View Full Version : :: 7 lapis tubuh manusia ::







Raden Mahesa
February 10, 2004, 14:39
Pada tubuh manusia terdapat tujuh buah chakra dan
tujuh buah medan energi manusia demikian pula terdapat
tujuh buah lapisan tubuh. Ketujuh lapisan tubuh ini
saling tembus menembusi satu sama lainnya sehingga
tidak seperti lapisan kulit bawang. Binatang hanya
mempunyai lima lapisan tubuh dari lapisan tubuh
pertama sampai lapisan tubuh kelima


Lapisan tubuh pertama

Lapisan tubuh pertama berhubungan dengan chakra
pertama yaitu chakra Dasar. Lapisan tubuh pertama ini
mempunyai hubungan integral dengan tubuh fisik
sehingga dapat disebut sebagai lapisan tubuh fisik.

Seseorang yang berniat atau telah berada pada jalan
spiritual harus menjaga kesehatan lapisan tubuh
pertama ini dengan mengatur keseimbangan kebutuhan
tubuh fisik. Seluruh aktivitas fisik seperti olah raga
secara teratur, makan secara teratur dengan gizi yang
baik, istirahat dan tidur yang cukup harus dilakukan
dengan seimbang. Disini ditekankan faktor keseimbangan
karena segala sesuatu yang berlebihan atau kekurangan
dapat merusak lapisan tubuh pertama.

Selain itu seseorang harus menjaga keseimbangan mental
dan emosionalnya yang berhubungan dengan lapisan tubuh
lainnya untuk menjaga kesehatan tubuh fisiknya.
Ketidak seimbangan mental dan emosional telah terbukti
dapat merusak tubuh fisik. Seseorang yang dalam
keadaan depresi akan kehilangan gairah hidupnya. Ia
kehilangan nafsu makan, tidak mau bekerja, tidak dapat
tidur dengan nyenyak dan timbul keinginan untuk
menyendiri sehingga ia berusaha untuk mengisolir diri
dari pergaulan. Jika keadaan ini dibiarkan
berlarut-larut akan termanifestasikan sebagai penyakit
fisik seperti gangguan pencernaan, kurang
keseimbangan, pelupa, tidak mampu untuk berkonsentrasi
dan secara umum stamina tubuhnya berkurang hari demi
hari.

Lapisan tubuh pertama ini mempunyai dua buah potensi.
Potensi pertama adalah segala sesuatu yang alamiah
yang telah dimiliki sejak lahir dan potensi kedua
dapat diperoleh melalui meditasi. Potensi pertama
berhubungan erat dengan seks. Seks adalah sesuatu yang
alamiah yang dibawa sejak lahir. Potensi kedua adalah
selibat (tidak melakukan hubungan seks). Seks adalah
kemungkinan alamiah dan selibat adalah transformasi
dari seks.

Kita dapat hidup sesuai dengan kondisi yang telah
diberikan oleh alam tetapi jika kita hidup seperti itu
proses pertumbuhan spiritual tidak dapat berlangsung.
Kita harus mentransformasikan keadaan tersebut. Bahaya
yang dapat terjadi dalam proses transformasi adalah
kemungkinan pemeditasi mulai untuk melawan
keinginan-keinganan alamiah tersebut sehingga ia hanya
bergelut didalam masalah tersebut.

Disatu pihak timbul kebutuhan dan dilain pihak timbul
penekanan yang menyebabkan pemeditasi melawan
keinginan seksnya. Penekanan adalah rintangan bagi
jalan meditasi. Transformasi tidak dapat berlangsung
dengan penekanan. Semakin kita menekan seks semakin
kita terpenjara didalamnya, semakin kita melawan maka
kita semakin memberikan kekuatan kepadanya. Ada
seorang guru di India yang berkata,"Setiap kali
seorang pelacur datang kepada saya, dia tidak
berbicara lain kecuali Tuhan. Ia berkata bahwa dia
merasa muak dengan kehidupan yang dijalaninya. Dia
menginginkan Tuhan. Tetapi setiap kali seorang pastor
datang kepada saya, dia tidak membicarakan topik yang
lain kecuali seks."

