri-do-shi-dan-po-pi. ami-ri-do. pi-ja-lan-di. ami-ri-do. pi-ja-lando. chie-mi-ni. chie-chie na. ji-do-ja-li. Svaha!

The Dharani of Sri Devi
If one recites this mantra before mantra recitation or repentance, one will not be distracted outside conditions. One can also attain the Golden Light samadhi.
Namah ratnatrayaya. Namo shri maha bi-ti ye. Tadyatha. bo-li-fu-lo-na. je-li-san-man-do. da-se-ni. mo-ho-pi-ho-lo-chie-di. san-man-do.. pi-ni-chie-di. mo-ho ja-li-yeh. bo-mi. bo-la. bo-mi. sa-li-wa-li-ta. san-man-do. sho-bo-li-di. fu-li-na. a-li-na. da-mo-di. mo-ho-pi-gu-bi-di. mo-ho-mi-le-di. lo-bo-sen-chi-di. shi-di-shi. sen-chi-shi-di. san-man-to. a-ta-a-no. po-lo-ni.

Well, this is the end of the Ten Short Mantras. Recite these mantras constantly. You will receive the highest blessings.

sumber:http://www.geocities.com/Athens/Parthenon/7534/10mantra.html

langitbiru
April 26, 2004, 11:23
pd dasarnya setuju ama artikel di atas. hanya saja agak aneh dgn daftar harga karma baiknya nih... ;D tau dr mana yah harganya segitu?

Rick7
April 26, 2004, 12:27
Pedoman nilai pahala di atas digunakan Yuan berdasarkan ajaran Zen master yg ditemuinya di gunung C’hi. Sebenarnya pedoman nilai tersebut bukanlah yg paling penting, karena dalam berbuat baik kita tidak harus menghitung seberapa besarnya/beratnya. Asalkan perbuatan baik itu dilakukan dengan sungguh2 dan ikhlas, cerita diatas hanya menggambarkan bila kita bersungguh2 dalam melakukan perbuatan baik, nantinya kelak akan menikmati hasil perbuatan baik tersebut. Yuan bersungguh2 dalam mengumpulkan setiap perbuatan baik dan ia mencatatnya pada sebuah buku sebagai tuntunan seberapa banyak yg harus dilakukannya. Ibarat dalam belajar menghadapi ujian, seberapa nilai target yg harus kita kejar untuk bisa lulus. Kalau kita mempunyai pedoman tersebut mempermudah dalam belajar. Seperti ‘inner commitment’ gitu..

Ini saya petik dari salah satu paragraph:
“In Buddha’s teaching there is a saying that if we want to have wealth and position, we will have wealth and position. If we want to have fame we can have fame. Therefore, when we make an inner commitment, it is like a tree setting down its roots. We should set them down deep, always remembering humility in our dealings with others, always facilitating others, and then naturally we will accomplish what we wish.”

Ok thnx langit biru buat comment-nya. Mohon maaf bila ada kata2 yg tidak berkenan dihati.

Om Mani Padme Hum

Rick7
April 26, 2004, 20:02
Link dibawah ini saya ambil dari sebuah website yg bercerita tentang perbuatan baik yg dpt merubah nasib.
Ada baiknya melihat bagi yg tertarik

http://www.sasanaonline.net/cerita_b/apakah_p.htm

Rick7
April 28, 2004, 03:07
Ada pepatah: “sebuah perbuatan baik seseorang akan melahirkan kesejahteraan sampai ke banyak keluarga & generasi.” Pepatah ini ada benarnya, bila kita berbuat banyak kebaikan ini akan di rasakan tidak hanya oleh kita sendiri tetapi juga oleh anak cucu kita. Di bawah ini potongan cerita2 tentang benih perbuatan baik:

Di Fukien profinsi, ada seorang yg terkemuka bernama Yang Jung yg memiliki posisi di pemerintahan sebagai instruktor kerajaan. Nenek moyangnya adalah “manusia perahu” yg memiliki mata pencaharian menyeberangkan orang di sungai. Bilamana ada badai dan banjir, air banjir tersebut akan menghancurkan rumah2 dan kadang2 orang dan binatang ternak akan hanyut di sungai tersebut. Orang perahu2 lain akan mengumpulkan barang2 yg hanyut , tetapi hanya kakek moyang dan kakeknya yg tidak tertarik, tetapi menolong orang2 yg hanyut dan tidak memiliki hasrat untuk mengumpulkan barang2 tersebut. Orang2 desa mengira mereka bodoh. Setelah ayah Yang Jung lahir, keluarga Yang menjadi kaya raya. Suatu hari ada seorang bhiksu tao yg datang ke rumah keluarga Yang dan berkata,” Nenek moyang anda telah banyak mengumpulkan pahala; anak cucu anda akan menikmati kekayaan dan kemuliaan nantinya. Ada sebuah tempat dimana engkau dapat membangun ‘batu penghormatan’untuk nenek moyang anda”. Maka mereka mengikuti petunjuk bhiksu tersebut dan ketika Yang Jung lahir ia lulus dari ujian negara pada umur yg sangat muda dan mendapatkan kedudukan di pemerintahan. Raja menganugrahkan medali penghormatan kenegaraan. Sampai sekarang cucu buyutnya masih menikmati kedudukan baik di pemerintahan.

Cerita lain mengambil tempat di masa pemerintahan Chen-T’ung di periode (1436-1449) pada jaman dinasti Ming pemerintahan raja Ying-Tsung. Di profinsi Fukien ada banyak bandit2, dan pada waktu itu Hsieh mempunyai posisi sebagai kapten kerajaan untuk memberantas bandit2 tersebut. Karena mereka ingin memastikan orang2 yg tidak berdosa tidak terbunuh, ia menyuruh tentara2 kerajaan membuat daftar nama2 bandit yg menjadi anggota organisasi2 kejahatan, dan tentara2 nya diperintahkan untuk menyelipkan bendera putih pada rumah orang2 desa yg tidak terikat dengan organisasi2 itu. Orang2 desa di perintahkan menyelipkan bendera putih di muka pintu mereka ketika tentara kerajaan datang ke desa itu. Tentara kerajaan di perintahkan untuk tidak membunuh orang yg berdosa. Karena prosedur ini, ratusan dan ribuan orang terselamatkan.
Anak cucu Hsieh sekarang menikmati kehidupan mulia, di pemerintahan dan di masyrakat. Perbuatan ayahnya/ kakeknya Hsieh, tidak akan dilupakan mereka sampai sekarang.

Cerita lain adalah Keluarga Li. Diantara banyak nenek moyang ada seorang ibu yg memiliki hati mulia. Ibu ini akan membuat bola nasi untuk di berikan kepada orang miskin. Sebanyak apapun orang2 ini meminta, ia akan memberikannya. Ada seorang bhiksu selalu meminta 6 sampai 7 setiap harinya, dan bhiksu ini datang ke rumahnya setiap hari selama 3 tahun. Ibu ini selalu memberikannya dengan sukarela tanpa menyiratkan rasa marah atau apapun. Bhiksu ini sadar akan kebaikan hati nya dan berkata,” Aku telah memakan bola nasi mu selama 3 tahun tanpa bisa membalas kebaikan anda, tapi saya ingin anda tahu bahwa di belakang rumah anda ada suatu tempat di mana kamu dapat membangun kuburan untuk nenek moyang anda. Jumlah anak cucu mu yg duduk di pemerintahan akan berjumlah sama dengan jumlah benih akan tumbuh.” Setelah itu, anak cucu pertama dari keluarga Lin lahir. Mereka lulus pada ujian pemerintahan dan duduk di pemerintahan. Anak cucunya hidup sejahtera sampai sekarang.

