AlfaOmega
November 10, 2003, 12:28
Ini sebagai second opini. Semoga bisa sebagai penyeimbang antara berita yang kita dapat dari media massa pada umumnya.
Mohon ma'af kalau ada yg udah mbaca. :hehe
eramuslim - “Bagaimana bisa tenang disini sementara keluarga saya di Irak sana sedang berpikir, kapan mereka mendapat giliran dentuman meriam Amerika Serikat?” Begitu kata Salahuddin, 40 tahun, warga Irak yang waktu itu masih bekerja bersama saya 8 bulan lalu di Dubai, UAE, sebelum memutuskan balik ke negara asalnya Irak. Ia putuskan pulang ke Irak dua bulan menjelang digelarnya perang Irak. Hampir setiap karyawan ditemui olehnya satu-persatu, layaknya mau berpamitan ‘selamanya’. Salahuddin namanya, dan Salah, begitu biasa kami memanggilnya, insinyur teknik automobile yang berperawakan tinggi besar ini meninggalkan kami dengan berlinang airmata. Bagi saya, Salah memiliki tempat tersendiri di hati ini, buka hanya karena dia hampir tiap hari ke klinik, tempat dimana saya bekerja, sekedar berucap “Assalamu’alaikum!”. Lebih dari itu, dia memperlakukan saya secara spesial, entah karena saya orang Indonesia, atau karena ia menyukai kata-kata yang sering saya kemukakan katanya ‘bijaksana’. “Ada-ada saja Salah ini!”, bisik batin saya.
Bulan Februari dan Maret pun berlalu. Kini April tiba. “Ada yang tidak beres dengan sebagian pasukan Irak sendiri”, kata Salah. “Mereka sebagian adalah penghianat bangsa. Buktinya, berapa jenderal yang pada akhirnya melarikan diri, bahkan Menteri Pertahanan Irak, Hashim Sultan, sekarang dalam ‘perlindungan’ A.S”.
“Dalam perjalanan pulang, alhamdulillah saya tiba dengan selamat di Baghdad. Saya tempuh lewat laut karena jalur udara mahal sekali. Sedikit tabungan yang ada di saku saya simpan dengan baik dengan harapan bisa sedikit membantu memenuhi sebagian kebutuhan keluarga kami. Harga barang-barang mulai melangit di Irak. Bahan-bahan makanan juga teramat mahal sekarang ini. Hampir 70% rakyat kehilangan pekerjaan. Pasukan Saddam Hussain yang lebih dari 1 juta orang jumlahnya dipecat, para polisi pun berpakaian preman, belum terhitung pegawai lainnya, pemerintah maupun swasta. Pasukan AS merekrut orang-orang baru pilihan mereka sendiri untuk ditempatkan di pos-pos penting pemerintahan, yang pada gilirannya melahirkan kebencian rakyat Irak terhadap pendudukan AS disana.”
“Rumah kami hanya berjarak sekitar 10 menit perjalanan dari Saddam International Airport, yang kemudian namanya diganti menjadi Baghdad International Airport. Bisa dibayangkan bagaimana perasaan kami waktu itu, karena bandara juga menjadi lahan tempur utama. Kami diperintahkan untuk mengosongkan rumah-rumah yang letaknya tidak jauh dari bandara dan sekitarnya. Sementara, saya mengemasi barang-barang penting/berharga, ditengah-tengah perjalanan, peluru berhamburan diatas kepala. Tidak ada perasaan lain yang bisa saya lukiskan kecuali ngeri”. “Americans are very clever!” Kata Salah. Pasukan yang dikirim George W.Bush kebanyakan mereka yang belum penuh berstatus sebagai ‘real American’. Namun begitu mereka mengenakan seragam yang berbendera AS. Mereka dijanjikan menjadi warga AS bila sudah balik ke AS setelah perang. Kapan? Mayat-mayat tentara AS yang bergelimpangan, dibuang begitu saja tanpa identitas, sementara jika yang gugur adalah rakyak asli AS, akan dibungkus ransel khusus dan dikirim balik ke negaranya. Astaghfirullah!
