View Full Version : "Mengapa saya memilih Islam", Hj. Irena Handono
Pak_Boss
January 21, 2004, 05:59
Sumber : Majalah Hidayah.
MENDAPAT HIDAYAH DI BIARA
Allah selalu memberi petunjuk kepada siapa saja yang mencari kebenaran, dimana pun hamba-Nya berada, di biara sekalipun. Itulah yang terjadi pada Irena Handono yang mendapat hidayah justru saat mencari kelemahan Islam.
Ketika membaca surat Al Ikhlas hatinya tunduk akan keesaan Allah swt. Ia mengakui bahwa tak ada yang paling berkuasa dan patut disembah di jagad raya ini selain Sang Khalik.
Berikut ini penuturannya kepada Siwi Wulandari dari Majalah Hidayah:
Aku dibesarkan dalam keluarga yang religius. Ayah dan ibuku merupakan pemeluk Katholik yang taat. Sejak bayi aku sudah dibaptis, dan sekolah seperti anak-anak lain. Aku juga mengikuti kursus agama secara privat. Ketika remaja aku aktif di organisasi gereja.
Sejak masa kanak-kanak, aku sudah termotivasi untuk masuk biara. Bagi orang Katholik, hidup membiara adalah hidup yang paling mulia, karena pengabdian total seluruh hidupnya hanya kepada Tuhan. Semakin aku besar, keinginan itu sedemikian kuatnya, sehingga menjadi biarawati adalah tujuan satu-satunya dalam hidupku.
Kehidupanku nyaris sempurna, aku terlahir dari keluarga yang kaya raya, kalau diukur dari materi. Rumahku luasnya 1000 meter persegi. Bayangkan, betapa besarnya. Kami berasal dari etnis Tionghoa. ayahku adalah seorang pengusaha terkenal di Surabaya, beliau merupakan salah satu donatur terbesar gereja di Indonesia. Aku anak kelima dan perempuan satu-satunya dari lima bersaudara.
Aku amat bersyukur karena dianugrahi banyak kelebihan. Selain materi, kecerdasanku cukup lumayan. Prestasi akademikku selalu memuaskan. Aku pernah terpilih sebagai ketua termuda pada salah satu organisasi gereja. Ketika remaja aku layaknya remaja pada umumnya, punya banyak teman, aku dicintai oleh mereka, bahkan aku menjadi favorit bagi kawan-kawanku.
Intinya, masa mudaku kuhabiskan dengan penuh kesan, bermakna, dan indah. Namun demikian aku tidak larut dalam semaraknya pergaulan muda-mudi, walaupun semua fasilitas untuk hura-hura bahkan foya-foya ada. Keinginan untuk menjadi biarawati tetap kuat. Ketika aku lulus SMU, aku memutuskan untuk mengikuti panggilan Tuhan itu.
bersambung ...
hansel
January 21, 2004, 06:03
Hih hih hih ini pan cerita biarawati yg katanya sekolah di seminari. Biarawati kok sekolah di seminari, sekolah calon imam dimasupin biarawati? Yg bener aja! Seminari kampung mana tuh?
Pak_Boss
January 21, 2004, 06:03
... sambungan
Tentu saja orang tuaku terkejut. Berat bagi mereka untuk membiarkan anak gadisnya hidup terpisah dengan mereka. Sebagai pemeluk Katholik yang taat, mereka akhirnya mengikhlaskannya. Sebaliknya dengan kakak-kakakku, mereka justru bangga punya adik yang masuk biarawati.
Tidak ada kesulitan ketika aku melangkah ke biara, justru kemudahan yang kurasakan. Dari banyak biarawati, hanya ada dua orang biara yang diberi tugas ganda. Yaitu kuliah di biara dan kuliah di Institut Filsafat Teologia, seperti seminari yang merupakan pendidikan akhir pastur. Salah satu dari biarawati yang diberi keistimewaan itu adalah saya.