Cerita lain, ada seorang lelaki yg bernama Pao’ping, anak ke 7 dari pejabat kerajaan. Ia adalah seorang yg berpendidikan dan berbakat. Ketika berjalan2 di danau Mao, ia melewati sebuah desa dan melihat sebuah kuil budha yg sudah tua dan tidak terurusi. Pada atap langit2 nya tampak bocor oleh air hujan. Pada kuil itu terdapat patung Kuan Yin yg basah karena air hujan. Ia kemudian merogoh kantongnya dan mengeluarkan 10 uang perak dan memberikannya kepada penjaga kuil tersebut dan berkata,”Ini uang untuk membetulkan kuil.”penjaga kuil tersebut berkata,”membetulkan kuil ini membutuhkan uang yg tidak sedikit, saya rasa uang yg anda berikan tidak akan cukup untuk membetulkannya. Mendengar itu Pao’ping melepas jubahnya dan memberikannya kepada penjaga kuil tersebut. Penjaga kuil tersebut mencoba mencegahnya, Pao’Ping berkata,” Tidak apa2. Yg penting patung ini tidak basah dan rusak oleh air hujan apa gunanya saya memakai baju? Penjaga kuil tersebut kemudian berkata,” memberikan uang dan pakaian tidaklah sulit, tetapi ketulusan hati anda sangatlah sulit untuk diterima. Setelah kuil tersebut di perbaiki, Pao’Ping datang bersama ayahnya mengunjungi kuil tersebut dan menginap satu malam di sana. Pada malamnya ia bermimpi, dharma protector datang dan berterima kasih,”anakmu akan menikmati kesejahteraan di kemudian hari.” Pada akhirnya anak Pao’Ping menikmati hidup duduk di pemerintahan, dan budi baik ayahnya tidak dilupakan sampai anak cucunya lahir.

cerita di terjemahkan & editted dari:" 3rd lesson-The ways of Accumulating Merits"

Rick7
April 28, 2004, 21:15
Ada kalanya perbuatan baik sulit dilakukan karena kesibukan yg kita hadapi, seperti pekerjaan, sekolah, aktivitas2 yg memakan waktu dan sebagainya. Bila kita dapat melenggangkan waktu kita sejenak untuk berbuat kebajikan alangkah baiknya.

Kebajikan2 yg kita dapat nanti bisa membayar hutang2 kita di masa lalu. Banyak berbuat kebajikan (Kung'te) bisa membuka pintu surga bagi kita maupun anak cucu kita.

Ada Beberapa cara berbuat amal yang mudah dan murah seperti di bawah ini: (sumber http://wasih.esmartdesign.com/bgmy.htm):

- membaca kitab suci (sesuai kepercayaan )
Beramal tanpa sesenpun baik si kaya / miskin dapat melakukannya daftar mantra / kitab suci agama buddha
- melepaskan mahkluk hidup contoh :membeli burung untuk dilepaskan ke alam bebas
- berjanji untuk tidak makan daging (vegetarian) dalam jangka waktu tertentu (lebih lama/sering lebih baik )
- mendamaikan pertentangan ,menyebarkan ajaran kebaikan dll

Beberapa perbuatan berikut akan menghasilkan karma baik:
Selalu bersifat kedermawanan [dana]
Menjaga moralitas yang baik [sila]
Senantiasa melakukan meditasi [bhavana]
Melakukan penghormatan [apacayana]
Pengabdian yang mendalam [veyyavacca]
Senantiasa mengirim jasa kepada makhluk yang menderita [pattidana]
Berbahagia atas perbuatan baik dari pihak lain [anumodana]
Mendengarkan Dharma [dhammasavana]
Membabarkan Dharma [dhammadesana]
Meluruskan pandangan salah [ditthijjukamma]

Untuk mendapatkan rejeki , panjang usia , keberuntungan , nasib yang baik dan terhindar dari segala malapetaka , merubah keadaan yang buruk hanyalah mengandalkan kepercayaan dan tekad diri sendiri dengan giat beramal , prihatin dan menanam benih kebaikan

Semua kejadian di dunia ini dikarenakan pembalasan hukum karma pada masa kelahiran yang silam yang harus dibayar pada kehidupan sekarang secara tuntas

Rick7
April 28, 2004, 23:13
Artikel
ceramah oleh Yang Arya Bhikkhu Uttamo Thera tentang nasib
lihat sumber: http://www.geocities.com/bbcid.geo/artikel41.html bagi yg tertarik

mimiru
May 10, 2004, 10:51
rick , mau nanya nih.
kan byk tuh suhu2 yg meramal nasib. itu tuh sebenarnya dibenarkan gak sih dlm ajaran Budha? misalnya meramal ttg jodoh (oh kamu gak jodoh ama org ini, jgn dilanjutin, bisa sial ato berumur pendek).
gw penasaran banget, soalnya kesannya seakan2 mereka itu menggurui dan tau ttg hidup manusia di masa depan.

mimiru
May 10, 2004, 10:56
Originally posted by Rick7
Orang tua melamarkan bahwa Yuan akan meninggal pada umur 53 tahun. Yuan tidak meminta atau ingin merubah umurnya, akan tetapi umur 53 telah datang dan ia selamat. Sekarang Yuan berumur 69. Mulai dari saat itu, Yuan percaya bahwa bila orang berkata nasib seseorang ditentukan oleh yg diatas, ia akan menganggap orang tersebut hanya manusia. Bila seseorang mengatakan nasib ditentukan oleh apa yg kita perbuat atau lakukan, ia menganggap orang tersebut bijaksana.

Bagaimanapun seseorang tidak mengetahui nasibnya. Ketika ia berhasil, ia harus membawa dirinya sederhana dan tidak lupa diri. Dan ketika sesuatu tidak berjalan sesuai keinginannya, ia harus membawa dirinya dengan tidak berkecil hati.Ketika memiliki kekayaan lebih kita harus merasa kebalikannya dan membantu orang2 miskin yg kesulitan. Ketika kita memiliki cinta, respect dan bantuan orang, kita tidak menjadi sombong. Bila kita berasal dari keluarga yg berada kita tidak harus bangga tetapi sebaliknya. Ketika kita memilik banyak pengetahuan kita harus membantu sesama lainnya.

Itulah prinsip mengubah nasib.

(cerita diterjemahkan dari: "The key to creating one's destiny"
-the four lessons of Liao-Fan)

Mohon maaf bila ada kata2 yg salah.
:maaf:

sorry , gw baru baca abis posting :p mau gw print n kasi liat ke temen ah, bagus soalnya.

mimiru
May 10, 2004, 10:58
ada nasehat gak ttg bgmn caranya hadepin suhu yg kaya gitu.
dia ngaku punya indra keenam bisa liat nasib org n bisa denger bisikan dari leluhur org yg diramal.
dia udah kaya pendeta atau pastur kalo di gereja.