“Adalah bohong jika jumlah tentara AS yang meninggal hinggal saat ini hanya sekitar 200-300 orang. Paling tidak 20-25 tentara AS meninggal setiap hari sesudah perang ‘usai’ hingga sekarang ini. Jadi kalau dihitung dengan sebenarnya, berapa jumlah kerugian tentara AS ? Dari April hingga sekarang merupakan perang yang sebenarnya. Saat ini lebih buruk situasinya. Bahkan dilukiskan oleh banyak orang lebih dari perang Vietnam. Sayangnya, media masa asing tidak diperbolehkan untuk merekam peristiwa ini. Hanya orang Irak yang mengetahuinya. Jika ada pasukan atau kendaraan atau pesawat Amerika yang tertembak dan korban berjatuhan, tentara AS segera datang dan membersihkan bekas-bekasnya, sehingga tidak nampak adanya korban jatuh. Tetes darah sekalipun tidak akan kelihatan. Mereka memiliki alat yang canggih untuk membersihkan itu semua. Jika ada wartawan asing yang ketahuan meliput kejadian tersebut, ‘hadiahnya’ bisa diduga: langsung penjara! Lucunya, banyak pula tentara AS yang takut. Perang di Irak bisa jadi nightmare. Mereka secara sembunyi-sembunyi, dengan berpakaian alat Arab, menyewa unta milik orang Irak, membayar $ 500, menuju ke perbatasan. Lari dari medan peperangan!”
“Pasukan FBI dan CIA ada dimana-mana, dijalan-jalan. Mereka sekali lagi, amat licik! Entah bagaimana caranya orang AS membawa orang-orang asing yang begitu banyak untuk digerakkan, disebarkan di Irak, apakah itu orang asal Asia, atau Amerika Latin. Jika anda lihat ada perampokan, pencurian barang-barang di rumah-rumah, rumah sakit, kantor-kantor pemerintah, bahkan demonstrasi di Irak, yang terungkap di TV, jangan cepat percaya! Itu tidak lebih dari rekayasa AS. Pasukan AS memaksa orang-orang sipil untuk mengambil barang-barang tersebut kemudian di shoot oleh CNN, yang menunjukkan seolah-olah demikian kacaunya Irak. Padahal mereka, pelakunya, kebanyakan bukan orang Irak. Saya tahu mereka sebagian orang Iran dan Kuwait.” Amerika pintar sekali dalam berpolitik mengadu domba. Orang Islam Syiah dibunuh, agar tuduhan langsung ditujukan kepada kaum Sunni. Lempar batu sembunyi tangan!”
“Istri saya seorang apoteker. Dia bekerja di sebuah toko obat yang tentunya tutup selama perang berlangsung. Alhamdulillah sekarang bisa buka kembali. Sejak kepulangan saya dari Dubai, saya tidak lagi bekerja. Hasil jerih payah istri saya yang kami manfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pembangunan kembali yang dijanjikan AS terhadap Irak hanya omong kosong belaka. Mereka tidak membangun, namun menghancurkan. Itulah yang membuat rakyat Irak jadi geram. Bahkan pasukan Irak yang dipercaya sebagai anak buah Osama Bin Ladin, ada dimana-mana. Mereka seperti siluman. Sulit dipercaya bahwa pasukan ini juga ahli dalam pembuatan senjata. Hingga kini, boleh dikata tidak ada anak buah Bin Ladin yang tertangkap oleh pasukan AS. Buktinya? Jikapun ada satu orang saja pasukan Bin Ladin tertangkap, sudah pasti gambarnya akan terpampang diseluruh media masa dan TV di dunia”.
“Oleh sebab itu, hanya karena bantuan Allah semata lah, perjuangan rakyat Irak berlanjut terus. Apalagi dalam bulan suci Ramadan ini. Sudah begitu banyak rakyat yang begitu menderita. Dalam penderitaan fisik dan mental ini, secara spiritual mereka masih memiliki Islam. Saya amat yakin, doa-doa orang yang menderita selama puasa seperti rakyat Irak ini akan dikabulkan oleh Allah SWT. Orang akan sulit percaya bahwa dengan senjata yang kualitasnya jauh dibawah buatan AS, ternyata bisa menembak jatuh helikopter canggih AS yang berisi 59 orang. Dari mana kekuatannya kalau tidak mendapatkan bantuan dari Allah SWT? Kalau pesawat yang demikian kuat saja akhirnya berantakan layaknya pecahan-pecahan piring, bagaimana dengan nasib pasukan yang ada didalamnya? Percayakah anda kepada berita CNN yang mengatakan bahwa dari 59 prajurit yang ada didalam heli tersebut hanya ada 1 yang meninggal pada hari pertama ditembak, dan 21 orang luka-luka, sementara pesawatnya benar-benar lebur? Begitulah media masa AS yang penuh kepalsuan dan kebohongan. Tapi apa mau dikata? Semua media masa cetak dan elektronika di dunia sudah dikuasai oleh mereka!”.
“Barangkali sudah terlalu banyak rakyat Irak yang berdosa. Akan tetapi, insyaAllah masih ada orang-orang Irak yang juga berhati bersih, yang memfokuskan kehidupannya dengan berbakti dan berserah diri kepada Allah SWT semata. Orang-orang seperti inilah penyelamat bangsa kami. Saya pula sadar, bahwa tidak ada kekuatan lain yang bisa diharapkan kecuali dariNya. Saya amat bersyukur terhadap karunia Allah terutama kepada keluarga kami”.