Dalam usia 19 tahun Aku harus menekuni dua pendidikan sekaligus, yakni pendidikan di biara, dan di seminari, dimana aku mengambil Fakultas Comparative Religion, Jurusan Islamologi.
Di tempat inilah untuk pertama kali aku mengenal Islam. Di awal kuliah, dosen memberi pengantar bahwa agama yang terbaik adalah agama kami sedangkan agama lain itu tidak baik. Beliau mengatakan, Islam itu jelek. Di Indonesia yang melarat itu siapa? Yang bodoh siapa? Yang kumuh siapa? Yang tinggal di bantaran sungai siapa? Yang kehilangan sandal setiap hari jum'at siapa? yang berselisih paham tidak bisa bersatu itu siapa? Yang jadi teroris siapa? Semua menunjuk pada islam. Jadi Islam itu jelek.
Aku mengatakan kesimpulan itu perlu diuji, kita lihat negara-negara lain, Philiphina, Meksiko, Itali, Irlandia, negara-negara yang mayoritas kristiani itu tak kalah amburadulnya. Aku juga mencontohkan negara-negara penjajah seperti terbentuknya negara Amerika dan Australia, sampai terbentuknya negara Yahudi Israel itu, mereka dari dulu tidak punya wilayah, lalu merampok negara Palestina.
Jadi tidak terbukti kalau Islam itu symbol keburukan. Aku jadi tertarik mempelajari masalah ini. Solusinya, aku minta ijin kepada pastur untuk mempelajari Islam dari sumbernya sendiri, yaitu Al-Qur'an dan Hadits. Usulan itu diterima, tapi dengan catatan, aku harus mencari kelemahan Islam.
bersambung ...
hansel
January 21, 2004, 06:05
Trus, trus katanya bertaubat gara-gara baca Al-Ikhlas hih hih hih gue sich ikhlas kalo yg peginian sebaeknya out the sooner, the better
hansel
January 21, 2004, 06:10
Yg ngopi-pes tau gak sich kalo seminari itu pendidikan calon imam, sementara biarawati itu bukan jabatan imamat?
Pak_Boss
January 21, 2004, 06:11
... sambungan
Kebenaran surat Al Ikhlas
Ketika pertama kali memegang kitab suci al-Qur'an, aku bingung. Kitab ini, mana yang depan, mana yang belakang, mana atas mana bawah. Kemudian aku amati bentuk hurufnya, aku semakin bingung. Bentuknya panjang-panjang, bulat-bulat, akhirnya aku ambil jalan pintas, aku harus mempelajari dari terjemah.
Ketika aku pelajari dari terjemahan, karena aku tak mengerti bahwa membaca al-Quran dimulai dari kiri, aku justru terbalik dengan membukanya dari kanan. Yang pertama kali aku pandang, adalah surat Al Ikhlas. Aku membacanya, bagus surat al-Ikhlas ini, pujiku. Suara hatiku membenarkan bahwa Allah itu Ahad, Allah itu satu, Allah tidak beranak, tidak diperanakkan dan tidak sesuatupun yang menyamai Dia. "Ini 'kok bagus, dan bisa diterima!" pujiku lagi.
Pagi harinya, saat kuliah teologia, dosen saya mengatakan, bahwa Tuhan itu satu tapi pribadinya tiga, yaitu Tuhan Bapak, Tuhan Putra dan Tuhan Roh Kudus. Tiga Tuhan dalam satu, satu Tuhan dalam tiga, ini yang dinamakan trinitas, atau tritunggal. Malamnya, ada yang mendorong diriku untuk mengaji lagi surat al-Ihklas. "Allahu ahad, ini yang benar," putusku pada akhirnya.
Maka hari berikutnya terjadi dialog antara saya dan dosen-dosen saya.
Aku katakan, "Pastur, saya belum paham hakekat Tuhan."