Rick7
May 10, 2004, 14:11
Originally posted by mimiru
rick , mau nanya nih.
kan byk tuh suhu2 yg meramal nasib. itu tuh sebenarnya dibenarkan gak sih dlm ajaran Budha? misalnya meramal ttg jodoh (oh kamu gak jodoh ama org ini, jgn dilanjutin, bisa sial ato berumur pendek).
gw penasaran banget, soalnya kesannya seakan2 mereka itu menggurui dan tau ttg hidup manusia di masa depan.


Hello Mimiru..

Pertama-tama terima kasih yah atas pertanyaannya dan juga kesediannya membaca artikel di atas. Dalam ajaran agama Budha sebenarnya tidak melarang seseorang untuk mengetahui nasib. Tetapi ajaran Budha juga tidak pernah mendorong seseorang untuk mengetahui nasib mereka sendiri.

Dalam ajaran Budha di jelaskan tentang ‘karma’ yg menjadi prinsip 'perbuatan sebab dan akibat. Bila seseorang mengetahui prinsip dari ‘karma’ ia akan memiliki keuntungan dibanding dengan orang2 yg tidak mengetahui nya, karena Budha mengajarkan ’karma’ berdasarkan dasar cinta kasih membebaskan penderitaan semua orang dari roda kehidupan yg membelenggunya. See this link about karma :
http://soloseal.faithweb.com/blodge13.html

Bila ada suhu/peramal yg mengatakan tentang nasib kamu bahwa kamu akan sial tidak mendapat jodoh dan sebagainya, janganlah takut dan cemas sebab peramal di sini hanya memberi tahu apa yg dia lihat. Anggaplah apa yg ia katakan itu sebagai suatu kayakinan bahwa nasib seseorang itu tidaklah selalu baik tapi juga ada yg buruk. Bagaimana untuk merubahnya itu yg harus kita sadari. Bila peramal yg mempunyai itikad baik mereka tidak bermaksud untuk ‘menggurui’ kamu, tapi hanya memberi tahu apa yg mereka lihat melalui takdir yg sudah tertulis di diri seseorang. Yg harus kita lihat apakah itikad peramal tersebut? Apakah untuk menolong orang banyak dengan keahlian yg dimilikinya tersebut atau untuk mencari keuntungan belaka.

Saya pernah baca di sebuah artikel ada sebuah cerita tentang seorang peramal yg bisa melihat nasib orang lain. Peramal tersebut berkata bahwa ia bisa melihat nasib orang banyak berdasarkan kemampuan indera yg dimilikinya. Ketika ia melihat nasib orang tersebut ia sebenarnya berkomunikasi dengan roh yg mengikuti orang tersebut. Roh orang tersebut akan memberi tahu semua yg akan terjadi di masa depan orang tersebut mulai dari jodoh, keuangan, hidup mati dan sebagianya. (Kembali kita bahas tentang ramalan karena saya ngak akan membahas tentang roh.) Jadi. Setiap perbuatan baik sebenarnya ada pahalanya masing2. Bila peramal tersebut membantu seseorang mengetahui nasib nya sendiri, ia akan mendapat pahala nya dengan membantu orang tersebut. Apakah pahala yg didapat? Setiap perbuatan baik akan menghasilkan kebajikan. Kebajikan itu sendiri yg bisa merubah nasib seseorang. Pernah ngak kamu lihat peramal yg hidupnya pas2an tapi berani meramal orang dan mengatakan nasib orang tsb apes. Orang tersebut akan tertawa mendengarnya karena hidup peramal tersebut juga ngak beda jauh koq bisa2 nya berkata nasib nya jelek tanpa melihat dirinya sendiri. Kalo peramal yg bijaksana ia akan memberi tahu bahwa nasib itu bisa berubah, dan bagaimana untuk merubahnya? Itulah yg perlu kita ketahui.

: "Sesuai dengan benih yang ditabur, begitulah buah yang akan dipetiknya. Pembuat kebajikan akan mendapatkan kebajikan dan pembuat kejahatan akan menerima kejahatan pula. Tertaburlah olehmu biji-biji benih dan engkau pulalah yang akan memetik buah-buah dari padanya"(Samyutta Nikaya I, 227)

Sebenarnya setiap orang diberkahi dengan ‘nurani/mata batin’ untuk melihat nasibnya sendiri ataupun nasib orang lain.….nasib setiap orang walaupun baik atau buruk selalu mulai dari ‘hati’ yg kemudian ditunjukkan dengan moral atau kepribadian nya. Jadi tidak mengherankan kalau kadang2 kita bisa melihat bahwa seseorang itu baik atau jahat hanya dari melihat rupa/ gerak geriknya. Bila seseorang kelihatan baik dan selalu berbuat kebaikan tidak mengherankan bila ia akan diberi rejeki/memiliki rejeki yg baik, karena ia sadar bahwa berbuat kebaikan akan selalu membawanya ke arah yg benar. Sebaliknya bila orang tersebut berbuat banyak kejahatan, nasib baik akan enggan untuk berpihak kepadanya. Orang juga akan menjauhinya karena takut akan ‘tertimpa’ sial..Oleh karena itu kita harus sadar bahwa nasib itu juga berasal dari perbuatan kita sendiri oleh tindak tanduk kita sendiri. Tetapi yg harus perlu di ingat adalah, banyak di antara orang2 yg terlalu percaya kepada peramal2 yg kadang2 hanya mencari keuntungan belaka. Mereka menarik uang kepada orang yg ingin mengetahui nasib mereka. Apabila sang peramal mengatakan bahwa nasib mereka baik maka mereka menjadi bahagia, tapi sebaliknya bila si peramal memberikan kabar buruk, mereka menjadi gelisah, cemas dan takut. Mereka kemudian bertanya dan memohon kepada si peramal untuk mengadakan upaya tertentu untuk dapat membebaskan mereka dari nasib buruknya. Mereka kemudian membayar banyak uang untuk mengadakan upacara tertentu tersebut agar dapat selamat dari penderitaan. Yg patut di ingat adalah setiap orang tidak pernah luput dari takdir, Bila seseorang di takdirkan untuk hidup melarat dalam hidupnya walaupun melalui peramal yg hebat sekalipun tidak akan bisa menolong orang tersebut, mengapa? Karena itulah buah hasil perbuatan di masa lalu yg sekarang dipetik nya. Tetapi bagaimana kita mengetahui bila hidup kita sekarang ini adalah hasil dari perbuatan kita sebelumnya?..oleh karena itulah dalam ajaran ‘karma sutra’ dijelaskan tentang semua ini yg harusnya bisa menyadarkan kita semua dan menjadi tolak ukur perbuatan kita yg sekarang ini.

Originally posted by mimiru ada nasehat gak ttg bgmn caranya hadepin suhu yg kaya gitu.
dia ngaku punya indra keenam bisa liat nasib org n bisa denger bisikan dari leluhur org yg diramal.
dia udah kaya pendeta atau pastur kalo di gereja.


Jadi seperti yg saya tulis diatas, kita harus melihat apa itikad suhu/pastur tersebut? Apakah ia berkata untuk menakut nakuti kamu? Apa ia mencari keuntungan dgn berkata begitu? Apakah sekedar untuk memperingati? Kalau niat nya baik ia akan menasehati dan memberi saran yg baik pula. Bila ia bisa melihat nasib orang, itu ‘gift/keahlian’ yg mereka miliki.