Apakah solusi dari permasalahan diatas.? Pengertian
merupakan jalan keluar dari permasalahan diatas.
Transformasi dapat terjadi jika anda mulai mengerti
tentang seks dan alasan-alasan untuk itu. Kita harus
belajar untuk menerimanya, jangan menyangkal tetapi
pahami secara mendalam. Seluruh unsur alam tertidur
dan tidak tersadarkan didalam kita bila kita menjadi
sadar atau bangun, menyadarinya maka transformasi
sudah dimulai. Jika seseorang menjadi sadar akan
gairah seksnya dengan seluruh perasaan dan seluruh
pengertian maka selibat akan mulai terjadi didalam
dirinya sebagai ganti seks. Jika seseorang melakukan
selibat pada tubuh pertamanya, baru ia dapat
mengembangkan potensi-potensi dari lapisan-lapisan
tubuh lainnya.

Kita tidak boleh terpaku pada pendapat bahwa kita
tidak mungkin berbahagia tanpa seks, tanpa teman,
tanpa benda-benda materi. Hal tersebut telah
dikondisikan oleh lingkungan kita sejak lahir. Kita
akan dipuji jika memperoleh nilai tinggi untuk suatu
ujian, kita akan diberi hadiah jika kita naik kelas
dengan nilai tinggi. Sejak kecil telah ditanamkan
pemikiran bahwa kita hanya dapat berbahagia jika
memiliki hal-hal tersebut. Seluruh kebahagiaan kita
tertelak diluar diri kita, begitu banyak hal-hal yang
harus dilakukan demi memperoleh kebahagiaan. Pada
hakikatnya kebahagiaan kita tidak tergantung oleh
hal-hal yang berada diluar diri kita.

Kita juga tidak perlu melakukan usaha-usaha spiritual
seperti melakukan pengorbanan diri atau menjauhi
hal-hal duniawi, semua itu tidak ada gunanya jika
disertai penekanan terhadap keinginan. Tidak ada
gunanya anda mengubah cara hidup anda dengan
memaksakan diri untuk bangun pada jam empat pagi dan
melakukan meditasi serta mengubah kebiasaan-kebiasaan
buruk anda. Hal tersebut hanya akan berlangsung selama
beberapa bulan atau mungkin beberapa tahun saja
setelah itu anda akan kembali kepada keadaan semula.
Yang kita butuhkan adalah membangkitkan kesadaran
untuk memahami segala sesuatu. Jika kita telah sadar
maka dengan mudah kita dapat melepaskan hasrat kita.
Dengan sendirinya keseimbangan mental dan emosional
serta kebahagiaan akan tercipta dengan sendirinya.
Anda belum melakukan langkah pertama jika anda belum
merasa berbahagia berada didalam tubuh anda sendiri,
tidak mencintai tubuh anda sendiri dan tidak mau
berdamai dengan perasaan anda sendiri.

- master reiki usui tradisional-

uwi
February 10, 2004, 15:49
salam
tumben, biasanya ente sibuk ngolah lapisan..............ehhehhe,
great post

shinji-kun
February 11, 2004, 00:54
chakra? reiki? emang ada hubungannya sama agama buddha? :hmmm:

hyper
February 11, 2004, 03:20
Originally posted by shinji-kun
chakra? reiki? emang ada hubungannya sama agama buddha? :hmmm:

Tentu tidak ada hubungannya secara langsung dengan agama Buddha my friend Shiji-kun. Cakra, Reiki, Yoga dan sejenisnya hanyalah sebuah olah tubuh tradisional khususnya di India, bukan sebuah agama atau ajaran agama.

Dan saya rasa tulisan Si Mahesa ada beberapa yang tidak dapat dibenarkan menurut Dhamma.

langitbiru
February 11, 2004, 04:50
aku pernah baca di buku reiki, katanya asalnya dr guru zen. lalu ada juga yg dr lama tibet. hubungannya gimana aku juga ga jelas, mnrtku dlm perkembangan agama buddha mahayana terutama, ada banyak hal yg ditemukan belakangan (tdk masuk dlm ajaran dasar agama buddha theravada) -- krn bercampur dengan agama/konsep lain. seandainya berguna kenapa tdk?

hyper
February 11, 2004, 07:05
Reiki memang sedikit ada hubungan dengan agama Buddha, khususnya Vajrayana Buddhism, tetapi tidak langsung pada ajaran Buddhism.