"Yang mana yang Anda belum paham?" tanya Pastur. Dia maju ke papan tulis sambil menggambar segitiga sama sisi, AB=BC=CA. Aku dijelaskan, segitiganya satu, sisinya tiga, berarti tuhan itu satu tapi pribadinya tiga. Tuhan Bapak sama kuasanya dengan Tuhan Putra sama dengan kuasanya Tuhan Roh Kudus. Demikian Pastur menjelaskan.
"Kalau demikian, suatu saat nanti kalau dunia ini sudah moderen, iptek semakin canggih, Tuhan kalau hanya punya tiga pribadi, tidak akan mampu untuk mengelola dunia ini. Harus ada penambahnya menjadi empat pribadi," tanyaku lebih mendalam.
Dosen menjawab, "Tidak bisa!"
Aku jawab bisa saja, kemudian aku maju ke papan tulis. Saya gambar bujur sangkar. Kalau dosen saya mengatakan Tuhan itu tiga dengan gambar segitiga sama sisi, sekarang saya gambar bujur sangkar. Dengan demikian, bisa saja saya simpulkan kalau tuhan itu pribadinya empat. Pastur bilang, tidak boleh. Mengapa tidak boleh? Tanya saya semakin tak mengerti. "Ini dogma, yaitu aturan yang dibuat oleh para pemimpin gereja!" tegas Pastur.
Aku katakan, "kalau aku belum paham dengan dogma itu bagaimana?"
"Ya terima saja, telan saja. Kalau Anda ragu-ragu, hukumnya dosa!" tegas Pastur mengakhiri.
bersambung ...
Pak_Boss
January 21, 2004, 06:17
... sambungan
Walaupun dijawab demikian, malam hari ada kekuatan yang mendorong saya untuk kembali mempelajari surat al-Ikhlas. Ini terus berkelanjutan, sampai akhirnya aku bertanya kepada Pastur, "Siapa yang membuat mimbar, membuat kursi, meja?" dia tidak mau jawab.
"Coba Anda jawab!" Pastur balik bertanya. Dia mulai curiga. Aku jawab, itu semua yang buat tukang kayu.
"Lalu kenapa?" tanya Pastur lagi.
"Menurut saya, semua barang itu walaupun dibuat setahun lalu, sampai seratus tahun kemudian tetap kayu, tetap meja, tetap kursi. Tidak ada satu pun yang membuat mereka berubah jadi tukang kayu," saya mencoba menjelaskan.
"Apa maksud Anda?" tanya Pastur penasaran. Aku kemudian memaparkan, bahwa Tuhan menciptakan alam semesta dan seluas isinya termasuk manusia. Dan manusia yang diciptakan seratus tahun lalu sampai seratus tahun kemudian, sampai kiamat tetap saja manusia, manusia tidak mampu mengubah dirinya menjadi Tuhan, dan Tuhan tidak boleh dipersamakan dengan manusia.
Malamnya, kembali kukaji surat al-Ikhlas. Hari berikutnya, aku bertanya kepada Pastur, "Siapa yang melantik RW?" Saya ditertawakan. Mereka pikir, ini 'kok ada suster yang tidak tahu siapa yang melantik RW?
"Sebetulnya saya tahu," ucapku.
"Kalau Anda tahu, mengapa Anda tanya? Coba jelaskan!" tantang mereka.
"Menurut saya, yang melantik RW itu pasti eselon di atasnya, lurah atau kepala desa. Kalau sampai ada RW dilantik RT jelas pelantikan itu tidak sah."
"Apa maksud Anda?" mereka semakin tak mengerti.
Saya mencoba menguraikan, "Menurut pendapat saya, Tuhan itu menciptakan alam semesta dan seluruh isinya termasuk manusia. Manusia itu hakekatnya sebagai hamba Tuhan. Maka kalau ada manusia melantik sesama manusia untuk menjadi Tuhan, jelas pelantikan itu tidak sah."
bersambung ....
hansel
January 21, 2004, 06:25
Originally posted by Pak_Boss
Dalam usia 19 tahun Aku harus menekuni dua pendidikan sekaligus, yakni pendidikan di biara, dan di seminari, dimana aku mengambil Fakultas Comparative Religion, Jurusan Islamologi.