Kita harus melihat bahwa hanya ada satu cara untuk merubah nasib tersebut yaitu dengan berbuat kebaikan. Kalau misalnya kamu beragama Kristen bantulah setiap orang tanpa melihat agama yg dianut, begitu juga bila kamu beragama Budha bantulah orang tanpa membedakan agama, ataupun suku dan keyakinan. Cintailah orang tua kita (yg paling dasar dalam berbuat baik). Cintai teman2 dan orang2 disekitar kamu, dan masih banyak perbuatan2 baik lainnya yg bisa kita lakukan.
Bila kita memiliki keyakinan ini dan melakukan perbuatan2 baik, saya jamin nasib baik akan mengikuti kamu.. percaya deh!

Ok thnx Mimiru buat pertanyaan nya..Saya harap bisa menjawab pertanyaan kamu. Mohon maaf bila ada kata2 yg salah.

Rick7
May 10, 2004, 14:24
Originally posted by mimiru
sorry , gw baru baca abis posting :p mau gw print n kasi liat ke temen ah, bagus soalnya.

Terima kasih Mimiru..beberapa artikel saya terjemahin dari buku cerita berbahasa inggris dan dari beberapa website..feel free to print it...

Jangan lupa berbuat kebaikan ok?
good luck ::angel2::

mimiru
May 11, 2004, 01:37
thanks banged atas jawaban2nya.
now I know what to do :)

oya, ada rekomendasi utk buku2 agama Budha (indonesian) yang bagus? pengen beli.

mimiru
May 11, 2004, 03:13
eh , nemu judul2 buku di thread sebelah ttg Budhism for beginner.
thanks anyway.

mimiru
May 11, 2004, 03:14
eh, nemu judul buku di thread sebelah . tks anyway.

Rick7
May 14, 2004, 18:39
Metode merubah nasib

Di musim semi dan gugur pada sejarah di negeri cina, pada jaman pemerintahan dinasti Chou (800-400 SM), ada banyak peramal2 yg memiliki kemampuan untuk melihat nasib seseorang hanya dengan melihat dan mengamati perkataan ataupun tindak tanduk seseorang. Tidaklah mengherankan bila ada banyak di antara peramal2 tersebut yg mampu untuk melihat nasib orang2 melalui banyak metode yg dalam catatan sejarah cukup berhasil untuk mengungkap nasib mereka. Ada banyak metode untuk mengungkap nasib seseorang, diantaranya adalah dgn melihat melalui wajah seseorang, melihat nasib melalui garis tangan, dan masih banyak lagi metode2 yg banyak beragam di masyarkat. Bagaimana mereka mampu untuk melihat nasib2 orang2 tersebut?

Sebenarnya, nasib seseorang berasal dari ‘hati/ pikiran’, baik atau buruk nasib itu selalu ditunjukkan dari perilaku/tindak tanduk seseorang. Bila seseorang yg kelihatan baik dan selalu berlaku baik, maka sudah sewajarnya orang tersebut akan mempunyai nasib yg baik pula. Bila seseorang yg mempunyai perilaku yg tidak baik, selalu berlaku kejam dan tidak berprikemanusian maka sudah semestinya orang tersebut akan mengundang petaka kepada dirinya sendiri, jadi tidak ada misteri dibalik ini semua. Jika seseorang ingin mengundang nasib baik ke dalam dirinya, yg diperlukan adalah berbuat kebajikan. Akan tetapi sebelum perbuatan kebajikan tersebut dilakukan ada baiknya orang tersebut melakukan pertobatan /pengakuan kesalahan/dosa dahulu

Ada berbagai macam cara untuk bertobat. Cara pertama adalah dengan kesadaran diri atau merasa malu terhadap dirinya sendiri. Ketika kita berpikir tentang nenek moyang kita, dewa2 & dewi2 di masa lalu, dan juga orang2 /guru2 besar yg ajarannya sampai sekarang masih bertahan sampai beribu2 tahun mereka memiliki disiplin yg tinggi serta prilaku dan sopan santun. Pada jaman sekarang, banyak diantara orang2 yg tidak mempunyai moral/etika yg santun dan berprilaku kejam, melakukan banyak dosa yg terang2 an dengan berpikir bahwa perbuatannya tidak ada yg melihat/ mengetahui. Akhirnya orang tersebut kelihatan tidak berbeda seperti binatang yg berpakaian seperti manusia. Mencius berkata, “ rasa kesadaran diri adalah kunci untuk menjadi orang suci. Jika orang tersebut tidak sadar akan perbuatan mereka, maka orang tersebut tidak berbeda seperti seekor binatang yg tidak memiliki kesadaran... maka cara pertama untuk bertobat adalah untuk memiliki kesadaran ini.”

Yg kedua adalah memiliki rasa hormat. Ketika kita berbuat dosa yg sekecil apapun, makhluk suci/ roh yg berada dekat kita akan mengetahuinya, walaupun kita tidak bisa melihat mereka. Apalagi perbuatan2 dosa besar, yg tentu saja dapat dilihat oleh mereka. Surga akan membalas perbuatan dosa tersebut dengan hukuman yg setimpal. Walaupun kita berada di kamar yg gelap sekalipun, setiap pikiran akan bisa dibaca mereka. Dengan susah payah kita mencoba untuk menghindarinya , pikiran buruk ini akan bisa dibaca. Bila kita kembali kepada cerita peramal2 yg bisa membaca nasib seseorang, tidak mengherankan bila peramal ini bisa melakukan kontak batin/ melihat roh2 tersebut dan berkomunikasi. Perbuatan2 seseorang itu seperti catatan yg bisa dibuka sewaktu2. Oleh karena itu bila seseorang ingin merubah nasib tersebut ada baiknya menghilangkan catatan2 hidup tersebut yaitu dengan cara bertobat. Ada banyak cerita tentang orang dahulu yg berbuat banyak kejahatan dalam hidupnya, ketika tiba ajal hidupnya ia bertobat dan dapat mati dengan damai. Budha berkata,”Ketika seseorang meletakkan pisau jagalnya ia akan bisa menjadi seorang Budha. Tidak peduli dosa seseorang besar atau kecil, yg paling penting adalah sikap untuk berubah dan bertobat.