Mohon ma'af kalau ada yg udah mbaca. :hehe
eramuslim - “Bagaimana bisa tenang disini sementara keluarga saya di Irak sana sedang berpikir, kapan mereka mendapat giliran dentuman meriam Amerika Serikat?” Begitu kata Salahuddin, 40 tahun, warga Irak yang waktu itu masih bekerja bersama saya 8 bulan lalu di Dubai, UAE, sebelum memutuskan balik ke negara asalnya Irak. Ia putuskan pulang ke Irak dua bulan menjelang digelarnya perang Irak. Hampir setiap karyawan ditemui olehnya satu-persatu, layaknya mau berpamitan ‘selamanya’. Salahuddin namanya, dan Salah, begitu biasa kami memanggilnya, insinyur teknik automobile yang berperawakan tinggi besar ini meninggalkan kami dengan berlinang airmata. Bagi saya, Salah memiliki tempat tersendiri di hati ini, buka hanya karena dia hampir tiap hari ke klinik, tempat dimana saya bekerja, sekedar berucap “Assalamu’alaikum!”. Lebih dari itu, dia memperlakukan saya secara spesial, entah karena saya orang Indonesia, atau karena ia menyukai kata-kata yang sering saya kemukakan katanya ‘bijaksana’. “Ada-ada saja Salah ini!”, bisik batin saya.
Bulan Februari dan Maret pun berlalu. Kini April tiba. “Ada yang tidak beres dengan sebagian pasukan Irak sendiri”, kata Salah. “Mereka sebagian adalah penghianat bangsa. Buktinya, berapa jenderal yang pada akhirnya melarikan diri, bahkan Menteri Pertahanan Irak, Hashim Sultan, sekarang dalam ‘perlindungan’ A.S”.
“Dalam perjalanan pulang, alhamdulillah saya tiba dengan selamat di Baghdad. Saya tempuh lewat laut karena jalur udara mahal sekali. Sedikit tabungan yang ada di saku saya simpan dengan baik dengan harapan bisa sedikit membantu memenuhi sebagian kebutuhan keluarga kami. Harga barang-barang mulai melangit di Irak. Bahan-bahan makanan juga teramat mahal sekarang ini. Hampir 70% rakyat kehilangan pekerjaan. Pasukan Saddam Hussain yang lebih dari 1 juta orang jumlahnya dipecat, para polisi pun berpakaian preman, belum terhitung pegawai lainnya, pemerintah maupun swasta. Pasukan AS merekrut orang-orang baru pilihan mereka sendiri untuk ditempatkan di pos-pos penting pemerintahan, yang pada gilirannya melahirkan kebencian rakyat Irak terhadap pendudukan AS disana.”
“Rumah kami hanya berjarak sekitar 10 menit perjalanan dari Saddam International Airport, yang kemudian namanya diganti menjadi Baghdad International Airport. Bisa dibayangkan bagaimana perasaan kami waktu itu, karena bandara juga menjadi lahan tempur utama. Kami diperintahkan untuk mengosongkan rumah-rumah yang letaknya tidak jauh dari bandara dan sekitarnya. Sementara, saya mengemasi barang-barang penting/berharga, ditengah-tengah perjalanan, peluru berhamburan diatas kepala. Tidak ada perasaan lain yang bisa saya lukiskan kecuali ngeri”. “Americans are very clever!” Kata Salah. Pasukan yang dikirim George W.Bush kebanyakan mereka yang belum penuh berstatus sebagai ‘real American’. Namun begitu mereka mengenakan seragam yang berbendera AS. Mereka dijanjikan menjadi warga AS bila sudah balik ke AS setelah perang. Kapan? Mayat-mayat tentara AS yang bergelimpangan, dibuang begitu saja tanpa identitas, sementara jika yang gugur adalah rakyak asli AS, akan dibungkus ransel khusus dan dikirim balik ke negaranya. Astaghfirullah!
“Adalah bohong jika jumlah tentara AS yang meninggal hinggal saat ini hanya sekitar 200-300 orang. Paling tidak 20-25 tentara AS meninggal setiap hari sesudah perang ‘usai’ hingga sekarang ini. Jadi kalau dihitung dengan sebenarnya, berapa jumlah kerugian tentara AS ? Dari April hingga sekarang merupakan perang yang sebenarnya. Saat ini lebih buruk situasinya. Bahkan dilukiskan oleh banyak orang lebih dari perang Vietnam. Sayangnya, media masa asing tidak diperbolehkan untuk merekam peristiwa ini. Hanya orang Irak yang mengetahuinya. Jika ada pasukan atau kendaraan atau pesawat Amerika yang tertembak dan korban berjatuhan, tentara AS segera datang dan membersihkan bekas-bekasnya, sehingga tidak nampak adanya korban jatuh. Tetes darah sekalipun tidak akan kelihatan. Mereka memiliki alat yang canggih untuk membersihkan itu semua. Jika ada wartawan asing yang ketahuan meliput kejadian tersebut, ‘hadiahnya’ bisa diduga: langsung penjara! Lucunya, banyak pula tentara AS yang takut. Perang di Irak bisa jadi nightmare. Mereka secara sembunyi-sembunyi, dengan berpakaian alat Arab, menyewa unta milik orang Irak, membayar $ 500, menuju ke perbatasan. Lari dari medan peperangan!”