Anggaplah lulus SMU berusia 17-18 taun, dalam usia 19 taun udah jadi biarawati? Lhah masa novitiatenya kapan? Trus dalam masa novitiate biarawti yg mustinya gak diperkenankan meninggalkan biara malah dikirim untuk belajar? Please! Kalo mo ngibul, bikin yg lebih cerdas dikit dari ini, napa?
Pak_Boss
January 21, 2004, 06:33
... sambungan
Keluar dari Biara
<dua alinea saya delete krn terlalu sensisitif - Pak_Boss >
Kebiasaan mengkaji al-Qur'an tetap saya teruskan, sampai saya berkesimpulan bahwa agama yang hak itu cuma satu, Islam. Subhanallah.
Saya mengambil keputusan besar, keluar dari biara. Itu melalui proses berbagai pertimbangan dan perenungan yang dalam, termasuk melalui surat dan ayat. Bahkan, saya sendiri mengenal sosok Maryam yang sesungguhnya dari al-Qur'an surat Maryam. Padahal, dalam doktrin Katholik, Maryam menjadi tempat yang sangat istimewa. Nyaris tidak ada doa tanpa melalui perantaranya. Anehnya, tidak ada Injil Maryam.
Jadi saya keluar dengan keyakinan bahwa Islam agama Allah. Tapi masih panjang, tidak hari itu saya bersyahadat. Enam tahun kemudian aku baru mengucapkan dua kalimah syahadat. Selama enam tahun, saya bergelut untuk mencari. Saya diterpa dengan berbagai macam persoalan, baik yang sedih, senang, suka dan duka. Sedih, karena saya harus meninggalkan keluarga saya. Reaksi dari orang tua tentu bingung bercampur sedih.
Sekeluarnya dari biara, aku melanjutkan kuliah ke Universitas Atmajaya. Kemudian aku menikah dengan orang Katholik. Harapanku dengan menikah adalah, aku tidak lagi terusik oleh pencarian agama. Aku berpikir, kalau sudah menikah, ya selesai! Ternyata diskusi itu tetap berjalan, apalagi suamiku adalah aktifis mahasiswa. Begitupun dengan diriku, kami kerap kali berdiskusi. Setiap kali kami diskusi, selalu berakhir dengan pertengkaran, karena kalau aku mulai bicara tentang Islam, dia menyudutkan. Padahal, aku tidak suka sesuatu dihujat tanpa alasan. Ketika dia menyudutkan, aku akan membelanya, maka jurang pemisah itu semakin membesar, sampai pada klimaksnya.
Aku berkesimpulan kehidupan rumah tangga seperti ini, tidak bisa berlanjut, dan tidak mungkin bertahan lama. Aku mulai belajar melalui ustadz. Aku mulai mencari ustadz, karena sebelumnya aku hanya belajar Islam dari buku semua. Alhamdulillah Allah mempertemukan saya dengan ustadz yang bagus, diantaranya adalah Kyai Haji Misbah (alm.). Beliau ketua MUI Jawa Timur periode yang lalu. Aku beberapa kali berkonsultasi dan mengemukakan niat untuk masuk Islam.
Tiga kali ia menjawab dengan jawaban yang sama, "Masuk Islam itu gampang, tapi apakah Anda sudah siap dengan konsekwensinya?"
"Siap!" jawabku.
"Apakah Anda tahu konsekwensinya?" tanya beliau.
"Pernikahan saya!" tegasku. Aku menyadari keinginanku masuk Islam semakin kuat.
"Kenapa dengan perkawinan Anda, mana yang Anda pilih?" Tanya beliau lagi.