Yg ketiga adalah untuk memiliki kemauan dan itikad. Terkadang seseorang tidak bisa merubah sifat buruknya karena orang tersebut tidak memiliki kemauan untuk merubahnya. Seseorang harus mengibaratkan kesalahan/dosa kecil itu seperti serpihan bambu yg mengonyak dan menempel pada kulit yg harus dicabut. Sedangkan kesalahan/dosa besar itu ibarat seperti jari yg tergigit ular, orang tersebut tidak harus memiliki keraguan untuk memotong jari tersebut agar bisa ular tersebut tidak menjalar ke seluruh tubuh. Jika seseorang bisa melakukan ketiga cara ini, maka metode untuk bertobat ini akan memberikan hasil.. ibarat air es yg mencair di musim semi.

bersambung

Rick7
May 14, 2004, 19:23
Cara untuk bertobat juga adalah dengan memiliki pengetahuan dari dalam diri. Kita harus mengetahui bagaimana perbuatan/ kebiasaan seseorang yg buruk itu bisa dihilangkan. Contohnya kita harus menyadari bagaimana setiap orang itu memiliki perbedaan, kemampuan diri dan juga kelemahan, kita harus bisa memaklumi dan menghargai satu sama lain. Kita tidak bisa melakukan sesuatu menurut kemauan diri kita sendiri. Bila nasib tidak datang menurut keinginan kita, itu dikarenakan pahala atau perbuatan baik kita yg tidak cukup. Setiap orang melakukan dosa dan kesalahan seperti ibarat melihat jarum2 pada tubuh binatang landak. Bila kita berpikir secara nyata namun tidak bisa melihat kesalahan tersebut itu dikarenakan hati kita yg seperti ‘batu’ yg membuat kita seperti layaknya seperti ‘mayat hidup’.Bila orang yg tidak pernah melakukan kebajikan dalam hidupnya kadang2 seperti memiliki pikiran yg rapuh, selalu takut akan nasib buruk datang kepada dirinya, kadang tidak suka ketika mendengar seseorang berkata jujur akan dirinya, malu untuk bertemu dengan orang bijak yg akan menasehatinya. Dan juga orang yg selalu berdebat merasa dirinya yg benar, dan sebagainya.

hanya ada satu cara untuk merubah sifat sifat tersebut.. yaitu dengan cara bertobat.

Diterjemahkan dan di edit dari : "Second lesson, the method of repentace- The four lesson of Liao-Fan"

Rick7
May 14, 2004, 19:59
Artikel tentang etika moral
Oleh : Jo Priastana S.S

lihat sumber: http://www.geocities.com/bbcid.geo/artikel131.html
bagi yg tertarik...

Rick7
May 18, 2004, 19:22
Cara2 Berbuat Kebajikan

kutipan dari ajaran Yang Arya Bhikkhu Uttamo Thera

Membaca Cerita Budhis
Membaca cerita Buddhis dapat dikatakan sebagai perbuatan baik karena selama membaca cerita Buddhis itu, pikiran si pembaca selalu diarahkan pada perenungan akan kebajikan. Namun, akan menjadi lebih baik lagi kalau setelah membaca banyak cerita Buddhis itu ia juga melaksanakan berbagai perilaku baik seperti yang telah dibacanya. Dengan demikian, cerita Buddhis itu dapat menjadi pedoman hidup si pembaca untuk mengembangkan kebajikan melalui ucapan, perbuatan serta pikiran dalam kehidupan sehari-harinya.

Pelepasan Mahluk Hidup
Tujuan pelepasan mahluk adalah agar para mahluk tersebut terbebas dari bahaya dan bencana yang dapat mengancam kehidupannya. Oleh karenanya, adalah sikap yang benar dan bijaksana apabila pelepasan burung dilakukan dari tempat tinggal sebab adanya banyak pepohonan di belakang rumah.
Namun, kalau ternyata kadang terlihat pemburu yang mencari burung dengan senapan angin di sana, sebaiknya hal ini dapat disikapi dengan bijaksana, tanpa harus berlebihan.

Niat dan pelaksanaan pelepasan mahluk adalah merupakan perbuatan baik. Namun, bila timbul kekuatiran bahwa burung yang dilepaskan akan ditembak mati oleh pemburu, maka sebaiknya mencari tempat lain untuk melepaskan mahluk. Tempat pelepasan tidak harus berada jauh di luar kota. Tempat yang ideal untuk melepas burung adalah tempat yang sepi namun banyak pepohonan. Tempat ini dapat berupa kompleks perumahan yang belum digarap oleh pengembang.

Apabila tempat seperti itu juga tidak dapat diketemukan dengan mudah, maka burung yang hendak dilepaskan dapat diganti dengan mahluk lain, misalnya saja jangkrik yang biasa dijadikan umpan ikan hias. Jika timbul pula kekuatiran bahwa jangkrik yang dilepaskan akan dimangsa burung, maka lepaskanlah jangkrik itu di tempat yang kondisinya memungkinkan untuk jangkrik menyembunyikan diri bila diserang oleh burung, misalnya di tumpukan batu besar.
Dengan demikian, pelepasan mahluk sebagai sarana menambah karma baik dapat dilaksanakan dan mahluk yang dilepaskan juga dapat terjaga kelangsungan hidupnya.

Perbuatan Baik Dengan Pelimpahan Jasa
Sebagai seorang umat Buddha adalah merupakan perbuatan yang mulia apabila ia dapat melakukan kebajikan dan ia juga berkenan melimpahkan jasanya kepada mahluk lain, apalagi kepada orangtuanya sendiri.
Sebenarnya dalam Buddha Dhamma pelimpahan jasa ini hanya berlaku untuk sanak keluarga yang sudah meninggal. Namun, secara tradisi banyak juga umat Buddha yang berusaha melimpahkan jasa kebajikan yang telah dilakukan kepada mereka yang masih hidup. Mereka mengucapkan tekad setelah melakukan kebajikan dengan mengucapkan dalam hati: "Semoga dengan kebajikan yang telah dilakukan sampai saat ini akan dapat membuahkan kebahagiaan kepada SAYA dalam bentuk orangtua mendapatkan kebahagiaan di kelahiran yang sekarang maupun yang akan datang."
Dengan sering melakukan kebajikan dan pelimpahan jasa ini semoga niat baik yang dimiliki akan dapat diwujudkan.
Semoga kondisi ini akan dapat membuahkan kebahagiaan untuk orangtua sesuai dengan karma baik yang dimilikinya.

Melakukan Kerelaan Melalui Bentuk Materi
orang melakukan kerelaan dengan memberikan materi, maka bentuk dan besar materi yang diberikan juga tidak ditentukan dalam kitab suci Tipitaka. Dengan demikian, semua bentuk kerelaan itu haruslah disesuaikan dengan kemampuan yang dimiliki setiap orang.
Apabila ada orang yang masih mengalami kesulitan untuk menghidupi keluarganya sendiri namun ia ingin melakukan kerelaan, maka ia mempunyai beberapa pilihan.
Pertama, ia dapat memberikan sedikit uang kepada pengemis atau pengamen yang ditemuinya. Pada saat memberikan uang kepada pengemis, hendaknya ia tidak lagi berpikir tentang kondisi pengemis yang tidak mampu atau hanya merupakan professi. Pikiran ini akan mengurangi nilai kebajikan yang sedang dilakukan. Lebih baik, ia memutuskan secara tegas untuk memberi kepada pengemis itu atau ia tidak akan memberinya tanpa harus memperhatikan latar belakang si pengemis tersebut.
Apabila ia masih mengalami kesulitan untuk memberikan sedikit uang kepada pengemis itu, maka ia dapat pula memberikan sebagian makanan yang ada di rumahnya.
Namun, bila pemberian makanan inipun juga memberatkannya, ia boleh juga untuk tidak memberi apaun kepada pengemis itu. Tidak memberikan dana seperti dalam kasus ini, dipandang secara Dhamma bukanlah karma buruk melainkan ia telah HILANG KESEMPATAN BERBUAT BAIK.