“Pasukan FBI dan CIA ada dimana-mana, dijalan-jalan. Mereka sekali lagi, amat licik! Entah bagaimana caranya orang AS membawa orang-orang asing yang begitu banyak untuk digerakkan, disebarkan di Irak, apakah itu orang asal Asia, atau Amerika Latin. Jika anda lihat ada perampokan, pencurian barang-barang di rumah-rumah, rumah sakit, kantor-kantor pemerintah, bahkan demonstrasi di Irak, yang terungkap di TV, jangan cepat percaya! Itu tidak lebih dari rekayasa AS. Pasukan AS memaksa orang-orang sipil untuk mengambil barang-barang tersebut kemudian di shoot oleh CNN, yang menunjukkan seolah-olah demikian kacaunya Irak. Padahal mereka, pelakunya, kebanyakan bukan orang Irak. Saya tahu mereka sebagian orang Iran dan Kuwait.” Amerika pintar sekali dalam berpolitik mengadu domba. Orang Islam Syiah dibunuh, agar tuduhan langsung ditujukan kepada kaum Sunni. Lempar batu sembunyi tangan!”
“Istri saya seorang apoteker. Dia bekerja di sebuah toko obat yang tentunya tutup selama perang berlangsung. Alhamdulillah sekarang bisa buka kembali. Sejak kepulangan saya dari Dubai, saya tidak lagi bekerja. Hasil jerih payah istri saya yang kami manfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pembangunan kembali yang dijanjikan AS terhadap Irak hanya omong kosong belaka. Mereka tidak membangun, namun menghancurkan. Itulah yang membuat rakyat Irak jadi geram. Bahkan pasukan Irak yang dipercaya sebagai anak buah Osama Bin Ladin, ada dimana-mana. Mereka seperti siluman. Sulit dipercaya bahwa pasukan ini juga ahli dalam pembuatan senjata. Hingga kini, boleh dikata tidak ada anak buah Bin Ladin yang tertangkap oleh pasukan AS. Buktinya? Jikapun ada satu orang saja pasukan Bin Ladin tertangkap, sudah pasti gambarnya akan terpampang diseluruh media masa dan TV di dunia”.
“Oleh sebab itu, hanya karena bantuan Allah semata lah, perjuangan rakyat Irak berlanjut terus. Apalagi dalam bulan suci Ramadan ini. Sudah begitu banyak rakyat yang begitu menderita. Dalam penderitaan fisik dan mental ini, secara spiritual mereka masih memiliki Islam. Saya amat yakin, doa-doa orang yang menderita selama puasa seperti rakyat Irak ini akan dikabulkan oleh Allah SWT. Orang akan sulit percaya bahwa dengan senjata yang kualitasnya jauh dibawah buatan AS, ternyata bisa menembak jatuh helikopter canggih AS yang berisi 59 orang. Dari mana kekuatannya kalau tidak mendapatkan bantuan dari Allah SWT? Kalau pesawat yang demikian kuat saja akhirnya berantakan layaknya pecahan-pecahan piring, bagaimana dengan nasib pasukan yang ada didalamnya? Percayakah anda kepada berita CNN yang mengatakan bahwa dari 59 prajurit yang ada didalam heli tersebut hanya ada 1 yang meninggal pada hari pertama ditembak, dan 21 orang luka-luka, sementara pesawatnya benar-benar lebur? Begitulah media masa AS yang penuh kepalsuan dan kebohongan. Tapi apa mau dikata? Semua media masa cetak dan elektronika di dunia sudah dikuasai oleh mereka!”.
“Barangkali sudah terlalu banyak rakyat Irak yang berdosa. Akan tetapi, insyaAllah masih ada orang-orang Irak yang juga berhati bersih, yang memfokuskan kehidupannya dengan berbakti dan berserah diri kepada Allah SWT semata. Orang-orang seperti inilah penyelamat bangsa kami. Saya pula sadar, bahwa tidak ada kekuatan lain yang bisa diharapkan kecuali dariNya. Saya amat bersyukur terhadap karunia Allah terutama kepada keluarga kami”.