hyper
February 11, 2004, 07:06
Keinginan sex adalah sesuatu yang alamiah, natural. Ini adalah hal yang benar. Berselibat adalah transformasi dari sex, ini juga benar. Tapi kita juga jangan lupa bahwa berselibat juga merupakan suatu yang alamiah/ natural.. Dapat dikatakan bahwa berselibat adalah transformasi alamiah dari bentuk alamiah yang satu ke bentuk alamiah yang lain. Mengapa berselibat juga adalah natural, alamiah ? Karena jangan lupa bahwa kita hidup di dunia yang serba dualitas. Ada tinggi ada rendah, ada gelap ada terang, ada baik dan buruk, dsb yang semuanya ini adalah sesuatu yang alamiah, natural yang ada di dunia ini. Ketika hari gelap (malam) bertransformasi menjadi hari terang (siang), kita tidak bisa mengatakan bahwa siang itu bukanlah hal yang alamiah/ natural karena lantaran siang berbeda dan berlawanan dengan malam. Begitu juga dengan keinginan sex dan keinginan selibat.

Kita lahir dan hidup dalam kondisi alam yang serba dulitas dan kita sendiri ada di dalam dualitas itu. Kita dapat hidup dengan sex dan juga hidup tanpa sex karena keduanya adalah hal yang alamiah, tetapi memiliki dampak yang berbeda sendiri-sendiri.

Sebelum kita lanjutkan, perlu kita perjelas, apa itu keinginan sex, apa penyebabnya, dan bagaimana terjadi. Keinginan sex timbul akibat dari adanya rangsangan dari alat seksualitas itu sendiri yang disampaikan melalui syaraf-syaraf yang terkait kepada otak dan pikiran mencerapnya, menerimanya, mengamati, akhirnya menyimpulkan dan menyadari. Rangsangan-rangsangan ini menimbulkan kenikmatan tersendiri yang menimbulkan ketagihan. Proses rangsangan sex ini tidak berbeda dengan rangsangan indra lainnya. Dari semua proses dari penyampaian rangsangan indra hingga diterima oleh pikiran, yang sangat menentukan adalah keberadaan PIKIRAN itu sendiri. Mengapa ? Karena pikiran lah yang melakukan proses penerimaan, pencerapan, pengamatan, dan akhirnya menyimpulkan rangsangan yang ditimbulkan oleh indra. Dan mengenai PIKIRAN itu sendiri, bagi mereka yang telah melakukan meditasi dengan perenungan, pengamatan terhadap pikiran, maka akan menyimpulkan bahwa pikiran itu juga bersifat dualitas, ia liar tapi ia juga yang dapat mengatur keliarannya itu. Karena pikiran memiliki POTENSI untuk mengatur dirinya sendiri dan juga segala aktivitas indra tubuh, maka pikiran berpotensi untuk menentukan arah bagi kualitas pikiran itu sendiri. Dengan demikian keinginan sex yang pada dasarnya adalah suatu bentuk dari pikiran itu sendiri dapat di atasi dengan merubah atau mentrasform pikiran itu sendiri.

Adalah berlebihan jika mengatakan bahwa proses transformasi dalam meditasi untuk melawan keinginan sex adalah berbahaya dan merupakan suatu penekanan. Adalah hal yang wajar bagi pemula jika terjadi gejolak dalam meditasi, seperti layaknya air yang jatuh dari ketinggian ke tempat yang rendah, pasti akan menimbulkan gemuruh, riak, dan buih. Dan apa yang kita sebut sebagai proses adalah tahapan-tahapan, langkah-langkah yang harus ditempuh yang tentunya membutuhnya waktu tertentu, seperti pergantian malam menjadi siang harus melalui pagi hari. Kita tidak bisa langsung merubah suatu keadaan dari penuh dengan keinginan sex ke keadaan tanpa sex, tetapi hal ini tidak dapat dijadikan alasan adanya suatu bahaya dalam proses transformasi melawan keinginan sex.
Penekanan akan terjadi jika kita mengharapkan perubahan secara mendadak, tanpa suatu proses.