Kedua, apabila ia ingin memberikan dana kepada Sangha, maka ia dapat mempersembahkan kebutuhan pokok sangha yaitu pakaian, tempat tinggal, makanan serta obat-obatan. Persembahan ini hendaknya juga disesuaikan dengan kemampuannya. Ia boleh saja memberikan sebatang jarum untuk menjahit jubah. Ia boleh juga meminjamkan ruangan di rumahnya untuk anggota sangha beristirahat sejenak di tengah perjalanan membabarkan Dhamma ke berbagai tempat. Dengan demikian, cukup banyak kesempatan yang dapat dilakukannya dalam memberikan persembahan kepada sangha. Semua persembahan ini tidak tergantung pada materi yang dimiliki, melainkan dari kemauan yang ada dalam dirinya.

Sesungguhnya latihan berdana atau kerelaan yang bersifat materi ini adalah merupakan latihan awal. Ada lagi latihan berdana yang lebih tinggi yaitu 'berdana keakuan'. Dana keakuan ini bisa berbentuk kemauan seseorang untuk dapat memaafkan orang yang telah bersalah kepadanya. Dengan demikian, walaupun seseorang dapat berdana materi dalam jumlah yang cukup besar, selama ia masih belum dapat memaafkan musuh atau orang yang dibencinya, maka dana yang dipersembahkannya adalah dana yang masih bersifat materi serta masih merupakan dana tingkat awal. Meskipun demikian, ia dapat terus membiasakan diri untuk memberikan dana materi sebagai langkah awal memberikan keakuannya.

Rick7
May 25, 2004, 12:31
Tiga komponen yang merupakan pelaku utama karma adalah tubuh fisik, ucapan dan pikiran. Contoh karma yang dilakukan oleh tubuh fisik, yaitu membunuh, mencuri dan berjinah. Contoh karma yang dilakukan oleh ucapan, yaitu berbohong, membicarakan hal-hal yang tidak bermanfaat, memfitnah dan berbicara kasar. Sedangkan contoh karma yang dilakukan oleh pikiran adalah keserakahan, kebencian dan khayalan. Karma dapat dibedakan atas karma yang bermanfaat, karma yang tidak bermanfaat dan karma yang bukan bermanfaat maupun tidak bermanfaat.

Sebab utama timbulnya karma adalah karena ketidak-tahuan [avidya/avijja] atau ketidak-mampuan untuk memahami segala sesuatu sebagaimana adanya. Nafsu keinginan [tanha] juga merupakan akar timbulnya karma. Perbuatan seseorang walaupun dilandasi oleh tiga akar kebajikan yaitu kedermawan [alobha], kehendak baik [adosa] dan pengetahuan [amoha], tetap dapat dianggap sebagai karma karena dua unsur penyebab karma yaitu ketidak-tahuan dan keinginan masih melekat dalam dirinya. Hanya perbuatan baik dari Jalan Kesadaran [maggacitta] yang dapat dipandang sebagai proses untuk menghancurkan akar sebab-akibat karma tersebut.

Apakah Kita Harus Pasrah Terhadap Karma?

Pemuda Subha menghadap Sang Buddha untuk menanyakan perbedaan nyata di antara umat manusia, "Apakah alasannya dan sebabnya, o Guru, kita jumpai di antara umat manusia ada yang berumur pendek dan berumur panjang, berpenyakit dan sehat, jelek dan rupawan , tak berpengaruh dan berpengaruh, miskin dan kaya, hina dan mulia, dungu dan bijaksana."
Sang Buddha bersabda : "Semua mahluk hidup mempunyai karma sebagai milik mereka, warisan mereka, sebab awal mereka, kerabat mereka, pelindung mereka. Karma itulah yang membedakan makhluk hidup dalam keadaan rendah atau tinggi." (Majjhima Nikaya, Cullakammavibhanga Sutta, 135) Membaca uraian di atas tentang karma seolah-olah mencerminkan bahwa manusia itu haruslah pasrah dan menerima keadaan hidupnya. Di satu sisi memang mencerminkan kenyataan tersebut, namun dalam sudut pandang yang optimis, tidaklah seharusnya demikian. Sebagai manusia duniawi [prthagjana/puthujjana] , tentunya sangat sulit untuk kita dapat seluruhnya terbebas dari suatu perbuatan baik ataupun buruk. Meskipun kita merupakan tuan dari karma kita sendiri tetapi terbukti bahwa adanya faktor yang meniadakan atau yang menunjang berbuahnya karma yang dapat juga dipengaruhi oleh keadaan luar, lingkungan, kebiasaan, usaha yang tekun dan konsentrasi pikiran yang baik.

Proses Bekerjanya Karma
Memang proses bekerjanya karma tidak dapat kita amati atau dibuktikan secara ilmiah, namun prinsip bahwa kita akan menuai sesuai dengan apa yang kita tanam itulah yang penting untuk kita renungkan. Proses bekerjanya karma hanyalah dapat dipahami sepenuhnya oleh seorang Buddha atau Yang Telah Tercerahkan.

Untuk mengetahui karma dari kelahiran kita sebelumnya, maka renungkanlah berbagai kejadian baik berupa penderitaan [dukkha] ataupun kebahagiaan [sukkha] yang menimpa kita dalam kehidupan saat ini. Sehingga kita tidak tersudut ke dalam suatu kondisi dimana kita harus mencela orang lain sewaktu menderita ataupun terlalu menjunjung orang lain sewaktu kita berbahagia. Karma yang berbuah dalam kehidupan ini apakah menghasilkan kebahagiaan ataupun penderitaan haruslah kita syukuri sebagai makin berkurangnya timbunan karma kita sehingga makin terbukalah peluang untuk kita keluar dari arus kelahiran dan kematian. Namun demikian kitapun tidak perlu terjebak pada sikap pesimistik dengan menyalahkan kehidupan sebelumnya yang menciptakan karma buruk pada kehidupan saat ini karena Buddhisme tidak mengajarkan fatalisme yaitu suatu sikap yang menyalahkan segala sesuatu kejadian sebagai kodrat, takdir ataupun nasib. Buddhisme mengajarkan suatu tuntunan buat kita untuk melihat kehidupan saat ini sebagai alam kehidupan yang memungkinkan manusia untuk berlatih diri keluar dari lingkaran kehidupan dan kematian. Untuk memahami kondisi bekerjanya karma sebagai suatu Hukum Sebab Akibat, kita dapat memulainya dengan mengenali adanya hukum yang bekerja di alam semesta ini.

Dalam Abhidhamma Vatara 54, dan Dighanikaya Atthakatha II-432, dapat ditemui adanya Lima Hukum Alam [Pancaniyama Dhamma] , yaitu :Rtu Niyama [Utu Niyama], yaitu hukum sebab-akibat yang berkaitan dengan suhu, contohnya gejala timbulnya angin dan hujan, bergantinya musim, perubahan iklim, sifat panas, dan sebagainya. Bija Niyama, yaitu hukum sebab-akibat mengenai biji-bijian, contohnya sesawi berasal dari biji sesawi, gula berasal dari tebu, dan sebagainya.

Karma Niyama[Kamma Niyama], yaitu hukum sebab-akibat yang berkaitan dengan perbuatan, contohnya perbuatan baik akan menghasilkan akibat baik, dan perbuatan buruk akan menghasilkan akibat buruk.