"Islam" jawabku tegas. Akhirnya rahmat Allah datang kepadaku. Aku kemudian mengucapkan dua kalimat syahadat di depan beliau. Waktu itu tahun 1983, usiaku 26 tahun.
bersambung ....
hansel
January 21, 2004, 06:36
... sambungan
Keluar dari Biara
<dua alinea saya delete krn terlalu sensisitif>
Terlalu ketauan ngibulnya tepatnya! ;D
Seminari Kampung Daun kali hih hih hih :lol:
Pak_Boss
January 21, 2004, 06:44
... sambungan
Setelah resmi memeluk Islam, aku mengurus perceraianku, karena suamiku tetap pada agamanya. Pernikahanku telah berlangsung selama lima tahun, dan telah dikaruniai tiga orang anak, satu perempuan dan dua laki-laki. Alhamdulillah, saat ini mereka telah menjadi muslim dan muslimah.
Shalat pertama kali
Setelah aku mengucapkan syahadat, aku tahu persis posisiku sebagai seorang muslimah harus bagaimana. Satu hari sebelum ramadhan tahun dimana aku berikrar, aku langsung melaksanakan shalat.
Pada saat itulah, salah seorang kakak mencari saya. Rumah cukup besar. Banyak kamar terdapat di dalamnya. Kakakku berteriak mencariku. Ia kemudian membuka kamarku. Ia terkejut, 'kok ada perempuan shalat? Ia pikir ada orang lain yang sedang shalat. Akhirnya ia menutup pintu.
Hari berikutnya, kakakku yang lain kembali mencariku. Ia menyaksikan bahwa yang sedang shalat itu aku. Selesai shalat, aku tidak mau lagi menyembunyikan agama baruku yang selama ini kututupi. Kakakku terkejut luar biasa. Ia tidak menyangka adiknya sendiri yang sedang shalat. Ia tidak bisa
bicara, hanya wajahnya seketika merah dan pucat. Sejak saat itulah terjadi keretakan diantara kami.
Agama baruku yang kupilih tak dapat mereka terima. Akhirnya aku meninggalkan rumah. Aku mengontrak sebuah rumah sederhana di Kota Surabaya. Sebagai anak perempuan satu-satunya, tentu ibuku tak mau kehilangan. Beliau tetap datang menjenguk sesekali. Enam tahun kemudian ibu meninggal dunia. Setelah ibuku meninggal, tidak ada kontak lagi dengan ayah atau anggota keluarga yang lain sampai sekarang.
Aku bukannya tak mau berdakwah kepada keluargaku, khususnya ibuku. Walaupun ibu tidak senang, ketegangan-ketegangan akhirnya terjadi terus. Islam, baginya identik dengan hal-hal negatif yang saya contohkan di atas. Pendapat ibu sudah terpola, apalagi usia ibu sudah lanjut.
bersambung ...
Pak_Boss
January 21, 2004, 06:48
... sambungan
Tahun 1992 aku menunaikan rukun Islam yang kelima. Alhamdulillah aku diberikan rejeki sehingga bisa menunaikan ibadah haji. Selama masuk Islam sampai pergi haji, aku selalu 'menggerutu' kepada Allah, "kalau Engkau, ya Allah, menakdirkanku menjadi seorang yang mukminah, mengapa Engkau tidak menakdirkan saya menjadi anak orang Islam, punya bapak Islam, dan ibu orang Islam, sama seperti saudara-saudaraku muslim yang kebanyakan itu. Dengan begitu, saya tidak perlu banyak penderitan.
Mengapa jalan hidup saya harus berliku-liku seperti ini?" ungkapku sedikit kesal.
Di Masjidil-Haram, aku bersungkur mohon ampun, dilanjutkan dengan sujud syukur. Alhamdulillah aku mendapat petunjuk dengan perjalan hidupku seperti ini. Aku merasakan nikmat iman dan nikmat Islam. Padahal, orang Islam yang sudah Islam tujuh turunan belum tentu mengerti nikmat iman dan Islam. Islam adalah agama hidayah, agama hak. Islam adalah agama yang sesuai dengan fitrah manusia. Manusia itu oleh Allah diberi akal, budi, diberi emosi, rasio. Agama Islam adalah agama untuk orang yang berakal, semakin dalam daya analisis kita, insya Allah, Allah akan memberi. Firman Allah, "Apakah sama orang yang tahu dan tidak tahu?"
