link-link
December 10, 2003, 09:30
Para arkeolog dibuat senang sekaligus disuguhi teka-teki oleh temuan patung batu berusia 2.500 tahun di Prancis minggu lalu. Patung tersebut mungkin bisa memberikan informasi-informasi langka mengenai kehidupan di Eropa barat sebelum penaklukan oleh bangsa Romawi, namun mungkin juga menambah daftar pertanyaan seputar kebudayaan masa itu.
Potongan patung bagian dada yang digali dari daerah Lattes, Prancis selatan, yang dimaksud di atas adalah satu dari sedikit benda yang diperkirakan merupakan peninggalan bangsa Celtik kuno. Meski begitu, pola pakaian yang dikenakannya tidak berasal dari budaya bangsa tersebut.
Patung "Pejuang dari Lattes" itu dalam bentuk utuhnya dipastikan berukuran sebesar manusia. Menurut keterangan yang dipublikasikan di journal Antiquity, ia menggambarkan seorang pejuang laki-laki yang mengenakan pakaian tempur seperti yang dipakai prajurit-prajurit Spanyol dan Itali masa lalu.
Adapun potongan bagian dada sang pejuang dari Lattes berukuran tinggi 79 centimeter. Potongan tersebut ditemukan dalam tembok sebuah rumah jaman besi, dimana ia digunakan sebagai bahan bangunan. Berdasar penelitian para arkeolog, beberapa saat setelah dibuat, patung itu dipecah-pecah untuk digunakan sebagai bahan bangunan. Kepalanya dihilangkan, lengan dan kaki kirinya dipotong, sedang hiasan pada helm tempurnya telah dikikir.
Interaksi budaya?
posisi patung diduga bergaya seperti patung-patung Yunani
Uniknya, pose patung itu tidak biasa ditemukan pada karya-karya seni jaman besi di Prancis selatan. Kebanyakan patung dari wilayah tersebut biasanya digambarkan bersilang kaki, namun patung Lattes ini berada dalam posisi merunduk atau berlutut, suatu pose yang mengingatkan pada patung-patung Yunani.
Selain itu, corak penutup dada yang digunakan sang pejuang Lattes serupa dengan corak yang ditemukan pada kuburan-kuburan dan patung-patung yang dipengaruhi kebudayaan Iberia di Spanyol kuno, dan tidak berbau Celtik. Untuk diketahui, bangsa Iberia sendiri diduga mengadopsi corak hiasan itu dari Italia.
Hal itu menimbulkan pertanyaan karena orang-orang dari wilayah Languedoc timur di Prancis, tempat patung tersebut ditemukan, secara umum dianggap berbudaya Celtik, berbeda dengan orang-orang yang tinggal dekat Iberia di barat.
Michael Dietler, dari Universitas Chicago, AS, dan Michel Py dari pusat penelitian ilmiah nasional (Centre National de la Recherche Scientifique) di Lattes, Prancis, memiliki teori untuk memecahkan teka-teki di atas. Menurut mereka, segelintir warga elit di Languedoc timur sepertinya telah mengadopsi kebiasaan-kebiasaan yang dianggap eksotis ketika mayoritas warga lain tetap menjalankan budaya lama.
Sedangkan para ahli lain seperti Profesor Greg Woolf, sejarawan dari Universitas St Andrews, Inggris, cenderung beranggapan bahwa patung tersebut menunjukkan adanya interaksi antara penduduk Eropa barat dengan kebudayaan klasik sebelum mereka dijajah Romawi. "Bisa jadi itu merupakan hasil interaksi berbagai budaya di Mediterania," katanya.
Ditambahkan Woolf, tidak semua patung melukiskan seseorang yang berasal dari suatu daerah. "Bisa jadi itu adalah bagian dari patung dewa yang sudah sejak dari asalnya digambarkan seperti itu, karena tidak semua patung adalah gambaran masyarakat yang membuatnya." (BBC/wsn)
Potongan patung bagian dada yang digali dari daerah Lattes, Prancis selatan, yang dimaksud di atas adalah satu dari sedikit benda yang diperkirakan merupakan peninggalan bangsa Celtik kuno. Meski begitu, pola pakaian yang dikenakannya tidak berasal dari budaya bangsa tersebut.
Patung "Pejuang dari Lattes" itu dalam bentuk utuhnya dipastikan berukuran sebesar manusia. Menurut keterangan yang dipublikasikan di journal Antiquity, ia menggambarkan seorang pejuang laki-laki yang mengenakan pakaian tempur seperti yang dipakai prajurit-prajurit Spanyol dan Itali masa lalu.
Adapun potongan bagian dada sang pejuang dari Lattes berukuran tinggi 79 centimeter. Potongan tersebut ditemukan dalam tembok sebuah rumah jaman besi, dimana ia digunakan sebagai bahan bangunan. Berdasar penelitian para arkeolog, beberapa saat setelah dibuat, patung itu dipecah-pecah untuk digunakan sebagai bahan bangunan. Kepalanya dihilangkan, lengan dan kaki kirinya dipotong, sedang hiasan pada helm tempurnya telah dikikir.
Interaksi budaya?
posisi patung diduga bergaya seperti patung-patung Yunani
Uniknya, pose patung itu tidak biasa ditemukan pada karya-karya seni jaman besi di Prancis selatan. Kebanyakan patung dari wilayah tersebut biasanya digambarkan bersilang kaki, namun patung Lattes ini berada dalam posisi merunduk atau berlutut, suatu pose yang mengingatkan pada patung-patung Yunani.
Selain itu, corak penutup dada yang digunakan sang pejuang Lattes serupa dengan corak yang ditemukan pada kuburan-kuburan dan patung-patung yang dipengaruhi kebudayaan Iberia di Spanyol kuno, dan tidak berbau Celtik. Untuk diketahui, bangsa Iberia sendiri diduga mengadopsi corak hiasan itu dari Italia.
Hal itu menimbulkan pertanyaan karena orang-orang dari wilayah Languedoc timur di Prancis, tempat patung tersebut ditemukan, secara umum dianggap berbudaya Celtik, berbeda dengan orang-orang yang tinggal dekat Iberia di barat.
Michael Dietler, dari Universitas Chicago, AS, dan Michel Py dari pusat penelitian ilmiah nasional (Centre National de la Recherche Scientifique) di Lattes, Prancis, memiliki teori untuk memecahkan teka-teki di atas. Menurut mereka, segelintir warga elit di Languedoc timur sepertinya telah mengadopsi kebiasaan-kebiasaan yang dianggap eksotis ketika mayoritas warga lain tetap menjalankan budaya lama.
Sedangkan para ahli lain seperti Profesor Greg Woolf, sejarawan dari Universitas St Andrews, Inggris, cenderung beranggapan bahwa patung tersebut menunjukkan adanya interaksi antara penduduk Eropa barat dengan kebudayaan klasik sebelum mereka dijajah Romawi. "Bisa jadi itu merupakan hasil interaksi berbagai budaya di Mediterania," katanya.
Ditambahkan Woolf, tidak semua patung melukiskan seseorang yang berasal dari suatu daerah. "Bisa jadi itu adalah bagian dari patung dewa yang sudah sejak dari asalnya digambarkan seperti itu, karena tidak semua patung adalah gambaran masyarakat yang membuatnya." (BBC/wsn)