Citta Niyama, yaitu hukum sebab-akibat yang berkiatan dengan hasil pikiran, misalnya proses kesadaran, timbul dan lenyapnya kesadaran, sifat kesadaran, kekuatan batin, telepati, kemampuan membaca pikiran orang lain, kemampuan mengingat hal-hal yang telah terjadi, dan sebagainya.

Dharma Niyama [Dhamma Niyama], yaitu hukum sebab-akibat yang berkaitan dengan gravitasi, berupa gejala alam yang menandai akan terlahirnya atau meninggalnya seorang Bodhisattva ataupun seorang Buddha.

Hukum Karma [Kamma Niyama] merupakan salah satu dari Hukum Alam tersebut di atas yang terjadi karena prinsip Hukum Sebab dan Akibat, dimana setiap suka ataupun duka pasti ada penyebabnya. Tiada sebab maka tiada akibat. Segala penderitaan akan dapat dihindari apabila dapat diketahui sebabnya. Penyebab tunggal dari segala bentuk penderitaan adalah kemelekatan terhadap nafsu keinginan duniawi.

sumber di kutip dari:http://wasih.esmartdesign.com/kma2.htm

andisuwito
May 26, 2004, 06:56
Hallo...
Namo Buddhaya

Setau saya sih ishtilah nasheeb itu ga ada dalam Buddhist. Istilah nasib itu muncul sesuai dengan pandangan manusia bahwa adanya mahkluk adikodrat yang menentukan garis hidup manusia itu sendiri. Nah, dalam Buddhiisme mah kaga dikenal istilah nasib atuh. Pan dalam Buddhiisme dijelaskan bahwa apa saja yang menimpa manusia itu adalah hasil dari buah karma yang dilakukannya di masa lampau. Buah karma yang dihasilkan tidak dapat dihilangkan/dikurangi/dihapus, tetapi dapat dinetralisir/diringankan. Misalkan kita mukulin orang ampe palanya benjol-benjol, tapi karena buah karma baik kita di masa lampau/dimasa kini anda banyak berbuat baik dan buah karmanya berbuah, anda tetap akan merasakan hasil dari buah karma buruk tersebut, yah... paling paling pala anda dijitakin ama orang, gitu... :D jadi ga parah-parah amat deh... Itu menurut saya. :bravo:

Rick7
May 26, 2004, 11:01
Hallo...
Namo Buddhaya

Setau saya sih ishtilah nasheeb itu ga ada dalam Buddhist. Istilah nasib itu muncul sesuai dengan pandangan manusia bahwa adanya mahkluk adikodrat yang menentukan garis hidup manusia itu sendiri. Nah, dalam Buddhiisme mah kaga dikenal istilah nasib atuh. Pan dalam Buddhiisme dijelaskan bahwa apa saja yang menimpa manusia itu adalah hasil dari buah karma yang dilakukannya di masa lampau. Buah karma yang dihasilkan tidak dapat dihilangkan/dikurangi/dihapus, tetapi dapat dinetralisir/diringankan. Misalkan kita mukulin orang ampe palanya benjol-benjol, tapi karena buah karma baik kita di masa lampau/dimasa kini anda banyak berbuat baik dan buah karmanya berbuah, anda tetap akan merasakan hasil dari buah karma buruk tersebut, yah... paling paling pala anda dijitakin ama orang, gitu... jadi ga parah-parah amat deh... Itu menurut saya.
__________________

Salam dalam Dharma
Namo Buddhaya,

Terima kasih saudara Andisuwito karena telah membaca artikel yg saya tulis. Saya menerima segala koment dari siapa saja dan saya akan berupaya untuk menjawabnya menurut kemampuan. Mohon maaf bila ada kata2 yg salah.
Pertama tama marilah mengetahui apa arti ‘nasib’ itu.
Nasib atau dikenal dengan istilah kodrat/ jalan hidup/ peruntukan hidup/ karma hidup/ suratan tangan atau banyak lagi perumpamaan2 kata yg banyak dikenal adalah hasil perbuatan yg berasal dari dalam diri setiap makhluk hidup. Setiap orang memiliki nasib. Asal mula penderitaan atau kebahagian itu adalah hasil dari perbuatan orang tersebut dari yg baik maupun yg buruk. Sesuai dengan konsep Buddhis yang namanya karma adalah segala sesuatu yang terjadi pada setiap makhluk hidup yang tidak akan terlepas dari pada hasil dari perbuatan itu sendiri, di masa sebelumnya. Dalam ajaran agama Buddha ‘nasib’ ini berasal dari ‘karma’ atau ‘buah dari hasil perbuatan baik ataupun buruk’ dari seseorang. Setiap orang memiliki nasib, karena diakibatkan dari perbuatan yg telah dilakukannya semasa hidup sehingga seseorang itu tidak akan luput dari takdir. Pandangan umum menyatakan bahwa yang namanya nasib adalah segala kondisi yang terjadi, apakah yang menyenangkan atau menyengsarakan, mutlak harus diterima serta tidak akan berubah selama-lamanya. Apakah nasib dapat berubah? Tentu saja. berubah atau tidak, sangatlah tergantung akan perbuatan baik/jahat yang diperbuat pada saat itu. Bila membaca artikel yg saya cantumkan sebelumnya bahwa nasib setiap orang itu bisa berubah dengan catatan bahwa orang itu mempunyai itikad dan kemauan untuk merubahnya.
Istilah nasib itu muncul sesuai dengan pandangan manusia bahwa adanya mahkluk adikodrat yang menentukan garis hidup manusia itu sendiri.
Bila anda membaca artikel sebelumnya tertulis bahwa nasib setiap orang memang ditentukan oleh yg di atas, tetapi pemikiran ini tidaklah bijaksana mengingat karena setiap orang memiliki kemampuan untuk merubahnya. Seperti yg tertera pada (Samyutta Nikaya I, 227) dikatakan:: "Sesuai dengan benih yang ditabur, begitulah buah yang akan dipetiknya. Pembuat kebajikan akan mendapatkan kebajikan dan pembuat kejahatan akan menerima kejahatan pula. Tertaburlah olehmu biji-biji benih dan engkau pulalah yang akan memetik buah-buah dari padanya.
Segala penderitaan manusia itu berasal dari perbuatan sendiri. Perbuatan baik akan mendatangkan kebahagiaan, perbuatan jahat akan menyebabkan penderitaan. Akibat dari perbuatan itu akan mengikuti pelakunya, bagaikan bayangan yang selalu mengikuti dirinya sendiri. Untuk merubah nasib tersebut seseorang harus melaksanakan keinginan sendiri untuk tidak berbuat jahat, selalu melaksanakan kebajikan dan mensucikan hati dan pikiran. Bila hal ini dijalankan dengan baik. Tentu nasib kita akan berubah, menjadi lebih beruntung dan nasib yang jelek akan berkurang. Tidak ada misteri dibalik ini semua.
Buah karma yang dihasilkan tidak dapat dihilangkan/dikurangi/dihapus, tetapi dapat dinetralisir/diringankan. Misalkan kita mukulin orang ampe palanya benjol-benjol, tapi karena buah karma baik kita di masa lampau/dimasa kini anda banyak berbuat baik dan buah karmanya berbuah, anda tetap akan merasakan hasil dari buah karma buruk tersebut, yah... paling paling pala anda dijitakin ama orang, gitu.
Anda benar bila dikatakan buah karma yg dihasilkan tidak dapat dihilangkan/ dihapus akan tetapi buah karma tersebut dapat dikurangi/ diringankan dengan catatan orang tsb melakukan perbuatan baik; dan perbuatan baik yg dilakukannya itu akan meringankan hukuman yg akan diterima. Saya pakai perumpamaan contoh yg seperti anda utarakan: ketika orang memukul seseorang sampai kepalanya benjol2 perbuatan ini akan menimbulkan penderitaan kepada orang yg dipukul tersebut. Penderitaan yg diterima org tersebut mungkin tidak hanya penderitaan jasmani saja seperti orang tersebut merasa sakit kepalanya dan sebagainya, tetapi juga penderitaan rohani seperti rasa sakit di hati, rasa marah yg pada akhirnya akan menimbulkan rasa benci kepada orang yg memukul tersebut yg pada akhirnya akan menimbulkan rasa dendam. Seperti kita ketahui rasa dendam akan menimbulkan keinginan membalas. Perasaan dendam ini akan selalu dipendam dalam hati seseorang sampai ia memiliki kesempatan untuk membalasnya. Maka ada istilah ‘dendam seseorang akan dibawa mati seseorang sampai ajal tiba’..contoh seperti ini ibarat lingkaran penderitaan yg membelenggu.
Cara kerja karma itu rumit, bila seseorang melakukan suatu perbuatan jahat dan atas dasar keinginan orang tsb untuk merubahnya mungkin buah karma yg diterimanya akan berkurang. Bila orang tersebut memukul orang lain sampai benjol2 mungkin pada suatu waktu ia akan mengalami hal yg sama dipukul orang sampai benjol2 pula atau mungkin akan diterima sebanyak dua kali perbuatan yg dilakukan sebelumnya, karena rasa dendam tsb akan terus melahirkan kebencian, kemarahan, yg terus dipendam sampai sewaktu2 dilampiaskan org tsb. Ibarat gunung berapi yg bisa memuntahkan lahar2nya sewaktu2. Ketika orang yg memukul tersebut sadar akan perbuatannya dan meminta maaf mungkin rasa dendam orang yg kena pukul tersebut sedikit menjadi berkurang sehingga penderitaan rohani orang tersebut agak sedikit padam. Yg pasti, kepala orang yg benjol2 tersebut harus dibayar, rasa sakit jasmaninya harus juga dikurangi. Mungkin org tersebut membawanya ke rumah sakit dan mau membayar biaya pengobatannya, atau banyak lagi cara untuk meringankan penderitaan jasmani org tersebut. Contoh di sini menggambarkan bahwa buah karma itu dapat diringankan/ dikurangi dengan catatan org tersebut bersungguh2 meminta maaf dan sadar akan perbuatan buruknya.
Maka bila melihat konsekuensi dan akibat tersebut ada baiknya merenungkan apakah bijaksana memukul seseorang.
Demikian.