Sepulang haji, hatiku semakin terbuka dengan Islam, atas kehendak-Nya pula aku kemudian diberi kemudahan dalam belajar agama tauhid ini. Alhamdulillah tidak banyak kesulitan bagiku untuk belajar membaca kitab-kitab. Allah memberi kekuatan kepadaku untuk bicara dan berdakwah. Aku begitu lancar dan banyak diundang untuk berceramah. Tak hanya di Surabaya, aku kerap kali diundang berdakwah di Jakarta.
Begitu banyak yang Allah karuniakan kepadaku, termasuk jodoh, melalui pertemuan yang Islami, aku dilamar seorang ulama. Beliau adalah Masruchin Yusufi, duda lima anak yang isterinya telah meninggal dunia. Kini kami berdua sama-sama aktif berdakwah sampai ke pelosok desa. Terjun di bidang dakwah tantangannya luar biasa. Alhamdulillah, dalam diri ini terus menekankan bahwa hidupku, matiku hanya karena Allah.
Habis.
Sumber : Majalah Hidayah
tonton
January 21, 2004, 09:48
Originally posted by hansel
Trus, trus katanya bertaubat gara-gara baca Al-Ikhlas hih hih hih gue sich ikhlas kalo yg peginian sebaeknya out the sooner, the better
Itulah yang disebut mendapat hidayah ...sama ajakan dengan hansel yang mendapat hadiyah ...
Max type R
January 21, 2004, 13:25
salut gue ama org kaya begitu, selamat deh kerena ga semua org mendapat hidayah
myc
January 21, 2004, 14:38
Udah ngeluarin buku juga (termasuk salah satu penulis) yang katanya isinya membantah tulisan2 robert morey, ada yang udah baca ?
sheen
January 21, 2004, 15:10
Originally posted by Pak_Boss
Tidak ada kesulitan ketika aku melangkah ke biara, justru kemudahan yang kurasakan. Dari banyak biarawati, hanya ada dua orang biara yang diberi tugas ganda. Yaitu kuliah di biara dan kuliah di Institut Filsafat Teologia, seperti seminari yang merupakan pendidikan akhir pastur. Salah satu dari biarawati yang diberi keistimewaan itu adalah saya.
Dalam usia 19 tahun Aku harus menekuni dua pendidikan sekaligus, yakni pendidikan di biara, dan di seminari, dimana aku mengambil Fakultas Comparative Religion, Jurusan Islamologi.
Yang bikin kesaksian ini sama sekali nggak ngerti kalau seorang wanita hendak menjadi seorang biarawati katolik harus menempuh masa pendidikan dalam rumah pendidikan tarekat setempat, mulai dari masa postulat, novisiat hingga kaul pertama yang memakan waktu kurang lebih 3 tahun. Dalam kurun masa tersebut, sang calon biarawati sama sekali tidak boleh meninggalkan rumah pendidikannya. Dalam masa sebelum kaul pertama, ia sama sekali tidak akan disebut sebagai 'biarawati/suster' tapi novis. Kalau umur 18 tahun masuk biara, 19 tahun udah biarawati, masa postulat dan novisiatnya cuman setahun? Mempersiapkan kaul pertama aja bisa setahun sendiri...
Seorang biarawati nggak akan pernah bersekolah di seminari. Untuk apa? Seminari adalah jenjang pendidikan para calon imam. Biarawati kuliah di fakultas manajemen, hukum, keperawatan, bahkan teknik sipil, itu masih mungkin. Tapi Institut Filsafat Theologia?