Telah dijelaskan bahwa proses transformasi dari keinginan sex ke tanpa sex tidak dapat berjalan secara cepat. Lalu bagaimana transformasi itu terjadi sehingga membawa hasil yang baik ? Yaitu dengan melakukan meditasi, pengamatan terhadap pikiran akan keinginan sex itu, seperti apa dampak sex itu, apa sifat dari keinginan sex itu. Hal ini tidak cukup, tetapi juga perlu latihan pengendalian indra , dalam hal ini adalah indra sex, dan tentu saja secara bertahap dan berkelanjutan. Jika kita melakukan hal ini tentu kita tidak akan menemukan suatu penekanan.

Perlu dibedakan antara kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan adalah sesuatu yang diperlukan, dan setelah terpenuhi tidak ada kelanjutannya lagi. Sedangkan keinginan adalah sesuatu yang diinginkan yang tidak dapat dipuaskan, karena setelah itu akan terus berlangsung atau tumbuh keinginan-keinginan lain.
Pada umumnya keinginan sex bukanlah suatu kebutuhan tetapi keinginan, karena menimbulkan ketagihan yang terus menerus, yang tak akan terpuaskan. Konsep atau dogma yang salah yang mengatakan bahwa sex adalah suatu kebutuhan adalah konsep primitive yang diterapkan oleh kita-kita yang menginginkan keberlangsungan generasi dan juga oleh kita-kita yang masih diliputi ego, bahkan yang ingin menutupi atau menyamarkan apa yang namanya napsu indra.

Kesadaran memang sangat diperlukan dalam sebuah transformasi diri. Tetapi tanpa latihan secara keseluruhan, dan tanpa meningkatkan moral, tidak akan berhasil dengan baik. Menimbulkan dan meningkatkan kesadaran melalui meditasi tidak akan berhasil jika tidak diikuti dengan merubah pola prilaku buruk kita. Bagaimana mungkin meditasi akan berhasil dan pikiran kita bisa tenang ketika kita masih dikejar polisi karena kebiasaan buruk kita mencopet dompet orang ? Bagaimana mungkin kesadaran bisa muncul di dalam ketidaktenangan waktu bermeditasi ?

Berdamai , berbahagia, mencintai diri sendiri bukan berarti kita pasif dan tidak merubah serta membiarkan kebiasaan buruk kita. Berdamai , berbahagia, mencintai diri sendiri adalah bertidak active dengan merubah kebiasan buruk kita. Memang kadang kita akan merasa tidak bahagia dengan merubah kebiasan buruk kita, tetapi itu adalah hal yang sementara yang justru akan membawa kebahagiaan baru bagi kita bahkan lebih dari kebahagiaan dari kebiasaan buruk kita. Seperti layaknya kita minum obat, akan terasa pahit, tetapi itu akan membawa kita kepada kesembuhan diri kita.

Raden Mahesa
February 11, 2004, 12:47
oooo.... jadi tulisan gue ga ada hubungannya ama buddha ya??? kirain pas gitu lo.... elo2 pade kan suka mediyasi... maap deh klo salah... so tulisan ini ga akan dilanjutin.... ga nyambung kan...??? hehehehe

langitbiru
February 12, 2004, 04:08
hehehe.. ga nyambungnya krn agama buddha ga mengajarkan ttg kegunaan meditasi untuk kesehatan dsb-nya, tp terutama untuk kesadaran. menyadari saat ini hingga timbulnya pengertian ttg apakah hidup ini. jd ya agak ga nyambung..
tp thanks udah post artikel :)

Senyum :)
March 01, 2004, 11:52
Pelajaran Spiritual khusus Reiki yang sifatnya rahasia di Vajrayana Tibet (ada sebelum agama Buddha masuk ke sana yang kemudian menjadi bagian dari ajaran) bukan semata2 untuk kesehatan. Kesehatan hanyalah kulit terluar dari Reiki. Kulit luar itu membuat kita latihan praktek untuk santai, amal, pasrah (tidak terikat), menyayangi sesama, memiliki hubungan dengan kesadaran yg lebih tinggi, membersihkan badan, dll. Sebenernya sih segalanya ada hubungan nurut gwe, sayangnya banyak Reiki yg bukan Reiki akhir2 ini... hingga image dan pengertian di masyarakat menjadi salah. :) Si Mahesa bantu benerin image dan pengertian di masyarakat ttg Reiki dunkz :)