Salam damai
Mohon maaf bila ada kata2 yg salah.

andisuwito
May 27, 2004, 03:08
Dalam ajaran agama Buddha ‘nasib’ ini berasal dari ‘karma’ atau ‘buah dari hasil perbuatan baik ataupun buruk’ dari seseorang. Setiap orang memiliki nasib, karena diakibatkan dari perbuatan yg telah dilakukannya semasa hidup sehingga seseorang itu tidak akan luput dari takdir.

Ya,seperti yang telah dijelaskan bahwa sebagaimana benih yang ditabur,itulah hasil yang akan dipetik nantinya. Tetapi menurut saya kurang tepat kalau kita menggunakan istilah nasib dan takdir dalam agama Buddha. Dan alangkah lebih baik apabila digunakan istilah Karma dan Buah dari Karma. Karena menurut saya jika telah menggunakan istilah nasib dan takdir, itu lebih menjurus kepada adanya seorang yang super power yang mengatur segala-galanya di muka bumi ini dan manusia. Dan setau saya, sejak saya mempelajari Dhamma baik di Vihara maupun di Internet pada situs-situs Buddhist, tidak pernah saya jumpai istilah nasib dan takdir. :)
Demikian saja tanggapan dari saya. Mohon maaf apabila ada kata-kata saya yang salah dan berlebihan.

Salam Metta

Rick7
May 27, 2004, 12:37
Originally posted by andisuwito
Ya,seperti yang telah dijelaskan bahwa sebagaimana benih yang ditabur,itulah hasil yang akan dipetik nantinya. Tetapi menurut saya kurang tepat kalau kita menggunakan istilah nasib dan takdir dalam agama Buddha. Dan alangkah lebih baik apabila digunakan istilah Karma dan Buah dari Karma. Karena menurut saya jika telah menggunakan istilah nasib dan takdir, itu lebih menjurus kepada adanya seorang yang super power yang mengatur segala-galanya di muka bumi ini dan manusia. Dan setau saya, sejak saya mempelajari Dhamma baik di Vihara maupun di Internet pada situs-situs Buddhist, tidak pernah saya jumpai istilah nasib dan takdir. :)
Demikian saja tanggapan dari saya. Mohon maaf apabila ada kata-kata saya yang salah dan berlebihan.

Salam Metta

Mohon maaf bila pemakaian kata 'nasib' di sini dirasa kurang tepat bagi anda. Saya memakai kata ini dengan harapan akan lebih dimengerti oleh orang non-budhis maupun budhis. Mengingat terkadang pengertian yg lebih 'universal' lebih membuat pembaca lebih mengerti lebih mendalam. Beberapa cerita / artikel di atas saya dapat dan terjemahkan dari bahasa inggris yg makna dan pengertian beberapa 'kata' lebih terasa'universal' apalagi bila diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia. Seringkali penerjemahan ini mungkin membuat makna yg terkandung menjadi hilang atau apalagi bila diinterpretasikan orang menjadi berbeda. Tapi saya harap 'perbedaan' ini tidak terasa menonjol dibanding dengan kebenaran makna yg terkandung di dalamnya. Memang pada banyak situs Buddha yg memakai kata 'karma' karena pengertian 'karma' ini lebih memiliki makna yg lebih melekat pada umat budhis kebanyakan. Banyak pula di antara umat non-budhis yg tidak mengerti sepenuhnya arti 'karma' tersebut. Oleh karena itu sebelumnya saya cantumkan penjelasan tentang karma tersebut menurut ajaran budhis maupun non-budhis. Sekali lagi mohon maaf bila ini terasa masih membingungkan.
Oh yah bila ada beberapa dari anda yg pernah membaca artikel tentang 'nasib' atau 'karma' dari beberapa website please feel free to attach it here so some readers can read it..

Terima kasih

Salam Metta~

andisuwito
May 28, 2004, 05:36
Mohon maaf bila pemakaian kata 'nasib' di sini dirasa kurang tepat bagi anda. Saya memakai kata ini dengan harapan akan lebih dimengerti oleh orang non-budhis maupun budhis.

Oo...begitu toh... :) yah gpp kalau tujuan anda adalah agar yang non buddhist pun dapat mengerti...Bagus... Keep good work... :D