Kalau belum ada yang pernah tahu, seminari tidak punya dan tidak pernah pakai jurusan. Jelas penulis sama sekali nggak tahu apa itu seminari. Mungkin karena tahunya di IAIN ada Fakultas Ushuluddin, dianggap di seminari juga ada Jurusan Comparative Religion.
myc
January 21, 2004, 15:21
Tinggal konfirmasi ke orangnya langsung, kalo ngga salah pernah nongol di tv, beliau lumayan juga membantu Islam dalam menghambat kristenisasi (kabarnya). mungkin wartawan yang salah tulis atau mungkin memang begitu.
Di Kristen banyak sekali sekte sehingga mungkin sekali berbeda standardnya.
sheen
January 21, 2004, 15:23
Originally posted by Pak_Boss
Yang jadi teroris siapa? Semua menunjuk pada islam. Jadi Islam itu jelek.
Masa-masa itu, belum ada yang nguber-nguber teroris berkedok islam.
sheen
January 21, 2004, 15:28
Originally posted by Pak_Boss
Aku katakan, "Pastur, saya belum paham hakekat Tuhan."
"Yang mana yang Anda belum paham?" tanya Pastur. Dia maju ke papan tulis sambil menggambar segitiga sama sisi, AB=BC=CA. Aku dijelaskan, segitiganya satu, sisinya tiga, berarti tuhan itu satu tapi pribadinya tiga. Tuhan Bapak sama kuasanya dengan Tuhan Putra sama dengan kuasanya Tuhan Roh Kudus. Demikian Pastur menjelaskan.
Ini materi buat ngajarin konsep trinitas di seminari? Dan masih ada yang nanya beginian di seminari? (kalau memang adegan ini pernah terjadi...)
Gion Franklin
January 22, 2004, 03:39
Originally posted by hansel
Hih hih hih ini pan cerita biarawati yg katanya sekolah di seminari. Biarawati kok sekolah di seminari, sekolah calon imam dimasupin biarawati? Yg bener aja! Seminari kampung mana tuh?
Gw gak tau ini cerita bener apa kaga, tapi yang jelas gw pernah nonton VCD-nya dan Irene Handoyo ini exist.
Dia menceritakan dalam VCD tsb dia emang biarawati, dan terpilih bersama temannya (jadi hanya 2 orang yang dipilih) untuk mengikuti tugas khusus, belajar juga di seminari agung atau Institut Filsafat Teologia.
Jadi bukan dia bersekolah di seminari. Tapi mendapat tugas khusus belajar.
Untuk lebih clearnya, sebaiknya mendengar dari beliau langsung. :)
Gion Franklin
January 22, 2004, 03:46
Btw buat Pak_Boss gak perlu bikin thread untuk ini.
Ini bisa menyinggung perasaan umat lain (dalam hal ini Kristen). Lagipula cerita ini sudah ada kok thread khusus.
begawan
January 22, 2004, 05:51
loh?? apa salahnya ada thread kayak gini??
ini kan forum islam sebagaimana buku dan majalah islam dijual bebas?????
masalahnya ngapain juga org pada nyasar kesini??
wong di TV aja org boleh seenak udel komentar tentang islam
aneh...
dragz
January 22, 2004, 11:53
good point :D
ayoklah
January 22, 2004, 17:38
Akur aja dah...
ayoklah
January 22, 2004, 17:45
Kalo gw sih kasian ma orangnya aja...
dia ambil keputusan buat diri sendiri kok, bukan buat dibangga2kan orang2 islam yg laen... dan bukan buat dibenci ma orang kristen...
hansel
January 22, 2004, 18:25
Trus, kenapa gak ada penjelasan bagaimana dalam waktu setahun seorg yg memasupi biara langsung udah ditahbiskan menjadi biarawati?
Mestinya mantan biarawati tau doung kalo masa novitiate itu lebih dari setaun, that is kalo emang doski itu bener-bener calon biarawati, which sounds so unlikely.
Kalo mo ngibul tuh yg cerdas dikit napa?
Ato mungkin yg dikibulin emang kagak cerdas sich, jadinya ya
dgn kibulan yg kurang cerdas langsung sorak-sorai! Uhuy! [clap]
hansel
January 22, 2004, 18:28
Originally posted by ayoklah
Kalo gw sih kasian ma orangnya aja...
dia ambil keputusan buat diri sendiri kok, bukan buat dibangga2kan orang2 islam yg laen... dan bukan buat dibenci ma orang kristen...
Sorry ye! Siapa yg benci? Tiap detik ada org pindah kepercayaan gue juga gak pusing, but jika kibulan kayak gini buat dibangga-banggakan, jelas gue gak bisa menahan diri untuk gak mentertawakan doung! Mentertawakan yg ngibul, mopun yg suka-rela dikibulin :rotfl:
hansel
January 23, 2004, 01:30
Itulah yang disebut mendapat hidayah ...sama ajakan dengan hansel yang mendapat hadiyah ...
Hidayah jadi tukang ngibul hih hih hih :rotfl:
Biarawati di seminari hih hih hih ;D
hansel
January 23, 2004, 01:51
Ini nih bagian yg diedit
Malam berikutnya, saya kembali mengkaji surat al-Ikhlas. Kembali terjadi dialog-dialog, sampai akhirnya saya bertanya mengenai sejarah gereja. Menurut semua literatur yang saya pelajari, dan kuliah yang saya terima, Yesus untuk pertama
kali disebut dengan sebutan Tuhan, dia dilantik menjadi Tuhan pada tahun 325 Masehi. Jadi, sebelum itu ia belum menjadi Tuhan, dan yang melantiknya sebagai Tuhan adalah Kaisar
Constantien kaisar Romawi. Pelantikannya terjadi dalam sebuah conseni (konferensi atau muktamar) di kota Nizea. Untuk pertama kali Yesus berpredikat sebagai Tuhan. Maka silahkan ummat Kristen di seluruh dunia ini, silahkan mencari cukup satu ayat saja dalam Injil, baik Matius, Markus, Lukas, Yohanes, mana ada satu kalimat Yesus yang mengatakan, 'Aku Tuhanmu'? Tidak pernah ada.
Ya ampuuuuuuuunnn!!! Gini ini ngaku mantan biarawati? Coba doung periksa "St John's Gospel" chapter 13, verse 13.
St Irenee of Lyon, St Ignatius of Antioch, St Clement, & St Polycarp semua hidup sebelon 325 AD, semua udah menyebut Jesus sebagai Tuhan dalam literature karya mereka. Lhah St Matthew, St Mark, St Luke, & St John pan semua menuliskan injil mereka pada abad I, semuanya udah menyebut Jesus sebagai Tuhan, kok berani-beraninya bikin pernyataan setolol itu sich?
Begini ini yg namanya mempelajarai literature Gereja? Literature Gereja terbitan Pesantren Belimbing Ijo kali!
Mereka kaget sekali dan menganggap saya sebagai biarawati yang kritis.
Tepatnya mereka kaget ada 'biarawati' sebego ini!
Bahkan, saya sendiri mengenal sosok Maryam yang sesungguhnya dari al-Qur'an surat Maryam. Padahal, dalam doktrin Katholik,Maryam menjadi tempat yang sangat istimewa. Nyaris tidak ada doa tanpa melalui perantaranya. Anehnya, tidak ada Injil Maryam.
Jelas gak ada! Untuk apa? Kedudukan Bunda Maria dalam iman Kristen itu Christocentric, artinya dipandang sejauh hubungannya dgn Kristus, untuk apa ada Injil Maria? Mosok gini aja gak tau sich? Katanya mantan biarawati?
Puas juga nertawain kibulan makhluk konyol kayak gini! :rotfl:
pokerface
January 23, 2004, 02:18
gue jadi penonton aja deh :rotfl:
Lady Synthesizer
January 23, 2004, 02:35
berhubung ini kesaksian palsu yah ditutup aja drpd jadi kesalah paham'an.
vBulletin® v3.8.2, Copyright ©2000-2013, Jelsoft Enterprises Ltd.